Anda di halaman 1dari 16

INVOLUSI UTERI dan CARA MEMELIHARA HEWAN PELIHARAAN (KUCING)

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi Dalam Kebidanan


Dosen Pengampu: Lola Noviani F,SST.,S.Keb.,M.Keb

DISUSUN OLEH :

ROUDHOH RUSFANI PUTRI HIDAYAT

(P17324119045)

JURUSAN KEBIDANAN BANDUNG

POLTEKKES KEMENKES BANDUNG

2020
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat, dan kuasa-Nya
penulis bisa menyelesaikan makalah mengenai involusi uteri dan memelihara kucing dengan
lancar tanpa kendala yang berarti.Tidak lupa shalawat serta salam semoga tercurah limpah
kepada Nabi Muhammad SAW berserta keluarga, para sahabat, dan kita selaku umatnya.
Penulisan makalah mata kuliah Komunikasi dalam Praktik Kebidanan ini tidak terlepas
dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua orang yang terlibat dalam penulisan
makalah ini.
Penulis berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca.
Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi
terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

Bandung, Februari 2020

Penulis

i
IDAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................i

DAFTAR ISI.............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................... 1

A. LATAR BELAKANG....................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN............................................................................................ 2

A. INVOLUSI UTERI........................................................................................ 2
a) DEFINISI INVOLUSI UTERI...........................................................2
b) PENYEBAB INVOLUSI UTERI......................................................2
c) PENANGANAN INVOLUSI UTERI................................................3
B. MEMELIHARA HEWAN PELIHARAAN.....................................................4
a) DEFINISI HEWAN PELIHARAAN..................................................4
b) PENYEBAB TOKSOPLASMOSIS.................................................5
c) PENANGANAN TOKSOPLASMOSIS...........................................6
C. SKENARIO KASUS....................................................................................6
a) INVOLUSI UTERI...............................................................................6
1. RINGKASAN KASUS............................................................7
2. SKENARIO............................................................................7
b) MEMELIHARA HEWAN PELIHARAAN.............................................7
1. RINGKASAN KASUS............................................................9
2. SKENARIO............................................................................9

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 12

ii
BAB 1

PENDAHULUAN

Involusi uteri adalah kembalinya ukuran dan fungsi uterus dalam kondisi normal seperti
sebelum mengalami kebuntingan (Bearden dan Fuquay, 1992; Hafez, 2000). Peningkatan
prostaglandin F2α pada 7- 23 hari pasca partus akan memberikan rangsangan pada
myometrium untuk melakukan kontraksi. Proses pelepasan jaringan yang berlangsung sekitar
15 hari pasca partus akan diikuti oleh penyusutan beberapa pembuluh darah, regresi kelenjar
uterus, penyusutan jumlah dan volume sel uterus. Ruang di antara karunkula akan diisi oleh sel-
sel epitel yang baru pada 8 hari pasca partus dan proses regenerasi secara keseluruhan akan
berlangsung selama 4-5 minggu pasca partus.

Kondisi tersebut dimulai sejak berakhirnya minggu pertama pasca partus hingga involusi
uteri terjadi secara utuh yang ditandai oleh (1) menyusutnya ukuran corpus dan cornua uteri, (2)
uterus kembali berada di rongga pelvik, (3) konsistensi dan tekanan uterus normal, (4)
degenerasi karunkula yang diikuti oleh regenerasi jaringan epitel uterus serta (5) terbebasnya
cervix dari bakteri pathogen. Involusi uteri umumnya terjadi melalui tiga proses yaitu (1)
kontraksi, (2) pelepasan jaringan dan (3) regenerasi jaringan. Untuk mengatasi involusi uteri
sang ibu bisa melakukan senam nifas, memperhatikan status gizi, dll.

Memelihara hewan merupakan salah satu hobi yang banyak diminati oleh masyarakat.
Hewan peliharaan dapat dijadikan sebagai teman, sosialisasi, keindahan atau refreshing, status
dan sesuatu untuk dilakukan (Made & Wenagama, 2013). Berbagai jenis hewan dipelihara mulai
dari mamalia, unggas hingga reptil. Salah satu hewan jenis mamalia yang banyak dipelihara
oleh manusia ialah kucing. Dalam memelhihara hewan peliharaan pun perlu diperhatikan status
kesehatan yang dimiliki oleh hewan tersebut. Jika dalam memelihara hewan tidak diperhatikan
kebersihan dan kesehatannya kita bisa dengan mudah terkena penyakit yang ditularkan dalam
hewan tersebut, salah satunya adalah penyakit toksoplasmosis, dan penyakit tersebut dapat
berbahaya apalagi terkena oleh ibu hamil.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Involusi Uteri

