Anda di halaman 1dari 24

https://industri.kontan.co.id/news/aphi-memproyeksi-industri-kayu-tahun-ini-lebih-bergairah?

page=all

APHI memproyeksi industri kayu tahun ini


lebih bergairah

Senin, 06 Januari 2020 / 19:47 WIB

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI)


memperkirakan, produksi kayu alam stagnan di tahun ini. Ketua APHI,
yang juga menjadi Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan
Indonsia, Indroyono Soesilo memprediksi produksi kayu alam relatif tetap,
sedangkan produksi kayu tanaman mulai mengalami kenaikan di tahun
2020

“Pasokan bahan baku industri pengolahan kayu akan bergeser ke hutan


tanaman, kayu alam hanya akan digunakan untuk produk bernilai tinggi”
kata dia kepada Kontan.co.id, Senin (6/1). 

Baca Juga: Wacana insentif bagi industri kayu jadi angin segar bagi
SLJ Global (SULI)

Indroyono menambahkan, produksi hasil hutan bukan kayu (HHBK)


dan bioprospecting serta investasi usaha di pemanfaatan hutan alam dan
hutan tanaman diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan
kebijakan pengembangan multi usaha di hutan produksi yang sedang
digodok intensif saat ini.

Sementara itu, kenaikan realisasi penanaman akan terus berlanjut di


tahun 2020 sejalan dengan terbitnya Permen LHK No P.10 dan No. P.11
tahun 2019, yang memberikan pengaturan dalam pengelolaan dan
perlindungan ekosistem gambut serta PermenLHK No. P.62 tahun 2019
tentang Pembangunan HTI.

Baca Juga: Ekspor kayu olahan Indonesia sepanjang tahun 2019


turun 4%

Kabar gembira bagi sektor kayu datang setelah Permen ESDM No. 50


tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk
Penyediaan Tenaga Listrik, sedang dalam proses revisi. Hal ini dilakukan
untuk mengubah skema penentuan harga yang awalnya didasarkan pada
Biaya Pokok Penyediaan (BPP) menjadi skema Feed in Tariff. 

Dengan skema yang terakhir ini lebih fair, karena didasarkan atas biaya
investasi minus margin keuntungan. “Didukung dengan kebijakan insentif
keringanan PNBP untuk Kayu Bulat Kecil yang sedang diproses saat ini,
pengembangan energi bio massa dari hutan produksi akan makin
berkembang,” tutur Indroyono.

Untuk mengurangi beban usaha dalam rangka mendorong investasi dan


ekspor hasil hutan tahun 2020, dunia usaha kehutanan berharap dalam
jangka pendek dapat diterbitkan kebijakan insentif fiskal.

Indroyono menyatakan, insentif tersebut antara lain dalam bentuk


pembayaran DR dalam rupiah, insentif PNBP kayu bulat kecil dan produk
perhutanan sosial, percepatan restitusi PPN, lalu PPN kayu log 0%,
penurunan pajak ekspor veneer dan keringanan PBB. 

Baca Juga: Ekspor kayu olahan Indonesia mencapai US$ 11,64


miliar sepanjang tahun 2019

Selain prakondisi kebijakan tersebut, dalam rangka peningkatan ekspor


kayu olahan, didorong kerjasama dengan para Duta Besar RI untuk
negara-negara dengan tujuan ekspor potensial.

Adapun dalam waktu dekat akan dimulai dengan Dubes RI di Beijing dan
Dubes RI di Seoul. “Para Dubes ini akan memfasilitasi perluasan pasar
untuk ekspor kayu olahan Indonesia,” pungkas Indroyono. 

Untuk mengurangi beban usaha dalam rangka mendorong investasi dan


ekspor hasil hutan tahun 2020, dunia usaha kehutanan berharap dalam
jangka pendek dapat diterbitkan kebijakan insentif fiskal.

Indroyono menyatakan, insentif tersebut antara lain dalam bentuk


pembayaran DR dalam rupiah, insentif PNBP kayu bulat kecil dan produk
perhutanan sosial, percepatan restitusi PPN, lalu PPN kayu log 0%,
penurunan pajak ekspor veneer dan keringanan PBB. 

Baca Juga: Ekspor kayu olahan Indonesia mencapai US$ 11,64


miliar sepanjang tahun 2019

Selain prakondisi kebijakan tersebut, dalam rangka peningkatan ekspor


kayu olahan, didorong kerjasama dengan para Duta Besar RI untuk
negara-negara dengan tujuan ekspor potensial.

Adapun dalam waktu dekat akan dimulai dengan Dubes RI di Beijing dan
Dubes RI di Seoul. “Para Dubes ini akan memfasilitasi perluasan pasar
untuk ekspor kayu olahan Indonesia,” pungkas Indroyono. 
https://sebijak.fkt.ugm.ac.id/2020/01/06/mendongkrak-pertumbuhan-2020-melalui-transformasi-
ekonomi-kehutanan/

Mendongkrak Pertumbuhan 2020


melalui Transformasi Ekonomi
Kehutanan 
 6 January 2020, 08.23

 
Transformasi Bidang Kehutanan

Bagaimana sektor kehutanan ? Kinerja sektor kehutanan masih sangat mungkin digenjot.
Dengan luas pemanfaatan hutan produksi (HP) saat ini mencapai 30,6 juta hektar. Terbuka
semua peluang dan kemungkinan pengembangan. Terdiri dari ijin konsesi HTI 293 unit
seluas 11.3 juta hektar. Sementara ijin konsesi Hutan Alam (HPH) 255 unit seluas 18.7 juta
hektar. Terakhir ijin konsesi Restorasi Ekosistem (RE) 16 unit seluas 622.861 hektar. Sektor
kehutanan jelas memiliki peluang kontribusi yang sangat potensial. Untuk mendukung
ketiga strategi transformasi ekonomi aktual.

