Anda di halaman 1dari 19

REFLEKSI KASUS Maret 2017

KUSTA

DISUSUN OLEH:

NAMA : IRHAM

STAMBUK : N 111 14 050

PEMBIMBING : dr. H. ERWIN K PUTRA

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan


masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi
medis tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan, dan
ketahanan nasional.1
Penyakit kusta pada umumnya terdapat di negara-negara berkembang
sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam memberikan
pelayanan yang memadai dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan
sosial ekonomi pada masyarakat. 1
Jumlah kasus baru kusta di dunia pada tahun 2011 adalah sekitar 219.075.
Dari jumlah tersebut paling banyak terdapat di regional Asia Tenggara (160.132),
diikuti regional Amerika (36.832), regional Afrika (12.673) dan sisanya berada di
regional lain di dunia. Sementara di regional Asia Tenggara distribusi kasus kusta
bervariasi. Indonesia menepati peringkat 2 dengan jumlah kasus baru yang
ditemukan 20.023, setelah india di peringkat pertama dengan jumlah kasus baru
127.295. 1
Penyakit kusta sampai saat ini masih ditakuti masyarakat, keluarga termasuk
sebagian petugas kesehatan. Hal ini disebabkan masih kurangnya
pengetahuan/pengertian, kepercayaan yang keliru terhadap kusta dan cacat yang
ditimbulkan. 1
Dengan kemajuan teknologi dibidang promotif, pencegahan, pengobatan,
serta pemulihan, kesehatan dibidang penyakit kusta, maka penyakit kusta sudah
dapat diatasi dan seharusnya tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Akan tetapi mengingat kompleksnya masalah penyakit kusta, maka diperlukan
program pengendalian secara terpadu dan menyeluruh melalui strategi yang sesuai
dengan endemisitas kusta. Selain itu juga harus diperhatikan rehabilitasi medis
dan rehabilitasi sosial ekonomi untuk meningkatkan kualitas hidup orang yang
mengalami kusta. 1

2
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1. Identitas pasien


Nama Pasien : Nn. Noviti
Umur : 20 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Kristen
Pekerjaan : Pengurus Rumah Tangga
Pendidikan terakhir : SD
Alamat : Desa Mbuwu
Status : Belum menikah
Tanggal Pemeriksaan : 27 Maret 2017

2.2. Anamnesis
Keluhan utama:
Munculnya bercak-bercak berwarna kemerahan di seluruh tubuh
Riwayat Penyakit Sekarang:
Keluhan dialami sejak 1 bulan yang lalu. Keluhan disertai dengan demam dan
badan lemas. Keluhan ini awalnya muncul diwajah berupa bercak berwarna
kemerahan sejak bulan februari 2017. Dan bertambah banyak di bagian badan dan
tangan. Bercak tidak gatal dan mati rasa, permukaan bercak halus mengkilap,
serta berbatas tegas. Keluhan kesemutan dan nyeri pada anggota gerak (-), luka
yang sulit sembuh (-).
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien belum pernah menjalani pengobatan Kusta. Riwayat penyakit Hipertensi (-
), diabetes (-), gangguan jantung (-), asma (-), alergi (-).
Riwayat Penyakit Keluarga:
Ayah pasien memiliki keluhan yang sama dengan pasien

3
Riwayat pengobatan:
Pasien belum pernah melakukan pengobatan sebelumnya
Riwayat Sosial, Ekonomi dan lingkungan :
Pasien tinggal dirumah orangtuanya yang dihuni sebanyak 5 orang, yang
diantaranya ayah, ibu, dan dua orang kakak kandung.
Pasien berasal dari keluarga menengah kebawah. Dengan penghasilan
perbulan ± Rp 750.000. Pasien bekerja sebagai pembantu rumah tangga, namun
semenjak sakit pasien tidak lagi bekerja. Untuk air minum, air untuk mandi, dan
air untuk mencuci pakaian, pasien mendapatkan dari sumur tetangga. Pasien
mengaku ia memasak air untuk keperluan konsumsi rumah tangga menggunakan
tungku kayu. Pasien tidak memiliki fasilitas MCK di rumahnya. Pasien dan
keluarga biasanya buang air kecil dan air besar di sungai belakang rumah.
Didalam rumah tidak terdapat hewan peliharaan . Ventilasi udara rumah pasien
sangat kurang dan cenderung tertutup, lantai rumah disemen halus dan dilapisi
alas lantai, dinding rumah disemen kasar dan tidak ada plafon serta tampak tidak
tertata.

