Anda di halaman 1dari 159

HUBUNGAN PERSEPSI TENTANG RISIKO DAN ALAT PELINDUNG DIRI

SERTA TOLERANSI RISIKO PEKERJA DENGAN KEPATUHAN


PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI DI PROYEK KONSTRUKSI
MASS RAPID TRANSIT JAKARTA TOKYU WIKA JOINT OPERATION

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar

Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh:

Elsya Ristia

NIM: 1112101000038

PEMINATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2017 / 1438 H
LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya saya yang diajukan untuk memenuhi salah

satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan

sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya saya atau

merupakan jiplakan dari karya orang lain maka saya bersedia menerima sanksi

yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam

Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Maret 2017

Elsya Ristia
PERNYATAAN PERSETUJUAN

Judul Skripsi

HUBUNGAN PERSEPSI TENTANG RISIKO DAN ALAT PELINDUNG


DIRI SERTA TOLERANSI RISIKO PEKERJA DENGAN KEPATUHAN
PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI DI PROYEK KONSTRUKSI
MASS RAPID TRANSIT JAKARTA TOKYU WIKA JOINT OPERATION

Telah diperiksa, disetujui, dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi


Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta, Maret 2017

Oleh:

Elsya Ristia

NIM. 1112101000038

Mengetahui,

PEMINATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1438 H / 2017 M
PANITIA SIDANG SKRIPSI

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

ELSYA RISTIA

NIM. 1112101000038

Jakarta, Maret 2017


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Skripsi, Maret 2017
ELSYA RISTIA, NIM : 1112101000038
Hubungan Persepsi tentang Risiko dan Alat Pelindung Diri serta Toleransi Risiko
Pekerja dengan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri di Proyek Konstruksi
Mass Rapid Transit Jakarta Tokyu Wika Joint Operation
(XXVI + 97 halaman, 16 tabel, 5 bagan, 6 lampiran)

ABSTRAK

Kompleksitas kerja dan risiko yang tinggi dijumpai di pekerjaan konstruksi, sehingga
perusahaan wajib mengadakan upaya pengendalian agar tercipta kondisi kerja yang aman.
Salah satu upaya pengendalian bahaya dengan mewajibkan penggunaan Alat Pelindung Diri
(APD). Pada kenyataannya pada studi pendahuluan didapatkan hasil bahwa 52% pekerja di
proyek Konstruksi Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tidak
patuh terhadap penggunaan APD.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional yang
bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi tentang risiko dan APD serta toleransi risiko
dengan kepatuhan penggunaan APD. Terdapat variabel perancu yaitu usia, masa kerja,
pendidikan, dan pengetahuan. Pengumpulan data dilakukan pada September-November 2016
dengan menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Populasi pada penelitian ini yaitu
seluruh pekerja lapangan dengan jumlah sampel sebanyak 55 pekerja yang diambil dengan
metode simple random sampling. Analisa data dilakukan dengan menggunakan uji regresi
logistik ganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 51% pekerja patuh terhadap
penggunaan APD. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan
dengan kepatuhan terhadap penggunaan APD adalah persepsi risiko (p value = 0,034) dan
pengetahuan (p value = 0,007). Selain itu, pengetahuan juga terbukti sebagai variabel
perancu yang dapat mempengaruhi hubungan antar persepsi risiko dengan kepatuhan
penggunaan APD.
Untuk meningkatkan kepatuhan terhadap penggunaan APD, perusahaan perlu
mempertegas peraturan dengan memberlakukan reward dan punishment serta
mensosialisasikannya secara persuasif. Selain itu, perlu dilakukan pelatihan APD dan
memperbaiki sistem pengawasan dengan lebih sistematis.

Kata Kunci : APD, kepatuhan, persepsi risiko, pengetahuan, pekerja konstruksi


Daftar Bacaan : 86 Bacaan (1970-2016)

iv
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE
PUBLIC HEALTH PROGRAM STUDY
OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY
Undergraduate Thesis, March 2017
ELSYA RISTIA, NIM : 1112101000038
Relationship Perception of Risk, PPE, and Risk Tolerance Worker with Compliance
Use of Personal Protective Equipment in Construction Project Mass Rapid Transit
Jakarta Tokyu Wika Joint Operation
(XXVI + 97 pages, 16 tables, 5 schemes, 6 attachements)

ABSTRACT

The complexity of work and high risks encountered in construction work, so the
company must hold control efforts in order to create safe conditions. One of control effort is
using Personal Protective Equipment (PPE). In fact, the preliminary studies showed that 52%
of workers in construction projects Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Tokyu Wika Joint
Operation disobeying the use of PPE.
This study is quantitative research with cross sectional design that aims to find out the
relationship perception of risk, PPE, and risk tolerance with the use of PPE. There are
confounding variables, namely age, years of work, education, and knowledge. Data
collection were held on September-November 2016 using questionnaires and observation
sheets. The population in this study is the entire construction workers with the sample size is
as much as 55 workers were taken by simple random sampling method. The data were
analyzed using multiple logistic regression.
The results showed that 51% of workers are obedient to the use of PPE. The results
also showed that the variables associated with adherence to the use of PPE is the perception
of risk (p value = 0.034) and knowledge (p value = 0.007). In addition, knowledge also
proved to be a confounding variable that may affect the relationship between the risk
perception with compliance of PPE use.
To improve compliance of PPE use, companies need to reinforce the rules by
imposing reward and punishment and socialize persuasively. Moreover, company also
suggested make PPE training and improve supervision system more systematically.

Keywords: construction workers, knowledge, obedience, perception of risk, PPE.


References: 86 items (1970-2016)

v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

IDENTITAS PERSONAL
Nama Lengkap : Elsya Ristia
TTL : Wonogiri, 1 September 1994
Telepon : 08999725099
Alamat : Jalan Sumur Batu Gang Sumba III No.28 RT.05 RW.003
Kelurahan Sumur Batu Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat
Alamat Email : Elsyaristia13@gmail.com
PENDIDIKAN FORMAL
1999-2000 : TK Pelita Hati
2000-2006 : SD Negeri 14 Cempaka Baru
2006-2009 : SMP Negeri 10 Jakarta
2009-2012 : SMA Negeri 77 Jakarta
2012-2017 : Peminatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Program Studi
Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
PENGALAMAN ORGANISASI
2006 : Anggota Palang Merah Remaja SMP Negeri 10 Jakarta
2006-2008 : Anggota Kerohanian Islam SMP Negeri 10 Jakarta
2009-2010 : Anggota Kerohanian Islam SMA Negeri 77 Jakarta
2010-2011 : Anggota Karya Ilmiah Remaja SMA Negeri 77 Jakarta
2013-2014 : Anggota Departemen Informasi dan Komunikasi Badan
Eksekutif Mahasiswa Kesehatan Masyarakat UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
2013 : Panitia Orientasi Pengenalan Akademik dan Kebangsaan
(OPAK) angkatan 2013
2013-2014 : Bendahara Departemen Finance Forum Studi K3 Kesehatan
Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2014 : Panitia Orientasi Pengenalan Akademik dan Kebangsaan
(OPAK) angkatan 2014
2015-2016 : Manager Departemen HRD Forum Studi K3 Kesehatan
Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2015-2016 : Bendahara Departemen Pengembangan Ekonomi dan Wirausaha
Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
2015 : Panitia Orientasi Pengenalan Akademik dan Kebangsaan
(OPAK) angkatan 2015

vi
2016-sekarang : Admin official account line @AllAboutSafety
PENGALAMAN KARIR, PELATIHAN, DAN PRESTASI
2006 : Predikat Santri Berprestasi LPPTKA BKPRMI Jakarta Pusat
2009 : Juara III Lomba Keterampilan Berbahasa dan Bersastra
Indonesia Tingkat Kota Administrasi Jakarta Pusat
2009 : Juara IV Lomba Keterampilan Berbahasa dan Bersastra
Indonesia Tingkat Provinsi DKI Jakarta
2010 : Pelatihan Anak dan Remaja Islam oleh DTTC Daarut Tauhid
2011 : Partipasi Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Biologi
tingkat Provinsi DKI Jakarta
2014 : Training SMK3 Based on OHSAS 18001 dan PP No. 50 Tahun
2012 oleh Synergy Solusi
2014 : Workshop “Fire Management” oleh PJK3 Fairuz Artha Sejahtera
2014 : Workshop “Ergonomics In The Work Place” oleh PJK3 Fairuz
Artha Sejahtera
2014 : Workshop “Risk Management and Loss Control” oleh PJK3
Fairuz Artha Sejahtera
2014 : Workshop “Safety In The Process Industries” oleh PJK3 Fairuz
Artha Sejahtera
2014 : Pemantau Pemilihan Umum Presiden periode 2014-2019
wilayah Kecamatan Kemayoran oleh Jaringan Pendidikan
Pemilih untuk Rakyat (JPPR)
2014 : Pelatihan Duta Anti-Narkoba oleh Badan Narkotika Nasional
(BNN) Indonesia
2015 : Praktik Belajar Lapangan di Puskesmas Paku Alam,
Tangerang Selatan
2015 : Pelatihan Safety Lifting Crane oleh FSK3
2016 : Praktik Kerja Lapangan di proyek konstruksi Mass Rapid
Transit (MRT) Jakarta CP 101 dan CP 102 oleh Tokyu Wika
Jakarta Operation
2016 : Training Contractor Safety Management System (CSMS) oleh
PT. Safety Training Solusindo
2016 : Enumerator pada riset kolaboratif Internasional “Developing a
Simulation Model of Integrated Medical Care in The Handling of
Indonesian Pligrims”
2017 : Volunteer kegiatan Quick Count Pemilihan Kepala Daerah DKI
Jakarta wilayah Kelurahan Cilincing oleh Kencana Citra
Indonesia
2017 : Enumerator pada riset disertasi berjudul “Pengembangan Alat
Ukur Respon Emosional Ibu Melalui Keinginan dan Ketertarikan
Ibu terhadap Bayi Sejak Hamil dan Setelah Melahirkan”

vii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. Berkat rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan baik. Shalawat dan salam
semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang senantiasa mengajarkan
umatnya untuk terus memperoleh ilmu pengetahuan yang kelak bermanfaat bagi
sesamanya.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai
pihak, sehingga dapat terlaksana sesuai dengan yang telah direncanakan. Untuk itu
pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada :

1. Orang tua, Ayahanda Slamet Setiadi dan Ibunda Sugiyatmi serta adik, Aldrian
Dimas Mukti karena atas doa dan dukungan yang tak henti-hentinya sehingga
penulis mampu menyelesaikan pendidikan hingga saat ini.

2. Bapak Dr. H. Arif Sumantri, S.K.M, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Ibu Fajar Ariyanti, Ph.D selaku ketua program studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan
para dosen Kesehatan Masyarakat atas semua ilmu yang telah diajarkan.

4. Ibu Yuli Amran, S.KM, M.KM dan Ibu Dr. Iting Shofwati, S.T, M.KKK selaku
dosen pembimbing atas bimbingan, nasihat, ilmu, motivasi, saran-saran, dan
doa yang sangat berarti dalam penyelesaian skripsi ini.

5. Ibu Siti Rahmah Hidayatullah Lubis, S.KM, M.KKK., Ibu Hoirun Nisa, M.Kes,
Ph. D., dan Ibu Putri Handayani, S.KM, M.KKK selaku para penguji atas
waktu yang telah diberikan dalam sidang skripsi dan bimbingan serta nasihat
yang sangat berarti dalam penyelesaian skripsi ini.

6. Bapak Ferdian Nurdiono, S.K.M selaku safety engineer Divisi SHE Tokyu
Wika Joint Operation yang telah banyak membantu sehingga penulis dapat
melakukan penelitian.

viii
7. Bapak Fajar Hari Putranto (Manager SHE), Bapak Ranto Polbert (Deputy
Manager SHE 101), Bapak Ramly Mercy (Deputy Manager SHE CP 102), dan
para safety officer yang turut membantu memberikan informasi serta para
pekerja di area konstruksi atas kesediaannya mengisi kuesioner penelitian.

8. Bapak Haryadi selaku Deputy Manager Administration Tokyu Wika Joint


Operation yang telah memberikan perizinan penelitian dan memberikan
dukungan penuh selama melakukan penelitian.

9. Indra Giri Putra, yang senantiasa memberikan semangat dan motivasi selama
menempuh pendidikan sampai saat ini.

10. Para sahabat, Annisa Sayyidatul U, Putri Ayuni S, Mursalina, Nael Huda Q,
Nurul Hidayah, Indira Dwi L, Siti Miftahul, Gita Apricilia, Nurul AsySyifa,
Cintia Rahmawati, dan Ofin Andina P.S, yang selalu memberikan dukungan,
bantuan, dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

11. Kawan berjuang, Eka Ari N, Anis Rohmana M, Rr. Putri Annisya.A.P, Ika Nur
S, Sekar Wigati S, Rahfita Ferdinah, dan Alviral Muhamad, serta Ka Nadita
Anggisari dan Ka Dwi Nurvita, yang selalu menyempatkan waktu untuk
berdiskusi dan memberikan bantuan dalam menyelesaikan skripsi ini.

12. Katiguys, Kesmas 2012, BEM Kesehatan Masyarakat 2012, dan HMPS
Kesehatan Masyarakat 2013 yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh
penulis.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak


kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca
emi kebaikan penulisan kedepannya. Akhir kata dengan penuh hormat dan
kerendahan hati, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis
dan pembacanya.

Jakarta, Maret 2017

Penulis

ix
DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN .......................................................................................... i

ABSTRAK .................................................................................................................. iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP .................................................................................... vi

KATA PENGANTAR ..............................................................................................viii

DAFTAR ISI ................................................................................................................ x

DAFTAR TABEL ...................................................................................................... xv

DAFTAR BAGAN ..................................................................................................xvii

DAFTAR ISTILAH ................................................................................................xviii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1

A. Latar Belakang ................................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ............................................................................................ 5

C. Pertanyaan Penelitian ....................................................................................... 6

D. Tujuan .............................................................................................................. 7

1. Tujuan Umum .................................................................................................. 7

2. Tujuan Khusus ................................................................................................. 7

E. Manfaat ............................................................................................................ 9

1. Tokyu Wika Joint Operation ............................................................................ 9

2. Pengembangan Keilmuan................................................................................. 9

F. Ruang Lingkup Penelitian .............................................................................. 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................ 11

A. Alat Pelindung Diri (APD) ............................................................................ 11

1. Definisi APD .................................................................................................. 11

2. Dasar Hukum Penggunaan APD .................................................................... 11

3. Jenis-jenis APD .............................................................................................. 12


x
B. Perilaku Kepatuhan ........................................................................................ 15

C. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku ............................................................. 23

1. Persepsi .......................................................................................................... 23

2. Toleransi risiko............................................................................................... 25

3. Usia ................................................................................................................ 26

4. Masa Kerja ..................................................................................................... 27

5. Pendidikan ...................................................................................................... 27

6. Pengetahuan ................................................................................................... 28

D. Kerangka Teori............................................................................................... 29

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ...................... 31

A. Kerangka Konsep ........................................................................................... 31

B. Definisi Operasional....................................................................................... 34

C. Hipotesis......................................................................................................... 36

BAB IV METODE PENELITIAN ............................................................................ 37

A. Desain Penelitian ............................................................................................ 37

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ......................................................................... 37

C. Populasi dan Sampel Penelitian ..................................................................... 37

D. Pengumpulan Data ......................................................................................... 39

E. Instrumen Pengumpulan Data ........................................................................ 40

1. Lembar Observasi .......................................................................................... 40

2. Kuesioner ....................................................................................................... 40

F. Uji Validitas dan Reabilitas ........................................................................... 45

1. Uji Validitas ................................................................................................... 45

2. Uji Reabilitas.................................................................................................. 46

H. Manajemen Data ............................................................................................ 46

1. Editing ............................................................................................................ 46

xi
2. Coding ............................................................................................................ 47

3. Entry ............................................................................................................... 48

4. Cleaning ......................................................................................................... 48

I. Analisis Data .................................................................................................. 48

1. Analisis Univariat........................................................................................... 48

2. Analisis Bivariat ............................................................................................. 49

3. Analisis Multivariat........................................................................................ 50

J. Penyajian Data ............................................................................................... 51

BAB V HASIL ........................................................................................................... 52

A. Gambaran Umum Proyek Konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint


Operation ........................................................................................................ 52

B. Gambaran Kepatuhan Pekerja terhadap Penggunaan APD ........................... 54

C. Gambaran Persepsi Risiko, Persepsi terhadap APD, dan Toleransi Risiko


Pekerja ............................................................................................................ 55

1. Persepsi Risiko ............................................................................................... 56

2. Persepsi terhadap APD ................................................................................... 56

3. Toleransi Risiko ............................................................................................. 56

D. Gambaran Faktor Internal Pekerja ................................................................. 57

1. Usia Pekerja ................................................................................................... 57

2. Masa Kerja Pekerja ........................................................................................ 57

3. Pendidikan Pekerja ......................................................................................... 58

4. Pengetahuan Pekerja ...................................................................................... 58

E. Hubungan antara Persepsi Risiko, Persepsi terhadap APD, dan Toleransi


Risiko dengan Kepatuhan Penggunaan APD ................................................. 58

1. Hubungan antara Persepsi Risiko dengan Kepatuhan Penggunaan APD ...... 59

2. Hubungan antara Persepsi terhadap APD dengan Kepatuhan Penggunaan


APD .............................................................................................................. 60
xii
3. Hubungan antara Toleransi Risiko dengan Kepatuhan Penggunaan APD .... 60

F. Hubungan antara Faktor Internal dengan Kepatuhan Penggunaan APD ....... 61

1. Hubungan antara Usia dengan Kepatuhan Penggunaan APD ....................... 62

2. Hubungan antara Masa Kerja dengan Kepatuhan Penggunaan APD ............ 62

3. Hubungan antara Pendidikan dengan Kepatuhan Penggunaan APD ............. 63

4. Hubungan antara Pengetahuan terhadap APD dengan Kepatuhan Penggunaan


APD .............................................................................................................. 63

G. Faktor Internal Pekerja yang Mempengaruhi Hubungan antara Persepsi


Risiko, Persepsi terhadap APD, dan Toleransi Risiko dengan Kepatuhan
Penggunaan APD ........................................................................................... 64

BAB VI PEMBAHASAN .......................................................................................... 69

A. Keterbatasan Penelitian .................................................................................. 69

B. Kepatuhan Pekerja terhadap Penggunaan APD ............................................. 69

C. Hubungan antara Persepsi Risiko, Persepsi terhadap APD, dan Toleransi


Risiko dengan Kepatuhan Penggunaan APD ................................................. 73

1. Hubungan antara Persepsi Risiko dengan Kepatuhan Penggunaan APD ...... 73

2. Hubungan antara Persepsi terhadap APD dengan Kepatuhan Penggunaan


APD .............................................................................................................. 76

3. Hubungan antara Toleransi Risiko dengan Kepatuhan Penggunaan APD .... 80

D. Hubungan antara Faktor Internal dengan Kepatuhan Penggunaan APD ....... 82

1. Hubungan antara Usia dengan Kepatuhan Penggunaan APD ....................... 83

2. Hubungan antara Masa Kerja dengan Kepatuhan Penggunaan APD ............ 85

3. Hubungan antara Pendidikan dengan Kepatuhan Penggunaan APD ............. 89

4. Hubungan antara Pengetahuan dengan Kepatuhan Penggunaan APD .......... 91

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ....................................................................... 95

A. Simpulan ........................................................................................................ 95

B. Saran ............................................................................................................... 96

xiii
1. Bagi Tokyu Wika Joint Operation ................................................................. 96

2. Bagi Pekerja Proyek Konstruksi MRT Jakarta .............................................. 96

3. Bagi Peneliti Selanjutnya ............................................................................... 97

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... xix

LAMPIRAN ............................................................................................................ xxvi

xiv
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Operasional .................................................................................. 34

Tabel 4.1 Jumlah Sampel Minimal Tiap Variabel ..................................................... 38

Tabel 4.2 Kode Variabel ............................................................................................ 47

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kepatuhan Pekerja terhadap Penggunaan


APD di Proyek Konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation
Tahun 2016 .............................................................................................. 55

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Persepsi Risiko, Persepsi terhadap APD,
dan Toleransi Risiko Pekerja di Proyek Konstruksi MRT Jakarta Tokyu
Wika Joint Operation Tahun 2016 ........................................................... 56

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Faktor Internal (Usia dan Masa Kerja)
Pekerja di Proyek Konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation
Tahun 2016 .............................................................................................. 57

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Faktor Internal (Pendidikan dan


Pengetahuan) Pekerja di Proyek Konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika
Joint Operation Tahun 2016 ..................................................................... 57

Tabel 5.5 Hubungan Persepsi Risiko, Persepsi terhadap APD, dan Toleransi Risiko
Pekerja dengan Kepatuhan Penggunaan APD Pekerja di Proyek
Konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation Tahun 2016 ....... 59

Tabel 5.6 Hubungan Faktor Internal (Usia dan Masa Kerja) dengan Kepatuhan
Penggunaan APD Pekerja di Proyek Konstruksi MRT Jakarta Tokyu
Wika Joint Operation Tahun 2016 ........................................................... 61

Tabel 5.7 Hubungan Faktor Internal Berdasarkan (Pendidikan dan Pengetahuan)


dengan Kepatuhan Penggunaan APD Pekerja di Proyek Konstruksi MRT
Jakarta Tokyu Wika Joint Operation Tahun 2016 ................................... 62

Tabel 5.8 Hasil Analisis Bivariat antara Variabel Usia, Masa Kerja, Pendidikan,
Pengetahuan, Persepsi Risiko, Persepsi terhadap APD, Toleransi Risiko
dengan Kepatuhan Penggunaan APD ...................................................... 65

xv
Tabel 5.9 Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik Ganda antara Variabel Usia,
Masa Kerja, Pendidikan, Pengetahuan, Persepsi Risiko, Persepsi terhadap
APD, dan Toleransi Risiko dengan Kepatuhan terhadap Penggunaan APD
.................................................................................................................. 65

Tabel 5.10 Hasil Analisis Multivariat antara Pengetahuan dan Persepsi Risiko dengan
Kepatuhan Penggunaan APD ................................................................... 66

Tabel 5.11 Hasil Uji Interaksi antara Pengetahuan dengan Persepsi Risiko.............. 67

Tabel 5.12 Hasil Uji Variabel Perancu dengan Mengeluarkan Variabel Pengetahuan
.................................................................................................................. 67

Tabel 5.13 Hasil Analisis Variabel Pengetahuan Terbukti Menjadi Variabel Perancu
.................................................................................................................. 68

xvi
DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Teori Health Belief Model ........................................................................ 20

Bagan 2.2 Teori National Safety Council .................................................................. 21

Bagan 2.3 Teori Lawrence Green .............................................................................. 23

Bagan 2.4 Kerangka Teori ......................................................................................... 30

Bagan 3.1 Kerangka Konsep ...................................................................................... 32

xvii
DAFTAR ISTILAH

APD : Alat Pelindung Diri

HIRADC : Hazard Identification Risk and Determinant Control

K3 : Keselamatan dan Kesehatan Kerja

LTI : Lost Time Injury

MRT : Mass Rapid Transit

OSHA : Occupational Safety And Health

PPE : Personal Protective Equipment

SHE : Safety Health and Enviromental

SOP : Standar Operasional Prosedur

TWJO : Tokyu Wika Joint Operation

xviii
1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Alat pelindung diri (APD) adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan

untuk melindungi seseorang dengan mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh

dari potensi bahaya di tempat kerja. (Depnakertrans, 2010). Alat pelindung diri

merupakan tahap terakhir dari upaya pengendalian bahaya yang menjadi sangat

penting apabila upaya pengendalian bahaya pada tahapan sebelumnya sukar

dilakukan dan potensi risiko yang ada masih tergolong tinggi. Penggunaan

APD merupakan kewajiban pekerja saat berada di area kerja. Hal ini

dilandaskan oleh Undang-Undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan

Kerja bab IX pasal 13 dimana disebutkan bahwa barangsiapa yang memasuki

suatu tempat kerja maka diwajibkan mentaati semua petunjuk keselamatan

kerja dan menggunakan alat pelindung diri yang diwajibkan.

Sari (2014) menyebutkan bahwa penggunaan APD yang baik akan

memberikan perlindungan bagi pekerja dari kejadian tidak terduga atau dari

keparahan dampak kecelakaan kerja sehingga dapat meningkatkan

produktivitas baik pekerja maupun perusahaan. Namun pada kenyataannya,

masih terdapat pekerja yang mengabaikan peraturan penggunaan APD yang

berlaku karena berbagai alasan, sehingga kemungkinan untuk terjadi

kecelakaan akan lebih besar.

1
2

Tokyu Wika Joint Operation merupakan perusahaan kerja sama antara

perusahaan asing dari negara Jepang yaitu Tokyu Construction Co, Ltd dan

perusahaan domestik yaitu PT Wijaya Karya (Persero) Tbk yang bergerak di

bidang konstruksi dalam mega proyek pembangunan Mass Rapid Transit

(MRT) Jakarta surface section package CP 101 dan CP 102. Di Tokyu Wika

Joint Operation, APD yang digunakan adalah safety helmet, safety vest, dan

safety shoes yang wajib dipakai saat berada di area kerja (TWJO, 2013).

Adapun standar APD yang digunakan yaitu pada safety helmet memiliki

standar ANSI tipe C yang melindungi pengguna dari bahaya kejatuhan dan

ringan. Sedangkan untuk safety vest wajib dilengkapi skotlet yang dapat

memantulkan cahaya di tempat yang kurang memiliki pencahayaan. Kedua

jenis APD ini dipakai sesuai klasifikasi warna menurut jenis pekerjaan masing-

masing individu di area kerja. Adapun untuk safety shoes yang digunakan harus

memiliki besi di bagian ujung jari kaki yang berguna untuk melindungi dari

kejatuhan benda. Adapula APD tambahan seperti pengait helm (chin strap)

yang digunakan di safety helmet saat berada di area galian ataupun area

ketinggian, sarung tangan (gloves), kacamata (eyeglasses), pelindung telinga

(earmuff), masker, alat pelindung jatuh (full body harness), dan sebagainya

yang juga wajib digunakan sesuai jenis pekerjaan dan kondisi area kerja

tertentu. Selain itu, pekerja juga wajib memakai baju berlengan panjang dan

celana panjang (TWJO, 2013).

Dari hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti diketahui

bahwa dari 31 pekerja, setengahnya yaitu sebanyak 52 % atau 16 pekerja tidak

mematuhi peraturan yang berlaku dengan benar dalam pemakaian APD, seperti
3

7 pekerja tidak memakai helm saat bekerja, 5 pekerja memakai helm dengan

posisi yang salah, 1 pekerja tidak memakai safety shoes, dan 3 pekerja tidak

memakai full body harness saat berada di ketinggian. Hal ini menunjukkan

bahwa terjadi ketidakpatuhan terhadap peraturan penggunaan APD. Padahal

pada awal masuk bekerja, semua pekerja diberikan safety induction yang di

dalamnya dijelaskan tentang kewajiban penggunaan APD. Lalu, di area kerja

juga sudah dipasang banner dan safety sign yang mewajibkan penggunaan

APD.

