Anda di halaman 1dari 17

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU


LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161

BAB IV
THEODOLITE I

IV. 1. Tujuan Percobaan


a. Untuk mengenal alat ukur Theodolite.
b. Untuk mengetahui cara menyetel dan cara mengoperasikan alat ukur
Theodolite.
c. Membaca sudut (biasa, luar biasa,dan azimuth) dan baak ukur.

IV. 2. Alat – Alat Percobaan


a. 1 unit Theodolite SOKKIA DIGITAL DT-40
b. 1 unit Statif
c. 1 unit Baak ukur
d. 1 unit Meteran
e. 5 unit Jalon
f. Payung
g. Unting-unting
h. 4 unit Helm

IV. 3. Teori
a. Menyetel Theodolite
Untuk melakukan suatu pengukuran, langkah pertama yang harus dilakukan
adalah menyetel Theodolite sampai kondisi siap digunakan untuk suatu
pengukuran.
Theodolite siap digunakan untuk suatu pengukuran harus memenuhi syarat
sebagai berikut :
a. Sumbu ( I ) harus vertikal
b. Sumbu ( II ) harus horizontal
c. Garis bidik harus tegak lurus sumbu II
d. Kesalahan indeks vertikal = 0
Membuat sumbu I vertikal dan sumbu II horizontal dilakukan dengan
pendekatan menggunakan Nivo Kotak dan Nivo tabung dengan tiga ( III ).
Penyetel yaitu penyetel A, B dan C. (lihat Gambar IV.I)
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU
LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161

Gambar IV. 1. Nivo Kotak

1. Langkah pertama, diatur Nivo kotak, misalnya gelembung


Nivo kotak pada posisi I (lihat Gambar IV.I). Putar penyetel A dan B secara
bersamaan ke dalam maupun keluar hingga gelembung Nivo kotak pada posisi
II (kalau di titik garis dari pusat lingkaran tengah Nivo) kotak gelembung
Nivo dan dipotongkan dengan garis yang menghubungkan penyetel A dan B,
maka terbentuk sudut 90º kemudian gelembung dimasukkan ke tengah
lingkaran Nivo kotak dengan pemutar penyetel C saja.
2. Langkah kedua, untuk memperhalus posisi Nivo kotak,
dibantu dengan Nivo tabung. Nivo tabung untuk segala arah harus seimbang.
Untuk menyetel Nivo tabung digunakan penyetel A, B dan C seperti pada
Nivo kotak.
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU
LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161

Gambar IV. 2. Nivo Tabung


Nivo tabung diatur hingga posisinya seperti posisi I (lihat Gambar IV.1.),
dimana kalau ditarik garis poros nivo tabung sejajar dengan garis yang menghubungkan
penyetel A dan B, kemudian gelombang nivo tabung diseimbangkan dengan memutar
penyetel A dan B secara bersamaan kedalam dan keluar. Kemudian nivo tabung dibuat
pada garis posisi dengan memutar Theodolite 180º. Bila nivo tabung tidak seimbang,
maka keseimbangan seperti pada posisi I.
Nivo tabung dibuat pada posisi III dengan memutar Theodolite 90º, sehingga
garis poros nivo tabung tegak lurus dengan garis penyetel A dan B. Kemudian gelombang
nivo tabung diseimbangkan dengan memutar penyetel C saja. Putar Theodolite dengan
sembarang, apakah nivo tabung sudah seimbang ke segala arah, kalau seimbang berarti
sumbu I sudah vertikal dan sumbu II sudah horizontal. Tetapi kalau belum, ulang lagi
menyetel mulai dari asal dan kalau beberapa kali belum juga seimbang, konsultasikan
dengan asisten praktikum.

b. Garis Bidik Tegak Lurus Sumbu II


Keadaan ini dapat diketahui dengan pembacaan sudut horizontal secara luar
biasa (LB) dan biasa (B). Keadaan biasa pada Theodolite SOKKIA DIGITAL
DT40 adalah pembacaan sudut dimulai dengan luar biasa dengan 180º.

