Anda di halaman 1dari 159

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Islam dan bahasa Arab adalah dua hal yang berbeda, namun tak

dapat dipisahkan. Keduanya bagaikan dua sisi mata uang, berbeda

tetapi melekat dalam satu ikatan. Mukhtar Umar, A, (1999: 4)

mengatakan bahasa Arab adalah bahasa agama dan al-Quran.

Rekaman masa lalu dan prediksi masa depan Islam tertumpu pada

bahasa Arab. Asy-Syāfi’i menegaskan dalam ar-Risālah, belajar

bahasa Arab wajib hukumnya bagi orang Islam Arab dan non Arab.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya

Iqtidā΄ ash-Shirā al-Mustaqīm, demikian pula diungkapkan oleh asy-

Syāthibi dalam al-Muwāfaqāt. Semua ini membuktikan bahwa,

bahasa Arab adalah bagian yang integral dengan ajaran Islam.

(Hayaza, 1998: 20).

Oleh karena itu mempelajari bahasa Arab dengan baik dan

benar menjadi syarat mutlak yang tak dapat ditawar lagi, sebagai

sarana untuk memahami ajaran Islam. Artinya, sangat tidak mungkin

Islam dimengerti dan difahami dengan benar sebagai agama universal,

tanpa memahami bahasa Arab dengan baik. Hal ini bisa menjadi

sebuah landasan untuk menemukan sebuah desain kurikulum bahasa

Arab yang baik, efektif dan efisien. Para pakar pendidikan bahasa

Arab telah banyak melakukan percobaan-percobaan untuk mendesain


2

kurikulum bahasa Arab dengan berbagai model dan metode

pembelajarannya. Namun mengalami banyak kendala dan kelemahan.

(Ahmad Syalabi, 1980: 7).

Mahasiswa non Arab yang belajar di Timur Tengah di berbagai

jurusan dan fakultas, menjadi kendala tersendiri bagi perguruan tinggi

semisal Universitas Ibnu Su’ud, Universitas Ummul Qura, Universitas

Islam Madinah dan lain sebagainya untuk berfikir dan mengkaji

kembali pembelajaran bahasa Arab yang pas bagi mereka, yang nota

bene tidak berbahasa Arab. Desain kurikulum diterapkan di

universitas-universitas tersebut, ternyata masih banyak kendala (at-

Turki, 1993: 6). Sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak,

bagi perguruan tinggi-perguruan tinggi tersebut untuk membuat

kurikulum bahasa Arab yang praktis bagi mahasiswa non Arab (ghair

an-nāthiqīna bihā).

Indonesia sebagai negara non Arab, literatur berbahasa Arab

sudah tidak lagi menjadi barang baru, bahkan telah menjadi konsumsi

sehari-hari, khususnya bagi para sarjana dan cendikiawan. Pemerintah

mengakui bahasa Arab sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah

dan madrasah. Kurikulum dan metode pembelajarannya telah disusun

disesuaikan dengan tingkatan sekolah masing-masing.

Lembaga pendidikan tanah air yang menjadi rujukan

pembelajaran bahasa Arab adalah pesantren. Kurikulumnya telah

didesain sedemikian rupa. Pembaharuan demi pembaharuan terus


3

dilakukan, namun belum ada yang mampu memperoleh hasil yang

optimal. (Madjid, 1998: 8). Pesantren modern, telah banyak

melakukan pembaharuan dengan membiasakan berbahasa Arab dalam

setiap aktivitas kesehariannya. Namun apabila kita telaah lebih jauh

pesantren model ini hanya lebih mengedepankan pada aspek

muhādatsah saja, sedangkan aspek kebahasaan lain seperti qirāah,

kitābah, istimā’ dan kaidah nahwu sharaf dan balāghah yang memiliki

porsi penting pula hampir tidak di ajarkan dengan baik dan mendalam

(Fakhrudin, 2006: 14).

Pesantren tradisional (salaf) lebih tidak komprehensif dalam

pembalajaran bahasa Arabnya, karena hanya menekankan pada aspek

kaidah nahwu, sharaf dan balāghah, serta hanya difokuskan pada

penguasaan literatur klasik (kitab kuning). Metode pembelajarannya

sangat tradisional, dengan mengeja satu persatu kata dan sering

diulang-ulang, menjadikan sistem pembelajaran model seperti ini

membosankan dan membutuhkan waktu relatif lama. (Ibid., 9).

Kurikulum bahasa terdiri dari tiga komponen, pertama;

komponen dasar, terdiri dari ashwāt, mufradāt dan tarākīb, kedua;

komponen keahlian, yaitu kitābah, kalām, qirāah, istimā’, dan ketiga;

komponen pengembangan, berupa kaidah nahwu, sharaf, balāghah

dan adab (al-Hamid, 1993: 9). Kesemua aspek ini hampir tidak

diajarkan secara komprehensif dalam kurikulum pesantren maupun

kurikulum lembaga formal di tanah air.


4

Silsilah Ta’līm al-Lughah al-’Arabiyyah - yang selanjutnya

penulis sebut dengan kurikulum Silsilah - adalah kurikulum bahasa

Arab bagi non Arab. Kata Silsilah secara etimologis barupa masdar

dari fi’il salsala, yang mengandung arti rangkaian atau rantai.

Sedangkan kata ta’līm adalah masdar dari kata ’allama yang memiliki

makna pengajaran (Munawir, 1997). Jadi Silsilah Ta’līm al-Lughah

al-’Arabiyyah adalah mata rantai pengajaran bahasa Arab yang

mencakup semua komponen dasar kebahasaan, keahlian, dan

pengembangan, yang diintegrasikan dengan ilmu-ilmu keIslaman

seperti fiqh, tauhīd, tafsīr, tsaqāfah dan tārīkh, yang dibungkus dengan

metode pembelajaran yang baik, efektif dan efisien (at-Turki,

1992:48). Karasteristik kurikulum ini adalah menyatunya materi-

materi kebahasaan dengan materi-materi keagamaan, sehingga materi

agama menjadi materi bahasa dan materi bahasa menjadi materi

agama. Agama dan bahasa berada dalam satu bingkai yang utuh.

Namun meteri keagamaan dalam kurikulum Silsilah ini hanya bersifat

pengetahuan dasar. Karena Silsilah ini adalah kurikulum bahasa Arab

yang didesain bagi siswa non Arab yang ingin lebih memperdalam

ilmu agama Islam di tingkat perguruan tinggi (al-Hamid, op.cit;11).

Paket kurikulum Silsilah adalah 33 buku pelajaran, yang harus

diselesaikan dalam empat semester. Jadi, kurikulum ini selesai

diajarkan dalam dua tahun dengan progran intensif. Satu semester

ditempuh 17 minggu, dan selama satu minggu 25 jam pelajaran.


5

Semester pertama dan kedua adalah pembelajaran bahasa tingakat

dasar, sedangkan semester ketiga dan keempat adalah tingkatan

pendalaman bahasa dan ilmu-ilmu agama Islam. Kemampuan pada

level ini dipersiapkan untuk melanjutkan ke fakultas bahasa dan ilmu-

ilmu agama Islam (Ibid).

Kurikulum Silsilah ini disusun oleh para pakar dan ahli di

bidang kebahasaan dan agama, yang berjumlah kurang lebih lima

puluh orang, dari Universitas Islam Ibnu Su’ud Riyadh. Kurikulum

ini telah diuji layakkan di berbagai peguruan tinggi, khususnya yang

menginduk kesana, seperti Ma’had al-Ulūm al-Islāmiyyah wa

al-’Arabiyyah di Tokyo, Washington dan Jakarta. (at-Turki, op. cit: 4-

8).

Kurikulum Silsilah sudah banyak diadopsi oleh lembaga-

lembaga pendidikan di tanah air, seperti Pesantren Islam al-Irsyad

Salatiga, Ma’had Imam Bukhari Surakarta, Ma’had Ali bin Abi Thalib

Surabaya, dan Ma’had Imam Syafi’i Cilacap. Dari penelusuran

penulis lembaga-lembaga tersebut hampir tidak ada yang

menerapkan kurikulum Silsilah secara lebih utuh, serta dengan metode

dan sarana pembelajaran yang memadai. (http//stai.ali.ac.id; Makmun

Efendi, 2008). Pesantren Islam al-Irsyad desa Butuh kec. Tengaran

Salatiga kab. Semarang, menurut survei peneliti adalah lembaga

pendididkan yang cukup baik dan intensif dalam menerapkan


6

kurikulum Silsilah. Oleh karena itu, menurut peneliti, pesantren ini

layak dijadikan sampel dalam penelitian ini.

Pesantren Islam al-Irsyad Salatiga didirikan pada hari Rabo 1

Muharam 1408 H./26 Agustus 1986 M., oleh seorang pengurus

Jam’iyyah al-Irsyad kab. Semarang, bernama Ustadz Umar bin Ali

Abdad. Sedangkan kegiatan belajar mengajar secara resmi dimulai

pada bulan Dzul Qa’dah 1409 H./Juli 1988 M. Pesantren yang kini

berusia kurang lebih 20 tahun tersebut, telah memiliki lima program

pendidikan. Pertama; SDITQ (Sekolah Dasar Islam Tahfīzh al-

Quran), yaitu jenjang Sekolah Dasar yang telah terdaftar sebagai SD

swasta di Departemen Pendidikan Nasional, dengan lama pendidikan

6 tahun. Ditargetkan dalam program ini hafal al-Quran minimal 6 juz,

menguasai kurikulum pesantren dan Departemen Pendidikan

Nasional. Kedua; Mutawassith, program pendidikan setingkat SLTP

dengan mendidik lulusan SD/MI selama tiga tahun, dengan

mamadukan kurikulum pesantren dan Departemen Agama. Ketiga;

I’dād Lughawi, program kursus intensif bahasa Arab dengan mendidik

lulusan SLTP/MTs dari luar pesantren selama 1 tahun dengan target

penguasaan bahasa Arab secara aktif dan pemahaman dasar ilmu

agama. Keempat; I’dād Mu’allimīn, jenjang pendidikan setingkat

SMU/MA, mendidik lulusan Mutawassith dan I’dād Lughawi selama

3 tahun, dengan target penguasaan ilmu agama Islam secara lebih

mendalam dengan ilmu alat dalam hal syari’at dan bahasa. Kurikulum
7

program I’dād Mu’allimīn memadukan kurikulum pesantren dengan

Departemen Agama. Jenjang ini telah mendapatkan akreditasi

persamaan (mu’ādalah) dari Universitas Islam Madinah. Kelima;

Syu’bah Lughah, adalah program dua tahun untuk lulusan SLTA dari

luar pesantren dengan target penguasaan ilmu-ilmu agama Islam dan

bahasa Arab lebih mendalam. Program Syu’bah Lughah difokuskan

pengajaran bahasa Arabnya dengan menggunakan kurikulum Silsilah

dan tidak mengikuti program pemerintah. Adapun materi pelajaran

yang diajarkan di program ini adalah; tauhīd, tafsīr, akhlāq, tahfīzh,

hadīts, fiqh, farāidh, mushthalāh al-hadīts, ushul al-fiqh, fiqh ad-

da’wah, ’ulūm al-Qurān, sīrah nabawiyyah, tārīkh, nahwu, sharaf,

balāghah, ta’bīr, insyā`, qirāah, khath dan komputer. Sebagian besar

lulusan program ini melanjutkan keberbagai perguruan tinggi, seperti

Universtas Islam Madinah, al-Azhar, Universitas Islam Sudan dan

LIPIA Jakarta.

Latar belakang inilah yang menjadikan penulis tertarik untuk

meneliti tentang efektifitas kurikulum Silsilah yang telah

diimplementasikan di program Syu’bah Lughah Pesantren Islam al-

Irsyad Salatiga dan indikator keberhasilannya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan

masalah yang akan menjadi pembahasan dalam tesis ini adalah :


8

1. Bagaimanakah efektifitas kurikulum Silsilah yang

diimplementasikan di pesantren Islam al-Irsyad Salatiga ?

2. Apa indikator keberhasilan implementasi kurikulum Silsilah di

pesantren Islam al-Irsyad Salatiga ?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian tentang kurikulum Silsilah yang diimplementasikan

di pesantren Islam al-Irsyad Salatiga ini, mempunyai tujuan

sebagaimana berikut :

1. Untuk mengetahui efektifitas kurikulum Silsilah yang

diimplementasikan di pesantren Islam al-Irsyad Salatiga.

2. Untuk mengetahui indikator keberhasilan implementasi

kurikulum Silsilah di pesantren Islam al- Irsyad Salatiga.

D. Signifikasi Penelitian

Deskripsi dan analisis implementasi kurikulum Silsilah di

pesantren Islam al-Irsyad Salatiga, secara praktis dapat memberikan

kontribusi terhadap upaya perbaikan kurikulum dan metode

pembelajaran bahasa Arab di tanah air.

E. Telaah Pustaka

Pembelajaran bahasa Arab telah menjadi perhatian yang serius

bagi para ilmuan. Lebih-lebih pembelajaran bahasa Arab bagi non


9

Arab (ghair an-nāthiqīna bihā). Telah banyak karya dihasilkan

sebagai sebuah kurikulum dan metode pembelajaran bahasa Arab,

namun masih banyak kendala dan permasalahan.

Muhammad Nasir (2004) dalam tesisnya Implementasi

Pendekatan Integratif dalam Pembelajaran Bahasa Arab di

Madrasah Aliyah Pontianak mengatakan, sistem pembelajaran bahasa

Arab yang diterapkan di lembaga formal di Indonesia secara spesifik

ada dua metode, wahdah (integratif) dan furū’ (pemisahan). Nasir

dalam tesisnya hanya menfokuskan penelitiannya pada aspek mahārāt

al-lughah (keahlian bahasa), yang terdiri dari empat unsur, kalām,

istimā’, qirāah dan kitābah. Hasil yang dicapai dari penerapan

pendekatan integratif ini cukup baik. Pendekatan integratif yang

dimaksud oleh Nasir disini adalah pendekatan yang mengintegralkan

seluruh aspek mahārāt al-lughah tersebut dalam satu kesatuan yang

utuh dan terpadu, tanpa adanya pemisahan. Hal ini sangat berbeda

dengan istilah integratif yang penulis maksudkan dalam penelitian ini.

Naili Mujahidah (2006) dalam tesisnya Psikolinguistik dalam

Pengajaran Bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Pontianak,

meneliti kurikulum bahasa Arab yang menfokuskan pembelajarannya

pada istimā’, kalām, qirāah, kitābah dan tarākīb, dengan menerapkan

metode pembelajaran yang dikaitkan dengan teori-teori psikologi.

Naili menyatakan bahwa ada keterkaitan yang kuat antara bahasa dan

teori-teori psikologi.
10

Masdi (2004) yang meneliti tentang konsep pengajaran bahasa

Arab Ibnu Khaldūn dalam kitab Muqaddimah menegaskan, bahwa

konsep pengajaran bahasa Arab Ibnu Khaldun bertumpu pada suara

dan bunyi-bunyian, kalām dan qirāah. Dari keduanya lahir ilmu

nahwu, sharaf, imlā`, kha dan insyā`.

Fathurrahman (2001) dalam tesisnya Sikap Bahasa Siswa di

Pesantren al-Ihsan Beji Banyumas menfokuskan pembahasannya pada

bagaimana siswa menggunakan dan mempraktekan bahasa Arab

dalam lingkungan Pesantren. Rahman menjelaskan, pembelajaran

bahasa harus menempuh tiga hirarki pembelajaran, pendekatan,

metode dan tekhnik. Pendekatan ditujukan pada pembelajaran yang

bersifat teori dan falsafah bahasa. Metode merupakan sebuah sistem

dan cara pembelajaran yang disesuaikan dengan siswa. Sedangkan

tekhnik adalah setrategi pembelajaran yang bersifat aplikatif. Intgerasi

kurikulum menjadi suatu hal yang harus ditempuh dalam

pembelajaran bahasa apapun. Artinya, kesatuan unsur keahlian bahasa

yang meliputi membaca, menyimak, berbicara dan menulis dalam satu

kesatuan sistem yang utuh. Rahman dalam tesisnya menyimpulkan

kurang efektifnya sebuah sistem yang diterapkan. Demikian pula yang

diungkapkan Priyo Supriyatno (2002) yang hanya meneliti pengajaran

huruf jar, dengan mendeskripsikan tentang tujuan pembelajaran,

materi, metode dan evaluasi berdasarkan kurikulum 1994.


11

Telaah pustaka tersebut, memberikan gambaran kepada peneliti

bahwa penelitian-penelitian tersebut hanya mengfokuskan

penelitiannya pada aspek mahārāt al-lughah dan metode

pembelajaran bahasa Arab yang bersifat parsial. Artinya satu aspek

diteliti dan aspek yang lain tidak. Dalam penelitian kali ini, peneliti

bukan hanya meneliti pada aspek mahārāt al-lughah dan metode

pembelajaran bahasa Arab semata, akan tetapi peneliti akan

melakukan penelitian sebuah kurikulum bahasa Arab yang disebut

dengan Silsilah. Yaitu kurikulum yang memiliki karasteristik meteri

pembelajaran yang komprehensif dan integratif, serta metode

pembelajaran yang efektif dan efisien. Komprehensif maksudnya

materi pembelajaran yang mencakup seluruh aspek kebahasaan, baik

yang berupa komponen dasar, keahlian maupun pengembangan yang

dirangkai dalam satu kurikulum. Integratif memiliki arti memadukan

materi-materi kebahasaan dengan materi-materi agama. Metode yang

efektif maksudnya metode pembelajaran yang dipraktekkan bersifat

efektif dan membuahkan hasil yang optimal. Sedangkan efisien

mengandung makna, pembelajaran kurikulum ini mebutuhkan waktu

yang relatif singkat.


12

F. Metode Penelitian

1. Rancangan Penelitian

Karya ilmiah ini menggunakan metode penelitian

deskriptif, yang memiliki tujuan pencandraan secara sistematis,

faktual dan akurat mengenahi fakta-fakta dan sifat-sifat yang

berhubungan dengan implementasi kurikulum Silsilah di

pesantren Islam al-Irsyad Salatiga.

Secara umum penelitian ini didasarkan pada pendekatan

kualitatif. Yakni penelitian yang dibangun dari data realitas apa

adanya yang terjadi di lapangan, yang dialami, dirasakan dan

difikirkan oleh sumber data, sehingga data yang dihasilkan

berupa data kualitatif (Sugiono, 2004: 240). Ciri khas

penelitian ini terletak pada tujuannya yaitu mendeskripsikan

realitas dengan memahami makna dan gejala, serta

memusatkan perhatiannya pada prinsip-prinsip umum yang

melandaskan pada perwujudan dan satuan-satuan gejala yang

muncul di lapangan (Moleong, 2001: 30). Jadi pendekatan ini

sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif

yang bersifat analitis berupa kata-kata tertulis dari kurikulum

Silsilah yang ada di pesanten Islam al-Irsyad Salatiga, yang

dapat diamati secara alamiah dan menyeluruh. Jadi, metode

penelitian yang penulis gunakan adalah metode kualitatif.


13

2. Sumber Data

Peneliti menggunakan dua macam sumber data dalam

penelitian ini, yaitu; data primer dan data sekunder. Data

primer, yang peneliti maksudkan adalah data yang diperoleh

oleh peneliti langsung dari sumber utama, yaitu para

penanggung jawab, pelaksana dan fihak yang terlibat dalam

pelaksanaan kurikulum Silsilah yang penulis ambil dari

dokumen pesantren Islam al-Irsyad Salatiga. Sedangkan data

sekunder diperoleh melalui buku-buku yang berkenan dengan

kurikulum bahasa Arab, arsip, transkip, majalah, jurnal dan

literatur lainnya yang relevan dengan penelitian tesis ini.

3. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang lebih valid, peneliti

menggunakan tekhnik triangulasi dalam pengumpulan datanya,

yaitu dengan menggabungkan tiga tekhnik, observasi,

wawancara dan dokumentasi (Sugiono, 2001: 270-271).

a. Observasi

Observasi merupakan strategi pengumpulan data

dengan melakukan pengamatan langsung terhadap

obyek penelitian (Ibid: 258). Dalam hal ini peneliti

melakukan pengamatan secara langsung pesantren Islam

al-Irsyad untuk memperoleh data yang berkaitan dengan

(1) place (tempat) seperti ruang belajar, laboratoriun,


14

kantor, asrama, (2) actor (pelaku) seperti pengurus, guru

dan siswa, (3) activities (aktivitas) yaitu proses belajar-

mengajar di kelas.

b. Wawancara

Wawancara (interview) merupakan teknik

pengumpulan data dengan menggunakan pedoman

berupa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan langsung

kepada fihak yang terlibat dalam obyek penelitaian

(Muhadjir, 1998: 104). Teknik ini digunakan untuk

mendapatkan data mengenai kurikulum Silsilah dan

indikator keberhasilan implementasi kurikulum Silsilah.

Berkaitan dengan hal ini, penulis melakukan bentuk

wawancara terstruktur, terbuka dan tertutup .(Sugiono,

2001: 154) Wawancara terbuka ditujukan kepada para

penanggung jawab, pelaksana dan fihak yang terlibat

dalam pelaksanaan kurikulum Silsilah, yaitu mudir

ma’had, kepala program syu’bah lughah, guru, dan

lajnah lughah. Sedangkan wawancara terstruktur akan

penulis tujukan kepada siswa, untuk memperoleh data

tentang kemampuan dan penguasaan materi

pembelajaran yang diajarkan.


15

c. Dokumentasi

Penelitian ini juga menggunakan tekhnik

dokumentasi dalam mengumpulkan datanya, dengan

melakukan pencatatan dan perekaman (Arikunto, 2002:

206). Peneliti akan mendokumentasikan kegiatan

kurikuler dan ektra kurikuler para siswa. Tekhnik ini

juga digunakan untuk mencari data yang berbentuk

brosur, transkip nilai, prestasi akademik, buku, surat

kabar, majalah, agenda dan sebagainya

4. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan proses pendeskripsian dan

penyusunan transkrip hasil interview, observasi dan

dokumentasi serta material lain yang telah terkumpul.

Penelitian ini dalam analisis datanya menggunakan analisis

deskriptif kualitatif, yang dilakukan secara interaktif melalui

proses mengumpulkan data, memaparkan data dan menguji

data, sehingga data lebih valid (Sugiyono, 2005 : 92).

Mengumpulkan data dilakukan dengan memilih hal-hal

pokok dan penting, berupa materi, metode pembelajaran

Silsilah dan indikator keberhasilan penerapan kurilum Silsilah,

kemudian data dicari tema dan polanya. Data kemudian

dipaparkan. Dengan memaparkan data akan memudahkan

peneliti untuk memahami apa yang terjadi, dan merencanakan


16

kerja selanjutnya, berdasarkan apa yang telah difahami dari

teori yang telah dikaji sebelumnya. Memaparkan data

dilakukan secara naratif, terkait dengan implementasi

kurikulum Silsilah di pesantren Islam al-Irsyad Salatiga.

Langkah terakhir adalah menguji validitas data. Menguji data

berarti mengartikan data yang ditampilkan dengan melibatkan

analisis peneliti (Rasyid, 2000: 71). Peneliti akan menguji

efektifitas kurikulum Silsilah dengan menginterpretasinya,

serta indikator keberhasilan implementasi kurikulum Silsilah

dengan menverifikasi data yang telah dipaparkan. Kemudian

penulis juga menggunakan senjata komparasi untuk

mencermati padu tidaknya teori dengan data yang tersedia,

padu tidaknya keseluruhan temuan penelitian itu sendiri

dengan kenyataan lapangan yang tersedia (Glaser; Starus,

1967). Penulis juga mengkomparasikannya dengan metode lain

selain Silsilah yang diterapkan di pesantren.

Dengan langkah ini diharapkan dapat diketahui

efektifitas kurikulum Silsilah, serta indikator keberhasilan

implementasi kurikulum Silsilah di Pesantren Islam al-Irsyad

Salatiga.
17

G. Sistematika Pembahasan.

Penelitian tesis ini terdiri dari dari tiga bagian, yaitu bagian

awal, bagian inti dan bagian akhir. Bagian awal, berisi halaman judul,

pengesahan pembimbing, deklarasi, abstrak, ringkasan, pengantar,

transliterasi, singkatan, persembahan, motto, daftar isi. Sedangkan

bagian inti, berisi lima bab.

Bab satu merupakan pendahuluan, yang terdiri dari latar

belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, signifikasi

penelitian, kajian pustaka, strategi penelitian, dan sistematika

penulisan.

Bab dua berisi kajian teori tentang pembelajaran bahasa Arab

dan kurikulum Silsilah. Bagian pertama bab ini terdiri dari kurikulum

dan metode pembelajaran di pesantren dan sekolah formal, sedangkan

bagian kedua berupa latar belakang, definisi, materi pembelajaran

tujuan, dan metode pengajaran Silsilah.

Bab tiga adalah bab pemmbahasan tentang obyek penelitian

sebagai bahan pengumpulan data, yang meliputi gambaran umum

pesantren Islam al-Irsyad Salatiga, kompetensi guru dan siswa,

pembelajaran bahasa Arab dan penerapan kurikulum Silsilah di

pesantren Islam al-Irsyad Salatiga.

Bab empat merupakan bab inti penelitian, berupa analisis

kurikulum Silsilah, yang meliputi analisis efektifitas kurikulum dan

indikator keberhasilan implementasi kurikulum Silsilah. Analisis


18

efektifitas kurikulum dibagi dua pembahasan, materi pelajaran dan

metode pengajaran, sedangkan indikator keberhasilan dibagi dua

pembahasan pula yaitu ketercapaian tujuan pembelajaran dan faktor

pendukung penerapan Silsilah.

Bab lima adalah bab penutup, yang terdiri dari kesimpulan

hasil penelitian dan saran. Sedangkan di bagian akhir dari tesis ini,

terdiri dari daftar pustaka, lampiran-lampiran dan daftar riwayat

hidup.
19

BAB II

STUDI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DAN SILSILAH

TA’LĪM AL-LUGHAH AL-‘ARABIYYAH

A. Pembelajaran Bahasa Arab

Di Indonesia, pembelajaran bahasa Arab menjadi problem

tersendiri bagi para pendidik, disamping karena nota bene bahasa Arab

di Indonesia bukan bahasa ibu, bahasa Arab bukan pula menjadi

bahasa global yang menjadi tuntutan pasar meski sudah resmi menjadi

bahasa PBB. Berbeda dengan bahasa lain seperti bahasa Inggris dan

Cina. Padahal kalau dirilis lebih jauh, Indonesia adalah negara

berpenduduk muslim terbesar di dunia. Sebagaimana disinggung di

atas bahwa Islam dan bahasa Arab bagaikan dua sisi mata uang yang

tak dapat dipisahkan.

