Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN KASUS

ASFIKSIA NEONATORUM

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik


Stase Ilmu Kesehatan Anak

Diajukan Kepada :
Pembimbing : dr. Laily Babgei, SpA

Disusun Oleh :
Marla Deni Nugraha H2A010033

KEPANITERAAN KLINIK - ILMU KESEHATAN ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
RSUD Dr.ADHYATMA, MPH

2015

1
LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR
KEPANITERAAN KLINIK - ILMU KESEHATAN ANAK

LAPORAN KASUS

ASFIKSIA NEONATORUM

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik


Stase Ilmu Kesehatan Anak

RSUD Dr.ADHYATMA, MPH

Disusun Oleh:
Marla Deni Nugraha H2A010033

Telah disetujui oleh Pembimbing:


Tanggal : ...........................................

Pembimbing Klinik
Ilmu Kesehatan Anak

dr. Laily Babgei, SpA

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Angka kematian bayi ( Infrant Mortality Rate) merupakan salah satu
indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan dan kesejahteraan
masyarakat, karena dapat menggambarkan kesehatan penduduk secara umum.
Menurut Laporan dari organisasi kesehatan dunia (WHO) bahwa setiap
tahunnya, kira-kira 3% (3,6 juta) dari 120 juta bayi lahir mengalami asfiksia,
hampir 1 juta bayi ini kemudian meninggal. Di Indonesia, dari seluruh
kematian bayi, sebanyak 57% meninggal pada masa BBL (usia dibawah 1
bulan). Setiap 6 menit terdapat satu BBL yang meninggal. (JNPK-KR
2008 hal.143). Pada tahun 2011, jumlah angka kematian bayi baru lahir
(neonatal) di negara-negara ASEAN di Indonesia mencapai 31 per 1000
kelahiran hidup. Angka itu 5,2 kali lebih tinggi dibandingkan malaysia dan 1,2
kali lebih tinggi dibangdingkan Filipina. Karena itu masalah ini harus menjadi
perhatian serius.1,2
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007,
mengestimasikan AKB di Indonesia dalam periode 5 tahun terakhir, yaitu
tahun 2003-2007 sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup. Banyak faktor yang
mempengaruhi angka kematian tersebut, yaitu salah satunya asfiksia sebesar
37% yang merupakan penyebab kedua kematian bayi baru lahir (Depkes.RI,
2008). Sementara target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015
adalah 32 / 1. 000 KH.2
Usaha pemerintah indonesia untuk menanggulangi dalam mengurangi
angka kematian bayi (AKB) adalah menciptakan pelayanan kesehatan dasar,
yaitu pelayanan kesehatan ibu dan anak, pelayanan antenatal, pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan dan koompetensi kebidanan, deteksi resiko,
rujukan kasus resti dan penanganan komplikasi. Dimana tenaga kesehatan
mampu untuk menjalankan manajemen asuhan kebidanan sesuai dengan
pelayanan dan masalah yang terjadi.2

3
BAB II
CATATAN MEDIS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama anak : By. K
Umur/ Tgl. Lahir : 0 hari/ 24 Juli 2015
Jenis Kelamin : Perempuan
No RM : 480513

Nama bapak : Tn. O


Umur : 33 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Ngaliyan, Semarang

Nama ibu : Ny. K


Umur : 29 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Alamat : Ngaliyan, Semarang

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis pada Ibu Pasien tanggal 28
Juli 2015 jam 15.00 WIB di Bangsal Boughenvil dan Rekam Medik Pasien
tanggal 27 Juli 2015 di Bangsal Tulip (Perinatologi) RSUD Tugurejo
Semarang.
Keluhan Utama : Lahir tidak langsung menangis
Riwayat Penyakit Sekarang :
Tanggal 24 Juli 2015 pukul 10.40 WIB lahir bayi perempuan melalui
Secio Cesaria (SC) atas indikasi preeklamsi berat (PEB) dari ibu G2P1A0, usia
29 tahun hamil 30 minggu, ANC (+) di bidan, riwayat demam (-), riwayat

4
KPD (-), riwayat minum jamu saat hamil (-), trauma (-), kencing manis (-),
darah tinggi (-) dan minum obat selain dari bidan (-).
Ketuban dipecahkan sesaat sebelum mengeluarkan bayi, warna jernih,
jumlah cukup, bau wajar, lilitan tali pusat (-). Lahir bayi secara SC, lahir bayi
tidak langsung menangis, lunglai, biru pucat (+), APGAR scor 3-4-5.
Dilakukan pembersihan jalan nafas, pemberian O2 dengan CPEP, rangsang
taktil dan pencegahan hipotermi.
Plasenta lahir lengkap secara manual, infark (-), hematom (-). Setelah 10
menit, telapak tangan dan kaki bayi nampak masih kebiruan, nafas tak teratur,
tidak aktif, dan tangis merintih. Tetap dilakukan pemberian oksigen serta
pemasangan infus umbilical, kemudian bayi dirawat di ruang Perinatologi.
Riwayat Penyakit Dahulu :
-
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada anggota keluarga yang pernah mengalami hal seperti ini
sebelumnya.
Riwayat Sosial Ekonomi :
Orangtua pasien tidak merokok, tidak mengkonsumsi minuman
beralkohol dan obat-obatan. Penghasilan keluarga per bulan kira-kira Rp
1.700.000,00. Pembayaran menggunakan Jamkesmas
Kesan : Keadaan sosial dan ekonomi cukup
Data Khusus
1. Riwayat Kehamilan/ Pre Natal :
By. K adalah anak kedua dari Ny.K saat berusia 29 tahun. Usia
kehamilan kurang bulan yaitu ˃7 bulan atau sekitar 30 minggu. Ibu rutin
periksa kehamilan setiap bulan di bidan. Selama hamil tidak pernah
minum jamu, mengkonsumsi vitamin dan tablet Fe dari bidan, tidak
mengkonsumsi alcohol dan rokok. Suntik TT sebanyak dua kali.

