Anda di halaman 1dari 4

َ‫ت أ َ ْع َما ِلنَا َم ْن يَ ْه ِد ِه هللاُ فَال‬ َ ‫ش ُر ْو ِر أ َ ْنفُ ِسنَا َو‬

ِ ‫سيّئَا‬ ُ ‫ِإ ّن ْال َح ْمدَ ِهللِ ن َْح َمدُهُ َونَ ْست َ ِع ْينُهُ َونَ ْست َ ْغ ِف ُرهُ َونَعُ ْوذ ُ ِباهللِ ِم ْن‬
‫سلّ ْم‬ َ ‫ص ّل َو‬ َ ‫س ْولُ ُهاَلل ُه ّم‬ ُ ‫ِي لَهُ أ َ ْش َهد ُ أ َ ْن الَ ِإلهَ ِإالّ هللاُ َوأ َ ْش َهد ُ أ َ ّن ُم َح ّمدًا َع ْبدُهُ َو َر‬ َ ‫ض ِل ْل فَالَ هَاد‬ ْ ُ‫ض ّل لَهُ َو َم ْن ي‬ ِ ‫ُم‬
َ‫ َياأ َ ّي َها الّذَيْنَ آ َمنُ ْوا ات ّقُوا هللاَ َح ّق ت ُ َقا ِت ِه َوال‬.‫ان ِإلَى َي ْو ِم الدّيْن‬ ٍ ‫س‬ ْ َ‫على آ ِل ِه ِوأ‬
َ ‫ص َحا ِب ِه َو َم ْن تَ ِب َع ُه ْم ِبإ ِ ْح‬ َ ‫على ُم َح ّم ٍد َو‬ َ
‫علَ ْي ِه‬َ ‫صلّى هللا‬ َ ‫ى ُم َح ّم ٍد‬ ُ ‫ْى َه ْد‬ ِ ‫ َو َخي َْر ْال َهد‬،ِ‫اب هللا‬ ُ َ ‫ث ِكت‬ ِ ‫صدَقَ ْال َح ِد ْي‬ ْ َ ‫ت َ ُم ْوت ُ ّن إِالّ َوأ َ ْنت ُ ْم ُم ْس ِل ُم ْونَ أ َ ّما بَ ْعدُ فَأ ِّن أ‬
‫ضالَلَ ِة فِي النّا ِر‬ َ ‫ َو ُك ّل‬،ً‫ضالَلَة‬ َ ‫ع ٍة‬ َ ‫عةٌ َو ُك ّل ِب ْد‬ َ ‫ َو ُك ّل ُم ْحدَث َ ٍة ِب ْد‬،‫ َوش َّر اْأل ُ ُم ْو ِر ُم ْحدَثَات ُ َها‬،‫سلّ َم‬ َ ‫َو‬
bersyukur kita kepada Allah pada Muharam, bulan yang mulia yang dijadikan tahun baru islam, pada hari
Jumat yang mulya ini, disaat yang mustajabah ini, kita semua didudukan oleh Allah di rumahNya untuk
selanjutnya bersama–sama melakukan muhasabah–melakukan koreksi terhadap perjalanan kehidupan kita.
Semakin bertambah usia kita semakin bertambah kenikmatan yang kita terima dari Allah. Sudahkah
berbanding lurus dengan pertambahan ketaqwaan kita kepada Allah.

