Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di zaman sekarang, fenomena LGBT semakin ramai diperbincangkan.
Hal tersebut disebabkan banyaknya pemberitaan LGBT itu sendiri.
Kemudian diangkatnya wacana atau sosok LGBT dalam media popular.
Sehingga masyarakat semakin familiar. Sehingga LGBT sekarang menjadi
trending topic di kalangan semua usia. LGBT tidak mengenal batasan usia,
jenis kelamin, status sosial maupun pekerjaan bahkan agama.
Salah satu kontradiksi antara Islam dengan Barat yang sedang
mengemuka saat ini adalah masalah kaum lesbian, gay, bisexual dan
transgender. Menurut pandangan barat LGBT merupakan bagian dari hak
asasi manusia yang harus dilindungi. Dukungan kaum liberal terhadap pelaku
LGBT tidak hanya berupa wacana namun direalisasikan dengan mendirikan
organisasi persatuan, forum-forum seminar dan pembentukan yayasan dana
internasional. Bahkan beberapa negara telah melegalkan dan memfasilitasi
perkawinan sesama jenis.
Salah satu lembaga penggalangan dana pendukung perlindungan hak
asasi pelaku LGBT yaitu yang diluncurkan pada Desember 2011 oleh
menteri luar negeri AS Hillary Rodham Clinton. Lembaga ini mencakup
upaya keadilan, advokasi, perlindungan dan dialog untuk menjamin pelaku
LGBT hidup bebas tanpa diskriminasi.
Di Indonesia, Sejak munculnya kasus tentang Ryan “Si Penjagal Dari
Jombang”, mulai banyak orang membicarakan tentang kaum homoseksual
terutama Gay. Bagi masyarakat Indonesia yang masih menganggap hal
tersebut tabu dan tidak sesuai dengan budaya serta moral, hal tersebut amat
bertentangan dengan nilai agama serta hukum yang berlaku di Indonesia.
Selain itu, kami juga melihat bahwa mulai banyak bermunculan film-film
yang mengangkat tema tentang kaum Gay.

1
Tak jarang mucul olokan yang ditujukan pada anggota LGBT
khususnya gay. Hal-hal seperti ini, opini pribadi akan ketidaksukaan pada
gay atau LGBT secara umum akan muncul, kemudian bergulir menjadi
opini publik melahirkan pandangan gay itu mengganggu dan membahayakan
apalagi jika ia dalam lingkungan sekolah. Dengan anggapan utama gay dapat
menular, serta dengan sengaja menularkan. Artinya, masih ada mispersepsi
publik terhadap persoalan LGBT.
Masih adanya pandangan buruk masyarakat membuat seorang gay
mesti sedikit mlipir alias menyingkir atau menepi. Mereka kemudian tidak
bebas memilih kawan, juga tidak leluasa berekspresi sebagai bagian
masyarakat . Akibatnya seorang gay ini harus berhati-hati jika ingin
berekspresi. Bahkan dalam mencari teman cerita, tidak sembarang orang
dapat dijadikan tempat curhat yang baik. Maka dicarilah solusi paling baik
menurut mereka, bahwa mereka harus mencari dan mendapatkan teman
sesama gay. Dimulailah masa mencari teman sesama gay dalam lingkungan
mereka. Mencari teman sesama gay dilakukan dengan berbagai cara,
umumnya menggunakan jejaring sosial internet atau melalui kolega-kolega
yang ada. Bukan dengan mendatangi seseorang secara acak lantas
menodong pertanyaan.
Keberadaan teman sesama gay didasari butuhnya dukungan kawan
senasib sependeritaan, agar ada teman berbagi sekaligus tempat mengadu.
Setelah mendapatkan teman sesama gay, pertemuan-pertemuan pun terjadi.
Seseorang yang awalnya tidak saling mengenal dapat bertemu kawan baru,
bahkan tidak menutup kemungkinan mendapatkan kekasih dari pertemuan ini.
Atas dasar itu muncul wacana membuat perkumpulan khusus .
Kelompok gay telah berdiri dan memiliki anggota. Anggotanya pun
tersebar di berbagai lingkungan. Sarana alternatif yang dianggap baik adalah
melalui media jejaring sosial alias internet. Komunitas gay pasti memiliki
grup, khusus anggotanya di situs Facebook yang tidak semua orang gampang
temukan. Tidak semua anggota merasa dapat dengan cepat mengakses
informasi tentang gay. Maka dibutuhkan alternatif lain agar informasi sampai
lebih cepat. Dunia maya dianggap mampu menghadirkan sedikit rasa aman