5
2. Riwayat Persalinan/ Natal :
Lahir di tolong dokter Residen Obsgyn secara sectio caesaria (SC)
atas indikasi PEB dari ibu G2P1A0, usia 29 tahun, lahir tidak langsung
menangis, BBL : 800 gram, PB : 32 cm, AS : 3-4-5.
3. Riwayat Pasca Persalinan/ Post Natal :
Perawatan di ruang Perinatologi RSUDTG, keadaan anak BBLASR
dan asfiksia berat.
Riwayat Makan dan Minum :
-
Riwayat Imunisasi Dasar :
BCG :-
Hepatitis B :-
Polio :-
DPT :-
Campak :-
Kesan : Imunisasi dasar belum diberikan
Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Anak :
Perkembangan : belum bisa dinilai
Pertumbuhan : BBL 800 gr usia kehamilan 30 minggu
Kesan : Perkembangan belum bisa dinilai dan pertumbuhan tidak
sesuai masa kehamilan.
Riwayat Keluarga Berencana Orang Tua :
Ibu penderita tidak memakai KB

6
III. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 24 Juli 2015 jam 10.30 WIB di IBS
RSUD Tugurejo Semarang.
1. Apgar Score
Klinis 0 1 2 1 menit 5 menit 10 menit
Denyut
Tak ada < 100 >100 1 1 1
Jantung
Tak
Pernafasan Tak ada Baik 1 1 1
teratur
Tonus Otot Lemah Sedang Baik 1 1 1
Reka
Tak ada Meringis Menangis 0 1 1
Rangsang
Merah
jambu,
Biru/ Merah
Warna ujung- 0 0 1
Putih jambu
ujung
biru
Total 3 4 5

2. Keadaan Umum : Menangis (-), gerak kurang aktif, nafas tidak


teratur.
3. Tanda Vital
HR : 100 x/menit
Frek. Pernapasan : 55 x/menit
Suhu : 36 °C
4. Status Gizi
BBL : 800 gr
PB : 32 cm
LK : 22,5 cm
LD : 21,5 cm
Kesan : Gizi Kurang
5. Status Internus
a) Kepala
UUB frontanemia mayor dan minor belum menutup, mikrosefali (+),
caput (-)

7
b) Rambut
Warna hitam, rambut sedikit (+)
c) Mata
Simetris, konjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
d) Telinga
Simetris, tulang rawan belum sempurna
e) Hidung
Napas cuping hidung (+), sekret (-), epistaksis (-)
f) Mulut
Bibir kering (-), sianosis (-)
g) Leher
Pembesaran KGB (-)
h) Thorax
Pulmo
Inspeksi : Simetris, retraksi (-)
Palpasi : Sulit dinilai
Perkusi : Sulit dinilai
Auskultasi : Suara dasar vesikuler +/+
Hataran (-/-), Ronki (-/-), dan Wheezing (-/-)
Cor
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba, tidak kuat angkat
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : BJ I/II reguler normal, gallop (-), bising (-)
i) Abdomen
Inspeksi : Permukaan datar, tali pusat layu (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi : Tidak dilakukan
Palpasi : Supel, turgor kulit cukup, hepar / lien tidak teraba
j) Genital
Perempuan, labium mayus sudah menutupi labium minus, anus (+)

8
k) Ekstremitas
Superior Inferior
Akral dingin +/+ +/+
Tonus hipotoni hipotoni
Sianosis +/+ +/+
Reflek primitive
Capilary refill >2”/ >2” >2”/ >2”

6. Status Atropometri
Kurva Lunchenco

Bayi perempuan, preterm 30 minggu, BBL = 800 gr, PB = 32 cm


Kesan : Berat badan lahir tidak sesuai masa kehamilan

9
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium :
 Pemeriksaan Darah Rutin (Hb, Ht, Leukosit dan Trombosit)
 Pemeriksaan elektrolit (Na, K, Cl)
 GDS (Gula Darah Sewaktu)
Hasil Pemeriksaan Lab :
(24 Juli 2015)
 GDS = 108
(26 Juli 2015)
Pemeriksaan Hasil Satuan Rujukan
Leukosit 7,51 ribu/ul 4,5-13,5
Eritrosit 5,14 juta/ul 3,8-5,8
Hb 19,90 g/dl 10,8-15,6
Hematokrit 57,20 % 33-45
Trombosit L 167 10^3/ul 184-488
Kalium H 6,90 mmol/ L 3,6-5,8
Natrium L 130 mmol/ L 129-143
Clorida 106 mmol/ L 93-112
Calsium H 10,8 mg/ dL 9,0-11,0

V. RESUME
Lahir bayi perempuan melalui Secio Cesaria (SC) atas indikasi
preeklamsi berat (PEB) dari ibu G2P1A0, usia 29 tahun dengan hamil 30
minggu. Bayi lahir tidak langsung menangis, lunglai, biru pucat (+), APGAR
scor 3-4-5. Dilakukan pembersihan jalan nafas, pemberian O2 dengan CPEP,
rangsang taktil dan pencegahan hipotermi. Setelah 10 menit, telapak tangan
dan kaki bayi nampak masih kebiruan, nafas tak teratur, tidak aktif, dan tangis
merintih. Tetap dilakukan pemberian oksigen serta pemasangan infus
umbilical, kemudian bayi dirawat di ruang Perinatologi.

10
Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum: Menangis (-), gerak
kurang aktif, nafas tidak teratur. Tanda vital: HR = 100x/menit, RR = 55
x/menit, dan Suhu = 360C. Status gizi: BBL = 800gr, PB = 32 cm. Kepala
mikrosefali (+), rambut sedikit (+), tulang rawan daun telinga belum
sempurna, napas cuping hidung (+), ekstermitas: akral dingin (+), tonus otot
hipertoni, sianosis (+), dan cappirally refill >2”/>2”. Status antropometri,
kesan berat badan lahir tidak sesuai masa kehamilan.

VI. DAFTAR MASALAH


No Problem aktif Tgl Problem Pasif Tgl

1. Asfiksia Berat 24/7/15 Imunisasi


2. BBLASR 24/7/15 dasar belum 24/7/15
3. Neonatus Preterm 24/7/15 dilakukan

VII. ASSESMENT
Diagnosis Banding :
1) Asfiksia Berat
a) Faktor Plasenta dan Tali Pusat
 Maturasi plasenta grade III
b) Faktor Ibu
 Toxoplasmosis
c) Faktor Janin
 Neonatal Preterm
 Neonatal Infeksi
2) BBLASR 800 gr
 Sesuai Masa Kehamilan
 Kecil Masa Kehamilan
3) Neonatus Preterm 30 minggu
 N. Preterm sesuai masa kehamilan
 N. Aterm

11
 N. Post term
Diagnosis Kerja :
 Diagnosis Klinis : Asfiksia Berat, BBLASR, N. Preterm
 Diagnosis Tumbang :-
 Diagnosis Gizi :-
 Diagnosis Imunisasi :-

VIII. INITIAL PLAN


1) Asfiksia Berat
Ip Dx :
S:-
O : X-foto thorax PA
Ip Tx :
 CPEP  PEEP = 5 (F1O2 = 35%)
 IVFD D5 10 tpm (mikro)
 Vit K 1x1 mg i.m
 Opimox 2 x 20 mg i.v
 Gentamisin ED gtt 1 ODS
Ip Mx :
 Monitoring KU dan Vital Sign
 Monitoring tanda-tanda distress pernafasan
 Awasi hipoglikemi dan hipotermi
Ip Ex :
 Memberitahukan kepada orang tua bahwa bayi lahir mengalami
gangguan napas berat, perlu di rawat di ruang Perinatologi dengan
menggunakan CPAP untuk memenuhi kebutuhan oksigennya.
 Menjelaskan kepada orang tua tentang pemeriksaan – pemeriksaan
yang akan dilakuakan guna menunjang diagnosis dan terapi yang akan
diberiakan.

