Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Bimbingan dan konseling merupakan pelayanan bantuan untuk peserta
didik, baik secara individu maupun perkelompok, agar mampu mandiri dan
berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi ,bimbingan sosial, bimbingan
belajar, dan bimbingan karir melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan
pendukung, berdasarkan norma- norma yag berlaku.dalam pelakasanaan program
bimbingan dan konseling,prinsip-prinsip bimbingan harus diterjemahkan kedalam
program – program sebagai pedoman pelaksanaan disekolah .
Dalam membuat program tersebut, perlunya kerja sama konselor dengan
personel lain disekolah merupakan suatu syarat yang tidak boleh ditinggalkan.
Karena dalam kerjasama ini akan dapat menjamin tersusunnya program bimbingan
dan konseling yang komprehensif, memenuhi sasaran serta realistik. Dengan
adanya kemajuan zaman pada saat ini yang sangat pesat, menuntut manusia untuk
siap menghadapi perkembangan teknologi maupun pola pikir manusia lainnya.
Manusia sebagi individu yag berperan mengisi aktivitas jaman akan selalu
menghadapi masalah – masalah yang dihadapi dalam kehidupannya.
1.2 RUMUSAN MASALAH
a. Apakah yang dimaksud dengan strategi dalam bimbinga dan konseling?
b. Jelaskan beberapa jenis srategi dalam layanan bimbingan dan konseling ?
c. Bagaimana strategi bimbingan dan konseling komprehensif?
d. Bagaimana tujuan dari strategi bimbingan dan konseling?
1.3 TUJUAN PENULISAN
a. Untuk mengetahui pengertian dari strategi dalam bimbingan dan
konseling.
b. Untuk mengetahui jenis-jenis strategi dalam layanan bimbingan dan
konseling.
c. untuk mengetahui pelaksanaan strategi bimbingan dan konseling
komprehensif
d. Agar dapat mengetahui tujuan stregi bimbingan dan konseling.

BAB II

[Type text] Page 1


PEMBAHASAN
2.1 Strategi Dalam Bimbingan Dan Konseling
Strategi berasal dari bahasa yunani yaitu strategos yang merupakan gabungan
dari kata stratos (militer) dengan ago (memimpin). Sebagai kata kerja,strategos
berarti merencanakan (to plan). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah strategi
memiliki beberapa pengertian yaitu :
a. Ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa untuk
melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai
b. Ilmu dan seni memimpin bala tentara untuk menghadapi musuh dalam
perang, dalam kondisi yang menguntungkan;
c. Rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus
d. Tempat yang baik menurut siasat perang
Pada awalnya istilah strategi digunakan dalam lingkungan militer namun istilah
strategi juga digunakan dalam berbagai bidang yang memiliki esensi yang relatif
sama termasuk dalam konteks bimbingan dan konseling yang dikenal dengan istilah
strategi bimbingan dan konseling.
Mintberg dan Waters ( 1983 ) mengemukakan bahwa strategi adalah pola umum
tentang keputusan atau tindakan. Sedangkan Hardy, langley, dan Rose dalam Sudjana
( 1986 ) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan strategi adalah suatu rencana
atau kehendak yang mendahului dan mengendalikan kegiatan. Ahmad Jundika
Nurihsan(2012;9)
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bawah strategi adalah suatu pola yang
direncanakan dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan suatu kegiatan atau
tindakan dalam proses pencapaian.Ridwan,(2008;187). Menurut Juntika.A dan
sudianto, (2005;120) bahwa strategi mencakup :
a. Tujuan kegiatan
b. Subjek kegiatan
c. Isi kegiatan
d. Proses kegiatan
e. Sarana penunjang pelaksanaan kegiatan

Adapun strategi yang diterapkan dalam layanan bimbingan dan konseling


disebut dengan istilah strategi layanan bimbingan dan konseling, yang terdiri dari
layanan konseling individu,konsultasi,konseling kelompok, bimbingan kelompok dan
pengajaran remedial.

2.2 Jenis – jenis strategi bimbingan dan konseling


Menurut Blocher dan Biggs dalam bukunya Counseling psychology in
Community Settings strategi klinis secara umum untuk semua situasi termasuk dalam
seting masyarakat terbagi menjadi 2 yaitu :
1. Strategi pertama

[Type text] Page 2


Memberikan perbaikan dengan penagalaman baru, artinya klien atau
peserta didik harus dapat merubah kehidupan tanpa melihat asal-usul masalah
mereka. Disebut juga dengan strategi direktif,proses bimbingan dan konseling
berpusat pada konselor(counselor centered).
2. Straetegi kedua
Dilakukan dengan cara pendekatan umpan balik langsung kepada klien
sehingga dapat membantu klien dalam mnyadari apa yang telah ia kerjakan
atau yang belum dikerjakan, apa yang telahdipikirkan dan apa yang belum
dipikirkan, dan apa yan telah klien atau peserta didik rsakan dan yang belum
dirasakan dalam berbagai situasi ini biasa disebut dengan Strategi Non
Directive dalam proses bimbingan dan konseling, konselor bayak
mengarahkan dan kliaen lebih aktif menyelesaikan masalahnya tau berpusat
pada klien( Clien Centered)