Realisasinya tentu membutuhkan berbagai langkah terobosan. Strategi transformasi


ekonomi kehutanan menjadi skenario pilihan terbaik. Upaya tersebut dilakukan melalui
peningkatan investasi dalam rangka mendongkrak produktivitas hutan produksi. Targetnya
mengangkat kinerja ekspor. Melalui pertambahan nilai (value added) dan daya saing produk
hasil hutan. Baik pengusahaan hutan di hulu. Maupun industri pengolahan di hilir.

Salah satu terobosan penting transformasi ekonomi kehutanan adalah membuka keran
diversivikasi pemanfaatan hutan produksi. Ibarat membuka kotak Pandora. Hutan produksi
selama ini hanya identik dengan hasil tunggal kayu. Kini dibuka seluas-luasnya pemanfaatan
potensi hasil hutan bukan kayu. Termasuk jasa lingkungan dan wisata alam.

Memang sejak awal Presiden Jokowi selaku rimbawan telah memperlihatkan visinya. Jauh ke
depan melebihi eksistensi sektor kehutanan itu sendiri. Hutan –khususnya hutan produksi-
bukan hanya kayu. Hutan adalah bentang alam berisi ekosistem dengan segala peluang dan
potensinya. Hal ini yang harus disadari oleh para rimbawan konvensional. Yang masih gagal
paham. Masih melihat hutan sebatas dengan kaca mata kuda. Hanya berkutat pada soal
hasil hutan kayu semata.

Terobosan penting lain dari strategi transformasi ekonomi kehutanan di hutan produksi
adalah mendekatkan bahkan menyatukan antara unit usaha hulu – hilir. Bahan baku
dengan industrinya langsung. Dalam satu kawasan lokasi. Baik ijin konsesi hutan alam
maupun ijin konsesi hutan tanaman.

Selama ini hasil hutan dari kawasan hutan alam Papua, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan
dikirim untuk diolah ke Jawa. Biayanya sangat tinggi. Bahkan lebih mahal bila diangkut
langsung (baca : ekspor) dari lokasi ke berbagai negara. Ini yang membuat daya saing
komoditas kehutanan Indonesia “keok”. Sulit bersaing. Bahkan dengan negara sekecil Laos
atau sekelas Vietnam.

Menyatukan hulu hilir adalah sebuah keputusan penting. Sebagai perwujudan


meningkatkan efisiensi kehutanan hulu sekaligus optimalisasi hilirisasi. Untuk mewujudkan
daya saing sekaligus nilai tambah komoiditi. Termasuk melakukan optimalisasi
pemanfaatan limbah hasil pembalakan industri. Dalam kawasan areal perusahaan
pemegang ijin konsesi. Mereka dapat menggunakan mesin portable.Sebuah kepercayaan
Pemerintah kepada korporasi. Wajib dibuktikan korporasi dengan memberikan kontribusi
nyata bagi peningkatan produktivitas hutan produksi.

Lebih jauh. Khusus untuk pemegang HTI diberi kelonggaran lebih luas. Pemegang konsesi
HTI dapat diberikan izin usaha industri hasil hutan kayu pada areal kerjanya. Misalnya.
Untuk membantu mendongkrak upaya pengembangan kemandirian energi, pemegang
konsesi HTI yang mengusahakan bio-energi berbasis kayu tanaman. Dengan daur pendek
kurang dari 5 tahun. Dapat diberikan ijin usaha industri pengolahan hasil hutan (IUIPHH)
pada areal kerjanya. Berupa industri serpih kayu, wood pellet, arang kayu, biofuel, dan
biogas. Ini juga upaya mendukung terwujudnya konsep TRI SAKTI Presiden Jokowi. Melalui
kemandirian ekonomi berbasis ketahanan sekaligus kedaulatan energi.

Masih ada lagi. Sesuai visi KLHK yang kini mengarus-utamakan pemanfaatan HHBK.
Pemegang konsesi HTI yang menghasilkan produk samping berupa HHBK. Dapat diberikan
ijin usaha industry pengolahan HHBK. Banyak sekali potensi HHBK hutan tropis. Beberapa
diantaranya pengawetan/pengolahan rotan, bambu dan sejenisnya. Bisa juga pengolahan
pati, tepung, lemak dan sejenisnya. Pengolahan getah, resin, dan sejenisnya. Termasuk
pengolahan biji-bijian, pengolahan madu, pengolahan nira, minyak atsiri, dan Industri karet
remah (crumb rubber). Bahkan bila membangun kerjasama kemitraan dengan masyarakat
desa hutan, pemegang konsesi HTI dapat membangun industri pengolahan hasil
pengembangan agroforestri skala kecil dan menengah dalam areal kerjanya.

Akses Hutan Untuk Masyarakat

Kehutanan masa depan adalah kehutanan yang maju, adil, berkualitas dan berkelanjutan.
Itu hanya dapat dicapai bila keseimbangan akses dan penguasaan asset sumberdaya hutan
bisa diwujudkan. Secara adil dan setara. Mengatasi ketimpangan akses dan penguasaan
asset atas sumberdaya hutan antara korporasi dan komuniti. Terbukti menyebabkan
pertumbuhan kehutanan tidak kokoh. Jauh dari berkualitas. Bahkan menghasilkan konflik
yang mengancam integrasi sosial kultural.

Kuncinya adalah keadilan pemanfaatan hutan. Strategi transformasi ekonomi kehutanan


yang akan dilakukan adalah melakukan evaluasi kinerja pemegang konsesi. Terhadap
stagnasi operasi pemegang konsesi. Harus dipastikan apakah memang ada hambatan
teknis regulasi. Ataukah prsoalan komitmen internal yang bersifat non teknis. Sudah tak
mampu lagi alias lempar handuk.

