Anda di halaman 1dari 8

TUGAS TERSRUKTUR FISIOLOGI HEWAN

PENGARUH KADAR GLUKOSA DALAM HOMEOSTASIS MENCIT (Mus


musculus)

Oleh :

Herawati Prayitno (B1A018118)


Nissavira (B1A018138)
Rohmah Utami F (B1A018145)

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. LatarBelakang

Mencit adalah hewan yang termasuk ke dalam kelas Mamalia. Mencit


merupakan salah satu golongan hewan mamalia pengerat yang bersifat
omivorus dan nokturnal. Ciri umum dari mencit yaitu memiliki warna kulit
rambut tubuh putih atau keabu-abuan dengan perut sedikit pucat, mata
berwarna merah atau hitam (Murwanti et al., 2004). Mencit memiliki bentuk
tubuh yang kecil berwarna putih dengan memiliki siklus estrus yang pendek
dan teratur antara 4-5 hari. Mencit jantan memiliki berat badan sekitar 18-35
gram. Biasanya mencit dapat hidup selama 1-2 tahun dan dewasa pada
umur 35-60 hari. Mus musculus L. memiliki masa reproduksi 1,5 tahun
dengan waktu kehamilannya 19-21hari. Mencit dapat melahirkan 6-15 ekor .
Berat dewasa mencit rata-rata 18-35 gram dan berat lahir 0,5-1.0 gram.
Suhu rektal mencit 35-39OC dengan pernapasan 140-180 kali/menit, dan
denyut jantung 600-650 kali (Somala, 2006). Mencit merupakan salah satu
hewan percobaan efisien yang sering digunakan dalam penelitian. Hal ini
dikarenakan mencit mudah dipelihara, tidak memerlukan tempat yang luas,
waktu kehamilan yang singkat, dan banyak memiliki anak perkelahiran.
Mencit dikelompokkan ke dalam kingdom animalia, phylum chordata. Hewan
ini termasuk hewan yang bertulang belakang dan menyusui sehingga
dimasukkan ke dalam subphylum vertebrata dan kelas mamalia. Selain itu
hewan ini juga memiliki kebiasaan mengerat (ordo rodentia), dan merupakan
famili muridae, dengan nama genus Mus serta memilki nama spesies Mus
musculus L (Priyambodo, 2003).
Homeostasis adalah upaya yang dilakukan oleh tubuh makhluk hidup
agar lingkungan hidup sel di dalam tubuh (cairan ekstrasel) selalu dalam
keadaan statis, konstan, atau tetap (Setiadi, 2007). Perubahan kondisi
lingkungan internal dapat timbul karena dua hal yaitu adanya perubahan
aktivitas sel tubuh dan perubahan lingkungan eksternal yang berlangsung
terus-menerus. Untuk menyelenggarakan seluruh aktivitas sel dalam
tubuhnya , hewan selalu memerlukan pasokan berbagai bahandari
lingkungan luar secaera konstan, Mekanisme pengendalian homeostatis
berlangsung melalui sistem umpan balik. Ada dua macam sstem umpan balik
yaitu umpan balik positif dan umpan balik negatif. Sistem umpan balik yang
berfungsi dalam pengendalian kondisi homeostatis pada tubuh hewan
adalah sistem umpan balik negatif. Sistem umpan balik negatif dapat
didefinisikan sebagai perubahan suatu variabel yang di lawan oleh sesuatu
yang cenderung mengembalikkan perubahan tersebut kekeadaan semula.
Perubahan yang terjadi pada sistem umpan baik positif perubahan awal
suatu variabel akan menghasilkan perubahan yang semakin besar. Sistem
kontrol homeostatis memiliki tiga komponen fungdional yaitu sebuah
reseptor, sebuah pusat kontrol, dan sebuah efektor. Reseptor mendeteksi
perubahan beberapa variabel lingkungan internal hewan, seperti perubahan
suhu tubuh. Pusat kontrol memproses informasi yang diterima dari reseptor
dan mengarahkan suatu respon yang tepat melalui efektor (Campbell, 2004).
Glukosa adalah heksosa monosakarida yang mengandung enam atom
karbon.Glukosa merupakan aldehida yang mengandung gugus CHO, lima
karbon, dan satu oksigen membentuk cincin piranosa. Dalam cincin ini tiap
karbon terkait pada gugus samping hidroksil dan hydrogen kecuali cincin
kelimanya (Almatsier, 2004). Glikogenesis adalah proses anabolisme
pembentukan glikogen untuk simpanan glukosa saat kadar gula darah tinggi.
Glikogenesis banyak terjadi pada sel-sel hati dan sel-sel rangka, tetapi tidak
terjadi pada sel-sel otak yang sangat bergantung pada persediaan konstan
gula darah untuk energi. Hasil dari glikogenesis akan disimpan dalam hati
dan otot (Marks, 2000).

B. Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh konsentrasi glukosa dalam darah mencit
terhadap kondisi fisiologisnya?
C. Tujuan
Tujuan penyusunan makalah pengaruh kadar glukosa dalam system
sirkulasi mencit (Mus musculus) adalah untuk mengetahui pengaruh
kadar glukosa dalam darah mencit terhadap kondisi fisiologisnya.

II. PEMBAHASAN

Glukosa darah atau sering disebut gula darah adalah salah satu
karbohidrat golongan monosakarida yang digunakan sebagai sumber
energi.Glukosa merupakan precursor non karbohidrat.G lukosa dapat diubah
menjadi lemak, termasuk asam lemak, kolesterol, hormonsteroid, asam
amino, dan asam nukleat.Dalam menjaga kadar gula darah tetap dalam
jumlah yang konstan, tubuh melakukan homeostasis glukosa dengan proses
glikogenesis, glikogenolisis, dan glukoneogenesis (Dewi et al, 2017). Organ
yang memegang peran utama dalam homeostasis glukosa adalah liver
(Makalani et al., 2017).
Menurut Liu et al., (2016), homeostasis glukosa dapat diimprovisasi
melalui interaksi IкB kinase (IKKβ)-Xbox Binding Protein 1 (XBP1s). Inflamasi
yang di mediasi IKKβ adalah regulator positif untuk homeostasis glukosa
hepatic. IкB kinase beta (IKKβ) kinase yang sangat penting untuk merespon
rangsangan inflamasi seperti tumor necrosis faktor α(TNF-α) dengan
memulai variasi cascades sinyal intraseluler dan dianggap menjadi elemen
kunci dalam inflamasi yang dimediasi perkembangan resistensi insulin.I KKβ
memfosforilasi bentuk yang disambung X-Box Binding Protein 1 (XBP1s) dan
meningkatkan aktivitas XBP1s. Liu et al., (2016), dalam penelitiannya
menggunakan tiga pendekatan eksperimental untuk meningkatkan aktivitas
IKKβ pada hati mencit yang obesitas dan pengamatan peningkatan aktivitas
XBP1s, mengurangi ER stress, dan peninkatan signifikan pada sensitifitas
insulin serta akibarnya pada homeostasis glukosa. Hasil penelitian Liu et al.,
(2016), mengungkapkan peran menguntungkan dari inflamasi hepatic yang
IKKβ pada homeostasis glukosa.
Kadar glukosa pada mencit menurut Oktafiano et al., (2016) berkisa
rantara 50-135 mg/dl. Apabila kadar glukosa darah pada mencit melebihi
batas normal secara signifikan maka akan terjadi hiperglikemia. Pengaruh
hiperglikemia adalah terjadinya penyakit diabetes mellitus. Diabetes mellitus
adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan peningkatan kronis
kadar glukosa karena defisiensi sekresi insulin ablsolut atau relatif atau
resistensi insulin (Makalani et al., 2017).
Secara fisiologis setelah pemberian glukosa, kadar glukosa darah
meningkat dan mencapai puncaknya pada waktu 1 jam, kemudian turun ke
kadar 2 jam. Pada keadaan fisiologis, insulin disekresikan sesuai dengan
kebutuhan tubuh normal oleh sel beta. Sekresi insulin normal akan terjadi
setelah adanya rangsangan seperti glukosa yang berasal dari makanan atau
minuman. Insulin yang dihasilkan berfungsi mengatur regulasi glukosa darah
agar selalu dalam batas fisiologis, baik saat puasa maupun setelah
mendapat beban. Sekresi insulin berfungsi untuk menjaga kadar glukosa
darah selalu dalam batas normal, sebagai cerminan metabolisme glukosa
yang fisiologis. Rendahnya sensitivitas atau tingginya resistensi jaringan
tubuh terhadap insulin dapat mempengaruhi metabolisme glukosa pada
tubuh. Selain itu regulasi glukosa darah tidak hanya berkaitan dengan
metabolisme glukosa di jaringan perifer, tapi juga di jaringan hepar dimana
GLUT-2 berfungsi sebagai kendaraan pengangkut glukosa melewati
membran sel kedalam sel. Dalam hal ini jaringan hepar ikut berperan dalam
mengatur homeostasis glukosa tubuh (Hadiyanti et al., 2017).
Pemberian timbal asetat pada mencit mengakibatkan terjadinya
kenaikan kadar glukosa darah. Pada mencit kadar glukosa darah
normaladalah 62-175 mg/. Apabila kadar glukosa darah melebihi angka
tersebut (diatas 200 mg/dL) maka mencit dapat dipastikan dalam keadaan
hiperglikemik. Dari hasil uji t test dependent diperoleh bahwa kadar gula
pretest dengan nilai sign 0,147 berbeda nyata dengan kadar gula post test
0,694 dimana nilai (P<0,05) sehingga mencit dipastikan dalam keadaan
hiperglikemik. Adanya peningkatan kadar glukosa darah setelah pemberian
timbal asetat mengindikasikan telah terjadi penurunan kadar insulin dalam
darah. Hal ini disebabkan karena kerusakan pancreas sebagai penghasil
hormon insulin. Pb asetat merupakan senyawa yang mampu merusak sel
beta pankreas secara. Pb asetat bekerja pada DNA sel-sel pulau Langerhans
pankreas, merangsang sintesis poli nuklear (ADP-ribosa), NAD dan NADP
yang kemudian akan menghambat atau menghalangi sintesis proinsulin,
sehingga menyebabkan produksi insulin menurun. Hal ini mengakibatkan
homeostasis glukosa dalam darah terganggu. Glukosa dalam darah tidak
dapat diproses dengan sempurna sehingga terjadi terjadi peningkatan kadar
gula darah atau terjadinya kondisi hiperglikemik. Kondisi hiperglikemik yang
terjadi secara terus menerus mengarah pada terjadinya diabetes mellitus
(Jayanti, 2018).
III. KESIMPULAN