Gambar IV. 3. Gambar Garis Bidik


TP = garis bidik
H = Helling (kesalahan terhadap sudut horizontal)
P = proyeksi P yang benar pada bidang horizontal
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU
LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161

Garis bidik membentuk sudut (90º − β) dengan sumbu II besar didapat dari :

KP χ P χ T th β tg β
t g ( β+δ )= = = =
KT KT KT cos h
tg β
tg ( β+δ ) =
cos h

β dan δ adalah sudut dari sudut kecil


β β
β dan δ= atau δ= −β
cos h cos h
1
2sin2 h tg h
δ=β
1-cos h
(
cos h )
=β (
sin h
2
)
δ=β tg h tg 1 2 h
Bila h=30 °→δ=0. 15

c. Pelaksanaan Pengaturan Theodolite


1 Dirikan Theodolite sebaik-baiknya, kemudian atur sumbu I dan sumbu II.
Arahkan teropong (ada suatu titik P, lazimnya titik dibuat pada kertas dan
ditempel pada tembok).
2 Bacalah pada piringan horizontal (B)
3 Kemudian putar teropong menjadi keadaan luar biasa (LB) arahkan lagi
teropong pada titik P, baca piringan (LB). Carilah harga, berikan koreksi
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU
LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161

ini pada pembacaan terakhir dengan memutar sekrup gerak halus (mikro)
arah horizontal sampai pembacaan terkoreksi sambil mata P melihat ke
loup pembacaan. Akibatnya benang silang bergeser sedikit ke samping,
kembalikan benang silang ini ke P dengan memutar sekrup diafragma.
Sebagai tindak penelitian, arahkah ke titik P atau titik lain dan baca lagi
piringan horizontal seperti diterangkan di atas. Ulangi pekerjaan di atas
hingga hilang atau relatif sangat kecil.
4 Menghilangkan kesalahan indeks vertikal.
Kesalahan indeks vertikal penting diperhatikan, karena berpengaruh pada
pembacaan sudut vertikal atau sudut miringnya. Bila sudut miring atau
Helling salah, maka optik dan benda tinggi akan mengalami kesalahan.
Pada kedudukan teropong benar-benar horizontal dan nivo Alhidode
vertikal seimbang harus terbaca pada piringan vertikal 0º/90º/180º/270º/
tergantung dari sistem pembagian skala pada piringan vertikal yang dibuat
oleh pabrik alat ukur tersebut.
Bila pembacaan tidak demikian, berarti kesalahan indeks atau salah
tunjuk. Hal ini terjadi karena belum diatur nivo Alhidode vertikal macam
sistim piringan horizontal.
a. 4 x 90º
b. 2 x 180º
c. 1 x 360º

(a) (b) (c)

Gambar IV. 4. Macam Sistem Piringan Horizontal


PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU
LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161

Mencari besarnya kesalahan indeks – vertikal (P) teropong diarahkan ke P


dengan Helling (h).
Pembacaan biasa : B
Pembacaan luar biasa : LB

B =h-p LB =h+p
LB =h+p B =h-p
B + LB = 2h LB – B = 2p
B+LB LB- B
h = p =
2 2

Biasa (B) dan luar biasa (LB) hanya rata-rata dari dua pembacaan diametrial :

B = 90° + h - p
LB = 270° - h - p
LB + B = 360° - 2p
2p = 360° - (LB + B)
( LB+B )
p =180∘ −
2

Gambar IV. 5. Pembacaan 1 x 360º

B = 0° + h - p
LB = 90° - h - p
LB + B = 90° -2p
2p = 90° - (LB + B)
( LB+ B )
p =45∘−
2

Gambar IV. 6. Pembacaan 4 x 90º


PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU
LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161

B = 0° + h - p
LB = 180° - h - p
LB + B = 180° - 2p
2p = 180° - (LB + B)
( LB+ B )
p =90∘−
2

Gambar IV. 7. Pembacaan 4 x 90

d. Pelaksanaan mencari P
1. Arahkan teropong ke P alhidode biasa, nivo alhidode vertical
diseimbangkan dibaca pada lingkaran vertikal B.
2. Kemudian berikan kedudukan luar biasa, arahkan ke P nivo diseimbangkan
terbaca LB.
3. Lakukan hal di atas terhadap beberapa titik dengan Helling yang berbeda-
beda.
4. Cari harga P rata-ratanya.
5. Ini dikoreksikan dengan tanda yang berlawanan.
a. Kesalahan ± p
b. Korelasi ± p

Cara memberikan koreksi terhadap alat ukur :


Ada kemungkinan
1. Theodolite dengan nivo alhidode vertikal.
Besarnya korelasi p ditambahkan kepada pembacaan terakhir LB dengan memutar
sekrup mikro alhidode vertical sambil mata melihat pembacaan, akibatnya nivo
alhidode vertikal bergeser, kemudian diseimbangkan kembali dengan memutar
sekrup koreksi nivo.
2. Theodolite tanpa nivo alhidode vertikal.
Koreksi diberikan dengan memutar sekrup gerak vertikal sambil mata melihat ke
pembacaan akibatnya garis bidiknya menjadi bergeser dari arah titik, kemudian
dikembalikan lagi ke titik tersebut dengan memutar sekrup koreksi diafragma arah
vertikal.
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU
LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161