Kemuliaan kita di hadapan Allah tidak ditentukan oleh seberapa tinggi jabatan yang kita sandang,
seberapa banyak harta yang kita punya, seberapa tampan dan kuatnya wajah dan tubuh kita. Kemuliaan
kita di hadapan Allah hanya ditentukan oleh kualitas, kuantitas ketaqwaan kita kepada Allah sebagaimana
dawuh Allah SWT:

‫ّٰللاِ اَتْقَا ُكم‬


‫اِن اَ ْك َر َم ُك ْم ِع ْندَ ه‬

“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah yang paling bertakwa diantara
kalian”

Hadirin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah

Pada kesempatan yang mulia ini izinkan kami menceritakan kembali dialog baginda Rasulullah SAW
dengan para sahabat sebagaimana yang direkam oleh Abdullah bin Amr R.A.:

‫ب؟‬ِ ‫ـخ ُم ْو ِم القَ ْل‬


ْ ‫ان نَ ْع ِرفُهُ فَ َما َم‬
ِ ‫س‬ َ ّ‫صد ُْو ُق ال ِل‬ َ ‫ قَالُوا‬,‫ان‬ ِ ‫س‬ َ ّ‫ق ال ِل‬
ِ ‫صد ُْو‬ ِ ‫ـخ ُم ْو ِم القَ ْل‬
َ ‫ب َو‬ َ ‫اس أ َ ْف‬
ْ ‫ض ُل ؟ قال ُك ُّل َم‬ ُّ َ ‫سل َم أ‬
ِ ‫ي الن‬ َ ‫ّٰللاُ َعلَ ْي ِه َو‬
‫ص لى ه‬
َ ِ‫ّٰللا‬
‫س ْو ِل ه‬
ُ ‫قِي َل ِل َر‬
َ‫س د‬َ ‫ي َو َال ِغل َو َال َح‬ ْ
َ ‫ي َال اِث َم فِ ْي ِه َو َال بَ ْغ‬ ُّ ‫ي الن ِق‬
ُّ ‫قال ه َُو الت ِق‬

“Rasulullah telah ditanya, “Siapakah manusia yang paling utama”? Rasulullah bersabda, “Setiap orang
yang hatinya Makhmuum dan lisannya jujur.” Rasulullah kembali ditanya, “Kami sudah tahu
bagaimana lisan yang jujur. Lantas apa yang dimaksud dengan hati yang Makhmuum?” Rasulullah
menjawab, “Yang dimaksud dengan hati Makhmuum adalah hati yang bertakwa dan bersih, didalamnya
tidak terdapat dosa, rasa dengki, rasa iri, dan rasa hasud.” HR. Ibnu Majah.

Dari dialog singkat bisa disimpulkan bahwa yang dinamakan kelompok muslim sejati disamping bersifat
jujur dalam perkataan, mereka adalah yang memiliki hati istimewa karena dipenuhi dengan rasa saling
mencintai, saling menyebarkan rasa kasih sayang, saling menolong, bersikap ramah, dan tidak memiliki
keinginan sedikit pun untuk mengkufuri nikmat Allah. Perilaku seorang muslim sejati sesuai dengan
firman Allah SWT sebagai berikut:

ٌ ‫ان َو َال تَجْ عَ ْل فِي قُلُ ْو ِبنَا ِغ اال ِلل ِذيْنَ أَ َمنُ ْوا َربنَا ِإنكَ َر ُء ْو‬
‫ف َر ِح ْي ٌم‬ َ ‫َوال ِذيْنَ َجا ُء ْوا ِم ْن بَ ْع ِد ِه ْم يَقُ ْولُ ْونَ َربنَا ا ْغ ِف ْرلَنَا َو ِ ِِل ْخ َوا ِننَا‬
ِ ‫سبَقُ ْونَا ِب‬
ِ ‫اِل ْي َم‬

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan
kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan
janganlah Engkau membeiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang–orang yang beriman; Ya
Tuhan Kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (Qs. Al-Hasyr: 10).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah


Dalam ayat ke 10 surat Al-Hasyr ini Allah SWT menampilkan 4 (empat) karakter yang luar biasa dari
umat generasi terakhir Nabi Muhammad SAW, yaitu generasi yang datang setelah Muhajirin dan Anshor
antara lain:.

Karakter pertama : Mereka adalah orang-prang yang memiliki aqidah yang mantap bahwa semua yang
mengatur kehidupannya adalah Rabb mereka, sehingga mereka menyerahkan semuanya urusan mereka
kepada Allah.

