Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Analisis impas memberikan informasi tingkat penjualan minimum yang harus


dicapai suatu usaha agar tidak mengalami kerugian.Dari analisis tersebut juga dapat
diketahui sampai seberapa jauh volume penjualan yang direncanakan boleh
turun,agar perusahaan tidak menderita kerugian. Analisis Cost-Volume-Profit
(CVP) merupakan model yang sangat berguna untuk perencanaan dan pengambilan
keputusan manajemen dalam menentukan unit yang harus dijual untuk mencapai
laba yang diinginkan. Analisis CVP mendeskripsikan hubungan antara unit yang
dijual, biaya, harga jual, dan profit, yang dapat menjelaskan beberapa isu penting
dalam pengambilan keputusan manajemen seperti dampak pengurangan biaya tetap
total terhadap profit, dampak kebijakan kenaikan harga jual produk terhadap profit,
dan lain-lain. Konsep analisis biaya-volume-laba merupakan alat yang berguna
untuk perencanaan dan pengambilan keputusan,karena analisis biaya-volume-laba
menekankan pada keterkaitan antara biaya,jumlah yang dijual dan harga.Analisis
ini menggabungkan semua informasi keuangan perusahaan.

Analisis CVP dapat juga mengatasi banyak isu lainnya seperti jumlah unit
yang harus dijual untuk mencapai impas dampak penggurangan biaya tetap
terhadap laba.Selain itu, analisis CVP memungkingkan para manajer untuk
melakukan analisis sensitivitas dengan menguji dampak dari berbagai tingkat harga
atau biaya terhadap laba. Maka pada bagian pembahasan akan dibahas bagaimana
hubungan analisi CVP, Titik Impas dalam unit, maupun dolar ,Analisis
Multiproduk dan penyajian grafis hubungan CVP agar manajer dapat dengan bijak
mengambil keputusan yang pasti dan tidak mengandung resiko yang dapat
merugikan perusahaan.

B. Rumus Masalah
a. Apakah yang dimaksud dengan (Break Even Point (BEP) dan VCP
(Cost-Volume-Profit )?
b. Bagaimana menganalis (Break Even Point (BEP) ?
c. Bagaimana menganalisis VCP (Cost-Volume-Profit )?

C. Tujuan Masalah
a. Mengetahui apa itu (Break Even Point (BEP) dan VCP (Cost-Volume-
Profit ).
b. Mengerti tentang analisis (Break Even Point (BEP)
c. Mengerti tentang analisi VCP (Cost-Volume-Profit )

[Type text] Page 1


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian BEP (Break Even Point) Dan Cost-Volume-Profit (CVP)


Break Even Point (BEP) ialah titik impas di mana posisi jumlah pendapatan
dan biaya sama atau seimbang sehingga tidak terdapat keuntungan ataupun
kerugian dalam suatu perusahaan.
Break Even Point ini digunakan untuk menganalisis proyeksi sejauh mana
banyaknya jumlah unit yang diproduksi atau sebanyak apa uang yang harus
diterima untuk mendapatkan titik impas atau kembali modal.
Cost-Volume-Profit (CVP) merupakan model yang sangat berguna untuk
perencanaan dan pengambilan keputusan manajemen dalam menentukan unit yang
harus dijual untuk mencapai laba yang diinginkan.

B. ANALISIS BREAK EVEN POINT (BEP)

a) Tujuan Analisis Break Even Point (BEP)


Tujuan dari analisis break even point yaitu untuk mengetahui pada volume
penjualan atau produksi berapakah suatu perusahaan akan mencapailaba
tertentu.

b) Analisis Break Even Poin (Titik Impas)


