Anda di halaman 1dari 20

EKSISTENSI BUDAYA BANGSA SEBAGAI IDENTITAS NASIONAL

DI ERA GLOBALISASI

OLEH :

KELAS D4 / 2D

KELOMPOK 1

Nama Anggota :

1. Made Dwi Julyastari (1615644022)


2. Ni Made Dwiyantini (1615644103)
3. Putu Wenny Prema Santhi (1615644119)
4. Suryanithi Eka Safitri (1615644141)

PROGRAM STUDI D4 KUNTANSI MANAJERIAL

JURUSAN AKUNTANSI

POLITEKNIK NEGERI BALI

BADUNG 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Mahaesa, karena berkat
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah Pendidikn Kewarganegaraan dengan
judul “Eksistensi Budaya Bangsa Sebagai Identitas Nasional Di Era Globalisasi”.
Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas mata kuliah
Pendidikan Kewarganegaraan yang diberikan oleh Bapak Putu Adi Suprapto, S.H.,
LL.M.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada orang tua yang
telah mendukung dan memfasilitasi berbagai keperluan yang dibutuhkan dalam
menyelesaikan makalah ini, dosen pembimbing yakni Bapak Putu Adi Suprapto, S.H.,
LL.M yang telah membimbing penulis selama proses penyusunan makalah ini, serta
semua pihak yang sudah mendukung proses penyusunan makalah ini.

Makalah ini disajikan dengan tunduk terhadap aturan yang berlaku serta dibuat
dengan berbagai observasi dalam jangka waktu tertentu sehingga mampu menghasilkan
karya yang dapat dipertanggungjawabkan hasilnya.

Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini.
Oleh karena itu, penulis mengundang para pembaca untuk memberikan kritik dan saran
yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini. Kami harap, makalah
ini dapat memberikan sumbangsih positif untuk kita semua.

Jimbaran, 20 April 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................i

DAFTAR ISI....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................1

A. Latar Belakang........................................................................................................1

B. Rumusan Masalah...................................................................................................3

C. Tujuan.....................................................................................................................3

D. Manfaat...................................................................................................................3

E. Metode Pengumpulan Data.....................................................................................4

F. Ruang Lingkup........................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................5

A. Pengertian Identitas Nasional...................................................................................5

B. Faktor-faktor Pendukung Kelahiran Identitas Nasional...........................................6

C. Kedudukan Pancasila Sebagai Kepribadian dan Identitas Nasional........................8

D. Eksistensi Budaya Bangsa Sebagai Identitas Nasional di Era Globalisasi.............10

1. Kedudukan Budaya Bangsa Sebagai Identitas Nasional..................................10

2. Budaya Bangsa di Era Globalisasi....................................................................11

BAB III PENUTUP......................................................................................................14

A. Simpulan.................................................................................................................14

B. Saran.......................................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................16

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat memenuhi
kebutuhannya sendiri sehingga senantiasa membutuhkan orang lain. Oleh sebab itu,
pada akhirnya manusia hidup secara berkelompok dan membentuk suatu organisasi
yang berusaha mengatur dan mengarahkan tercapainya tujuan hidup yang besar.
Dimulai dari lingkungan terkecil, manusia membentuk keluarga, kemudian suku,
masyarakat, bangsa, dan hingga pada akhirnya mereka membentuk negara sebagai
persekutuan hidupnya. Negara merupakan suatu organisasi yang dibentuk oleh
kelompok manusia yang memiliki cita-cita bersatu, hidup dalam daerah tertentu, dan
mempunyai pemerintahan yang sama. Negara dan bangsa memiliki pengertian yang
berbeda. Apabila negara adalah organisasi kekuasaan dari persekutuan hidup manusia
maka bangsa lebih menunjuk pada persekutuan hidup manusia itu sendiri. Baik bangsa
maupun negara memiliki ciri khas yang membedakan bangsa atau negara tersebut
dengan bangsa atau negara lain di dunia. Ciri khas sebuah bangsa atau negara
merupakan identitas dari bangsa atau negara yang bersangkutan. Identitas-identitas
tersebut disepakati dan diterima oleh bangsa menjadi identitas nasional bangsa.

