Anda di halaman 1dari 17

INISIASI MENYUSUI DINI (IMD)

INISIASI MENYUSUI DINI (IMD)

A. Inisiasi Menyusu Dini


1. Pengertian

IMD
Inisiasi Menyusu Dini (early initiation) atau permulaan menyusu dini adalah bayi mulai
menyusu sendiri segera setelah lahir. Asalkan dibiarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibunya,
setidaknya satu jam segera setelah lahir. Cara bayi melakukan inisiasi menyusu dini ini
dinamakan the breast crawl atau merangkak mencari payudara (Roesli, 2008).
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah perilaku pencarian puting payudara ibu sesaat setelah
bayi lahir (Prasetyono, 2009).
2. Prinsip Inisiasi Menyusu Dini
Segera setelah bayi lahir, setelah tali pusat dipotong, letakkan bayi tengkurap di dada ibu
dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu. Biarkan kontak kulit ke kulit ini menetap selama
setidaknya 1 jam bahkan lebih sampai bayi dapat menyusu sendiri. Apabila ruangan bersalin
dingin, bayi di beri topi dan di selimuti. Ayah atau keluarga dapat memberi dukungan dan
membantu ibu selama proses bayi menyusu ini. Ibu diberi dukungan untuk mengenali saat bayi
siap untuk menyusu, menolong bayi bila diperlukan (JNPK, 2007).
3. Pentingnya kontak kulit dan menyusu sendiri
a. Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat selama bayi merangkak mencari payudara. Ini
akan menurunkan kematian karena kedinginan (hypotermia).
b. Ibu dan bayi merasa lebih tenang. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi akan
lebih jarang menangis sehingga mengurangi pemakaian energi.
c. Saat merangkak mencari payudara, bayi memindahkan bakteri dari kulit ibunya dan ia akan
menjilat-jilat kulit ibu, menelan bakteri baik di kulit ibu. Bakteri baik ini akan berkembang biak
membentuk koloni di kulit dan usus bayi, menyaingi bakteri jahat dari lingkungan.
d. “Bonding” (ikatan kasih sayang) antara ibu-bayi akan lebih baik karena pada 1-2 jam pertama,
bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu, biasanya bayi tidur dalam waktu yang lama.
e. Makanan awal non-ASI mengandung zat putih telur yang bukan berasal dari susu manusia,
misalnya dari susu hewan. Hal ini dapat mengganggu pertumbuhan fungsi usus dan
mencetuskan alergi lebih awal.
f. Bayi yang diberi kesempatan menyusu lebih dini lebih berhasil menyusui ekslusif dan akan lebih
lama disusui.
g. Hentakan kepala bayi ke dada ibu, sentuhan tangan bayi di puting susu dan sekitarnya, emutan,
jilatan bayi pada puting ibu merangsang pengeluaran hormon oksitosin.
h. Bayi mendapatkan ASI kolostrum yaitu ASI yang pertama kali keluar. Cairan emas ini kadang
juga dinamakan the gift of life. Bayi yang diberi kesempatan inisiasi menyusu dini lebih dulu
mendapatkan kolostrum daripada yang tidak diberi kesempatan. Kolostrum, ASI istimewa yang
kaya akan daya tahan tubuh, penting untuk ketahanan terhadap infeksi, penting untuk
pertumbuhan usus, bahkan kelangsungan hidup bayi. Kolostrum akan membuat lapisan yang
melindungi dinding usus bayi yang masih belum matang sekaligus mematangkan dinding usus
ini.
i. Ibu dan ayah akan merasa sangat bahagia bertemu dengan bayinya untuk pertama kali dalam
kondisi seperti ini. Bahkan, ayah mendapat kesempatan mengazankan anaknya di dada ibunya.
Suatu pengalaman batin bagi ketiganya yang amat indah.
4. Persiapan melakukan Inisiasi Menyusu Dini
a. Pertemuan pimpinan rumah sakit, dokter kebidanan, dokter anak, dokter anastesi, bidan, tenaga
kesehatan yang bertugas di kamar bersalin, kamar operasi, kamar perawatan ibu melahirkan
untuk mensosialisasikan Rumah Sakit Sayang Bayi yang direvisi 2006.
b. Melatih tenaga kesehatan terkait yang dapat menolong, mendukung ibu menyusui, termasuk
menolong inisiasi menyusu dini yang benar.
c. Setidaknya antenatal (ibu hamil), dua kali pertemuan tenaga kesehatan bersama orang tua,
membahas keuntungan ASI dan menyusui, tatalaksana menyusu dini termasuk inisiasi dini
pada kelahiran dengan obat-obatan atau tindakan.
1) Pertemuan bersama-sama beberapa keluarga membicarakan secara umum.
2) Pertemuan dengan satu keluarga membicarakan secara khusus.
d. Di Rumah Sakit Ibu Sayang Bayi, inisiasi menyusu dini termasuk langkah ke-4 dari 10 langkah
keberhasilan menyusui.
5. Tatalaksana Inisiasi Menyusu Dini secara umum
a. Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat persalinan.
b. Disarankan untuk tidak mengurangi penggunaan obat kimiawi saat persalinan. Dapat diganti
dengan cara non-kimiawi misalnya pijat, aromaterapi, gerakan atau hypnobirthing.
c. Biarkan ibu menentukan cara melahirkan yang diinginkan, misalnya melahirkan normal, di
dalam air atau dengan jongkok.
d. Seluruh badan dan kepala bayi dikeringkan secepatnya, kecuali kedua tangannya. Lemak putih
(vernix) yang menyamankan kulit bayi sebaiknya dibiarkan.
e. Bayi ditengkurapkan di dada atau perut ibu. Biarkan kulit bayi melekat dengan kulit ibu. Posisi
kontak kulit dengan kulit ini dipertahankan minimum satu jam atau setelah menyusu awal
selesai. Keduanya diselimuti, jika perlu gunakan topi bayi.
f. Bayi dibiarkan mencari puting susu ibu. Ibu dapat merangsang bayi dengan sentuhan lembut,
tetapi tidak memaksakan bayi ke puting susu.
g. Ayah didukung agar membantu ibu untuk mengenali tanda-tanda atau perilaku bayi sebelum
menyusu. Hal ini dapat berlangsung beberapa menit atau satu jam, bahkan lebih. Dukungan
ayah akan meningkatkan rasa percaya diri ibu. Biarkan bayi dalam posisi kulit bersentuhan
dengan kulit ibunya setidaknya selama satu jam, walaupun ia telah berhasil menyusu pertama
sebelum satu jam. Jika belum menemukan puting payudara ibunya dalam waktu satu jam,
biarkan kulit bayi tetap bersentuhan dengan kulit ibunya sampai berhasil menyusu pertama.
h. Dianjurkan untuk memberikan kesempatan kontak kulit dengan kulit pada ibu yang melahirkan
dengan tindakan seperti operasi Caesar.
i. Bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur, dan dicap setelah satu jam atau menyusu awal
selesai. Prosedur yang invasif, misalnya suntikan vitamin K dan tetesan mata bayi dapat
ditunda.
j. Rawat gabung yaitu ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar. Selama 24 jam ibu dan bayi tetap
tidak dipisahkan dan bayi selalu dalam jangkauan ibu. Pemberian minuman pre-laktal (cairan
yang diberikan sebelum ASI keluar) dihindarkan.
6. Inisiasi Menyusu Dini yang kurang tepat
Menurut Roesli (2008) tatalaksana IMD yang kurang tepat adalah :
a. Begitu lahir, bayi diletakkan di perut ibu yang sudah dialasi kain kering.
b. Bayi segera dikeringkan dengan kain kering. Tali pusat dipotong lalu diikat.
c. Karena takut kedinginan, bayi dibungkus (dibedong) dengan selimut bayi.
d. Dalam keadaan dibedong, bayi diletakkan di dada ibu (tidak terjadi kontak kulit dengan kulit ibu).
Bayi dibiarkan di dada ibu (bonding) untuk beberapa lama (10-15 menit) atau sampai tenaga
kesehatan selesai menjahit perineum.
e. Selanjutnya, diangkat dan disusukan pada ibu dengan cara memasukkan puting susu ibu ke
mulut bayi.
f. Setelah itu, bayi di bawa ke kamar transisi atau kamar pemulihan (recovery room) untuk di
timbang, diukur, dicap, diazankan oleh ayah, diberi suntikan vitamin K dan kadang di beri tetes
mata.

