Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengelolaan lingkungan hidup merupakan kewajiban bersama berbagai pihak
baik pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat luas. Hal ini menjadi lebih penting lagi
mengingat Indonesia sebagai negara yang perkembangan industrinya cukup tinggi dan
saat ini dapat dikategorikan sebagai negara semi industri (semi industrialized country).
Sebagaimana lazimnya negara yang masih berstatus semi industri, target yang lebih
diutamakan adalah peningkatan pertumbuhan output, sementara perhatian terhadap
eksternalitas negatif dari pertumbuhan industri tersebut sangat kurang. Beberapa kasus
pencemaran terhadap lingkungan telah menjadi topik hangat di berbagai media masa,
misalnya pencemaran Teluk Buyat di Sulawesi Utara yang berdampak terhadap
timbulnya bermacam penyakit yang menyerang penduduk yang tinggal di sekitar teluk
tersebut.
Para pelaku industri kadang mengesampingkan pengelolaan lingkungan yang
menghasilkan berbagai jenis-jenis limbah dan sampah. Limbah bagi lingkungan hidup
sangatlah tidak baik untuk kesehatan maupun kelangsungan kehidupan bagi masyarakat
umum, limbah padat yang di hasilkan oleh industri-industri sangat merugikan bagi
lingkungan umum jika limbah padat hasil dari industri tersebut tidak diolah dengan baik
untuk menjadikannya bermanfaat.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu pengertian air limbah dosmetik ?
2. Bagaimana pengelolaan air limbah dosmetik rumah tangga?
3.
C. Tujuan
BAB II

A. Pengertian Air Limbah Dosmetik


Limbah Domestik adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, cucian,
limbah bekas industri rumah tangga dan kotoran manusia. Limbah merupakan buangan
atau sesuatu yang tidak terpakai berbentuk cair, gas dan padat. Dalam air limbah terdapat
bahan kimia yang sukar untuk dihilangkan dan berbahaya. Bahan kimia tersebut dapat
memberi kehidupan bagi kuman-kuman penyebab penyakit disentri, tipus, kolera dan
penyakit lainnya. Air limbah tersebut harus diolah agar tidak mencemari dan tidak
membahayakan kesehatan lingkungan. Air limbah harus dikelola untuk mengurangi
pencemaran
Limbah cair domestik (rumah tangga) merupakan limbah cair hasil buangan dari
perumahan (rumah tangga), bangunan perdagangan, perkantoran dan sarana sejenis.
Contoh limbah cair domestic adalah air deterjen sisa cucian, air sabun, dan air tinja.
Meningkatkan kegiatan manusia dalam rumah tangga mengakibatkan
bertambahnya jumlah limbah cair. Sumber limbah cair rumah tangga bersifat organic
yaitu dari sisa-sia makanan dan deterjen yang mengandung fosfor. Limbah cair dapat
meningkatkan kadar BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan pH air. Keadaan tersebut
menyebabkan terjadinya pencemaran yang banyak menimbulkan kerugian bagi manusia
dan lingkungan

Dalam dunia arsitektur ada metode yang bisa diterapkan dalam merencanakan
pengolahan limbah rumah tangga yaitu dengan :
 Membuat saluran air kotor
 Membuat bak peresapan
 Membuat tempat pembuangan sampah sementara

Hal-hal tersebut dapat dilakukan dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut ;

1. Tidak mencemari sumber air minum yang ada di daerah sekitarnya baik air
dipermukaan tanah maupun air di bawah permukaan tanah
2. Tidak mengotori permukaan tanah
3. Menghindari tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah
4. Mencegah berkembang biaknya lalat dan serangga lain
5. Tidak menimbulkan bau yang mengganggu.
6. Konstruksi agar dibuat secara sederhana dengan bahan yang mudah didapat dan
murah
7. Jarak minimal antara sumber air dengan bak resapan 10 m.
Pengelolaan yang paling sederhana ialah pengelolaan dengan menggunakan pasir
dan benda-benda terapung melalui bak penangkap pasir dan saringan. Benda yang
melayang dapat dihilangkan oleh bak pengendap yang dibuat khusus untuk
menghilangkan minyak dan lemak. Lumpur dari bak pengendap pertama dibuat stabil
dalam bak pembusukan lumpur, di mana lumpur menjadi semakin pekat dan stabil,
kemudian dikeringkan dan dibuang. Pengelolaan sekunder dibuat untuk menghilangkan
zat organik melalui oksidasi dengan menggunakan saringan khusus. Pengelolaan
secara tersier hanya untuk membersihkan saja. Cara pengelolaan yang digunakan
tergantung keadaan setempat, seperti sinar matahari, suhu yang tinggi di daerah tropis
yang dapat dimanfaatkan