Bila stagnasi pemegang konsesi –terutama konsesi HTI- dikarenakan konflik lahan dengan
masyarakat. Kunci solusinya hanya dua skema. Pertama, berbagi manfaat melalui
kerjasama kemitraan perusahaan dengan masyarakat. Kedua, melakukan addendum ijin
konsesi HTI. Memberikan ijin pemanfaatan areal yang menjadi sumber konflik kepada
masyarakat. Melalui skema Hutan Tanaman Rakyat (HTR).

Kebijakan pengembangan HTI mini melalui skema HTR memang menjadi pilihan solusi.
Selain untuk meningkatkan produktivitas hutan, juga untuk menyeimbangkan akses
pemanfaatan hutan kepada masyarakat. Tentu saja hubungan pemegang konsesi dengan
masyarakat diharapkan tetap terjalin. Pemegang konsesi HTI bisa menjadi pembeli kayu-
kayu hasil HTR masyarakat. Dengan konsep ini diharapkan HTR bisa memberikan kontribusi
melalui penyerapan tenaga kerja dan pengembangan UKM.

Prasyarat mewujudkan semua hal di atas tentulah harus ada dukungan payung hukum yang
menaungi. Sesuai amanat UU 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, kepastian kawasan hutan
adalah harga mati. Agar investasi bisa mewujudkan keseimbangan fungsi ekonomi, ekologi
dan sosial. Demi tercapainya kelestarian usaha. Hal itu sejalan dengan tuntutan negara
hadir untuk mewujudkan kepastian tata waktu dan iklim berusaha sebagaimana visi
Presiden Jokowi. Termasuk kehadiran negara untuk menyediakan fasilitasi permodalan dan
pembiayaan sertifikasi UMKM. Juga penyederhanaan izin untuk industri kecil berskala
UMKM.

Untuk mewujudkan semua itu. Pemerintah akan menerbitkan Omnibus Law. Sebuah
payung hukum regulasi yang hendak mengatasi berbagai persoalan. Dirangkai dalam
sebuah aturan yang bersifat payung. Omnibus Law yang akan diterbitkan menyangkut
undang-undang penciptaan lapangan kerja dan perlindungan UMKM. Termasuk Omnibus
Law deregulasi di sektor kehutanan.
https://inilah.com/news/2560028/ini-kinerja-kehutanan-2019-dan-pacu-investasi-2020

Ini Kinerja Kehutanan 2019 dan Pacu


Investasi 2020
Oleh inilahcom

Jumat 03 Januari 2020

share
(Foto: Humas LHK)

INILAHCOM, Jakarta - Melambatnya perekonomian global, yang antara lain


disebabkan persaingan dagang Amerika Serikat dan China, memberikan dampak
pada melemahnya perekonomian Indonesia sepanjang tahun 2019.

Berdasarkan data IMF, pertumbuhan ekonomi dunia hanya mencapai 3 % dari proyeksi
sebelumnya 3,7 %. Demikian disampaikan Indroyono Soesilo, Ketua Umum Asosiasi
Pengusaha Hutan Indonesia, yang juga menjadi Ketua Forum Komunikasi Masyarakat
Perhutanan Indonsia di Jakarta pada Jumat (3/1/2020).

Melambatnya perekonomian Indonesia tergambar dari beberapa indikator antara lain


realisasi penerimaan pajak s/d 26 Desember 2019 sebesar Rp 1.578 triliun (80,3 % dari
target), defisit neraca perdagangan mencapai US $ 3,11 miliar (periode Jan-Nov 2019)
dan pertumbuhan ekonomi maksimal sebesar 5,1 % dari target makro APBN 2019
sebesar 5,3 %. "Kondisi perekonomian dunia memberikan tekanan yang nyata bagi
perekonomian Indonesia di tahun 2019," sebut Indroyono.

Kondisi perekonomian global berdampak pada menurunnya volume perdagangan, yang


berimbas pada kinerja sektor usaha kehutanan tahun 2019. Total nilai ekspor kayu
olahan Indonesia tahun 2019 sebesar US$ 11,64 miliar, turun 4 % dari nilai ekspor
tahun 2018 sebesar US$ 12,13 miliar.

Untuk negara tujuan ekspor terbesar masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya,
Tiongkok diposisi teratas, diikuti Jepang, Amerika Serikat, Uni Eropa dan Korea.
"Penurunan permintaan dunia melemahkan kinerja ekspor kayu olahan Indonesia, yang
secara berantai menurunkan permintaan pasokan bahan baku dari sektor hulu, baik dari
hutan alam maupun hutan tanaman," kata Indroyono.
Indroyono memaparkan, produksi kayu hutan alam tahun 2018 mencapai 7 juta m3,
sedangkan tahun ini hanya tercapai 5,8 juta m3, atau turun 16,30 %. Penurunan
produksi hutan alam ini terutama karena berkurangnya permintaan pasokan dari industri
pengolahan kayu, terutama industri panel dan woodworking yang sebagian besar bahan
bakunya menggunakan kayu alam.

Sementara itu, produksi hutan tanaman juga mengalami penurunan tipis, pada 2018
mencapai 40 juta m3, sementara produksi hutan tanaman tahun 2019 tercatat 39 juta
m3, atau turun 1,63 %. "Yang cukup menggembirakan dari hutan tanaman, terjadi
kenaikan luas penanaman yang cukup signifikan dimana tahun 2018 penanaman hanya
mencapai 196 ribu ha, sedangkan pada 2019 lalu realisasi tanaman meningkat 51,09 %,
menjadi 297 ribu ha," sebut Indroyono.