2
bagi mereka berkomunikasi. Komunitas gay kini hadir dengan bentuk samar-
samar, tersembunyi apik dalam jejaring sosial, pertemuan terbatas dan jauh
dari tempat-tempat ramai.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu LGBT?
2. Apa Problematika legalitas LGBT di Indonesia?
3. Apa Solusi dari permasalahan problematika legalitas LGBT?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui apa itu LGBT
2. Mengetahui Problematika legalitas LGBT di Indonesia
3. Mengetahui Solusi dari permasalahan problematika legalitas LGBT

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian LGBT


LGBT adalah akronim dari Lesbian Gay Biseksual and Transgender.
Istilah LGBT sudah dikenal sejak tahun 1990 yang menggantikan sebuah
frasa “Kelompok Gay”. Kadang-kadang LGBT sering disebut QLGBT yang
berakronim Queer Lesbian Gay Biseksual and Transgender yang tercatat telah
digunakan sekitar tahun 1996. Istilah ini sering muncul dikalangan kelompok
yang sering menyukai sesama jenis, berganti jenis kelamin dan sejenis
lainnya. Istilah ini sering ditemukan di Negara Amerika Serikat atau Negara
yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa nasionalnya.
LGBT adalah singkatan dari Lesbian, Gay, Bisex, and Transgender.
Lesbian adalah istilah bagi perempuan yang mengarahkan orientasi
seksualnya kepada sesama perempuan, Gay adalah sebuah istilah bagi laki-
laki yang umumnya digunakan untuk merujuk orang homoseksual atau sifat-
sifat homoseksual, Biseksualitas merupakan ketertarikan romantis,
ketertarikan seksual, atau kebiasaan seksual kepada pria maupun wanita.
Istilah ini umumnya digunakan dalam konteks ketertarikan manusia untuk
menunjukkan perasaan romantis atau seksual kepada pria maupun wanita
sekaligus, dan Transgender merupakan ketidaksamaan identitas gender
seseorang terhadap jenis kelaminnya yang ditentukan, atau kelaminnya dari
laki-laki menjadi perempuan. Transgender bukan merupakan orientasi seksual.
Perilaku homoseksual terus menerus ada sejak jaman dahulu, dan
menjadi pertentangan diantara masyarakat dan juga dianggap perbuatan dosa.
Homoseksual juga dikatakan sebagai penyimpangan dan merupakan perilaku
abnormal. Beberapa anggapan pada mulanya mengartikan perilaku
menyimpang ini seperti jiwa laki- laki yang terjebak di tubuh perempuan atau
sebaliknya. Perdebatan demi perdebatan terus muncul dan penelitian terus
dilakukan. Penelitian lebih banyak dilakukan oleh para psikiater dan
mengartikan bahwa homoseksual maupun heteroseksual merupakan penyakit
mental dan kelainan mental. Beberapa ahli menyimpulkan pengertian dari

4
LGBT itu setelah melakukan berbagai macam percobaan, penelitian, maupun
pengamatan sosial.
LGBT masih menjadi perdebatan diantara kalangan sosial dan hukum
yang juga mempertanyakan keadilan dan sisi kemanusiaan. Beberapa negara
sudah terbuka dengan kebebasan memilih pasangan dan memberikan
kebebasan pada LGBT, bahkan untuk melakukan pernikahan sesama jenis
kelamin. Namun di Indonesia sendiri, hal ini masih menjadi hal yang tahu dan
dianggap perilaku menyimpang yang tidak pantas, dan juga menyimpang dari
ajaran agama. Perilaku LGBT bisa muncul pada seseorang dipengaruhi oleh
lingkungan sosialnya, sehingga perlu adanya didikan dan dampingan yang
baik saat tumbuh kembang anak. Perilaku menyimpang ini sulit untuk
disembuhkan dari seseorang, namun bukan berarti merupakan patologis yang
bersifat menular. Sehingga perlua danya dukungan dari keluarga, orang
terdekat, dan juga lingkungan untuk bisa menjauhkan diri dari perilaku
menyimpang ini.
LBGT menuai banyak perhatian sosial dan kontra atau penolakan
penolakan terhadap adanya komunitas ini. Namun, LGBT pun juga
merupakan seorang manusia yang normal dan tidak merugikan sekitarnya,
sehingga apapun pilihan mereka untuk menentukan identitas diri tidaklah
sebaiknya dihina atau dikuciilkan, namun perlu dukungan positif dan rasa
kasih sayang yang membantu mereka menemukan identitas yang benar dan
tidak menyimpang.

