Anda di halaman 1dari 35

KOMUNIKASI DALAM INTERPROFESIONAL EDUCATION

Kelas Reguler C Semester 5

Kelmpok 1

1. Ayu Alviyani 6. Nurul Hidayah

2. Fitri Dwi Aldianti 7. Riris Radiyanti

3. Irma Damayanti 8. Sri Trianingsih

4. Isabela Yopita Putri 9. Susan Susanti

5. Muhammad Lutfi 10. Yayan Sopyan

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan (STIKes Kuningan)

Tahun Ajaran 2018–2019

Jalan Lingkar Kadugede No. 02 Kuningan - Jawa Barat Telp. 0232-875847 Fax.
0232-875123

Email : info@stikeskuningan.ac.id Website : http://stikeskuningan.ac.id


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Puja dan puji syukur saya panjatkan atas kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunian-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang
berjudul “Komunikasi dalam Interprofeional Education” dengan lancar dan tepat waktu.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas kuliah Interprofesional Education
yang diberikan oleh Ibu Lia. Makalah ini juga disusun dengan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu, kami ucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut berkontribusi atau berperan dalam pembuatan
makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam makalah ini masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, dengan
tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik yang sifatnya membangun guna
sempurnanya makalh ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan inspirasi
terhadap pembaca, serta terhadap diri kami sendiri.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Kuningan, 22 Oktober 2019

Penyusun

i
Daftar Isi
Kata Pengantar................................................................................................................................................i
Daftar Isi ......................................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................................................4
2.1 Komunikasi Kelompok..................................................................................................................4
2.1.1 Definisi Komunikasi Kelompok............................................................................................4
2.1.2 Karakteristik Kelompok........................................................................................................4
2.1.3 Fungsi Komunikasi Kelompok.............................................................................................6
2.1.4 Tipe Kelompok.....................................................................................................................7
2.1.5 Komponen dalam Proses Komunikasi Kelompok................................................................8
2.1.6 Klasifikasi Komunikasi Kelompok........................................................................................8
2.1.7 Cara Pengambilan Keputusan dalam Kelompok.................................................................9
2.1.8 Fase–Fase dalam Komunikasi Kelompok.........................................................................10
2.1.9 Faktor Pendukung dari Komunikasi Kelompok..................................................................11
2.1.10 Faktor Penghambat dari Komunikasi Kelompok................................................................12
2.1.11 Teori Kepemimpinan dalam kelompok..............................................................................13
2.2 Komunikasi Interprofesional pada Pelayanan Kesehatan..........................................................14
2.2.1 Definisi Komunikasi Interprofessional................................................................................14
2.2.2 Tujuan Komunikasi Interprofessional.................................................................................14
2.2.3 Jenis dan Bentuk Komunikasi Interprofessional...............................................................15
2.2.4 Prinsip-prinsip Komunikasi Interprofessional.....................................................................15
2.2.5 Faktor pendukung dan penghambat komunikasi interprofessional...................................16
2.2.6 Penyebab Masalah............................................................................................................17
2.2.7 Cara Penyelesaian Masalah..............................................................................................17
2.3 Komunikasi Publik pada Pelayanan Kesehatan.........................................................................18
2.3.1 Definisi Komunikasi Publik.................................................................................................18
2.3.2 Tujuan Komunikasi Publik..................................................................................................18
2.3.3 Teknik dalam Melakukan Komunikasi Publik.....................................................................20
2.3.4 Langkah dalam Melakukan Komunikasi Publik pada Pelayanan Kesehatan....................21
2.3.5 Penerapan Komunikasi Publik...........................................................................................21
2.4 Komunikasi Massa pada Pelayanan Kesehatan........................................................................22

ii
2.4.1 Pengertian Komunikasi massa..........................................................................................22
2.4.2 Fungsi Komunikasi Massa.................................................................................................23
2.4.3 Teori pada Komunikasi Massa...........................................................................................23
2.3.5 Unsur-Unsur Komunikasi Massa.......................................................................................26
2.3.6 Ciri-Ciri Komunikasi Massa................................................................................................27
2.3.7 Pengaruh Komunikasi Massa............................................................................................28
2.3.8 Bentuk-bentuk komunikasi massa:....................................................................................29
2.3.9 Komunikasi Massa pada Pelayanan Kesehatan...............................................................29
BAB III PENUTUP........................................................................................................................................31
3.1 Kesimpulan.................................................................................................................................31
3.2 Saran..........................................................................................................................................31
Daftar Isi....................................................................................................................................................... 32

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagaimana diketahui, manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu
membutuhkan sesamanya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu tidak dapat dihindari
bahwa manusia harus selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Hubungan manusia dengan
manusia lainnya, atau hubungan manusia dengan kelompok, atau hubungan kelompok dengan
kelompok inilah yang disebut sebagai interàksi sosial. Banyak pakar menilai bahwa komunikasi
adalah suatu kebutuhan yang sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat.
Profesor Wilbur Schramm menyebutnya bahwa komunikasi dan masyarakat adalah dua kata
kembar yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Sebab tanpa komunikasi tidak mungkin
masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat maka manusia tidak mungkin dapat
mengembangkan komunikasi (Schramm; 1982).
Teori dasar Biologi menyebut adanya dua kebutuhan mendasar yang mendorong manusia
ingin berkomunikasi dengan manusia lainnya, yakni kebutuhan untük mempertahankan
kelangsungan hidupnya dan kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pendek
kata, sekarang ini keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam mencapai sesuatu yang
diinginkan termasuk karir mereka, banyak ditentukan oleh kemampuannya berkomunikasi.
Komunikasi massa adalah proses penyampaian informasi kepada khalayak massa dengan
media massa. Media massa hanyalah salah satu faktor yang membentuk proses komunikasi
massa tersebut, yaitu sebagai alat atau saluran. Iklan merupakan berita pesanan untuk
mendorong, membujuk orang agar tertarik pada barang atau jasa yang ditawarkan. Dari contoh
tersebut akan kita kupas lebih dalam lagi mengenai komunikasi apa saja yang dapat dipakai oleh
tenaga kesehatan ketika turun ke lapangan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang penulis kemukakan, rumusan masalah yang
ingin dungkapkan yaitu :

1. Bagaimana melakukan komunikasi pada kelompok?


2. Bagaimana melakukan komunikasi pada kelompok peer dan mitra kesehatan?

1
3. Bagaimana melakukan komunikasi pada masyarakat?
4. Bagaimana melakukan komunikasi massa pada pelayanan kesehatan?

C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah yang penulis kemukakan, tujuan penyusunan makalah yang
ingin disajikan penulis adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana melakukan komunikasi pada kelompok
2. Untuk mengetahui bagaimana melakukan komunikasi pada kelompok peer dan mitra
kesehatan.
3. Untuk mengetahui bagaimana melakukan komunikasi pada masyarakat.
4. Untuk mengetahui bagaimana melakukan komunikasi massa pada pelayanan
kesehatan.

D. Metodologi Penulisan

Untuk membuat makalah ini, kami melakukan metode menggunakan data melalui Studi
Pustaka yaitu teknik pengumpulan data dengan menggali informasi dari buku – buku, literatur,
maupun media internet.

E. Sistematika Penulisan
Setelah kerangka pendahuluan serta data-data yang diperlukan telah terkumpul,
selanjutnya ditetapkan kerangka dasar dalam penyusunan secara sistematis yang penulisannyan
adalah sebagai berikut:

 Bab I merupakan Bab Pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, perumusan masalah,
tujuan penelitian, metode penulisan, waktu dan lokasi penelitian, dan sistematika penulisan.
 Bab II merupakan Bab Deskripsi Umum yang membahas tentang Komunikasi Kesehatan.
 Bab III merupakan Bab Judul/Isi yang berisikan pembahasan materi dan wawasan penulis.
 Bab IV merupakan Bab Kesimpulan dan Saran yang berisikan simpulan uraian sebelumnya dan
memberikan saran mengenai Komunikasi Kesehatan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Komunikasi Kelompok

2.1.1 Definisi Komunikasi Kelompok


Definisi komunikasi kelompok menurut Anwar Arifin (1984) adalah komunikasi yang
berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat,
pertemuan, konperensi dan sebagainya. Kemudian, menurut Engleberg dan Wynn (2009)
komunikasi kelompok adalah interaksi antara tiga orang atau lebih anggota yang saling
ketergantungan untuk mencapai tujuan yang sama.