Identitas nasional secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu
bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa yang lain.
(Kaelan, 2016:39) Berdasarkan hakikat pengertian tersebut, setiap bangsa di dunia akan
memiliki jati diri sesusai dengan keunikan, sifat, dan ciri khasnya masing-masing.
Dimana, Identitas Nasional suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dengan jati diri bangsa
yang bersangkutan atau lebih sering disebut dengan kepribadian suatu bangsa.

Sebagaimana dengan bangsa lain di dunia, Bangsa Indonesia memiliki filsafat


hidup atau pandangan hidup masing-masing, yang kemudian nilai-nilai moralnya
dirumuskan menjadi dasar filsafat negara yaitu Pancasila. Dengan perkataan lain, dapat
dikatakan bahwa hakikat identitas nasional kita sebagai bangsa di dalam hidup dan
kehidupan berbangsa dan bernegara adalah Pancasila, dimana aktualisasinya tercermin
dalam kehidupan masyarakat Indonesia, baik dalam sistem pemerintahan yang

1
diterapkan, nilai-nilai etik, ideologi, moral, tradisi, bahasa, mitos, maupun kebudayaan
yang secara normatif diterapkan di dalam pergaulan, baik dalam tataran nasional
maupun internasional. Nilai-nilai budaya yang tercermin sebagai identitas nasional
memiliki sifat cenderung terbuka dan terus menerus bergerak sejalan dengan hasrat
menuju kemajuan yang dimiliki oleh masyarakat, sehingga tetap relevan dan fungsional
dengan kondisi aktual yang berkembang di masyarakat.

Di era globalisasi ini, perkembangan teknologi dan informasi seolah tidak


terbendung, menyebabkan hubungan antara manusia menjadi sangat cepat dan tanpa
batas. Konsekuensinya, budaya asing pun semakin mudah masuk ke Indonesia yang
menyebabkan lunturnya budaya lokal yang sudah menjadi identitas nasional bangsa.
Berkembangnya sikap individualisme di tengah masyarakat Indonesia perlahan
menggeser budaya gotong royong yang menjadi tradisi nenek moyang Bangsa
Indonesia. Selain itu semakin maraknya perilaku yang mengarah pada westernisasi
dikalangan remaja menyebabkan berkurangnya jiwa nasionalisme yang berdampak pada
lunturnya identitas nasional Bangsa Indonesia. Contohnya bisa kita lihat dari
berkurangnya remaja yang mau turut serta dalam rangka pelestarian budaya lokal
Indonesia. Remaja Indonesia lebih senang meniru budaya asing yang dianggapnya lebih
praktis dan lebih modern. Selain itu maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja,
memicu terjadinya degradasi moral yang dapat mengancam hilangnya nilai-nilai moral
Bangsa Indonesia. Hal ini patut diwaspadai, karena apabila hal ini terus berlanjut dapat
mengakibatkan hilangnya Identitas Nasional Bangsa Indonesia dan melemahnya
keberadaan Bangsa Indonesia di mata internasional.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis menyusun makalah dengan


mengangkat judul “Eksistensi Budaya Bangsa Sebagai Identitas Nasional Di Era
Globalisasi”.

2
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengangkat rumusan masalah


sebagai berikut:
1. Apakah pengertian dari Identitas Nasional?
2. Apakah faktor-faktor pendukung kelahiran Identitas Nasional?
3. Bagaimanakah kedudukan Pancasila sebagai kepribadian dan Identitas Nasional
Bangsa Indonesia?
4. Bagaimanakah eksistensi budaya bangsa sebagai Identitas Nasional pada era
globalisasi?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini antara
lain:
1. Untuk memahami pegertian Identitas Nasional.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung kelahiran Identitas Nasional.
3. Untuk mengetahui kedudukan Pancasila sebagai kepribadian dan Identitas
Nasional Bangsa Indonesia.
4. Untuk mengetahui eksistensi budaya bangsa sebagai Identitas Nasional pada era
globalisasi.