Ketidakpatuhan pekerja terhadap penggunaan APD menjadikan mereka

bekerja dalam kondisi tidak aman. Hal tersebut dapat mengakibatkan pekerja

mengalami penyakit akibat kerja (PAK), cidera, kecelakaan, kecacatan, bahkan

kematian. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Widjajahakim (2001)

diketahui 25 dari 600 pekerja konstruksi di Kodya Semarang menderita

dermatitis kontak. Adapula studi kasus yang dilakukan Bock, dkk (2003) di

Jerman diperoleh hasil bahwa 5,1 kasus per 10.000 pekerja terkena insiden

penyakit kulit akibat kerja di proyek konstruksi.

Pada kasus kecelakaan di proyek pembangunan Margonda Recidence,

Depok, seorang pekerja tewas akibat jatuh dari lantai 15 dikarenakan tidak

menggunakan APD dan terpeleset (Winata, 2011). Hal ini juga terjadi pada

kasus kecelakaan proyek jembatan di Muarasari yang menelan korban seorang

pekerja akibat tertimbun galian tiang jembatan yang bekerja tanpa dilengkapi

APD (Jamil, 2015). Di Tokyu Wika Joint Operation sendiri pada tahun 2013

sampai dengan tahun 2016 telah terjadi kecelakaan sebanyak sembilan kasus

yang diketahui dari data bahwa semua kasus berasal dari faktor manusia. Dari
4

sembilan kasus yang ada, dua kasus diakibatkan karena tidak mematuhi

peraturan mengenai APD dimana satu kasus diantaranya mengakibatkan Lost

Time Injury (LTI).

Terjadinya kecelakaan tersebut memberikan dampak yang negatif

terhadap pekerja dan pelaksanaan suatu proyek konstruksi, seperti kerugian

materi dan moril, keterlambatan penyelesaian proyek, kehilangan jam kerja,

mengakibatkan kecacatan, bahkan dapat menghilangkan nyawa. Hal ini dapat

dilihat berdasarkan data dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)

Ketenagakerjaan hingga akhir tahun 2015 telah terjadi 105.182 kasus

kecelakaan kerja di Indonesia (BPJS Ketenagakerjaan, 2016). Pada data BPJS

Ketenagakerjaan wilayah DKI tahun 2015 menyebutkan bahwa kecelakaan

kerja telah mengakibatkan kerugian atau klaim JKK sebesar Rp 150 miliar

(PoskotaNews, 2016).

Oleh karena itu, kepatuhan perlu diperhatikan oleh perusahaan dan

pekerja itu sendiri. Banyak faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan yang

salah satunya dipengaruhi oleh persepsi. Hal tersebut dapat terjadi karena

perilaku seseorang dipengaruhi karena adanya persepsi (Notoatmodjo, 2007).

Hasil penelitian Dahlawy (2008) juga mengungkapkan bahwa persepsi

mempengaruhi perilaku K3 pekerja. Kekeliruan persepsi yang mungkin terjadi

dapat membuat persepsi terhadap sebuah perilaku dalam menghadapi risiko

menjadi fatal.

Padahal Hassan, dkk (2013) mengatakan bahwa persepsi dan kesadaran

pekerja terhadap keselamatan dan kesehatan kerja merupakan aspek penting

dalam pelaksanaan konstruksi agar terbentuk kondisi yang baik bagi pekerja itu
5

sendiri. Persepsi yang tidak benar dapat meningkatkan kemungkinan seseorang

berperilaku tidak aman yang dapat menyebabkan terkena penyakit akibat kerja

ataupun mengakibatkan kecelakaan kerja.

Persepsi yang akan diteliti dalam penelitian ini meliputi persepsi pekerja

terhadap risiko bahaya yang ingin dihindari dalam penggunaan APD dan

persepsi mengenai pemakaian dari APD itu sendiri seperti persepsi kegunaan

yang dirasakan oleh pekerja serta hambatan saat menggunakannya.

Persepsi yang dimiliki akan mempengaruhi toleransi pekerja dalam

menanggapi risiko bahaya yang ada di sekitarnya (National Safety Council,

2014). Seseorang yang memiliki persepsi yang kurang baik maka ia cenderung

memiliki toleransi yang tinggi terhadap risiko bahaya. Hal tersebut juga akan

mempengaruhi pekerja terhadap kepatuhan dalam penggunaan APD.

Oleh karena itu perlunya diadakan penelitian untuk mengetahui hubungan

persepsi tentang risiko dan APD serta toleransi risiko pekerja dengan kepatuhan

penggunaan Alat Pelindung Diri di Proyek Konstruksi Mass Rapid Transit

Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016.

B. Rumusan Masalah

Dari hasil studi pendahuluan diketahui bahwa terdapat ketidakpatuhan

pekerja terhadap peraturan pengunaan APD di proyek konstruksi MRT Jakarta

Tokyu Wika Joint Operation. Hal ini dibuktikan dari 31 pekerja, setengahnya

yaitu sebanyak 52 % atau 16 pekerja tidak mematuhi peraturan yang berlaku

dengan benar dalam pemakaian APD. Ketidakpatuhan pekerja terhadap


6

peraturan penggunaan APD tersebut berisiko menimbulkan penyakit akibat

kerja, cidera, kecacatan, kecelakaan, bahkan kematian.

Perbedaan kepatuhan pada pekerja diduga terjadi karena adanya persepsi

yang dimiliki masing-masing pekerja. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk

meneliti hubungan persepsi tentang risiko dan APD serta toleransi risiko

pekerja dengan kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri di Proyek

Konstruksi Mass Rapid Transit Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun

2016.

C. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka disusunlah pertanyaan

penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana gambaran umum proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika

Joint Operation tahun 2016?

2. Bagaimana gambaran kepatuhan pekerja terhadap penggunaan APD di

proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016?

3. Bagaimana gambaran persepsi risiko, persepsi terhadap APD, dan

toleransi risiko pekerja di proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika

Joint Operation tahun 2016?

4. Bagaimana gambaran faktor internal pekerja (usia, masa kerja,

pendidikan, dan pengetahuan) di proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu

Wika Joint Operation tahun 2016?


7

5. Bagaimana hubungan antara persepsi risiko, persepsi terhadap APD, dan

toleransi risiko dengan kepatuhan penggunaan APD di proyek konstruksi

MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016?

6. Bagaimana hubungan antara faktor internal (usia, masa kerja, pendidikan,

dan pengetahuan) pekerja dengan kepatuhan penggunaan APD di proyek

konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016?

7. Bagaimana faktor internal (usia, masa kerja, pendidikan, dan

pengetahuan) mempengaruhi hubungan antara persepsi risiko, persepsi

terhadap APD, dan toleransi risiko dengan kepatuhan penggunaan APD di

proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016?

D. Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini terdiri dari tujuan umum dan tujuan

khusus sebagai berikut:

1. Tujuan Umum

Diketahuinya hubungan persepsi tentang risiko dan APD serta

toleransi risiko pekerja dengan kepatuhan penggunaan Alat Pelindung

Diri di Proyek Konstruksi Mass Rapid Transit Jakarta Tokyu Wika Joint

Operation tahun 2016.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya gambaran umum proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu

Wika Joint Operation tahun 2016.


8

b. Diketahuinya gambaran kepatuhan pekerja terhadap penggunaan APD

di proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun

2016.

c. Diketahuinya gambaran persepsi risiko, persepsi terhadap APD, dan

toleransi risiko pekerja di proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu

Wika Joint Operation tahun 2016.

d. Diketahuinya gambaran faktor internal pekerja (usia, masa kerja,

pendidikan, dan pengetahuan) di proyek konstruksi MRT Jakarta

Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016.

e. Diketahuinya hubungan antara persepsi risiko, persepsi terhadap

APD, dan toleransi risiko dengan kepatuhan penggunaan APD di

proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun

2016.

f. Diketahuinya hubungan antara faktor internal (usia, masa kerja,

pendidikan, dan pengetahuan) pekerja dengan kepatuhan penggunaan

APD di proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation

tahun 2016.

g. Diketahuinya faktor internal (usia, masa kerja, pendidikan, dan

pengetahuan) mempengaruhi hubungan antara persepsi risiko,

persepsi terhadap APD, dan toleransi risiko dengan kepatuhan

penggunaan APD di proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika

Joint Operation tahun 2016.


9

E. Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:

1. Tokyu Wika Joint Operation

a. Sebagai bahan informasi terkait persepsi pekerja dan toleransi risiko

terhadap kepatuhan penggunaan APD di proyek konstruksi MRT

Jakarta Tokyu Wika Joint Operation.

b. Sebagai bahan masukan dalam evaluasi dan pembuatan kebijakan

program peningkatan keselamatan kerja di proyek konstruksi MRT

Jakarta Tokyu Wika Joint Operation.

2. Pengembangan Keilmuan

a. Sebagai bahan referensi dan kepentingan pengembangan penelitian

selanjutnya mengenai persepsi pekerja dan toleransi terhadap bahaya

serta kepatuhan pekerja terhadap penggunaan APD.

b. Dapat menambah pengetahuan mengenai penerapan bidang keilmuan

K3 di perusahaan jasa konstruksi, khususnya pada psikologi industri

yang ditinjau dari persepsi yang dimiliki pekerja dan praktik kerja

aman yang ditinjau dari kepatuhan pekerja terhadap penggunaan alat

pelindung diri (APD) pada proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu

Wika Joint Operation tahun 2016.


10

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan persepsi tentang

risiko dan APD serta toleransi risiko pekerja dengan kepatuhan penggunaan

Alat Pelindung Diri di Proyek Konstruksi Mass Rapid Transit Jakarta Tokyu

Wika Joint Operation tahun 2016. Faktor-faktor yang akan diteliti terdiri dari

faktor dependen yaitu kepatuhan pekerja terhadap penggunaan APD, faktor

independen yaitu persepsi risiko, persepsi terhadap APD dan toleransi risiko,

serta faktor perancu yaitu usia, masa kerja, pendidikan, dan pengetahuan.

Kegiatan penelitian ini dilakukan pada bulan September-November 2016

pada proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation. Penelitian

menggunakan desain studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif.

Populasi pada penelitian adalah pekerja lapangan pada proyek konstruksi MRT

Jakarta Tokyu Wika Joint Operation dan sampel penelitian dipilih

menggunakan metode simple random sampling. Sumber data yang diperoleh

berasal dari data primer dengan cara melakukan observasi dan menyebar

kuesioner ke pekerja. Uji statistik dilakukan dengan menggunakan analisis Chi-

Square, Mann-Whitney untuk melihat hubungan antar variabel independen

dengan variabel dependen dan analisis regresi logistik ganda untuk uji variabel

perancu.
2 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Alat Pelindung Diri (APD)

1. Definisi APD

Alat Pelindung Diri (APD) atau Personal Protective Equipment

(PPE) didefinisikan sebagai alat yang digunakan untuk melindungi

pekerja dari luka atau penyakit yang diakibatkan oleh adanya kontak

dengan bahaya (hazards) di tempat kerja, baik yang bersifat kimia,

biologis, radiasi, fisik, elektrik, mekanik dan lainnya (OSHA, 2007).

Sedangkan menurut Tarwaka (2008), alat pelindung diri merupakan

seperangkat alat keselamatan yang digunakan oleh pekerja untuk

melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya dari kemungkinan adanya

pemaparan potensi bahaya lingkungan kerja terhadap kecelakaan dan

penyakit akibat kerja.

2. Dasar Hukum Penggunaan APD

Penggunaan APD di tempat kerja merupakan suatu kewajiban bagi

semua orang yang berada di area kerja. Hal ini dapat dilihat dari Undang-

Undang No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dalam pasal 12 butir

b yaitu tenaga kerja diwajibkan untuk memakai APD dan pasal 13 yang

menyebutkan bahwa barang siapa yang akan memasuki suatu tempat

kerja, diwajibkan mentaati semua petunjuk keselamatan kerja dan

11
12

memakai APD yang diwajibkan. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan

Transmigrasi Nomor 01/Men/1981 tentang kewajiban melapor Penyakit

Akibat Kerja dalam pasal 5 ayat 2 juga menyebutkan bahwa tenaga kerja

harus memakai alat-alat pelindung diri yang diwajibkan untuk

pencegahan penyakit akibat kerja.

Peraturan lainnya mengenai penggunaan APD juga diatur dalam

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor

08/Men/VII/2010 tentang APD dalam pasal 5 yang menyatakan bahwa

pengusaha atau pengurus wajib mengumumkan secara tertulis dan

memasang rambu-rambu mengenai kewajiban penggunaan APD di

tempat kerja dan pasal 6 ayat 1 yang berbunyi bahwa pekerja/buruh dan

orang lain yang memasuki tempat kerja wajib memakai atau

menggunakan APD sesuai dengan potensi bahaya dan risiko.

3. Jenis-jenis APD

APD memiliki berbagai macam jenis yang digolongkan berdasarkan

bagian-bagian tubuh yang dilindungi, yaitu (Permenakertrans, 2010):

a. Pelindung Kepala

Pelindung kepala adalah alat pelindung yang berfungsi melindungi

kepala dari kejatuhan benda, benturan, terpukul benda, terpapar oleh

radiasi panas, api, percikan bahan–bahan kimia, jasad renik (micro

organism) dan suhu yang ekstrim. Jenis alat pelindung kepala terdiri

dari helm pengaman (safety helmet), topi atau tudung kepala, penutup

atau pengaman rambut, dan lain-lain.


13

b. Pelindung Mata dan Muka

Pelindung mata dan muka adalah alat pelindung yang berfungsi

melindungi mata dan muka dari paparan bahan kimia berbahaya,

paparan partikel-partikel yang melayang di udara dan di badan air,

percikan benda-benda kecil, panas, atau uap panas, radiasi gelombang

elektromagnetik yang mengion maupun yang tidak mengion, pancaran

cahaya, benturan atau pukulan benda. Jenis alat pelindung mata dan

muka terdiri dari kacamata pengaman (spectacles), goggles, tameng

muka (face shield), masker selam, tameng muka dan kacamata

pengaman dalam kesatuan (full face masker).

c. Pelindung telinga

Pelindung telinga adalah alat pelindung yang berfungsi

melindungi alat pendengaran terhadap kebisingan dan tekanan. Jenis

alat pelindung telinga terdiri dari sumbat telinga (ear plug) dan

penutup telinga (ear muff).

d. Pelindung Pernapasan beserta perlengkapannya

Pelindung pernapasan beserta perlengkapannya adalah alat

pelindung yang berfungsi melindungi organ pernapasan dengan cara

menyalurkan udara bersih dan sehat dan/atau menyaring cemaran

bahan kimia, micro organism, dan partikel (debu, kabut, uap, asap,

gas). Jenis alat pelindung pernapasan dan perlengkapannya terdiri dari

masker, respirator, katrit, kanister, Re-breather, Airline respirator,

Continues Air Supply Machine=Air Hose Mask Respirator, tangki

selam dan regulator (Self-Contained Underwater Breathing


14

Apparatus), Self-Contained Breathing Apparatus, dan emergency

breathing apparatus.

e. Pelindung tangan

Pelindung tangan adalah alat pelindung yang berfungsi

melindungi tangan dan jari-jari tangan dari penjalaran api, suhu panas,

suhu dingin, radiasi elektromagnetik, radiasi pengion, arus listrik,

bahan kimia, benturan, pukulan dan tergores, terinfeksi zat patogen

(virus, bakteri) dan jasad renik. Jenis pelindung tangan terdiri dari

sarung tangan yang terbuat dari logam, kulit, kain kanvas, kain atau

kain berpelapis, karet, dan sarung tangan yang tahan bahan kimia.

f. Pelindung kaki

Pelindung kaki adalah alat pelindung yang berfungsi melindungi

kaki dari tertimpa atau benturan dengan benda-benda berat, tertusuk

benda tajam, terkena cairan panas atau dingin, uap panas, terpajan

suhu ekstrim, terkena bahan kimia berbahaya dan jasad renik,

tergelincir. Jenis Pelindung kaki berupa sepatu keselamatan pada

pekerjaan peleburan, pengecoran logam, industri, kontruksi bangunan,

pekerjaan yang berpotensi bahaya peledakan, bahaya listrik, tempat

kerja yang basah atau licin, bahan kimia dan jasad renik, dan/ atau

bahaya binatang dan lain-lain.

g. Pakaian pelindung

Pakaian pelindung adalah alat pelindung yang berfungsi

melindungi badan sebagian atau seluruh bagian badan dari bahaya

temperatur panas atau dingin yang ekstrim, pajanan api dan benda-

benda panas, percikan bahan-bahan kimia, cairan dan logam panas,


15

uap panas, benturan dengan mesin, peralatan dan bahan, tergores,

radiasi, binatang, mikroorganisme patogen dari manusia, binatang,

tumbuhan dan lingkungan seperti virus, bakteri dan jamur. Jenis

pakaian pelindung terdiri dari rompi (vests), celemek (apron/

coveralls), jaket, dan pakaian pelindung yang menutupi sebagian atau

seluruh bagian badan.

h. Alat Pelindung Jatuh Perorangan

Alat pelindung jatuh perorangan adalah alat pelindung berfungsi

membatasi gerak pekerja agar tidak masuk ketempat yang mempunyai

potensi jatuh atau menjaga pekerja berada pada posisi kerja yang

diinginkan dalam keadaan miring maupun tergantung dan menahan

serta membatasi pekerja jatuh sehingga tidak membentur lantai dasar.

Jenis alat pelindung jatuh perorangan terdiri dari sabuk pengaman

tubuh (harness), karabiner, tali koneksi (lanyard), tali pengaman

(safety rope), alat penjepit tali (rope clamp), alat penurun (decender),

alat penahan jatuh bergerak (mobile fall arrester), dan lain-lain.

B. Perilaku Kepatuhan

Menurut Notoatmodjo (2010), dari aspek biologis perilaku adalah suatu

kegiatan atau aktivitas organisme atau makhluk hidup yang bersangkutan.

Perilaku juga sering diartikan sebagai tindakan yang dilakukan seseorang untuk

beradaptasi dengan orang lain dan lingkungan disekitarnya. Perilaku manusia

mencakup dua komponen, yaitu tingkah laku dan sikap. Tingkah laku

merupakan perbuatan tertentu dari manusia sebagai reaksi terhadap keadaan


16

atau situasi yang dihadapi. Adapun sikap yaitu sesuatu yang melekat pada diri

manusia yang merupakan reaksi manusia terhadap sesuatu keadaan

(Herijulianti, dkk, 2001).

Salah satu bentuk dari perilaku adalah kepatuhan. Kepatuhan berasal dari

kata patuh yang berarti suka menurut perintah, taat pada perintah, aturan,

berdisiplin (KBBI, 2016). Kepatuhan adalah ketaatan atau pasrah pada tujuan

yang telah ditentukan (Bastable, 2002). Menurut Niven (2002), kepatuhan yaitu

sejauh mana perilaku seorang pekerja sesuai dengan ketentuan yang diberikan

oleh atasannya. Sedangkan kepatuhan keselamatan didefinisikan sebagai

aktivitas utama yang harus dilakukan individu untuk mempertahankan

keselamatan di tempat kerja, termasuk didalamnya kepatuhan akan prosedur

kerja dan menggunakan peralatan pelindung diri (Borman dan Motowidlo,

1993). Adapun Sarwono (1999) mengemukakan bahwa kepatuhan akan

menghasilkan perubahan tingkah laku (behaviour change) yang bersifat

sementara dan individu yang berada di dalamnya akan cenderung kembali ke

perilaku atau pandangannya yang semula jika pengawasan kelompok mulai

mengendur dan perlahan memudar atau jika individu tersebut dipindahkan dari

kelompok asalnya.

Banyak teori yang dapat digunakan dalam meneliti perilaku. Bart (1994)

dalam bukunya yang berjudul Psikologi Kesehatan menyebutkan bahwa salah

satu teori yang dapat menjelaskan perilaku preventif adalah Health Belief

Model (HBM). Teori Health Belief Model (HBM) menjelaskan dan

meramalkan perilaku kesehatan individu dipengaruhi oleh sikap dan keyakinan

individu tersebut. Rosenstock (1974) menyatakan bahwa kepercayaan atau


17

persepsi seseorang tentang penyakit dan sarana yang tersedia untuk

menghindari terjadinya penyakit tersebut dapat mempengaruhi keputusan

seseorang dalam perilaku kesehatannya dibanding dengan kejadian sebenarnya.

Pada perkembangannya, (Kirscht (1998); Kirscht & Joseph (1989); dan

Taylor (1991) dalam Bart (1994)) mengatakan bahwa teori HBM juga dipakai

dalam menjelaskan ketertarikan dalam kebiasaan seseorang termasuk gaya

hidup tertentu seperti merokok, diet, olahraga, penggunaan alkohol,

penggunaan kondom, menggosok gigi, dan perilaku keselamatan. Terdapat

variabel-variabel kunci yang terdapat dalam teori HBM, yaitu:

1. Kerentanan yang dirasakan (Perceived susceptibility)

Seseorang harus mengetahui dan merasakan bahwa ia rentan terhadap

suatu penyakit guna mendorongnya bertindak mengobati dan mencegah

penyakitnya. Dengan kata lain, tindakan preventif akan dilakukan jika

seseorang telah merasakan bahwa ia atau keluarganya rentan terhadap

suatu penyakit tersebut atau berada di dalam suatu risiko. Atau dengan

kalimat lain seseorang tidak akan mengubah perilaku kesehatannya

kecuali mereka percaya bahwa mereka berada di dalam risiko.

Pekerja tidak akan menggunakan APD selama dia tidak merasa berada

di dalam risiko kesehatan dan keselamatan atau selama tidak merasa

dirinya rentan terhadap risiko kesehatan dan keselamatan yang ada.

2. Keseriusan yang dirasakan (Perceived severity)

Tingkat keseriusan suatu penyakit berpengaruh kepada tindakan

individu dalam mencari pengobatan dan pencegahan. Seseorang tidak

akan mengubah perilakunya kecuali bila dirasakan konsekuensi yang


18

diterimanya cukup parah. Jadi selama konsekuensi yang diterimanya

masih dapat ditoleransi, maka perilaku tersebut tidak akan berubah.

Misalnya risiko kejatuhan paku dalam area proyek dirasakan lebih serius

dibandingkan dengan terkena serpihan debu. Maka tindakan pencegahan

terhadap kejatuhan paku akan lebih banyak dan diprioritaskan.

3. Keuntungan yang didapatkan (Perceived benefit)

Seseorang akan cenderung mengambil suatu tindakan selama tindakan

itu memberikan manfaat baginya dalam menurunkan risiko. Pekerja akan

menggunakan APD selama mereka merasakan manfaat dari penggunaan

tersebut, seperti penggunaan safety boot membuat pekerja merasakan

manfaat dengan aman berjalan di atas tanah yang berlumpur tanpa ada

rasa takut terkena kotoran ataupun benda tajam lainnya. Perasaan adanya

manfaat ini akan mendorong pekerja untuk terus menggunakan safety

boot demikian pula dengan APD lainnya.

4. Hambatan yang diperoleh (Perceived barrier)

Penyebab seseorang tidak mau mengubah perilakunya adalah karena

perubahan tersebut dirasakan sangat berat untuk dilakukan. Hambatan

yang ada mengacu pada karakteristik dari pengukuran sebuah pencegahan

seperti merepotkan, mahal, tidak menyenangkan, menyakitkan, atau

memakan waktu. Hal tersebut dapat menyebabkan seseorang menjauh

dari tindakan yang diinginkan untuk dilaksanakan. Misalnya pekerja

enggan memakai safety boot saat bekerja karena berat dan membatasi

dalam bergerak.
19

5. Isyarat untuk bertindak (Cues of action)

Seseorang akan termotivasi untuk bertindak mengubah perilakunya

apabila ada motivasi tertentu yang timbul sebagai penggerak. Motivasi

tersebut dapat timbul dari faktor-faktor internal seperti gejala fisik.

Contohnya, pesan-pesan pada media, nasihat dari orang lain, dan

sebagainya.

6. Variabel lain (Modifying variable)

Empat persepsi utama pembentuk perilaku kesehatan dalam teori

HBM dipengaruhi oleh variabel-variabel yang dikenal dengan variabel

lain (modifying variable). Variabel lain dalam hal ini antara lain:

a. Variabel demografi yaitu: usia, jenis kelamin, latar belakang budaya.

b. Variabel psikologis yaitu: kelas sosial dan tekanan sosial.

c. Variabel struktural yaitu: pengetahuan, pendidikan, dan pengalaman.

7. Kemampuan diri (Self efficacy)

Kemampuan diri adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuan

dirinya bahwa ia dapat melakukan suatu perilaku dengan sukses.

Keyakinan individu terhadap kemampuannya dapat menentukan

bagaimana mereka berperilaku, berpikir dan bereaksi terhadap suatu

ancaman atau situasi yang tidak menyenangkan.


20

Teori HBM tersebut digambarkan seperti pada bagan 2.1 sebagai berikut:

Persepsi tentang keseriusan


yang dirasakan

Persepsi tentang kerentanan

Variabel demografi: yang dirasakan

usia, jenis kelamin, dan latar


belakang budaya. Persepsi tentang keuntungan
Perilaku keselamatan
Variabel psikologis: yang didapatkan
personality, kelas sosial,
tekanan sosial.
Persepsi tentang hambatan
Variabel struktural:
pengetahuan, pengalaman, yang diperoleh Isyarat utk
pendidikan bertindak:
Kemampuan diri Media dan nasihat
dari orang lain

Bagan 2.1 Teori Health Belief Model


21

Sementara itu, National Safety Council (2014) mengadopsi teori HBM

dengan menambahkan variabel toleransi risiko dalam melihat perilaku

pencegahan yang dilakukan seseorang. Teori ini didasari oleh seseorang dapat

memiliki perilaku pencegahan pada saat orang tersebut mengantisipasi

konsekuensi buruk, memiliki keinginan untuk menghindari risiko yang ada, dan

memiliki kemampuan diri untuk melakukan perilaku pencegahan tersebut.

Individu yang mempersepsikan risiko dengan baik maka mempengaruhi

dirinya dalam menurunkan toleransi terhadap risiko yang ada sehingga

menimbulkan motivasi agar pekerja tersebut berperilaku mencegah agar risiko

tersebut dapat diminimalisir atau dihindari.

Persepsi Toleransi Motivasi Perilaku


risiko risiko pencegahan

Bagan 2.2 Teori National Safety Council

Teori lain yang juga menjelaskan mengenai perilaku adalah Teori

Lawrence Green. Dalam buku berjudul Promosi Kesehatan oleh Maulana

(2009) dijelaskan bahwa Green (1980) menyatakan bahwa terdapat tiga faktor

yang mempengaruhi seseorang untuk berperilaku, yaitu faktor predisposisi

(predisposing), faktor pemungkin (enabling), dan faktor penguat (reinforcing).

Tiga faktor tersebut antara lain:

1. Faktor Predisposisi (Predisposing Factor)

Faktor predisposisi yaitu faktor yang dapat mempermudah dan

mendasari terjadinya perilaku berupa pengetahuan, motivasi, persepsi,

sikap, dan kepercayaan atau keyakinan yang memudahkan atau

merintangi pribadi untuk melakukan suatu perilaku. Selain itu juga


22

dipengaruhi karakteristik individu, seperti umur, jenis kelamin, tingkat

pendidikan, dan masa kerja.

2. Faktor Pemungkin (Enabling Factor)

Faktor pemungkin adalah setiap karakteristik lingkungan yang

memudahkan atau memfasilitasi perilaku dan setiap keterampilan atau

sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan perilaku. Tidak adanya

karakteristik atau keterampilan tersebut akan menghambat perilaku.

Faktor pemungkin tersebut antara lain adalah sarana dan prasarana atau

fasilitas yang disediakan dan kegiatan pelatihan.