1. Definisi

Setelah persalinan, kondisi tubuh ibu secara anatomi akan mengalami perubahan, salah
satunya adalah kembalinya rahim pada ukuran semula. Proses ini disebut dengan involusi
uterus. Ketika involusi berlangsung, pada tempat implantasi plasenta ditemukan banyak
pembuluh darah yang terbuka sehingga resiko perdarahan post partum sangat besar.Hal ini
terjadi jika otot-otot pada uterus tidak berkontraksi dengan baik untuk menjepit pembuluh darah
yang terbuka.

Masa nifas membutuhkan tambahan kalori sebesar 500kkal/hari untuk menunjang


proses laktasi dan involusi uterus. Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin tinggi paritas
maka makin cepat pengeluaran lochea tetapi karena fungsi otot rahim ibu multipara sudah
menurun, maka proses involusi akan berjalan lambat. (Cuningham, 2007)

2. Penyebab Involusi Uteri

Mekanisme terjadinya kontraksi pada uterus melalui 2 cara, yaitu

a. Kontraksi Oleh Ion Kalsium


Terjadinya kontraksi diwali dengan ion kalsium kemudian bergabung sekaligus
mengaktifkan myson kinase, yaitu enzim yang melakukan fosforilase sebagai
respon terhadap myson kinase.

b. Kontraksi Yang di Sebabkan Oleh Hormon

Ada beberapa hormon yang mempengaruhi yaitu eoinefrin, norepifrin,


angiotensin, endhothelin, vasoperin, oksitosin serotinin, dan histamine. Beberapa
reseptor hormon pada membran otot polos akan membuka kanal ion kalsium dan
natrium serta menimbulkan depolarisasi membran. Kadang timbul potensial aksi
yang telah terjadi. Pada keadaan lain, terjadi depolarisasi tanpa disertai dengan

2
potensial aksi dan depolarisasi ini membuat ion kalsium masuk ke dalam sel
sehingga terjadi kontraksi pada otot uterus.

Adapun kembalinya eadaan uterus tersebut secara gradual artinya, tidak sekaligus
tetapi singkat. Sehari atau 24 jam setelah persalinan, fundus uteri agak tinggi sedikit
disebabkan oleh adanya pelemasan uterus segmen atas dan uterus bagian bawah
terlalu lemah dalam meningkatkan tonusnya kembali. Tetapi setelah tonus otot-otot
kembali fundus uterus akan tutun sedikit demi sedikit. Williams menjelaskan involusi
sebagai berikut

3. Penanganan Involusi Uteri


a. Mobilisasi Dini
Aktivitas otot-otot ialah kontraksi dan retraksi dari otot-otot setelah anak lahir,
yang diperlukan untuk menjepit pembuluh darah yang pecah karena danya pelepasan
plasenta dan berguna untuk mengeluarkan isi uterus yang tidak diperlukan, dengan
adanya kontraksi dan retraksi yang terus menerus ini menyebabkan terganggunya
peredaran darah dalam uterus yang mengakibatkan jaringan otot kekurangan zat-zat
yang diperlukan, sehingga jaringan otot-otot tersebut menjadi kecil.

b. Status gizi
Status gizi adalah tingkat kecukupan gizi seseorang yang sesuai dengan jenis
kelamin dan usia. Status gizi yang kurang pada ibu postartum maka pertahanan pada
dasar ligamentum latum yang terdiri dari kelompok infiltrasi sel-sel bulat yang disamping
mengadakan pertahanan terhadap penyembuhan kuman bermanfaat pula untuk
menghilangkan jaringan nefrotik, pada ibu postpartum dengan status gizi yang baik
akan mampu menghindari serangan kuman sehingga tidak terjadi infeksi dalam masa
nifas dan mempercepat proses involusi uteri.

c. Menyusui
Pada proses menyusui ada refleks let down dari isapan bayi merangsang
hipofise posterior mengeluarkan hormon oxytosin yang oleh darah hormon ini diangkat
menuju uterus dan membantu uterus berkontraksi sehingga proses involusi uterus
terjadi.