Sedangkan menurut Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) komunikasi kelompok


ialah interaksi tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui,
seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya
dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat.

Dalam pengertian di atas, kata kunci yang dapat diambil dalam komunikasi kelompok
salah satunya adalah tatap muka, maksudnya setiap anggota kelompok bisa melihat dan
mendengar anggota kelompok lainnya dalam berkomunikasi. Mereka juga harus bisa berinteraksi
satu sama lain. Kemudian, anggota kelompok berjumlah lebih dari tiga orang tetapi tidak boleh
lebih dari dua puluh orang karena jika anggota terlalu banyak, maka mereka sulit untuk tatap
muka, mendengar, dan berinteraksi satu sama lain. Lalu, maksud dan tujuan kelompok tersebut
harus sama agar dapat berinteraksi satu sama lain. Terakhir, anggota harus bisa mengingat
karakteristik anggota lain dimaksudkan agar saling mengenal satu sama lain supaya bisa
berkomunikasi dengan baik dan lancar.

2.1.2 Karakteristik Kelompok


Komunikasi yang efektif dapat meningkatkan kinerja kerja dengan memahami
karakteristik yang ada dalam suatu kelompok. Terdapat 2 karakteristik dalam sebuah kelompok
yaitu norma dan peran, yang akan kita bahas.
Norma adalah suatu perjanjian atau persetujuan yang mengatur bagaimana anggota-
anggota dalam kelompok berperilaku antara satu dengan yang lain. Istilah norma sering juga

3
disebut dengan “hukum” (law) atau “aturan” (rules) yaitu perilaku dan tindakan apa saja yang
pantas maupun tidak pantas dilakukan dalam kelompok. Menurut (Adler, 2006) terdapat tiga
kategori norma dalam kelompok, yaitu norma sosial, prosedural, dan tugas seperti yang tertera
dalam tabel di bawah ini :

Tabel 1. Norma dalam Kelompok

Sosial Prosedural Tugas


Mendiskusikan persoalan Memperkenalkan para anggota Mengkritik ide bukan
yang tidak kontroversial. kelompok orangnya.
Menceritakan Membuat agenda Mendukung gagasan
gurauan yang lucu. pertemuan. yang terbaik.
Menceritakan Memiliki kepedulian
Duduk saling bertatap
kebenaran yang tidak untuk pemecahan
muka.
dapat dibantah. persoalan.
Memantapkan tujuan Berbagi beban
Jangan merokok.
kelompok. pekerjaan.
Jangan meninggalkan Jangan memaksakan
Jangan datang
pertemuan tanpa gagasan kita dalam
terlambat.
sebab. kelompok.
Tidak hadir tanpa Jangan memonopoli Jangan berkata kasar
alasan yang jelas. Percakapan jika tidak setuju.

Dari data dalam tabel di atas dapat dipahami bahwa norma sosial mengatur interaksi/
hubungan antar para anggota. Sedangkan norma prosedural menguraikan pengoperasian/
persoalan teknis suatu kelompok. Sedangkan norma tugas memusatkan perhatian pada
bagaimana suatu pekerjaan/persoalan harus dilaksanakan.

Norma sangat penting dalam kelompok karena dengan norma kita dapat beradaptasi
dalam kelompok atau kelompok dapat beradaptasi pada lingkungan sehingga dapat
meningkatkan kinerja suatu kelompok dalam menghadapi persoalan dan juga berguna untuk
mencegah sarkasme atau apatis terhadap anggotanya.

4
Jika norma diberi batasan sebagai ukuran kelompok untuk dapat diterima, maka peran
(role) merupakan pola-pola perilaku yang diharapkan dari setiap anggota kelompok. Terdapat dua
fungsi peran dalam suatu kelompok, yaitu fungsi tugas dan fungsi pemeliharaan.

Tabel 2. Peran Fungsional dalam Kelompok

Fungsi Tugas Fungsi Pemeliharaan

Pemberi informasi Pendorong partisipasi

Pemberi pendapat Penyelaras

Pencari informasi Penurun ketegangan

Pemberi aturan Penengah persoalan pribadi

Dari tabel di atas dapat kita pahami bahwa fungsi tugas membantu kelompok untuk
mencapai tujuannya, fungsi pemeliharaan membantu agar hubungan antara anggota dapat
berjalan selaras. Sehingga dapat disimpulkan bahwa keefektivitasan kelompok dapat dicapai
dengan adanya fungsi pemeliharaan yang positif.

2.1.3 Fungsi Komunikasi Kelompok


1. Hubungan sosial

Kelompok mampu memelihara dan memantapkan hubungan sosial antar anggota


kelompok untuk memberi kesempatan dalam melakukan aktivitas yang informal,
santai dan menghibur.

2. Pendidikan

Baik secara formal maupun informal dengan adanya komunikasi kelompok mampu
mencapai dan saling bertukar pengetahuan. Dimana komunikasi kelompok dalam
pendidikan bergantung pada jumlah informasi baru yag dikontribusikan, jumlah
partisipan dalam kelompok serta frekuensi interaksi antar anggota.

3. Persuasi

5
Dimana seorang anggota kelompok berupaya mendorong sesama anggotanya untuk
melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Usaha yang berlebihan menimbulkan
konflik.

4. Memecahkan persoalan dan membuat keputusan

Kelompok berusaha memecahkan tiap persoalan yang ada dan mampu membuat
keputusan sebagai upaya pencapaian tujuan.

5. Terapi

Kelompok membantu setiap individu mencapai perubahan personalnya. Namun,


individu ini harus tetap berinteraksi dengan anggota kelompok lain, meskipun usaha
utamanya adalah membantu dirinya sendiri.

2.1.4 Tipe Kelompok


Ronald B. Adler dan George Rodman dalam bukunya Understanding Human
Communication (2003) membagi kelompok menjadi 3 tipe, yaitu :

1. Kelompok Belajar (learning group)

Meningkatkan pengetahuan atau kemampuan para anggotanya berupa suatu


lembaga pendidikan ataupun kelompok yang dapat memberi keterampilan.

2. Kelompok Pertumbuhan (growth group)

Hanya berusaha untuk membantu para anggota mengidentifikasi dan mengarahkan


mereka untuk peduli dengan persoalan pribadi yang mereka alami.

3. Kelompok Pemecahan Masalah (problem-solving group)

Anggota kelompok bekerja sama untuk mengatasi persoalan bersama yang mereka
hadapi. Dalam mengatasi persoalan terdapat tahapan-tahapan tersendiri, yaitu :

a. Pengumpulan informasi sebagai landasan dalam pengambilan keputusan, b.


Pembuatan keputusan atau kebijakan itu sendiri

6
2.1.5 Komponen dalam Proses Komunikasi Kelompok
Menurut Engleberg dan Wynn (2009) komponen tersebut adalah members,
message, channel, feedback, context dan noise. Pertama, harus ada members atau
anggota yang diterima dan diakui kelompok untuk memulai komunikasi. Kemudian ada
message atau pesan yang memulai komunikasi. Untuk menyampaikan pesan tersebut
harus ada channel atau media untuk menyampaikan pesan tersebut. Setelah pesan
tersebut tersampaikan, ada feedback atau umpan balik dari tiap-tiap anggota. Dalam
komunikasi kelompok, context atau lingkungan serta keadaan psikologis seseorang juga
berpengaruh dalam komunikasi kelompok. Kemudian, ada juga noise atau gangguan
yang bisa mengganggu dan menghambat jalannya komunikasi kelompok tersebut.

