Anda di halaman 1dari 82

PENGARUH TATA KELOLA PERUSAHAAN (CORPORATE

GOVERNANCE) DAN KINERJA LINGKUNGAN TERHADAP


KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN
(STUDI KASUS PERUSAHAAN-PERUSAHAAN DI
INDONESIA PERIODE 2013-2018)
THE EFFECT OF CORPORATE GOVERNANCE AND ENVIRONMENT
PERFORMANCE ON COMPANY FINANCIAL PERFORMANCE (CASE STUDY
OF COMPANIES IN INDONESIA, 2013-2018

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh:
JENNYTA FITRA
Nomor BP: 1710003510954

PROGRAM STUDI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS EKASAKTI
PADANG
2020
HALAMAN PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING SKRIPSI

JUDUL : PENGARUH TATA KELOLA PERUSAHAAN


(CORPORATE GOVERNANCE) DAN KINERJA
LINGKUNGAN TERHADAP KINERJA
KEUANGAN PERUSAHAAN (STUDI KASUS
PERUSAHAAN-PERUSAHAAN DI INDONESIA
PERIODE 2013-2018)

NAMA : JENNYTA FITRA


NOMOR BP : 1710003510954
FAKULTAS : EKONOMI
PROGRAM STUDI : AKUNTANSI
SK PEMBIMBING : 008/FE-UNES/BS-A/AKMEN/X/2019
TANGGAL : Padang,

Disetujui oleh:
Komisi pembimbing,

RINA ASMERI, SE., M.Si NOVA BEGAWATI, S.E, MM


Pembimbing I Pembimbing II

Mengetahui :
Ketua Program Studi

RINA ASMERI, S.E, M.Si


Hari / Tanggal Seminar Proposal :
HALAMAN PERSETUJUAN KOMISI PENGUJI PROPOSAL

JUDUL : PENGARUH TATA KELOLA PERUSAHAAN


(CORPORATE GOVERNANCE) DAN KINERJA
LINGKUNGAN TERHADAP KINERJA
KEUANGAN PERUSAHAAN (STUDI KASUS
PERUSAHAAN-PERUSAHAAN DI INDONESIA
PERIODE 2013-2018)

NAMA : JENNYTA FITRA


NOMOR BP : 1710003510954
FAKULTAS : EKONOMI
PROGRAM STUDI : AKUNTANSI
SK PENGUJI :
TANGGAL :

Disetujui oleh:
Komisi penguji,
Ketua Tim Penguji : (...................)

Sekretaris Tim Penguji : (...................)

Anggota Tim Penguji : (....................)

Mengetahui :
Ketua Program Studi

RINA ASMERI, S.E, M.Si


Hari / Tanggal Seminar Proposal :
DAFTAR ISI

Halaman

Halaman judul .......................................................................................................... i

Halaman Persetujuan Komisi Pembimbing ............................................................ ii

Halaman Persetujuan Komisi Penguji Proposal. ................................................... iii

Daftar Isi.................................................................................................................iv

Daftar Tabel. ........................................................................................................... v

Daftar Gambar ........................................................................................................ vi

BAB I PENDAHULUAN. ...................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang .......................................................................................... 1

1.2. Rumusan Masalah. .................................................................................... 7

1.3. Tujuan Penelitian. ..................................................................................... 8

1.4. Manfaat Penelitian .................................................................................. ..9

1.5. Sistematika Pembahasan ......................................................................... 10

1.6. Time Schedule dan Biaya Penelitian. ...................................................... 12

BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................... 14

2.1. Teori Keagenan ....................................................................................... 13

2.2. Teori Legitimasi… .................................................................................. 18

2.3. Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) .................................. 21

2.4. Kinerja Lingkungan. ............................................................................... 28

2.5. Kinerja Keuangan ....................................................................................35

iv
2.6. Penelitian Terdahulu. .............................................................................. 40