12
2) BBLASR 800 gr
Ip Dx :
S:-
O : GDS
Ip Tx :
 Ca. Gluconas 1x0,8 cc
 OGT terbuka
 Puasa 24 jam
 Rawat inkubator
Ip Mx :
 Monitoring berat badan, akseptabilitas diet
Ip Ex :
 Menjelaskan kepada orang tua bayi bahwa berat badan anak rendah
karena lahir sebelum taksiran persalinan sehingga harus dilakukan
pemantauan berat badan secara teratur.

3) Neonatus Preterm 30 minggu


Ip Dx :
S:-
O:-
Ip Tx :
 -
Ip Mx :
 Monitoring pertumbuhan dan perkembangan neonates, akseptabilitas
diet
Ip Ex :
 Memberitahu kepada orang tuan tentang pentingnya pemberian ASI
ekslusif, pentingnya memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi.

13
IX. PROGNOSIS
Quo ad Vitam : dubia ad bonam
Quo ad Sanam : dubia ad bonam
Quo ad Fungsionam : dubia ad bonam

14
PROGRESS NOTE

Tanggal Keadaan klinis Program terapi


25-7- 2015 S: - Terapi lanjut
(08.30 wib) Bayi kecil, terpasang CPEP dan OGT - Omeprazol 2 x 0,5 mg
i.v
O: - Bila besok OGT masih
KU : Nangis lemah, kurang aktif, residu (+) coklat 
9 cc warna coklat Aminofusin drip
TV : HR : 135 x/menit
RR : 43 x/menit
T : 36,1 0C
SpO2 : 95%
BBS : 1000 gr
Kulit : kemerahan (+)
Kepala : mikrosefal
Hidung : nafas cuping (-)
Mulut : sianosis (-), buih (+)
Thorak :
Jantung : dbn
Paru-paru
Inspeksi : simetris, retraksi (-)
Auskultasi : SD : vesikuler +/+
ST :Hataran -/- ,
Ronki -/- ,
Wheezing -/-
Abdomen : cembung, supel, turgor kulit
cukup, H/L tak teraba
Ekstremitas : sup inf
Sianosis -/- -/-
Akral dingin -/- -/-
Cap refill <2“ <2 “
Hasil Lab :
GDS = 108

Assesment :
Asfiksia sedang (SA = 6)
BBLASR
Neonatus preterm

15
26-7-2015 S: - CPEP  PEEP = 7
(13.00 wib) Bayi kecil, OGT residu (+) warna coklat, (F1O2 = 35%)
sesak (+) dan BAB (-) - Aminofusin drip
- Tx lanjut
O:
KU : Nangis lemah, kurang aktif, kemerahan
TV : HR : 130 x/menit
RR : 50 x/menit
T : 36,2 0C
BBS : 1000 gr
Hidung : nafas cuping (-)
Mulut : sianosis (-), buih (+)
Thorak :
Jantung : dbn
Paru-paru
Inspeksi : simetris, retraksi (+)
Auskultasi : SD : vesikuler +/+
ST :Hataran -/- ,
Ronki -/- ,
Wheezing -/-
Ekstremitas : sup inf
Sianosis -/- -/-
Akral dingin -/- -/-
Cap refill <2“ <2 “

Hasil Lab :
Terlampir

Assesment :
Asfiksia sedang + Distres respirasi
BBLASR
Neonatus preterm

27-7-2015 S: - Tx lanjut
(10.00 wib) Bayi kecil, mulut keluar buih - Aminofusin stop

O:
KU : Nangis lemah, kurang aktif, OGT
residu (-)
TV : HR : 140 x/menit
RR : 44 x/menit
T : 36,3 0C
BBS : 1000 gr

16
Kulit : kemerahan (+)
Kepala : mikrosefal
Hidung : nafas cuping (-)
Mulut : sianosis (-), buih (+)
Thorak :
Jantung : dbn
Paru-paru
Inspeksi : simetris, retraksi (-)
Auskultasi : SD : vesikuler +/+
ST :Hataran -/- ,
Ronki -/- ,
Wheezing -/-
Abdomen : cembung, supel, turgor kulit
cukup, H/L tdak teraba
Ekstremitas : sup inf
Sianosis -/- -/-
Akral dingin -/- -/-
Cap refill <2“ <2 “

Assesment :
Asfiksia sedang (SA = 6)
BBLASR
Neonatus preterm

27-7-2015 S: - Tx lanjut
(14.20) Bayi kecil, terpasang CPEP dan OGT
Saran :
O: - ASI (2-3cc/ 2-3 jam)
KU : Nangis lemah, gerak kurang aktif, - Monitoring (residu,
kemerahan muntah dan kembung)
TV : HR : 135 x/menit
RR : 43 x/menit
T : 36 0C
BBS : 1000 gr
Kulit : transparan (+)
Kepala : mikrosefal, UUB datar (+)
Hidung : nafas cuping (-)
Mulut : sianosis (-), buih (+)
Thorak :
Jantung : dbn
Paru-paru
Inspeksi : simetris, retraksi (-)
Auskultasi : SD : vesikuler +/+

17
ST :Hataran -/- ,
Ronki -/- ,
Wheezing -/-
Abdomen : cembung, supel, turgor kulit
cukup, H/L tdak teraba
Ekstremitas : sup inf
Sianosis -/- -/-
Akral dingin -/- -/-
Cap refill <2“ <2 “
Reflek primitif :
Sucking (-), rooting (-), palmar/ plantar
grasping (+) menurun