2.1.6 Klasifikasi Komunikasi Kelompok


Telah banyak temuan ilmuan sosiologi mengenai klasifikasi komunikasi dalam
berkelompok, dan dapat disimpulkan bahwa komunikasi kelompok diklasifikasikan
menjadi 3, yaitu :
1. Kelompok primer dan sekunder
Charles Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaludin Rakhmat, 1994)
mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya
berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama
seperti contoh komunikasi kelompok yang terjadi pada keluarga, teman sejawat, juga
tetangga, dll. Dalam hal ini komunikasi kelompok primer cenderung lebih bersifat dalam
dan meluas, personal, informal dan ekspresif, serta lebih terfokus pada aspek hubungan
dibanding isi.
Sedangkan kelompok sekunder ialah kelompok yang anggota-anggotanya
berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita. Dalam hal ini
komunikasi sekunder bersifat keterbalikan dengan komunikasi primer dan biasanya
terjadi pada sekelompok organisasi massa, serikat buruh, fakultas, dan sebagainya.
2. Kelompok keanggotaan dan rujukan
Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan
(membership group) dan kelompok rujukan ( reference group). Kelompok keanggotaan
adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administratif dan fisik menjadi

7
anggota kelompok itu. Sedangkan kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan
sebagai alat ukur untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap. Terakhir, John F.
Cragan.
3. Kelompok deskriptif dan preskriptif
David W. Wright (1980) mengklasifikasikan komunikasi kelompok menjadi
deskriptif dan peskriptif, dimana deskriptif menunjukkan proses pembentukan secara
alamiah sementara kelompok preskriptif mengacu pada langkah-langkah anggota
kelompok mencapai tujuan.

2.1.7 Cara Pengambilan Keputusan dalam Kelompok


(Sendjaja, 2003) mengatakan bahwa sedikitnya terdapat empat cara
pengambilan keputusan dalam suatu kelompok di antaranya ialah :
1. Kelompok yang kewenangannya tidak dilakukan melalui diskusi
Biasanya kelompok ini terjadi pada pemimpin otokratik atau kepemimpinan militer.
Walaupun unggul dalam kecepatannya, namun berdampak pada ketidakpercayaan
anggota pada keputusan yang telah ditentukan.
2. Kelompok dengan pengambilan keputusan melalui pendapat ahli
Dimana terdapat rasa kepercayaan dan ketidakraguan dari anggota atas kemampuan
si ahli. Sehingga dalam menunjuk orang sebagai ahli pun harus benar-benar jangan
sampai salah.
3. Kelompok yang kewenangannya dilakukan setelah diskusi
Hampir mirip dengan cara pertama, bedanya hanya pada kualitas dan tanggung
jawab yang lebih baik, namun dampaknya lebih kepada persaingan antar anggota
dalam pengambilan keputusan.
4. Kelompok yang mengambil keputusan melalui kesepakatan
Dimana semua anggota kelompok saling mendukung dan berpartisipasi penuh, serta
dalam pengambilan keputusan dilakukan secara kritis dan kompleks walau pada cara
ini cenderung membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding cara lainnya.

8
2.1.8 Fase–Fase dalam Komunikasi Kelompok
1. Fase orientasi (orientation), dimana tiap individu atau anggota menghabiskan waktu
untuk menilai maksud mereka bergabung dalam kelompok dan juga mencari tahu
dimana tempat yang tepat bagi mereka dalam berkelompok.

2. Fase konflik (conflict), dimana lebih terfokus terhadap siapa saja anggota yang
berada di posisi atas dan dibawah berdasarkan pengaruh yang mereka berikan.

3. Fase kohesi (cohesion), dimana komunikasi terfokus pada jarak. Anggota kelompok
selalu ingin memiliki hubungan yang dekat satu sama lain namun mereka juga tidak
ingin terlalu intim.

4. Fase bekerja (working / performing), dimana anggota kelompok mulai melaksanakan


pekerjaan yang telah mereka persiapkan.

5. Fase pemutusan (termination), dimana kelompok biasanya telah memenuhi tujuan


kelompok.

2.1.9 Teknik Pembuatan Keputusan dalam Kelompok

Teknik yang paling umum adalah prosedur kreatif penyelesaian masalah oleh
Dewey (1910) dalam Berry (2007), menggunakan win-win solution. Teknik tersebut terdiri
dari 5 langkah, yaitu :

1. Mendefinisikan masalah

2. Mengidentifikasi solusi

3. Mengevaluasi solusi

4. Memilih solusi yang terbaik

5. Menerapkan solusi.

2.1.10 Faktor Pendukung dari Komunikasi Kelompok


Anggota kelompok bekerja sama dalam sebuah kelompok untuk mencapai dua tujuan
yaitu mengerjakan tugas kelompok dan memelihara moral-moral anggota kelompoknya. Terdapat
dua macam faktor pendukung komunikasi kelompok dilihat dari tujuan kelompok itu terbentuk,
yaitu :

9
A. Faktor situasional

1. Ukuran kelompok (jumlah anggota)

Dilihat dari semakin banyak jumlah anggota kelompok maka semakin terlihat pula
perbedaan antara anggota yang aktif dan pasif. Sebaiknya jumlah anggota dilihat
dari berapa banyak kegiatan atau tujuan yang akan dicapai.

2. Jaringan komunikasi

 Bentuk roda, terdapat satu orang yang menjadi pusat perhatian. Ia dapat
berhubungan dengan semua orang tetapi semuanya hanya bisa berhubungan
dengan satu orang tersebut.

 Bentuk rantai, misalnya A dapat berkomunikasi dengan B, B dengan C, C


dengan D, dan seterusnya.

 Bentuk Y, ada tiga orang yang dapat saling berkomunikasi tetapi dua orang
lainnya hanya bisa berkomunikasi dengan orang disampingnya.

 Bentuk lingkaran, tiap anggotanya hanya bisa berkomunikasi dengan orang


disampingnya saja dan tidak ada pemimpin.

 Bentuk bintang (comcon), dimana tiap anggota dapat berkomunikasi dengan


anggota yang lainnya.

3. Kohesi kelompok

Dapat diartikan sebagai kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap
tinggal di dalam kelompok, dan mencegahnya meninggalkan kelompok (Collin dan
Raven, 1964). Kohesi diukur dari ketertarikan anggota secara interpersonal pada
satu sama lain, ketertarikan pada kegiatan dan fungsi kelompok, serta sejauh mana
anggota menggunakan kelompok sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan
personalnya.

4. Kepemimpinan

Dimana komunikasi secara positif mendorong kelompok untuk bergerak mencapai


tujuan bersama.

10
B. Faktor personal

1. Kebutuhan interpersonal

Seseorang ingin menjadi anggota kelompok dengan tiga kebutuhan interpersonal,


yaitu : a. Inklusi, ingin menjadi bagian dari kelompok, b. Control, ingin
mengendalikan orang lain dalam suatu hierarki, dan c. Affection, ingin mendapatkan
keakraban emosional dari anggota lain.

2. Tindakan komunikasi

Yaitu dilihat dari dua kelas menurut Robert E. Bales yaitu terdiri dari hubungan tugas
dan hubungan sosial.

3. Peranan individu

Peranan yang dimainkan oleh tiap anggota kelompok di antaranya ialah


memecahkan masalah dan membuat gagasan-gagasan baru, memelihara hubungan
emosional dengan anggota lainnya serta memuaskan kebutuhan personal yang tidak
memiliki hubungan dengan kelompok.

2.1.11 Faktor Penghambat dari Komunikasi Kelompok


Selain memiliki faktor pendukung, komunikasi kelompok juga memiliki faktor
yang penghambat, di antaranya yaitu :

1. Latar belakang budaya, setiap individu tidak akan memiliki kebiasan atau budaya
yang sama persis sehingga terkadang perbedaan kebiasaan dan budaya yang
berpengaruh terhadap pola pikir dan sikap tiap anggota akan menimbulkan
perbedaan pendapat dan perselisihan.

2. Ikatan kelompok, tiap kelompok dan kelompok lainnya pasti memiliki cara pandang
yang beda begitupun dengan nilai-nilai yang dianutnya.