Rumah Tampak Depan

4
Ruang Tamu

Dapur

5
Kamar Tidur

10 segi aspek kehidupan keluarga :


1. Hubungan intra dan antar keluarga
Menurut pasien bahwa kehidupan berkeluarga didalam rumah tangga
tampak harmonis
2. Bimbingan anak
Yang lebih berperan aktif dalam mengasuh pasien dan saudara-saudaranya
adalah ibu pasien dikarenakan ayah pasien sibuk berkebun setiap harinya.
3. Makanan
Makanan yang dikonsumsi sehari-hari yaitu nasi dan lauk pauk yang
dimasak sendiri oleh ibu pasien. Lauk pauk yang dikonsumsi biasanya
tahu, tempe dan telur. Dan sekali-kali mengkonsumsi ikan.
4. Pakaian
Pakaian yang digunakan pasien biasanya diganti dua kali sehari dan
biasanya bergantian dengan kakak pasien. Untuk pakaian anggota rumah
tangga dicuci di sungai dekat rumah pasien.

6
5. Perumahan
Rumah pasien berada didalam lorong, terdiri dari 1 kamar tidur, ruang
tamu, dan dapur. Ventilasi udara rumah pasien sangat kurang dan
cenderung tertutup, lantai rumah disemen kasar dan dilapisi alas lantai,
dinding rumah disemen kasar dan tidak ada plafon serta tampak tidak
tertata.
6. Kesehatan
Ayah pasien mengalami keluhan yang serupa dengan pasien. Dan semua
anggota keluarga menggunakan surat keterangan tidak mampu (SKTM)
untuk jaminan kesehatan.
7. Keuangan
Pasien berasal dari keluarga menengah kebawah. Dengan penghasilan
perbulan ± Rp 750.000.
8. Tatalaksana rumah tangga
Untuk yang mengurusi urusan rumah tangga seperti memasak, menyapu
dan sebagainya diurusi oleh ibu dan saudaranya.
9. Keamanan lahir batin
Berdasarkan keteranga pasien bahwa mereka merasa nyaman untuk tinggal
dilingkungan tersebut dan hubungan dengan tetangga tampak harmonis.
Jarang terjadi pencurian di lingkungan tersebut.
10. Perencanaan sehat
Semua anggota keluarga menggunakan surat keterangan tidak mampu
(SKTM) untuk jaminan kesehatan.

2.3. Pemeriksaan Fisik


Keadaan umum : Sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Frek. Nadi : 80 x/menit
Frek. Napas : 28 x/menit
Suhu : 36,8 °C

7
Berat badan : 50 kg
Tinggi badan : 153 cm
Status gizi : Gizi cukup

Status Generalis
Kepala Leher:
Kepala : Facies Leonina, Lihat status dermatologis
Rambut : Hitam, lurus
Mata : Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, mata cekung -/-
Telinga : Liang telinga normal, serumen (+)
Hidung : Deformitas (-), sekret (-)
Leher : tidak teraba pembesaran KGB
Paru:
Inspeksi:
- Bentuk dan ukuran dada kiri dan kanan simetris, barrel chest (-), pergerakan
dada simetris
- Permukaan dada papula (-), petechie (-), purpura (-), ekimosis (-), nevi (-)
- Pergerakan otot bantu nafas: (-),
- Iga dan sela iga melebar (-)
- Tipe pernapasan torakoabdominal
- Tampak lesi kemerahan pada bagian dada
Palpasi:
- Trakea tidak ada deviasi, iktus kordis di SIC V linea parasternal sinistra
- Nyeri tekan (-), massa (-), edema (-), krepitasi (-)
- Gerakan dinding dada simetris kiri dan kanan
- Taktil fremitus simetris kiri dan kanan
Perkusi:
- Batas jantung normal
- Paru sonor di seluruh lapang paru.
Auskultasi:
- Cor: S1S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-)

