Anda di halaman 1dari 9

A.

A STATEMENTS OF BASIC ACCOUNTING THEORY (ASOBAT)


Pada tahun 1966, American Accounting Association (AAA) menerbitkan suatu kerangka
dasar teori akuntansi yang disebut A Statements of Basic Accounting Theory (ASOBAT). Komite
dari AAA tersebut diberikan tanggungjawab untuk mengembangkan sebuah pernyataan terpadu
terkait dasar teori akuntansi yang akan berfungsi sebagai panduan bagi pendidik, praktisi, dan
kelompok lain yang berkepentingan dalam akuntansi. Pernyataan tersebut harus mencakup
dukungan yang memadai untuk setiap posisi yang diambil dan penjelasan yang cukup untuk
memberikan kejelasan (AAA 1966 dalam Sterling, 1967). ASOBAT mendefinisikan akuntansi
sebagai: “The process of identifying, measuring and communicating economic information to
permit informed judgments and decisions by users of the information” (Ibid dalam Wolk et al.
2013)
Wolk, Dodd, and Rozycki, 2013, mengatakan bahwa definisi yang dikemukakan oleh
ASOBAT secara khusus terkonsentrasi pada pembuatan kerangka kerja untuk mengevaluasi
pendekatan-pendekatan sistematis untuk mencatat transaksi dan presentasi laporan keuangan
yang disusun untuk pengguna. Sehingga konsentrasinya adalah terkait dengan meta-teori
akuntansi, yang merupakan bagian paling penting dari struktur teori untuk tujuan dan sasaran
informasi akuntansi. Tujuan (objectives) akuntansi yang dirumuskan oleh ASOBAT yaitu:
1. Untuk membuat keputusan tentang penggunaan sumberdaya yang terbatas dan untuk
menentukan tujuan dan sasaran;
2. Mengarahkan dan mengontrol sumberdaya manusia dan material organisasi secara efektif;
3. Mempertahankan dan melaporkan pertanggungjawaban sumberdaya; dan (4) memfasilitasi
fungsi dan kontrol sosial.
ASOBAT mengeluarkan empat standar informasi akuntansi yang kemudian menjadi
pedoman untuk mengkomunikasikan informasi akuntansi, dan tujuan (objectives) tersebut
dapat dipandang sebagai bagian dari meta-teori akuntansi. Standar tersebut adalah:
Relevance, Verifiability, Freedom from Bias, dan Quantifiability. Empat standar tersebut
dimaksudkan untuk mengevaluasi informasi laporan keuangan yang diterbitkan oleh suatu
perusahaan.
a. Relevance (relevansi) terkait dengan kegunaan dalam membuat keputusan di tangan.
Hal tersebut muncul secara langsung dari keempat tujuan yang dikemukakan ASOBAT
untuk berbagai macam tipe informasi (Wolk et el. 2013). Standar Relevance yang
dikemukakan ASOBAT merupakan standar utama dimana suatu informasi yang
relevan akan sangat berguna dalam pengambilan keputusan. Sementara itu, standar
verifiability (dapat diverifikasi) memiliki kesamaan dengan objektifitas.
b. Verifiability merupakan aspek pengukuran. Pengukuran harus dipertimbangkan
sebagai aspek teori akuntansi yang penting walaupun beberapa orang percaya bahwa
mereka melibatkan domain yang berbeda. Pemilihan sistem penilaian dan juga aturan
individu untuk sub sistem harus berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan relevansi.
Akan tetapi, aspek pengukuran juga harus dipertimbangkan karena sistem dan metode
penilaian yang memiliki konsensus yang rendah (dalam hal kesepakatan antar
pengukuran) mungkin harus dilewati melalui pendekatan-pendekatan yang kurang
bermanfaat (Wolk et al. 2013). Menurut Suwardjono, 2012, verifiability lebih berkaitan
dengan meminimkan bias dalam proses pengukuran (measurer bias) daripada dengan
menentukan ketepatan dasar pengukuran (measurement bias), sehingga verifiablity
tidak dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa dasar pengukuran relevan dengan
keputusan yang dituju.
c. Freedom from bias merupakan pelengkap (complementary) dari karakteristik netralitas
dalam kerangka konspetual. Netralitas mengacu pada orientasi lembaga-lembaga
pengaturan-standar, dimana freedom from bias terkait dengan penyiapan laporan
keuangan (Wolk et al. 2013). Standar ini perlu karena permasalahan keberagaman
pengguna dan juga hubungan yang potensial antara manajemen dan pengguna
eksternal. Contohnya, demi relevansi dan keterbukaan, sebuah perusahaan diminta
untuk menghitung laporan keuangan atau catatan-catatan jumlah dari penilaian yang
diharapkan dalam kasus hukum. Keinginan sebuah perusahaan–yang meminimalisir
kerusakan hukum–akan bertentangan dengan standar relevansi dan keterbukaan karena
keputusan pengadilan bisa dipengaruhi oleh pengakuan perasaan bersalah perusahaan
didalam laporan keuangan (Wolk et al. 2013).
d. Quantifiability sangat dekat hubungannya dengan teori pengukuran. Standar
quantifiability mengatakan bahwa suatu informasi akuntansi harus dapat
dikuantitatifkan. Sterling, 1967, mengatakan bahwa elaborasi dari quantifiability
tampaknya diarahkan pada dua ujung: (1) Akuntansi tidak perlu dibatasi untuk
kuantitas "nilai", dan (2) kuantifikasi data menambah kegunaan.