3. Harapan anggota kelompok, harapan tiap anggota sering kali berbeda sehingga
terkadang pesan atau informasi yang disampaikan sesuai dengan harapan satu
anggota tetapi berbeda dengan harapan anggota lainnya.

11
4. Latar belakang pendidikan, tiap anggota di dalam kelompok memiliki pengetahuan
yang berbeda sehingga terkadang tidak semua anggota dapat memahami satu hal
tersebut.

5. Proses komunikasi kelompok, jika komunikasi antar anggota tidak dapat berjalan
dengan baik maka hal tersebut dapat berdampak pada hubungan emosional antar
anggota yang tidak terbentuk dan tujuan bersama akan sulit tercapai.

2.1.12 Teori Kepemimpinan dalam kelompok


Menurut (Kartono, 1998:28) terdapat tiga teori kepemimpinan, yaitu:

1. Teori Genetis

Teori ini menganut pandangan deterministis yang menyatakan bahwa pemimpin


lahir oleh bakat alami yang didapatkan semenjak lahir dalam situasi dan kondisi
apapun juga.

2. Teori Sosial

Merupakan lawan dari teori Genetis. Teori ini menyatakan bahwa seorang pemimpin
harus dididik, dibentuk dan tidak lahir begitu saja sebagai seorang pemimpin.
Pemimpin harus dipersiapkan engan didorong oleh kemauan sendiri

3. Teori Ekologis atau Sintetis

Teori ini menyatakan bahwa seseorang akan berhasil menjadi pemimpin apabila
sejak lahir telah memiliki bakat seorang pemimpin dan selanjutnya dikembangkan
oleh pengalaman dan usaha sesuai dengan tuntutan lingkungannya.

2.1.13 Macam-Macam Gaya Kepemimpinan (Wibowo, 2005)

 Gaya Kepemimpinan Otoriter

Gaya kepemimpinan yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang


diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dan tanggung
jawab dipegang oleh pemimpin sedangkan anggota hanya melaksanakan tugas
yang telah diberikan.

 Gaya Kepemimpinan Demokratis

12
Gaya kepemimpinan yang memberikan wewenang secara luas kepada anggota.
Setiap permasalahan selalu mengikutsertakan anggota sebagai suatu tim yang utuh.

 Gaya Kepemimpinan Bebas

Gaya kepemimpinan yang melibatkan kuantitas anggota secara aktif dalam


menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi.

2.2 Komunikasi Interprofessional pada Pelayanan Kesehatan

2.2.1 Definisi Komunikasi Interprofessional


Komunikasi Interprofessional dapat diartikan sebagai proses perencanaan, pelaksanaan,
dan mengevaluasi program komunikasi yang ditujukan untuk penyedia layanan kesehatan.
Adapun pengertian lain mengenai komunikasi interprofessional, komunikasi interprofesional
adalah komunikasi yang terjadi antar multidisiplin ilmu mengenai praktik keprofesian
yang berkolaborasi guna meningkatkan kerjasama dan pelayanan kesehatan (Barr:
2002). Komunikasi interprofessional adalah bentuk interaksi untuk bertukar pikiran, opini dan
informasi yang melibatkan dua profesi atau lebih dalam upaya untuk menjalin kolaborasi
interprofesi.

2.2.2 Tujuan Komunikasi Interprofessional


Komunikasi interprofessional pada pelayanan kesehatan dilakukan oleh tenaga-tenaga
medis seperti: dokter, perawat, ahli gizi, apoteker, dokter spesialis, dll. Adanya komunikasi
interprofessional ialah bertujuan untuk, 1) mewujudkan kesehatan pasien yang lebih
baik, 2) bertukar informasi dan alat medis agar lebih efektif untuk memajukan praktek
medis, 3) serta mengadvokasi untuk penerapan standar baru pelayanan perawatan
kesehatan. Dengan adanya tujuan tersebut diharapkan semua tenaga medis dapat memberikan
pelayanan kesehatan dengan sebaik-baiknya tanpa adanya kesalahan komunikasi antar tenaga
medis.

2.2.3 Jenis dan Bentuk Komunikasi Interprofessional


Komunikasi interprofessional dapat terjadi dalam berbagai jenis komunikasi dalam suatu
organisasi pelayanan kesehatan. Jenis komunikasi tersebut dapar berupa; 1) Komunikasi antara
manajer fasilitas kesehatan dengan petugas kesehatan, 2) Komunikasi antara dokter dengan

13
perawat/bidan, 3) Komunikasi antara dokter dengan dokter, misalnya komunikasi antara dokter
spesialis dengan dokter ruangan atau antar dokter spesialis yang merawat pasien, 4) Komunikasi
antara dokter/bidan/ perawat dengan petugas apotek, 5) Komunikasi antara dokter/
bidan/perawat dengan petugas administrasi/keuangan, 6) Komunikasi antara
dokter/bidan/perawat dengan petugas pemeriksaan penunjang (radiology, laboratorium, dsb).
Selain jenis komunikasi diatas, komunikasi interprofessional memiliki bentuk komunikasi
yang terjadi ketika komunikasi berlangsung. Bentuk komunikasi interprofessional dapat berupa
komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Contoh komunikasi non-verbal dalam komunikasi
interprofessional dapat berupa rekam medik pasien, resep untuk pasien, dll. Rekam medik pasien
menjadi sumber informasi untuk tenaga medis yang akan manjadi petugas pelayanan perawatan
dikemudian hari. Rekam medis pun bentut komunikasi antar tenaga medis dalam memberikan
pelayanan kesehatan. Sehingga mereka dapat melihat rekam medik terlebih dahulu dan saling
memberikan informasi. Selain itu, resep pun menjadi bentuk komunikasi yang diberikan dokter
untuk pasien mengambil obat di apotek.

2.2.4 Prinsip-prinsip Komunikasi Interprofessional


Komunikasi perlu memperhatikan prinsip-prinsip yang dapat mendukung komunikasi
dalam tim. Menurut Kumala (1995) prinsip-prinsip tersebut ialah:
1. Setiap individu dalam tim memiliki hak untuk mengemukakan dan menjelaskan
pendapatnya atau pandangan mereka untuk melakukan sesuatu tindakan.
2. Pesan yang diberikan, dalam bentuk lisan maupun tulisan, harus dinyatakan dengan
menggunakan bahasa serta ungkapan yang jelas dan mudah dimengerti oleh semua
individu dalam tim tersebut.
3. Setiap individu dalam tim menghindari perselisihan dan pertentangan sesama individu
dalam tim agar komunikasi atau hubungan yang terjalin lebih baik.

2.2.5 Faktor pendukung dan penghambat komunikasi interprofessional


Komunikasi yang efektif perlu didukung oleh faktor-faktor yang dapat meningkatkan
keefektifan dalam berkomunikasi. Menurut Potter & Perry (2005) keefektifan komunikasi dapat
didukung dengan faktor-faktor berikut:

 Persepsi, dalam berkomunikasi antar profesi perlu berusaha menyetarakan persepsi


agar tidak menimbulkan masalah dala berkomunikasi.

14
 Lingkungan yang nyaman untuk berkomunikasi, hindari lingkungan yang dapat
menggangu proses komunikasi menjadi terhambat.
 Pengetahuan, tingkatan pengetahuan yang berbeda. Hal ini dapat menimbulkan
penyampaian pesan yang tidak jelas serta dapat menimbulkan negative feedback.

Selain adanya faktor pendukung, adapun faktor penghambat dalam komunikasi


interprofessional. Hambatan tersebut berupa kepemimpinan yang kurang efektif, kurangnya
kejelasan atau kesepakatan mengenai tujuan dan prioritas, konflik interpersonal, persaingan
prioritas, perbedaan konseptual, dan enggan untuk menerima anggota lain. Hambatan tersebut
dapat memicu sebuah masalah dalam komunikasi interprofessional. Masalah yang sering muncul
ialah kesalahan membaca tulisan petugas lain. Atau dapat memiliki persepsi yang berbeda dari
tulisan tersebut. Penulisan yang tidak jelas tersebut dapat menimbulkan suasana kerja menjadi
terganggu dan munculnya perasaan kesal. Masalah lain yang timbul dapat terjadi pada proses
pemberian pelayanan kesehatan bagi pasie yang rawat inap atau rawat jalan.