3
d. Usia
Pada ibu yang usianya lebih tua banyak dipengaruhi oleh proses penuaan, di
mana proses penuaan terjadi peningkatan jumlah lemak. Penurunan elastisitas otot dan
penurunan penyerapan lemak,protein,serta karbohidrat. Bila proses ini dihubungkan
dengan penurunan protein protein pada proses penuaan, maka hal ini akan
menghambat involusi uterus.

e. Senam Nifas
Senam nifas juga salah satu solusi yang mempengaruhi proses involusi uteri
dan sangat penting karena pengaruh gerakan otot – otot pada ibu nifas dapat
membantu penyembuhan rahim, perut, dan otot pinggul yang mengalami trauma serta
mempercepat kembalinya bagian – bagian tersebut kebentuk normal terutama
kembalinya uterus kebentuk semula.

4. Memelihara Hewan Peliharaan Kucing

1. Definisi
Memelihara hewan merupakan salah satu hobi yang banyak diminati
oleh masyarakat. Hewan peliharaan dapat dijadikan sebagai teman, sosialisasi,
keindahan atau refreshing, status dan sesuatu untuk dilakukan (Made &
Wenagama, 2013). Berbagai jenis hewan dipelihara mulai dari mamalia, unggas
hingga reptil. Salah satu hewan jenis mamalia yang banyak dipelihara oleh
manusia ialah kucing.
Kucing merupakan salah satu hewan yang banyak dipelihara oleh
manusia. Statistik membuktikan ada lebih dari 4000 penggemar kucing di
Indonesia yang tergabung dalam forum-forum pecinta kucing di internet
(Khadafi, 2013). Dalam memelihara kucing, tentu perlu diperhatikan
kesehatannya, yaitu dengan memberinya makanan dan minuman yang cukup.
Bila tidak memberikan asupan makanan, kucing mudah terserang penyakit.
Seiring dengan meningkatnya minat dalam memelihara kucing maka tidak
sedikit pula para pemelihara kucing yang mendapati kucing peliharaannya sakit
bahkan mati tanpa diketahui penyakit apa yang menyerangnya, walaupun
kucing tersebut dipelihara di dalam rumah, tidak menjamin kucing tersebut tidak

4
terserang penyakit. Penyebab dari penyakit yang menyerang kucing tersebut
bermacam-macam, bisa disebabkan karena parasit, protozoa, mikroba, dan
faktor lainnya (Subronto, 2006). Dalam kasus lain mengungkapkan bahwa
kasus kematian pada kucing muncul di benua lain, yaitu di benua Eropa
sebesar 3,5-17% dan di benua Amerika sebesar 2-79% (Al-Jabr, Storey, Akrigg,
& Bryden, 1997). Sedangkan kasus kematian pada kucing di Indonesia salah
satunya terjadi di Surabaya, yaitu sebesar 60,9% (Kusnoto, 2005). Hal ini terjadi
karena masih kurangnya wawasan dan pengetahuan akan penyakit.

2. Penyebab Toksoplasmosis
Dalam memelihara kucing kita harus memastikan kesehatan kucing
tersebut, jika tidak maka akan timbul suatu penyakit yang disebabkan oleh
kucing. Salah satu contohnya adalah penyakit toksoplasmosis. Toksoplasmosis
adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Toksoplasma Gondii, parasit ini
berkembang biak di usus hewan yang berdarah panas, yaitu kucing, anjing,
babi, kambing, kelinci, dan lain-lain, Menurut Balaba (2010) Kucing adalah
hewan yang dapat membentuk ookista toksoplasma yang paling besar melalui
kotorannya. Infeksi dapat terjadi umumnya karena kontak dengan kotoran
hewan peliharaan yang memiliki penyakit toksoplasma, selain itu, manusia
dapat terinfeksi oleh toksoplasma melalui 4 cara, yaitu mengkonsumsi daging
mentah atau daging setengah matang yang sudah terkontaminasi dengan
parasit toksoplasma gondii, bersentuhan langsung dengan kotoran kucing atau
anjing yang terkena infeksi toksoplasma, melalui transfuse darah dan
transplatasi organ, Hendri (2008) mengatakan bahwa infeksi penyakit tersebut
memiliki prevalensi tinggi, terutama untuk masyarakat yang kurang menjaga
kebersihan, baik hewan peliharaan dan lingkungan sekitar yang mengakibatkan
penularan toksoplasma dari kucing dan hewan Felidae.