2.2 Problematika legalitas LGBT di Indonesia


Drama Legalitas LGBT di Indonesia
Kompasiana.com – Farhan Akmal
16 April 2018 18:53 Diperbarui: 16 April 2018 19:00

Kompasiana.com - LGBT bukanlah suatu bahan pembicaraan yang asing bagi


masyarakat Indonesia. LGBT yang merupakan gerakan yang mendukung
perkawinan sejenis tengah kompor-kompornya dalam berkampanye dengan

5
bertujuan untuk melegalkan perkawinan sesama jenis di Indonesia. Tentu
gerakan yang mendukung perkawinan sesama jenis akan menimbulkan
konflik di masyarakat Indonesia yang masih kental dengan budaya ketimuran
dan memegang teguh nilai-nilai agama.

Tak hanya di Indonesia tetapi di negara-negara lain, LGBT juga


menjadi suatu hal yang pro dan kontra. Terdapat berbagai golongan dan tokoh
termuka yang sangat mendukung LGBT karena menganggap pekawinan
sebagai salah satu bagian dari hak asasi manusia , di lain sisi ada juga yang
menolak dikarenakan perkawinan yang dimaksud oleh gerakan LGBT
(Pernikahan sejenis) dianggap tidak sesuai dengan fitrahnya manusia
berdasarkan nilai agama dan budaya normatif yang ada di Indonesia.

Salah satu penyebab munculnya kaum LGBT ke permukaan pergaulan


di masyarakat disebabkan oleh deklarasi berbagai negara yang mendukung
LGBT. Seperti yang dilansir di tribunnews.com sejak akhir tahun 2017 sudah
ada 10 negara yang mendukung LGBT diantaranya adalah Amerika Serikat,
Jerman, dan Prancis yang merupakan negara-negara maju. Dengan adanya
deklarasi dari berbagai negara yang mendukung LGBT seolah-olah menjadi
sebuah inspirasi bagi kaum LGBT untuk berjuang dalam melegalkan LGBT
di Indoneisa. Walaupun kebanyakan masyarakat Indonesia masih
menganggap LGBT sebagai suatu penyimpangan tetapi tetap tidak membuat
kaum LGBT enggan untuk berekspresi.

Sama seperti di negara-negara lainnya kaum LGBT di Indonesia


menggerakan aksi-aksi atau kampanyenya dengan membawa isu HAM
sebagai alat untuk melegalkan LGBT. Kaum LGBT beranggapan bahwa
menentukan pasangan hidup adalah pilihan dari masing-masing individu dan
merupakan bagian dari hak asasi manusia yang tidak bisa diganggu gugat. Di
lain hal LGBT telah mendapat dukungan salah satunya dari Dewan HAM
PBB. Sehingga dengan adanya dukungan dari Dewan HAM PBB membuat
kaum LGBT memiliki "pegangan" terhadap aksi-aksinya.

6
Dengan adanya dukungan dari Dewan HAM PBB membuat Komisaris
Tinggi Dewan HAM PBB, Zaid Ra'ad Al Hussein membahas LGBT dalam
kunjungannya ke Indonesia pada awal tahun 2018. Seperti yang dilansir pada
nasional.kompas.com,Dalam kunjungannya Zaid meminta kepada Presiden
Joko Widodo agar Indonesia tidak mengkriminalisasi LGBT didalam KUHP
yang baru.

