Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Hepatitis merupakan inflamasi dan cedera pada hepar, penyakit ini
dapat disebabkan oleh infeksi atau oleh toksin termasuk alkohol dan
dijumpai pada kanker hati. Hepatitis virus adalah istilah yang digunakan
untuk infeksi hepar oleh virus, identifikasi virus penyakit dilakukan terus
menerus, tetapi agen virus A, B, C, D, E, F dan G terhitung kira-kira 95%
kasus dari hepatitis virus akut.
Penyakit hepatitis merupakan urutan pertama dari berbagai penyakit
hati diseluruh dunia. Penyakit ini sangat berbahaya bagi kehidupan karena
penykit hepatits ataupun gejala sisanya bertanggung jawab atas 1-2 juta
kematian setiap tahunnya. (Aru, w sudoyo, 2006 : 429). Infeksi virus
hepatitis bisa berkembang menjadi sirosis atau pengerasan hati bahkan
kanker hati. Masalahnya, sebagian besar infeksi hepatitis tidak
menimbulkan gejala dan baru terasa 10-30 tahun kemudian saat infeksi
sudah parah. Pada saat itu gejala timbul, antara lain badan terasa panas,
mual, muntah, mudah lelah, nyeri diperut kanan atas, setelah beberapa hari
air seninya berwarna seperti teh tua, kemudian mata tampak kuning dan
akhirnya seluruh kulit tubuh menjadi kuning. Pasien hepatitis biasanya
baru sembuh dalam waktu satu bulan.
Pada umumnya pasien yang menderita penyakit hepatitis ini
mengalami Anoreksia atau penurunan nafsu makan dimana gejala ini
diperkirakan terjadi akibat pelepasan toksin oleh hati yang rusak untuk
melakukan detoksifikasi produk yang abnormal sehingga pasien ini
haruslah mendapatkan nutrisi yang cukup agar dapat memproduksi enegi
metabolik sehingga pasien tidak mudah lelah. Secara khusus terapi nutrisi
yang didesain dapat diberikan melalui rute parenteral atau enteral bila
penggunaan standar diet melalui rute oral tidak adekuat atau tidak
mungkin untuk mencegah/memperbaiki malnutrisi protein-kalori. Nutrisi
enteral lebih ditujukan pada pasien yang mempunyai fungsi GI tetapi tidak

1
mampu mengkonsumsi masukan nasogastrik. Nutrisi parenteral dapat
dipilih karena status perubahan metabolik atau bila abnormalitas mekanik
atau fungsi dari saluran gastrointestinal mencegah pemberian makan
enteral. Asam amino,karbohidrat, elemen renik, vitamin dan elektrolit
dapat diinfuskan melalui vena sentral atau perifer. (Marilyn E. Doengoes,
1999: 758)

2. Tujuan
a. Tujuan Umum
untuk mengetahuai gambaran umum tentang asuhan keperawatan
dengan hepatitis dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan
b. Tujuan Khusus
1) Melakukan pengkajian pada pasien hepatitis
2) Menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien hepatitis
3) Menyusun rencana keperawatan pada pasien hepatitis
4) Melakukan tindakan keperawatan pada pasien hepatitis
5) Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan yang dilakukan pada
pasien hepatitis
6) Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada pasien hepatitis

2
BAB II
KONSEP TEORI

1. DEFINISI
Hepatitis adalah peradangan pada hati atau infeksi pada hati
(Elizabeth J. Corwin, 2001).
Hepatitis adalah inflamasi pada hati yang berhubungan dengan
manifestasi klinik berspektum luas dari infeksi tanpa gejala, melalui hepatitis
ikterik sampai nekrosis hati (Sandra M. Nettina. 2001:248)
Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis
dan inflamasi pada sel-sel hati yang merupakan kumpulan perubahan klinis,
biokimia, serta seluler yang khas (Brunner & Suddarth. 2001:1169)

2. MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi klinik dari semua jenis hepatitis virus secara umum sama.
Manifestasi klinik dapat dibedakan berdasarkan stadium. Adapun manifestasi
dari masing – masing stadium menurut Arif Mansjoer,dkk (1999) adalah
sebagai berikut :
a. Stadium praicterik berlangsung selama 4 – 7 hari. Pasien mengeluh sakit
kepala, lemah, anoreksia, muntah, demam, nyeri pada otot dan nyeri
diperut kanan atas urin menjadi lebih coklat.
b. Stadium icterik berlangsung selama 3 – 6 minggu. Icterus mula –mula
terlihat pada sklera, kemudian pada kulit seluruh tubuh. Keluhan –
keluhan berkurang, tetapi klien masih lemah, anoreksia dan muntah. Tinja
mungkin berwarna kelabu atau kuning muda. Hati membesar dan nyeri
tekan.
c. Stadium pascaikterik (rekonvalesensi). Ikterus mereda, warna urin dan
tinja menjadi normal lagi. Penyebuhan pada anak – anak menjadi lebih
cepat pada orang dewasa, yaitu pada akhir bulan ke 2, karena penyebab
yang biasanya berbeda.

3
3. ETIOLOGI
Menurut Price dan Wilson (2005: 485) Secara umum hepatitis
disebabkan oleh virus. Beberapa virus yang telah ditemukan sebagai
penyebabnya, berikut ini :
1. Virus hepatitis A (HAV)
2. Virus hepatitis B (HBV)
3. Virus hepatitis C (HCV)
4. Virus hepatitis D (HDV)
5. Virus hepatitis E (HEV)
6. Hepatitis F (HFV)
7. Hepatitis G (HGV)
Namun dari beberapa virus penyebab hepatitis, penyebab yang paling
dikenal adalah HAV (hepatitis A) dan HBV (hepatitis B). Kedua istilah
tersebut lebih disukai daripada istilah lama yaitu hepatitis “infeksiosa” dan
hepatitis “serum”, sebab kedua penyakit ini dapat ditularkan secara parental
dan nonparental (Price dan Wilson, 2005: 243). Hepatitis pula dapat
disebabkan oleh racun, yaitu suatu keadaan sebagai bentuk respons terhadap
reaksi obat, infeksi stafilokokus, penyakit sistematik dan juga bersifat
idiopatik (Sue hincliff, 2000: 205).

