Anda di halaman 1dari 44

Pemeriksaan Tingkat

Kesadaran Atau GCS


BY ASKEP33 · FEBRUARY 4, 2016
Pemeriksaan Tingkat Kesadaran Atau GCS
√ Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran ialah ukuran dari kesadaran &
respon seseorang kepada rangsangan dari
lingkungan, tingkat kesadaran dapat dibedakan
menjadi :
1. Compos Mentis (conscious), adalah kesadaran
normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab
seluruh pertanyaan mengenai kondisi
sekelilingnya..
2. Apatis, adalah kondisi kesadaran yg segan buat
berhubungan bersama sekitarnya, sikapnya acuh
tidak acuh.
3. Delirium, ialah gelisah, disorientasi (orang,
tempat, waktu), memberontak, berhalusinasi,
berteriak-teriak, kadang berhayal.
4. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yakni kesadaran
menurun, respon psikomotor yg lambat, mudah
tertidur, namun kesadaran dapat pulih apabila
dirangsang (mudah dibangunkan) namun jatuh
tertidur lagi, dapat memberi jawaban verbal.
5. Stupor (soporo koma), adalah kondisi seperti
tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.
6. Coma (comatose), ialah tidak dapat
dibangunkan, tidak ada respon terhadap
rangsangan apapun (tak ada respon kornea
ataupun reflek muntah, mungkin saja serta tidak
ada respon pupil pada cahaya).
Perubahan tingkat kesadaran bisa diakibatkan dari
berbagai factor, termasuk juga perubahan dalam
lingkungan kimia otak seperti keracunan,
kekurangan oksigen dikarenakan berkurangnya
aliran darah ke otak, & tekanan berlebihan di dalam
rongga tulang kepala.
Adanya defisit tingkat kesadaran dapat memberi
kesan adanya hemiparese serebral atau system
aktivitas reticular sedang mengalami injuri.
Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan
adanya peningkatan mortalitas (kematian) & angka
morbiditas (kecacatan)
Menjadi amat sangat penting dalam mengukur
status neurologikal & medis pasien. Tingkat
kesadaran ini dapat dijadikan salah satu bagian dari
vital sign.
√ Penyebab Terjadinya Penurunan Tingkat
Kesadaran
Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan
difisit fungsi otak. Tingkat kesadaran dapat
menurun disaat otak mengalami kekurangan
oksigen (hipoksia), kekurangan aliran darah (seperti
pada kondisi syok), penyakit metabolic seperti
diabetes mellitus (koma ketoasidosis); pada kondisi
hipo atau hipernatremia ; dehidrasi;alkalosis;
asidosis, pengaruh obat-obatan, alkohol, keracunan
: hipertermia, hipotermia; peningkatan tekanan
intrakranial (dikarenakan perdarahan, stroke, tomor
otak); infeksi (encephalitis); epilepsi.
√ Mengukur Tingkat Kesadaran
Ada salah satu cara untuk mengukur tingkat
kesadaran dengan hasil secara seobjektif adalah
dengan memanfaatkan GCS (Glasgow Coma
Scale). GCS diperlukan utk memastikan derajat
cidera kepala. Reflek membuka mata, respon
verbal, & motorik diukur & hasil pengukuran
dijumlahkan seandainya kurang dari 13, makan
dikatakan seseorang mengalami cidera kepala, yg
menunjukan adanya penurunan tingkat kesadaran.
√ Pemeriksaan GCS
GCS (Glasgow Coma Scale) merupakan skala yg
difungsikan untuk menilai tingkat kesadaran
pasien,(apakah pasien dalam keadaan koma atau
tidak) dgn menilai respon pada pasien sesuai
terhadap rangsangan yg diberikan.
Pemeriksaan Tingkat Kesadaran atau GCS

Hasil pemeriksaan tingkat kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol E…V…M…
Selanutnya nilai-nilai dijumlahkan. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4V5M6 dan terendah
adalah 3 yaitu E1V1M1.
Jika dihubungkan dengan kasus trauma kapitis maka didapatkan hasil :
GCS : 14 – 15 = CKR (cidera kepala ringan)
GCS : 9 – 13 = CKS (cidera kepala sedang)
GCS : 3 – 8 = CKB (cidera kepala berat)

GCS
yaitu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien, (apakah pasien dalam
kondisi koma atau tidak) dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan.

Respon pasien yang perlu diperhatikan mencakup 3 hal yaitu reaksi membuka mata (Eye),
bicara (Verbal) dan gerakan (Motorik). Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score)
dengan rentang angka 1 – 6 tergantung responnya.

Namun, hasil pemeriksaan GCS pada orang dewasa dan bayi jelas berbeda, karena perbedaan
respon antara orang dewasa dan bayi saat diberi rangsangan.

Pemeriksaan GCS pada orang Dewasa :


Eye (respon membuka mata) :
(4) : spontan
(3) : dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).
(2) : dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku jari)
(1) : tidak ada respon

Verbal (respon verbal) :


(5) : orientasi baik
(4) : bingung, berbicara mengacau (sering bertanya berulang-ulang), disorientasi tempat dan
waktu.
(3) : kata-kata tidak jelas
(2) : suara tanpa arti (mengerang)
(1) : tidak ada respon

Motorik (Gerakan) :
(6) : mengikuti perintah
(5) : melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(4) : withdraws (menghindar/menarik extremitas atau tubuh menjauhi stimulus saat diberi
rangsang nyeri)
(3) : flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi saat
diberi rangsang nyeri).
(2) : extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal
& kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(1) : tidak ada respon

Pemeriksaan GCS pada orang Anak/Bayi :


Eye (Respon membuka Mata) :
(4) : spontan
(3) : Patuh pada perintah/suara
(2) : dengan rangsangan nyeri
(1) : tidak ada respon

Verbal (bicara) :
(5) : mengoceh
(4) : menangis lemah
(3) : menangis (karena diberi rangsangan nyeri)
(2) : merintih (karena diberi rangsangan nyeri)
(1) : tidak ada respon

Motorik (gerakan) :
(6) : spontan
(5) : menarik (karena sentuhan)
(4) : menarik (karena rangsangan nyeri)
(3) : fleksi abnormal
(2) : ekstensi abnormal
(1) : tidak ada respon

Hasil pemeriksaan tingkat kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol E…V…M…
Selanjutnya nilai-nilai dijumlahkan. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4V5M6 dan
terendah adalah 3 yaitu E1V1M1.

Kesimpulan :
1. Composmentis : 15-14
2. Apatis : 13-12
3. Delirium : 11-10
4. Somnolen : 9-7
5. Stupor : 6-4
6. Coma : 3

Persepsi mengenai penilaian GCS dapat menunjukkan nilai yang berbeda karena terdapat
beberapa kemiripan penilaian berdasarkan respon klien. Untuk menghindari perbedaan
penilaian terhadap satu respon yang ditunjukkan klien, maka tenaga kesehatan harus mampu
memahami detail dan prinsip kriteria penilaian GCS.

Misalnya untuk pemeriksaan eye (mata). Nilai 4 dan 1 memiliki perbedaan yang jelas.
Sehingga akan sedikit kemungkinan untuk terjadi salah interpretasi. Namun, untuk
membedakan antara nilai 2 dan 3 maka perlu mengingat kata kunci nyeri. Ketika klien
berespon dengan sentuhan (bukan nyeri) maka nilainya adalah 3. Namun jika berespon
dengan rangsang nyeri maka nilainya adalah 2.

Pemeriksaan nadi
Pasien harus diperiksa di ruangan yang terang dan hangat. Pada
lingkungan yang dingin, dapat terjadi vasokonstriksi perifer
sehingga mengurangi denyut nadi perifer.
Tempat pemeriksaan (tempat tidur) posisinya diatur dengan
sedemikian rupa agar cukup leluasa dalam pemeriksaan pasien
dari kedua sisi.
Skala Intensitas
0 tidak ada denyut yang teraba
+1 denyut samar, tapi denyut telah terdeteksi
+2 intensitas denyut sedikit kurang dari normal
+3 Normal
+4 denyut melompat
Intensitas denyut nadi

Pemeriksa harus waspada terhadap kemungkinan bahwa denyut


yang terasa mungkin saja denyutan di ujung jari sendiri
Hal ini dapat dihilangkan dengan membandingkan denyut
tersebut untuk dengan denyut arteri radial sendiri atau disamakan
dengan auskultasi suara jantung pasien. Juga, tidak disarankan
untuk menggunakan ibu jari pada pemeriksaan palpasi denyut
nadi. Dikarenakan jika menggunaan ibu jari, lebih sering yang
terasa adalah denyut nadi pemeriksaan sendiri. Selain itu, ibu jari
umumnya kurang diskriminatif dalam membedakan sensasi
dibanding dengan jari-jari lain.