B. Pengelolaan Limbah Domestik Dalam Rumah Tangga


Pengelolaan yang paling sederhana ialah pengelolaan dengan menggunakan pasir
dan benda-benda terapung melalui bak penangkap pasir dan saringan. Benda yang
melayang dapat dihilangkan oleh bak pengendap yang dibuat khusus untuk
menghilangkan minyak dan lemak. Lumpur dari bak pengendap pertama dibuat stabil
dalam bak pembusukan lumpur, di mana lumpur menjadi semakin pekat dan stabil,
kemudian dikeringkan dan dibuang.
Pengelolaan sekunder dibuat untuk menghilangkan zat organik melalui oksidasi
dengan menggunakan saringan khusus.Pengelolaan secara tersier hanya untuk
membersihkan saja. Cara pengelolaan yang digunakan tergantung keadaan setempat,
seperti sinar matahari, suhu yang tinggi di daerah tropis yang dapat dimanfaatkan.
Berikut ini adalah pengelolaan limbah rumah tangga untuk limbah cair, padat dan
gas.
1. Pengelolaan air limbah kakus I.
2. Pengelolaan air limbah kakus II.
3. Pengelolaan air limbah cucian.
4. Pembuatan saluran bekas mandi dan cuci.
5. Pengelolaan sampah.
6. Pengelolaan limbah industri rumah tangga.
7. Pengelolaan air limbah rumah tangga I
8. Pengelolaan air limbah rumah tangga II
9. Pengelolaan air limbah

Air limbah dialirkan melalui saluran ke drum dan air dalam drum akan disaring
dengan koral/ijuk ke luar, dan kemudian meresap ke dalam tanah.