Baca juga

KLHK: Komisaris CV SBM Tersangka Illegal Logging

Urugan Pasir Pulau Pramuka, Tempat Bertelur Penyu

Duka Menteri Siti Melepas Korban Kecelakaan TNS


Yang cukup menjanjikan adalah tren produksi hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang
terus meningkat. Sebagai bagian dari lini konfigurasi bisnis baru kehutanan, kenaikan
produksi HHBK dari tahun ke tahun, dimana pada tahun 2018 produksi sebesar 358,8
ribu ton, sedangkan tahun 2019 produksinya mencapai 380,61 ribu ton. Sementara itu,
trend ekspor Tanaman dan Satwa Liar (TSL) yang merupakan pengembangan dari
HHBK terus meningkat sampai tahun 2018 meski pada tahun 2019 sedikit mengalami
penurunan. "Ekspor produk TSL ini sangat potensial di kembangkan di areal IUPHHK
untuk pengembangan bioprospecting," ujar Indroyono.

Lebih lanjut, Indroyono memprediksi tahun 2020 produksi kayu alam relatif tetap,
sedangkan produksi kayu tanaman akan meningkat. "Pasokan bahan baku industri
pengolahan kayu akan bergeser ke hutan tanaman, kayu alam hanya akan digunakan
untuk produk bernilai tinggi" ujarnya.

Produksi HHBK dan bioprospecting serta investasi usaha di pemanfaatan hutan alam
dan hutan tanaman diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan kebijakan
pengembangan multi usaha di hutan produksi, yang sedang digodok intensif saat ini.
Sementara itu, kenaikan realisasi penanaman akan terus berlanjut di tahun 2020 sejalan
dengan terbitnya Permen LHK No P.10 dan No. P.11 tahun 2019, yang memberikan
pengaturan dalam pengelolaan dan perlindungan ekosistem gambut serta PermenLHK
No. P.62 tahun 2019 tentang Pembangunan HTI.

Yang menggembirakan, Permen ESDM No. 50 tahun 2017 tentang Pemanfaatan


Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik, sedang dalam proses
revisi, untuk merubah skema penentuan harga yang awalnya didasarkan pada Biaya
Pokok Penyediaan (BPP) menjadi skema Feed in Tariff. Skema yang terakhir ini lebih
fair, karena didasarkan atas biaya investasi minus margin keuntungan. "Didukung
dengan kebijakan insentif keringanan PNBP untuk Kayu Bulat Kecil yang sedang
diproses saat ini, pengembangan energi bio massa dari hutan produksi akan makin
berkembang," tutur Indroyono.

Untuk mengurangi beban usaha dalam rangka mendorong investasi dan ekspor hasil
hutan tahun 2020, dunia usaha kehutanan berharap dalam jangka pendek dapat
diterbitkan kebijakan insentif fiskal. "Insentif antara lain dalam bentuk pembayaran DR
dalam Rupiah, insentif PNBP kayu bulat kecil dan produk perhutanan sosial, percepatan
restitusi PPN, PPN log 0%, penurunan pajak ekspor veneer dan keringanan PBB,"
imbuh Indroyono.

Selain prakondisi kebijakan tersebut, dalam rangka peningkatan ekspor kayu olahan,
didorong kerja sama dengan para Duta Besar RI untuk negara-negara dengan tujuan
ekspor potensial, yang dalam waktu dekat akan dimulai dengan Dubes RI di Beijing dan
Dubes RI di Seoul. "Para Dubes ini akan memfasilitasi perluasan pasar untuk ekspor
kayu olahan Indonesia," pungkas Indroyono.
http://rri.co.id/post/berita/766348/ekonomi/masuk_2020_pemerintah_dongkrak_investasi_dan_ek
spor_hasil_hutan.html

Masuk 2020, Pemerintah Dongkrak Investasi dan Ekspor


Hasil Hutan
 Masuk 2020, Pemerintah Dongkrak Investasi dan Ekspor Hasil Hutan
 Masuk 2020, Pemerintah Dongkrak Investasi dan Ekspor Hasil Hutan
 Masuk 2020, Pemerintah Dongkrak Investasi dan Ekspor Hasil Hutan

 0
 1
 2

3 January
13:452020

1 2 3 4 5

0 Votes(0)

 Print Artikel

👤by Eko Sulestyono

KBRN, Jakarta : Melambatnya perekonomian global, yang antara lain disebabkan persaingan
dagang Amerika Serikat dan China (Tiongkok) memberikan dampak pada melambatnya
perekonomian Indonesia sepanjang 2019. Berdasarkan data International Moneytary Fund (IMF)
atau Dana Moneter Internarsional, pertumbuhan peekonomian dunia hanya mencapai 3 persen.
Padahal sebelumnya pertumbuhan diproyeksikan mencapai 3,7 persen.
Demikian disampaikan Indroyono Soesilo, ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia,
yang juga menjadi Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia di Jakarta,
Jumat (03/01/2020).

Melambatnya perekonomian Indonesia tergambar dari beberapa indikator antara lain realisasi
penerimaan pajak s/d 26 Desember 2019 sebesar Rp 1.578 triliun (80,3 persen dari target).

Defisit neraca perdagangan mencapai 3,11 miliar Dolar Amerika (USD) periode Januari 2019
hingga November 2019. Pertumbuhan peekonomian Indonesia masih mampu tumbuh maksimal
hingga 5,1 persen dari target makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun
Anggaran  2019 yang mencapai 5,3  persen.

"Kondisi perekonomian dunia memberikan tekanan yang nyata bagi perekonomian Indonesia di
tahun 2019,” sebut Indroyono.