B. ACCOUNTING PRINCIPLES BOARD (APB) STATEMENT NO. 4


APB Statement 4 merupakan pernyataan yang dikeluarkan oleh komite APB pada
tahun 1970 sebagai akibat dari penolakan profesi akuntansi terhadap Accounting Research
Studies (ARS) 1 dan 3 yang telah dikeluarkan sebelumnya oleh APB. Dari penolakan
tersebut kemudian APB mengeluarkan ARS 7 yaitu “Inventory of Generally Accepted
Accounting Principles for Business Enterprises” oleh Paul Grady. Selanjutnya berdasarkan
ARS 7 yang dinilai sukses dan diterima oleh kalangan profesi akuntansi, komite APB
menyusun APB Statement 4 tentang “Basic Concepts and Accounting Principles
Underlying Financial Statements of Business Enterprises.”
Pernyataan APB Statement 4 memiliki dua tujuan, yaitu:
1. Menyediakan suatu dasar untuk mengevaluasi praktik akuntansi saat ini, membantu
memecahkan permasalahan akuntansi, serta menjadi panduan dalam pengembangan
akuntansi keuangan di masa yang akan dating.
2. Meningkatkan pemahaman terhadap tujuan akuntansi keuangan, sifat dari proses dan
kekuatan yang membentuknya, serta potensi keterbatasan laporan keuangan dalam
menyediakan informasi yang dibutuhkan (The CPA letter, 1970, dalam Wolk et al.
2013).
Sementara itu, pada bab pertama dari statement tersebut menyatakan dua tujuan
yaitutujuan pendidikan (educational purpose) dan tujuan pengembangan (developmental
purpose). Tujuan pendidikan adalah untuk memberikan suatu dasar untuk meningkatkan
pemahaman dasar-dasar yang luas dari akuntansi keuangan. Sedangkan tujuan
pengembangan adalah untuk memberikan suatu dasar dalam memandu pengembangan
akuntansi keuangan dimasa depan (Schattke, 1972).
APB Statement 4 mengawali pernyataanya terkait dengan definisi akuntansi. Menurut
APB Statement 4 akuntansi adalah suatu aktifitas jasa yang fungsinya adalah untuk
memberikan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan tentang entitas
ekonomi yang ditujukan untuk menjadi berguna dalam pembuatan keputusan ekonomi
(AICPA, 1970, dalam Wolk et al. 2013).
Dalam APB Statement 4 juga mengadopsi pernyataan ASOBAT yang sangat
menekankan pada keberagaman pengguna. Pengguna informasi keuangan dikelompokkan
menjadi dua, yaitu pengguna dengan kepentingan langsung dan pengguna dengan
kepentingan tidak langsung (Wolk et al. 2013). Menurut APB Statement 4, pengguna harus
memiliki pengetahuan serta memahami karakteristik dan keterbatasan laporan keuangan.
APB Statement 4 juga melihat laporan keuangan memiliki tujuan umum, tidak ditujukan
untuk kalangan pengguna yang terbatas saja.
Ada aspek yang menarik dari APB Statement 4 yaitu tentang pernyataan bahwa
akuntansi adalah disiplin pengukuran. Hal tersebut sejalan dengan apa yang tertulis dalam
ASOBAT. Standar dan panduan untuk informasi akuntansi yang dalam APB Statement 4
disebut qualitative objective juga hampir sama dengan yang ditulis oleh ASOBAT.
Qualitative objective (Schattke, 1972) menghubungkan akuntansi pada pengguna
informasi keuangan dan perhatiannya terhadap kegunaan data untuk suatu keputusan.
Qualitative objective yang tertera pada APB Statement 4 terdiri atas relevance,
understandability, verifiability, neutrality, timeliness, comparability, dan completeness.
a. Relevance. Merupakan tujuan kualitatif yang utama yang terkait dengan bagaimana
suatu informasi benar-benar dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan
bagi pengguna laporan keuangan.
b. Understandability. Informasi yang dipilih untuk disajikan bukan saja yang penting
tetapi juga harus informasi yang dimengerti para pemakainya.
c. Verifiability. Hasil akuntansi itu harus dapat diperiksa oleh pihak lain yang akan
menghasilkan pendapat yang sama.
d. Neutrality. Laporan akuntansi itu netral terhadap pihak-pihak yang berkepentingan.
e. Timeliness. Laporan akuntansi hanya bermanfaat untuk pengambilan keputusan apabila
diserahkan pada saat yang tepat.
f. Comparability. Informasi akuntansi harus dapat saling dibandingkan, artiya akuntansi
harus memiliki prinsip yang sama baik untuk suatu perusahaan maupun perusahaan
lain.
g. Completeness. Informasi akuntansi yang dilaporkan harus mencakup semua kebutuhan
yang layak dari para pemakai.
APB Statement 4 juga sepakat dengan ASOBAT tentang kemungkinan konflik yang
terjadi diantara tujuan-tujuan (objectives) (misalnya relevansi dan reliabilitas) dimana
konflik yang terjadi merupakan sebuah masalah yang rumit yang harus diselesaikan dalam
kerangka konsep metateori. Ketika APB Statement 4 setuju dengan ASOBAT tentang
kebutuhan untuk finite uniformity, APB Statement 4 mengakui tentang kesulitan dalam
mencapai tujuan tersebut. Namun terlepas dari itu semua, APB Statement 4 lebih
berkonsentrasi pada pengembangan pendekatan user-oriented (Wolk et al. 2013).

