0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
182 tayangan111 halaman

Usaha dan Energi dalam Fisika Dasar

Teks tersebut memberikan penjelasan tentang usaha, energi, dan gerak pada fisika. Secara ringkas, usaha didefinisikan sebagai perkalian gaya dan perpindahan, sedangkan energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha. Ada beberapa jenis energi seperti kinetik, potensial, dan mekanik. Gerak dibedakan menjadi gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah beraturan.

Diunggah oleh

Wahyudi Fauzi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
182 tayangan111 halaman

Usaha dan Energi dalam Fisika Dasar

Teks tersebut memberikan penjelasan tentang usaha, energi, dan gerak pada fisika. Secara ringkas, usaha didefinisikan sebagai perkalian gaya dan perpindahan, sedangkan energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha. Ada beberapa jenis energi seperti kinetik, potensial, dan mekanik. Gerak dibedakan menjadi gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah beraturan.

Diunggah oleh

Wahyudi Fauzi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FISIKA

SET 1
USAHA DAN ENERGI

A. UsAhA
Usaha didefinisikan sebagai perkalian skalar antara gaya (F) dan perpindahan (s) yang
diakibatkannya.
Dirumuskan sebagai:
W=F.s s = jarak perpindahan ( m )

a. Pada bidang datar


F

θ W = F cos  . s

b. Pada bidang miring

s
W = F sin  . s

F sin θ
F cos θ
θ F

1
B. EnErgi
Energi adalah kemampuan melakukan usaha. Energi bersifat kekal dan dapat berubah
dari satu bentuk ke bentuk lain.
a. Energi kinetik: energi yang dimiliki benda saat bergerak.
1
Ek= m.v2
2

b. Energi potensial: energi yang dimiliki benda karena ketinggiannya terhadap bidang acuan,
dirumuskan:
Ep = m.g.h

c. Energi potensial pegas, dirumuskan:


1
Epp= k(∆x)2
2

k = konstanta pegas (N/m)


∆x = pertambahan panjang (m)

d. Energi mekanik, dirumuskan:


Em = Ek + Ep

C. hUBUngAn UsAhA dAn EnErgi


a. Usaha dan Energi Kinetik
Usaha dapat diartikan sebagai perubahan energi kinetik yang terjadi pada suatu benda.
Dirumuskan sebagai:
1
W = ∆Ek = Ek2– Ek 1= m(v 2 2– v 2)1
2

b. Usaha dan Energi Potensial


Usaha dapat diartikan pula sebagai perubahan energi potensial, dirumuskan sebagai:

W = ∆Ep = Ep2 – Ep1 = m.g.(h2 – h1)

c. Usaha dan Energi Mekanik


Usaha dapat pula diartikan sebagai perubahan energi mekanik, dirumuskan sebagai:

W = ∆Em = Em2 – Em1

2
jika W = 0, maka:
Em1 = Em2

Maka berlaku hukum kekekalan energi sebagai:

Ek2 + Ep2 = Ek1 + Ep1

d. dAyA AtAU lAjU EnErgi

W F.s s
P   F.  F.v
t t t

P = daya (watt)
W = usaha/energi (joule)
t = waktu (s)
v = kecepatan rata rata (m/s)

CONTOH SOAL

1. Benda bermassa 50 kg bergerak dengan kecepatan 4 m/s. Besar gaya yang diperlukan
agar benda tersebut berhenti 10 m dari tempat semula adalah ....

Pembahasan:
Diketahui:
v0 = 4 m/s
vt = 0 ( saat dikenai gaya F, benda berhenti)
s = 10 m
Ditanya: F?
Jawab:
W = ∆Ek
1
F . s = m(v 2 – v 2)
t 0
2
1
F.10 = .50(02 – 42)
2
F = 25(16) = –40 N
10
Tanda (–) berarti menunjukkan arah gaya berlawanan dengan perpindahan benda.

3
2. Sebuah balok bermassa 40 kg dilepas dari bukit bidang miring licin dengan ketinggian
3 m dari dasar bidang seperti pada gambar. Berapakah usaha yang dilakukan untuk
memindahkan balok ke dasar bidang?

3 cm

37o

Pembahasan:
Dicari dulu perpindahan:
h 3
s    5 meter
sin 37o 3
5
Usaha:
W = F .s
W = W . sin θ . s
W = m . g sin 37o . s
3
W = 40 × 10 × ×5
5
W = 1.200 joule

3. Balok yang massanya 8 kg meluncur di atas bidang datar licin dengan laju 4 m/s. Seperti
pada gambar. Jika konstanta pegas k = 2 N/m. Berapa jauh pegas tertekan setelah balok
berhenti?
v

4
WWW.E-SBMPTN.COM

Pembahasan:
1
W = k.(∆x)2
2
1
∆Ek = k.(∆x)2
2
1 2 1
m.v = k.(∆x)2
2 2
m.v2
(∆x)2 =
k
8.(4)2
∆x =
2
∆x = 8 cm

5
WWW.E-SBMPTN.COM

FISIKA
SET 2
GERAK

A. GerAk
Gerak adalah perubahan kedudukan suatu benda terhadap titik acuannya.

B. GerAk lurus BerAturAn (GlB)


GLB adalah gerak suatu benda di mana lintasan yang ditempuhnya berbentuk garis lurus
dan kecepatannya selalu tetap. Jarak yang ditempuh dirumuskan sebagai:
s=v.t
v = kecepatan (m/s)
t = waktu (sekon)
s = jarak tempuh (m)

a. Ciri GlB
v = konstan
a=0

1
WWW.E-SBMPTN.COM

b. Grafik GlB
v

t (s)

s = luas grafik arsiran


s
v>0


v = tan 


v<0
t (s)

C. GerAk lurus BeruBAh BerAturAn (GlBB)


GLBB adalah gerak di mana lintasan yang ditempuh benda berupa garis lurus dan
kecepatannya selalu berubah secara teratur (percepatannya konstan).
a. Gerak Dipercepat
Gerak saat kecepatan bertambah secara teratur. Rumusnya:
vt = v0 + a.t
1 2
s = v .t
0
+ at
2
vt2 = v 0+2 2.a.s
Dengan:
vt = kecepatan terakhir (m/s)
v0 = kecepatan awal (m/s)
a = percepatan (m/s2)
s = jarak tempuh (m).

2
WWW.E-SBMPTN.COM

Grafik GLBB.
s
v(m/s)

vt

v0

t (s) t (s)
0 t

s = luas arsiran

b. Gerak Dipercepat
Jika kecepatannya selalu berkurang secara teratur. Rumusnya adalah:
vt = v0 – a.t
1
s = v .t0 – at2
2
vt2 = v –02 2.a.s

c. Gerak Vertikal ke Bawah


Gerak yang arahnya ke bawah dengan percepatan sama dengan percepatan gravitasi
bumi. Rumus gerak vertikal ke bawah adalah:
Titik acuan
v0 vt = v0 + g.t
1
s = v .t + gt2
0
h 2
vt 2 2
= v0 + 2.g.h
h = ketinggian benda (m)

d. Gerak Vertikal ke Atas


Gerak yang arahnya ke atas dengan kecepatan awal tertentu. Rumus gerak vertikal ke atas
adalah:
vt = v0 – g.t
1
s = v .t0 – gt2
2
vt 2= v – 2.g.s
0
2

3
WWW.E-SBMPTN.COM

CONTOH SOAL

1. Suatu mobil direm dengan perlambatan 5 m/s2 secara konstan dari kelajuan 25 m/s pada
jarak 40 m. Jarak total yang telah ditempuh mobil hingga akhirnya berhenti adalah ....

Pembahasan:
Diketahui:
v0 = 25 m/s
a = 5 m/s2
vt = 0 (direm hingga berhenti).
Ditanya: s total ?
Jawab:
vt2 = v 20 – 2.a.s
02 = 252 – 2.5.s
10.s = 625
625
s =
10
s = 62,5 meter

2. Gerakan sebuah mobil digambarkan oleh grafik di bawah. Percepatan ketika bergerak
semakin cepat adalah ....
v (m/s)
2

10

t (s)
10 18
–4

Pembahasan:
vt = 20 m/s

v0 = 10 m/s
Δt = t2 – t1 = 18 – 10 = 8 s
v v 2010
= 1,25 m/s2
a = t 0 =
t 8

4
WWW.E-SBMPTN.COM

D. hukum newton tentAnG GerAk DAn GAyA Gesek


a. hukum I newton
Jika resultan gaya yang bekerja pada suatu benda sama dengan nol, maka benda yang
semula diam akan tetap diam. Jika benda tersebut bergerak maka benda bergerak dengan
kecepatan tetap (GLB).
ΣF = 0

b. hukum II newton
Jika ∑F ≠ 0, maka benda tersebut akan bergerak dengan percepatan sebesar:

F
a
m

Adapun arah percepatannya searah resultan gayanya.

c. hukum III newton


Gaya aksi sama dengan gaya reaksi dan arahnya berlawanan.
Faksi = −Freaksi

d. Gaya Gesek
Merupakan gaya yang timbul antara dua permukaan yang saling bersinggungan dan
arahnya cenderung berlawanan dengan arah gerak benda.
1. Gaya gesek statis
Jika gaya luar yang bekerja tidak mengubah posisi benda (masih tetap diam).
N

fs
W
ΣFx = 0
F – fs = 0
Fs = F

ΣFy =0
N–W =0
N = W = m.g

5
WWW.E-SBMPTN.COM

Untuk menggerakkan benda, maka diperlukan gaya luar minimum,


Fmin = fmaks = μs.N

ms = koefisien kekasaran statis


N = gaya normal

2. Gaya gesek kinetis


Gaya ini bekerja pada saat benda bergerak, besarnya tetap, dan dirumuskan
sebagai:
fk = μk.N

μk = koefisien kekasaran kinetik

CONTOH SOAL

1. T
T A

B 3m

4m

μk = 0,1
mA = mB = 2 kg
Tentukan percepatan sistem?

Pembahasan:
fA = μk.NA = 0,1 × 20 = 20 N
4
f = μ .m .g.cos  = 0,1 × 2 × 10 × = 1,6 N
B k B
3 5
m .g.sin  = 2 × 10 × = 12 N
B
5
ΣF = Σm.a
mB.g.sin  – fB – fA = (ma + mB) a
12 – 1,6 – 2 = 4a

a = 2,1 m/s2

3
WWW.E-SBMPTN.COM

FISIKA
SET 3
ELASTISITAS

Elastisitas adalah kemampuan benda untuk segera kembali ke bentuk semula segera
setelah gaya luar yang bekerja ditiadakan.

A. TegAngAn (stress)
Tegangan adalah besar gaya (F) yang diberikan pada benda per satuan luas penampangnya
(A). Dirumuskan:

σF σ = tegangan (N/m2)


A

B. RegAngAn (strain)
Regangan adalah perbandingan antara perubahan panjang suatu benda (∆L) terhadap
panjang mula-mula. Dirumuskan sebagai:

L e = regangan
e=
L

6
WWW.E-SBMPTN.COM

Digambarkan sebagai berikut.

