Anda di halaman 1dari 10

Nama : Destari Amelia Rahma

NIM : 3101600570

SGD : 4

LEARNING ISSUE LBM 1 MODUL 5.2

1. Anatomi dan fisiologi oral pada anak dan perbedaan dengan orang dewasa?

Rongga mulut merupakan sebuah bagian tubuh yang terdiri dari : lidah
bagian oral (dua pertiga bagian anterior dari lidah), palatum durum (palatum
keras), dasar dari mulut, trigonum retromolar, bibir, mukosa bukal, ‘alveolar
ridge’, dan gingiva. Tulang mandibula dan maksila adalah bagian tulang yang
membatasi rongga mulut (Yousem et al., 1998).
Rongga mulut yang disebut juga rongga bukal, dibentuk secara anatomis
oleh pipi, palatum keras, palatum lunak, dan lidah. Pipi membentuk dinding
bagian lateral masing-masing sisi dari rongga mulut. Pada bagian eksternal dari
pipi, pipi dilapisi oleh kulit. Sedangkan pada bagian internalnya, pipi dilapisi oleh
membran mukosa, yang terdiri dari epitel pipih berlapis yang tidak terkeratinasi.
Otot-otot businator (otot yang menyusun dinding pipi) dan jaringan ikat tersusun
di antara kulit dan membran mukosa dari pipi. Bagian anterior dari pipi berakhir
pada bagian bibir (Tortora et al., 2009).
a. Bibir dan palatum
Bibir atau disebut juga labia, adalah lekukan jaringan lunak yang
mengelilingi bagian yang terbuka dari mulut. Bibir terdiri dari otot orbikularis oris
dan dilapisi oleh kulit pada bagian eksternal dan membran mukosa pada bagian
internal (Seeley et al., 2008 ; Jahan-Parwar et al., 2011).
Secara anatomi, bibir dibagi menjadi dua bagian yaitu bibir bagian atas dan
bibir bagian bawah. Bibir bagian atas terbentang dari dasar dari hidung pada bagian
superior sampai ke lipatan nasolabial pada bagian lateral dan batas bebas dari sisi
vermilion pada bagian inferior. Bibir bagian bawah terbentang dari bagian atas sisi
vermilion sampai ke bagian komisura pada bagian lateral dan ke bagian mandibula
pada bagian inferior (Jahan-Parwar et al., 2011).

Palatum merupakan sebuah dinding atau pembatas yang membatasi antara rongga
mulut dengan rongga hidung sehingga membentuk atap bagi rongga mulut.
Struktur palatum sangat penting untuk dapat melakukan proses mengunyah dan
bernafas pada saat yang sama. Palatum secara anatomis dibagi menjadi dua bagian
yaitu palatum durum (palatum keras) dan palatum mole (palatum lunak).

Palatum durum terletak di bagian anterior dari atap rongga mulut. Palatum
durum merupakan sekat yang terbentuk dari tulang yang memisahkan antara
rongga mulut dan rongga hidung. Palatum durum dibentuk oleh tulang maksila
dan tulang palatin yang dilapisi oleh membran mukosa. Bagian posterior dari atap
rongga mulut dibentuk oleh palatum mole. Palatum mole merupakan sekat
berbentuk lengkungan yang membatasi antara bagian orofaring dan nasofaring.
Palatum mole terbentuk dari jaringan otot yang sama halnya dengan paltum
durum, juga dilapisi oleh membran mukosa (Marieb and Hoehn, 2010; Jahan-
Parwar et al., 2011).
b. Lidah
Lidah merupakan salah satu organ aksesoris dalam sistem pencernaan.
Secara embriologis, lidah mulai terbentuk pada usia 4 minggu kehamilan. Lidah
tersusun dari otot lurik yang dilapisi oleh membran mukosa. Lidah beserta otot-
otot yang berhubungan dengan lidah merupakan bagian yang menyusun dasar dari
rongga mulut. Lidah dibagi menjadi dua bagian yang lateral simetris oleh septum
median yang berada disepanjang lidah. Lidah menempel pada tulang hyoid pada
bagian inferior, prosesus styloid dari tulang temporal dan mandibula (Tortorra et
al., 2009; Marieb and Hoehn, 2010 ; Adil et al., 2011).