4. PATOFISIOLOGI
Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh
infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan
kimia. Unit fungsional dasar dari hepar disebut lobul dan unit ini unik karena
memiliki suplai darah sendiri. Sering dengan berkembangnya inflamasi pada
hepar, pola normal pada hepar terganggu. Gangguan terhadap suplai darah
normal pada sel-sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel
hepar. Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang menjadi rusak dibuang dari
tubuh oleh respon sistem imun dan digantikan oleh sel-sel hepar baru yang

4
sehat. Oleh karenanya, sebagian besar klien yang mengalami hepatitis
sembuh dengan fungsi hepar normal.
Inflamasi pada hepar karena invasi virus akan menyebabkan
peningkatan suhu badan dan peregangan kapsula hati yang memicu timbulnya
perasaan tidak nyaman pada perut kuadran kanan atas. Hal ini
dimanifestasikan dengan adanya rasa mual dan nyeri di ulu hati.
Timbulnya ikterus karena kerusakan sel parenkim hati. Walaupun
jumlah billirubin yang belum mengalami konjugasi masuk ke dalam hati tetap
normal, tetapi karena adanya kerusakan sel hati dan duktuli empedu
intrahepatik, maka terjadi kesukaran pengangkutan billirubin tersebut didalam
hati. Selain itu juga terjadi kesulitan dalam hal konjugasi. Akibatnya
billirubin tidak sempurna dikeluarkan melalui duktus hepatikus, karena terjadi
retensi (akibat kerusakan sel ekskresi) dan regurgitasi pada duktuli, empedu
belum mengalami konjugasi (bilirubin indirek), maupun bilirubin yang sudah
mengalami konjugasi (bilirubin direk). Jadi ikterus yang timbul disini
terutama disebabkan karena kesukaran dalam pengangkutan, konjugasi dan
eksresi bilirubin.
Tinja mengandung sedikit sterkobilin oleh karena itu tinja tampak
pucat (abolis). Karena bilirubin konjugasi larut dalam air, maka bilirubin
dapat dieksresi ke dalam kemih, sehingga menimbulkan bilirubin urine dan
kemih berwarna gelap. Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat disertai
peningkatan garam-garam empedu dalam darah yang akan menimbulkan
gatal-gatal pada ikterus (Price & Wilson, 1994).

5
5. PATHWAYS

6
6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Tes fungsi hati
Bertujuan untuk mengkaji keadaan penyakit hati dan untuk membedakan
antara hepatitis virus dan non virus. Menunjukkan abnormal bila
mencapai 4-10 kali dari normal.
b. SGOT/SGPT
Bertujuan untuk mengetahui adanya kerusakan sel hati. Pada penderita
hepatitis, awalnya akan terjadi peningkatan jumlah dan dapat meningkat
1-2 minggu sebelum ikterus kemudian menurun.
c. Leukopenia
Bertujuan untuk mengetahui jumlah leukosit di dalam darah. Mungkin
juga ditemukan adanya trombositopenia dan splenomegali.
d. Diferensial darah lengkap
Untuk mengungkapkan banyak hal mengenai penyakit hati maka perlu
dilakukan pemeriksaan darah lengkap. Antara lain di temukan
leukositosis, monositosis, limfosit antifikal dan sel plasma.
e. Feses
Pemeriksaan ini untuk membantu diagnosis diferensial ikterus. Biasanya
ditemukan warna feses tanah liat dan steatorrhea yaitu jumlah lemak yang
berlebihan yang menunjukan adanya penurunan fungsi hati
f. Albumin serum
Merupakan radio farmasetikal yang digunakan dalam penentuan
kumpulan darah dan volume plasma. Serta berfungsi untuk menilai
fungsi hati. Pada penderita hepatitis terjadi penurunan.
g. Gula darah
Karena hati juga berperan dalam mengatur kestabilan kadar gula darah
maka perlu dilakukan pengukuran gula darah. Pada penderita ditemukan
hiperglikemi transien atau hipoglikemia, meunjukkan terjadinya gangguan
fungsi hati.

7
h. HbsAg
Dilakukan untuk menentukan adanya virus hepatitis B di dalam darah
baik dalam kondisi aktif ataupun sebagai carrier. Hasilnya dapat positif
(tipe B) atau negatif (tipe A).
i. Urinalisa
Untuk mengetahui apakah produk empedu masih ada dan apakah empedu
sampai ke usus. Biasanya terjadi peningkatan kadar bilirubin dan protein.

7. PENATALAKSANAAN
a. Medis
Tidak ada terpi sfesifik untuk hepatitis virus. Tirah baring selama fase
akut dengan diet yang cukup bergizi merupakan anjuran yang lazim.
Pemberian makanan intravena mungkin perlu selama fase akut bila
pasienterus menerus muntah. Aktivitas fisik biasanya perlu dibatasi
hingga gejala-gejala mereda dan tes fungsi hati kembali normal.
b. Keperawatan
1) Istirahat. Pada periode akut dan keadaan lemah klien harus banyak
istirahat karena dapat mempercepat proses penyembuhan.
2) Diet. Jika pasien mual, napsu makan menurun atau muntah-muntah,
sebaiknya diberikan infus. Jika tidak dapat diberikan makanan yang
mengandung cukup kalori (30-35 kal/kg BB) dengan protein cukup (1
g/kg BB).
3) Medikameentosa. Obat-obat yang dapat diberikan adalah:
Kortikosteroid, dapat diberikan pada kolestasis yang berkepanjangan
dimana transminase serum telah kembali normal. Pada keadaan ini
dapat diberikan prednison 3 x 10 mg selama 7 hari.
4) Vitamin K diberikan bila ada perdarahan.