Tahapan Pemeriksaan Denyut Nadi


1. Pemeriksa mencuci tangan terlebih dahulu
2. Pemeriksa memperkenalkan diri dan meminta persetujuan dari
pasien dengan menjelaskan pemeriksaan yang akan dilakukan
3. Mintalah bantuan perawat untuk membuka baju dan celana
pasien, memposisikan pAsien di tempat tidur dan
menyelimutinya.
4. Selanjutnya melakukan inspeksi awal untuk menetukan lokasi
denyut yang akan diperiksa.
Di sini, pemeriksa dapat melihat kenaikan dan penurunan kulit
dengan setiap denyut. Terutama jika terang cahaya ditujukan
tangensial di permukaan kulit.

ILUSTRASI PERJALAN ARTERI DI EKSTRIMITAS BAWAH YANG DAPAT DIRABA

Pemeriksaan Denyut Arteri Brakialis


Untuk menguji arteri brakialis pada lengan kanan, pemeriksa menopang
lengan pasien dengan tangan kirinya.Posisi lengan atas pasien abduksi,
siku sedikit tertekuk dan lengan bawah diputar keluar (eksternal rotation).
Pemeriksa dapat memulai meraba denyut nadi pada anteior siku, sepanjang
perjalanan arteri yaitu di medial ada tendon biceps dan lateral
dengan epikondilus humerus medialis.
Pada pemeriksaan lengan kiri, posisi tangan pemeriksa harus
ditukar, tangan kanan menopang lengan pasien dangan
pemeriksaan dilakukan dengan tangan kiri

PERABAAN DENYUT ARTERI BRAKIALIS

Pemeriksaan Denyut Arteri Radialis


Untuk arteri radialis, lengan bawah pasien harus ditopang di salah
satu tangan pemeriksa dan tangan yang lain digunakan untuk
meraba pada sepanjang aspek radialvolar di pergelangan tangan
pasien. Hasil terbaik didapat dengan menekuk jari di distal radius,
dari area punggung ke arah aspek volar. Dengan ujung jari yang
pertama, kedua, dan jari ketiga longitudinal dari posisi arteri.
PERABAAN DENYUT ARTERI RADIALIS

Pemeriksaan Denyut Aorta Abdominalis


Aorta abdominalis merupakan struktur retroperitoneal yang
berada di perut bagian atas. Dan dapat teraba dengan menerapkan
tekanan kuat oleh jari-jari rata dan rapat dari kedua tangan untuk
menekan epigastrium ke kolom vertebral.
Pada pemeriksaan ini, penting untuk memastikan otot-otot perut
pasien benar-benar dalam keadaan santai; relaksasi tersebut dapat
dicapai dengan menekukan pinggul dan dengan meletakan bantal
untuk mendukung kepala. Pada pasien yang sangat gemuk atau
pada mereka dengan otot perut besar,mungkin mustahil untuk
mendeteksi denyut aorta. Denyut aorta abdominalis dapat
dideteksi dengan auskultasi pada aorta dan sepanjang kedua
pembuluh iliac di kuadran perut bagian bawah.

Relasi : Dasar Pemeriksaan Abdomen


UNTUK DAPAT MERASAKAN DENYUT AORTA
ABDOMINALIS HARUS MENGGUNAKAN PALPASI DALAM
Pemeriksaan Denyut Arteri Femoralis
Umumnya Arteri femoralis dari bawah ligamen inguinal naik ke
atas di paha atas pada sepertiga jarak dari pubis ke tulang iliaka
superior anterior.
Posisi terbaik dengan pemeriksa berdiri di sisi ipsilateral pasien
dan ujung jari tangan menekan kuat ke pangkal paha.
Auskultasi juga harus dilakukan di daerah arteri femoralis

PEMERIKSAAN DENYUT ARTERI FEMORALIS MEMERLUKAN


TEKANAN KUAT

Pemeriksaan Denyut Arteri Poplitea


Arteri poplitea secara vertikal melalui bagian dalam dari ruang
poplitea. Mungkin sulit atau tidak mungkin untuk melakukan
palpasi pada individu obesitas atau sangat berotot. Umumnya
denyut dari arteri ini dapat diraba dengan pasien dalam posisi
terlentang dan tangan pemeriksa mengelilingi dan menopang lutut
dari setiap sisi. Denyut terdeteksi dengan menekan dalam ke
ruang poplitea dengan ibu jari menopang di atas.

RELAKSASI OTOT PENTING UNTUK PEMERIKSAAN DENYUT ARTERI


POPLITEA

Pemeriksaan Denyut Arteri Tibialis Posterior


Arteri tibialis posterior terletak sedikit posterior dari maleolus
medial. Hal ini dapat dirasakan dengan melengkungkan jari-jari
tangan pemeriksa di sekitar anterior pergelangan kaki. Ibu jari
diterapkan di sisi berlawanan. Posisi menggenggam dapat
memberikan stabilitas. Obesitas atau edema dapat mencegah
deteksi denyut nadi.
POSISI MENGGENGGAM DALAM PEMERIKSAAN ARTERI TIBIALIS POSTERIOR

Pemeriksaan Denyut Arteri Dorsalis Pedis


Arteri dorsalis pedis diperiksa dengan pasien dalam posisi
berbaring dan pergelangan kaki santai. Pemeriksa berdiri di kaki
meja periksa dan menempatkan jari melintang di dorsum kaki
dekat pergelangan kaki. Arteri biasanya terletak di dekat pusat
sumbu panjang kaki, lateral dari tendon hallucis ekstensor.
ARTERI DOSALIS PEDIS TERLETAK DI LATERAL DARI TENDON HALLUCIS
EKSTENSOR

Referensi
1. Mowlavi A, Whiteman J, Wilhelmi B, et al. Dorsalis pedis
arterial pulse: palpation using a bony landmark. Postgrad Med
J. 2002; 78(926): 746–7.
2. Baruch MC, Warburton DER, Bredin SSD, et al. Pulse
Decomposition Analysis of the digital arterial pulse during
hemorrhage simulation. Nonlinear Biomed Phys. 2011; 5: 1.
3. Brearley S, Shearman CP, Simms MH. Peripheral pulse
palpation: an unreliable physical sign. Ann R Coll Surg Engl.
1992; 74(3): 169–71.
4. O'Rourke MF, Pauca A, Jiang XJ. Pulse wave analysis. Br J
Clin Pharmacol. 2001; 51(6): 507–22.
5. Dormandy JA. Palpation of peripheral pulses: a difficult art.
Ann R Coll Surg Engl.1992; 74(3): 155.

Tempat Pengukuran
Pengukuran denyut nadi dapat dilakukan di:

Lokasi Pemeriksaan Denyut Nadi

 Arteri radialis pada pergelangan tangan


 Arteri brachialis pada siku bagian dalam
 Arteri carotis pada leher
 Arteri temporalis pada pelipis
 Arteri femoralis pada lipatan paha
 Arteri dorsalis pedis pada kaki
 Arteri frontalis pada ubun-ubun (untuk bayi)
Tujuan :
Mengetahui denyut nadi (irama, frekuensi, dan kekuatan)
Menilai kemampuan fungsi kardiovaskuler
Memeriksa denyut nadi adalah salah satu pemeriksaan kesehatan yang
paling tua. Para penyembuh Mesir kuo percaya bahwa denyut nadi yang
lemah menandakan adanya penyakit atau kondisi kesehatan yang buruk.
Seorang peneliti, yaitu Galen, kemudian mengembangkan pemeriksaan
denyut nadi meliputi frekuensi, kekuatan dan durasi denyut. Meski
mempunyai data yang baik, namun manfaat penelitian Galen untuk dunia
medis belum diketahui dengan jelas. Baru kemudian setelah John Foyer
(1649-1734) melakukan penelitian lanjutan dan mempublikasikan
penelitiannya mulai terungkap bahwa ada hubungan antara denyut nadi
dan penyakit jantung.
Pada era berikutnya, Adam dan Stokes meneliti denyut nadi pada kasus
bradikardia (denyut nadi yang lambat, kurang dari 60/menit). Hasilnya,
tidak semua kejang ataupun pingsan mendadak disebabkan oleh gangguan
pada otak, namun juga oleh lambatnya denyut nadi yang menandakan
blokade irama jantung (heart block). Saat ini, heart block tercatat sebagai
salah satu penyebab lambatnya denyut jantung dan pada stadium lanjut
memerlukan alat pacu jantung.
Cara Menghitung Denyut Nadi
Saat ini, frekuensi denyut nadi termasuk dalam 5tanda vital manusia,
selain kesadaran, frekuensi nafas, tekanan darah dan suhu. Karena itu nadi
akan selalu diraba pada pemeriksaan kesehatan.
Denyut nadi diraba pada pembuluh darah arteri. Pembuluh darah yang
tampak dipermukaan kulit yang berwarna kebiruan bukanlah pembuluh
darah arteri, tapi vena. Arteri terletak lebih dalam, namun mempunyai
tekanan yang kuat sehingga teraba denyutnya. Vena lebih tipis, lebih
permukaan dan tidak berdenyut. Meski demikian, kedua pembuluh darah
tersebut mempunyai letak yang berdekatan.
Pemeriksaan nadi biasanya pada pergelangan tangan. Namun pada orang
yang pingsan, nadi utama yang diperiksa adalah pada leher. Beberapa nadi
lain yang bisa diraba adalah :
 Pergelangan tangan di sebelah sisi yang berdekatan dengan jempol (a.
radialis)
 Lipat siku pada sisi berlawan dari a. radialis (a. brakialis)
 Sisi samping leher (a. karotis interna)
 Pangkal paha (a. femoralis)
 Lipat siku (a. poplitea)
 Sedikit di atas tumit kaki (a. tibialis posterior)
 Permukaan punggung kaki (a. dorsalis pedis)
Untuk menghitung denyut nadi dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut. Raba pergelangan tangan dengan ujung jari. Memeriksa nadi pada
tangan kanan atau tangan kiri tidaklah berbeda. Namun akan menjadi lebih
baik jika meraba nadi pada kedua tangan.
Lokasi tepat arteri berada sesisi dengan ibu jari. Tekan saat meraba.
Jangan terlalu kuat atau terlalu lemah saat menekan. Jika nadi telah teraba
dan denyut dapat dirasakan, mantapkan posisi dan mulailah menghitung.
Idealnya, denyut nadi dihitung selama 60 detik. Namun bisa pula diukur
dalam waktu 30 detik dan hasilnya dikalikan 2. Namun tidak
direkomendasikan jika nadi diukur dalam 15 detik dan hasilnya dikalikan
4.
Perabaan nadi, bukan hanya frekuensi, kekuatan denyut juga dapat
dirasakan. Begitu juga dengan irama, teratur apa tidak, dana juga
kesamaan antara denyut nadi di kanan dan kiri. Namun untuk
membandingkan antara bagian kanan dan kiri harus dilakukan pada
pembuluh arteri yang sama.
Frekuensi denyut nadi normal adalah 60-100 kali/menit dengan irama yang
teratur. Kurang dari 60 kali/menit disebut dengan bradikardia, di atas 100
kali/menit disebut takikardia. Berbagai faktor berpengaruh terhadap
denyut nadi. Apabila ada ketidaknormalan dalam denyut nadi, maka
diperlukan pemeriksaan kesehatan yang lebih lanjut.

Pemeriksaan tanda vital


Pemeriksaan Tanda-tanda vital atau Vital Signsmerupakan pengukuran fungsi tubuh yang
paling dasar untuk mengetahui tanda klinis dan berguna untuk menegakkan diagnosis suatu
penyakit dan berfungsi dalam menentukan perencanaan perawatan medis yang sesuai.

TANDA-TANDA VITAL

Ada Empat tanda vital utama secara rutin di pantau oleh para medis dan penyedia layanan
kesehatan adalah Suhu tubuh, Denyut nadi, laju pernafasan dan Tekanan darah. Vital
Signs berguna dalam mendeteksi atau pemantauan masalah medis. Pemeriksaan tanda
vital dilakukan saat pertama kali anda mendapat perawatan medis, dan apabila anda dicurigai
menderita suatu penyakit serius pemeriksaan vital Signs ini terus dilakukan secara berulang dan
terus dievaluasi untuk mengetahui perkembangan penyakit.
Selain oleh petugas medis mengukur tanda-tanda vital juga bisa anda lakukan di rumah, asalkan
anda memiliki peralatan dan mengetahui metode dan cara mengukur tanda-tanda vital. apalagi
buat anda yang menderita penyakit Hypertensi sebaiknya anda belajar atau meminta dokter anda
untuk mengajariCara pemeriksaan Vital Signs, sehingga anda bisa melakukan kontrol tanda
vital anda secara mandiri.

Jenis-jenis pengukuran Tanda vital.

1. Mengukur Suhu tubuh


Suhu tubuh normal seseorang bervariasi tergantung pada jenis kelamin, aktivitas baru-baru ini,
makanan atau konsumsi cairan, dan pada wanita, tahap siklus menstruasi. Suhu tubuh
normal dapat berkisar antara 36,5 derajat C - 37,2 derajat C atau setara dengan 97,8 derajat F - 99
derajat F

Metode pengukuran vital signs Suhu tubuh seseorang dapat dilakukan melalui salah satu cara
berikut:

1. Melalui mulut. Suhu dapat diambil melalui mulut baik menggunakan termometer kaca
klasik, atau termometer digital yang lebih modern untuk mengukur suhu tubuh.
2. Melalui Dubur. Suhu diukur pada dubur menggunakan termometer kaca / digital
cenderung 0,5-0,7 derajat F lebih tinggi daripada oral.
3. Melalui ketiak / Suhu aksila. Dapat diambil di bawah lengan menggunakan termometer.
Suhu yang diambil oleh jalur ini cenderung 0,3-0,4 derajat F lebih rendah dibandingkan
suhu oral.
4. Di telinga. Sebuah termometer khusus dengan cepat dapat mengukur suhu gendang
telinga, yang mencerminkan suhu inti tubuh (suhu organ internal).
5. Di kulit. Sebuah termometer khusus dengan cepat dapat mengukur suhu kulit di dahi.
Perhatian : mengukur suhu tubuh pada anak-anak tidak dianjurkan dilakukan melalui oral,
karena beresiko terjadinya kecelakaan seperti pecahnya termometer karena digigit oleh anak
akibat kurangnya kesadaran anak-anak saat dilakukan pengukuran suhu tubuh. terutama
pada termometer kaca yang mengandung merkuri, merkuri merupakan zat beracun yang
menimbulkan ancaman bagi kesehatan manusia Karena risiko pecah.

2. Pengukuran Denyut nadi


Denyut nadi adalah pengukuran denyut jantung, atau berapa kali jantung berdetak per menit.
dalam mendorong darah melalui arteri ke seluruh tubuh. Mengukur denyut nadi tidak hanya
berguna untuk mengukur detak jantung saja, tetapi juga dapat menunjukkan Irama jantung
dan Kekuatan pulsa

Denyut Nadi normal untuk orang dewasa sehat berkisar 60-100 denyut per menit. Denyut nadi
dapat meningkat dengan olahraga, penyakit, cedera, dan emosi. Pemeriksaan tanda vital Denyut
nadi yang biasa dilakukan pada arteri radial pada pergelangan tangan, pada siku ( arteri brakialis
), di leher terhadap arteri karotis, di belakang lutut ( arteri poplitea ), atau di kaki dorsalis pedis
atau arteri tibialis posterior . Denyut nadi biasanya diukur dengan menggunakan stetoskop atau
secara langsung menggunakan jari dengan menekan nadi penderita selama 60 detik (atau selama
15 detik dan kemudian kalikan dengan empat untuk menghitung denyut per menit).

3. Respirasi atau pernafasan


Tingkat Respirasi adalah jumlah pernapasan seseorang per menit. Tingkat biasanya diukur ketika
seseorang beristirahat dengan menghitung berapa kali dada meningkat selama satu menit.
pernafasan dapat meningkat karena demam atau karena penyakit dan kondisi medis lainnya.
Ketika memeriksa pernapasan penting juga diperhatikan apakah seseorang memiliki kesulitan
bernapas. Pernafasan normal untuk orang dewasa sehat antara 12-20 kali per menit.

4. Tekanan darah
Tekanan darah diukur dengan alat pengukur tekanan darah yang disebut dengan Tensimeter dan
stetoskop, tekanan darah merupakan kekuatan darah mendorong dinding arteri. Setiap kali
jantung berdetak memompa darah melalui arteri ke seluruh tubuh. tekanan darah normal
seseorang dipengaruhi oleh usia, dan aktivitas fisik yang dilakukan. karena itu pemeriksaan
tekanan darah dilakukan ketika beristirahat paling tidak sekitar 15 menit setelah melakukan suatu
aktifvitas fisik.
Tekanan darah normal yaitu 120/80 MmHg. ukuran tekanan darah dibagi menjadi dua yaitu
sistolik dan Diastolik. Sistolik mengacu pada tekanan dalam arteri saat jantung berkontraksi dan
memompa darah ke seluruh tubuh. sedangkan diastolik, mengacu pada tekanan di dalam arteri
saat jantung beristirahat dan mengisi dengan darah. Pada bayi tekanan darah lebih rendah
daripada orang dewasa.

Selain keempat tanda-tanda vital diatas, gambaran kondisi umum kesehatan seseorang juga bisa
diukur dengan tanda vital tambahan seperti tingkat nyeri yang dialami penderita serta kadar gula
darah juga bisa dijadikan ukuran untuk menentukan derajat kesehatan. Artikel
sebelumnya Pentingnya imunisasi dasar pada anak.