C. STATEMENT OF FINANCIAL ACCOUNTING CONCEPT (SFAC) NO. 2


SFAC Nomor 2 “Qualitative Caracteristics of Accounting Information”,
menjelaskan tentang karakteristik informasi akuntansi agar bisa digunakan dalam
pembuatan keputusan. Para pembuat keputusan membutuhkan informasi untuk digunakan
dalam keputusan investasi, kredit, dan keputusan yang serupa lainnya. SFAC ini
diterbitkan oleh FASB pada tahun 1980. Dalam Statement ini terdapat dua karakteristik
utama yang membuat informasi akuntansi bermanfaat dalam pembuatan keputusan, yaitu
relevance dan reliability.
Menurut statement ini, informasi yang relevan harus tepat waktu dan harus
memiliki nilai prediktif atau nilai umpan balik atau keduanya. Sementara informasi yang
reliabel harus memiliki representational faithfulness dan harus dapat diverifikasi dan
netral. Disisi lain, statement ini juga memasukkan comparability yang mencakup
consistency sebagai kualitas skunder yang berhubungan dengan relevance dan reliability
untuk mendukung kegunaan informasi.
a. Relevance
Menurut FASB dalam SFAC nomor 2:
Relevant accounting information is capable of making a difference in a decision by
helping users to form predictions about the outcomes of past, present, and future
events or to confirm or correct prior expectations. Information can make a
difference to decisions by improving decision makers' capacities to predict or by
providing feedback on earlier expectations.