8
8. ASUHAN KEPERAWATAN TEORI
A. PENGKAJIAN FOKUS
1. Demografi, meliputi:
Nama pasien :
Umur :
Jenis kelamin :
Suku bangsa :
Pekerjaan :
Pendidikan :
Alamat :

2. Riwayat Kesehatan Sekarang


Biasanya ditandai dengan fatique (lemah) malaise, perut membesar
kembuang mual, muntah nafsu makan menurun konstipasi diare / BB
menurun. Biasanya ada perubahan pada air seni.
3. Riwayat Kesehatan Dahulu.
Adanya faktor keturunan pernah atau tidak sakit hepatitis, sakit
jantung, minum alkohol, dll
4. Riwayat Penyakit Sekarang.
Adanya faktor keturunan / riwayat keturunan dan salah satu anggota
keluarganya yang terkena hepatitis.
5. Pengkajian pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat.
Bagaimana persepsi Klien tentang tata laksana hidup sehat.
b. Pola nutrisi dan metabolik.
Pada hepatitis mengeluh nafsu makan menurun, mual, muntah.
c. Pola eliminasi.
Eleminasi alvi : sukar BAB, diare.
Eleminasi urine : warna urine lebih kuning teh kecoklatan seperti
teh (gelap).

9
d. Pola istirahat tidur.
Pola istirahat periode akut dengan keadaan lemah, bangun tidur
kepala sering pusing tidur nyenyak karena merasa mual, dan
muntah.
e. Pola aktivitas dan latihan.
Badan terasa lemah, letih, dan kemampuan kerja menurun, hal
ini disebabkan karena kurang tersedianya tenaga atau kalori
dalamtubuh sebagai akibat adanya gangguan metabolisme.
f. Pola persepsi dan konsep diri.
Pengaruh status kesehatan seperti mempengaruhi persepsi hidup
sehat dan pengetahuan tentang keperawatan diri biasanya
hygiene yang kurang, sedih, marah, dan depresi
g. Pola sensori dan kognitif.
Sensori : merasa nyari terutama pada perut sebelah kanan atas.
Kognetif : proses berfikir.
h. Pola produksi seksual.
Pola hubungan sexsualitasnya merasa ada gangguan mentruasi
atau haid sedang pada laki-laki ada pengerutan testis.
i. Pola hubungan dan peran.
Terjadinya perubahan peran yang dapat menggangu hubungan
interpersonal yaitu Px merasa tidak berguna, menarik diri.
j. Pola tata nilai dan kepercayaan.
Biasanya pada Px hepatitis timbul stress dalam spritual serta
kebiasaan ibadahnya.
k. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Kepala dan Leher
Pada umumnya pada penyakit hepatitis adalah pada rambut
mengalami kerontokan kepala tidak dapat benjolan dan mata
terdapat ikterus serta konnjungtivanemis, sklera ikterus,
konjungtiva anemis.

10
b. Sistem Respirasi
Anatomi dada / thorak biasanya pada penyakit hepatitis
terdapat spindernerviretruris otot, pernafasan + gerakan dada
dan perut tidak seirama sesak nafas, pernafasan dangkal,
pernafasan cuping hidung.
c. Sistem Cardiovakuler
Pada penyakit hepatitis biasanya ditemukan peningkatan nadi
dan tensi darah meningkat.
d. Sistem Gastro Internal
Pada umumnya penyakit hepatitis di temukan adanya autes,
hati bisa mengecil atau membesar dan kaput mendora, nyeri
tekan perut atas kanan, muntah berwarna hitam diare
kecoklatan sampai hitam, acites, bisisng usus menurun.
e. Sistem Gastro Urinaria
Pada Penyakit hepatitis biasanya di temukan etropi testis
penurunan lobido 9x haid pada wanita, warna urin lebih
kuning tua / kecoklatan.
f. Sistem Muskulus
Adanya edema pada tuingkai, kelemahan gerak.
g. Sistem Endokrin
Pada penyakit hepatitis tidak ada pembesaran kelenjar
thiroid.
h. Pemeriksaan Penunjang
1) Tes fungsi hati : abnormal (4-10 x dari normal)
2) SGOT/SGPT : awalnya meningkat, dapat meningkat 1-2
minggu sebelum ikterik kemudian tampak menurun.
3) Leukopenia : trombositopenia mungkin ada
(splenomgali)
4) Diferensial darah lengkap : leukositosis, monositosis,
limfosit atipikal, dan sel plasma.
5) Feses : warna tanah liat, steatoria (penurunan fungsi hati)

11
6) Albumin serum : menurun
7) Gula darah : hiperglikemia/hipoglikemia
8) HbsAg : + (positif) pada tipe B
9) Urinalisa : peningkatan kadar bilirubin;
protein/hematuria dapat terjadi
B. DIAGNOSA
Beberapa masalah keperawatan yang mungkin muncul pada penderita
hepatitis :
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik
karena anoreksia, mual dan muntah.
2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan inflamasi
jaringan.
3. Hypertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah
sekunder terhadap inflamasi hepar
4. Keletihan berhubungan dengan proses inflamasi kronis sekunder
terhadap hepatitis
5. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan
dengan pruritus sekunder terhadap akumulasi pigmen bilirubin dalam
garam empedu