3. Faktor Penguat (Reinforcing Factor)

Faktor penguat yaitu faktor yang memperkuat atau mendorong

terjadinya perilaku seseorang dapat berupa dalam sikap dan perilaku

seseorang yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat,

Faktor penguat ini juga dapat terwujud pengawasan dan peraturan yang

berlaku.
23

Faktor predisposisi:
1. Kepercayaan
2. Motivasi
3. Persepsi
4. Pengetahuan
5. Sikap
6. Karakteristik
demografi (umur, jenis
kelamin, pendidikan,
pengalaman)

Perilaku
90
Faktor pemungkin:
1. Pelatihan
2. Fasilitas APD

Faktor penguat:
1. Peraturan
2. Pengawasan

Bagan 2.3 Teori Lawrence Green

C. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku

1. Persepsi

Menurut Azhari (2004), persepsi dalam arti sempit adalah penglihatan

atau bagaimana cara seseorang melihat sesuatu. Sedangkan dalam arti

luas adalah pandangan seseorang dalam mengartikan dan menilai sesuatu.

Persepsi adalah kemampuan untuk mengorganisasikan pengamatan

individu untuk membeda-bedakan, mengelompokkan, serta memfokuskan

suatu informasi agar dapat dipahami (Sarwono, 1999). Hal ini juga

dikatakan oleh Robbins (1996) bahwa persepsi merupakan sebuah proses


24

dimana seseorang mengorganisasi dan menginterpretasi sebuah stimulus

dari luar yang bermakna dengan tujuan memberikan arti kepada

lingkungan sekitarnya.

Menurut Geller (2001) dalam teori Behavior Based Safety, persepsi

seseorang terhadap risiko terkena bahaya dapat mempengaruhi perilaku

seseorang. Lalu menurut David Krech (1962) dan Irwin Rosentoch dan

Backer (1974) persepsi itu sendiri dipengaruhi oleh pengalaman, kelas

sosial, umur dan jenis kelamin, dan kerangka pengetahuan yang dimiliki

dari pendidikan, bacaan, dan penelitian.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Muntiana (2014) pada 30 pekerja

di jalur 3 dan 4 PT. Wijaya Karya Beton Boyolali tbk didapatkan hasil

bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara persepsi karyawan

terhadap penerapan K3 dengan penggunaan APD. Lalu pada penelitian

Ridho (2012) yang dilakukan kepada 100 mahasiswa di Universitas

Indonesia diketahui terdapat hubungan yang berarti antara persepsi

terhadap penggunaan helm. Hal tersebut juga terjadi pada penelitian yang

dilakukan oleh Salihat dan Kurniawidjaja (2010) pada 105 responden

yang didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara

persepsi risiko dengan perilaku mahasiswa dalam penggunaan sabuk

keselamatan di Kampus Universitas Indonesia, Depok. Namun, pada

penelitian yang dilakukan oleh Sumarna, dkk (2013) diketahui bahwa

tidak ada hubungan signifikan antara persepsi terhadap risiko dengan

penggunaan APD.

Risiko adalah kemungkinan atau potensi terjadinya sesuatu yang

menimbulkan kerugian. Besar atau tingginya risiko ini ditentukan oleh


25

gabungan antara besarnya kemungkinan dan tingkat kerusakan dari

dampak kejadian yang tak diharapkan tersebut (Gunawan, 2013). Persepsi

risiko merupakan penilaian subjektif seseorang terhadap dari

kemungkinan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan yang disebabkan

oleh paparan sumber risiko serta emosi yang terkait dengan sumber

(Sjoberg, dkk, 2004). Persepsi risiko dapat menjadi suatu hambatan untuk

membuat suatu keputusan yang rasional, karena seseorang cenderung

untuk melihat risiko yang akan terjadi. Hal tersebut dapat berdampak

pada sikap atau perilaku seseorang terhadap keselamatan.

2. Toleransi risiko

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2016) toleransi adalah batas

ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan.

Hunter (2002) mendefinisikan toleransi risiko sebagai suatu sikap dimana

seseorang bersedia mengambil sejumlah risiko dalam mencapai suatu

tujuan. Individu yang memiliki toleransi risiko yang tinggi kemungkinan

lebih besar dalam mengambil risiko. Toleransi risiko memediasi baik

risiko umum yang tidak disukai dan penilaian pribadi yang melekat pada

tujuan tersebut.

Menurut National Safety Council (2014), toleransi risiko adalah

kemampuan individu untuk menerima risiko yang ditimbulkan dari

bahaya dalam suatu lingkungan. Toleransi yang dimiliki seseorang

terhadap suatu risiko bahaya yang ada disekitarnya memunculkan

motivasi agar individu tersebut melakukan pencegahan agar risiko


26

tersebut dapat diminimalisir atau dihindari dan ia dalam kondisi aman.

Salah satu perilaku pencegahan tersebut adalah dengan memakai APD.

3. Usia

Usia adalah rentang kehidupan yang diukur dengan tahun terhitung

mulai saat dilahirkan. Usia mempengaruhi kondisi fisik, mental, kemauan

kerja, daya tangkap, pola pikir, dan tanggung jawab seseorang.

Jika seseorang makin bertambah usianya, maka cenderung cepat puas

karena tingkat kedewasaan teknis maupun kedewasaan psikologis.

Artinya, semakin bertambah usianya maka semakin mampu menunjukkan

kematangan jiwa yaitu semakin bijaksana, semakin mampu berfikir

rasional, semakin mampu mengendalikan emosi, semakin toleran

terhadap pandangan dan perilaku yang berbeda dari dirinya sendiri, dan

sifat-sifat lain yang menunjukkan kematangan intelektual dan psikologis

(Siagian, 1987).

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Supiana (2013) menemukan

bahwa usia memiliki hubungan yang signifikan terhadap penggunaan

APD. Penelitian yang dilakukan oleh Saputri dan Paskarini (2014) pada

pekerja kerangka bangunan (Proyek Hotel Mercure Grand Mirama

Extention di PT. Jagat Konstruksi Abdipersada) juga menunjukkan

adanya perbedaan signifikan antara usia pada kepatuhan pengguna APD.

Namun, Nurcahyanti (2014) dan Ratnaningsih (2010) dalam

penelitiannya tidak menemukan hubungan anatara usia terhadap

penggunaan APD.
27

4. Masa Kerja

Menurut Suma‟mur (1996) masa kerja diartikan sebagai sepenggal

waktu yang cukup lama dimana seseorang tenaga kerja masuk dalam satu

wilayah tempat usaha sampai batas waktu tertentu. Masa kerja

mempengaruhi pengalaman seseorang terhadap pekerjaan dan lingkungan

tempat ia bekerja. Masa kerja dapat membuat seseorang memahami

tugas-tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakan dengan baik.

Semakin lama ia bekerja semakin banyak pengalamannya dan akan lebih

terampil dalam mengerjakan pekerjaannya sehingga hasilnya akan lebih

baik dan dapat bekerja secara aman (Handoko, 2009).

Penelitian yang dilakukan oleh Supiana (2013) ada 33 bidan di RS

KIA Sadewa Yogyakarta menemukan bahwa masa kerja memiliki

hubungan yang signifikan terhadap penggunaan APD. Sedangkan dari

penelitian Nurcahyanti (2014) diketahui bahwa masa kerja tidak

mempengaruhi petugas puskesmas dalam penggunaan APD dalam

melakukan APN di Puskesmas Sumbang Kabupaten Banyumas.

5. Pendidikan

Notoatmodjo (2003) mendefinisikan pendidikan sebagai suatu

bantuan yang diberikan kepada individu, kelompok atau masyarakat

dalam rangka mencapai peningkatan kemampuan yang diharapkan.

Pendidikan mempengaruhi seseorang dalam membuka wawasan dan

pemahaman terhadap nilai-nilai baru yang ada dalam lingkungannya.

Seseorang dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan lebih mudah untuk

memahami perubahan yang terjadi dilingkungannya dan orang tersebut


28

akan menyerap perubahan tersebut apabila merasa bermanfaat bagi

dirinya.

Pada umumnya makin tinggi pendidikan akan mempermudah

menerima informasi. Dari informasi yang diperoleh akan menghasilkan

pengetahuan yang baik, sedangkan semakin baik pengetahuan seseorang

akan mempengaruhi seseorang untuk berperilaku baik.

Hal ini sejalan dengan penelitian sejalan yang dilakukan oleh

Nurcahyanti (2014) dan Widyaningsih (2012) yang menunjukkan adanya

hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan kepatuhan

penggunaan APD. Namun, pada penelitian Saputri dan Paskarini (2014)

dan Muntiana (2014) menyatakan bahwa pendidikan tidak berhubungan

terhadap penggunaan APD.

6. Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2005), pengetahuan merupakan hasil dari

tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap

objek tertentu. Adapun Bloom (1975) yang dikutip dari Widayatun (1999)

mengatakan bahwa pengetahuan adalah pemberian bukti oleh seseorang

melalui proses pengingatan atau pengenalan informasi dan ide yang sudah

diperoleh sebelumnya. Perilaku yang dilakukan atas dasar pengetahuan

akan lebih bertahan dari pada perilaku yang tidak didasari oleh

pengetahuan (Bart, 1994). Jadi pengetahuan sangat dibutuhkan agar

seseorang dapat mengetahui mengapa seorang individu harus melakukan

suatu tindakan sehingga perilaku tersebut dapat lebih mudah untuk diubah

ke arah yang lebih baik.


29

Berdasarkan tujuh penelitian terdahulu, terdapat lima penelitian yang

menyatakan adanya perbedaan yang signifikan antara responden yang

tidak baik dalam penggunaan APD dan responden yang baik dalam

penggunaan APD berdasarkan pengetahuan (Ruhyandi dan Chandra

(2008), Ridho (2012), Madyanti (2012), Supiana (2013), dan Faizah

(2013)). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Wibowo (2010) dan

Hidayah, dkk (2015) tidak menemukan adanya hubungan antara

pengetahuan dengan perilaku penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).

D. Kerangka Teori

Berdasarkan penjelasan tinjauan pustaka yang telah dijabarkan

sebelumnya maka kerangka teori yang digunakan untuk menjelaskan

mengenai perilaku pada penelitian ini berdasarkan teori Health Belief Model

(Rosentock, 1974), Green (1980), dan National Safety Council (2014) dan

dimodifikasi sesuai kebutuhan penelitian di proyek konstruksi MRT Jakarta

Tokyu Wika Joint Operation. Modifikasi teori tersebut digambarkan seperti

pada bagan 2.4 sebagai berikut:


Faktor pemungkin: 30

1. Pelatihan
2. Fasilitas APD
Toleransi risiko Green (1980)

National Safety Council


1. Usia 1. Persepsi tentang (2014) Faktor penguat:
2. Jenis kelamin risiko (persepsi 1. Peraturan
tentang Motivasi 2. Pengawasan
3. Latar
belakang keseriusan dan Green (1980)
budaya
kerentanan yang
4. Kepribadian Faktor predisposisi:
dirasakan) Perilaku keselamatan
1. Kepercayaan
5. Kelas sosial 2. Persepsi tentang
2. Motivasi
6. Tekanan APD (persepsi
sosial 3. Persepsi
tentang
4. Pengetahuan
7. Pengetahuan keuntungan dan Isyarat utk bertindak:
5. Sikap
8. Pengalaman hambatan yang Media dan nasihat
dari orang lain 6. Umur
9. Pendidikan diperoleh)
Rosentock (1970) 7. Jenis kelamin
Rosentock (1970) 3. Kemampuan diri 8. Pendidikan
Rosentock (1970) 9. Pengalaman
Bagan 2.4 Kerangka Teori
Green (1980)
Rosentock (1970), Green (1980), dan National Safety Council (2014)

90
3 BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep

Berdasarkan kerangka teori yang telah dijelaskan sebelumnya, maka

didapatkan kerangka konsep untuk mendeskripsikan variabel-variabel yang

akan diteliti. Kerangka konsep terdiri dari variabel dependen, variabel

independen, dan variabel perancu. Variabel dependen dalam penelitian ini

adalah kepatuhan pekerja terhadap penggunaan APD. Variabel independen

terdiri persepsi risiko, persepsi terhadap APD, dan toleransi risiko. Adapun

variabel perancu terdiri dari usia, masa kerja, pendidikan, dan pengetahuan.

Untuk variabel persepsi kerentanan dan variabel persepsi keseriusan

diasumsikan peneliti menjadi persepsi risiko. Lalu, pada variabel persepsi

tentang keuntungan dan persepsi tentang kerugian diasumsikan peneliti sebagai

persepsi terhadap APD. Hubungan antara variabel-variabel digambarkan dalam

bagan 3.1 sebagai berikut:

31
32
Variabel independen
Variabel dependen
1. Persepsi risiko
Kepatuhan pekerja terhadap
2. Persepsi terhadap APD penggunaan APD
3. Toleransi risiko

Variabel perancu:
1. Usia
2. Masa kerja
3. Pendidikan

4. Pengetahuan

Bagan 3.1 Kerangka Konsep

Pada penelitian ini terdapat variabel-variabel yang tidak dapat

diikutsertakan. Peneliti tidak meneliti variabel latar belakang budaya,

kepercayaan, dan kepribadian dikarenakan hal-hal tersebut terbentuk dari nenek

moyang seseorang yang diperoleh secara turun temurun dari lingkungan

dimana seseorang tersebut tumbuh dan dibesarkan. Sehingga sulit untuk

dilakukan penelitian.

Variabel kelas sosial dan tekanan sosial juga tidak diteliti karena

penelitian dilakukan pada pekerja yang sama maka tidak ada tingkatan sosial di

dalamnya. Variabel jenis kelamin juga tidak diteliti karena populasinya

homogen dimana semua pekerja lapangan berjenis kelamin laki-laki. Selain itu

variabel isyarat untuk bertindak dapat berupa media dan nasihat dari orang lain,

pengawasan, pelatihan, fasilitas APD, dan peraturan tidak diteliti karena

variabel ini dianggap homogen, yang berarti semua pekerja mendapatkan

perlakuan yang sama dari perusahaan.


33

Untuk variabel kemampuan diri tidak dimasukkan dalam penelitian

karena variabel ini sulit untuk diukur. Variabel motivasi juga tidak diteliti

karena peneliti ingin melihat akar dari faktor yang mempengaruhi perilaku

yaitu pada toleransi risiko.


34

B. Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional


Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur
Dependen
Kepatuhan pekerja Perilaku responden dalam menggunakan APD Penyebaran Kuesioner 0. Kurang patuh, jika skor Ordinal
terhadap penggunaan secara lengkap dan benar sesuai dengan SOP kuesioner dan dan lembar < median (53)
APD observasi observasi
1. Patuh, jika skor ≥median
(53)
Independen
Persepsi risiko Pandangan pekerja dalam menghadapi pajanan Penyebaran Kuesioner 0. Kurang baik, jika skor Ordinal
risiko bahaya yang ada di area proyek kuesioner < mean (47)
1. Baik, jika skor≥mean
(47)
Persepsi terhadap APD Pandangan pekerja terhadap APD yang ada Penyebaran Kuesioner 0. Kurang baik, jika skor Ordinal
digunakan di tempat kerja, meliputi perlu tidaknya kuesioner < mean (35)
APD, ketersediaan APD, kegunaan APD, dan saat
1. Baik, jika skor≥mean
menggunakan APD
(35)

Toleransi risiko Kebersediaan pekerja dalam menerima risiko Penyebaran Kuesioner 0. Tinggi, jika Ordinal
bahaya yang berada di sekitarnya kuesioner skor<mean (61)
1. Rendah, jika
skor≥mean (61)
35

Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur
Perancu
Usia Lamanya hidup responden mulai dari lahir sampai Penyebaran Kuesioner Tahun Rasio
ulang tahun terakhir pada saat penelitian kuesioner
dilakukan
Masa kerja Waktu saat ini dikurangi waktu awal pekerja saat Penyebaran Kuesioner Tahun Rasio
bekerja di konstruksi kuesioner
Pendidikan Pendidikan formal terakhir informan Penyebaran Kuesioner 0. Rendah (tidak Ordinal
kuesioner sekolah/SD/MI/
SMP/MTs)
1. Menengah (SMA/MA/
SMK/MAK)
2. Tinggi
(D3/D4/S1/S2/S3)
(UU No 20 th2003)
Pengetahuan Pemahaman pekerja tentang APD meliputi Penyebaran Kuesioner 0. Rendah, jika Ordinal
pengertian, kegunaan, akibat jika tidak kuesioner skor<median (90)
menggunakan, waktu penggunaan, pihak yang
1. Tinggi, jika
bertanggung jawab terhadap perawatan,
skor≥median (90)
kebersihan, penatalaksanaan jika rusak,
penatalaksanaan jenis sekali pakai, jenis-jenis,
masing-masing fungsi sesuai jenis, ketentuan
pemakaian masing-masing jenis
36

C. Hipotesis

1. Ada hubungan antara persepsi risiko pekerja dengan kepatuhan

pekerja terhadap penggunaan APD pada proyek konstruksi MRT

Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016.

2. Ada hubungan antara persepsi pekerja terhadap APD dengan

kepatuhan pekerja terhadap penggunaan APD pada proyek

konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun

2016.

3. Ada hubungan antara toleransi risiko pekerja dengan kepatuhan

pekerja terhadap penggunaan APD pada proyek konstruksi MRT

Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016.

4. Ada hubungan antara faktor internal (usia, masa kerja,

pendidikan, dan pengetahuan) pekerja dengan kepatuhan pekerja

terhadap penggunaan APD pada proyek konstruksi MRT Jakarta

Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016.

5. Faktor internal pekerja mempengaruhi hubungan antara persepsi

risiko, persepsi terhadap APD, dan toleransi risiko pekerja

dengan kepatuhan pekerja terhadap penggunaan APD pada

proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation

tahun 2016.
4 BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross

sectional dimana pengukuran variabel sebab atau risiko (independen) dan

variabel akibat atau kasus (dependen) yang terjadi pada objek penelitian diukur

dalam waktu yang bersamaan. Variabel independen dalam penelitian ini adalah

persepsi terhadap risiko, persepsi terhadap APD, dan toleransi risiko. Variabel

perancunya adalah faktor internal pekerja. Sedangkan variabel dependen dalam

penelitian ini adalah kepatuhan pekerja terhadap penggunaan APD.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika

Joint Operation yang berada di wilayah Lebak Bulus sampai dengan Cipete

Raya, Jakarta Selatan pada bulan September-November tahun 2016.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah seluruh pekerja kontrak yang bekerja di

lapangan (site) proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation

sejumlah 471 pekerja.

37
38

Adapun pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus

Lemeshow, dkk (1990) untuk uji hipotesis beda dua proprosi sebagai berikut:

Keterangan:
n = Besar sampel yang dibutuhkan oleh peneliti
= Derajat kepercayaan 95%

α = Derajat kemaknaan 5%
= Kekuatan uji 80%

= Rata-rata proporsi pada populasi

P1 = Proporsi pekerja yang tidak patuh dalam penggunaan APD

pada kelompok dengan faktor risiko/penyebab

P2 = Proporsi pekerja yang tidak patuh dalam penggunaan APD

pada kelompok tanpa faktor risiko/penyebab

Penentuan besar sampel minimal dilihat berdasarkan perhitungan

besar sampel menggunakan nilai P1 dan P2 dari hasil penelitian

sebelumnya. Adapun besar sampel minimal pada tiap-tiap variabel adalah

sebagai berikut:

Tabel 4.1 Jumlah Sampel Minimal Tiap Variabel


Kepatuhan
Penelitian pekerja terhadap
Variabel penggunaan APD n (n x 2)
Sebelumnya
P1 P2
Persepsi pekerja (Ridho, 2012) 0,23 0,62 25 50
terhadap risiko
Persepsi pekerja (Kusuma, 2013) 0,2 0,92 7 14
terhadap APD
39

Kepatuhan pekerja
Penelitian terhadap
Variabel penggunaan APD
Sebelumnya
P1 P2 n nx2
Usia (Saputri dan Paskarini, 0,4 0,89 14 28
2014)
Masa kerja (Supiana, 2013) 0,15 0,75 10 20
Pendidikan (Widyaningsih, 2012) 0,71 0,23 16 32
Pengetahuan (Madyanti, 2012) 0,05 0,6 9 18
Berdasarkan perhitungan hasil besar sampel pada setiap variabel, maka

jumlah sampel yang dibutuhkan sebanyak 50 orang. Untuk menghindari

terjadinya drop out atau missing maka jumlah responden ditambah 10%,

sehingga keseluruhan sampel menjadi sebanyak 55 orang. Teknik sampling

yang digunakan adalah simple random sampling, dimana seluruh anggota

populasi memiliki peluang yang sama untuk menjadi sampel.

D. Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data primer. Data primer diperoleh dari

pengisian kuesioner dan hasil observasi oleh pekerja proyek konstruksi MRT

Jakarta Tokyu Wika Joint Operation. Dalam pengisian kuesioner, peneliti

meminta persetujuan terlebih dahulu ke pekerja untuk berpartisipasi dalam

penelitian dengan memberikan informed consent dan menjelaskan ke pekerja

mengenai maksud dan tujuan penelitian serta cara pengisian kuesioner. Data

yang dikumpulkan berupa usia, pendidikan, masa kerja, pengetahuan, persepsi

terhadap risiko, persepsi terhadap APD, toleransi risiko, dan kepatuhan pekerja

terhadap penggunaan APD.


40

Observasi dilakukan untuk mengamati kepatuhan penggunaan APD

secara langsung. Untuk waktu pengambilan sampel pengamatan, digunakan

tipe sampling waktu. Sampling waktu adalah seleksi unit-unit keperilakuan

untuk pengamatan yang dilakukan pada titik-titik waktu yang berbeda-beda

secara sistematis (Kerlinger, 2006). Observasi dilakukan selama dua hari

dengan rentang pengamatan sebanyak empat kali. Pengamatan pertama dan

ketiga dilakukan pada hari pertama. Sedangkan pengamatan kedua dan

keempat dilakukan pada hari kedua. Durasi peneliti saat melakukan observasi

yaitu berlangsung paling sedikit lima menit.

E. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk

pengumpulan data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Lembar Observasi

Lembar observasi yang digunakan pada saat melakukan pengamatan

langsung di lapangan. Lembar observasi berbentuk tabel yang berisi

apakah pekerja mematuhi penggunaan APD dengan benar atau tidak saat

bekerja.

2. Kuesioner

Kuesioner yang dibuat mencakup beberapa variabel yang diteliti,

antara lain:
41

a. Kepatuhan terhadap penggunaan APD

Untuk variabel kepatuhan terhadap penggunaan APD terdapat

delapan pernyataan dengan jawaban memakai skala guttman yaitu ya

dan tidak. Setiap pernyataan positif diberi skor 2 jika menjawab “ya”

sedangkan pekerja yang menjawab “tidak” diberi skor 1. Adapun

untuk pernyataan negatif, maka skor yang berlaku berkebalikan

dengan pernyataan positif. Pernyataan negatif di kuesioner dalam

penelitian ini ada pada kode nomor E3, E4, dan E5. Bila pekerja

menjawab dengan jumlah skor lebih dari sama dengan median

dikategorikan patuh sedangkan bila pekerja menjawab dengan jumlah

skor kurang dari median dikategorikan kurang patuh.

b. Persepsi risiko

Untuk variabel persepsi risiko terdapat sebanyak 16 pernyataan

dengan jawaban menggunakan empat skala likert. Pada pernyataan

positif maka pembobotan skornya adalah:

a. Skor 1 bila jawaban sangat tidak setuju

b. Skor 2 bila jawaban tidak setuju

c. Skor 3 bila jawaban setuju

d. Skor 4 bila jawaban sangat setuju

Sedangkan untuk pernyataan negatif maka pembobotan skornya

adalah:

a. Skor 4 bila jawaban sangat tidak setuju

b. Skor 3 bila jawaban tidak setuju

c. Skor 2 bila jawaban setuju


42

d. Skor 1 bila jawaban sangat setuju

Pernyataan negatif di kuesioner dalam penelitian ini ada pada

kode nomor B1, B2, B3, B4, B5, dan B6. Bila pekerja menjawab

dengan jumlah skor lebih dari sama dengan mean dikategorikan

persepsi risiko baik sedangkan bila pekerja menjawab dengan jumlah

skor kurang dari mean dikategorikan persepsi risiko kurang baik.

c. Persepsi terhadap APD

Untuk variabel persepsi risiko memiliki 11 pernyataan dengan

jawaban menggunakan empat skala likert. Pada pernyataan positif

maka pembobotan skornya adalah:

a. Skor 1 bila jawaban sangat tidak setuju

b. Skor 2 bila jawaban tidak setuju

c. Skor 3 bila jawaban setuju

d. Skor 4 bila jawaban sangat setuju

Sedangkan untuk pernyataan negatif maka pembobotan skornya

adalah:

a. Skor 4 bila jawaban sangat tidak setuju

b. Skor 3 bila jawaban tidak setuju

c. Skor 2 bila jawaban setuju

d. Skor 1 bila jawaban sangat setuju

Pernyataan negatif di kuesioner dalam penelitian ini ada pada

kode nomor C7, C8, C9, C10, dan C11. Bila pekerja menjawab

dengan jumlah skor lebih dari sama dengan mean dikategorikan

persepsi terhadap APD baik sedangkan bila pekerja menjawab dengan


43

jumlah skor kurang dari mean dikategorikan memiliki persepsi

terhadap APD kurang baik.

d. Toleransi risiko

Untuk variabel toleransi risiko terdiri dari 23 pernyataan dengan

jawaban menggunakan empat skala likert. Semua pernyataan bersifat

pernyataan negatif. Berikut adalah pembobotan skor masing-masing

pernyataan negatif:

a. Skor 4 bila jawaban sangat tidak setuju

b. Skor 3 bila jawaban tidak setuju

c. Skor 2 bila jawaban setuju

d. Skor 1 bila jawaban sangat setuju

Bila pekerja menjawab dengan jumlah skor lebih dari sama

dengan mean dikategorikan toleransi risiko rendah sedangkan bila

pekerja menjawab dengan jumlah skor kurang dari mean

dikategorikan toleransi risiko tinggi.

e. Usia

Untuk variabel usia dilihat dari selisih tahun lahir pekerja dan

tahun dilakukan penelitian. Perhitungan nilai rata-rata untuk usia tiap

pekerja dilakukan dengan membagi antara total usia pekerja dengan

jumlah pekerja yang menjadi responden.

f. Masa kerja

Untuk variabel masa kerja dilihat dari masa kerja pekerja dalam

tahun, dilihat dari selisih tahun pertama pekerja bekerja di bidang

konstruksi dan tahun dilakukan penelitian. Perhitungan nilai rata-rata


44

untuk masa kerja tiap pekerja dilakukan dengan membagi antara total

masa kerja dengan jumlah pekerja yang menjadi responden.

g. Pendidikan

Untuk variabel pendidikan menggunakan jawaban tingkat status

pendidikan formal yaitu tidak sekolah, SD/MI, SMP/MTs,

SMA/SMK/MA, dan D3/D4/S1/dan seterusnya. Apabila pekerja

memiliki status pendidikan tidak sekolah, SD/MI, SMP/MTs maka

diberi skor 1 dan dikategorikan status pendidikan yang rendah.