L ΔL
A

C. Hukum Hooke
Menurut Hooke, rasio antara stress dan strain suatu benda disebut modulus young.
Dirumuskan sebagai:

F
 F.L
E  A E = modulus young/elastis (N/m2)
e L A.L
L

Jika diturunkan lagi, didapatkan:

E.A. L
F k. L
L
Dengan:
k = konstanta gaya bahan (N/m)

E.A
k=
L

D. SuSunAn PegAS
Salah satu benda elastis adalah pegas. Adapun susunan pegas terdiri atas:
a. Seri

k1

k2

2
WWW.E-SBMPTN.COM

Nillai Konstanta gabungannya adalah:

ks ktot
1 1 1
 
ks k1 k2

b. Paralel

k1 k2

Konstanta gabungannya adalah:

kp = k1 + k2

c. Campuran

k1 k2

k3

Konstanta gabungannya adalah:

kp  k1 k2
1 1 1
 
ktot kp k3

3
WWW.E-SBMPTN.COM

e. eneRgi PoTenSiAl elASTiS


Usaha (W) untuk memampatkan atau meregangkan suatu bahan elastis adalah perubahan
energi potensial bahan tersebut (ΔEp). Dirumuskan:

1
Ep  k. L
2
k = konstanta gaya elastis bahan (N/m)
∆L = pertambahan panjang (m)
∆Ep = energi potensial elastis bahan (joule)

F. gRAFik eneRgi PoTenSiAl PegAS (eP)


F (N)
luas grafik = energi potensial

1
W = Ep = k . (∆x)2
2

∆x (m)
W = Ep = Luas arsiran
F = k .∆x

CONTOH SOAL

1. Kedua ujung pegas yang memiliki tetapan pegas 100 N/m. Ditarik masing-masing dengan
gaya sebesar 20 N yang saling berlawanan. Pertambahan pegas tersebut adalah ....

Pembahasan:

F = 20 N F = 20 N

F = 20 N

Ini semisal dengan gambar:

4
WWW.E-SBMPTN.COM

Maka,

F 20
x   0,2meter
k 100

2. Sebuah pegas memanjang sebesar 4 cm ketika padanya digantungkan benda bermassa


60 kg. Jika beban kemudian ditarik ke bawah sejauh 10 cm, maka energi potensial pegas
adalah ....
Pembahasan:
Δx = 4 cm = 4 × 10–2 m
W = F = m × g = 60 × 10 = 600 N
F
k = x
600
k =
4102
60.000
k =
4
k = 15.000 N/m

Beban ditarik kebawah sejauh ∆x2 = 10 cm = 10–1 m


Maka,
1
Ep = k . (∆x )2
2
2
1
Ep = . 15000 . (10–1)2
2
Ep = 75 joule

3. Dua buah balok yang massanya sama dihubungkan seperti pada gambar di bawah ini.

m1 m2 F

Dengan k = 200 N/m. Jika gaya F = 4 N mulai bekerja pada benda kedua, maka jarak
maksimum antara kedua balok adalah .....
Pembahasan:

F
a
m1  m2

5
WWW.E-SBMPTN.COM

Tinjau benda m1
m1.a  k. L
m1.F
 k. L
m1  m2
L  m1 

(m1  m2 ).k
m1
L 
(2 m1).k
1
L 
(2).k
4
L 
(2).200
1
L  meter
100
L  1 cm

Jadi, jarak maksimumnya adalah:


L  L0 L
L  6 1
L  7cm

6
WWW.E-SBMPTN.COM

FISIKA
SET 04
FLUIDA

Fluida adalah zat yang dapat mengalir dan memberikan sedikit hambatan terhadap
perubahan bentuk ketika ditekan.

A. FluidA StAtiS
a. tekanan
Tekanan adalah gaya yang bekerja pada suatu permukaan dibagi luas permukaan tersebut.

F
Dirumuskan: P=
A
F = gaya (N)
A = luas permukaan (N/m2)
P = tekanan (N/m2)
b. tekanan Hidrostatis
Tekanan hidrostatis adalah tekanan yang disebabkan fluida tak bergerak, dirumuskan:

Ph = f . g . h

h
Ph = tekanan hidrostatis (N/m2)
h = kedalaman titik diukur dari permukaan fluida (m)
f = massa jenis fluida (kg/m3)

1
WWW.E-SBMPTN.COM

Catatan:
1 atm = 76 cmHg = 1,013 × 105 N/m2

c. tekanan total

Po Ptotal = Po + Ph
Pt = Po + fgh
h Po = tekanan udara luar

d. Hukum Pascal
“Tekanan yang diberikan pada zat cair di dalam ruang tertutup akan diteruskan ke segala
arah dengan sama besar.”

F1

A2
A1 F1 F2
F2 w =
A1 A2

2
F1 1A 1 r12   r 
= = = 
F2 A2 r22  r2 

1 2
d 2
F1 A1 4 1  d1 
= = = 
F2 A2 1 d
d22  2 
4

r = jari-jari penampang
d = diameter

e. Hukum utama Hidrostatika


“Semua titik yang terletak pada bidang datar di dalam satu jenis fluida (zat cair), mempunyai
tekanan yang sama.”

2
WWW.E-SBMPTN.COM

Berlaku:
xx
h1 xx 1 Pa = Pb
xx h2
agha = bghb
A B 1h1 = 2h2

2
1= massa jenis fluida ke-1
2 = massa jenis fluida ke-2
h1 = tinggi fluida 1
h2 = tinggi fluida 2

f. Hukum Archimedes
Menurut Archimedes, benda yang dicelupkan seluruhnya atau sebagian ke dalam fluida
akan mengalami gaya tekan ke atas yang besarnya sama dengan berat fluida yang
dipindahkan oleh benda tersebut.
FA
FA = f . g . Vbf
V
FA = gaya apung (N)
f f = massa jenis Fluida (kg/m3)
Vbf = volume benda yang tercelup atau dipindahkan (m3)

1. Terapung
benda < Fluida
V
 = bf 
b
Vb f
WB = F A
b = massa jenis benda
Vb = volume total benda
WB = berat benda

2. Melayang

benda = Fluida
WB = F A

3
WWW.E-SBMPTN.COM

3. Tenggelam
benda > Fluida
WB > F A
Wbf = Wu  FA
Wbf = b  f  Vbf g

Wbf = berat benda dalam fluida


Wu = berat benda di udara
Vbf = volume benda yang tercelup di fluida

CONTOH SOAL

1. Sebuah benda dicelupkan/dimasukkan ke dalam minyak yang massa jenisnya 0,8 g/cm3.
Ternyata 25% dari benda terapung di atas permukaan minyak. Berapakah massa jenis
benda tersebut?
Pembahasan:
Volume benda tercelup
Vbf = 100% – 25%
= 75% Vb
FA = W
f . Vbf = b . Vb
 .V 0,8. 75% Vb
b= f bf = = 0,6 g/ cm3
Vb 100% Vb

2. Sebuah ban dalam mobil diisi udara, volume ban 0,1 m3 dan massanya 1 kg. Jika ban
digunakan sebagai pengapung di kolam renang ( f  1000 kg/ m3 ), maka beban
maksimum yang dapat diapungkan adalah ....
Pembahasan:
FA Vb = 0,1 m3
m = 1 kg
FA = gaya Archimedes
Wb = berat ban
Wb W1 = berat beban

W1

4
WWW.E-SBMPTN.COM

W1 + Wb = FA
W1 = FA – Wb
m1 . g = f . gVb – m . g
m1 = f . Vb – m
= 1.000 . 0,1 – 1
= 100 – 1
= 99 kg
Jadi, beban maksimum yang dapat diapungkan adalah 99 kg.

B. FluidA dinAmiS
a. Persamaan Kontinuitas
Debit adalah banyaknya Fluida yang mengalir melalui suatu penampang tiap satuan
waktu, dirumuskan:

Volume m3 m
Q= = = m2 . =A . v
Waktu s s

Q = debit aliran (m3/s)


A = luas penampang (m2)
v = kecepatan aliran (m/s)

v2
v1
A2
A1

Hasil kali kecepatan aliran fluida dengan luas penampangnya selalu tetap.
Q1 = Q2
A1v1 = A2v2

b. Persamaan Bernoulli
“Jumlah tekanan energi kinetik tiap volume, dan energi potensial tiap volume mempunyai
nilai yang sama di setiap titik sepanjang aliran.”
P2
v2
P1 A2

v1
h2
A1 h1

5
WWW.E-SBMPTN.COM

Ek Ep
P+ + = konstan
Vol Vol
1 2
mv
2 mgh
P+ + = konstan
V V
1
P+ v2 + gh= konstan
2
1 1
P1 + 1 v12 + 
1 gh1 =P 2 +  v2 +  gh
2 2 2 2 2 2

c. Kebocoran tangki

v= 2gh1
h1 2h
2
t=
g

v = ...? t = ... ? x= 2 h1 . h2

h2

x = ...?

v = kecepatan air/fluida (m/s)


t = waktu jatuh (s)
x = jarak pancaran terjauh (m)

d. Venturimeter

h 2gh
v1 = 2
A
V1 V2 A 1  1
 2 
A1 A2 2gh
v2 = 2
 A 
1  2 
 1A

6
WWW.E-SBMPTN.COM

FISIKA
SET 5
SUHU DAN KALOR

A. suhu
Suhu adalah derajat panas atau dinginnya suatu benda, bisa juga dikatakan ukuran
kelajuan gerak-gerak partikel dalam suatu benda. Alat ukur suhu adalah termometer.
Jenis-jenis termometer di antaranya termometer Celcius, Reamur, Fahrenheit, dan Kelvin.
Hubungan termometer tersebut dirumuskan:

C R F  32 K  273  X  Xmin
   
5 4 9 5 Xmax  Xmin

Xmin = titik lebur es


Xmax = titik didih air

CONTOH SOAL

1. Termometer A dan B menunjukkan angka yang sama saat mengukur air yang mendidih.
Termometer A menunjukkan angka 75 C, sementara termometer B menunjukkan angka
50 C. Jika termometer A menunjukkan angka 35 C, maka termometer B akan menunjukkan
angka ....

1
WWW.E-SBMPTN.COM

Pembahasan:
A 75 B50
=
100  75 10050
35 75 B50
=
25 50
40 B  50
=
1 2
B50 =  80
B =  300 o C

B. KALOR
Kalor merupakan bentuk energi yang berpindah dari benda yang suhunya lebih tinggi ke
benda yang suhunya lebih rendah jika kedua benda bersentuhan.

a. Kalor Jenis
Kalor jenis adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 kg zat
sebesar 1 kelvin. Dirumuskan sebagai:

Q
c
m T

dengan:
c = kalor jenis (J/kg.oC)
Q = Kalor (J)
m = massa zat (kg)
T = perubahan suhu (oC)

Keterangan:
1 joule = 0,24 kalori
1 kalori = 4,2 joule

b. Kapasitas Kalor
Kapasitas kalor adalah bilangan yang menunjukkan banyaknya kalor yang diperlukan
oleh suatu zat untuk menaikkan suhu zat itu sebesar 1oC.

Dirumuskan sebagai:

Q
H=m.c atau H= dengan H = kapasitas kalor (J/K)
t

2
c. Kalor Laten
Kalor laten adalah kalor yang diperlukan untuk mengubah wujud 1 gram zat dari wujud
satu ke wujud lainnya pada suhu tetap.

Dirumuskan sebagai:

Q=m.L L = kalor laten/lebur (J/Kg).

d. Grafik Penambahan Kalor


Perjalanan kalor untuk es di bawah To C yang dipanaskan hingga menjadi uap di atas 100C
adalah:
T OC
F

T
D E

B C
Q

–T A

o) Dari A ke B dan C ke D zat mengalami perubahan suhu. Kalor yang diperlukan pada
proses perubahan tersebut dirumuskan:

Q = m . c . T

Keterangan:
Kalor jenis es (ces) = 0,5 kal/go C = 2.100 J/kgC
Kalor jenis air (cair) = 1 kal/go C = 4.200 J/kgC

o) Dari B ke C dan D ke E zat mengalami perubahan wujud. Besarnya kalor yang


diperlukan dirumuskan sebagai:

Q=m.L
Keterangan:
Kalor lebur/laten = 80 kal/gram = 336.000 J/kg.

e. Asas Black
Apabila dua zat atau lebih dicampurkan pada suatu wadah, maka zat yang suhunya tinggi
akan melepas kalor dan zat yang suhunya rendah akan menyerap kalor sehingga akan

3
mencapai suhu kesetimbangan.