Karakter yang kedua : Mereka adalah orang-orang yang secara terus-menerus mengakui bahwa dirinya
adalah orang yang penuh dengan kesalahan, penuh dengan dosa lalu menghibah kepada Allah untuk
meminta Ampun.

Karakter ketiga: Disamping mereka meminta ampun untuk diri mereka mereka tidak lupa untuk
memohonkan ampun terhadap saudara-saudara mekereka yang telah wafat dalam keadaan iman.

Karakter yang terakhir : Mereka memohon kepada Allah agar memiliki hati yang bersih dari prasangka
buruk terhadap orang-orang yang beriman.

Hadirin Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah

Ada satu kisah yang disampaikan oleh sahabat Anas bin Malik “ suatu saat ketika Rasullulah sedang
duduk duduk di masjid tiba-tiba Rasulullah dawuh “sebentar lagi akan masuk dari pintu sana dia adalah
laki laki penghuni surga” Para Sahabat kemudian menatap pintu yang ditunjuk oleh Rasulullah ingin tahu
siapa laki-laki tersebut. Ternyata dia adalah Seorang sahabat yang dari yang wajahnya masih basah
dengan air wudhu sementara tangannya membawa sandal. Keesokan harinya Rasulullah dawuh
lagi “sebentar lagi akan masuk dari pintu sebelah sana dia adalah laki-laki penghuni surga”. Ternyata
yang masuk adalah laki-laki yang kemarin pada hari yang ketiga Rasulullah dawuh “akan masuk dari
pintu dari sebelah sana dia adalah rajulun min ahli jannah”. Ternyata di hari yang ketiga itu juga yang
masuk tetap laki-laki yang kemarin.

Hadirin Jama’ah Jumat yang dimuliakan oleh Allah,

tiga hari berturut-turut, ternyata yang masuk adalah seorang laki-laki.

Sahabat Abdulllah bin ‘Amr bin Ash ingin melihat dari dekat seperti apa ibadah laki-laki ini, Abdullah
pun menemui laki-laki tersebut. “Aku sedang berseteru dengan ayahku. Aku bersumpah tak akan pulang
ke rumah selama tiga hari. Jika diizinkan, aku ingin menginap di rumahmu selama tiga hari,” pinta
Abdllah kepada lelaki itu.” “Oh ia silakan dengan senang hati, jawab sahabat tersebut. Lalu Abdullah pun
bermalam di sana sampai tiga hari. Dalam pengamatannya, selama rentang waktu itu, tak ada amalan
spesial dari pria yang dikatakan Rasulullah sebagai ahli surga tersebut. Ia tak menjumpai sama sekali
lelaki Anshor itu melaksanakan ibadah malam yang istimewa. Hanya saja, tiap kali mebolak-balikkan
badan di tempat tidurnya, lelaki tersebut selalu membaca dzikir dan takbir sampai ia bangun untuk shalat
subuh. Secara kasat mata, amalan lelaki Anshor ini tidak ada apa-apanya dibanding amalan sebagian
sahabat lain yang begitu giat beribadah sepanjang waktu. Ada yang sholat malam dengan mengkhatam Al-
Qur'an, ada yang bermunajat semalaman hingga fajar dan lain sebagainya.

Hampir saja Abdullah meremehkan amal laki-laki tersebut, singkat cerita saat Abddullah pamit pulang
dan menjelaskan bahwa tujuan bermalam selama tiga hari hanya karena ingin melihat dan meniru amal
ibadah lelaki tersebut yang ternyata tidak ia temukan dalam pengamatannya.

“Bapak mohon maaf Jujur saja, saya bermalam selama tiga malam di sini hanya ingin tahu kehebatan
ibadah bapak, karena bapak disebut oleh Rasulullah sebagai rajulun min ahlil jannah sampai tiga hari
berturut-turut, namun jujur saya melihat bapak biasa-biasa saja.
Dan jujur saya tidak melihat kau melakukan amal ibadah yang banyak. Lantas, amalanmu mana yang
membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata demikian?” Tanya Abdullah. “Tidak ada yang
lain kecuali seperti yang kau saksikan,” jawabnya.