Menurut Ahmad Jundika Nurihsan,(2010;10) ada beberapa jenis strategi layanan


dalam bimbingan konseling yaitu:
a.  Konseling Individu ( Individual Konseling )
Konseling individu merupakan suatu proses belajar melalui hubungan
khusus secara pribadi melalui wawancara antara konselor dengan
konseli  ( klien ) dalam proses menangani masalah yang tidak dapat
dipecahkan sendiri, kemudian ia meminta bantuan kepada konselor sebagai
petugas yang profesional dan memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam
bidang psikologi. Konseling ditujukan kepada individu yang normal, yang
sedang mengahadapi masalah-masalah baik itu dalam bidang pendidikan,
pekerjaan, maupun sosial. 
Dalam pelaksanaannya, konselor bersikap penuh simpati dan empati.
Simpati artinya menunjukan sikap turut merasakan apa yang sedang dirasakan
oleh klien. Adapun yang dimaksud dengan empati adalah berusaha
menempatkan diri dalam situasi diri klien dengan segala masalah yang
dihadapinya. Karena  dengan cara ini klien dapat menjadi lebih baik, karena ia
merasa ada pihak lain yang juga merasakan kesulitan yang ia rasakan. Anas
Salahudin, ( 2013;98 )
Dalam kegiatan konseling terdapat hubungan yang dinamis dan khusus,
karena dalam interaksi tersebut, konseli merasa diterima dan dimengerti oleh
konselor. Dalam hubungan ini, konselor dapat menerima konseli secara
pribadi dan tidak memberikan penilaian. Konseli pun merasakan ada peran
lain yang dapat mengerti masalah pribadinya dan mau membantu
memecahkan masalah tersebut. Pada prose sini baik konseli maupun konselor
sama-sama mengambil pelajaran dari pengalaman hubungan yang bersifat
khusus dan pribadi tersebut.

[Type text] Page 3


Konseling adalah proses belajar yang bertujuan agar konseli dapat
memecahkan masalah-masalah pribadi, mengenal diri sendiri, menerima diri
sendiri serta kenyataan dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungan
sekitarnya. Konseling pada dasarnya merupakan salah satu teknik dalam
kegiatan bimbingan, tetapi juga merupakan teknik inti atau teknik kunci. Hal
ini dikarenakan konseling dapat memberikan perubahan yang mendasar, yaitu
mengubah sikap. Dan sikap itu mendasari perbuatan, pemikiran, pandangan,
dan perasaan, dan lain-lain. Fenti Hikmawati, ( 2010;2 )
Dalam konseling diharapkan konseli dapat mengubah sikap, keputusan
diri sendiri sehingga ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara
lebih baik dan memberikan kesejahteraan pada diri sendiri dan masyarakat
sekitarnya. Konseling juga bertujuan untuk mengadakan interpretasi fakta-
fakta, mendalami arti nilai hidup pribadi, kini dan mendatang. Konseling
memberikan bantuan kepada individu untuk mengembangkan kesehatan
mental, perubahan sikap, dan tingkah laku. Konseling menjadi strategi utama
dalam proses bimbingan dan merupakan teknik standar serta merupakan tugas
pokok seorang konselor.
Secara umum proses konseling individual dibagi atas tiga tahapan, yaitu:
a) Tahap Awal Konseling
Tahap awal ini terjadi sejak klien bertemu dengan konselor hingga berjalan
proses konseling dan menemukan definisi maslah klien. Cavanagh ( 1982 ) menyebut
tahap awal ini dengan istilah introduction, invitation, and environmental
suppot. Adapun yang dilakukan oleh konselor dalam proses konseling tahap awal ini
adalah sebagai berikut:
1) Membangun hubungan konseling dengan melibatkan klien yang mengalami
masalah(a working relationship) , 
yaitu hubungan yang berfungsi, bermakna, dan berguna. Keberhasilah
konseling salah satunya ditentukan oleh tahap ini. Kunci keberhasilan dalam
tahap ini diantaranya dintentukan oleh keterbukaan konselor dan konseli.
Keterbukaan klien untuk mengungkapkan isi hati, perasaan, dan harapan
sehubungan dengan masalah ini akan sangat bergantung pada kepercayaan
klien terhadap konselor. Demikian pula dengan konselor, hendaknya
konselor mampu untuk menunjukan kemampuan dan profesionalitasnya
sehingga dapat dipercaya oleh klien.
2) Menjelaskan dan mendefinisikan masalah.