Kondisi perekonomian global juga memberi dampak pada menurunnya volume perdagangan,
yang berimbas pada kinerja sektor usaha kehutanan 2019. Total nilai ekspor kayu olahan
Indonesia 2019 sebesar US$ 11,64 miliar, turun 4 % dari nilai ekspor 2018 sebesar US$ 12,13
miliar.

Untuk negara tujuan ekspor terbesar masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Tiongkok
diposisi teratas, diikuti Jepang, Amerika Serikat, Uni Eropa dan Korea.

“Penurunan permintaan dunia melemahkan kinerja ekspor kayu olahan Indonesia, yang secara
berantai menurunkan permintaan pasokan bahan baku dari sektor hulu, baik dari hutan alam
maupun hutan tanaman,” kata Indroyono.

Indroyono lanjut memaparkan, produksi kayu hutan alam 2018 mencapai 7 juta m3, sedangkan
tahun ini hanya tercapai 5,8 juta m3, atau turun 16,30 persen.

Penurunan produksi hutan alam ini terutama karena berkurangnya permintaan pasokan dari
industri pengolahan kayu, terutama industri panel dan woodworking yang sebagian besar bahan
bakunya menggunakan kayu alam.
Sementara itu, produksi hutan tanaman juga mengalami penurunan tipis, pada tahun 2018
mencapai 40 juta m3, sementara produksi hutan tanaman tahun 2019 tercatat 39 juta m3, atau
turun 1,63 persen.

“Yang cukup menggembirakan dari hutan tanaman, terjadi kenaikan luas penanaman yang
cukup signifikan dimana tahun 2018 penanaman hanya mencapai 196 ribu ha, sedangkan pada
tahun 2019 lalu realisasi tanaman meningkat 51,09 persen menjadi 297 ribu ha. Yang cukup
menjanjikan adalah tren produksi hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang terus meningkat,”
katanya.

Sebagai bagian dari lini konfigurasi bisnis baru kehutanan, kenaikan produksi HHBK dari tahun
ke tahun, dimana pada 2018 produksi sebesar 358,8 ribu ton, sedangkan tahun 2019
produksinya mencapai 380,61 ribu ton.

Sementara itu, trend ekspor Tanaman dan Satwa Liar (TSL) yang merupakan pengembangan
dari HHBK terus meningkat sampai 2018 meski pada 2019 lalu sedikit mengalami penurunan.

“Ekspor produk TSL ini sangat potensial di kembangkan di areal IUPHHK untuk pengembangan
bioprospecting,” ujar Indroyono.

Lebih lanjut, Indroyono memprediksi pada 2020 produksi kayu alam relatif tetap, sedangkan
produksi kayu tanaman akan meningkat. 
“Pasokan bahan baku industri pengolahan kayu akan bergeser ke hutan tanaman, kayu alam
hanya akan digunakan untuk produk bernilai tinggi,” tambahnya.

Produksi HHBK dan bioprospecting serta investasi usaha di pemanfaatan hutan alam dan hutan
tanaman diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan kebijakan pengembangan multi
usaha di hutan produksi, yang sedang digodok intensif saat ini. Sementara itu, kenaikan realisasi
penanaman akan terus berlanjut di 2020 sejalan dengan terbitnya Permen LHK No P.10 dan No.
P.11 tahun 2019, yang memberikan pengaturan dalam pengelolaan dan perlindungan ekosistem
gambut serta PermenLHK No. P.62 tahun 2019 tentang Pembangunan HTI.

Yang menggembirakan, Permen ESDM No. 50 tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi
Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik, sedang dalam proses revisi, untuk merubah
skema penentuan harga yang awalnya didasarkan pada Biaya Pokok Penyediaan (BPP) menjadi
skema Feed in Tariff.
Skema yang terakhir ini lebih fair, karena didasarkan atas biaya investasi minus margin
keuntungan. 

“Didukung dengan kebijakan insentif keringanan PNBP untuk Kayu Bulat Kecil yang sedang
diproses saat ini, pengembangan energi bio massa dari hutan produksi akan makin
berkembang,” tutur Indroyono.

Untuk mengurangi beban usaha dalam rangka mendorong investasi dan ekspor hasil hutan
tahun 2020, dunia usaha kehutanan berharap dalam jangka pendek dapat diterbitkan kebijakan
insentif fiskal.

“Insentif antara lain dalam bentuk pembayaran DR dalam Rupiah, insentif PNBP kayu bulat kecil
dan produk perhutanan sosial, percepatan restitusi PPN, PPN log 0%, penurunan pajak ekspor
veneer dan keringanan PBB,” imbuhnya.

Selain prakondisi kebijakan tersebut, dalam rangka peningkatan ekspor kayu olahan, didorong
kerjasama dengan para Duta Besar RI untuk negara-negara dengan tujuan ekspor potensial,
yang dalam waktu dekat akan dimulai dengan Dubes RI di Beijing dan Dubes RI di Seoul.

“Para Dubes ini akan memfasilitasi perluasan pasar untuk ekspor kayu olahan Indonesia,”
pungkas Indroyono.
https://www.cnbcindonesia.com/news/20200106162411-4-128026/proyeksi-industri-2020-tumbuh-
53-lebih-rendah-dari-2019

Proyeksi Industri 2020 Tumbuh 5,3%, Lebih Rendah dari


2019
SHARE  

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus


Gumiwang menargetkan pertumbuhan PDB industri pengolahan non migas
pada 2020 berkisar 4,80% sampai 5,30%. Proyeksi ini lebih rendah dibanding
target 2019 sebesar 5,4%.

Agus menjelaskan high scenario atau skenario optimis 5,30% diproyeksikan


tercapai dengan asumsi daya saing meningkat seiring dengan peningkatan
produktivitas sektoral dan efisiensi investasi. Proyeksi pertumbuhan industri
5,3% memang sedikit di atas proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 yang
hanya 5,2%.