Dengan demikian alat sudah dalam keadaan siap digunakan untuk suatu pengukuran.
e. Membaca Baak Ukur

Keterangan :

Ba = benang atas
Bt = benang tengah
Bb = benang bawah

Gambar IV. 8. Keadaan Garis Bidik Pada Teropong

Ba =1.287
Bt =1.254
Bb =1.221

Gambar IV. 9. Garis Bidik Diarahkan Pada Baak Ukur

Ba +Bb
Bt=
Syarat 2
Membaca sudut :
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU
LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161

Setelah selesai pembacaan baak ukur dan sudut vertikal, maka dapat dihitung jarak
optis

Gambar IV. 10. Hasil Perhitungan Doptis

Keterangan:

H = Perbedaan Tinggi
Ba = Benang Atas
Bt = Benang Tengah
Bb = Benang Bawah
Ti = Tinggi Alat
D = Jarak Optis

D
optis = d'cos h
= (Ba – Bb)×100 × cos h × cos h
= (Ba – Bb)×100 × cos2 h
t = Beda tinggi AB = ti + y - Bt
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU
LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161

IV. 4. Prosedur Percobaan


1. Tentukan lokasi.
2. Berdirikan statif, usahakan kepala statif sedemikian rata dan kunci statif.
3. Klem Theodolite pada statif.
4. Atur sumbu I vertikal dan sumbu II horizontal.
5. Buat 5 titik bidang dengan mendirikan jalon.
6. Arahkan teropong ke titik tinjau 1, lakukan pembacaan sudut cara biasa dan
cara luar biasa untuk sudut horizontal dan vertikal (sudut sembarang).
7. Kontrol pembacaan sudut titik 1 dengan rumus, kalau memenuhi syarat
lanjutkan ke titik 2 sampai titik terakhir.
8. Atur Theodolite sehingga pembacaan sudut horizontal menjadi sudut azimuth.
Lakukan lagi pembacaan sudut dari titik 1 sampai 5, secara biasa dan luar
biasa untuk sudut vertikal dan horizontal.
9. Berdirikan baak ukur secara tegak lurus. Lakukan pembacaan baak ukur dan
sudut vertikal dan hitung jarak optis.
10. Hitung jarak pegas, bandingkan dengan jarak optis.
11. Bongkar Theodolite dari statif dengan hati-hati dan masukkan ke kotak
dengan rapi dan pas.
12. Asistensikan data.
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU
LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161

IV. 5. Analisa Data


A. Menghitung besar sudut dalam dari hasil pengukuran di lapangan.
1. Pembacaan sudut sembarang cara biasa (B) :
α2-1 = 312⁰55‵30″ - 278⁰54‵55″ = 34⁰00‵35″
α3-2 = (10⁰34‵35″ - 312⁰55‵30″) + 360⁰ = 57⁰39‵05″
α4-3 = 45⁰56‵25″ - 10⁰34‵35″ = 35⁰21‵50″
α5-4 = 76⁰40‵25″ - 45⁰56‵25″ = 30⁰44‵00″
α1-5 = 278⁰54‵55″ - 76⁰40‵25″ = 202⁰14‵30″
+
Ʃ = 360⁰00‵00″
Sesatan = 000⁰00‵00″

2. Untuk sudut sembarang cara luar biasa :


α2-1 = 132⁰51‵05″ - 98⁰47‵40″ = 34⁰03‵25″
α3-2 = 190⁰32‵55″ - 132⁰51‵05″ = 57⁰41‵50″
α4-3 = 225⁰57‵10″ - 190⁰32‵55″ = 35⁰24‵15″
α5-4 = 256⁰31‵50″ - 225⁰57‵10″ = 30⁰34‵40″
α1-5 = (98⁰47‵40″ - 256⁰31‵50″ = 202⁰15‵50″
+
Ʃ = 360⁰00‵00″
Sesatan = 000⁰00‵00″