a. Bahan :
 Drum
 Koral
 Kayu
 IjuK
 Pipa pralon
b. Peralatan
 Palu
 Besi runcing
 Cangkul
 Parang
 Gergaji
c. Pembuatan
Drum dilubangi dengan garis tengah 1 cm, jarak antara lubang 10 cm.
Pembuatan lubang di luar dapur dengan ukuran panjang, lebar dan dalam masing-
masing 110 cm. Di dasar lubang diberi koral/ijuk setebal 20 cm dan drum
dimasukkan ke dalam lobang tersebut. Sela-sela drum diselingi dengan koral/ijuk.
Kemudian dibuat saluran air limbah ukuran ½ bis, atau dari pasangan batu bata.
Drum ditutup dengan kayu/bambu atau kalau ingin lebih tahan lama dicor dengan
campuran semen dan pasir yang diberi penguat besi.
C. Kualitas Air Limbah Dosmetik
Limbah cair domestik (rumah tangga) merupakan limbah cair hasil buangan dari
perumahan (rumah tangga), bangunan perdagangan, perkantoran dan sarana sejenis.
Contoh limbah cair domestic adalah air deterjen sisa cucian, air sabun, dan air
tinja.Meningkatkan kegiatan manusia dalam rumah tangga mengakibatkan bertambahnya
jumlah limbah cair. Sumber limbah cair rumah tangga bersifat organic yaitu dari sisa-sia
makanan dan deterjen yang mengandung fosfor. Limbah cair dapat meningkatkan kadar
BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan pH air. Keadaan tersebut menyebabkan
terjadinya pencemaran yang banyak menimbulkan kerugian bagi manusia dan
lingkungan.
D. Jenis – jenis unit pengolahan limbah domestik.
1. Septictank
Sistem septictank sebenarnya adalah sumur rembesan atau sumur kotoran.
Septic tank merupakan sitem sanitasi yang terdiri dari pipa saluran dari kloset,
bak penampungan kotoran cair dan padat, bak resapan, serta pipa pelepasan air
bersih dan udara.
Hal-hal yang yang harus diperhatikan saat pembangunan septic tank agar
tidak mencemari air dan tanah sekitarnya adalah :
a. Jarak minimal dari sumur air bersih sekurangnya 10m
b. Untuk membuang air keluaran dari septic tank perlu dibuat daerah resapan
dengan lantai septictank dibuat miring kearah ruang lumpur antara lain
sebagai berikut :
 Septic tank direncanakan utuk pembuangan kotoran rumah tangga
dengan jumlah air limbah antara 100 – 200 liter/orang/hari dari
volume penggunaan air bersih.
 Waktu tinggal air limbah didalam tangki diperkirakan minimal ± 3
hari.
 Besarnya ruang lumpur diperkirakan untuk dapat menampung
lumpur yang dihasilkan setiap orang rata-rata 30-40
liter/orang/tahun dan waktu pengambilan lumpur diperhitungkan 5
tahun.
 Pipa air masuk kedalam tangki hendaknya selalu lebih tinggi
kurang lebih 2.5 cm dari pipa air keluar.
 Septic tank harus dilengkapi dengan lubang pemeriksaan dan
lubang penghawaan untuk membuang gas hasil penguraian.
 Proses pengolahan yang secara biologi dilakukan oleh mikro
organisme / bakteri pengurai.
c. Agar septic tank tidak mudah penuh dan mampat, awet dan tahan lama
perlu diperhatikan hal berikut :
 Kemiringan Pipa
Kemiringan pipa menentukan kelancaran proses
pembuangan limbah. Selisih ketinggian kloset dan permukaan air
bak penampung kotoran minimal 2 %, artinya setiap 100cm
terdapat perbedaan ketinggian 2cm.
 Pemilihan Pipa yang tepat
Pipa saluran sebaiknya berupa PVC. Ukuran minimal
adalah 4 inchi. Rumah yang memiliki jumlah toilet yang banyak
sebaiknya menggunakan pipa yang lebih besar. Perancangan
saluran diusahakan dibuat lurus tanpa belokan, karena belokan
atau sudut dapat membuat mampat.
 Sesuaikan Kapasitas Septic tank
Untuk rumah tinggal dengan jumlah penghuni empat
orang, cukup dibuat septic tank dengan ukuran (1.5×1.5×2)m. bak
endapan dan sumur resapan bias dibuat dengan ukuran (1x1x2)m.
semakin banyak penghuni rumah maka semakin besar ukuran yang
dibutuhkan.
 Bak Harus Kuat dan Kedap Air
Septic tank harus terbuat dari bahan yang tahan terhadap
korosi, rapat air dan tahan lama. Konstruksi septic tank harus kuat
menahan gaya-gaya yang timbul akibat tekanan air, tanah maupun
beban lainnya.
2. Sumur Resapan
Sumur Resapan Air merupakan rekayasa teknik konversi air yang berupa bangunan
yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur gali dengan
kedalaman tertentu yang digunakan sebagai tempat penampung air hujan diatas atap
rumah dan meresapkannya ke dalam tanah.
Konstruksi Sumur Resapan Air (SRA) merupakan alternatif pilihan dalam mengatasi
banjir banjir dan menurunnya permukaan air tanah pada kawasan perumahan, karena
dengan pertimbangan :
 Pembuatan konstruksi SRA sederhana.
 Tidak memerlukan biaya yang besar
 Bentuk konstruksi SRA sederhana.

Manfaat pembangunan Sumur Resapan Air antara lain :