1. Pembelajaran Bahasa Arab di Pesantren

Lembaga pendidikan yang paling konsen dalam

pembelajaran bahasa Arab adalah pesantren, meski lembaga

formal lain yang menginduk ke pemerintah juga telah mendesain

kurikulum bahasa Arab sedemikian rupa.

Islam masuk di Indonesia sejak tahun 1416 M. khususnya

di tanah jawa (Schrieke, 1916:30). Untuk penyebaran agama

Islam didirikan lembaga-lembaga pendidikan berupa pondok

pesantren-pondok pesantren, yang mengajarkan bahasa Arab


20

sebagai kunci ilmu pengetahuan agama (Fakhrudin, 2006:5).

Perluasan penyajian, pengajaran dan corak pengetahuan yang

diberikan kepada siswa amat tergantung pada kecakapan kyai

dan guru. Perkembangan selanjutnya dalam pengembangan

pesantren tampak ada kemajuan, tatkala para kyai/guru yang

berfikiran modern dapat menerima setiap perubahan dan

pembaharuan, sehingga berbagai kemajuan dapat dicapai.

a. Metode Pengajaran.

Pembelajaran bahasa Arab pada masa itu hanya mengeja

dan membaca al-Quran, taraf selanjutnya menggunakan alat-alat

bantu misalnya papan tulis, bangku dan sebagainya, serta

sekarang sudah banyak yang menggunakan alat-alat bantu

modern (Abubakar, 1957:49).

Tingkatkan paling rendah, pelajaran diberikan secara

perorangan, dengan cara siswa maju kehadapan guru, seorang

demi seorang, ia membaca salah satu kalimat lalu diterjemahkan.

Disamping itu, kalimat tersebut juga dijelaskan maksud yang

terkandung didalamnya. Aspek gramatiakanya, (nahwu dan

sharaf) dibaca pula, sehingga siswa dapat memahami dari segala

aspek, baik isi maupun tata bahasanya. Metode pengajaran model

ini lebih dikenal dengan metode sorogan. (Hamzah, 1966: 42).

Pengajaran bentuk lain di pesantren adalah dengan cara

siswa menyimak kitab dengan memberi tanda-tanda pada setiap


21

kata atau kalimat yang baru diterangkan. Pekerjaan tersebut

disebut ngesahi, artinya guru telah menganggap sah terhadap

buku/kitab yang telah diajarkan kepada siswa, dan ia telah

menerimanya. Suatu ilmu belum dianggap sempurna apabila

belum digurukan. Dengan demikian jika terdapat seorang yang

mengamalkan ilmu tanpa mendapat keterangan dari gurunya

maka dikhawatirkan pengamalannya tidak tepat, atau sesuai

dengan aturan syariat. Sebab pada umumnya buku-buku yang

dikaji berbahasa Arab, sehingga memungkinkan terjadinya

missunderstanding. Maka dalam hal ini guru berhak untuk

mengesahkan atau tidaknya suatu ilmu. Metode yang kedua ini

disebut dengan bandongan atau wetonan. (Amin Haidari, 2004:

153). Atau istilah lain mengajarkan bahasa Arab melalui kitab-

kitab yang berisi ilmu agama Islam (ulūm syar’iyyah), dengan

cara kyai memegang kitab yang diajarkan kemudian membaca

dan mengartikannya ke dalam bahasa daerah khas pesantren,

kemudian mendiktekannya kepada siswa. Mereka mencatat arti

kalimat persis di bawah yang diartikan oleh kyai, yang sehingga

kitab yang telah ditulis seperti ini disebut dengan kitab

jenggoten, karena makna atau arti ditulis persis di bawah kata-

kata Arab yang menjulur ke bawah seakan-akan seperti rambut

janggut yang tumbuh di dagu (jenggot: Jawa). Sedangkan


22

aktifitas seperti ini disebut ngesahi (memberikan arti yang telah

disahkan oleh guru) (Fachrudin, op.cit :8).

Bentuk lain pengajaran bahasa Arab di pesantren adalah

hampir mirip dengan bentuk sebelumnya, yakni guru membaca

secara nyaring ketika mengajarkan al-Quran atas beberapa

potong ayat, kemudian meminta kepada para siswa untuk

menirukan apa yang telah dibacanya secara bersama-sama.

Kemudian setelah itu masing-masing mereka diminta untuk

membaca sendiri-sendiri sebagai latihan dan selanjutnya secara

bergilir siswa satu persatu maju kepada guru untuk

memperdengarkan bacaaannya. Apabila siswa belum betul

membacanya, guru membetulkannya dan meminta kepadanya

untuk mengulangi sampai betul. Jika guru telah yakin benar akan

bacaan para siswa, guru menambahkan materi selanjutnya

dengan cara siswa mundur dulu bergantian dengan siswa yang

lain untuk maju ke depan, demikian seterusnya.

Dari satu mata pelajaran ke mata pelajaran yang lain

tidak ada perbedaan. Cara penyampainnya guru membaca dan

mengalih bahasakan ke dalam bahasa daerah, dari kalimat ke

kalimat dan siswa mencatatnya ke dalam bahasa daerah pula.

Sistem seperti ini tidak ada pembagian kelas, meski demikian ada

pembagian tingkat pelajaran yang diajarkan.


23

Kedua bentuk pembelajaran bahasa Arab di atas adalah

sistem pembelajaran yang tertua di Indonesai, yang lebih dikenal

dengan sistem pembelajaran tradisional. Sistem yang satu

diterapkan hanya bertujuan untuk penguasaan bacaan al-Quran,

sedangkan bentuk yang kedua bertujuan untuk memahami ajaran

agama Islam. Keduanya sebenarnya bukan terfokus pada

pembelajaran bahasa Arab, oleh karenanya pengetahuan bahasa

Arab para siswa cenderung sangat pasif. Mereka belajar buku

berbahasa Arab yang berisi materi-materi agama, agar dapat

memahami isinya, dan tidak bertujuan agar mereka bisa

berbicara dengan bahasa Arab. Maka standar kemampuan

berbahasa mereka hanya membaca kitab yang tidak bersyakal

atau disebut juga dengan kitab gundul (Ibid)

b. Kurikulum (mata pelajaran)

Kurikulum pengajaran bahasa Arab di pesantren

mempunyai keterkaitan erat dengan kebutuhan peribadatan

kepada Allah swt, khususnya untuk menjalankan rukun Islam

yang kedua, yaitu shalat, dimana do’a dan ucapan shalat adalah

bahasa Arab. Buku-buku fikih dan tauhid kala itu menggunakan

bahasa Arab dan mendominasi di antara berbagai buku-buku lain.

Sudah sepantasnya jika kurikulum bahasa Arab saat itu untuk

mengarahkan siswanya supaya tahu dan mahir dibidang hukum

Islam dan akidah yang berfungsi untuk mendidik siswa agar bisa
24

beribadat dengan baik dan benar. Selain pelajaran di atas

diajarkan pula sebagian surat dalam al-Quran sebagai bahan

bacaan dalam shalat. (Anwar, 1971:48)

Bentuk kurikulum lain yang merupakan pengembangan

kurikulum pengajaran bahasa Arab adalah penambahan materi

pelajaran agama Islam (ulūm syar’iyyah), yang hanya diajarkan

pada siswa yang mengidamkan pengetahuan agama Islam secara

lebih mendalam. Selain fikih, akidah, diajarkan pula hadits, tafsir

serta ilmu tata bahasa, seperti nahwu, sharaf, balāghah, ’arūdh,

manthiq, dan sebagainya.

Selain materi-materi pelajaran yang bersifat tradisional

juga diajarkan materi pelajaran bahasa yang bersifat modern,

seperti mahfūzhāt, nushūsh, tārīkh, adab dan qawā’id al-i’lāl.

Sedangkan ilmu pengetahuan agama diajarkan fikih praktis, yang

pada prinsipnya mengajarkan bagaimana menjalankan hukum

Islam dan beberapa tradisi yang berlaku, misalnya pembagian

warisan, memperlakukan mayat, perkawinan dan sebagainya

Disamping itu juga mengajarkan hubungan sosial (mu’āmalāt),

seperti jual beli, pinjam meminjam dan etika berbisnis.

Pada mata pelajaran akidah pada prinsipnya hanya

diajarkan rukun iman, beserta hal-hal lain yang berhubungan

dengan ketauhidan, misalnya batas-batas syirik, kafir dan

sebagainya. Secara garis besar pelajaran akidah membahas tiga


25

prinsip pokok agama, yaitu iman, Islam dan ihsan. Pelajaran

iman memuat enam rukun, iman kepada Allah, rasul, kitab-

kitabnya, malaikat, hari akhir dan qadha dan qadar. Materi

pengetahuan tentang Islam memuat lima rukun, syahadat, shalat,

zakat, puasa dan haji, sedangkan materi ihsan membahas tentang

cara beribadat dengan benar kepada Allah Swt, yang

didefinisikan dengan menyembah Allah Swt seakan melihat-Nya,

jika tidak yakinlah bahwa Dia melihat.

Materi pelajaran akidah khususnya tentang keyakinan

(iman), juga diajarkan berbagai hal yang menyangkut

permasalahan teologi (ilmu kalām) dengan berbagai alirannya.

Ihsan membahas hubungan timbal balik antara tuhan dan

manusia atau sesamanya dalam ruang lingkup ilmu tasawuf.

Sedangkan materi pelajaran hadits diajarkan hal-hal praktis yang

berkaitan dengan pribadi Nabi Muhammad Saw., baik perkataan,

perbuatan, ketetapan maupun pernyataan. (Anwar, op.cit :50).

Sedangkan mengenahi buku-buku pegangan yang

diajarkan adalah; pelajaran gramatika untuk tingkat ūlā

menggunakan al-Jurūmiyah, tingkat wusthā menggunakan

al-’Umrithi dan yang tingkat ‘ulyā menggunakan al-Fiyah.

Demikian pula pelajaran fikih terdapat berbagai kitab yang

diajarkan dan merupakan tingkatan pelajaran. Pada tingkat

pertama diajarkan kitab Sullam an-Najāh, Fath al-Qarīb atau


26

Sullam at-Taufīq, tingkat berikutnya Fath al-Mu’īn kemudian

terakhir Fath al-Wahāb atau al-Asybāh wa an-Nazhāir. Dalam

pelajaran akidah diajarkan ’Aqāid al’Awām kemudian ad-Dasūqī

Pelajaran hadits diajarkan kitab al-Arba’īn an-Nawawiyah

kemudian Bulūgh al-Marām kemudian Mukhtashar Abī Jamrah

atau Tajrīd ash-Sharīh dan pada tingkatan akhir diajarakan

Shahīh al-Bukhārī dan Sahīh Muslim.

Untuk pelajaran tafsir diajarkan Jalālain. Dalam pelajaran

tafsir ini seolah olah tidak mengenal tingkatan karena untuk

menyelesaikan satu kitab ini dibutuhkan waktu bertahun-tahun.

Namun diajarkan pula kitab yang lain sebagai tambahan yaitu

kitab Shāwi. Dalam pelajaran balaghah diajarkan kitab Jawāhir

al-Maknūn yang kemudian dilanjutkan dengan Jawāhir al-

Balāghah.

Kepada siswa-siswa senior diajarkan mata pelajaran

tasawuf dengan tingkatan kitab yang dipakai, yakni, pertama;

menggunakan Irsyād al-’Ibād kemudian Minhāj al’ĀBidīn dan

pada tingkat yang tertinggi diajarkan Ihyā` ’Ulūm ad-Dīn. (Ibid)

Buku-buku di atas, atau yang sering disebut oleh para

siswa dalam tradisi pesantren dengan kitab kuning, adalah ciri

dan identitas yang tak dapat dipisahkan. Kitab kuning inilah yang

dijadikan pesantren sebagai bahan kajian dan pengembangan

ilmu-ilmu keIslaman. Kitab kuning merupakan indentitas yang


27

inhern dengan pesantren, yang dijadikan media transmisi Islam

tradisional.( Martin van Bruenessen, 1999: 17 ).

Kitab kuning pada dasarnya merupakan istilah yang

dimunculkan oleh kalangan luar pesantren untuk meremehkan

kadar keilmuan pesantren. Bagi mereka, kitab kuning ditengarai

sebagai kitab yang memiliki kadar keilmuan yang rendah, out of

date, dan penyebab stagnasi intlektual (Afandi Mokhtar,1999:

211-222).

Istilah kitab kuning sebenarnya dilekatkan pada kitab-

kitab warisan abad pertengahan Islam yang masih digunakan

pesantren hingga kini. Kitab kuning selalu menggunakan tulisan

Arab, walaupun tidak selalu menggunakan bahasa Arab. Dalam

kitab yang ditulis dengan bahasa Arab, biasanya kitab itu tidak

dilengkapi dengan harakat atau syakal. Secara umum, spesifikasi

kitab kuning memiliki lay out yang unik. Di dalamnya

terkandung matan (teks asli) yang kemudian dilengkapi dengan

komentar (syarah) atau juga catatan pinggir yang disebut dengan

hāsyiah. Biasanya penjilidannya pun tidak maksimal, bahkan

disengaja diformat secara kurasan sehingga mempermudah dan

memungkinkan pembaca untuk membawanya sesuai dengan

bagian yang dibutuhkan (Masdar F. Mas’udi,1985 : 55).

Dalam konteks ini kitab kuning dapat dicirikan sebagai

berikut: a) kitab yang ditulis atau bertulisan Arab, b) umumnya


28

ditulis tanpa syakal, bahkan tanpa tanda baca semisal titik dan

koma, c) berisi keilmuan Islam, d) metode penulisannya yang

dinilai kuno, dan bahkan ditengarai tidak memilki relevansi

dengan kekinian, c) dicetak di atas kertas yang berwarna kuning

(Tholchah Hasan, 1986: 29)

Melalui berbagai buku yang telah dipelajari oleh para

siswa dan tidak sedikit jumlahnya, menunjukkan bahwa siswa

benar-benar telah belajar bahasa Arab, dan jika dihitung jumlah

halaman yang dikaji maka mencapai puluhan ribu lembar. Siswa

yang tekun sudah barang tentu sudah menguasai bahasa Arab

dengan baik sebagai orang yang alim bahasa Arab.

Jika diperhatikan lebih seksama dari aspek historis, bahwa

kurikulum pengajaran bahasa Arab model pesantren ini

mengikuti kurikulum pengajaran di zaman kerajaan Hindu.

Demikian juga fungsi kyai merupakan ganti dari para empu yang

merata di seluruh tanah Jawa, Sumatra, Kalimantan dan

Sulawasi, bahkan Thailand, Philipina dan Malaysia. (Ibid)

c. Pembaharuan Pesantren.

Sistem pembelajaran pesantren dengan model tradisional

seperti ini setelah kemerdekaan banyak mengalami

perkembangan, berupa sekolah-sekolah formal keagamaan

seperti Mu’allimīn, akan tetapi kurikulum yang semula diajarkan

mengalami penyusutan, mengingat berbagai pertimbangan dan


29

kebutuhan lainnya. Meski telah ada perubahan, masih banyak

pesantren yang tetap mempertahankan sistem pembelajaran dan

kurikulum tradisionalnya dalam mempertahankan kualitas bidang

pengajaran bahasa Arab.

Perkembangan pembelajaran bahasa Arab di sekolah

formal, sekitar tahun 70-an masih dalam bentuk yang parsial,

terpisah antara materi bahasa satu dengan yang lainnya, seperti

nahwu, sharaf, muthāla’ah yang mana masing-masing berdiri

sendiri, kemudian disatukan dengan nama pelajaran bahasa Arab.

Yang akhirnya berdampak pada terkuranginya jam pelajaran.

Maka tidak mengherankan jika mutu pembelajaran bahasa Arab

tampak berbeda dengan siswa-siswa yang belajar di pesantren.

Banyaknya para pemuda tanah air yang belajar ke Timur

Tengah khususnya di tanah suci Makkah untuk memperdalam

bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama Islam, membuat pembelajaran

bahasa Arab di tanah air mengalami perubahan dan

perkembangan yang cukup efektif.

Para pemuda yang telah menamatkan pelajaran di Timur

Tengah pulang ke tanah air mengajarkan bahasa Arab kepada

siswa secara langsung dengan tidak menggunakan terjemah.

Mereka mengajarkan bahasa Arab dengan seakan diajaknya

berada di dunia Arab. Pengajaran demikian ini yang digunakan

oleh pesantren-pesantren modern semisal pondok pesantren


30

Modern Gontor Ponorogo, dan lembaga-lembaga formal lain

misalnya Madrasah Diniyah di Sumatra Barat dan Normal Islam

Amuntai (Fachruddin, 2006 : 13)

Metode pengajaran bahasa Arab model demikian disebut

dengan ath-Tharīqah al-Mubāsyarah (Direck Methode), yaitu

dengan mengajak langsung berbicara dengan menggunakan

bahasa Arab kepada para siswa. Siswa diajak secara langsung

berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab dalam

aktivitas kesehariannya, sehingga siswa merasa bahwa bahasa

Arab adalah bahasa ibu. Metode ini yang digunakan oleh para

guru/ustadz dalam mengajarkan bahasa Arab, yang dirasa cukup

efektif dan optimal dalam memperoleh hasil pembelajaran

bahasa Arab. Hal ini telah diakui oleh barbagai pakar bahasa

Arab dari berbagai kawasan dunia Islam (Ibid).

Ditinjau dari efektifitas hasil yang diperoleh, motode

tradisional lebih tidak menguntungkan dibanding dengan metode

modern. Lebih-lebih di era serba teknologi seperti sekarang ini

metode pembelajaran yang cepat, efektif, efisien dan sarana

pembelajaran yang sarat dengan teknologi menjadi hal yang tak

dapat dipisahkan dari dunia pembelajaran. Maka sudah

sepantasnya kalau metode yang modern muncul dengan tujuan

untuk lebih cepat memperdalam pengetahuan keIslaman dengan

cepat dan efektif. Kurikulum barupun dimunculkan, dengan


31

merombak sistem lama, dan lakukan perbaikan dan penambahan

kurikulum yang lebih komprehensif yang meliputi berbagai

aspek. (Ibid: 15)

Di dalam pembelajaran yang lebih tinggi, pengantar

bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab, baik yang berupa

ilmu-ilmu kebahasaan maupun ilmu-ilmu keagamaan. Oleh

karena itu dalam jangka waktu yang relatif singkat, kurang lebih

enam tahun para tamatan pesantren modern/sekolah mampu

menyerap buku-buku berbahasa Arab dan mengetahui segala

subyek pelajaran langsung pada sumbernya.

Seorang kyai bernama H. Zarkasyi, pendiri pondok

pesantren Modern Gontor Ponorogo, adalah pelopor/bapak

pengajaran bahasa Arab modern. Beliau mengenyam pendidikan

di pesantren al-Irsyad Solo, kemudian meneruskan di Normal

Islam Padang Panjang Sumatara Barat, dengan berguru kepada

Prof. Dr. Mukhtar Yahya, Prof. Mahmud Yunus dan Ustadz

Kasim Bakri, yang kesemuanya adalah alumni Universitas Kairo

(Darul Ulum)

Di dalam benak sanubari kyai Zarkasyi tertanam semangat

yang membara untuk mengembangkan ruh pengajaran bahasa

Arab, yang diwarisi dari guru-gurunya. Sehingga untuk

mewujudkan ide dan cita-citanya itu, kyai Zarkasyi mendirikan

sebuah pesantren modern, yang diberi nama pesantren Modern


32

Gontor. Yang pada akhirnya pesantren inilah satu-satunya

pesantren yang paling sukses mendidik para siswa untuk

memahami dan berekspresi dengan pendidikan gaya modern.

Dari kurikulum pendidikan dan metodenya melahirkan

sistem baru yang belum pernah ada sebelumnya. Kurikulum yang

ia terapkan melahirkan bentuk baru, dilihat dari segi fungsi dan

kegunaannya, dikenal dengan istilah all function. Bahasa Arab

dalam fungsi dan kegunaannya tidak hanya sekedar sebagai alat

untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama dan bahasa,

malainkan lebih jauh dari itu, yaitu sebagai bahasa komunikasi

internasional di era globalisasi sekarang ini dengan segala

aspeknya. Bahasa Arab dalam bentuk pengajaran yang diterapkan

di pesantren Gontor inilah yang menjadikan inspirasi bagi

lembaga-lembaga formal, semisal MAN PK, IAIN dan lain

sebagainya.

Secara garis besar, uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa

pembelajaran bahasa Arab di Indonesia khususnya di pesantren

mempunyai empat bentuk :

1. Pengajaran bahasa Arab dalam bentuk mengaji al-Quran

dengan menggunakan metode guru membaca kemudian

siswa menirukan.
33

2. Pembelajaran bahasa Arab yang terintregasikan secara

langsung dengan kitab kuning yang berisikan materi ilmu-

ilmu agama Islam dengan cara bandongan dan sorogan.

3. Pembelajaran bahasa Arab dengan tharīqah mubāsyarah

(direct methode), dengan sasaran menguasai bahasa Arab

dan ilmu-ilmu keIslaman.

4. Pembelajaran bahasa Arab yang ditujukan sebagai bahasa

komunikasi global yang memiliki banyak fungsi dan

manfaat (all function). (Ibid: 18-20)

2. Pembalajaran Bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah

Pembelajaran bahasa Arab di sekolah formal khususnya

di Madrasah Tsanawiyah adalah merupakan kelanjutan

pengembangan pembelajaran bahasa Arab di pesantren yang

telah ada jauh sebelumnya. Kurikulum pembelajaran bahasa Arab

di Madrasah Tsanawiyah didefinisikan sebagai suatu rencana

pembelajaran yang disusun secara sistematis dan metodologis

untuk melancarkan proses tanggungjawab sekolah atau lembaga

pendidikan beserta staf pengajarnya (Nasution, 1989: 5).

Kurikulum ini dinamakan kurikulum yang disempurnakan yang

ditetapkan dengan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 100

Tahun 1984.

Orang belajar bahasa (termasuk bahasa Arab) hakekat

tujuannya adalah untuk berkomunikasi dengan orang lain, guna


34

menyampaikan pesan antara mereka dari pembicara kepada

pendengar, dari penulis kepada pembaca atau sebaliknya. Dalam

praktek pengajaran bahasa Arab, fungsi komunikasi sering tidak

memperoleh perhatian yang serius sehingga yang diajarkan

hanyalah pengetahuan tentang tata bahasa dan bukan ketrampilan

bagaimana agar siswa bisa berbicara secara langsung dan mampu

berkomunikasi dengan orang lain.

Kurikulum Madrasah Tsanawiyah yang tertuang dalam

Garis-Garis Besar Program Pengajaran adalah bertujuan

mengembalikan pengajaran bahasa Arab kepada fungsi

komunikasi, yaitu siswa mampu menggunakan bahasa yang telah

dipelajarinya sebagai alat komunikasi. (Depag, 1992: iii) Untuk

mencapai hal tersebut Departemen Agama menyusun dan

mengupayakan penjabarannya secara jelas untuk mendidik

mereka agar aktif berbahasa. Dengan demikian apa yang menjadi

harapan atas tersusunnya kurikulum bahasa Arab yang hendak

dicapai oleh bidang setudi bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah

ialah agar para siswa mengusai bahasa secara aktif (mampu

berbicara) dan pasif (mampu memahami apa yang diucapkan

orang lain), mengusai berbagai ragam pola kalimat (al-jumlah)

yang telah diprogramkan. Dengan demikian mereka benar-benar

dapat menerapkan alat komunikasi tersebut. Selain itu mereka


35

juga dapat menerapkan sebagai alat untuk memahami buku-buku

agama Islam disamping al-Quran dan as-Sunnah.

Berkomunikasi sebagai bagian dari tujuan pengajaran

bahasa Arab agar bisa tercapai diperlukan pengetahuan dan

ketrampilan umum bahasa Arab yang telah dijabarkan dalam

bagian kurikulum yang meliputi:

a. Unsur-unsur bahasa (‘anāshir al-lughah), yang meliputi :

1. Perbendaharaan kata

Kosakata yang diperlukan paling sedikit 1250 kata,

sejak dimulai duduk di Madrasah Ibtidaiyah sampai

tamat Madrasah Tsanawiyah, dengan perbendaharaan

kata tersebut meliputi berbagai hal yang ada

kaitannya dengan kehidupan sehari-sehari bagi

siswa, berkaitan juga dengan ibadah, akidah, akhlak

dan sejarah Islam.

Sedangkan buku yang dipergunakan untuk mengajar

tidak terbatas pada buku pelajaran bahasa Arab yang

telah dikeluarkan oleh Departemen Agama, akan

tetapi segala buku pelajaran bahasa Arab yang

dikarang siapapun yang sesuai dengan tuntutan

kurikulum studi bahasa Arab dari departemen agama.


36

2. Struktur kata (Frase).

Pembelajaran struktur kata meliputi bentuk kata,

susunan kata serta susunan kalimat.

b. Keahlian berbahasa (mahārāt al-lughah), terdiri dari:

1. Membaca (qirāah) yang didalamnya mengajarkan

tentang kemampuan siswa untuk memahami

berbagai macam ucapan maupun percakapan serta

menambah kosa kata. Dengan demikian mereka akan

mendapatkan tambahan pengalaman dalam struktur

bahasa Arab. Kegiatan guru tidak menitikberatakan

pada isi bacaan yang diajarkan, sebab pada

umumnya mereka telah mengetahui isinya, akan

tetapi yang dititikberatkan adalah unsur-unsur bahasa

serta cara mengungkapkannya.

2. Percakapan (muhādatsah). Pada materi ini guru

mengajarkan ketrampilan menggunakan bahasa Arab

secara lisan dalam bentuk sederhana dengan cara

memberikan berbagai tugas serta mampu

berkomunikasi dengan kawan.

3. Menulis atau mengarang (kitābah/insyā΄). Guru

dalam materi ini mengajarkan siswa mengarang

kalimat-kalimat yang baik dan benar yang terangkum


37

dalam kerangka pendek dengan bentuk yag

sederhana, disertai dengan bimbingan yang efektif.

Alokasi waktu pengajaran bahasa Arab setiap

minggu pada kelas I pada semeseter 1 dan 2 72 j.p. + 64 j.p.

= 136 j.p., dengan rincian semester 1 = 72 j.p (18 X 4 j.p),

semester 2 = 64 j.p (16 X 4 j.p). Kelas II jumlah jam

pelajaran dapat dihitung yaitu pada semester 3 dan 4 jam

pelajaran seminggu. Jumlah yang diperalukan berdasarkan

keputusan kurikulum 72 jam pelajaran. Secara ringkas kelas

II semester 3 kehadiran guru dituntut 18 minggu, @ 4 j.p

(18 X 4 j.p = 72 j.p). Pada semester 4 dituntut 16 minggu,

@ 3 j.p. (16 X 3 j.p. = 48 j.p). Pada kelas III semester 5

dituntut hadir 18 minggu (18 X 4 j.p. = 72 j.p). Pada

semester 6 setiap minggu 4 jam pelajaran dituntut hadir 12

minggu (12 X 4 = 48 j.p). Total 72 j.p. + 48 j.p = 120 j.p.).