Abdullah berpaling hendak pergi namun langkahnya tertahan setelah lelaki Anshor itu memanggilnya.
“Tak ada amalan kecuali sebagaimana yang engkau lihat. Hanya saja, dalam diriku tidak pernah terbersit
keinginan untuk menipu orang, dan tidak pula aku pernah iri dengki kepada siapa pun atas nikmat yang
Allah berikan kepadanya, saya tidak pernah memiliki prasangka buruk terhadap orang lain.”

Lalu Abdullah bertakbir dan bertasbih sambil berkata “Ternyata amalan inilah menyebabkan kau
memperoleh keististimewaan itu, amalan yang tak mampu kami lakukan,” simpul Abdullah bin Amr bin
Ash.

Semoga Allah SWT memperkuat rasa persaudaraan kita, kita ini diikat dalam ikatan persaudaraan sesama
nahdliyin, sesama muslim dan sesama anak bangsa Indonesia.

Kita haus memiliki komitmen yang kuat dan kokoh bahwa tidak ada tempat bagi ymereka yang ingin
memecah belah persatuan bangsa kita, juga tidak bagi mereka yang inging menghancurkan bangunan
NKRI kita.

Kita akan berada di garis terdepan bila ada yang mencoba mengubah dasar-dasar negara kita.

Akhirnya selamat ber-Harlah NU yang ke-96 Allah akan sealalu merapatkan shof kita dan memberikan
pertolongan kepada kita sebagaimana pertolongan pang diberikan kepada para pendiri NU dan para
pendiri negeri tercinta ini karena pertolongan bersama dengan jamaah.

Sebagai penutup khutbah singkat ini, mari kita merenungkan dawuh baginda Rasulullah SAW.:

ِ ‫ير ِة ْال َع َر‬


(‫ب َول ِك ْن فِي التحْ ِري ِْش َب ْي َن ُه ْم (رواه مسلم‬ َ ‫س أ َ ْن َي ْعبُدَهُ ْال ُم‬
َ ‫صلُّونَ فِي َج ِز‬ َ ‫طانَ قَدْ أ َ ِي‬
َ ‫ِإن الش ْي‬

“Sesungguhnya syaitan merasa putus asa kalau orang-orang di Jazirah Arab akan menyembahnya,
namun syaitan tidak pernah putus asa untuk mengadu domba mereka.”

Semoga bermanfaat

‫ َم ْن‬، َ‫ّٰللاُ يَقُ ْو ُل َو ِبقَ ْو ِل ِه يَ ْهت َ ِد ال ُم ْهتَد ُْون‬ ‫ظ ِام َك َال ُم ه‬


‫ َو ه‬،‫ّٰللاِ ال َم ِل ِك ال َعال ِم‬ َ ّ‫سنَ ال َك َال ِم َوأ َ ْبيَنَ ال ِن‬ َ ‫إن أ َ ْح‬
‫ظال ٍم ِل ْل َعبِ ْي ِد‬
َ ‫ارب َُّك ِب‬ َ َ ‫ َو َم ْن أ‬،‫صا ِل ًحا فَ ِلنَ ْف ِس ِه‬
َ ‫ َو َم‬،‫سا َء فَ َعلَ ْي َها‬ َ ‫َع ِم َل‬
‫ َوتَقَب َل‬،‫ت َوال ِذّ ْك ِر ال َح ِكي ِْم‬ ِ ‫ّٰللاُ ِلي َولَ ُك ْم ِفي القُ ْر‬
ِ ‫ َونَفَ َع ِني َو ِإيا ُك ْم ِب َما ِف ْي ِه ِمنَ اآل َيا‬،‫آن ال َع ِظي ِْم‬ ‫ار َك ه‬ َ ‫َب‬
ٌ ‫ِم ِنّ ْي َو ِم ْن ُك ْم ِت َال َوتَهُ ِإنهُ ت َ َع ٰالى ُه َو َجواد ٌ َك ِر ْي ٌم َم ِل ٌك َبرا ٌء َرؤ ُْو‬
.‫ف َر ِح ْي ٌم‬