D. Manfaat

Manfaat dari pembuatan makalah ini, antara lain:

1. Bagi Pembaca

a. Menambah wawasan mengenai Identitas Nasional Indonesia dan kedudukan


Pancasila sebagai Identitas Nasional Bangsa Indonesia

b. Mengetahui eksistensi budaya bangsa sebagai Identitas Nasional di era


globalisasi

c. Menumbuhkan rasa nasionalisme dan rasa cinta terhadap budaya bangsa


Indonesia sebagai jati diri bangsa Indonesia

3
2. Bagi Penulis

a. Menambah wawasan mengenai Identitas Nasional Indonesia dan


implementasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di era
globalisasi.

b. Mengkaji materi kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.

c. Mendapat kesempatan untuk tampil dan memertahankan gagasan

E. Metode Pengumpulan Data

Metode yang penulis gunakan dalam mengumpulkan informasi adalah metode


studi pustaka, karena penulis mengambil informasi dari buku-buku dan internet.

F. Ruang Lingkup

Untuk membatasi kerancuan informasi, peulis membatasi pembahasan


permasalahan, yaitu :

1. Pengertian Identitas Nasional

2. Faktor-faktor Pendukung Kelahiran Identitas Nasional

3. Kedudukan Pancasila sebagai kepribadian dan Identitas Nasional

4. Eksistensi budaya bangsa sebagai Identitas Nasional pada era globalisasi

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Identitas Nasional

Istilah identitas nasional dapat disamakan dengan identitas kebangsaan. Secara


etimologis, identitas nasional berasal dari Bahasa Inggris identity yang memiliki
pengertian harfiah; ciri, tanda atau jati diri yang melekat pada seseorang, kelompok atau
sesuatu sehingga membedakan dengan yang lain. Dengan demikian, identitas berarti
ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang dimiliki seseorang, kelompok masyarakat
bahkan suatu bangsa sehingga dengan identitas itu bisa membedakannya dengan yang
lain. Kata “nasional” merujuk pada konsep kebangsaan. Nasional menunjuk pada
kelompok-kelompok persekutuan hidup manusia yang lebih besar dari sekadar
pengelompokan berdaasrkan ras, agama, budaya, Bahasa, dan sebagainya. Oleh karena
itu, identitas nasional lebih merujuk pada identitas bangsa dalam pengertian politik
(political unity). (Winarno, 2008:32)

Dalam hubungannya dengan identitas nasional Indonesia, kepribadian bangsa


Indonesia kiranya sulit jikalau hanya dideskripsikan berdasarkan ciri khas fisik. Hal ini
mengingat bangsa Indonesia itu terdiri atas berbagai macam unsur etnis, ras, suku,
kebudayaan, agama, serta karakter yang sejak asalnya memang memiliki suatu
perbedaan. Namun demikian identitas nasional suatu bangsa tidak cukup hanya
dipahami secara statis mengingat bangsa adalah merupakan kumpulan dari manusia-
manusia yang senantiasa berinteraksi dengan bangsa lain di dunia dengan segala hasil
budayanya. Oleh karena itu, identitas nasional suatu bangsa juga harus dipahami dalam
konteks dinamis. Dalam arti dinamis, yaitu bagaimana bangsa itu melakukan akselerasi
dalam pembangunan, yang termasuk proses interaksinya secara global dengan bangsa-
bangsa lain di dunia internasional. (Kaelan, 2016:41)

5
B. Faktor-faktor Pendukung Kelahiran Identitas Nasional

Proses pembentukan bangsa-bangsa membutuhkan identitas-identitas untuk


menyatukan masyarakat bangsa yang bersangkutan. Faktor-faktor yang diperkirakan
menjadi identitas bersama suatu bangsa, meliputi primordial, sakral, tokoh, Bhinneka
Tunggal Ika, sejarah, perkembangan ekonomi, dan kelembagaan (Ramlan Surbakti,
1999) :

1. Primordial
Faktor-faktor primordial ini meliputi: ikatan kekerabatan (darah dan keluarga),
kesamaan suku bangsa, daerah asal (homeland), bahasa, dan adat istiadat. Faktor
primordial merupakan identitas yang menyatukan masyarakat sehingga mereka dapat
membentuk bangsa-negara. Contoh, bangsa Yahudi membentuk Negara Israel.

