Anda di halaman 1dari 7

Christiono/Putranto 1

CARIES STATUS EARLY CHILDHOOD CARIES IN INDONESIAN CHILDREN


WITH SPECIAL NEEDS : Study In SDLB Central Java

Sandy Christiono*, R Rama Putranto*

Keywords: ABSTRACT
ECC, caries status,
special needs Background: The prevalence of ECC (Early Childhood Caries) is still problem
in Indonesian, especially in children with special needs. Unstable economic
development leads to a poorer economic situation and may have an impact
on increasing the prevalence of ECC. This study aimed to investigate the
Caries Status of ECC in children with special needs and its association with
!"#!$%&!'()*+ ),$+ -)(%,.)/+ !"#!%"!,!&#"+ "#("0& .),"% + #,+ 1%&)(),'2+
Central Java, Indonesian.
Method: This research was conducted in SDLB using questionnaire and Using
World Health Organization for diagnosis of caries. Informed consent from
parents was obtained. The study sample was 21 children aged 3-6 years which
consisted of 12 boys and 9 girls. Data were tested by Spearman correlation. .
Result: The result showed that 85.7% of the children had ECC. The result also
3!4%$+ #',#*"),.+ ) !"#).#!,+ 5%.4%%,+ 677+ #,+ .3%+ "3#/$+ ),$+ .3%+ )'%+ !8+ .3%+
mother (r= 0.453, p=0.018), education level of the mother (r=0.741, p=0.0001),
social status (r=0.807, p=0.0061) and other income (r=0.527, p=0.050).
Conclusion9+ :3%+ "!,"/0 #!,+ !8+ .3# + .0$;+ # + .3).+ .3%(%+ 4) + )+ #',#*"),.+
association between caries status of a young child and the age of the mother,
the socio-economic status and other income

PENDAHULUAN makanan lama didalam mulut sebelum


ditelan sehingga memungkinkan interaksi
Kecacatan atau disabilitas adalah berkurang antara makanan dan minuman yang bersifat
atau terbatasnya kemampuan seseorang kariogenik terhadap gigi lebih lama sehingga
0,.0<+&%/)<0<),+)<.#*.) + %3)(#=3)(#+).)0+;),'+ berakibat kemungkinan terjadinya karies lebih
sering dilakukan orang normal 1. Lebih dari 1 besar.
triliyun orang atau sekitar 15 % dari penduduk Weddel dan Kleon dalam Dental Caries
diseluruh dunia hidup dengan disabilitas. (2008) menyatakan dari 441 anak usia antara
Dari sembilan puluh lima juta anak-anak usia 6-36 bulan terdapat karies 4,2 % pada usia
0-14 tahun, hampir 13 juta memiliki disabilitas 12-17 bulan, 19,8% pada usia 24-29 bulan
berat1,13. dan 36,4% pada usia 30-36 bulan. Anak
>,)<=),)<+ $%,'),+ $# )5#/#.) + * #<+ ).)0+ usia 12-30 bulan memiliki pola karies yang
mental mengalami kesulitan saat melakukan berbeda dengan orang dewasa. Pengobatan
perawatan gigi baik dirumah atau di klinik dalam jangka waktu yang lama juga dapat
dokter. Mereka memerlukan bantuan orang mempengaruhi produksi saliva dan dengan
lain dan alat khusus. Salah satu faktor resiko demikian meningkatkan angka karies 2,11,12.
masalah gigi pada anak-anak disabilitas Karies adalah larutnya lapisan permukaan gigi
adalah diet dan obat-obatan. Pada banyak akibat metabolisme bakteri dalam plak3. Karies
orangtua dengan anak yang memiliki kesulitan banyak terjadi di gigi desidui maksila dan molar
mengunyah memerlukan waktu 1 jam bahkan permanen pertama. Pola karies semacam
lebih untuk mengunyah makan, sehingga itu sering disebut dengan Early Childhood

*Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Islam Sultan Agung Semarang


Korespondensi: sandy@unissula.ac.id
ODONTO Dental Journal. Volume 2. Nomer 2. Desember 2015
CARIES STATUS EARLY CHILDHOOD CARIES IN INDONESIAN CHILDREN
2 WITH SPECIAL NEEDS : Study In SDLB Central Java

Caries (ECC) atau rampant karies. ECC dapat adalah penelitian analitik observasional dengan
terjadi pada semua kelompok sosioekonomi rancangan cross sectional. Tempat penelitian
dimana anak memiliki kebiasaan minum ini dilakukan pada semua anak disabilitas di
dari botol susu ketika tidur 4. Anak dengan SDLB (Sekolah Luar Biasa) dengan usia 3-6
kelompok sosioekonomi rendah dua kali lebih tahun di kota semarang yang dipilih secara
banyak terkena karies dibandingkan kelompok acak/ random. Populasi dalam penelitian ini
sosioekonomi tinggi 5. adalah anak-anak disabilitas usia 3 sampai 6
Stachurski.,dkk (2006) menyatakan keadaan tahun di SDLB di kota semarang, sedangkan
gigi remaja dengan disabilitas usia 16-25 tahun sampel diambil dari total seluruh populasi.
sangat tidak memuaskan ditandai dengan Alat penelitian terdiri dari alat diagnostic,
tingginya nilai DMFt dan OHI. Anak autis angka kursi, penerangan yang memadai, alat tulis,
karies gigi desidui lebih tinggi dibandingkan kuisioner.
anak normal 6. + ?)<.!(+ ! #!$%&!'()*+ @0&0(2+ A%,# +
Telah diketahui bahwa anak-anak dengan kelamin, pendidikan, pengetahuan dan
status ekonomi yang rendah memiliki karies sikap), faktor sosioekonomi (pekerjaan dan
dua kali lebih banyak daripada teman sebaya penghasilan). Status ekonomi dalam penelitian
mereka yang memiliki status ekonomi yang ini adalah jumlah pendapatan yang diterima
lebih tinggi 5. Hubungan status sosial ekonomi oleh kedua orang-tua pasien selama satu bulan
dengan kesehatan gigi diperoleh dari hasil dan dibagi menjadi tiga kategori; yaitu rendah,
penelitian bahwa terdapat hubungan yang sedang, dan tinggi. Tingkat prevalensi ECC
bermakna antara status sosial ekonomi dalam penelitian ini adalah tingkat lesi karies
dengan kesehatan gigi 7,9. Fasilitas kesehatan yang ditemukan pada sampel berdasarkan
adalah sarana dan prasarana untuk melakukan kriteria International Caries Detection and
usaha pelayanan promotif, preventif, kuratif Assessment System - II ICDAS pada anak usia
dan rehabilitative di bidang kedokteran gigi 3-6 tahun di SDLB Kota Semarang. Sesuai
10
. Meskipun karena keterbatasan tenaga dengan kriteria WHO : kelompok 1 : buta dan
dan fasilitas tidak semua bentuk pelayanan melemahnya fungsi penglihatan; kelompok 2
dapat dilaksanakan. Fasilitas kesehatan gigi : tuli dan melemahnya fungsi pendengaran;
sangat menunjang pelayanan pengobatan kelompok 3 : retardasi mental; kelompok
dalam mengurangi resiko karies. Pendidikan 4:orang dengan kesulitan adaptasi sosial;
kesehatan gigi erat kaitannya dengan <%/!&-!<+ B+ 9+ <%")").),+ * #<+ $),+ -%,;)<#.+
tingkat pendidikan seseorang. Makin tinggi kronik.
tingkat pendidikannya akan semakin mudah Tahap yang akan dilakukan pada
menyerap informasi dan inovasi baru termasuk penelitian ini pertama adalah meminta izin untuk
kesehatan gigi. Selain itu factor-faktor yang melakukan penelitian di SDLB yang terdapat di
erat kaitannya dengan kesehatan gigi adalah kota Semarang yang telah dipilih sebelumnya
faktor umur ibu dan faktor pendidikan formal secara acak. Tahap selanjutnya meminta
ibu 7,8,11. orang tua sampel untuk memberikan informed
Berdasarkan uraian diatas, rumusan masalah consent sehubungan dengan akan dilakukan
dalam penelitian ini adalah bagaimana Status pemeriksaan dental terhadap anaknya. Lalu
karies ECC pada anak dengan disabilitas yang memberikan kuesioner untuk mendapatkan
$#3050,'<),+ $%,'),+ .#,'<).+ ! #!+ $%&!'()*+ informasi mengenai kondisi ekonomi orang tua
dan sosioekonomi. sampel, yang sebelumnya sudah diuji terlebih
dahulu reliabilitas dan validitasnya. Tahap
selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan
METODE PENELITIAN dengan menggunakan alat diagnostik dan
mengacu pada standar ICDAS-II yang
Jenis penelitian yang akan digunakan meliputi adanya lesi karies walaupun belum