Tentu sebagai pimpinan pemerintahan, presiden tidak bisa


sembarangan untuk mendeklarasikan dukungan terhadap LGBT atas
permintaan Zaid sebagai Komisaris Tinggi Dewan HAM PBB sebab akan
melanggar pandangan terhadap norma yang ada di masyarakat Indonesia pada
umumnya. Di lain hal di Indonesia juga sudah terdapat hukum aturan
mengenai perkawinan tepatnya pada Undang-Undang No.1 Tahun 1974
Tentang Perkawinan.

Di dalam undang-undang perkawinan dijelaskan makna dari


perkawinan ialah ikatan lahir dan batin antara pria dan wanita yang dilandasi
Ketuhanan yang Maha Esa. Oleh sebab itu di Indonesia untuk melaksanakan
perkawinan syarat pertamanya adalah calon pasangan yang ingin melakukan
perkawinan harus terdiri dari pria dan wanita. Syarat kedua untuk melakukan
perkawinan adalah setiap calon harus memenuhi syarat-syarat untuk yang
terdapat pada agama masing-masing dan tidak boleh bertentangan dengan
agamanya masing-masing dikarenakan perkawinan di Indonesia harus
berlandaskan agama.

Apabila kedua hal tersebut tidak dijalankan maka perkawinan itu


bukanlah perkawinan yang sah dan tidak dapat diakui. Hingga saat ini pula
tidak ada agama yang mengizinkan perkawinan sejenis. Memang di Indonesia
nilai-nilai agama dan kepercayaan tidak bisa ditinggalkan sebab konstitusi
Indonesia menjadikan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai salah satu nilai
yang ada di dalam konstitusi tepatnya pada alinea ke-4 Pembukaan UUD
1945. Di dalam alinea ke-3 Pembukaan UUD 1945 juga menyebutkan "Atas
berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh

7
keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat
Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya".

Dengan begitu bisa dikatakan bahwa Indonesia menganggap ajaran


atau nilai-nilai ketuhanan sebagai suatu hal yang sakral yang tidak bisa
ditinggalkan. Dengan adanya nilai-nilai ketuhanan di dalam konstitusi
Indonesia memang bisa dikatakan bahwa Indonesia sedikit menganut paham
teokrasi yang mengedepankan nilai-nilai ketuhanan.

Dikarenakan ajaran dan nilai-nilai ketuhanan sudah tertera dalam


konstitusi maka ajaran dan nilai-nilai ketuhanan tidak bisa dapat ditinggalkan.
Oleh sebab itu apabila ingin melegalkan LGBT maka Indonesia harus
merubah pula konstitusi Indonesia. Namun untuk mengubah konstitusi di
Indonesia bukanlah hal yang mudah sebab konstitusi di Indonesia bersifat
rigid dan akan menimbulkan berbagai pertentangan khususnya dari para pakar
hukum.

Sebelumnya, pada Desember 2017 lalu, Mahkamah Konstitusi


memutuskan menolak permohonan memperluas pasal perzinahan di KUHP.
Antara lain Pasal 284 tentang perzinahan, yang terbatas dalam kaitan
pernikahan dimohonkan untuk diperluas ke konteks di luar pernikahan, dan
Pasal 292 tentang percabulan anak laki-laki, yang dimintakan untuk
dihilangkan batasan umurnya agar hubungan seks sesama jenis dianggap
pidana terlepas dari umurnya atau apakah ada paksaan atau tidak. Di
Indonesia, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pernah mengeluarkan aturan
yang melarang penampilan tertentu di televisi yang dianggap
mempromosikan LGBT -termasuk lelaki yang dianggap tampil 'kemayu',
namun tidak ada aturan pemidanaan terhadap kelompok LGBT, kecuali di
Aceh, di mana diberlakukan hukuman cambuk.

Ketua DPR Bambang Soesatyo mendorong parlemen menolak upaya


legalisasi hubungan sesama jenis atau LGBT di Indonesia. Regulasi soal
LGBT kini mulai diangkat dalam panitia kerja di bawah koordinasi Komisi
III DPR. Polemik LGBT di Indonesia kembali mengemuka setelah Ketua

8
MPR Zulkifli Hasan menyebut ada lima fraksi yang menyetujui perilaku
LGBT berkembang di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan usai Zulkifli
menyosialisasikan empat pilar kebangsaan di i kampus Universitas
Muhammadiyah (UM).