Setiap bagian lateral dari lidah memiliki komponen otot-otot ekstrinsik dan
intrinsik yang sama. Otot ekstrinsik lidah terdiri dari otot hyoglossus, otot
genioglossus dan otot styloglossus. Otot-otot tersebut berasal dari luar lidah
(menempel pada tulang yang ada di sekitar bagian tersebut) dan masuk kedalam
jaringan ikat yang ada di lidah. Otot-otot eksternal lidah berfungsi untuk
menggerakkan lidah dari sisi yang satu ke sisi yang berlawanan dan
menggerakkan ke arah luar dan ke arah dalam. Pergerakan lidah karena otot
tersebut memungkinkan lidah untuk memosisikan makanan untuk dikunyah,
dibentuk menjadi massa bundar, dan dipaksa untuk bergerak ke belakang mulut
untuk proses penelanan. Selain itu, otot-otot tersebut juga membentuk dasar dari
mulut dan mempertahankan agar posisi lidah tetap pada tempatnya.
Otot-otot intrisik lidah berasal dari dalam lidah dan berada dalam jaringan
ikat lidah. Otot ini mengubah bentuk dan ukuran lidah pada saat berbicara dan
menelan. Otot tersebut terdiri atas : otot longitudinalis superior, otot
longitudinalis inferior, otot transversus linguae, dan otot verticalis linguae. Untuk
menjaga agar pergerakan lidah terbatas ke arah posterior dan menjaga agar lidah
tetap pada tempatnya, lidah berhubungan langsung dengan frenulum lingual, yaitu
lipatan membran mukosa yang berada pada bagian tengah sumbu tubuh dan
terletak di permukaan bawah lidah, yang menghubungkan langsung antara lidah
dengan dasar dari rongga mulut (Tortorra et al., 2009; Marieb and Hoehn, 2010).

Pada bagian dorsum lidah (permukaan atas lidah) dan permukaan lateral
lidah, lidah ditutupi oleh papila. Papila adalah proyeksi dari lamina propria yang
ditutupi oleh epitel pipih berlapis. Sebagian dari papila memiliki kuncup perasa,
reseptor dalam proses pengecapan, sebagian yang lainnya tidak. Namun, papila
yang tidak memiliki kuncup perasa memiliki reseptor untuk sentuhan dan
berfungsi untuk menambah gaya gesekan antara lidah dan makanan, sehingga
mempermudah lidah untuk menggerakkan makanan di dalam rongga mulut.
Secara histologi (Mescher, 2010), terdapat empat jenis papila yang dapat
dikenali sampai saat ini, yaitu :
1. Papila filiformis. Papila filiformis mempunyai jumlah yang sangat banyak di
lidah. Bentuknya kerucut memanjang dan terkeratinasi, hal tersebut
menyebabkan warna keputihan atau keabuan pada lidah. Papila jenis ini tidak
mengandung kuncup perasa.
2. Papila fungiformis. Papila fungiformis mempunyai jumlah yang lebih sedikit
dibanding papila filiformis. Papila ini hanya sedikit terkeratinasi dan
berbentuk menyerupai jamur dengan dasarnya adalah jaringan ikat. Papila ini
memiliki beberapa kuncup perasa pada bagian permukaan luarnya. Papila ini
tersebar di antara papila filiformis.
3. Papila foliata. Papila ini sedikit berkembang pada orang dewasa, tetapi
mengandung lipatan-lipatan pada bagian tepi dari lidah dan mengandung
kuncup perasa.
4. Papila sirkumfalata. Papila sirkumfalata merupakan papila dengan jumlah
paling sedikit, namun memiliki ukuran papila yang paling besar dan
mengandung lebih dari setengah jumlah keseluruhan papila di lidah manusia.
Dengan ukuran satu sampai tiga milimeter, dan berjumlah tujuh sampai dua
belas buah dalam satu lidah, papila ini umumnya membentuk garis berbentuk
menyerupai huruf V dan berada di tepi dari sulkus terminalis.