Pengelolaan jalan nafas tanpa alat

Pengertian : tindakan yang dilakukan untuk membebaskan jalan napas dengan tetap memperhatikan
kontrol servikal

Tujuan : membebaskan jalan napas untuk menjamin jalan masuknya udara ke paru secara normal
sehingga menjamin kecukupan oksigenase tubuh

Pemeriksaan Jalan Napas :

L = Look/Lihat gerakan nafas atau pengembangan dada, adanya retraksi sela iga, warna mukosa/kulit dan
kesadaran

L = Listen/Dengar aliran udara pernafasan

F = Feel/Rasakan adanya aliran udara pernafasan dengan menggunakan pipi penolong

Gambar 1. Cara pemeriksaan Look-Listen-Feel (LLF) dilakukan secara simultan. Cara ini dilakukan untuk
memeriksa jalan nafas dan pernafasan.

Tindakan

Membuka jalan nafas dengan proteksi cervikal

 Chin Lift maneuver (tindakan mengangkat dagu)


 Jaw thrust maneuver (tindakan mengangkat sudut rahang bawah)
 Head Tilt maneuver (tindakan menekan dahi)

Gambar dan penjelasan lihat dibawah.

Ingat! Pada pasien dengan dugaan cedera leher dan kepala, hanya dilakukanmaneuver jaw thrust dengan
hati-hati dan mencegah gerakan leher.

 Untuk memeriksa jalan nafas terutama di daerah mulut, dapat dilakukan teknik Cross Finger yaitu
dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk yang disilangkan dan menekan gigi atas dan bawah.
 Bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing dalam rongga mulut dilakukan
pembersihan manual dengan sapuan jari.
 Kegagalan membuka nafas dengan cara ini perlu dipikirkan hal lain yaitu adanya sumbatan jalan
nafas di daerah faring atau adanya henti nafas (apnea)
 Bila hal ini terjadi pada penderita tidak sadar, lakukan peniupan udara melalui mulut, bila dada
tidak mengembang, maka kemungkinan ada sumbatan pada jalan nafas dan dilakukanmaneuver Heimlich.

Gambar 2. Pemeriksaan sumbatan jalan nafas di daerah mulut dengan menggunakan teknik cross finger

Tanda-tanda adanya sumbatan (ditandai adanya suara nafas tambahan) :

 Mendengkur(snoring), berasal dari sumbatan pangkal lidah. Cara mengatasi : chin lift, jaw thrust,
pemasangan pipa orofaring/nasofaring, pemasangan pipa endotrakeal.
 Berkumur (gargling), penyebab : ada cairan di daerah hipofaring. Cara mengatasi : finger sweep,
pengisapan/suction.
 Stridor (crowing), sumbatan di plika vokalis. Cara mengatasi :cricotirotomi, trakeostomi.

2. Membersihkan jalan nafas

Sapuan jari (finger sweep)

Dilakukan bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing pada rongga mulut belakang atau
hipofaring seperti gumpalan darah, muntahan, benda asing lainnya sehingga hembusan nafas hilang.

Cara melakukannya :

 Miringkan kepala pasien (kecuali pada dugaan fraktur tulang leher) kemudian buka mulut dengan
jaw thrust dan tekan dagu ke bawah bila otot rahang lemas (maneuver emaresi)
 Gunakan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah) yang bersih atau dibungkus dengan sarung
tangan/kassa/kain untuk membersihkan rongga mulut dengan gerakan menyapu.

Gambar 3. Tehnik finger sweep

3. Mengatasi sumbatan nafas parsial


Dapat digunakan teknik manual thrust

 Abdominal thrust
 Chest thrust
 Back blow

Gambar dan penjelasan lihat di bawah!

Jika sumbatan tidak teratasi, maka penderita akan :

 Gelisah oleh karena hipoksia


 Gerak otot nafas tambahan (retraksi sela iga, tracheal tug)
 Gerak dada dan perut paradoksal
 Sianosis
 Kelelahan dan meninggal

Prioritas utama dalam manajemen jalan nafas adalah JALAN NAFAS BEBAS!

 Pasien sadar, ajak bicara. Bicara jelas dan lancar berarti jalan nafas bebas
 Beri oksigen bila ada 6 liter/menit
 Jaga tulang leher : baringkan penderita di tempat datar, wajah ke depan, posisi leher netral
 Nilai apakah ada suara nafas tambahan.

Gambar4. Pasien tidak sadar dengan posisi terlentang, perhatikan jalan nafasnya! Pangkal lidah tampak
menutupi jalan nafas

Lakukan teknik chin lift atau jaw thrust untuk membuka jalan nafas. Ingat tempatkan korban pada tempat
yang datar! Kepala dan leher korban jangan terganjal!

Chin Lift

Dilakukan dengan maksud mengangkat otot pangkal lidah ke depan

Caranya : gunakan jari tengah dan telunjuk untuk memegang tulang dagu pasien kemudian angkat.

Head Tilt

Dlilakukan bila jalan nafas tertutup oleh lidah pasien, Ingat! Tidak boleh dilakukan pada pasien dugaan
fraktur servikal.
Caranya : letakkan satu telapak tangan di dahi pasien dan tekan ke bawah sehingga kepala menjadi
tengadah dan penyangga leher tegang dan lidahpun terangkat ke depan.

Gambar 5. tangan kanan melakukan Chin lift ( dagu diangkat). dan tangan kiri melakukan head tilt.
Pangkal lidah tidak lagi menutupi jalan nafas.

Jaw thrust

Caranya : dorong sudut rahang kiri dan kanan ke arah depan sehingga barisan gigi bawah berada di depan
barisan gigi atas

Gambar 6 dan 7. manuver Jaw thrust dikerjakan oleh orang yang terlatih

Mengatasi sumbatan parsial/sebagian. Digunakan untuk membebaskan sumbatan dari benda


padat.
Gambar 8. Tampak ada orang yang tersedak atau tersumbat jalan nafasnya

Abdominal Thrust (Manuver Heimlich)

Dapat dilakukan dalam posisi berdiri dan terlentang.

Caranya berikan hentakan mendadak pada ulu hati (daerah subdiafragma – abdomen).

Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada posisi berdiri atau duduk

Caranya : penolong harus berdiri di belakang korban, lingkari pinggang korban dengan kedua lengan
penolong, kemudian kepalkan satu tangan dan letakkan sisi jempol tangan kepalan pada perut korban,
sedikit di atas pusar dan di bawah ujung tulang sternum. Pegang erat kepalan tangan dengan tangan
lainnya. Tekan kepalan tangan ke perut dengan hentakan yang cepat ke atas. Setiap hentakan harus
terpisah dan gerakan yang jelas.

Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada posisi tergeletak (tidak sadar)

Caranya : korban harus diletakkan pada posisi terlentang dengan muka ke atas. Penolong berlutut di sisi
paha korban. Letakkan salah satu tangan pada perut korban di garis tengah sedikit di atas pusar dan jauh
di bawah ujung tulang sternum, tangan kedua diletakkan di atas tangan pertama. Penolong menekan ke
arah perut dengan hentakan yang cepat ke arah atas.

Berdasarkan ILCOR yang terbaru, cara abdominal thrust pada posisi terbaring tidak dianjurkan, yang
dianjurkan adalah langsung melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP).

Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada yang dilakukan sendiri

Pertolongan terhadap diri sendiri jika mengalami obstruksi jalan napas.

Caranya : kepalkan sebuah tangan, letakkan sisi ibu jari pada perut di atas pusar dan di bawah ujung
tulang sternum, genggam kepala itu dengan kuat, beri tekanan ke atas kea rah diafragma dengan gerakan
yang cepat, jika tidk berhasil dapat dilakukan tindakan dengan menekan perut pada tepi meja atau
belakang kursi
Gambar 9. Abdominal Thrust dalam posisi berdiri

Back Blow (untuk bayi)

Bila penderita sadar dapat batuk keras, observasi ketat. Bila nafas tidak efektif atau berhenti, lakukan back
blow 5 kali (hentakan keras pada punggung korban di titik silang garis antar belikat dengan tulang
punggung/vertebrae)

Gambar 10. Back blow pada bayi

Chest Thrust (untuk bayi, anak yang gemuk dan wanita hamil)

Bila penderita sadar, lakukan chest thrust 5 kali (tekan tulang dada dengan jari telunjuk atau jari tengah
kira-kira satu jari di bawah garis imajinasi antara kedua putting susu pasien). Bila penderita sadar, tidurkan
terlentang, lakukanchest thrust, tarik lidah apakah ada benda asing, beri nafas buatan

RJP

Pengertian

: Tindakan yang dilakukan untuk mengatasi henti nafas dan henti jantung

Tujuan : Untuk mengatasi henti nafas dan henti jantung sehingga dapat pulih kembali