3. Menghitung rata-rata besar sudut dalam untuk pengukuran sudut


sembarang :
α2-1 = ½ ( 34⁰00‵35″ - 34⁰03‵25″) = 34⁰02‵00″
α3-2 = ½ ( 57⁰39‵05″ - 57⁰41‵50″) = 57,5⁰10‵27,5″
α4-3 = ½ ( 35⁰21‵50″ - 35⁰24‵15″) = 35⁰23‵2,5″
α5-4 = ½ ( 30⁰44‵00″ - 30⁰34‵40″) = 30,5⁰09‵20″
α1-5 = ½ (202⁰14‵30″ - 202⁰15‵50″) = 202⁰15‵50″
+
Ʃ = 360⁰00‵00″
Sesatan = 000⁰00‵00″
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU
LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161

B. Menghitung besar sudut Azimuth dari hasil pengukuran di lapangan :


1. Untuk sudut Azimuth cara biasa (B) :
α2-1 = 311⁰14‵40″ - 277⁰12‵30″ = 34⁰02‵10″
α3-2 = ( 08⁰55‵15″ - 311⁰14‵40″)+ 360⁰= 57⁰40‵35″
α4-3 = 44⁰30‵10″ - 08⁰55‵15″ = 35⁰34‵55″
α5-4 = 75⁰00‵20″ - 44⁰30‵10″ = 30⁰30‵10″
α1-5 = 277⁰12‵30″ - 75⁰00‵20″ = 202⁰12‵10″
+
Ʃ = 360⁰00‵00″
Sesatan = 000⁰00‵00″

2. Untuk sudut Azimuth cara luar biasa :


α2-1 = 131⁰15‵40″ - 97⁰11‵05″ = 34⁰03‵25″
α3-2 = 188⁰54‵45″ - 131⁰15‵40″ = 57⁰41‵50″
α4-3 = 224⁰32‵20″ - 188⁰54‵45″ = 35⁰24‵15″
α5-4 = 255⁰03‵05″ - 224⁰32‵20″ = 30⁰34‵40″
α1-5 = (97⁰11‵05″ - 255⁰03‵05″) + 360⁰ = 202⁰15‵50″
+
Ʃ = 360⁰00‵00″
Sesatan = 000⁰00‵00″

3. Jarak
d = (Ba – Bb) x 100 x cos2h
dA-1 = (133 – 112,2) x 100 x cos2h = 20,8m
dA-2 = (150,6 – 129,4) x 100 x cos2h = 21,2m
dA-3 = (161 – 139) x 100 x cos2h = 23 m
dA-4 = (186,5 – 163,2) x 100 x cos2h = 23,3m
2
dA-5 = (163,7 – 141) x 100 x cos h = 22,7m
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU
LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161

C. Kontrol perhitungan sudut cara biasa dan luar biasa :


a. Meneliti garis bidik tegak lurus sumbu 1 untuk sudut sembarang dengan
rumus :
⸹ = ½ (B – LB) ± 90⁰ = 0⁰00‵00″
1. Titik 1 = ⸹ = ½ (278⁰54‵55″ - 98⁰47‵40″) ± 90⁰ = 0⁰03’37,5″
2. Titik 2 = ⸹ = ½ (312⁰55‵30″ - 132⁰51‵05″) ± 90⁰ = 0⁰02‵12,5″
3. Titik 3 = ⸹ = ½ ( 10⁰34‵35″ - 190⁰32‵55″) ± 90⁰ = 0⁰00‵50″
4. Titik 4 = ⸹ = ½ ( 45⁰56‵25″ - 225⁰57‵10″) ± 90⁰ = 0⁰00‵22,5″
5. Titik 5 = ⸹ = ½ ( 76⁰40‵25″ - 256⁰31‵50″) ± 90⁰ = 0⁰04‵17,5″
+
Ʃ⸹ = 0⁰11‵20″

b. Meneliti indeks vertical untuk sudut sembarang dengan rumus :


p = 180 - ½ (B – LB) = 000⁰00‵00″
1. Titik 1 = p1 = 180⁰ - ½ (90⁰00‵00″ - 270⁰00‵00″) = 0⁰00‵00″
2. Titik 2 = p2 = 180⁰ - ½ (90⁰00‵00″ - 270⁰00‵00″) = 0⁰00‵00″
3. Titik 3 = p3 = 180⁰ - ½ (90⁰00‵00″ - 270⁰00‵00″) = 0⁰00‵00″
4. Titik 4 = p4 = 180⁰ - ½ (90⁰00‵00″ - 270⁰00‵00″) = 0⁰00‵00″
5. Titik 5 = p5 = 180⁰ - ½ (90⁰00‵00″ - 270⁰00‵00″) = 0⁰00‵00″