Analisa Break Even Point (BEP) adalah suatu teknik analisa untuk
mempelajari hubungan antara Baiaya Tetap, Biaya Variabel, Keuntungan dan
Volume aktivitas. Sering pula disebut “Cost - Profit - Volume analysis (C.P.V.
analysis). Break Even Point (BEP) dapat diartikan sebagai suatu titik atau keadaan
dimana perusahaan di dalam operasinya tidak memperoleh keuntungan dan tidak
menderita kerugian. Dengan kata lain, pada keadaan itu keuntungan atau kerugian
sama dengan nol. Hal tersebut dapat terjadi bila perusahaan dalam operasinya
menggunakan biaya tetap, dan volume penjualan hanya cukup untuk menutup biaya
tetap dan biaya variabel. Apabila penjualan hanya cukup untuk menutup biaya
variabel dan sebagian biaya tetap, maka perusahaan menderita kerugian. Dan
sebaliknya akan memperoleh memperoleh keuntungan, bila penjualan melebihi
biaya variabel dan biaya tetap yang harus di keluarkan. Analisis break even sering
digunakan dalam hal yang lain misalnya dalam analisis laporan keuangan. Dalam
analisis laporan keuangan kita dapat menggunakan rumus ini untuk mengetahui:

 Hubungan antara penjualan, biaya, dan laba


 Struktur biaya tetap dan variable
 Kemampuan perusahaan memberikan margin unutk menutupi biaya tetap
 Kemampuan perusahaan dalam menekan biaya dan batas dimana
perusahaan tidak mengalami laba dan rugi

[Type text] Page 2


Selanjutnya, dengan adanya analisis titik impas tersebut akan sangat
membantu manajer dalam perencanaan keuangan, penjualan dan produksi, sehingga
manajer dapat mengambil keputusan untuk meminimalkan kerugian,
memaksimalkan keuntungan, dan melakukan prediksi keuntungan yang diharapkan
melalui penentuan:
 harga jual persatuan,
 produksi minimal,
 pendesainan produk, dan lainnya
Dalam penentuan titik impas  perlu diketahui terlebih dulu hal-hal dibawah ini
agar titik impas dapat ditentukan dengan tepat, yaitu:

 Tingkat laba yang ingin dicapai dalam suatu periode


 Kapasitas produksi yang tersedia, atau yang mungkin dapat ditingkatkan
 Besarnya biaya yang harus dikeluarkan, mencakup biaya tetap maupun biaya
variable.

a)  Manfaat dan Kegunaan Analisis Break Even (Titik Impas)


Analisis Break even secara umum dapat memberikan informasi kepada
pimpinan, bagaimana pola hubungan antara volume penjualan, cost/biaya, dan
tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level penjualan tertentu. Analisis
break even dapat membantu pimpinan dalm mengambil keputusan mengenai hal-
hal sebagai berikut:
 Jumlah penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak
mengalami kerugian.
 Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan
tertentu.
 Seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak
menderita rugi.
 Untuk mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya dan
volume penjualan terhadap keuntungan yang diperoleh.

C. Hubungan Analisis Biaya-Volume-Laba (CVP)

Jumlah produk yang dihasilkan perusahaan didalam suatu periode tertentu akan
memiliki hubungan langsung dengan besarnya biaya yang dikeluarkan perusahaan.
Dan besarnya biaya yang dikelurkan perusahaan tersebut pada saat dipertemukan
dengan nilai penjualan dari produk yang dihasilkan perusahaan pada suatu periode
akan berpengaruh secara langsung terhadap besarnya laba yang diperoleh
perusahaan. Analisis untuk melihat hubungan diantara ketiga variabel tersebut
itulah yang disebut dengan analisis biaya-volume-laba.