‫أَقُ ْو ُل قَ ْو ِلي َهذَا َوأ َ ْست َ ْغ ِف ُر ه‬


‫ّٰللاَ ال َع ِظي َْم ِلي َولَ ُك ْم فَا ْست َ ْغ ِف ُر ْوهُ ِإنهُ ُه َو الغَفُ ْو ُر الر ِح ْي ُم‬

‫خطبة الثانية‬
‫ت أ َ ْع َما ِلنَا‪ .‬أ َ ْش َهدُ‬ ‫ش ُر ْو ِر أ َ ْنفُ ِسنَا َو ِم ْن َ‬
‫س ِيّئا َ ِ‬ ‫الحمد هلل ن َْح َمدُ هللاَ َونَ ْست َ ِع ْينُهُ َونَ ْست َ ْغ ِف ُر ْه‪َ ،‬ونَعُ ْوذُ ِب ِه ِم ْن ُ‬
‫س ِلّ ْم َع ٰلى‬ ‫ص ِّل َو َ‬ ‫س ْولُهُ‪ .‬اَلله ُهم َ‬ ‫أ َ ْن َال ٰإِلهَ إِال هللاُ َو ْحدَهُ الَ ش َِري َْك لَ ْه‪َ ،‬وأ َ ْش َهدُ أَن ُم َحمدًا َع ْبدُهُ َو َر ُ‬
‫ض ْة ‪ .‬أَما بَ ْعد ُ‪ .‬أَيُّ َها‬ ‫ص ْحبِ ِه ِم ْن يَ ْو ِمنَا َهذَا إِلَى يَ ْو ِم الن ْه َ‬ ‫ي ِ الر ْح َم ْة‪َ ،‬و َعلَى آ ِل ِه َو َ‬ ‫س ِيّ ِدنَا ُم َحم ٍد نَبِ ّ‬ ‫َ‬
‫طا َعتِ ِه فَقَ ْد فَازَ ْال ُمتقُ ْونَ ‪.‬‬ ‫ص ْي ُك ْم بت َ ْق َوى هللاِ َو َ‬ ‫اس! أ ُ ْو ِ‬ ‫الن ُ‬
‫صلُّ ْوا َعلَ ْي ِه‬ ‫ي ِ َياأَيُّ َها ال ِذيْنَ ٰا َمنُ ْوا َ‬ ‫صلُّ ْونَ َعلَى الن ِب ّ‬ ‫فَقَا َل ت َ َعالَى ُم ْخ ِب ًرا َو ٰأ ِم ًرا‪ِ :‬إن هللاَ َو َم َال ِئ َكتَه يُ َ‬
‫س ِلّ ُم ْوا ت َ ْس ِل ْي ًما‪.‬‬
‫َو َ‬
‫ع ٰلى‬ ‫ت َ‬ ‫ار ْك َ‬ ‫ْت َو َب َ‬ ‫صلي َ‬ ‫س ِيّ ِدنَا ُم َحم ٍد َك َما َ‬ ‫سيِّ ِدنَا ُم َحم ٍد َو َع ٰلى ٰأ ِل َ‬ ‫ار ْك َعلَى َ‬ ‫س ِلّ ْم َو َب ِ‬
‫ص ِّل َو َ‬ ‫اَلله ُهم َ‬
‫سيِّ ِدنَا ِإبْرا َهي َْم ِفي ْالعٰ لَ ِميْنَ ِإن َك َح ِم ْيدٌ َم ِج ْيد ٌ‪ِ ،‬ب َر ْح َم ِت َك َيا أ َ ْر َح َم‬ ‫س ِيّ ِدنَا ِإب َْرا ِهي َْم َو َع ٰلى ٰأ ِل َ‬ ‫َ‬
‫اح ِميْنَ ‪....‬‬ ‫الر ِ‬
‫ْب‬
