Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keadaan rahang atas dan gigi geligi yang terlihat maju merupakan keluhan

yang sering disampaikan oleh pasien yang mencari perawatan ortodonti. Berdasarkan

hasil penelitian secara global presentase maloklusi kelas II pada fase gigi bercampur

mencapai 23,11%.1 Maloklusi kelas II Angle dikarakteristikkan dengan hubungan

molar dimana mesio-buccal cusp dari molar permanen pertama maksila beroklusi

lebih ke mesial dari buccal groove molar permanen pertama mandibula.2 Kelainan

oklusi ini bila tidak diperbaiki dapat menyebabkan kelainan periodontal, gangguan

fungsi pengunyahan, gangguan estetika sehingga dapat menurunkan kualitas hidup

dan kepercayaan diri anak3. Fase terbaik melakukan perawatan adalah pada saat fase

inisiasi Cervical Maturation Stage CS3, diperkirakan pada umur 8-14 tahun.

Perawatan dapat dilakukan dengan modifikasi pertumbuhan dengan headgear,

activator, twin block.4

B. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan penjelasan mengenai

maloklusi kelas II, etiologi, dan perawatan yang bisa dilakukan pada saat pasien

masih dalam masa pertumbuhan sehingga makalah ini bisa menjadi sumber

pertimbangan sejawat untuk menentukan perawatan maloklusi kelas II.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian

Maloklusi merupakan kondisi dimana struktur gigi geligi tidak berada pada

kondisi yang seimbang dengan struktur wajah dan/atau kranium. Maloklusi terbagi

atas maloklusi skeletal dan dental. Maloklusi skeletal melibatkan tulang dan jaringan

pendukungnya, sedangkan maloklusi dental melibatkan gigi geligi individu pada satu

rahang.5 Maloklusi skeletal menurut Bhalajhi disebabkan oleh adanya kelainan pada

struktur dasar skeletal dalam hal ukuran, posisi, dan hubungan antara tulang rahang.

1. Maloklusi Skeletal Kelas II

Kelas II Skeletal merupakan kondisi dimana posisi maksila lebih ke anterior dari

mandibula. Etiologi maloklusi kelas II skeletal terdapat tiga kemungkinan, yaitu :

a. Hubungan maksila terhadap cranium prognati tetapi pertumbuhan mandibula

ke anterior normal

b. Hubungan maksila terhadap cranium normal tetapi pertumbuhan mandibula

ke anterior kurang (retrognati)

c. Hubungan maksila terhadap cranium prognati dan pertumbuhan mandibula ke

anterior kurang (retrognati)


Gambar 1. Maloklusi skeletal kelas II

2. Maloklusi dental kelas II

a. Maloklusi dental kelas II divisi 1

hubungan molar kelas II dengan gigi anterior labioversi

Gambar 2. Maloklusi kelas II divisi 1b. Maloklusi dental kelas II divisi 2

hubungan molar kelas II dengan insisif sentral rahang palatoversi atau retrusif

dibanding insisif lateral rahang atas.

Gambar 3. Maloklusi kelas II divisi 2c. Maloklusi dental kelas II subdivisi

hubungan molar distoklusi hanya terjadi pada satu sisi

Gambar 4. Malokusi dental kelas II subdivisi


B. Etiologi

Etiologi maloklusi bersifat multifaktorial. Profitt dan McDonald & Ireland

menyimpulkan etiologi maloklusi diantaranya :

a. Faktor genetik

- Berkurangnya ukuran gigi dan rahang yang disebabkan oleh diskrepansi


ukuran gigi dan rahang.

- Cacat pada perkembangan embrionik

b. Faktor lingkungan

- Tekanan yang terus menerus atau peningkatan tekanan 4-6 jam/hari pada

gigi geligi misalnya tekanan dari sekitar jaringan lunak seperti kebiasaan

mengisap jempol.

- Trauma.

- Anomali perkembangan pasca kelahiran.