2. Sakral
Faktor sakral dapat berupa kesamaan agama yang dipeluk masyarakat atau
ideologi doktriner yang diakui oleh masyarakat yang bersangkutan. Agama dan
ideologi merupakan faktor sakral yang dapat membentuk bangsa-negara. Faktor sakral
ikut menyumbang terbentuknya satu nasionalitas baru. Faktor agama Katolik mampu
membentuk beberapa negara di Amerika Latin. Negara Uni Soviet diikat oleh kesamaan
ideologi komunis.

3. Tokoh
Kepemimpinan dari para tokoh yang disegani dan dihormati masyarakat dapat
pula menjadi faktor yang menyatukan bangsa-negara. Pemimpin di beberapa Negara
dianggap sebagai penyambung lidah rakyat, pemersatu rakyat, dan simbol persatuan
bangsa yang bersangkutan. Beberapa contoh, misalnya Mahatma Gandhi di India, Tito
di Yugoslavia, Nelson Mandella di Afrika Selatan, dan Soekarno di Indonesia.

4. Bhinneka Tunggal Ika


Prinsip bhinneka tunggal ika pada dasarnya adalah kesediaan warga bangsa
untuk bersatu dalam perbedaan (unity of diversity). Yang disebut bersatu dalam
perbedaan adalah kesediaan warga bangsa untuk setia pada lembaga yang disebut

6
negara dan pemerintahannya, tanpa menghilangkan keterikatannya pada suku bangsa,
adat, ras, dan agamanya.

Sesungguhnya warga bangsa memiliki kesetiaan ganda (multi-loyalities). Warga


setia pada identitas primordialnya dan warga juga memiliki kesetiaan pada
pemerintahan dan negara, namun mereka menunjukkan kesetiaan yang lebih besar pada
kebersamaan yang terwujud dalam bangsa-negara di bawah satu pemerintah yang sah.
Mereka sepakat untuk hidup bersama di bawah satu bangsa meskipun berbeda latar
belakang.

5. Sejarah
Persepsi yang sama di antara warga masyarakat tentang sejarah mereka dapat
menyatukan diri dalam satu bangsa. Persepsi yang sama tentang pengalaman masa lalu,
seperti sama-sama menderita karena penjajahan, tidak hanya melahirkan solidaritas
tetapi juga melahirkan tekad dan tujuan yang sama antar anggota masyarakat itu.

6. Perkembangan Ekonomi
Perkembangan ekonomi (industrialisasi) akan melahirkan spesialisasi pekerjaan
dan profesi sesuai dengan aneka kebutuhan masyarakat. Semakin tinggi mutu dan
variasi kebutuhan masyarakat, semakin saling bergantung di antara jenis pekerjaan.
Setiap orang akan saling bergantung dalam memenuhi kebutuhan hidup. Semakin kuat
saling ketergantungan anggota masyarakat karena perkembangan ekonomi, akan
semakin besar solidaritas dan persatuan dalam masyarakat. Solidaritas yang terjadi
karena perkembangan ekonomi oleh Emile Dirkhiem disebut solidaritas organis. Faktor
ini berlaku di masyarakat industri maju seperti Amerika Utara dan Eropa Barat.

7. Kelembangaan
Faktor lain yang berperan dalam mempersatukan bangsa berupa lembaga-
lembaga pemerintahan dan politik. Lembaga-lembaga itu seperti birokrasi, angkatan
bersenjata, pengadilan, dan partai politik. Lembaga-lembaga itu melayani dan
mempertemukan warga tanpa membeda-bedakan asal-usul dan golongannya dalam
masyarakat. Kerja dan perilaku lembaga politik dapat mempersatukan orang sebagai
satu bangsa.

7
C. Kedudukan Pancasila Sebagai Kepribadian dan Identitas Nasional

Sebagai salah satu bangsa dari masyarakat internasional, Bangsa Indonesia


memiliki sejarah serta prinsip dalam hidup yang berbeda dengan bangsa lain di dunia.
Tatkala bangsa Indonesia berkembang menuju fase nasionalisme modern, diletakkanlah
prinsip-prinsip dasar filsafat sebagai suatu asas dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Prinsip-prinsip dasar itu ditemukan oleh para pendiri bangsa yang diangkat dari filsafat
hidup atau pandangan hidup bangsa Indonesia, yang kemudian diabstraksikan menjadi
suatu prinsip dasar filsafat negara yaitu Pancasila.