Pada bagian akhir dari papila sirkumfalata, dapat dijumpai sulkus


terminalis. Sulkus terminalis merupakan sebuah lekukan melintang yang
membagi lidah menjadi dua bagian, yaitu lidah bagian rongga mulut (dua
pertiga anterior lidah) dan lidah yang terletak pada orofaring (satu pertiga
posterior lidah). Mukosa dari lidah yang terletak pada orofaring tidak memiliki
papila, namun tetap berstruktur bergelombang dikarenakan keberadaan tonsil
lingualis yang terletak di dalam mukosa lidah posterior tersebut (Saladin,
2008; Marieb and Hoehn, 2010).

c. Gigi
Manusia memiliki dua buah perangkat gigi, yang akan tampak pada periode
kehidupan yang berbeda. Perangkat gigi yang tampak pertama pada anak-anak
disebut gigi susu atau deciduous teeth. Perangkat kedua yang muncul setelah
perangkat pertama tanggal dan akan terus digunakan sepanjang hidup, disebut
sebagai gigi permanen. Gigi susu berjumlah dua puluh empat buah yaitu : empat
buah gigi seri (insisivus), dua buah gigi taring (caninum) dan empat buah geraham
(molar) pada setiap rahang. Gigi permanen berjumlah tiga puluh dua buah yaitu :
empat buah gigi seri, dua buah gigi taring, empat buah gigi premolar, dan enam
buah gigi geraham pada setiap rahang (Seeley et al., 2008).

Gigi susu mulai tumbuh pada gusi pada usia sekitar 6 bulan, dan biasanya
mencapai satu perangkat lengkap pada usia sekitar 2 tahun. Gigi susu akan secara
bertahap tanggal selama masa kanak-kanak dan akan digantikan oleh gigi
permanen.
2. Tujuan diberi sedasi?
Prosedur sedasi adalah teknik pemberian sedatif ataupun obat disosiatif dengan atau tanpa
pemberian analgetik untuk mencapai keadaan yang memungkinkan pasien dapat menerima
prosedur yang tidak menyenangkan, dengan tetap menjaga fungsi kardiovaskular dan juga
respirasi. Prosedur sedasi bertujuan menurunkan kesadaran dengan tetap menjaga
kemampuan pasien untuk mempertahankan oksigenasi serta mengendalikan jalan napas
sendiri. Selain itu, sedasi dapat memberikan efek analgesia, amnesia, dan juga mengurangi
kecemasan selama prosedur.
3. Penilaian kondisi umum pasien anak yang boleh dilakukan sedasi?
a. Pasien tidak alergi dengan obat – obatan sedasi/gas (misal: N2O harus dihindari jika
punya penyakit pneumotoraks).
b. Pasien tidak sedang epilepsi.
c. Pasien tidak mempunyai penyakit ginjal/hati.
d. Detak jantung pasien harus stabil dan normal.
e. Pasien tidak mempunyai penyakit pernapasan.
f. Pasien tidak ada masalah pada jalan napas.

4. Bagan dan gambar dari nitrous oxide?

Mesin yang digunakan untuk sedasi inhalasi nitrous oide-oxigen dalam perawatan gigi anak
memiliki beberapa bagian antara lain: tabung O2 (sebaiknya disediakan 2 buah salah satunya
digunakan pada akhir perawatan), tabung N2O, flowmeter, vaporizer, ambu bag, absorben
dengan bahan soda line (digunakan untuk menampung CO2 yang dikeluarkan oleh pasien),
dan masker selang (scavenging system) tabung oigen media biasanya berwarna hijau dan
biru untuk tabung nitrous oxide dalam penggunaannya, untuk mengetahui seberapa besar
kecepatan aliran nitrous oide-oxigen dapat diketahui dengan flowmeter. Vaporizer
digunakan untuk memberikan anestesi kepada pasien dilengkapi dengan sebuah
termokompresator yang sudah dikalibrasi. Termokompesator digunakan untuk
mengkompensasi panas yang hilang dari cairan anestesi yang di uapkan. Konsentrasi uap
yang dikeluarkan oleh vaporier di kontrol dengan sebuah penunjuk yang bergerak sesuai
dengan skalanya