ODONTO Dental Journal. Volume 2. Nomer 2. Desember 2015


Christiono/Putranto 3

menunjukkan adanya kavitas. tahun, 7 tahun. Anak yang berumur 4 tahun


berjumlah 1 anak, anak yang berumur 5
HASIL PENELITIAN tahun berjumlah 7 anak, anak yang berumur 6
tahun berjumlah 11 anak, anak yang berumur
Hasil penelitian pada SDLB negeri semarang 7 tahun berjumlah 2 anak. Dari data di atas
ketileng mengenai prevalensi ECC pada anak dapat diketahui bahwa pada anak umur 6
disabilitas dengan variasi sosioekonomi di kota tahun berjumlah paling banyak yaitu 11 anak.
semarang. Penelitian ini telah dilakukan pada Jadi diperoleh rata-rata anak pada SDLB
bulan Juni sampai Desember 2012. Sampel negeri Semarang adalah 5,66 atau 6 tahun.
penelitian sebanyak 21 anak yang terdiri dari
12 anak laki-laki dan 9 anak perempuan.
Data tentang status sosial diperoleh dengan
cara pemberian kuisioner yang sudah diberikan
terlebih dahulu dan disertakan dengan
informed consent. Kuisioner dibuat dengan
mempertimbangkan tujuan dari penelitian ini.
Data karies gigi anak diperoleh dengan cara Dari tabel di atas didapatkan bahwa distribusi
melakukan pemeriksaan pada anak SDLB pendidikan ibu, pendidikan SD berjumlah 3
negeri. orang, pendidikan SMP berjumlah 4 orang,
Pada beberapa tabel dibawah ini merupakan pendidikan SMAberjumlah 11 orang, pendidikan
hasil distribusi data jenis kelamin, umur anak S1 berjumlah 2 orang dan lain-lain 1 orang.
SDLB, umur ibu, pendidikan formal ibu, status
ekonomi keluarga, tunjangan.

Dari tabel di atas didapatkan bahwa


penghasilan dengan jumlah sampel terbesar
Pada tabel di atas didapatkan jumlah anak 1-2 juta dibandingkan dengan penghasilan di
laki-laki lebih banyak dari pada anak perempuan. bawah 1 juta, penghasilan 2-3 juta dan 3-4
Jumlah anak yang berjenis kelamin laki-laki juta. Penghasilan dibawah 1 juta sebanyak 6
sebanyak 12 anak atau 57,1% dan jumlah orang, penghasilan 2-3 juta sebanyak 3 orang,
anak berjenis kelamin perempuan sebanyak 9 dan penghasilan sebanyak 3-4 juta sebanyak
anak atau 42,7%. Jumlah total anak di SDLB 2 orang.
Negeri Semarang yaitu berjumlah 21 anak.