Masalah yang terjadi dalam komunikasi interprofessional dapat terjadi antar profesi atau
sesama profesi. Contohnya, perawat A telah menyelesaikan tugas shiftnya dan akan segera
pulang, sehingga ia terburu-buru memberikan rekma medik pasien C ke perawat B tanpa adanya
informasi lebih lanjut. Sehingga perawat B merasa bingung untuk melanjutkan shiftnya karena
kurangnya informasi yang jelas mengenai pasien C. Contoh lain, ketika dokter memberikan resep
untuk pasien kepada apoteker, namun karena apoteker tidak terlalu jelas membaca tulisan dokter
ia pun mengganti obat tersebut yang hampir sama dengan yang tertulis di resep. Hal tersebut
dapat merugikan pasien jika obat tersebut tidak cocok dengan pasien tersebut.

2.2.6 Penyebab Masalah


Penyebab masalah yang sering terjadi dalam komunikasi interprofessional ialah dapat
berupa role stress, lack of interprofessional understandings, dan autonomy struggles.

Pertama, role stress terbagi menjadi dua yaitu role conflict dan role overload. Role
conflict ialah perbedaan antara peran yang diharapkan dengan yang diperoleh, hal ini dapat
membuat kinerja seseorang menjadi menurun, sikap saling menghormati antar tenaga kesehatan
menjadi tindakan yang dapat mengurangi role conflict. Sedangkan, role overload terjadi karena
jumlah pasien yang terlalu banyak sehingga menyebabkan kemampuan petugas kesehtan
menjadi menurun (lelah) sehingga pelayanan yang diberikan menjadi tidak baik.

15
Kedua, lack of interprofessional understandings terjadi karena petugas kesehatan yang
belum paham tentang peran mereka dalam lingkungan kerja sehingga dapat menyebabkan
masalah dalam hubungan kerja antar petugas kesehatan.

Ketiga, autonomy struggles menurut Conway ialah kapasitas otonomi menjadi penting
agar tenaga kesehatan dapat memenuhi perannya. Namun, terkadang muncul perbedaan tingkat
autonomi pada petugas kesehatan, maka petugas kesehatan perlu menyesuaikan otonomi
sesuai dengan tugas dan kewajibannya. Agar tidak ada lagi masalah yang muncul dalam proses
komunikasi interprofessional yang dapat berakibat buruk.

2.2.7 Cara Penyelesaian Masalah


Masalah tersebut dapat diselesaikan dengan pengaturan komunikasi yang sebaik-
baiknya antar tenaga kesehatan. Maka dalam organisasi kesehatan agar komunikasi berjalan
dengan baik dan tanpa ada masalah perlu memperhatikan hal-hal berikut: 1) memperjelas uraian
hak, tugas dan koordinasi masing-masing petugas dalam suatu fasilitas kesehatan. Peran, hak
dan tugas petugas lain juga harus diketahui oleh masing-masing petugas, 2) memberikan
otonomi kepada petugas untuk mengambil keputusan sesuai dengan kewajiban dan
kemampuannya, dan 3) mereposisi kembali hubungan antar petugas kesehatan sebagai
hubungan yang saling melengkapi.

2.3 Komunikasi Publik pada Pelayanan Kesehatan

2.3.1 Definisi Komunikasi Publik


Komunikasi Publik adalah komunikasi yang melibatkan orang banyak atau
masyarakat. Komunikasi Publik biasa disebut komunikasi pidato, komunikasi elektif,
komunikasi retorika, public speaking, atau komunikasi khalayak (audience
aommunication). Komunikasi publik berbeda dari komunikasi massa, dimana komunikasi
massa hanya menggunakan media massa, seperti surat kabar, website, majalah, radio,
dan televisi, sementara komunikasi publik tidak hanya menggunakan media massa,
tetapi juga menggunakan e-mail, blog, jejaring sosial (facebook, twitter, yahoo dan lain-
lain) dan medium lainnya yang bisa menjangkau khalayak luas seperti seminar, diskusi,
dan sebagainya.

16
2.3.2 Tujuan Komunikasi Publik

Menurut Onong Uchjana Effendi dalam buku Dimensi-dimensi Komunikasi beliau


mempunyai pendapat mengenai tujuan komunikasi publik sebagai berikut :

1. Public Information
Memberikan informasi kepada masyarakat. Karena perilaku menerima
informasi merupakan perilaku alamiah masyarakat. Dengan menerima informasi
yang benar masyarakat akan merasa aman tentram. Informasi akurat diperlukan
oleh beberapa bagian masyarakat untuk bahan dalam pembuatan keputusan.
Informasi dapat dikaji secara mendalam sehingga melahirkan teori baru dengan
demikian akan menambah perkembangan ilmu pengetahuan.
2. Public Education
Mendidik masyarakat. Kegiatan komunikasi pada masyarakat dengan
memberikan berbagai informasi tidak lain agar masyarakat menjadi lebih baik, lebih
maju, lebih berkembang kebudayaannya. Kegiatan mendidik masyarakat dalam arti
luas adalah memberikan berbagai informasi yang dapat menambah kemajuan
masyarakat dengan tatanan komunikasi massa. Sedangkan kegiatan mendidik
masyarakat dalam arti sempit adalah memberikan berbagai informasi dan juga
berbagai ilmu pengetahuan melalui berbagai tatanan komunikasi kelompok pada
pertemuan-pertemuan, kelas-kelas, dan sebagainya. Tetapi kegiatan mendidik
masyarakat yang paling efektif adalah melalui kegiatan Komunikasi Interpersonal
antara penyuluh dengan anggota masyarakat, antara guru dengan murid, antara
pimpinan dengan bawahan, dan antara orang tua dengan anak-anaknya.
3. Public Persuasion
Mempengaruhi masyarakat. Kegiatan memberikan berbagai informasi pada
masyarakat juga dapat dijadikan sarana untuk mempengaruhi masyarakat tersebut
ke arah perubahan sikap dan perilaku yang diharapkan, misalnya mempengaruhi
masyarakat untuk mendukung suatu pilihan dalam pemilu dapat dilakukan melalui
komunikasi massa dalam bentuk kampanye, propaganda, selebaran-selebaran,
spanduk dan sebagainya. Tetapi berdasarkan beberapa penelitian kegiatan
mempengaruhi masyarakat akan lebih efektif dilakukan melalui Komunikasi
Interpersonal.
4. Public Entertainment

17
Menghibur masyarakat. Perilaku masyarakat menerima informasi selain untuk
memenuhi rasa aman juga menjadi sarana hiburan masyarakat, terutama pada
masa sekarang ini banyak penyajian informasi melalui sarana seni hiburan.
5. Public Affairs
Public affairs dapat didefinisikan sebagai bidang khusus public relations yang
membangun dan mempertahankan hubungan dengan pemerintah dan komunitas
lokal agar dapat mempengaruhi kebijakan publik. Definisi ini menunjukan bahwa
terdapat dua pihak yang menjadi fokus perhatian public affairs, yaitu pemerintah dan
masyarakat lokal. Pemerintah meliputi pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

6. Public Relation
Frank Jefkins mengemukakan bahwa Public Relations merupakan
keseluruhan bentuk komunikasi yang terencana, baik itu keluar maupun kedalam,
yakni antara suatu organisasi dengan publiknya dalam rangka mencapai tujuan yang
spesifik atas dasar adanya saling pengertian.
Dalam public relations terdapat suatu usaha untuk mewujudkan hubungan
yang harmonis antara sesuatu badan dengan publiknya, usaha untuk memberikan
atau menanamkan kesan yang menyenangkan; sehingga akan timbul opini publik
yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup badan itu. Adapun tujuan dari Public
Relations menurut Oemi Abdurrachman adalah mengembangkan good will dan
memperoleh opini publik yang favorable atau menciptakan kerjasama berdasarkan
hubungan yang harmonis dengan berbagai publik, kegiatan Public