Dirumuskan sebagai:
Qlepas = Qserap

C. PERPINDAhAN KALOR

a. Konduksi
Konduksi adalah perambatan kalor yang tidak disertai dengan perpindahan massa.
T1 T2

A H
Keterangan:
K = koefisien konduksi termal (W/m.K)
A = Luas penampang batang (m2)
L = panjang batang (m)
H = Laju aliran kalor (J/s)
T = T1 – T2 (dalam oC)

b. Konveksi
Konveksi adalah perpindahan kalor yang disertai perpindahan massa zat perantaranya.
Laju kalor nya dirumuskan sebagai:

H = h . A . T

Dengan, h adalah koefisien konveksi termal (W/m2.K)

c. Radiasi
Radiasi adalah perpindahan kalor oleh gelombang elektromagnetik tanpa memerlukan
zat perantara. Laju energi radiasinya dirumuskan sebagai:

P = e .  . A . T4
Dengan,
P = laju energi (W)
T = suhu mutlak benda (K)
A = luas permukaan benda (m2)

4
 = tetapan Stefan–Boltzmann (5,67 × 10-8 W/m2.K4)
e = emisivitas ( 0  e  1 ), dengan warna hitam emisivitasnya = 1

CONTOH SOAL

1. Air yang suhunya 20oC bermassa X gram dicampur dengan es yang suhunya 10 oC
bermassa Y gram. Pada saat terjadi kesetimbangan, sebagian es melebur. Jika kalor jenis
es 0,5 kal/g.oC, berapa gram massa es yang melebur dalam X dan Y?

Pembahasan:
QL = Qs
mair . cair . T = mes . L + mes . ces . T
X.1.20 = m 80 + Y.0,5.10
20X = 80m + 5Y
4X = 16m + Y
4XY
m= gram
16

5
FISIKA
SET 06
LISTRIK DINAMIS

A. Arus DinAmis
Arus dinamis adalah aliran mautan muatan positif yang apabila makin banyak muatan
positif yang mengalir melalui suatu penampang kawat dalam suatu selang waktu ∆t,
maka arusnya semakin besar.
Kuat arus listrik (I) didefinisikan sebagai banyaknya muatan yang mengalir pada suatu
konduktor tiap satuan waktu. Dirumuskan:

dQ
I
dt


Q I. dt  luas grafik l terhadap t

sehingga kuat arus dapat ditulis:


Q
I
t

Q = muatan listrik (C)


t = selang waktu (s)
l = kuat arus listrik (C/s atau ampere)

1
B. HAmBAtAn KonDuKtor
Hambatan listrik pada kawat penghantar (konduktor) bergantung pada jenis konduktor,
luas penampang konduktor, panjang konduktor, dan temperatur konduktor.

A  d

L
Secara metematis ditulis:

.L
R
A
4..L
R
.d2

 = konstanta hambatan jenis (m)


L = panjang konduktor (m)
A = luas penampang (m2)
d = diameter penampang (m)
R = hambatan konduktor ()

Jika dipengaruhi oleh suhu, maka besar hambatan konduktor adalah:


R = R0 (1 + .T)
R0 = hambatan awal
R = hambatan setelah ada kenaikan suhu
 = koefisien suhu
T = perubahan suhu

a. rangkaian seri Hambatan


Berlaku:
A B C D
 Rtotal = RAB + RBC + RCD
R1 R2 R3 Rtotal = R1 + R2 + R3

 Vtotal = VAB + VBC + VCD


Vtotal = V1 + V2 + V3

V  V1 : V 2 : V 3 = R 1 : R 2 : R 3

2
b. rangkaian Paralel Hambatan

R1
E F Berlaku:
I1
Itotal 1 1 1 1
   
Rtot R1 R2 R3
A I2 R2 B
 Itotal = I1 + I2 + I3
C D  VAB = VBC = VCD = Vtotal
I3
R3

Volt

c. rangkaian Jembatan Wheatstone


B
G = galvanometer, jika IG = 0 maka berlaku:
R1 R2

I1 R 1 . R 4 = R2 . R3
I4
G
A
C
I2 I3
R4 R3

Vtotal

X Berlaku:
R
X . L 2 = R . L1

X = hambatan yang tidak diketahui


A B
L2 L1 R = hambatan yang diketahui
L1 = panjang kawat 1
L2 = panjang kawat 2
V

3
C. HuKum KirCHHoff

a. Hukum Kirchhoff i
“Jumlah kuat arus yang masuk ke titik cabang sama dengan arus listrik yang keluar dari titik
cabang.”

I2
I3

I5
I1 I4

Imasuk = Ikeluar
I2 + I3 + I5 = + I1 + I4

b. Hukum Kirchhoff ii
Di dalam sebuah rangkaian tertutup, jumlah aljabar gaya gerak listrik (ΣE) dengan
penurunan tegangan (ΣI.R) sama dengan nol, dirumuskan:

ΣI . R + ΣE = 0

Pengukuran tegangan:
E1 R2 E2

+– –+

R1 R3

A B

VAB = ΣI . R + ΣE
VAB = E1 – E2 + I (R1 + R2 + R3)

4
D. EnErgi DAn DAyA ListriK
Ketika sebuah elemen listrik (sumber arus listrik) mengirim arus melalui hambatan listrik,
maka elemen listrik memberikan energi listrik kepada hambatan untuk menggerakkan
muatan q. Elemen harus melakukan usaha yang sama dengan kenaikan energi potensial
listrik.
dengan, q = I . t
W=q.V

maka:

W=V.I.t
dengan, V = I . R

maka:
dengan, P = V . I
W=I.R.I.t
W = I2 . R . t

maka:
V2
dengan, P
W = P. t R

maka:

V2
W .t
R
Keterangan:
W = usaha/energi listrik (J)
q = muatan listrik (C)
I = arus listrik (A)
V = beda potensial (V)
t = waktu (s)
R = hambatan listrik ()
P = daya listrik (W)

CONTOH SOAL

1. Sebuah kapasitor 2000 mF yang semula tak bermuatan dialiri arus 40 mA selama 5 sekon.
Beda potensial yang terjadi pada kapasitor adalah ....
A. 50 mV D. 250 mV
B. 100 mV E. 500 mV
C. 120 mV

5
Pembahasan:
Q=c.V
Q
V=
c
i. t
V=
c
405
V=
2.000
1
V = volt
10

V = 100 mV

2. Perhatikan gambar berikut!


A – + B + – C

E1 , R 1 E2 , R 2

D E

R1 R2 R3
Jika,
E1 = 12 Volt R1 = 1 
E2 = 6 Volt R2 = 1 
r1 = 0,2  R3 = 2,5 
r2 = 0,3 

Tentukan VBC !
Pembahasan:
ΣI . R + ΣE = 0
I(r1 + r2 + R1 + R2 + R3) – E1 + E2 = 0
I(6) – 12 + 6 = 0
6I – 6 = 0
6
I = ampere
6
I = 1 ampere

6
E2 , R2
B C
+ –
VBC = E2 + I . r2
VBC = 6 + 1 . (0,3)
VBC = 6,3 V

3. Perhatikan gambar berikut!


3 V; 1 
 

A 2 V; 0,5  B

4 V; 1 
Beda potensial antara A dan B adalah ... (volt)
Pembahasan:
E1.r2 .r3 E2 .r3.r1 E 3 .r2.r1
Vtotal 
r2 .r1r3 .r1r2 .r3
3..0,5.12.1.1 4.0,5.1
Vtotal 
0,5.11.1 0,5.1
7,5
Vtotal 
2
Vtotal 3,75 volt

4. Perhatikan gambar berikut!


E1 E2

R1 R3 R2

I3

I1 I2

Besarnya arus pada I3 adalah ....

7
A. E1 = 18 volt D. R2 = 4
B. E2 = 10 volt E. R3 = 6
C. R1 = 2
Pembahasan:
E1 .R2 E2 .R1
I3 
R1 .R2 R1 .R3 R2 .R6
18(4)10(2)
I3 
2.4 2.6  4.6
92
I  ampere
3
44
23
I  ampere
3
11

8
FISIKA
SET 07
LISTRIK STATIS

A. GAyA Coulomb
Jika terdapat dua atau lebih partikel bermuatan, maka antara partikel tersebut akan
terjadi gaya tarik-menarik atau tolak-menolak, yang besarnya sebanding dengan masing-
masing muatan dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antarmuatan. Dirumuskan
sebagai:

k.q1 .q2
F
r2

F = gaya coulomb (N)


1
k = = 9  109 Nm2/C2
40
q1 = muatan 1
q2 = muatan 2
0 = permitivitas listrik vakum = 8,85  10-12 C2/Nm2
r = jarak antara q1 dan q2

r
+ + F

F r F
+ –

1
Jika medium muatan bukan pada vakum atau udara, maka besarnya gaya coulomb akan
berkurang.

Fbahan Fudara

1
Fbahan  vakum
F
r

r = permitivitas bahan lain

b. medAn listrik (e)


Adalah ruang di sekitar benda bermuatan listrik yang mana benda lain yang ada di
sekitarnya masih mendapatkan gaya coulomb. Medan listrik merupakan besaran vektor.
Besaran yang menyatakan vektor medan listrik ini disebut kuat medan listrik.
Dirumuskan:
q
k.Q.
F r2  k.Q
E 
q q r2

E = kuat medan N/C


q = muatan uji (+)

 Jika sumber muatan (+)


Q
q
+ E
r

 Jika sumber muatan (-)


Q
q

r E

a. medan listrik oleh bola konduktor bermuatan

2
1. Di dalam bola (r < R) E = 0

k.Q
2. Di permukaan bola (r < R) E
R2

k.Q
3. Di luar (r < R) E
r2

b. medan listrik di Antara medan keping sejajar

+ –
A E
+ –
A
+ –

 Q
E  , dengan 
0 A

E = medan listrik 2 keping sejajar (N/C)


 = rapat muatan (C/m2)
A = luas keping (m2)

C. PotensiAl listrik (V)

Potensial listrik adalah perubahan energi potensial per satuan muatan listrik ketika sebuah
muatan uji dipindahkan di antara dua titik, dirumuskan:

k.Q
V
r

V = potensial listrik (volt)


Nm2
k = 9  10 2
9
C
Q = muatan sumber (C)
r = jarak muatan uji ke Q (m)

3
Jika terdapat beberapa muatan sumber, maka:
n
Qi
V k 
i1 ri

Q1 Q2
V  k(  ...)
r1 r2

a. Potensial listrik oleh bola konduktor bermuatan


1. Di dalam sampai ke permukaan bola (r ≤ R), maka:

k.Q
V
R

2. Di luar bola, maka:

k.Q
V
r

b. energi Potensial listrik

k.q1 .q2
Ep
r

Ep = Energi potensial listrik (joule)


k = 9 109 Nm2/C2
q1 = muatan 1 (C)
q2 = muatan 2 (C)
r = jarak antara q1 dan q2 (m)

Jika muatan benda pada suatu titik berpotensial V, maka muatan tersebut memiliki energi
potensial sebesar:

Ep = q .V

c. usaha listrik
Apabila sebuah muatan q akan dipindahkan dari suatu titik berpotensial V1 ke titik
berpotensial V2, maka diperlukan usaha sebesar:

W = Ep = q . V = q . (V2 – V1)

4
d. kapasitas kapasitor keping sejajar
V
E
d
E = Medan listrik (N/C)
V = Beda potensial (volt)
d = Jarak antara 2 keping (m)

Jika mediumnya vakum, maka: A


C 0 0
d

Jika medium diisi bahan dielektrik:

C = k . C0

k = konstanta dielektrik
C = kapasitas (farad)

d. kAPAsitor
Kapasitor adalah komponen listrik yang berfungsi sebagai penyimpan muatan listrik.