[Type text] Page 3


Analisis Biaya-Volume-Laba adalah suatu metode analisis untuk melihat
hubungan antara besarnya biaya yang dikeluarkan suatu perusahaan dan besarnya
volume penjualan serta laba yang diperoleh pada suatu periode tertentu.Analisis
biaya-voleme-laba sangat membantu manajer suatu perusahaan untuk membuat
kepeutsan yang berkaitan dengan fungsinya.Analisis ini membantu manajer untuk
melihat hubungan antara 5 elemen berikut ini :

1. Harga Produk yaitu harga yang ditetapkan di dalam suatu periode


tertentu secara konstan.
2. Volume atau tingkat aktivitas yaitu besarnya produk yang dihasilkan
dan direncanakan akan dijual di dalam suatu periode tertentu.
3. Biaya Variabel per unit yaitu besarnya biaya produk yang dibebankan
secara langsung pada setiap unit barang yang diproduksi.
4. Total biaya tetap yaitu keseluruhan biaya periodik di dalam suatu
periode tertentu.
5. Bauran volume produk yang dijual yaitu proporsi volume relatif produk
– produk perusahaan yang akan dijual.
Untuk melihat hubungan diantara kelima elemen tersebut terdapat beberapa asumsi
yang harus digunakan didalam hubungan diantara besarnya biaya dan volume serta
laba yang akan diperoleh, yaitu :

1. Harga jual produk yang konstan dalam cakupan yang relevan.Berarti


harga jual setiap unit produk tidak berubah walaupun terjadi perubahan
volume penjualan .
2. Biaya bersifat linear dalam rentang cakupan yang relevan dan dapat
dibagi secara akurat ke dalam elemen biaya tetap dan biaya variabel.
Jumlah biaya variabel per unit konstan dan jumlah biaya tetap total juga
harus konstan.
3. Dalam perusahaan mulitiproduk, bauran penjualannya tidak berubah.
4. Jumlah unit yang diproduksi sama dengan jumlah unit yang dijual.
Berarti, jumlah persediaan tidak berubah.
Dengan pengertian dan asumsi seperti diatas maka jika salah satu elemen saja
berubah maka hasil analisi-biaya-volume pasti akan menghasilkan kesimpulan yang
berbada dan dapat menghasilkan keputusan yang berbeda juga. Tetapi tujuan utama
dari analisis ini adalah hubungan diantara elemen-elemen tersebut bdan
pengaruhnya satu dengan yang lainnya.

 Titik Impas dalam Unit

Titik Impas (break-event point) adalah titik dimana total pendapatan sama
dengan total biaya, titik dimana laba sama dengan nol. Untutk menentukan titik
impas dalam unit, maka perlu memfokuskan pada laba operasi. Pertama
menentukan titik impas dan kemudian melihat bagaimana pendekatan yang telah

[Type text] Page 4


digunakan itu dapat dikembangkan untuk menentukan jumlah unit yang harus dijual
guna menghasilkan laba yang ditargetkan.
Keputusan awal perusahaan dalam mengimplementasikan pendekatan unit
yang terjual pada analisis CVP adalah menentukan apa yang dimaksud dengan
sebuah unit. Bagi perusahaan manufaktur contoh seperti Procter & Gamble dapat
mendefenisikan sebuah unit sebagai satu batang sabun mandi merk Ivory. Di pihak
lain, perusahaan jasa menghadapi pilihan yang lebih sulit seperti Delta Airlines
dapat mendefenisikan sebuah unit sebagai mil penumpang atau sebagai satu kali
perjalanan.
Keputusan kedua terpusat pada pemisahan biaya menjadi komponen tetap dan
variabel. Analisis CVP menfokuskan pada berbagai faktor yang mempengaruhi
perubahan dalam komponen laba. Karena kita membahas analisis CVP dalam
kerangka unit yang terjual, maka kita perlu menentukan komponen tetap dan
variabel dari biaya serta pendapatan yang berkaitan dengan unit-unit.. Penting
untuk disadari bahwa kita sekarang ini memfokuskan pada perusahaan secara
keseluruhan. Oleh karena itu, biaya-biaya yang sedang kita bicarakan adalah
merupakan seluruh biaya dari perusahaan manufaktur, pemasaran dan administratif.
Jadi, apabila kita menyebut biaya variabel, maka yang kita maksudkan adalah
semua biaya yang meningkat akibat lebih banyak unit yang terjual, termasuk bahan
baku langsung, tenaga kerja langsung, overhead variabel, dan biaya penjualan dan
administratif variabel. Demikian juga, biaya tetap mencakup overhead tetap dan
beban penjualan dan administratif tetap.

