Anda di halaman 1dari 4

Karakteristik Masyarakat Muslim

Agama Islam yang telah dianut oleh lebih dari satu milyar umat tentunya memilikinya dasar pondasi
yang membedakannya dengan agama-agama lainnya. Islam telah membentuk masyarakat yang kuat
dalam tatanan yang teratur yang memiliki ciri khas. Masyarakat islam memiliki kekhasan dalam tata
kehidupan dan tradisi. Seluruh tatanan ajaran islam diwarnai oleh nilai nilai aqidah. Seorang muslim
memiliki tuntunan dalam mealkukan berbagai hal, seperti bagaimana makan dan minum, adab
memasuki rumah, cara berpakaian, bagaimana bepergian dan bermukim, hubungan antara alki-laki dan
perempuan, sampai posisi tidur yang baik. Banyak aturan dan tuntunan dalam melakukan sesuatu dalam
islam tidak menjadikan seorang muslim merasa terberatkan, bahkan banyak non-muslim yang akhirnya
memeluk islam dikarenakan tata cara dan adab hidup yang diajarkan pada agama islam ternyata
memiliki dampak kesehatan yang baik dan keteraturan yang menyejukkan.

Beberapa karakteristik masyarakat Islam, antara lain:

1. Masyarakat yang ber-Tauhid

Tauhid atau ber-Tuhan dengan Tuhan yang satu yaitu Allah Yang Maha Esa. Dasar ketauhidan ini tidak
mengurangi toleransi, kebebasan yang diberikan oleh Islam kepada individu dalam beragama.

2. Masyarakat yang terbuka dengan kesatuan

Dalam Islam, seorang muslim dilarang untuk menghalangi agama lain untuk menjalankan ibadahnya.
Kita diwajibkan menjalankan dakwah dengan jalan yang damai. Hal ini yang menyebabkan masyarakat
Islam memiliki tingkat toleransi dan semangat persatuan yang tinggi.

3. Masyarakat yang Terpadu, Integratif, dan Bersatu

Konsep ini sebenarnya sudah terlihat dengan berkembangnya beberapa pesantren modern saat ini.
Dimana sistem dari sekolah agama tersebut memiliki integritas dan keterpaduan yang baik. Dengan
begitu, pembinaan akan semakin modern dan mengikuti dengan zaman.

4. Masyarakat yang berkeadilan.

Aturan-aturan dalam Islam telah mengatur banyak hal mengenai Hukumhukum yang berlaku di
masyarakat muslim. Dengan menerapkan hukumhukum Islam dengan pengertian dan kajian yang
mendalam tentnag itu, maka keadilan akan datang kepada masyrakat itu sendiri. Islam juga tidak
mengenal adanya rasisme, kastaisme, sukuisme, dan dinastiisme yang dapat menyebabkan perpecahan.
Dalam Islam semua orang adalah sama, yang membedakan hanylah taqwa yang hanya dapat dinilai oleh
Allah SWT.

5. Masyarakat dengan Persahabatan yang kuat

Dalam Islam, persaudaraan sesama muslim menjadi suatu hal yang sangat kuat. Kita disatukan oleh tali
agama yang saling menyambung satu sama lain. Bahkan dalam hadist dikatakan bahwa persaudaraan
seorang muslim bagaikan satu tubuh, ketika da salah satu teman kita yang sakit, maka semua ikut
merasaannya. Sebagaiman jika terdapat salah satu organ tubuh yang sakit, maka satu tubuh yang ikut
merasakannya juga.

Kesimpulan
Masyarakat muslim memiliki keunikan dalam tata kehidupan dan tradisi yang diwarnai oleh nilai-nilai
aqidah. Segala kegiatan seorang muslim telah diatur dalam Al-Qur’an dan Hadist sehingga kehidupan
seorang muslim akan lebih teratur dan bermakna.