 Mengurangi aliran permukaan dan mencegah terjadinya genangan air,


sehingga mengurangi terjadinya banjir dan erosi
 Mempertahankan tinggi muka air tanah dan menambah persediaan air
 mencegah menurunnya lahan sebagai akibat pengambilan air tanah yang
berlebihan.
E. Sistem Penyaluran Air Limbah
a. Menurut Asal Air
1. Sistem Pengolahan Setempat Sistem pengolahan setempat (On-site system)
adalah sistem pembuangan air limbah dimana air limbah tidak dikumpulkan /
disalurkan ke dalam suatu jaringan saluran yang akan membawanya ke suatu
tempat pengolahan air buangan atau badan air penerima, melainkan dibuang di
tempat.
2. Sistem Pengolahan Terpusat Sistem Pengolahan Terpusat (Off site system)
merupakan sistem pembuangan air buangan rumah tangga (kamar mandi, cucian,
kegiatan dapur) yang disalurkan keluar dari lokasi pekarangan masing-masing
rumah ke saluran pengumpul air buan gan dan selanjutnya disalurkan secara
terpusat ke bangunan pengolahan air buangan sebelum dibuang ke badan
perairan.
3. Sistem Penyaluran Terpisah Sistem Penyaluran terpisah atau biasa disebut
separate system / full sewerage adalah sistem dimana air buangan disalurkan
tersendiri dalam jaringan riol tertutup, sedangkan limpasan air hujan disalurkan
tersendiri dalam saluran drainase khusus untuk air yang tidak tercemar.
4. Sistem Penyaluran Konvensional Sistem penyaluran konvensional (conventional
Sewer) merupakan suatu jaringan perpipaan yang membawa air buangan ke suatu
tempat berupa bangunan pengolahan atau tempat pembuangan akhir seperti badan
air penerima. Sistem ini terdiri dari jaringan pipa persil, pipa lateral, dan pipa
induk yang melayani penduduk untuk suatu daerah pelayanan yang cukup luas.
5. Sistem Riol Dangkal Shallow sewerage disebut juga Simplified sewerage atau
Condominial Sewerage. Perbedaannya dengan sistem konvensional adalah sistem
ini mengangkut air buangan dalam skala kecil dan pipa dipasang dengan slope
lebih landai. Perletakan saluran ini biasanya diterapkan pada blok-blok rumah.
6. Sistem Riol Ukuran Kecil Saluran pada sistem riol ukuran kecil (small bore
sewer) ini dirancang, hanya untuk menerima bagian-bagian cair dari air buangan
kamar mandi, cuci, dapur dan limpahan air dari tangki septik, sehingga
salurannya harus bebas zat padat.
7. Sistem Penyaluran Tercampur Sistem penyaluran tercampur merupakan sistem
pengumpulan air buangan yang tercampur dengan air limpasan hujan. Kelebihan
sistem ini adalah hanya diperlukannya satu jaringan sistem penyaluran air
buangan sehingga dalam operasi dan pemeliharaannya akan lebih ekonomis. 8.
Sistem Kombinasi Pada sistem penyalurannya secara kombinasi dikenal juga
dengan istilah interceptor, dimana air buangan dan air hujan disalurkan bersama-
sama sampai tempat tertentu baik melalui saluran terbuka atau tertutup, tetapi
sebelum mencapai lokasi instalasi antara air buangan dan air hujan dipisahkan
dengan bangunan regulator.
b. Menurut Sistem Pengaliran
1. Sistem Pengaliran Gravitasi Sistem ini dipakai apabila badan air berada di bawah
elevasi daerah penyerapan dan menggunakan potensial yang tinggi terhadap
daerah pelayanan terjauh.
2. Sistem Pemompaan Sistem ini digunakan apabila elevasi badan air di atas elevasi
daerah pelayanan.
3. Sistem Kombinasi Sistem ini digunakan apabila limbah cair dari daerah
pelayanan dialirkan ke bangunan pengolahan menggunakan bantuan pompa dan
reservoir. Pengaliran Limbah Cair Melalui Perpipaan Sistem perpipaan pada
pengaliran air limbah berfungsi untuk membawa air limbah dari suatu tempat
ketempat lain agar tidak terjadi pencemaran pada lingkungan sekitarnya.
Prinsip pengaliran air limbah pada umumnya adalah gravitasi tanpa
tekanan, sehingga pola aliran adalah seperti pola aliran pada saluran terbuka.
Dengan demikian ada bagian dari penampang pipa yang kosong. Debit Saluran
dengan Penampang Lingkaran Debit saluran merupakan perkalian dari kecepatan
aliran dan luas penampang yang dialiri. Sehingga dapat dirumuskan sebagai
berikut :
𝑄=𝑉×𝐴
dimana : Q = Debit yang mengalir di saluran (m³/detik)
V = Kecepatan aliran (m/detik)
A = Luas penampang saluran yang dialiri (m²)
F. Limbah Domestik Rumah Tangga dari Buangan Closet ( WC )
Closet (WC) adalah suatu cara pembuangan air kotoran manusia agar air kotoran
tersebut tidak mengganggu kesehatan dan lingkungan. Dibuat bak penampung kotoran
(septik tank) yang terdiri dari bak pengumpul dan bak peresapan serta dihubungkan
dengan saluran pipa pralon. Air limbah closet (WC) dialirkan melalui pralon ke bak
penampung kotoran berdinding kedap air.
Berikut ini contoh membuat bak penampung kotoran dengan jumlah keluarga 6
orang dan dalam jangka waktu 5 tahun, sedangkan waktu tinggal dalam tangki
direncanakan minimal 2 hari (24 jam). Untuk mendapatkan gambaran besarnya tangki
yang harus dibuat maka diperoleh dengan cara sebagai berikut :
 Jumlah air limbah yang dibuang setiap hari sekitar 100 liter/orang/hari.
 Besarnya tangki pencerna dalam 1 tahun 2 x 6 x 100 liter = 1.200 liter.
 Banyaknya lumpur sebesar 30 liter/orang/tahun.
 Banyaknya lumpur selama 5 tahun 6 x 30 liter x 5 = 900 liter.
 Jadi untuk melayani keluarga tersebut di atas diperlukan tangki pencerna 1,2
m3 dengan ruang pengumpul lumpur sebesar 0,9 m3.
a. Cara Membuat Closet
Ruang closet (WC) dibuat tertutup , closet (WC) dengan lubang leher angsa
dipasang, kemudian dibuat tangki kotoran dengan dinding kedap air. Untuk
mengalirkan udara dari tangki keluar dipasang pula pralon berukuran kecil yang
berbentuk huruf T. Kemudian dibuat sumur resapan yang didalamnya diisi kerikil,
ijuk dan dinding peresapan berlubang-lubang. Pembuatannya dapat dilihat pada
gambar dibawah ini
Closet tersebut digunakan untuk membuang air kotoran manusia (tinja dan
air seni). Closet perlu dijaga kebersihannya, yaitu dengan menggunakan karbol.
Jangan masukkan benda-benda padat seperti : kerikil, batu, kertas, kain ,
plastik,dsb, karena dapat menyumbat saluran air. Peresapan air pada Closet
tergantung dari kapasitas tangki/bak dan jenis tanahnya. Semakin kecil bak
peresapan, maka akan semakin kecil resapannya. Keuntungan menggunakan cara
ini ialah mudah dibuat, sederhana, bahan-bahnya mudah didapatkan dan murah.
Selain itu cara ini lebih baik, karena dapat mengurangi pencemaran sumber air
bersih disekitarnya.