Pekerja yang memiliki status pendidikan SMA/SMK/MA diberi skor

2 dan dikategorikan status pendidikan menengah. Sedangkan untuk

pekerja yang memiliki status pendidikan D3/D4/S1/dan seterusnya

maka diberi skor 3 dan dikategorikan status pendidikan yang tinggi.

h. Pengetahuan

Untuk variabel kepatuhan terhadap penggunaan APD terdapat

sebanyak 53 pernyataan dengan jawaban memakai skala guttman

yaitu ya dan tidak. Setiap pernyataan positif diberi skor 2 jika

menjawab “ya” sedangkan pekerja yang menjawab “tidak” diberi skor

1. Adapun untuk pernyataan negatif, maka skor yang berlaku

berkebalikan dengan pernyataan positif. Pernyataan negatif di

kuesioner dalam penelitian ini ada pada kode nomor F1, F3, F9, F11,

F13, F15, F21, dan F39. Bila pekerja menjawab dengan jumlah skor

lebih dari sama dengan median dikategorikan pengetahuan tinggi

sedangkan bila pekerja menjawab dengan jumlah skor kurang dari

median dikategorikan pengetahuan rendah.


45

F. Uji Validitas dan Reabilitas

Pengujian validitas dan reabilitas dilakukan kepada subjek yang memiliki

karakteristik hampir sama dengan populasi pekerja proyek konstruksi MRT

Jakarta Tokyu Wika Joint Operation, yaitu pekerja konstruksi MRT Jakarta X

CP Y.

1. Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran untuk melihat seberapa besar tingkat

ketepatan atau kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 2011). Pengujian

validitas dilakukan untuk mengetahui item kuesioner yang valid maupun

tidak valid yang berpengaruh pada dapat atau tidaknya item kuesioner

tersebut digunakan dalam penelitian.

Uji validitas pada variabel untuk jenis pernyataan skala likert,

seperti variabel persepsi risiko, persepsi terhadap APD, dan toleransi

risiko dilakukan dengan perhitungan rumus korelasi Person Product

Moment. Pada uji validitas ini dilakukan dengan membandingkan antara

nilai korelasi atau r hitung dari variabel penelitian dengan r tabel. Jika r

hitung > r tabel berarti variabel valid. Namun, jika r hitung < r tabel

berarti variabel tidak valid. Item kuesioner yang tidak valid ditanggulangi

dengan melakukan modifikasi item untuk memperjelas makna dan

membuang item pernyataan yang tidak relevan dengan pertanyaan

penelitian.

Uji validitas pada variabel dengan jenis pernyataan berskala

guttman, seperti variabel pengetahuan dan kepatuhan penggunaan APD


46

dilakukan dengan validitas isi. Validitas isi memiliki tujuan untuk

mengetahui bahwa setiap item pada instrumen yang digunakan sudah

cukup mewakili konsep yang diinginkan (Di lorio, 2005). Validitas isi

dilakukan dengan melihat tanggapan responden saat menjawab kuesioner.

Setiap item kuesioner dinyatakan valid jika responden dapat langsung

menjawab tanpa adanya keraguan dalam memahami maksud item

kuesioner dan durasi waktu responden dalam menjawab kuesioner sesuai

dengan estimasi yang ditetapkan peneliti. Untuk item kuesioner yang

tidak valid maka dihilangkan dari daftar kuesioner.

2. Uji Reabilitas

Uji reabilitas dilakukan setelah item kuesioner sudah valid. Menurut

Arifin (2012) uji reabilitas dilakukan untuk melihat sejauh mana hasil

suatu pengukuran dapat terlihat konsisten bila dilakukan berulang kali

dalam suatu instrumen. Pengujian reabilitas untuk variabel dengan jenis

pernyataan berskala likert dilakukan menggunakan rumus statistik

cronbach alpha keseluruhan dengan membandingkan nilai r tabel dengan

nilai r hasil (nilai alpha). Apabila r alpha > r tabel maka kuesioner

tersebut dinyatakan reliable.

H. Manajemen Data

1. Editing

Proses editing ini meliputi pemeriksaaan isian kuesioner yang

dilakukan selama proses pengumpulan data untuk memastikan semua


47

variabel, baik variabel dependen (kepatuhan pekerja terhadap penggunaan

APD), variabel independen (persepsi terhadap risiko, persepsi terhadap

APD, dan toleransi risiko), dan variabel perancu (usia, pendidikan, masa

kerja, dan pengetahuan) pada penelitian ini terisi. Selama proses tersebut

dilakukan penyuntingan data oleh peneliti agar data yang salah, kurang

jelas terbaca, atau meragukan dapat langsung ditelusuri kembali kepada

pekerja yang bersangkutan.

2. Coding

Proses pengkodean dilakukan terhadap setiap variabel yang ada

dalam penelitian ini untuk memudahkan peneliti dalam mengolah data.

Berikut ini merupakan kode variabel penelitian:

Tabel 4.2 Kode Variabel


No. Variabel Kode
A1-A3 Identitas pekerja -
A4 Umur -
A5 Masa kerja -
A6 Pendidikan Rendah = 0
Menengah = 1
Tinggi = 2
B1-B16 Persepsi terhadap risiko Kurang baik = 0
Baik = 1
C1-C12 Persepsi terhadap APD Kurang baik = 0
Baik = 1
D1-D23 Toleransi risiko Tinggi = 0
Rendah = 1
E1-E8 dan Perilaku penggunaan APD Kurang patuh = 0
O1-O6
Patuh = 1
F1-F53 Pengetahuan Rendah = 0
Tinggi = 1
48

3. Entry

Proses entry yaitu proses memasukkan data yang sudah dikode

menggunakan salah satu software pengolahan data statistik untuk

dilakukan analisis data. Data yang di entry adalah nama pekerja, nomor

telepon, usia, pendidikan, masa kerja, pengetahuan, kepatuhan pekerja

terhadap penggunaan APD, persepsi terhadap risiko, persepsi terhadap

APD, dan toleransi risiko.

4. Cleaning

Proses cleaning merupakan pembersihan atau pengecekan kembali

data yang sudah di-entry untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam

melakukan pengkodean ataupun pada saat melakukan entry data. Proses

ini dilakukan dengan cara melakukan tabulasi frekuensi dari setiap

variabel baik variabel independen, variabel dependen, maupun variabel

perancu penelitian agar terlihat apabila terdapat data yang tidak sesuai.

I. Analisis Data

1. Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan untuk mendeskripsikan distribusi

frekuensi dari masing-masing variabel penelitian yaitu variabel dependen

(kepatuhan pekerja terhadap penggunaan APD), variabel independen

(persepsi terhadap risiko, persepsi terhadap APD, dan toleransi risiko),

dan variabel perancu (usia, pendidikan, masa kerja, dan pengetahuan)

pada penelitian ini.


49

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel

dependen dengan variabel independen. Dalam penelitian ini dilakukan

analisis bivariat untuk mengetahui adakah hubungan antara kepatuhan

terhadap penggunaan APD dengan persepsi terhadap risiko, persepsi

terhadap APD, toleransi risiko, dan faktor perancu (usia, pendidikan,

masa kerja, dan pengetahuan).

Analisis bivariat yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji chi-

square. Uji chi-square dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel

kategorik dengan variabel kategorik, yaitu kepatuhan pekerja terhadap

penggunaan APD, persepsi terhadap risiko, persepsi terhadap APD, dan

toleransi risiko, pendidikan, dan pengetahuan. Sedangkan uji Mann

Whitney dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel kategorik

dengan variabel numerik yaitu usia dan masa kerja yang tidak

berdistribusi normal.

Untuk mengetahui hubungan yang bermakna antara dua variabel

maka dilihat P value dengan menggunakan α=5%. Jika p value ≤ 0,05

artinya secara statistik terdapat hubungan antara variabel independen

dengan variabel dependen, sedangkan jika p value > 0,05 artinya tidak

ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen

(Lapau, 2013).

Untuk melihat kekuatan hubungan antara variabel dependen dan

independen maka dilihat nilai Odds Ratio (OR). Apabila nilai OR > 1,

berarti variabel yang diteliti meningkatkan risiko. Namun, jika nilai OR =


50

1 hal tersebut menunjukkan bahwa variabel yang diteliti tidak ada

hubungan dengan variabel dependen. Sedangkan untuk nilai OR < 1,

berarti variabel yang diteliti memperkecil risiko.

3. Analisis Multivariat

Analisis multivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara

beberapa variabel independen dengan dependen pada waktu yang

bersamaan. Analisis ini menggunakan analisis regresi logistik ganda yang

bertujuan untuk mengestimasi secara valid pengaruh persepsi terhadap

risiko, persepsi terhadap APD, dan toleransi risiko dengan kepatuhan

pekerja terhadap penggunaan APD setelah dikontrol oleh variabel

perancu. Variabel perancu dalam penelitian ini adalah variabel usia, masa

kerja, pendidikan, dan pengetahuan.

Analisis ini dilakukan dengan melalui beberapa tahap (Riyanto,

2009). Tahap pertama mulai dengan melakukan uji bivariat masing-

masing variabel untuk menyeleksi variabel yang akan dimasukkan ke

dalam analisis regresi logistik ganda. Bila hasil uji bernilai p ≤ 0,25 maka

variabel tersebut dapat masuk ke dalam model multivariat. Sebaliknya

jika nilai p > 0,25 maka variabel tersebut dikeluarkan dari pemodelan.

Pada tahap selanjutnya dilakukan pembuatan model faktor penentu.

Bila hasil uji bernilai p ≤ 0,05 maka variabel tersebut dapat masuk ke

dalam model selanjutnya. Sebaliknya jika nilai p > 0,05 maka variabel

tersebut dikeluarkan dari pemodelan. Pengeluaran variabel dilakukan

bertahap mulai dari variabel yang memiliki nilai p paling besar.


51

Kemudian dapat dilakukan evaluasi dengan membandingkan

koefisien atau OR masing-masing pada model dengan dan tanpa perancu

tersebut. Jika perbedaan tersebut besar (>10%), berarti perancu tersebut

tidak dapat dikeluarkan dari model karena akan mengganggu estimasi

koefisien perancu lainnya. Dengan kata lain variabel tersebut merupakan

confounder untuk variabel lainnya.

J. Penyajian Data

Penyajian data dilakukan untuk menyusun informasi secara baik dan

akurat sehingga memudahkan pengambilan kesimpulan. Hasil analisis

penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel menurut variabel-variabel yang

diteliti disertai uraian mengenai isi tabel tersebut.


5 BAB V

HASIL

A. Gambaran Umum Proyek Konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint

Operation

Tokyu Wika Joint Operation merupakan sebuah kemitraan perusahaan

asing dari negara Jepang yaitu Tokyu Construction Co, Ltd dengan perusahaan

domestik yaitu PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dalam bidang konstruksi yang

bekerja sama dalam pengerjaan pembangunan Mass Rapid Transit (MRT)

Jakarta tahap pertama surface section package CP 101 dan CP 102 di wilayah

Lebak Bulus sampai dengan Cipete Raya, Jakarta Selatan. Adapun proyek yang

dikerjakan adalah pembangunan Depot, stasiun Lebak Bulus, stasiun

Fatmawati, stasiun Cipete Raya, dan Special Bridge dengan total luas wilayah

yaitu 5.9 Km.

Secara umum, jenis-jenis pekerjaan yang ada di proyek konstruksi MRT

Jakarta yaitu pengoperasian alat berat, pengaturan instalasi mekanik dan listrik,

penggalian manual maupun dengan bantuan alat, pembobokan, pembesian,

pengecoran, pengelasan, pekerjaan bekisting, dan lain-lain yang pengerjaannya

terdapat risiko yang tinggi. Untuk menjaga keselamatan dan kesehatan para

pekerjanya, Tokyu Wika Joint Operation membuat regulasi atau peraturan K3

pada setiap aktivitas yang ada. Salah satu peraturan K3 yang ada adalah APD.

52
53

Dalam menjalankan peraturan APD Tokyu Wika Joint Operation

memiliki prosedur yang terdapat pada dokumen TWJO-SOP-0034-revA

Personal Protective Equipment. Adapun isi dari prosedur tersebut menjelaskan

mengenai kewajiban dan hak pekerja terkait program APD, jenis-jenis APD

yang digunakan serta peruntukan untuk masing-masing pekerja, dan

pendistribusian serta pemeliharaan APD tersebut.

Adapun APD wajib yang harus ditaati semua pekerja terdiri dari helm,

safety vest, dan safety shoes. Terdapat pula aturan wajib terkait pemakaian baju

kerja berlengan dan celana panjang saat sedang bekerja. Selain itu, terdapat

APD tambahan yang juga wajib digunakan sesuai dengan jenis bahaya masing-

masing pekerjaan.

APD tambahan yang ada yaitu (1) kacamata pengaman (safety glasses)

yang digunakan pada pekerjaan pengaturan instalasi mekanik dan listrik,

pengelasan, penggalian, serta pembobokan, (2) sarung tangan pengaman (safety

gloves) yang digunakan pada pekerjaan pengoperasian alat berat, pengaturan

instalasi mekanik dan listrik, bekisting, pembesian, dan pengelasan, (3) masker

pada saat pekerjaan pengecoran, pengelasan, dan pembobokan, (4) alat

pelindung jatuh (full body harness) pada saat bekerja diketinggian, dan

sebagainya.

Kemudian, pihak Tokyu Wika Joint Operation langsung memberikan

APD secara percuma ke pekerja ataupun sesuai kesepakatan antara pihak

Tokyu Wika Joint Operation kepada subkontraktornya, yang biasanya pihak

subkontraktor menyediakan APD secara sendiri untuk pekerja sesuai dengan

spesifikasi yang telah ditentukan Tokyu Wika Joint Operation. Dimana dapat
54

disimpulkan bahwa semua pekerja wajib memakai APD sesuai dengan

peraturan yang berlaku. APD yang sudah diberikan ke pekerja merupakan

tanggung jawab pekerja itu sendiri. Apabila dalam pemakaian APD saat

bekerja terjadi kerusakan, maka akan digantikan dengan yang baru oleh pihak

perusahaan jika pekerja tersebut menukarnya dengan APD yang rusak tersebut.

Selain program APD, terdapat program-program lain seperti safety

induction, safety morning talk, toolbox meeting, dan sebagainya yang

merupakan bentuk dari pengkomunikasian K3. Safety induction merupakan

kegiatan yang wajib diikuti pekerja yang baru bergabung untk bekerja di

proyek konstruksi MRT Jakarta dimana di dalamnya diperkenalkan lingkungan

kerja dan peraturan-peraturan terkait K3. Safety morning talk adalah kegiatan

berkumpul yang rutin dilakukan sebulan sekali yang wajib dihadiri oleh seluruh

elemen pekerja mulai dari project manager sampai dengan pekerja lapangan

yang ada di proyek konstruksi MRT Jakarta dengan tujuan memberi informasi

terkait peraturan K3, progress proyek konstruksi dan issue-issue penting yang

wajib diketahui semua pekerja. Sedangkan toolbox meeting merupakan

kegiatan rutin pada pagi hari sebelum pekerjaan dimulai membahas apa yang

akan dikerjaan seharian, apa saja bahaya da nada dan bagaimana

penanggulangannnya.

B. Gambaran Kepatuhan Pekerja terhadap Penggunaan APD

Pada penelitian ini kepatuhan terhadap penggunaan APD yang diteliti

dilihat dari pemenuhan peraturan APD yang berlaku. Data diperoleh dari hasil
55

observasi dan penyebaran kuesioner yang dilakukan peneliti. Ketidakpatuhan

penggunaan APD membuat pekerja berada dalam kondisi yang tidak aman

yang dapat memperbesar peluang terkena PAK, kejadian kecelakaan kerja,

serta kerugian lainnya. Hasil analisis distribusi frekuensi berdasarkan

kepatuhan penggunaan APD pada pekerja proyek konstruksi MRT Jakarta

Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016 dapat dilihat pada tabel 5.1.

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kepatuhan Pekerja terhadap


Penggunaan APD di Proyek Konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint
Operation Tahun 2016
Kepatuhan penggunaan APD n %
Kurang patuh 27 49
Patuh 28 51

Total 55 100
Berdasarkan tabel 5.1, diketahui bahwa distribusi responden berdasarkan

variabel kepatuhan terhadap penggunaan APD hampir merata terhadap masing-

masing kategori. Namun, dapat terlihat bahwa lebih banyak pekerja proyek

konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation yang patuh dalam

menggunakan APD sebanyak 28 pekerja (51%) dari 55 pekerja.

C. Gambaran Persepsi Risiko, Persepsi terhadap APD, dan Toleransi Risiko

Pekerja

Pendeskripsian persepsi dan toleransi risiko yang berkaitan dengan

kepatuhan terhadap penggunaan APD terdiri dari tiga variabel, antara lain

persepsi risiko, persepsi terhadap APD, dan toleransi risiko. Hasil analisis

distribusi frekuensi variabel persepsi risiko, persepsi terhadap APD, dan


56

toleransi risiko pada pekerja proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint

Operation tahun 2016 dapat dilihat pada tabel 5.2.

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Persepsi Risiko, Persepsi


terhadap APD, dan Toleransi Risiko Pekerja di Proyek Konstruksi MRT
Jakarta Tokyu Wika Joint Operation Tahun 2016

No. Variabel Kategori Frekuensi Persentase


(n=55) (100%)
1. Persepsi Risiko Kurang baik 25 45,5
Baik 30 54,5

2. Persepsi terhadap Kurang baik 29 52,7


APD
Baik 26 47,3

3. Toleransi Risiko Tinggi 26 47,3


Rendah 29 52,7

1. Persepsi Risiko

Berdasarkan tabel 5.2, diketahui bahwa lebih banyak pekerja di


proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation yang memiliki
persepsi risiko yang baik yaitu sebanyak 30 pekerja (54,5%) dari 55
pekerja.

2. Persepsi terhadap APD

Berdasarkan tabel 5.2, diketahui bahwa lebih banyak pekerja di


proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation yang memiliki
persepsi terhadap APD yang kurang baik yaitu sebanyak 29 pekerja
(52,7%) dari 55 pekerja.

3. Toleransi Risiko

Berdasarkan tabel 5.2, diketahui bahwa lebih banyak pekerja di


proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation yang memiliki
toleransi risiko yang rendah yaitu sebanyak 29 pekerja (52,7%) dari 55
pekerja.
57

D. Gambaran Faktor Internal Pekerja

Pendeskripsian faktor internal yang berkaitan dengan kepatuhan


penggunaan APD terdiri dari empat variabel, antara lain usia, masa kerja,
pendidikan, dan pengetahuan dimana data tersebut didapatkan dari jawaban
pada kuesioner yang diisi oleh pekerja. Hasil analisis distribusi frekuensi faktor
internal pada pekerja proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint
Operation tahun 2016 dapat dilihat pada tabel 5.3 dan 5.4.

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Faktor Internal (Usia dan


Masa Kerja) Pekerja di Proyek Konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika
Joint Operation Tahun 2016
No. Faktor Internal Mean Min-max 95% CI n
1. Usia 32,53 18-64 29,26-35,79 55
2. Masa kerja 9,18 1-41 6,56-11,81 55

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Faktor Internal (Pendidikan


dan Pengetahuan) Pekerja di Proyek Konstruksi MRT Jakarta Tokyu
Wika Joint Operation Tahun 2016
No. Faktor Internal Kategori Frekuensi Persentase
(n=55) (100%)
1. Pendidikan Rendah 42 76,4
Menengah 13 23,6

2. Pengetahuan Rendah 27 49
Tinggi 28 51

1. Usia Pekerja

Berdasarkan tabel 5.3, terlihat bahwa rata-rata usia pekerja di proyek

konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation yaitu 33 tahun

dengan tingkat kepercayaan 95% berada pada rentang nilai 29,26-35,79.

Usia termuda adalah 18 tahun sedangkan usia tertua adalah 64 tahun.

2. Masa Kerja Pekerja

Berdasarkan tabel 5.3, terlihat bahwa rata-rata masa kerja pekerja di

proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation yaitu 9 tahun
58

dengan tingkat kepercayaan 95% berada pada rentang nilai 6,56-11,81.

Masa kerja terendah adalah 1 tahun sedangkan masa kerja tertinggi adalah

41 tahun.

3. Pendidikan Pekerja

Berdasarkan tabel 5.4, diketahui bahwa sebagian besar pekerja di

proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation berpendidikan

rendah yaitu SD dan SMP yaitu sebanyak 42 (76,4%) pekerja dari 55

pekerja.

4. Pengetahuan Pekerja

Berdasarkan tabel 5.4, dapat diketahui bahwa distribusi responden

berdasarkan variabel pengetahuan terkait APD hampir merata terhadap

masing-masing kategori. Namun, dapat terlihat bahwa lebih banyak pekerja

proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation yang memiliki

pengetahuan terkait APD yang tinggi sebanyak 28 pekerja (51%) dari 55

pekerja.

E. Hubungan antara Persepsi Risiko, Persepsi terhadap APD, dan Toleransi

Risiko dengan Kepatuhan Penggunaan APD

Persepsi dan toleransi risiko merupakan faktor yang berpengaruh terhadap

munculnya kepatuhan pekerja terhadap penggunaan APD. Variabel persepsi

dan toleransi risiko yang dapat memengaruhi kepatuhan terhadap penggunaan

APD, meliputi persepsi risiko, persepsi terhadap APD, dan toleransi risiko.
59

Hasil analisis bivariat hubungan antara persepsi risiko, persepsi terhadap APD,

dan toleransi risiko dengan kepatuhan terhadap penggunaan APD pada pekerja

proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016 dapat

dilihat pada tabel 5.5.

Tabel 5.5 Hubungan Persepsi Risiko, Persepsi terhadap APD, dan


Toleransi Risiko Pekerja dengan Kepatuhan Penggunaan APD Pekerja di
Proyek Konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation Tahun
2016
No. Variabel Kategori Penggunaan APD
Kurang patuh Patuh Total OR (95% CI) Pvalue
N % n % n=55 %
1. Persepsi Kurang baik 17 68 8 32 25 100 4,250 0,022
Risiko
Baik 10 33,3 20 66,7 30 100 (1,370-13,188)

2. Persepsi Kurang baik 18 62,1 11 37,9 29 100 3,091 0,078


terhadap
Baik 9 34,6 17 65,4 26 100 (1,026-9,309)
APD
3. Toleransi Tinggi 17 65,4 9 34,6 26 100 3,589 0,044
Risiko
Rendah 10 34,5 19 65,5 29 100 (1,179-10,924)

1. Hubungan antara Persepsi Risiko dengan Kepatuhan Penggunaan

APD

Berdasarkan tabel 5.5 dapat diketahui bahwa dari 27 pekerja yang

kurang patuh terhadap penggunaan APD sebanyak 17 orang (68%)

memiliki persepsi risiko yang kurang baik dan 10 orang (33,3%) memiliki

persepsi risiko yang baik. Berdasarkan hasil uji statistik chi-square,

didapatkan Pvalue sebesar 0,022 yang artinya pada α 5%, ada hubungan

yang bermakna antara persepsi terhadap risiko dengan kepatuhan terhadap

penggunaan APD pada pekerja di proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu

Wika Joint Operation tahun 2016. Analisis keeratan hubungan dua variabel
60

didapatkan OR sebesar 4,250 (95% CI; 1,370-13,188), artinya pekerja yang

memiliki persepsi risiko yang kurang baik mempunyai peluang 4,250 kali

untuk kurang patuh dalam menggunakan APD daripada pekerja yang

berpersepsi risiko yang baik.

2. Hubungan antara Persepsi terhadap APD dengan Kepatuhan

Penggunaan APD

Berdasarkan tabel 5.5 dapat diketahui bahwa 27 pekerja yang kurang

patuh terhadap penggunaan APD sebanyak 18 orang (62,1%) memiliki

persepsi kurang baik terhadap APD dan 9 orang (34,6%) memiliki persepsi

yang baik terhadap APD. Berdasarkan hasil uji statistik chi-square,

didapatkan Pvalue sebesar 0,078 yang artinya pada α 5%, tidak ada

hubungan yang bermakna antara persepsi terhadap APD dengan kepatuhan

menggunakan APD pada pekerja di proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu

Wika Joint Operation tahun 2016. Analisis keeratan hubungan dua variabel

didapatkan OR sebesar 3,091 (95% CI; 1,026-9,309), artinya pekerja yang

memiliki persepsi kurang baik terhadap APD mempunyai peluang 3,091

kali untuk kurang patuh dalam menggunakan APD daripada pekerja yang

berpersepsi baik terhadap APD.

3. Hubungan antara Toleransi Risiko dengan Kepatuhan Penggunaan

APD

Berdasarkan tabel 5.5 dapat diketahui bahwa 27 pekerja yang kurang

patuh terhadap penggunaan APD sebanyak 17 orang (65,4%) memiliki

toleransi risiko yang tinggi dan 10 orang (34,5%) memiliki toleransi risiko
61

yang rendah. Berdasarkan hasil uji statistik chi-square, didapatkan Pvalue

sebesar 0,044 yang artinya pada α 5%, terdapat hubungan yang bermakna

antara toleransi risiko dengan kepatuhan menggunakan APD pada pekerja

di proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016.

Analisis keeratan hubungan dua variabel didapatkan OR sebesar 3,589

(95% CI; 1,179-10,924), artinya pekerja yang memiliki toleransi risiko

yang tinggi mempunyai peluang 3,589 kali untuk kurang patuh dalam

menggunakan APD daripada pekerja memiliki toleransi risiko yang rendah.

F. Hubungan antara Faktor Internal dengan Kepatuhan Penggunaan APD

Faktor internal merupakan faktor yang ada dalam individu tiap pekerja

yang dapat mempengaruhi kepatuhan pekerja terhadap penggunaan APD.

Adapun faktor internal yang dapat mempengaruhi kepatuhan terhadap

penggunaan APD, yaitu usia, masa kerja, pendidikan, dan pengetahuan. Hasil

analisis bivariat hubungan antara faktor internal dengan kepatuhan terhadap

penggunaan APD pada pekerja proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika

Joint Operation tahun 2016 dapat dilihat pada tabel 5.6 dan 5.7.

Tabel 5.6 Hubungan Faktor Internal (Usia dan Masa Kerja) dengan
Kepatuhan Penggunaan APD Pekerja di Proyek Konstruksi MRT Jakarta
Tokyu Wika Joint Operation Tahun 2016
No. Faktor internal Penggunaan APD n=55 MeanRank Pvalue
1. Usia Kurang patuh 27 31,67 0,095
Patuh 28 24,46
2. Masa kerja Kurang patuh 27 34,31 0,004
Patuh 28 21,91
62

Tabel 5.7 Hubungan Faktor Internal Berdasarkan (Pendidikan dan


Pengetahuan) dengan Kepatuhan Penggunaan APD Pekerja di Proyek
Konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation Tahun 2016
No. Faktor Kategori Penggunaan APD Total OR (95% CI) Pvalue
internal
Kurang Patuh
Patuh
n % n % n=55 %
1. Pendidikan Rendah 23 54,8 19 45,2 42 100 2,724 0,232

Menengah 4 30,8 9 69,2 13 100 (0,724-10,250)

2. Pengetahuan Rendah 19 70,4 8 29,6 27 100 5,938 0,005


Tinggi 8 28,6 20 71,4 28 100 (1,854-19,014)

1. Hubungan antara Usia dengan Kepatuhan Penggunaan APD

Berdasarkan tabel 5.6 dapat diketahui bahwa usia pekerja yang kurang

patuh dalam penggunaan APD hampir merata dengan yang patuh dengan

rata-rata usia yaitu 32 tahun. Berdasarkan hasil uji statistik nonparametric,

didapatkan Pvalue sebesar 0,095 yang menyatakan bahwa pada α 5%, tidak

ada hubungan yang bermakna antara usia dengan kepatuhan penggunaan

APD pekerja di proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint

Operation tahun 2016.