Assesment :
Asfiksia sedang (SA = 6)
BBLASR
Neonatus preterm

18
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Asfiksia Neonatorum
A. Definisi
Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan gawat bayi berupa gagal
nafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini disertai
dengan hipoksia, hiperkapnia dan berakhir dengan asidosis.3
Asfiksia neonatorum merupakan suatu keadaan pada bayi baru lahir
yang mengalami gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir,
sehingga bayi tidak dapat memasukkan oksigen dan tidak dapat mengeluarkan
zat asam arang dari tubuhnya.4
Menurut American College of Obstetricans and Gynecologists (ACOG)
dan American Academy of Pediatrics (AAP), seorang neonatus disebut
mengalami asfiksia bila memenuhi kondisi sebagai berikut:6
a. Nilai Apgar menit kelima 0-3.
b. Adanya asidosis pada pemeriksaan darah tali pusat (pH<7.0).
c. Gangguan neurologis (misalnya: kejang, hipotonia atau koma).
d. Adanya gangguan sistem multiorgan (misalnya: gangguan
kardiovaskular,gastrointestinal, hematologi, pulmoner, atau sistem renal).
e. Asfiksia dapat bermanifestasi sebagai disfungsi multi organ, kejang dan
ensefalopati hipoksik-iskemik, serta asidemia metabolik. Bayi yang
mengalami episode hipoksia-iskemi yang signifikan saat lahir memiliki
risiko disfungsi dari berbagai organ, dengan disfungsi otak sebagai
pertimbangan utama.
B. Etiologi Asfiksia Neonatorum
Pengembangan paru bayi baru lahir terjadi pada menit - menit pertama
kelahiran dan kemudian disusul dengan pernafasan teratur. Bila terdapat
gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen dari ibu ke janin akan
terjadi asfiksia janin atau neonatus. Gangguan ini dapat timbul pada masa
kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir.1

19
American Heart Association (AHA) dan American Academy of
Pediatrics (AAP) mengajukan penggolongan penyebab kegagalan pernafasan
pada bayi, yang terdiri dari:1
1. Faktor ibu
a. Hipoksia ibu
Hal ini akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala
akibatnya. Hipoksia ibu ini dapat terjadi karena hipoventilasi akibat
pemberian obat analgetika atau anastesia dalam.
b. Gangguan aliran darah uterus
Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan
berkurangnya oksigen ke plasenta dan demikian pula ke janin. Hal ini
sering ditemukan pada keadaan :
 Gangguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni, hipotoni atau tetani
uterus akibat penyakit atau obat.
 Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan.
 Hipertensi pada penyakit eklampsia dan lain-lain.
2. Faktor Plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan
kondisi plasenta. Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan
mendadak pada plasenta, misalnya solusio plasenta, perdarahan plasenta,
dan lain-lain.
3. Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah
dalam pembuluh darah umbulikus dan menghambat pertukaran gas antara
ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada kelainan
tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat janin
dan jalan lahir, dan lain-lain.

20
4. Faktor Neonatus
Depresi pusat pernapasan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena
beberapa hal, sebagai berikut.
a. Pemakaian obat anastesia/analgetika yang berlebihan pada ibu secara
langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernapasan janin.
b. Trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya perdarahan intrakranial.
c. Kelainan kongenital pada bayi misalnya hernia diafragmatika,
atresi/stenosis saluran pernapasan, hipoplasia paru, dan lain-lain.
C. Patofisiologi Asfiksia Neonatorum
1. Cara bayi memperoleh oksigen sebelum dan setelah lahir5
Sebelum lahir, paru janin tidak berfungsi sebagai sumber oksigen
atau jalan untuk mengeluarkan karbondioksida. Pembuluh arteriol yang
ada di dalam paru janin dalam keadaan konstriksi sehingga tekanan
oksigen (pO2) parsial rendah. Hampir seluruh darah dari jantung kanan
tidak dapat melalui paru karena konstriksi pembuluh darah janin,
sehingga darah dialirkan melalui pembuluh yang bertekanan lebih rendah
yaitu duktus arteriosus kemudian masuk ke aorta.5
Setelah lahir, bayi akan segera bergantung pada paru-paru sebagai
sumber utama oksigen. Pada saat bayi mengambil napas pertama, udara
memasuki alveoli paru dan cairan yang mengisi alveoli akan diserap ke
dalam jaringan paru. Pada napas kedua dan berikutnya, udara yang masuk
alveoli bertambah banyak dan cairan paru diabsorpsi sehingga kemudian
seluruh alveoli berisi udara yang mengandung oksigen. Pengisian alveoli
oleh udara akan memungkinkan oksigen mengalir ke dalam pembuluh
darah di sekitar alveoli.5
Arteri dan vena umbilikalis akan menutup sehingga menurunkan
tahanan pada sirkulasi plasenta dan meningkatkan tekanan darah sistemik.
Akibat tekanan udara dan peningkatan kadar oksigen di alveoli, pembuluh
darah paru akan mengalami relaksasi sehingga tahanan terhadap aliran
darah bekurang.5

21
Keadaan relaksasi tersebut dan peningkatan tekanan darah sistemik,
menyebabkan tekanan pada arteri pulmonalis lebih rendah dibandingkan
tekanan sistemik sehingga aliran darah paru meningkat sedangkan aliran
pada duktus arteriosus menurun. Oksigen yang diabsorbsi di alveoli oleh
pembuluh darah di vena pulmonalis dan darah yang banyak mengandung
oksigen kembali ke bagian jantung kiri, kemudian dipompakan ke seluruh
tubuh bayi baru lahir. Pada kebanyakan keadaan, udara menyediakan
oksigen (21%) untuk menginisiasi relaksasi pembuluh darah paru. Pada
saat kadar oksigen meningkat dan pembuluh paru mengalami relaksasi,
duktus arteriosus mulai menyempit. Darah yang sebelumnya melalui
duktus arteriosus sekarang melalui paru-paru akan mengambil banyak
oksigen untuk dialirkan ke seluruh jaringan tubuh.5
Pada akhir masa transisi normal, bayi menghirup udara dan
menggunakan paru-parunya untuk mendapatkan oksigen. Tangisan
pertama dan tarikan napas yang dalam akan mendorong cairan dari jalan
napasnya. Oksigen dan pengembangan paru merupakan rangsang utama
relaksasi pembuluh darah paru. Pada saat oksigen masuk adekuat dalam
pembuluh darah, warna kulit bayi akan berubah dari abu-abu/biru menjadi
kemerahan.5
2. Kesulitan yang dialami bayi selama masa transisi6
Bayi dapat mengalami kesulitan sebelum lahir, selama persalinan
atau setelah lahir. Kesulitan yang terjadi dalam kandungan, baik sebelum
atau selama persalinan, biasanya akan menimbulkan gangguan pada aliran
darah di plasenta atau tali pusat. Tanda klinis awal dapat berupa deselerasi
frekuensi jantung janin. Masalah yang dihadapi setelah persalinan lebih
banyak berkaitan dengan jalan napas dan paru-paru, misalnya sulit
menyingkirkan cairan atau benda asing seperti mekonium dari alveolus,
sehingga akan menghambat udara masuk ke dalam paru mengakibatkan
hipoksia. Bradikardia akibat hipoksia dan iskemia akan menghambat
peningkatan tekanan darah (hipotensi sistemik). Selain itu kekurangan
oksigen atau kegagalan peningkatan tekanan udara di paru-paru akan