2.3.3 Teknik dalam Melakukan Komunikasi Publik


Dalam melakukan komunikasi publik, tenaga kesehatan perlu memerhatikan
beberapa poin poin penting yang harus dilakukan, yaitu:

1. Membuat topik pembicaraan menjadi mudah untuk didengarkan

2. Memahami dengan baik nilai kebudayaan masyarakat setempat yang menjadi


penerima pesan

3. Menyampaikan info kesehatan dalam bahasa yang mudah dipahami dan jelas

4. Memberikan kesan antusias dalam penyampaian informasi kepada masyarakat

5. Memberikan saran dan motivasi

18
6. Pidato bisa menggunakan penggambaran atau visualisasi dengan menggunakan alat
agar lebih jelas dan menarik perhatian publik

7. Menyampaikan hal-hal yang dibutuhkan masyarakat

Selain hal-hal yang harus dilakukan, berikut ini hal-hal yang harus dihindari
dalam melakukan komunikasi publik:

1. Terlalu banyak membuat gerakan yang mendistraksi fokus pendengar


2. Menyinggung dan menghina pendengar
3. Terbawa emosi (marah) yang akan menganggu pendengar
4. Menyampaikan informasi diluar topik atau informasi yang berlebihan
5. Memulai penyampaian dengan informasi yang kompleks/rumit

2.3.4 Langkah dalam Melakukan Komunikasi Publik pada Pelayanan Kesehatan


Beberapa langkah yang dilalui dalam komunikasi publik adalah sebagai berikut:

1. Mempersiapkan topik pembicaraan


2. Menentukan tujuan umum (dasar pelakasanaan komunikasi) dan tujuan khusus (hal
yang ingin dicapai dalam masyarakat). Contoh tujuan umum: mengajak masyarakat
untuk melaksanakan aktivitas tertentu. Contoh tujuan khusus: membuat masyarakat
memahami cara mencuci tangan yang baik dan benar.
3. Menganalisis atau mempelajari kondisi masyarakat dan lingkungan pelaksanaan
komunikasi. Unsur unsurnya, yaitu: Latar Belakang, Gender, Usia, Waktu dan
Tempat pelaksanaan
4. Mengumpulkan informasi topik pembicaraan, informasi dapat diperoleh dari media
internet yang memiliki kredibilitas yang baik dan dari sumber buku.
5. Mengorganisasi materi agar penyampaiannya menjadi lebih terstruktur
6. Memakai perangkat bantu, contohnya adalah grafik, diagram, model, projector, dan
media elektronik lain
7. Memperhatikan aspek nonverbal yang mencakup aspek visual (penampilan, postur,
kontak mata, gerakan-gerakan tubuh, dan ekspresi wajah) dan audio (volume suara,
artikulasi, intonasi, kecepatan berbicara).

2.3.5 Penerapan Komunikasi Publik


Kecanggihan teknologi komunikasi saat ni membuat semua orang bisa melakukan
komunikasi publik. Sebagai contoh, apabila seseorang mem- posting sebuah komentar

19
pada kolom komentar yang dapat diakses banyak orang, maka hal itu termasuk
komunikasi publik.

Komunikasi Publik tidak hanya bisa diterapkan pada khalayak luas, namun juga
pada pelayanan kesehatan. Seperti contohnya pada 27 Maret 2014 telah diadakan
pelatihan di RSUD Banyumas dalam rangka HUT RSUD Banyumas yang ke-89, yang
diikuti oleh karyawan perwakilan dari setiap bidang. Pelatihan ini merupakan bentuk
komunikasi publik yang berisi pembekalan untuk Lomba Penyuluhan Kesehatan yang
dilaksanakan pada April 2014. Penyuluhan ini merupakan salah satu upaya rumah sakit
untuk meningkatkan kemampuan pasien, klien, dan kelompok masyarakat sehingga
pasien dapat mandiri dalam mempercepat kesembuhan dan rehabilitasinya, mandiri
dalam meningkatkan kesehatan, mencegah masalah kesehatan, dan mengembangkan
upaya kesehatan melalui pembelajaran sesuai sosial budaya masing-masing. Selain itu,
penyuluhan ini juga bertujuan agar masyarakat rumah sakit menerapkan perilaku hidup
bersih dan sehat melalui pengetahuan, sikap dan perilaku pasien, serta pemeliharaan
lingkungan rumah sakit, dan termanfaatkannya semua pelayanan yang disediakan rumah
sakit.

2.4 Komunikasi Massa pada Pelayanan Kesehatan

2.4.1 Pengertian Komunikasi massa


Komunikasi massa dapat diartikan sebagai bentuk komunikasi yang
disampaikan melalui media massa baik cetak ataupun elektronik. Komunikasi massa
menurut Nurudin (2007) adalah komunikasi yang ditujukan kepada khalayak yang
sangat banyak, yang biasa disebut dengan istilah massa. Namun, istilah massa tersebut
tidak selalu berarti sebagai orang-orang yang melihat sumber informasi melalui media
massa seperti orang yang menonton televisi atau orang yang membaca koran. Massa di
sini dapat diartikan sebagai masyarakat dalam arti luas. Penggunaan media dalam
berkomunikasi dinilai dapat membuat pesan lebih mudah tersampaikan. Apabila
disimpulkan komunikasi massa merupakan salah satu bentuk komunikasi yang
disampaikan melalui media massa sebagai penunjang, disampaikan secara terbuka
kepada masyarakat luas melalui beragam unsur komunikasi massa.

20
2.4.2 Fungsi Komunikasi Massa
Komunikasi massa memiliki beberapa fungsi. Fungsi tersebut diantaranya
sebagai penafsiran (interpretation), pertalian (linkage), pengawasan (surveillance),
penyebaran nilai-nilai (transmission of values), dan hiburan (entertainment). Menurut
Effendi (1993), fungsi komunikasi massa dapat dikelompokkan menjadi fungsi
pendidikan, fungsi informasi dan fungsi memengaruhi. Media massa merupakan salah
satu sarana pendidikan karena dalam media massa diajarkan nilai, etika, serta
pengenalan terhadap aturan-aturan yang berlaku. Selain terdapat informasi, kita tahu
bahwa dalam media massa juga terdapat media yang secara implisit memengaruhi
pembaca atau penonton seperti iklan, artikel, tajuk dan yang lainnya.

2.4.3 Teori pada Komunikasi Massa


Komunikasi massa mengandung pengertian suatu proses ketika suatu
organisasi media memproduksi dan menyebarkan pesan kepada publik secara luas.
Pusat studi mengenai komunikasi massa adalah media.

A. Formula Laswell
Teori komunikasi Harold Lasswell merupakan teori komunikasi awal (1948).
Lasswell menyatakan bahwa cara yang terbaik untuk menerangkan proses komunikasi
adalah menjawab pertanyaan : Who, Says What, In Which Channel, To Whom, With
What Effect (Siapa Mengatakan Apa Melalui Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Efek
Apa). Jawaban bagi pertanyaan paradigmatik (paradigmatic question) Lasswell itu
merupakan unsur-unsur proses komunikasi, yaitu Communicator (Komunikator),
Message (Pesan), Media (Media), Receiver (Komunikan/Penerima), dan Effect (Efek).
Yang memenuhi 5 unsur who, says what, in which channel, to whom, with what effect :
B. Pendekatan Transmisional

21
Teori tentang transmisi pesan ini pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli
matematika, Claude Shannon pada akhir tahun 40-an dengan rekan kerjanya Warren
Weaver. Terdapat lima fungsi yang beroperasi dalam proses komunikasi di samping satu
faktor disfungsional yaitu noise atau gangguan. Model yang mereka ciptakan adalah
sebagai berikut

Dari model yang dikemukakan Shannon & Weaver ini, Melvin DeFleur (1966)
dalam bukunya Theories of Mass Communication, mengembangkan dan
mengaplikasikannya ke dalam teori komunikasi De Fleur menambahkan beberapa
komponen dalam bagan ShannonWeaver untuk menggambarkan bagaimana
sumber/komunikator mendapatkanumpan balik atau feedback, yang memberikan
kemungkinan kepadakomunikator untuk dapat lebih efektif mengadaptasikan
komunikasinya.Dengan demikian, kemungkinan untuk mencapai
korespondensi/kesamaanmakna akan meningkat. Untuk menjelaskan teorinya, De Fleur
mengungkapkannya dalam bagan berikut.

