Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

Kekerasan terhadap anak ternyata masih terus terjadi. Setiap hari ratusan ribu
bahkan jutaan anak Indonesia mencari nafkah di terik matahari, di kedinginan
malam, atau di tempat-tempat yang berbahaya, ada anak yang disiksa orangtuanya
atau orang yang memeliharanya. Setiap malam, di antara gelandangan ada saja
gadis-gadis kecil yang diperkosa preman jalanan, Setiap menit ada saja anak yang
ditelantarkan orangtuanya karena kesibukan karier, kemiskinan, atau sekedar
egoisme.  Mereka tidak masuk koran karena mereka tidak mati tiba-
tiba. Umumnya mereka mati perlahan-lahan.  Mereka tidak muncul dalam media
karena perlakuan kejam yang mereka terima tidak dilaporkan polisi.1
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang
masih dalam kandungan. Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang
perlindungan anak menjelaskan bahwa anak adalah tunas, potensi, dan generasi
muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan
mempunya potensi menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada
masa depan.2 Dari data BPS yang diolah Pusat Data dan Informasi Kemenkes,
estimasi jumlah anak di indonesia untuk tahun 2018 adalah 33% dari total
estimasi jumlah penduduk (88.312.971 untuk usia 0-18 tahun), sebaran hampir
merata di rentang usia 0-2 tahun sampai dengan 12-14 tahun yaitu sekitar 16%
dan usia 15 -18 tahun mendominasi sekitar 20% dari usia anak, sedangkan
berdasarkan jenis kelamin, yaitu 49% perempuan dan 59% laki-laki. Dari estimasi
tersebut menggambarkan potensi generasi muda yang cukup besar di masa depan,
namun di lain pihak memberi peringatan bahwa Indonesia juga mempunyai
potensi risiko yang cukup besar untuk terjadinya kasus kekerasan yang melibatkan
anak dan remaja.1
Menurut WHO, kekerasan adalah penggunaan secara sengaja kekuatan fisik
atau kekuatan, ancaman atau kekerasan aktual terhadap diri sendiri, orang lain,
atau terhadap kelompok atau komunitas, yang berakibat luka atau kemungkinan
besar bisa melukai, mematikan, membahayakan psikis, pertumbuhan yang tidak

1
normal atau kerugian. Data dari World Health Organization tahun 2010
menunjukkan bahwa sekitar 20% perempuan dan 5-10% laki-laki pernah
mengalami kekerasan seksual pada waktu anak- anak.3 Menurut Komisi
Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2011 telah terjadi 2.275 kasus
kekerasan terhadap anak. Pada tahun 2012 kekerasan terhadap anak terjadi 3.871
kasus. Tahun 2013, terdapat 2.637 kekerasan terhadap anak.4
Penggunaan kata kekuasaan di dalam definisi kekerasan bertujuan untuk
memperluas pemahaman tentang kekerasan dan memperluas pemahaman
konvensional tentang kekerasan dengan memasukkan juga tindakan-tindakan
kekerasan yang merupakan hasil dari relasi kekuasaan, termasuk di dalam
ancaman dan intimidasi. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik
membahas masalah “kekerasan pada anak”.3