22
mengakibatkan arteriol di paru-paru tetap konstriksi sehingga terjadi
penurunan aliran darah ke paru-paru dan pasokan oksigen ke jaringan.6
Aliran darah paru meningkat secara dramatis. Hal ini disebabkan
ekspansi paru yang membutuhkan tekanan puncak inspirasi dan tekanan
akhir ekspirasi yang lebih tinggi. Ekspansi paru dan peningkatan tekanan
oksigen alveoli, keduanya, menyebabkan penurunan resistensi vaskuler
paru dan peningkatan aliran darah paru setelah lahir. Aliran intrakardial
dan ekstrakardial mulai beralih arah yang kemudian diikuti penutupan
duktus arteriosus. Kegagalan penurunan resistensi vaskuler paru
menyebabkan hipertensi pulmonal persisten (Persisten Pulmonary
Hypertension of the Neonate) pada bayi baru lahir, dengan aliran darah
paru yang inadekuat dan hipoksemia relatif. Ekspansi paru yang inadekuat
menyebabkan gagal napas.6
3. Reaksi bayi terhadap kesulitan selama masa transisi5
Bayi baru lahir akan melakukan usaha untuk menghirup udara ke
dalam paru-parunya yang mengakibatkan cairan paru keluar dari alveoli ke
jaringan insterstitial di paru sehingga oksigen dapat dihantarkan ke arteriol
pulmonal dan menyebabkan arteriol berelaksasi. Jika keadaan ini
terganggu maka arteriol pulmonal akan tetap kontriksi, alveoli tetap terisi
cairan dan pembuluh darah arteri sistemik tidak mendapat oksigen.5
Pada saat pasokan oksigen berkurang, akan terjadi konstriksi arteriol
pada organ seperti usus, ginjal, otot dan kulit, namun demikian aliran
darah ke jantung dan otak tetap stabil atau meningkat untuk
mempertahankan pasokan oksigen. Penyesuaian distribusi aliran darah
akan menolong kelangsungan fungsi organ-organ vital. Walaupun
demikian, jika kekurangan oksigen berlangsung terus maka terjadi
kegagalan fungsi miokardium dan kegagalan peningkatan curah jantung,
penurunan tekanan darah, yang mengkibatkan aliran darah ke seluruh
organ akan berkurang. Sebagai akibat dari kekurangan perfusi oksigen dan
oksigenasi jaringan, akan menimbulkan kerusakan jaringan otak yang
irreversible, kerusakan organ tubuh lain, atau kematian. Keadaan bayi

23
yang membahayakan akan memperlihatkan satu atau lebih tanda-tanda
klinis seperti tonus otot buruk karena kekurangan oksigen pada otak, otot
dan organ lain; depresi pernapasan karena otak kekurangan oksigen;
bradikardia (penurunan frekuensi jantung) karena kekurangan oksigen
pada otot jantung atau sel otak; tekanan darah rendah karena kekurangan
oksigen pada otot jantung, kehilangan darah atau kekurangan aliran darah
yang kembali ke plasenta sebelum dan selama proses persalinan; takipnu
(pernapasan cepat) karena kegagalan absorbsi cairan paru-paru; dan
sianosis karena kekurangan oksigen di dalam darah.5
D. Faktor Risiko Asfiksia Neonatorum
Beberapa faktor risiko yang berperan dalam menimbulkan asfiksia
neonatorum diuraikan sebagai berikut:4,5
1. Faktor Risiko Ibu
a. Primigravida dan primiparitas
Gravida dan paritas turut menjadi faktor risiko terjadinya asfiksia
neonatorum karena persalinan yang lama biasanya terjadi pada wanita
yang baru menjalani kehamilan dan persalinan anak pertama.
b. Penyakit pada ibu
Penyakit pada ibu seperti Pregnancy Induced Hypertension/ PIH
yang apabila telah timbul gejala kejang dan disusul dengan koma akan
menyebabkan gangguan aliran darah ke uterus sehingga berakibat
terjadinya asfiksia berat.
2. Faktor Risiko Intrapartum
a. Kelainan tali pusat
Adanya lilitan pusat pada bayi dapat menyebabkan asfiksia,
dimana saat mulai timbul kontraksi dan kepala janin mulai turun, maka
lilitan tali pusat menjadi semakin erat akibat terkompresi sehingga
dapat mengakibatkan hipoksia.

24
b. Partus lama
Kala II lama akan menyebabkan kompresi tali pusat dan
kontraksi uterus yang berlangsung lama sehingga transportasi oksigen
ke janin berkurang.
c. Mekoneum dalam ketuban
Kondisi hipoksia pada janin akan menyebabkan reaksi
pengurangan aliran darah ke beberapa organ untuk mempertahankan
aliran darah ke otak dan jantung. Vasokontriksi pembuluh darah usus
yang diikuti relaksasi sfingter ani akan mengakibatkan pengeluaran
mekonium dalam air ketuban sehingga bercampurnya air ketuban
dalam mekonium merupakan kondisi yang dapat menunjukkan
terjadinya gawat janin dan apabila teraspirasi oleh janin akan
menyebabkan asfiksia.
d. Induksi Oksitosin
Induksi oksitosin adalah pemberian oksitosin pada ibu yang
bertujuan untuk merangsang atau menginduksi terjadinya persalinan.
Induksi oksitosin ini dapat menyebabkan meningkatnya risiko
kelahiran dengan seksio sesaria.
e. Plasenta Previa
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu
pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian ataupun
seluruh pembukaan jalan lahir.
f. Seksio sesarea
Seksio sesarea adalah operasi untuk melahirkan atau
mengeluarkan bayi dari rahim ibu dengan cara membuat sayatan pada
perut dan rahim ibu. Hal ini dapat mengakibatkan asfiksia neonatorum
karena tidak adanya kompresi bayi seperti pada persalinan normal.