"Sehingga ini akan menjamin bahan baku, serapan teknologi, kondusivitas


termasuk politik dan keamanan, iklim usaha serta inovasi produk mengikuti
tren preferensi konsumen global," kata Agus dalam konferensi pers kinerja
2019 dan outlook pembangunan sektor industri 2020, Jakarta, Senin
(6/1/2020).

PILIHAN REDAKSI
 India Pangkas Pajak
Impor Minyak Sawit,
Harga CPO Meroket Skenario rendah pertumbuhan industri 4,80%
 Curhat Pengusaha
Kayu: Ekspor Anjlok, dari 2019 sebesar 4,48% diproyeksikan
Birokrasi Rumit
dengan asumsi bila Indonesia tak dapat
 Iran Bakal Serang
Kilang di Timteng, Harga menghadapi tantangan global dan tantangan
Minyak To The Moon
domestik.

Sementara proyeksi kontribusi PDB industri 2020 ditarget 17,80 % sampai


17,95% terhadap PDB nasional. Asumsi skenario rendah 17,80%
diproyeksikan dengan asumsi pertumbuhan sektor lain lebih cepat dari
pertumbuhan industri.

"Hal ini bisa terjadi karena iklim usaha industri tidak bertambah, baik konsumsi
rumah tangga untuk produk industri menurun salah satunya karena digital
trade dan tren konsumsi berubah ke leisure," ujar Agus.

Sementara asumsi skenario optimistis, yaitu pertumbuhan industri lebih cepat


dari sektor ekonomi lainnya antara lain karena membaiknya iklim usaha fisik
atau non fisik yang mendorong efisiensi, utilitas dan investasi industri.

Jika iklim usaha membaik, ini akan memqcu investasi atau meningkatkan
populasi industri. Lapangan kerja akan meningkat. Agus memproyeksi tenaga
kerja di sektor industri terserap 19,66 juta orang pada 2020.

Lebih lanjut Agus memaparkan, industri manufaktur menjadi sektor


penyumbang terbesar nilai ekspor nasional. Sepanjang Januari-Oktober 2019,
ekspor produk manufaktur mencapai US$ 105,11 Miliar.

Tiga sektor yang menjadi kontributor terbesar adalah industri makanan dan
minuman yang menembus US$ 21,73 Miliar, industri logam dasar sekitar US$
14,64 miliar, dan industri tekstil dan pakaian jadi sebesar US$ 10,84 Miliar.
https://ekonomi.bisnis.com/read/20191105/99/1166881/produksi-kayu-bulat-diprediksi-tumbuh-
hingga-15-persen

Produksi Kayu Bulat Diprediksi Tumbuh


hingga 15 Persen
Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia memperkirakan produksi kayu bulat atau log pada tahun depan
tumbuh sekitar 10%—15%, baik dari hutan tanaman industri (HTI) maupun hutan alam.  

Desyinta Nuraini - Bisnis.com05 November 2019   |  08:20 WIB

/Bisnis

A-A+

Share


Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia memperkirakan


produksi kayu bulat atau log pada tahun depan tumbuh sekitar 10%—15%, baik dari
hutan tanaman industri (HTI) maupun hutan alam. 

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Purwadi Soeprihanto


mengatakan pada tahun ini produksi kayu bulat dari hutan alam diprediksi hanya
mencapai 5,4 juta m3. Adapun, untuk produksi HTI diyakini stabil di angka 40 juta
m3. 

“Kita targetkan produksi bisa naik sekitar 10% - 15% [pada tahun depan],” ujarnya
kepada Bisnis, Senin (4/11/2019). 

Selaras dengan penetapan target ini, dia berharap pasar industri pengolahan kayu akan
pulih pada 2020, dengan catatan ada pergeseran ekspor dari produk plywood ke
produk kayu olahan/moulding yang diperluas penampangnya. 

Baca Juga : Produksi Hasil Hutan Nonkayu Indonesia Melejit

Purwadi menuturkan untuk mendorong peningkatan produksi ini perlu adanya


kebijakan ekspor perluasan penampang kayu olahan dari 4.000 mm2 dan 10.000 mm2
menjadi 20.000 mm2. Kayu olahan yang diperluas penampangnya, kata Purwadi, bisa
memperoleh harga yang lebih baik dengan kenaikan bisa sampai 25%–30%. 

“Harga kayu log alam saat ini hanya sekitar Rp1,2 juta, kita proyeksikan dengan
kebijakan perluasan penampang bisa naik di harga sekitar Rp1,5 sampai dengan Rp1,6
juta,” tuturnya. 

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Kayu Gergajian dan Kayu Olahan
Indonesia (ISWA) Soewarni mengatakan pihaknya belum bisa memprediksi proyeksi
industri pengolahan kayu pada 2020. 

“Kami menunggu kiprah menteri yang ditugasi Pak [Presiden] Joko Widodo untuk
meningkatkan ekspor,” katanya melalui pesan singkat.
https://ekbis.sindonews.com/read/1488871/34/kemenperin-bidik-pertumbuhan-industri-53-di-
2020-1578307488

Kemenperin Bidik
Pertumbuhan Industri 5,3%
di 2020
Oktiani Endarwati
Senin, 6 Januari 2020 - 17:48 WIB
views: 4.160

Kementerian Perindustrian membidik pertumbuhan industri pada 2020 di angka 4,8% - 5,3% dengan
mempertimbangkan berbagai kondisi. Foto/Dok SINDOphoto

A+ A-
JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membidik pertumbuhan industri pada
2020 di angka 4,8% - 5,3% dengan mempertimbangkan berbagai kondisi. Adapun untuk
pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas pada tahun 2019 diperkirakan sebesar
4,48%-4,60%.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita optimistis terhadap kinerja industri


manufaktur pada tahun 2020 masih tumbuh positif, meskipun di tengah kondisi global yang
belum pasti.
"Pada asumsi high scenario yakni 5,3%, bisa tercapai jika daya saing nasional meningkat
seiring dengan peningkatan produktivitas sektoral dan efisiensi investasi sehingga ada
jaminan bahan baku, serapan teknologi, kondusivitas iklim usaha, serta inovasi produk
mengikuti tren preferensi konsumen global," ujarnya di Jakarta, Senin (6/1/2020).

