Anda di halaman 1dari 9

SUMMARY LEADERSHIP

CHAPTER 4 : THE LEADER AS AN INDIVIDUAL

Kelompok 2

Benediktus Albi Julian 201650030

Angelica Lidya Y. 201650076

Devina Natalia 201650081

Isabella 201650133

Ira Nichola 201650166

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI TRISAKTI


JAKARTA
2019
THE SECRET INGREDIENT FOR LEADERSHIP SUCCESS
Sebuah survei terhadap 75 anggota dewan penasihat sekolah bisnis terkemuka
mengungkapkan jawaban yang hampir bulat atas sebuah pertanyaan tentang kemampuan
paling penting bagi para pemimpin untuk dikembangkan: kesadaran diri. Kesadaran diri
berarti menyadari aspek-aspek internal dari sifat seseorang, seperti ciri-ciri kepribadian,
emosi, nilai-nilai, sikap, dan persepsi, dan menghargai bagaimana pola anda memengaruhi
satu sama lain.

The Importance of Self-Awareness

Kebanyakan pakar kepemimpinan sepakat bahwa karakteristik utama dari pemimpin


yang efektif adalah bahwa mereka tahu siapa mereka dan apa yang mereka perjuangkan.
Ketika para pemimpin memahami diri mereka sendiri, mereka tetap membumi dan konstan,
sehingga orang tahu apa yang diharapkan dari mereka.

Leader Blindspot

Banyak pemimpin memiliki titik buta ˗˗ hal-hal yang mereka tidak sadari atau tidak
mereka kenali sebagai masalah ˗˗ yang membatasi efektivitas mereka dan menghambat
kesuksesan karier mereka. Salah satu titik buta yang sangat merusak adalah menampilkan
gaya agresif, konfrontatif, atau dikenal sebagai being a jerk.

PERSONALITY AND LEADERSHIP


Memahami perbedaan kepribadian adalah salah satu aspek mengetahui bagaimana
memaksimalkan efektivitas Anda sendiri dan orang-orang yang Anda pimpin. Kepribadian
adalah serangkaian karakteristik dan proses yang tidak terlihat yang mendasari pola perilaku
yang relatif stabil dalam menanggapi ide, objek, atau orang di lingkungan.

A. Model of Personality
Para peneliti menyelidiki apakah ada ciri-ciri yang bisa ditanggapi dengan cermat yang
terkait dengan kepemimpinan yang efektif. Mereka telah memeriksa ribuan sifat selama
bertahun-tahun, temuan mereka telah disaring menjadi lima dimensi umum yang
menggambarkan kepribadian, ini sering disebut sebagai Big Five personality dimensions. Big
Five personality dimensions merupakan gambaran ekstroversi individu, kesesuaian,
kesadaran, stabilitas emosional, dan keterbukaan

 Extroversion : Ekstroversi terdiri dari sifat dan karakteristik yang memengaruhi


perilaku dalam pengaturan kelompok. Ekstroversi mengacu pada sejauh mana
seseorang ramah, suka bergaul, banyak bicara, dan nyaman bertemu dan berbicara
dengan orang baru.
 Agreeableness : mengacu pada sejauh mana seseorang dapat bergaul dengan
orang lain dengan bersikap baik, kooperatif, pemaaf, penyayang, pengertian, dan
kepercayaan. Seorang pemimpin yang mendapat skor tinggi pada kesesuaian
tampak hangat dan mudah didekati, sedangkan orang yang rendah pada dimensi
ini mungkin tampak dingin, jauh, dan tidak peka.
 Conscientiousness : mengacu pada sejauh mana seseorang bertanggung jawab,
dapat diandalkan, gigih, dan berorientasi pada pencapaian. Seseorang
conscientiousness terfokus pada beberapa tujuan, yang dikejar dengan maksud
tertentu, sedangkan orang yang kurang teliti cenderung mudah terganggu dan
impulsif.
 Emotional stability : Dimensi stabilitas emosional mengacu pada tingkat di mana
seseorang dapat menyesuaikan diri dengan baik, tenang, dan aman. Seorang
pemimpin yang stabil secara emosional menangani stres dengan baik, mampu
menangani kritik, dan umumnya tidak mengambil kesalahan atau kegagalan
secara pribadi.
 Openness to experience : merupakan tingkat di mana seseorang memiliki minat
yang luas dan imajinatif, kreatif, dan mau mempertimbangkan ide-ide baru.
Orang-orang ini secara intelektual ingin tahu dan sering mencari pengalaman baru
melalui perjalanan, seni, film, membaca secara luas, atau kegiatan lainnya. Orang
yang lebih rendah dalam dimensi ini cenderung memiliki minat yang lebih sempit
dan tetap berpegang pada cara yang dicoba dan benar dalam melakukan sesuatu.