ANALISA BIAYA - VOLUME – LABA

Analisa biaya-volume-laba (cost volume profit analysis) menyajikan


informasi kepada manajemen tentang dampak perubahan biaya, pendapatan,
volume dan bauran produk terhadap laba. Analisis CVP berfokus pada hubungan
biaya-volume-laba dan dampak dari pola perilaku biaya terhadap pengambilan
keputusan. Pemahaman terhadap pola perilaku biaya perusahaan akan
mempermudah pengambilan keputusan manajemen dalam hal penetapan harga
produk, penerimaaan/penolakan pesanan, analisis penghematan biaya, dan promosi
atas lini produk yang lebih menguntungkan.

1. Titik Impas (BEP) dalam Unit

Salah satu bentuk analisis CVP yang populer adalah perhitungan titik impas
perusahaan. Titik impas (Break Even Point /BEP) adalah suatu titik yang
menunjukkan volume pendapatan yang tidak menimbulkan laba atau rugi. Pada saat
BEP, pendapatan total sama dengan biaya total sehingga besarnya laba sama
dengan nol. Analisis impas membuat perusahaan menelaah pola perilaku biaya
tetap danbiaya variabel.

[Type text] Page 5


2. Penggunaan Laba Operasi dalam Analisis Biaya-Volume-Laba

Untuk bisa menentukan jumlah produk yang harus dijual untuk mencapai titik
impas, maka kita bisa berfokus pada laba operasi, yaitu laba yang berasal dari
operasi normal perusahaan. Yang harus kita lakukan adalah: (1) menentukan
pengertian unit dan (2) memisahkan biaya antara komponen biaya tetap dan biaya
variabelnya.
Laba operasional = pendapatan penjualan - biaya variabel - biaya tetap
Laba operasional = (harga x unit terjual) - (biaya variabel x unit terjual) -
biaya tetap total
Dengan menetapkan nilai nol pada laba operasional, memasukkan biaya
variabel dan biaya total tetap, serta menyelesaikan persamaan di atas, maka kita
akan dapat menemukan jumlah unit yang harus terjual pada BEP.
Contoh:
Penjualan (1.000 x Rp 3.000)    Rp. 3.000.000
Biaya variabel (1.000 x Rp1800)   Rp. (1.800.000)
Marjin kontribusi                     Rp. 1.200.000
Biaya tetap                                      Rp. 720.000
Laba operasi                             
Rp480.000
Jika X adalah unit yang dijual pada titik impas, maka persamaan laba
operasinya
adalah: 0 = 3.000X - 1.800 X - 660.000
1.200X = 720.000
X = 600
Jadi titik impas tercapai pada penjualan sebanyak 600 unit produk. Hal ini juga
dapat dibuktikan dari perhitungan berikut ini:
Penjualan (600 x Rp 3.000)                 Rp1.800.000
Biaya variabel (600 x Rp1.800)            (1.080.000)
Marjin kontribusi                                     720.000
Biaya tetap                                              720.000
Laba operasi                                   Rp 0

3. Cara Pintas Menghitung BEP

Mengingat bahwa persamaan CVP diturunkan dari laporan rugi laba berbasis
variabel costing, maka kita dapat menghitung jumlah unit dalam BEP secara lebih
cepat dengan berfokus pada marjin kontribusi (contribution margin). Marjin
kontribusi diperoleh dari pendapatan penjualan dikurangi biaya variabel total.
Marjin kontribusi merupakan hasil penjualan yang tersedia untuk menutup biaya
tetap dan menghasilkan laba, yang dapat dinyatakan dalam total, dalam jumlah per