[Type text] Page 4


Untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh klien tentunya
klien harus mampu untuk menjelaskan masalahnya tersebut. Dan tugas
seorang konselor adalah membantu klien agar dapat menjelaskan masalah
yang dihapainya, karena tidak semua klien mampu untuk bersikap terbuka
menyangkut masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu, konselor harus
mampu meyakinkan klien seingga klien tidak ragu dalam menjelaskan
masalah-masalah yang dihadapinya.
3) Membuat penjajakan alternatif bantuan untuk mengatasi masalah
Konselor berusaha menjajaki kemungkinan rancangan bantuan yang
mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan segala potensi klien dan
lingkungannya yang tepat untuk mengatasi masalah kliennya.
4)  Menegosiasikan kontrak
Kontrak konselor dengan klien itu meliputi waktu, tempat, tugas, dan
tanggung jawab konselor, tugas dan tanggung jawab klien, tujuan konseling
dan kerja sama.
b) Tahap Pertengahan ( Tahap Kerja )
Tahap pertengahan merupakan tahap lanjutan dari tahap sebelumnya atau tahap
awal. Pada tahap ini, kegiatan konseling difokuskan pada penjelajahan masalah yang
dialami oleh klien, dan bantuan apa yang akan diberikan berdasarkan penilaian
selama masa penjelajahan masalah.  Menilai kembali maslah klien akan membantu
klien memperolah pemahaman baru, alternatif baru, yang mungkin berbeda dengan
sebelumnya. Ahmad Jundika Nurihsan,(2012;14)
Adapun tujuan dari tahap ini adalah sebagai berikut :
 Menjelajahi dan mengeksplorasi maslah serta kepedulian klien dan
lingkungannya dalam mengatasi maslah tersebut. Maksudnya , dengan
cara ini konselor berusaha agar kliennya mempunyai pemahaman dan
alternatif pemecahan baru terhadap masalah yang dialaminya.
 Menjaga agar huungan konsleing selalu terjaga. Maksudnya, dalam
proses menjalin hubungan antara konselor dengan konseli, konselor
harus berpikir dan bertindak kreatif dalam menggunakan berbagai
variasi keterampilan konseling serta memelihara keramahan, empati,
kejujuran, keikhlasan dalam memberikan bantuan konseling.
 Proses konseling agar berjalan sesuai dengan kontrak. Maksudnya,
dalam hal pembuatan kontrak, konselor dan klien membuat suatu
kesepakatan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan proses konseling.

[Type text] Page 5


Kontrak dinegosiasikan agar betul-betul memperlancar proses
konseling.
c) Tahap Akhir Konseling
Tahap ini meruapakan tahap dimana konselor melakukan penilaian terhadap
kinerjanya. Yang dapat diukur oleh beberapa hal berikut:
 Menurunya kecemasan klien.
 Adanya perubahan prilaku klien ke arah yang lebih positif.
 Adanya perubahan sikap pada klien dalam menanggapi suatu maslah
yang dihadapinya.
Adapun tujuan dari tahap ini adalah memutuskan perubahan sikap dan prilaku yang
tidak bermasalah.  Adapun tujuan lainnya adalah sebagai berikut:
 Terjadinya tranfer of learning pada klien.
 Melaksanakan perubahan prilaku klien agar mampu mengatasi masalah yang
di hadapinya.
 Mengakhiri hubungan konseling.

b. Bimbingan Kelompok ( Group Guidance )


Strategi lain yang digunakan dalam pelayanan bimbingan dan konsleing
adalah bimbingan kelompok. Teknik ini dipergunakan dalam proses membantu
klien dalam memecahkan masalah-masalah melalui kegiatan kelompok.
Isi kegiatan bimbingan kelompok terdiri atas penyampaian informasi yang
berkenaan dengan maslah pendidikan, pekerjaan, pribadi dan maslah sosial yang
tidak disajikan dalam bentuk pelajaran. Kegiatan ini banyak menggunakan alat-
alat pelajran seperti cerita-crita, boneka, dan film. Kadang-kadang dalam
pelaksanaannya, konselor mendatangkan ahli tertentu untuk memberikan
ceramah yang bersifat informastif.
Secara lebih khusus, layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk
mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang
menunjang perwujudan tingkah laku yang lebih efektif, yakni peningkatan
kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal klien.
Dalam pelaksanaannya, bimbingan kelompok memerlukan persiapan dan
praktik penyelenggaraan yang memadai, dari langkah awal sampai dengan
evaluasi dan tindak lanjutnya.  Berikut ini akan dijelaskan langkah-langkah
pelaksanaan bimbingan kelompok, yaitu :
a) Langkah Awal
Pada tahap ini dilaksanakan kegiatan pembentuka kelompok bagi klien
yang menyetujui atau bersedia berpartisipasi dalam bimbingan kelompok.