Personality Traits and Leader Behavior

Dua atribut kepribadian spesifik yang memiliki dampak signifikan pada


perilaku dan dengan demikian menjadi minat khusus untuk studi kepemimpinan
adalah locus of control dan otoritarianisme.

 Locus of Control
Lokus kontrol seseorang menentukan apakah ia menempatkan tanggung jawab
utama di dalam diri atau pada kekuatan luar. Orang yang percaya tindakan mereka
menentukan apa yang terjadi pada mereka memiliki locus of control internal (internal)
yang tinggi, sedangkan mereka yang percaya kekuatan luar menentukan apa yang
terjadi pada mereka memiliki locus of control eksternal (eksternal) yang tinggi.
Penelitian telah menunjukkan perbedaan nyata dalam perilaku antara internal
dan eksternal di berbagai pengaturan
 Internal secara umum lebih termotivasi sendiri, berada dalam kontrol yang
lebih baik dari perilaku mereka sendiri, lebih berpartisipasi dalam kegiatan
sosial dan politik, dan lebih aktif mencari informasi. Ada juga bukti bahwa
internal lebih mampu menangani informasi yang kompleks dan
penyelesaian masalah, dan bahwa mereka lebih berorientasi pada
pencapaian daripada eksternal.
 Orang-orang dengan locus of control eksternal yang tinggi biasanya lebih
suka memiliki situasi kerja yang terstruktur dan terarah. Mereka lebih
mampu daripada internal untuk menangani pekerjaan yang membutuhkan
kepatuhan dan kesesuaian, tetapi mereka umumnya tidak seefektif dalam
situasi yang membutuhkan inisiatif, kreativitas, dan tindakan independen.
 Authoritarianism
Keyakinan bahwa perbedaan kekuasaan dan status harus ada dalam organisasi
yang disebut otoriterisme. Individu yang memiliki tingkat kepribadian yang tinggi ini
cenderung untuk mematuhi aturan dan nilai-nilai konvensional, mematuhi otoritas
yang mapan, menghormati kekuasaan dan ketangguhan, menilai orang lain secara
kritis, dan tidak menyetujui ekspresi perasaan pribadi. Seorang pemimpin yang sangat
otoriter cenderung sangat bergantung pada otoritas formal dan tidak mungkin ingin
berbagi kekuasaan dengan bawahan.

VALUES AND ATTITUDES


Setiap orang mungkin berbeda secara signifikan mengenai value dan sikap yang mereka
percayai. Dengan perbedaan tersebut dapat mempengaruhi perilaku pemimpin dan
bawahannya.

Instrumental and End Values

Value adalah keyakinan mendasar yang dianggap penting oleh individu dan relatif
stabil dari waktu ke waktu, dan hal tersebut berdampak pada sikap, persepsi, dan tingkah
laku. Value adalah apa yang menyebabkan seseorang lebih memilih menyelesaikan dengan
cara satu dibanding cara lain. End value yang biasa disebut terminal value adalah keyakinan
mengenai tujuan dan hasil yang layak dicapai. Instrumental value adalah keyakinan mengenai
perilaku yang sesuai untuk mencapai tujuan.Setiap individu memiliki instrumental value dan
end value yang berbeda, maka penting sekali untuk memahami value sendiri mana yang
sangat penting untuk kepemimpinan yang efektif.