[Type text] Page 6


unit, atau sebagai persentase. Pada kondisi BEP, marjin kontribusi sama dengan
biaya tetap.
Jumlah unit (BEP) = biaya tetap/marjin kontribusi per unit
Dengan menggunakan contoh diatas, maka;
Jumlah unit pada titik impas = Rp720.000/(Rp3.000 - Rp1.800) = 600

4. Penjualan Dalam Unit Untuk Mencapai Target Laba

Analisis CVP juga dapat digunakan untuk menentukan berapa banyak unit
yang harus dijual untuk memperoleh target laba tertentu. Target laba dapat
ditentukan dalam nominal tertentu atau sebagai persentase dari penjualan.
Pendekatan laba maupun pendekatan marjin kontribusi bisa digunakan untuk
menghitung target laba tersebut. Dengan asumsi bahwa biaya tetap tidak berubah,
dampak perubahan jumlah unit terjual terhadap laba dapat dihitung dengan
mengalikan marjin kontribusi per unit dengan perubahan jumlah unit terjual.
Jika semisal target laba yang ditentukan Rp 750.000, maka dengan
menggunakan persamaan dasar titik impas kita hanya perlu menambahkan target
laba sebesar Rp 750.000 pada biaya tetap sehingga didapatkan:
Jumlah unit = (Rp720.000 + Rp750.000)/Rp1.200 = 1.230 unit

5. Titik Impas (BEP) dalam Nominal Penjualan

Untuk menghitung BEP dalam nominal, biaya variabel dianggap sebagai


persentase penjualan. Namun, penjualan pada BEP juga dapat dihitung secara
singkat dengan rumus:
Penjualan pada BEP = biaya tetap x (harga/marjin kontribusi)
Penjualan pada BEP = biaya tetap/rasio marjin kontribusi

Dengan asumsi bahwa biaya tetap tidak berubah, rasio marjin kontribusi
dapat digunakan untuk menentukan dampak perubahan pendapatan penjualan
terhadap laba yaitu dengan mengalikan rasio marjin kontribusi dengan perubahan
penjualan. Rasio marjin kontribusi merupakan bagian penjualan yang tersedia untuk
menutupi biaya tetap dan menghasilkan bagian laba. Contoh di atas menunjukkan
rasio marjin kontribusi 40%, artinya dalam setiap Rp1 penjualan tersedia Rp0,40
yang dapat digunakan untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan laba. Titik
impas akan dicapai pada penjualan Rp1.800.000,00.

Titik impas = Rp720.000/0,40 = Rp1.800.000


Dalam menggambarkan pengaruh biaya tetap terhadap laba, ada tiga
kemungkinan yang muncul:

a. Biaya tetap = marjin kontribusi, artinya laba nol (perusahaan pada titik
impas).

[Type text] Page 7


b. Biaya tetap > marjin kontribusi, artinya perusahaan memperoleh laba.
c. Biaya tetap < marjin kontribusi artinya perusahaan mengalami kerugian.

Penyajian Secara Grafis Hubungan CVP

Hubungan CVP dapat juga dianalisis dengan grafik dua sumbu. Sumbu
horisontal menunjukkan unit yang terjual dan sumbu vertikal menunjukkan
pendapatan penjualan. Garis total pendapatan dimulai pada titik nol dan meningkat
dengan kemiringan yang sama dengan harga jual per unit. Garis total biaya
memotong sumbu vertikal pada sebuah titik yang sama dengan total biaya tetap dan
meningkat dengan kemiringan yang sama dengan biaya variabel per unit. Jika total
pendapatan berada di bawah garis total biaya, maka akan muncul daerah rugi.
Sebaliknya, daerah laba akan muncul jika garis total pendapatan berada di atas
garis total biaya. Titik impas berada titik perpotongan antara garis penjualan total
dan garis biaya total. Titik impas pada gambar di bawah ini terletak pada penjualan
600 unit produk dan tingkat pendapatan penjualan Rp1.800.000,00.