8
- Pulmo: vesikuler (+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen:
Inspeksi: bentuk simetris, permukaan datar, distensi (-), asites (-)
Auskultasi: bising usus (+) normal, bising aorta (-)
Perkusi: bunyi timpani pada seluruh lapang abdomen
Palpasi: nyeri tekan (-), massa (-), hepatosplenomegali (-), tes undulasi (-),
shifting dullness (-).

2.4. Pemeriksaan Saraf Tepi


a. Perabaan (palpasi) saraf tepi
Penebalan/pembesaran di nervus ulnaris kanan dan kiri (+), nervus peroneus
communis (-), dan nervus tibialis posterior (-).
b. Pemeriksaan sensorik
- Nervus auricularis magnus: hipesthesia
- Nervus ulnaris, medianus, dan radialis dalam batas normal
- Nervus tibialis posterior: dalam batas normal
c. Pemeriksaan motorik
- Nervus fasialis: dalam batas normal, lagopthalmus (-/-)
- Nervus ulnaris: kekuatan otot jari kelingking kanan dan kiri tergolong kuat
- Nervus medianus: kekuatan otot ibu jari kanan dan kiri tergolong kuat.
- Nervus radialis: kekuatan pergelangan tangan kanan dan kiri tergolong kuat.
- Nervus peroneus communis: kekuatan otot kaki kanan dan kiri tergolong
kuat

2.5. Status Dermatologis


Ujud Kelainan Kulit : makula hipopigmentasi ukuran numular, dan plakat
disertai eritema
Lokalisasi: Kepala, badan dan ekstremitas
1. Kepala: Makula hipopigmentasi disertai eritema difus ukuran numuler
dan plakat, bentuk tidak teratur, konfluens
2. Leher: Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)

9
3. Dada : Makula hipopigmentasi disertai eritema difus ukuran numuler dan
plakat, bentuk tidak teratur, konfluens
4. Punggung : Makula hipopigmentasi disertai eritema difus ukuran
numuler dan plakat, bentuk tidak teratur, konfluens Bokong : Tidak
terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
5. Abdomen : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
6. Genitalia : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
7. Ekstremitas Atas : Makula hipopigmentasi disertai eritema difus ukuran
numuler dan plakat, bentuk tidak teratur, konfluens
8. Ekstremitas Bawah: Makula hipopigmentasi disertai eritema difus ukuran
numuler dan plakat, bentuk tidak teratur, konfluens

Foto kasus

Makula hipopigmentasi disertai eritema difus ukuran numuler dan plakat, bentuk
tidak teratur, konfluens

10
Makula hipopigmentasi disertai eritema difus ukuran plakat bentuk tidak teratur,
konfluens

Makula hipopigmentasi disertai eritema difus ukuran plakat bentuk tidak teratur,
konfluens

2.6. Anjuran Pemeriksaan


1. Pemeriksaan BTA
2. Pemeriksaan darah lengkap
3. Pemeriksaan serologi
2.7. Diagnosis Kerja
Morbus Hansen Multibasiler

11
2.8. Diagnosis Banding
1. Pitiriasis versikolor
2. Vitiligo
3. Pitiriasis alba