22
C. Pendekatan Psikologi-Sosial

Dengan mendasarkan pada prinsip keseimbangan kognitif yang dikemukakan


oleh psikolog Heider (1946), dan penerapannya oleh Newcomb (1953) pada
keseimbangan antara dua individu dalam proses komunikasiketika menanggapi suatu
topik tertentu, McLeod dan Chaffee (1973) mengemukakan teorinya yang disebut Ko-
orientasi. Fokus dari teori ini adalah komunikasi antarkelompok dalam masyarakat yang
berlangsung secarainteraktif dan dua arah. Pendekatan ini memandang sumber
informasi komunikator, dan penerima dalam suatu situasi komunikasi yang
dinamis.Hubungan antara elemen-elemen tersebut dituangkan dalam bagan
yangmenyerupai layang-layang, sebagai berikut.

 Bagan tersebut menggambarkan bahwa 'elite' biasanya diartikan sebagai


kekuatan politik yang ada dalam masyarakat.
 'Peristiwa' atau topik/isu adalahperbincangan/ perdebatan mengenai suatu
kejadian yang terjadi dalammasyarakat, di mana dari sini akan muncul berbagai
informasi (sepertidigambarkan dengan deretan X).
 'Publik' adalah kelompok/komunitas dalam masyarakat yang berkompeten
dengan peristiwa yang diinformasikan dan sekaligus sebagai audience dari
media.
 Sementara itu 'media' mengacu pada unsur-unsur yang ada di dalam
media, seperti wartawan, editor, reporter, dan sebagainya.

Relevansi dari teori ini terletak pada situasi yang dinamis yang dihasilkan oleh
hubungan antara publik dan kekuatan politik (elite) tertentu,pada sikap publik terhadap
media, dan pada hubungan antara elite dan media.Perbedaan atau pertentangan antara
publik dan elite dalam mempersepsisuatu peristiwa. akan membawa pada upaya

23
mencari informasi dari mediamassa dan sumber-sumber informasi lainnya. Perbedaan ini
dapat pulamembawa ke arah upaya elite untuk memanipulasi persepsi publik
dengansecara langsung mencampuri peristiwa tersebut atau dengan caramengendalikan
media massa.

2.3.5 Unsur-Unsur Komunikasi Massa


Dalam komunikasi massa, terdapat unsur-unsur yang berkaitan satu sama lain.
Unsur-unsur tersebut diantaranya :
a. Komunikator
Komunikator adalah pihak yang menggunakan media massa untuk
menyebarkan informasi kepada publik. Selain itu, komunikator dalam komunikasi massa
juga menyebarkan wawasan dan solusi-solusi. Komunikator berkomunikasi dengan
masyarakat yang relatif lebih luas, yang sifatnya heterogen (terbuka untuk umum atau
tidak diarahkan kepada kelas-kelas tertentu saja) dan anonim (anggota-anggota
khalayak secara individual tidak dikenal atau diketahui oleh komunikatornya). Selain itu,
pesan-pesan yang dibuat komunikator disampaikan secara umum dan menjangkau
khalayak luas secara serentak.

b. Media massa
Dalam komunikasi massa, media adalah alat yang menghubungkan antara
sumber dan penerima yang sifatnya terbuka. Sifat terbuka berarti setiap orang dapat
melihat, membaca dan mendengarnya. Media dalam komunikasi massa dibedakan
menjadi dua macam, yaitu media cetak (misalnya surat kabar dan majalah) dan media
elektronik (misalnya radio dan televisi). Media massa mempunyai paradigma sebagai
agen of change (pelopor perubahan). Atas dasar hal tersebut, peran media massa
diantaranya :
• media edukasi
• media informasi
• media hiburan.
• media institusi budaya (institusi yang menjadi corong kebudayaan)
c. Informasi massa
Informasi massa adalah pesan atau informasi yang diperuntukkan kepada
masyarakat secara masal. Dalam komunikasi massa, komunikasi bersifat umum (bukan
bersifat pribadi), sehingga pesan yang disampaikan bersifat terbuka bagi seluruh

24
masyarakat. Pesan dalam komunikasi massa berjalan secara cepat (pesan didapatkan
khalayak dengan waktu yang relatif singkat) dan selintas (pesan dibuat agar dapat
segera dikonsumsi, bukan untuk dihafalkan).

d. Gatekeeper
Gatekeeper adalah penyeleksi informasi. Karena komunikasi massa di jalankan
dalam suatu organisasi media massa, terdapat orang-orang yang berada dalam
organisasi tersebut yang tugasnya meyeleksi setiap informasi yang pantas untuk
disiarkan. Orang-orang tersebut (gatekeeper), juga memiliki kewenagan untuk
memperluas atau membatasi informasi yang akan disiarkan.

e. Khalayak
Khalayak adalah massa penerima informasi yang disebarkan oleh komunikator
melalui media massa. Khalayak terdiri dari publik pendengar atau pemirsa sebuah media
massa.

f. Umpan Balik (Feedback)


Umpan balik dalam komunikasi massa umumnya bersifat tertunda (berbeda
dengan umpan balik pada komunikasi tatap muka yang bersifat langsung). Namun,
seiring perkembangan teknologi, umpan balik yang bersifat tertunda pada komunikasi
massa sudah ditinggalkan.

2.3.6 Ciri-Ciri Komunikasi Massa


Komunikasi massa memiliki ciri-ciri, diantaranya :
1. Menggunakan media massa, sehingga bersifat tidak langsung
2. Organisasi (lembaga media) bersifat jelas
3. Komunikator memiliki keahlian tertentu
4. Pesan bersifat terbuka, searah dan umum
5. Pesan dibuat melalui proses produksi yang terencana
6. Khalayak yang dituju bersifat heterogen dan anonim
7. Kegiatan media masa teratur dan berkelanjutan
8. Ada pengaruh yang dikehendaki
9. Dalam konteks sosial, antara media dan kondisi masyarakat saling
memengaruhi, begitu pula sebaliknya
10. Hubungan antara komunikator dan khalayak tidak bersifat pribadi

25
2.3.7 Pengaruh Komunikasi Massa
Komunikasi massa menurut Maulana (2007) merupakan penggunaan media
massa (TV, Radio, dan media cetak) yang bertujuan untuk menyampaikan pesan atau
informasi kepada masyarakat. Penggunaan media massa dalam komunikasi massa
memungkinkan sasaran yang pencapaian sasaran yang lebih banyak dengan waktu,
tenaga, yang lebih hemat dibandingkan dengan jenis komunikasi lain.

Komunikasi massa dalam Sendjaja (2007), memiliki pengaruh terhadap individu,


masyarakat dan budaya. Terdapat beberapa pendekatan teori untuk menjelaskan
pengaruh komunikasi massa terhadap masyarakat. Teori agenda-setting yang
mengungkapkan bahwa audiens (masyarakat) tidak hanya mempelajari berita-berita dan
hal-hal lainnya dari media massa, tetapi juga mempelajari seberapa besar arti penting
diberikan pada suatu isu cara media massa memberikan penekanan terhadap topik
tersebut. Teori kedua yaitu dependensi mengenai efek komunikasi massa, yang berupa
pendekatan struktur sosial dimana media massa dianggap sebagai sebuah sistem
informasi yang berperan penting dalam proses pemeliharaan, perubahan, dan konflik
pada tataran masyarakat, kelompok atau individu dalam aktivitas kelompok.

Teori ketiga adalah spiral of silence, menjelaskan bahwa individu pada umumnya
berusaha untuk menghindari isolasi, dalam arti sendirian mempertahankan sikap atau
keyakinan tertentu. Teori keempat yaitu information gaps, menjelaskan meningkatnya
informasi akan menghasilkan melebarnya celah atau jurang pengetahuan daripada
mempersempitnya (Sendjaja, 2007).