Baca Juga:
 Ekspor Tembus USD892 Juta, Industri Kerajinan Nasional Kian Kompetitif
 Kemenperin Pacu Investasi Industri Pelumas

Sementara, pada asumsi low scenario sebesar 4,8%, apabila Indonesia tidak dapat
menghadapi tantangan global dan tantangan domestik. "Kami juga terus mendorong terkait
jaminan ketersediaan bahan baku sehingga adanya keberlanjutan produktivitas. Hal ini
menjadi salah satu upaya menciptakan iklim usaha yang kondusif," lanjut Agus.

Agus menuturkan, kontribusi PDB industri pengolahan nonmigas terhadap total PDB
diproyeksikan naik menjadi 17,80-17,95% pada 2020 seiring dengan pertumbuhan PDB
industri pengolahan nonmigas yang semakin membaik. Pada tahun 2019, kontribusi PDB
industri pengolahan nonmigas terhadap PDB nasional diperkirakan 17,58% - 17,70%.

"Aktivitas industri membawa efek berganda yang luas bagi peningkatan nilai tambah bahan
baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor,"
paparnya.

Agus melanjutkan, pemerintah juga gencar menarik investasi, khususnya bagi sektor industri
yang berorientasi ekspor, menghasilkan produk substitusi impor, berbasis teknologi tinggi,
dan sektor padat karya. Pada periode Januari-September 2019, nilai investasi sektor industri
menembus Rp147,3 triliun, dengan nilai kumulatif sejak tahun 2015 sebesar Rp1.216,2
triliun.

"Kami memproyeksi, nilai investasi di akhir 2019 tercatat sebesar Rp188,8-204,6 triliun.
Sedangkan pada tahun 2020, investasi sektor industri ditargetkan menyentuh Rp307-Rp351
triliun," tuturnya.

Seiring peningkatan investasi di sektor industri, tren penyerapan tenaga kerja juga terus
bertambah. Hal ini terlihat pada kurun waktu 2015 hingga Agustus 2019, jumlah tenaga kerja
sektor industri sudah mencapai 18,93 juta orang. Sementara itu, pada tahun 2020, jumlah
tenaga kerja sektor industri diperkirarakan sebanyak 19,59 - 19,66 juta orang.

"Era industri 4.0 yang membawa perubahan pada peningkatan ekonomi berbasis digital,
akan mampu menyerap banyak tenaga kerja baru terutama memanfaatkan bonus demografi
yang sedang dialami oleh Indonesia hingga tahun 2030 mendatang," tandasnya.
https://pasardana.id/news/2020/3/2/geliat-industri-manufaktur-indonesia-kembali-ekspansif/

Geliat Industri Manufaktur Indonesia


Kembali Ekspansif
Adi - Senin, 02 Maret 2020 14:29

foto: doc Kemenperin

Pasardana.id - Industri manufatur Indonesia kembali menunjukkan geliat positif pada


Februari 2020.

Hal ini tercermin dari capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang
dirilis oleh IHS Markit, dengan memperlihatkan kenaikan dari 49,3 pada Januari ke posisi
51,9 pada Februari 2020.

Peningkatan PMI manufaktur Indonesia tersebut, pertama kalinya pada kondisi bisnis sejak
bulan Juni lalu. Poin PMI di atas angka 50 menandakan bahwa sejumlah sektor manufaktur
masih melakukan upaya perluasan usaha atau ekspansif.

“Melalui laporan tersebut, kami optimistis terhadap kepercayaan diri dari para investor di
sektor industri yang masih tumbuh. Selain itu, mereka juga melihat bahwa iklim usaha di
Indonesia tetap kondusif,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di
Jakarta, Senin (2/3/2020).
Menurut data IHS Markit, kenaikan PMI manufaktur Indonesia bulan Februari didorong oleh
bisnis baru dan kecepatan ekspansi output. Akibatnya, sejumlah perusahaan menambahkan
lebih banyak karyawan dan aktivitas pembelian.

Indeks yang dirilis setiap bulan tersebut, memberikan gambaran tentang kinerja industri
pengolahan pada suatu negara, yang berasal dari pertanyaan seputar jumlah produksi,
permintaan baru, ketenagakerjaan, inventori, dan waktu pengiriman.

Survei PMI manufaktur dikompilasi dari respons bulanan terhadap kuesioner yang
dikirimkan kepada eksekutif pembelian di lebih dari 300 perusahaan industri yang dibagi
dalam delapan kategori, yakni logam dasar, kimia dan plastik, listrik dan optik, makanan dan
minuman, teknik mesin, tekstil dan busana, kayu dan kertas, serta transportasi.

Sebelumnya, Menperin menegaskan, pihaknya meyakini kinerja industri pengolahan


nonmigas masih berada pada fase ekspansi pada triwulan I tahun 2020. Oleh karena itu,
diperlukan langkah-langkah strategis guna memacu sektor manufaktur agar lebih berdaya
saing global.

“Contoh upaya strategisnya adalah menjaga ketersediaan bahan baku dan energi untuk
keberlangsungan produktivitas sektor industri, sehingga bisa semakin terbang tinggi lagi,”
tuturnya.

Langkah ini dijalankan melalui sinergi bersama kementerian dan lembaga terkait.