How Attitudes Affect Leadership

Value membantu menentukan sikap yang dimiliki seorang pemimpin terhadap dirinya dan
bawahannya. Sikap adalah sebuah evaluasi baik positif atau negatif mengenai seseorang,
kejadian, dll. Sikap seorang pemimpin terhadap bawahannya mempengaruhi bagaimana dia
berhubungan dengan orang lain disekitarnya. Suatu teori dikembangkan oleh Douglas
McGregor berdasarkan pengalamannya sebagai manager, konsultan, dan pelatihannya
sebagai psikologis. Ia mengungkapkan ada 2 asumsi mengenai sikap alamiah manusia, yaitu
teori X dan teori Y.

 Teori X

Menyatakan bahwa pada dasarnya karyawan yang bekerja pada suatu perusahaan secara
alami tidak termotivasi dan tidak suka bekerja. Dengan asumsi dan anggapan demikian, maka
manajemen akan cenderung menggunakan gaya otoriter dalam mengoperasikan
perusahaannya.
Menurut Teori X ini, manajemen harus secara tegas melakukan intervensi untuk
menyelesaikan suatu masalah atau pekerjaan. Gaya Manajemen ini menyimpulkan bahwa
pekerja pada dasarnya :

1. Tidak suka bekerja.


2. Perlu diawasi, dipaksa, diperingatkan untuk mengerjakan pekerjaannya.
3. Membutuhkan pengarahan dalam melaksanakan tugasnya.
4. Tidak menginginkan adanya tanggung jawab.
5. Tugas yang diberikan harus diawasi setiap langkah pengerjaannya.

Menurut pengamatan Douglas McGregor, karyawan yang bertipe X ini sebenarnya hanya
minoritas, namun untuk mengendalikan sebuah perusahaan yang memiliki jumlah karyawan
yang banyak atau perusahaan manufaktur yang berskala besar, manajemen teori X ini
mungkin diperlukan.

 Teori Y

Menyatakan bahwa pada dasarnya karyawan yang bekerja pada suatu perusahaan
menyenangi pekerjaannya, termotivasi, kreatif, bangga terhadap hasil kerjanya yang baik,
bekerja penuh dengan tanggung jawab dan senang untuk menerima tantangan.

Dengan asumsi dan anggapan demikian, maka manajemen akan cenderang menggunakan
gaya manajemen partisipatif. Teori Y ini beranggapan bahwa karyawannya :

1. Bertanggung jawab penuh atas semua pekerjaannya dan memiliki motivasi yang kuat
untuk mengerjakan semua pekerjaan yang diberikan kepadanya.
2. Hanya memerlukan sedikit bimbingan atau bahkan tidak memerlukan bimbingan
dalam menyelesaikan tugasnya.
3. Beranggapan bahwa pekerjaan adalah bagian dari hidupnya.
4. Dapat menyelesaikan tugas dan masalah dengan kreatif dan imajinatif.

Dalam organisasi atau perusahaan yang mengadopsi gaya manajemen berdasarkan Teori
Y ini, semua karyawan terlibat dalam pengambilan keputusan dan memiliki lebih banyak
tanggung jawab.

SOCIAL PERCEPTION AND ATTRIBUTIONS


Persepsi adalah proses yang digunakan untuk memahami lingkungan dengan memilih,
mengatur, dan menafsirkan informasi.

Kesalahan umum dalam penilaian persepsi:

1. Stereotyping adalah kecenderungan untuk melalukan penilaian terhadap seseorang


hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat
dikategorikan atau sebaliknya.
2. Efek halo terjadi ketika mengembangkan kesan keseluruhan seseorang atau situasi
berdasarkan satu karakteristik, baik yang menguntungkan atau tidak menguntungkan.
Dengan kata lain, efek halo membutakan persepsi terhadap karakteristik lain yang
harus digunakan dalam menghasilkan penilaian yang lebih lengkap.
3. Proyeksi adalah kecenderungan orang untuk melihat sifat-sifat pribadi mereka sendiri
pada orang lain. Mereka memproyeksikan kebutuhan, perasaan, nilai, dan sikap
mereka sendiri ke dalam penilaian mereka terhadap orang lain,
4. Pertahanan perseptual adalah kecenderungan orang yang mempersepsikan untuk
melindungi diri terhadap ide, objek, atau orang yang mengancam. Orang-orang
melihat hal-hal yang memuaskan dan menyenangkan, tetapi cenderung mengabaikan
hal-hal yang mengganggu dan tidak menyenangkan.