Analisis CVP mudah digunakan dan murah biayanya, namun mengandung


kelemahan karena menggunakan beberapa asumsi berikut:
 Analisis mengasumsikan bahwa fungsi pendapatan dan fungsi biaya
berbentuk
linier.
 Analisis mengasumsikan bahwa harga, total biaya tetap, dan biaya
variabel per
unit dapat diidentifikasikan secara akurat dan tetap kostan sepanjang
rentang
yang relevan.
 Analisis mengasumsikan bahwa apa yang diproduksi dapat dijual.

[Type text] Page 8


 Untuk analisis multi produk, diasumsikan bahwa bauran penjualan
diketahui.
 Diasumsikan bahwa harga jual dan biaya diketahui dengan pasti.

a) Target Laba dan Pendapatan Penjualan

Pertimbangkan pertanyaan berikut: Berapakah pendapatan penjualan yang


harus dihasilkan Thomas untuk memperoleh laba sebelum pajak sebesar
$60.000? (pertanyaan ini mirip dengan yang ditanyakan sebelumnya dalam hal
unit, tetapi pertanyaannya sekarang adalah langsung dalam hal pendapatan
penjualan). Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tambahkanlah target laba
operasi sebesar $60.000 kepada biaya tetap $45.000 dan membagi dengan rasio
margin kontribusi:

Penjualan = $45.000 + $60.000)/0,1875


= $105.000/0,1875
= $560.000

Thomas harus menghasilkan pendapatan $560.000 untuk mencapai target


laba sebesar $60.000. Karena impas adalah $240.000) diatas impas harus
dihasilkan. Perhatikan bahwa perkalian antara rasio margin kontribusi dengan
pendapatan di atas impas menghasilkan laba sebesar $60.000 (0,1875 x $320.000).
Diatas impas, rasio margin kontribusi merupakan rasio laba; karena itu, rasio
tersebut menggambarkan bagian dari setiap dolar penjualan yang dapat
diperuntukkan bagi laba. Dalam contoh ini, setiap dolar penjualan yang diterima di
atas impas akan meningkatkan laba sebesar $0,1875.
Secara umum, dengan asumsi bahwa biaya tetap tidak berubah, rasio margin
kontribusi dapat digunakan untuk mengetahui dampak terhadap laba atas perubahan
pendapatan penjualan. Untuk memperoleh total perubahan dalam laba yang
diakibatkan oleh perubahan pendapatan, kalikan rasio margin kontribusi dengan
perubahan dalam penjualan. Sebagai contoh, jika pendapatan penjualan adalah
$540.000, bukan $560.000, bagaimana pengaruhnya terhadap laba yang
diharapkan? Penurunan pendapatan penjualan sebesar $20.000 akan mengakibatkan
penurunan laba sebesar $3750 (0,1875 x $20.000).

b) Membandingkan Kedua Pendekatan


Untuk pengaturan produk tunggal, pengubahan titik impas dalam unit
menjadi impas dalam pendapatan penjualan hanya merupakan masalah pengalian
harga jual per unit dengan unit yang terjual. Lalu, mengapa kita menggunakkan
rumus terpisah untuk pendekatan pendapatan penjualan? Ada dua alasan untuk ini.
Pertama, rumus pendapatan penjualan memungkinkan kita untuk secara langsung
mencari pendapatan jika hal tersebut yang dikehendaki. Kedua, pendekatan

[Type text] Page 9


pendapatan penjualan jauh lebih mudah untuk digunakan dalam pengaturan
multiproduk, seperti yang akan dibahas dalam bagian berikut.

Analisis Multi Produk

Analisis multi produk memerlukan adanya asumsi terkait dengan bauran


penjuala (sales mix), yaitu kombinasi berbagai produk yang dihasilkan/dijual
perusahaan.Dengan menentukan suatu bauran penjualan tertentu, analisis multi
produk dapat diubah ke dalam analisis produk tunggal. Namun untuk analisis CVP
kita harus menggunakan bauran penjualan dalam unit. Perusahaan dapat
menyelesaikan masalah multiproduk dengan mengkonversinya menjadi produk
tunggal, yaitu menetapkan produk-produk tersebut sebagai suatu paket, misal suatu
paket terdiri dari 3 produk A dan 2 produk B.