‫ت إِن َك ُم ِجي ُ‬ ‫اء ِم ْن ُه ْم َو ْاأل َ ْم َوا ِ‬ ‫ت ا َ ْأل َ ْحيَ ِ‬ ‫ت َو ْال ُم ْس ِل ِميْنَ َو ْال ُم ْس ِل َما ِ‬ ‫اَلله ُهم ا ْغ ِف ْر ِل ْل ُمؤْ ِمنِيْنَ َو ْ‬
‫المؤ ُِمنَا ِ‬
‫ص ِل ْح ُوالَة َ ْال ُم ْس ِل ِميْنَ بِ َما فِ ْي ِه‬ ‫اِل ْسالَ َم َو ْال ُم ْس ِل ِميْنَ ‪ .‬اَلله ُهم أ َ ْ‬ ‫ي ْالحاَجاَتِ‪ .‬اَلله ُهم أ َ ِعز ِ ِ‬ ‫اض َ‬‫ت يَا قَ ِ‬ ‫الد َع َوا ِ‬
‫شدًا‪َ .‬ربنا َ الَ ت ُ ِز ْغ‬ ‫ي ِ ْء لَنَا ِم ْن أ َ ْم ِرنَا َر َ‬ ‫اِل ْسالَ ِم َو ْال ُم ْس ِل ِميْنَ ‪َ .‬ربنَا أتِنَا ِم ْن لَد ُ ْن َك َر ْح َمةً َو َه ّ‬ ‫صالَ ُح ِ ِ‬ ‫َ‬
‫َ‬ ‫َ‬
‫اب‪َ .‬ربنَا هَبْ لنَا ِم ْن أ ْز َو ِ‬
‫اجنَا‬ ‫ت ال َوه ُ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫ً‬
‫قُلُ ْوبَنَا بَ ْعدَ اِذ َهدَ ْيتَنَا َوهَبْ لنَا ِم ْن لدُ ْن َك َر ْح َمة ِإن َك أ ْن َ‬
‫َ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬
‫سنَةً وقِنَا‬ ‫سنَةً وفِي اْآل ِخ َرةِ َح َ‬ ‫اج َع ْلنَا ِل ْل ُمت ِقيْنَ ِإ َما ًما‪َ .‬ربنَا أتِنَا فِي الدُّ ْن َيا َح َ‬ ‫َوذُ ِ ّرياتِنَا قُرة َ أ َ ْعيُ ٍن و ْ‬
‫ار‪.‬‬‫اب الن ِ‬ ‫َعذَ َ‬
‫ان َوإِ ْيت َ ۤا ِء ذِي اْلقُ ْربَ ٰى َويَ ْن َه ٰى َ‬
‫ع ِن اْلفَ ْخشَا ِء َو ْال ُم ْن َك ِر َواْلبَ ْغي ِ‬ ‫س ِ‬ ‫هللا! ِإن هللاَ يَ ْع ُم ُر ِباْل َع ْد ِل َواْ ِِل ْح َ‬ ‫ِعبَادَ ْ‬
‫ظ ُك ْم لَ َعل ُك ْم تَذَك ُر ْونَ ‪ ،‬فَا ْذ ُك ُروهللاَ اْل َع ِظي َْم يَ ْذ ُك ْر ُك ْم َوا ْش ُك ُر ْوهُ َعلَى نِ َع ٍم ي ِز ْد ُك ْم َوا ْسئَلُ ْوا ِم ْن فَ ْ‬
‫ض ِل ِه‬ ‫َي ِع ُ‬
‫يُ ْع ِط ُك ْم َولَ ِذ ْك ُر هللاِ أ َ ْك َب ُر‪.‬‬