[Type text] Page 6


Langkah ini dimulai dengan penjelasan tentang adanya layanan bimbingan
kelompok kepada klien meliputi pengertian, tujuan dan kegunaan bimbingan
kelompok. Stelah itu, langkah selanjutnya adalah melaksanakan pembentukan
kelompok dan langsung merencanakan waktu dan tempat pelaksanaan
kegiatan bimbingan kelompok. 
b)  Perencanaan Kegiatan
Perencanaan kegiatan bimbingan kelompok meliputi penetapan :
 Materi layanan
 Tujuan yang ingin dicapai
 Sasaran kegiatan
 Bahan atau sumber bahan untuk bimbingan kelompok
 Rencana penilaian
 Waktu dan tempat
c) Pelaksanaan Kegiatan
Setelah perencanaan kegiatan selesai dibentuk dan disepakati bersama,
tahap selanjutnya adalah pelaksanaan kegiatan yang diantaranya adalah
sebagai berikut :
 Persiapan menyeluruh yang meliputi persiapan fisik ( tempat dan
kelengkapannya ), persiapan bahan, persiapan keterampilan, dan
persiapan administrasi.
 Pelaksanaan tahap-tahap kegiatan, meliputi tahap pembentukan,
peralihan, dan kegiatan.
d) Evaluasi Kegiatan
Pada tahap ini, dilaksanakan kegiatan evaluasi atau penilaian ulang
terhadap apa yang telah dilaksanakan selama proses bimbingan. Penilaian
kegiatan bimbingan kelompok difokuskan pada perkembangan pribadi klien
dan hal-hal yang dirasakan mereka berguna. Isi kesan-kesan yang
diungkapkan oleh klien merupakan isi penilaian yang sebenarnya. Penilaian
terhadap bimbingan kelompok berorientasi pada perkembangan dan kemajuan
klien kearah yang lebih baik. Wayne Perry, ( 2010;197 )
e) Analisis dan Tindak Lanjut
Hasil penilaian kegiatan bimbingan kelompok perlu di analisa untuk
mengetahui seluk beluk kemajuan klien dan seluk beluk pelaksanaan kegiatan
bimbingan. Untuk mengetahui apakan hasil pembahsan dan pemecahan
masalah sudah dilaksanakan secara optimal, atau mungkin masih ada aspek-
aspek penting yang belum dijangkau dalam pelaksanaan kegiatan.
c.  Konseling Kelompok
Strategi berikutnya dalam melaksanakan layanan bimbingan adalah
konseling kelompok. Konseling kelompok merupakan upaya pemberian bantuan

[Type text] Page 7


kepada klien dalam rangka memberikan kemudahan dalam perkembangan dan
pertumbuhannya. Konseling kelompok ini memiliki sifat pencegahan dan juga
penyembuhan. Ahmad Jundika Nurihsan,(2012;20)
Dalam pelaksanaannya, konseling kelompok memiliki prosedur yang sama
dengan bimbingan kelompok, yaitu :
 tahap pembentukan,
 tahap peralihan,
 tahap kegiatan, dan
 tahap pengakhiran.
Dalam kegiatan kelompok (baik bimbingan kelompok maupun konseling
kelompok) hal-hal yang perlu ditampilkan oleh seluruh anggota kelompok
adalah:
 Membina keakraban dalam kelompok
 Melibatkan diri secara penuh dalam suasana kelompok
 Bersama-sama mencapai tujuan kelompok
 Membina dan mematuhi aturan kegiatan kelompok
 Ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok
 Berkomunikasi secara bebas dan terbuka
d. Konsultasi
Konsultasi merupakan salah satu strategi dalam layanan bimbingan dan
konseling. Pengertian konsultasi dalam program bimbingan dan konseling
dipandang sebagai suatu proses penyediaan bantuan teknis guru, orang tua,
administrator, dan konselor dalam mengindentifikasi dan memperbaiki maslah
yang membatasi efektivitas klien.
Konsultasi merupakan salah satu strategi bimbingan yang penting sebab
banyak masalah karena suatu hal akan lebih berhasil jika ditangani secara tidak
langsung oleh konselor. Brown dan teman-temanya telah menegaskan bahwa
konsultasi itu bukan konseling atau psikoterapi sebab konsultasi tidak merupakan
layanan yang langsung diberikan kepada siswa, tetapi secara tidak langsung
melayani siswa melalui bantuan yang diberikan orang lain. Ahmad Jundika
Nurihsan,(2012;16)
Adapun tujuan konsultasi yaitu
 Mengembangkan dan menyempurnakan lingkungan belajar bagi siswa,
orang tua, dan administator sekolah
 Mengajak bersama pribadi yang memiliki peranan dan fungsi yang
bermacam-macam untuk menyempurnakan lingkungan belajar
 Memperluas layanan pendidikan bagi guru dan administrator
 Membantu orang lain bagaimana belajar tentang prilaku