25
3. Faktor Risiko Janin
a. Prematuritas
Preterm adalah kelahiran yang terjadi sebelum usia kehamilan
mencapai 37 minggu. Prematuritas memiliki risiko yang lebih besar
terhadap kematian akibat asfiksia neomatorum. Bayi prematur
mempunyai organ tubuh yang belum berfungsi dengan baik termasuk
pada organ paru-paru sehingga mengalami kesulitan untuk beradaptasi
dengan lingkungan yang baru.
b. BBLR
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah neonatus dengan berat
badan lahir pada saat kelahiran kurang dari 2.500 gram (1500 gram
sampai dengan 2.499 gram) tanpa memandang masa kehamilan. Pada
bayi BBLR biasanya disertai dengan prematuritas maupun dismaturitas
termasuk organ-organ seperti sistem respirasi. Bayi BBLR sering
mengalami defisiensi surfaktan akibat paru yang belum sempurna
sehingga tegangan membran permukaan udara-air (darah) menjadi
tinggi dan risiko alveoli kolaps pada saat ekspirasi sangat besar yang
menyebabkan alveoli akan menguncup selama ekspirasi (atelektasis)
dan paru kolaps yang pada akhirnya akan menyebabkan asfiksia.
c. Keterlambatan pertumbuhan dalam rahim/ IUGR
Janin tidak mendapat dukungan plasenta secara adekuat karena
terjadi insufisiensi uteroplasenta sehingga masukan nutrisi dan
oksigenisasi menjadi sangat terbatas. Pada saat persalinan terjadi
pengurangan aliran oksigen ke plasenta sebagai akibat kontraksi
dinding uterus sehingga kekurangan oksigen yang terjadi akan
bertambah menjadi lebih berat.
E. Klasifikasi Asfiksia Neonatorum
Klasifikasi asfiksia neonatorum dibagi berdasarkan tingkat keparahan
asfiksia yang dinilai berdasarkan skor apgar. Skor apgar ini biasanya dinilai 1
menit setelah bayi lahir lengkap, yaitu pada saat bayi telah diberi lingkungan
yang baik serta telah dilakukan pengisapan lendir dengan sempurna. Skor

26
apgar 1 menit ini menunjukkan beratnya asfiksia yang diderita dan baik sekali
sebagai pedoman untuk menentukan cara resusitasi. Skor apgar perlu pula
dinilai setelah 5 menit bayi lahir, karena hal ini mempunyai korelasi yang erat
dengan morbiditas dan mortalitas neonatal.3,7
SKOR APGAR
Tanda Nilai 0 Nilai 1 Nilai 2
Warna kulit Biru/pucat Tubuh kemerahan, Tubuh dan
(Appearance) ekstremitas biru ekstremitas
kemerahan
Frekuensi jantung Tidak ada <100 x/menit >100 x/menit
(Pulse)
Refleks Tidak ada Gerakan sedikit Menangis
(Grimace)
Tonus otot Lumpuh Ekstremitas fleksi Gerakan aktif
(Activity) sedikit
Usaha bernafas Tidak ada Lambat Menangis kuat
(Respiration)

Menurut Maryunani dan Puspita (2013), klasifikasi asfiksia berdasarkan


nilai APGAR yaitu:7
1. Afiksia berat dengan nilai APGAR 0-3
2. Asfiksia sedang dengan nilai APGAR 4-6
3. Asfiksia ringan dengan nilai APGAR 7-9
4. Bayi normal dengan nilai APGAR 10
F. Manifestasi Klinis Asfiksia Neonatorum
Pembagian serta tanda dan gejala menurut Nanny (2012) yaitu:4
1. Asfiksia berat
Pada kasus asfiksia berat, bayi akan mengalami asidosis, sehingga
memerlukan perbaikan dan resusitasi aktif dengan segera. Tanda dan
gejala yang muncul pada asfiksia berat adalah sebagai berikut :

27
a. Frekuensi jantung kecil, yaitu <40 kali per menit.
b. Tidak ada usaha nafas.
c. Tonus otot lemah bahkan hampir tidak ada.
d. Bayi tidak dapat memberikan reaksi jika diberikan rangsangan.
e. Bayi tampak pucat bahkan sampai berwarna kelabu.
f. Terjadi kekurangan oksigen yang berlanjut sebelum atau sesudah
persalinan.
2. Asfiksia sedang
a. Frekuensi jantung menurun menjadi 60-80 kali per menit.
b. Usaha nafas lambat.
c. Tonus otot biasanya dalam keadaan baik.
d. Bayi masih bisa bereaksi terhadap rangsangan yang diberikan.
e. Bayi tampak sianosis.
f. Tidak terjadi kekurangan oksigen yang bermakna selama proses
persalinan.
3. Asfiksia ringan
a. Takipnea dengan nafas lebih dari 60 kali per menit.
b. Bayi tampak sianosis.
c. Adanya retraksi sela iga.
d. Bayi merintih.
e. Adanya pernafasan cuping hidung.
f. Bayi kurang aktivitas.
g. Dari pemeriksaan auskultasi diperoleh hasil ronchi, rales, dan
wheezing positif.
G. Diagnosis Asfiksia Neonatorum
Dalam menegakkan diagnosis dapat dilakukan dengan berbagai cara dan
pemeriksaan antara lain:7
1. Anamnesis
Anamnesis diarahkan untuk mencari faktor risiko terhadap terjadinya
asfiksia neonatorum.

28
2. Pemeriksaan Fisik
Memperlihatkan apakah terdapat tanda-tanda berikut atau tidak,
antara lain :
a. Bayi tidak bernafas atau menangis.
b. Denyut jantung kurang dari 100x/menit.
c. Tonus otot menurun.
d. Bisa didapatkan cairan ketuban ibu bercampur mekonium atau sisa
mekonium pada tubuh bayi.
e. BBLR.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium beupa analisis gas darah tali pusat
menunjukkan hasil asidosis pada darah tali pusat, yakni :
a. PaO2 < 50 mm H2O
b. PaCO2 > 55 mm H2
c. pH < 7,30
Bila bayi sudah tidak membutuhkan bantuan resusitasi aktif,
pemeriksaan penunjang diarahkan pada kecurigaan atas komplikasi,
berupa:8
a. Darah perifer lengkap
b. Analisis gas darah sesudah lahir
c. Gula darah sewaktu
d. Elektrolit darah (Kalsium, Natrium, Kalium)
e. Ureum kreatinin
f. Laktat
g. Ronsen dada
h. Ronsen abdomen tiga posisi
i. Pemeriksaan USG kepala
j. Pemeriksaan EEG dan CT Scan kepala