3. Penanganan Toksoplasmosis
Ada berbagai cara yang sangat mudah untuk dilakukan agar mencegah
diri dari toksoplasma tanpa mengkonsumsi obat-obatan, berdasarkan
wawancara dengan dr. Yessy Mariana, hal yang paling mudah untuk mencegah
dari toksoplasma adalah:
1. Cuci tangan dengan sabun setelah bersentuhan dengan kotoran hewan saat
membersihkan kendang atau pasir.

5
2. Memasak daging dan sayuran sampai matang selama 30 detik dengan suhu
90⁰ C, suhu tersebut dapat membunuh ookista.
3. Menjaga kebersihan hewan, dan lingkungan sekitar. 4. Meningkatkan
antibodi 5. Hidup sehat.
Setiap penyakit yang diderita oleh pasien, dokter akan selalu
menangani kasus yang diderita demi keselamatan dan kesehatan setiap pasien
yang menderita suatu penyakit, contoh kasus seperti batuk, orang yang
menderita batuk akan diberikan obat batuk. Pada penanganan toksoplasma
akan diberikan pengobatan sesuai dengan prosedur dan evaluasi lab.
Toksoplasma ini adalah penyakit yang bisa disembuhkan tetapi tidak 100%
akan pulih.
Pengobatan yang akan diberikan adalah obat anti bakteri atau
antibiotika dan pengobatan tersebut tergantung kadar dari hasil immunoglobulin
setiap pasien, ada 2 kemungkinan jika IgG pada seseorang dinyatakan positif,
yang pertama adalah orang tersebut kemungkinan pernah terinfeksi sudah lama
atau adanya proses reaksi silang pada infeksi parasit tersebut, penanganan ini
tidak selalu harus melakukan pengobatan, yang kedua adalah jika infeksi
tersebut sudah parah, harus melakukan pengobatan. Lain halnya pada
seseorang yang memiliki hasil IgM positif, sudah dipastikan bahwa orang
tersebut sedang terinfeksi toksoplasma, karena itu penanganan ini harus perlu
pengobatan dari dokter yang bersangkutan.

6
SKENARIO KASUS

A. Involusi Uteri
1) Ringkasan kasus
Seorang ibu nifas melakukan konseling ke bidan, kemudian bidan tersebut
memberikan asuhan pada masa nifas dan menyuruh ibu untuk rutin melakukan
senam nifas untuk membantu penyembuhan rahim ibu setelah melahirkan.

2) Skenario
Klien : Assalamualaikum Wr.Wb bu bidan.
Bidan : Waalaikumsalam. Manga bu silahkan duduk.
Klien : Terimakasih bu bidan
Bidan : Apakabar bu? Bagaimana dengan bayinya bu?
Klien : Allhamdullilah bu, sehat semua
Bidan : Allhamdullilah kalua begitu, ibu kesini dianter siapa?
Klien : Itu bu suami saya, lagi nunggu diluar sekarang
Bidan : Begitu ya bu, iya bu ada yang bisa saya bantu ?
Klien : Begini bu bidan, saya kan sedang dalam masa nifas. Tapi iniloh bu
badan saya berasa gaenak, terus otot-ototnya seperti kaku begitu bu,
apakah itu wajar setelah melahirkan?

Bidan : nah iya bu, jadi setelah ibu melahirkan dan sedang mengalami masa
nifas kondisi tubuh ibu secara anatomi akan mengalami perubahan,
salah satunya adalah kembalinya rahim pada ukuran semula. Proses
ini disebut dengan involusi uterus. Ketika involusi berlangsung, otot-
otot pada uterus tidak berkontraksi dengan baik untuk menjepit
pembuluh darah yang terbuka. Itu sebabnya ibu merasa badannya
tidak enak ya bu?

Klien : Oh, begitu ya bu bidan. Terus penangananya bagaimana ya bu


bidan?