7. Inisiasi Menyusu Dini yang dianjurkan


Menurut Ambarwati (2009) Inisiasi Menyusu Dini yang dianjurkan antara lain :
a. Begitu lahir bayi diletakkan di atas perut ibu yang sudah di alasi kain kering.
b. Keringkan seluruh tubuh bayi termasuk kepala secepatnya.
c. Tali pusat dipotong lalu diikat.
d. Vernik (zat lemak putih) yang melekat di tubuh bayi sebaiknya tidak dibersihkan karena zat ini
membuat nyaman kulit bayi.
e. Tanpa dibedong, bayi langsung ditengkurapkan di dada atau diperut ibu dengan kontak kulit
bayi dan kulit ibu. Ibu dan bayi diselimuti bersama-sama. Jika perlu bayi diberi topi untuk
mengurangi pengeluaran panas dari kepalanya.
8. Penghambat Inisiasi Menyusu Dini
Berikut ini beberapa pendapat yang menghambat terjadinya kontak dini kulit ibu dengan
kulit bayi, yaitu :
a. Bayi kedinginan.
Bayi berada dalam suhu yang aman jika melakukan kontak kulit dengan sang ibu. Suhu
payudara ibu meningkat 0,5 derajat dalam dua menit jika bayi diletakkan di dada ibu.
Berdasarkan hasil penelitian Dr. Niels Bergman (2005), ditemukan bahwa suhu dada ibu
yang melahirkan menjadi 1º lebih panas daripada suhu dada ibu yang tidak melahirkan. Jika
bayi yang diletakkan di dada ibu ini kepanasan, suhu dada ibu akan turun 1ºC. Jika bayi
kedinginan, suhu dada ibu akan meningkat 2ºC untuk menghangatkan bayi. Jadi, dada ibu yang
melahirkan merupakan tempat terbaik bagi bayi yang baru lahir dibandingkan tempat tidur yang
canggih dan mahal (Roesli, 2008).
b. Setelah melahirkan, ibu terlalu lelah untuk segera menyusui bayinya.
Terbentuknya oksitosin akibat sentuhan bayi dan menyusui justru membantu menenangkan
ibu setelah melahirkan (Rosita, 2008).
c. Tenaga kesehatan kurang tersedia.
Saat bayi di dada ibu, penolong persalinan dapat melanjutkan tugasnya. Bayi dapat
menemukan sendiri payudara ibu. Libatkan ayah atau keluarga untuk menjaga bayi sambil
memberi dukungan pada ibu (Roesli, 2008).
d. Kamar bersalin atau kamar operasi sibuk.
Dengan bayi di dada ibu, ibu dapat dipindahkan ke ruang pulih atau kamar perawatan. Beri
kesempatan pada bayi untuk meneruskan usahanya mencapai payudara dan menyusu dini
(Roesli, 2008).
e. Ibu harus dijahit.
Kegiatan merangkak mencari payudara terjadi di area payudara. Yang dijahit adalah bagian
bawah tubuh ibu (Roesli, 2008).
f. Suntikan vitamin K dan tetes mata untuk mencegah penyakit gonore (gonorrhea) harus segera
diberikan setelah lahir.
Menurut American College of Obstetrics and Gyneology dan Academy Breastfeeding
Medicine (2007), tindakan pencegahan ini dapat ditunda setidaknya selama satu jam sampai
bayi menyusu sendiri tanpa membahayakan bayi (Roesli, 2008).
g. Bayi harus segera dibersihkan, dimandikan, ditimbang dan diukur.
Menunda memandikan bayi berarti menghindarkan hilangnya panas badan bayi. Selain itu,
kesempatan vernix meresap, melunakkan, dan melindungi kulit bayi lebih besar. Bayi dapat
dikeringkan segera setelah lahir. Penimbangan dan pengukuran dapat ditunda sampai menyusu
awal selesai (Roesli, 2008).
h. Bayi kurang siaga.
Justru pada 1-2 jam pertama kelahirannya, bayi sangat siaga (alert). Setelah itu, bayi tidur
dalam waktu yang lama. Jika bayi mengantuk akibat obat yang diasup ibu, kontak kulit akan
lebih penting lagi karena bayi memerlukan bantuan lebih untuk bonding (Roesli, 2008).
i. Kolostrum dan ASI saja tidak cukup bagi bayi
Sebagai makanan pertama, kolostrum justru sangan mencukupi. Normal terjadi berat
badan bayi sedikit turun setelah dilahirkan (Rosita, 2008).
j. Kolostrum tidak baik, bahkan berbahaya untuk bayi.
Kolostrum sangat diperlukan untuk tumbuh kembang bayi. Kolostrum merupakan imunisasi
pertama yang diterima bayi (Rosita, 2008).
k. Bayi memerlukan cairan lain sebelum menyusui.
Justru cairan ini akan meningkatkan risiko bayi terhadap infeksi, serta dapat mempengaruhi
pemberian ASI secara ekslusif (Rosita, 2008).