(Ibid)

3. Pembalajaran Bahasa Arab di Madrasah Aliyah

Kurikuluum pembelajaran bahasa Arab di Madrasah

Aliyah merupakan pelaksanaan Keputusan Mentri Agama Nomor

101 Tahun 1984 berupa Garis-garis Besar Program Pengajaran

yang menjadi pedoman bagi kepala sekolah, guru dan tenaga

pengajar lainnya dalam melaksanakan tugas. Kurikulum tersebut


38

termasuk di dalamnya bahasa Arab yang bertujuan mendidik

manusia beriman sebagai tujuan akhir.

Dalam upaya meningkatkan pencapaian tujuan

pendidikan nasional, pada tahun 19988/1989 telah dilakukan

perbaikan terhadap GBPP, yang pada garis besarnya adalah:

a) Menyerap GBPP untuk menyerap pengembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi.

b) Menyelaraskan materi GBPP mata pelajaran umum

kurikulum Madrasah Aliyah dengan SMA.

c) Mengatur pokok dan sub pokok bahan pengajaran, dan

d) Menyesuaikan alokasi waktu sesuai dengan bobot

ruang lingkup pokok bahasan dan bahan.

Bahasa Arab merupakan program inti, disamping mata

pelajaran lain. Bahasa Arab yang diajarkan adalah merupakan

bahasa Arab fushā`, yakni bahasa Arab yang dipakai oleh bangsa

Arab yang mengikuti pedoman kaidah bahasa Arab. Disamping

sebagai bahasa al-Quran, bahasa Arab merupakan salah satu dari

berbagai bahasa yang dipakai oleh PBB.

Oleh karena itu pembelajaran bahsa Arab di sekolah

formal harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. Maksud dan tujuan pengajaran bahasa Arab yang diberikan

agar siswa memiliki beberapa pengetahuan, pemahaman

tentang bahasa Arab dan dapat menggunakannya untuk


39

berkomunikasi dan memahami isi kandungan al-Quran,

Hadits dan buku-buku agama yang berbahasa Arab.

b. Pengajaran bahasa Arab harus memiliki fungsi dan tujuan

sepesifik.

c. Ruang lingkup pengajaran bahasa Arab secara garis besar

meliputi bacaan (membaca), kosa kata, struktur (pola

kalimat), percakapan serta karangan sederhana yang

kesemuanya dituangkan dalam bentuk muthāla’ah,

mufradāt, qawā’id, muhādatsah, imlā`/khath, insyā` dan

susunan kalimat fashihah tingkat lanjutan dari Madrasah

Tsanawiyah dengan materi 1500 kosa kata.

d. Metode yang digunakan dalam pembelajaran menyesuaikan

dengan materi yang diajarkan. Dalam pelajaran muthāla’ah

dapat menggunakan metode membaca, pemberian tugas,

tanya jawab dan ceramah. Untuk mengajarkan kosa kata

dapat menggunakan berabagai metode antara lain drama,

sinonim, asosiasi, tanya jawab, pemberian tugas, terjemah

atau penemuan sendiri. Demikian pula dalam mengajarkan

struktur kalimat, percakapan dan mengarang dapat

menggunakan berbagai metode lain yang sesuai. Namun

ada metode yang sebaiknya tidak digunakan dalam

mengajar, yaitu metode ceramah, biarkan siswa aktif dalam

pembelajaran.
40

e. Evaluasi harus dilakukan untuk mengetahuai tingkat

kemampuan siswa, dengan menggunakan alat penilaian baik

lisan maupun tulisan. Dalam mengajarkan membaca guru

dapat menggunakan tes tulisan dalam bentuk membaca dan

mengungkapkan kembali. Demikian pula dalam

mengajarakan percakapan digunakan tes dalam bentuk

tanya jawab. Sedangkan dalam materi kosa kata, struktur

dan karangan sederhana, guru dapat menggunakan tes lisan

atau tulisan dalam bentuk tes obyektif dan tes esay.

Sedangkan mengenai alokasi waktu pengajaran bahasa

Arab lebih sedikit dibandingkan di Madrasah Tsanawiyah,

yaitu hanya 3 jam pelajaran setiap minggu, sedangkan di

Madrasah Tsnawiyah 4 jam setiap mminggunya.

Selama di tingkat Aliyah siswa menerima pelajaran

bahasa Arab 6 semester dengan alokasi waktu sebagaimana

disebut di atas, kecuali pada semester 5 dan 6 hanya dua jam

perminggu.

Dalam memperhitungkan hari belajar efektif telah

disepakati ketentuan jumlah minggu efektif utnuk belajar

sebagai berikut:

1. Semester 1,3 dan 5 masing-masing 18 minggu.

2. Semester 2 dan 4 masing-masing 16 minggu.

3. Semester 6 hanya diperhitungkan 2 minggu.


41

Dengan demikian alokasi waktu yang digunakan untuk

belajar adalah sebagai berikut:

1) Semester 1= 3 j.p. X 18 = 54 jam pelajaran

2) Semester 2 = 3 j.p. X 16 = 48 jam pelajaran

3) Semester 3 = 3 j.p. X 18 = 54 jam pelajaran

4) Semester 4 = 3 j.p. X 16 = 48 jam pelajaran

5) Semester 5 = 2 j.p. X 18 = 36 jam pelajaran

6) Semester 6 = 2 j.p. X 12 = 24 jam pelajaran

Jumlah keseluruhan semester 1 s/d 6 = 264 jam pelajaran.

(Ibid)

B. Studi Pembelajaran Silsilah Ta’līm al-Lughah al’Arabiyyah

1. Latarbelakang Munculnya Silsilah

Disadari maupun tidak bahasa Arab di mata umat Islam

mempunyai kedudukan yang sangat agung, dimana bahasa Arab

adalah bahasa agama, ibadah, peradaban dan kehidupan yang

mampu mengikat kuat hubungan antar umat Islam Arab dan non

Arab dengan penuh cinta dan persaudaraan. Karena itulah

pembelajaran bahasa Arab mendapatkan perhatian yang serius.

Meski mendapatkan perhatian yang serius di kalangan

umat Islam, kurikulum pembelajaran dan buku-buku pegangan

bahasa Arab yang telah diajarkan (khususnya bagi para pemula)

belum mampu mendapatkan hasil sebagaimana yang diharapkan.


42

Hal ini disebabkan oleh banyak hal, diantaranya metodogi yang

masih klasik dan tradisional, kurikulum yang tidak integral dan

komprehensif, lemahnya usaha serta dibutuhkannya keteraturan

dan penyempurnaan secara terus menerus. Usaha yang maksimal

tidak lepas dari pentingnya kurikulum yang komprehensif, yang

memperhatikan kemampuan siswa, dimulai dari tingkat dasar

sampai pada tingkatan yang dianggap cukup memadai. Kurikulum

dan motodologi pembelajaran bahasa Arab apabila dibandingkan

dengan dengan pembelajaran bahasa lain masih cukup tertinggal,

karena masih selalu dalam perkembangan dan perbaikan (al-

Hamid : 6).

Menurut Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki (1992),

Universitas Islam Muhammad Ibnu Su’ud Riyadh selalu

memberikan perhatian yang serius pada pengajaran bahasa Arab,

khususnya pada lembaga-lembaga cabang, seperti LIPIA

(Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) yang ada di

Jakarta, Tokyo dan lainnya, namun kendala yang dihadapi adalah

belum ditemukannya kurikulum yang komprehensif dan

integratif. Karena hal demikian, akhirnya universitas berusaha

merumuskan kurikulum yang komprehensif yang mencakup

semua materi kebahasaan dan integral dengan materi syari’at.

Mulailah menugaskan para dewan guru, pakar, ahli di berbagai

bidang untuk mengadakan pengkajian dan penelitian selama


43

bertahun-tahun. Penelitian dilakukan di lembaga lembaga cabang

yang ada di Riyadh, Khurthum, Ummul Qura dan lain-lain.

Penelitian akhirnya merumuskan dua hal pokok, pertama;

bahwa tabiat bahasa Arab sebenarnya tidak sulit, yang

menjadikannya sulit adalah lemahnya kurikulum, kedua; siswa

non Arab ternyata mampu berbahasa Arab dengan benar dan baik

dalam beberapa tahun saja dengan program intensif. (Ibid)

Pada tahun 1401 H. di bawah kordinator Abdullah bin

Hamid al-Hamid, para dosen, ahli dan pakar mulai berfikir serius

untuk menemukan kurikulum yang sesuai dan tepat, yang dapat

membantu para dosen dalam pengajaran dan memudahkan

pembelajaran bagi para siswa.

Selama penelitian mereka tidak menemukan kurikulum

yang memadukan (integrasi) ilmu-ilmu agama Islam (ulūm

syar’iyyah) dengan ilmu-ilmu kebahasaan, serta komprehensif

yang mencakup komponen dasar yang berisikan ashwāt,

mufradāt dan tarākīb, komponen keahlian (mahārāt al-lughah)

berupa qirāah, istimā’, kalām dan kitābah, komponen

pengembangan bahasa, berupa nahwu, sharaf, balāghah dan

adab. (Ibid)

Tim penyusun mulai bekerja untuk merumuskan

kurikulum yang berantai (silsilah), simultan (mutarābithāh),

komprehensif (syāmilah) dan integratif (mutakāmilah) yang


44

mampu menyuguhkan bahasa Arab sebagai bahasa agama,

kehidupan dan kebudayaan Islam. Namun yang menjadi kendala

sebenarnya adalah faktor implementasi bukanlah peletakkan

konsep dasar.

Para penyusun melakukan uji coba dengan meletakkan

konsep dasar kurikulum Silsilah selama kurang lebih empat tahun,

sebelum melakukan langkah implementatif dengan menyusun

jadwal, materi kurikulum/kontens dan metode pembelajarannya.

Dimulai dengan mendesain kurikulum yang mengandung

pengetahuan tentang komponen dasar bahasa, keahlian, dan

pengembangan, yang akhirnya kurikulum ini disebut dengan

Silsilah Ta’līm al-Lughah al ’Arabiyyah (Ibid:8).

2. Definisi Silsilah Talīm al-Lughah al-’Arabiyyah

Silsilah Ta’līm al-Lughah al-’Arabiyyah adalah rangkaan

kata bahasa Arab yang terdiri empat kata, silsilah, ta’līm, al-

lughah, al’Arabiyah. Kata silsilah ( ‫ ) سلسلة‬adalah bentuk masdar

dari kata salsala (‫ ) سلسسسسل‬yang berarti menghubungkan,

mengaitkan dan merantai (Munawir,1997:649). Sedangkan kata

ta’līm, memiliki makna pengajaran, sedangkan al-lughah

al-’Arabiyyah ( ‫ ) اللغة العربيسسة‬mempunyai arti bahasa Arab. Jadi

Silsilah Talīm al-Lughah al-’Arabiyyah ( ‫) سلسلة تعليسسم اللغسسة العربيسسة‬

adalah mata rantai pengajaran bahasa Arab. Sedangkan secara

terminologi adalah sebuah kurikulum bahasa Arab yang disusun


45

secara seksama, teliti, komprehensif mencakup semua materi

kebahasaan dan integratif dengan materi-materi agama Islam

(ulūm syar’iyyah), dimulai dari tingkat dasar sampai tingkat yang

dianggap cukup. (at-Turki, op. cit :6)

Silsilah Talīm al-Lughah al-’Arabiyyah dapat

dikatagorikan sebagai sebuah kurikulum, dikarenakan memenuhi

keriteria definisi sebuah kurikulum, sebagaimana yang dikatakan

oleh Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem

Pendidikan Nasional, pengertian kurikulum adalah seperangkat

rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta

cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan

pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu

(UUSPN, BAB I, Pasal 1, ayat 19).

Dari pengertian kurikulum di atas, yang terlihat secara

explisit adalah tiga komponen kurikulum, yaitu materi/kontens,

cara/metode belajar mengajar/teknis belajar mengajar dan tujuan

pembelajaran. Mengenai organisasi isi/bahan pelajaran Silsilah,

dimuat dalam buku-buku yang telah disusun sedemikian rupa,

berupa seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan

bahan pelajaran. Sedangkan aspek metode pembelajaran, Silsilah

mengadopsi berbagai metodologi pengajaran bahasa modern yang

disesuaikan dengan satuan masing-masing pelajaran. Mengenai

teknis pembelajaran, Silsilah dalam setiap buku pelajaran disetiap


46

jenjangnya dipaparkan secara gamblang. Adapun secara rinci

mengenai materi, metode dan teknis pengajaran Silsilah akan

dijelaskan dalam sub bab berikutnya. Sedangkan dari sisi tujuan

pembelajaran Silsilah di setiap materi pelajaran di setiap

jenjangnya mempunyai tujuan dan target yang harus dicapai dan

dikuasai siswa.

Kurikulum Silsilah didesain sebagai sebuah kurikulum

yang difokuskan pada pengayaan bahasa Arab sebagai kunci

ilmu-ilmu keIslaman yang diletakkan di tengah-tengah buku-buku

bahasa dan materi kebahasaan di tengah-tengah ilmu keIslaman.

Sehingga keduanya menjadi sesuatu yang padu (integral), materi

kebahasaan seakan menjadi materi keagamaan, begitu pula

sebaliknya.

Silsilah sebagai sebuah kurikulum yang baru, selain

keistimewaan di atas, juga memiliki beberapa keistimewaan lain,

diantaranya:

a. Kurikulum ini didesain secara kolektif oleh para ahli dan

pakar di berbagai disiplin ilmu, baik ahli di bidang ilmu

bahasa, seperti nahwu, sharaf dan ashwāt, adab dan

balāghah, dan ahli di bidang ilmu syari’at, seperti akidah,

fikih, tafsir dan hadits, serta ahli di bidang ilmu pendidikan

dan psikologi.
47

b. Kurikulum ini didesain bagi para siswa pemula yang

sebelumnya sama sekali tidak memiliki kemampuan

berbahasa Arab, dengan menghantarkannya kepada

kemampuan yang dianggap cukup dan faham tentang ilmu

bahasa Arab dan agama Islam. Kemampuan ini bisa

digunakan sebagai modal untuk digunakan dalam

kehidupan keseharian, maupun memahami literatur-literatur

berbahasa Arab baik klasik maupun modern, serta dianggap

cukup mampu untuk melanjutkan ke jenjang perguruan

tinggi di fakultas Syari’ah, maupun bahasa Arab dan Adab.

c. Buku-buku Silsilah disertai dengan kamus dalam setiap

judul dan pembahasannya, serta dijelaskan dengan kosa

kata baru secara bertahap. Sehingga siswa mampu

menyerap lebih dari sepuluh ribu kosa kata.

d. Silsilah, sebelum ditetapkan sebagai sebuah kurikulum yang

dianggap patut dan layak diimplementasikan, telah melalui

uji coba yang cukup panjang yang melibatkan para pakar

dari berbagai negara, dan mendapatkan hasil yang cukup

memuaskan. (Ibid)

3. Materi Pembelajaran Silsilah dan Tujuan yang Dicapai

Bahan ajar/kontens kurikulum Silsilah terdiri dari 33 buah

buku khusus bagi siswa. Ditambah empat buku khath dan lima

buah buku pedoman bagi guru, yang terdiri dari satu petunjuk
48

materi agama, dan empat materi bahasa. Selain itu, ada delapan

buah kamus, empat buah untuk empat semester, di setiap semertar

satu kamus. Satu kamus untuk kamus bahasa Arab, satu kamus

untuk ilmu agama Islam, satu kamus umum sesuai urutan huruf

hijaiyyah dan satu kamus lagi adalah kamus khusus sesuai makna.

Dari kamus-kamus ini diharapkan siswa dapat mengambil faedah,

minimal dua hal; 1) Mengetahui adanya kamus di tengah-tengah

meteri bahasa, yang diintegrasikan dengan bahasa yang banyak

dipakai di berbagai dunia Islam. 2) Memperoleh penjabaran yang

lebih luas tentang buku-buku lepas, sehingga mampu membuat

perpustakaan khusus bagi non Arab. (al-Hamid, op.cit: 10)

Buku-buku pegangan Silsilah di atas dibagi menjadi

empat level, setiap level ditempuh satu semester, kurang lebih

selama 17 minggu, dalam seminggu lima hari efektif belajar, dan

dalam sehari lima pertemuan, jadi selama seminggu terdiri dari 25

jam pelajaran. Program empat semester ini apabila ditempuh

dengan program intensif. Semester pertama dan kedua fokus

pembelajarannya adalah materi dasar kebahasaan, sedangkan pada

semester ketiga dan keempat adalah level takhassus (setresing)

pengembangan bahasa dan ilmu agama Islam, yang diharapkan

dari siswa memiliki kemampuan untuk melanjutkan ke jenjang

universitas.
49

Pembatasan satu level dengan 17 minggu sangat

tergantaung dengan fasilitas dan proses implementasinya. Karena

hal ini sangat dimungkingkan untuk ditempuh dalam waktu yang

relatif lebih lama, apabila tidak ditempuh dengan program intensif.

Kemungkinan terjadi hal yang demikian dikarenakan kurangnya

jam pelajaran, pengajar yang tidak profesional serta minimnya

fasilitas pembelajaran. (Ibid: 11).

Adapun secara rinci materi pelajaran dan sasaran yang

akan dicapai dari kurikulum Silsilah disesauikan dengan jenjang

yang ditempuh adalah sebagaimana berikut:

Semester pertama.

a. Kontens.

Buku-buku pelajaran yang diajarkan pada level ini adalah 5

buah buku yang terdiri dari: Durūs min al-Qurān, al-

Istimā’, al-Qirāah wa al Kitābah dan at-Ta’bīr.

b. Sasaran yang ingin dicapai dari level ini adalah:

1. Siswa terlatih untuk mengucapkan dengan benar

kalimat-kalimat Arab.

2. Kosa kata yang harus dikuasai siswa minimal 1100 kata

dengan rangkaian kalimat.

3. Siswa belajar kurang lebih 50 rangkaian kata nahwu

dasar.
50

4. Siswa mampu menghafal hadits-hadits pendek dan

mampu membedakan jumlah insya`iyyah dan

khabariyah.

5. Siswa mampu membaca rangakian kata yang bersyakal

dengan benar dengan kecepatan sedang, serta mampu

menguasai perbendaharaan kata.

6. Siwa mampu menulis huruf Arab, baik yang

menyambung maupun yang terpisah, dari kanan ke kiri

dengan baik dan benar.

7. Siswa mampu mengungkapkan tulisannya di tengah

pelajaran maupun kehidupan kesehariannya.

8. Siswa mampu bercakap-cakap dalam bahasa Arab,

khususnya mengenai kebutuhannya sehari (perkenalan,

di warung, di pasar, kantor pos di terminal dan lain-lain.

9. Siswa memiliki tsaqāfah islāmiyyah dari pembelajaran

al-Quran, serta memiliki pemahaman tentang tafsir

surat-surat pendek, dan mampu membacanya dengan

baik dan benar.

c. Kandungan materi pelajaran.

Materi pelajaran agama khususnya al-Quran, terdiri dari

sebagian surat Juz ’Amma yang disertai tafsir dengan gaya

bahasa yang sederhana, ilmiyah yang disesuaikan dengan

kemampuan kosa kata siswa. Latihan-latihan kebahasaan


51

disajikan dengan intensif, sehingga menjadi buku bahasa.

Kosa kata baru yang terkandung dalam buku ini kurang

lebih dua ratus kata. Sedangkan buku bahasa berisi materi-

materi ashwāt (fonem), dimulai dari pengajaran ashwāt

yang memuat perbedaan yang dimiliki bahasa Arab dan

bahasa lain, kemudian dilanjutkan dengan ashwāt yang

jarang ditemui oleh para siswa, dan yang terakhir diajarkan

ashwāt yang jarang berlaku di bahasa yang sudah masyhur.

(Ibid: 7-10)

2. Semester Kedua.

a. Kontens.

Buku-buku pelajaran yang diajarkan pada level ini bejumlah

8 buku yang terdiri dari: Durūs min al-Qurān, al-Hadīts

asy-Syarīf, al-Qirāah, at-Ta’bir, al-Kitābah, an-Nahwu,

ash-Sharaf, dan Kurāsāt al-Khath.

b. Sasaran yang ingin dicapai dan kandungan materi

Pada semester kedua ini sasaran yaang dicapai adalah

peningkatan kemahiran bahasa siswa yang meliputi tiga

aspek istimā’ (listening), qirāah (reading), kalām (speaking)

dan kitābah (writing), dengan memiliki kemampuan lebih

baik dibanding pada semester pertama, serta memiliki

kemampuan lebih mendalam tentang unsur dasar

kebahasaan yang meliputi ashwāt, mufradāt, tarākīb


52

nahwiyah dan sharfiyah. Materi ashwāt diajarkan di sela-

sela materi bahasa, khusunya materi muhādatsah, qirāah

dan materi-materi agama Islam secara mendasar.

Siswa pada level ini menguasai kurang lebih 1600

kata baru, yang terdiri dari 1150 kata yang terdapat dalam

matari kebahasaan dan 450 kata terdapat di materi agama

Islam. Jadi jumlah kata yang dikuasai siswa pada level ini

dan sebelumnya berjumlah 2500 kosa kata.

Siswa pada level pertama telah belajar tarākīb

nahwu dan sharaf secara tathbīqī (praktek langsung),

sedangkan pada level kedua ini siswa sudah diajarkan teori

kaidah nahwu dan sharaf (nazhari qāidi), serta penugasan

langsung (wazhīfi tathbīqi). Penyajian pelajaran dimulai

dengan menyajikan teks-teks pendek yang jauh dari kesan

membebani dan memberatkan siswa.

Sedangkan materi kemahiran bahasa (mahārāt al-

lughah), siswa pada level ini memiliki kemampuan untuk

mendengar dan memahami sebuah redaksi yang relatif lebih

panjang, kurang lebih lima kalimat serta mampu berdialog

dalam kisaran waktu lima menit, serta memahami

penjelasan guru dengan tanpa mengalami kesulitan. Pada

level ini pula siswa mampu memahami program-program


53

berita yang ada di audio visual minimal 30 % sampai 40 %.

(Ibid :11)

Siswa juga mampu membaca teks yang tidak

bersyakal (harakat) dengan keras dan benar tanpa ada

kesalahan serta memahami makna dan maksud dari teks

tersebut. Siswa juga mampu membaca media cetak

berbahasa Arab dengan tingkat kefahaman tidak kurang dari

15 %. Siswa juga mampu membaca buku-buku cerita, dan

buku-buku sastra sederhana dengan tingkat kefahaman

kurang lebih 20 %, serta siswa mampu membaca buku-buku

agama dengan tingkat kefahaman 30 %.(Ibid)

Siswa mampu menulis dengan khath yang jelas kira-

kira sepuluh baris, serta mampu menulis dengan imla`

sepuluh sampai lima belas kata dengan tanpa salah.

Demikian pula dalam kemampuan mengarang

(insyā`), siswa pada level ini mampu menguasai secara lebih

luas tentang jumlah mufīdah, seperti sifah mausūf, maf’ūl,

jar majrūr dan lain sebagainya, serta mampu dituangkannya

dalam rangkain tulisan yang baik dan benar. Siswa juga

mampu meringkas sebuah tema yang telah dibacanya di

tengah-tengah pembelajaran. Siswa mampu merubah

jumlah dari mudzakkar ke muannats, dari mufrad ke

mutsannā dan jama’. Siswa juga mampu menulis surat,


54

serta mampu mengungkapkan dalam bentuk tulisan tentang

dirinya sendiri.

Sedangkan dalam kemampuan muhādatsah, siswa

mampu menceritakan tentang dirinya dan sekitarnya, serta

mampu bersiskusi dengan temannya tentang hal-hal yang

berhubungan dengan kehidupan keseharian. Siswa juga

mampu mengungkapkan apa yang dilihatnya, serta mampu

meringkasnya dalam sebuah ide atau tema. Siswa setelah

membaca sebuah teks juga harus mampu

mengungkapkannya dalam bentuk lisan dalam waktu

kurang lebih lima menit.

Materi tafsir disajikan sebagai penyempurna pada

semester pertama, yang dapat pula membantu siswa dalam

perbendaharaan kata, serta penjelasan teks dengan lebih

mendetail dibanding pada semester awal. Materi hadits

mencakup hadits-hadits pilihan dengan diplihkan hadits-

hadits pendek, lembut bahasanya dan mudah difahami. Pada

dua pelajaran ini dipilihkan tema yang berkaitan dengan

etika Islam dan hukum-hukum fikih seperti shalat dan zakat.

(Ibid)
55

3. Semester Ketiga.

a. Kontens.

Buku-buku pelajaran Silsilah yang diajarkan pada level ini

sebanyak 11 buku yang terdiri dari : Durūs min al-Qurān,

al-Hadits asy-Syarīf, al-Fiqh, at-Tauhīd, al-Qirāah, at-

Ta’bīr, al-Kitābah, al-Adab, an-Nahwu, ash-Sharf,

Kurrāsah al-Khath.

b. Sasaran yang ingin dicapai dan kandungan materi.

Ketika siswa telah menguasai pengetahuan dasar

kebahasaan pada level pertama dan kedua, maka siswa

harus menyempurnakan pada komponen keahlian bahasa,

istimā’, qirāah, kalām dan kitābah.

Semerter ketiga dan keempat adalah level takhassus

untuk mempersiapkan siswa untuk melanjutkan ke jenjang

perguruan tinggi di jurusan Syari’ah dan bahasa Arab. Maka

siswa harus terlatih lebih mendalam dan luas untuk

menguasai kemahiran bahasa, demikian pula materi

kebahasaan lain dan materi ilmu-ilmu agama Islam,

sehingga siswa mampu menguasai kitab-kitab induk.

Pada level ketiga, siswa harus mampu mengucapkan

kata yang mirip dan berdekatan dalam makhrajnya,

demikian pula siswa harus mampu menguasai kata yang

musykil (sulit), sehingga siswa mampu mengucapkan kata


56

dengan baik dan benar. Siswa juga harus mampu menguasai

dan hafal kosa kata baru kurang lebih 2200 kata, yang

terdiri dari 800 kata terdapat di materi agama Islam dan

sisanya terdapat di materi bahasa dan tsaqāfah pada

umumnya

Dalam materi nahwu, siswa harus lebih menguasai

tentang penggunaan fi’il seperti mabnī majhūl dan ma’lūm,

isim tatsniyyah dan jama’, dhamīr mustatir dan dzāhir.

Siswa juga mampu merangkai jumlah mufīdah dengan

menggunakan fi’il tsulāsi, shahīh, mu’tall dan mahmūz.