Permasalahan melebar ketika perilaku LGBT dihubungkan dengan


hak-hak lainnya sebagaimana rilis yang dimuat Komnas HAM pada 4
Februari 2016. Secara mutakhir, rilis Komnas HAM tersebut merujuk pada
Prinsip-Prinsip Yogyakarta (The Yogyakarta Principles) Tahun 2006 dan
Peraturan Menteri Sosial No. 8 Tahun 2012 tentang Pendataan dan
Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi dan
Sumber Kesejahteraan Sosial (Permen 8/2012). Dengan alasan pembelaan
atas hak berkumpul dan hak atas rasa aman kaum LGBT, Komnas HAM
melayangkan “teguran” kepada para pejabat negara yang dianggap
memberikan pernyataan “naif”.

Mengutip Permen 8/2012, Komnas HAM beranggapan bahwa LGBT


adalah komunitas yang diakui oleh negara. Mungkin, Komnas HAM lupa
bahwa konteks Permen 8/2012 bukan dalam preferensi pembelaan tapi
perlindungan. Tidak seperti Komnas HAM dalam rilisnya, Permen 8/2012
samasekali tidak memuat norma yang membenarkan perilaku LGBT. Poin
paling penting ialah bahwa Permen 8/2012 diperuntukkan bagi operasional
pendataan dan pengelolaan data penyandang masalah sosial. Bahkan,
terhadap poin 14 lampiran Permen 8/2012 yang dikutip, Komnas HAM alpa
untuk menunjukkan bahwa di dalamnya terdapat muatan bahwa gay, waria,
dan lesbian adalah kelompok dengan gangguan keberfungsian sosial yang
memiliki kriteria: a. gangguan keberfungsian sosial, b. diskriminasi, c.
Marginalisasi, dan d. berperilaku seks menyimpang.

2.3 Solusi Problematika legalitas LGBT di Indonesia


 Solusi dari Pemerintah
Di dalam undang-undang perkawinan dijelaskan makna dari
perkawinan ialah ikatan lahir dan batin antara pria dan wanita yang

9
dilandasi Ketuhanan yang Maha Esa. Oleh sebab itu di Indonesia untuk
melaksanakan perkawinan syarat pertamanya adalah calon pasangan
yang ingin melakukan perkawinan harus terdiri dari pria dan wanita.
Syarat kedua untuk melakukan perkawinan adalah setiap calon harus
memenuhi syarat-syarat untuk yang terdapat pada agama masing-masing
dan tidak boleh bertentangan dengan agamanya masing-masing
dikarenakan perkawinan di Indonesia harus berlandaskan agama.
Apabila kedua hal tersebut tidak dijalankan maka perkawinan itu
bukanlah perkawinan yang sah dan tidak dapat diakui. Hingga saat ini
pula tidak ada agama yang mengizinkan perkawinan sejenis. Memang di
Indonesia nilai-nilai agama dan kepercayaan tidak bisa ditinggalkan
sebab konstitusi Indonesia menjadikan Ketuhanan Yang Maha Esa
sebagai salah satu nilai yang ada di dalam konstitusi tepatnya pada alinea
ke-4 Pembukaan UUD 1945. Di dalam alinea ke-3 Pembukaan UUD
1945 juga menyebutkan "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa
dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan
kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini
kemerdekaannya".
Dengan begitu bisa dikatakan bahwa Indonesia menganggap ajaran
atau nilai-nilai ketuhanan sebagai suatu hal yang sakral yang tidak bisa
ditinggalkan. Dengan adanya nilai-nilai ketuhanan di dalam konstitusi
Indonesia memang bisa dikatakan bahwa Indonesia sedikit menganut
paham teokrasi yang mengedepankan nilai-nilai ketuhanan. Dikarenakan
ajaran dan nilai-nilai ketuhanan sudah tertera dalam konstitusi maka
ajaran dan nilai-nilai ketuhanan tidak bisa dapat ditinggalkan. Oleh sebab
itu apabila ingin melegalkan LGBT maka Indonesia harus merubah pula
konstitusi Indonesia. Namun untuk mengubah konstitusi di Indonesia
bukanlah hal yang mudah sebab konstitusi di Indonesia bersifat rigid dan
akan menimbulkan berbagai pertentangan khususnya dari para pakar
hukum.Oleh karena itu dengan ketidaksesuaian LGBT terhadap hukum
positif di Indonesia membuat perkawinan sesama jenis tidak bisa
dilaksanakan di Indonesia.

