Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mencari zat obat baru adalah proses yang kompleks yang perlu

mempertimbangkan banyak sifat farmakodinamik dan farmakokinetik, yang

dihasilkan dari struktur kimia molekul, karena tidak ada substansi terapi yang

sempurna, desainnya merupakan pertimbangan antara parameter

farmakologis individu. Aktivitas biologi dan kurangnya toksisitas sistemik

adalah kriteria mendasar dalam desain entitas kimia baru dan beberapa

parameter farmakokinetik yang tidak menguntungkan dapat ditingkatkan oleh

sarana teknologi farmasi serta apotek terapan dan klinis di tahap

perkembangan selanjutnya.

Salah satu masalah yang paling khas yang berkaitan dengan

kompleksitas dari pengembangan obat adalah pertumbuhan yang cukup

besar dari jumlah substansi obat yang larut dalam air yang mengakibatkan

keterbatasan bioavailabilitas dan variable setelah pemberian oral.

Diperkirakan bahwa 40% dari obat yang dipasarkan saat ini dan 75% zat

yang sedang dikembangkan dapat dikarakteristikan sebagai praktis tidak larut

dalam air. Oleh karena itu, upaya telah dibuat untuk menemukan dan
2

mengembangkan metode efisien kelarutan dan peningkatan laju disolusi.

Karena kelarutan dalam air adalah hasil dari interaksi zat terlarut molecular

dan afinitas pelarut-pelarut, pendekatan ini menjadi dua kelompok utama

berdasarkan sifat perubahan baik dalam energy bebas Gibss dari molekul

padat atau dalam interaksi obat pelarut. Kelompok pertama menggunakan

polimorfisme, amorfizme dan cocristal sedangkan peningkatan kelarutan oleh

surfaktan, co solvent dan siklodextrin adalah contoh kelompok kedua.

Klasifikasi tidak terlalu jelas misalnya mengurangi ukuran atau pembentuk

garam mungkin petunjuk untuk keduanya, pemilihan dalam pembentukan

energy interaksi molekul kristal dan meningkatkan afinitas untuk air.

Tadalafil (Td) umumnya digunakan untuk pengobatan disfungsi ereksi

dan mestinya untuk system klasifikasi biofarmasetik kelas II. Kelarutan yang

buruk dalam air adalah faktor pembatas untuk penyerapannya yang

menyebabkan perbedaan yang signifikan dalam respon farmakologis.

Beberapa metode telah diselidiki untuk peningkatan kelarutan Td termasuk

kompleksasi siklodekstrin, persiapan nanopartikel dan self-nano emulsi

sistem penghantaran obat. Dalam penelitian kami sebelumnya, amorf bentuk

Td diperoleh menggunakan beberapa teknik amorfisasi yang tersedia secara

komersial. Sebagai hasil dari titik transisi gelas yang relatif tinggi (T g), yaitu

147°C, Td dapat dianggap sebagai bekas gelas yang baik dalam

hubungannya dengan titik lelehnya (Tm) pada 302 °C, dengan rasio Tg / Tm

sama dengan 0,73. Namun, Td sendiri menunjukkan stabilitas fisik yang


3

buruk setelah kontak dengan air dan segera mengkristal, menghasilkan

pengembalian cepat ke kelarutan termodinamika. Oleh karena itu,

pemanfaatan peningkatan kelarutan jelas Td dari bentuk amorf membutuhkan

stabilisasi fisik, yang dapat dicapai dengan menggunakan misalnya

penggabungan dalam mikropori silika atau persiapan dispersi padat.

Secara umum, pendekatan dispersi padat yang diterapkan dalam

pekerjaan ini diharapkan meningkatkan kelarutan substansi obat dengan

mekanisme yang berbeda yaitu amorisasi yang disebutkan sebelumnya,

pengurangan ukuran atau peningkatan wettability molekul obat. Namun,

detailnya dampak dari faktor-faktor ini pada kelarutan jelas obat belum jelas

terdefinisi dan membutuhkan penelitian lebih lanjut. Td dispersi padat telah

dijelaskan beberapa kali hingga saat ini tetapi mereka didasarkan pada blok

polyethylene dan polypropylene glycol copolymer (Pluronic, Poloxamer)

sebagai matriks polimerik. Karena zat ini diketahui mampu membentuk misel

dalam suatu larutan, peningkatan kelarutan yang nyata dalam hal ini adalah

hasil dari efek pelarutan tambahan yang terlihat bahkan untuk campuran fisik.

Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki

dampak dari enam polimer berbeda yaitu hidroksipropil metilselulosa

(HPMC), metilselulosa (MC), polivinilpirolidon (PVP), vinilpyrrolidon - vinil

asetat kopolimer (PVP-VA), makrogol - polivinil alkohol kopolimer ( Kollicoat

IR) dan vinilcaprolactam - makrogol– vinil asetat kopolimer (Soluplus) pada

kelarutan dan laju disolusi Td yang jelas serta kemampuan untuk


4

mempertahankan keadaan jenuh dari obat dalam air. Penggunaan beberapa

berbeda, dalam hal sifat fisikokimia, polimer harus memberikan wawasan

yang lebih besar tentang pentingnya berbagai mekanisme proses

pembubaran. Untuk menghubungkan hasil kelarutan dengan sifat-sifat solid

state, analisis komprehensif dispersi Td termasuk difraksi sinar-X, termal,

mikroskopik dan metode spektroskopi dilakukan dengan penekanan khusus

pada dua sampel yang dipilih yaitu dispersi padat Td di HPMC dan PVP- VA,

yang menghasilkan kelarutan yang nyata dan peningkatan laju disolusi.

Dispersi padat Td dan polimer diperoleh dengan menggunakan pendekatan

evaporasi pelarut yaitu pengeringan beku, yang telah digunakan dalam

persiapan sistem padat dua komponen. (K. Wlodarski, et. al. 2015)

B. Tujuan

Untuk melihat enam polimer yaitu : hydroxypropyl methylcellulose

(HPMC), methylcellulose (MC), polyvinylpyrrolidine (PVP), vinylpyrrolidone –

vinyl acetat copolymer (PVP-VA), macrogol – polyvinyl alcohol copolymer

(kollicoat IR) dan vinylcaprolactam – macrogol – vinyl acetat copolymer

(soluplus) pada kelarutan dan laju disolusi dari tadalafil.


5