C. INTERVENSI
No. Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Dx
1 Setelah Menunjukkan 1. Ajarkan dan 1. Keletihan
diberikan peningkatan bantu klien berlanjut
tindakan berat badan untuk istirahat menurunkan
keperawatan mencapai sebelum makan keinginan untuk
selama 2x24 tujuan 2. Awasi makan
jam, dengan nilai pemasukan 2. Adanya
ketidakseimb laboratorium diet/jumlah pembesaran

12
angan nutrisi normal dan kalori, tawarkan hepar dapat
kurang dari bebas dari makan sedikit menekan saluran
kebutuhan tanda-tanda tapi sering dan gastro intestinal
tubuh mal nutrisi. tawarkan pagi dan menurunkan
berhubungan paling sering kapasitasnya.
dengan 3. Pertahankan 3. Akumulasi
kegagalan hygiene mulut partikel makanan
masukan yang baik di mulut dapat
untuk sebelum makan menambah baru
memenuhi dan sesudah dan rasa tak
kebutuhan makan sedap yang
metabolik 4. Anjurkan menurunkan
karena makan pada nafsu makan.
anoreksia, posisi duduk 4. Menurunkan rasa
mual dan tegak penuh pada
muntah dapat 5. Berikan diit abdomen dan
teratasi. tinggi kalori, dapat
rendah lemak meningkatkan
pemasukan
5. Glukosa dalam
karbohidrat
cukup efektif
untuk pemenuhan
energi, sedangkan
lemak sulit untuk
diserap/dimetabol
isme sehingga
akan membebani
hepar.
2 Setelah Menunjukkan 1. Kolaborasi 1. Melalui
diberikan tanda-tanda dengan individu pendekatan

13
tindakan nyeri fisik untuk kepada individu
keperawatan dan perilaku menentukan yang mengalami
selama 2x24 dalam nyeri metode yang perubahan
jam, (tidak dapat digunakan kenyamanan
Gangguan meringis untuk intensitas nyeri diharapkan
rasa nyaman kesakitan, nyeri lebih efektif
(nyeri) menangis 2. Tunjukkan pada mengurangi
berhubungan intensitas dan klien nyeri.
dengan lokasinya) penerimaan 2. Klienlah yang
inflamasi tentang respon harus mencoba
jaringan klien terhadap meyakinkan
dapat nyeri pemberi
teratasi. 3. Bahas dengan pelayanan
dokter kesehatan bahwa
penggunaan ia mengalami
analgetik yang nyeri
tak mengandung 3. Kemungkinan
efek hepatotoksi nyeri sudah tak
bisa dibatasi
dengan teknik
untuk
mengurangi
nyeri.
3 Setelah Tidak terjadi 1. Monitor tanda 1. Sebagai indikator
diberikan peningkatan vital : suhu untuk mengetahui
tindakan suhu badan status hypertermi
keperawatan T : 37.5oC 2. Ajarkan klien 2. Dalam kondisi
selama 2x24 pentingnya demam terjadi
jam, mempertahanka peningkatan
Hypertermi n cairan yang evaporasi yang
berhubungan adekuat memicu

14
dengan (sedikitnya timbulnya
proses 2000 l/hari) dehidrasi
perjalan untuk mencegah 3. Menghambat
penyakit dehidrasi, pusat simpatis di
dapat misalnya sari hipotalamus
teratasi. buah 2,5-3 sehingga terjadi
liter/hari. vasodilatasi kulit
3. Berikan dengan
kompres hangat merangsang
pada lipatan kelenjar keringat
ketiak dan untuk
femur mengurangi
4. Anjurkan klien panas tubuh
untuk memakai melalui
pakaian yang penguapan
menyerap 4. Kondisi kulit
keringat yang mengalami
lembab memicu
timbulnya
pertumbuhan
jamur. Juga akan
mengurangi
kenyamanan
klien, mencegah
timbulnya ruam
kulit.
4 Setelah - Keletihan 1. Jelaskan sebab- 1. Dengan
diberikan berkurang sebab keletihan penjelasan sebab-
tindakan - Klien individu sebab keletihan
keperawatan merasa 2. Sarankan klien maka keadaan
selama 2x24 nyaman untuk tirah klien cenderung

15
jam, baring lebih tenang
Keletihan 3. Bantu individu 2. Tirah baring akan
berhubungan untuk meminimalkan
dengan mengidentifikas energi yang
proses i kekuatan- dikeluarkan
inflamasi kekuatan, sehingga
kronis kemampuan- metabolisme
sekunder kemampuan dan dapat digunakan
terhadap minat-minat untuk
hepatitis 4. Bantu untuk penyembuhan
dapat teratasi. belajar tentang penyakit.
keterampilan 3. Memungkinkan
koping yang klien dapat
efektif (bersikap memprioritaskan
asertif, teknik kegiatan-kegiatan
relaksasi) yang sangat
penting dan
meminimalkan
pengeluaran
energi untuk
kegiatan yang
kurang penting
4. Untuk
mengurangi
keletihan baik
fisik maupun
psikologis
5 Setelah - Jaringan 1. Pertahankan 1. Kekeringan
diberikan kulit utuh, kebersihan meningkatkan
tindakan - penurunan tanpa sensitifitas kulit
keperawatan pruritus. menyebabkan dengan

16
selama 2x24 kulit kering merangsang
jam, Resiko 2. Cegah ujung syaraf
tinggi penghangatan 2. Penghangatan
kerusakan yang berlebihan yang berlebih
integritas dengan menambah
kulit dan pertahankan pruritus dengan
jaringan suhu ruangan meningkatkan
berhubungan dingin dan sensitivitas
dengan kelembaban melalui
pruritus rendah, hindari vasodilatasi
sekunder pakaian terlalu 3. Penggantian
terhadap tebal merangsang
akumulasi 3. Anjurkan tidak pelepasan
pigmen menggaruk, hidtamin,
bilirubin instruksikan menghasilkan
dalam garam klien untuk lebih banyak
empedu memberikan pruritus
tekanan kuat 4. Pendinginan akan
pada area menurunkan
pruritus untuk vasodilatasi dan
tujuan kelembaban
menggaruk kekeringa
4. Pertahankan
kelembaban
ruangan pada
30%-40% dan
dingin