Indikasi :

1. Henti nafas (Respiratory Arrest), henti nafas yang bukan disebabkan gangguan pada jalan nafas dapat
terjadi karena gangguan pada sirkulasi (asistole, bradikardia, fibrilasi ventrikel)

2. Henti jantung (Cardiac Arrest) dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti:
 Hipoksemia karena berbagai sebab
 Gangguan elektrolit (hipokalemia, hiperkalemia, hipomagnesia)
 Gangguan irama jantung (aritmia)
 Penekanan mekanik pada jantung (tamponade jantung, tension pneumothoraks)

Diagnosis :

 Tidak terdapat adanya pernafasan (dengan cara Look-Listen-Feel)


 Tidak ada denyut jantung karotis

Perhatian :

Pada pasien yang telah terpasang monitor EKG dan terdapat gambaranasistole pada layar monitor, harus
selalu dicek denyut nadi karotis untuk memastikan adanya denyut jantung. Begitu juga sebaliknya pada
pasien terpasang monitor EKG yang telah di-RJP terdapat gambaran gelombang EKG harus diperiksa
denyut nadi karotis untuk memastikan apakah sudah teraba nadi (henti jantung sudah teratasi) atau hanya
gambaran EKGpulseless. Jika nadi karotis belum teraba maka RJP dilanjutkan

Tindakan

Tanpa alat :

a.1 (satu) orang penolong : memberikan pernafasan buatan dan pijat jantung luar dengan perbandingan 2 :
30 dalam 2 menit (5 siklus). Tiap 5 siklus dievaluasi dengan mengecek pernafasan (LLF) dan jantung
(perabaan nadi karotis). Jika masih henti jantung dan henti nafas, RJP dilanjutkan

b. 2 (dua) orang penolong : memberikan pernafasan buatan dan pijat jantung luar yang dilakukan oleh
masing-masing penolong secara bergantian dengan perbandingan 2 : 30 dalam 2 menit (5 siklus). Tiap 5
siklus dievaluasi dengan mengecek pernafasan (LLF) dan jantung (perabaan nadi karotis). Jika masih henti
jantung dan henti nafas, RJP dilanjutkan dengan berganti orang.

c. Pijat jantung luar diusahakan 100 kali/menit

Dengan alat :

Untuk mencapai hasil RJP yang lebih baik harus segera diusahakan pemasangan intubasi endotrakeal

RJP dihentikan bila :

 Jantung sudah berdetak ditandai adanya nadi dan nafas sudah spontan
 Mengecek nadi dan pernafasan
 Penolong sudah kelelahan
 Pasien dinyatakan tidak mempunyai harapan lagi/meninggal

Penilaian awal (initial asessment)

Initial Assesment adalah proses penilaian yang cepat dan pengelolaan yang tepat guna menghindari
kematian pada pasien gawat darurat.

Tujuannya mencegah semakin parahnya penyakit dan menghindari kematian korban dengan penilaian
yang cepat dan tindakan yang tepat. Meliputi :
1. Persiapan,antara lain

a. Fase pra rumah sakit, harus ada koordinasi yang baikantara dokter di rumah sakit dengan petugas
lapangan sehingga rumah sakit dapat mempersiapkan diri. Pada fase ini dititikberatkan pada stabilisasi
pasien yang menyangkut penjagaan jalan nafas, kontrol perdarahan dan syok, immobilisasi pasien dan
transportasi pasien.

b. Fase rumah sakit, harus mempersiapkan diri sebelum pasien tiba seperti perlengkapan airway, cairan
kristaloid yang telah dihangatkan, perlengkapan monitoring, alat-alat proteksi diri dan tenaga medis dan
penunjangnya sendiri.

2. Triage

3. Survei primer

4. Resusitasi

5. Tambahan terhadap survey primer dan resusitasi

6. Survei sekunder

7. Tambahan terhadap survey sekunder

8. Pemantauan dan re-evaluasi

Survey Primer

Pengertian

: Deteksi cepat dan koreksi segera terhadap kondisi yang mengancam

Tujuan : Untuk mengetahui kondisi pasien yang mengancam jiwa dan kemudian
dilakukan tindakan life saving.

Cara pelaksanaan (harus berurutan dan simultan)

Jalan nafas (airway)

 Lihat, dengar, raba (Look, Listen, Feel)


 Buka jalan nafas, yakinkan adekuat
 Bebaskan jalan nafas dengan proteksi tulang cervical dengan
menggunakan teknik Head Tilt/Chin Lift/Jaw Trust, hati-hati pada korban trauma
 Cross finger untuk mendeteksi sumbatan pada daerah mulut
 Finger sweep untuk membersihkan sumbatan di daerah mulut
 Suctioning bila perlu

Pernafasan (breathing)
 Lihat, dengar, rasakan udara yang keluar dari hidung/mulut, apakah ada
pertukaran hawa panas yang adekuat, frekuensi nafas, kualitas nafas,
keteraturan nafas atau tidak

Perdarahan (circulation)

 Lihat adanya perdarahan eksterna/interna


 Hentikan perdarahan eksterna dengan Rest, Ice, Compress,
Elevation (istirahatkan lokasi luka, kompres es, tekan/bebat, tinggikan)
 Perhatikan tanda-tanda syok/ gangguan sirkulasi : capillary refill time, nadi,
sianosis, pulsus arteri distal

Susunan Saraf Pusat (disability)

 cek kesadaran
 Adakah cedera kepala?
 Adakah cedera leher?
 perhatikan cedera pada tulang belakang

Kontrol Lingkungan (Exposure/ environmental )

 Buka baju penderita lihat kemungkinan cedera yang timbul tetapi cegah
hipotermi/kedinginan

Pengelolaan jalan nafas dengan alat

Cara ini dilakukan bila pengelolaan jalan nafas tanpa alat tidak berhasil dengan
sempurna dan fasilitas tersedia.

Peralatan dapat berupa :

a. Pemasangan Pipa (tube)

 Dipasang jalan nafas buatan dengan pipa, bisa berupa pipa orofaring
(mayo), pipa nasofaring atau pipa endotrakea tergantung kondisi korban.
 Penggunaan pipa orofaring dapat digunakan untuk mempertahankan jalan
nafas tetap terbuka dan menahan pangkal lidah agar tidak jatuh ke belakang
yang dapat menutup jalan nafas terutama bagi penderita tidak sadar
 Pemasangan pipa endotrakea akan menjamin jalan nafas tetap terbuka,
menghindari aspirasi dan memudahkan tindakan bantuan pernafasan

b. Pengisapan benda cair (suctioning)


 Bila terdapat sumbatan jalan nafas oleh benda cair. Pengisapan dilakukan
dengan alat bantu pengisap (pengisap manual atau dengan mesin)
 Pada penderita trauma basis cranii maka digunakan suction yang keras
untuk mencegah suction masuk ke dasar tengkorak

c. Membersihkan benda asing padat dalam jalan nafas

 Bila pasien tidak sadar terdapat sumbatan benda padat di daerah


hipofaring maka tidak mungkin dilakukan sapuan jari, maka digunakan alat Bantu
berupa : laringoskop, alat pengisap, alat penjepit.

d. Membuka jalan nafas

 Dapat dilakukan krikotirotomi atau trakeostomi


 Cara ini dipilih bila pada kasus yang mana pemasangan pipa endotrakeal
tidak mungkin dilakukan, dipilih tindakan krikotirotomi dengan jarum. Untuk
petugas medis yang terlatih, dapat melakukan krikotirotomi dengan pisau atau
trakeostomi.

e. Proteksi servikal

 Dalam mengelola jalan nafas, jangan sampai melupakan control servikal


terutama pada multiple trauma atau tersangka cedera tulang leher.
 Dipasang dari tempat kejadian. Usahakan leher jangan banyak bergerak.
Posisi kepala harus “in line” (segaris dengan sumbu vertikal tubuh)

Gambar alat untuk pengelolaan jalan nafas

Secondary survey
Pengertian
: Mencari perubahan-perubahan yang dapat berkembang menjadi lebih gawat
dan mengancam jiwa apabila tidak segera diatasi dengan pemeriksaan dari
kepala sampai kaki (head to toe)

Tujuan : Untuk mendeteksi penyakit atau trauma yang diderita pasien sehingga
dapat ditangani lebih lanjut

Peralatan : Stetoskop, tensi meter, jam, lampu pemeriksaan/senter, gunting,


thermometer, catatan, alat tulis

Prosedur :

Anamnesis :

Riwayat “AMPE” yang harus diingat yaitu :

A : Alergi

M : Medikasi (obat yang diminum sebelumnya)

P : Past illness (penyakit sebelumnya)/Pregnancy (hamil)

E : Event/environment (lingkungan yang berhubungan dengan kegawatan)

Pemeriksaan fisik :