Dari tabel di atas didapatkan bahwa terdapat


tunjangan pada 6 orang sebesar 28,6% dan 15
Dari tabel di atas didapatkan bahwa yang orang tidak mempunyai tunjangan 71,4%.
paling sedikit adalah anak yang berusia 4
tahun dibandingkan anak usia 5 tahun, 6

ODONTO Dental Journal. Volume 2. Nomer 2. Desember 2015


CARIES STATUS EARLY CHILDHOOD CARIES IN INDONESIAN CHILDREN
4 WITH SPECIAL NEEDS : Study In SDLB Central Java

kesimpulan bahwa ada hubungan yang


bermakna antara pendidikan antara umur ibu
dengan status karies ibu.
:)5%/+G+D%,0,A0<<),+,#/)#+1#',#*")";+E2EEEH2+
oleh karena nilai p < 0,05, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa ada hubungan antara
Dari tabel di atas didapatkan bahwa kriteria status pendidikan dengan status karies.
karies gigi baik berjumlah 5 orang, kriteria :)5%/+HE+D%,0,A0<<),+,#/)#+1#',#*")";+E2EEH2+
sampel sedang berjumlah sedang dan 12 anak oleh karena nilai p < 0,05, maka dapat diambil
dengan kriteria buruk. kesimpulan bahwa ada hubungan antara
Tabel 7 Menunjukkan hasil !"#!$%&#%' 0.000, status sosial dengan status karies.
oleh karena nilai p < 0,05, maka dapat diambil :)5%/+HH+D%,0,A0<<),+,#/)#+1#',#*")";+E2EHF2+
kesimpulan bahwa data tidak berdistribusi oleh karena nilai p < 0,05, maka dapat diambil
normal, maka akan diuji dengan uji non kesimpulan bahwa ada hubungan antara
parametric dengan uji korelasi spearman. tunjangan lain-lain dengan status karies.
:)5%/+C+D%,0,A0<<),+,#/)#+1#',#*"),";+E2EFG2+
oleh karena nilai p < 0,05, maka dapat diambil

