Anda di halaman 1dari 7

LAMPIRAN

PERATURAN KEPALA
PUSKESMAS SIWULUH
KABUPATEN BREBES
NOMOR......TAHUN 2019
TENTANG PANDUAN TRIASE

PANDUAN TRIASE
PUSKESMAS SIWULUH

BAB I. DEFINISI

Menurut Permenkes 47 tahun 2018 pasal 1 Pelayanan


Kegawatdaruratan adalah tindakan medis yang dibutuhkan
segera untuk menyelamatkan nyawa dan pencegahan kecacatan.
Gawat darurat adalah keadaan klinis yang membutuhkan
tindakan medis segera untuk penyelamatan nyawa dan
pencegahan kecacatan. Pasien gawat darurat yang selanjutnya
disebut pasien adalah orang yang berada dalam ancaman
kematian dan kecacatan yang memerlukan tindakan medis
segera.

Puskesmas Siwuluh memiliki ruang gawat darurat yang


siap 24 jam melayani masyarakat yang berada di wilayah
kerjanya. Pelayanan kegawatdaruratan di Pukesmas Siwuluh
membagi tingkatan kegawatdaruratan yang berbeda, prioritas
yang pertama yaitu untuk yang benar-benar gawat darurat atau
True Emergency, Prioritas yang kedua yaitu yang gawat tetapi
tidak darurat atau Urgent, dan yang ketiga yaitu yang tidak gawat
dan tidak darurat atau false emergency, semua pasien prioritas
satu tidak bisa menunggu dan butuh penanganan langsung (zero
minute respone).

Triase Adalah proses khusus memilah pasien berdasarkan


beratnya cedera atau penyakit untuk menentukan jenis
penanganan/ intervensi kegwatdaruratan.

Prinsip Triase adalah memberlakukan sistem prioritas


dengan penentuan/ penyeleksian pasien yang harus didahulukan
untuk mendapatkan penanganan, yang mengacu pada tigkat
ancaman jiwa yang timbul berdasarkan ancaman jiwa yang dapat
mematikan dalam hitungan menit, dapat mati dalam hitungan
jam, trauma ringan dan sudah meninggal.

Pasien dibedakan menurut kegawatdaruratannya dengan


memberi kode warna :

1. Kategori merah: prioritas pertama (area resusitasi) Pasien


cedera berat mengancam jiwa yang kemungkinan besar dapat
hidup bila ditolong segera.
2. Kategori kuning: prioritas kedua (area tindakan) Pasien
memerlukan tindakan defenitif tidak ada ancaman jiwa segera.
3. Kategori hijau: prioritas ketiga (area observasi) Pasien degan
cedera minimal, dapat berjalan dan menolong diri sendiri atau
mencari pertolongan.
4. Kategori hitam: prioritas nol Pasien meninggal atau cedera fatal
yang jelas dan tidak mungkin diresusitasi.

BAB II. RUANG LINGKUP

Pelayanan kegawatdaruratan yang pertama yang berupa triase,


dilaksanakan oleh petugas kesehatan yang terdiri dari, dokter,
perawat jaga UGD, dan bidan jaga UGD.
Pelayanan triase dilaksanakan di ruang UGD, selama jam pelayanan
UGD (24 jam). Setiap pasien yang masuk ke ruang UGD.

BAB III. TATA LAKSANA

1. Prosedur Triase
a. Pasien datang diterima tenaga kesehatan diruang Gawat
Darurat . Bila jumlah pasien lebih dari kapasitas ruangan,
maka pasien dapat diantrikan diluar ruang Gawat Darurat.
b. Penilaian dilakukan secara singkat dan cepat untuk
menentukan kategori kegawatdaruratan Pasien oleh tenaga
kesehatan dengan cara:
1. Menilai tanda vital dan kondisi umum Pasien.
2. Menilai kebutuhan medis
3. Menilai kemungkinan bertahan hidup
4. Menilai bantuan yang memungkinkan
5. Memprioritaskan penanganan definitif
c. Mengkategorikan status pasien menurut
kegawatdaruratannya, apakah masuk kedalam kategori
merah, kuning, hijau atau hitam, berdasarkan prioritas atau
penyebab ancaman hidup. Tindakan ini berdasarkan
prioritas ABCDE (Airway, Breathing, Circulation, Disability,
Environment). Kategori merah merupakan prioritas pertama
(pasien cedera berat mengancam jiwa yang kemungkinan
besar dapat hidup bila ditolong segera). Kategori kuning
merupakan prioritas kedua (pasien memerlukan tindakan
definitif, tidak ada ancaman jiwa segera). Kategori hijau
merupakan prioritas ketiga ( pasien dengan cedera minimal
dapat berjalan dan menolong diri sendiri atau mencari
pertolongan). Kategori hitam merupakan pasien meninggal
atau cedera fatal yang jelas dan tidak mungkin diresusitasi.
d. Pasien ditempatkan di tempat tidur sesuai garis triase
e. Status Triase harus dinilai ulang terus menerus karena
kondisi pasien dapat berubah sewaktu-waktu. Apabila
kondisi pasien berubah maka dilakuakan retriase..
f. Melakukan komunikasi dangan dokter jaga dan jika
diperlukan pusat komunikasi (misal PSC 119) dan rumah
sakit rujukan bila diperlukan.