[Type text] Page 8


 Menciptakan suatu lingkungan yang berisi semua komponen lingkungan
belajar yang baik.
e. Layanan Mediasi
Layanan mediasi adalah layanan konseling yang memungkinkan
permasalahan atau perselisihan yang dialami klien dengan pihak lain dapat
teratasi dengan konselor sebagai mediator. Yusuf, Syamsu, Achmad,(2006;34)
f. Pengajaran Remedial
Pengajaran remedial dapat didefinisikan sebagai upaya guru untuk
menciptakan suatu situasi yang memungkinkan individu atau kelompok siswa
tertentu lebih mampu mengembangkan dirinya seoptimal mungkin sehingga
dapat memenuhi kriteria keberhasilan minimal yang diharapkan. Pengajaran
remedial merupakan salah satu tahap kegiatan utama dalam seluruh kerangka
pola layanan bimbingan belajar. Ahmad Jundika Nurihsan,(2012;23)
 Secara sistematika prosedur remedial tersebut dapat digambarkaan sebagai
berikut:
 Diagnosik kesulitan belajar mengajar;
 Rekomendasi;
 Penelaahan kembali kasus;
 Pilihan alternatif tindak
 Layanan konseling;
 Pelaksanaan pengajaran remidial;
 Pengukuran kembali hasil belajar-mengajar;
 Reevaluasi;
 Tugas tambahan;
 Hasil yang di harapkan;
Strategi dan teknik pengajaran remedial dapat dilakukan secara preventif,
kuratif dan pengembangan. Tindakan pengajaran remedial dikatakan bersifat
kuratif jika dilakukan setelah program PBM utama selesai diselenggarakan.

2.3 Strategi bimbingan dan konseling komprehensif


Strategi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling terkait dengan empat
komponen program yaitu:
1. Strategi Layanan Dasar Bimbingan
a. Bimbingan Klasikal
Layanan dasar diperuntukkan bagi semua siswa,karena dalam peluncuran
program yang telah dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak
langsung dengan para siswa di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan
layanan bimbingan kepada para siswa. Kegiatan layanan dilaksanakan melalui
pemberian layanan orientasi dan informasi tentang berbagai hal yang

[Type text] Page 9


dipandang bermanfaat bagi siswa. Layanan orientasi pada umumnya
dilaksanakan pada awal pelajaran, yang diperuntukan bagi para siswa baru,
sehingga memiliki pengetahuan yang utuh tentang sekolah yang dimasukinya.
Kepada siswa diperkenalkan tentang berbagai hal yang terkait dengan sekolah,
seperti : kurikulum, personel (pimpinan, para guru, dan staf administrasi),
jadwal pelajaran, perpustakaan, laboratorium, tata-tertib sekolah, jurusan
(untuk SLTA), kegiatan ekstrakurikuler, dan fasilitas sekolah lainnya.

b. Bimbingan Kelompok
Konselor memberikan layanan bimbingan kepada siswa melalui
kelompok-kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk
merespon kebutuhan dan minat para siswa. Topik yang didiskusikan dalam
bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common
problem) dan tidak rahasia, seperti : cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat
menghadapi ujian, dan mengelola stress. Layanan bimbingan kelompok
ditujukan untuk mengembangkan keterampilan atau perilaku baru yang lebih
efektif dan produktif.

c. Berkolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas


Program bimbingan akan berjalan secara efektif apabila didukung oleh
semua pihak, yang dalam hal ini khususnya para guru mata pelajaran atau wali
kelas. Konselor berkolaborasi dengan guru dan wali kelas dalam rangka
memperoleh informasi tentang siswa (seperti prestasi belajar, kehadiran, dan
pribadinya), membantu memecahkan masalah siswa, dan mengidentifikasi
aspek-aspek bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran.
Aspek-aspek itu di antaranya :
a. menciptakan sekolah dengan iklim sosio-emosional kelas yang kondusif
bagi belajar siswa
b. memahami karakteristik siswa yang unik dan beragam
c. menandai siswa yang diduga bermasalah
d. membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar melalui
program remedial teaching
e. mereferal (mengalihtangankan) siswa yang memerlukan layanan
bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing
f. memberikan informasi tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang
kerja yang diminati siswa
g. memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan, sehingga
dapat memberikan informasi yang luas kepada siswa tentang dunia kerja
(tuntutan keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek
kerja)

[Type text] Page 10


h. menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, sosial,
maupun moral-spiritual (hal ini penting, karena guru merupakan “figur
central” bagi siswa)
i. memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran
yang diberikannya secara efektif.

d. Berkolaborasi (Kerjasama) dengan Orang Tua


Dalam upaya meningkatkan kualitas peluncuran program bimbingan,
konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua siswa. Kerjasama ini
penting agar proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung di
sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini
memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar
pikiran antar konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi siswa
atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi siswa. Untuk melakukan
kerjasama dengan orang tua ini, dapat dilakukan beberapa upaya, seperti :
1. kepala sekolah atau komite sekolah mengundang para orang tua untuk
datang ke sekolah (minimal satu semester satu kali), yang
pelaksanaannnya dapat bersamaan dengan pembagian rapor,
2. sekolah memberikan informasi kepada orang tua (melalui surat) tentang
kemajuan belajar atau masalah siswa,
3. orang tua diminta untuk melaporkan keadaan anaknya di rumah ke
sekolah, terutama menyangkut kegiatan belajar dan perilaku sehari-
harinya.
2.  Strategi Layanan Responsif
a. Konsultasi
Konselor memberikan layanan konsultasi kepada guru, orang tua,
atau pihak pimpinan sekolah dalam rangka membangun kesamaan persepsi
dalam memberikan bimbingan kepada para siswa.
b. Konseling Individual atau Kelompok
Pemberian layanan konseling ini ditujukan untuk membantu para
siswa yang mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai
tugas-tugas perkembangannya. Melalui konseling, siswa (klien) dibantu
untuk mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif
pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat.
Konseling ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok.
Konseling kelompok dilaksanakan untuk membantu siswa memecahkan
masalahnya melalui kelompok. Dalam konseling kelompok ini, masing-
masing siswa mengemukakan masalah yang dialaminya, kemudian satu
sama lain saling memberikan masukan atau pendapat untuk memecahkan
masalah tersebut.
c. Referal (Rujukan atau Alih Tangan)
Apabila konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk
menangani masalah klien, maka sebaiknya dia mereferal atau