9. Keuntungan Inisiasi Menyusu Dini


Menurut Departemen Kesehatan (2007) kontak kulit dengan kulit mempunyai beberapa
keuntungan yaitu :
a. Keuntungan kontak kulit bayi dengan kulit ibu untuk bayi.
1) Mengoptimalkan keadaan hormonal ibu dan bayi.
2) Kontak memastikan perilaku optimum menyusu berdasarkan insting dan bisa diperkirakan :
a) Menstabilkan pernapasan.
b) Mengendalikan temperatur tubuh bayi.
c) Memperbaiki atau mempunyai pola tidur yang lebih baik.
d) Mendorong ketrampilan bayi untuk menyusu yang lebih cepat dan efektif.
e) Meningkatkan kenaikan berat badan (kembali ke berat lahirnya dengan lebih cepat).
f) Meningkatkan hubungan antara ibu dan bayi.
g) Tidak terlalu banyak menangis selama satu jam pertama.
h) Menjaga kolonisasi kuman yang aman dari ibu di dalam perut bayi sehingga memberikan
perlindungan terhadap infeksi.
i) Bilirubin akan lebih cepat normal dan mengeluarkan mekonium lebih cepat sehingga
menurunkan kejadian ikterus bayi baru lahir.
j) Kadar gula dan parameter biokimia lain yang lebih baik selama beberapa jam pertama
hidupnya.
b. Keuntungan kontak kulit bayi dengan kulit ibu untuk ibu.
1) Merangsang produksi oksitosin dan prolaktin pada ibu.
a) Oksitosin
(1) Membantu kontraksi uterus sehingga perdarahan pasca persalinan lebih rendah.
(2) Merangsang pengeluaran kolostrum.
(3) Penting untuk kelekatan hubungan ibu dan bayi.
(4) Ibu lebih tenang dan lebih tidak merasa nyeri pada saat placenta lahir dan prosedur pasca
persalinan lainnya.
b) Prolaktin
(1) Meningkatkan produksi ASI.
(2) Membantu ibu mengatasi stres. Mengatasi stres adalah fungsi oksitosin.
(3) Mendorong ibu untuk tidur dan relaksasi setelah bayi selesai menyusu.
(4) Menunda ovulasi.
c. Keuntungan menyusu dini untuk bayi.
Menurut Ambarwati (2009) keuntungan IMD bagi bayi meliputi :
1) Makanan dengan kualitas dan kuantitas optimal agar kolostrum segera keluar yang disesuaikan
dengan kebutuhan bayi.
2) Memberikan kesehatan bayi dengan kekebalan pasif yang segera kepada bayi. Kolostrum
adalah imunisasi pertama bagi bayi.
3) Meningkatkan kecerdasan.
4) Membantu bayi mengkoordinasikan hisap, telan dan napas.
5) Meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan bayi.
6) Mencegah kehilangan panas.
7) Merangsang kolostrum segera keluar.
d. Keuntungan menyusu dini untuk ibu.
1) Merangsang produksi oksitosin dan prolaktin.
2) Meningkatkan keberhasilan produksi ASI.
3) Meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan bayi.
10. Peran bidan dalam Inisiasi Menyusu Dini.
Menurut Inayati (2009) peran bidan dalam IMD meliputi :
a. Sebelum persalinan (Tahap persiapan dan informasi).
1) Memberikan informasi kepada klien dan keluarga tentang penatalaksanaan inisiasi menyusu
dini.
2) Mengkaji kebersihan diri klien. Bila perlu anjurkan klien untuk membersihkan diri atau mandi
terlebih dahulu.
3) Mempersiapkan alat tambahan untuk pelaksanaan inisiasi menyusu dini yaitu 3 buah kain
pernel yang lembut dan kering serta sebuah topi bayi. Menganjurkan agar klien mendapat
dukungan dan pendamping selama proses persalinan dari suami atau keluarga.
4) Membantu meningkatkan rasa percaya diri klien.
5) Memberikan suasana yang layak dan nyaman untuk persalinan.
6) Memfasilitasi klien mengurangi rasa nyeri persalinan dengan mobilisasi dan relaksasi.
7) Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman untuk melahirkan.
b. Proses persalinan (Tahap pelaksanaan)
1) Membuka baju klien di bagian perut dan dada.
2) Menyimpan kain pernel yang lembut dan kering diatas perut ibu.
3) Setelah bayi lahir, simpan bayi di atas perut ibu.
4) Bayi dikeringkan dari kepala hinga kaki dengan kain lembut dan kering (kecuali kedua
lengannya, karena bau ketuban yang menempel pada lengan bayi akan memandu bayi untuk
menemukan payudara ibu) sambil melakukan penilaian awal Bayi Baru Lahir (BBL).
5) Melakukan penjepitan, pemotongan dan pengikatan tali pusat.
6) Melakukan kontak kulit dengan menengkurapkan bayi di dada ibu tanpa dibatasi alas.
7) Selimuti ibu dan bayi, kalau perlu pakaikan topi di kepala bayi.
8) Menganjurkan ibu untuk memberikan sentuhan lembut pada punggung bayi.
9) Menganjurkan pada suami atau keluarga untuk mendampingi ibu dan bayi.
10) Memberikan dukungan secara sabar dan tidak tergesa-gesa.
11) Membantu menunjukkan pada ibu perilaku pre-feeding (Pre-feeding behavior) yang positif :
istirahat dalam keadaan siaga, memasukan tangan ke mulut, menghisap dan mengeluarkan air
liur, bergerak kearah payudara dengan kaki menekan perut ibu, menjilat-jilat kulit ibu,
menghentakkan kepala, menoleh ke kanan dan ke kiri, menyentuh puting susu dengan
tangannya, menemukan puting susu, menghisap dan mulai minum ASI.
12) Membiarkan bayi menyusu awal sampai si bayi selesai menyusu pada ibunya dan selama ibu
menginginkannya.
13) Bidan melanjutkan asuhan persalinan.