2.6. Penatalaksanaa
Medikamentosa
- Terapi sistemik hari I
 Rifampisin 600 mg 1x1
 Lampren 300 mg 1x1
 Dapson/DDS 100 mg 1x1
- Terapi sistemik hari 2-28
 Lampren 50 mg 1x1
 Dapson/DDS 100 mg 1x1
Terapi selama 12-18 bulan
- Terapi Prednisolon
 2 minggu pertama 40 mg/hari (1x8 tab) pagi hari sesudah makan
 2 minggu kedua 30 mg/hari (1x6 tab) pagi hari sesudah makan
 2 minggu ketiga 20 mg/hari (1x4 tab) pagi hari sesudah makan
 2 minggu keempat 15 mg/hari (1x3 tab) pagi hari sesudah makan
 2 minggu kelima 10 mg/hari (1x2 tab) pagi hari sesudah makan
 2 minggu kedua 5 mg/hari (1x1 tab) pagi hari sesudah makan

Non Medikamentosa
Edukasi:
- Penyakit yang diderita adalah penyakit kusta yang menular dan bisa menyerang
siapa saja.
- Menjelaskan kepada pasien tentang gejala-gejala pada penyakit kusta dan cara
penularannya
- Menjelaskan cara perawatan diri dirumah untuk mencegah cacat

12
- Menjelaskan jenis obat, cara minum, dan menyimpan obat.
- Menjelaskan efek samping dari obat-obat yang diminum
- Menjelaskan kepada pasien agar tekun minum obat serta rutin memeriksakan
dirinya sampai dinyatakan sembuh untuk evaluasi perkembangan penyakit
kusta di Puskesmas meskipun pasien sudah merasa sehat sebelum dinayatakan
sembuh
- Menjelaskan kepada pasien pasien untuk memantau perubahan gejala, jika
bertambah berat harus segera diperiksa kembali.
- Jagalah kebersihan rumah dan pencahayaan di dalamnya, buka jendela setiap
hari pagi dan siang hari.
- Menganjurkan kepada pasien dan keluarga pasien untuk tidak saling bertukar
memakai pakaian atau handuk di rumah.
- Menganjurkan pasien untuk istirahat yang cukup dan mengkonsumsi sayur-
sayuran serta buah-buahan untuk meningkatkan daya tahan tubuh

2.7. Prognosis
Dubia ad bonam

2.8. Anjuran
Skrining terhadap anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien

13
BAB III
PEMBAHASAN

Pasien adalah seorang perempuan berusia 20 tahun yang mengeluhkan


munculnya bercak-bercak berwarna kemerahan diseluruh tubuh. Keluhan dialami
sejak 1 bulan yang lalu. Keluhan disertai dengan demam dan badan lemas.
Keluhan ini awalnya muncul diwajah berupa bercak berwarna kemerahan sejak
bulan februari 2017. Dan bertambah banyak di bagian badan dan tangan. Bercak
tidak gatal dan mati rasa, permukaan bercak halus mengkilap, serta berbatas tegas.
Keluhan kesemutan dan nyeri pada anggota gerak (-), luka yang sulit sembuh (-).
Dari pemeriksaan fisik ditemukan facies leonina, makula hipopigmentasi disertai
eritema difus ukuran numuler dan plakat, bentuk tidak teratur, konfluens di wajah
dan ekstremitas, dan pembesaran nervus ulnaris bilateral.
Untuk menetapkan diagnosis penyakit kusta perlu dicari tanda-tanda utama
atau tanda cardinal (cardinal sign) yaitu:
1. Kelainan (lesi) kulit yang mati rasa. Kelainan kulit/lesi dapat berbentuk
bercak putih (hipopigmentasi) atau kemerahan (eritema) yang mati rasa
(anestesi).
2. Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf. Gangguan
fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan saraf tepi (neuritis perifer)
kronis. Gangguan fungsi saraf bisa berupa:
a. Gangguan fungsi sensoris: mati rasa
b. Gangguan fungsi motoris: kelemahan (paresis) atau kelumpuhan
(paralisis) otot
c. Gangguan fungsi otonom: kulit kering dan retak-retak
3. Adanya basil tahan asam (BTA) di dalam kerokan jaringan kulit
Seseorang dinyatakan sebagai penderita Morbus Hansen/kusta/lepra bila
terdapat satu dari tanda-tanda utama di atas. Pada pasien ini memenuhi dua dari
tiga tanda utama diatas sehingga dinyatakan sebagai penderita Morbus Hansen.
Menurut WHO, Morbus Hansen dapat dikalsifikasikan menjadi 2 tipe yaitu
sebagai berikut:

14
Pada pasien ini telah memenuhi dua dari tiga tanda utama dari Morbus
Hansen tipe multi basiller sehingga diagnosis dari pasien ini adalah Morbus
Hansen Multi Basiller.
Berdasarkan hasil penelusuran kasus ini, jika mengacu pada konsep
kesehatan masyarakat, maka dapat ditelaah beberapa faktor yang mempengaruhi
atau menjadi faktor resiko terhadap penyakit yang diderita oleh pasien dalam
kasus ini.
a. Faktor sosial ekonomi
Faktor sosial ekonomi berperan penting dalam kejadian kusta. Dengan adanya
peningkatan sosial ekonomi maka kejadian kusta sangat cepat menurun
bahkan hilang. Kasus kusta yang masuk dari negara lain ternyata tidak
menularkan kepada orang yang sosial ekonomi tinggi. Pasien memiliki
tingkat sosial ekonomi menengah kebawah sehingga meningkatkan kejadian
kusta. Pendidikan dan pekerjaan juga dapat memperngaruhi timbulnya
penyakit kusta.
b. Umur
Kusta diketahui terjadi pada semua usia berkisar antara bayi sampai usia
lanjut (3 minggu sampai lebih dari 70 tahun) namun yang terbanyak pada usia
muda dan produktif. Pasien berusia 22 tahun dan tergolong usia produktif
sehingga sesuai dengan data epidemiologi.
c. Jenis kelamin
Kusta dapat mengenai laki-laki dan perempuan. Berdasarkan laporan,
sebagian besar negara di dunia menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak
terserang daripada perempuan. Rendahnya kejadian kusta pada perempuan

15
kemungkinan karena faktor lingkungan dan sosial budaya. Pada kebudayaan
tertentu akses perempuan ke layanan kesehatan sangat terbatas.
d. Status gizi
Sebagian besar (95%) manusia kebal terhadap kusta. Hanya sebagian kecil
yang dapat ditulari (5%). Dari 5% yang tertular tersebut, sekitar 70% dapat
sembuh sendiri dan hanya 30% yang menjadi sakit. Hanya sedikit orang yang
terkena kusta setelah kontak dengan pasien kusta, hal ini disebabkan adanya
kekebalan tubuh. Faktor fisiologis seperti pubertas, menopause, kehamilan,
serta faktor infeksi dan malnutrisi dapat meningkatkan perubahan klinis
penyakit kusta.
e. Faktor perilaku
Perilaku dapat terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan. Pengetahuan
penderita kusta yang kurang tentang cara penularan, bahaya, dan cara
pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku sebagai orang sakit
dan akhirnya berakhibat menjadi sumber penular bagi orang disekelilingnya.
Pasien dan keluarga sebelumnya tidak mengetahui tentang kusta, pengertian,
faktor resiko, penularan, akibat dan sebagainya. Pengetahuan yang rendah ini
mempengaruhi tindakan yang menjadi kurang tepat. Pasien dan keluarga
mengaku jarang membuka jendela rumah dan tidak segera memeriksakan diri
ketika sudah ada gejala sakit yang mengarah ke kusta.
f. Faktor lingkungan
- Ventilasi
Ventilasi berfungsi untuk menjaga aliran udara dalam rumah tetap segar
dan untuk membebaskan ruangan dari bakteri-bakteri patogen karena akan
selalu terjadi aliran udara yang terus menerus. Ventilasi rumah pasien
sangat kurang sehingga pertukaran aliran udara hanya melalui pintu masuk
rumah.
- Suhu
Suhu dalam rumah akan mempengaruhi derajar kesehatan penghuninya.
Daerah yang panas dengan kelembaban tinggi merupakan faktor yang
mempermudah penularan penyakit. Hal ini terbukti karena M. Leprae