ODONTO Dental Journal. Volume 2. Nomer 2. Desember 2015


Christiono/Putranto 5

ODONTO Dental Journal. Volume 2. Nomer 2. Desember 2015


CARIES STATUS EARLY CHILDHOOD CARIES IN INDONESIAN CHILDREN
6 WITH SPECIAL NEEDS : Study In SDLB Central Java

DISKUSI karies anak prasekolah adalah faktor


$%&!'()*2+$)(#+3) #/+-%,%/#.#),;)+&%,0,A0<),+
Makanan yang bersifat kariogenik merupakan bahwa prevalensi karies pada penduduk
satu faktor dari penyebab karies gigi, makanan imigran lebih tinggi dari pada penduduk bukan
tersebut didapatkan dari jajanan yang imigran, hal ini tidak lepas dari faktor tingkat
mengandung gula, seperti biscuit, permen, es pendidikan orang tua, latar belakang orang tua
krim dan lain-lain 14. Alasan mengapa pada anak dan status keluarga yang menentukan bagi
disabilitas menjadi perhatian dokter gigi, karena perkembangan karies anak prasekolah16.
resiko karies yang sangat bervariasi, termasuk Penelitian ini didapatkan status ekonomi
pada anak yang menderita cacat mental, dengan status karies diperoleh hasil yang
dimana ketidakmampuan neuromuskuler oleh #',#*<),I+ 1.).0 + %<!,!&#+ ;),'+ .%(.#,''#+
karena rusaknya susunan saraf pusat bagian didapatkan pada penghasilan antara 1-2
motorik,kerusakan tersebut dapat berupa juta perbulan.biaya perawatan gigi yang
gangguan fungsi motorik, seperti spasme cukup mahal membuat orang tua jarang
lemah, tidak terkoordinasinya alat-alat gerak, memeriksakan gigi ke dokter gigi. Hal ini
kaku ataupun tremor, juga terjadi malformasi sesuai dengan penelitian di Provinsi Nakhon
dari gigi-gigi dan kandungan kalsium gigi- Pathom, Thailand oleh Pacharuniti, dkk.
giginya sangat kurang, oleh karena itu pada (2004) sebanyak 88% (N = 87) dari ibu yang
anak-anak dengan disabilitas mudah terjadi memiliki perilaku pencegahan kerusakan gigi
rampant karies, dikatakan pada anak dengan yang minim, juga mengklaim bahwa secara
disabilitas lebih tinggi terjadi prevalensi karies umum perawatan gigi adalah mahal dan itu
yang lebih tinggi 8. Menurut Notoatmojo juga merupakan penghalang bagi ibu 11.
(2013), kebiasaan menjaga gigi dan mulut Penelitian ini didapatkan tunjangan dengan
sebagai bentuk perilaku yang didasari oleh .).0 + <)(#% + #',#*<),I+ K).)=().)+ !(),'+ .0)+
pengetahuan akan mempengaruhi baik tidak mempunyai tunjangan untuk keperluan
buruknya kesehatan gigi dan mulut15. sehari-hari. Kebutuhan yang semakin lama
Pada penelitian ini didapatkan hasil yang semakin meningkat membuat orang tua tidak
#',#*<),+ ),.)()+ 0&0(+ #50+ $%,'),+ .).0 + terlalu memprioritaskan pada kesehatan gigi
karies. Rata-rata umur ibu pada penelitian ini dan mulut. Sogi dan Basgar (2002) dalam
umur 30-40 tahun. Pada umur tersebut ibu penelitianya menyatakan bahwa status karies
sudah mulai direpotkan dengan aktivitas diluar dan kebersihan rongga mulut lebih baik
sehingga waktu untuk anak jadi berkurang. Hal pada anak dengan status pekerjaan orang
ini karena ada kebutuhan dasar yang harus tua menengah keatas, hal ini dikarenakan
mereka penuhi guna mencukupi kebutuhan orang tua dari kalangan menengah keatas
keluarga sehingga pergi ke dokter gigi hal menganggap penting pemeliharaan kesehatan
yang dianggap tidaklah begitu penting gigi serta mengharapkan gigi dapat berfungsi
Penelitian ini didapatkan pendidikan ibu dengan optimalselama mungkin pada rongga
dengan status karies dengan hasil yang mulut, termasuk anaknya16.
#',#*<),I+ J# .(#50 #+ -%,$#$#<),+ #50+ 8(%<4%, #+ Pada fenomena dilapangan didapatkan bahwa
terbanyak pada pendidikan SMA. Tingginya tingginya tingkat def-t membuat perlunya
frekwensi karies pada anak dengan disabilitas edukasi terhadap orang tua tentang pentingnya
bisa terjadi karena kurangnya pemahaman menjaga kesehatan gigi terutama dengan
orang tua dalam hal kesehatan gigi, anak-anak anak disabilitas. Banyaknya kasus persistensi
paling utama dilatih oleh ibu, karena ibu sosok dilapangan juga mengindikasikan bahwa
paling dekat dengan anak. Contohnya seperti orang tua tidak terlalu memperhatikan tentang
perilaku ibu saat menerapkan cara menyikat kesehatan rongga mulut, banyak sekali kasus
gigi yang benar. Penelitian Sogi (2002) bahwa persistensi yang dibiarkan sehingga efek
salah satu hal yang mempengaruhi prevalensi yang ditimbulkan adalah gigi-giginya terjadi