Daftar Pustaka

Departemen Kesehatan RI. 2007. Pelatihan APN Bahan Tambahan IMD. Jakarta : JNPKKR-

JHPIEGO.

Prasetyono, Dwi Sunar. 2009. Buku Pintar ASI Eksklusif. Jakarta : Diva Press.

Roesli, U. 2008. Inisiasi Menyusu Dini plus ASI Ekslusif. Jakarta : Pustaka Bunda

1. PENGERTIAN PERDARAHAN POST PARTUM


2. PENGERTIAN

Pendarahan pasca persalinan (post partum) adalah pendarahan pervaginam 500 ml atau lebih
sesudah anak lahir. Perdarahan merupakan penyebab kematian nomor satu (40%-60%) kematian
ibu melahirkan di Indonesia. Pendarahan pasca persalinan dapat disebabkan oleh atonia uteri,
sisa plasenta, retensio plasenta, inversio uteri dan laserasi jalan lahir .

Perdarahan postpartum adalah sebab penting kematian ibu ; ¼ dari kematian ibu yang
disebabkan oleh perdarahan ( perdarahan postpartum, plasenta previa, solution plaentae,
kehamilan ektopik, abortus dan ruptura uteri ) disebabkan oleh perdarahan postpartum.
Perdarahan postpartum sangat mempengaruhi morbiditas nifas karena anemia mengurangkan
daya tahan tubuh. Perdarahan postpartum diklasifikasikan menjadi 2, yaitu :

Perdarahan Pasca Persalinan Dini (Early Postpartum Haemorrhage, atau Perdarahan Postpartum
Primer, atau Perdarahan Pasca Persalinan Segera). Perdarahan pasca persalinan primer terjadi
dalam 24 jam pertama. Penyebab utama perdarahan pasca persalinan primer adalah atonia uteri,
retensio plasenta, sisa plasenta, robekan jalan lahir dan inversio uteri. Terbanyak dalam 2 jam
pertama.

Perdarahan masa nifas (PPH kasep atau Perdarahan Persalinan Sekunder atau Perdarahan Pasca
Persalinan Lambat, atau Late PPH). Perdarahan pascapersalinan sekunder terjadi setelah 24 jam
pertama. Perdarahan pasca persalinan sekunder sering diakibatkan oleh infeksi, penyusutan
rahim yang tidak baik, atau sisa plasenta yang tertinggal.

2. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERDARAHAN


PASCAPERSALINAN

 Perdarahan pascapersalinan dan usia ibu

Wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 tahun merupakan
faktor risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan yang dapat mengakibatkan kematian
maternal. Hal ini dikarenakan pada usia dibawah 20 tahun fungsi reproduksi seorang wanita
belum berkembang dengan sempurna, sedangkan pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi
seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal sehingga
kemungkinan untuk terjadinya komplikasi pascapersalinan terutama perdarahan akan lebih besar.