1. Pemeriksaan kondisi umum menyeluruh

a. Posisi saat ditemukan

b. Tingkat kesadaran

c. Sikap umum, keluhan

d. Trauma, kelainan

e. Keadaan kulit

2. Periksa kepala dan leher

a. Rambut dan kulit kepala

Perdarahan, pengelupasan, perlukaan, penekanan


b. Telinga

Perlukaan, darah, cairan

c. Mata

Perlukaan, pembengkakan, perdarahan, reflek pupil, kondisi kelopak mata,


adanya benda asing, pergerakan abnormal

d. Hidung

Perlukaan, darah, cairan, nafas cuping hidung, kelainan anatomi akibat trauma

e. Mulut

Perlukaan, darah, muntahan, benda asing, gigi, bau, dapat buka mulut/ tidak

f. Bibir

Perlukaan, perdarahan, sianosis, kering

g. Rahang

Perlukaan, stabilitas, krepitasi

h. Kulit

Perlukaan, basah/kering, darah, suhu, warna

i. Leher

Perlukaan, bendungan vena, deviasi trakea, spasme otot, stoma, stabilitas tulang
leher

3. Periksa dada

Flail chest, nafas diafragma, kelainan bentuk, tarikan antar iga, nyeri tekan,
perlukaan (luka terbuka, luka mengisap), suara ketuk/perkusi, suara nafas

4. Periksa perut

Perlukaan, distensi, tegang, kendor, nyeri tekan, undulasi

5. Periksa tulang belakang


Kelainan bentuk, nyeri tekan, spasme otot

6. Periksa pelvis/genetalia

Perlukaan, nyeri, pembengkakan, krepitasi, inkontinensia

7. Periksa ekstremitas atas dan bawah

Perlukaan, angulasi, hambatan pergerakan, gangguan rasa, bengkak, denyut


nadi, warna luka

Perhatian !

1. Perhatikan tanda-tanda vital (sesuai dengan survei primer)

2. Pada kasus trauma, pemeriksaan setiap tahap selalu dimulai dengan


pertanyaan adakah : D-E-C-A-P-B-L-S

D : Deformitas

E : Ekskoriasi

C : Contusio

A : Abrasi

P : Penetrasi

B : Bullae/Burn

L : Laserasi

S : Swelling/Sembab

3. Pada dugaan patah tulang selalu dimulai dengan pertanyaan adakah : P-I-C

P : Pain

I : Instabilitas

C : Crepitasi
Pemeriksaan anamnesis dan tanda vital
Posted on 18 December 2013 by pramesemara

Sebagai calon tenaga medis atau paramedis, tentu diharapkan memiliki kecakapan yang baik dalam melakukan beberapa keterampilan
klinis mendasar. Dalam kehidupan sehari-hari seringkali secara dini kita dihadapkan dengan berbagai permasalahan kesehatan
masyarakat. Terutama ketika mengadakan kegiatan pelayanan kesehatan yang menuntut kemampuan memberikan konsultasi dan
pemeriksaan fisik yang sederhana.
Dua kemampuan klinis yang minimal harus dipahami dan layak untuk dipraktekkan oleh mahasiswa di bidang ilmu kesehatan adalah
keterampilan anamnesis dan pemeriksaan tanda-tanda vital tubuh (Vital Signs). Acapkali hanya dengan melakukan wawancara
mendalam dan ditambah memeriksa tanda-tanda vital menggunakan peralatan-peralatan sederhana sudah cukup untuk mendukung
penegakkan diagnosis suatu penyakit.

1. Keterampilan Anamnesis
Anamnesis merupakan pondasi utama dan modal awal dari berbagai keterampilan klinis yang ada di dunia medis. Anamnesis adalah
bentuk wawancara sederhana di antara tenaga medis dengan pasien yang bertujuan untuk mengingat kembali perjalanan alamiah dari
penyakit dan mendapatkan segala informasi yang mendukung tegaknya diagnosis.
Informasi yang diperoleh anamnesis bisa dari autoanamnesis melalui wawancara langsung pada pasien dan heteroanamnesis dengan
mewawancarai keluarga, kerabat maupun orang-orang terdekat dari pasien. Usahakan untuk selalu melakukan autoanamnesis agar
mendapat kondisi riil dari penyakit pasien dengan bahasa yang terbuka, tanpa tekanan, dan peran tenaga medis sebagai pengarah
atau penanya.
Umumnya terdapat langkah-langkah panduan untuk melakukan anamnesis yang baik yang sering disebut dengan konsep Basic
Four (B4) atau Fundamental Four (F4) dan Sacred Seven (S7). Prosedur awal dari anamnesis adalah selalu memulainya dengan
menanyakan keluhan utama (Chief Complaint atau CC) dari penyakit atau gangguan kesehatan yang menyebabkan atau mendorong
pasien untuk datang memeriksakan diri atau berobat.
Terapkan Basic Four sebagai materi anamnesis yang mampu menggali lebih luas problem kesehatan yang dialami pasien. Konsep B4
berisi ;

1. Riwayat Penyakit Sekarang (Present History) yang mendalami pemahaman pemeriksa terhadap CC dengan menggunakan
S7,
2. Riwayat Penyakit Dahulu (Past History) yang berusaha menggali riwayat penyakit dan kondisi kesehatan yang lalu,
3. Riwayat Kesehatan Keluarga (Family History) untuk mengetahui kondisi kesehatan keluarga pasien termasuk adanya
penyakit keturunan, dan
4. Riwayat Sosial (Social History) sebagai tambahan untuk mendapatkan informasi yang menggambarkan kondisi masyarakat
dan lingkungan di sekitar pasien.

Dilanjutkan dengan anamnesis tambahan sebagai upaya mengeksplorasi secara spesifik berbagai keluhan atau tanda dari penyakit
sesuai konsep Sacred Seven(S7). Tujuh hal yang ditanyakan dalam S7, antara lain ;

1. Location (Lokasi) untuk mengetahui lokasi keluhan ataupun tanda penyakit,


2. Onset (Waktu) untuk menggali waktu mulai timbulnya keluhan maupun tanda penyakit,
3. Quality (Kualitas) yang bertujuan mendalami sifat atau berat-ringannya suatu penyakit,
4. Quantity (Kuantitas) guna mencari tahu derajat atau frekuensi mengalami suatu penyakit,
5. Chronology (Kronologi) yang menggambarkan perjalanan penyakit yang dialami,
6. Modification Factors (Faktor-faktor Modifikasi) yang memberikan informasi mengenai faktor-faktor yang memperberat atau
meringankan penyakit, dan
7. Comorbid Complaints (Keluhan Penyerta lainnya) berupa keluhan-keluhan ataupun tanda-tanda lain yang muncul menyertai
penyakit di luar CC.

2. Pemeriksaan Vital Signs


Tanda-tanda vital atau Vital Signs (VS) adalah nilai-nilai kardinal yang dapat diukur, sifatnya obyektif, selalu berubah-ubah, dan
mencerminkan status kesehatan seseorang. Hingga kini terdapat empat bentuk VS yang penting untuk dikaji, yaitu tekanan darah,
denyut nadi, laju pernapasan, dan suhu tubuh. Namun dalam perkembangannya parameter VS seringkali pula ditambahkan penilaian
pada respon kesadaran, nyeri, dan saturasi oksigen.
Pemeriksaan VS merupakan cara yang rutin, efektif, dan efisien dalam memantau kondisi klinis, mengidentifikasi permasalahan
kesehatan yang ada, dan mengevaluasi respon pasien terhadap intervensi medis yang telah diberikan. Sebelum melakukan
pemeriksaan VS harus mempersiapkan sejumlah alat-alat bantu medis sederhana yang sesuai dan terjaga akurasinya. Agar
mendapatkan hasil VS yang akurat dan mampu menangani pasien dengan baik, maka tenaga medis selaku pemeriksa dituntut untuk
memiliki pengetahuan yang baik mengenai fisiologi dan nilai normal VS.

