Anda di halaman 1dari 2

Sejarah geologi daerah penelitian dimulai pada kala Miosen Awal Bagian

Bawah hingga Miosen Awal Bagian Tengah (N4 – N6), pengendapan terus
berlanjut, yaitu mulai diendapkan satuan batuan batupasir tufaan, batulempung,
tufa, tufa lapili dan breksi batuapung (Formasi Semilir) pada lingkungan laut pada
kedalaman 200 – 600 meter dibawah permukaan laut atau pada bathyal bawah
dengan mekanisme arus turbid pada kipas bawah laut bagian “Smooth - Channeled
Portion of Supra Fan Lobes on Mid Fan”.Pada akhir pengendapan satuan ini
dipengaruhi oleh adanya aktivitas gunungapi. Kondisi paleogeografi di daerah
penelitian masih dalam kondisi lautan. Pada kala Miosen Awal Bagian Akhir (N7-
N8) terjadi peningkatan aktivitas gunungapi yang ditandai dengan adanya
piroklastik yang cukup luas. Satuan ini terendapkan dengan mekanisme endapan
jatuhan piroklastik. Endapan hasil erupsi gunungapi tersebut terendapkan pada
lingkungan laut dangkal. Aktivitas gunungapi memuncak pada Kala Miosen Awal
(N7). Pada kala ini terjadi letusan besar yang bersifat destruktif, membentuk sistem
kaldera. Letusan tersebut bersifat eksplosif dan menghasilkan material gunungapi
berupa pumis yang membentuk satuan breksi gunungapi. Selain menghasilkan
material gunungapi melalui mekanisme jatuhan piroklastik, gunungapi tersebut
juga menghasilkan material melalui mekanisme aliran lava dan aliran piroklastik
yang menempati lembah-lembah berupa endapan channel (Surono, dkk., 1992).
Pada kala Miosen Awal Bagian Atas hingga Miosen Tengah Bagian Bawah (N7 –
N10) di daerah penelitian diendapkan breksi andesit epiklastik, aglomerat dan
batupasir tufan yang menyusun Formasi Nglanggran. Bagian bawahnya tersusun
oleh breksi basal piroklastik. Satuan ini diendapkan dengan mekanisme arus turbid
pada lingkungan laut hingga darat.
Pada kala Miosen Tengah Bagian Tengah (N11) daerah penelitian mulai
mengalami pengangkatan akibat orogenesa yang mengakibatkan seluruh satuan
batuan yang ada di daerah penelitian, yaitu Formasi Kebo-Butak, Formasi Semilir,
dan Formasi Nglanggran mengalami perlipatan membentuk struktur homoklin
dengan arah gaya N 1850 E membentuk punggungan bukit dan lembah yang
berarah barat – timur dan kemiringan ke arah selatan. Proses orogenesa ini terus
berlangsung hingga yang mengakibatkan batuan-batuan Formasi Kebo-Butak,
Formasi Semilir dan Formasi Nglanggran mengalami pen sesaran berupa sesar
geser jurus mengiri (sinistral srike slip fault). Proses orogenesa di daerah penelitian
diperkirakan berlangsung hingga kala Pleistosen dan pada kala tersebut daerah
penelitian sudah berupa daratan dan proses-proses eksogenik (pelapukan,
erosi/denudasi, sedimentasi) mulai bekerja pada batuan-batuan dari Formasi Kebo-
Butak, Formasi Semilir, dan Formasi Nglanggran. Hasil pelapukan dan
erosi/denudari kemudian masuk kedalam sistem sungai yang terdapat di daerah
penelitian dan diendapkan sebagai endapan aluvial. Proses ini terus berlangsung
hingga saat ini