Perdarahan pascapersalinan yang mengakibatkan kematian maternal pada wanita hamil yang
melahirkan pada usia dibawah 20 tahun 2-5 kali lebih tinggi daripada perdarahan pascapersalinan
yang terjadi pada usia 20-29 tahun. Perdarahan pascapersalinan meningkat kembali setelah usia
30-35tahun.

 Perdarahan pascapersalinan dan gravida

Ibu-ibu yang dengan kehamilan lebih dari 1 kali atau yang termasuk multigravida mempunyai
risiko lebih tinggi terhadap terjadinya perdarahan pascapersalinan dibandingkan dengan ibu-ibu
yang termasuk golongan primigravida (hamil pertama kali). Hal ini dikarenakan pada
multigravida, fungsi reproduksi mengalami penurunan sehingga kemungkinan terjadinya
perdarahan pascapersalinan menjadi lebih besar.

 Perdarahan pascapersalinan dan paritas

Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut perdarahan pascapersalinan yang
dapat mengakibatkan kematian maternal. Paritas satu dan paritas tinggi (lebih dari tiga)
mempunyai angka kejadian perdarahan pascapersalinan lebih tinggi. Pada paritas yang rendah
(paritas satu), ketidaksiapan ibu dalam menghadapi persalinan yang pertama merupakan faktor
penyebab ketidakmampuan ibu hamil dalam menangani komplikasi yang terjadi selama
kehamilan, persalinan dan nifas.

 Perdarahan pascapersalinan dan Antenatal Care

Tujuan umum antenatal care adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu serta
anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehingga angka morbiditas dan mortalitas ibu
serta anak dapat diturunkan. Pemeriksaan antenatal yang baik dan tersedianya fasilitas rujukan
bagi kasus risiko tinggi terutama perdarahan yang selalu mungkin terjadi setelah persalinan yang
mengakibatkan kematian maternal dapat diturunkan. Hal ini disebabkan karena dengan adanya
antenatal care tanda-tanda dini perdarahan yang berlebihan dapat dideteksi dan ditanggulangi
dengan cepat.

 Perdarahan pascapersalinan dan kadar hemoglobin

Anemia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penurunan nilai hemoglobin dibawah nilai
normal. Dikatakan anemia jika kadar hemoglobin kurang dari 8 gr%. Perdarahan pascapersalinan
mengakibatkan hilangnya darah sebanyak 500 ml atau lebih, dan jika hal ini terus dibiarkan
tanpa adanya penanganan yang tepat dan akurat akan mengakibatkan turunnya kadar hemoglobin
dibawah nilai normal

1. ETIOLOGI

Perdarahan pascapersalinan antara lain dapat disebabkan oleh:

 Atonia uteri

Atonia uteri merupakan kegagalan miometrium untuk berkontraksi setelah persalinan sehingga
uterus dalam keadaan relaksasi penuh, melebar, lembek dan tidak mampu menjalankan fungsi
oklusi pembuluh darah. Akibat dari atonia uteri ini adalah terjadinya pendarahan. Perdarahan
pada atonia uteri ini berasal dari pembuluh darah yang terbuka pada bekas menempelnya
plasenta yang lepas sebagian atau lepas keseluruhan. Miometrium terdiri dari tiga lapisan dan
lapisan tengah merupakan bagian yang terpenting dalam hal kontraksi untuk menghentikan
pendarahan pasca persalinan. Miometrum lapisan tengah tersusun sebagai anyaman dan
ditembus oeh pembuluh darah. Masing-masing serabut mempunyai dua buah lengkungan
sehingga tiap-tiap dua buah serabut kira-kira berbentuk angka delapan. Setelah partus, dengan
adanya susunan otot seperti tersebut diatas, jika otot berkontraksi akan menjepit pembuluh darah.
Ketidakmampuan miometrium untuk berkontraksi ini akan menyebabkan terjadinya pendarahan
pasca persalinan.

Atonia uteri merupakan penyebab tersering dari pendarahan pasca persalinan. Sekitar 50-60%
pendarahan pasca persalinan disebabkan oleh atonia uteri. Faktor-faktor predisposisi atonia uteri
antara lain :

1. Grandemultipara
2. Uterus yang terlalu regang (hidramnion, hamil ganda, anak sangat besar (BB > 4000
gram)
3. Kelainan uterus (uterus bicornis, mioma uteri, bekas operasi)
4. Plasenta previa dan solutio plasenta (perdarahan antepartum)
5. Partus lama (exhausted mother)

 Partus precipitatus
 Hipertensi dalam kehamilan (Gestosis)
 Infeksi uterus
 Anemi berat

6. Penggunaan oksitosin yang berlebihan dalam persalinan (induksi partus)


7. Riwayat PPH sebelumnya atau riwayat plasenta manual
8. Pimpinan kala III yang salah, dengan memijit-mijit dan mendorong-dorong uterus
sebelum plasenta terlepas

https://bidanirenatheresya.wordpress.com/2014/10/23/perdarahan-kala-iv/

Cara memeriksa plasenta dan selaputnya :

• Periksa sisi maternal (yang menempel pada dinding uterus) untuk memastikan bahwa
semuanya lengkap dan utuh tidak ada yang bagian yang hilang

• Pasangkan bagian-bagian placenta yang robek atau terpisah untuk memastikan tidak ada
bagian yang hilang

• Periksa placenta bagian fetal (yang menghadap kejanin) untuk memastikan tidak ada
kemungkinan loba ekstra (suksenturiata)

• Evaluasi selaput untuk memastikan kelengkapannya

Ukuran Plasenta :

1. Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15 – 20 cm


2. tebal lebih kurang 2,5 cm
3. beratnya rata-rata 500 gr
4. jumlah kotiledon mencapai 15- 20 buah

Macam-macam insersi tali pusat :

1.Tali pusat berada di tegah plasenta → Insertio sentralis

2. Tali pusat berada agak dipinggir plasenta → Insertio lateralis

3. Tali pusat berada di pinggir plasenta → Insertio marginalis


4. tali pusat berada di luar plasenta, dan hubungan plasenta melalui selaput janin →
Insertio Velamentosa

Fungsi Plasenta :

– Sebagai alat yang memberi makanan pada janin (nutritive).