17
BAB III
TINJAUAN KASUS
1. PENGKAJIAN
A. IDENTITAS KLIEN/PASIEN
Nama : Tn. A
Umur : 38 tahun
Suku/bangsa : Banjar/Indonesia
Agama : Islam
Status : Kawin
Pendidikan : D II
Pekerjaan : PNS
Bahasa : Banjar
Alamat : Jl. A. Yani. Gg. H. Abdul Kadir. No 34 Loktabat
Kiriman dari : Puskesmas Anjir Pasar
Nomor register : 961853
Dignosa medis : Hepatitis B

B. KELUHAN UTAMA
Klien mengeluh nyeri pada perut, anoreksia, tidurnya terganggu karena
nyeri. Klien mengatakan nyeri yang dirasakan seperti ditusuk dan
menyebar kedaerah punggung kanan belakang. Lokasinya di daerah perut
kanan atas. Nyeri mulai timbul sejak ± 4 hari SMRS, nyeri yang
dirasakan bersifat hilang timbul.
C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
± 4 hari sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh nyeri pada daerah
ulu hati yang menjalar kedaerah punggung kanan belakang. Nyeri
bersifat hilang timbul. Selain itu pasien ada muntah 1 kali volume 2 gelas
aqua sampai muntahan terasa pahit, 2 hari SMRS pasien ada muntah 1
kali, selama sakit nafsu makan pasien mengalami penurunan, BAK
berwarna seperti teh, BAB 2 hari SMRS berwarna hitam, sampai
sekarang belum ada BAB.

18
D. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Penyakit yang pernah dialami pasien hanya penyakit ringan seperti
influenza, pasien tidak pernah masuk rumah sakit sebelum ini.
E. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Didalam keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit seperti
pasien dan didalam keluarga pasien tidak ada riwayat keturunana seperti
diabetes melitus atau hipertensi.
F. RIWAYAT LINGKUNGAN
Lingkungan di sekitar tempat tinggal pasien cukup bersih dan tidak dekat
dengan tempat pembuangan sampah.
G. POLA FUNGSI KESEHATAN
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Klien tidak mengetahui tentang penyakit yang di deritanya.
b. Pola aktivitas dan latihan
Setiap harinya klien berangkat bekerja sebagai guru, dan setiap hari
minggunya klien biasa berolah raga di pagi dan sore harinya.
c. Pola nutisi dan metabolik
Dirumah makan 3 kali sehari berupa nasi, sayur dan ikan tapi selama
sakit pasien hanya makan 1-2 sendok saja karena jika pasien terlalu
banyak makan perutnya bertambah sakit.
d. Pola Eliminasi
1) BAB
Dirumah pasien BAB 1 kali sehari, warna kuning, bau khas,
konsistensi lunak. 2 hari SMRS pasien BAB 1 kali berwarna
hitam dengan konsistensi lembek
2) BAK
Dirumah frekuensinya BAK 3-4 kali sehari dengan warna
kuning muda, berbau pesing dan tidak ada gangguan BAK, 2
hari SMRS warnanya seperti air teh.

19
e. Pola istirahat dan tidur
1) Istirahat
Dirumah pada siang hari istirahat 1-2 jam dan malam 3-4 jam.
2) Tidur
Dirumah pasien biasanya tidur siang selama 1 jam dan malam
7-8 jam, selama sakit pasien tidak dapat tidur dengan nyenyak
dan hanya bisa tidur ± 5 jam, karena nyeri.
3) Pola kognitif persepsi
Klien menilai sakitnya itu hanya sakit biasa.
4) Pola sensori visual
Klien tidak mengalami gangguan penglihatan, pendengaran,
penciuman, pengecapan dan perabaan.
5) Pola toleransi dan koping terhadap stress
Saat klien mengeluh sakit, klien mengatakannya kepada istrinya.
6) Pola persepsi diri / konsep diri
Klien adalah seorang kepala rumah tangga yang bekerja sebagai guru
untuk menafkahi keluarganya.
7) Pola seksual dan reproduksi
Saat melakukan hubungan seksual dengan istrinya tidak mengalami
gangguan.
8) Pola nilai dan keyakinan.
Pelaksanaan ibadah yaitu pasien melaksanakan ibadah shalat 5
waktu sehari, tetapi ketika sakit pasien hanya berdoa dan berzikir
ditempat tidur.

H. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum : Lemah
Kesadaran : Composmentis
Vital Sign:
- TD : 120/80 mmHg.
- N : 92 x/menit.