Penggunaan Air Untuk Keperluan Closet

Toilet siram desain lama membutuhkan 19 liter air dan bisa memakan
hingga 40% dari penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga. Dengan jumlah
penggunaan 190 liter air per kepala per hari, mengganti toilet ini dengan unit baru
yang menggunakan hanya 0,7 liter per siraman bisa menghemat 25% dari
penggunaan air untuk rumah tangga tanpa mengorbankan kenyamanan dan
kesehatan.

Sebaliknya, memasang unit penyiraman yang memakai 19 liter air di


sebuah rumah tanpa WC bisa meningkatkan pemakaian air hingga 70%. Jelas, hal
ini tidak diharapkan di daerah yang penyediaan airnya tidak mencukupi, dan hal
tersebut juga bisa menambah jumlah limbah yang akhirnya harus dibuang dengan
benar. Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, banyak perhatian telah
diberikan pada pembuatan sistem sanitasi yang tahan lama, hemat air, bisa diterima
oleh orang-orang yang akan memakainya, dan memungkinkan penggunaan kembali
limbah yang telah diolah.

Pengembangan sanitasi yang paling penting dalam dekade ini adalah


pengesahan bentuk-bentuk sanitasi yang sebelumnya dianggap primitif. Setelah
beberapa tahun penelitian terapan dan kemajuan teknologi, kakus luar rumah telah
ditransformasi menjadi instalasi sederhana tapi canggih yang memberikan tingkat
kenyamanan dan kesehatan yang tinggi. Dua teknologi penting yang berhubungan
dengan kakus ini adalah: lubang kakus yang diperbaiki dan diberi ventilasi
(Ventilated Improved Pit latrine/VIP latrine) dan toilet siram guyur (Pour Flush
Toilet/PF toilet). Dua teknologi ini biayanya jauh lebih sedikit daripada toilet
konvensional yang dihubungkan ke tanki septik atau sistem saluran pembuangan.

b. Limbah Rumah Tangga dari Saluran Air Buangan


Selain dari buangan closet (WC) limbah bekas air buangan kamar mandi dan
bekas air cucian juga harus dikelola dengan baik. Berikut ini merupakan ketentuan
yang sedapat mungkin untuk dilakukan dalam pengelolaannya yaitu tempat cucian
dipasang tidak jauh dari dapur. Bak cucian dipasang saringan, saluran pralon ke bak
kontrol yang jaraknya maksimum 5 m. Bak ini perlu ditutup dan diberi pegangan agar
memudahkan pengambilan tutup bak. Agar binatang tidak dapat masuk perlu dibuat
besi penghalang.