2. Hubungan antara Masa Kerja dengan Kepatuhan Penggunaan APD

Berdasarkan tabel 5.6 dapat diketahui bahwa masa kerja pekerja yang

kurang patuh dalam penggunaan APD hampir merata dengan yang patuh

dengan rata-rata masa kerja yaitu 34 tahun. Berdasarkan hasil uji statistik

nonparametric, didapatkan Pvalue sebesar 0,004 yang menyatakan bahwa

pada α 5%, terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan
63

kepatuhan penggunaan APD pekerja di proyek konstruksi MRT Jakarta

Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016.

3. Hubungan antara Pendidikan dengan Kepatuhan Penggunaan APD

Berdasarkan tabel 5.7 dapat diketahui bahwa dari 27 pekerja yang

kurang patuh terhadap penggunaan APD sebanyak 23 orang (54,8%)

memiliki pendidikan rendah dan 4 orang (30,8%) memiliki pendidikan

menengah. Berdasarkan hasil uji statistik chi-square, didapatkan Pvalue

sebesar 0,232 yang artinya pada α 5%, tidak terdapat hubungan yang

bermakna antara pendidikan dengan kepatuhan terhadap penggunaan APD

pada pekerja di proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint

Operation tahun 2016. Analisis keeratan hubungan dua variabel didapatkan

OR sebesar 2,724 (95% CI; 0,724-10,250), artinya pekerja yang memiliki

pendidikan rendah mempunyai peluang 2,724 kali untuk kurang patuh

dalam menggunakan APD daripada pekerja yang ber pendidikan menengah.

4. Hubungan antara Pengetahuan terhadap APD dengan Kepatuhan

Penggunaan APD

Berdasarkan tabel 5.7 dapat diketahui bahwa 27 pekerja yang kurang

patuh terhadap penggunaan APD sebanyak 19 orang (70,4%) memiliki

pengetahuan yang rendah dan 8 orang (28,6%) memiliki pengetahuan yang

tinggi. Berdasarkan hasil uji statistik chi-square, didapatkan Pvalue sebesar

0,005 yang artinya pada α 5%, terdapat hubungan yang bermakna antara

pengetahuan dengan kepatuhan menggunakan APD pada pekerja di proyek

konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016. Analisis
64

keeratan hubungan dua variabel didapatkan OR sebesar (95% CI; 1,854-

19,014), artinya pekerja yang memiliki pengetahuan yang rendah

mempunyai peluang 5,938 kali untuk kurang patuh dalam menggunakan

APD daripada pekerja yang berpengetahuan tinggi.

G. Faktor Internal Pekerja yang Mempengaruhi Hubungan antara Persepsi

Risiko, Persepsi terhadap APD, dan Toleransi Risiko dengan Kepatuhan

Penggunaan APD

Untuk mengetahui apakah faktor internal mempengaruhi hubungan antara

variabel independen dengan variabel dependen, maka perlu dilakukan analisis

multivariat. Tahapan yang dilakukan dalam analisis multivariat meliputi

pemilihan variabel kandidat multivariat, pembuatan model faktor penentu,

tahap uji interaksi, dan uji variabel perancu.

1. Pemilihan Variabel Kandidat Multivariat

Pada penelitian ini terdapat 4 variabel perancu (usia, masa kerja,

pendidikan, dan pengetahuan) dan 3 variabel independen (persepsi risiko,

persepsi terhadap APD, dan toleransi risiko) yang diduga berhubungan

dengan kepatuhan penggunaan APD. Tahap awal sebelum melakukan

analisis multivariat dilakukan analisis bivariat pada masing-masing

variabel. Variabel dengan Pvalue <0,25 dan memiliki kemaknaan secara

substansi dapat dijadikan kandidat yang akan dianalisis untuk penilaian

variabel perancu. Hasil analisis bivariat antar variabel di atas dengan

variabel dependen dapat dilihat pada tabel 5.8.


65

Tabel 5.8 Hasil Analisis Bivariat antara Variabel Usia, Masa Kerja,
Pendidikan, Pengetahuan, Persepsi Risiko, Persepsi terhadap APD,
Toleransi Risiko dengan Kepatuhan Penggunaan APD
No. Variabel P value Keterangan
1. Persepsi risiko 0,022 Kandidat
2. Persepsi terhadap APD 0,078 Kandidat
3. Toleransi risiko 0,044 Kandidat
4. Usia 0,095 Kandidat
5. Masa kerja 0,004 Kandidat
6. Pendidikan 0,232 Kandidat
7. Pengetahuan 0,005 Kandidat
Dari tabel 5.8 diketahui bahwa seluruh variabel memiliki

pvalue.<0,25. Dengan demikian seluruh variabel dalam penelitian ini dapat

masuk ke dalam analisis model multivariat.

2. Pembuatan Model Faktor Penentu

Variabel yang menjadi kandidat model dilakukan analisis bersamaan

dalam analisis multivariat. Pada analisis ini variabel yang memiliki

Pwald>0,05 dikeluarkan satu persatu dimulai dari variabel yang memiliki

Pwald tertinggi. Hasil pembuatan model faktor penentu dapat dilihat pada

tabel 5.9.

Tabel 5.9 Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik Ganda antara


Variabel Usia, Masa Kerja, Pendidikan, Pengetahuan, Persepsi Risiko,
Persepsi terhadap APD, dan Toleransi Risiko dengan Kepatuhan
terhadap Penggunaan APD

No. Variabel Model 1 Model 2 Model 3 Model 4 Model 5 Model 6

1. Persepsi risiko 0,131 0,090 0,086 0,073 0,034 0,034


2. Persepsi terhadap 0,458 0,453 0,483 - - -
APD
3. Toleransi risiko 0,323 0,320 0,240 0,092 - -
4. Usia 0,241 0,055 0,056 0,067 0,111 -
5. Masa kerja 0,929 - - - - -
66

No. Variabel Model 1 Model 2 Model 3 Model 4 Model 5 Model 6


6. Pengetahuan 0,030 0,029 0,023 0,017 0,008 0,007
7. Pendidikan 0,775 0,766 - - - -
Dari tabel 5.9 diketahui bahwa dari 7 variabel yang dianalisis, hanya

terdapat 2 variabel yang tersisa. Tabel di atas menunjukkan bahwa kedua

variabel tersebut semuanya memiliki Pwald<0,05. Hal tersebut

menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut merupakan variabel yang

mempunyai hubungan secara signifikan dengan kepatuhan terhadap

penggunaan APD. Hasil analisis multivariat kedua variabel tersebut dapat

dilihat pada tabel 5.10.

Tabel 5.10 Hasil Analisis Multivariat antara Pengetahuan dan Persepsi


Risiko dengan Kepatuhan Penggunaan APD
No. Variabel Pwald Exp(B) 95% CI
1. Persepsi Risiko 0,034 3,776 (1,108-12,861)

2. Pengetahuan 0,007 5,402 (1,586-18,292)


3. Uji Interaksi

Tahap selanjutnya dalam analisis multivariat adalah melakukan

identifikasi adanya interaksi antar variabel. Berdasarkan variabel yang

masuk ke dalam model multivariat, maka interaksi yang memungkinkan

hanya antara persepsi risiko dengan pengetahuan (persepsi

risiko*pengetahuan).

Uji interaksi dilakukan dengan menggunakan model perkalian dengan

cara membuat variabel baru yang merupakan interaksi antara variabel

independen dengan variabel perancu, kemudian dilihat Pvaluenya. Jika

Pvalue>0,05 maka dapat disimpulkan tidak terjadi interaksi antar variabel

tersebut. Hasil uji interaksi dapat dilihat pada tabel 5.11.


67

Tabel 5.11 Hasil Uji Interaksi antara Pengetahuan dengan Persepsi Risiko
No. Variabel Pvalue
1. Persepsi Risiko 0,125
2. Pengetahuan 0,166
3. Persepsi Risiko*Pengetahuan 0,425
Berdasarkan tabel 5.11 diketahui bahwa interaksi persepsi risiko

dengan pengetahuan menunjukkan Pvalue>0,05, sehingga dapat dikatakan

bahwa pada model ini tidak terjadi interaksi.

4. Uji Variabel Perancu

Penilaian ini bertujuan untuk mencari variabel-variabel yang

berperan sebagai perancu (konfonder). Penilaian dilakukan dengan cara

membandingkan nilai OR variabel independen antara sebelum dan sesudah

variabel perancu dikeluarkan. Apabila selisih OR>10% maka variabel

tersebut dinyatakan terbukti sebagai perancu dan tetap masuk dalam model.

Hasil analisis uji variabel perancu dapat dilihat pada tabel 5.12.

Tabel 5.12 Hasil Uji Variabel Perancu dengan Mengeluarkan Variabel


Pengetahuan
No. Variabel Gold OR tanpa Variabel ΔOR
standard Pengetahuan
1. Persepsi risiko 3,776 4,250 12,6%

Berdasarkan tabel 5.12 dapat diketahui bahwa setelah variabel

pengetahuan dikeluarkan pada uji variabel perancu, maka terdapat selisih

OR> 10% yaitu 12,6%, artinya variabel pengetahuan merupakan konfonder

antara variabel persepsi risiko dengan kepatuhan terhadap penggunaan APD

sehingga harus tetap masuk ke dalam model.

Setelah dilakukan uji perancu, variabel pengetahuan terbukti menjadi

variabel perancu (konfonder). Hasil analisis uji perancu variabel pengetahuan


68

mempengaruhi hubungan variabel persepsi risiko dengan kepatuhan

penggunaan APD dapat dilihat pada tabel 5.13.

Tabel 5.13 Hasil Analisis Variabel Pengetahuan Terbukti Menjadi


Variabel Perancu
No. Variabel Pvalue Exp(B) 95% CI for Exp(B)
Lower Upper
1. Persepsi Risiko 0,034 3,776 1,108 12,861
2. Pengetahuan 0,007 5,402 1,586 18,292
Dari tabel 5.13 diketahui bahwa terdapat hubungan antara persepsi risiko

dan pengetahuan dengan kepatuhan terhadap penggunaan APD. Besar peluang

pekerja yang memiliki persepsi risiko kurang baik untuk kurang patuh terhadap

penggunaan APD sebesar 3,776 kali setelah dikontrol oleh variabel

pengetahuan.
6 BAB VI

PEMBAHASAN

A. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki kelemahan yang merupakan keterbatasan dalam

penelitian. Adapun keterbatasan penelitian yaitu beberapa responden yang

mengisi kuesioner sendiri, ternyata mengisi secara bersamaan dengan rekan

kerjanya yang kebetulan melihat atau sengaja berkerumun. Untuk itu, peneliti

menyampaikan kepada responden agar mengisi kuesioner sesuai dengan

pendapatnya sendiri. Walaupun demikian, masih terjadi pengisian kuesioner

bersama. Sehingga hal ini dapat mempengaruhi hasil jawaban responden.

B. Kepatuhan Pekerja terhadap Penggunaan APD

APD merupakan alat yang digunakan pekerja untuk melindungi dari

potensi bahaya yang ada. Dengan demikian, diharapkan pekerja dapat

meminimalisir peluang terkena PAK ataupun terjadi cidera akibat kerja. APD

dapat dilakukan jika usaha penanggulangan secara teknik dan administratif

telah dilakukan namun tidak sepenuhnya mengendalikan bahaya sehingga

risiko yang ada masih tetap tinggi. Untuk itu, APD merupakan metode

pengendalian bahaya terakhir yang penting mengingat sektor konstruksi adalah

salah satu sektor yang memiliki banyak risiko yang tinggi.

69
70

Namun, jika penggunaan APD tersebut tidak benar, maka APD yang

digunakan tersebut tidak akan berfungsi dengan baik dan maksimal untuk

melindungi pekerja sesuai dengan fungsinya. Hal ini dapat diartikan bahwa

pengendalian yang dilakukan akan sia-sia.

Dalam penelitian ini, kriteria kepatuhan penggunaan APD dilihat dari

perilaku pekerja dalam memakai APD dengan lengkap dan benar sesuai dengan

peraturan yang berlaku di Tokyu Wika Joint Operation pada saat bekerja

selama berada di area proyek konstruksi MRT Jakarta.

Terdapat beberapa indikator kepatuhan dalam penggunaan APD yaitu

menggunakan helm keselamatan (safety helmet), rompi keselamatan (safety

vest), sepatu keselamatan (safety shoes), berpakaian panjang, dan menggunakan

APD tambahan sesuai jenis pekerjaan dan kondisi area kerja tertentu.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 55 pekerja di

proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016,

diketahui bahwa pekerja memiliki perilaku yang hampir seimbang antara yang

patuh maupun kurang patuh terhadap penggunaan APD. Pekerja yang patuh

ketika memakai APD yaitu sebesar 51% memiliki jumlah yang lebih banyak

meskipun hanya selisih satu responden dari pekerja yang kurang patuh

memakai APD. Hasil penelitian ini didukung oleh pernyataan salah satu deputy

manager dalam wawancara yang telah dilakukan, dimana ia mengatakan bahwa

implementasi peraturan APD yang nyatanya bersifat mandatory belum

sepenuhnya dijalankan oleh semua pekerja. Ia mengasumsikan persentase

pelaksanaan berbanding 50%:50% untuk pekerja yang patuh dengan pekerja


71

yang kurang patuh. Pekerja masih menganggap APD hanya sebagai aksesoris

saat bekerja dan belum sepenuhnya sadar akan kegunaan APD.

Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa penggunaan APD pada pekerja di

proyek konstruksi MRT Jakarta sudah cukup baik. Namun, tidak dapat

dipungkiri perilaku penggunaan APD yang kurang baik pada responden masih

cukup banyak (49%). Padahal, dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan

Transmigrasi Republik Indonesia No. Per. 08/Men/VII/2010 tentang Alat

Pelindung Diri pasal 6 dijelaskan bahwa pekerja yang memasuki tempat kerja

wajib menggunakan APD sesuai dengan potensi bahaya dan risiko. Hal ini

dapat dikatakan bahwa kesadaran pekerja terhadap aspek keselamatan dan

kesehatan kerja masih rendah. Mengingat banyak bahaya di tempat kerja yang

sewaktu-waktu dapat membahayakan para pekerja. Ditambah dengan

karakteristik bidang konstruksi yang berbeda dengan bidang lainnya karena

memiliki lokasi kerja yang berbeda-beda, terbuka, dipengaruhi cuaca, waktu

pelaksanaan yang terbatas, dinamis, dan banyak menggunakan tenaga kerja

yang tidak jarang tidak terlatih (Wirahadikusumah, 2007). Kondisi ini dapat

membahayakan dan meningkatkan peluang risiko terkena PAK maupun

mengalami kecelakaan kerja.

Berdasarkan hasil telaah dokumen diketahui terdapat beberapa kasus

kecelakaan kerja yang disebabkan oleh kesalahan pekerja itu sendiri dan

berdampak tejadi luka ringan sampai parah hingga menyebabkan Lost Time

Injury (LTI) akibat tidak memakai APD sesuai peraturan yang berlaku. Dari

hasil observasi masih ditemukan pekerja yang tidak memakai APD saat bekerja
72

dengan alasan lupa membawa ataupun sering lepas pasang saat sedang bekerja

setiap harinya.

Kepatuhan terhadap penggunaan APD tidak hadir dengan sendirinya.

Terdapat faktor-faktor yang melatarbelakangi seorang pekerja untuk

berperilaku patuh atau tidak. Faktor-faktor tersebut terdiri dari persepsi risiko,

persepsi terhadap APD, dan toleransi risiko. Selain itu, terdapat pula faktor

internal yang merupakan karakteristik individu masing-masing pekerja yang

juga turut andil dalam pembentukan perilaku pekerja yang terdiri dari usia,

masa kerja, pendidikan, dan pengetahuan. Hasil penelitian ini menunjukkan

bahwa sebagian besar pekerja memiliki persepsi risiko yang baik (54,5%),

persepsi terhadap APD yang kurang baik (52,7%), dan toleransi risiko yang

rendah (52,7%). Untuk rata-rata usia pekerja adalah 33 tahun dengan rata-rata

masa bekerja selama 9 tahun, untuk variabel pendidikan sebagian besar pekerja

memiliki tingkat pendidikan rendah (76,4%) dan sebagian besar

berpengetahuan tinggi (51%). Dari hasil analisis yang telah dilakukan, variabel

persepsi risiko dan pengetahuan terbukti signifikan terhadap kepatuhan

penggunaan APD.

Hal ini membuktikan bahwa pihak Tokyu Wika Joint Operation perlu

meningkatkan pengetahuan dan pembentukkan persepsi yang baik ke semua

pekerja dengan melakukan sosialisasi dan pelatihan terkait APD dan risiko

pekerjaan yang ada. Untuk meningkatkan penggunaan APD pada pekerja di

proyek konstruksi MRT Jakarta maka sebaiknya pihak manajemen juga

berupaya untuk meningkatkan komitmen terhadap keselamatan dan kesehatan

kepada seluruh pihak terkait. Hal ini dapat dilakukan dengan pihak perusahaan
73

tingkat manajemen sampai ke supervisor ataupun mandor juga memberikan

contoh atau suri teladan yang baik ke para pekerjanya dengan selalu menaati

peraturan APD yang berlaku. Seperti ajaran kepemimpinan Ki Hajar

Dewantara yang menyebutkan “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun

Karso, Tut Wuri Handayani” yang berarti figur pemimpin yang baik adalah

seseorang menjadi suri tauladan atau panutan, mampu menggugah semangat,

dan memberikan dorongan moral dari belakang agar orang–orang disekitarnya

dapat merasa situasi yang baik dan bersahabat. Apabila komitmen para petinggi

sudah tertanam dengan kuat, hal tersebut diharapkan dapat mendorong pekerja

untuk mengikuti para petingginya sebagai pihak yang disegani untuk ikut

berkomitmen pada peraturan APD juga.

C. Hubungan antara Persepsi Risiko, Persepsi terhadap APD, dan Toleransi

Risiko dengan Kepatuhan Penggunaan APD

Hubungan antara persepsi risiko, persepsi terhadap APD, dan toleransi

risiko dengan kepatuhan pekerja terhadap penggunaan APD di proyek

konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016 dijelaskan

pada pembahasan di bawah ini.

1. Hubungan antara Persepsi Risiko dengan Kepatuhan Penggunaan

APD

Persepsi risiko merupakan salah satu faktor yang diduga memiliki

hubungan dengan kepatuhan terhadap penggunaan APD. Persepsi

merupakan tahap awal dari serangkaian proses mengolah informasi.


74

Persepsi dapat diartikan sebagai pandangan atau anggapan seseorang

terhadap sesuatu. Sedangkan risiko adalah kemungkinan atau potensi

terjadinya sesuatu yang menimbulkan kerugian.

Persepsi risiko yang dimaksud dalam penelitian adalah pandangan

atau penilaian subjektif pekerja terhadap kemungkinan bahwa sesuatu

bahaya akan muncul dari situasi atau keadaan yang dapat menyebabkan

kerugian. Penilaian tersebut didasarkan dari ketersediaan informasi tentang

risiko di dalam ingatan pekerja. Dalam penelitian ini, pekerja dikatakan

memiliki persepsi risiko yang baik apabila pekerja tersebut memiliki skor

yang tinggi terhadap penyataan dari persepsi risiko yang ada.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja di

proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016

memiliki persepsi risiko yang baik dengan jumlah responden sebanyak 30

orang (54,5%). Adapun kurang patuhnya pekerja terhadap penggunaan

APD lebih banyak ditunjukkan oleh pekerja yang memiliki persepsi risiko

kurang baik (68%). Jika dilihat dari hasil uji keeratan hubungan, diketahui

bahwa pekerja yang memiliki persepsi risiko kurang baik mempunyai

peluang 3,776 kali untuk kurang patuh dalam menggunakan APD daripada

pekerja yang memiliki persepsi risiko baik. Hal ini dapat diartikan bahwa

semakin kurang baik persepsi risiko yang dimiliki pekerja maka akan

semakin kurang patuh pekerja terhadap penggunaan APD.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan yang

signifikan antara persepsi risiko dengan kepatuhan penggunaan APD. Hal

ini sesuai dengan pendapat Petersan (1998) yang mengemukakan bahwa


75

seorang karyawan cenderung melakukan perilaku tidak selamat karena

tingkat persepsi yang buruk terhadap adanya bahaya/risiko di tempat kerja,

mengganggap remeh kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja,

menganggap rendah biaya yang harus dikeluarkan jika terjadi kecelakaan

kerja. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa apa yang dipersepsikan

seseorang terhadap risiko suatu bahaya dan besaran konsekuensinya

merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang

apakah ia berperilaku aman ataupun berperilaku tidak aman.

Menurut Botteril dan Mazmur (2004) persepsi merupakan kunci

berpikir yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang dan merupakan

langkah awal seseorang dalam bertindak. Robbins (1996) juga

menyebutkan bahwa persepsi merupakan suatu hal yang penting. Hal ini

dikarenakan persepsi terhadap sesuatu dapat berubah-ubah maknanya

walaupun kenyataannya sama. Adanya faktor situasi dan faktor target yang

dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap obyek. Persepsi juga

sangat tergantung pada karakteritik individual seperti motivasi,

kepentingan, pengalaman, dan harapan. Hal ini sesuai dengan tulisan Geller

(2001) menyatakan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh apa yang

dirasakan daripada risiko yang sebenarnya.

Bagi seseorang kondisi dapat dianggap sudah berbahaya, namun bagi

yang lain kondisi yang sama dapat dianggap belum berbahaya. Kekeliruan

persepsi yang mungkin terjadi dapat membuat persepsi risiko menjadi fatal.

Oleh sebab itu, perlu dilakukan pembinaan pada pekerja dengan

melakukan komunikasi untuk memberikan informasi terkait risiko yang


76

ada. Hal ini didukung oleh Gibson dalam Dahlawy (2008) yang

menyatakan bahwa pertambahan kemampuan sesorang untuk

mengorganisasikan pengamatan bersumber dari informasi yang berasal dari

lingkungan sebagai hasil pengalaman. Komunikasi dapat dilakukan secara

lisan yang dapat dilakukan pada kegiatan safety morning talk atau toolbox

meeting yang dilakukan secara interaktif menuntut partisipasi aktif

pekerjanya.

Hal tersebut juga perlu didukung dengan melakukan komunikasi

secara tertulis akan risiko dari pihak perusahaan terhadap keselamatan

dengan memberi secara rinci apa saja bahaya beserta risiko yang ada di

papan pengumuman dan lebih banyak menempel poster tentang risiko

beserta bahaya apa saja yang ada di area kerja tersebut dengan tampilan

yang menarik dan dimengerti oleh semua kalangan pekerja. Komunikasi

dilakukan kepada seluruh pekerja baik usia muda maupun usia tua untuk

dapat menyamakan dan meningkatkan persepsi risiko yang baik sehingga

kecelakaan kerja dapat dicegah secara dini dengan penggunakan APD

dengan baik dan benar.

2. Hubungan antara Persepsi terhadap APD dengan Kepatuhan

Penggunaan APD

Persepsi terhadap APD merupakan salah satu faktor yang diduga

memiliki hubungan dengan kepatuhan terhadap penggunaan APD. Persepsi

merupakan proses pemaknaan seseorang terhadap suatu hal yang akan

membuat seseorang berperilaku (Waidi, 2006). Dalam penelitian ini,


77

persepsi terhadap APD yaitu pandangan pekerja terhadap keuntungan dan

hambatan yang dirasakan saat menggunakan APD sewaktu bekerja.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja di

proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016

memiliki persepsi terhadap APD yang kurang baik dengan jumlah

responden sebanyak 29 orang (52,7%). Dari hasil penelitian juga diketahui

bahwa kurang patuhnya pekerja terhadap penggunaan APD lebih banyak

ditunjukkan oleh pekerja yang memiliki persepsi kurang baik (62,1%). Hal

ini sesuai dengan pendapat Sialagan (2008) bahwa seseorang berperilaku

sesuai dengan yang ia persepsikan.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tidak ada hubungan

yang signifikan antara persepsi terhadap APD dengan kepatuhan

penggunaan APD. Menurut Roughton (2002) pekerja yang tidak

menggunakan APD dimungkinkan karena APD tersebut menimbulkan

ketidaknyamanan dan menambah beban stress pada tubuh. Stress ini dapat

menimbulkan rasa tidak nyaman atau kesulitan untuk bekerja. Padahal

menurut penelitian yang dilakukan Syaaf (2008), kenyamanan akan timbul

apabila seseorang membiasakan diri melakukan sesuatu hal.

Hasil pada penelitian ini tidak sesuai dengan teori HBM dimana

persepsi mempengaruhi seseorang dalam berperilaku. Hal ini karena dalam

teori HBM dijelaskan bahwa persepsi seseorang tergantung pada

kemampuan individu merespon stimulus. Kemampuan tersebut yang

menyebabkan persepsi antara individu yang satu dengan individu lain yang

berbeda-beda dimana cara menginterpretasikan sesuatu yang dilihat pun


78

belum tentu sama antar individu. Dengan kemampuan yang berbeda-beda

itulah pekerja bisa salah dalam mempersepsikan APD sehingga perilaku

pekerja tersebut menjadi kurang patuh terhadap APD.

Kemudian, dari hasil wawancara pekerja S mengatakan bahwa APD

merupakan alat yang disediakan perusahaan untuk bekerja. Namun, saat

bekerja ia lebih memilih untuk tidak memakai salah satu APD yang wajib

digunakan karena membuat ia tidak leluasa dan kurang nyaman dalam

memegang alat kerjanya. Karena tuntutan pekerjaan, maka ia mengabaikan

pemakaian APD tersebut agar pekerjaan cepat selesai. Hal ini membuktikan

bahwa pekerja yang kurang patuh terhadap penggunaan APD dikarenakan

APD hanya atribut kerja dan cenderung membatasi ruang gerak sehingga

tidak masalah apabila tidak menggunakannya, yang terpenting adalah

bagaimana pekerjaan dapat cepat selesai. Hal ini selaras dengan pendapat

Winardi (2001) dalam Sialagan (2008) yang menyebutkan bahwa seseorang

berperilaku tertentu karena adanya suatu situasi yang diyakininya, bukan

karena situasi yang terdapat disekitarnya. Berdasarkan pendapat diatas,

dapat diketahui bahwa pada penelitian ini situasi yang diyakini pekerja

adalah pekerjaan mereka bisa cepat selesai meskipun pada proses

pengerjaannya dilakukan dengan berperilaku tidak aman yaitu tidak

menggunakan APD.

Peneliti juga berasumsi bahwa tidak adanya hubungan antara persepsi

terhadap penggunaan APD dengan kepatuhan terhadap penggunaan APD

mungkin disebabkan oleh faktor lain. Bila ditinjau dari persepsi risiko,
79

responden yang memiliki persepsi terhadap APD yang kurang baik justru

lebih banyak memiliki persepsi risiko yang kurang baik pula (58,6%).

Hal ini menyebabkan pekerja yang memiliki persepsi baik ataupun

kurang baik terhadap APD tidak mempengaruhi seseorang untuk patuh

terhadap penggunaan APD. Namun ketika persepsi risiko terbentuk dengan

baik maka akan membuat seseorang patuh dalam berperilaku karena

mengetahui hal apa yang dapat dihindari secara jelas dari penggunaan

tersebut.

Oleh karena itu seharusnya pekerja selalu melakukan penyesuaian dan

membiasakan diri untuk selalu bekerja dengan menggunakan APD, bukan

hanya menilai penggunaan APD sebagai atribut semata. Robin (1989)

dalam buku Danim (2007) menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi

pembentukkan persepsi adalah karakter dari penerima rangsangan meliputi

motif, minat, dan pengalaman masa lalu.