hukum dalam masyarakat islam dan lembaga ekonomi islam

Hudûd

hudûd secara bahasa berarti sesuatu yang membatasi di antara dua hal. Secara syar‘î, hudûd berarti
sanksi atas maksiat yang telah ditetapkan oleh syariat dan menjadi hak Allah. Hudûd berguna untuk
mencegah pelakunya dari kemaksiatan serupa. Jenis-jenis maksiat yang terkena hudûd adalah zina,
homoseksual(LGBT) / liwâth, qadzaf/menuduh berzina tanpa didukung 4 orang saksi, minum khamar,
murtad yang tidak mau kembali masuk Islam, membegal/hirâbah, memberontak terhadap
Negara/bughât, mencuri

Jinâyât

Jinâyât adalah penganiayaan atau penyerangan atas badan yang mewajibkan adanya qishâsh (balasan
setimpal) atau diyât (denda) yang mencakup penganiayaan terhadap jiwa dan anggota tubuh. Jenis-
jenisnya adalah pembunuhan/penganiayaan yang berakhir dengan pembunuhan dan penganiayaan
tanpa pembunuhan. Qishâsh diberlakukan jika dilakukan dengan sengaja, sementara denda (diyât)
diberlakukan jika penganiayaan dilakukan tidak dengan sengaja atau jika tindakan itu kemudian
dimaafkan korban. Qishâsh ataupun diyât tidak diberlakukan jika korban tidak menuntutnya.

Ta‘zîr

Ta’zîr secara bahasa artinya pencegahan (al-man‘u). Secara istilah ta’zîr adalah hukuman edukatif
(ta‘dîb) dengan maksud menakut-nakuti (tankîf). Sedangkan secara syar‘î, ta’zîr bermakna sanksi yang
yang dijatuhkan atas kemaksiatan yang di dalamnya tidak ada had dan kafârat. Kasus ta‘zîr secara umum
terbagi menjadi pelanggaran terhadap kehormatan, pelanggaran terhadap kemuliaan, perbuatan yang
merusak akal, pelanggaran terhadap harta, gangguan keamanan, subversi, dan pelanggaran yang
berhubungan dengan agama.

Mukhâlafât

Mukhalafat adalah pelanggaran terhadap aturan yang telah ditetapkan negara. Syariat telah
memberikan hak kepada Khalifah untuk memerintah dan melarang warganya, menetapkan pelanggaran
terhadapnya sebagai kemaksiatan, serta menjatuhkan sanksi atas para pelanggarnya.

Lembaga ekonomi islam

lembaga ekonomi islam adalah intrumen yang berfungsi sebagai pengatur ekonomi masyarakat islam
dan berfungsi sebagai pedoman, pegangan, dan penjaga keutuhan dalam sisi ekonomi. macam-
macamnya adalah

1. Ziswaf
ziswaf merupakan pembayaran atau pemberian sebagian harta. ziswaf terdiri dari zakat, infak,
shadaqah, dan waqaf

2. Bank Perkreditan Rakyat Syariah

BPR adalah lembaga yang menerima simpanan uang dalam bentuk deposito berjangka tabungan. BPR
syariah merupakan BPR yang menggunakan prinsip syariah.

3. Bank Syariah

cara beroperasi bank syariah sama dengan bank konvensional biasa, perbedaannya adalah masalah
bunga dan praktik lain yang haram tidak dilakukan. bank syariah tidak memakai bunga tetapi terdapat
beban tetap yang konsep dan perhitungannya berbeda.

4. asuransi syariah

asuransi syariah adalah usaha saling menolong melalui investasi melalui akad syariah.

5. pegadaian syariah

Pegadaian syariah menggunakan 2 akad transaksi syariah yaitu akad rahn (suatu barang berharga
menjadi jaminan) dan akad ijarah (suatu benda dijadikan sewa untuk membayar hutang)

6. BMT (Baitul Mal Tamwil)

berasal dari kata baitul mal (usaha pengumpulan / penyaluran dana non profit) dan baitul
tamwil(pengumpulan/penyalurab dana komersial). Merupakan lembaga keuangan mikro yang
menggunakan prinsip bagi hasil untuk membantu kaum fakir miskin dengan bisnis usaha mikro.