Dari gambar tersebut terlihat kegunatempat pengelolaan limbah, yaitu untuk


membuang air cucian dapur dan kamar mandi serta untuk membuang air kotoran
kamar mandi. Saluran pengolahan limbah ini perlu dibersihkan secara teratur terutama
pada saringan air. Jangan membuan benda-benda padat seperti : batu kerikil, kertas,
kain, plastik dan barang-barang lainnya, karena akan menyumbat saluran. Limbah air
bekas mandi dan cuci dialirkan ke bak kontrol dan langsung ke sumur resapan. Air
akan tersaring pada bak resapan dan air yang keluar dari bak resapan sudah bebas dari
pencemaran.Tempat mandi dan cuci dibuat dari batu bata, campuran semen dan pasir.
Bak kontrol dibuat terutama untuk saluran yang berbelok, karena pada saluran
berbelok lama-lama terjadi pengikisan ke samping sedikit demi sedikit, dan akan
terjadi suatu pengendapan kotoran. Dibuat juga sumur resapan yang terbuat dari
susunan batu bata kosong yang diberi kerikil dan lapisan ijuk. Sumur resapan diberi
kerikil dan pasir. Jarak antara sumur air bersih ke sumur resapan minimum 10 m agar
supaya jangan mencemarinya

Disamping cara yang tersebut diatas untuk mengelola limbah saluran kamar
mandi dan limbah bekas cucian dapat juga dilakukan dengan cara mengalirkan limbah
melalui saluran ke sebuah lubang resapan. Pertama dibuat lubang di luar dapur dengan
lebar, panjang dan tinggi 1 m atau disesuaikan dengan tempat dan kebutuhan. Di buat
saluran dari batu bata, pasir, semen atau pakai bis. Kalau saluran terbuka bisa ditutup
dengan bambu, kayu atau seng. Bak resapan diisi dengan pasir, kerikil, batu kali.
Akan lebih baik kalau bak resapan ditutup dengan kayu/bambu/cor-coran pasir dan
semen. Dan dapat diberi saluran udara dari pralon. Cara pembuatannya dapat dilihat
pada Gambar di bawah ini.

G. Tata cara perencanaan tangki septic tank dengan pengolahan lanjutan


1. Kriteria Perencanaan
a. Tangki Septic Tank Sistem Tercampur
Kriteria yang digunakan untuk merencanakan tangki septik sistem tercampur:
1. waktu detensi ( td ) : (2 - 3) hari
2. banyak lumpur (QL) : (30 - 40 ) L/orang/tahun;
3. periode pengurasan (PP) : (2 - 5 ) tahun;
4. pemakaian air : QL/orang/hari;
5. jumlah pemakai : n orang minimum 1 KK (5 orang);
6. perhitungan:
 debit air limbah(QA) = (60 - 80)% x q x n
 kapasitas tangki = (VA)+(VL)
 ruang pengendapan(VA) = (QA )x (td)
 ruang pengendapan = Ruang basah
= P x L x Tinggi ruang basah
 tinggi ruang basah = VA/ P x L
 volume lumpur VL = QL x n x PP
 tinggi ruang lumpur = VL/ P x L
 Tinggi total = tinggi ruang basah + tinggi lumpur + ambang bebas
b. Tangki Septic Tank Tercampur
Kriteria yang digunakan untuk merencanakan tangki septik sistem terpisah:
1. waktu detensi ( td ) : (2 - 3) hari
2. banyak lumpur (QL) : (30 - 40 ) L/orang/tahun;
3. periode pengurasan (PP) : (2 - 5 ) tahun;
4. pemakaian air : penggelontor = 20 L/orang/hari;
5. jumlah pemakai : n orang
6. perhitungan:
 debit air limbah(QA) = 20 L/orang/hari x n
 kapasitas tangki = (VA)+(VL)
 ruang pengendapan(VA) = (QA )x (td)
 ruang pengendapan = Ruang basah
= P x L x Tinggi ruang basah
 tinggi ruang basah = VA/ P x L
 volume lumpur VL = QL x n x PP
 tinggi ruang lumpur = VL/ P x L
 Tinggi total = tinggi ruang basah + tinggi lumpur + ambang bebas
2. Persyaratan Tangki Septictank
a. Bentuk dan ukuran tangki septik harus memenuhi ketentuan berikut:
 Tangki septik segi empat dengan perbandingan panjang dan lebar 2 :
1 sampai 3 : 1, lebar tangki septik minimal 0,75 m dan panjang tangki
septik minimal 1,50 m,tinggi tangki minimal 1,5 m termasuk ambang
batas 0,3 m.
 Bentuk tangki septik ditentukan dalam gambar 2 dan gambar 3,
sedangkan ukuran tangki septik berdasarkan jumlah pemakai dapat
dilihat pada Tabel