10
Solusinya antara lain :
- Badan hukum yang berwenang untuk membuat undang-undang
(DPR) harus merancang undang-undang terkait dengan ketentuan
pidana LGBT agar terciptanya kepastian hukum.
- pemerintah juga harus membuat sarana dan prasarana untuk
merehabilitasi anggota LGBT yang memiliki sifat ketertarikan
yang menyimpang agar dapat kembali seperti fitrahnya manusia
sebagaimana seharusnya.
- Kementerian Sosial bisa membuat sebuah badan khusus untuk
menyusun program-program mengembalikan fungsi sosial para
LGBT
- Kementerian Agama (Kemenag) untuk mulai membuat aturan
tegas bahwa warga Indonesia yang mau menikah harus punya
sertifikat pendidikan pranikah. Konsekuensinya, Kemenag, harus
lebih optimal memfasilitasi pendidikan pranikah.
- Pemerintah sebaiknya mengatur perubahan klausul pada Pasal 292
KUHP yang terkait perbuatan cabul sesama jenis ke dalam
Undang-Undang sebagaimana hal pernah dilakukan dalam
pemerintahan Presiden Habibie dalam melakukan perubahan Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana Berkaitan Dengan Kejahatan
Terhadap Keamanan Negara. Ini merupakan alternatif pengaturan
sanksi pidana bagi LGBT sebelum diatur kemudian hari di RUU
KUHP.

Sumber:
https://www.kompasiana.com/mfa/5ad4813616835f6a0c390cc2/dram
a-legalitas-lgbt-di-indonesia

https://news.detik.com/opini/d-3780145/alternatif-pengaturan-pidana-
lgbt-dalam-kuhp

11
 Solusi Pribadi
- Perilaku ini dapat diatasi dengan terapi. Yang paling utama dalam
terapi ini adalah dengan adanya motivasi yang kuat yang berasal
dari dalam diri individu itu sendiri. Sedangkan agar meminimalisir
kemungkinan LGBT maka pada saat masih kanak-kanak, individu
harus diberikan pendidikan secara proporsional oleh kedua orang
tua. Seorang ayah harus memerankan perannya sebagai seorang
bapak yang baik dan begitu pula seorang ibu harus memerankan
perannya sebagai seorang ibu secara baik pula. Oleh karena itu
pola asuh orang tua yang baik dapat meminimalisir kemungkinan
individu menjadi LGBT.
- Pemerintah harus mengambil langkah cepat dalam membuat
pengaturan pidana atas delik tersebut tanpa harus menunggu
disahkannya KUHP yang baru sehingga moral dan budaya bangsa
ini tetap terlindungi melalui norma hukum sesuai dengan prinsip
negara hukum.
- Penanganan terhadap mereka dibedakan dari faktor penyebabnya
antara lain faktor genetik, psikologis maupun kultural. Dengan
memahami faktor-faktor tersebut, maka diharapkan dapat
dirumuskan solusi yang tepat untuk seseorang yang mengidap
penyakit LGBT tersebut. Secara umum, solusi untuk
penyembuhan penyakit LGBT ini terbagi menjadi 2 (dua) yaitu
solusi internal dan solusi eksternal. Solusi internal misalnya perlu
adanya kesadaran dan kemauan untuk sembuh, serta kesungguhan
melakukan perubahan. Sedangkan solusi eksternal dapat berupa
dukungan keluarga dan orang-orang dekat, serta membebaskan
diri dari lingkungan LGBT.