Selanjutnya, Kemenperin fokus pengoptimalan implementasi program Peningkatan


Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

“Selain itu, diperlukan penguatan ekspor dan substitusi impor, di antaranya melalui
diversifikasi industri unggulan untuk ekspor serta membuka secara agresif pasar-pasar baru
untuk produk industri,” paparnya.

Agus menambahkan, kementeriannya juga turut mendorong peningkatan investasi di sektor


industri, yang meliputi perbaikan kemudahan perizinan, promosi investasi, dan fasilitasi
pemberian insentif.

“Selama lima tahun ke depan, kami telah mengidentifikasi rencana investasi sektor industri
sebanyak 81 proyek dengan nilai total Rp921 triliun dan penyerapan tenaga kerja sebanyak
125.000 orang,” ungkapnya.

Menperin optimistis, apabila jurus jitu tersebut terlaksana dengan baik, target pertumbuhan
industri pengolahan nonmigas sebesar 5,3% pada tahun 2020 bisa tercapai.

Sementara itu, kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap total PDB nasional dibidik
hingga 17,8% sepanjang tahun ini.
Berikutnya, kontribusi ekspor produk industri terhadap ekspor nasional akan mencapai 72,2%
pada tahun 2020.
https://investor.id/business/ekspor-kayu-olahan-indonesia-sepanjang-2019-turun-4

Ekspor Kayu Olahan Indonesia Sepanjang 2019 Turun 4% Ridho Syukra, Jumat, 3
Januari 2020 | 18:16 WIB JAKARTA, investor.id - Perlambatan ekonomi global
karena persaingan dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok mempengaruhi
kinerja sektor kehutanan nasional tahun 2019. Perang dagang AS-Tiongkok
berdampak pada penurunan nilai ekspor kayu olahan Indonesia sebesar 4% dari
US$ 12,13 miliar pada tahun 2018 menjadi US$ 11,64 miliar pada 2019. Ketua
Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia yang juga Ketua Umum
Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Indroyono Soesilo mengatakan Perang
dagang AS-Tiongkok memang mempengaruhi kinerja ekspor industri prioritas
termasuk industri kehutanan. Penurunan permintaan dunia secara berantai
menurunkan permintaan bahan baku dari sektor hulu baik dari hutan alam
maupun hutan tanaman. “Ekspor kayu olahan Indonesia sepanjang tahun 2019
memang turun dengan negara tujuan ekspornya tetap sama yaitu Tiongkok,
Jepang, Uni Eropa dan Korea,” ujar dia di Jakarta, Jumat (3/1). Ia menjelaskan
untuk produksi kayu hutan alam tahun 2018 mencapai 7 juta meter kubik
sementara tahun 2019 mencapai 5,8 juta meter kubik atau mengalami
penurunan. Penurunan produksi hutan alam ini karena berkurangnya pasokan
dari industri pengolahan kayu terutama industri panel dan woodworking.
Produksi hutan tanaman juga mengalami penurunan tipis, pada tahun 2018
mencapai 40 juta meter kubik sementara untuk tahun 2019 tercatat 39 juta meter
kubik atau turun 1,63%. Kabar yang menggembirakan dari hutan tanaman adalah
terjadi kenaikan luas penanaman yang cukup signifikan di mana pada tahun 2018
penanaman hanya mencapai 196 ribu hektare dan pada tahun 2019 realisasi
tanaman meningkat 51,09% menjadi 297 ribu hektare. Ia menambahkan tren
produksi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) juga meningkat dimana pada 2018
produksinya mencapai 358,8 ribu ton sedangkan tahun 2019 produksinya
mencapai 380,61 ribu ton. Di samping itu, tren ekspor Tanaman dan Satwa Liar
(TSL) yang merupakan pengembangan dari HHBK terus meningkat. Memasuki
tahun 2020, produksi kayu alam relatif tetap sementara produksi kayu tanaman
akan meningkat karena perluasan lahan. Ekspor kayu olahan pada tahun 2020
juga diperkirakan membaik karena adanya tanda tanda perbaikan ekonomi global
dan meredanya perang dagang AS-Tiongkok. Untuk mendorong ekspor  dan
investasi tahun 2020, pelaku usaha meminta insentif fiskal antara lain dalam
bentuk insentif PNBP kayu bulat kecil dan produk perhutanan sosial. PPN Log 0%
dan penurunan pajak ekspor veneer. Pengusaha meminta pemerintah agar
melakukan diskusi bersama terkait pemberian insentif agar sama-sama untung.
Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)
Bambang Hendroyono mengatakan KLHK sudah banyak melakukan terobosan
kebijakan untuk mendorong produksi kayu olahan maupun mendorong
ekspornya. Terobosan yang sudah dilakukan adalah memfasilitasi pembayaran
sertifikasi bagi UMKM, analisis kebijakan terkait SVLK dimana rinciannya
penyederhanaan verifier SVLK, penerbitan dokumen ekspor dapat diubah setelah
kapal berangkat dari pelabuhan muat (Indonesia) untuk mengurangi beban
barang ditolak di pelabuhan tujuan. Biaya penerbitan dokumen ekspor dapat
dibebankan ke APBN, Penerbitan Dokumen V-Legal secara elektronik,
menggunakan barcode sehingga mudah dan efisien, tidak ada pemalsuan serta
tidak perlu kirim dokumen fisik ke KLHK. Ia juga memproyeksikan perekonomian
global stabil pada 2020 sehingga mendorong ekspor kayu olahan.

Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul "Ekspor Kayu Olahan Indonesia
Sepanjang 2019 Turun 4%"
Penulis: Ridho Syukra
Read more at: https://investor.id/business/ekspor-kayu-olahan-indonesia-
sepanjang-2019-turun-4