[Type text] Page 11


mengalihtangankan klien kepada pihak lain yang lebih berwenang, seperti
psikolog, psikiater, dokter, dan kepolisian. Klien yang sebaiknya direferal
adalah mereka yang memiliki masalah, seperti depresi, tindak kejahatan
(kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis.

d. Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation)


Bimbingan teman sebaya ini adalah bimbingan yang dilakukan oleh
siswa terhadap siswa yang lainnya. Siswa yang menjadi pembimbing
sebelumnya diberikan latihan atau pembinaan oleh konselor. Siswa yang
menjadi pembimbing berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu
siswa lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik
maupun non-akademik. Di samping itu dia juga berfungsi sebagai mediator
yang membantu konselor dengan cara memberikan informasi tentang
kondisi, perkembangan, atau masalah siswa yang perlu mendapat layanan
bantuan bimbingan atau konseling.

3. Strategi Layanan Perencanaan Individual


a. Penilaian Individual atau Kelompok (Individual or small-group
Appraisal)
penilaian adalah konselor bersama siswa menganalisis dan menilai
kemampuan, minat, keterampilan, dan prestasi belajar siswa. Dapat juga
dikatakan bahwa konselor membantu siswa menganalisis kekuatan dan
kelemahan dirinya, yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas
perkembangannya, atau aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier.
Melalui kegiatan penilaian diri ini, siswa akan memiliki pemahaman,
penerimaan, dan pengarahan dirinya secara positif dan konstruktif.
b. Individual or Small-Group Advicement
Konselor memberikan nasihat kepada siswa untuk menggunakan atau
memanfaatkan hasil penilaian tentang dirinya, atau informasi tentang
pribadi, sosial, pendidikan dan karir yang diperolehnya untuk (1)
merumuskan tujuan, dan merencanakan kegiatan (alternatif kegiatan) yang
menunjang pengembangan dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk
memperbaiki kelemahan dirinya; (2) melakukan kegiatan yang sesuai
dengan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan, dan (3)mengevaluasi
kegiatan yang telah dilakukannya.

4. Strategi untuk Dukungan Sistem


a. Pengembangan Professional
Konselor secara terus menerus berusaha untuk “meng-update”
pengetahuan dan keterampilannya melalui (1) in-service training, (2) aktif
dalam organisasi profesi, (3) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti
seminar dan workshop (lokakarya), atau (4) melanjutkan studi ke program
yang lebih tinggi (Pascasarjana).

[Type text] Page 12


b.  Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi
Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru,
orang tua, staf sekolah lainnya, dan pihak institusi di luar sekolah
(pemerintah, dan swasta) untuk memperoleh informasi, dan umpan balik
tentang layanan bantuan yang telah diberikannya kepada para siswa,
menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa,
melakukan referal, serta meningkatkan kualitas program bimbingan dan
konseling. Dengan kata lain strategi ini berkaitan dengan upaya sekolah
untuk menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang
relevan dengan peningkatan mutu layanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini
seperti dengan pihak-pihak (1) instansi pemerintah, (2) instansi swasta, (3)
organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling
Indonesia), (4) para ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti
psikolog, psikiater, dokter, dan orang tua siswa, (5) MGBK (Musyawarah
Guru Bimbingan dan Konseling), dan (6) Depnaker (dalam rangka analisis
bursa kerja/lapangan pekerjaan).
c. Manajemen Program
Suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan
tercisekolaha, terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem
pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas,
sistematis, dan terarah. Mengenai arti manajemen itu sendiri Stoner (1981)
mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: “Management is the process
of planning, organizing, leading and controlling the efforts of organizing
members and of using all other organizational resources to achieve stated
organizational goals”.
aspek-aspek sistem manajemen program layanan bimbingan dan
konseling.
1. Kesepakatan Manajemen
Kesepakatan manajemen atas program bimbingan dan konseling
sekolah diperlukan untuk mejamin implementasi program dan strategi
peluncuran dalam memenuhi kebutuhana siwa dapat dilakukan secara
efektif. Kesepakatan ini menyangkut pula proses meyakinkan dan
mengembangkan komitmen semua pihak di lingkungan sekolah bahwa
program bimbingan dan konseling sebagai bagian terpadu dari
keseluruhan program sekolah.
2. Keterlibatan Stakeholder
Komite Sekolah sebagai representasi masyarakat atau stakeholder
memerlukan penyadaran dan pemahaman akan keberadaan dan
pentingnya layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
3. Manajemen dan Penggunaan Data
Program bimbingan dan konseling komprehensif didukung oleh
data. Penggunaan data di dalam layanan bimbingan dan konseling akan
menjamin setiap siswa memperoleh manfaat dari layanan bimbingan