Bangsa Indonesia terbentuk melalui suatu proses sejarah yang cukup panjang.
Berdasarkan kenyataan objektif tersebut, maka untuk memahami jati diri bangsa
Indonesia serta identitas nasional Indonesia maka tidak dapat dilepaskan dengan akar-
akar budaya yang mendasari identitas nasional Indonesia. Kepribadian, jati diri, serta
identitas nasional Indonesia tersebut terumuskan dalam filsafat Pancasila.

Dasar-dasar pembentukan nasionalisme modern menurut Yamin dirintis oleh


para pejuang kemerdekaan bangsa, antara lain rintisan yang dilakukan oleh para tokoh
pejuang kebangkitan nasional pada tahun 1908, kemudian dicetuskan pada Sumpah
Pemuda pada tahun 1928. Akhirnya titik kulminasi sejarah perjuangan bangsa Indonesia
untuk menemukan identitas nasionalnya sendiri, membentuk suatu bangsa dan negara
Indonesia tercapai pada tanggal 17 Agustus 1945, yang kemudian diproklamasikan
sebagai suatu kemerdekaan bangsa Indonesia. Oleh karena itu akar-akar nasionalisme
Indonesia yang berkembang dalam perspektif sejarah sekaligus juga merupakan unsur-
unsur identitas nasional, yaitu nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam sejarah
terbentuknya bangsa Indonesia. (Kaelan, 2016:48)

Pancasila sebagai kepribadian bangsa erat kaitanya dengan kehidupan sehari-


hari masyarakat yang di kenal dengan keramahan, kesopanannya, kemajemukan, suku
budayanya yang merupakan manifiestasi dalam pandangan hidup bangsa. Bahkan sejak
sebelum berdirinya bangsa Indonesia, nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila
sudah melekat di dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

8
Pancasila merupakan sebuah kekuatan ide yang berakar dari bumi Indonesia
untuk menghadapi nilai-nilai dari luar, sebagai sistem syaraf atau filter terhadap
berbagai pengaruh luar, nilai-nilai dalam Pancasila dapat membangun sistem dalam
masyarakat kita terhadap kekuatan-kekuatan dari luar sekaligus menyeleksi hal-hal baik
untuk diserap, dan sebagai sistem dan pandangan hidup yang merupakan konsensus
dasar dari berbagai komponen bangsa yang plural ini. Melalui Pancasila, moral sosial,
toleransi, dan kemanusiaan, bahkan juga demokrasi bangsa ini dibentuk. Untuk itu
Pancasila harus bisa kita telaah secara analitis dengan kekayaan nilainya sudah
selayaknya digali, diperdalam, lalu dikontekstualisasikan lagi pada perkembangan
situasi yang kita hadapi.

Menghadapi arus globalisasi yang semakin pesat, keurgensian Pancasila sebagai


dasar negara semakin dibutuhkan. Kebebasan di era globalisasi dan reformasi sudah
tidak terkendali, disinilah kedudukan Pancasila sebagai ideologi, pandangan hidup, dan
Identitas Bangsa perlu dipertahankan sehingga tantangan di era globalisasi yang dapat
mengancam eksistensi kepribadian bangsa dapat dihindari. Globalisasi yang hampir
menenggelamkan setiap bangsa tentunya memberikan tantangan yang mau tidak mau
harus bangsa ini taklukkan. Era keterbukaan sudah dan mulai mengakar kuat, identitas
nasional adalah barang mutlak yang harus dipegang agar tidak ikut arus sama dan
seragam yang melenyapkan warna lokal serta tradisional bersamanya. Identitas
nasional, dalam hal ini Pancasila mempunyai tugas menjadi ciri khas, pembeda bangsa
kita dengan bangsa lain, selain setumpuk tugas-tugas mendasar lainnya. Sebagai suatu
paradigma, Pancasila merupakan model atau pola berpikir yang mencoba memberikan
penjelasan atas kompleksitas realitas sebagai manusia personal dan komunal dalam
bentuk bangsa. Pancasila yang merupakan satuan dari sila-silanya harus menjadi sumber
nilai, kerangka berfikir, serta asas moralitas bagi pembangunan. Pancasila itu
menggambarkan Indonesia, Indonesia yang penuh dengan nuansa plural, yang secara
otomatis menggambarkan bagaimana multikulturalnya bangsa kita. Ideologi Pancasila
hendaknya menjadi satu panduan dalam berbangsa dan bernegara.