Dalam kemampuan istimā’ siswa harus mampu

memahami ceramah umum di luar materi pelajaran, seperti

khutbah jum’at dan hadits dari audio fisual. Siswa juga

harus mampu memahami berita umum, kisah-kisah dan teks

sastra dengan tingkat kefahaman 60 %.(Ibid:8)

Kemampuan siswa dalam bidang qirāah, harus

mampu membaca teks yang bersyakal serta meguasai

makna dan maksud dalam teks tersebut. Siswa juga harus

mampu membaca media cetak dan memahaminya kurang

lebih 70 %. Demikian juga dengan buku-buku umum dan

agama. Sedangkan dengan buku-buku sastra siswa

diharapkan menguasainya kurang lebih 50 %.(Ibid)


57

Materi khath, siswa harus mampu menulis dengan

model naskhi dan riq’i dengan baik dan benar. Sedangkan

materi imlā` siswa harus mampu menulis 15 kalimat dalam

waktu satu menit serta mampu memindah 20 kalimat.

Kemampuan mengarang (insyā`), siswa harus

mampu membuat surat pribadi maupun resmi, mempuat

ucapan selamat dan terima kasih, menuliskan apa yang

dilihat, menyusun diktat, merangkum cerita dan ceramah,

menulis teks pada tema yang telah ditentukan, menulis

cerita pendek, membaca teks agama dan menjelaskannya,

dalam sepuluh baris dan mampu mengembangkan

pengetahuannya dalam bidang ceramah dan mengarang.

Siswa dalam level ini juga harus memiliki

kemampuan muhādatsah yang baik, dengan membuat

jumlah mufīdah sesuai dengan kaidah nahwu dan sharaf

serta mampu mengungkapkannya. Siswa juga mampu

berbicara dalam tema-tema agama dan yang lainnya. Siswa

juga mampu meringkas ke dalam sebuah pokok pikiran

pada sebuah tema dan cerita dari apa yang ia dengar dan ia

baca.

Dalam pembelajaran tafsir, siswa harus sudah

terbiasa membaca al-Quran dengan kaidah tajwīd yang baik


58

dan benar, serta mampu menguasai maksud ayat sebelum

dihafal.

Sedangkang kandungan materi hadits, berupa hadits-

hadits yang berkaitan dengan hukum fikih. Dan materi fikih

sendiri disajikan dengan mudah disertai dalil al-Quran dan

hadits tanpa di batasi dengan madzhab tertentu. Materi

tauhid sebagai materi baru pada level ini bertujuan

memantapkan akidah yang benar di hati para siswa.

Materi baru lainnya adalah adab, dimana pelajaran

ini berisi teks-teks sastra yang masih tergolong mudah, baik

teks sastra lama maupun baru. (Ibid: 9-10)

4. Semester Keempat.

a. Kontens.

Buku-buku pelajaran yang diajarkan pada level ini sebanyak

13 buah, yang terdiri dari : Durūs min al-Qurān al-Karīm,

al-Hadīts asy-Syarīf, al-Fiqh, at-Tauhīd, al-Qirāah, at-

Ta’bīr, Kurrāsah al-Khath, an-Nahwu, ash-Sharf, al-Adab,

al-Balāghah wa an-Naqd, at-Tārīkh al-Islāmi.

b. Sasaran yang ingin dicapai dan kandungan materi.

Semester empat adalah level terakhir program

intensif Silsilah, dimana siswa telah memiliki kemampuan

yang cukup dalam bidang bahasa dan ilmu-ilmu agama

Islam.
59

Dalam kemampuan dasar kebahasaan, khususya

ashwāt, siswa memiliki kemampuan yang cukup untuk

mengucapkan dengan baik dan benar, tak terkecuali yang

sulit di sela-sela materi bahasa dan agama.

Kemampuan siswa dalam kosa kata (mufradāt),

mencapai lebih dari 3000 kata, yang terdiri dari 1000 kata

dalam materi agama dan sisanya terdapat dalam materi lain.

Kekayaan kosa kata yang kuasai siswa mencakup semua

aspek, seperti kebutuhan kehidupan sehari-hari,

pengetahuan agama, bahasa, sastra, sejarah dan

pengetahuan umum, seperti geografi, kedokteran, politik,

perdagangan dan lainnya.

Kemampuan dalam tarākīb an-nahwiyyah wa as-

sharfiyyah (grammer), siswa dalam level ini memiliki

pengetahuan kaidah dasar nahwu dan sharaf, baik secara

teori maupun praktek, sebagai penyempurna dari level-level

sebelumnya.

Dalam kemarihan berbahasa (mahārāt al-lughah)

khususnya kemampuan istimā’ (listening), siswa pada level

ini mampu memahami apa yang ia dengar dari setiap

diskusi dan dialek, serta memahami ceramah, seminar, dan

program yang ada di audio visual dengan tingkat kefahaman


60

80 %. Siswa diharapkan pula mampu menganalisa dan

mengomentari dari apa yang ia dengar (Ibid:9)

Kemampuan dalam qirāah (reading) di jenjang

terakhir ini, siswa mampu membaca dengan suara keras dan

membaca di dalam hati dengan memahami maksud secara

cepat, baik secara global maupun terperinci, serta mampu

menguasai hubungan setiap pokok-pokok pikiran dalam

bacaan. Siswa mampu membaca teks yang tak bersyakal

dengan tingkat kefahaman yang tinggi. Memahami teks

umum dengan tingkat kefahaman 80 %, teks agama 90 %,

surat kabar 80 % dan sastra 80 % juga.(Ibid)

Pada tingkat ini pula siswa dalam kaidah tulis

menulis mampu menguasai dengan benar, baik secara teori

maupun praktek seluruh jenis khath, naskhī, riq’ī, kūfī dan

diwānī.

Penguasaan kitābah siswa pada level ini adalah

mampu merangkai kalimat dengan benar serta menuangkan

dalam tulisan dengan berbagai tema yang disodorkan. Siswa

juga mampu menulis makalah dengan tema apa saja,

khutbah dan sambutan-sambutan dalam berbagai

kesempatan. Siswa juga mampu mengkritisi setiap apa yang

ia dengar dan mampu menulis segala aktifitas keseharian.

(Ibid: 10)
61

Dalam kemampuan muhādatsah siswa mampu

berpidato dan ceramah dalam waktu lima menit dengan

menyerap materi agama dan sastra. Siswa mampu berdialek

dalam waktu minimal lima menit dengan berbagai tema,

agama, sosial dan tema umum, serta di berbagai moment

dan resepsi.

Kemampuan siswa dalam bidang ilmu agama Islam

khususnya tafsir, siswa mampu memahami teks-teks agama

yang sulit. Materi tafsir, selain untuk menambah

pengetahuan agama, siswa harus memiliki pengembangan

dalam bidang kamus agama, selain itu pula, metode

pengajarannya juga difokuskan untuk lebih menguasai

Balāghah al-Qurān. Dalam materi tajwīd siswa diberikan

secara teori setelah pada level-level sebelumnya diberikan

materi dalam bentuk praktek dan penugasan.

Materi hadits disajikan teks-teks yang relatif lebih

panjang dan sulit dibanding pada level sebelumnya. Siswa

mampu memahami istilah-istilah penting yang umum

dipakai dalam kitab-kitab hadits maupun para rawi hadits.

Tema-tema hadits diambilkan dari berbagai tema, akidah,

ibadah, akhlak dan hal-hal yang berhubungan dengan

urusan keluarga.
62

Fikih sebagai salah satu materi penting dalam bidang

ilmu syari’at, pada level ini diajarkan hukum-hukum

mu’āmalāt dan sosial yang dikorelasikan dengan dalil-dalil

yang ada di dalam al-Quran dan as-Sunnah, sebagai

pengembangan dari materi fikih pada level sebelumnya.

Sedangkan materi pelajaran tauhid, pada level ini diajarkan

permasalahan-permasalahan akidah yang lebih luas dalam

bidang Sunnah serta hal-hal yang berbau bid’ah yang

banyak tersebar di kalangan masyarakat. (Ibid:11)

Sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Rasyid bin Abdul

Mun’im ar-Rajjal (2007:34) dalam 25 tahun prestasi LIPIA,

muatan kurikulum Silsilah secara aplikatif dalam program intensif

dua tahun (empat semester) dituangkan dalam jam-jam pelajaran

sebagaimana berikut :

No Mata Kuliah SMT I SMT II SMT III SMT IV


1 Al-Quran 2 3 3 3
2 Hadits - 2 2 2
3 Tauhid - - 1 1
4 Fikih - - 1 1
5 Ushul fikih - - 1 1
6 Sejarah Islam - - - 1
7 Kebudayaan - - 1 1

Islam
8 Phonologi dan 3 - - -

Kemahiran

Mendengar
9 Kemahiran 6 6 4 2
63

Membaca
10 Language Drill 6 6 - -
11 Imlā` dan Khath 2 2 1 1
12 Mengarang 2 2 4 3
13 Tata Bahasa - - 4 2
14 Nushūsh - - 1 -
15 Sastra - - - 3
16 Balāghah - - - 1
17 Percakapan 4 4 3 3
Jumlah 25 25 24 25

4. Metode Pengajaran Silsilah Ta’līm al-Lughah al-’Arabiyyah

Dalam pengajaran bahasa, salah satu segi yang sering

disorot orang adalah segi metode. Sukses tidaknya suatu program

pengajaran bahasa sering kali dinilai dari segi metode yang

digunakan, sebab metodelah yang menentukan isi dan cara

mengajarkan bahasa.

Ada yang mengatakan dengan nada ektrim bahwa metode

itu tidak penting. Yang penting adalah kemauan belajar dan

kualitas siswa. Ada pula yang berpendapat bahwa metode itu

sekedar alat saja, gurulah yang paling menentukan. (Sumardi,

1974:8).

Terlepas setuju atau tidak setuju dengan pendapat-

pendapat di atas, adalah suatu kenyataan bahwa setiap saat

dihadapkan dengan metode baru atau diminta meninjau kembali

metode yang selama ini dipakai, karena ada teori baru atau

pendapat baru sabagai hasil penelitian terakhir.


64

Tetapi sayang sekali ajakan untuk mengadakan

pembaharuan sering kali mendapatkan tentangan-tentangan yang

tidak ringan, karena adanya perbedaan-perbedaan doktriner dan

kesalah fahaman yang terdapat dalam bidang metode mengajar

bahasa. Di satu fihak, kita melihat metode lama yang tidak mau

menerima fikiran-fifkiran baru, di fihak lain kita melihat metode

baru yang menunjukkkan kebaharuannya dengan serta merta

menolak metode lama secara keseluruan, termasuk ide-ide baik

yang ada di dalamya. (Ibid)

Karenanya tidak mengherankan kalau di bidang

pengajaran bahasa sering terjadi perubahan-perubahan drastis dari

metode A ke metode B, kemudian kembali lagi ke metode A. Hal

ini dapat terjadi karena ide-ide baru yang seharusnya merupakan

pengembangan (development) dan perbaikan (improvement) serta

penyempurnaan (perfection) dari ide-ide lama sering kali

merupakan penolakan (rejektion) terhadap apa yang telah dicapai

sebelumnya. Lapangan metode mengajar bahasa jadi seperti mode

pakaian, sering berganti-ganti. Akibat ini semua, pengertian

metode menjadi kabur biarpun pengajaran bahasa sudah berabad

abad adanya, lapangan ini tidak memiliki rujukan yang

sistematis. (Ibid)

Perbedaan satu metode dengan metode lainnya dapat

disebabkan karena adanya:


65

a) perbedaan teori bahasa yang mendasarinya,

b) perbedaan cara pelukisannya, dan dapat juga karena

c) pendapat bagaimana seseorang memperoleh kemahiran

berbahasa (language esquisition). (Ibid: 9)

Menurut para pakar bahasa, ada banyak metode yang

digunakan dalam pembelajaran bahasa. Mackey, W.F (1956)

sebagai dinukil Mulyanto Sumardi mengatakan, ada 15 macam

metode mengajar bahasa yang selama ini lazim digunakan, yaitu

1) Direck Method, 2) Natural Method, 3) Psycological Method, 4)

Phonetic Method, 5) Reading Method, 6) Grammar Method, 7)

Translation Method, 8) Grammar – Translation Method, 9)

Elcectic Method, 10) Unit Method, 11) Language – Control

Method, 12) Mim-Mem Method, 13) Practice-Theory Method, 14)

Cognate Method, dan 15) Dual – Language Method.

Silsilah sebagai salah satu kurikulum bahasa Arab baru,

dalam implementasinya menggunakan banyak metode dari

berbagai metode di atas, artinya dari sekian banyak metode

pembelajaran bahasa, Silsilah mengadopsi berbagai metode dalam

pembelajarannya. Satu materi dengan materi yang lain berbeda

dalam metode pembelajarannya, atau terkadang satu materi

menggunakan pengggabungan berbagai metode, karena satu

metode di satu sisi memiliki kelebihan, di sisi yang lain memiliki

kekurangan (al-Hamid, op.cit:17). Disamping itu juga, Silsilah


66

merupakan kurikulum yang dalam satuan materi pelajarannya

telah disusun sedemikian rupa, maka seorang guru hanya

mengikuti petunjuk teknis (metode pembelajaran) yang ada

dalam setiap buku.

Dilihat dari segi fungsi ilmu kebahasaan, Silsilah memiliki

fungsi menyeluruh (all function), bukan hanya sekedar

memperdalam pengetahuan bahasa dan agama melainkan jauh

melangkah ke depan, yakni kemampuan berkomunikasi dengan

dunia internasional di era globalisasi dengan segala aspeknya.

Secara umum metode yang digunakan dalam

pembelajaran Silsilah adalah dua metode, yaitu Direct dan

Natural Method.

a. Direct Method (Tharīqah Mubāsyarah)

Dari sekian banyak metode, Direct Method atau

Metode Langsung inilah yang sering dipakai dalam semua

materi pembelajaran Silsilah. Metode ini disebut dengan

metode langsung karena selama pelajaran berlangsung guru

langsung menggunakan bahasa Arab dalam pengajarannya

dan siswa tidak dibolehkan menggunakan bahasa ibunya.

Secara umum, penggunaan metode langsung ini dicirikan

dengan:
67

a. Materi pelajaran yang terdiri dari kata-kata dan

struktur kalimat yang banyak digunakan sehari-

hari.

b. Gramatika yang diajarkan secara langsung tidak

dengan cara menghafalkan.

c. Aktifitas latihan mendengarkan dan menirukan

serta semua aktifitas di dalam kelas maupun di

luar kelas (Ibid)

b. Natural Method ( Thaīqah Thabī’iyyah)

Metode Alami atau Natural Methode ini menekankan

pentingnya imitasi, hafalan, asosisi, dan analogi, karena ini

didasari suatu prinsip bahwa dalam mempelajari bahasa

asing hendaknya siswa berada dalam situasi dan kondisi

yang sama seperti waktu ia mempelajari bahasa ibunya

waktu kecil (Ibid:10). Metode ini umumnya digunanakan

untuk mengajarkan semua materi pelajaran yang ada di

Silsilah, dikarenakan muatan materi-materi ajar Silsilah

berupa nilai-nilai alamiyah yang biasa dialami oleh umumya

orang. Namun secara sepesifik penggunaan metode ini

difokuskan untuk mengajarkan materi-materi mahārāt al-

lughah yang terdiri dari listening (istimā’), speaking

(kalām), reading (qirāah) dan writing (kitābah).

5. Teknis Pengajaran Silsilah Ta’līm al-Lughah al-’Arabiyyah


68

Teknis pembelajaran dalam dunia pendidikan adalah suatu

yang sangat penting, karena karasteristiknya yang bersifat

implementatif. Artinya, apapun metode yang dipakai, namun pada

tataran teknis (aplikasi) dalam pembelajaran di kelas gagal, maka

kecil kemungkinan pembelajaran akan meraih kesuksesan. Oleh

karena itu, teknis pembelajaran Silsilah dijelaskan secara

gamblang dalam setiap buku pelajaran. Sehingga memudahkan

bagi para guru mempraktekkannya. Secara rinci, pembelajaran

Silsilah menggunakan teknis-teknis sebagaimana berikut:

a. Qirāah.

1. Membaca teks oleh siswa, dimulai dari kalimat yang

pendek sampai dengan kalimat yang panjang dan

berbelit.

2. Latihan-latihan yang bertujuan untuk mengetahui tingkat

kefahaman dan penguasaan materi siswa.

3. Latihan-latihan kosa kata terdiri dari sinonim (murādif),

antonim (mudhāddah).

4. Latihan-latihan penyusunan dan penggunaan kosa kata

dalam redaksi yang sesuai dengan kaidah kebahasaan.

5. Latihan-latihan pembiasaan dalam mengungkapkan

bahasa secara bebas. ( Silsilah qirāah)

b. Kitābah.
69

1. Pembelajaran dimulai dengan membaca teks bacaan dan

contoh-contoh kalimat yang mengupas kaidah penulisan.

2. Pembahasan yang difokuskan pada menjelaskan dan

mengeluarkan kaidah dari contoh-contoh.

3. Penjelasan kaidah yang terekspresikan dalam teks.

4. Latihan-latihan praktis.

5. Latihan-latihan yang beraneka ragam untuk memprkatekkan

dan memantapkan kaidah.

6. Ujian tulis. (Silsilah kitābah)

c. Ta’bīr.

1. Membaca teks.

2. Pemaparan kosa kata baru di permulaan pelajaran.

3. Menjelaskan kosa kata dengan metode penjelasan

sebagaimana biasaanya.

4. Latihan-latihan praktis (Silsilah ta’bīr).

d. Nahwu

1. Membaca teks yang memuat contoh-contoh yang dapat

dijadikan pijakan dalam kaidah.

2. Analisis contoh-contoh, yang dapat membantu siswa

memahami kaidah.

3. Pemaparan kaidah.

4. Latihan-laitan praktis. (Silsilah nahwu)

e. Adab
70

1. Membaca teks sastra.

2. Penjelasan kata dan teks

3. Penjelasan tentang keistimewaan-keistimewaan yang ada

pada teks.

4. Latihan-latihan praktis. (Silsilah adab)

f. Al-Quran

1. Membaca surat atau ayat.

2. Penjelasan makna kalimat.

3. Tafsir Ayat.

4. Hukum-hukum bacaan (tajwīd).

5. Latihan-latihan kebahasaan.

6. Latihan-latihan penguasaan materi.

7. Latihan-latihan tajwīd.

8. Latihan memilih teks bacaan yang sesuai dengan tema

pelajaran (Silsilah tafsīr) .

g. Tauhid.

1. Meteri pelajaran tentang akidah

2. Latihan-latihan kebahasaan.

3. Latihan-latihan penguasaan materi. (Silsilah tauhīd)

h. Hadits.

Dalam pembelajaran hadits ada dua materi, mushtalah hadits

dan teks hadits-hadits pilihan. Materi mushthalah hadits teknis

pembelajarannya adalah:
71

1. Kosa kata dan istilah baru

2. Pembahasan tema dan contoh.

3. Latihan-latihan kebahasaan dan penguasaan.

Sedangkan materi hadits pilihan teknis pembelajaraanya

adalah:

1. Kosa kata baru

2. Membaca teks hadits yang disertai dengan tarjamah rawi

dan takhrīj hadits.

3. Penjelasan kata dan teks.

4. Tafsir hadits.

5. Penjelasan faedah hadits

6. Latihan-latihan kebahasaan.

7. Latihan-latihan penguasaan hadits. (Silsilah hadits)

i. Fikih.

1. Membaca teks yang bertemakan materi-matari fikih.

2. Kosa kata baru.

3. Penjelasan tafsir al-Quran maupun hadits serta takhrijnya.

4. Latihan-latihan kebahasaan dan penguasaan materi.

(Silsilah fikih)

j. Balāghah.

1. Membaca teks yang berupa contoh-contoh yang sesuai

dengan materi.

2. Penjelasan kalimat dan ungkapan-ungkapan yang sulit.


72

3. Penjelasan ide pemikiran yang ada dalam teks.

4. Pembahasan contoh-contoh.

5. Rangkuman.

6. Latihan-latihan praktis. (Silsilah balāghah)

k. Tārīkh.

1. Membaca teks-teks sejarah Islam.

2. Kosa kata baru.

3. Latihan-latihan kebahasaan.

4. Latihan penguasaan materi. (Silsilah tārīkh)

BAB III

PESANTREN ISLAM AL-IRSYAD DAN PEMBELAJARAN

BAHASA ARAB

A. Gambaran Umum Pesantren

1. Letak Geografis Pesantren

Pesantren al-Irsyad terletak di desa Butuh kecamatan

Tengaran kabupaten Semarang. Di lingkup kepesantrenan, al-Irsyad

termasuk pesantren yang relatif masih muda dibanding pesantren-

pesantren tua yang telah berusia ratusan tahun khususnya yang ada

di jawa.
73

Secara geografis pesantren al-Irsyad berada di pinggir jalan

raya Semarang - Solo yang berada di Km. 45 tepatnya di arah

selatan kota Salatiga yang searah jalur ke kota Boyolali, sehingga

sangat setrategis dan mudah dijangkau. Dari jalan raya masuk ke

dalam kira-kira 100 meter, berada di desa yang tenang dan sejuk di

bawah kaki gunung Merbabu, sehingga sangat nyaman untuk

kegiatan belajar mengajar dan tidak mengalami banyak gangguan.

2. Sejarah Berdirinya Pesantren

Pendirian pesantren bermula dari realitas yang terjadi di

sekitar umat Islam dari hilangnya ilmu dengan wafatnya para ulama

yang mengikuti manhaj salaf, sehingga banyak generasi yang telah

jauh dari koridor Islam yang sesungguhnya, dengan kebiasaan dan

budaya yang menjadikan umat berada dalam kebid’ahan, khurāfāt

dan kemaksiatan. Maka dengan latar belakang inilah pesantren al-

Irsyad didirikan oleh seorang ustadz bernama Umar bin Ali bin

Abdat, salah seorang ketua cabang Semarang organisasi Islam al-

Irsyad. Pendirian pesantren dimulai pada hari Rabo tanggal satu

Muharram tahun 1408 H, bertepatan dengan 26 Agustus 1986.

Bermula dari membeli sebidang tanah yang kemudian didirikan

ruang-ruang kelas yang kala itu masih cukup sederhana. Dan

kegiatan belajar mengajar dimulai pada bulan Dzulqa’dah pada

tahun 1409 H., yang bertepatan dengan bulan Juli tahun 1988.

Pesantren yang dulu hanya nampak tak berkembang baik kualitas


74

dan kuantitasnya kini nampak berkembang cukup pesat. Pesantren

yang baru berumur kurang lebih dua puluh tahun ini, kini telah

memiliki banyak siswa yaitu kurang lebih 800 siswa. Yang

menjadikan unik pesantren ini adalah hanya mengelola khusus siswa

putra.

Meskipun pendiri pasantren ini adalah salah seorang

pengurus jami’yyah al-Irsyad dan nama pesantrenyapun sama, secara

struktural pesantren ini tidak ada hubungan, hanya saja secara

emosional memilki keterkaitan. Artinya pesantren ini memiliki

otonom penuh dalam pengelolaan dan memiliki indepedensi yang

kuat dalam administrasi dan sistem pendidikanya (Dalil al-Ma’had).

3. Visi dan Misi Pesantren

Sebagai pesantren yang memposisikan dirinya sebagai

pencetak da’i yang berwawasan luas dan disertai dengan penguasaan

ilmu syari’at, yang mana sampai saat ini merupakan potensi yang

masih langka dan sangat dibutuhkan masyarakat, apalagi da’i yang

mampu menggali sumber-sumber nilai dari literatur keislaman

berbahasa Arab. Di sisi lain, kecenderungan masyarakat untuk

mendalami nilai-nilai keislaman kian hari kian menguat. Kesadaran

yang tulus atas fenomena ini pesantren al-Irsyad berusaha keras

untuk berperan aktif dalam memenuhi kebutuhan tersebut dengan


75

terus menerus berupaya secara simultan dalam mengedepankan visi

dan misi pendidikanya yang berorentasi pada manhaj Ahl as-Sunnah

wa al-Jamā’ah,1 dengan pemahaman Salaf al-Ummah. Pesantren juga

berusaha memadukan kebutuhan esensial manusia, duniawiyyah dan

ukhrawiyyah dalam tatanan yang seimbang dan dengan alternatif

yang terbaik.

a. Visi Pesantren

Menjadi salah satu pesantren Islam terbaik di wilayah

nusantara dan mancanegara yang bermanhaj Ahl as-Sunnah Wa al-

Jamā’ah.

b. Misi Pesantren

1. Mencetak generasi muslim dan da’i yang berkualitas

2. Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran syari’at

Islam berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah sesuai

pemahaman Salaf al-Ummah.

3. Menyelanggarakan pendidikan bahasa Arab dan hafalan al-

Quran secara optimal.

4. Menyelenggarakan pendidikan pengetahuan umum dan

ketrampilan yang memadai

5. Memurnikan ajaran Islam dari segala bentuk syirik,

khurāfāt, bid’ah, gerakan-gerakan dan pemikiran sesat.


1
Ahl as-Sunnah wa al-Jamā’ah yang menjadi pedoman pesantren ini adalah faham
sunni yang dianut oleh Ibnu Taimiyyah, sesuai dengan faham yang diperjuangkan oleh Ahmad
as-Surkati pendiri jami’yyah al-Irsyad. Dimana yang menjadi fokus perjuangan organisasi ini
adalah menyebarkan ajaran Islam sesuai dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah, dengan
memurnikannya dari segala bentuk syirik,khurāfāt dan bid’ah (Makmun Efendi Nur, 1990: 8).
76

6. Mengihidupkan pola pikir ilmiyah berdasarkan al-Quran

dan as-Sunnah sesuai pemahaman Ahl as-Sunah wa al-

Jamā’ah.

7. Mengajak, mendidik dan membina kaum muslimin untuk

hidup Islami dalam naungan manhaj Salaf al-Ummah.

(Brosur Pesantren).

4. Tujuan Didirikannya Pesantren

Pesantren al-Irsyad memiliki dua tujuan, khusus dan umum.

Secara khusus pesantren memiliki tujuan mencetak kader Islam yang

bertauhid kepada Allah Swt., dalam akidah, ibadah dan etika serta

memiliki pengetahuan yang luas dan menjadi da’i Allah Swt dengan

manhaj yang benar.

Sedangkan secara umum, pesantren al-Irsyad memiliki

banyak tujuan, diantaranya :

a. Menyiapkan tenaga pengajar Islam dan bahasa Arab bagi

madrasah dan pesantren yang ada di Indonesia.

b. Menyiapkan para da’i dan mubaligh yang membawa

manhaj yang benar yang mengetahui kondisi umat dan

problematiakanya.

c. Bergerak di bidang penyebaran akidah Ahl as-Sunnah wa

al-Jamā’ah, serta memerangi kemusyrikan, kristenisasi,

bid’ah, fanatik buta, dan khurāfāt dan takhayul yang

menyebar di masyarakat dengan cara baik dan bijaksana.


77

d. Mengadakan diklat dan program lainya dalam pengajaran

bahasa Arab dan agama Islam.