C. Perawatan pada masa tumbuh kembang

Untuk memaksimalkan hasil perawatan, waktu optimal untuk

dilakukan perawatan pada pasien dengan maloklusi kelas II adalah

pada saat inisiasi Cervical Maturation Stage CS3 sekitar usia 8-14

tahun. Modifikasi pertumbuhan dari maloklusi skeletal kelas II dapat

dilakukan dengan headgear, activator, twinblock.a. Headgear

Headgear adalah alat ortodonti ekstraoral untuk menahan pertumbuhan

maksila ke arah anterior dan inferior, headgear terdiri dari dua komponen

besar: facebow dan neckstrap atau headcap. Facebow berfungsi

meneruskan dan memberikan tekanan ke gigi, facebow biasanya

diaplikasikan pada molar satu permanen, namun dapat juga dihubungkan

dengan splint dan alat fungsional. Komponen penjangkaran seperti

headcap atau neckstrap menentukan arah gaya yang diberikan.- High-

pull gear : komponen headcap dihubungkan ke facebow, alat ini

memberikan gaya ke distal dan superior dari maksila. Diindikasikan untuk


pertumbuhan maksila yang berlebihan kearah inferior dan anterior dengan

mandibular plane angle yang tinggi.

- Cervical headgear : komponen neckstrap dihubungkan ke facebow, alat

ini memberikan gaya ke distal dan inferior dari maksila. Diindikasikan

untuk kasus mandibular plane angle yang rendah.

- Straight headgear : memiliki headcap dan neckstrap, memberikan gaya ke

distal dan sedikit ke superior dari maksila. Diindikasikan untuk pasien

dengan mandibular plane angle yang normal dengan pertumbuhan

maksila yang berlebihan.

Gambar 5. High-pull headgear, cervical headgear, straight headgear

b. Activator

Activator digunakan untuk mendorong pertumbuhan mandibula

dengan cara merangsang aktivitas otot dan merubah kedudukan

rahang sehingga diharapkan terjadi bertumbuhan pada kondilus

mandibula.2

4
6
6
Komponen activator berupa wire dan plat akrilik. Wire dalam
bentuk labial bow dan klamer retensi biasanya menggunakan wire
0,8mm, basis akrilik untuk rahang atas dan rahang bawah biasanya
menyatu, dan ditambahkan bite block untuk membuka rahang secara

pasif.
Gambar 6. Basic Activator

c. Twin-Block

Twin-block adalah piranti fungsional yang digunakan untuk mendorong

rahang bawah kedepan agar sejajar dengan rahang atas, peranti twin-block

dipertahankan pada gigi dengan klamer konvensional, inklinasi pada block

rahang atas dan rahang bawah akan memaksa mandibula untuk terdorong

kedepan. Posterior blocks juga dapat digunakan untuk mengkontrol erupsi

gigi posterior

Gambar 7. Twin-Block
BAB III

LAPORAN KASUS

Seorang anak laki-laki usia 10 tahun datang ke Dental Clinic of the

University of L’Aquila. Setelah dilakukan pemeriksaan melalui dental panoramic

radiograph, foto intraoral, foto ekstraoral, dan cetakan anatomis pasien di diagnosa

memiliki maloklusi skeletal kelas II dengan mandibular deficit, maloklusi dental

kelas II divisi 1 dengan overjet sebesar 7 mm , berdasarkan Index of Orthodontic

Treatment Need (IOTN) pasien masuk kedalam grade 4 (peningkatan overjet >5 mm
namun <9 mm), terdapat medium grade crowding di kedua rahang, terdapat jarak

diantara insisif sentral rahang atas, peningkatan overjet karena tongue interposition,

tidak ada kelainan bicara, kebersihan mulut baik.

Gambar 8. Foto intraoral sebelum perawatan

Perawatan dilakukan dengan activator fungsional The Equilibrator (EQ) O.S.A 4

berwarna putih (soft natural rubber) yang dibuat oleh Doctors Ovidi, Aprile, dan

Santi dikomersilkan oleh Eptamed, Italy. Alat diganti setiap 6 bulan, anak dirawat

selama satu tahun.

Gambar 9. Pemakaian The Equilibrator O.S.A

Setelah menggunakan EQ O.S.A selama satu tahun, IOSN dari grade 4 menjadi grade 1,

lengkung rahang normal, posisi dan fungsi lidah normal.