Q
C
V
Dengan:
C = kapasitas kapasitor (F)
Q = muatan listrik (C)
V = beda potensial (V)

a. susunan seri kapasitor


C1 C2 C3 Berlaku:
1 1 1 1
A B C D    
Ctotal C1 C2 C3
 Vtotal = VAB + VBC + VCD
= V1 + V2 + V3
+ –

V  Qtotal = Q1 + Q2 + Q3

5
b. susunan Paralel kapasitor
C1 Berlaku:
E F  Ctotal = C1 + C2 + C3
 Vtotal = VBC = VCD = Vtotal
A B  Qtotal = Q1 = Q2 = Q3
C2
C D
C3

c. energi pada kapasitor (W)

1 1 Q2
W  C.V2  Q.V 
2 2 2C

W = energi pada kapasitor (joule)


1 joule = 0,24 kalori

CONTOH SOAL

1. Pada titik sudut A, B, C dan D sebuah persegi dengan sisi a, berturut-turut ditempatkan
muatan +Q , -Q , -Q dan –Q. Muatan –Q mengalami resultan gaya sebesar:  4 q2 2 
 x,
maka nilai x adalah ....   
Pembahasan:

D a C

a
F

A F B

6
k.q2 q2
FF F  F
AB AD 2 2
a 4a
2
k.q 1 k.q 2 1
F    2  F
2 a 2
Fa 2F
AC 2

2 2
FR1  AB AD F 2

FR1 dan dan FAC berhimpit, maka:


Ftotal = FR1 + FAC
x  F 2  1 F
 4a
q2 2 
2
 
1
F. x  F 2  F
2
 1
x  2 
 
 2 

2. Dua elektron dilepaskan dari jarak 2  10-14 m. Berapakah kecepatan elektron ketika
berjarak 5  10-14 m? (qe = 1,6  10-19 C, me = 9  10-31 kg)
Pembahasan:
r1 = 2  10-14
r2 = 5  10-14
Pada soal, terjadi perubahan energi, maka:
2Ek = Ep1 – Ep2

1 kq2  kq2
mv  
2
2.
2 r1 r2
 1 1 
mv2  kq2   
r r
 1 2 
kq2  1 1 
v2  m  r  r 
  1 2 

k  1 1 
vq  
m  r1 r2


9109 1   1 
v  1,6 10-19 -31 
 -14
910 210 510-14 

v  0, 87108 ms

7
3. Suatu kapasitor keping sejajar, luas tiap keping 2.000 cm2 dan terpisah 1 cm. Beda potensial
di antara keping 3.000 volt bila berisi udara. Namun beda potensial akan menjadi 1.000
volt jika diisi bahan dielektrik. Tentukan permitivitas bahan tersebut ....
Pembahasan:
V1 = 3.000 volt
V2 = 1.000 volt
k1 = 1 (udara)
C = k . C0
C~k

Q 1
dengan C , sehingga C
V V

1
maka: C~ ~k
V

V2 k1
Sehingga didapatkan perbandingan: 
V1 k2
1.000 1

3.000 k2
k2 = 3

4. Perhatikan gambar berikut!


C1
C4

C2

C3

10 volt

Kapasitas kapasitor 1, 2, 3 dan 4 masing masing adalah 2F, 3F, 1F, dan 4F. Besarnya
energi listrik yang tersimpan dalam kapasitor 4F adalah ...... (dalam  joule)

8
Pembahasan:
Cp = C1 + C2 + C3
Cp = (2 + 3 + 1) F
Cp = 6 F
1 1 1
 
Ctotal Cp C4
1 1 1
 
Ctotal 6 4
1 23

Ctotal 12
12
Ctotal 
5
Ctotal = 2,4 F
Qtotal = Ctotal . Vtotal
Qtotal = 2,4 × 10
Qtotal = 24 C

karena Qtotal = Q4 = Qcp = 24 C, maka:


1 Q42
W
2 C4
242
W
2. 4
W72J

9
FISIKA
SET 08
TEORI ATOM

A. Teori ATom DAlTon


a. Atom adalah bagian terkecil suatu unsur dan tak dapat dibagi lagi.
b. Atom suatu unsur serupa semuanya dan tak dapat berubah menjadi atom unsur lain.
c. Dua atom atau lebih dari unsur berlainan dapat membentuk suatu molekul.
Contoh: H2O.

B. Teori ATom Thomson


Menurutnya atom berbentuk bulat padat dan memiliki muatan positif yang tersebar
merata dan dinetralkan oleh muatan negatif.
Keterangan:
elektron Massa elektron = 9,1 × 10-31 kg
Muatan elektron = -1,6 × 10-19 C
Massa proton = 1,67 × 10-27 kg

proton

1
C. Teori ATom ruTherforD
a. Semua muatan positif dan sebagian besar massa atom akan berkumpul pada titik di
tengah atom, disebut inti atom.
b. Inti atom dikelilingi oleh elektron pada jarak yang relatif jauh, dengan elektron berputar
mengelilinginya.
inti atom

elektron

c. Kelemahan Model Atom Rutherford


1. Elektron yang berputar mengelilingi inti atom akan memancarkan radiasi
elektromagnetik, sehingga energi elektron terus berkurang dan suatu saat akan
jatuh ke inti, hal ini membuat atom menjadi tak stabil.
2. Tidak dapat menjelaskan spektrum garis atom hidrogen.

D. moDel ATom Bohr


Berawal dari kekhawatiran Bohr akan terbentuknya “pilin”, yakni jatuhnya elektron ke inti
atom karena kehilangan energi saat mengelilingi inti. Maka Bohr mengeluarkan 2 postulat
terpentingnya, yaitu:
a. Elektron bergerak mengelilingi inti atom menurut lintasan tertentu (lintasan
stasioner) tanpa membebaskan energi.
b. Elektron berpindah ke lintasan yang lebih rendah energinya sambil memancarkan
energi (transisi) dan ke lintasan yang lebih tinggi energinya sambil menyerap energi
(eksitasi).

Konsekuensi dari postulat Bohr


a. Jari-jari elektron (lintasan) adalah tertentu/diskrit, dirumuskan sebagai:
rn = n2r1 r1 = jari-jari lintasan dasar (0,582 Ǻ)

b. Energi elektron pada setiap lintasan juga diskrit, dirumuskan:

13,6
En  - eV
n2

2
e. spekTrum ATom hiDrogen
Pancarannya bersifat diskrit, yaitu berupa garis-garis spektrum pada daerah ultraviolet,
cahaya tampak, dan infrared, yang membentuk deret:

Deret Tujuan Asal Berkas pancaran


Lyman n=1 n = 2, 3, 4, … Ultraviolet
Balmer n=2 n = 3, 4, 5, … Cahaya Tampak
Paschen n=3 n = 4, 5, 6, … Infrared 1
Bracket n=4 n = 5, 6, 7, … Infrared 2
Pfund n=5 n = 6, 7, 8, … Infrared 3

Adapun panjang gelombang spektrumnya dirumuskan:


R = tetapan (1,097 × 107 m-1)
1  1 1  nA = bilangan kuantum yang dituju
=R  2  2 
 n
 A nB  nB = bilangan kuantum yang semula/awal

n=1
K n =2 n = 3
L n =4 n =5 n=6
M N O P

CONTOH SOAL

1. Panjang gelombang garis ketiga dari deret Paschen adalah.... (dalam μm)
A. 2,3
B. 3,21
C. 1,5
D. 1,09
E. 2,25

3
pembahasan:
Diketahui: nA = 3
nB = 6
Ditanya: ?
1 1 1
 1,097 107  
 2 
 3 6 
2

1
 9,14167107

  1,094 10-6 m
  1,094 m

Jawaban: D

2. Panjang gelombang terkecil dan terbesar deret Bracket adalah ....


pembahasan:
Diketahui: nA = 4
nB1 = 5
nB2 = 2
Ditanya: maks = ... ?
min =... ?
1  1 1  1  1 1  
 R  2 2    R 42 52 
  A
n n B   
1  1 1  1 9R

R 
 2   400
 4 22  400
1 1  
R 0 9R
  
16    4 10-6 m
1 R

 16
16
   14,6 10-7
R
 1, 46 10-6 m

Sehingga, maks = 4  10-6 m


min = 1,46  10-6 m

3. Sebuah elektron beredar mengelilingi inti atom memenuhi model atom Bohr pada kulit
M dengan kelajuan v. Jika jari-jari dasar R, massa elektron m, muatan elektron e, dan
konstanta Coulomb k, maka kuat arus listrik pada elektron tersebut adalah ....

4
pembahasan:
n=3

n=2

n=1
R

FC Fsp

Fsp  Fc
Catatan:
e2
m2R M k RM = R3 = 32 . R = 9R
RM 3
 2 2 e2
m    k
 T  R M3
42 k e 2
m 
T2 RM 3
mRM3  42
T
K e2
2 mRM3

e K
qe e
i 
T
 
3
2 m 3 R
2

e k
e K
=
2 27 mR3
e2 K
= ampere
54 mR3

5
LATIHAN SOAL

1. Dalam pancaran (spektrum) atom hidrogen, perbandingan antara panjang gelombang


untuk radiasi Lyman (n = 2 ke n = 1) terhadap Paschen (n = 4 ke n = 3) adalah ....
A. 1 : 2
B. 3 : 4
C. 1 : 9
D. 1 : 4
E. 4 : 3

2. Saat transisi elektron dari kulit M ke kulit K. Berapakah frekuensi foton yang dipancarkan
oleh atom tersebut?
A. 2,295 × 1015 Hz
B. 2,925 × 1015 Hz
C. 9,252 × 1015 Hz
D. 2,259 × 1015 Hz
E. 5,292 × 1015 Hz

3. Elektron atom hidrogen model Bohr mengelilingi intinya dengan bilangan kuantum. Bila
energi ionisasi atom itu bernilai sepersembilan kali energi ionisasi atom itu dalam keadaan
dasarnya, maka bilangan kuantum n adalah ....
A. 1
B. 2
C. 3
D. 4
E. 5

6
FISIKA
SET 9
RELATIVITAS KHUSUS DAN DUALISME GELOMBANG PARTIKEL

A. RelAtivitAs Khusus
Teori relativitas khusus didasarkan pada 2 postulat Einstein, yakni:
1. Pertama, “Hukum fisika dapat dinyatakan dalam bentuk matematis yang sama
meskipun diamati dari kerangka acuan yang bergerak dengan kecepatan tetap
terhadap kerangka acuan yang lain”.
2. Kedua, “Kelajuan cahaya di dalam ruang hampa adalah sama untuk semua pengamat,
tidak tergantung pada gerak sumber cahaya maupun pengamat”.
Konsekuensi dari postulat Einstein tersebut adalah kecepatan, panjang benda, massa
benda, dan waktu mempunyai sifat relatif.

a. Relativitas Kecepatan
Bahwa tidak ada kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya. Penjumlahan relativitasnya
adalah:
v1 v2
v=
v .v
1 1 2 2
c
v1 = kecepatan benda 1 terhadap pengamat (m/s)
v2 = kecepatan benda 2 terhadap benda 1 (m/s)
v = kecepatan benda 2 terhadap pengamat (m/s)
c = kecepatan cahaya = 3 × 108 m/s

