Anda di halaman 1dari 2

Kejar Terus Pekerjaan Impianmu! Tapi, Sampai Kapan?

Photo by bruce mars from Pexels.com

Dulu, saya ngekos di daerah Kebayoran Lama. Di dekat kosan saya tinggal beberapa orang
kawan dalam satu kosan. Diantara mereka ada yang lagi magang, kerja praktek, dan ada juga
yang lagi hunting pekerjaan.

Suatu saat sehabis makan malam di warung langganan tak jauh dari kosan, kami ngobrol
bersama sambil nonton televisi. Di sela-sela obrolan tiba-tiba seorang kawan, sebut saja namanya
Yadi, berkata, “Mungkin sudah saatnya saya mengakhiri perjalanan ini.”

Mendengar itu kami semua serentak terdiam.

Dalam benak saya terlintas pikiran, “Kacau nih… Kacau… Jangan-jangan Yadi mau bunuh diri
nih.”

Sejenak kemudian Yadi melanjutkan perkataannya, “Saya sudah dua tahun merantau ke Jakarta,
tapi sampai saat ini belum berhasil mendapat pekerjaan sesuai yang saya harapkan.”

Saya bisa melihat raut wajah lega di kawan-kawan yang lain. Nampaknya, mereka semua juga
menyangka kalau Yadi berniat bunuh diri.

Kamu mungkin sudah sering mendengar kalimat, “Kejarlah pekerjaan impianmu!” Tapi, sampai
kapan harus mengejar pekerjaan impian itu?

Teman saya Yadi sudah dua tahun mengejar pekerjaan impiannya di ibukota, tapi belum berhasil
juga. Apakah itu berarti saatnya berhenti dan mencari jalan lain?

Beberapa bulan kemudian, Yadi masih juga di Jakarta. Rupanya, pulang kampung bukanlah
pilihan yang lebih baik untuk dijalani. Yadi bertahan, masih mencoba mengejar pekerjaan
impiannya.

Tak berselang lama ia diterima bekerja di sebuah perusahaan dimana ia bekerja hingga saat ini.
Sudah lebih dari sepuluh tahun ia bekerja di sana.

Kenapa Yadi bertahan di Jakarta?

Karena ia tidak menemukan peluang lain. Seandainya ia menemukan peluang lain yang cukup
menjanjikan setelah masa dua tahun itu, mungkin ia tidak bekerja di tempatnya sekarang ini.

Kawan saya yang lain, sebut saja Badi, mempunyai cerita yang sedikit berbeda endingnya.

Badi adalah mahasiswa yang dulunya tergolong jenius di angkatannya. Tapi, bisa dikatakan ia
bekerja tidak sesuai dengan latar belakang keilmuannya.
Suatu ketika, saat ada reuni di kampus, seorang dosennya mempertanyakan keputusan Badi
tersebut dengan sedikit nada kecewa.

Menanggapi itu, Badi berkata, “Saya sebenarnya masih bisa bertahan menunggu pekerjaan yang
sesuai ilmu saya. Tapi, kebutuhan keluarga tidak bisa menungga. Istri perlu makan, anak perlu
susu. Jadi, saya mengambil peluang terbaik yang dapat saya temukan.”

Badi memang jenius. Bahkan di pekerjaan yang bukan latar belakang ilmunya ia tetap jenius.
Buktinya, ia kini sukses menjadi kepala cabang.

Berapa lama Badi bertahan mengejar pekerjaan impiannya?

Sampai ia mendapati kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda lagi. Badi memutuskan untuk
mengambil peluang terbaik yang didapatnya saat itu dan menjadikannya pekerjaan impian.
Dengan begitu ia bersungguh-sungguh melakukannya, sehingga performanya selalu cemerlang.

Kesimpulan

Kalau ada yang bertanya, “Berapa lama saya harus bertahan mengejar pekerjaan impian saya?”
Jawabannya adalah tidak ada batas waktu yang baku untuk itu. Apakah itu setahun, dua tahun,
atau bertahun-tahun.

Semuanya kembali pada situasi yang kamu hadapi.

Jika berkaca pada pengalaman dua orang kawan saya di atas, maka:

Kejarlah terus pekerjaan impianmu, hingga kamu bertanya-tanya apakah akan terus mengejarnya
atau mencari peluang lain. Jika saat itu kamu tidak menemukan peluang lain yang menjanjikan,
maka lanjutkan pengejaranmu. Tapi ya jangan juga baru dua atau tiga kali gagal terus muncul
pertanyaan seperti ini. Itu namanya mudah menyerah.

Kejarlah terus pekerjaan impianmu, hingga kamu mendapati kebutuhan mendesak yang tidak
bisa ditunda lagi. Pada saat itu, ambil peluang terbaik yang bisa kamu dapatkan dan jadikan
sebagai pekerjaan impian.

Punya pendapat lain? Kamu bisa membaginya melalui kolom komentar.