12
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari penulisan makalah ini maka dapat disimpulkan bahwa, tidak
dibenarkan apabila kaum LGBT menjadi legal di negara Indonesia mengingat
kembali Indonesia adalah negara hukum dengan masyarakat yang menghargai
agamanya masing-masing. Dengan maraknya golongan LGBT yang sudah
terang-terangan di Indonesia membuat golongan masyarakat normal merasa
tidak nyaman dengan keberadaan LGBT itu sendiri. Jika para kaum LGBT ini
masih terus memaksa agar pemerintah di Indonesia melegalkan tindakan
LGBT dengan menggunakan alasan Hak Asasi Manusia, seharusnya para
kaum LGBT ini sadar akan tindakannya yang melanggar aturan-aturan hukum
di Indonesia
3.2 Saran
Beberapa saran dapat dilakukan berdasarkan faktor penyebab
munculnya LGBT. Penanganan terhadap mereka dibedakan dari faktor
penyebabnya antara lain faktor genetik, psikologis maupun kultural. Dengan
memahami faktor-faktor tersebut, maka diharapkan dapat dirumuskan solusi
yang tepat untuk seseorang yang mengidap penyakit LGBT tersebut. Secara
umum, solusi untuk penyembuhan penyakit LGBT ini terbagi menjadi 2 (dua)
yaitu solusi internal dan solusi eksternal. Solusi internal misalnya perlu
adanya kesadaran dan kemauan untuk sembuh, serta kesungguhan melakukan
perubahan. Sedangkan solusi eksternal dapat berupa dukungan keluarga dan
orang-orang dekat, serta membebaskan diri dari lingkungan LGBT.

13
DAFTAR PUSTAKA

https://www.kompasiana.com/mfa/5ad4813616835f6a0c390cc2/drama-legalitas-
lgbt-di-indonesia
https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/02/22/o2y096359
pemerintah-harus-siapkan-langkah-konkret-sebagai-solusi-lgbt
https://news.detik.com/opini/d-3780145/alternatif-pengaturan-pidana-lgbt-dalam-
kuhp
https://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/16/02/29/o3a5s0388-
lgbt-dalam-perspektif-hukum-di-indonesia
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2018/02/06/336472/perlu_solusi_ter
kait_lgbt/

14
LAMPIRAN

LGBT dalam Perspektif Hukum di Indonesia


Senin 29 Feb 2016 06:12 WIB
Red: Hafidz Muftisany
Pada dasarnya dalam konteks negara hukum Indonesia, kita harus menimbang segala
perilaku bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa dalam kacamata hukum. Artinya,
antarwarga negara dapat saja berbeda pendapat dalam suatu hal. Namun, hal tersebut
harus dikembalikan pada kajian hukum untuk mendapatkan ‘status yuridis’-nya: apakah
dapat dibenarkan ataukah tidak? Taat pada norma hukum positif (norma hukum yang
sedang berlaku) adalah suatu konsesi patriotisme yang paling utama sebagai sendi-sendi
perilaku konstitusionalis dalam bernegara. Sebab dari sanalah dapat disemai keadilan,
ketertiban umum, dan kepastian hukum.

Bertalian dengan hal tersebut, pada kenyataannya kajian hukum tidak hanya tentang
norma hukum positif tapi juga sejarah hukum dan politik hukum yang berada dalam taraf
pembangunan hukum, penegakan hukum, dan pengawasan hukum. Hal ini diperpanjang
dengan fakta adanya kekosongan hukum, interpretasi hukum, norma hukum yang kabur,
saling tumpang tindih atau bahkan saling bertentangan. Sehingga, selalu ada ruang bagi
gagasan atau perilaku apapun, baik yang tidak masuk akal sekalipun, untuk terus eksis di
kancah kajian atau pendapat hukum. Inilah suatu logical plot yang dikenal dengan istilah
democratic and constitutional welfare state sebagai muatan glosarium ketatanegaraan
Indonesia.

Oleh karenanya, bagi setiap warga negara Indonesia, isu Lesbian, Gay, Biseksual, dan
Transgender (LGBT) dalam konteks yang paling sederhana, setidaknya dapat dipetakan
dalam tiga taraf logis dengan menjawab serangkaian pertanyaan. Pertama, apakah
perilaku LGBT dapat dibenarkan? Kedua, apakah konsesi norma hukum Indonesia
menerima pelanggengan perilaku LGBT? Ketiga, bagaimana secara aktif mengawal
penegakan hukum tersebut?