+
Ʃ⸹ = 0⁰00‵00″

c. Meneliti garis bidik tegak lurus sumbu 1 untuk sudut azimuth dengan
rumus :
⸹ = ½ (B – LB) ± 90⁰ = 0⁰00‵00″
1. Titik 1 = ⸹ = ½ (277⁰12‵30″ - 97⁰11‵05″) ± 90⁰ = 0⁰0042,5″
2. Titik 2 = ⸹ = ½ (311⁰14‵40″ - 131⁰15‵40″) ± 90⁰ = 0⁰00‵30″
3. Titik 3 = ⸹ = ½ ( 08⁰55‵15″ - 188⁰54‵45″) ± 90⁰ = 0⁰00‵15″
4. Titik 4 = ⸹ = ½ ( 44⁰30‵10″ - 224⁰32‵20″ ± 90⁰ = 0⁰01‵05″
5. Titik 5 = ⸹ = ½ ( 75⁰00‵20″ - 255⁰03‵05″) ± 90⁰ = 0⁰1‵22,5″
+
Ʃ⸹ = 0⁰03‵55″
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU
LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161

IV. 6. Kesimpulan
Dari analisa data diperoleh:
1. Dari cara biasa:
a. Pembacaan sudut sembarang
∑ = 360°00'00″
Sesatan = 000°00'00″
b. Pembacaan sudut azimuth
∑ = 360°00'00″
Sesatan = 000°00'00″

2. Untuk luar biasa:


a. Sudut sembarang
∑ = 360°00'00″
Sesatan = 000°00'00″
b. Sudut azimuth
∑ = 360°00'00″
Sesatan = 000°00'00″

Pada saat pengamatan dilapangan dapat terjadi kesalahan, diantaranya sebagai


berikut :
a) Faktor Manusia : Kurang teliti dalam pembacaan baak ukur dan sudut.
b) Faktor Alat : Kurang tepat dalam penyetelan alat, serta perletakan
baak ukur tidak tegak lurus pada saat percobaan.
c) Faktor Alam : Kondisi geografis dan cuaca.

IV. 7. Saran
1. Diharapkan kepada setiap praktikan agar menguasai materi sebelum
melakukan percobaan.
2. Diharapkan kepada setiap praktikan agar lebih serius dalam melakukan
praktikum agar mendapatkan hasil yang lebih maksimal.
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU
LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161

Daftar Pustaka
Ir. Charles Sitindaon, MT. Modul Praktikum Ilmu Ukur Tanah, 2005.
Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah Tahun 2014.
Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah Tahun 2015.
Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah Tahun 2016.
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU
LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161

KERTAS DATA

Judul Praktikum : Theodolite I Lokasi : Lapangan Reformasi


Hari/Tanggal : Rabu, 8 Mei 2019 Dilaksanakan : Kel.IV/Gel.2

No Pemb.
Tpt Pemb. Sdt.H Pemb.Baak Ukur Jarak (m)
Titi Sdt.V
Pswt
k B LB B LB Ba Bt Bb Peg Op
278⁰54‵55″ 98⁰47‵40″ 90 270 122, 112, 20, 20,
1 133
° ° 6 2 8 8
312⁰55‵30″ 132⁰51‵05″ 90 270 150, 129, 21, 21,
A 2 140
° ° 6 4 2 2
10⁰34‵35″ 190⁰32‵55″ 90 270 149,
(1,52 m) 3 161 139 23 23
° ° 5
45⁰56‵25″ 225⁰57‵10″ 90 270 186, 174, 163, 23, 23,
4
° ° 5 8 2 3 3
76⁰40‵25″ 256⁰31‵50″ 90 270 163, 152, 22, 22,
5 141
° ° 7 3 7 7
Azimuth
1 277⁰12‵30″ 97⁰11‵05″
A 2 311⁰14‵40″ 311⁰14‵40″
(1,52 08⁰55‵15″ 188⁰54‵45″
3
m)
4 44⁰30‵10″ 224⁰32‵20″
5 75⁰00‵20″ 255⁰03‵05″

Disetujui Oleh :
No. Nama NIM T. Tangan
1. Felix A. K. Purba 170310010  
2. Iwan Joharlen Sibuea 170310013  
3. Klinton Munthe 170310038  
4. Bernardus Y. Tafona’o 170310040
( Perdika Ginting )
Asisten Lab.
IUT
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK ST. THOMAS, MEDAN SU
LABORATORIUM ILMU UKUR TANAH
Jl. Setia Budi No. 479-F Tanjung Sari Medan Telp. (061) 810161