Pembentukan Masyarakat Muslim

1. Pengertian Masyarakat Islam

Manusia adalah makhluk sosial yang hidup dalam kebersamaan, sejak kelahirannya tidak pernah hidup
sendiri, tetapi selalu dalam suatu lingkungan keluarga dan masyarakat dimana terjadi hubungan timbal
balik yang saling membutuhkan dan melengkapi satu sama lain. Masyarakat adalah kumpulan sekian
banyak individu kecil atau besar yang terkait oleh satuan adat, ritus, atau hukum khas dan hidup
bersama untuk mencapai tujuan. Sayyid Quthub berpendapat, bahwa Islam hanya mengenal dua bentuk
masyarakat, yaitu masyarakat islam dan masyarakat jahil. Masyarakat islam adalah masyarakat yang
mengaplikasikan baik dalam aqidah, ibadah, syari’ah, perundang-undangan, moral dan segala tingkah
laku serta mereka tidak disebut masyarakat islam walaupun melaksanakan sholat, puasa, maupun haji
sementara syari’at islam tidak dijadikan perundang-undangan ditengah-tengah masyarakatnya dan tidak
menetapkan segala ketetapan Allah SWT dan Rasul-Nya. Sedangkan masyarakat jahil adalah segala
bentuk masyarakat.
2. Perkembangan Masyarakat Islam

Konsep Societes Civilis sebenernya pertama kali dipopulerkan oleh Cicero di Eropa pada abad ke XVIII.
Selanjutnya, istilah ini terbagi menjadi dua, yaitu the states dan civil society. Pelopor dari perubahan ini
adalah Adam Ferguson, Johan Ster, Tom Hodgkings, Emanuel Sieyes, Tom Paine, JS Mills dan Alexis de
Tocquville.1 Adam Ferguson, melalui karyanya yang berjudul An Essay on History of Civil Society yang
kemudian dikembangkan lagi oleh Karl Max. Namun perbedaannya adalah Ferguson lebih melandaskan
pikirannya pada filsafat Yunani Kuno terutama dari Plato dan Socrates, sedangkan Karl Max sepenuhnya
meletakkan falsafah pada pencerahan secara tertutup dan mengabaikan unsur-unsur di luar rasionalitas
yang bersifat transcendental baik tradisi maupun agama. Pemikiran ini kemudian dilanjutkan oleh
Antonio Gramci yang menyebabkan terjadinya polarisasi antara aliran civil society, dimana ilmuan sosial
liberal (yang mengacu pada pemikiran Tocqueveille) dan ilmuan sosialis (yang mengacu pada pemikiran
Hegel, Karl Max, Gramci).2

Namun sejak tahun 1990-an terjadi pergeseran diskursus terhadap masyarakat sipil (civil society).
Perdebatan mengenai peran masyarakat sipil (civil society) sudah semakin meluas, dan pandangan
tentang perlunya memperkuat masyarakat sipil sudah semakin meluas, antara mereka yang masih teguh
untuk menggunakan penguatan masyarakat sipil secara Gramcian, yakni sebagai sebagai gerakan
pemikiran kritis dan resistensi terhadap hegemoni negara model kapitalis. Pada saat yang sama, juga
terdapat fenomena semakin kuatnya paham penguatan masyarakat sipil (civil society) yang berpijak
pada paham liberalisme, yakni menuntut kebebasan masyarakat, debirokratisasi dan deregulasi dari
negara, termasuk deregulasi ekonomi menuju pasar bebas. Pada saat yang sama pula muncul juga
gerakan resistensi masyarakat sipil yakni masyarakat adat, untuk menuntut hak – hak mereka terhadap
sumber alami dan hak berbudaya. Dalam rangka menanamkan komitmen dengan tingkat kesejatian
yang tinggi itu, kita perlu menengok dan “mengangsu” kepada khasanah budaya kita, dalam hal ini
budaya keagamaan islam.

Bukanlah suatu kebetulan bahwa wujud nyata masyarakat madani itu untuk pertama kalinya dalam
sejarah umat manusia merupakan hasil usaha utusan Tuhan untuk akhir zaman, Nabi Muhammad,
Rasulullah SAW. Sesampai di kota hijrah yaitu Yatsrib (Yunani: Yethroba), beliau ganti nama kota itu
Madinah. Dengan tindakan itu, Nabi Muhammad SAW telah merintis