9
D. Eksistensi Budaya Bangsa Sebagai Identitas Nasional di Era Globalisasi

1. Kedudukan Budaya Bangsa Sebagai Identitas Nasional

Kebudayaan adalah kegiatan dan penciptaan batin manusia, berisi nilai yang
digunakan sebagai rujukan hidup. Kebudayaan nasional ialah sebagai puncak-puncak
kebudayaan daerah yang menyatu dalam semangat nasionalisme yaitu sumpah pemuda.
Kemajemukkan budaya dijadikan konsep Bhineka Tunggal Ika yang menjadi budaya
nasional yang dijadikan pegangan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara. Dengan landasan cinta dan bangga terhadap tanah air menjaga nilai
kebersamaan, saling menghormati, saling mencintai, saling menolong antar sesama.
(Rahayu, Minto. 2007:34)

Kebudayaan bangsa adalah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi
daya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai
puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai
kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya
dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang
dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta
mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia. Sebagai komitmen nasional, dan
secara konstitusional menjadi dasar dan arah pengembangan kebudayaan dan sekaligus
juga bagi pengembangan identitas nasional.
Kebudayaan yang berkembang di Indonesia mestinya selaras dengan nilai-nilai
Identitas Nasional antara lain:

a. Berdasar atas nilai-nilai keTuhanan, kemanusiaan, persatuan,


permusyawaratan, dan keadilan (Pancasila)
b. Menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan.

c. Tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat


memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa.

d. Mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

10
Kebudayaan merupakan salah satu dari unsur pembentuk identitas nasional.
Pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang isinya adalah perangkat-perangkat
atau model-model pengetahuan yang secara kolektif digunakan oleh pendukung-
pendukung utntuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan
digunakan sebagai rujukan atau pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakukan dan
benda-benda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.

2. Budaya Bangsa di Era Globalisasi

Era Globalisasi merupakan era yang penuh dengan kemajuan dan persaingan,
sedangkan Identitas Nasional sebuah bangsa merupakan hal yang sangat diperlukan
untuk memperkenalkan sebuah bangsa atau Negara dimata dunia. Dengan adanya
Globalisasi, identitas sebuah bangsa dan Negara dapat mudah dikenalkan dimata
internasional atau juga identitas tersebut mudah tenggelam karena terpengaruh oleh
bangsa dan Negara lain. Perlu kita sadari, bangsa Indonesia yang kita cintai ini sedang
mengalami krisis identitas nasional yang sangat membahayakan bagi nilai – nilai dasar
Identitas bangsa Indonesia itu sendiri. Letak Negara Indonesia yang sangat strategis
merupakan hal yang sangat mempengaruhi terjaga atau tidak kelangsungan Identitas
Bangsa Indonesia. Globalisasi yang terus berkembang pesat membuat nilai-nilai budaya
bangsa Indonesia mulai terkikis oleh budaya-budaya barat yang kurang sesuai dengan
budaya asli bangsa Indonesia seperti halnya budaya berpakaian. Kebaya dan batik yang
merupakan salah satu identitas bangsa Indonesia yang berupa pakaian, kini mulai hilang
dari kehidupan bangsa Indonesia karena tergantikan oleh pakaian yang bersifat kebarat -
baratan. Tidak hanya itu saja, masyarakat Indonesia yang dulunya terkenal sebagai
orang – orang yang ramah, kini mulai terpengaruh terhadap era globalisai yang
memiliki sifat “persaingan” yang sangat tinggi yang menyebabkan kesenjangan sosial di
masyarakt semakin meningkat.