1
b. Relativitas Panjang
Menurut teori ini, benda yang bergerak mendekati kecepatan cahaya, panjangnya
nampak/seolah-olah memendek/susut (kontraksi panjang) jika diukur oleh pengamat
yang bergerak terhadap benda tersebut, dirumuskan:

v2
L = L0 1 
c2
dengan:
L = panjang menurut pengamat yang bergerak (m)
L0 = panjang benda saat diam (m)
v = kecepatan relatif antara kerangka acuan (m/s)

c. Relativitas Massa
Menurut teori ini, massa yang bergerak (m) akan lebih besar daripada massa benda
tersebut saat diam (m0), dirumuskan:
m0
m=
v2
1
c2

d. Relativitas Waktu
Waktu yang diukur oleh sebuah jam yang bergerak terhadap kejadian lebih besar daripada
jam yang diam terhadap kejadian, dirumuskan:

t0
t = v2
1 
c2
dengan:
t = selang waktu yang diukur oleh pengamat yang bergerak terhadap kejadian (s)
t0 = selang waktu yang diukur oleh pengamat yang diam terhadap kejadian, disebut
juga waktu benar atau proper time (s)

e. Kesetaraan Massa dan energi


Menurut Einstein, jika ada penyusutan massa maka akan timbul/muncul energi. Hal ini
menunjukkan adanya kesetaraan massa dan energi. Energi tersebut sebesar E.
Dirumuskan:
E = m.c2

2
E = E 0 + Ek

dengan:
E = energi total
Ek = energi kinetik secara relativistik
E0 = energi saat benda diam

Ek = E – E0

Ek = m.c2 – m0 . c2
m0
Ek = . c2 – m0 . c2
2
v
1
c2

1
Ek= ( – 1) . E0
v2
1  2
c

dengan:
m0 = massa diam
m = massa bergerak
v = kecepatan benda
c = kecepatan cahaya

f. Momentum Relativistik

Dirumuskan:
E2 = (m0c2)2 + (pc)2

E2 = E0 +2 p c 22

atau,
E2  E02
p=
c2
p = momentum relativistik
c = kecepatan cahaya

3
CONTOH SOAL
1
1. Sebuah roket bergerak dengan kecepatan 3 c . Maka panjang roket menurut pengamat
2
yang diam akan nampak menyusut sebesar ....
A. 20%
B. 40%
C. 50%
D. 60%
E 80%
Pembahasan:
v2
L = L – L0 1 
c2
1
3 c)2
(
L = L – L0 1 2
c2
1
L = L – L0
4
1
L =L– L
20
L = 0,5 L0
1
L L
= 2 0 = 50%
L0 L0

2. Supaya energi kinetik benda bernilai sepersembilan energi diamnya, maka benda harus
bergerak dengan kecepatan ... (dalam c)
Pembahasan:
1
E = E
k 0
9
1
Ek = ( – 1) . E0
v2
1
c2

1 1
E=( – 1) . E
9 0 v2 0
1
c2

4
1 1 – 1)
=(
9 v2
1 2
c
1 1
=1+
v2 9
1
2
c

1 10
=
v2 9
1
c2

1 – v2 = ( 9)
2
2
c 10

v2 81
1– =
c 2 100
v = 1 – 81
2

c2 100
v2 19
=
c2 100
2 19 2
v = c
100
1
v=
19 c
10

B. DuAlisMe GelOMBANG PARtiKel


Hal ini terkait dengan cahaya, yang mana cahaya bisa dipandang sebagai gelombang dan
dapat pula dipandang sebagai partikel.
DeBroglie mengajukan hipotesis bahwa setiap partikel yang bergerak memiliki sifat
sebagai gelombang, yang mana setiap partikel yang bergerak dengan momentum mv
memiliki panjang gelombang sebesar:

h h
 atau 
mv p

dengan:
p = momentum benda
 = panjang gelombang deBroglie
h = 6,63 × 10–34 J/s
m = massa benda

5
Untuk partikel bermuatan yang dipercepat oleh beda potensial dirumuskan:
h

2.m.q.V

dengan:
h = ketetapan Planck (6,6 × 10–34 J/s)
m = massa benda (kg)
q = muatan benda (coulomb)
V = tegangan pemercepat (volt)

CONTOH SOAL

1. Sebuah elektron bergerak dari keadaan diam melewati beda potensial 100 Volt. Panjang
gelombang de Broglie dari elektron adalah ... (Å)
Pembahasan:
h
 =
2.m.q.V
mo = 9  10–31 kg
q = 1,6  10–19 C
V = 100 volt
h = 6,63  10–34 J/s
6,631034
 =
2.(9 1031).(1,6 1019 ).100

 = 6,631034
28,81048
34
 = 6,6310
5,36 x1024
 = 1,23 × 10–10 m
 = 1,23 Å

6
LATIHAN SOAL

1. Bila kelajuan partikel 0,5 c, maka perbandingan massa relativistik partikel itu terhadap
massa diamnya adalah ....

A. 34
30
5
B.
4
8
C.
5
D. 25
9
E. 25
4
2. Agar energi kinetik benda 0,25 kali energi diamnya, maka benda harus bergerak dengan
kelajuan ....
A. c
4
B. c
3s
C. 3c
5
D. 3c
4
E. 4c
5
3. Sebuah partikel mempunyai energi relativitas total 5 MeV dan momentum relativistiknya
4 MeV/c. Maka massa diam partikel itu adalah .... (dalam MeV/c2)
A. 1
B. 2
C. 3
D. 4
E. 5

7
FISIKA
SET 10
GETARAN HARMONIS, GELOMBANG, DAN BUNYI

A. Getaran Harmonis
Getaran harmonis adalah gerak bolak-balik di sekitar titik setimbang dengan amplitudo
dan frekuensi tetap.
a. Contoh Kasus Getaran Harmonis
1. Bandul sederhana
L
T = 2
 g
1
f=
T
dimana T = periode (s)
L = panjang tali (m)
f = frekuensi (Hz)
2. Ayunan pada pegas

m K
T = 2
k

1
b. Persamaan-Persamaan Pada Getaran Harmonis
1. Simpangan
2
y = A sin ωt ω=  = 2f
T
2. Kecepatan getaran
dy
v = = A cos t v =  A2  y2
dt
3. Percepatan getaran
dv
a = = - A2 sin t
dt

4. Gaya pemulih
F = ky
k = konstanta getaran (N/m)
k = m2

5. Energi
1
Energi Potensial  Ep = ky 2
2
1
Energi Kinetik  Ek = k A 2  y 2
2
 
Energi Mekanik  Ep + Ek

B. Gelombang Tali
Gelombang tali adalah getaran yang merambat pada sebuah medium berupa tali dan
sejenisnya.
a. Gelombang Berjalan
Persamaan Umum
2
y = A sint – kx  = = 2f
T
2
k =

b. Gelombang Stasioner
1. Ujung tetap dengan persamaan umum
y = 2A sin kx . cos t As = 2A sin kx
2. Ujung bebas
y = 2A cos kx . sin t As = 2A cos kx

2
C. Bunyi
a. Getaran Dawai
Jika sebuah dawai dipetik akan timbul nada-nada sebagai berikut:
1
Nada Dasar (Harmonik I)  l  
2
Nada Atas ke-1 (Harmonik II)  l  
3
Nada Atas ke-2 (Harmonik III)  l  
2
 n + 1
f =  v
 2l 

n = 0, 1, 2, 3, . . .
v = cepat rambat (m/s)
b. Intensitas dan Taraf Intensitas
1. Intensitas bunyi
P
I= =
A 4r
P
2 
watt / m
2


2. Taraf intensitas
 I
TI = 10 log 
 
I
 0 
I0 = intensitas ambang (10-12 watt/m2)
TI = taraf intensitas (dB)
I = intensitas bunyi

CONTOH SOAL

1. Benda bermassa 10 gram digetarkan menurut persamaan simpangan y = 5 sin 100t,


dengan y dalam cm dan t dalam sekon. Energi total benda itu adalah . . . .
A = 5 cm = 5  10-2 m
ω = 100 rad/s
m = 10 gram = 10-2 kg

3
Pembahasan:
E 1 2
total

= kA
21 22
= m A
2
1
 
2
=  10-2  100   5  10-2
2

2
= 2, 5  10-2 joule

2. Pegas disusun seperti pada gambar. Jika keempat pegas adalah identik, maka
perbandingan periode susunan seri dan paralel adalah . . . .

K
K K

M M

A. 2 :1
B. 1 :2
C. 5 :4
D. 3 :2
E. 2 :3
Pembahasan:
1
ks = k kp = 2k
2
Ts kp 4 =2
= = 2k =
Tp ks 1 1 1
k
2
Jawaban: A

4
LATIHAN SOAL

1. Sebuah benda bergetar harmonis dengan amplitudo A. Jika kecepatannya sama dengan
setengah kecepatan maksimumnya, maka simpangannya sebesar . . . .
A. 0,5 A
B. 0,87 A
C. 0,9 A
D. 0,95 A
E. 0,98 A

2. P dan Q yang berjarak 12 meter merupakan sumber bunyi yang memancar ke segala arah.
Intensitas bunyi yang dipancarkan P dan Q adalah 2,7 W/m2 dan 0,3 W/m2. Penempatan
titik R dari P agar intensitas bunyi yang diterima R dari P dan Q sama adalah . . . .

3. Dua sumber bunyi mempunyai panjang gelombang masing-masing 2 meter dan 2,05
meter menghasilkan 15 pelayangan dalam waktu 5 detik. Besar kecepatan bunyi keduanya
adalah . . . .

4. Cepat rambat bunyi di udara pada suhu -17°C dan tekanan 1 atm adalah 300 m/s. Bila
suhu udara tersebut berubah menjadi 127°C dan tekanan udara tetap, maka cepat rambat
bunyinya sekarang adalah . . . .

5. Dawai yang panjangnya L memiliki nada dasar f. Bila dawai panjangnya dipendekkan
8 cm tanpa mengubah tegangannya dihasilkan frekuensi 1,25 f. Andai panjang dawai
dipendekkan 2 cm lagi, maka frekuensi yang dihasilkan adalah . . . .
A. 1,25 f
B. 1,5 f
C. 1,33 f
D. 1,47 f
E. 2 f

5
6
FISIKA
SET 11
CAHAYA SEBAGAI GELOMBANG

A. Interferensi Young
Terjadi akibat perbedaan lintasan gelombang cahaya yang tiba pada suatu titik dengan
syarat kedua gelombang tersebut koheren (beda fase tetap).

T2
S1
Terang ke-1
Gelap ke-1 P1 (terang)
d Terang pusat

S2

a. Terjadi Terang (Konstruktif, Interferensi Maksimum)


dP
S = d sin   m
L
m = 0, 1, 2, 3, 4 (pola ke-m)
P = Jarak pola dari terang nol

1
b. Terjadi Gelap (Destruktif, Interferensi Minimum)
dP  1
S  d sin   m  
 
L  2 

CONTOH SOAL


1. Dua celah yang berjarak 1 mm, disinari cahaya dengan panjang gelombang 6.000 Ǻ. Jika
jarak celah ke layar 1 m, maka jarak antara gelap ke-3 dan terang ke-5 adalah . . . .
A. 1,8 mm
B. 1,7 mm
C. 1,6 mm
D. 1,5 mm
E. 1,4 mm
Pembahasan:
P  P5 terang  P3 gelap
5 L

2d
5 16  10 
-7


2 1  10-3
 1, 5 mm
Jawaban: D

2. Dua celah yang berjarak 3  10-5 m, disinari cahaya monokromatis dengan panjang
gelombang 6.000 Ǻ membentuk pola interferensi pada layar jaraknya 2 meter dari celah
 4
tersebut. Jika percobaan dilakukan dalam air n = , maka jarak antara dua garis terang
 
 3
yang berurutan adalah . . . . 
A. 0,01 m
B. 0,02 m
C. 0,03 m
D. 0,04 m
E. 0,05 m
Pembahasan:
Diketahui: d = 3  10-5 m
1 = 6.000 Ǻ = 6  10-7 m
L=2m

2
4
n=
3
P = . . . ?
Jawab: L2
 n P =
1
 1
d
2 n2
2  4,5  10-7
4 =
6  10-7  3 3  10-5
 

2 1 = 3  10-2
2 4, 5  10-7 m = 0, 03m
Jawaban: C

3. Cahaya tampak memancar dalam dua macam panjang gelombang 1 = 430 nm dan 2 =
510 nm digunakan dalam celah ganda dengan jarak antarcelah 0,02 mm serta jarak celah
ke layar 1 meter. Jarak antara kedua cahaya pada pita terang ke-4 adalah (dalam cm)
Pembahasan:
Diketahui:
1 = 430nm
 = 80nm= 8  10-6 cm

2= 510nm  

d = 0,02 mm = 2  10-3 cm
L = 1 m = 100 cm
m = 4 (terang ke-4)
P = ...?
Jawab:
mL   4  100  8  10-6
P = =
d 2  10-3
= 16  10-1
= 1,6 cm

LATIHAN SOAL

1. Pada interferensi Young, jika jarak antara kedua celahnya dijadikan setengah kali semula,
maka jarak antara dua garis terang yang berurutan . . . semula.