2.7. Kerangka Pemikiran.................................................................................48

2.8. Hipotesis Penelitian ................................................................................ 48

BAB III METODE PENELITIAN .........................................................................51

3.1. Gambaran Umum Objek Penelitian… .................................................... 51

3.2. Metode Pengumpulan Data. .................................................................... 51

3.3. Teknik Pengumpulan Data. ..................................................................... 52

3.4. Jenis dan Sumber Data. ........................................................................... 52

3.5. Populasi dan Sampel. .............................................................................. 53

3.6. Variable Penelitian ...................................................................................61

3.7. Uji Asumsi Klasik. .................................................................................. 65

3.8. Metode Analisis Data. ............................................................................. 67

3.9. Metode Pengujian Hipotesis. .................................................................. 69

DAFTAR PUSTAKA

v
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Time Schedule............................................................................12

Tabel 2.1 Kriteria PROPER ...................................................................... 33

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu ..................................................................40

Tabel 3.1 Daftar Perusahaan Indonesia Peringkat CGPI 2013-2018 ........ 53

Tabel 3.2 Jumlah Sampel Penelitian. ........................................................ 59

Tabel 3.3 Sampel Penelitian ......................................................................60

Tabel 3.4 Variable Penelitian .................................................................... 62

Tabel 3.5 Tahapan dan Bobot Penilaian Riset dan Pemeringkatan CGPI 63

Tabel 3.6 Kategori Pemeringkatan CGPI ................................................. 64

Tabel 3.6 Kategori Pemeringkatan PROPER ........................................... 65

vi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran .............................................................. 47


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kasus Enron WorldCom yang terjadi pada awal abad ke-21 memang

menggemparkan dunia, kedua perusahaan besar Amerika Serikat ini terbukti

telah melakuan fraud dalam laporan keuangan, tidak hanya mengakibatkan

sejumlah kerugian besar bagi investor namun juga mempengaruhi perekonomian

negara itu, terkuak juga khasus Toshiba di Jepang yang terbukti telah melakukan

manipulasi laporan keuangan. Di Indonesia juga demikian sebut saja kasus yang

baru saja terjadi yaitu adanya kasus yang terjadi pada perusahaan Online.

Maraknya pemberitaan mengenai Grab yang melaporkan karyawan yang

melakukan internal fraud hingga Rp 1 miliar, penangkapan order fiktif driver

GO-JEK, atau kasus pesanan IPhone di Lazada yang ditukar dengan sabun.

Baru-baru ini pada pertengahan Agustus 2018 hasil audit internal perusahaan

Tokopedia membuktikan beberapa oknum karyawan terbukti melakukan

pelanggaran transaksi terhadap 49 buah produk dari kampanye promosi

Tokopedia. Kasus-kasus ini membuat penggunaan laporan keuangan mau tidak

mau harus meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap praktik Tata Kelola

Perusahaan (Corporate Governance).

Corporate Governance sebenarnya adalah keinginan dan impian dari

semua negara di dunia, begitupun Indonesia yaitu pemerintahan dengan ciri-ciri

tata kelola pemerintahan yang sesuai dan baik, seperti pemerintahan yang

1
2

efektif, efisien, transparan, akuntabel dan bertanggung jawab. Artinya, harapan

penyelenggaraan pemerintahan tepat sasaran sesuai dengan rencana strategis

yang telah ditetapkan, berdaya guna dan berhasil guna, terbuka dan dapat

diawasi oleh semua orang, serta bertanggung jawab terhadap segala kebijakan

yang ditetapkan. Sehingga semua aturan tersebut hendaknya mampu

dilaksanakan atau dipenuhi oleh para pejabat sektor publik. Harapan yang sama

untuk perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia.

Beragamnya sudut pandang dalam pemahaman Corporate Governance

namun dalam penerapannya Corporate Governance merupakan upaya untuk

meningkatkan nilai dari berbagai pihak yang berkepentingan yang terlibat dalam

suatu organisasi dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya.

Terlaksananya Corporate Governance dapat membantu berjalannya aktivitas

koorporasi secara baik dan kepentingan para stokholder dapat terpenuhi. Tata

Kelola Perusahaan (Corporate Governance) diartikan sebagai segala upaya

untuk mencari cara-cara terbaik dalam menjalankan perusahaan. Cara yang

dimaksud harus memuat kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan yang bisa

digunakan untuk mengontrol manajemen. Pemerintah sangat berkomitmen untuk

meningkatkan penerapan governance oleh institusi publik maupun koorporasi.