– Sebagai alat yang mengeluarkan bekas metabolisme (ekskresi).

– Sebagai alat yang memberi zat asam, dan mengeluarkan CO2 (respirasi) .

– Sebagai alat yang membentuk hormone.

– Sebagai alat yang menyalurkan berbagai antibody ke janin.

Pemantauan Kontraksi

• Segera setelah kelahiran placenta lakukan rangsangan taktil pada fundus uteri →
TERJADINYA KONTRAKSI FUNDUS UTERI

Cara melakukan Rangsangan taktil :

• Letakan telapak tangan pada fundus uteri

• Gerakan tangan secara memutar pada fundus uteri sehingga uterus berkontraksi (15 kali
putaran)

• Jika setelah satu atau dua menit uterus masih belum berkontraksi ulagi rangsangan taktil

• Ajarkan ibu dan keluarganya cara melakukan rangsangan taktil ,uterus segera dapat
diketahui jika uterus tidak bekontraksi dengan baik

• Periksa kontraksi uterus setiap 15 menit selama 1 jam pertma pasca persalinan dan setip 30
menit selama 1 jam kedua pasca persalinan

http://queenastar.blogspot.com/2010/07/pemeriksaan-plasenta.html

A. Pengertian

Plasenta adalah bagian dari kehamilan yang penting karena merupakan alat pertukaran
zat antara ibu dan anak sebaliknya. Pertumbuhan plasenta makin lama makin besar dan luas,
umumnya mencapai pembentukan lengkap pada usia kehamilan sekitar 16 minggu. Jiwa anak
tergantung plasenta, baik tidaknya anak tergantung pada baik buruknya plasenta. Plasenta
merupakan organ sementara yang menghubungkan ibu dengan janin. Plasenta memproduksi
beberapa hormon penting dalam kehamilan yaitu Human Chorionic Gonatropin (HCG) dan
Human Plasenta Lactagen (PHL).

a. Bentuk dan Ukuran :

1. Bentuk bundar/oval
2. Diameter 15-25 cm, tebal 3-5 cm
3. Berat rata-rata 500-600 gram
4. Insersi tali pusat (tempat berhubungan dengan plasenta) dapat ditengah/ sentrali, disamping/
lateralis, atau di ujung tepi/ marginalis.
5. Disisi ibu, tampak daerah-daerah yang agak menonjol (kotiledon) yang diliputi selaput tipis
desidua basalis
6. Disisi janin, tampak sejumlah arteri dan vena besar (pembuluh orion) menuju tali pusat. Orion
diliputi oleh amnion
7. Sirkulasi darah ibu di plasenta sekitar 3000cc/menit (20 minggu) meningkat 600 cc – 7000
cc/menit (aterm)

b. Letak Plasenta

Letak plasenta pada umumnya pada korpus uteri bagian depan atau belakang agak
ke arah fundus uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukan bagian atas korpus uteri lebih
luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi.

B. Kelahiran plasenta
Kelahiran plasenta yaitu lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus serta
pengeluaran plasenta dar kavum arteri. Lepasnya plasenta dimulai pada saat bayi telah lahir
lengkap. Berakhir dengan lahirnya perdarahan baru, atau dari tepi/ marginal ( Matthews-Duncan
) jika tidak disertai perdarahan atau mungkin juga serempak sentral marginal. Pelepasan plasenta
terjadi karena pelekatan plasenta didinding uterus adalah bersifat adhesi, sehingga pada saat
kontraksi mudah lepas dan berdarah.

Mendorong atau memicu lahirnya plasenta bisa dengan atur posisi jongkok,
pengosongan kandung kemih, berjalan, tetap dalam posisi tegak, dll. Dan Cara mudah untuk
mendorong plasenta untuk memisahkan diri dengan rahim adalah dengan mencium dan
menyusui bayi Anda, karena stimulasi puting melepaskan hormon-hormon oksitosin yang akan
membantu rahim Anda berkontraksi. Adapun cara lain unruk membantu kelahiran plasenta yaitu
dengan pemberian Homeophatic. Beberapa obat homeopati ini dapat membantu kontraksi rahim
dan melepaskan plasenta dari rahim. Obat khusus yang diberikan setiap 5-10 menit,
dosis: Pulsatilla 30C perdarahan Intermiten, retensi urin, perut bagian bawah panas, merah,
sakit, dan menyakitkan untuk disentuh.