[Type text] Page 13


dan konseling. Konselor harus menunjukkan bahwa setiap aktivitas
diimplementasikan sebagai bagian dari keutuhan program bimbingan
dan konseling yang didasarkan atas analisis cermat terhadap kebutuhan,
prestasi, dan data terkait siswa lainnya.Manajemen data dilakukan
secara manual maupun komputer. Dalam era teknologi informasi,
manjemen data siswa dilakukan secara komputer. Database siswa perlu
dibangun dan dikembangkan agar perkembangan setiap siswa dapat
dengan mudah dimonitor. Penggunaan data siswa dan lingkungan
sekolah yang tertata dan dikelola dengan baik untuk kepentingan
memonitor kemajuan siswa, akan menjamin seluruh siswa menerima
apa yang mereka perlukan untuk keberhasilan sekolah. Konselor harus
cermat dalam mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan data.
Kemajuan perkembangan siswa dapat dimonitor dari : prestasi belajar,
data yang terkait dengan prestasi belajar, dan data tingkat penguasaan
tugas-tugas perkembangan atau kompetensi.
4. Rencana Kegiatan
Rencana kegiatan (action plans) diperlukan untuk menjamin
peluncuran program bimbingan dan konseling dapat dilaksanakan secara
efektif dan efesien. Rencana kegiatan adalah uraian detil dari program
yang menggambarkan struktur isi program, baik kegiatan di sekolah
maupun luar sekolah, untuk memfasilitasi siswa mencpai tugas
perkembangan atau kompetensi.
5. Pengaturan Waktu
Berapa banyak waktu yang diperlukan untuk melaksanakan layanan
bimbingan dan konseling dalam setiap komponen program perlu
dirancang dengan cermat. Perencanaan waktu ini didasarkan kepada isi
program dan dukungan manajemen yang harus dilakukan oleh konselor.
Sebagai contoh, misalnya 80% waktu digunakan untuk melayanai siswa
secara langsung dan 20% digunakan untuk dukungan manajerial. Porsi
waktu untuk peluncuran masing-masing komponen program dapat
ditetapkan sesuai dengan pertimbangan sekolah. Misalnya:
Layanan dasar (30-40%),
Responsif (15-25%),
Perencanaan individual (25-35%),
Dukungan sistem (10-15%).
6. Kalender Kegiatan
Program bimbingan dan konseling sekolah yang telah dituangkan ke
dalam rencana kegiatan perlu dijadwalkan ke dalam bentuk kalender
kegiatan. Kalender kegiatan mencakup kalender tahunan, semesteran,
bulanan, dan mingguan.
7. Jadwal Kegiatan
Program bimbingan dapat dilaksanakan dalam bentuk (a) kontak
langsung, dan (b) tanpa kontak langsung dengan siswa. Untuk kegiatan

[Type text] Page 14


kontak langsung yang dilakukan secara klasikal di kelas (layanan dasar)
perlu dialokasikan waktu terjadwal 1 – 2 jam pelajaran per-kelas per-
minggu. Mengenai jadwal kegiatan bimbingan, dewasa ini sudah mendapat
legalitas pemerintah, yaitu dengan terbitnya Peraturan Menteri Diknas No.
22 Tahun 2006. Dalam struktur kurikulum yang termaktub dalam Permen
tersebut, tercantum materi pengembangan diri selama 2 jam/minggu, yang
berlaku bagi semua satuan pendidikan dasar dan menengah. Dalam
implementasinya, materi pengembangan diri dilakukan oleh konselor.
Sementara kegiatan langsung yang dilakukan secara individual dan
kelompok dapat dilakukan di ruang bimbingan, dengan menggunakan
jadwal di luar jam pelajaran. Adapun kegiatan bimbingan tanpa kontak
langsung dengan siswa dapat dilaksanakan melalui tulisan (seperti buku-
buku, brosur, atau majalah dinding), kunjungan rumah (home visit),
konferensi kasus (case conference), dan alih tangan (referal).
8. Anggaran
Perencanaan anggaran merupakan komponen penting dari manajemen
bimbingan dan konseling. Perlu dirancang dengan cermat berapa anggaran
yang diperlukan untuk mendukung implementasi program. Anggaran ini
harus masuk ke dalam Anggaran dan Belanja Sekolah.
9. Penyiapan FasilitaS
Fasilitas yang diharapkan tersedia di sekolah ialah ruangan tempat
bimbingan yang khusus dan teratur, serta perlengkapan lain yang
memungkinkan tercapainya proses layanan bimbingan dan konseling yang
bermutu. Ruangan hendaknya sedemikian rupa sehingga di satu segi para
siswa yang berkunjung ke ruangan tersebut merasa senang, aman dan
nyaman, serta segi lain di ruangan tersebut dapat dilaksanakan layanan dan
kegiatan bimbingan lainnya sesuai dengan asas-asas dan kode etik
bimbingan dan konseling. Terkait dengan fasilitas bimbingan dan
konseling, disini dapat dikemukakan tentang unsur-unsurnya, yaitu : (1)
tempat kegiatan, yang meliputi ruang kerja konselor, ruang layanan
konseling dan bimbingan kelompok, ruang tunggu tamu, ruang tenaga
administrasi, dan ruang perpustakaan; (2) instrumen dan kelengkapan
administrasi, seperti : angket siswa dan orang tua, pedoman wawancara,
pedoman observasi, format konseling, format satuan layanan, dan format
surat referal; (3) Buku-buku panduan, buku informasi tentang studi
lanjutan atau kursus-kursus, modul bimbingan, atau buku materi layanan
bimbingan, buku program tahunan, buku program semesteran, buku kasus,
buku harian, buku hasil wawancara, laporan kegiatan layanan, data
kehadiran siswa, leger BK, dan buku realisasi kegiatan BK; (4) perangkat
elektronik (seperti komputer, dan tape recorder); dan (5) filing kabinet
(tempat penyimpanan dokumentasi dan data siswa).