Maka dari itu, diperlukannya dukungan dari pihak Tokyu Wika Joint

Operation dengan dilakukan pembinaan pada seluruh pekerja dengan

melakukan sosialisasi prosedur APD dan penggunaan APD benar yang

dapat dilakukan pada kegiatan safety induction yang dilakukan saat pertama

kali pekerja bekerja di proyek konstruksi MRT Jakarta. Sebenarnya

penjelasan mengenai APD sudah sedikit disinggung dalam safety induction.

Namun hal tersebut dirasa kurang mencukupi. Sebaiknya saat safety

induction dipaparkan dengan jelas apa saja yang terdapat di prosedur APD,

jenis-jenis APD dan kegunaannya sesuai dengan jenis bahaya, serta


80

bagaimana cara memakai dan merawat yang baik dan benar dengan bahasa

yang persuasif dan interaktif.

Selain itu, sosialisasi materi APD dapat juga diberikan pada kegiatan

yang menghadirkan seluruh pekerja, contohnya safety morning talk.

Sosialisasi materi APD dapat diselingi dengan materi lainnya terkait K3.

Perusahaan juga dapat memberikan penghargaan kepada pekerjanya

terkait penggunaan APD untuk meningkatkan minat para pekerja.

Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Geller (2001), penghargaan

merupakan konsekuensi positif yang diberikan kepada individu atau

kelompok dengan tujuan untuk mengembangkan, mendukung, dan

memelihara perilaku yang diharapkan. Jika digunakan dengan semestinya,

maka penghargaan akan membentuk perasaan percaya diri dan optimisme.

Penghargaan diberikan dengan cara memberikan hadiah barang atau

sejumlah uang yang diberikan kepada pekerja yang terbukti tidak pernah

melanggar peraturan dalam sebulan. Penghargaan juga dapat diberikan

dengan mengadakan lomba memakai APD yang benar dengan waktu yang

telah ditentukan. Pengumuman penghargaan tersebut disampaikan saat

kegiatan safety morning talk dimana semua pekerja maupun pihak

manajemen berkumpul. Hal tersebut juga akan memotivasi pekerja lainnya

untuk menggunakan APD yang baik dan benar.

3. Hubungan antara Toleransi Risiko dengan Kepatuhan Penggunaan

APD

Toleransi risiko merupakan salah satu faktor yang diduga memiliki

hubungan dengan kepatuhan terhadap penggunaan APD. Menurut Hunter


81

(2002), toleransi risiko merupakan suatu sikap dimana seseorang bersedia

mengambil sejumlah risiko dalam mencapai suatu tujuan. Sedangkan

Newcomb dalam Notoadmodjo (2003) menyatakan sikap sebagai kesiapan

atau kesediaan untuk bertindak. Individu yang memiliki toleransi risiko

yang tinggi kemungkinan lebih besar dalam mengambil risiko dan

cenderung untuk berperilaku yang dapat menyebabkan kecelakaan. Dimana

dalam penelitian ini menganggap wajar suatu risiko yang berpotensi

menyebabkan kecelakaan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja di

proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016

memiliki toleransi risiko yang rendah dengan jumlah responden sebanyak

29 orang (52,7%). Kemudian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa

pekerja yang kurang patuh terhadap penggunaan APD lebih banyak

ditunjukkan oleh pekerja yang memiliki toleransi risiko yang tinggi yaitu

sebanyak 17 orang (65,4%).

Berdasarkan hasil penelitian juga diketahui bahwa tidak terdapat

hubungan yang signifikan antara toleransi risiko dengan kepatuhan

penggunaan APD. Hasil penelitian ini berseberangan dengan National

Safety Council (2014) yang mengungkapkan bahwa toleransi risiko

mmpengaruhi seseorang dalam melihat perilaku pencegahan.

Perbedaan hasil penelitian ini dengan teori dapat disebabkan oleh

faktor-faktor lain. Penulis berasumsi bahwa tidak berhubungannya

kepatuhan terhadap penggunaan APD dengan toleransi risiko disebabkan

oleh faktor persepsi risiko.


82

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 25 pekerja yang

berpersepsi risiko kurang baik lebih banyak memiliki toleransi risiko yang

tinggi (60%). Kurang baiknya persepsi risiko yang dimiliki pekerja

menjadikan seseorang cenderung untuk memiliki toleransi yang tinggi

terhadap risiko, dimana keinginannya untuk menghindari risiko yang ada

rendah sehingga dapat mempengaruhi seseorang untuk tidak mengambil

perilaku pencegahan terhadap risiko itu, salah satunya dengan memakai

APD. Tidak terbuktinya hubungan antara kepatuhan terhadap penggunaan

APD dengan toleransi risiko juga mungkin dapat terjadi karena ukuran

sampel dalam penelitian ini yang kecil.

Toleransi risiko dalam penelitian ini merupakan suatu sikap pekerja

dalam menanggapi suatu risiko di tempatnya bekerja. Untuk membentuk

dan mengubah sikap dapat dilakukan dengan perubahan sikap melalui suatu

kejadian yang dilakukan berulang sehingga menjadi kebiasaan (Sarwono,

2012). Sehingga diperlukan adanya peraturan terkait APD yang

disosilisasikan dengan baik secara kontinu disetiap kegiatan

pengkomunikasian yang ada seperti safety morning talk.

D. Hubungan antara Faktor Internal dengan Kepatuhan Penggunaan APD

Faktor Internal dalam penelitian ini meliputi usia, masa kerja, pendidikan,

dan pengetahuan yang dimiliki pekerja. Hubungan antara faktor internal dengan

kepatuhan pekerja terhadap penggunaan APD di proyek konstruksi MRT


83

Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016 dijelaskan pada pembahasan di

bawah ini.

1. Hubungan antara Usia dengan Kepatuhan Penggunaan APD

Usia merupakan salah satu faktor yang diduga memiliki hubungan

dengan kepatuhan terhadap penggunaan APD. Usia mempengaruhi kondisi

fisik, mental, kemauan kerja, daya tangkap, pola pikir, dan tanggung jawab

seseorang.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa rata-rata

usia pekerja di proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation

tahun 2016 yaitu 33 tahun dengan jumlah responden sebanyak 55 orang,

dengan usia termuda yaitu 18 tahun dan usia tertua yaitu 64 tahun. Menurut

International Labour Organization (ILO), usia produktif antara 15-64 tahun

sedangkan usia nonproduktif antara 0-14 tahun dan > 64 tahun, dengan

demikian rata-rata usia pekerja di di proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu

Wika Joint Operation termasuk usia produktif.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tidak terdapat hubungan

yang signifikan antara usia dengan kepatuhan terhadap penggunaan APD.

Penelitian Ratnaningsih (2010) mendukung hasil penelitian ini yang

menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara umur dengan

praktik pemakaian APD pekerja PT. X di proyek pembangunan rumah sakit

pendidikan.

Dengan demikian, hasil penelitian tidak sesuai dengan teori

Suma‟mur (1996) dimana pengalaman untuk kewaspadaan terhadap


84

keselamatan bertambah baik sesuai dengan usia, masa kerja, dan lamanya

bekerja di tempat kerja yang bersangkutan. Hubungan yang tidak bermakna

antara usia pekerja dengan kepatuhan terhadap penggunaan APD dapat

terjadi karena rata-rata usia pekerja yang patuh dan tidak patuh dalam

melakukan penggunaan APD tidak jauh berbeda. Hal ini juga dapat

dikarenakan pada hasil penelitian terlihat bahwa 51% pekerja yang patuh

terhadap penggunaan APD memiliki rata-rata usia pekerja lebih kecil yaitu

24 tahun. Sedangkan 49% pekerja yang kurang patuh terhadap penggunaan

APD memiliki rata-rata usia yaitu 32 tahun.

Hal tersebut dapat diartikan bahwa pada saat muda pekerja cenderung

memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap kecelakaan dengan

berperilaku aman salah satunya dengan menggunakan APD. Akan tetapi

pada usia yang lebih tua justru berkurang tingkat kewaspadaan akan

kecelakaan dengan kurang berperilaku aman karena mereka merasa terbiasa

dengan situasi yang ada. Sebagaimana pernyataan Siagian (1987) yang

mengungkapkan bahwa jika seseorang makin bertambah usianya, maka

cenderung cepat puas karena tingkat kedewasaan teknis maupun

kedewasaan psikologis.

Oleh karena itu, pemberian informasi mengenai APD harus selalu

dilakukan guna memperkuat pekerja baik tua maupun muda untuk selalu

patuh terhadap penggunaan APD. Pemberian informasi mengenai APD

dapat diberikan melalui promosi K3 yang dapat dilakukan di kegiatan yang

telah ada seperti pada saat safety induction, safety morning talk dan toolbox

meeting dengan komunikasi interaktif agar penyampaian informasi lebih


85

dapat diterima ke pekerja. Pekerja juga sebaiknya selalu mengikuti kegiatan

tersebut dan berperan aktif pada saat kegiatan berlangsung.

Selain itu, promosi K3 juga dapat dilakukan melalui pemasangan

safety sign. Di Tokyu Wika Joint Operation sendiri pemasangan safety sign

sudah baik terlaksana. Namun, berdasarkan hasil observasi diketahui

terdapat kondisi-kondisi yang belum memenuhi syarat pemasangan safety

sign yang benar. Hal ini dikarenakan lebih banyak safety sign yang

dipasang terlalu rendah yaitu dibawah pinggang orang dewasa. Sehingga

memungkinkan keberadaan safety sign sering tidak terlihat. Banyak dari

safety sign yang juga sudah memiliki kondisi yang kurang baik akibat

terkena bahan semen atau rusak.

Padahal menurut Tinarbuko (2008) dan Wijanarko (2013), syarat

pemasangan safety sign yang benar yaitu safety sign berada dalam kondisi

yang baik dan terlihat jelas, mudah dibaca dan dimengerti, terlihat dari

segala arah, dan berjarak 2,2 meter dari lantai. Maka dari itu, diperlukan

perbaikan dari segi ketinggian pemasangan safety sign yang benar dan

selalu menjaga kondisi safety sign agar pekerja dapat mudah melihat dan

memahami safety sign tersebut sehingga pesan yang disampaikan

tersalurkan dengan baik, yaitu mewajibkan pekerja untuk mematuhi

peratutan APD yang berlaku.

2. Hubungan antara Masa Kerja dengan Kepatuhan Penggunaan APD

Masa kerja merupakan salah satu faktor yang diduga memiliki

hubungan dengan kepatuhan terhadap penggunaan APD. Masa kerja yang


86

dimaksud dalam penelitian ini adalah lamanya seseorang bekerja dihitung

dari pertama kali bekerja di bidang konstruksi hingga bulan diadakannya

penelitian ini.

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa rata-rata masa kerja di bidang

konstruksi yang dimiliki pekerja di proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu

Wika Joint Operation tahun 2016 yaitu 9 tahun, dengan masa kerja paling

lama adalah 41 tahun dan masa kerja minimal yaitu 1 tahun. Kemudian,

hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 51% pekerja patuh terhadap

penggunaan APD memiliki rata-rata masa kerja yaitu 22 tahun. Sedangkan

49% pekerja yang kurang patuh terhadap penggunaan APD memiliki rata-

rata masa kerja yaitu yaitu 34 tahun.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa masa kerja tidak

memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan terhadap

penggunaan APD. Penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian

Ratnaningsih (2010) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang

bermakna antara masa kerja dengan praktik pemakaian APD pekerja PT. X

di proyek pembangunan rumah sakit pendidikan. Namun, hasil penelitian

ini berbeda dengan teori yang dikemukakan oleh Handoko (2000) yang

menyebutkan bahwa lama kerja akan mempengaruhi seseorang terhadap

perilakunya, dimana semakin lama seseorang bekerja maka akan semakin

banyak memiliki pengalaman dan terampil sehingga hasilnya akan lebih

baik dapat bekerja secara lebih aman.

Tidak adanya hubungan antara masa kerja dengan kepatuhan terhadap

penggunaan APD dimungkinkan karena pekerja dengan rata-rata masa kerja


87

22 tahun cenderung akan patuh terhadap penggunaan APD karena ingin

menambah pengalaman kerja serta menunjukkan kinerja yang baik di

perusahaan untuk menghindari mendapat masalah di lingkungan kerja.

Sementara pekerja dengan rata-rata masa kerja 34 tahun cenderung merasa

telah memiliki jam kerja yang tinggi, sehingga dalam mengabaikan

peraturan mengenai APD tidak akan menimbulkan masalah yang berat.

Hal ini didukung oleh hasil wawancara pekerja X yang patuh terhadap

penggunaan APD dan telah lama bekerja di bidang konstruksi yaitu selama

10 tahun mengatakan bahwa selama ini ia jarang memakai sarung tangan

saat bekerja walaupun harus kontak langsung dengan besi dan tidak jarang

ia mengalami luka ringan akibat tergores. Namun hal tersebut sudah

dianggap biasa dan tidak terlalu menjadi masalah baginya. Hal tersebut

dapat disimpulkan bahwa pekerja tersebut masih menganggap remeh

bahaya yang ada dan cenderung mengabaikannya. Hal ini diperkuat oleh

Geller (2001) yang mengatakan bahwa faktor pengalaman pada tugas yang

sama dan lingkungan sudah dikenal dapat mempengaruhi orang tersebut

berperilaku tidak aman dan terus berlaku karena menyenangkan, nyaman,

dan menghemat waktu dan perilaku ini cenderung berulang.

Oleh karena itu, diperlukan peran aktif Tokyu Wika Joint Operation

yang dalam proyek konstruksi MRT Jakarta ditanggungjawabkan oleh

divisi SHE untuk melakukan pengawasan terhadap penggunaan APD.

Sebenarnya kegiatan pengawasan sudah terlaksana namun belum berjalan

dengan maksimal. Hal ini dapat diketahui dari kegiatan pengawasan yang

berjalan tidak rutin.


88

Dari observasi didapatkan hasil bahwa pada jam sebelum istirahat

dan sebelum pulang merupakan waktu dimana pekerja lebih banyak yang

kurang patuh terhadap penggunaan APD. Untuk itu, perusahaan sebaiknya

meningkatkan pengawasan terutama di jam-jam rawan pekerja tidak

mematuhi peraturan yang berlaku sesuai dengan hasil observasi. Selain itu,

pengawasan yang dilakukan sebaiknya dijalankan dengan lebih interaktif.

Apabila pekerja melanggar peraturan terkait APD, pengawas membenarkan

kembali perilaku tersebut dengan cara memberitahukan ataupun

memberikan teguran dengan tegas namun santai dan memberikan pujian

pada pekerja yang mengikuti peraturan K3 khususnya penggunaan APD

ditempat kerja. Perusahaan juga sebaiknya memberlakukan punishment

atau hukuman kepada pekerja yang terbukti kurang patuh terhadap

peraturan APD lebih dari dua kali dari hasil pengawasan yang dilakukan.

Adapun bentuk punishment dapat berupa membayar denda uang agar

pekerja jera atau enggan berlaku kurang patuh terhadap penggunaan APD.

Dengan memperbaiki sistem kegiatan pengawasan yang lebih baik,

perilaku pekerja akan lebih terkontrol dan diharapkan pekerja lebih sadar

akan keselamatan dan kesehatan kerjanya sendiri. Pengawasan diperlukan

demi menjaga perilaku seseorang agar tetap berada dalam batas-batas yang

aman. Berdasarkan teori perilaku yang dikemukakan oleh Lawrence Green

tahun 1980, pengawasan termasuk dalam faktor penguat yang dapat

menentukan perilaku seseorang.

Pengawasan terhadap aktivitas pekerja diharapkan dapat

menumbuhkan kepatuhan dan kesadaran akan pentingnya keselamatan dan


89

kesehatan kerja bagi dirinya, pekerja lain, dan lingkungan kerjanya. Selain

itu, pekerja dengan masa kerja yang lama ataupun baru juga bisa saling

mengingatkan apabila diantara mereka tidak menggunakan APD sesuai

dengan ketentuan yang berlaku.

3. Hubungan antara Pendidikan dengan Kepatuhan Penggunaan APD

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang diduga memiliki

hubungan dengan kepatuhan terhadap penggunaan APD. Pendidikan yang

diteliti adalah pendidikan formal yang telah dijalani oleh pekerja di proyek

konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016. Menurut

Undang-Undang nomor 20 tahun 2003, pendidikan formal terdiri dari

pendidikan rendah (terdiri dari SD/MI dan atau SMP/MTs). pendidikan

menengah (SMA/MA/SMK/MAK), dan pendidikan tinggi

(diploma/sarjana/spesialis/doktor).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja di

proyek konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016

memiliki tingkat pendidikan yang rendah dengan jumlah responden

sebanyak 42 orang (76,4%). Kemudian, hasil penelitian juga menunjukkan

bahwa lebih banyak pekerja yang kurang patuh terhadap penggunaan APD

merupakan pekerja yang memiliki pendidikan yang rendah yaitu sebanyak

23 orang (54,8%).

Berdasarkan hasil penelitian juga diketahui bahwa tidak ada

hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan kepatuhan penggunaan

APD. Hal yang sama juga terjadi pada penelitian Saputri dan Paskarini

(2014) yang menemukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara
90

pendidikan kepatuhan penggunaan APD pada pekerja kerangka bangunan

proyek Hotel Mercure Grand Mirama Extention di PT Jagat Konstruksi

Abdipersada.

Pendidikan ditemukan tidak berhubungan signifikan dengan

kepatuhan terhadap penggunaan APD karena ada perbedaan kategori tigkat

pendidikan antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya. Kemudian,

dari observasi di lapangan dapat diketahui bahwa disetiap pintu masuk

terdapat banner berisi peraturan yang harus ditaati setiap orang yang masuk

ke area kerja, yang salah satunya adalah peraturan mengenai APD. Disetiap

area kerja juga dipasang safety sign berisi jenis-jenis APD yang wajib

digunakan di area kerja tersebut. Dengan begitu, setiap hari pekerja melihat

peraturan APD tersebut dan memungkinkan pekerja untuk mematuhinya

dengan background pendidikan yang rendah maupun yang tinggi.

Pendidikan seseorang mempengaruhi tugas dan tanggung jawab.

Tenaga kerja yang memiliki pendidikan tinggi harus ditempatkan pada

tugas dan pekerjaan sesuai dengan kemampuannya. Sebaliknya, tenaga

kerja yang memiliki latar belakang akademis rata-rata atau dibawah standar

harus ditempatkan pada tugas dan pekerjaan ringan dengan wewenang dan

tanggung jawab yang relatif rendah (Sastrohadiwiryo, 2005).

Oleh karena itu, meski mayoritas pekerja tergolong berpendidikan

rendah, perusahaan dapat meminimalisir dampak dari perilaku para pekerja

dengan memberikan pendidikan tambahan berupa pelatihan. Hal ini

didukung oleh Notoadmodjo (2009) yang mengungkapkan bahwa pelatihan

merupakan suatu proses yang akan menghasilkan suatu perubahan perilaku


91

pekerjanya. Pelatihan yang diberikan khusus terkait penggunaan APD agar

pengetahuan mereka terkait APD bertambah dan menumbuhkan pola pikir

betapa pentingnya menggunakan APD saat bekerja. Seperti yang dikatakan

oleh Widayatun (1999) bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui

pendidikan formal ataupun informal yang salah satunya dapat dilakukan

melalui pelatihan.

4. Hubungan antara Pengetahuan dengan Kepatuhan Penggunaan APD

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia terhadap suatu objek

yang didapatkan sebagian besar melalui indera penglihatan dan

pendengaran (Geller, 2001). Pengetahuan dalam penelitian ini diperoleh

melalui pernyataan-pernyataan yang diajukan terkait hal yang wajib

diketahui oleh pekerja terkait APD meliputi pengertian, kegunaan, akibat

jika tidak menggunakan sesuai ketentuan yang berlaku, waktu penggunaan,

jenis-jenis, ketentuan pemakaian yang benar, ketentuan kepemilikan, dan

sebagainya. Pengetahuan diduga sebagai salah satu faktor yang dapat

berhubungan dengan kepatuhan terhadap penggunaan APD. Perilaku yang

didasari atas pengetahuan yang cukup akan bersifat lama daripada tanpa

didasari pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja di proyek konstruksi

MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016 memiliki

pengetahuan yang hampir seimbang antara yang tinggi maupun rendah.

Pekerja yang memiliki pengetahuan tinggi yaitu sebanyak 28 orang (51%)

memiliki jumlah yang lebih banyak meskipun hanya selisih satu responden

dari pekerja yang memiliki pengetahuan rendah.


92

Pengetahuan juga diketahui berhubungan dengan kepatuhan terhadap

penggunaan APD. Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh

Gurning (2014) dimana didapatkan hasil bahwa pengetahuan terbukti

berhubungan signifikan dengan perilaku penggunaan APD pada pekerja

konstruksi di proyek pembangunan Ruko Cikarang Central City.

Selain itu, pengetahuan terbukti sebagai variabel perancu. Hal ini

dikarenakan pengetahuan tidak saja mempengaruhi persepsi seseorang,

namun dapat juga mempengaruhi perilaku seseorang. Oleh karena itu,

keberadaannya sangat mempengaruhi hubungan antara persepsi dan

perilaku. Hal ini didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Rosenstock

(1974) dalam Bart (1994) dimana persepsi yang dimiliki seseorang

terbentuk dari faktor pengetahuan yang dimilikinya. Sedangkan

pengetahuan juga terlibat dalam perilaku yang dimiliki seseorang. Hal ini

sesuai dengan teori Green dalam Notoatmodjo (2005) yang menyatakan

bahwa pengetahuan merupakan salah satu faktor berpengaruh yang

mendorong atau menghambat individu untuk berperilaku. Dari penjelasan

tersebut, dapat dikatakan bahwa pengetahuan dapat mempengaruhi kedua

variabel tersebut.

Jika dilihat dari hasil uji keeratan hubungan, dapat diketahui bahwa

pekerja yang memiliki pengetahuan rendah mempunyai peluang 5,402 kali

untuk kurang patuh dalam menggunakan APD daripada pekerja yang

berpengetahuan tinggi. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin rendah

pengetahuan pekerja maka akan semakin kurang patuh pekerja terhadap

penggunaan APD.
93

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pekerja yang kurang patuh

terhadap penggunaan APD lebih banyak merupakan pekerja yang memiliki

pengetahuan rendah yaitu sebanyak 19 orang (70,4%). Luas atau sempitnya

pengetahuan pekerja di proyek konstruksi MRT Jakarta mempengaruhi

kepatuhannya terhadap penggunaan APD. Hal ini selaras dengan pendapat

yang dikemukakan oleh Adenan (1986) dalam buku Widayatun (1999)

bahwa semakin luas pengetahuan seseorang maka semakin positif perilaku

yang dilakukan. Perilaku positif mempengaruhi jumlah informasi yang

dimiliki seseorang sebagai hasil proses penginderaan terhadap suatu hal.

Selain itu, perilaku mempengaruhi domain kognitif seseorang dalam hal

mengingat, memahami, dan mengaplikasikan informasi yang dimiliki. Juga

berpengaruh dalam proses analisis, sintesis, dan evaluasi suatu hal yang

diterima oleh rangsangan stimulus.

Dalam penelitian ini pekerja memiliki pengetahuan yang seimbang

antara yang tinggi dengan yang rendah. Walaupun lebih banyak pekerja

yang memiliki pengetahuan yang tinggi, namun pekerja memiliki

pengetahuan yang rendah dan kurang patuh terhadap penggunaan APD juga

cukup banyak.

Oleh sebab itu, perlu dilakukan pelatihan pada pekerja untuk

meningkatkan dan memperkuat pengetahuan yang telah dimiliki. Sesuai

dengan teori Mangkuprawira (2004) bahwa pelatihan bagi pekerja

merupakan sebuah proses mengajarkan pengetahuan dan keahlian tertentu

serta sikap agar pekerja semakin terampil dan mampu melaksanakan

tanggung jawabnya dengan semakin baik, sesuai dengan standar. Pelatihan


94

APD dapat dilakukan pada saat kegiatan yang telah dibuat oleh Tokyu

Wika Joint Operation seperti safety morning talk dimana semua pekerja

wajib mengikuti dan berkumpul bersama. Pelatihan dapat dilaksanakan

dengan melakukan sosialisasi terkait prosedur APD dan pelaksanaan

program APD yang benar yang dibuat menjadi beberapa sesi pertemuan

yang dilakukan secara berkala. Hal ini dimaksudkan agar pekerja

memahami maksud dari tujuan diadakannya pelatihan dan tidak mudah lupa

karena penyampaian materi dilakukan sedikit demi sedikit dan secara

kontinu.
BAB VII

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 55 pekerja di proyek

konstruksi MRT Jakarta Tokyu Wika Joint Operation tahun 2016 dapat

disimpulkan bahwa:

1. Pekerja yang kurang patuh dalam menggunakan APD berjumlah 27 pekerja

(49%).

2. Pekerja yang memiliki persepsi risiko kurang baik berjumlah 25 pekerja

(45,5%), persepsi terhadap APD yang kurang baik berjumlah 29 pekerja

(52,7%), dan toleransi risiko yang tinggi berjumlah 26 pekerja (47,3%).

3. Rata-rata pekerja berusia 33 tahun dan memiliki masa kerja 9 tahun. Selain

itu, pekerja berpendidikan rendah (SD dan SMP) berjumlah 42 pekerja

(76,4%) dan berpengetahuan rendah terkait APD berjumlah 27 pekerja

(49%).

4. Dari ketiga variabel independen, diketahui hanya persepsi risiko yang

memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan terhadap penggunaan

APD.

5. Dari keempat faktor internal, diketahui hanya pengetahuan yang memiliki

hubungan dengan kepatuhan terhadap penggunaan APD.

95
96

6. Hubungan antara persepsi risiko dengan kepatuhan terhadap penggunaan

APD dipengaruhi oleh variabel pengetahuan.

B. Saran

Berdasarkan hasil, pembahasan, dan kesimpulan penelitian di atas, maka

penulis mencoba memberikan saran atau masukan sebagai bahan pertimbangan

perbaikan penelitian mengenai kepatuhan terhadap penggunaan APD ke

depannya yaitu:

1. Bagi Tokyu Wika Joint Operation

a. Mempertegas peraturan dengan diberlakukannya reward dan punishment

terhadap pekerja.

b. Melakukan sosialisasi terkait APD dengan cara yang menarik dan bahasa

yang mudah dipahami.

c. Mengadakan pelatihan yang diadakan semenarik mungkin dan lebih

menggali pengetahuan, wawasan, dan menumbuhkan rasa ingin tahu para

pekerja tentang keberadaan dan fungsi masing-masing APD secara lebih

detail.

d. Melakukan pengawasan yang rutin, konsisten, dan terstruktur terkait

APD.

2. Bagi Pekerja Proyek Konstruksi MRT Jakarta

a. Menggunakan dan menjaga perlengkapan keselamatan kerja dengan

lengkap dan benar, menaati peraturan dan prosedur yang berlaku, bekerja

sesuai dengan tanggung jawabnya, khususnya mengenai APD.


97

b. Saling mengingatkan antar pekerja apabila ada yang terlihat tidak

mematuhi peraturan keselamatan dan kesehatan kerja, khususnya

mengenai APD.

c. Berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan pelatihan yang diselenggarakan

perusahaan.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

a. Peneliti selanjutnya diharapkan mengikutsertakan variabel-variabel lain

yang diduga berhubungan dengan kepatuhan penggunaan APD yang tidak

dapat diteliti pada penelitian ini.


DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Z. (2012). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


Arikunto, S. (2011). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Azhari, A. (2004). Psikologi Umum dan Perk embangan. Jakarta: PT Mizan Publika.
Bart, S. (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Bastable, S. B. (2002). Perawat sebagai Pendidik: Prinsip-Prinsip Pengajaran dan
Pembelajaran. Jakarta: EGC.
BPJS Ketenagakerjaan. (2016). “Jumlah Kecelakaan Kerja di Indonesia Masih Tinggi”,
[online] (http://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/berita/5769/Jumlah-kecelakaan-kerja-
di-Indonesia-masih-tinggi.html diakses pada tanggal 1 Maret 2016).
Bock, M., dkk. (2003). Contact Dermatitis and Allergy Occupational Skin Diseases in The
Construction Industry. British Journal of Dermatology.
Borman, W. C., & Motowidlo, S. J. (1993). Expanding The Criterion Domain to Include
Elements Of Extra-role Performance. New Jersey: Prentice-Hall.
Botterill, L., & Mazur, N. (2004). Risk and Risk Perception: A Literature
Review. Kingstrom, ACT: Australian Government Rural Industries Research and
Development Corporation.
Dahlawy, A. D. (2008). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) di Area Pengolahan PT Antam Tbk, Unit Bisnis Pertambangan
Emas Pongkor Kabupaten Bogor 2008. Jakarta: Skipsi S1 Jurusan Kesehatan
Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: dipublikasikan.
Danim, S. (2007). Metode Penelitian untuk Ilmu-Ilmu Perilaku. Jakarta: Bumi Aksara.
Di lorio, C. K. (2005). Measurement in Health Behavior : Methods for Research and
Education. USA: Jossey-Bass.
Faizah, N. (2013). Faktor-Faktor Determinan yang Berhubungan dengan Perilaku
Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Pekerja di Tehcnical Service
Departement PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. Unit Plant Site Cirebon Tahun
2013. Depok: Skripsi Program Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia:
dipublikasikan
Geller, E. S. (2001). The Physcology Of Safety Handbook. New York: Lewis Publisher.
Boca Raton London.

xix
Gunawan, D. F. A. (2013). Safety Leadership: Building an Excellent Operation. Jakarta:
Dian Rakyat.
Gurning, O. S. (2014). Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Penggunaan
Alat Pelindung Diri (APD) pada Pekerja Konstruksi di Proyek Pembangunan Ruko
Cikarang Central City Tahun 2014. Depok: Skripsi Program Sarjana Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia: tidak dipublikasikan
Hassan, C. R. C., dkk. (2013). Perception of Building Construction Workers Towards
Safety, Health And Environment. Malaysia: Journal of Engineering Science and
Technology.
Handoko, T. H. (2000). Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Yogyakarta:
BPFE.
Herijulianti, Eliza, dkk. 2001. Pendidikan Kesehatan Gigi. Jakarta: EGC.
Hidayah, N., dkk. (2015). Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Memakai
Alat Pelindung Telinga pada Tenaga Kerja Bagian Produksi Di PT. Total Dwi Daya
Semarang Tahun 2014. Semarang: Unnes Journal Of Public Health.
Hunter, D. R. (2006). Risk Perception Among General Aviation Pilots. Vienna:
International Journal of Aviation Psychology.
ILO. (1998). Encyclopedia of Occupational Health and Safety. Geneva.
Switzerland:International Labour Organization.
Jamil, A. (2015). Karyawan Tewas Tertimbun Galian, Proyek Jembatan Muarasari Distop.
[Online] (http://www.indopos.co.id/2015/09/karyawan-tewas-tertimbun-galian-
proyek-jembatan-muarasari-distop.html diakses pada tanggal 20 Mei 2016).
Lapau, B. (2013). Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Lemeshow, S., Hosmer, D. W., Klar, J., Lwanga, S. K., & World Health Organization.
(1990). Adequacy of Sample Size in Heath Studies. New York: John Wiley & Sons.
Liswanti, Y., dkk. (2014). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan
Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Serta Kaitannya Terhadap Status Kesehatan
pada Petugas Pengumpul Sampah Rumah Tangga di Kota.
Madyanti, D. R. (2012). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Alat Pelindung
Diri (APD) Pada Bidan Saat Melakukan Pertolongan Persalinan di RSUD Bengkalis
Tahun 2012. Depok: Sripsi S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia:
dipublikasikan.

xx
Mangkuprawira, S. (2004). Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Margono. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Maulana, H. D. J. (2009). Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC.
Muntiana, K. (2014). Hubungan Persepsi Karyawan terhadap Penerapan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) dengan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Jalur 3
Dan 4 PT Wijaya Karya Beton Boyolali Tbk. Surakarta: Artikel ilmiah S1 Universitas
Muhammadiyah Surakarta: dipublikasikan.
National Safety Council. (2014). Risk Perception: Theories, Strategies And Next Steps.
Amerika: Campbell Institute National Safety Council.
Niven, N. (2002. Psikologi Kesehatan Keperawatan Pengantar untuk Perawat dan
Profesional Kesehatan Lain. Jakarta: EGC.
Notoatmodjo, S. (2003). Pengantar Pendidikan Kesehatan & Ilmu Perilaku Kesehatan.
Yogyakarta: Andi Offset.
Notoatmodjo, S. (2005). Promosi Kesehatan: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2009). Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2010). Promosi Kesehatan: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.
Nugroho, S. A. (2015). Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan dalam Penggunaan
Alat Pelindung Diri (APD) pada Pekerja Proyek Konstruksi (Studi di Proyek
Konstruksi Pembangunan Apartemen One East Residence PT. Tatamulia Nusantara
Indah). Surabaya: Skripsi S1 Universitas Airlangga: tidak dipublikasikan.
Nurcahyanti, K. K. A. (2014) Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Bidan
dalam Penggunaan APD dalam Melakukan APN di Puskesmas Sumbang Kabupaten
Banyumas Tahun 2014. Ungaran: Program Studi DIV Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Ngudi Waluyo Ungaran: dipublikasikan.
Kerlinger, F. N. (2006). Asas-Asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
KBBI. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online. [Online] Badan Pengembangan
dan Pembinaan Bahasa. (http://kbbi.web.id/ diakses pada tanggal 20 Juni 2016).
Kusuma, R. Y. (2013). Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap, dan Kenyamanan Dengan
Penggunaan Alat Pelindung Wajah Pada Pekerja Las Listrik Kawasan Simongan

xxi
Semarang. Semarang: Sripsi S1 Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri
Semarang: dipublikasikan.
Occupational Safety and Health Administration (OSHA). (2007). Personal Protective
Equipment (PPE). U.S: U.S. Department of Labor.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per.01/Men/1980 tentang
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada Konstruksi Bangunan.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 01/Men/1981 tentang kewajiban
melapor Penyakit Akibat Kerja.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia No. Per 8/MEN/VII/2010 tentang Alat
Pelindung Diri.
PoskotaNews.com. (2016). Sektor Konstruksi Rajai Kecelakaan Kerja di DKI. [Online]
(http://poskotanews.com/2016/01/19/sektor-konstruksi-rajai-kecelakaan-kerja-di-dki/
diakses pada tanggal 28 April 2016).
Rahadi, F. D., dkk. (2013). Hubungan Antara Persepsi Lingkungan Kerja Fisik dengan
Perilaku Keselamatan Karyawan. Kalimantan Selatan: Jurnal Ecopsy.
Ratnaningsih, S. (2010). Hubungan Umur, Masa Kerja, Pengetahuan dan Sikap Pekerja
dengan Praktik Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) Di PT. X Semarang (Studi
Proyek Pembangunan Rumah Sakit Pendidikan). Semarang: Skripsi S1 Universitas
Diponegoro: tidak dipublikasikan.
Ridho, M. (2012). Hubungan Persepsi Risiko Keselamatan Berkendara dengan Perilaku
Pemakaian Helm pada Mahasiswa Universitas Indonesia Depok Tahun 2012. Depok:
Sripsi S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia: dipublikasikan.
Riyanto, A. (2009). Penerapan Analisis Multivariat dalam Penelitian Kesehatan. Bandung:
Nifta Media Press.
Robbins, P. S. (1996). Perilaku Organisasi: Konsep, Kontroversi, Aplikasi (Edisi Bahasa
Indonesia). Jakarta: PT Prehallindo.
Roughton, J. E. (2002). Developing an effective safety culture : a leadership approach.
USA: Butterworth Heinemann.
Ruhyandi & Candra, E. (2008). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku
Kepatuhan Penggunaan APD Pada Karyawan Bagian Press Shop Di PT. Almasindo II
Kabupaten Bandung Barat Tahun 2008. Bandung: Jurnal Kesehatan Kartika Stikes A.
Yani.

xxii
Salihat, K., & Kurniawidjaja, L. M. (2010). Persepsi Risiko Berkendara dan Perilaku
Penggunaan Sabuk Keselamatan di Kampus Universitas Indonesia. Depok: Jurnal
Kesehatan Masyarakat Nasional.
Sari, R. E. (2014). Kepatuhan Peraturan Keselamatan Kerja Sebagai Mediator Pengaruh
Iklim Keselamatan Kerja terhadap Kecenderungan Mengalami Kecelakaan
Kerja. Yogyakarta: Jurnal Psikologi MANDIRI.
Sarwono, S. W. (1999). Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sarwono, S. W. (2012). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers
Sastrohadiwiryo, S. (2005). Manajemen Tenaga Kerja Indonesia: Pendekatan Administratif
dan Operasional. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Saputri, I. A. D., & Paskarini, I. (2014). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan
Kepatuhan Penggunaan APD Pada Pekerja Kerangka Bangunan (Proyek Hotel
Mercure Grand Mirama Extention Di PT. Jagat Konstruksi Abdipersada). Surabaya:
The Indonesian Journal Of Occupational Safety, Health And Environment.
Shomad, A. C., & Purnomosidhi, B. (2013). Pengaruh Kepercayaan, Persepsi Kegunaan,
Persepsi Kemudahan, Dan Persepsi Risiko Terhadap Perilaku Penggunaan E-
Commerce. Malang: Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Universitas Brawijaya.
Siagian, S. P. 1987. Teori dan Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta : Bina Aksara.
Sialagan, T. R. (2008). Analisis Faktor-Faktor yang Berkontribusi pada Perilaku Aman di
PT EGS Indonesia Tahun 2008. Depok : Tesis Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia: dipublikasikan.
Sjoberg, L., dkk. (2004). Explaining Risk Perception: An Evaluation Of The Psychometric
Paradigm In Risk Perception Research. Norwegian: Norwegian University of Science
and Technology, Department of Psychology.
Sobur, Alex. (2009). Psikologi Umum. CV Pustaka Setia: Bandung.
Suma‟mur, P.K. (1996) Hygiene Perusahaan & Keselamatan Kerja. Jakarta: Gunung
Agung.
Supiana, N. (2013). Hubungan Predisposing, Enabling, dan Reinforcing Faktor dengan
Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Bidan dalam Pelayanan Kebidanan Di
Rumah Sakit KIA Sadewa Yogyakarta Tahun 2013. Yogyakarta: Artikel ilmiah DIV
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan „Aisyiyah Yogyakarta: dipublikasikan.

xxiii
Syaaf, M. (2008). Analisis Perilaku Berisiko pada Pekerja Unit Usaha Las Sektor Informal
di Kota X. Depok: Skripsi S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia:
dipublikasikan.
Tarwaka. (2008). Keselamatan dan Kesehatan Kerja: Manajemen dan Implementasi K3 di
Tempat Kerja. Surakarta : Harapan Press.
Tinarbuko, S. (2012). Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta: Jalasutra.
Tokyu Wika Joint Operation. (2015). TWJO-PLN-0003-F11-revA Incident Notification.
Tokyu Wika Joint Operation. (2013). TWJO-SOP-0034-revA Personal Protective
Equipment.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional
Waidi. (2006). The Art of Re-engineering Your Mind for Success. Jakarta: PT Elex Media
Komputindo.
Walifah, E. (2010). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan APD Pada
Pekerja di Dapur Unit Gizi RSPAD Gatot Soebroto Depkes Tahun 2010.
Wibowo, A. (2010). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Penggunaan Alat
Pelindung Diri di Areal Pertambangan PT. Antam Tbk. Unit Bisnis Pertambangan
Emas Pongkor Kabupaten Bogor Tahun 2010. Jakarta: Skripsi Program Sarjana
Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah.
Widayatun, R. T. (1999). Ilmu Perilaku M.A. 104 ”Buku Pegangan Mahasiswa AKPER”.
Jakarta: CV. Sagung Seto.
Widjajahakim, R. (2001). Insiden dan Pola Penyebab Dermatitis Kontak Alergik Akibat
Kerja pada Pekerja Konstruksi Bangunan di Kodya Semarang. Semarang: Thesis
Program Studi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro: dipublikasikan.
Widyaningsih. (2012). Hubungan Faktor Predisposisi dengan Implementasi Pemakaian
Alat Pelindung Diri pada Tenaga Kerja di PT. Suwastama Pabelan Kartasura.
Surakarta: Skripsi Program Dipoma IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret: dipublikasikan.
Wijanarko, B. (2013). Teknik Dasar Pengerjaan Non Logam. Jakarta: Kementerian
Pendidikan & Kebudayaan.LAMPIRAN

xxiv
Winata, T. O. (2011). Pekerja Bangunan Tewas Jatuh dari Lantai 15. [Online]
(http://berita.lipusstan6.com/daerah/201105/335770/pekerja_bangunan_tewas_jatuh_d
ari_lantai_15 diakses pada tanggal 5 Mei 2016).
Wirahadikusumah, R. D. (2007). Tantangan Masalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja
pada Proyek Konstruksi di Indonesia. [Online]
(http://www.ftsl.itb.ac.id/kk/manajemen_dan_rekayasa_konstruksi/wp-
content/uploads/2007/05./makalah-reini-d-wirahadikusumah.pdf diakses pada tanggal
1 Januari 2017).
Yulianto, S. (2006). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Operator
Dalam Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) Di PT. Astra Daihatsu Motor
Casting Plant, Karawang Tahun 2006. Makassar: Tesis Program PascaSarjana
Universitas Hasanuddin: dipublikasikan.

xxv
7 Lampiran

xxvi
KUESIONER

HUBUNGAN PERSEPSI DAN TOLERANSI RISIKO PEKERJA DENGAN


KEPATUHAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) DI PROYEK
KONSTRUKSI MASS TRANSIT RAPID (MRT) JAKARTA TOKYU WIKA
JOINT OPERATION

PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN

Assalamu‟alaikum Wr.Wb.

Dalam rangka menyelesaikan penelitian dengan judul “Hubungan Persepsi dan


Toleransi Risiko Pekerja dengan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di
Proyek Konstruksi Mass Transit Rapid (MRT) Jakarta Tokyu Wika Joint Operation”,
maka peneliti memohon kesediaan pekerja untuk menjawab pertanyaan/kuesioner
yang telah disediakan oleh penelitian.

Demi kelancaran pengisian kuesioner, maka peneliti akan menjamin kerahasiaan


setiap data yang pekerja isikan pada kuesioner ini. Apabila ada hal-hal yang tidak
berkenan, maka responden berhak mengajukan pengunduran diri dari kegiatan
penelitian ini.

Dalam kesempatan ini, peneliti mengucapkan terima kasih kepada pekerja atas
kerja samanya. Semoga penelitian ini bermanfaat.

Jakarta, Oktober 2016

Responden, Peneliti,

(…………………………………………) (Elsya Ristia)


KUESIONER

HUBUNGAN PERSEPSI DAN TOLERANSI RISIKO PEKERJA DENGAN


KEPATUHAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) DI PROYEK
KONSTRUKSI MASS TRANSIT RAPID (MRT) JAKARTA TOKYU WIKA
JOINT OPERATION
 Bacalah setiap pertanyaan dan setiap pilihan jawaban dengan seksama

 Isilah setiap pertanyaan sesuai dengan kondisi anda saat ini dengan jujur pada kolom
jawaban yang tersedia
 Beri tanda silang (X) pada jawaban yang anda pilih pada kolom jawaban yang
tersedia
A. Identitas pekerja (responden)
A1 No. responden : (diisi peneliti)
A2 Nama :
A3 No. handphone :
A4 Tanggal lahir :
A5 Pendidikan terakhir :
A6 Tahun mulai bekerja di konstruksi (MRT maupun proyek konstruksi sebelumnya):
B. Persepsi Risiko
No. Pernyataan Sangat Tidak Setuju Sangat Diisi
tidak setuju setuju Peneliti
setuju
B1 Menurut saya, kecelakaan kerja tidak 1 2 3 4 B1[ ]
merugikan orang lain
B2 Menurut saya, aman jika ada dua proses kerja 1 2 3 4 B2[ ]
dilakukan di tempat yang berdekatan
B3 Menurut saya, aman jika kita memakai 1 2 3 4 B3[ ]
rangkaian peranca/scaffold yang belum
diinspeksi sebelumnya
B4 Menurut saya, aman berjalan di bawah area 1 2 3 4 B4[ ]
yang sedang melakukan pekerjaan di
ketinggian
B5 Menurut saya, aman jika tetap bekerja di 1 2 3 4 B5[ ]
ketinggian saat angina kencang dan gerimis
No. Pernyataan Sangat Tidak Setuju Sangat Diisi
tidak setuju setuju Peneliti
setuju
B6 Menurut saya, tidak masalah meletakkan alat 1 2 3 4 B6[ ]
kerja dimana saja selama masih jam kerja
walaupun sudah selesai digunakan
B7 Menurut saya, tidak hati-hati menggunakan 1 2 3 4 B7[ ]
mesin dapat terkena aliran listrik
B8 Menurut saya, kabel listrik yang terkelupas 1 2 3 4 B8[ ]
dapat menyebabkan konsleting sampai
kebakaran
B9 Menurut saya, getaran pada mesin yang 1 2 3 4 B9[ ]
digunakan dapat mengakibatkan sakit pada
otot persendian
B10 Menurut saya, debu semen atau bahan 1 2 3 4 B10[ ]
bangunan dapat mengakibatkan gangguan
pernapasan
B11 Menurut saya, suhu di tempat kerja yang panas 1 2 3 4 B11[ ]
mengakibatkan cepat merasa lelah
B12 Menurut saya, kebisingan yang terdengar saat 1 2 3 4 B12[ ]
bekerja membuat saya cepat pusing dan cepat
marah
B13 Menurut saya, kebisingan dari mesin 1 2 3 4 B13[ ]
mengganggu konsentrasi dalam bekerja
B14 Menurut saya, tidak berkonsentrasi saat 1 2 3 4 B14[ ]
bekerja di ketinggian dapat mengakibatkan
terjatuh
B15 Menurut saya, area galian harus diberi pagar 1 2 3 4 B15[ ]
pengaman agar pekerja tidak terperosok ke
dalam lubang
No. Pernyataan Sangat Tidak Setuju Sangat Diisi
tidak setuju setuju Peneliti
setuju
B16 Menurut saya, keadaan tempat kerja yang licin 1 2 3 4 B16[ ]
dan becek dapat mengakibatkan terpeleset dan
terjatuh
C. Persepsi Terhadap APD
C1 APD yang disediakan penting untuk dipakai 1 2 3 4 C1 [ ]
C2 APD yang disediakan sudah lengkap sesuai 1 2 3 4 C2 [ ]
keperluan pekerjaan
C3 APD yang saya gunakan melindungi saya dari 1 2 3 4 C3 [ ]
penyakit akibat kerja
C4 APD yang saya gunakan melindungi saya dari 1 2 3 4 C4 [ ]
kecelakaan kerja
C5 APD yang saya gunakan membuat saya terlihat 1 2 3 4 C5 [ ]
menarik
C6 APD yang saya gunakan membuat saya 1 2 3 4 C6 [ ]
menjadi contoh atau teladan bagi teman kerja
C7 APD yang saya gunakan membatasi kebebasan 1 2 3 4 C7 [ ]
saya dalam bekerja
C8 APD yang digunakan membuat saya kegerahan 1 2 3 4 C8 [ ]
C9 APD yang saya gunakan merepotkan 1 2 3 4 C9 [ ]
C10 APD jenis helm membuat saya pusing 1 2 3 4 C10 [ ]
C11 APD yang saya gunakan berat 1 2 3 4 C12 [ ]
D. Toleransi Risiko
D1 Saat berada di area konstruksi, kejatuhan benda 1 2 3 4 D1 [ ]
dari atas merupakan suatu hal yang wajar

D2 Saat berada di area konstruksi, terkena alat 1 2 3 4 D2 [ ]


kerja merupakan suatu hal yang wajar
No. Pernyataan Sangat Tidak Setuju Sangat Diisi
tidak setuju setuju Peneliti
setuju
D3 Saat berada di area konstruksi, terkena paku 1 2 3 4 D3 [ ]
merupakan suatu hal yang wajar

D4 Saat berada di area konstruksi, terkena debu 1 2 3 4 D4 [ ]


merupakan suatu hal yang wajar

D5 Saat berada di area konstruksi, menghirup bau 1 2 3 4 D5 [ ]


gas merupakan suatu hal yang wajar

D6 Saat berada di area konstruksi, tersetrum 1 2 3 4 D6 [ ]


merupakan suatu hal yang wajar

D7 Saat berada di area konstruksi, terkena 1 2 3 4 D7 [ ]


serangan hewan merupakan suatu hal yang
wajar

D8 Saat berada di area konstruksi, terkena limbah 1 2 3 4 D8 [ ]


semen merupakan suatu hal yang wajar

D9 Saat berada di area konstruksi, terpeleset di 1 2 3 4 D9 [ ]


area galian merupakan suatu hal yang wajar

D10 Saat berada di area galian, tertimbun tanah 1 2 3 4 D10 [ ]


merupakan suatu hal yang wajar

D11 Terdapat air yang menggenang / area kerja 1 2 3 4 D11 [ ]


becek merupakan suatu hal yang wajar

D12 Terjadi tanah longsor di area kerja merupakan 1 2 3 4 D12 [ ]


suatu hal yang wajar

D13 Terjadi keruntuhan pada sebagian bangunan 1 2 3 4 D13 [ ]


merupakan suatu hal yang wajar
No. Pernyataan Sangat Tidak Setuju Sangat Diisi
tidak setuju setuju Peneliti
setuju
D14 Bekerja lebih dari 8 jam sehari merupakan 1 2 3 4 D14[ ]
suatu hal yang wajar

D15 Saat sedang bekerja, terkena pecahan batu 1 2 3 4 D15[ ]


merupakan suatu hal yang wajar

D16 Saat sedang bekerja, terkena paku merupakan 1 2 3 4 D16[ ]


suatu hal yang wajar

D17 Saat sedang bekerja, terjepit alat kerja 1 2 3 4 D17[ ]


merupakan suatu hal yang wajar

D18 Saat sedang bekerja, tangan lecet merupakan 1 2 3 4 D18[ ]


suatu hal yang wajar

D19 Saat sedang bekerja, terjatuh dari alat berat 1 2 3 4 D19[ ]


merupakan suatu hal yang wajar

D20 Saat sedang bekerja, terjatuh dari ketinggian 1 2 3 4 D20[ ]


kurang dari 2 m merupakan suatu hal yang
wajar

D21 Saat menggunakan daya listrik, tersetrum 1 2 3 4 D21[ ]


merupakan suatu hal yang wajar

D22 Saat sedang melakukan pengelasan, terkena 1 2 3 4 E22[ ]


percikan api merupakan suatu hal yang wajar

D23 Saat sedang melakukan pengelasan, terkena 1 2 3 4 E23[ ]


cahaya terang merupakan suatu hal yang wajar

E. Perilaku Penggunaan APD


E1 Saya memakai APD selama berada di area proyek 1 2 E1[ ]
E2 Helm merupakan APD yang wajib saya pakai setiap hari 1 2 E2[ ]
E3 Saya memakai helm berwarna apa saja 1 2 E3[ ]
No. Pernyataan Ya Tidak Diisi
peneliti
E4 Saat bekerja di rangkaian besi saya diperbolehkan untuk tidak 1 2 E4[ ]
memakai helm
E5 Tidak setiap hari saya menggunakan baju berlengan panjang dan 1 2 E5[ ]
bercelana panjang saat bekerja
E6 Rompi merupakan APD yang wajib saya pakai setiap hari 1 2 E6[ ]
E7 Safety shoes merupakan APD yang wajib saya pakai setiap hari 1 2 E7[ ]
E8 Sepatu yang saya gunakan harus tertutup dan berujung besi 1 2 E8[ ]
F. Pengetahuan
F1 APD adalah alat pelindung yang sewaktu-waktu dapat dipakai 1 2 F1 [ ]

F2 APD adalah alat yang dipakai selama jam kerja untuk melindungi 1 2 F2 [ ]
diri dari hal-hal yang tidak diinginkan

F3 APD adalah alat pelindung yang dipakai setelah mengalami 1 2 F3 [ ]


kecelakaan supaya cidera tidak menjadi parah

F4 APD berguna untuk menjaga keselamatan pada saat bekerja 1 2 F4 [ ]

F5 APD berguna untuk menjaga kesehatan pada saat bekerja 1 2 F5 [ ]

F6 APD berguna untuk mengurangi dampak kecelakaan pada saat 1 2 F6 [ ]


bekerja

F7 APD digunakan sebelum mulai bekerja 1 2 F7 [ ]

F8 APD digunakan saat berada di area kerja 1 2 F8 [ ]

F9 APD digunakan bila terjadi kecelakaan kerja 1 2 F9 [ ]

F10 APD yang digunakan harus selalu dibersihkan dengan baik 1 2 F10 [ ]

F11 Perusahaan bertanggung jawab terhadap perawatan APD 1 2 F11 [ ]

F12 Setiap pekerja bertanggung jawab terhadap perawatan APD 1 2 F12 [ ]

F13 APD yang rusak harus segera dibuang 1 2 F13 [ ]


No. Pernyataan Ya Tidak Diisi
peneliti
F14 APD yang rusak harus segera ditukarkan pada pihak SHE 1 2 F14 [ ]

F15 APD sekali pakai dapat digunakan kembali apabila masih dalam 1 2 F15 [ ]
keadaan tidak terlalu kotor dan hanya sebentar dipakai

F16 Fungsi dari alat pelindung kepala untuk melindungi dari benturan 1 2 F16 [ ]

F17 Fungsi dari alat pelindung kepala untuk melindungi dari kejatuhan 1 2 F17 [ ]
atau terpukul benda tajam

F18 Fungsi dari alat pelindung kepala untuk melindungi dari suhu yang 1 2 F18 [ ]
panas atau dingin

F19 Fungsi dari alat pelindung kepala untuk melindungi dari panas dan 1 2 F19 [ ]
percikan api

F20 Fungsi dari alat pelindung kepala untuk melindungi dari bahan- 1 2 F20 [ ]
bahan kimia dan binatang berukuran kecil

F21 Pelindung kepala tidak perlu dipakai saat sedang istirahat di area 1 2 F21 [ ]
kerja

F22 Tali pengait helm (chin strip) hanya dipakai apabila pekerja bekerja 1 2 F22 [ ]
di ketinggian atau di galian

F23 Fungsi dari alat pelindung mata dan muka untuk melindungi dari 1 2 F23 [ ]
bahan kimia, benda berukuran kecil yang melayang di udara dan di
air

F24 Fungsi dari alat pelindung mata dan muka untuk melindungi dari 1 2 F24 [ ]
percikan benda-benda kecil, panas, radiasi, dan pancaran cahaya