C. Tujuan kelahiran plasenta

Kelahiran plasenta pada masa partus terjadi pada kala III, dimana pada masa ini bayi
lahir dan 5-30 menit kemudian lahirlah plasenta. Dengan kelahiran bayi maka terjadi pula proses
mengecilnya uterus hal ini diharapkan agar saat lahir bayinya diharapkan plasenta beberapa
menit kemudian keluar. Hal ini akan membahayakan pada ibu jika plasenta tidak dapat keluar,
karna akan dapat menyebabkan pendarahan pada ibu karna akan mengganggu dari proses
mengecilnya uterus tersebut. Dan kelahiran plasenta sebagai tanda selesainya tahap ketiga
persalinan (kala III)
Adapun keuntungan pada kala III, yaitu :
Persalinan kala tiga yang lebih singkat
Mengurangi jumlah kehilangan darah
Mengurangi kejadian retensio plasenta
D. Persiapan alat
Pasien :
a) Cairan dan selang infuse sudah terpasang. Perut bawah dan lipat paha sudah dibersihkan.
b) Uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi
c) Siapkan kain alas bokong, sarung kaki dan penutup perut bawah
d) Medikamentosa
e) Analgetika (Phetidin 1-2 mg/kg BB, Ketamin Hcl 0,5 mg/kg BBT, Tramadol 1-2 mg/kg BB)
f) Sedative (Diazepam 10 mg)
g) Atropine Sulfas 0,25-0,55 mg/ml
h) Uteretonika (Oksitosin,Ergometrin, Prostaglandin)
i) Cairan NaCl 0,9% dan RL
j) Infuse Set
k) Larutan Antiseptik (Povidon Iodin 10%)
l) Oksigen dengan regulator
Penolong/ Tenaga kesehatan :
a) Baju kamar tindakan, pelapis plastic, masker dan kaca mata : 3 set
b) Sarung tangan DTT/steril : sebaiknya sarung tangan panjang
c) Alas kaki (sepatu boot karet) : 3 pasang
Instrument :
 Kocher: 2, Spuit 5 ml dan jarum suntik no 23G
 Mangkok tempat plasenta : 1
 Kateter karet dan urine bag : 1
 Benang kromk 2/0 : 1 rol
 Partus set

E. Prosedur kerja
( PENGELUARAN PLASENTA DENGAN PENEGANGAN TALI PUSAT )

1. Tujuan
Membantu pengeluaran plasenta dan selaputnya secara lengkap tanpa menyebabkan
pendarahan.
2. Prasyarat
Bidan sudah terlatih dalam membantu pengeluaran plasenta secara
3. Hasil
a) Ibu dengan resiko pendarahan postpartum primer mendapat penanganan yang memadai.
b) Menurunnya kejadian pendarahan postpartum akibat salah penanganan kala III lengkap dengan
penegangan tali pusat secara benar.
c) Adanya alat dan bahan untuk melahirkan plasenta, termasuk air bersih, larutan klorin 0,5%
untuk dekontaminasi, sabun dan handuk bersih untuk cuci tangan, juga tempat untuk plasenta.
Sebaiknya Bidan menggunakan sarung tangan yang bersih.
d) Tersedia oksitosika yang dikirim dan disimpan dengan benar.

4. Proses
a) Masukkan okitosika (okitosin 10 IU IM) ke dalam alat suntik menjelang persalinan.
b) Setelah bayi lahir, periksa kemungkinan adanya bayi kembar. Jika tidak ada, beri oksitosi secara
IM secepatnya. (Kecuali jika terdapat hal lain yang mengharuskan pemberian secara IV).
c) Tunggu tanda terlepasnya plasenta (yaitu fundus mengeras dan bulat, keluarnya tetesan darah,
fundus naik, tali pusat memanjang). Periksa fundus untuk mengetahui adanya kontraksi,
keluarkan gumpalan jika perlu.
d) Bantu ibu untuk bersandar atauberbaring untuk pengeluaran plasenta dan selaputnya.
e) Jika plasenta sudah terlepas dari dinding uterus, letakkan tangan kiri di atas simfisis pubis untuk
menahan korpus uteri, dan regangkan tali pusat dengan tangan yang lain tetapi jangan ditarik.
Mula-mula regangan diarahkan ke bawah, lalu secara perlahan diregangkan ke atas dengan
mengikuti sumbu jalan lahir. Jangan menekan funus karena dapat menyebabkan inversio uteri.
f) Jika plasenta sudah tampak dari luar, secara bertahap tarik ke atas

5. Pernyataan Standar:
Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat janin pada kala II yang lama, dan
segera melakukan episiotomi dengan aman untuk menperlancar persalinan, diikuti dengan
penjahitan perineum. sehingga plasenta mengikuti jalan yang sama dengan bayi. Lepaskan
tangan kiri dari perut, untuk menerima plasenta.
a) Keluarkan selaput dengan hati-hati. (Hal ini harus dikerjakan secara perlahan dan hati-hati.
Jangan ditarik karena selaput mungkin robek).
b) Begitu plasenta sudah lahir ecara lengkap, perikasa apakah uterus berkontraksi dengan baik.
(Mungkin perlu mengeluarkan gumpalan darah dan mengusap fundus dari luar agar uterus
berkontraksi, jika uterus tidak keras dan bulat).
c) Taksir jumlah kehilangan darah secermat-cermatnya.
d) Periksa apakah plasenta telah dilahirkan secara lengkap, jika tidak lengkap, ulangi pemberian
oksitosida. Jika pendarahan tidak banyak dan rumah sakit dekat, ibu segera dirujuk. Bila
pendarahan banyak dan rumah sakit jauh, lakukan plasenta manual Untuk penanganan
pendarahan.
e) Bersihkan vulva dan perineum dengan air bersih dan tutup dengan pembalut wanita/kain kering
yang bersih.
f) Periksa tanda-tanda vital. Catat semua temuan secermat-cermatnya.
g) Berikan plasenta kepada suami/keluarga ibu.