3
B. Difraksi/Lenturan Pada Kisi
Difraksi adalah peristiwa terjadinya terang dan gelap pada layar karena pembelokan Arah
Rambat Cahaya pada celah sempit:
1
d=
N
Lensa  = sudut deviasi
d = jarak antar celah kisi
N = banyak garis per satuan panjang


P
Kisi

Layar

a. Syarat Terjadinya Terang


dP
d sin  = m atau  m
L
m = 0, 1, 2, 3, . . .

b. Terjadi Gelap
 1 dP  1
d sin  = m   atau = m  
   
 2  L  2 
m = 1, 2, 3, . . .

CONTOH SOAL 

1. Sebuah kisi yang memiliki 4.000 garis tiap centimeter digunakan untuk menentukan
panjang gelombang cahaya. Jika sudut antara garis pusat dan garis pada orde pertama
adalah 10° (sin 10° = 0,17). Dari hasil pengamatan, panjang gelombang cahaya itu adalah
....
Pembahasan:
Diketahui: N = 4.000 garis/cm
1 1
d= = cm = 0, 25  10-3 m = 25  10-5 m
N 4000
m = 1 (terang)

4
 = 10°
=...?
Jawab:
d sin = m
d sin 25  10-5  0,17
= =
m 1
= 4, 25  10-5 m

LATIHAN SOAL

1. Cahaya polikromatik jatuh tegak lurus pada kisi yang memiliki konstanta 2.000 garis per
centimeter. Jika jarak kisi-layar 1,5 meter, maka jarak garis terang ke-2 berkas sinar biru
adalah (dalam cm)
A. 7,6
B. 8,6
C. 9,6
D. 10,6
E. 11,6

2. Suatu berkas sinar sejajar mengenai tegak lurus suatu kisi yang lebarnya 4 mm. Di
belakang celah diberi lensa positif, dengan fokus 40 cm. Garis terang pusat dengan garis
gelap pertama berjarak 0,56 mm. Panjang gelombang sinar tersebut . . . .
A. 1,12  10-5 m
B. 1,5  10-5 m
C. 1,65 × 10-5 m
D. 1,7  10-5 m
E. 1,8  10-5 m

3. Cahaya monokromatis dengan panjang gelombang 6.000 Ǻ mengenai kisi yang terdiri
atas 1.000 garis/cm. Garis terang orde pertama diamati terjadi pada sudut 15°. Apabila kisi
tersebut diganti dengan kisi yang terdiri atas 750 garis/cm, maka pada sudut 15° tersebut
akan diamati keadaan/pola . . . .

5
6
FISIKA
SET 12
OPTIK GEOMETRI

A. Pembiasan (Refraksi)
Pembiasan adalah gejala pembelokan arah rambat cahaya ketika melewati bidang batas
antara 2 medium yang berbeda.
Syarat terjadinya: Sinar datang membentuk sudut tertentu (tidak tegak lurus/sejajar
bidang batas)
Besaran yang tetap: frekuensi dan fase

berubah: arah, cepat rambat, dan panjang gelombang

a. Indeks Bias Mutlak


Indeks bias mutlak adalah perbandingan antara kecepatan cahaya di udara dengan
cepat rambat cahaya dalam medium tertentu.
c
n= c = 3  108 m / s
vx

b. Indeks Bias Relatif


n v 
n = 1= 2 = 2
12
n2 v1 1

1
c. Hukum Snellius

N
SD

Renggang i n1

Rapat n2

SB
berlaku:
sini n2 v1 1
= = =
sinr n1 v2  2

CONTOH SOAL


1. Lapisan tipis minyak tanah terdapat di permukaan danau n = 1,5 dan n = 4  .
 m air 
 3 
Seberkas cahaya diarahkan ke lapisan minyak tersebut membentuk sudut 60° dari bidang
permukaan. Tentukanlah sudut bias cahaya di dalam air . . . .
(cos 60o = 0,5; cos 68o = 0,375; cos 71o = 0,33)
Pembahasan:
 Langkah ke-1, buat ilustrasi gambar

N
nu
60o
nm N

na

2
 Udara - Minyak
nu sin i1 = nm sin r1
1  0,5 = 1,5  sin r1
1
sin r =  r = 19o
1 1
3
 Minyak - Udara
nm sin i2 = nu sin r2
r2 = 22o

d. Lensa
Untuk lensa cembung dan cekung, berlaku:
1. Jarak Fokus
1 n   1 1  + cembung
=  L  1 +   R - cekung
f  nm R R
 1 2 

nL = Indeks bias lensa


nm = Indeks bias medium tempat lensa berada
R1 = Jari-jari lensa (kelengkungan) pertama
R2 = Jari-jari kelengkungan lensa kedua

2. Rumus Pembentukan Bayangan


1 1 1 h
= + dan M = Si = i
f So Si So ho
f Si  f
M= =
So  f f

3. Kekuatan Lensa
100
D=
f
f = fokus (cm)

4. Lensa Gabungan
Ptotal = P1 + P2 + P3 + . . .
1 1 1 1
Ptotal = f = f + f + f + ...
g 1 2 3

3
CONTOH SOAL

1. Sebuah lensa jika di udara memiliki kekuatan sebesar 7 dioptri. Berapakah kekuatannya
jika dimasukkan ke dalam air?
Pembahasan:
3 4
n = ,n = ,n =1
L
2
a
3
u

 nL  1 1 
 nL
1
P n  1  + 
ud    R1 R2  nu
Pair  nL  1 1  =
= nL
1

 n  1  R + R 

na
  1 2 
3
21
7 4
= 31 = 1
Pair 2 1
4
3
7
Pair = dioptri
4

LATIHAN SOAL

1. Diketahui dua buah lensa memiliki kekuatan gabungan sebesar 4 dioptri. Jika lensa
pertama memiliki fokus 5 cm, maka fokus lensa kedua adalah . . . .
A. -10,5
B. -6,25 cm
C. 4,5 cm
D. 5,5 cm
E. 25 cm

2. Sebuah lensa cembung ganda (bikonveks) memiliki jari-jari kelengkungan 80 cm dan 120
 3
cm n = . Tentukan letak bayangan benda yang berada pada jarak 2 meter dari lensa
 L 
 2 
tersebut.
LI = Lensa I
LII = Lensa II

4
3. Sebuah lensa masing-masing LI dan LII memiliki panjang fokus pertama +10 cm dan yang
kedua +12,5 cm. dengan jarak kedua lensa 30 cm. Tentukanlah jarak antara benda asli
dengan bayangan akhir jika sebuah benda diletakkan 15 cm di sebelah kiri LI.

B. Pemantulan (Refleksi)
a. Hukum Pemantulan
1. Sinar datang, garis normal, dan sinar pantul terletak pada satu bidang datar.
2. Sudut datang = sudut pantul (i = r)

CONTOH SOAL

1. Dua buah cermin seperti pada gambar membentuk sudut 60°. Seberkas sinar datang
menuju X dengan sudut 60°, hingga dipantulkan ke Y. Sudut pantul pada cermin Y sebesar
....

60o
X

Pembahasan:
Sudut pantul pada cermin X adalah 60°. Pada cermin Y, sinar datang berimpit dengan garis
normal (sudut datang 0°), sehingga sudut pantulnya juga 0°.


C 4

140o
C3

65o
C2 135o
C1
120o

5
Besar sudut pantul  pada cermin C3 adalah . . . .
Pembahasan:
r3 = α – i2
120 – 65 = 55
135 – 55 = 80
140 – 80 = 60°
Jadi, jawabannya 60°.

b. Cermin
Pada cermin cekung dan cembung, berlaku:
1. Jarak Fokus
1 1 1 + cembung
= + R
f so si - cekung

2. Pembentukan Bayangan
s
M = i = hi = f = si  f
so ho so  f f

LATIHAN SOAL

1. Sebuah benda tepat diletakkan di tengah antara titik fokus dan pusat kelengkungan
cermin cekung. Tentukanlah:
a. Bayangan
b. Sifat bayangan

2. Sebuah cermin cekung berjari-jari 2 meter. Sebuah benda yang tingginya 6 cm diletakkan
pada jarak 1,2 meter dari cermin, maka tinggi bayangannya adalah . . . .
A. 20 cm tegak
B. 20 cm terbalik
C. 25 cm terbalik
D. 30 cm tegak
E. 30 cm terbalik

6
FISIKA
SET 13
TEORI KINETIK GAS

A. Persamaan Keadaan Gas Ideal


PV = nRT A = Bilangan Avogadro (6,023  1023)
m
=  RT k = Konstanta Boltzmann (1,38  10-23J/K)
Mr
N
=  RT N = Jumlah partikel
A
= NkT n = Jumlah mol gas
T = Suhu mutlak

B. Proses Gas Ideal


a. Isotermik
Berlaku: Q = kalor yang diterima
W = usaha luar yang dilakukan sistem
1. P1V1 = P2V2
V 
2. W = nRT Ln  2 
 V1 
3. Q = W

1
b. Isobarik
Berlaku:
1. V1 V2
=
T1 T2
2. W = P V
3. Q = U + W

c. Isokhorik
Berlaku:
U = perubahan energi
1. P1 P2
=
T1 T2
2. W = 0
3. Q = U

d. Adiabatis
Berlaku: CP
1. PV  = PV 
= = Tetapan Laplace
1 1 2 2
CV
1
2. TV
1 1
= T 2V2 1

CONTOH SOAL

1. Suatu gas pada suhu 27°C diekspansi secara adiabatik sehingga volume akhirnya menjadi
seperdelapan kali semula. Suhu akhir gas di dalam sistem yakni . . . .
Pembahasan:
1 5 3 2
T V   1=  =
1= 1  3 3 3
 
T2  V2  T = 27 + 273 = 300K
2
300  1 3 2-2 1 1
= 8 = = =
T2  1  1 22 4
 
T2 = 1.200K

2
2. Gas Helium sebanyak 1,5 m3 bertemperatur 27°C dipanaskan secara isobarik hingga suhu
87°C. Jika tekanannya 2  102 N/m2, maka usaha luar yang dilakukan gas Helium adalah . .
. . (dalam kJ)
Pembahasan:
T1 = 27 + 273 = 300 K P = 2  102 N/m2
T2 = 360 K
V1 = 1,5 m3 OW = . . . ?
V1 V2 W = P.V
=
T1 T2
1, 5 V2
= = 2  102 (1,8 – 1,5)
300 360
V2 = 1,8 m3 = 0,6  105 joule
= 60 kJ

C. Kecepatan Rata-rata/RMS/Efektif Gas


Dirumuskan:

3kT 3P 3RT
v= = =
m  Mr

m = massa partikel gas (kg)


 = massa jenis gas ideal
Mr = massa molekul relatif

CONTOH SOAL

1. Suhu gas mula-mula 300 K. Jika kelajuan rms gas dijadikan tiga kali semula, maka
perubahan suhu yang dialami gas adalah . . . . (Asumsi 3 = 1,7 )
Pembahasan:

v1 T1 T = T2  T1
=
v2 T2 = 2.700  300
 v 2 = 300 = 2.400K
3v T = 2.127o C
  2
1 300
=
9 T2
T2 = 2.700K

3
LATIHAN SOAL

1. Gas pada ruang tertutup mengembang pada tekanan tetap 200 kPa. Saat sistem menyerap
kalor 3  105 joule, volume gas mengembang dari 1,7 m3 menjadi 2,7 m3, maka besarnya
usaha dan energi dalam yang terjadi adalah . . . .