5. Sarana Pembelajaran Pesantren

Pesantren yang berdiri di atas lahan kurang lebih dua hektar

ini telah memiliki fasilitas pendidikan yang memadai. Semua area

pesantren telah dilindungi dengan batas pagar yang permanen

sehingga sangat efektif untuk mengontrol semua aktivitas siswa. Di

depan nampak pintu gerbang yang dijaga fihak keamanan pesantren

sebagai kontrol siswa dan tamu yang datang.

Pesantren ini memiliki gedung tempat belajar dua latai yang

cukup luas dan representatif yang mampu menampung semua

kegiatan siswa. Asrama tiga lantai yang berada di sebelah barat

gedung KBM yang mampu menampung semua siswa dengan fasilitas

sangat memadai, dibanding dengan pesantren lainya yang tampak apa

adanya tanpa menejemen yang baik. Masjid yang berada di sebelah

barat pesantren berdiri sangat megah dengan kapasitas 1500 orang.

Asrama para dewan guru dan pengurus berada di sebelah timur

gedung KBM dengan perumahan yang cukup representatif. Gedung

perkantoran dua lantai yang tampak megah pula berada di sebelah

barat gedung KBM

Berhadapan dengan gedung KBM tampak bangunan yang

cukup luas dua lantai sebagai tempak praktek para siswa yang

meliputi ruang laboratorium komputer, laboratorium bahasa, audio


78

visual, native speaker, toko buku, puskestren dan koperasi. Di

belakang gedung ini tampak kantin yang cukup luas dan bersih

sebagai fasilitas kebutuhan makan siswa.

Di sebelah belakang asrama nampak ruang oleh raga yang

cukup luas yang cukup mampu menampung semua kegiatan olah

raga siswa yang meliputi berbagai cabang olah raga, sepakbola, bulu

tangkis, basket dan lain-lain. Fasilsitas lain yang diberikan kepada

siswa di pesantren al-Irsyad ini meliputi sumur artetis, listrik PLN,

dan jenset.

6. Struktur Organisasi Pesantren al-Irsyad

Pesantren al-Irsyad salatiga pada mulanya menginduk kepada

organisasi Islam al-Irsyad karena didirikan oleh ketua cabang

Semarang Ustadz Umar Abdat. Namun pada perkembangan

selanjutnya pesantren ini berjalan secara independen dan otonom

penuh dalam oprasionalisasi internal pesantren. Adapun struktur

organisasinya adalah sebagai berikut:

1. Idārah Jam’iyyah al-Irsyād

2. Idārah Tathwīr al-Ma’had

3. Mudīr al-Ma’had

4. Wakīl Mudīr al-Ma’had

a. Ra`īs Syu’ūn at-Tadrīs

1. Kātib

2. Qism Maktabah
79

3. Qism Komputer

4. Qism Da’wah

5. Qism Khirrīj

6. Qism Ma’mal

7. Auliyā’ al-Fusūl

8. Asātidzah

b. Raīs Syu`ūn at-Thullāb

1. Kātib

2. Qism Taujīhāt

3. Qism Riyādhah

4. Qism Tanzhīm at-Thullāb

5. Qism al-Lughah

6. Musyrif Sakan

7. Jam’iyyah at-Thalabah

c. Raīs Syu`ūn al-Idārah wa al-Muhāsabah

1. Qism Idārah

2. Qism Muhāsabah

d. Raīs Syu`ūn at-Taudzīf

1. Idārah Asātidzah

2. Idārah Muwazhzhafīn

3. Idārah Asātidzah Ajānib

4. Idārah Thulāb al-Ajānib

e. Raīs Syu`ūn al-Khidmah


80

1. Qism at-Taghdiyah

2. Qism as-Shiyānah

3. Qism as-Shihhah

4. Qism al-I’lām

5. Qism al-Amn

6. Qism al- Istitsmār

7. Muwazhzhaf

7. Tugas dan Tanggungjawab Kepengurusan

Direktur pesantren al-Irsyad dalam setiap kegiatan dan

aktivitasnya dibantu oleh wakil dan lima departemen pokok, serta

lima belas seksi pembantu serta sejumlah guru, staf dan para pekerja.

Mereka saling bahu-membahu sesuai tugas dan tanggungjawab

masing-masing:

a. Syu`ūn Idārah wa al-Muhāsabah.

Departemen ini bertugas mengurusi masalah administrasi

perkantoran dan keuangan. Departemen ini dibantu dua seksi:

1. Seksi Administrasi.

Seksi ini bertugas mengurus surat yang masuk dan keluar,

serta data yang berhubungan dengan pesantren, guru dan siswa

dan menyimpannya dalam data.

2. Seksi Bendahara.

Mengurusi masalah keuangan yang berhubungan dengan iuran

siswa, gaji guru, sumbangan dan pengeluaran pokok


81

pesantren, serta mengurus wesel dan hal lain yang

berhubungan dengan bank dan pentransferan keuangan.

b. Syu`ūn at-Tadrīs

Depertemen ini bertugas menyiapkan sarana dan

kebutuhan pengajaran dan kebutuhan guru serta kurikulum yang

disesuaikan dengan tujuan dan buku yang ditetapkan.

Departemen ini juga bertugas menyeleksi bagi siapa saja yang

berminat masuk pesantren, serta menyelesaikan berbagai

problem yang selalu muncul. Departemen ini dibantu oleh seksi-

seksi sebagaimana berikut:

1. Seksi Alumni.

Pesantren membuat aturan bagi para alumni untuk tetap

mengabdi pada pesantren di bidang dakwah dan pendidikan.

Seksi ini bertugas membagi tugas para alumni untuk

mengajar di berbagai pesantren dan sekolah.

2. Seksi Dakwah dan Sosial.

Sesksi ini bertugas mengatur program pesantren tentang

dakwah dan pendidikan secara umum. Bertugas mengawasi

jama’ah lima waktu para siswa, mudzākarah, menghafal al-

Quran setiap pagi. Seksi ini juga bertugas mengatur pelajaran

mingguan siswa di masjid dari para guru. Seksi ini juga

bertugas mengatur kegiatan dakwah dan pendidikan bagi para


82

penduduk desa yang berada di sekitar pesantren, serta

mengajarkan al-Quran pada anak-anak mereka.

3. Seksi Komputer.

Seksi ini bertugas melayani penggunaan komputer yang ada

di perpustakaan dan laboratorium, serta mengenalkan

program baru komputer yang berhubungan dengan

pendidikan dan pengajaran. Seksi ini juga bertugas

mengajarkan siswa di laboratorium komputer dari majalah

dakwah untuk meningkatkan pengetahuan mereka.

4. Seksi Laboratorium.

Seksi ini bertugas mengurusi hal-hal yang berhubungan

dengan laboratorium.

c. Syu`ūn at-Thullāb.

Perlu diingat bahwa peraturan pesantren Al-Irsyad

berbeda dengan lembaga pendidikan lainya dalam memberikan

aturan pada siswa. Mereka berada di pesantren selama satu

semester dan tidak diperkenankan untuk pulang kecuali yang

telah mendapatkan izin atau alasan yang dapat diterima. Metode

ini tentunya lebih bisa menyelamatkan dan membentengi siswa

dari pengaruh jelek arus modernisasi dalam mendidik dan


83

mengajarkan generasi masa depan. Departemen ini dibantu oleh

beberapa seksi:

1. Seksi Kesiswaan.

Seksi berugas mengawasi kegiatan siswa dan menjalankan

hukuman bagi yang melanggarnya, disamping juga

memberikan izin kepada siswa yang ingin keluar pesantren.

2. Seksi Olahraga

Seksi ini bertugas mengontrol, membimbing siswa dalam

kegiatan olah raga.

3. Seksi Bahasa.

Sesksi ini bertugas menegembangkan program bahasa Arab

dan Inggris. Seksi ini bertugas membuat aturan yang

mewajibkan siswa berbahasa Arab dan Inggris, memberi

hukuman bagi yang melanggar, serta membuat sarana yang

bisa memotivasi siswa untuk menjalankan aturan dengan

baik. Memberlakukan hiwār (speaking) antara mereka

dengan bahasa Arab dan Inggris setiap subuh di hari Jumat.

Mengharuskan mereka menulis mufradāt dan menghafalnya

di depan para Ustadz. Mewajibkan para guru untuk

menggunakan bahasa Arab dalam pembelajaran, khusunya

bagi program I’dād Mu’allimīn dan Syu’bah Lughah kecuali

dalam keadaan kesulitan diperbolehkan dengan

menggunakan bahasa Indonesia.


84

4. Seksi Konsultasi Psikologi.

Problem psikologi pribadi dan keluarga sering menimpa

siswa dalam proses pembelajaran dan pencarian ilmu, tak

jarang mereka gagal untuk meraih cita-cita. Seksi ini

bertugas memberikan solusi terbaik dari problem siswa

dengan solusi yang baik dan tepat.

d. Syu`ūn al-Khidmah al-’Āmmah.

Departemen ini memiliki tugas khusus melayani

kebutuhan pokok keseharian keluarga besar pesantren, dengan

menjaga kebersihan lingkungan, mendirikan dan merawat

bangunan serta sarana lainnya. Bertugas pula dalam mengontrol

kesehatan, kebutuhan makan, sarana transportasi, listrik,

publikasi dan lain sebagainya bagi keluarga besar Pesantren.

Departemen ini bertugas pula memberi pekerjaan pada para staf

dan pekerja lainya serta mengawasi pekerjaan mereka supaya

lebih meningkat dan lebih baik. Departemen ini dibantu oleh

beberapa seksi:

1. Seksi Publikasi dan Humas.

Bertugas melakukan publikasi pesantren dan hubungan

external pesantren.

2. Seksi Keamanan.

Menjaga keamanan seluruh aset kekayayan dan

kepemilikan pesantren.
85

3. Seksi Kesehatan.

Seksi ini bertugas mengontrol kesehatan seluruh keluarga

besar pesantren dengan menyiapkan kebutuhan obat,

serta melayani pengobatan bagi yang sakit.

4. Seksi Kuliner.

Seksi ini melayani kebutuhan seluruh keluarga besar

pesantren dengan menyiapkan kebutuhan makan mereka

tiga kali sehari.

5. Seksi Perawatan.

Seksi ini bertugas menjaga kebersihan lingkungan,

membangun dan merawat bangunan, serta menyiapkan

sarana prasarana, seperti kebutuhan air, listrik, kebutuhan

perpustakaan, mengurus surat dan urusan telephon.

6. Seksi Pengembangan.

Seksi ini bertugas mengembangkan keuntungan bisnis,

serta melayani kebutuhan sekolah dan siswa seperti buku-

buku pegangan, alat-alat tulis, makanan minuman,

sehingga siswa tidak perlu keluar pesantren. Hal ini

dilakukan guna meminimalisir pengaruh negatif

lingkungan.

f. Syu`ūn at-Taudzīf wa ath- Thāqah al- ’Ammah.

Departemen ini tidak kalah penting dalam berperan

mengembangkan pesantren dalam menyiapkan para


86

penanggungjawab pesantren dalam memiliki kemampuan

ilmiyah yang tinggi serta konsistensinya dalam memegang

manhaj dan akidah yang benar.

8. Jadwal Kegiatan Siswa

04.00-055.30 : - Shalat Shubuh Berjama’ah.

- Membaca al-Quran

05.30-07.00 - Sarapan dan Persiapan Masuk sekolah

07.00-13.00 - Kegiatan Belajar Mengajar

- Shalat Zduhur Berjama’ah di Masjid

13.15-15.30 - Makan Siang dan Istirahat

15.30-20.00 - KBM (2 jam pelajaran)

- Shalat Maghrib, Ceramah dan Shalat

Isya`

- Makan Malam

- Bimbingan dan Pengarahan di Kamar

20.00-22.00 - Belajar Kurikuler

22.00-04.00 - Istirahat dan Tidur Malam

9. Kegiatan Dakwah dan Pendidikan Pesantren.

a. Kegiatan dakwah dan pendidikan di desa-desa

Pesantren memainkan peran penting dalam dakwah dan

pendidikan dengan mengadakan kegiatan dakwah dan pendidikan

di desa sekitar pesantren yang berjumlah 45 tempat. Diantaranya

masjid, taman kanak-kanak tahfīzh al-Quran dan yayasan


87

pendidikan. Pesantren menugaskan para guru dan para siswanya

yang duduk di kelas tiga I’dād untuk mengajar di tempat

tersebut.

b. Kegiatan dakwah di nusantara.

Pesantren menugaskan bagi para alumni lulusan I’dād

Mu’allimīn untuk melakukan kegiatan dakwah dan

pendidikan baik di dalam maupun di luar pesantren serta di

lembaga-lembaga lain di berbagai tempat di Indonesia.

10. Hubungan Eksternal Pesantren

Semenjak pesantren ini didirikan oleh Ustazd Umar

Abdat dimulailah hubungan-hubungan dengan para da’i dan

donatur untuk menopang proyek pembangunan pesantren. Yang

paling besar sumbangsihnya adalah wakil mentri dakwah Arab

Saudi Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah Amar. Dari beliaulah

banyak dibukakan jalan bagi para donatur dan kerjasama

dengan yayasan dakwah dan pendidikan al-Khairiyyah. Dan

yang paling banyak berperan dalam proyek pembangunan

adalah Jami’yyah Ihyā` at-Turāts al-Islāmi dari Kuwait.

Kemudian dibukalah kerjasama dengan beberapa lembaga

lainnya, seperti:

a. Arab Saudi :

1. Atase Agama Kedutaan Arab Saudi

2. Hai`ah al-Ighātsah
88

3. Rābithah al-’Ālam al-Islāmi (RAI)

4. Yayasan al-Harāmain

b. Kuwait :

1. Kementrian Wakaf

2. Rumah zakat

11. Progam Pesantren ke Depan.

Semenjak didirikannya dua puluh tahun lalu pesantren

mempunyai rencana pengembangan, diantaranya:

1. Menyempurnakan Sekolah Dasar

2. Mendirikan Ma’had Āly

3. Pembangunan gedung baru bagi tingkat

Mutawassith.

4. Menambah rumah bagi para guru di lingkungan

pesantren.

5. Menambah guru dari luar negeri

12. Program Pendidikan Pesantren

Program pendidikan pesantren Islam al-Irsyad Salatiga

adalah sebagaimana berikut:

a. Jenjang SD Islam Tahfīzh al-Quran (SDITQ)

Program Sekolah Dasar (SD) ini telah terdaftar sebagai SD

swasta di Departemen Pendidikan Nasional dengan lama

pendidikan 6 tahun. Ditargetkan hafal al-Quran 6 juz dengan

menguasai kurikulum Pendidikan Nasional dan pesantren.


89

Adapun kurikulum tersebut secara rinci adalah sebagaimana

berikut:

1. Kurikulum pesantren : tahfīzh al-Quran, tauhīd, fiqh, bahasa

Arab, hadīts, do’a dan dzikir sehari-hari dan bela diri.

Sedangkan materi ketrampilan meliputi: khuthbah, kaligrafi,

hiwār, komputer, pramuka muslim dan jurnalistik dasar.

2. Kurikulum Pendidikan Nasional : matematika, bahasa

Indonesia, IPA, IPS, PPKN, dan olah raga dengan

menggunakan Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP)

SD ini banyak memiliki kegiatan luar sekolah

misalnya out bond, studi banding, rihlah akhir tahun, rihlah

ilmiyyah dan multi media. Selain itu juga diadakan kunjungan

ke instansi-instansi pemerintah dan suwasta.

b. Jenjang Mutawassith (Setingkat SLTP)

Sebagai jenjang kelanjutan Sekolah Dasar (SD) atau

Madrasah Ibtidaiyah (MI) selama 3 tahun, dengan memadukan

kurikulum Departemen Agama dan pesantren serta

mendapatkan ijazah negara dan pesantren. Secara rinci

kurikulum tersebut adalah :

1. Kurikulum pesantren : tauhīd, tafsīr al-Quran, tahfīzh dan

tajwīd, hadīts, fiqh, sīrah nabi, tadrīb lughawi, khath, dan

imlā`, nahwu, sharaf, ta’bīr, dan insyā`, muthāla’ah,

tadribāt al-anmāth.
90

2. Kurikulum Departemen Agama : bahasa Indonesia,

bahasa Inggris, matematika, biologi, geografi, fisika,

ekonomi, olah raga, dan sejarah nasional.

c. Jenjang I’dād Mu’allimīn (Setingkat SMU/MA)

Jenjang ini mendidik lulusan Mutawassith dan I’dād

Lughawi (poin 2dan 3) selama 3 tahun dengan terget

penguasaan agama Islam secara lebih mendalam dengan ilmu

alat dalam hal syari’at dan bahasa, berakhlak mulia, memiliki

bekal ilmu dakwah dan menejemen pendidikan agama.

Lembaga pada jenjang ini telah mendapatkan persamaan

(mu’ādalah) dari Universetitas Islam Madinah Saudi Arabia.

Pada jenjang ini memadukan kurikulum pesantren dan

kurikulum Departemen Agama, serta mendapatkan ijazah

pesantren dan negara. Kurikulum program I’dād Mu’allimīn

secara rinci akan dibahas dalam bab tersendiri.

d. Program I’dād Lughawi

Jenjang ini dipersiapkan bagi lulusan SLTP/MTs dari

luar pesantren selama satu tahun dengan target pendidikan

penguasaan bahasa Arab secara aktif dan pemahaman agama

secara benar. Kurikulum yang diajarkan adalah tauhīd, tafsīr,

tahfīzh, hadīts, fiqh, at-tadrīb al-lughawi, khath/imlā`, ta’bīr,

sharaf, nahwu, sīrah, dan qirāah

e. Program Syu’bah Lughah


91

Program ini diperuntukan bagi siswa lulusan SLTA

dari luar pesantren. Syu’bah Lughah adalah program

pendidikan 2 tahun untuk lulusan SLTA dari luar pesantren

dengan target pendidikan penguasaan ilmu agama secara lebih

mendalam dengan ilmu alat dalam syari’at dan bahasa, serta

mampu menguasai ilmu lainnya yang integralistik dan

berakhlak mulia. Adapun secara rinci materi pelajaran program

Syu’bah Lughah akan dibahas dalam bab berikutnya.

B. Kompetensi Guru dan Siswa Pesantren Islam al-Irsyad.

1. Guru.

Para staf pengajar pesantren Islam al-Irsyad Salatiga

khusunya di program Syu’bah Lughah secara umum memiliki

kompetensi yang cukup memadai, karena para staf pengajar

terdiri dari para Syeikh dari Arab Saudi, dan para alumni Timur

Tengah seperti Universitas Islam Madinah, al-Azhar Kairo,

Universitas Sudan, serta Alumni LIPIA Jakarta, UNES, UMS, al-

Akidah Jakarta, Undaris Semarang, UNISBA dan alumni

pesantren Islam al-Irsyad.

Adapun secara rinci daftar guru program Syu’bah Lughah

sebagaimana berikut :

TEMPAT/TGL LHR PENDIDIKAN


NAMA GURU
TEMPAT TGL LHR
TERAKHIR
M. ROMELAN, Lc BANTUL 01/10/1978 S I UNIV. ISLAM
92

MADINAH
M. THOYYIB, Lc SEMARANG 02/02/1972 S I LIPIA JAKARTA
DRS. AGUS SLEMAN 08/07/1967 SI IKIP

ARYANTA YOGYAKARTA
MARYADI, SE KLATEN 25/6/1971 S I STIE

SALATIGA
HENRY ANWAR FAIZ, SEMARANG 30/8/1975 S 1 STIBA 17 AGT

S.S SMG
WAHYUDIN LOMBOK TIMUR 23/2/1978 D I RABITHAH

BAHTIYAR MEKAH
EDI EKO BANJARNEGARA 18/6/1976 S I IKIP

PURNOMO,S.Pd SEMARANG
M. QOSIM MUHAJIR, BANYUWANGI 05/02/1975 S I U.ISLAM

Lc MADINAH
MAHFUL, Lc PURWOKERTO 13/10/1979 S I LIPIA JAKARTA
M. SYIARUDIN, Lc TEGAL 01/01/1978 S I LIPIA JAKARTA
PARWONO, Lc SEMARANG 08/01/1977 S I LIPIA JAKARTA
SUHARLAN M. JAKARTA 05/07/1982 S I LIPIA JAKARTA

AHYA, Lc
RIJAL YULIAR, Lc CIREBON 07/03/1981 S I U.ISLAM

MADINAH
TOHILMAN, S.Pd.I LOBAR 08/01/1977 S I STAIN

SALATIGA
M. AMRUDDIN, Lc SINARSARI 15/12/1979 S I IUA

KHORTOUM
WIDODO AGUS S, GROBOGAN 13/8/1980 S I UMS

S.Pd SURAKARTA
AGUS MA'MUN, S.PdI TEGAL 16/7/1975 S 1 UMS

SURAKARTA
IBNU SUTOPO, S.T KLATEN 16/2/1983 S 1 UGM
ROSYAD NURLIYAS, S I LIPIA JAKARTA

Lc SURAKARTA 18/4/1984
BOBBY CHANDRA, S 1 UGM

S.Si JAKARTA 19/6/1978

2. Siswa
93

Sedangkan para siswa pesantren ini umumya memiliki

kompetensi yang cukup kompetitif. Hal ini dapat dilihat dari para

siswa pesantren ini yang dapat meraih juara di berbagai lomba

serta mampu melanjutkan ke berbagai perguruan tinggi dalam

maupun luar negeri

Sebagai pesantren yang relatif masih baru, pesantren ini

memiliki catatan prestasi yang cukup membanggakan, dengan

diperolehnya berbagai perhargaan di berbagai perlombaan yang

pernah didikutinya. Catatan prestasi pesantren Islam al-Irsyad

Salatiga secara rinci sebagaimana berikutt:

a. Empat puluh tujuh alumni diterima di Universitas Islam

Madinah sejak tahun 1992-2008, dan sebagian yang lain

diterima di Universitas-Universitas yang ada di Timur

Tengah lainnya.

b. Sebagian besar alumni diterima di LIPIA Jakarta.

c. Juara I Nasional Tafsir al-Quran bahasa Arab 30 juz.

d. Juara 3 tingkat nasional cerdas cermat tingkat SLTP tahun

2003/2004.

e. Juara I tafsir bahasa Ingrris tingkat Propinsi Jawa Tengah

f. Juara II membaca kitab berbahasa Arab se-Jawa.

g. Juara II Syarh al-Quran tingkat nasional.

h. Juara I hafalan hadits tingkat nasional 2003-2004.


94

i. Juara I hafalan dan tafsir bahasa Arab al-Quran nasional

2007.

Disamping prestasi tersebut pesantren Islam al-Irsyad telah

memilih relasi ke berbagai perguruan tinggi (dalam maupun luar

negeri) guna memberikan peluang belajar para siswa untuk

melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Disamping itu ijazah

pesantren ini mendapatkan mu’ādalah (kesetaraan) di berbagai

perguruan tinggi tersebut.

Sejak tahun ajaran 2001/2002 hingga tahun ajaran

2005/2006, pesantren Islam al-Irsyad Butuh Tengaran Salatiga

telah meluluskan sebanyak 229 siswa yang sebagian besar

melanjutkan ke perguruan tinggi dalam dan luar negeri.

Adapun jumlah alumni yang melanjutkan studi ke perguruan

tinggi dalam dan luar negeri adalah sebagai berikut:

NO PT / NEGARA JML KET


1 Al-Azhar Mesir 12 Beasiswa
2 Jami’ah Islamiyyah Madinah - KSA 7 Beasiswa
3 Universitas Int. Afrika - Sudan 5 Beasiswa
4 LIPIA Jakarta 33 Beasiswa
5 Univ. Muhammadiyah Surakarta 26
6 Ma’had Tahfizh 5
7 UMM Malang 3
8 WML Makah 3
9 UNDARIS Ungaran 2
10 Al-Aqidah Jakarta 2
11 LSIA Bogor 2
12 UNS Surakarta 1
13 UMY Yogyakarta 1
14 UNM Makasar 1

C. Pembelajaran Bahasa Arab di Pesantren Islam al-Irsyad Salatiga


95

Pembelajaran bahasa Arab yang menjadi obyek pembahasan

pada bab kali ini adalah jenjang I’dād Mu’alimīn. Yang nantinya akan

jadikan penulis sebagai bahan perbandingan hasil pembelajaran

bahasa Arab (bukan Silsilah) dengan kurikulum Silsilah. Jenjang

I’dād Mu’allimīn ini mendidik lulusan Mutawassith dan I’dād

Lughawi selama 3 tahun dengan terget penguasaan ilmu agama Islam

secara lebih mendalam dengan ilmu alat dalam hal syari’at dan

bahasa, berakhlak mulia, memiliki bekal ilmu dakwah dan

menegemen pendidikan agama. Lembaga pada jenjang ini telah

mendapatkan persamaan (mu’ādalah) dari Universetitas Islam

Madinah Saudi Arabia. Pada jenjang ini memadukan kurikulum

pesantren dan kurikulum Departemen Agama, serta mendapatkan

ijazah pesantren dan negara.

Pembelajaran bahasa Arab di program I’dād Mu’allimīn pada

dasarnya merupakan pelajaran penunjang bagi pelajaran ilmu-ilmu

syari’at, oleh karenanya kurikulum bahasa Arab yang dipakai

merupakan kurikulum yang terpisah dengan materi kurikulum syari’at.

Berbeda dengan Silsilah yang merupakan penyatuan ilmu kebahasaan

dan ilmu syari’at yang dimulai dari pembelajaran dasar kebahasaan,

mahārāt al-lughah dan materi pengembangan. Oleh karena itu, materi

kurikulum bahasa Arab program I’dād Mu’allimīn terfokus pada

materi pengembangan. Hal ini dikarenakan materi-materi dasar

kebahasaan dan mahārāt al-lughah sudah ditekannkan pada jenjang


96

sebelumnya, yaitu Mutawassith dan I’dād lughawi. Meskipun

demikian, materi mahārāt al-lughah tetap diajarkan, meski hanya

fokus di kelas satu. Dengan mengulanginya kembali diharapkan

sebagai penguatan kembali fondasi materi dasar dan mahārāt al-

lughah yang kesemuanya itu termuat dalam materi ta’bīr. Materi

bahasa Arab di program ini merupakan materi pengembangan bahasa

Arab dari jenjang sebelumnya, oleh karena itu materi pelajaran bahasa

Arab di pecah hanya menjadi 5 materi pelajaran, ta’bīr (hanya di kelas

satu), nahwu/sharaf, balāghah, muthāla’ah, dan adab (sastra)

1. Kurikulum Pembelajaran

Secara rinci kurikulum jenjang I’dād Mu’allimīn adalah

sebagai berikut:

a. Kurikulum pesantren : tauhid, tafsir, hafalan, hadits, akhlak,

fikih, faraidh, usul fikih, ilmu hadits, ulumul Quran, nahwu dan

sharaf, balāghah, muthāla’ah, adab dan nushūsh, ta’bīr, sīrah

nabawiyyah, sejarah Islam, metodoogi pengajaran, praktek

mengajar, fikih dakwah, praktek dakwah, olah raga, dan bela

diri.

b. Kurikulum Departemen Agama : bahasa Indonesia, bahasa

Inggris, matematika, sejarah dunia, dan komputer.