29
H. Penatalaksanaan Asfiksia Neonatorum
Tujuan utama mengatasi asfiksia ialah untuk mempertahankan
kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin timbul di
kemudian hari. Tindakan yang dikerjakan pada bayi lazim disebut resusitasi
bayi baru lahir. Penilaian awal dilakukan pada setiap bayi baru lahir untuk
menetukan apakah tindakan resusitasi harus segera dimulai. Segera setelah
lahir dilakukan penilaian pada semua bayi dengan cara melihat:8
1. Apakah bayi lahir cukup bulan?
2. Apakah air ketuban jernih dan tidak bercampur mekonium?
3. Apakah bayi bernapas adekuat atau menangis?
4. Apakah tonus otot baik?
Apabila semua jawaban diatas ‘Ya’, berarti bayi baik dan tidak
memerlukan tindakan resusitasi. Pada bayi ini segera dilakukan Asuhan Bayi
Normal. Bila salah satu atau lebih jawaban ‘tidak’, bayi memerlukan tindakan
resusitasi segera.6,8
1. Langkah awal dalam stabilisasi
a. Memberikan kehangatan
Bayi diletakkan dibawah alat pemancar panas (radiant warmer)
dalam keadaan telanjang agar panas dapat mencapai tubuh bayi dan
memudahkan eksplorasi seluruh tubuh.
b. Memposisikan bayi dengan sedikit menengadahkan kepalanya
Bayi diletakkan telentang dengan leher sedikit tengadah dalam
posisi menghidu agar posisi farings, larings dan trakea dalam satu garis
lurus yang akan mempermudah masuknya udara. Posisi ini adalah
posisi terbaik untuk melakukan ventilasi dengan balon dan sungkup
atau untuk pemasangan pipa endotrakeal.
c. Membersihkan jalan napas sesuai keperluan
Aspirasi mekoneum saat proses persalinan dapat menyebabkan
pneumonia aspirasi. Bila terdapat mekoneum dalam cairan amnion dan
bayi tidak bugar (bayi mengalami depresi pernapasan, tonus otot
kurang dan frekuensi jantung kurang dari 100 x/menit) segera

30
dilakukan penghisapan trakea sebelum timbul pernapasan untuk
mencegah sindrom aspirasi mekonium. Bila terdapat mekoneum dalam
cairan amnion namun bayi tampak bugar, pembersihan sekret dari
jalan napas dilakukan seperti pada bayi tanpa mekoneum.
d. Mengeringkan bayi, merangsang pernapasan dan meletakkan pada
posisi yang benar
Meletakkan pada posisi yang benar, menghisap sekret, dan
mengeringkan akan memberi rangsang yang cukup pada bayi untuk
memulai pernapasan. Bila setelah posisi yang benar, penghisapan
sekret dan pengeringan, bayi belum bernapas adekuat, maka
perangsangan taktil dapat dilakukan dengan menepuk atau menyentil
telapak kaki, atau dengan menggosok punggung, tubuh dan ekstremitas
bayi.
2. Ventilasi tekanan positif
Setelah dilakukan langkah awal resusitasi, ventilasi tekanan positif
harus dimulai bila bayi tetap apnea setelah stimulasi atau pernapasan tidak
adekuat, dan/atau frekuensi jantung memadai tetapi sianosis sentral, bayi
diberi oksigen aliran bebas. Bila setelah ini bayi tetap sianosis, dapat
dicoba melakukan ventilasi tekanan positif.
3. Pemberian Oksigen
Bila bayi masih terlihat sianosis sentral, maka diberikan tambahan
oksigen. Pemberian oksigen aliran bebas dapat dilakukan dengan
menggunakan sungkup oksigen, sungkup dengan balon tidak mengembang
sendiri, T-piece resuscitator dan selang/pipa oksigen.
Pemberian oksigen 100% tidak dianjurkan pada bayi kurang bulan
karena dapat merusak jaringan. Penghentian pemberian oksigen dilakukan
secara bertahap bila tidak terdapat sianosis sentral lagi yaitu bayi tetap
merah atau saturasi oksigen tetap baik walaupun konsentrasi oksigen sama
dengan konsentrasi oksigen ruangan. Bila bayi kembali sianosis, maka
pemeberian oksigen perlu dilanjutkan sampai sianosis sentral hilang.

31
Kemudian secepatnya dilakukan pemeriksaan gas darah arteri dan
oksimetri untuk menyesuaikan kadar oksigen mencapai normal.
4. Kompresi dada
Kompresi dada dimulai jika frekuensi jantung kurang dari 60x/menit
setelah dilakukan ventilasi tekanan positif selama 30 detik. Kompresi dada
dilakukan dengan menekan sternum menggunakan 1 jempol atau 2 jari
tegak lurus di linea parasentralis kiri sedalam 1/3 diameter anteroposterior
rongga dada dengan 3 kali penekanan dan 1 kali ventilasi dalam 2 detik
(45 kali kompresi dada dan 15 kali ventilasi selama 30 detik).
5. Terapi Medikamentosa
a. Epinefrin 1:10.000
Dosis : 0,1-0,3 ml/kg berat badan atau 0,01-0,03 mg/kg berat
badan diberikan secara cepat, dilarutkan dengan larutan NaCl 0,9%
menjadi 1-2 ml bila secara endotrakea.
b. Cairan penambah volume darah (plasma expander)
Dosis awal 10 ml/kg dengan kecepatan 5-10 menit secara
intravena. Bila bayi menunjukkan perbaikan yang minimal setelah
pemberian dosis pertama, dapat dberikan dosis tambahan lagi 10
ml/kg.
c. Nalokson
Dosis : 0,1 mg/kg diberikan secara intravena atau intramuskular.
d. Natrium Bikarbonat
Dosis : 1-2 mEq/kg diberikan secara intravena setelah ventilasi
dan perfusi adekuat dicapai, diberikan dalam kira-kira 2 menit yaitu 1
mEq/kg/menit.

32
ALGORITMA RESUSITASI NEONATUS

I. Prognosis Asfiksia Neonatorum


Apabila bayi yang mengalami asfiksia dapat bertahan hidup pada 24 jam
pertama maka prognosis kehidupannya biasanya akan baik. Namun, sekitar 1
juta bayi yang bertahan dari asfiksia neonatorum hidup dengan gangguan
perkembangan otak kronik, termasuk cerebral palsy, retardasi mental dan
kesulitan belajar.7,9

33
J. Komplikasi Asfiksia Neonatorum
Komplikasi yang dapat terjadi pada bayi yang mengalami asfiksia
neonatorum adalah asidosis metabolik, hipoglikemia, enselofati hipoksia
iskemik dan gagal ginjal. Kompresi dada juga dapat menyebabkan trauma
pada bayi. Organ vital dibawah tulang iga adalah jantung, paru, dan sebagian
hati. Tulang rusuk juga rapuh dan mudah patah. Kompresi harus dilakukan
dengan hati-hati supaya tidak merusak organ dibawahnya.5
K. Pencegahan Asfiksia Neonatorum
Pencegahan terhadap asfiksia neonatorum dengan menghilangkan atau
meminimalkan faktor resiko penyebab asfiksia. Derajat kesehatan wanita,
khususnya ibu hamil harus baik. Komplikasi saat kehamilan, persalinan, dan
melahirkan harus dihindari. Adanya kebutuhan dan tantangan untuk
meningkatkan kerjasama antar tenaga obstetrik di kamar bersalin. Setiap
anggota tim persalinan harus dapat mengidentifikasi situasi persalinan yang
dapat menyebabkan kesalahpahaman atau menyebabkan keterlambatan pada
situasi gawat. Pada bayi dengan prematuritas, perlu diberikan kortikosteroid
untuk meningkatkan maturitas paru janin. Pada setiap kelahiran tenaga medis
harus siap untuk melakukan resusitasi pada bayi baru lahir karena kebutuhan
akan resusitasi dapat timbul secara tiba-tiba. Karena alasan inilah, setiap
kelahiran harus dihadiri oleh paling tidak seorang tenaga terlatih dalam
resusitasi neonatus, sebagai penanggung jawab pada perawatan bayi baru
lahir.9