Kontrol manajemen dilakukan dengan jalan pengawasan yang diarahkan pada

perilaku manajer, agar dapat dinilai apakah tindakannya bermanfaat bagi

perusahaan (pemilik) atau bagi manajer sendiri. Hal inilah yang kemudian juga

memunculkan istilah Good Corporate Governance (GCG).


3

Good Corporate Governance (GCG) merupakan bagian dari strategi

untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan (IICG,

2001). Penyelenggaraan fungsi organisasi yang berpedoman pada praktek bisnis

yang sehat berdasarkan kaidah-kaidah manajemen yang baik (good corporate

governance) dalam rangka pemberian layanan yang bermutu dan

berkesinambungan. Konsep Corporate Governance adalah untuk meningkatkan

transparansi dan akuntabilitas dengan tujuan untuk menjamin agar tujuan

tercapai dengan penggunaan sumberdaya se-efisien mungkin dan pelaporan

keuangan sesuai dengan harapan dari perusahaan,

Manajemen tidak cukup hanya memastikan bahwa proses pengelolaan

manajemen berjalan dengan efisien. Perlu adanya pemahaman instrumen baru

yaitu Corporate Governance yang berfungsi untuk memastikan bahwa

manajemen berjalan dengan baik. Corporate Governance dengan sistem yang

mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value

added) untuk semua stakeholder. Corporate Governance dapat diartikan sebagai

konsep pengelolaan perusahaan yang baik. Ada dua hal yang ditekankan dalam

konsep ini. Pertama, pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh

informasi dengan benar (akurat) dan tepat waktunya. Kedua, kewajiban

perusahaan untuk melakukan pengungkapan (disclosure) secara akurat, tepat

waktu dan transparan terhadap semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan

dan stokeholder..

Perusahaan-perusahaan sangat perlu menerapkan konsep Corporate

Governance, yang mana konsep ini dapat dijadikan sebagai standar pengukuran
4

kesesuaian dan peyimpangan dalam pencapaian tujuan organisasi atau

perusahaan. Konsep ini juga dapat digunakan melihat sejauh mana organisasi

atau perusahaan dalam mengelola sumberdaya-sumberdaya yang tersedia dan

dapat diinformasikan, dipertanggung jawabkan dan dapat dipertanyakan

alokasinya kepada para pemangku kepentingan. Disamping itu, melalui konsep

ini pula, dapat dilihat pula sejauh mana organisasi atau perusahaan mampu

memberikan melakukan tata kelolanya sendiri dan tetap pada jalur yang tepat

dalam mencapai tujuan, dengan memperhatikan penyerataan kesempatan yang

ada kepada seluruh bagian organisasi atau perusahaan yang disesuaikan pada

porsi dan kemampuannya masing-masing.

Dengan dasar itu pula, maka dalam penerapan Corporate Governance

yang sesuai dengan budaya Indonesia harus pula mencakup 5 pilar dasar yang

ditetapkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), yaitu TARIF

(Transparency, Accountability, Responsibility, Independency, and Fairness).

Penilaian terhadap Corporate Governance dilakukan oleh IICG atau The

Indonesian Institute for Corporate Governance. IICG merupakan lembaga

nirlaba yang berkomitmen mendorong praktik atau Tata Kelola Perusahaan yang

baik di Indonesia dan mendukung serta membantu perusahaan-perusahaan dalam

menerapkan konsep Tata Kelola (Corporate Governance). Sejak tahun 2001,

IICG terus meningkatkan Program Corporate Governance Perseption Index

(CGPI) yaitu program riset dan pemeringkatan penerapan Corporate

Governance pada perusahaan-perusahaan di Indonesia melalui perancangan riset

dan mendorong perusahaan meningkatkatkan kualitas penerapan konsep good


5

governance dengan melaksanakan evaluasi sebagai upaya perbaikan. Program

ini merupakan apresiasi dan program rutin terhadap upaya perusahaan dalam

memujudkan bisnis yang beretika dan bermartabat. Kepesertaan CGPI bersifat

sukarela dan melibatkan peran aktif perusahaan bersama seluruh stokeholder.

Program ini juga berupaya untuk mendorong dan menuntut perusahaan untuk

melakukan perbaikan atau peningkatan untuk mensukseskan praktik Corporate

Governance dilingkungannya.