(Informasi akuntansi yang relevan adalah mampu membuat perbedaan dalam


sebuah keputusan dengan membantu pengguna untuk membentuk prediksi tentang
hasil dari peristiwa masa lalu, sekarang, dan masa depan atau untuk
mengkonfirmasi atau membenarkan harapan sebelumnya. Informasi dapat
membuat sebuah perbedaan terhadap keputusan dengan meningkatkan kapasitas
pembuat keputusan untuk memprediksi atau dengan memberikan umpan balik
terhadap harapan sebelumnya).
Dalam SFAC nomor 2, informasi yang relevan harus memiliki: feedback
value, yakni mampu membantu menjustifikasi dan mengoreksi harapan masa lalu;
predictive value, yakni dapat digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi
di masa yang akan dating; dan timeliness, yakni informasi harus disajikan kepada
para pemakai sebelum informasi itu kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi
pengambilan keputusan
b. Reliability
Reliabilitas tersusun dari tiga bagian yaitu verifiability, representational
faithfulness, dan neutrality. Menurut FASB dalam SFAC nomor 2, Reliabilitas suatu
ukuran bertumpu pada kesetiaan (faithfulness) dimana ia mewakili apa yang
dimaksudkan untuk diwakili, ditambah dengan sebuah jaminan bagi pengguna, yang
datang melalui verifikasi, bahwa ia memiliki kualitas representational.
c. Verifiability
Verifiabilitas dalam SFAC nomor 2 didefinisikan sebagai kualitas yang dapat
ditunjukkan dengan menjamin sebuah tingkat konsensus yang tinggi antara pengukur
independen dengan menggunakan metode pengukuran yang sama.
d. Neutrality.
Netralitas berarti bahwa dalam merumuskan atau menerapkan standar, perhatian
yang utama seharusnya pada relevansi dan reliabilitas informasi yang dihasilkan, bukan
pada pengaruh standar atau aturan yang memiliki kepentingan tertentu.
e. Representational Faithfulness,
Representational Faithfulness, adalah korespondensi atau kesepakatan antara suatu
ukuran atau deskripsi dan fenomena yang dimaksudkan untuk diwakili. Dalam
akuntansi, fenomena yang diwakili adalah sumberdaya ekonomi dan kewajiban serta
transaksi-transaksi dan kejadian yang mengubah sumberdaya dan kewajiban tersebut.
f. Comparability (Including Consistency).
SFAC nomor 2 mendefinisikan komparabilitas sebagai kualitas atau pernyataan
yang memiliki karakteristik umum. Jadi perbandingan normal komparabilitas
merupakan suatu perhitungan atas karakteristik yang umum. Hal itu mengakibatkan
perbandingan valid hanya dimungkinkan apabila pengukuran yang digunakan, yaitu
kuantitatif atau rasio, secara nyata mewakili karakteristik dari subjek yang
diperbandingkan.
Konsistensi dalam penerapan metode akuntansi selama suatu rentang waktu
mengacu pada kualitas penting yang memungkinkan angka-angka akuntansi menjadi
lebih berguna. Dalam format standar laporan auditor menyatakan bahwa laporan
keuangan telah disajikan “sesuai dengan prinsip akuntansi yang lazim yang secara
konsisten diterapkan.” Konsistensi penggunaan prinsip akuntansi dari suatu periode ke
periode yang lain mendukung kegunaan laporan keuangan bagi pemakai melalui wacana
analisis dan pemahaman atas data komparatif.
Sebagaimana komparabilitas, konsistensi lebih merupakan suatu kualitas dari
keterhubungan antara dua angka akuntansi daripada suatu kualitas angka dengan dirinya
sendiri, dalam konteks nilai relevan dan reliabilitas. Penggunaan yang konsisten dari
suatu metode akuntansi, apakah dari suatu periode ke periode yang lain pada suatu
perusahaan, atau dalam suatu periode meliputi beberapa perusahaan, adalah suatu
kebutuhan tetapi bukan merupakan suatu syarat cukup dari komparabilitas.
g. Materiality
Materiality adalah sebuah konsep luas yang berhubungan dengan karakteristik
kualitatif, terutama relevansi dan keandalan. Materialitas dan relevansi keduanya
didefinisikan dalam hal apa yang mempengaruhi atau membuat suatu perbedaan bagi
pembuat keputusan. Sebuah keputusan untuk tidak mengungkapkan informasi yang
pasti mungkin bisa dibuat, karena investor tidak memiliki kebutuhan informasi
semacam itu (tidak relevan) atau karena jumlah yang terlibat terlalu kecil untuk
membuat perbedaan (tidak material). Suatu item akan dianggap material jika
pencantuman atau pengabaian item tersebut mempengaruhi atau mengubah penilaian
seorang pemakai laporan keuangan. Baik faktor-faktor kuantitatif maupun kualitatif
harus dipertimbangkan dalam menentukan apakan suatu item material atau tidak.