10. Pengendalian

[Type text] Page 15


Pengendalian adalah salah satu aspek penting dalam manajemen
program layanan bimbingan dan konseling. Dalam pengendalian program,
koordinator sebagai pemimpin lembaga atau unit bimbingan dan konseling
hendaknya memiliki sifat sifat kepemimpinan yang baik yang dapat
memungkinkan tercisekolahanya suatu komunikasi yang baik dengan
seluruh staf yang ada. Personel-personel yang terlibat di dalam program,
hendaknya benar-benar memiliki tanggung jawab, baik tanggung jawab
terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya maupun tanggung jawab
terhadap yang lain, serta memiliki moral yang stabil.
Pengendalian program bimbingan ialah : (a) untuk mencipakan suatu
koordinasi dan komunikasi dengan seluruh staf bimbingan yang ada, (b)
untuk mendorong staf bimbingan dalam melaksanakan tugas-tugasnya, dan
(c) memungkinkan kelancaran dan efektivitas pelaksanaan program yang
telah direncanakan.
2.4 Tujuan Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling
Adapun tujuan dari pelaksanaan strategi layanan bimbingan dan konseling
secara umum adalah sebagai berikut :
1. Agar klien mampu untuk mencapai perkembangan diri sebagai manusia
yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Agar klien mampu mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif
serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri
sendiri.
3. Agar klien mampu untuk membangun pola hubungan yang baik dengan
teman dalam peranannya sebagai pria atau wanita.
4. Agar klien mampu untuk memahami kemampuan, bakat, minat serta arah
kecendrungan karir dan apresiasi seni.
5. Agar klien mampu memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang
dapat diterima dalam kehidupan sosial. Ahmad Jundika Nurihsan,
(2012;2)

[Type text] Page 16


BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Strategi berasal dari bahasa yunani yaitu strategos yang merupakan gabungan
dari kata stratos (militer) dengan ago (memimpin). Sebagai kata kerja,strategos
berarti merencanakan (to plan). strategi adalah suatu pola yang direncanakan dan
ditetapkan secara sengaja untuk melakukan suatu kegiatan atau tindakan dalam
proses pencapaian
Adapun tujuan dari sttrategi layanan bimbingan dan konseling secara umum
yaitu ( 1 ) Agar klien mampu untuk mencapai perkembangan diri sebagai manusia
yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; ( 2 ) Agar klien mampu
mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap
perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri; ( 3 ) Agar klien mampu
untuk membangun pola hubungan yang baik dengan teman dalam peranannya
sebagai pria atau wanita; ( 4 ) Agar klien mampu untuk memahami kemampuan,
bakat, minat serta arah kecendrungan karir dan apresiasi seni;     ( 5 ) Agar klien
mampu memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam
kehidupan sosial.

[Type text] Page 17


DAFTAR PUSTAKA
Jundika Nurihsan, Achmad. ( 2012 ). Strategi Layanan Bimbingan dan
Konseling.  Bandung : PT Reflika Aditama.
Salahudin, Anas. ( 2010 ). Bimbingan dan Konseling. Bandung : PUSTAKA
SETIA.
Yusuf, Syamsu, Achmad Jundika. ( 2006 ). Landasan Bimbingan dan
Konseling.  Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA.
Hikmawati, Fenti. ( 2010 ). Bimbingan dan Konseling. Jakarta : PT
RAJAGRAFINDO PERSADA.
Perry, Wayne. ( 2010 ). Dadar-dasar Teknik Konseling. Yogyakarta : PUSTAKA
PELAJAR.

[Type text] Page 18