34
BAB III
PEMBAHASAN

Bayi Ny. K, perempuan berusia 0 hari, lahir melalui Secio Cesaria (SC) atas
indikasi preeklamsi berat (PEB) dari ibu G2P1A0, usia 29 tahun dengan hamil 30
minggu, ditolong oleh dokter residen obsgyn di ruang IBS RSUD Tugurejo
Semarang. Saat lahir bayi tidak langsung menangis, tonus lunglai, biru pucat (+),
APGAR scor 3-4-5. Dilakukan pembersihan jalan nafas, pemberian O2 dengan
CPEP, rangsang taktil dan pencegahan hipotermi. Setelah 10 menit, telapak
tangan dan kaki bayi nampak masih kebiruan, nafas tak teratur, tidak aktif, dan
tangis merintih. Tetap dilakukan pemberian oksigen serta pemasangan infus
umbilical, kemudian bayi dirawat di ruang Perinatologi.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum: Menangis (-), gerak
kurang aktif, nafas tidak teratur. Tanda vital: HR = 100x/menit, RR = 55 x/menit,
dan Suhu = 360C. Status gizi: BBL = 800gr, PB = 32 cm. Kepala mikrosefali (+),
rambut sedikit (+), tulang rawan daun telinga belum sempurna, napas cuping
hidung (+), thoraks: retraksi (-), abdomen: turgor kulit cukup, ekstermitas: akral
dingin (+), tonus otot hipertoni, sianosis (+), dan cappirally refill >2”/>2”. Status
antropometri, kesan berat badan lahir tidak sesuai masa kehamilan.
Pada saat lahir bayi tidak langsung menangis dan nilai APGAR SCORE
menit pertama 3, menit kelima 4 dan menit ke sepuluh 5 yang menandakan bahwa
bayi Ny. K mengalami asfiksia berat. Hal ini dapat disebabkan dari faktor ibu,
faktor persalinan, faktor plasenta maupun faktor janin. Berat bayi lahir 800 gram
menunjukkan bahwa terdapat BBLASR (Berat Bayi Lahir Amat Sangat Rendah)
karena BBL < 1000 gram serta tergolong dismaturitas (Bayi Kecil Masa
Kehamilan). Bayi lahir dengan usia kehamilan 30 minggu menunjukkan bahwa
bayi tersebut tergolong neonates preterm karena <37 minggu.
Pada anamnesis didapatkan bahwa ibu tidak memiliki riwayat penyakit
seperti hipertensi, anemia, gagal jantung maupun infeksi sistemik. Tetapi pada
pemeriksaan terakhir didapatkan tanda hipertensi pada penyakit eklampsia,
sehingga aliran darah ke uterus berkurang dan mengakibatkan asupan nutrisi dan

35
oksigen ke janin berkurang. Sedangkan faktor plasenta ditemukan plasenta lahir
lengkap, infark (-), hematom (-) dan perdarahan plasenta (-). Faktor persalinan
seperti lilitan tali pusat maupun pemakaian obat anastesia/ analgetika yang
berlebihan pada ibu tidak ditemukan. Faktor neonates dengan umur bayi 30
minggu/ preterm dan tidak ada kelainan kengenital.
Tindakan yang dilakukan langkah awal yakni pastikan bayi tetap hangat,
atur posisi, pembersihan jalan nafas dengan memakai suction dari mulut dahulu
lalu hidung, keringkan serta stimulasi dengan rangsang taktil dan posisi kembali.
Langkah awal tersebut dilakukan selama 30 detik, setelah itu observasi nafas, laju
denyut jantung (LDJ) dan tonus otot. Apabila LDJ < 100 x/menit, langsung
dilakukan tindakan ventilasi tekanan positif sampai 30 detik kedepan dan nilai
LDJ. Apabila LDJ > 100 x/menit dan bernafas spontan tetapi ditemukan tanda
distress napas (takipneu, retraksi (+), atau merintih) berikan CPAP dengan PEEP
5-8cm H2O dan pemantauan SpO2. Bila didapatkan CPAP gagal dengan distres
napas, maka PEEP dinaikkan menjadi 8 cm H2O (FiO2 > 40%).
Pemberian cairan pada neonatus preterm pada hari 1 dengan BB < 1000gr
menurut HSP (USA) yakni 105cc/kgBB/hari. Cairan yang diberikan dapat berupa
D 5% dimana untuk mencukupi kebutuhan glukosa di dalam darahnya antara 50-
120 gr/dl. Diberikan juga terapi antibiotik empirik karena pada bayi BBLASR
cenderung mengalami komplikasi paling sering yakni infeksi. Ca.Gluconas
diberikan untuk meningkatkan kontraktilitas miokardium sehingga dapat
meningkatkan kerja jantung, tetapi jangan deberikan secara cepat karena bisa
menimbulkan aritmia. Rawat di inkubator untuk mencegah kehilangan suhu tubuh
atau terjadi hipotermi. Pemasangan OGT diberikan untuk mengobservasi intake
makanan yang diberikan, pemberian nutrisi maupun obat.

36
DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI. 2009. Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta.


http://www.who.int/whr/2008/whr08_en.pdf. The world health report 2008
: primary health care now more than ever.
2. Depkes RI. 2008. Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 :
Jakarta.
3. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Anak. 2011. FK UNDIP : Semarang.
4. Nanny L.D, V. 2012. Asuhan neonatus bayi dan anak balita. Salemba
Medika: Jakarta.
5. Health Technology Assesment Indonesia Depkes RI. 2008. Pencegahan dan
Penatalaksanaan Asfiksia Neonatorum Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
6. Dharmasetiawani, N. Hiperbilirubinemia pada Neonatus. Dalam : Paket
Pelatihan Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK).
Jakarta : JNPK-KR, IDAI, POGI, USAID; 2008. Hal 109-270
7. Maryunani, A, Puspita, E. 2013. Asuhan kegawatdaruratan maternal dan
neonatal. Trans Info Media : Jakarta.
8. IDAI. 2004. Asfiksia Neonatorum. Dalam : Standar Pelayanan Medis
Kesehatan Anak. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; hal. 272- 276.
9. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Pencegahan dan
penatalaksanaan asfiksia neonatorum.
http://buk.depkes.go.id/index.php?option=com_docman&task=doc_downlo
ad&gid=276&Itemid=142. [Diakses Juli 2015].

37