D. STATEMENT OF FINANCIAL ACCOUNTING CONCEPTUAL No. 8


(Conceptual Framework for Financial Reporting)
SFAC No. 8 mencakup dua bab konseptual baru. SFAC No. 8 menetapkan tujuan-
tujuan dan konsep-konsep fundamental yang nantinya akan menjadi dasar dalam
pengembangan akuntansi keuangan dan pedoman pelaporan. Konsep-konsep fundamental
arti bahwa konsep-konsep lain yang mengalir dari pengakuan dan pengukuran serta
pengulangan referensi akan diperlukan untuk membentuk, menafsirkan dan menerapkan
pedoman akuntansi dan pelaporan. SFAC nomor 8 ini diterbitkan oleh FASB pada tahun
2010 yang merupakan pengganti dari SFAC nomor 1 dan 2. Langkah awal dari
diterbitkannya statement ini adalah sebagai hasil dari kerjasama yang dilakukan antara
FASB dan IASB sejak tahun 2004 sebagai sebuah tambahan terhadap Norwalk Agreement,
dimana kerjasama tersebut merupakan suatu upaya untuk melakukan konvergensi masing-
masing kerangka konseptual FASB-IASB. Secara umum isi dan tujuan SFAC No. 8 adalah
sebagai berikut:
a. Bagian pertama hasil projek bersama dengan IASB dalam merumuskan konsep dasar
akuntansi keuangan.
b. Menggantikan SFAC No. 1. dan SFAC No. 2.
c. Terdiri atas tiga bab.
a) Bab 1. Tujuan Pelaporan Keuangan Tujuan Umum
b) Bab 2. Entitas Pelaporan
c) Bab 3. Karakteristik Kualitatif Informasi Keuangan Bermanfaat.
Karakteristik kualitatif yang dijelaskan dalam statement ini terdiri dari dua
karakteristik fundamental dan empat karakteristik tambahan yang sifatnya
meningkatkan mutu dari dua karakteristik fundamental tersebut. Dua karakteristik
fundamental tersebut yaitu relevance dan faithful representation.
a. Relevan (Relevance) : Informasi menjadi relevan jika informasi tersebut
memiliki kriteria unsur kualitas sebagai berikut:
a) Nilai Prediksi (Predictive Value) : Informasi keuangan dikatakan memiliki
nilai prediktif jika dapat digunakan sebagai masukan bagi proses yang
digunakan oleh pengguna untuk mempreiksi hasil masa depan.
b) Nilai Konfirmatori (Confirmatory Value) : Informasi keuangan dikatakan
memiliki nilai konfirmasi jika itu memberikan umpan balik (menegaskan
atau perubahan) tentang evaluasi sebelumnya atau keduanya.
b. Representasi yang Tepat (Faithful Representation).
Terdapat 3 karakteristik untuk menjadi nilai informasi yang representasi
sempurna, yaitu:
a) Lengkap (Completeness) : Lengkap mencakup semua informasi yang
diperlukan bagi pengguna untuk memahami fenomena yang sedang
digambarkan, termasuk semua deskripsi yang diperlukan dan
penjelasannya.
b) Netral (Neutrality) : Netral akan menggambarkan seleksi atau penyajian
informasi keuangan yang tanpa bias. Sebuah penggambaran netral tidak
miring, tertimbang, menekankan, memakai perlombaan, atau dimanipulasi
untuk meningkatkan probabilitas bahwa informasi keuangan akan diterima
baik atau tidak baik oleh pengguna informasi.
c) Bebas dari Kesalahan (Free from Error)
Bebas dari kesalahan tidak berarti bahwa informasi keuangan akurat dari
berbagai aspek. Yang dimaksudkan bebas dari kesalahan berarti tidak ada
kesalahan atau kelalaian dalam deskripsi fenomena, dan proses yang
digunakan untuk menghasilkan informasi yang dilaporkan telah dipilih
dan diterapkan dengan tidak ada kesalahan dalam proses.
Kemudian, agar kegunaan suatu informasi keuangan semakin
meningkat, maka harus didukung oleh empat karakteristik tambahan yaitu
comparability, verifiability, timeliness, dan understandability.