Bidan : Ada beberapa penanganan yang bisa ibu lakukan. Yang pertama ibu
harus memperhatikan status gizi ibu, ibu harus bisa mengatur makanan
yang bergizi karena jika ibu makan-makanan dengan gizi yang
seimbang itu akan bermanfaat untuk menghilangkan jaringan nefrotik,

7
pada ibu postpartum dengan status gizi yang baik akan mampu
menghindari serangan kuman sehingga tidak terjadi infeksi dalam masa
nifas dan mempercepat proses involusi uteri. Nah kemudan, apakah
apakah bayi ibu mengonsumsi ASI atau susu formula ?
Klien : Allhamdulilah bu bidan ASI
Bidan : nah bagus kalua begitu bu, ketika ibu memberikan ASI dengan cara
menyusui bayi ibu aka nada gerakan reflex let down, reflex tersebut
berasal dari isapan bayi yang akan mengeluarkan hormon oxytosin dan
oleh darah hormon ini diangkat menuju uterus dan membantu uterus
berkontraksi sehingga dapat mempercepat proses involusi uteri juga bu.
Nah, kemudian ibu bisa mengikuti kegiatan senam nifas. Dengan senam
nifas dapat membantu penyembuhan rahim, perut, dan otot pinggul
yang mengalami trauma serta mempercepat kembalinya bagian –
bagian tersebut kebentuk normal terutama kembalinya uterus kebentuk
semula.
Klien : oh begitu ya bu bidan, kalau untuk senam nifas itu bagaimana ya bu
caranya?
Bidan : nah ibu tidak usah khawatir, kebetulan di praktik saya ini setiap hari
sabtu dan minggu jam 4 sore ada kelas senam untuk ibu nifas, ibu bisa
bergabung dan akan diajarkan beberapa gerakan dalam senam nifas
bu.
Klien : baik bu bidan, kalau begitu nanti sabtu dan minggu saya akan ikut
kelas senam ibu nifas bu bidan.
Bidan : tentu saja boleh bu, apakah ada yang ingin ditanyakan kembali bu?
Klien : sudah cukup bu bidan, terimakasi bu atas penjelasannya saya jadi
mengerti, saya pamit pulang dulu bu bidan. Assalamualaikum.
Bidan : baik kalau begitu, hati-hati dijalan ya bu. Waalaikumsalam

8
B. Memelihara Hewan Peliharaan Kucing
1) Ringkasan kasus
Seorang ibu hamil, dengan usia kehamilan 5 bulan mengunjungi PBM keluhan
ibu hamil tersebut adalah demam, merasa lelah. Pasien tersebut mengatakan
bahwa dia memelihara kucing dirumahnya. bidan mengamati keluhan pasien
tersebut dan menyuruh ibu hamil itu untuk melakukan cek lab untuk mengetahui
apakah ibu hamil tersebut positif terkena penyakit toksoplasmosis atau negatif.

2) Skenario
Klien : Assalamualaikum bu
Bidan : Waalaikumsalam, eh iya bu mari silahkan duduk
Klien : iya bu bidan terimakasih
Bidan : dianter siapa bu kesini?
Klien : itu bu bidan ada suami saya nunggu depan
Bidan : sudah jalan berapa bulan kandungan ibu?
Klien : allhamdullilah 5 bulan bu bidan
Bidan : wah tidak kerasa ya bu, iya bu ada yang bisa saya bantu ?
Klien : gini loh bu bidan, baru-baru ini kan suami saya memelihara kucing bu
dirumah dan sama suami saya dibebasin di dalam rumah bu, terus
beberapa hari setelah itu saya jadi mudah merasa lelah, saya kira
awalnya hanya pengaruh dari kehamilan tapi besoknya saya mengalami
flu dan badan saya tiba-tiba demam bu bidan, tenggorokan saya pun
terasa tidak enak.
Bidan : kemarin terakhir ibu cek suhu badan ibu berapa derajat?
Klien : 38 derajat bu bidan
Bidan : ibu punya kucing ya bu dirumahnya? Apakah rutin untuk mengecek
kesehatan si kucing bu? Nah jika ibu memelihara hewan peliharaan
sangat penting untuk mengetahui kondisi kesehatannya bu.
Klien : gitu ya bu bidan, saya pikir dia sehat-sehat aja gitu bu bidan
Bidan : nah kemudian, ibu kan sedang hamil sebaiknya hindari berdekatan
dengan kucing bu. Karena kucing yang tidak sehat dapat menularkan
penyakit kepada manusia. Seperti yang saya dengar dari keluhan ibu