5. Prosedur melakukan sedasi? (semuanya)

Prosedur Pra Sedasi


1. Pada Pra sedasi dilakukan penyusunan rencana termasuk identifikasi perbedaan
antara populasi dewasa dan anak atau pertimbangan khusus lainnya, dan asesmen pra
sedasi sesuai prosedur yang berlaku.
2. P a s i e n d i b e r i k a n i n f o r m a s i d a n e d u k a s i t e n t a n g t i n d a k a n ya n g a k a n
dilakukan, dan memintakan persetujuan terhadap tindakan tersebut,atau
persetujuan khusus bila ada(inform concern)
3. me n y i a p k a n d o k u m e n y a n g d i p e r l u a k n t i m p e l a y a n a n u n t u k d a
p a t bekerja dan berkomunikasi secara efektif.
4. menyiapkan frekuensi dan jenis monitoring pasien yang diperlukan
5. k u a l i f i k a s i d a n k e t r a m p i l a n k h u s u s p a r a s t a f y a n g t e r l i b a t d a
l a m proses sedasi
6. ketersediaan obat dan penggunaan alat spesialistik
7. Penilaian pra operasi, informasi pra-dan pasca operasi
8. P e n c a t a t a n s e m u a t i n d a k a n p a d a r e k a m m e d i s
Prosedur Selama Sedasi
1. m e l a k u k a n prosedur observasi pasien seperti pada
p r o s e d u r s e l a m a Anesthesi
2. m e m o n i t o r p a s i e n s e l a m a s e d a s i d a n m e n c a t a t s e m u a p e m a n t a u a
n selama sedasi berlangsung
3. mendokumentasikan semua tindakan, temuan dan alternative tindakandalam
rekam medis.
Prosedur setelah sedasi
1 . me m o n i t o r p a s i e n p o s t p e m b e r i a n s e d a s i
2. m e n i l a i kriteria pemulihan dan dicharge dari se
dasi, d a n mendokumentasikan dalam rekam medis

6. Apakah dosis pemberian nitrous oxide pada anak – anak dan dewasa sama?
a. Dosis sedasi oral
obat Dosis sedasi oral (mg/kg)
Chloral hydrate 100
Triclofos 50 – 70
Trimeprazine 2
Midazolam 0,5 – 1,0
Diazepam 200 – 500
Ketamin 5 - 10

b. Dosis sedasi intravena


obat Dosis (mg/kg)
Midazolam 0,5 – 0,2
Diazepam 0,1 – 0,5
Fentanyl 0,5
ketamin 0,5 – 1,0
c. Dosis sedasi inhalasi
obat Dosis (mg/kg)
Nitrous oide 50% N2O dalam O2
sevoflurane 1% dalam udara

7. Pertimbangan menggunakan sedasi?


a) S e d a s i d a p a t d i s e r t a i d e n g a n A n a l g e s i
b) Penderita tetap sadar dengan mengatur konsentrasi N2O
c) E f e k E f o r i a d a n a m n e s i a
d) I n h a l a s i N 2 O c e p a t
e) E l i m i n a s i d a r i t u b u h c e p a t
f) N 2 O t i d a k m e n g a l a m i m e t a b o l i s m d i d a l a m t u b u h
g) Tidak mempengaruhi fungsi organ tubuh kecuali fungsi otak
h) l e b i h e f i s i e n d a l a m p e n g e l o l a a n p e n d e r i t a
i) S e d a s i dapat menurunkan rasa gelisah, khawatir atau cemas,
s e h i n g g a dapat dilakukan perawatan dengan baik dan memuaskan
j) S e l a m a s e d a s i d i l a k u k a n , p a s i e n t e t a p s a d a r , d a p a t b e r n a f a s s e p e r t i b
iasa, membuka mulut, reflex tetap baik dan memberikan respon terhadap perintah verbal
operator