Dua karakteristik fundamental tersebut memerlukan comparability,


verifiability, timeliness, dan understandability untuk meningkatkan kualitas
informasi yang bermanfaat dalam pengambilan
keputusan. Comparability merupakan karakteristik kualitatif yang memungkinkan
pengguna mengidentifikasi dan memahami persamaan dan perbedaan antara dua
item ataupun dua perangkat fenomena ekonomi, misalnya dua perangkat statemen
keuangan yang merepresentasi kegiatan dua badan usaha
Sedangkan verifiability berarti bahwa suatu informasi mampu memberikan
keyakinan yang tinggi kepada para pemakai karena tersedianya sarana bagi para
pemakai untuk menguji secara independen kebenaran informasi tersebut. Selain itu,
kualitas informasi akan semakin meningkat ketika informasi itu tersedia secara
tepat waktu (timeliness) pada saat dibutuhkan oleh para pembuat keputusan.
Informasi tersebut juga harus mampu dicerna atau
dipahami (understandability) maknanya oleh para pemakai. Suatu laporan
keuangan disediakan untuk pengguna yang memiliki pengetahuan yang cukup
tentang bisnis dan kegiatan ekonomi serta bagi mereka yang melakukan review dan
analisis informasi ekonomi dengan rajin.
Karakteristik Kualitatif Informasi Akuntansi
APB
ASOBAT SFAC No. 2 SFAC No. 8
Statement No. 4
Relevance Relevance Primary Fundamental Qualitative
Decision- Characteristic:
Verifiability Understandability Specific Relevance
Qualities: Predictive Value
Freedom from Verifiability Relevance Confirmatory Value
Bias Predictive Value
Neutrality Feedback Value Faithful Representation
Quantifiability Timeliness Complete
Timeliness Free From Error
Reliability Neutral
Comparability Verifiability
Representational
Completeness Faithfulness
Neutrality
Secondary & Enhancing
Interactive Characteristics:
Qualities: Comparability
Comparability Verifiability
(Including Timeliness
Consistency) Understandability
Threshold for
Recognition:
Materiality
DAFTAR PUSTAKA

Financial Accounting Standards Board, 1980. Statement of Financial Accounting Concepts No. 2
Qualitative Characteristics of Accounting Information. Norwalk, CT: FASB
Financial Accounting Standards Board, 2010. Statement of Financial Accounting Concepts No. 8
Conceptual Framework for Financial Reporting. Norwalk, CT: FASB
Safira, SE.Ak.M.Si. Kerangka Kerja Konseptual Untuk Akuntansi & Pelaporan Keuangan (Review
untuk Akuntansi Konvensional). Pusat Pengembangan Bahan Ajar. Universitas Mercu Buana.
Schattke, R.W. 1972. An Analysis of Accounting Principles Board Statement No. 4. The Accounting
Review, Vol. 47, No. 2 (Apr., 1972), pp. 233-244.
Sterling, Robert R., 1967. A Statement of Basic Accounting Theory: A Review Article. Journal of
Accounting Research, Vol. 5, No. 1 (Spring, 1967) , pp 95-112
Suwardjono, 2012. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Edisi Ketiga. BPFE,
Yogyakarta
Wolk, Harry I., et al. 2013. Accounting Theory Conceptual Issues in a Political and Economic
Environment. Eighth Edition. SAGE Publication Inc. USA
Zeff, Stephen A. 1999. The Evolution of The Conceptual Framework for Business Enterprises In The
United States. Accounting Historians Journal, Vol. 26, No. 2