ODONTO Dental Journal. Volume 2. Nomer 2. Desember 2015


Christiono/Putranto 7

maloklusi yang cukup parah. 8. Cornelia S,. Uji Resiko Karies Pada Anak Normal
dan anak cacat Mental usia 6-12 tahun. 2009.
Indonesian Pediatric Dental Journal Vol.1 No.1
KESIMPULAN Januari–Juni 2009; 1-6
Dari penelitian ini disimpulkan bahwa: 9. Sogi GM, Basgar DJ. Dental Caries and oral Hygien
1. Terdapat hubungan yang bermakna antara Status of School Children in Davangere Related to
umur ibu dengan status karies Their Sosio Economic Levels: An Epidemiological
study. J Indian Soc Pedo Prev Dent, December
2. Terdapat hubungan yang bermakna antara
2002; 20 (4): 157-7
pendidikan ibu dengan status karies 10. Pacharuniti, N., Sithan, H., Lapying, P., Kiewkarnka,
3. Terdapat hubungan yang bermakna antara B,.. Oral Health Preventive Thailand. 2004. Journal
status ekonomi dengan status karies Of Public Health And Development, 2(3): 32.
4. Terdapat hubungan yang bermakna antara 11. Notoatmodjo, S.. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu
Kesehatan Masyarakat. 2003. Cet. Ke-2, Mei.
tunjangan dengan status karies Jakarta: Rineka Cipta.
12. Hasyim R, Williams S, Thomson WM.. Severe Early
PERNYATAAN Childhood Caries and Behavioural Risk Indicators
Penelitian ini dibiayai oleh Fakultas Kedokteran Among Young Children in Ajman, United Arab
Emirates. 2011. European Archives of Pediatric
Gigi UNISSULA, peneliti mengucapkan terima
Dentistry 12 (4): 205-210.
kasih terhadap reviewer dan pihak terkait 13. Altun, Ceyhan dkk. Oral Health Status of Disabled
yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Individuals Attending Special Schools. 2010.
Peneliti menyatakan bahwa tidak ada %(#)!%*+, Europan Journal of Dentistry. 4: 361-366.
of interest antar peneliti lain atau publikasi lain 14. DS.Simorangkir.2010.http://repository.usu.ac.id/
bitstream/123456789/5/Chapter%20I.pdf
pada penelitian ini. 15. Notoatmodjo S. pendidikan dan perilaku kesehatan,
Jakarta : PT. Rneka Cipta ; 2003 WHO.2011. World
Report On Disability. http://www.who.int/topics/
DAFTAR PUSTAKA disabilities/en.
1. Koch, G dan Poulsen, Sven.. Pediatric Dentistry A 16. Sogi GM, Basgar DJ. Dental Caries and oral Hygien
Clinical Approach. Munksgaard. Copenhagen. 2001 Status of School Children in Davangere Related to
2. Weddel dan Kleon dalam Dental Caries (2008) Their Sosio Economic Levels: An Epidemiological
3. Fejerkov O & Kidd E. Dental Caries: The Diseases study. J Indian Soc Pedo Prev Dent, December
and its Clinical Management.82thed. Blackwell 2002; 20 (4): 157-7
Munksgaard Ltd. 2008
4. Cameron, Angus C dan Wildmer, RP.. Handbook of
Pediatric Dentistry. Ed. Ke-2. Mosby. 2003
5. McDonald RE, Avery DR, Dean JA. Dentistry for The
Child And Adolescent. 8th ed. Mosby, Inc. 2004
6. Stachurski, P. Assesment of the State of Dentition and
Oral Hygien in 16-25 Years Old Young People With
and Moderate Mental Disability. 2006. Advanced in
Medical Sciences.51 : 200-203.
7. Budiharto,. Kontribusi Umur, Pendidikan, Jumlah
Anak, Status Social Ekonomi Keluarga, Pemanfaatan
FAsilitas Kesehatan Gigi dan Pendidikan Kesehatan
Gigi Terhadap Perilaku Ibu, Jurnal Kedokteran Gigi
UI. 1988

ODONTO Dental Journal. Volume 2. Nomer 2. Desember 2015