20
- RR : 24 x/menit
- T : 38oC
b. Kulit, rambut dan kuku
1) Kulit
Kulit kering, turgor kulit cukup baik, teraba panas
2) Rambut
Bentuknya lurus, warna hitam dan penyebaran rambut merata.
3) Kuku
Capillary refill time (CRT) 2 detik, bersih, tidak panjang.
c. Kepala dan leher
1) Kepala
Tidak terdapat luka atau memar, bentuk kepala simetris, tidak
terdapat kutu rambut, tidak terdapat ketombe.
2) Mata
Struktur mata simetris, tidak terdapat kelainan, visus/ketajaman
penglihatan normal ( dapat membaca dengan jarak baca
normal/25-30 cm), sklera ikterik, conjunctiva tidak anemis,
pergerakan bola mata baik, tidak memakai alat bantu
penglihatan (kaca mata).
3) Telinga
Struktur telinga simetris, fungsi pendengaran baik, tidak terdapat
serumen dan cairan, tidak terdapat perdarahan serta tidak
memakai alat bantu pendengaran
4) Hidung
Struktur simetris, tidak terdapat peradangan dan perdarahan,
fungsi penciuman normal yaitu dapat membedakan bau alkohol
dengan minyak kayu putih.
5) Mulut
Bentuk bibir simetris, bau mulut pasien tidak tercium saat pasien
bicara, tidak terdapat perdarahan dan peradangan pada mulut,

21
pasien tidak memakai gigi palsu, fungsi pengecap baik, mukosa
kering.
6) Leher
Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening maupun
kelenjar tiroid, tidak ada kaku kuduk/tengkuk (dapat menoleh
kekiri dan kekanan).
d. Toraks dan paru-paru
1) Toraks
Gerakan dinding dada simetris, frekuensi pernapasan 24
x/menit, irama jantung reguler, tidak terdapat adanya benjolan
ataupun nyeri tekan.
2) Jantung
I : Bentuk dada simetris
P : Tidak ada nyeri tekan
P : Bunyi redup
A : Bunyi jantung normal dub lub
3) Paru-paru
I : Bentuk dada simetris , tidak menggunakan otot bantu
pernafasan.
P : Tidak ada nyeri tekan
P : Bunyi pekak
A : Bunyi paru vesikuler
e. Abdomen
I : Ukuran simetris, tidak terdapat adanya luka
A : Bising usu 20 kali / menit
P : Terdapat nyeri tekan, tidak terdapat pembesaran hati, limpa.
P : Bunyi timpani
f. Genetalia
Pasien berjenis kelamin laki-laki, tidak ada gangguan dalam BAK,
tidak terpasang kateter

22
g. Rektum dan anus
Tidak terdapat luka di daerah rektum, saat BAB tidak ada rasa sakit.
h. Ekstremitas
Ekstremitas atas dan ekstremitas bawah berfungsi dengan baik
namun pada lengan kanan terpasang infus D 5%. Keterbatasan
aktivitas dengan skala 2.

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan Laboratorium
1) SGOT 19 U/L Normal 16-40
2) SGPT 45 U/L Normal 8-45
3) Hemoglobin : 9,7% (N: 12-14%)
4) HCT : 29,2% (N:37%-43%)
5) Leukopenia : 270.000 U/L (N = 150.000-450.000 U/L)
6) Diferensial darah lengkap :
- Leukosit : 6000 U/L (N : L=5000-10000 U/L)
- Monosit : 8% (N = 2-3 %)
7) Albumin serum : 3,8 g/dl (N = 3,5-5,2 g/dl)
8) Gula darah : 108 mg/dl (N < 200)
9) HbsAg : + (positif)
10) Bilirubin total : 0,73 (< 1,5 mg/dl)
- Bilirubin direk : 0,20 (N = <0,5 mg/dl)
- Bilirubin indirek : 0,47 (N = <1,0 mg/dl)
b. USG
1) Hepar normal
2) Portal normal
3) Lien normal
4) Bilier normal
5) Rend normal
6) Prostat normal

23
J. TERAPI
1. IVFD D 5% 20 tetes/menit.
2. Ranitidin 2x1 ampul.
3. Antrain 3x1 ampul.
4. Methycal 3x1 tab.

K. ANALISA DATA
Hari/ Tgl/
No. Data Problem Etiologi
Jam
1 Selasa/ 20 DS : Gangguan Inflamasi
Mei/ 2014 Pasien mengatakan nyeri rasa nyaman jaringan
pada daerah perut. (nyeri).
DO :
 Nyeri tekan pada perut
kanan atas
 Pasien tampak meringis.
 Vital sign:
- TD : 120/80 mmHg.
- Pols : 92 x/menit
- RR : 24 x/menit
- T : 38oC
 Nyeri
- P : inflamasi jaringan
hati, anoreksia
- Q : seperti ditusuk
- R : abdomen kanan
atas
- S : skala 3
- T : ± 4 hari SMRS
2 Selasa/ 20 DS : Ketidakseimb Intake

24
Mei/ 2014 Pasien mengatakan tidak ada angan nutrisi makanan
selera makan. kurang dari yang tidak
DO : kebutuhan adekuat.
- Pasien tampak lemah. tubuh
- Pasien makan 1-2 sendok
dari porsi yang
disediakan.
- Diit yang diberikan bubur
biasa.
3 Selasa/ 20 DS : Gangguan Nyeri
Mei/ 2014 Pasien mengatakan tidurnya pola istirahat
sering terganggu apabila dan tidur.
nyeri datang (± 5 jam dalam
semalam).
DO :
 Pasien tampak lemah,
 Mata pasien terlihat sayu
dan mengantuk.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan inflamasi jaringan.
2. Ketidakseimbngan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake makanan yang tidak adekuat.
3. Gangguan pola istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri.