Gambar 10. Foto Intraoral setelah perawatan setelah perawatan selesai

BAB IV

PEMBAHASAN

Pasien usia 10 tahun didiagnosa memiliki maloklusi skeletal kelas II divisi 1 yang

berarti posisi maksila lebih ke anterior dari mandibula, dengan hubungan molar cusp

mesiobukal molar satu rahang atas berkontak lebih kemesial dari bukal groove rahang

bawah, dan posisi gigi anterior labioversi. Etiologi maloklusi bersifat multifaktorial,
namun dari hasil pemeriksaan posisi lidah pasien interposition. Tongue thrusting dan

mouth breathing dihubungkan dengan anterior open bite, kontraksi lengkung gigi

rahang atas, kelainan bicara, diastema pada insisif sentral rahang atas, dan gigi insisif

rahang atas yang protusif. Perawatan orthopedic fungsional ideal dilakukan pada saat

fase inisiasi Cervical Maturation Stage CS3, saat fase pertumbuhan meningkat

sebelum puncak pertumbuhan, diperkirakan pada umur 8-14 tahun dan lebih cepat

pada anak perempuan sekitar usia 12 tahun. Maka dari kasus ini, usia anak 10 tahun

adalah usia yang ideal dilakukan modifikasi pertumbuhan.

Gambar 10. Puncak pertumbuhan

The Equilibrium O.S.A diciptakan pada tahun 2005 berfungsi untuk menstimulasi

pertumbuhan melalui pergerakan otot, mengaktivasi otot pengunyahan, memelalui

gerakan menggigit elastomeric, tension distabilkan sampai ke sphenobasilar sycondrosis.

Alat ini juga memperbaiki postur dan gerakan lidah saat menelan, Berdasarkan cetakan

anatomis, ukuran alat dipilih berdasarkan jarak antara cusp palatal M1 rahang atas atau

DM1 rahang atas :

§ OSA 3 – dari 24 mm sampai 27 mm pada periode gigi bercampur

§ OSA 4 – dari 28 mm sampai 31 mm pada periode gigi bercampur


§ OSA 5 – dari 32 mm sampai 36 mm pada periode gigi tetap

Maka dari hasil analisis pasien diberikan EQ O.S.A 4. Alat digunakan setiap malam dan

satu jam pada siang hari, dan ditambah latihan setiap pagi dan sore. Latihan dilakukan

dengan cara mengambil nafas secara perlahan sambil menggigit secara perlahan EQ

OSA, dan melemaskan otot rahang saat membuang nafas, posisi lidah tetap

dipertahankan di retroincisal papilla spot. Hasil pemakaian selama satu tahun fungsi

lidah normal, pasien bernafas melalui hidung, peningkatan fungsi oral dan estetik.

BAB V

KESIMPULAN

Maloklusi bila tidak diperbaiki dapat menurunkan kualitas hidup dan kepercayaan

diri. Waktu ideal untuk melakukan perawatan adalah sebelum anak mencapai puncak

pertumbuhan, kurang lebih usia 12 tahun untuk anak perempuan dan 14 tahun untuk anak

laki-laki. Modifikasi pertumbuhan dapat dilakukan dengan headgear, activator, dan twin-

block tergantung dari keadaan klinis pasien. Pada kasus di makalah ini anak usia 10 tahun

di diagnosa maloklusi skeletal kelas II dengan mandibular deficit dan maloklusi dental
kelas II divisi 1 alat yang digunakan adalah activator fungsional dalam bentuk The

Equilibrium O.S.A 4. Aktivator mendorong pertumbuhan mandibula dengan cara

merangsang aktivitas otot dan merubah kedudukan rahang sehingga diharapkan terjadi

bertumbuhan pada kondilus mandibula. The Equilibrium O.S.A juga melatih posisi lidah

dan otot pengunyahan melalui gerakan menggigit dan menahan posisi lidah, setelah

menggunakan EQ O.S.A selama satu tahun fungsi lidah pasien normal, pasien bernafas

melalui hidung, adanya peningkatan fungsi oral dan estetik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ahammdi MS, Halbaib E, Fayed S. Global Distribution of Malocclution Traits; Asymetric

Review. Dental Press J. Okt 2018. 23(6) page 40.e7

2. Echarri P. Treatment of Class II Malocclution. 1ed. CSW. Page 16

3. Majid ZS, Abidia RT. Effect of Malocclution on Oral Health Related Quality of Life (OHRQoL);

A Critical Review. E S Journal. 2015. 11(21) page 387


4. Sadat SM, Rita SN. Growth Modification in Class II Malocclution; A Review Updat Dent Coll J.

2014. 4(2) page 23-26

5. Bishara S. Class II Malocclution : Diagnostic & Clinical Consideration with & without

Treatment. Seminar in Orthodontic. 2006 vol 12. March page 11-14

6. Lubis HF. Pengaruh Perawatan Aktivator pada Maloklusi kelas II ditinjau dari