[Type text] Page 10


Berdasar titik impas sebesar 82 paket ini, maka titik impas akan terjadi pada
penjualan
produk A sebanyak 246 paket (3 x 82) dan produk B sebanyak 164 paket (2 x 82).

Analisis Sensitivitas

Semua pembahasan di atas menganggap bahwa semua variabel (harga, biaya


tetap, biaya variabel) bersifat konstan. Dalam perencanaan, perlu diperhitungkan
kemungkinan berubahnya salah satu variabel yang akan mempengaruhi besar
kecilnya target laba. Analisis sensitivitas merupakan sebuah teknik "bagaimana
jika" untuk mengetahui dampak dari perubahan asumsi-asumsi yang mendasari
variabel independen terhadap variabel dependennya. Analisis ini cukup mudah
dilakukan yaitu dengan memasukkan data mengenai harga, biaya varieabel, biaya
tetap, dan bauran penjualan serta dengan menggunakan rumus untuk menghitung
titik impas dan target laba yang diharapkan. Data kemudian dapat diubah-ubah
untuk mengetahui dampak perubahan terhadap laba yang ditargetkan. Penggunaan
spreadsheet computer akan mempermudah perhitungan yang harus dilakukan.

Beberapa perubahan variabel yang biasa dibahas antara lain:


Perubahan harga jual. Menaikkan harga memungkinkan turunnya permintaan
produk tetapi juga menurunkan titik impas produk. Menurunkan harga biasanya
diharapkan dapat menaikkan volume penjualan namun juga menaikkan titik impas
produk.
 Perubahan biaya variable. Penurunan biaya variable per unit akan
menurunkan
titik impas. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan efisiensi
penggunaan
bahan baku maupun tenaga kerja langsung.
 Perubahan biaya tetap. Manajemen dapat mempertimbangkan kenaikan
biaya
tetap dengan mengharapkan kenaikan volume penjualan, misalnya melalui
kenaikan biaya iklan, kenaikan biaya pelatihan pramuniaga dan salesman,
dll.
Kenaikan biaya tetap akan mengubah titik impas dan volume penjualan
untuk
mencapai target laba tertentu.
 Perubahan lebih dari satu variabel secara serentak. Dalam dunia nyata,
seringkali beberapa variabel berubah dalam waktu bersamaan, misalnya
menurunkan harga sekaligus meningkatkan biaya iklan atau menaikkan
harga jual
sekaligus meningkatkan biaya variabel untuk kualitas yang lebih baik.

[Type text] Page 11


Manajemen dapat memilih strategi yang dianggap paling tepat, sesuai dengan
kondisi persaingan, prediksi tentang pnerimaan/penolakan konsumen terhadap
penurunan/kenaikan harga jual, kenaikan/penurunan biaya tetap dan biaya variable
yang dimungkinkan serta kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Dua konsep yang
dapat digunakan oleh manajemen dalam mengukur risiko yang dihadapinya adalah
marjin pengaman (margin of safety) dan pengungkit operasi (operating leverage).

Marjin Pengaman (Margin of Safety)

Marjin pengaman adalah unit yang dijual atau diharapkan akan terjual di atas
titik impas/pendapatan yang dihasilkan atau diharapkan akan dihasilkan di atas
titik impas. Misalnya: volume impas adalah 300 unit dan penjualan saat ini 500
unit, maka marjin pengamannya 200 unit. Demikian pula jika titik impasnya
Rp450.000 dan pendapatan saat ini Rp750.000, maka marjin pengamannya
Rp300.000. Marjin pengaman juga dapat dinyatakan dalam persentase, misalnya
dari contoh diatas 40% (200/500).