Ukuran tangki septik dengan periode pengurasan 3 tahun

Sistem tercampur Sistem terpisah

Pemakai Ukuran Volume Ukuran Volume


No
(orang) (m) total (m) total

( m3 ) ( m3 )
P L T P L T
1 5 1,6 0,8 1,6 2,1
2 10 2,1 1,0 1,8 3,9 1,6 0,8 1,3 1,66
3 15 2,5 1,3 1,8 5,8 1,8 1,0 1,4 2,5
4 20 2,8 1,4 2 7,8 2,1 1,0 1,4 2,9
5 25 3,2 1,5 2 9,6 2,4 1,2 1,6 4,6
6 50 4,4 2,2 2 19,4 3,2 1,6 1,7 5,2
Keterangan : P= Panjang Tangki
L = Lebar Tangki

T = Tinggi Tangki

Bentuk Tangki Septictank


b. pipa penyalur air limbah rumah tangga harus memenuhi ketentuan berikut:
 diameter minimum 110 mm (4 in.) untuk pipa PVC;
 sambungan pipa antara tangki septik sistem pengolahan lanjutan harus
kedap air;
 kemiringan minimum ditetapkan 2 %;
 di setiap belokan yang melebihi 450 dan perubahan belokan 22,50 harus
dipasang lubang pembersih (clean out) untuk pengontrolan/pembersihan
pipa. Belokan 900 dilaksanakan dengan membuat dua kali belokan masing-
masing 450 atau menggunakan bak kontrol;
c. pipa aliran masuk dan aliran keluar harus memenuhi ketentuan berikut:
 boleh berupa sambungan T atau sekat sesuai dengan Gambar 4;
 pipa aliran keluar diletakkan ( 63 – 110 ) mm lebih rendah dari pipa aliran
masuk;
 sambungan T atau sekat harus terbenam (200 - 315) mm dibawah
permukaan air dan menonjol minimal 160 mm diatas permukaan air;
d. pipa udara harus memenuhi ketentuan berikut:
 tangki septik harus dilengkapi dengan pipa udara dengan diameter 63 mm
,tinggi minimal 250 mm dari permukaan tanah;
 ujung pipa udara perlu dilengkapi dengan pipa U atau pipa T sedemikian
rupa sehingga lubang pipa udara menghadap kebawah dan ditutup dengan
kawat kasa; Untuk mengurangi bau dapat ditambahkan serbuk arang yang
ditempatkan pada pipa U atau pipa T.

e. lubang pemeriksa harus memenuhi ketentuan berikut:


 tangki septik harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa;
 permukaan lubang pemeriksa harus ditempatkan minimal 10 cm diatas
permukaan tanah;
 lubang pemeriksa yang berbentuk empat persegi dengan ukuran minimal
(0,40 x 0,40) m2, dan bentuk bulat dengan diameter minimal 0,4 m;
f. bahan bangunan yang digunakan untuk tangki septik harus memenuhi SNI -03-
6861.1-2002,
DAFTAR PUSTAKA

http://library.usu.ac.id/download/ft/arsitektur-yulesta.pdf

http://umarcivilengineering.blogspot.com/2015/10/limbah-rumah-tangga-domestik.html