Selain Corporate Governance, perusahan juga harus memperhatikan

kinerja lingkungan perusahaan. Kinerja lingkungan adalah kinerja perusahaan

untuk menciptakan lingkungan yang hijau (green) (Suratno dkk, 2006). Untuk

mengukur dan menilai kinerja lingkungan perusahaan-perusahaan di Indonesia,

telah ada diatur lembaga kredibel dan kompeten pada Kementrian Lingkungan

Hidup. Pemeringkatan tersebut dinamai PROPER. Cara kerja PROPER adalah

dengan sistem pemeringkatan dengan pemberian warna sebagai penandanya.

Terdapat lima peringkat dalam PROPER yaitu emas, hijau, biru , merah dan

hitam. PROPER akan menilai cakupan penataan terhadap pencemaran air,

udara, pengelolaan limbah dan penerapan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak

Lingkungan). Pengukuran kinerja dengan menggunakan PROPER sangat

mudah dilakukan dengan adanya tingkatan terbaik dan terburuk dari suatu

kinerja lingkungan perusahaan.

Pengaplikasian Corporate Governance yang efektif dan kinerja

lingkungan yang tertata sistematis dan digunakan dalam penerapan pada

menajemen perusahaan merupakan bagian penting dalam kinerja keuangan.


6

Kinerja keuangan dapat diukur dengan menggunakan rasio keuangan (Prasinta

2012). Analisa rasio keuangan merupakan teknik analisis keuangan untuk

mengetahui hubungan diantara pos tertentu dalam laporan posisi keuangan

maupun laporan laba rugi perusahaan. Analisis yang paling popular dan

banyak digunakan adalah analisis rasio karena sangat sederhana jika

dibandingkan dengan analisis lainnya. Analisa rasio keuangan hanya

menggunakan rumus yang sangat sederhana dan mudah dimengerti dan

dipahami oleh perusahaan. Perhitungan rasio bisa dilakukan tiap tahunnya

untuk menilai kinerja keuangan perusahaan dan bisa membandingkan dari

tahun ke tahun. Sehingga akan bisa ditemukan permasalahan permasalahan

yang bisa menghambat tujuan dari perusahaan yaitu maksimal laba yang

diharapkan tiap periodenya.

Setelah analisa rasio diberlakukan maka dapat diketahui kinerja

keuangan suatu perusahaan. Dengan diketahuinya kinerja keuangan maka

menajemen dan perusahaan akan bisa menentukan strategi apa yang harus

dilakukan agar investor bisa tertarik menanamkan modal. Salah satu rasio

untuk melihat strategi tersebut adalah dengan melakukan analisis rasio

profitabilitas. Rasio profitabilitas dalam penelitian ini penulis menggunakan

Net Profit Margin (NPM).

NPM merupakan keuntungan dengan membandingkan antara laba setelah

bunga dan pajak dibandingkan dengan penjualan atau dengan kata lain rasio

pendapatan bersih perusahaan atas penjualan (Kasmir:2011:200). Rasio ini

merupakan penekanan terhadap biaya-biaya diperusahaan pada periode


7

tertentu. NPM juga dapat menunjukkan keefektifan manajemen dalam

mengelola laporan keuangan perusahaan yang diukur dengan membandingkan

laba usaha terhadap penjualan. Semakin tingginya nilai dari NPM data

diartikan semakin baiknya operasi suatu perusahaan. Dan sebaliknya

rendahnya NPM diartikan buruknya operasi suatu perusahaan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan dua diantaranya

adalah Corporate Governance dan kinerja lingkungan (Dani dan Hasan :2011).