2. Survei Primer (Resusitasi dan Stabilisasi)


1. Tindakan resusitasi segera diberikan kepada pasien dengan
kategori merah setelah mengevaluasi potensi ABCDE
(Airway, Brething, Circulation, Disability, Environment).
2. Batasan waktu untuk mengkaji keadaan dan memberikan
intervensi secepatnya untuk pasien yang membutuhkan
resusitasi adalah segera.
3. Melakukan monitoring dan retriase terhadap tindakan
resusitasi yang diberikan. Monitoring kondisi pasien berupa
pemasangan peralatan medis untuk mengetahui status vital,
pemasangan kateter urine, dan penilaian GCS.
4. Apabila pasien memerlukan tindakan definitif segera maka
pasien harus dirujuk ke rumah sakit tanpa melakukan
survei sekunder.

3. Survei Sekunder
1. Survei sekunder tidak diwajibkan bila kondisi pasien
memerlukan tindakan definitif
2. Melakuakan anamnesa untuk mendapatkan informasi
mengenai apa yang dialami pasien pada saat ini.
3. Pemeriksaan fisik, neurologis dan status mental secara
menyeluruh (head to toe) dengan menggunakan GCS,
4. Melakukan pemeriksaan penunjang.
5. Tindakan restraint sesuai indikasi dengan teknik terstandart
yang aman, dengan tujuan untuk mengamankan pasien ,
orang lain dan lingkungan dari prilaku pasien yang tidak
terkontrol.
6. Apabila kondisi pasien memerlukan tindakan definitif namun
puskesmas tidak memadai maka harus dilakukan rujukan
sesuai prosedur.
4. Tatalaksana Definitif
1. Penanganan/pemberian tindakan terakhir untuk
menyelesaikan permasalahan setiap pasien
2. Penentuan tindakan yang diambil berdasarkan hasil
kesimpulan dari anamnesa, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang. Yang berwewenang melakukan
tatalaksana definitif adalah dokter atau dokter gigi yang
terlatih.
5. Rujukan
1. Rujukan dilaksanakan jika tindak lanjut penanganan
terhadap pasien tidak memungkinkan untuk dilakukan
dipuskesmas.
2. Sebelum pasien dirujuk terlebih dahulu dilakukan
koordinasi dengan Faskes yang dituju (Rumah Sakit)
mengenai kondisi pasien, serta tindakan medis yang
diperlukan oleh pasien.
3. Proses pengiriman pasien dilakukan bila kondisi pasien
stabil, menggunakan mobil ambulance gawat darurat.

Denah Ruangan
Pintu masuk UGD
`
Tempat Tidur Pasien
Jalur Pengunjung

Tempat Tidur Pasien

Tempat Tidur Pasien

wastafel
Pintu Keluar UGD

Alur
1. Pasien masuk dari pintu masuk UGD,
2. Pasien berbaring di tempat tidur warna merah,
3. Pasien diperiksa dan dinilai kegawatdaruratannya,
4. Petugas Kesehatan (Perawat/Bidan) melakukan konsul dokter,
5. Jika pasien dinyatakan dirawat, pasien dilakukan pemasangan
infus, dan diobservasi di UGD,
6. Pasien pindah ditempat tidur warna hijau untuk observasi,
setelah terpasang infus,
7. Memberikan terapi sesuai advice dokter,
8. Dilakukan penilaian tirase secara berulang-ulang,
9. Jika pasien datang melebihi kapasitas ruang UGD, kondisi
pasien yang masih dalam perawatan dapat dipindah ke ruang
perawatan,
10. Jika kondisi pasien gawat darurat melebihi tempat tidur, maka
petugas dapat memberikan penanganan kriteria merah terlebih
dahulu, dan dilakukan rujukan.
Pencatatan dan Dokumentasi
Mengetahui,
KEPALA PUSKESMAS SIWULUH

SUPARTO HARY WIBOWO