2. Satu mol gas ideal mengalami proses Isotermik pada suhu T sehingga volumenya menjadi
4 kali semula. Jika R konstanta gas molar, usaha oleh gas adalah (Ln 2 = 0,7)

D. Mesin Carnot/Panas
a. Kerja/usaha oleh Mesin Carnot
W = Q1 – Q2 Q1 = kalor serap
Q2 = kalor lepas

b. Efisiensi Mesin
W Q  Q2  = efisiensi mesin
= = 1
Q1 Q1
T1  T2
= T1 = suhu tinggi
T1
T2 = suhu rendah

c. Peningkatan Efisiensi
1. Mengubah Suhu Tinggi
 1  1 
T1’ =    T1
 1  2 
2. Mengubah Suhu Rendah
 1  2 
T2’ =   T2
 1  1 

CONTOH SOAL

1. Sebuah mesin Carnot memiliki efisiensi 40% dengan temperatur suhu tinggi 800 K. Agar
efisiensi naik menjadi 50%, maka temperatur suhu tinggi dinaikkan menjadi . . . .

4
Pembahasan:
 1  0,4 
T1’=    800
1  0,5 
 
0, 6
=  800
0, 5
= 960K = 687o C

LATIHAN SOAL

1. Suatu mesin Carnot memiliki efisiensi 50%. Jika temperatur panasnya 227°C, maka
penurunan suhu dinginnya agar efisiensi mesin meningkat menjadi 60% adalah . . . .
A. 150 K
B. 200 K
C. 250 K
D. 400 K
E. 450 K

5
6
FISIKA
SET 14
INDUKSI MAGNETIK

Menurut Oersted:
“Di sekitar kawat berarus listrik akan timbul medan magnet”

A. Kawat Lurus Berarus

Ke luar bidang
2
a2 B1 Ke dalam bidang
B2
a1 1

a. Arah garis induksi akan mengikuti aturan tangan kanan


b. Besarnya induksi dihitung dengan rumus:
 i
B= 0 0 = 4  10-7 Wb/A.m
2a
a = jarak dari kawat

1
CONTOH SOAL

1. Dua buah kawat seperti pada gambar. Jika arus yang mengalir pada kawat sama besar 2A,
maka induksi magnetik pada titik P adalah . . . .
Arahnya ke . . . .

2 cm

i1
i2
P
1 cm

Pembahasan:
0  i1 4 10-7  2
B= =
 1 2a1 2 1  10-2
= 4  10-5 Tesla

0  i2 4 10-7  2
 B2 = =
2a2 2 1  10-2
= 4  10-5 T

Sehingga Btotal = Bp = B1 + B2
= 8  10-5 T (masuk bidang)

B2
B1

2. Dua buah kawat lurus dan sejajar masing-masing dialiri arus yang searah 6A dan 9A. Kedua
kawat terpisah sejauh 25 cm. Pada jarak berapa dari kawat 6A yang induksi magnetiknya
bernilai nol?

2
Pembahasan:

i2 = 9A
i1 = 6A

x 25 – x

Agar Bp = NOL, maka

 B1 = B2
0  i1 0  i2
=
2a1 2a2
i1 i2
=
a1 a2
6 9
=
x 25  x
2 3
=
x 25  x
x = 10 cm

LATIHAN SOAL

1. +Y Kawat lurus berarus yang berimpit dengan sumbu Y. Besar


dan arah induksi magnetik di titik A adalah . . . .
i = 10 A A. 10-7 T ke arah +X
B. 10-6 T ke arah +Y
A
+X C. 10-7 T ke arah -Y
D. 10-6 T ke arah -Z
2m E. 10-7 T ke arah +Z
+Z

3
2. Agar induksi magnetik di titik P besarnya NOL, maka
P 3 cm
arus listrik yang mengalir pada kawat kedua (i2)
adalah . . . .
i2 = ... ? A. 6 A ke atas
i1 = 2 A
B. 6 A ke bawah
C. 4 A ke atas
4 cm D. 4 A ke bawah
E. 2 A ke atas

B. Kawat Melingkar Berarus

Besarnya induksi di pusat lingkaran

0  i
Bp= a = jari-jari lingkaran
2a
Cara menentukan arah induksi magnetik berlawanan dengan pola pada kawat lurus
dengan aturan tangan kanan.

CONTOH SOAL

1. Besarnya induksi magnetik di titik P adalah . . . .


2A P Arahnya ke . . . .
40 cm

Pembahasan:
0  i 1
Bp = 
2a 2
4 10-7  2 1
= 
2  4  10-1 2
= 0,5  10-6 
= 5 10-7 T

4
LATIHAN SOAL

1. b Besarnya induksi di titik P adalah . . . .


0  i
A.
12a
B. 0  i  1 
P 1+ 
60o 12 
 a 
a C. NOL
012 i  a1 a +1 b 
D. 
 
0  i  1 1 
E. 
6  a b 
 

2. Penghantar seperti pada gambar dialiri arus 8 A. Induksi magnetik


i total yang timbul di pusat lingkaran P adalah . . . .
i
2 cm (jari-jari = 2 cm)

C. Solenoida

Besarnya induksi magnetik di


0  i  N
a. tengah B=
L
0  i  N
b. ujung B=
2L

5
D. Toroida

Besarnya induksi magnetik dalam belitan


0  i  N
B=
2a

CONTOH SOAL

1. Sebuah solenoida panjangnya 30 cm terdiri atas 5 lilitan serta sebuah toroida dengan jari-
jari 45 cm dialiri arus listrik yang sama besar. Andai induksi magnetik di pusat solenoida
sama besar dengan di dalam toroida, maka jumlah lilitan pada toroida adalah . . . .
Pembahasan:
B1 = B2

0  i1  N1 0  i2  N2
=
L1 2a
N1 N2
=
L 2a
N  2a 5  2  45
N= 1 = = 15 liliitan
2
L 30

LATIHAN SOAL


1. Solenoida dengan panjang 50 cm dan berjari-jari 3 cm terdiri atas 1000 lilitan dan dialiri
arus listrik 10.000 mA. Besarnya fluks magnetik di bagian tengah solenoida . . . .

6
fisika
Set 15
MEMADU GERAK

A. Memadu GLB + GLB


Jika sebuah benda serentak melakukan dua gerak lurus beraturan yang arahnya berlainan,
maka resultan geraknya adalah gerak lurus beraturan juga.

vR
vR  v12  v 22
v1

v2

Contoh Soal

1. Sebuah perahu menyeberangi sungai dengan kecepatan 2 m/s dan membutuhkan waktu
40 detik. Bila perahu diarahkan tegak lurus sungai yang kecepatan arus airnya 1,5 m/s. Maka
tentukanlah:
a. Lebar sungai.
b. Panjang lintasan yang ditempuh perahu.
Pembahasan:
a. sAB  vAB  vAB

 vp  tAB
 2  40
 80 meter

1
B C

vR
vP

va = 1,5 m/s

A va

Waktu yang ditempuh perahu dari A ke B sama dengan waktu dari A ke C secara serentak.

b. vR  v p 2  v q 2

 2  (1,5)2
2

 6,25
 2,5 m/s

sAC  vAC  tAC


 vR  tAC
 2,5 40
 100 meter

Latihan Soal

1. Air mengalir pada sebuah sungai dengan kelajuan 4 m/s tegak lurus terhadap arus pada
sungai. Karena pengaruh arus sungai, maka arah perahu terhadap arah arus sungai menjadi
….
A. 30o
B. 37o
C. 45o
D. 53o
E. 60o

B. Memadu GLB + GLBB


Bila gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah beraturan yang arahnya saling tegak
lurus dipadukan, maka akan didapat lintasan yang berbentuk parabola. Gerakan parabola
dapat dipandang dalam dua arah, yaitu arah vertikal (sumbu-y) yang merupakan GLBB dan

2
arah horizontal (sumbu-x) yang merupakan GLB.
Y

VY = 0

VY = VOX   Sudut elevasi


VO
VOY


X
VOX
Gerak pada sumbu-x adalah GLB, berlaku:
vx  vox  vo cos
x  vx  t  vo cos  t

Gerak pada sumbu-y adalah GLB, berlaku:


voy  vo sin
v y  voy  gt
1 2
y  voy  t  gt
2

Kecepatan benda di sembarang titik


v  v x 2  v y 2

Contoh Soal

1. Dari titik p di tanah sebuah bola dilemparkan dengan kecepatan awal 20 m/s dan sudut
elevasi 370 (sin 37o = 0,6). Jika g = 10 m/s. Tentukanlah kecepatan bola setelah 0,4 sekon!
Pembahasan:
vx  vox cos
= 20 cos37o
 20  0,8
 16 m/s
 Vo sin  gt
 20  0,6 100, 4
 8 m/s

3
vy  voy  gt
Maka kecepatan bola
v  v x 2  v y 2

 162  82
 256  64
 8 5 m/s

Latihan Soal

1. Soal sama seperti contoh soal di atas, tentukanlah posisi bola (x, y) saat t = 0,4 sekon!
Beberapa persamaan khusus:
B

 C
A X

a. Waktu untuk mencapai titik tertinggi (B)


vo sin  2h
tAB  
2 g
b. Waktu selama benda di udara (AC)
2vo sin
tAC  2AB 
g
c. Tinggi Maximum (H)
162 sin2 
h
2g

d. Jarak jangkauan maksimum (x)


v 2 sin2 v2o 2sin cos
x  o 
g g
x 4
e. 
h tan

4
Contoh Soal 

1. Sebuah peluru ditembakkan dengan kecepatan awal 100 m/s dan sudut elevasi 530 . Jika
g = 10 m/s, tentukanlah perbandingan antara tinggi maksimum dengan jarak terjauh yang
dicapai peluru!
Pembahasan:
h v sin2  v 2 sin2
 o  o
x 2g g
sin  sin 2sin cos
= 
2 1
sin 2cos
= 
2 1
sin
=
4 cos4
= tan  tan53  3  4  4  1
o

4 4 4 3 12 3

Latihan Soal

1. Pada suatu tendangan bebas dalam permainan sepak bola, lintasan bola mencapai titik
tertinggi 45 m di atas tanah. Berapa lama harus ditunggu sejak bola di tendangan sampai
tiba kembali di tanah? (g = 10 m/s2)
A. 3 s
B. 4 s
C. 7 s
D. 9 s
E. 10 s

2. Sebuah benda dijatuhkan dari pesawat terbang yang melaju horizontal 720 km/jam dari
ketinggian 490 meter. Benda akan jatuh pada horizontal sejauh …. (g = 9,8 m/s2)
A. 1000 m
B. 2000 m
C. 2450 m

5
D. 2900 m
E. 4000 m

3. Dua buah benda dilempar secara bersamaan dari titik yang sama: satu tegak lurus dan
lainnya membentuk sudut   600 dengan arah horizontal. Kecepatan awal setiap benda
adalah sama yaitu v0  25 m/s . Tentukanlah jarak di antara kedua benda tersebut pada t =
1 sekon! ( 2 =1,4)
A. 6 meter
B. 8,5 meter
C. 9 meter
D. 10 meter
E. 10,5 meter

6
FISIKA
SET 16
INDUKSI ELEKTROMAGNETIK

Induksi elektromagnetik adalah gejala terjadinya gelombang induksi pada penghantar


karena perubahan fluks magnet yang dilingkupinya.