9
gejala tersebut seperti toksoplasmosis. Apakah sebelumnya ibu tau
apakah toksoplasmosis itu apa?
Klien : saya belum tau bu bidan, itu apa ya?
Bidan : nah toksoplasmosis ini adalah suatu infeksi umum yang terjadi pada
sebagian besar burung dan mamalia, termasuk manusia.
Toksoplasmosis yang terjadi pada saat kehamilan merupakan kondisi
yang serius, karena infeksi ini bisa menular kepada bayi ibu yang belum
lahir. Ibu kan punyta kucing ya? Nah biasanya toksoplasmis ditularkan
dari kotoran kucing bu, pada kotoran kucing tersebut terdapat parasite
gondii, nah parasite tersebut yang bisa menyebabkan toksoplasmosis.
Namun perlu ibu ketahui juga, infeksi toksoplasmosis ini juga bisa
ditularkan melalui makanan yang berasal dari daging yang terinfeksi,
daging mentah atau daging setengah matang, telur mentah, daging
yang diawetkan seperti ham, mengkonsumsi buah atau sayuran yang
terkontaminasi, susu kambing dan susu yang tidak di pasteurisasi bu.
Klien : pengaruh terhadap kehamilan terhadap bayi yang saya kandung
bagaima bu bidan?
Bidan : jika toksoplasmosis tersebut terjadi pada tahap awal kehamilan itu
akan mengakibarkan keguguran. Namun, sangat jarang infeksi ini
terjadi pada tahap awal kehamilan karena tergantung juga dari
kekebalan tubuh terhadap toksoplasmosis.nah usia kandungan ibu kan
5 bulan jadi sekitar 65% risiko bayi ibu dapat terinfeksi, tetapi risiko
kerusakan pada janin ibu menurun karena sebagian besar
perkembangan penting telah terjadi.
Klien : waduh saya tidak mau bu anak saya terinfeksi juga, apakah ada
pencegahannya bu?
Bidan : nah ibu harus harus selalu menjaga kebersihan ya bu, kemudian ibu
harus menghindari paparan kotoran kucing dan sebaiknya kucing ibu
dibelikan kandang ya bu jangan selalu dibebaskan didalam rumah,
kemudian ibu harus memperhatikan makanan yang akan dikonsumsi
oleh ibu ya, perhatikan kematangannya, kemudian jika ibu akan
mengonsumsi buah dan sayuran pastikan untuk dicuci terlebih dahulu
sampai bersih ya bu, kemudian jangan lupa untuk mencuci tangan ya
bu setelah beraktivitas.
Klien : baik bu bidan, saya akan lakukan seperti itu.
Bidan : bagus sekali bu, apakah ada yang ingin ditanyakan lagi bu?

10
Klien : oiya bu bidan biar saya yakin apakah gejala tadi dari toksoplasmosis
atau bukan itu gimana ya bu bidan?

Bidan : ibu bida melakukan tes darah untuk menentukan apakah ibu terpapar
atau tidak, tapi saya berharap agar ibu tidak terpapar ya. Nanti saya
akan memberi rujukan kepada ibu agar melakukan pengecekan melalui
lab ya bu.
Klien : baik bu bidan, terimakasih bu bidan atas penjelasannya. Saya pamit
pulang dulu bu. Assalamualaikum.
Bidan : iya bu hati-hati dijalan ya bu. Waalaikumsalam.

11
DAFTAR PUSTAKA

Bearden, H.J. dan John W. Fuquay. 1992. Applied Animal Reproduction. Third Edition. Prentice
Hall, Englewood Cliffs, New Jersey
Made, P., & Wenagama, I. W. (2013). Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Pengeluaran Rumah Tangga untuk Hewan Peliharaan; Studi Kasus di
Kelurahan Padang Sambian. Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Bali.

Kusnoto. (2005). Prevalensi Toxocariasis pada Kucing Liar di Surabaya Melalui


Bedah Saluran Pencernaan. Media Kedokteran Hewan .

Khadafi, M. Y. (2013). Sistem Pakar Diagnosa Penyakit pada Kucing Melalui


Pendekatan Inferensi Forward Chaining Berbasis Platform Android.
Jurnal Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi
Informasi, Universitas Gunadharma.

Subronto. (2006). Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Al-Jabr, O. A., Storey, D. M., Akrigg, A., & Bryden, A. S. (1997). Prevalence
ofToxocara ova in dog faeces. Vet. Rec., 211-212.

Yunianto, B., & Ramadhani, T., 2010. Kajian Epidemiologi Kejadian


Leptospirosis Di Kota Semarang Dan Kabupaten Demak Tahun 2008.
Jurnal BALABA, Volume 6 No 01, Juni 2010: 7-11.

12
Hendri. (2008). Parasit Toksoplasma menyerang 30-60% Penduduk Dunia. The Future of
Nutrition Today. Tersedia di: http://www.ghtasia.com (Sitasi 28 Desember 2017)

13