Adapun secara rinci alokasi waktu, materi dan buku pegangan

yang dipakai dalam jenjang ini adalah sebagaimana berikut:

Materi I II III Kitab Pegangan


97

Tauhid 3 3 3 al-’Aqīdah al-

Washīthiyyah
Tafsir 3 3 3 Aisar at-Tafāsīr
Al-Quran 1 2 2 al-Burhān/ Hifzh
Hadits 2 2 3 Muqarrar Hadits
Akhlak 2 2 2 Minhāj al-Muslim
Fikih 4 4 4 Mulakhkhas al-Fiqh
Faraid - 2 2 Mabāhits fi ’Ilm al-

Farāidh
Ushul Fikih 1 2 2 Mudzākirah
Ilmu Hadits 2 2 2 Taisīr Mushthalah al-

Hadīts
Ulumul Quran 2 1 1 Mabāhits fi ’Ulūm al-

Qurān
Nahwu/Sharaf 4 4 4 Qathr an- Nadā
Balāghah 2 2 2 al-Balāghah al-

Wadlīhah
’Arūdh - - 2 ’Arūdh
Muthāla’ah - 2 2 al-Muthāla’ah

al-’Arabiyyah
Adab - - 2 Mudzākirah
Ta’bīr 2 - - -
Sīrah Nabawiyyah 2 - - Mukhtashar
Sejarah 2 2 2 Khulafā’ Rasyidin
Tarbiyyah 2 - - Ulūm at-Tarbiyyah
Metodologi - 2 - al-Hujrah az-Zāwiah
Pengajaran
Praktek mengajar 2 - Tathbīq at-Tadrīs
Fikih dakwah 2 2 al-Ulūm al-’Ilmiyyah

li ad-Da’wah
Tsaqāfah. - 1 1 Nahwa ats-Tsaqāfah
Islāmiyyah
al-Islāmiyyah
Praktek dakwah - 2 2 -
Olah Raga 2 2 2 Praktek
B.Indonesia 2 2 2 Mudzākirah
B.Inggris 4 4 4 Mudzākirah
98

Matematika 4 4 4 Mudzākirah
Sejarah 2 2 2 Mudzākirah
Jumlah 54 54 54

2. Metode Pengajaran

Metode pengajaran bahasa Arab khususnya di program

I’dād Mu’allimīn ini adalah penggabungan dari berbagai

metode yang ada, namun secara umum semua materi

pembelajaran khususnya bahasa Arab menggunakan metode

langsung (tharīqhah mubāsyarah), dengan mengacu sistem

yang ada pada buku.

Dalam pembelajaran nahwu misalnya, guru membuat

ringkasan (talkhīs), kemudian diterangkan, baru kemudian

siswa membaca tek yang ada di setiap pelajaran. Ringkasan

materi pelajaran dibuat dengan bentuk diagram, sehingga

penjelasan yang ada di buku hanya dijadikan bahan pembantu.

Kemudian siswa diberikan tugas dengan membuat ringkasan

sendiri.

Materi pelajaran adab metode yang dipakai

menggunakan menggunakan metode membaca (reading

methode), dengan cara teks dibaca oleh siswa kemudian dicari

kalimat yang sulit, kemudian siswa menjelaskan maksud dari

teks yang ada. Demikian seterusnya yang dilakukan pada setiap

materi pelajaran
99

Bahasa pengantar pembelajaran bahasa Arab di

program ini menggunakan 90% bahasa Arab sama sekali tidak

dibolehkan menggunakan bahasa lain. Kecuali sesekali

mengunakan metode terjemah saat siswa sulit memahami

pelajaran. Metode seperti ini juga diberlakukan pada materi-

materi syari’at namun penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa

pengantar sedikit lebih rendah frekuensinya di banding dengan

materi bahasa Arab. (Wawancara dengan Ust. Mahful Lc, 19

Januari 2009)

D. Penerapan Kurikulum Silsilah di Pesantren Al-Irsyad Salatiga

Sebagaimana disebutkan dalam bab satu bahwa kurikulum

Silsilah di pesantren Islam al-Irsyad Salatiga di terapkan di program

Syu’bah Lughah dimana program ini diperuntukan bagi siswa lulusan

SLTA dari luar pesantren. Syu’bah Lughah adalah program pendidikan

2 tahun untuk lulusan SLTA dari luar pesantren dengan target

pendidikan penguasaan ilmu agama secara lebih mendalam dengan

ilmu alat dalam syari’at dan bahasa, serta mampu menguasai ilmu

lainya yang integralistik dan berakhlak mulia.

1. Materi Kurikulum.

Kurikulum program ini adalah : tauhid, tafsir, akhlak,

hafalan, hadits, fikih, faraidh, ilmu hadits, ushul fikih, fikih

dakwah, ulumul Quran, sīrah nabawiyyah, sejarah Islam,


100

nahwu, sharaf, balāghah, fahm al-masmū’, ta’bīr, insyā`,

kitābah, qirāah, khath, imlā` dan komputer.

Untuk implementasi materi kurikulum tersebut waktu

yang ditempuh dalam pembelajaran dalam setiap pertemuan 40

menit, dalam sehari 8 kali pertemuan, dengan hari efektif

belajar selama 6 hari dalam seminggu.

Secara aplikatif, kurikulum Silsilah dan buku pegangan

yang dipakai di program Syu’bah Lughah ini tertuang dalam

jadwal sebagaimana berikut:

Semester I

Materi Jam/Minggu Kitab Pegangan


Tauhid 2 Nubdzah fi at-Tauhīd
Tafsir 3 Silsilah at-Tafsīr
Al-Quran 4 Hifzh
Hadits 2 Matan al-Arb’īn an-

Nawawiyyah
Fikih 2 Taisīr al-Fiqh
Ushul fikih - -
Akhlak - -
Sejarah - -
Fahm al- 2 Silsilah Kitāb as-Shuar

Masmū’
Ta’bīr 24 al-’Arabiyyah li An-

Nasyiīn
Khath 2 Silsilah al-Khath
Nahwu 2 Silsilah an- Nahw
Sharaf 2 Silsilah ash- Sharaf
Kitābah - -
Qirāah 5 Silsilah al-Qirāah
Faraidh - -
Ilmu Hadits - -
Ulumul - -

Quran
Fikih dakwah - -
Komputer 2 -
101

Jumlah 52

Semester II

Materi Jam/Minggu Kitab Pegangan


Tauhid 2 Al-Qaul as-Sadīd
Tafsir 3 Silsilah at-Tafsīr
Al-Quran 3 Hifzh
Hadits 2 Silsilah al-Hadīts
Fikih 2 Taisīr al-Fiqh
Ushul Fikih - -
Akhlak - -
Sejarah - -
Fahm al- 2 Silsilah Kitāb ash- Shuar

Masmū’
Ta’bīr 20 al-’Arabiyyah li an-

Nāsyiīn
Khath 1 Silsilah al-Khath
Nahwu 4 Silsilah an-Nahw
Sharaf 3 Silsilah ash-Sharaf
Kitābah 5 Silsilah al-Kitābah
Qirā’ah 5 Silsilah al-Qirāah
Faraidh -
Ilmu Hadits -
Ulumul -

Quran
Fikih dakwah - -
Komputer 2 -
Jumlah 52

Semester III

Materi Jam/Minggu Kitab Pegangan


Tauhid 4 Silsilah at-Tauhīd
Tafsir 3 Silsilah at-Tafsīr
Al-Quran 4 Hifzh
Hadits 2 Silsilah al-Hadīts
Fikih 4 Silsilah al-Fiqh
Ushul Fikih 2 Ushul al-Fiqh
Akhlak 2 Tazkiyah an-Nafs
Sejarah - -
Fahm al- - -

Masmu’
Ta’bīr 14 Al-’Arabiyyah li an-

Nasyiīn
102

Khath -
Nahwu 4 Silsilah an-Nahw
Sharaf 3 Silsilah ash-Sharaf
Kitābah 3 Silsilah al-Kitābah
Qirā’ah 5 Silsilah Qirā’ah
Faraidh 2 Mabāhits fi ’Ilmi al-

Farāid
Ilmu Hadits 2 Mushthalah al-Hadīts
Ulumul 2 Mabāhits fi ’Ulūm al-

Quran Qurān
Fikih Dakwah 2 Mabāhits fi Ahwāl al-

Mukhāthabīn
Komputer 2 -
Jumlah 60

Semester IV

Materi JamMinggu Kitab Pegangan


Tauhid 4 Silsilah at-Tauhīd
Tafsir 3 Silsilah at-Tafsīr
Al-Quran 3 Hifzh
Hadits 2 Silsilah al-Hadīts
Fikih 4 Taisīr al-Fiqh
Ushul Fikih 2 Ushūl al-Fiqh
Akhlak 2 Tazkiyah an-Nafs
Sejarah 2 Silsilah at-Tārīkh
Fahm al- - -

Masmu’
Ta’bīr 12 al-’Arabiyah li an-

Nasyiīn
Khath - -
Nahwu 4 Silsilah an-Nahwu
Sharaf 3 Silsilah ash-Sharaf
Kitābah - -
Qirā’ah 4 Silsilah al-Qirā’ah
Faraidh 2 Mabāhits fi Ilmi al-

Farāidh
Ilmu Hadits 2 Taisīr Mushthalah al-

Hadits
Ulumul 2 Mabāhits fi Ulūm al-

Quran Qurān
Fikih dakwah 2 Mbāhits fi Ahwāl al-
103

Mukhāthabīn
Komputer 2 -
Jumlah 60

2. Metode Pengajaran

Metode pengajaran yang digunakan adalah dengan

menggunakan banyak metode yang disesuaikan dengan

materi pelajaran yang diampu oleh setiap guru, namun yang

menjadi kesepakatan para guru metode pengajaran yang

tidak boleh ditinggalkan adalah metode langsung (tharīqah

mubāsyarah) dengan menggunakan bahasa pengantar dalam

setiap pembelajaran 95 % bahasa Arab. Metode terjemah

juga sesekali digunakan di saat siswa tidak mampu

menangkap dengan baik pelajaran.

Teknis pengajaran Silsilah di program Syu’bah

Lhugah ini mengacu pada petunjuk setiap buku Silsilah,

kecuali pada pelajaran-pelajaran yang memiliki stresing

tersendiri serta materi-materi tambahan.

Penerapan Silsilah ditinjau dari segi teknis

pengajaran, diimplementasikan menyesuaikan dengan

kapasitas kemampuan siswa dengan konsep ideal yang ada

di Silsilah. Dimana fokus kurikulum Silsilah -termasuk

ulūm syar’iyyah- lebih menekankan pengayaan bahasa.

Maka penerapan Silsilah di program Syu’bah Lughah tidak

mutlak mengikuti konsep ideal yang diinginkan Silsilah.


104

Materi nahwu misalnya, metode pembelajarannya

ditekankan pada kaidah-kaidah nahwu. Demikian pula

dengan materi balāghah ditekankan pada kaidah-kaidah

balāghah. Hal ini juga dilakukan pada pembelajaran ’ulūm

syar’iyyah, tidak diperlukan lagi pengayaan bahasa, hanya

saja mufradāt dipakai sebagai bahan bantuan ketika siswa

tidak memahami makna.

Materi qirāah, fokus pembelajarannya pada

pelajaran muthāla’ah dengan metode bagaimana siswa

mampu memahami dan menyimpulkan apa yang menjadi

tema bacaan. Pengayaan mufradāt hanya untuk

membangkitkan kemampuan bacaan siswa tidak sampai

pada hal yang lebih jauh dari itu. Karena keterbatasan

waktu, teknis pengajaran qirāah dimulai dengan

menanyakan mufradāt yang sulit, kemudian siswa

membaca. Berbeda dengan materi ta’bīr, komponen

mahārāt al-lughah mendapatkan porsi pengayaan khusus,

maka teknis pembelajarannya pakem dengan apa yang di

buku Silsilah. Dimana untuk mengukur kemampuan dan

penguasaan siswa pada materi pelajaran dengan

menyelesaikan semua tamrīnāt yang ada di setiap buku,

kemudian dilakukan dengan cara memberikan tugas untuk

mempelajari sebuah judul yang kemudian dituangkan


105

dalam bentuk sebuah tema yang ditulis sesuai dengan

kemampuan siswa. Sedangkan untuk materi komponen

dasar kebahasaan seperti ashwāt, mufradāt dan tarākīb

difokuskan pembelajarannya di semester awal program ini

sebagai fondasi dasar kebahasaan.( Hasil wawancara

dengan Ust. Syi’arudin, 12 Januari 2009)

BAB IV

ANALISIS IMPLEMENTASI KURIKULUM SISILAH DI

PESANTREN ISLAM AL-IRSYAD SALATIGA

A. Efektifitas Kurikulum Silsilah di Pesantren Islam al-Irsyad

Pembelajaran bahasa Arab di pesantren Islam al-Irsyad

Salatiga tercermin dalam program pendidikan pesantren yang

tertuang dalam kurikulum pesantren di setiap jenjangnya.

Pesantren Islam al-Irsyad Salatiga bisa dikatakan

sebagai lembaga pendidikan pesantren modern, dengan

menyelenggarakan kurikulum pendidikan murni pesantren

dengan menekankan bahasa Arab dan hafalan al-Quran, yang

dipadukan dengan kurikulum negara.

Kurikulum pendidikan di pesantren Islam al-Irsyad

Salatiga dilihat sangat unik dikarenakan mampu dengan baik

menyelanggarakan kurikulum pesantren secara inegratif dan


106

simultan. Kurikulum pesantren yang digunakanpun tidak lazim

sebagaimana kurikulum pesantren tradisional maupun

pesantren modern lainnya yang ada di tanah air. Pesantren ini

mengadopsi berbagai kurikulum yang diterapkan di perguruan

tinggi dan lembaga pendidikan di Timur Tengah, khusunya

banyak mengadopsi kurikulum LIPIA Jakarta (cabang

Universitas Ibnu Su’ud Riyadh Saudi Arabia), Universitas

Islam Madinah dan al-Azhar.

Termasuk kurikulum yang diterapkan di program

Syu’bah Lughah adalah kurikulum Silsilah yang merupakan

kurikulum universitas Ibnu Su’ud Riyadh yang diperuntukkan

bagi mahasiswa non Arab sebelum mereka mengenyam dan

mendalami ilmu bahasa dan syari’at lebih jauh di tingkat

universitas. Oleh karena itu, pesantren al-Irsyad mencoba

menerapkannya ke dalam kurikulum pesantren yang nota bene

sangat jauh berbeda dengan dengan universitas Ibnu Su’ud.

Untuk mengetahui sejauh mana efektifitas sebuah

kurikulum diterapkan di sebuah lembaga maka peneliti

mengujinya dengan menfokuskan pembahasannya pada dua

komponen pokok sebuah kurikulum, yaitu materi

pelajaran/kontens dan metode pengajarannya.

Ralph W. Tyler dalam bukunya Basic Principles of

Curikulum and Instruction (1949) sebagaimana dikutip


107

Nasution, A. (2001: 11) menegaskan bahwa komponen

terpenting dalam sebuah kurikulum adalah sesuatu yang

diberikan kepada anak didik dalam kegiatan belajar mengajar

dalam mencapai tujuan pembelajaran, berupa materi pelajaran.

Materi pelajaran adalah sebuah isi yang sangat esensial dalam

sebuah kurikulum berupa bidang studi-bidang studi.

1. Materi Pelajaran

Materi pelajaran Silsilah berupa buku-buku pelajaran

yang sudah disusun dan dirancang sedemikian rupa, sesuai

dengan jenjang dan kemampuan siswa, serta alokasi waktu

yang terencana pula.

Menurut Syafruddin (2005:101) untuk menguji

efektifitas sebuah buku pelajaran ada tiga standar yang

harus dipenuhi ; a) kelengkapannnya, b) kejelasan

organisasinya, dan c) ketepatan urutannya.

a. Kelengkapannnya.

Sebagaimana diungkapkan al-Hamid (1999)

ketercapaian tujuan dalam penerapan kurikulum Silsilah

adalah dipenuhinya syarat. Salah satunya adalah

kelengkapan buku pelajaran. Kurikulum Silsilah berupa

buku pelajaran yang berjumlah 33 buah buku khusus

bagi siswa di tambah 4 buku khath, 5 buah buku

pedoman bagi guru, yang terdiri dari 1 petunjuk materi


108

agama, dan 4 materi bahasa, dan 8 buah kamus, empat

buah untuk empat semester, di setiap semerter satu

kamus. Satu kamus berupa kamus bahasa Arab, satu

kamus untuk ilmu agama Islam, satu kamus umum

sesuai urutan huruf hijaiyah dan satu kamus lagi adalah

kamus khusus sesuai makna.

Sedangkan buku pelajaran Silsilah yang

diterapkan di pesantren al-Irsyad Salatiga hanya

berjumlah 20 buah, sebagian materi diganti dan

ditambah materi-materi pelajaran yang lain. Penggantian

materi terjadi pada materi kebahasaan yaitu ta’bīr yang

menggunakan buku pegangan yang lain yaitu

al-’Arabiyyah li an-Nāsyiīn, yang digunakan dalam

semua semester. Padahal di kurikulum Silsilah sendiri

telah ada buku pelajaran ta’bīr di setiap jenjangnya.

Dalam materi pelajaran `ulūm syar’iyyah juga

dilakukan penggantian buku pegangan pelajaran, yang

semestinya di dalam Silsilah-pun telah ada, seperti

materi fikih diganti dengan menggunakan buku Taisīr

al-Fiqh, materi akidah menggunakan buku Nubdzah fi

al-Aqīdah dan al-Qaul as-Sadīd, materi hadits

menggunakan Matan Arba’īn.


109

Penambahan materi juga terjadi pada ulūm

syar’iyyah yang tidak pokok, berupa materi pelajaran

akhlak, ilmu hadits, ushul fikih, ulumul Quran, faraidh,

fikih dakwah serta adanya penambahan pelajaran

teknologi yaitu komputer (al-Khuthah ad-Dirāsiyyah li

Syu’bah al-Lughah).

Kesemua materi pelajaran tambahan ini tidak

ditemukan di Silsilah, maka dapat penulis analisa bahwa

kelengkapan buku pelajaran Silsilah di program Syu’bah

Lughah - yang menjadi salah satu tolak ukur

keberhasilan dalam implementasi sebuah kurikulum

ideal - tidak dipenuhui oleh pesantren ini. Demikian

pula dengan terjadinya penggantian buku pegangan

pelajaran, dari Silsilah ke non Silsilah adalah merupakan

sebuah indikasi adanya ketidak konsistenan antara

konsep ideal yang ada di Silsilah dengan implementasi

yang ada di pesantren al-Irsyad Salatiga. Dari buku-

buku lain selain buku bahan ajar yang berjumlah 37,

seperti buku pegangan bagi guru dan kamus, juga tidak

dipenuhi oleh pesantren ini. Maka dari telaah tentang

kelengkapan buku bahan ajar Silsilah di pesantren al-

Irsyad Salatiga tidak sesuai dengan konsep ideal buku

bahan ajar Silsilah.


110

Tidak konsistennya sebuah kurikulum ideal

dengan implementasinya di lapangan mengindikasikan

adanya inovasi kurikulum yang disebabkan oleh

adanya realitas di lapangan yang berbeda dengan konsep

ideal. Peralihan sebuah kurikulum konseptual menjadi

sebuah kurikulum yang aktual, terjadi pada kurikulum

Silsilah yang diterapkan di pesantren Islam al-Irsyad

Salatiga.

Nana Sujdana (2004: 47) menegaskan inovasi

sebuah kurikulum mutlak dilakukan apabila terjadi di

lapangan hal-hal sebagai berikut : 1) kurang adanya

relevansi kurikulum ideal dengan tujuan institusional

lembaga, 2) kurang adanya kesesuaian dengan tingkat

kemampuan dan perkembangan siswa, 3) adanya

penyesuaian dengan kebutuhan masyarakat, dan 4)

adanya penyesuaian dengan jumlah waktu yang tersedia.

1. Kurang adanya relevansi kurikulum ideal

terhadap tujuan institusional lembaga.

Salah satu tujuan instruksional umum maupun

tujuan instruksional khusus pesantren al-Irsyad

adalah mengacu pada kemampuan siswa dalam

bidang bahasa Arab secara mapan dan

penguasaan ilmu-ilmu syari’at secara


111

mendalam (Dalil Ma’had). Maka sangat

relevan kalau pesantren ini mengadakan

penambahan beberapa materi pelajaran syari’at

sebagai sebuah pengembangan guna

ketercapaian tujuan yang telah dirumuskan

pesantren. Hal ini berbeda dengan konsep ideal

yang digariskan dalam tujuan instruksional

Silsilah yang memiliki tujuan penguasaan

bahasa Arab secara sempurna dan penguasaan

dasar ilmu-ilmu syari’at, sebagai persiapan

untuk mendalami ilmu bahasa Arab dan syari’at

di tingkat perguruan tinggi. Berbeda dengan

pesantren al-Irsyad yang melakukan

penambahan dan perubahan dalam beberapa

materi pelajaran syari’at sebagai pembekalan

para siswa dalam mendalami ilmu-ilmu syari’at

di pesantren. Artinya, ilmu syari’at sudah harus

dikuasai dan didalami siswa sebelum siswa

meninggalkan pesantren.

2. Kurang adanya kesesuaian dengan tingkat

kemampuan dan perkembangan siswa.

Relevansi kurikulum dengan kemampuan siswa

menjadi sangat penting sekali untuk


112

menetapkan isi kurikulum. Untuk itu, perlu

dijadikan sabagai salah satu dasar dalam

mendesain sebuah kurikulum (Nana Sujana:

223).

Kurikulum Silsilah dalam sasaran idealnya di

terapkan pada mahasiswa yang telah melalui

kualifikasi testing dari berbagai komponen

materi bahasa Arab (komponen dasar, keahlian

dan pengembangan) sehingga idealnya Silsilah

diterapkan bagi siswa yang telah memiliki

kompetensi yang seragam dalam bidang ilmu

kebahasaan seperti komponen dasar yang terdiri

dari ashwat, mufradāt dan tarākīb, materi

keahlian berupa qirāah, kitābah, kalām dan

istimā’ serta materi pengembangan berupa

nahwu, sharaf, balāghah dan Adab

Berbeda dengan penerapannya di pesantren al-

Irsyad, Silsilah diterapkan di program Syu’bah

Lughah yang sasaran peserta didiknya adalah

siswa lulusan setingkat SLTA dari luar

pesantren yang mana mereka memiliki latar

belakang kemampuan bahasa yang relatif

berbeda satu dengan yang lainnya, serta tidak


113

melalui kualifikasi yang ketat. Selain itu,

mereka juga memiliki motifasi yang berbeda

pula dalam belajar di program ini, sehingga

sangat logis bila pesantren mengadakan

penyesuaian kurikulum yang diseimbangkan

dengan kemampuan peserta didik

3. Adanya penyesuaian dengan kebutuhan

masyarakat.

Salah satu tujuan mulia didirikannya pesantren

Islam al-Irsyad Salatiga adalah menyiapkan

para da’i dan muballigh yang membawa

manhaj yang benar, yang mengetahui kondisi

umat dan problematikanya. Dengan adanya

tujuan mulia ini, dimana masyarakat menjadi

salah satu obyek sasaran dakwah, sudah tentu

pesantren ini mengetahui dengan benar apa

yang menjadi tuntutan masyarakat. Sehingga

dengan demikian masyarakat menjadi salah

satu tolak ukur didesainnya sebuah kurikulum.

Apapun baiknya sebuah kurikulum apabila

tidak mengetahui dan memenuhi kebutuhan

masyarakat, maka kurikulum menjadi tidak

bermakna (Nana Shaodiyah, 1999:33).


114

Apa lagi apabila pesantren ini sudah

memplokamirkan dirinya sebagai pencetak

da’i-da’i Islam yang mampu memecahkan

problematika umat, maka pemambahan materi

pelajaran fikih dakwah manjadi mutlak di

perlukan. Selain itu pula diperlukannya latihan-

latihan praktis dakwah lapangan dengan

menugaskan beberapa siswa berdakwah di

berbagai daerah.

4. Adanya peyesuaian dengan jumlah waktu yang

tersedia.

Isi kurikulum seringkali terlalu banyak

sehingga sukar untuk dapat diselesaikan dengan

baik dalam waktu yang tersedia. Sebagai

akibatnya para siswa hanya mampu memahami

serba sedidkit tentang apa yang telah diajarkan,

karena masing-masing pokok bahasan diajarkan

dengan cepat untuk berpacu dengan waktu

(Ibid: 224). Hal ini berbeda dengan waktu yang

ditempuh dalam pembelajaran Silsilah di

Syu’bah Lughah, dalam setiap pertemuan 40

menit, dalam sehari 8-10 kali pertemuan,

dengan hari efektif belajar selama 6 hari,


115

sehingga dalam seminggu siswa dapat belajar

48-60 kali pertemuan.

Kelonggaran waktu yang dimiliki pesantren

menjadikan pesantren dapat melakukan

penyesuaian, penambahan dan atau bahkan

melakukan perubahan pada kurikulum baku

yang ada di Silsilah. Dimana kurikulum ideal

Silsilah hanya diterapkan dalam lima

pertemuan sehari, dengan lima hari efektif

belajar dalam seminggu. Sehingga waktu yang

relatif banyak yang dimiliki pesantren

dimanfaatkan untuk menambah materi

pelajaran.

b. Kejelasan organisasinya

Kejelasan organisasi sebuah bahan ajar/kontens

dengan menyesuaikan waktu dan tingkat kemampuan

siswa adalah sebuah kriteria yang harus dipenuhi dalam

sebuah kurikulum. Dengan kriteria ini dimaksudkan

bahwa tujuan-tujuan pendidikan setiap bidang studi

hendaknya tersusun sedimikian rupa sehingga jelas

tujuan-tujuan mana yang ingin dicapai pada setiap

tingkatan tertentu (Sudjana, 2004: 222).


116

Pada semester pertama, materi kurikulum

Silsilah yang diterapkan di program Syu’bah Lughah

berjumlah 12 mata pelajaran, sedangkan kurikulum ideal

Silsilah hanyalah 5 mata pelajaran (Khutthah

Dirāsiyyah). Jadi, terjadi penambahan 7 materi

pelajaran, yaitu; tauhid, nahwu, sharaf, fikih, hadits,

tafsir dan komputer, yang mana di kurikulum ideal

Silsilah tidak diajarkan.

