Anda di halaman 1dari 5

ALSA INDONESIA LEGAL OPINION

ALSA LC UNAIR

“Perlindungan Konsumen dalam Transaksi Online di Indonesia”

PERMADI NUGRAHA PURNOMO – 031311133223

MUTIARA KASIH – 031411131084

BIMA DANUBRATA ADHIJOSO - 031511133163


Perlindungan Konsumen Dalam Transaksi Online Berbasis Marketplace

Menginjak quartal akhir tahun 2016, pendapatan transaksi jual-beli online atau yang

marak disebut sebagai e-commerce di Indonesia telah mencapai angka 5,29 Miliar Dollar

Amerika1. Pendapatan ini diperkirakan akan terus meningkat dan tumbuh hingga memasuki

tahun 2020 dengan target angka sebesar 130 Miliar Dollar Amerika 2 . Perkiraan ini

menempatkan Indonesia sebagai negara di posisi ketiga setelah China dan India sebagai

pangsa pasar e-commerce terbesar.

Meskipun fakta di atas menjanjikan kemajuan Indonesia sebagai pangsa pasar e-

commerce, pengguna platform e-commerce masih belum mendapatkan kepastian hukum dari

hukum positif yang berlaku di Indonesia. Minimnya aturan mengenai elemen penting dalam

transaksi online, di antaranya adalah mengenai skema perpajakan dan sistem sertifikasi telah

menjadi suatu permasalahan yang mengakar bagi pengguna layanan e-commerce. Tidak

hanya terbatas pada dua hal tersebut, regulasi di Indonesia masih belum memberikan payung

hukum bagi perlindungan konsumen terkait informasi pribadi dan keterjaminan barang yang

dibeli.

Pada Legal Opinion ini, penulis akan memfokuskan bahasan pada market place

sebagai salah satu bentuk e-commerce yang menawarkan tempat dan barang serta

memberikan layanan metode pembayaran dan transaksi online 3 . Perlu dibedakan pula

marketplace di atas dengan online shop yang menjual barang secara langsung di media sosial.


1
https://techcrunch.com/2016/07/29/indonesia-will-be-asias-next-biggest-e-commerce-market/
diakses pada 12.28 WIB, 6 September 2016.

2
Ibid.

3
Josua Sitompul, Cyberspace, Crybercrimes, Cyberlaw: Tinjauan Aspek Hukum Pidana, Penerbit
Pustaka: Jogjakarta, 2012, hal. 247
Marketplace telah menyumbangkan pundi-pundi pada target pertumbuhan e-commerce di

Indonesia. Tercatat ratusan situs online sebagai marketplace seperti Berniaga, Tokobagus,

Tokopedia, Rakuten, dan Blibli yang berperan sebagai aktor utama dalam transaksi e-

commerce di Indonesia. Selain itu dikenal pula vertical commerce seperti BerryBenka, Bilna,

dan Lazada.

Dengan munculnya signifikansi marke place di transaksi jual-beli online

memunculkan urgensi adanya payung hukum untuk melindungi konsumen. Saat ini,

perlindungan konsumen telah diatur dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang

Perlindungan Konsumen. Pasal 4 Undang-undang tersebut meregulasi mengenai 9 hak-hak

konsumen yang meliputi (i) hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan; (ii) hak untuk

memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa; (iii) hak atas informasi

yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang; (iv) hak untuk didengar

pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan; (v) hak untuk

mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan

konsumen secara patut; (vi) hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen; (vii)

hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; (viii)

hak untuk mendapatkan kompensasi,ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau

jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian dan (ix) hak lain yang diatur dalam

ketentuan perundang-undangan lainnya. Tetapi, regulasi tersebut masih belum dapat

diterapkan secara maksimal pada transaksi market place.

Penulis telah melakukan penelitian komparatif terhadap beberapa situs layanan

market place di Indonesia yang terbukti masih belum menyediakan perlindungan maksimal

terhadap konsumennya. Konsumen masih terbayangi oleh ketidaksediaannya informasi

penjual secara terbuka dan minimnya upaya advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian

sengketa perlindungan konsumen secara patut. Sebagai contohnya, ketika konsumen


mendapatkan barang yang dibelinya dalam kondisi yang tidak sesuai dengan apa yang

diiklankan oleh penjual di situs e-commerce, konsumen masih belum memiliki kepastian

hukum untuk mendapatkan konpensasi ganti rugi secara pasti. Hal ini diperparah dengan

minimnya informasi ril tentang penjual yang bergabung dalam market place tersebut.

Minimnya informasi tersebut membatasi hak pembeli untuk menuntut haknya dikarenakan

ketidakmampuan pembeli untuk memenuhi syarat formiil gugatan. Sebagai konsekuensinya,

pembeli tidak memperoleh haknya atas melakukan penyelesaian sengketa dan hak atas

kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam bertransaksi e-commerce.

Sadar akan masih belum cukupnya peraturan yang ada maka pemerintah sudah

sepatutnya menambah peraturan perundang-undangan untuk memberikan rasa aman kepada

konsumen yang bertansaksi online di Marketplace. Dalam hal ini kami memberikan gagasan

kepada pemerintah agar dapat membuat Peraturan Menteri Perdagangan untuk memberikan

standarisasi verifikasi data bagi penjual yang ingin menggunakan jasa Marketplace sehingga

memudahkan aparat yang berwenang untuk menindak lanjuti permasalahan-permasalahan

sebagaimana yang di jelaskan sebelumnya. Adapun standarisasi yang di maksud adalah

dengan menambahkan nomor identitas maupun nomor pendaftaran bagi orang perseorangan

maupun badan hukum yang ingin menggunakan jasa perusahaan marketplace untuk

melakukan penjualan. Harus diatur pula mengenai sanksi bagi perusahaan Marketplace yang

melanggar peraturan menteri tersebut.

Dengan mencantumkan nomor identitas dan pendaftaran ini diharapkan dapat

memudahkan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang untuk melakukan tindak lanjut

atas suatu laporan transaksi elektronik. Di sisi lainnya hal tersebut tentunya dapat

menguntungkan bagi pihak Marketplace untuk melangsungkan usahanya, dimana para

pengguna yang ingin membeli barang di tempatnya akan lebih merasa aman dan terjamin atas

standarisasi yang di buat oleh pemerintah tersebut. Dengan meningkatnya kepercayaan


konsumen dalam transaksi elektronik, hal ini dapat membawa dampak yang positif bagi

perekonomian di Indoenesia.

Jadi butuh dibuat suatu peraturan perundang-undangan baru untuk mengakomodasi

kepentingan konsumen yang melakukan transaksi di Marketplace. Peraturan perundang-

undangan tersebut diharapkan mengatur mengenai kewajiban bagi Marketplace untuk

standarisasi verifikasi data bagi penjual yang ingin menggunakan jasa Marketplace sehingga

memudahkan aparat yang berwenang untuk menindak lanjuti permasalahan-permasalahan

yang merugikan konsumen.