Bahasa yang digunakan anak muda zaman sekarang layaknya anak gaul yang
menggunakan bahasa kebarat-baratan, terutama saat mengekspresikan kemarahannya
seperti f*ck, d*mn, sh*t dan lain-lain. Terlihat dari sana dapat disimpulkan bahwa
kurangnya melesatarikan budaya bangsa di era sekarang. Selain itu, gaya hidup,
fashion, lagu-lagu yang dinyanyikan oleh pemuda saat ini kebanyakan berasal dari
budaya barat. Banyak anak muda zaman sekarang, menggunakan pakaian “kurang

11
bahan” yang tentunya sangat tidak sopan jika digunakan dalam keseharian. Maraknya
perilaku tersebut dapat berdampak kepada lunturnya budaya bangsa.

1. Cara Melestarikan Budaya Bangsa di Era Globalisasi

Cara melestarikan eksistensi budaya nasional di era globalisasi dapat dilakukan


melalui dua bentuk, diantaranya:

a. Culture Experience

Merupakan pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara terjun langsung


kedalam sebuah pengalaman kultural.

Contohnya: jika kebudayaan tersebut berbentuk tarian, maka masyarakat dianjurkan


untuk belajar dan berlatih dalam menguasai tarian tersebut. Dengan demikian dalam
setiap tahunnya selalu dapat dijaga kelestarian budaya kita ini.

b. Culture Knowledge

Merupakan pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara membuat suatu pusat
informasi mengenai kebudayaan yang dapat difungsionalisasi kedalam banyak bentuk.
Tujuannya adalah untuk edukasi ataupun untuk kepentingan pengembangan kebudayaan
itu sendiri dan potensi kepariwisataan daerah. Dengan demikian para generasi muda
dapat mengetahui tentang kebudayaanya sendiri.

Selain dilestarikan dalam dua bentuk diatas, kita juga dapat melestarikan
kebudayaan dengan cara mengenal budaya itu sendiri. Dengan hal ini setidaknya kita
dapat mengantisipasi pencurian kebudayaan yang dilakukan oleh negara-negara lain.
Penyakit masyarakat kita ini adalah mereka terkadang tidak bangga terhadap produk
atau kebudayaannya sendiri. Kita lebih bangga terhadap budaya-budaya import yang
sebenarnya tidak sesuai dengan budaya kita sebagai orang timur. Budaya daerah banyak
hilang dikikis zaman. Oleh sebab kita sendiri yang tidak mau mempelajari dan
melestarikannya. Akibatnya kita baru bersuara ketika negara lain sukses dan terkenal
dengan budaya yang mereka curi secara diam-diam.

12
Selain hal-hal tersebut diatas, masih ada berbagai cara dalam melestarikan
budaya, salah satunya adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam memajukan budaya lokal
b. Lebih mendorong kita untuk memaksimalkan potensi budaya lokal beserta
pemberdayaan dan pelestariannya
c. Berusaha menghidupkan kembali semangat toleransi, kekeluargaan, keramah-
tamahan dan solidaritas yang tinggi.
d. Selalu mempertahankan budaya Indonesia agar tidak punah
e. Mengusahakan agar semua orang mampu mengelola keanekaragaman budaya lokal

Globalisasi budaya yang begitu pesat harus diantisipasi dengan memperkuat


identitas kebudayaan nasional. Berbagai kesenian tradisional yang sesungguhnya
menjadi aset kekayaan kebudayaan nasional jangan sampai hanya menjadi alat atau
slogan para pemegang kebijaksanaan, khususnya pemerintah, dalam rangka keperluan
tourisme, dan politik. Selama ini pembinaan dan pengembangan kesenian tradisional
yang dilakukan lembaga pemerintah masih sebatas pada unsur formalitas belaka, tanpa
menyentuh eksestensi kehidupan kesenian yang bersangkutan. Akibatnya, kesenian
tradisional tersebut bukannya berkembang dan lestari, namun justru semakin dijauhi
masyarakat. Dengan demikian, tantangan yang dihadapi oleh kesenian rakyat cukup
berat. Karena pada era teknologi dan komunikasi yang sangat canggih dan modern ini
masyarakat dihadapkan kepada banyaknya alternatif sebagai pilihan, baik dalam
menentukan kualitas maupun selera. Hal ini sangat memungkinkan keberadaan dan
eksistensi kesenian rakyat dapat dipandang dengan sebelah mata oleh masyarakat, jika
dibandingkan dengan kesenian modern yang merupakan imbas dari budaya pop.
Untuk menghadapi hal-hal tersebut di atas ada beberapa alternatif untuk
mengatasinya, yaitu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM ) bagi para seniman
rakyat. Selain itu, mengembalikan peran aparat pemerintah sebagai pengayom dan
pelindung, dan bukan sebaliknya justru menghancurkannya demi kekuasaan dan
pembangunan yang berorientasi pada dana-dana proyek atau dana-dana untuk
pembangunan dalam bidang ekonomi saja.