2.3.8 Bentuk-bentuk komunikasi massa:


A. Bentuk Perintah (The Command Mode)
Pada bentuk komunikasi ini, terdapat perbedaan kekuasaan dan otoritas antara
pengirim dengan penerima. Penerima berada pada posisi lebih rendah dan
bergantung, yang tujuannya untuk melakukan kontrol dan perintah, hubungannya
bersifat satu arah, tidak setara, dan tidak berdasar sukarela.
B. Bentuk Pelayanan (The Service Mode)
Bentuk komunikasi yang hubungan antara pengirim dan penerima diikat dengan
kepentingan bersama dalam situasi pasar atau semacamnya.
C. Bentuk Asosiasi (The Association Mode)

26
Bentuk komunikasi massa yang memiliki ikatan normatif atau nilai-nilai yang
disepakati bersama, yang mendekatkan kelompok atau publik tertentu terhadap
sumber media tertentu pula.

2.3.9 Komunikasi Massa pada Pelayanan Kesehatan


Komunikasi massa pada bidang kesehatan contohnya dapat dilihat dari adanya
promosi kesehatan. Sebelumnya, kesehatan adalah hasil interaksi berbagai faktor, baik
faktor internal (fisik dan psikis) maupun eksternal (sosial, budaya, lingkungan fisik, politik,
ekonomi, pendidikan, dan sebagainya). Henrik L. Blum (1974), seperti yang dikutip
Azwar (1983) menggambarkan faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan berdasarkan
besarnya pengaruh meliputi secara berurutan, faktor lingkungan, faktor perilaku, faktor
pelayanan kesehatan, dan faktor keturunan. Status kesehatan akan tercapai optimal, jika
keempat faktor secara bersama-sama memiliki kondisi yang optimal pula.
Tujuan adanya promosi kesehatan adalah melibatkan langsung masyarakat
dalam menetapkan tujuan kesehatan mereka sendiri. Promosi kesehatan merangkum
istilah pendidikan kesehatan, penyuluhan kesehatan, komunikasi, informasi, dan
edukasi. Promosi kesehatan merupakan proses pemberdayaan atau memandirikan
masyarakat agar dapat memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Ottawa Charter,
1986). Sasaran dari promosi kesehatan adalah individu/ keluarga, masyarakat,
pemerintah/ lintas sektor/ politisi, swasta, dan petugas atau pelaksana program. Strategi
yang digunakan dari WHO (1984) dikenal dengan nama ABG (Advokasi kesehatan, Bina
suasana, Gerakan masyarakat). Promosi kesehatan dapat melaui poster, televisi, dll.
Hal-hal yang harus dilakukan dalam melakukan komunikasi massa:
1. Mencari tahu tentang blogger dan jurnalis yang bekerja di bidang kesehatan
2. Membuat hubungan baik dengan jurnalis, reporter, dan blogger yang bekerja di
bidang kesehatan
3. Menggunakan alat peraga berupa poster,spanduk, dan lain-lain
4. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti
5. Mempromosikan suatu lembaga di bidang kesehatan dengan sewajarnya tanpa ada
unsur pemaksaan dan menjatuhkan lembaga lain
6. Siapkan waktu luang beberapa hari setelah menyampaikan komunikasi massa
7. Persiapkan anggota tim yang mengetahui dan bisa bekerja sesuai dengan tugasnya
8. Baca dan lihat kembali berita atau informasi yang telah kita sampaikan melalui media
tersebut

27
Hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam melakukan komunikasi massa :
1. Jangan membuang waktu reporter, blogger atau jurnalis dengan menghubunginya
tanpa tujuan yang jelas.
2. Jangan berulang kali meninggalkan pesan suara , menelfon atau mengirimkan email
tentang hal yang sama.

Jangan terlalu membuka informasi pribadi kepada reporter kaarena biasanya


informasi tersebut juga akan dimuat di media massa.

28
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa komunikasi sebenarnya mempunyai
cakupan dimana komunikasi harus dilakukan secara individu ataupun berkelompok. Komunikasi
dalam bidang kesehatan tentunya dapat berjalan di berbagai cakupan, seperti dalam komunikasi
kelompok, interprofessional, publik, dan massa.

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang berlangsung antara 2 orang dan


umumnya bersifat dialogis atau 2 arah. Komunikasi kelompok dilakukan sekitar 7-10 orang untuk
bertukar pikiran dan menyampaikan informasi demi tercapainya suatu kesimpulan. Komunikasi
publik seperti pada simposium bertujuan untuk mempengaruhi dan mengajar audiens tentang
suatu informasi. Sementara komunikasi massa bertujuan untuk menyampaikan informasi secara
meluas agar diketahui oleh semua orang.

Berkomunikasi dengan pasien tentu melibatkan seluruh tenaga kesehatan baik dokter,
dokter gigi, perawat, apoteker, sampai ahli kesehatan. Untuk itu dengan cara berkomunikasi baik
melalui kelompok, interprofessional, publik ataupun massa diharapkan informasi dari pihak terkait
dapat tersampaikan ke telinga klien dalam situasi dan kondisi apapun.

3.2 Saran

Kita semua harus mengembangkan pengetahuan kita, lebih peka terhadap orang lain
saat berkomunikasi dan praktik dalam kehidupan sehari-hari sehingga saat kita berada di
lapangan kita dapat menyelesaikan masalah dengan baik dan profesional sebagai seorang
tenaga kesehatan yang cakap sesuai porsi bidangnya.

29
Daftar Pustaka

Adler, R & Rodman, G. 2006. Understanding Human Communication 9 th ed. New York: Oxford
University; p. 277

Barr, H. (2002). Interprofessional education. John Wiley & Sons, Ltd.

Basuki, Endang. Komunikasi antar Petugas Kesehatan. Majalah Kedokteran Indonesia, Volume:
58, Nomor: 9, September 2008

Claramita M, Sedyowinarso M, Huriyati E, Wahyuningsih MS. 2012. Interprofessional


Communication Guideline using principle of “Greet-Invite-Discuss”

De Fleur, Melvin. 1972. Theories of Mass Communications. David Mckay Company.Inc. Newyork.
dalam Effendy, Onong. 2009. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT. Rosda
Karya

Effendy, Onong. 2009. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT. Rosda Karya Remaja
Rosdakarya. Hal 32.

Effendy, Onong Uchjana. 1986. Dimensi-Dimensi Komunikasi. Bandung: Rosda Karya

Family Health Teams. (2005). Guide to Collaborative Team Practice.

Maulana, Heri D. J. 2007. Promosi Kesehatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.

McQuail, D. 2005. McQuail's Mass Communication Theory . (5th edition). London: Sage
Publications.

Northouse, L. & Northouse P. 1997. Health Communication Strategies for Health Professionals
3rd Edition. Appleton & Lange: Stamford, Connecticut

Pengertian komunikasi public.http://www.komunikasipraktis.com/2015/11/komunikasi-publik-


pengertian-ruang.html

Penerapan komunikasi public.http://rsudbms.banyumaskab.go.id/news/16011/pelatihan-


komunikasi-publik-untuk-petugas-promosi-kesehatan-rsud-banyumas#.Vu7AzeJ97IX

30
Potter, P. A. & Perry, A. G. (2005). Fundamentals of nursing 6th edition. St. Louis, MI: Elsevier
Mosby.

Rakhmat, J. 1994. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya

Reeves, S., Lewin, S., Espin, S., Zwarenstein, M., & Ed, H. B., 2011. Interprofessional Teamwork
for Health and Social Care. , pp.32-33.

Sudarma, M. 2008.Sosiologi untuk kesehatan. Jakarta: Salemba Medika Kumala

Schiavo, R. Health Communication: from theory to practice (2007) John Willy & Potter, P.A. and
Perry, A.G. (1997). Fundamental nursing: concepts, process, and practice. Fourth edition.
St. Louis: Mosby Years Book.

Sendjaja, Djuarsa. 2007. Teori Komunikasi. Universitas Terbuka: Jakarta.

Wiryanto. 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia

31