Apakah Perilaku LGBT Dapat Dibenarkan?

LGBT saat ini lebih dari sekadar sebuah identitas, tetapi juga merupakan campaign
substance and cover atas pelanggengan Same Sex Attraction (SSA). Perilaku LGBT
dimulai dari suatu preferensi homoseksual, kemudian mewujud dalam perbuatan
homoseksual, lalu pada akhirnya melekat dalam bentuk perjuangan untuk diterima
sebagai perilaku normal dalam membentuk institusi keluarga.

Preferensi homoseksual itu hadir dalam keyakinan atas aktualisasi diri, pemikiran berisi
pembenaran preferensi tersebut, dan keinginan yang mendorong untuk merealisasikannya.
Perbuatan homoseksual itu mewujud dalam hubungan interpersonal sesama homoseksual.
Selanjutnya, pembentukan keluarga LGBT adalah fase paling mutakhir dalam
melanggengkan kedua perilaku yang lainnya, baik preferensinya maupun perbuatannya
sebagai homoseksual.

Perilaku LGBT pada gilirannya akan mendorong hadirnya pemahaman yang menyimpang
tentang seksualitas. Dikatakan menyimpang karena tidak dapat menyatukan antara
keinginannya dengan prinsip-prinsip dasar kehidupan, sehingga terjadi gangguan
keberfungsian sosial. Faktanya, tidak ada satu pun agama, nilai kemanusiaan, atau nilai
kemanfaatan manapun yang membenarkan perilaku demikian. Barangkali satu-satunya

15
dasar pemikiran yang membenarikan ialah falsafah etis hedonisme yang tidak
rampung. Aristippus sebagai tokoh falsafah hedonisme dan murid Socrates menyebutkan
bahwa yang terpenting dalam hidup manusia adalah kesenangan. Namun, apabila kita
melihat seluruh catatan filsafat Barat tentang filsafat hedonisme, tidak ada yang
menyebutkan bahwa kesenangan yang dimaksud itu adalah hal yang secara langsung
diingini oleh hasrat yang fana. Seluruhnya mengarahkan pada pemikiran untuk mencapai
kesenangan yang hakiki dimana berlaku pengendalian diri dan kesejatian insani. Telah
nyata bahwa wahyu Tuhan mengutuk perilaku homoseksual. Juga tidak akan ada akal
sehat yang membenarkannya. Pun tidak akan ada pandangan berwawasan kebangsaan
yang akan membelanya. Di luar itu, cuma akal dan pandangan yang bertekuk lutut di
bawah hasrat pemenangan diri sendiri atau ketidaksadaran atas perusakan tatanan
kemasyarakatan yang bermartabat saja yang mungkin mendukungnya.

Apakah konsesi norma hukum di Indonesia menerima pelanggengan perilaku


LGBT?

Bangsa Indonesia ini, kata Soepomo, dibangun dalam suatu tatanan integralistik. Artinya,
kita adalah masyarakat organis. Setiap diri kita adalah anggota dari rumpun keluarga-
keluarga. Model kemanusiaan kita sebagai orang Indonesia adalah pemuliaan generasi
dengan jelasnya garis keturunan yang membentuk rumpun-rumpun kemasyarakatan.
Inilah jati diri pertama dalam bangunan hukum nasional pasca proklamasi kemerdekaan
pada 1945.

Dalam merumuskan konsesi kehidupan bernegara, konstitusi kita tidak memuat konteks
berpikir sebagaimana dalam tertuang dalam konstitusi Amerika:

“We the people of the United States, in order to form a more perfect union, establish
justice, insure domestic tranquility, provide for the common defense, promote the general
welfare, and secure the blessings of liberty to ourselves and our posterity, do ordain and
establish this Constitution for the United States of America.”

Konstitusi kita juga bukan seperti Preamble UN Charter:

“WE THE PEOPLE OF THE UNITED NATIONS DETERMINED

… to reaffirm faith in fundamental human rights, in the dignity and worth of the human
person, in the equal rights of men and women and of nations large and small, and to
establish conditions under which justice and respect for the obligations arising from
treaties and other sources of international law can be maintained….”

16