13
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan

Pembahasan pada bab sebelumnya menghasilkan simpulan sebagai berikut:

1. Identitas nasional secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu
bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa yang
lain. Selain dipahami secara statis, identitas nasional juga harus dipahami dalam
konteks dinamis yaitu bagaimana bangsa itu melakukan akselerasi dalam
pembangunan, yang termasuk proses interaksinya secara global dengan bangsa-
bangsa lain di dunia internasional.

2. Proses pembentukan bangsa-bangsa membutuhkan identitas-identitas untuk


menyatukan masyarakat bangsa yang bersangkutan. Adapun faktor-faktor yang
diperkirakan menjadi identitas bersama suatu bangsa, meliputi primordial,
sakral, tokoh, Bhinneka Tunggal Ika, sejarah, perkembangan ekonomi, dan
kelembagaan.

3. Prinsip-prinsip dasar Bangsa Indonesia, oleh para pendiri bangsa diangkat dari
filsafat hidup atau pandangan hidup bangsa Indonesia, yang kemudian
diabstraksikan menjadi suatu prinsip dasar filsafat negara yaitu Pancasila.
Dimana, kepribadian, jati diri, serta identitas nasional Indonesia tersebut
terumuskan dalam filsafat Pancasila.

4. Kebudayaan merupakan salah satu dari unsur pembentuk identitas nasional.


Globalisasi yang terus berkembang pesat membuat nilai-nilai budaya bangsa
Indonesia mulai terkikis oleh budaya-budaya barat yang kurang sesuai dengan
budaya asli bangsa Indonesia.

14
B. Saran

Berdasarkan simpulan tersebut, penulis menyarankan agar bangsa Indonesia,


khususnya para generasi muda agar turut serta berpatisipasi dalam usaha pelestarian
budaya sebagai identitas nasional Bangsa Indonesia. Sehingga, Identitas Nasional
Bangsa Indonesia bisa terus eksis di tengah perkembangan jaman dan tidak tergantikan
oleh Identitas Budaya bangsa lain.

15
DAFTAR PUSTAKA

Kaelan. 2016. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Paradigma

Rahayu, Minto. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Grasindo

Ramlan Surbakti. 1999. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Grasindo

Winarno. 2008. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Diakses dari website https://youvitavhey.wordpress.com/2013/04/17/pengertian-


identitas-nasional/ pada tanggal 4 April 2017

Diakses dari website http://www.pengertianpakar.com/2015/03/pengertian-dan-unsur-


identitas-nasional.html pada tanggal 4 April 2017

Diakses dari website http://dejuniarta.blogspot.co.id/2015/05/identitas-nasional.html


pada tanggal 4 April 2017
Diakses dari website http://makalahtugasmu.blogspot.co.id/2015/09/makalah-eksistensi-
budaya-nasional-di.html pada tanggal 4 April 2017
Diakses dari website http://ulankeyla.blogspot.co.id/2011/12/pengertian-dan-faktor-
pendorong.html pada tanggal 5 April 2017.
Diakses dari website https://yulianingsih92.wordpress.com/2012/12/16/kedudukan-
pancasila-di-era-globalisasi/ pada tanggal 6 April 2017 pada tanggal 5 April 2017.

Diakses dari website http://takiyaazkah.blogspot.co.id/2012/11/kebudayaan-sebagai-


pembentuk-identitas.html pada tanggal 18 April 2017

Diakses dari website http://www.pengertianpakar.com/2015/03/pengertian-dan-unsur-


identitas-nasional.html pada tanggal 18 April 2017

16