Pada semester kedua, materi kurikulum yang

diterapkan berjumlah 12 mata pelajaran, sedangkan

kurikulum ideal Silsilah hanyalah 8 mata pelajaran. Jadi,

terjadi penambahan 4 materi pelajaran, yaitu; tauhid,

nahwu, fikih, tafsir dan komputer, yang mana di

kurikulum ideal Silsilah belum diajarkan.

Dari penambahan beberapa materi pelajaran

(terutama beberapa materi syari’at) di semester pertama

dan kedua ini dapat diinterpretasikan bahwa pesantren

ingin mencetak siswa yang matang dalam ilmu bahasa

dan syari’at sejak dini, sesuai dengan tujuan, visi dan

misi pesantren. Demikian pula dengan penambahan

materi pelajaran tentang pengenalan teknologi komputer,

merupakan upaya pesantren ini dalam rangka


117

mempersiapkan generasi yang siap dalam menghadapi

kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan.

Pada semester ketiga mata pelajaran berjumlah

17, sedangkan kurikulum ideal Silsilah hanyalah 11

mata pelajaran. Penambahan materi pelajaran terjadi

pada 5 materi syari’at, berupa musthalah hadits, ulumul

Quran, faraidh, fikih dakwah, akhlak dan 1 pelajaran

teknologi berupa komputer.

Demikian pula pada semester keempat, mata

pelajaran berjumlah 19, sedangkan penerapan ideal

Silsilah hanyalah 13 mata pelajaran. Penambahan mata

pelajaran terjadi pada 5 materi syari’at, berupa

musthalah hadist, ulumul Quran, faraidh, fikih dakwah,

akhlak dan 1 pelajaran teknologi berupa komputer.

Penambahan beberapa materi pelajaran syari’at

yang sebenarnya bukan materi pokok dalam Silsilah dan

bukan menjadi target kurikulum ini, (dimana ciri

kurikulum Silsilah adalah keterpaduan antara materi

bahasa dan syari’at dalam tingkat dasar), adalah

merupakan inovasi pesantren dalam rangka meramu dan

mendesain kurikulum yang sesuai dengan tingkat

kemampuan siswa serta dalam rangka memenuhi

kebutuhan masyarakat. Hal ini dapat diartikan bahwa,


118

pesantren ini memiliki target dan tujuan, diantaranya

adalah bahwa siswa lulusan program Syu’bah Lughah

sudah harus memiliki kemampuan yang matang

dibidang ilmu syari’at, karena materi-materi syari’at

tambahan merupakan materi pendalaman yang

seharusnya ada di tingkat perguruan tinggi.

c. Ketepatan urutannya

Menelaah urutan bahan ajar dengan

menyesuaikan tingkatan/kelas, tujuan pembelajaran,

serta kemampuan siswa sesuai dengan kurikulum ideal

adalah salah satu bentuk uji efektifitas sebuah

kurikulum. (Ibid)

Pada semester pertama kurikulum ideal Silsilah

adalah 5 buah buku pelajaran, terdiri dari satu materi

agama berupa materi al-Quran, dan empat materi

bahasa, berupa kitāb ash-shuwar, al-qirāah dan al-

kitābah, at-ta’bīr dan al-khath. Sementara dalam

implementasinya di pesantren al-Irsyad kurikulum

Silsilah digabungkan dengan kurikulum lain, sehingga

pada semester pertama saja mata pelajaran yang harus

diselesaikan menjadi 12 mata pelajaran. Penambahan

terjadi pada materi pengembangan bahasa berupa nahwu

dan sharaf serta materi-materi syari’at berupa hadits,


119

fikih, akhlak dan akidah, dan ditambah satu materi

komputer.

Yang menjadi problem adalah bahwa terjadinya

ketidak urutan materi pelajaran sesuai dengan konsep

ideal kurikulum. Yaitu penempatan bidang setudi nahwu

dan sharaf pada semester pertama ini, dimana

seharusnya nahwu dan sharaf mulai diajarkan pada

semester kedua. Jadi materi nahwu dan sharaf yang

seharusnya diselesaikan dalam tiga semester, di program

Syu’bah Lughah ini diselesaikan dalam empat semester.

Demikian pula terjadi pada materi syari’at, dimana pada

semester ini seharusnya hanya satu materi syari’at yang

diajarkan berupa tafsir, namun pada relitasnya penerapan

Silsilah di program Syu’bah Lughah ditambah 3 materi,

berupa fikih, hadits, dan akidah. Disisi lain buku

pegangan yang di pakai dalam pembelajaran tidak

menggunakan Silsilah namun menggunakan kurikulum

yang lain, akidah menggunakan buku al-Qaul as-Sadīd,

fikih menggunakan Taisīr al-Fiqh, dan hadits

menggunakan matan al-’Arba’īn an-Nawawiyyah.

Demikian pula perubahan terjadi pada materi

bahasa, khususnya pada materi ta’bīr, dimana buku

Silsilah at-Ta’bīr tidak digunakan dalam pembelajaran,


120

dengan diganti menggunakan al-‘Arabiyyah li an-

Nāsyi’īn. Penggantian terjadi pada semua semester.

Pada semester kedua, problem yang terjadi

hampir sama dengan apa yang terjadi pada semester

pertama. Hanya saja pada materi hadits, pada semester

ini sudah menggunakan Silsilah.

Pada semester ketiga dan keempat ketidak

urutan terjadi pada materi pelajaran khath dan adab.

Kurikulum konseptual Silsilah materi khath harus

diajarkan disemua semester, sedangkan dalam

implementasinya pada semester ketiga dan keempat

tidak diajarkan lagi. Demikian pula pada materi adab,

yang seharusnya di kedua semester ini diajarkan malah

tidak diajarkan sama sekali.

Dari telaah ini, ketidak urutan bahan ajar

terjadi, yang disebabkan oleh beberpa faktor :

a. Adanya tujuan institusional pesantren yang

menggariskan adanya pencetakan tenaga

pengajar profesional di bidang ilmu agama

Islam dan bahasa Arab, yang akhirnya

berimplikasi pada ketidak urutan

materi/bahan ajar. Karena fungsi bidang

studi yang diajarkan adalah dalam rangka


121

pencapaian tujuan institusional sebuah

lembaga. (Nana:221)

b. Kompetensi siswa yang belajar di program

ini adalah para lulusan SLTA dari luar

pesantren. Yang mana mereka memiliki latar

belakang kemampuan yang berbeda-beda,

serta orentasi pemikiran bahwa belajar di

program Syu’bah Lughah adalah belajar di

jenjang perguruan tinggi.

Apabila dikomparasikan dengan kurikulum

bahasa Arab yang ada di I’dād Mu’allimīn, maka

kurikulum Silsilah (sebagai sebuah kurikulum bahasa

Arab) yang diterapkan di program Syu’bah Lughah

lebih komprehansif dan lengkap, dimana materi-

materi kebahasaan (ulūm lughawiyyah) yang

diajarkan mencakup semua, baik materi dasar

kebahasaan berupa mufradāt, tarākīb dan ashwāt,

materi mahārāt al-lughah, berupa qirāah, kitābah,

kalām dan istimā’. Demikian pula dengan materi

pengembangan bahasa seperti nahwu, sharaf,

balāghah, adab dan tsaqāfah Islāmiyyah. Sedangkan

di program I’dād Mu’allimīn materi kebahasaan

hanya diajarkan materi-materi pengembangan bahasa


122

saja. Sedangkan materi-materi syari’at (ulūm

syari’yyah) memiliki kelengkapan dan bobot yang

sama dengan materi syari’at yang ada di program

I’dād Mu’allimīn, yang membedakan hanyalah buku-

buku pegangan yang dipakai.

Perbedaan lain juga tampak pada materi

pelajaran program I’dād Mu’allimīn yang dipadukan

dengan kurikulum Departemen Agama, sehingga

menimbulkan konsekuensi logis dengan

terkuranginya jam pelajaran materi-materi pelajaran

syari’at maupun bahasa, sementara waktu yang

disediakan dalam sehari maupun perminggu sama

dengan program Syu’bah Lughah (KTSP MA al-

Irsyad Salatiga).

b. Metode Pengajaran

William F. Mackey dalam Language Teaching

Analysis (1956) sebagaimana dinukil Mulyanto Sumardi

(1990) mengatakan dalam pengajaran bahasa salah satu

segi yang sering disorot orang adalah segi metode.

Sukses tidaknya suatu kurikulum bahasa asing sering

kali dinilai dari segi metode yang digunakan, sebab

metodelah yang menentukan isi dan cara mengajarkan

bahasa.
123

Metode pengajaran yang penulis maksudkan

adalah metode yang bersifat implementatif dalam proses

belajar mengajar, atau dalam istilah Mulyanto Sumardi

disebut teknik pengajaran.

Menurut Nana Sujana (2004:229) untuk menilai

efektif tidaknya sebuah proses pembelajaran harus

menggunakan sejumlah kriteria; 1) konsistensinya

kegiatan pembelajaran dengan apa yang ada di buku dan

program pengajaran, 2) keterlaksanaan pembelajaran

oleh guru, dan 3) keterlaksanaan oleh siswa.

1. Konsistensinya kegiatan pembelajaran dengan apa

yang ada di buku dan program pengajaran.

Disetiap aspek pembelajaran yang berlangsung,

kesesuaian dengan apa yang telah direncanakan

dalam buku program pengajaran menjadi sesuatu

yang sangat urgent. Urgensitas ini dimaksudkan

untuk mendapatkan gambaran sejauh mana apa

yang telah direncanakan dapat dilaksanakan di

lapangan, dan sebagai salah satu tolak ukur efektif

tidaknya sebuah metode pengajaran. Konsistensi

antara proses belajar mengajar dan rencana

kegiatan dalam buku/program yang penulis teliti


124

berupa cara/teknis dalam melaksanakan belajar

mengajar

Proses belajar mengajar/pengajaran Silsilah yang

dilaksanakan di program Syu’bah Lughah adalah

dengan menyesuaikan dan menggabungkan

kapasitas kemampuan siswa dengan konsep ideal

yang ada di Silsilah. Fokus kurikulum ideal

Silsilah lebih menekaankan pengayaan bahasa

yang menyatu dengan materi syari’at, sehingga

ada kesan materi syari’at menjadi materi bahasa,

begitu pula sebaliknya. Namun realitasnya,

penerapan Silsilah di program Syu’bah Lughah

tidak mengikuti konsep ideal yang diinginkan

Silsilah. Ini adalah indikasi kuat telah terjadi

inkonsistensi kegiatan pembelajaran di lapangan

dengan apa yang ada di buku dan program

pengajaran Silsilah. Inkonsistensi terjadi pada

materi nahwu, dimana proses pembelajarannya

ditekankan pada kaidah-kaidah nahwu semata.

Demikian pula dengan materi balāghah

penekanannya pada kaidah-kaidah balāghah. Hal

ini juga dilakukan pada pembelajaran materi

syari’at yang sudah tidak lagi menggunakan


125

pengayaan bahasa, hanya saja sesekali mufradāt

digunakan sebagai bahan bantuan ketika siswa

tidak memahami makna. Hal demikian juga

dilakukan pada pengajaran materi qirā’ah, fokus

pembelajaranya pada pelajaran muthāla’ah, dengan

teknik bagaimana siswa mampu memahami dan

menyimpulkan apa yang menjadi tema bacaan.

Disamping itu pengayaan mufradāt hanya untuk

membangkitkan kemampuan bacaan siswa tidak

sampai pada hal yang lebih jauh dari itu. Teknis

pengajarannya dimulai dengan menanyakan

mufradāt yang sulit, kemudian siswa membaca.

Padahal dalam pembelajaran qirāah idealnya

adalah dengan membaca teks oleh siswa, dimulai

dari jumlah (kalimat) yang pendek sampai dengan

kalimat yang panjang dan berbelit. Kemudian

dilanjutkan dengan latihan-latihan yang bertujuan

untuk mengetahui tingkat kefahaman dan

penguasaan materi siswa. Latihan itu berupa kosa

kata yang terdiri dari sinonim (murādif), antonim

(mudhāddah), penyusunan dan penggunaan kosa

kata dalam redaksi yang sesuai dengan kaidah

kebahasaan. Dan yang terakhir adalah latihan-


126

latihan pembiasaan dalam mengungkapkan bahasa

secara bebas.

Disisi lain, konsistensi terjadi pada materi ta’bīr,

dimana komponen mahārāt al-lughah mendapatkan

porsi pengayaan secara khusus, maka teknis

pembelajarannya pakem dengan apa yang di buku.

Untuk mengukur kemampuan dan penguasaan

siswa pada materi pelajaran dengan menyelesaikan

semua tamrīnāt yang ada di setiap buku, kemudian

dilakukan dengan cara memberikan tugas untuk

mempelajari sebuah judul kemudian dituangkan

dalam bentuk sebuah tema yang ditulis sesuai

dengan kemampuan siswa. Namun, sebagaimana

penulis telaah sebelumnya bahwa materi ta’bīr

tidak menggunakan buku Silsilah, akan tetapi

menggunakan al-’Arabiyyah li an-Nāsyiīn, yang

merupakan kurikulum bahasa Arab yang berbeda

dengan Silsilah dalam konsep dan tujuannya. Maka

inkonsistensi terjadi bukan pada aspek metodologis

namun pada aspek kontens (materi pelajaran).

2. Keterlaksanaan pembelajaran oleh guru

Ukuran lain efektifitas sebuah metode pengajaran

adalah adanya aktualisasi kurikulum ideal oleh


127

implementator. Guru adalah implementator sebuah

kurikulum. Sebuah kurikulum tidak memiliki

makna apa-apa apabila belum teraktualisaikan

menjadi kurikulum aktual (real). Dari sinilah peran

dan fungsi pengajar sangat penting, karena melalui

jamahan tangannyalah kurikulum itu baru

mempunyai makna dan arti yang sesungguhnya.

(Syafruddin, 2005: 75). Dalam melaksanakan

pembelajaran, guru harus mempunyai dan

menetapkan sebuah cara (metode) yang dapat

memberikan jaminan tertingi akan tercapainya

tujuan dengan sebaik-baiknya (ibid: 93). Maka

demi terlaksananya sebuah pembelajaran metode

mangajar harus mempertimbangkan tujuan

pembelajaran, kemampuan siswa, sesuai dengan

lingkungan, dan harus terkordinasi dengan baik

(Embo, 1983: 183).

Mengacu pada konsep ini maka peneliti melihat

realitas yang tidak berbeda pada proses

pembelajaran Silsilah yang dilaksanakan oleh para

staf pengajar di pesantren al-Irsyad. Dimana

pertimbangan aspek tujuan pembelajaran dan

kemampuan siswa menjadi dasar pijakan dalam


128

pengajaran. Hal ini bisa dilihat dari realitas

pelaksanaan pembelajaran oleh guru yang selalu

mengedepankan bagaimana siswa mampu

menguasi bahan ajar dengan baik dengan tidak

memaksakan kehendak, melayani dengan penuh

perhatian, menuntun satu persatu siswa apabila

mengalami kesulitan. Pertimbangan lain adalah

aspek lingkungan, dimana guru selalu menekankan

pada siswanya agar menjadi siswa yang berguna di

masyarakat, dengan menjadi para juru dakwah,

guru dan profesi lain yang sangat dibutuhkan oleh

masyarakat dewasa ini. Guru menekankan pada

muridnya bagaimana beradaptasi dengan

lingkungan dengan cara memberi tuntunan praktis

dalam lingkungan pesantren, cara berbicara,

berpakaian dan bergaul dengan lingkungan sekitar.

Aspek lain yang tak kalah pentingnya adalah

pengorganisasian bahan pengajaran oleh para staf

pengajar. Dalam hal yang satu ini, pesantren al-

Irsyad Salatiga sangat komitmen dan detail sekali,

dimana mata pelajaran telah disusun sedemikian

rupa, sesuai dengan tingkat dan kemampuan siswa.

Rencana pembelajaran, jadwal pelajaran


129

persemester, target perolehan materi, target

kemampuan siswa, buku-buku pelajaran telah

disusun dengan baik dan terlaksana dengan

seksama. Dalam masalah evaluasi pembelajaran,

guru juga selalu menjalankannya dengan baik,

yaitu evaluasi bulanan, triwulan dan evaluasi

persemester.

Penilaian terhadap keterlaksanaan pembelajaran

oleh para guru dapat dilihat pula dari kedisiplinan

oleh para staf kantor dan guru yang selalu tepat

waktu. Hampir tidak ditemukan absen ketidak

hadiran guru maupun staf, kecuali halangan yang

bersifat syar’i. Padahal jadwal pengajaran

berlangsung mulai jam 7.00 sampai jam 15.00.

Penilaian ini dapat dilihat dari aktifitas para guru

dengan memuali pengajaran tepat waktu,

meneruskan pengajaran sampai habis waktu yang

dialokasikan, menghindari penundaan waktu yang

tidak diperlukan selama pengajaran berlagsung,

dan menghindari topik yang tidak diperlukan.

Semua ini membuktikan adanya pengorganisasian

yang baik dalam pembelajaran.

3. Keterlaksanaan oleh siswa


130

Ukuran lain dalam menilai keefektifan sebuah

metode/teknik pengajaran adalah adanya

keterlaksaan oleh siswa. Sebagaimana dikatakan

Syafruddin sebaik apapun sebuah metode apabila

tidak terlaksana oleh siswa, maka manjadi tidak

bermakna. Hal ini dapat dilihat dari dua sisi; a)

pola interaksi dengan guru, dan b) kualitas

bimbingan individual yang diberikan kepada siswa.

a. Pola interaksi siswa dengan guru.

Dalam pembelajaran Silsilah di Syu’bah

Lughah guru selalu memberikan kesempatan

kepada siswa untuk selalu berpartisipasi, hal

ini dibuktikan dengan adanya kesempatan

yang selalu diberikan kepada siswa untuk

selalu memberikan tanggapan terhadap

komentar guru. Kesempatan juga diberikan

kepada siswa agar berbicara dengan sesama

teman untuk mengungkapkan ide masing-

masing.

Pola interaksi juga berlangsung dengan baik

dengan adanya pemeliharaan yang dilakukan

oleh setiap guru mata pelajaran dengan cara;

1) menyediakan lembar kerja bagi setiap


131

siswa, 2) mengajukan banyak pertanyaan, 3)

mengadakan simulai dan permainan peranan,

dan 4) membantu siswa berfikir kritis

memecahkan masalah.

b. Kualitas bimbingan individual yang

diberikan kepada siswa.

Setiap siswa memiliki karasteristik yang

berbeda-beda, maka dalam proses belajar

mengajar diperlukan pola bimbingan

individual oleh setiap guru. Pola bimbingan

yang dilakukan oleh para guru pengampu

Silsilah di pesantren al-Irsyad adalah dengan

cara :

1) Memberikan motivasi kepada siswa

agar tertarik mengukuti pelajaran di

kelas,

2) Memberikan acuan struktur materi

pembelajaran,

3) Mengunakan minat siswa sebagai

peranta dalam kegiatan baru,

4) menggugah minat siswa, dan

5) Mambantu siswa agar mengerti apa

yang akan mereka capai.


132

Dari dua penilaian ini (pola interaksi siswa

dan bimbingan individual) keterlaksaan

pembelajaran oleh siswa sangat baik dan

terukur.

c. Indikator keberhasilan Implementasi Kurikulum Silsilah di

Pesantren al-Irsyad.

Keberhasilan implementasi sebuah kurikulum dapat diukur

dengan dua indikator; 1) ketercapaian tujuan pembelajaran, dan 2)

faktor pendukung. Kedua indikator inilah yang penulis jadikan

tolak ukur dalam menganalisa indikator keberhasilan implementasi

kurikulum Silsilah di pesantren al-Irsyad Salatiga.

1. Ketercapaian Tujuan Pembelajaran

Salah satu yang dapat dijadikan indikator

keberhasilan penerapan kurikulum adalah hasil-hasil yang

dicapai oleh upaya suatu program pendidikan. Hasil yang

dicapai ini ada yang mengacu pada ketercapaian tujuan

jangka pendek, dan ada pula yang mengacu pada

ketercapaian tujuan jangka panjang.

a. Ketercapaian tujuan jangka pendek .

Ketercapaian tujuan jangka pendek dinilai dari

tingkat penguasaan terhadap tujuan-tujuan khusus

yang ingin dicapai dalam unit-unit program


133

pengajaran yang relatif terbatas. Biasanya penilaian

lebih dititik beratkan pada kemampuan kognitif pada

taraf pengetahuan dan pemahaman. (Nana Sujdana:

232)

Penilaian ketercapaian tujuan pembelajaran jangka

pendek penulis ambil dari hasil ujian siswa, yang

secara garis besar penilaian difokuskan pada dua

materi pembelajaran, materi bahasa Arab dan materi

pelajaran ilmu syari’at. Penilaian dilakukan dengan

menganalisa hasil ujian dengan prosentase nilai rata-

rata permateri pelajaran yang di kuasai seluruh siswa

dan nilai rata-rata siswa dalam menguasai seluruh

mata pelajaran (rata-rata kelas).

Dari 21 siswa program Syu’bah Lughah yang penulis

jadikan sampel dalam penelitian ini, nilai rata-rata

materi bahasa Arab adalah baik sekali (jayyid jiddan)

dengan nilai terendah 80,3 dan terttinggi 87,3. Nilai

terendah terjadi pada mata pelajaran adab dan

tertinggi pada mata pelajaran sharaf. Sedangkan

materi pelajaran ulūm syar’iyyah nilai yang di

peroleh siswa antara baik (jayyid) dan (mumtāz),

dengan rata-rata nilai terendah 70,3 dan nilai

tertinggi 92. Nilai terendah terjadi pada mata


134

pelajaran fikih dakwah, sedangkan nilai tertinggi

terjadi pada materi akhlak.

Sedangkan pada nilai rata-rata siswa dalam

penguasaan semua materi pelajaran (rata-rata kelas),

nilai terendah adalah 70 (jayyid) dan tertinggi adalah

93,8 (mumtāz). Nilai terendah diperoleh oleh siswa

bernama Bantang Laili Saputra, dan nilai tertinggi

diperoleh oleh siswa bernama Fathi Fauzi. Nilai

rata-rata mata pelajaran yang dikuasai semua siswa,

baik materi bahasa maupun materi syari’at, demikian

pula dengan nilai rata-rata siswa dalam menguasai

semua mata pelajaran melebihi setandar terendah

yang ditetapkan pesantren. Dimana pesantren

menetapkan nilai ketidak lulusan siswa apabila siswa

mendapatkan nilai rendah dengan rata-rata 5,5

kebawah, dan nilai 5,6 adalah nilai terendah

kelulusan. Dan nilai murni siswa tidak ada yang

mendapatkan nilai rendah di bawah 55.

Semua temuan ini mengintrepetasikan bahwa nilai

yang diperoleh siswa sudah melebihi setandar

terendah kelulusan yang ditetapkan pesantren yaitu

5,6, hal ini mengindikasikan adanya ketercapaian

tujuan pembelajaran jangka pendek, sesuai dengan


135

apa yang telah di targetkan pesantren dengan hasil

cukup signifikan.

Sementara hasil pembelajaran yang ada di program

I’dād Mu’allimīn dari 25 siswa yang penulis jadikan

sampel penelitian, nilai rata-rata terendah materi

bahasa Arab yang diperoleh siswa adalah 83 (jayyid

jiddan) dan nilai rata-rata tertinggi 92 (mumtāz).

Nilai rata-rata terendah terjadi pada mata pelajaran

balāghah dan nilai rata-rata tertinggi terjadi pada

mata pelajaran adab. Sedangkan materi ulūm

syar’iyyah, nilai rata-rata terendah 75 (jayyid) dan

tertinggi rata-rata 95 (mumtāz). Nilai rata-rata

terendah terjadi pada mata pelajaran farāidh dan

tertingi terjadi pada mata pelajaran tahfīzh.

Sedangkan nilai rata-rata kelas siswa terendah adalah

74,3 dan tertinggi adalah 94,6. Terendah diperoleh

oleh siswa M. Shobahurrizki dan tertinggi diperoleh

oleh siswa bernama Zaki.

Apa dibandingkan hasil nilai pembelajaran dari

kedua program (Syubah Lughah dan Idād

Mu’allimīn) tidak ada perbedaan yang begitu

signifikan, karena keduanya memperoleh target

keberhasilan 100 % . Hanya saja terjadi keterpautan


136

nilai sedikit lebih tinggi pada program I’dād

Mu’allimīn, yaitu pada perolehan tertinggi pada mata

pelajaran bahasa Arab yaitu 9,2. Sedangkan pada

program Syu’bah Lughah nilai tertinggi hanya 87,3.

b. Ketercapaian tujuan jangka panjang

Ketercapaian tujuan jangka panjang yang penulis

maksudkan adalah ketercapaian tujuan-tujuan

instutusional pesantren, baik tujuan umum maupun

khusus..

Secara umum pesantren al-Irsyad memiliki banyak

tujuan, diantaranya :

1. Menyiapkan tenaga pengajar Islam dan bahasa

Arab bagi madrasah dan pesantren yang ada di

Indonesia.

2. Menyiapkan para da’i dan muballigh yang

membawa manhaj yang benar yang mengetahui

kondisi umat dan problematikanya.

3. Bergerak di bidang penyebaran akidah Ahl as-

Sunnah wa al-Jamā’ah, serta memerangi

kemusyrikan, kristenisasi, bid’ah, fanatik buta,

khurāfāt dan takhayyul yang menyebar di

masyarakat dengan cara baik dan bijaksana.


137

4. Mengadakan diklat dan program lainya dalam

pengajaran bahasa Arab dan agama Islam.

Pengiriman tenaga pengajar ke berbagai pesantren di

Indonesia telah dilakukan oleh pesantren Islam al-Irsyad

Salatiga, demikian pula penyebaran para para da’i di

berbagai daerah. Penyebaran faham akidah dilakukan

dengan membuat blok di internet, serta konsultasi

problematika umat, selain itu pula pesantren juga

menerbitkan banyak tulisan. Dalam penyelenggaraan

diklat, pesantren ini dalam tiap tahunnya mengadakan

diklat pengajaran bahasa Arab dan agama Islam, dengan

bekerja sama dengan berbagai instansi dalam maupun

luar negeri. Dari keempat tujuan tersebut, pesantren al-

Irsyad Salatiga telah mampu memenuhinya dengan

tingkat keberhasilan pelaksanaan 90%.

Secara khusus target yang ingin dicapai dari penerapan

Silsilah di program Syu’bah Lughah adalah sebagaiman

berikut:

1. Siswa mampu berbicara dengan fasih

menggunakan bahasa Arab baik, di pesantren

maupun di luar pesantren.

2. Siswa mampu memahami buku-buku berbahasa

Arab.
138

3. Siswa mampu menjadi mediator masyarakat

dalam memahami buku-buku dan teks

berbahasa Arab

Kemampuan berbicara siswa dengan menggunakan

bahasa Arab telah dicapai pesantren ini, dengan realitas

yang membuktikan dengan digunakannya bahasa Arab

sebagai bahasa pengantar dalam setiap aktifitas

pembelajaran, dengan tingkat penggunaan 95 %.