Apabila plasenta tidak keluar secara normal 30 menit atau lebih setelah bayi lahir maka
hal tersebut terjadi “ Retensio Plasenta “. Maka dalam hal ini dilakukan manual plasenta.
Manual plasenta adalah upaya melepaskan plasenta dengan cara manual yaitu dengan
memasukkan tangan dan “menyisiri” serta melepaskan plasenta yang lengket di dinding rahim
dengan cara manual. Prosedur ini relatif sederhana. Bidan harus mengenakan sarung tangan steril
hingga ke siku-, antiseptik di tuangkan atas tangan bersarung dan memasukkan tangannya
melalui vagina dan masuk ke ostium uteri. Sedangkan tangan yang lain fundus untuk menjaga
rahim.

PROSEDUR KLINIK MANUAL PLASENTA


Persetujuan Tindakan Medik
Informed consent merupakan perstujuan dari pasien dan keluarga terhadap tindakan
medic yang akan dilakukan terhadap dirinya oleh dokter/bidan. Persetujuan diberikan setelah
pasien diberikan penjelasan yang lengkap dan objektif tentang diagnosis penyakit, upaya
penyembuhan, tujuan dan pilihan tindakan yang akan dilakukan.

Pencegahan Infeksi Sebelum Tindakan


Sebelum melakukan tindakan sebaiknya mencuci tangan terlebih dahulu dengan sabun
dan air yang mengalir untuk mencegah infeksi. Mengeringkan tangan dengan handuk bersih lalu
pasang sarung tangan DTT/steril.
Tindakan Penetrasi Ke Kavum Uteri
a) Intruksikan asisten untuk memberikan sedatif dan analgetik melalui karet infuse.

b) Lakukan kateterisasi kandung kemih.

c) Pastikan kateter masuk kedalam kandung kemih dengan benar.

d) Cabut kateter setelah kandung kemih dikosongkan.

e) Jepit tali pusat dengan kocher kemudian tegakan tali pusat sejajar lantai.

f) Secara obstetric masukkan satu tangan (punggung tangan ke bawah) kedalam vagina dengan
menelusuri tali pusat bagian bawah.

g) Setelah tangan mencapai pembukaan serviks, minta asisten untuk memegang kocher kemudian
tangan lain penolong menahan fundus uteri.

h) Sambil menahan fundus uteri, masukan tangan ke dalam kavum uteri sehingga mencapai tempat
implantasi plasenta.

i) Buka tangan obstetric menjadi seperti memberi salam (ibu jari merapat ke pangkal jari telunjuk).

j) Melepas Plasenta dari Dindig Uterus

k) Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta yang paling bawah

l) Bila berada di belakang, tali pusat tetap di sebelah atas. Bila dibagian depan, pindahkan tangan
ke bagian depan tal pusat dengan punggung tangan menghadap ke atas.

m) Bila plasenta di bagian belakang, lepaskan plasenta dari tempat implantasinya dengan jalan
menyelipkan ujung jari di antara plasenta dan dinding uterus, dengan punggung tangan
mengahadap ke dinding dalam uterus.

n) Bila plasenta di bagian depan, lakukan hal yang sama (dinding tangan pada dinding kavun uteri)
tetapi tali pusat berada di bawah telapak tangan kanan.

o) Kemudian gerakan tangan kanan ke kiri dan kanan sambil bergeser ke cranial sehingga semua
permukaan maternal plasenta dapat dilepaskan.

Catatan :
Sambil melakukan tindakan, perhatikan keadaan ibu (pasien), lakukan penanganan yang sesuai
bila terjadi penyuliit.

Mengeluarkan Plasenta
1. Sementara satu tangan masih berada di kavum uteri, lakukan eksplorasi ulangan untuk
memastikan tidak ada bagian plasenta yang masih melekat pada dinding uterus.

2. Pindahkan tangan luar ke supra simfisis untuk menahan uterus pada saat plasenta dikeluarkan.

3. Instruksikan asisten yang memegang kocher untuk menarik tali pusat sambil tangan dalam
menarik plasenta ke luar (hindari percikan darah).

4. Letakan plasenta ke dalam tempat yang telah disediakan.

5. Lakukan sedikit pendorongan uterus (dengan tangan luar) ke dorsokranial setelah plasenta lahir.

6. Perhatikan kontraksi uterus dan jumlah perdarahan yang keluar

Dekontaminasi Pasca Tindakan


Alat-alat yang digunakan untuk menolong di dekontaminasi, termasuk sarung tangan
yang telah di guanakan penolong ke dalam larutan antiseptic
1. Cuci Tangan Pascatindakan

2. Mencuci kedua tangan setelah tindakan untuk mencegah infeksi.

3. Perawatan Pascatindakan

4. Periksa kembali tanda vital pasien, segera lakukan tindakan dan instruksi apabila masih
diperlukan.

5. Catat kondisi pasien dan buat laporan tindakan d dalam kolom yang tersedia.

6. Buat instruksi pengobatan lanjutan dan hal-hal penting untuk dipantau.

7. Beritahukan pada pasien dan keluarganya bahwa tindakan telah selesai tetapi pasien masih
memerlukan perawatan.

Daftar Pustaka
Sulianti, S, 2010, Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Yogyakarta : Pusdiknakes Depkes RI

Coad, Jane dan Melvyn Dunstall. (2007). Anatomi dan Fisiologi untuk Bidan. Jakarta : EGC

Saifudin, Abdul Bari. (2002). Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBPSP,

Affandi, Biran, dkk, (2007), Asuhan Persalinan Normal, Asuhan Essensial

Persalinan (Edisi Revisi), Jakarta : Jaringan Nasional Pelatihan Klinik,

Bobak, Lawdermilk, Jensen, (2005), Keperawatan Maternitas edisi 4,

Jnpk-kr , POGI(2008).Asuhan Persalinan Dan Insiasi Menyusui Dini .Jakarta