16
hidup optimal pada suhu 27-30 C dan kelembaban tinggi. Kondisi suhu
rumah pasien juga sekitar suhu optimal pertumbuhan M. Leprae sehingga
meningkatkan resiko penularan penyakit kusta.
- Kelembaban
Rumah yang memiliki kelembaban yang tidak memenuhi syarat kesehatan
akan membawa pengaruh bagi penghuninya, rumah lembab akan menjadi
tempat yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri.
- Kepadatan hunian
Kepadatan hunian merupakan keadaan dimana kondisi antara jumlah
penghuni dengan luas seluruh rumah seimbang dengan jumlah
penguninya. Apabila luas rumah tidak seimbang dengan jumlah penguni
atau melebihi akan berdampak negatif pada kesehatan.
Dilihat dari segi kesehatan kondisi rumah dengan padat penghuni atau
tidak sesuai dengan ketentuan dapat berpengaruh terhadap penularan
penyakit terutama penyakit yang dapat menular lewat udara seperti
penyakit kusta.
Berdasarkan Dir. Higiene dan Sanitasi Depkes RI, 1993 maka kepadatan
penghuni dikategorikan menjadi memenuhi standar (9 m² per orang) dan
kepadatan tinggi yaitu lebih 9 m² per orang denganketentuan anak <1
tahun tidak diperhitungkan dan umur 1-10 tahun dihitung setengah.
Suhu di dalam rumah dipengaruhi oleh jumlah penghuni di dalam rumah
dan luas rumah yang ditempati. Ketidakseimbangan antara luas rumah
dengan jumlah penghuniakan menyebabkan suhu di dalam rumah menjadi
tinggi dan hal ini yang dapat mempercepat penularan suatu penyakit.
Adapun edukasi yang dapat diberikan kepada pasien ini adalah sebagai berikut:
- Penyakit yang diderita adalah penyakit kusta yang menular dan bisa menyerang
siapa saja.
- Menjelaskan kepada pasien tentang gejala-gejala pada penyakit kusta dan cara
penularannya
- Menjelaskan cara perawatan diri dirumah untuk mencegah cacat
- Menjelaskan jenis obat, cara minum, dan menyimpan obat.

17
- Menjelaskan efek samping dari obat-obat yang diminum
- Menjelaskan kepada pasien agar tekun minum obat serta rutin memeriksakan
dirinya sampai dinyatakan sembuh untuk evaluasi perkembangan penyakit
kusta di Puskesmas meskipun pasien sudah merasa sehat sebelum dinayatakan
sembuh
- Menjelaskan kepada pasien pasien untuk memantau perubahan gejala, jika
bertambah berat harus segera diperiksa kembali.
- Jagalah kebersihan rumah dan pencahayaan di dalamnya, buka jendela setiap
hari pagi dan siang hari.
- Menganjurkan kepada pasien dan keluarga pasien untuk tidak saling bertukar
memakai pakaian atau handuk di rumah.
- Menganjurkan pasien untuk istirahat yang cukup dan mengkonsumsi sayur-
sayuran serta buah-buahan untuk meningkatkan daya tahan tubuh

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Kemenkes., Pedoman Nasional Program Pengendalian Penyakit Kusta.


Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyalahgunaan Lingkungan;
2012.
2. Wolff, K., Lowell, A., Stephen, I., Barbara, A., Amy, S., David, J.,
Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine Seventh Edition. The
McGraw-Hill: New York; 2008.
3. Wolff, K., Richard, A., Fitzpatrick’s Color Atlas & Synopsis of Clinical
Dermatology Sixth Edition. The McGraw-Hill: New York; 2009.

19