2.1 Tekanan Darah (TD)


Nilai tekanan darah (Blood Pressure) mencerminkan fungsi kardiovaskular yang didapat dari pengukuran kekuatan aliran darah pada
dinding arteri perifer. Terdapat dua komponen utama dalam mengevaluasi TD, yaitu sistole dan diastole. Nilai TD tertulis sebagai suatu
fraksi milimeter raksa (mmHg) yang terpisah oleh tanda baca garis miring dengan sistole sebagai pembilang dan diastole sebagai
penyebut.
Setiap kali ventrikel jantung berkontraksi, darah akan didorong keluar dari jantung menuju aorta dan arteri pulmonaris. Fase pertama
dalam siklus kerja jantung itu disebut sistole dan menghasilkan titik nilai tertinggi dari tekanan darah dalam tubuh yang disebut tekanan
sistolik yang ditandai dengan terdengarnya bunyi Korotkov-I. Selanjutnya jantung akan mengalami fase relaksasi di antara dua fase
kontraksi yang menunjukkan kondisi diastole dan menghasilkan nilai tekanan diastolik yang ditandai terdengarnya bunyi Korotkov-V.
Pemeriksaan TD dilakukan dengan bantuan tensimeter atau sfigmomanometer dan stetoskop secara auskultasi, tetapi bisa juga secara
palpasi tanpa menggunakan stetoskop. Disarankan memeriksa TD menggunakan jenis tensimeter air raksa dan stetoskop secara
auskultasi agar mendapatkan hasil yang lebih sensitif, jika dibandingkan dengan memakai tensimeter pegas atau digital dan secara
palpasi tanpa menggunakan stetoskop.
Pengukuran TD dapat dilakukan pada posisi pasien berbaring, lengan kiri, kedua tungkai, setelah cukup istirahat, atau dapat diukur
juga pada posisi duduk atau berdiri. Prosedurnya diawali dengan melingkarkan manset tensimeter pada lengan atas pasien, 1-2 cm di
atas fossa cubiti anterior. Tensimeter dipompa dan tekanannya dinaikkan sembari secara auskultasi menaruh diafragma stetoskop atau
secara palpasi meraba denyut nadi dari arteri brakhialis atau arteri radialis. Kemudian perlahan-lahan tekanan tensimeter diturunkan
hingga berturut-turut secara auskultasi terdengar suara Korotkov-I dan Korotkov-V, sedangkan secara palpasi hanya akan
mendapatkan denyut nadi pertama sebagai tanda nilai tekanan darah siastolik.
Saat melakukan pengukuran TD akan terdengar denyut nadi yang disebut bunyi Korotkov sebagai berikut :

 Korotkov-I : Bunyi denyut nadi mulai terdengar, tetapi masih lemah dan mengeras setelah tekanan diturunkan 10-15 mmHg
yang nilainya sesuai dengan tekanan sistolik.
 Korotkov-II : Bunyi denyut nadi terdengar seperti suara bising jantung atau murmur sepanjang 15-20 mmHg berikutnya.
 Korotkov-III : Bunyi denyut nadi menjadi lebih kecil kualitasnya, lebih jelas dan lebih keras untuk selama 5-7 mmHg
berikutnya.
 Korotkov-IV : Bunyi denyut nadi akan meredup sampai kemudian menghilang setelah 5-6 mmHg berikutnya.
 Korotkov-V : Titik ketika bunyi denyut nadi menghilang yang nilainya sesuai dengan tekanan diastolik.

Masalah yang umum ditemukan adalah hipertensi dengan nilai TD yang tinggi sebagai hasil peningkatan tekanan yang berlebihan dari
dinding arteri. Bisa juga ditemukan kondisi hipotensi dengan nilai TD yang rendah sebagai hasil penurunan tekanan dinding arteri.
Selisih nilai antara tekanan siastolik dan tekanan diastolik disebut tekanan nadi dan dalam kondisi normal menunjukkan nilai 30-50
mmHg.
Tabel 1. Klasifikasi Dan Manajemen Tekanan Darah Untuk Usia Pasien Di Atas 18 Tahun (JNC-VII, 2003)
Klasifikasi Tekanan Tekanan Darah Tekanan Darah
Darah Siastolik (mmHg) Diastolik(mmHg)
Normal <120 dan <80
Pre-Hipertensi 120–139 atau 80–89
Hipertensi Tahap-1 140–159 atau 90–99
Hipertensi Tahap-2 ³160 atau ³100

2.2 Denyut Nadi (DN)


Denyut Nadi (Pulse Rate) adalah wujud dari dua fase aksi jantung dan bisa dirasakan dengan melakukan penekanan langsung pada
arteri. Saat jantung mengalami kontraksi, maka terjadi peningkatan tekanan pada dinding-dinding arteri yang berjalan seperti
gelombang kontraksi. Ketika jantung masuk ke fase relaksasi, tekanan pada arteri berkurang dan mengakibatkan ukuran dinding arteri
kembali seperti ukuran semula. Adanya masing-masing satu kontraksi dan relaksasi jantung yang kemudian membentuk denyut jantung
ataupun dapat diidentikkan nilainya dengan DN pada individu yang sehat.
DN dapat dirasakan pada banyak area tubuh terutama arteri-arteri yang terletak dekat dengan permukaan kulit dan berjalan di atas
tulang keras. Umumnya DN dievaluasi dengan meraba dengan jari-jari tangan pada arteri radialis sebagai lokasi pemeriksaan tersering.
Selain pada arteri karotis, temporalis, brakialis, femoralis, poplitea, dan dorsalis pedis. Terkadang DN juga dievaluasi dari denyut
jantung yang terletak pada bagian apex jantung.
Beberapa aspek dari penilaian DN, antara lain :

 Frekuensi ; Normal bernilai 60-100 kali permenit. Bila frekuensi nadi lebih dari 100 kali permenit disebut takikardia,
sedangkan frekuensi nadi kurang dari 60 kali permenit disebut bradikardia. Pemeriksaan DN diukur dengan menghitung
denyutan dalam 15 detik dan hasilnya dikalikan empat untuk mendapatkan perkiraan nilai DN permenit. Jika terdapat
gangguan jantung, maka DN harus dihitung selama satu menit. Frekuensi nadi meningkat saat deman, kecuali pada demam
tifoid yang justru menurun DN dan kondisi tersebut disebut bradikardi relatif.
 Irama ; Harus ditentukan apakah teratur (reguler) atau tidak teratur (irreguler). Pada keadaan normal, DN lebih lambat saat
ekspirasi dibandingkan inspirasi yang disebut sinus aritmia. Pada keadaan fibrilasi atrium, DN sangat irreguler, frekuensinya
lebih kecil dibandingkan dengan frekuensi denyut jantung dan disebut pulsus defisit. Pada gangguan hantaran jantung
(aritmia) dapat terjadi dua atau tiga DN yang terpisahkan oleh interval panjang yang disebut pulsus bigeminus dan pulsus
trigeminus. Terkadang teraba ekstra-sistole, yaitu DN datang lebih dahulu dari seharusnya dan diikuti dengan interval
panjang. Pada kelainan jantung koroner ditemukan pulsus alternans, yaitu DN kuat dan lemah yang terjadi secara
bergantian.
 Isi ; Menilai cukup, kecil (pulsus parvus) atau besar (pulsus magnus) DN. Pulsus parvus didapatkan pada perdarahan, infark
miokardial, efusi perikardial, dan stenosis aorta. Sedangkan pulsus magnus terjadi pada keadaan deman atau ketika bekerja
keras. Pada inspirasi DN akan lebih lemah dibandingkan pada waktu ekspirasi karena sewaktu inspirasi darah ditarik ke
rongga thorak yang disebut pulsus paradoksus.
 Kualitas ; Tergantung pada tekanan nadi, apabila tekanan nadi besar maka pengisian dan pengosongan nadi akan
berlangsung mendadak yang disebut pulsus celer (abrupt pulse). Apabila pengisian dan pengosongan berlangsung lambat
disebut pulsus tardus (plateau pulsus), misalnya stenosis aorta.

2.3 Laju Pernapasan (LP)


Bernapas merupakan media utama pertukaran gas oksigen dan gas karbondioksida antara di atmosfer dan dalam darah. Oksigen
memegang fungsi penting dalam proses vital tubuh dan karbondioksida sebagai produk buangannya. Proses respirasi berlangsung
secara alamiah di bawah kontrol medulla oblongata dari otak.
Pernapasan yang normal dibagi menjadi dua fase, yakni inhalasi (inspirasi) dan ekshalasi (ekspirasi). Saat inspirasi, ukuran diafragma
akan berkurang dan sebaliknya paru-paru membesar hingga menyebabkan oksigen dari atmosfer masuk ke dalam paru-paru. Keadaan
terbalik terjadi saat ekspirasi yang mengakibatkan karbondioksida keluar menuju atmosfer.
Laju pernapasan (Respiration Rate) berarti hitung jumlah dari pernapasan permenit dan nilai normalnya berkisar 16-24 kali permenit
pada orang dewasa. Biasanya prosedur menghitung LP dilakukan dalam hitungan waktu 30 detik dan hasilnya dikalikan dua. Beberapa
kondisi yang dapat merubah nilai LP, misalnya faktor usia, aktifitas, status kesehatan, emosional, dan adanya konsumsi obat-obatan
tertentu.
Jika LP kurang dari 16 kali permenit disebut bradipneu, sedangkan apabila lebih dari 24 kali permenit disebut takipneu. Kesulitan
bernapas atau sesak napas yang disebut dispneu, sering ditandai dengan pernapasan cupping hidung, retraksi suprasternal, sianosis,
dan takipneu.