25
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
No. Tujuan Kriteria
Intervensi Rasional TTD
Dx Umum Hasil
1 Setelah Pain Level Pain
Yuan
diberikan (2102) Management
tindakan - Melaporkan (1400) a
keperawatan nyeri 1. Tentukan 1. Data dasar
selama 3x24 berkurang karakteristik untuk
jam, (3) dan kualitas evaluasi
gangguan - Tidak nyeri. keefektifa
rasa nyaman menunjuka n
(nyeri) n ekspresi intervensi.
berhubungan wajah 2. Pantau 2. Perubahan
dengan menahan tanda-tanda frekuensi
inflamasi nyeri vital. jantung
jaringan - Mampu atau
dapat teratasi. mengontrol tekanan
nyeri (tahu darah
penyebab menunjuk
nyeri, an bahwa
mampu pasien
menggunak nyeri.
an teknik 3. Berikan 3. Tindakan
nonfarmako tindakan non
logi untuk senyaman analgesik
mengurangi mungkin. diberikan
nyeri, dengan
mencari sentuhan
bantuan) lembut
- TTV dapat
menghilan

26
normal (TD gkan
110/70 ketidakny
mmHg, N amanan.
80 x/menit, 4. Ajarkan : 4. Mengalih
RR 16 - Teknik kan
x/menit, T Relaksasi. perhatian
37,50C) - Teknik pasien
Distraksi. terhadap
nyeri.
5. Kolaborasi 5. Obat
dalam digunakan
pemberian untuk
analgetik. meningkat
kan
kenyaman
an/
istirahat.
2 Setelah Nutritional Nutrition
Yuan
dilakukan Status (1004) Therapy (1120)
tindakan - Intake 1. Motivasi 1. Motivasi a
asuhan makanan pasien untuk sangat
keperawatan dan minum makan. penting
selama 3 x 24 adekuat bagi klien.
jam pada - Tanda 2. Anjurkan 2. Mulut
pasien tanda pasien untuk yang
dengan malnutrisi menjaga bersih
ketidakseimb tidak ada kebersihan meningka
angan nutrisi mulut. rkan nafsu
kurang dari makan.
kebutuhan 3. Anjurkan 3. Makanan
tubuh memberi dengan

27
berhubungan makan porsi kecil
dengan intake dengan porsi tapi sering
makanan kecil tapi dapat
yang tidak sering. ditolerir
adekuat dapat oleh
teratasi. pasien.
4. Kolaborasi 4. Diit yang
dengan ahli sesuai
gizi dalam dapat
pemberian memperce
diit. pat
penyembu
han.
3 Setelah Sleep (0004) Sleep
Yuan
dilakukan - Klien Enhancement
tindakan mengatakan (1850) a
asuhan tidurnya 1. Kaji pola tidur 1. Untuk
keperawatan cukup klien mengetahui
selama 3 x 24 - Klien bagaimana
jam pada mengatakan pola tidur
pasien tidurnya klien
dengan nyenyak 2. Minimalkan 2. Lingkungan
gangguan suasana yang tenang
pola istirahat lingkungan dapat
dan tidur membantu
berhubungan klien untuk
dengan nyeri beristirahat
dapat teratasi 3. Anjurkan klien 3. Minum air
untuk minum hangat
air hangat dapat
sebelum tidur membantu

28
klien lebih
relaksasi
dan lebih
nyaman
4. Ajarkan klien 4. Membantu
relaksasi dan klien untuk
distraksi mengurangi
sebelum tidur persepsi
nyeri atau
mangalihka
n perhatian
klien dari
nyeri yang
menghamb
at tidur
klien.
5. Pemberian 5. Membantu
obat analgesik mengurangi
nyeri

4. CATATAN PERKEMBANGAN
NAMA : HARI/TANGGAL :
JAM :
IMPLEMENTASI EVALUASI
DATA : S:
- Pasien mengatakan nyeri pada daerah - Klien mengatakan dapat
perut, nyeri tekan pada perut kanan melakukan teknik relaksasi
atas, Pasien tampak meringis, skala sendiri.
nyeri 3, TTV (TD : 120/80 mmHg, N : - Klien mengatakan nyerinya
92 x/menit, RR : 24 x/menit, T : 38oC) berkurang

29
- Pasien mengatakan tidak ada selera - Klien mengatakan nafsu
makan, pasien makan 1-2 sendok dari makannya bertambah.
porsi yang disediakan. - Klien mengatakan sudah dapat
- Pasien mengatakan tidurnya sering tidur nyaman.
terganggu apabila nyeri datang (± 5 jam
dalam semalam), mata pasien terlihat O:
sayu dan mengantuk - Vital sign:
TD : 110/70 mmHg.
DIAGNOSA : Pols : 80 x/menit.
4. Gangguan rasa nyaman (nyeri) RR : 24 x/menit.
berhubungan dengan inflamasi jaringan. T : 37oC.
5. Ketidakseimbngan nutrisi kurang dari - Skala nyeri 1
kebutuhan tubuh berhubungan dengan - Klien tampak tenang
intake makanan yang tidak adekuat. - Klien makan ½ posi.
6. Gangguan pola istirahat dan tidur - Klien tidur malam di jam
berhubungan dengan nyeri normal.

TINDAKAN : A:
1. Menentukan karakteristik dan kualitas - Nyeri (+)
nyeri. - Kurang nutrisi (+)
7. Memantau TTV setiap 4 jam - Gangguan pola tidur (-)
8. Mengajarkan klien teknik relaksasi
dan distraksi. P:
- Memberikan tindakan senyaman - Melakukan teknik relaksasi
mungkin. distraksi 3 kali sehari (pagi,
- Mengolaborasi dengan dokter dalam siang, malam)
pemberian analgetik. - Memberikan obat analgesik
2. Memotivasi klien untuk makan - Menganjurkan klien makan
- Menganjurkan klien untuk menggosok setiap 4 jam sekali.
gigi. - Memberikan diit tinggi kalori
- Menganjurkan pasien makan dengan

30
porsi kecil tapi sering. tinggi protein.
- Mengolaborasi dengan ahli gizi dalam
pemberian diit.
3. Menanyakan kepada klien masalah
gangguan tidur.
- Mengkomunikasikan pada keluarga
untuk tidak berbincang di dalam
ruangan klien.
- Mengajarkan klien teknik relaksasi
dan distraksi sebelum tidur.
- Menganjurkan klien minum air hangat
sebelum tidur
- Memberikan obat analgesic.