Dari makalah kali ini dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kadar
konsentrasi glukosa yang terdapat pada darah mencit, maka akan
menyebabkan mencit mengalami diabetes melitus dan akan mempengaruhi
homeostasis mencit.
DAFTAR REFERENSI

Almatsier, S., 2004.Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia.

Campbell, 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Erlangga.

Dewi, T.K., Hasan, M. & Rosmaidar., 2017. Kadar Glukosa Darah Pada
Mencit (Mus muscullus) Yang Diberikan Deksametason Per Oral.
JIMVET, 01(4), pp.760-764.

Hardiyanti, S., Harmayetty. & Widyawati, I. Y., 2019. Kadar Gkukosa Darah
Mencit (Mus musculus) Diabetes Melitus Paska Pemberian Model
Latihan Isometrik. Critical Medical and Surgical Nursing Journal,
1(1), pp. 1-7.
Jayanti, E. K., 2018. Pengaruh Pemberian Timbal (Pb) Asetat Peroral
Terhadap Kadar N Glukosa Darah Pada Mencit (Mus
Musculus)Jantan Balb/C. Jurnal Medika Karya Ilmiah Kesehatan,
3(2), pp. 35-39.

Liu, J., Ibi, D., Taniguchi, K., Lee, J., Herrema, H., Akosman, B. & Ozcan, U.,
2016. Inflammation Improves Glucose Homeostasis through IKKβ-
XBP1s Interaction. Cell, 167(4), pp. 1052–1066.

Lu, F. C., 1995. Toksikologi Dasar, Asas, Organ Sasaran dan Penilaian
Resiko Edisi II. Jakarta: UI.

Makalani, F., Khazael, M.R., Ghanbari, E. & Khazaei, M., 2017. Crab Shell
Extract Improves Serum Biochemical Markers and Histological
Changes of Pancreas in Diabetic Rats. Int. J. Morphol., 35(4),
pp.1437-1443.

Marks, D. D., 2000. Biokimia Kedokteran Dasar: Sebuah Pendekatan Klinis.


Jakarta: EGC.

Murwanti, R., E. Meiyanto, A. Nurrochmad, and S.A. Kristina, 2004. Efek


Ekstrak Etanol Rimpang Temu Putih (Curcuma zedoria Rosc.)
terhadap Pertumbuhan Tumor Paru Fase Post Inisiasi pada
Mencit Betina Diinduksi Benzo(a)piren. Majalah Farmasi
Indonesia, 15(1), pp. 7-12.

Oktafiano, H., Kadri, H. & Pertiwi, D., 2016. Perbedaan Kadar Glukosa Darah
Antara Tikus Putih (Rattus Novergicus) yang Mendapat Asupan
Susu Sapi dan Susu Kambing Segar. Jurnal Kesehatan Andalas,
5(3), pp.671-674.

Priyambodo, S., 2003. Pengendalian Hama Tikus Terpadu Ed ke-3. Jakarta:


Penebar Swadaya.

Setiyadi, 2007. Konsep dan Kepenulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta:


Graha Ilmu.
Somala, L., 2006. Sifat Reproduksi Mencit (Mus musculus) Betina yang
Mendapat Pakan Tambahan Kemangi (Ocimum basilicum) Kering.
Skripsi. Program Studi Teknologi Produksi Ternak Fakultas
Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.