Teori atribusi mengacu pada bagaimana orang menjelaskan penyebab peristiwa atau
perilaku. Atribusi internal yaitu karakteristik orang yang menyebabkan perilaku dan atribusi
eksternal yaitu situasi yang menyebabkan perilaku. Atribut itu penting, karena membantu
orang memutuskan bagaimana menangani suatu situasi. Ada tiga faktor yang mempengaruhi
apakah atribusi internal atau eksternal:

1. Kekhasan. Apakah perilaku itu tidak biasa dilakukan orang tersebut (berbeda dengan
orang yang menunjukkan perilaku yang sama dalam banyak situasi). Jika perilakunya
berbeda, pengamat mungkin akan membuat atribusi eksternal.
2. Kontingensi. Apakah orang yang diamati memiliki riwayat berperilaku dengan cara
yang sama. Orang umumnya membuat atribusi internal mengenai perilaku yang
konsisten.
3. Konsensus. Apakah orang lain cenderung merespons situasi yang sama dengan cara
yang sama. Seseorang yang telah mengamati orang lain menangani situasi serupa
dengan cara yang sama kemungkinan akan membuat atribusi eksternal.

COGNITIVE DIFFERENCES
Cognitive style merujuk tentang bagaimana seseorang memproses, mengartikan, dan
menggunakan informasi. Biasanya pendekatan kognitif yang terkenal adalah left vs right
brained thinking patterns

Whole brain concept adalah sebuah pendekatan dimana tidak hanya memperhatikan apakah
seseorang yang menggunakan dominan otak kiri, maupun otak kanan tetapi juga
memperhatikan apakah seseorang menggunakan pemikiran konseptual atau eksperimental;
yang dimana hal ini membentuk sebuah empat kuadran otak yang berhubungan dengan gaya
pemikiran yang berbeda
Hermann’s Whole Brain Model
• A. upper • D. Upper
left Right
(Scientist) (Artist)
logical holistic
analytical intuitive
fact based integrating
quantitative synthesizing

organized interpersonal
sequential feeling based
planned kinesthetic
detailed emotional
• B. Lower • C. Lower
Left Right
(Manager) (Teacher)

Quadrant A
Orang orang yang berada di kuadran A adalah orang orang yang berpikir secara logis,
menganalisa fakta, dan memproses angka. Orang orang yang berada di kuadran A ini
biasanya dominan rasional dan realistis, serta berpikir kritis dan menyukai hal hal yang
berkaitan dengan angka. Kuadran A biasanya berisi orang dengan pemikiran “ilmuan”

Jika seorang leader dengan kuadran A, biasanya orang tersebut lebih directive dan juga
authoritative. Leader berfokus pada task

Quadrant B
Di kuadran B, orang tersebut menyukai planning, careful, detailed review. Orang orang ini
biasanya orang orang yang teratur (well organized), realibel, dan rapi (neat). Leader dengan
kuadran B biasanya conservative, jadi mereka cenderung menghindari resiko. Orang kuadran
B biasanya procedural, harus mengikuti prosedur dan aturan.

Quadrant C
Kuadran C diasosiasikan dengan orang yang memperhatikan hubungan intrapersonal. Maka
orang orang di kuadran C cenderung lebih sensitive dan menyukai interaksi, dan mengajari
orang lain. Orang orang di kuadran C biasanya emosional, ekspresif, out-going, dan suportif.
Leader dengan kuadran C berkarakteristik friendly, trusting dan emphatic. Mereka akan lebih
memperhatikan perasaan orang lain dibandingkan dengan task.