Marjin pengaman adalah ukuran kasar risiko. Semakin besar marjin


pengaman
maka semakin kecil pula risiko kerugian jika terjadi penurunan penjualan dari yang
diharapkan.

 Pengungkit Operasi (Operating Leverage)


Operating leverage adalah ukuran besarnya penggunaan biaya tetap dalam
suatu perusahaan. Semakin tinggi biaya tetap, maka semakin tinggi operating
leverage dan semakin besar pula sensitivitas laba bersih terhadap perubahan
penjualan.Perusahaan yang memiliki operating leverage tinggi akan mengalami
peningkatan persentase yang besar dalam labanya jika terjadi sedikit saja
peningkatan dalam penjualan namun juga mengalami penurunan persentase laba
yang besar jika terjadi penurunan penjualan. Sebaliknya, perusahan yang memiliki
operating leverage rendah, akan mengalami peningkatan/penurunan persentase
yang rendah dalam labanya jika terjadi peningkatan/penurunan penjualan.

Besar kecilnya operating leverage (degree of operating leverage - DOL)


untuk
tingkat penjualan tertentu diukur dengan menggunakan rasio marjin kontribusi
terhadap laba.

DOL = marjin kontribusi / laba operasi

[Type text] Page 12


BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Analisis Biaya-Volume-Laba adalah suatu metode analisis untuk melihat
hubungan antara besarnya biaya yang dikeluarkan suatu perusahaan dan besarnya
volume penjualan serta laba yang diperoleh pada suatu periode tertentu. Hal ini
terbukti dari banyaknya manfaat yang didapatkan dari analisis biaya volume laba
diantaranya membantu membuat keputusan manajerial,membantu para pemakai
laporan keuangan untuk melihat pada saat kapan perusahaan mencapai titik impas
atau BEP dan dari analisis biaya volume dan laba dapat hitung atau ditetapkan laba
optimal yang dinginkan perusahaan.dan dengan adanya analisis biaya volume laba
dapat mengurangi resiko kerugian karena dapat dihitung titik impas dan ada margin
of safety untuk pengaman dan berjaga-jaga untuk menghindari kerugian.
Break Even Point ini digunakan untuk menganalisis proyeksi sejauh mana
banyaknya jumlah unit yang diproduksi atau sebanyak apa uang yang harus
diterima untuk mendapatkan titik impas atau kembali modal.Cost-Volume-
Profit (CVP) merupakan model yang sangat berguna untuk perencanaan dan
pengambilan keputusan manajemen dalam menentukan unit yang harus dijual untuk
mencapai laba yang diinginkan. Proses produksi yang menggunakan sistem
automasi, biaya tetap reltif lebih tinggi, sementara biaya variabel cenderung lebih
rendah, sehingga menghasilkan contribution margin per unit yang relatif tinggi.
Perusahaan yang menggunakan automasi mengharuskan unit penjualan yang lebih
tinggi, agar skala ekonomis dapat dicapai Dibandingkan dengan sistem automasi,
sistem manual memberikan kemungkinan risiko yang lebih kecil bila unit penjualan
yang dicapai sedikit. Penggunaan degree of operating leverage dapat membantu
Manajer dalam menentukan seberapa berisiko atas penerapan sistem automasi
dengan biaya tetap yang lebih tinggi. Manajer menggunakan analisis sensitivitas
untuk mengidentifikasi risiko dan mengembangkan skenario keputusan manajemen.
Teknik yang umumnya digunakan dalam analisis sensitivitas adalah what-if
.

[Type text] Page 13


DAFTAR PUSTAKA

Hansen, Don R & Maryanne M. Mowen.Akuntansi Manajerial, edisi 8.


Jakarta:Salemba.2009
Modul akutansi manajemen - LINK SOURCE PDF –
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Mimin%20Nur%20Aisyah,
%20M.Sc.,%20Ak./Modul%20Akuntansi%20Manajemen%202007.pdf – asli

[Type text] Page 14