Demikian juga dengan bahasa aktifitas keseharian siswa,

dalam komunikasi dengan sesama teman maupun guru

di luar kelas yang selalu menggunakan bahasa Arab

dengan tanpa adanya kendala yang berarti. Dengan

adanya buku-buku pegangan serta koleksi buku-buku

perpustakaan yang kesemuanya menggunakan bahasa

Arab, siswa sudah terbiasa memahami isi kandungan

buku.

Sementara apabila di telaah dari teori ideal yang ada

di Silsilah maka akan di temukan bayak hal yang berbeda,

antara tujuan ideal Silsilah dan ketercapaian tujuan di

program Syu’bah Lughah pesantren Islam al-Irsyad

Salatiga. Perbedaan nampak pada tujuan ideal Silsilah yang

menekankan penguasaan ilmu kebahasaan baik ilmu tentang

komponen dasar, keahlian dan pengembangan bahasa, yang


139

diintegrasikan dengan ilmu-ilmu syari’at dasar. Sementara

tujuan pembelajaran Silsilah di pesantren Islam al-Irsyad

Salatiga sudah banyak dipengaruhi oleh tujuan instutusional

pesantren. Perbedaan yang paling menonjol adalah pada

tujuan pembelajaran materi syari’at, dimana pembelajaran

materi syari’at di program Syu’bah Lughah sudah mengarah

pada pendalaman materi syari’at yang sudah masuk pada

wilayah materi pengembangan, bukan lagi materi syari’at

dasar.

Selain ketercapaian tujuan pembelajaran di atas,

menurut taksonomi Bloom cs. sebagaimana dinukil

Syafruddin (2005: 102) ketercapaian tujuan pembelajaran

dapat di ukur dengan ranah pesikologi, yaitu ranah efektif,

kognitif dan psikomotor.

Ranah kognitif diukur dengan dua kriteria,

pengetahuan dan pemahaman siswa. Pengetahuan dapat

diketahui dengan bagaimana siswa memiliki kemampuan

untuk mengingat pelajaran yang sudah dipelajari. Uji

kemampuan ini dapat diketahui dari hasil evaluasi/tes yang

dilakaukan oleh setiap guru dalam ulangan harian, bulanan

dan semesteran. Hasil nilai akumulatif dari berbagai

ulangan telah menunjukkan hasil yang melebihi setandar

yang telah ditetapkan pesantren. Demikian pula dengan


140

pemahaman siswa, dimana para siswa mampu menafsirkan

dan menterjemahkan sebuah karya dari berbagai tipe dan

model yang ada di perpustakaan pesantren.

Ranah efektif dapat diketahui dengan kemampuan

siswa dalam menerima (receiving) sesuatu. Hal ini tampak

jelas antusiasme, kesediaan dan kemauan siswa program

Syu’bah Lughah untuk mengikuti kegiatan dalam kelas,

kesemangatan mereka dalam membaca buku. Selain itu,

perhatian siswa pada pelajaran tampak sekali saat proses

belajar mengajar, sehingga kesadaran, minat dan semangat

telah melekat dalam diri masing-masing siswa.

Kemampuan siswa dalam menjawab (responding) setiap

permasalahan, tampak jelas sekali mereka secara suka rela

membaca dengan tanpa ditugaskan, sehingga mereka dapat

memperoleh kenikmatan dan kegembiraan.

Ranah pesikomotor dapat diketahui dengan

ketrampilan berfikir siswa dalam memecahkan masalah. Hal

ini dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam mengamati

setiap tugas yang diberikan oleh guru, dan mampu

melaporkannya. Setiap tugas untuk membuat karya tulis

dengan referensi yang harus dicari sendiri di perpustakaan

dapat di penuhi oleh siswa. Tugas-tugas ini umunya

dilakukan untuk materi pelajaran insyā`.


141

2. Faktor Pendukung Pelaksanaan Kurikulum Silsilah

Pendukung pelaksaan sebuah kurikulum sangat

bergantung pada beberapa faktor; a) kompetensi guru, b)

kompetensi siswa, dan c) sarana pembelajaran

a. Kompetensi guru

Guru adalah ”the man behind the gun” dalam

implamentasi kurikulum. Nana Syaodiyah (1997)

mengatakan kurikulum aktual merupakan implementasi

dari kurikulum konseptual/ideal oleh guru di dalam

kelas. Betapapun bagusnya sebuah kerikulum

konseptual tetapi hasilnya sangat bergantung pada apa

yang dilakukan oleh guru di dalam kelas. Untuk itu,

menurut Nana Sujana, Muri Yusuf, A. dan Rahman

Natawidjaya, sebagaimana dinukil Syafruddin mereka

sama-sama mengatakan, ada dua aspek yang dapat

dijadikan penilaian dalam kompetensi guru; 1)

kompetensi personal, dan 2) kompetensi profesional.

1. Kompetensi personal.

Kompetensi personal (kepribadian) mutlak dimiliki

oleh setiap guru, karena guru adalah publik figur

yang sekaligus menjadi suri tauladan (qudwah

hasanah) bagi setiap siswa. Para staf pengajar

program Syu’bah Lughah, sebagaimana disebut di


142

atas adalah para lulusan perguruan tinggi yang

dianggap memiliki kredibilitas dan reputasi cukup

baik di mata publik, sehingga tidak ada keraguan

lagi tentang kompetensi personal mereka. Para staf

sebelum diterima menjadi guru di pesantren ini

diseleksi sedemikian ketat, bukan hanya aspek

formalitasnya akan tetapi aspek ideologi dan etika

menjadi pertimbangan tersendiri. Dalam realitas di

lapangan, kedisiplinan tampak sekali terasa,

dimana para guru selalu tepat waktu dalam setiap

aktifitasnya. Mereka selalu berada di barisan depan

dalam memberikan contoh bagi siswa-siwanya,

misalnya dalam shalat berjama’ah, berpakaian,

etika pergaulan, etika berbicara dan lain sebaginya.

Disamping itu juga kontrol terhadap prilaku dan

aktifitas setiap guru di pesantren ini tetap

dijalankan sehingga kredibilitas dan kapabilitas

setiap guru di pesantren ini dapat

dipertanggungjawabkan.

2. Kompetensi profesional

Salah satu indikator keberhasilan guru di dalam

pelaksanaan tugas adalah dapatnya guru itu

menjabarkan, memperluas, menciptakan relevansi


143

kurikulum dengan kebutuhan peserta didik dan

perkembangan ilmu pengetahuan. Dan yang lebih

penting lagi adalah mampu mewujudkan kurikulum

potensial menjadi kurikulum aktual melalui

perkuliahan di kelas. Hal ini memerlukan berbagai

keahlian dan ketrampilan profesional di dalam

pengimplementasiannya.(Syafruddin, 2005:68).

Dari sisi akademis, para staf pengajar di program

Syu’bah Lughah memiliki kompetensi yang cukup

potensial, dimana pengampu materi pelajaran

bahasa Arab dan ilmu-ilmu syari’at adalah lulusan

Universitas Islam Madinah, Universitas Islam

Kharthūm Sudan dan yang paling banyak lulusan

Universitas Ibnu Su’ud (LIPIA Jakarta). Hal ini

merupakan indikasi kuat bahawa kompetenasi

profesional dari sisi akademis dapat di penuhi oleh

pesantren ini. Disamping itu juga pesantren selalu

mengadakan rapat bulanan guna memantau kinerja

para guru, serta pelatihan-pelatihan guna

meningkatkan sumber daya manusia.

Dilain sisi, profesionalitas guru dapat diukur

dengan hal yang bersifat implementatif; a)


144

penguasaan bahan ajar, b) ketrampilan dalam

mengajar, dan c) ketrampilan dalam menilai.

a. Penguasaan bahan ajar.

Penguasaan bahan ajar merupakan kunci dari

seorang guru dalam mengajar. Dalam hal ini,

semua staf pengajar di program Syu’bah

Lughah memiliki kemampuan penguasaan

bahan ajar yang cukup memadai, dimana dalam

setiap pengajaran hampir tidak pernah

ditemukan kendala dan kesulitan yang berarti

oleh setiap guru. Hal ini dikarenakan semua

bahan ajar Silsilah maupun non Silsilah telah

mereka tempuh dan pelajari sewaktu mereka

belajar di perguruan-perguruan tinggi di atas.

b. Ketrampilan dalam mengajar.

Dalam proses belajar mengajar di kelas, para

staf pengajar Silsilah memiliki ketrampilan

yang cukup memadai, di mana para guru dalam

setiap pembelajarannya selalu konsisten

dengan keserasian kondisi belajar mengajar

yang diinginkan. Indikasi kuat ini dapat

dijumpai dalam realitas di lapangan dimana

para siswa memiliki minat belajar yang sangat


145

tinggi, partisipasi aktif dalam setiap pertemuan,

dan adanya perhatian yang serius pada

perbedaan kemampuan individu di antara siswa

dengan diberikannya bimbingan yang bersifat

individual.

c. Ketrampilan dalam menilai.

Guru profesional adalah guru yang mampu

menilai/mengevaluasi prestasi siswa. (Ibid: 79).

Dalam menilai prestasi siswa, para guru

pengampu Silsilah memiliki konsep dan standar

penilain yang jelas dan baku. Dimana evaluasi

dilakukan dengan mengunakan teknis harian,

bulanan dan semesteran. Evaluasi harian

dilakukan dengan memberi tugas kepada siswa

setiap selesai pembelajaran. Evaluasi bulanan

dilakukan setiap dua bulan sekali, dengan

memberikan tamrīnāt (ulangan) yang mencakup

semua pelajaran yang telah disampaikan. Dan

yang terakhir adalah evaluasi yang dilakukan

dalam tiap semester dengan mengadakan ujian

semester. Dari nilai harian, bulanan dan

semesteran diakumulasi menjadi nilai murni

siswa.
146

Ditinjau dari kompetensi para staf pengajar Silsilah

baik kompetensi personal maupun profesional,

menjadi salah satu faktor pendukung yang sangat

kuat bagi keterlaksanaan kurikulum Silsilah di

pesantren al-Irsyad Salatiga, karena mereka memiliki

kompetensi yang cukup memadai. Hal ini dapat

dijadikan sebagai salah satu indikator keberhasilan

dalam penerapan sebuah kurikulum.

b. Kompetensi siswa

Sebagaima disebutkan dalam bab sebelumnya,

bahwa program Syu’bah Lughah ini diperuntukan bagi

siswa lulusan tingkat SLTA dari luar pesantren, maka

siswa sebagai obyek dalam pendidikan menjadi kendala

tersendiri bagi keterlaksanaan kurikulum Silsilah.

Kendala itu muncul karena banyaknya siswa dari luar

pesantren yang memiliki latar belakang pendidikan yang

berbeda, serta memiliki kemampuan yang bervariasi

pula. Sehingga berdampak pada ke tidak disiplinnya

para siswa, karena mereka beranggapan bahwa belajar di

Syu’bah Lughah sebagaimana perkuliahan umum di luar

pesantren.

Selain hal di atas, sebagaimana diungkapan

oleh Abdurrahman Abkar (1992: 4) bahwa latar


147

belakang siswa baik suku maupun bahasa daerah yang

berbeda-beda menjadikan kendala tersendiri dalam

pembelajaran bahasa Arab di Indonesia. Karena masing-

masing siswa akan membawa karasteristik dialek yang

berbeda satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu,

dalam penerapan ideal Silsilah siswa harus melalui

proses seleksi yang sangat panjang dan cukup ketat.

Meskipun demikian, semua kendala di atas

tidak menjadikan proses pembelajaran Silsilah

terhambat, karena dengan penanganan yang serius dan

intensif oleh para staf dan dewan guru, semua dapat

diatasi. Hal ini dapat dibuktikan dengan ketercapaian

hasil pembelajaran yang baik, melebihi setandar

terendah yang ditetapkan oleh pesantren. Disamping itu

pula, para lulusan program Syu’bah Lughah ini dapat

melanjutkan pembelajarannya ke jenjang perguruan

tinggi dengan mendapatkan peroritas lebih dibanding

siswa yang lainnya dari luar pesantren al-Irsyad. Di

UMS misalnya, siswa lulusan program ini dapat

langsung duduk di semester lima, demikian pula di

LIPIA Jakarta siswa langsung masuk pada fakultas

Syari’ah.

c. Sarana Pembelajaran
148

Indikator lain dari keberhasilan implementasi sebuah

kurikulum adalah adanya sarana pembelajaran yang memadai.

Sarana pembelajaran bisa menjadi faktor pendukung, yang

sekaligus menjadi faktor penghambat keberhasilan (Ibid: 94).

Secara rinci sarana pembelajaran yang dimiliki program Syu’bah

Lughah adalah sebagai berikut:

KEADAAN
NAMA BARANG JUMLAH
BAIK RUSAK
Ruang Kabid & 1 - 1 Lokal

Sekretaris
Ruang Guru 1 - 1 Lokal
Ruang Kelas 6 - 6 Lokal
Kamar Mandi 6 - 6 Lokal
Meja & Kursi Guru di 19 - 19 Buah

Kantor
Kursi Kepala Bidang 1 - 1 Buah
Meja Guru di Kelas 6 - 6 Buah
Kursi Murid dan Guru 230 - 230 Buah

di Kelas
Lemari Kayu 3 - 3 Buah
Lemari Besi 2 - 2 Buah
Komputer 3 - 3 Buah
Printer 1 - 1 Buah
White Board Kelas 8 - 8 Buah
White Board 5 - 5 Buah

Administrasi
Lap top 1 - 1 Buah
Peta Dunia Arab 7 - 7 Buah

Selain prasarana di atas sarana terpenting yang

dimiliki pesantren ini adalah perpustakaan, yang

memiliki koleksi lebih dari 2000 judul buku, 90 %

berbahasa Arab. Adanya laboratorium bahasa yang

sangat membantu siswa dalam mengembangkan

kreatifitas berbahasa. Selain itu pesantren ini juga


149

memiliki native sepeaker yang dapat membantu siswa

dalam belajar bahasa Arab, khususnya materi ashwāt

dan fahm al-masmū’. Sarana pembelajaran tersebut

menjadi salah satu indikator keberhasilan penerapan

Silsilah, karena sangat membantu dalam pelaksanaan

pembelajaran, yang sekaligus tidak adanya hambatan

yang serius dalam hal sarana pembelajaran

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasrkan paparan dan analisis data, serta mengacu

pada landasan teori yang ada, maka penulis dapat mensarikan

beberapa kesimpulan:

1. Efektifitas implementasi kurikulum Silsilah di pesantren

Islam al-Irsyad ditinjau dari segi kontens/materi kurikulum,

maka materi konseptual dan ideal kurikulum Silsilah telah


150

mengalami pergeseran orentasi, yang disebabkan oleh

adanya penyesuaian terhadap tujuan institusional pesantren,

kemampuan siswa, kebutuhan masyarakat serta kamajuan

ilmu pengetahuan dan teknologi. Pergeseran orentasi

berdampak adanya sebuah inovasi dan pengembangan

kurikulum dari kurikulum konseptual menjadi kurikulum

aktual. Inovasi dan pengembangan kurikulum terjadi

dengan dipadukannya kurikulum Silsilah dengan

kurikulum lain.

Dari aspek metode pembelajaran penulis temukan adanya

konsistensi pembelajaran dengan konsep ideal metode

pembelajaran Sislilah. Demikian pula dalam proses belajar

mengajar, kegiatan dapat terlaksana dengan baik oleh kedua

belah fihak, guru dan siswa.

2. Keberhasilan implementasi Silsilah di pesantren Islam al-

Irsyad Salatiga diindikasikan dengan adanya ketercapaian

tujuan, visi dan misi pesantren. Ketercapaian tujuan

institusional pesantren meliputi tujuan jangka panjang dan

tujuan jangka pendek. Ketercapaian tujuan jangka panjang

pesantren berupa keberhasilan pesantren mendidik para

siswa menjadi da’i, guru dan penyuluh masyarakat, serta

mampu melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Ketercapaian tujuan jangka pendek diindikasikan dengan


151

perolehan nilai hasil semester setiap siswa di program

Syu’bah Lughah yang melebihi standar terendah yang

ditetapkan oleh pasantren.

Selain indikator di atas, adanya faktor pendukung lain, yaitu

pelaksana kurikulum, yang menjadikan keberhasilan itu

dapat dicapai. Faktor pendukung itu meliputi guru yang

memenuhi setandar kompetensi, profesional maupun

personal. Demikiaan pula dengan siswa yang sangat

kompetitif dan partisipatif. Keberhasilan itu juga didukung

dengan sarana pembelajaran yang cukup memadai.

B. Saran-saran

1. Para pengasuh pesantren dan lembaga pendidikan

Islam hendaknya selalu mengikuti perkembangan

dan kemajuan kurikulum dan metodologinya, agar

bahasa Arab dan Islam menjadi relevan disetiap

zaman.

2. Kepada pada pelaku pendidikan khususnya yang

memiliki kepedulian besar dengan pembelajaran

bahasa Arab hendaknya dalam menerapkan suatu

kurikulum dan metode pembelajaran dilakukan


152

secara konsisten, sehingga dapat tercapai tujuan

pembelajaran secara maksimal .

3. Kepada para peneliti kurikulum bahasa Arab

selanjutnya agar melakukan penelitian yang lebih

mendalam dan komprehensif guna kemajuan dan

perkembangan bahasa Arab di tanah air.

Daftar Pustaka

al-Abbadi, Abdullah A. Karim, 1989, Ta’līm al‘Arabiyyah li Ghair an-

Nāthiqīn Bihā, Makkkah: Ummu al-Qura.

Abdurrahim, tt, Durūs al-Lughah li Ghair an-Nāthiqīna Bihā, Jakarta:

PBAT Group,

Abdussami’ Muhammad, 1994, Wāqi’ Ta’līm al-Lughah al-’Arabiyyah li

at-Tullāb al-Mubtadiīn fi al-Jāmi’ah al-Indunīsiyyah (kumpulan

makalah seminar nasional), Jakarta: LIPIA.

Abkar, Abdurrahman Musa, 1992., Wāqi’ Ta’līm al-Lughah al-’Arabiyyah

fi al-Jāmi’ah al-Indunīsiah, Jakarta: LIPIA.


153

Arikunto, Suharsini, 2006, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan

Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, cet ke-13..

Badri, Kamal Ibrahim, tt., at-Ta’bīr al-Mutathawwir, Riyādh: Jāmi’ah

Malik as-Su’ūd.

Barum, Muhsin Ahmad, et.al., 1982, Qawā’id al-Lughah al-’Arabiyyah,

Riyādh: Wizārh Ma’ārif.

al-Basyir, Ahmad, tt., Tadrībāt ’alā al-Anmāth, Riyādh: Jāmi’ah Malik

as-Su’ūd.

Beaucham, George, 1968, Curiculum Theory, Willmette: The Kagg Press.

Bungin, Burhan, 2003, Analisis Penelitian Kualitatif, Jakarta, Raja

Grafindo Persada: cet I.

Dahdah, Anthuan, 1981, Ma’ājim Qawā’id al-Lughah al-’Arabiyyah,

Bairūt: Maktabah Lubnān

Danim, Sudarwan, 2002, Menjadi Peneliti Kualitatif, Bandung: Pustaka

Setia.

Dosen LIPIA, tth., Mudzākirah at-Daurāt at-Tarbawiyyah al-Qāshirah,

ttp.

Efendi, Makmun, 2001a, Manāhij al-Musytasyriqīn, fi Dirāsah al-Lughah

al-’Arabiyyah, Semarang: Bima Sejati,

_____________, tt.b, Jām’iyah al-Irsyād fī Far’i Semārang baina al-

Mathlūb wa al-Margūb, Semarang, ttp.

_____________,tt.c, Kumpulan Makalah Seminar Internasional

Pengajaran Bahasa Arab bagi Non Arab, Jakarta: LIPIA


154

Fachrudin, 2005, Teknik Pengembangan Kurikulum Pengajaran Bahasa

Arab, Yogyakarta: Global Pustaka Utama.

al-Hamid, Abdullah bin Hamid et. al, 1992a, Silsilah Ta’līm al-Lughah

al-’Arabiyyah, Durus min al-Quran , Riyādh: Jāmi’ah Imām Ibnu

Su’ūd.

_____________________________,1992b, Silsilah Ta’līm al-Lughah

al-’Arabiyyah, al-Ta’bir, Riyādh: Jāmi’ah Imām Ibnu Su’ūd.

____________________________,1992c, Silsilah Ta’līm al-Lughah

al-’Arabiyyah, Kitāb al-Suhwar, Riyādh: Jāmi’ah Imām Ibnu Su’ūd.

_____________________________,1992d, Silsilah Ta’līm al-Lughah

al-’Arabiyyah, al-Qirā’ah, Riyādh: Jāmi’ah Imām Ibnu Su’ūd.

____________________________,1992e, Silsilah Ta’līm al-Lughah

al-’Arabiyyah, al-Kitābah, Riyādh: Jāmi’ah Imām Ibnu Su’ūd.

____________________________,1992f, Silsilah Ta’līm al-Lughah

al-’Arabiyyah, Kurrāsah al-Khāth, Riyādh: Jāmi’ah Imam Ibnu

Su’ūd.

__________________________, 1992 g, Silsilah Ta’līm al-Lughah

al-’Arabiyyah, al-Mu’jam, Riyādh: Jāmi’ah Imām Ibnu Su’ūd.

___________________________,1992h, Silsilah Ta’līm al-Lughah

al-’Arabiyyah, an-Nahwu, Riyādh: Jāmi’ah Imām Ibnu Su’ūd.

___________________________,1992h, Silsilah Ta’līm al-Lughah

al-’Arabiyyah, ash-Sharaf, Riyādh: Jāmi’ah Imām Ibnu Su’ūd.


155

___________________________,1992i, Silsilah Ta’līm al-Lughah

al-’Arabiyyah, al-Fiqh, Riyādh: Jāmi’ah Imām Ibnu Su’ūd.

___________________________,1992j, Silsilah Ta’līm al-Lughah

al-’Arabiyyah, at-Tauhid, Riyādh: Jāmi’ah Imām Ibnu Su’ūd.

___________________________,1992k, Silsilah Ta’līm al-Lughah

al-’Arabiyyah, al-Adab, Riyādh: Jāmi’ah Imām Ibnu Su’ūd.

___________________________, 1992l, Silsilah Ta’līm al-Lughah

al-’Arabiyyah, al-Balāghah, Riyādh: Jāmi’ah Imām Ibnu Su’ūd.

___________________________,1992m, Silsilah Ta’līm al-Lughah

al-’Arabiyyah, al-Tārīkh al-Islami, Riyādh: Jāmi’ah Imām Ibnu

Su’ūd.

___________________________,1992n, Silsilah Ta’līm al-Lughah

al-’Arabiyyah, Dalīl al-Mu’allim, Riyādh: Jami’ah Imām Ibnu

Su’ūd.

Harefa, Andreas, , 2000, Menjadi Manusia Pembelajar, Jakarta: Harian

Kompas.

Hassan, Tammam, 1998, al-Lughah al-’Arabiyyah Ma’nāha wa

Mabnāha, Kairo: ’Ālam al-Kutub

Ibrahim, Abdul Halim, 1961, al-Muwajjih al-Fannī li Mudarris al-

Lughah, Kairo: Dār al-Ma’ārif

Ibrahim, Khaldun, tth., ats-Tsaqāfah al-Islāmiyyah, Riyadh: Jāmi’ah

Malik Su’ūd.
156

Koentjaraningrat, 1997, Strategi-strategi Penelitian Masyarakat, Jakarta:

Grafindo Pustaka Utama.

Mackey, Wiliam F, 1956, Language Teaching Analysis, London:

Longmans, Green and Ltd.

Mahmud, Thaha Muhammad, 1984, at-Ta’bīr al-Muwajjih li al-

Mubtadiīn, Riyādh: Jāmi’ah Malik Su’ūd..

Majid, Abdul, 2005, Perencanaan Pembelajaran : Mengembangkan

Standar kompetensi Guru, Bandung: Remaja Rosda Karya.

Milles, Mathew B., dan A, Michel Huberman, 1992, Analisis Data

Kualitatif, terj. Jakarta” Universitas Indonesia.

al-Mishri, Muhammad Muharam, 1981, al-Qirā’ah al-’Arabiyyah,

Riyādh: Wizārah al-Ma’ārif..

Moleong, Lexy, J.M., 2001, Strategi Penelitian Kualitatif, Bandung:

Remaja RosdaKarya, Cet. XIV..

Muliawa, Jasa Ungguh, 2005, Pendidikan Islam Integratif, Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Mulyasa, 2007, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Bandung: PT.

Remaja RosdaKarya

Nasution, S, 1995, Asas-asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara.

Rasyid, Harun, 2000, Strategi Penelitian Kualitatif Bidang Ilmu Sosial,

Dan Agama, Pontianak, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri

Pontianak.
157

Riyanto, Yatim, , 2001, Strategi Penelitian Pendidikan, Surabaya:

Penerbit SIC.

Samsudin et,al, 2006, Metode Penelitian Bahasa, Bandung: Remaja

Rosda Karya.

Sardiman, A.M, , 2001, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta:

PT. RajaGrafindo Persada.

Sejono dan Abdurrahman, 1999, Metode Penelitian, Suatu Pemikiran dan

Penerapan, Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Shini, Mahmud Isma’il et al, , 1983, al-’Arabiyyah li an-Nasyiīn, Riyādh:

Wizārah al-Ma’āif

Singarimbun, Marsi,1998, Metode Penilitian Survai, Jakarta: LP3ES.

Sudjana, Nana dan Ibrahim, 2004, Penelitian dan Penilaian Pendidikan,

Bandung: Sinar Baru Algesindo

Sugiyono, 2005a, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta.

_______, 2005b, Strategi Penelitian Pendidikan :Pendekatan Kuantitatif,

Kualitatif, dan R&D, Bandung: Alfabeta.

Sumardi Mulyanto, 1974, Pengajaran Bahasa Asing di Tinjau dari

Metodologi, Jakarta: Bulan Bintang

Suryabrata, Sumardi, 2003, Metodologi Penelitian, Jakarta: raja Grafindo

Persada.

Syarifuddin, 2005, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum,

Jakarta: Ciputat Press.


158

Syatha, Samiyah Mahmud, 1994a, al-Nūsūs al-Adabiyyah, Riyādh:

Riāsah āmah.

____________________, 1994b, al-Qirāah, Riyādh: Riāsah āmah.

____________________, 1994c, an-Nahwu wa ash-Sharaf, Riyādh:

Riāsah ’āmah

Thabanah, Badwi, 1982, al-Muthāla’ah al-’Arabiyyah, Riyādh: Wizārah

al-Ma’ārif.
159