Quadrant D
Di kuadran D, orang biasanya lebih memperhatikan big picture dibanding dengan details.
Orang orang di kuadran D ini biasanya visionary, imaginative, suka berspekulasi dan break
the rules, menyukai tantangan dan juga impulsive. Leader dengan kuadran D menyukai
perubahan, experiment, resiko dan biasanya leader seperti ini akan memperbolehkan
bawahannya untuk bebas dan fleksibel.

Problem solving styles: Jungian types


MBTI  tes untuk mengukur bagaimana setiap individu mengumpungkan dan mengevaluasi
informasi untuk menyelesaikan masalah dan membuat keputusan.

Introversion versus Extroversions


Tipe Extrovert memperoleh energi dengan berinteraksi dengan sesama, sementara tipe
Introvert cenderung berfokus pada perasaan dan personal thought.

Sensing versus Intuition


Mengidentifikasikan bagaimana seseorang mencerna informasi. Tipe sensing biasanya
menggunakan panca indera untuk menggali informasi sedangkan tipe Intuitive berdasarkan
less direct perceptions

Thinking versus Feeling


Dimensi ini memperlihatkan bagaimana seseorang dalam memutuskan sesuatu. Tipe Feeling
biasanya berdasarkan apa yang menurut mereka benar, lalu mereka mempertimbangkan
perasaan orang lain. Sedangkan tipe Thinking dalam memutuskan sesuatu berdasarkan logika
dan lebih objektif.

Judging versus Perceiving


Dimensi yang memperlihatkan bagaimana setiap individu jika dihadapkan dengan situasi
ambigu dan seberapa cepat seseorang membuat keputusan. Tipe Judging lebih menyukai
segala sesuatu yang pasti. Mereka menyukai adanya deadline dan tujuan, dan biasanya dalam
decision making lebih berdasarkan data yang ada. Sedangkan tipe Perceiving tidak menyukai
deadline dan biasanya suka berubah pikiran sebelum memutuskan keputusan final. Orang
perceiving biasanya mengumpulkan dara dan informasi dengan kuantitas besar sebelum
memutuskan sesuatu.

WORKING WITH DIFFERENT PERSONALITY TYPES


Pemimpin dapat belajar bekerja lebih efektif dengan tipe kepribadian yang berbeda dengan
mengikuti beberapa panduan sederhana

1. Pahami kepribadian Anda sendiri dan bagaimana Anda bereaksi terhadap orang lain
Hindari menilai orang berdasarkan pengetahuan yang terbatas, dan sadari
bahwa setiap orang memiliki segi berbeda dengan kepribadian mereka. Belajarlah
untuk mengendalikan frustrasi Anda untuk membantu Anda menjaga tipe kepribadian
yang berbeda tetap fokus pada tujuan dan tugas yang diperlukan untuk mencapainya.

2. Perlakukan semua orang dengan hormat


Orang suka diterima dan dihargai apa adanya. Bahkan jika Anda menemukan
kisi-kisi kepribadian seseorang, tetaplah profesional, dan jaga agar Anda tidak marah.
Jangan bergosip atau bercanda tentang orang lain.
3. Akui kekuatan setiap orang
Semua orang ingin diakui karena bakat unik mereka, jadi pastikan untuk
mengakui dan memanfaatkan karakteristik kepribadian orang yang berguna.
Misalnya, orang yang pesimistis bisa sulit berada di dekat Anda, tetapi orang-orang
yang suram ini kadang-kadang bisa membantu dengan menarik perhatian pada
masalah dan ide atau rencana yang sah.

4. Berjuang untuk memahami


Pendekatan yang baik untuk tipe kepribadian yang jauh berbeda dari Anda
adalah dengan mengklarifikasi pertanyaan setiap kali ada potensi miskomunikasi.
Tindak lanjuti setiap pertanyaan atau permintaan dengan pernyataan yang
menjelaskan mengapa Anda bertanya dan bagaimana hal itu akan menguntungkan
organisasi serta individu.