2.4 Suhu Tubuh (ST)


Suhu tubuh (Body Temperature) dikendalikan oleh hipotalamus yang merupakan bagian dari otak yang berperan sebagai termostat. ST
selalu terjaga dalam rentang nilai yang normal dan membentuk keseimbangan sesuai produksi dan kehilangan panas tubuh. Saat ST
meningkat, maka tubuh akan teraba demam dan menjadi indikator adanya proses sakit.
Panas tubuh dihasilkan oleh aktifitas otot dan metabolisme sel dan dikeluarkan dari tubuh tergantung suhu di lingkungan sekitar.
Apabila suhu lingkungan rendah, maka panas akan dikeluarkan dari tubuh melalui radiasi, konduksi ataupun konveksi, sedangkan jika
suhu lingkungan tinggi, maka panas dikeluarkan dari tubuh melalui evaporasi (berkeringat).
Terdapat beberapa satuan untuk ukuran ST, di Indonesia menganut sistem derajat Celsius (ºC) yang juga dijadikan standar temperatur
oleh WHO (World Health Organization). Rentangan normal ST adalah 36,0-37,5ºC dan dengan nilai rata-rata 37,0ºC. ST dikatakan
subfebris atau meriang bila menunjukkan temperatur 37,5-38,0ºC, disebut febris atau demam jika temperatur >38,0ºC, hiperpireksia
atau demam tinggi bila temperatur >40,0ºC, dan. kondisi hipotermia jika temperatur bernilai <36,0ºC.
Disarankan untuk menggunakan termometer air raksa untuk mengukur ST, dibandingkan termometer digital. Metode pengukuran ST
sebaiknya diukur secara rektal, walau lebih mudah melakukan pemeriksaan ST secara aksila, aural, foreheadatau oral. Umumnya
praktek di lapangan menggunakan metode pemeriksaan ST secara aksila dengan menaruh termometer di daerah ketiak dan menunggu
hasilnya setelah 2-3 menit.
**************
Daftar Pustaka

1. Anonym. 19 – Vital Signs. Diunduh darihttp://evolve.elsevier.com/Bonewit/today/


2. Bates, B. 1998. Buku Saku Pemeriksaan Fisik Dan Riwayat Kesehatan. Edisi II, Penerbit Buku kedokteran-EGC. Jakarta
3. Wirtayani, N.W.M. 2012. Pengenalan Tanda-Tanda Vital Pada Pemeriksaan Fisik Umum ; Buku Latdas KMPA 2012.
Kelompok Mahasiswa Peduli AIDS, FK UNUD. Hal. 59-65.
4. Stewart, J. V. 2003. Vital Signs and Resuscitation. Landes Bioscience. Georgetown, Texas U.S.A.
5. Sudoyo, A. W, Setiyohadi B., Alwi I., dkk. 2006. Pemeriksaan Fisik Umum, dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV
Jilid I, Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI, Jakarta, Hal. 22-38.

Pembebasan jalan nafas


Cara membuka jalan napas jika dipastikan pasien tidak bernapas/mengalami sumbatan
jalan napas,
yaitu dengan cara Manuver Jalan Napas
1. Kepala ekstensi pada sendi otot atlanto-oksipital

2. Mandibula didorong ke depan pada kedua angulus mandibula


3. Mulut di buka

OPA
Tentang Oropharyngeal Airway (OPA)
Oropharyngeal Airway (OPA) adalah suatu alat biasanya terbuat dari plastik yang dirancang untuk dimasukkan ke dalam
rongga faring posterior di sepanjang lidah. Pemasangan alat ini bertujuan untuk membebaskan jalan napas, ketika teknik head
tilt chin lift dan jaw thrust belum mampu membuka jalan napas secara adekuat. Selain itu, alat ini juga dapat mencegah lidah
jatuh kebelakang atau tertelan.

Indikasi
Oropharyngeal Airway (OPA) digunakan pada pasien tidak sadar untuk mencegah lidah supaya tidak jatuh ke belakang faring
yang dapat menutupi jalan napas. Oropharyngeal Airway (OPA) juga dapat mencegah gigitan korban yang dilakukan
pemasangan intubasi. Oropharyngeal Airway (OPA) juga dapat digunakan pada korban yang mendapatkan oksigenasi melalui
bag mask untuk memudahkan ventilasi dan mencegah insuflasi gastric.

Kapan OPA digunakan?


OPA dipakai digunakan pada indikasi pasien dengan gangguan airway (jalan
nafas) yang tertutup akibat lidah yang jatuh sehingga menutup jalan nafas pada
pasien tak sadarkan diri. Kondisi ini biasanya ditandai dengan bunyi
nafas Snoring (ngorok). tindakan ini bertujuan untuk menahan lidah agar tidak
menutup jalan nafas dan pemasangan OPA digunakan sementara sembari
menunggu dilakukan intubasi. Yang menjadi catatan penting disini, pemasangan
OPA TIDAK DIPERKENANKAN pada pasien dengan REFLEK MUNTAH, karena
akan sangat berisiko terjadi muntah dan mengakibatkan aspirasi.
Hal hal yang harus diperhatikan
- Oropharyngeal Airway (OPA) sebaiknya tidak dilakukan pada korban yang terstimulus oleh reflek muntah, karena dapat
beresiko aspirasi.
- Oropharyngeal Airway (OPA) memiliki ukuran yang bervariasi, maka dari itu sebelum memasang OPA harus diukur terlebih
dahulu, pengukuran OPA yaitu dari ujung mulut hingga ujung daun telinga. Ukuran yang terlalu keci dapat mengakibatkan lidah
terdorong ke orofaring. Sedangkan ukran yang terlalu besar dapat menyumbat trakea.
- Pemsangan Oropharyngeal Airway (OPA) yang kurang tepat justru dapat menyumbat jalan napas, hal ini terjadi apabila OPA
mendorong lidah ke tenggorokan.
- Lakukan pemasangan dengan cara memutar 180o. akan tetapi, teknik ini tidak dilakukan pada infant karena dapat melukai
jaringan lunak di orofaring. Solusinya dapat menggunakan tongue spatel untuk menekan lidah infant sebelum memasang OPA
- Lepas segera OPA bila korban memiliki reflek muntah yang adekuat untuk mencegah muntah
Persiapan
Alat-alat yang diperlukan
- Oropharyngeal Airway (OPA)
- Suction
- Tongue spatel
Persiapan korban
- Atur pasien dengan posisi supinasi
- Lakukan suction bila terdapat darah, sekresi, atau benda asing di rongga orofaring
- Pilih ukuran OPA yang tepat untuk pasien

Terdapat 2 cara pemasangan OPA, yang pertama adalah tanpa bantuan alat dan yang kedua
mengganakan bantuan Tongue Spatel. Cara pertama dilakukan dengan cara menyisipkan OPA secara
terbalik (up slide down), dengan bagian cekungan menghadap keatas, masukkan hingga menyentuh
dindingpalatum (langit-langit mulut) lalu putar 180 derajat dan susuri sehingga lidah benar-benar ditekan
bukan didorong oleh OPA. cara pertama tidak dianjurkan terhadap bayi dan anak-anak, karena dapat
merusak mulut dan faring. Cara kedua yaitu dengan menggunakan bantuan Tongue Spatel, atau sudip
lidah, caranya, tekan lidah dengan tongue spatel kemudian luncurkan OPA dengan menyusuri lidah
dengan cekungan menghadap kebawah (TIDAK DIBALIK). setelah memasang OPA, pada pangkal OPA
JANGAN DIPLASTER, karena jika pasien tiba-tiba memiliki reflek muntah OPA akan terdorong bebas
keluar sehingga tidak malah menyebabkan aspirasi. jika pasien dengan bunyi nafas snoring namun ada
reflek muntah, maka solusinya adalah pemasangan NPA (Naso-pharyngeal Airway), namun kendalanya
adalah tidak semua rumah sakit siap sedia dengan alat ini.
Komplikasi yang dapat muncul
- Trauma mulut, gigi, lidah, dan mukosa mulut
- Muntah atau aspirasi
- Obstruksi jalan napas
Referensi

America Academy of pediatric (AAP). Pediatric for Prehospital Professional (2bd ed). Boston : Jones dan Bartlet.
American Heart Association (AHA). (2005). Textbook of advanced life support. Dallas : Autor.
Vrocher, D & Hopson, L. 2004. Basic Airway Management and Decision-Making. J.R Robbert & J.R. Hedges (Eds), Clinical in Emergency
Medicine (4th ed., pp. 53-68). Philadelphia : Saunders.
Clark, D.Y. 2009. “Oral Airway Insertion” in Proehl, J.A., Emergency Nursing Procedure. Saunders, an imprint of Elseiver Inc. St Louis,
Missouri.

Edwards, G.J. 2005, “Airway Management” in Newberry, Lorene, Criddle, Laura. Sheehy’s Manual of Emergency Care. –Ed. 6-. Missouri
: Elseveir Mosby