RTL :
1. Menanyakan seperti apa rasa nyeri
yang dirasakan klien.
- Memantau TTV stiap 4 jam ( jam
07.15, jam 11.15, jam 15.15, jam
19.15)
- Mengajarkan klien tarik napas
dalam.
- Memberikan kenyamanan saat
melakukan tindakan.
- Memberikan obat analgetik.
2. Memberikan motivasi pada klien
untuk makan.
- Menganjurkan klien menggosok
gigi setelah makan dan sebelum
tidur.
- Menganjurkan klien makan 4 jam

31
sekali dalam porsi kecil.
- Memberikan diit bubur biasa pada
klien.
3. Menanyakan pada klien penyebab
klien susah tidur.
- Mengkomunikasikan pada keluarga
klien untuk minimalkan suara saat
klien tidur.
- Mengajarkan klien teknik tarik
napas dalam
- Menganjurkan klien minum air
hangat sebelum tidur.
- Memberikan obat analgesic.

32
BAB IV
PEMBAHASAN

A. PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan hari selasa, 20 Mei 2014 dengan cara wawncara,
observasi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Dari hasil
pengkajian yang di dapatkan, ada kesenjangan antara teori dan kasus Tn.A
yaitu data yang ada pada teori tidak terdapat pada Tn.A yaitu pada
manifestasi klinik tidak ditemukan adanya nyeri pada otot dan sakit kepala.
Kemudian juga tidak ditemukan adanya ikterik, urin menjadi lebih coklat,
tinja berwarna kelabu atau kuning muda dan hati membesar.
Pada pemeriksaan fisik pada Tn.A semua pemeriksaan dilakukan
seperti pada teori mulai dari kepala, rambut, kuku, mata, paru-paru, abdomen,
dan ekstremitas. Begitu pula dengan pemeriksaan penunjang, semua
dilakukan seperti yang terdapat pada teori. Dari pemeriksaan HbsAg sudah
diketahui adanya virus hepatitis pada Tn.A karena hasilnya adalah positif (+)
yang menunjukkan adanya virus hepatitis B.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Di dalam teori ada 5 diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
pada hepatiis, namun dalam kasus Tn.A hanya menemukan 2 diagnosa yang
terdapat pada teori dan 1 diagnosa yang dapat dianalisa sendiri. Adapun
diagnosa yang ada pada Tn.A yaitu ketidakseimbangn nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang tidak adekuat
dan gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan inflamasi jaringan.
Sedangkan 1 diagnosa yang dapat dianalisa yaitu gangguan pola tidur
berhubungan dengan nyeri. Untuk diagnosa yang terdapat pada teori tapi
tidak ada pada Tn.A dikarenakan pada klien tidak ditemukan data-data yang
dapat menunjang dan mengarah pada diagnose tersebut.

33
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Pembuatan rencana tindakan disesuaikan dengankondisi klien.
Adapun prioritas masalah pada Tn.A dibuat menurut kebutuhan Hierarki
Maslow. Langkah terkhir dalam perencanaan adalah menentukan rencana
tindakan.
1. Diagnosa 1 : Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan
inflamasi jaringan.
Diagnosa keperawatan ini ditetapkan pada prioritas pertama karena
pada klien mengalami nyeri pada perut sebelah kanan bagian atas dengan
skala nyeri 3, apabila tidak ditangani terlebih dulu skala nyeri akan
bertambah. Tujuannya setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3x24 jam diharapkan nyeri hilang dengan rencana tindakan yang akan
dilakukan.
2. Diagnosa 2 : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake makanan yang tidak adekuat.
Diagnosa ini ditetapkan pada prioritas 2 karena pada klien
mengalami masalah pencernaan seperti mual dan nafsu makan yang
menurun. Apabila tidak ditangani intake klien berkurang. Tujuannya
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
nutrisi klien terpenuhi.
3. Diagnosa 3 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri
Diagnosa ini ditetapkan sebagai prioritas terakhir karena jika nyeri
sudah teratasi, pasti gangguan pola tidur klien juga akan ikut teratasi
dikarenakan nyeri merupakan salah satu factor penyebabnya. Tetapi tetap
dengan tindakan keperawatan yang sudah direncanakan.

D. IMPLEMENTASI
Pada tahap ini dilakukan tindakan keperawatan sesuai dengan keadaan klien
dan rencana keperawatan yang telah disusun. Semua tindakan
didokumentasikan dalam catatan keperawatan dan dalam tindakan
keperawatan dapat dilakukan semua pada Tn.A. Tindaklan keperawatan akan

34
berjalan baik jika Tn.A dapat bekerja sama dengan baik pula ketika dilakukan
tindakan.

E. EVALUASI
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan. Asuhan
keperawatan telah dilakukan pada Tn.A yaitu ada 3 diagnosa keperawatan
diantaranya ada 2 diagnosa yang tujuannya teratasi dan 1 tujuan teratasi
sebagian. Diagnosa yang dapat teratasi yaitu ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang tidak
adekuat dan gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri. Sedangkan
untuk gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan inflamasi jaringan
masih teratasi sebagian dan harus melanjutkan rencana tindakan sebelumnya.

35
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8.
Jakarta : EGC
Corwin, Elizabeth J. (2001). Buku saku patofisiologi. Jakarta : EGC
Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan; Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC. Jakarta.
Mansjoer, Arif, dkk. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta : Media
Aesculapius
Noer, Sjaifoellah, dkk. (1996). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta:Balai
Penerbit FKUI.
Price Silvia A, Wilson Larraine M. (1994). Patofisiologi Edisi 4. Jakarta:EGC.
http://ongky-materiaskep.blogspot.com/2013/03/hepatitis.html

36