F25 Fungsi dari alat pelindung mata dan muka untuk melindungi dari 1 2 F25 [ ]
benturan atau pukulan benda keras atau tajam
No. Pernyataan Ya Tidak Diisi
peneliti
F26 Fungsi dari alat pelindung telinga untuk melindungi alat 1 2 F26 [ ]
pendengaran terhadap kebisingan atau tekanan

F27 Fungsi dari alat pelindung pernapasan untuk menyalurkan udara 1 2 F27 [ ]
bersih

F28 Fungsi dari alat pelindung pernapasan untuk menyaring bahan kimia 1 2 F28[ ]
berbahaya

F29 Fungsi dari alat pelindung pernapasan untuk menyaring kuman 1 2 F29 [ ]

F30 Fungsi dari alat pelindung pernapasan untuk menyaring debu 1 2 F30 [ ]

F31 Fungsi dari alat pelindung pernapasan untuk menyaring gas 1 2 F31 [ ]

F32 Fungsi dari alat pelindung pernapasan untuk menyaring asap 1 2 F32 [ ]

F33 Fungsi dari alat pelindung tangan agar tangan tidak tergores 1 2 F33 [ ]

F34 Fungsi dari alat pelindung tangan agar tangan tidak terinfeksi zat 1 2 F34 [ ]
penyebab penyakit (virus, bakteri, dll)

F35 Fungsi dari alat pelindung tangan untuk melindungi dari bahan kimia 1 2 F35 [ ]

F36 Fungsi dari alat pelindung tangan untuk melindungi dari arus listrik 1 2 F36 [ ]

F37 Fungsi dari alat pelindung tangan untuk melindungi dari api 1 2 F37 [ ]

F38 Fungsi dari alat pelindung tangan untuk melindungi dari benturan 1 2 F38 [ ]
dan pukulan

F39 Alat pelindung kaki (safety shoes) hanya harus tertutup dari ujung 1 2 F39 [ ]
kaki hingga bagian telapak dan punggung kaki

F40 Fungsi dari alat pelindung kaki agar kaki tidak tertimpa atau 1 2 F40 [ ]
terbentur benda keras dan berat

F41 Fungsi dari alat pelindung kaki adalah agar kaki tidak tergelincir 1 2 F41 [ ]
No. Pernyataan Ya Tidak Diisi
peneliti
F42 Fungsi dari alat pelindung kaki adalah agar kaki tidak tertusuk benda 1 2 F42 [ ]
tajam

F43 Fungsi dari alat pelindung kaki agar kaki tidak terkena cairan panas 1 2 F43 [ ]
atau dingin dan uap

F44 Fungsi dari alat pelindung kaki untuk melindungi dari suhu yang 1 2 F44 [ ]
ekstrim

F45 Fungsi dari alat pelindung kaki untuk melindungi dari bahan kimia 1 2 F45 [ ]
berbahaya

F46 Fungsi dari alat pelindung kaki untuk melindungi dari makhluk 1 2 F46 [ ]
hidup berukuran sangat kecil

F47 Fungsi dari pakaian pelindung untuk melindungi dari bahaya 1 2 F47 [ ]
temperatur panas atau dingin yang ekstrim dan radiasi

F48 Fungsi dari pakaian pelindung untuk melindungi dari binatang dan 1 2 F48 [ ]
mikro-organisme penyebab penyakit

F49 Fungsi dari pakaian pelindung untuk melindungi dari percikan 1 2 F49 [ ]
bahan-bahan kimia, cairan dan logam panas

F50 Fungsi dari pakaian pelindung agar badan tidak tergores 1 2 F50 [ ]

F51 Fungsi dari alat pelindung jatuh agar pekerja berada pada posisi kerja 1 2 F51 [ ]
aman dalam keadaan miring maupun tergantung

F52 Fungsi dari alat pelindung jatuh untuk menahan serta membatasi 1 2 F52 [ ]
pekerja jatuh sehingga tidak membentur lantai dasar

F53 Alat pelindung jatuh hanya dipakai saat pekerja berada di ketinggian 1 2 F53 [ ]
1,8 m ke atas dari permukaan
Lembar Observasi No. responden

Nama dan pekerjaan :

No. Indikator Kepatuhan terhadap penggunaan APD Pengamatan

1 2 3 4 Keterangan

O1 Pekerja memakai helm dengan benar (saat diketinggian (≥1,8m) atau galian menggunakan chin strip)
O2 Pekerja memakai helm dengan warna kuning atau hijau
O3 Pekerja menggunakan baju berlengan panjang dan bercelana panjang
O4 Pekerja memakai rompi
O5 Pekerja menggunakan safety shoes yang tertutup dan berujung besi
O6 Pekerja memakai APD tambahan sesuai jenis pekerjaan dan bahaya
1. Bekisting = fullbody harness, safety gloves
2. Elektrikal = safety gloves, safety glasses
3. Pembesian = safety gloves, safety glasses
4. Pengelasan = safety gloves, welding safety glasses
5. Pengecoran = safety gloves, masker
Dokumentasi Kepatuhan terhadap Penggunaan APD
OUTPUT ANALISA DATA

1. KEPATUHAN APD
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic df Sig.
total_kepatuhan .124 55 .034 .972 55 .235
Statistics
N Valid 55
Missing 0
Mean 1.49
Median 1.00
Mode 1
Std. Deviation .505
Minimum 1
Maximum 2
Sum 82
kepatuhan_apd
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid kurang patuh 27 49.1 49.1 100.0
Patuh 28 50.9 50.9 50.9
Total 55 100.0 100.0
2. PERSEPSI RISIKO
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.
*
total_persepsi_risiko .090 55 .200 .977 55 .354
Statistics
N Valid 55
Missing 0
Mean 1.45
Median 1.00
Mode 1
Std. Deviation .503
Minimum 1
Maximum 2
Sum 80
persepsi_risiko
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid kurang baik 25 45.5 45.5 100.0
Baik 30 54.5 54.5 54.5
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.
*
total_persepsi_risiko .090 55 .200 .977 55 .354
Statistics
N Valid 55
Missing 0
Mean 1.45
Median 1.00
Mode 1
Std. Deviation .503
Minimum 1
Maximum 2
Sum 80
persepsi_risiko
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid kurang baik 25 45.5 45.5 100.0
Baik 30 54.5 54.5 54.5
Total 55 100.0 100.0
persepsi_risiko * kepatuhan_apd Crosstabulation
kepatuhan_apd
kurang patuh patuh Total
persepsi_risiko kurang baik Count 17 8 25
% within persepsi_risiko 68.0% 32.0% 100.0%
Baik Count 10 20 30
% within persepsi_risiko 33.3% 66.7% 100.0%
Total Count 27 28 55
% within persepsi_risiko 49.1% 50.9% 100.0%
Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value Df sided) sided) sided)
Pearson Chi-Square 6.557a 1 .010
Continuity Correctionb 5.244 1 .022
Likelihood Ratio 6.694 1 .010
Fisher's Exact Test .015 .011
Linear-by-Linear Association 6.438 1 .011
N of Valid Casesb 55
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12.27.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for
persepsi_risiko (baik / kurang 4.250 1.370 13.188
baik)
For cohort kepatuhan_apd =
2.083 1.115 3.892
patuh
For cohort kepatuhan_apd =
.490 .276 .869
kurang patuh
N of Valid Cases 55
3. PERSEPSI APD
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.
*
total_persepsi_apd .077 55 .200 .980 55 .507
Statistics
N Valid 55
Missing 0
Mean 1.53
Median 2.00
Mode 2
Std. Deviation .504
Minimum 1
Maximum 2
Sum 84
persepsi_apd
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid kurang baik 29 52.7 52.7 52.7
Baik 26 47.3 47.3 100
Total 55 100.0 100.0
persepsi_apd * kepatuhan_apd Crosstabulation
kepatuhan_apd
kurang patuh patuh Total
persepsi_apd kurang baik Count 18 11 29
% within persepsi_apd 62.1% 37.9% 100.0%
Baik Count 9 17 26
% within persepsi_apd 34.6% 65.4% 100.0%
Total Count 27 28 55
% within persepsi_apd 49.1% 50.9% 100.0%
Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value Df sided) sided) sided)
Pearson Chi-Square 4.134a 1 .042
Continuity Correctionb 3.109 1 .078
Likelihood Ratio 4.190 1 .041
Fisher's Exact Test .060 .038
Linear-by-Linear Association 4.059 1 .044
N of Valid Casesb 55
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12.76.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for persepsi_apd
3.091 1.026 9.309
(baik / kurang baik)
For cohort kepatuhan_apd =
1.724 1.001 2.967
patuh
For cohort kepatuhan_apd =
.558 .306 1.016
kurang patuh
N of Valid Cases 55

4. TOLERANSI RISIKO
Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.
*
total_toleransirisiko .076 55 .200 .975 55 .298
Statistics
Valid 55
Missing 0
Mean 1.4727
Median 1.0000
Mode 1
Std. Deviation .50386
Minimum 1
Maximum 2
Sum 82
toleransi_risiko
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tinggi 26 47.3 47.3 47.3
Rendah 29 52.7 52.7 100.0
Total 55 100.0 100.0
toleransi_risiko * kepatuhan_apd Crosstabulation
kepatuhan_apd
kurang patuh patuh Total
toleransi_risiko tinggi Count 17 9 26
% within toleransi_risiko 65.4% 34.6% 100.0%
rendah Count 10 19 29
% within toleransi_risiko 34.5% 65.5% 100.0%
Total Count 27 28 55
% within toleransi_risiko 49.1% 50.9% 100.0%
Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value Df sided) sided) sided)
Pearson Chi-Square 5.238a 1 .022
Continuity Correctionb 4.075 1 .044
Likelihood Ratio 5.324 1 .021
Fisher's Exact Test .031 .021
Linear-by-Linear Association 5.143 1 .023
N of Valid Casesb 55
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12.76.
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.
*
total_persepsi_apd .077 55 .200 .980 55 .507
Statistics
N Valid 55
Missing 0
Mean 1.53
Median 2.00
Mode 2
Std. Deviation .504
Minimum 1
Maximum 2
Sum 84
persepsi_apd
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid kurang baik 29 52.7 52.7 52.7
Baik 26 47.3 47.3 100
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for tol_risk2
3.589 1.179 10.924
(rendah / tinggi)
For cohort kepatuhan_apd =
1.893 1.049 3.416
patuh
For cohort kepatuhan_apd =
.527 .297 .937
kurang patuh
N of Valid Cases 55
5. USIA

Descriptives

Statistic Std. Error


Usia Mean 32.53 1.629

95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 29.26


Upper Bound 35.79
5% Trimmed Mean 31.85
Median 30.00
Variance 145.884
Std. Deviation 12.078
Minimum 18
Maximum 64
Range 46
Interquartile Range 21
Skewness .745 .322
Kurtosis -.412 .634
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic df Sig.
usia .167 55 .001 .910 55 .001
a. Lilliefors Significance Correction
NPar Tests
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
Usia 55 32.53 12.078 18 64
kepatuhan_apd 55 1.49 .505 1 2

Ranks
kepatuhan_apd N Mean Rank Sum of Ranks
usia kurang patuh 27 31.67 855.00
Patuh 28 24.46 685.00
Total 55
Test Statisticsa
Usia
Mann-Whitney U 279.000
Wilcoxon W 685.000
Z -1.669
Asymp. Sig. (2-tailed) .095
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
Usia 55 32.53 12.078 18 64
a. Grouping Variable:kepatuhan_apd

6. MASA KERJA

Descriptives

Statistic Std. Error


masa kerja Mean 9.18 1.309

95% Confidence Interval for Lower Bound 6.56


Mean
Upper Bound 11.81
5% Trimmed Mean 8.40
Median 4.00
Variance 94.300
Std. Deviation 9.711
Minimum 1
Maximum 41
Range 40
Interquartile Range 15
Skewness 1.130 .322
Kurtosis .557 .634
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic df Sig.
masa kerja .230 55 .000 .801 55 .000
a. Lilliefors Significance Correction
NPar Tests
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
masa kerja 55 9.18 9.711 1 41
kepatuhan_apd 55 1.49 .505 1 2
Ranks
kepatuhan_apd N Mean Rank Sum of Ranks
masa kerja kurang patuh 27 34.31 926.50
Patuh 28 21.91 613.50
Total 55
Test Statisticsa
masa kerja
Mann-Whitney U 207.500
Wilcoxon W 613.500
Z -2.900
Asymp. Sig. (2-tailed) .004
a. Grouping Variable: kepatuhan_apd
7. PENDIDIKAN

Statistics

N Valid 55

Missing 0
Mean 1.24
Median 1.00
Mode 1
Std. Deviation .429
Sum 68

Pendidikan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid Rendah 42 76.4 76.4 100.0

menengah 13 23.6 23.6 23.6


Total 55 100.0 100.0
pendidikan * kepatuhan_apd Crosstabulation
kepatuhan_apd
kurang patuh patuh Total
pendidikan rendah Count 23 19 42
% within pendidikan 54.8% 45.2% 100.0%
menengah Count 4 9 13
% within pendidikan 30.8% 69.2% 100.0%
Total Count 27 28 55
% within pendidikan 49.1% 50.9% 100.0%
Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value Df sided) sided) sided)
Pearson Chi-Square 2.287a 1 .130
Continuity Correctionb 1.427 1 .232
Likelihood Ratio 2.337 1 .126
Fisher's Exact Test .205 .116
Linear-by-Linear Association 2.245 1 .134
N of Valid Casesb 55
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.38.
b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for pendidikan
2.724 .724 10.250
(menengah / rendah)
For cohort kepatuhan_apd =
1.530 .936 2.503
patuh
For cohort kepatuhan_apd =
.562 .238 1.328
kurang patuh
N of Valid Cases 55
8. PENGETAHUAN
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.
total_pengetahuan .121 55 .044 .973 55 .256
Statistics
N Valid 55
Missing 0
Mean 1.49
Median 1.00
Mode 1
Std. Deviation .505
Minimum 1
Maximum 2
Sum 82
Pengetahuan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Rendah 27 49.1 49.1 100.0
Tinggi 28 50.9 50.9 50.9
Total 55 100.0 100.0
pengetahuan * kepatuhan_apd Crosstabulation
kepatuhan_apd
kurang patuh patuh Total
Pengetahuan rendah Count 19 8 27
% within pengetahuan 70.4% 29.6% 100.0%
Tinggi Count 8 20 28
% within pengetahuan 28.6% 71.4% 100.0%
Total Count 27 28 55
% within pengetahuan 49.1% 50.9% 100.0%

Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value Df sided) sided) sided)
Pearson Chi-Square 9.609a 1 .002
Continuity Correctionb 8.010 1 .005
Likelihood Ratio 9.909 1 .002
Fisher's Exact Test .003 .002
Linear-by-Linear Association 9.435 1 .002
N of Valid Casesb 55
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13.25.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value Lower Upper
Odds Ratio for pengetahuan
5.938 1.854 19.014
(tinggi / rendah)
For cohort kepatuhan_apd =
2.411 1.288 4.512
patuh
For cohort kepatuhan_apd =
.406 .215 .766
kurang patuh
N of Valid Cases 55
9. UJI VARIABEL PERANCU
Variables in the Equation
95.0% C.I.for EXP(B)
B S.E. Wald Df Sig. Exp(B) Lower Upper
a
Step 1 persepsi_risiko 1.121 .742 2.282 1 .131 3.069 .716 13.149
persepsi_apd .609 .821 .550 1 .458 1.838 .368 9.183
toleransi_risiko .817 .826 .978 1 .323 2.263 .449 11.413
Usia -.056 .047 1.374 1 .241 .946 .862 1.038
masa kerja -.005 .058 .008 1 .929 .995 .888 1.114
Pendidikan .255 .891 .082 1 .775 1.290 .225 7.394
Pengetahuan 1.496 .689 4.719 1 .030 4.464 1.157 17.219
Constant -4.584 1.890 5.885 1 .015 .010
Step 2a persepsi_risiko 1.148 .678 2.871 1 .090 3.153 .835 11.903
persepsi_apd .614 .818 .564 1 .453 1.849 .372 9.189
toleransi_risiko .820 .825 .988 1 .320 2.270 .451 11.424
Usia -.059 .031 3.695 1 .055 .943 .888 1.001
Pendidikan .264 .885 .089 1 .766 1.302 .230 7.372
Pengetahuan 1.488 .682 4.755 1 .029 4.429 1.162 16.873
Constant -4.581 1.893 5.858 1 .016 .010
Step 3a persepsi_risiko 1.160 .676 2.942 1 .086 3.190 .848 12.004
persepsi_apd .554 .790 .492 1 .483 1.740 .370 8.183
toleransi_risiko .907 .772 1.383 1 .240 2.478 .546 11.246
Usia -.058 .030 3.659 1 .056 .944 .889 1.001
Pengetahuan 1.528 .671 5.188 1 .023 4.611 1.238 17.176
Constant -4.412 1.796 6.038 1 .014 .012
Step 4a persepsi_risiko 1.198 .669 3.205 1 .073 3.315 .893 12.312
toleransi_risiko 1.160 .689 2.832 1 .092 3.189 .826 12.313
Usia -.054 .030 3.344 1 .067 .947 .893 1.004
Pengetahuan 1.589 .664 5.728 1 .017 4.900 1.333 18.004
Constant -4.254 1.778 5.724 1 .017 .014
Step 5a persepsi_risiko 1.374 .648 4.497 1 .034 3.950 1.110 14.060
Usia -.045 .028 2.546 1 .111 .956 .905 1.010
Pengetahuan 1.714 .643 7.105 1 .008 5.553 1.574 19.587
Constant -3.229 1.596 4.091 1 .043 .040
Step 6a persepsi_risiko 1.329 .625 4.513 1 .034 3.776 1.108 12.861
Pengetahuan 1.687 .622 7.349 1 .007 5.402 1.596 18.292
Constant -4.558 1.417 10.345 1 .001 .010
a. Variable(s) entered on step 1: persepsi_risiko, persepsi_apd, toleransi_risiko, usia, maa kerja, pengetahuan, pendidikan.
Variables in the Equation
95.0% C.I.for EXP(B)
B S.E. Wald df Sig. Exp(B) Lower Upper
a
Step 1 persepsi_risiko 2.896 2.093 1.916 1 .166 18.107 .300 1.094E3
Pengetahuan 3.302 2.152 2.355 1 .125 27.161 .400 1.842E3
persepsi_risiko by pengetahuan -1.025 1.284 .637 1 .425 .359 .029 4.445
Constant -7.045 3.543 3.954 1 .047 .001
a. Variable(s) entered on step 1: persepsi_risiko *pengetahuan.
Variables in the Equation
95.0% C.I.for EXP(B)
B S.E. Wald df Sig. Exp(B) Lower Upper
a
Step 1 persepsi_risiko 1.447 .578 6.272 1 .012 4.250 1.370 13.188
Constant -2.201 .941 5.471 1 .019 .111
a. Variable(s) entered on step 1: persepsi_risiko.
Variables in the Equation
95.0% C.I.for EXP(B)
B S.E. Wald Df Sig. Exp(B) Lower Upper
a
Step 1 persepsi_risiko 1.329 .625 4.513 1 .034 3.776 1.108 12.861
Pengetahuan 1.687 .622 7.349 1 .007 5.402 1.596 18.292
Constant -4.558 1.417 10.345 1 .001 .010
a. Variable(s) entered on step 1: persepsi_risiko, pengetahuan.
Uji Validitas dan Reabilitas (Skala Likert)

Persepsi Risiko

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.911 18

Item-Total Statistics

Scale Corrected Cronbach's


Scale Mean if Variance if Item-Total Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Correlation Deleted

persepsi risiko 1 45.30 76.838 .745 .901

persepsi risiko 2 45.33 89.195 -.030 .921

persepsi risiko 3 45.10 76.024 .842 .898

persepsi risiko 4 45.13 76.257 .859 .898

persepsi risiko 5 45.30 81.941 .407 .911

persepsi risiko 6 45.23 77.082 .774 .900

persepsi risiko 7 45.17 76.833 .765 .900

persepsi risiko 8 45.23 77.082 .774 .900

persepsi risiko 9 45.00 79.862 .603 .905

persepsi risiko 10 45.27 79.789 .653 .904

persepsi risiko 11 45.30 75.941 .737 .901

persepsi risiko 12 45.10 78.576 .742 .902

persepsi risiko 13 44.97 82.033 .491 .908

persepsi risiko 14 45.37 83.482 .476 .908

persepsi risiko 15 45.23 76.530 .773 .900

persepsi risiko 16 44.80 80.234 .647 .904

persepsi risiko 17 45.00 81.448 .522 .907

persepsi risiko 18 45.90 93.128 -.252 .930


Persepsi terhadap APD

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.925 12

Item-Total Statistics

Corrected Item- Cronbach's


Scale Mean if Scale Variance Total Alpha if Item
Item Deleted if Item Deleted Correlation Deleted

persepsi apd 1 24.43 37.357 .855 .912

persepsi apd 2 24.30 38.562 .671 .920

persepsi apd 3 24.40 37.766 .849 .913

persepsi apd 4 24.03 38.999 .546 .926

persepsi apd 5 24.47 38.602 .726 .918

persepsi apd 6 24.43 38.599 .765 .916

persepsi apd 7 24.40 40.800 .455 .929

persepsi apd 8 24.47 37.982 .862 .913

persepsi apd 9 24.67 38.782 .800 .915

persepsi apd 10 24.67 38.782 .800 .915

persepsi apd 11 24.47 37.982 .799 .915

persepsi apd 12 24.23 41.702 .294 .938

Toleransi Risiko

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.936 25
Scale Corrected Cronbach's
Scale Mean if Variance if Item-Total Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Correlation Deleted

toleransi risiko 1 53.53 115.499 .482 .935

toleransi risiko 2 53.47 112.533 .579 .933

toleransi risiko 3 53.43 113.013 .643 .933

toleransi risiko 4 53.23 109.840 .727 .931

toleransi risiko 5 53.37 114.585 .497 .934

toleransi risiko 6 53.70 112.907 .574 .933

toleransi risiko 7 53.53 117.913 .244 .937

toleransi risiko 8 53.57 112.185 .597 .933

toleransi risiko 9 53.40 106.317 .791 .930

toleransi risiko 10 53.37 113.344 .500 .934

toleransi risiko 11 53.60 110.248 .700 .932

toleransi risiko 12 53.63 112.723 .594 .933

toleransi risiko 13 53.73 112.685 .525 .934

toleransi risiko 14 53.80 110.028 .660 .932

toleransi risiko 15 53.27 113.444 .524 .934

toleransi risiko 16 53.33 114.023 .535 .934

toleransi risiko 17 53.63 107.482 .804 .930

toleransi risiko 18 53.67 111.540 .650 .932

toleransi risiko 19 53.63 110.378 .710 .931

toleransi risiko 20 53.07 113.582 .585 .933

toleransi risiko 21 53.57 109.082 .639 .933

toleransi risiko 22 53.63 110.240 .720 .931

toleransi risiko 23 53.63 115.206 .455 .935

toleransi risiko 24 53.43 115.013 .399 .936

toleransi risiko 25 53.37 113.344 .466 .935


Uji Validitas dan Reabilitas (Skala Gutmann)

Melihat respon pekerja atas pernyataan yang diberikan:

D = durasi pengerjaan sesuai estimasi

P = pekerja memahami pertanyaan

Pertanyaan Pekerja
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
D P D P D P D P D P D P D P D P D P D P
Pengetahuan 4a X √ √ X √ √ X √ X X √ √ √ √ X √ √ √ X √
Pengetahuan 4b √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 4c √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 4d √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 5a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 5b √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 5c √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 5d √ √ √ X X √ √ √ X √ √ √ X √ √ X X √ √ √
Pengetahuan 6a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 6b √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 6c √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 7a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 7b √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 7c √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 8a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 8b √ √ X X √ √ √ √ X √ √ X √ √ √ √ √ √ √ X
Pengetahuan 8c √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 9 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 10a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 10b X √ X √ √ √ X X √ √ √ X √ √ √ X √ √ √ √
Pengetahuan 10c √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 11 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 12a √ √ √ √ √ X √ √ √ √ √ √ √ X √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 12b √ √ X X √ X √ √ X √ √ √ √ X √ √ X X X X
Pengetahuan 12c √ √ X X √ X √ √ X √ √ √ √ X √ √ X X X X
Pengetahuan 13a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 13b √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 13c X √ √ √ √ X X √ √ √ √ √ √ X X √ √ √ X X
Pengetahuan 13d √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 13d √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 13e √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 13f √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 14 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 15 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 16a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 16b √ √ √ X X X X X X √ √ √ √ X X √ √ X √ √
Pengetahuan 16c √ √ √ X X X X X X √ √ √ √ X X √ √ X √ √
Pengetahuan 17a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 17b √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 17c √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 18a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 18b √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 19 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 20 X √ √ √ X √ X X X X X √ √ √ X X X X X X
Pengetahuan 21a X √ √ X √ √ √ √ X √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 21b X X X X X √ √ √ √ √ X X √ √ X X X X √ √
Pengetahuan 21c X X X X X X X X X X X X X X X X X √ √ √
Pengetahuan 22a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 22b √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 23a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 23b √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 23c √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 23d √ √ √ X X X √ √ √ √ √ X X √ √ X √ √ √ √
Pengetahuan 23e √ √ √ X X X √ √ √ √ √ X X √ √ X √ √ √ √
Pengetahuan 23f √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 23g √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 24 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 25a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 25b X √ √ √ √ √ X √ √ √ √ √ X X √ √ √ √ √ X
Pengetahuan 25c √ √ √ X √ √ X √ √ √ √ √ X X √ √ X X √ √
Pengetahuan 25d √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 25e √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 25f √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 25g √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 25h √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 25i √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 26 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 27a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 27b √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 27c √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 27d √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 27e √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 27f √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 27g √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 28a √ √ X X √ √ X √ √ √ X X √ √ X √ √ √ √ √
Pengetahuan 28b √ X X X X X X X √ √ √ X √ X √ X X √ √ √
Pengetahuan 28c √ X X X X X X X √ √ √ X √ X √ X X √ √ √
Pengetahuan 28d √ X X X X X X X √ √ √ X √ X √ X X √ √ √
Pengetahuan 29a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 29b X √ √ √ X X X √ √ X √ X X √ √ X √ √ X √
Pengetahuan 29c X √ √ √ X √ √ √ √ √ √ X √ √ X X √ √ √ √
Pengetahuan 29d √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 29e √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 29f √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 30a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 30b √ √ √ √ √ √ √ X X X X X X X √ √ X X √ √
Pengetahuan 30c X X √ √ √ √ X X X X X X X X √ √ X X √ √
Pengetahuan 30d X X √ √ √ √ X X X X X X X X √ √ X X √ √
Pengetahuan 30e X X √ √ √ √ X X X X X X X X √ √ X X √ √
Pengetahuan 30f X X √ √ √ √ X X X X X X X X √ √ X X √ √
Pengetahuan 30g X X √ √ √ √ X X X X X X X X √ √ X X √ √
Pengetahuan 31a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 31b √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 31c √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Pengetahuan 32 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Kepatuhan APD 1 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Kepatuhan APD 2 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Kepatuhan APD 3a √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Kepatuhan APD 3b √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Kepatuhan APD 3c √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Kepatuhan APD 4 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

Kepatuhan APD 5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Kepatuhan APD 6 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Kepatuhan APD 7 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Kepatuhan APD 8 √ √ X X √ √ X √ X X √ √ X √ X √ X √ X √
Kepatuhan APD 9 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Kepatuhan APD 10 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

Anda mungkin juga menyukai