A. FLUKS MAGNET
Menyatakan jumlah induksi magnetik (B) yang memotong suatu bidang, merupakan
hasil kali besar B dengan luas bidang yang tegak lurus pada induksi magnet tersebut

A  = AB cos 

 = fluks magnet (webb)



B = kuat medan magnet (tesla =
B webb/m2)
A = luas penampang (m2 )
 = sudut antara B terhadap garis
normal (webb)

B. HUKUM FARADAY
Hukum Faraday menyatakan bahwa besar GGL induksi sebanding dengan laju
perubahan fluks magnet yang dilingkupinya.

1

 = -N
t (Rata-rata) Keterangan:
N = jumlah lilitan
d  = GGL induksi (volt)
 = -N  d
dt (Sesaat) = laju perubahan fluks (webb/s)
dt

Jika luas bidang yang melingkupi medan magnet mengalami perubahan, maka:

dA P
 = -B
dt x x x x
R (Kawat digeser)
Didapat pula: x x x x
x x xx
 = Blv sin  Q

 Jika  mengalami perubahan, maka GGL induksi yang dihasilkan:

d d cost 
 = -N = -NBA = -NBA-sint 
dt dt

Sehingga,
 = NBA ( sin t)

 = NBA 

CONTOH SOAL

1. Suatu komponen terdiri dari 1.000 lilitan dan memiliki hambatan 20 . Kumparan
melingkupi fluks magnetik yang berubah terhadap waktu sesuai dengan persamaan  =
(t + 2)3. Kuat arus yang mengalir pada saat t = 0 adalah ….
A. 300 A D. 600 A
B. 400 A E. 700 A
C. 500 A
Pembahasan:
d
 = -N 
dt

2
d
i . R = -N t + 2 3
dt
i . 20 = 1.000 . 3(t + 2)2
20i = 3.000(t + 2)2
i = 6A
Jawaban: D

2. Sebuah penghantar berbentuk tongkat yang panjangnya 1 meter diputar dengan


kecepatan sudut 20 rad/s dalam medan magnetik 0,1 tesla. Jika sumbu putarnya sejajar
dengan medan magnet, maka GGL yang terinduksi … (Volt)
Pembahasan:
d NBA NBr2
=N = =
dt dt t
2
Gerak Melingkar   = 
T
2
Sehingga didapat:  = NB r
T
1 2
= NB r
2
1
= N . B .  . r2
2
1
= 1 . 0,1 . 20 . 12
2
=1V

C. HUKUM HENRY
Menurut Henry, perubahankuataruslistrikdalamsuatukumparanakanmenimbulkan
GGL induksi diri pada kumparan tersebut.

di i
 = -L atau  = -L
dt t

L=N 
i
1 2
W = L
2

Keterangan:
L = induktansi diri (H)
I = arus listrik (A)
W = energi listrik

3
CONTOH SOAL

1. Sebuah kumparan yang memiliki 600 lilitan mengalami perubahan arus listrik dari 10 A
menjadi 4 A dalam waktu 0,1 detik. Jika selama waktu tersebut timbul GGL Induksi sebesar
2,4 volt, maka induktansi komponen adalah … mH.
A. 10 D. 40
B. 20 E. 80
C. 40
Pembahasan:

i
 = -L
t

2.4 =L
4  10
0.1
0.24 = 6L
L = 0.04 H = 40 mH
Jawaban: C

D. RANGKAIAN ARUS LISTRIK AC (R-L-C SERI)


Keterangan:
vR vL vC
XL =  L XL = reaktansi induktif
R L C

1
XC = XC = reaktansi kapasitif
~ C
v

 Impedansi rangkaian

Z = R2 +  X L  XC 
2

V = V 2+ VLV C 2
 Kuat arus
V
i=
Z

4
 Sifat rangkaian
Terdapat 3 kemungkinan, yakni:
1. XL > XC : Maka rangkaian bersifat induktif
2. XL < XC : Rangkaian bersifat kapasitif
3. XL = XC : Rangkaian bersifat resistif (Resonansi)

CONTOH SOAL

1. Rangkaian RLC Seri dihubungkan dengan AC berfrekuensi sudut . Pada keadaan ini
impedansi masing-masing komponen, resistor, induktor, dan kapasitor berturut-berturut
6 , 20 , dan 1 . Jika frekuensi sudut sumber AC diturunkan menjadi setengah semula,
maka impedansi total rangkaian tersebut adalah …
Pembahasan:

R1 = 6 
1 =   XL1 = 20 
XC1 = 1 

Maka R2 = 6  R2 +  X L  X C  = 10 2
2
sehingga: Z =
XL2 = 10 
XC1 = 1 


LATIHAN SOAL

1 1
1. Dua buah lampu L dan L memiliki spesifikasi yang sama. Apabila C =
F dan L = H
1 2
 
dan sumber tegangan AC = 220 V/50 Hz, maka lampu manakah yang akan menyala lebih
terang?

C
L

L1 L2

5
2. Pesawat terbang melintasi medan magnet bumi dengan kecepatan 1080 km/jam dan
terbang hampir vertikal dengan medan tersebut yang besarnya 4  10-5 T. Bagaimana
beda potensial induksi di antara sayap-sayap pesawat yang terpisah (berjarak 70 meter
satu sama lain)

3. Rangkaian R-L-C seri dihubungkan dengan tegangan 220 V/1.000 Hz. Apabila induktansi
(L) sebesar 10-2 H, maka kapasitornya adalah ..
A. 2 F D. F
B. 2,5 F E. F
C. 4 F

6
FISIKA
SET 17
FISIKA KUANTUM

A. Teori KuAnTum
Teori kuantum dikemukakan oleh Planck terkait dengan cahaya. Cahaya merupakan
gelombang elektromagnet berupa paket energi yang terkuantisasi (diskrit) yang tak
bermuatan disebut foton.
a. Energi untuk satu foton dirumuskan sebagai:
hc
Ehf 


b. Energi untuk n foton dirumuskan:


nhc
Enhf 


h = konstanta planck = 6,63.10–34 J/s


f = frekuensi cahaya (Hz)
 = panjang gelombang cahaya
c = cepat rambat cahaya = 3 × 108 m/s

1
c. Hubungan antara energi listrik dengan energi foton
Wlistrik ~ Energi foton

W = E
P.t = nhf
P.t
n =
hf
atau,
nhc
P.t =

P.t.
n
hc

P = daya listrik (watt)


t = waktu (s)
 = panjang gelombang (m)

CONTOH SOAL

1. Panjang gelombang sebuah elektron dan sebuah foton mempunyai panjang sama yakni
0,66 Å. Rasio antara energi foton dengan energi kinetik elektron mendekati angka ....
A. 81 D. 27
B. 70 E. 13
C. 54
Pembahasan:
1
Ek = mv2
2
1 P
Ek = m ( )2
2 m
2
1 P
Ek =
2 m
P2
Ek =
2m
h
dan, P =


2
maka:
hc
E
foton
= 
Ekelektron P2

E hc.2m
foton
=
Ekelektron P2 .
E hc.2m
foton
= h2
Ekelektron ( ) .

E 2mc
foton
= h
Ekelektron

E
= 2.9  10 . 3  10  0,66  10
31 8 10
foton

Ekelektron 6,6  1034


E
foton
= 54
Ekelektron

Jawaban: C

2. Panjang gelombang sinar x yang dihasilkan pada beda potensial 50 eV adalah ....

Pembahasan:
Epotensial = Wfoton

hc
q.V = 

hc
 =
q.V
6,6  1034 3 108
 =
1,6  1019  50 103
 = 2,5 x 10–11 m

3. Radiasi matahari rata rata 1,2 kW/m2 saat terik. Panjang gelombang rata-rata radiasi ini
6.600 Å, maka banyaknya foton per detik dalam berkas sinar matahari seluas 1 cm2. Secara
tegak lurus adalah ....

Pembahasan:
Diketahui:
P = 1,2 kW/m2
t = 1 detik
A = 1 cm2 = 10–4 m2

3
Ditanya: n?
Jawab:
nhc
P.t =

P.t.
n=
hc
I.A.t.
n=
hc
n= 1.200  104  1 66  108
6,6  1034  3  108
n = 4 x 10–7

4. Lampu dengan spesifikasi 100W/220V dipasang pada tegangan 110 V memancarkan


cahaya dengan panjang gelombang 600 Nm, bila energi yang diradiasikan hanya 20%
dari energi listriknya, maka jumlah foton yang dihasilkan persekon adalah ....

Pembahasan :
Diketahui:
P1 = 100 W
V1 = 220 V
V2 = 110 V
 = 20% = 0,2
 = 6 × 10–7 m
Ditanya: n?
Jawab:
P1 V
= ( 1 )2
P2 V2
100 220
=( )2
P2 110
100
P2 =
4
P2 = 25 watt
.P.t.
n =
hc
0,2  25  1  6  107
n =
6,6  1034  3  108
1  106
n =
6,6  1034
n = 0,15 × 1028 buah foton
n = 1,5 × 1027 buah foton

4
B. efeK foTolisTriK
Efek fotolistrik adalah gejala terlepasnya elektron dari permukaan logam ketika dijatuhi
gelombang elektromagnetik.
E = hf
foton

W = hf0

O
Ek

Syarat agar elektron lepas adalah E ≥ W atau f ≥ f0

f0 = frekuensi ambang (minimum)


W = Fungsi kerja
Dan dirumuskan sebagai berikut.

E = W + Ek
Ek = W – W
Ek = hf – hf0

Pada efek fotolistrik, satu elektron hanya menyerap satu foton sehingga intensitas (jumlah
foton) akan memperbanyak jumlah elektron yang dilepas. Intensitas tidak mempengaruhi
energi kinetik tiap elektron, yang mempengaruhi hanya frekuensi fotonnya saja.

Potensial henti /cut off potensial


Adalah beda potensial yang diberikan kepada foto elektron agar geraknya berhenti,
dirumuskan:

vhenti = hf  W e = 1,5 x 10–19 C


e

C. efeK ComPTon
Pada percobaan penembakan satu elektron yang diam oleh foton, ternyata elektron
tersebut terpental. Sedangkan fotonnya terhambur dengan energi lebih kecil namun
panjang gelombangnya lebih besar dari pada foton yang datang.
Selisih kedua panjang gelombang dirumuskan:
h
 0 (1 cos)
m0 .c

5
Foton hambur
Ek

Foton datang  




Ek
m0 = massa elektron
 = sudut hamburan

CONTOH SOAL

1. Frekuensi ambang natrium 4,4 × 1014 Hz. Besarnya potensial penghenti dalam satuan volt
bagi natrium saat disinari dengan cahaya yang frekuensi nya 6 × 1014 Hz adalah ....
A. 0,24 D. 0,61
B. 0,34 E. 0,66
C. 0,56
Pembahasan:
Diketahui:
f0 = 4,4 × 1014 Hz  W = hf0
f = 6 × 1014 Hz
Ditanya: v henti?
Jawab:
hf  W h(f f0 )
v henti = =
e e
6,61034 (6  4,4)1014
v henti =
1,6  1019
v henti = 6,6 × 10–1
v henti = 0,66

6
6. Perhatikan grafik berikut!
Ek (eV)

0,2

F (Hz)
f
–3,8

Jika 1 eV = 1,6 × 10–19 Joule


Maka, nilai f = ... Hz
Pembahasan:
Dari grafik nampak: Ek = 0,2 eV
Ek = 0,2 × 1,6 × 10–19 J
saat f = 0
Ek = hf – W
W = –Ek
W = –3,8 eV
W = –3,8 × 1,6 × 10–19 J

sehingga:
Ek W
f =
h
19
f = (0,2+3,8)1,610
6,61034
f = 0,969 × 1015 Hz
f = 9,7 × 1014 Hz

Anda mungkin juga menyukai