Hal ini didasari karena prinsip-prinsip dasar dari Corporate Governance dan

kinerja lingkungan memiliki tujuan untuk memberikan kemajuan terhadap

kinerja keuangan pada suatu perusahaan. Semakin baik Corporate Governance

dan kinerja lingkungan suatu perusahaan maka diharapkan semakin baik pula

kinerja keuangan dari suatu perusahaan tersebut. Corporate Governance dan

kinerja lingkungan merupakan salah satu elemen kunci dalam meningkatkan

efisiensi ekonomis yang meliputi serangkaian hubungan terhadap menajemen

perusaahan, dewan direksi, para pemegang saham serta stoke holder lainnya.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mencoba untuk melakukan

penelitian dengan judul “Pengaruh Tata Kelola Perusahaan (Corporate

Governance) dan Kinerja Lingkungan terhadap Kinerja Keuangan

Perusahaan (Studi kasus perusahaan-perusahaan di Indonesia periode 2013-

2018)”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang terdapat dalam

penelitian adalah sebagai berikut:


8

1. Apakah pengaruh tata kelola perusahaan (Corporate Governance) secara

parsial berpengaruh terhadap kinerja Keuangan Perusahaan pada perusahaan

yang ada di Indonesia periode 2013-2018.

2. Apakah pengaruh kinerja lingkungan secara parsial berpengaruh terhadap

kinerja Keuangan Perusahaan pada perusahaan yang perusahaan yang ada di

Indonesia periode 2013-2018.

3. Apakah pengaruh tata kelola (Corporate Governance) dan kinerja

lingkungan secara simultan berpengaruh terhadap kinerja Keuangan Perusahaan

pada perusahaan yang perusahaan yang ada di Indonesia periode 2013-2018.

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan yang telah disebutkan diatas, maka tujuan penelitian ini

adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh tata kelola perusahaan (Corporate

Governance) secara parsial terhadap kinerja Keuangan Perusahaan pada

perusahaan yang perusahaan yang ada di Indonesia periode 2013-2018.

2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh kinerja lingkungan secara parsial

terhadap kinerja Keuangan Perusahaan pada perusahaan yang perusahaan yang

ada di Indonesia periode 2013-2018.

3. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh tata kelola perusahaan (Corporate

Governance) dan pengaruh kinerja lingkungan terhadap kinerja keuangan

Perusahaan secara simultan pada perusahaan yang perusahaan yang ada di

Indonesia periode 2013-2018.


9

1.4 Kegunaan Penelitian

1. Bagi Penulis

Dengan penelitian ini, penulis mengetahui tentang ada atau tidaknya pengaruh

tata tata kelola perusahaan (Corporate Governance) dan pengaruh kinerja

lingkungan terhadap kinerja Keuangan.

2. Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perusahaan yang ingin

memujudkan tata kelola perusahaan (Corporate Governance) dan pengaruh

kinerja lingkungan terhadap kinerja Keuangan Perusahaan sehingga perusahaan

memahami mekanisme tata kelola perusahaan (Corporate Governance) yang

ingin dicapai dengan cara meningkatkan nilai kinerja lingkungan dan nilai dari

kinerja keuangan.

3. Bagi Investor

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai apakah

adanya pengaruh tata kelola perusahaan (Corporate Governance) dan pengaruh

kinerja lingkungan terhadap kinerja Keuangan Perusahaan sehingga investor

dapat berhati-hati dalam menilai laporan perusahaan sebagai pertimbangan

dalam pengambilan keputusan investasi.

4. Bagi Manajemen

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tambahan tentang

pengaruh tata kelola perusahaan (Corporate Governance) dan pengaruh kinerja


10

lingkungan terhadap kinerja keuangan sehingga menajemen dapat

meningkatkan pemahaman dan mengaplikasikannya.

5. Bagi Akademisi

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan penelitian selanjutnya, serta

bahan diskusi dan menambah pengetahuan tentang Corporate Governance.

1.5 Sistematika Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini terdapat tahapan-tahapan yang dituangkan

didalam bab-bab sehingga diperoleh gambaran yang teratur dan tertata. Oleh

karena itu penulis memaparkan penelitian ini dalam lima bab yaitu :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab Pendahuluan menjelaskan tentang latar belakang penelitian, rumusan

masalah yang ada, tujuan, kegunaan dari penelitian, dan sistematika penulisan

yang digunakan.

BAB II :TINJAUAN PUSTAKA

Bab Tinjauan Pustaka ini menjelaskan tentang tinjauan pustaka yang menjadi

landasan dalam penelitian diantaranya pengertian tata kelola perusahaan

(Corporate Governance), prinsip tata kelola perusahaan (Corporate

Governance), mekanisme tata kelola perusahaan (Corporate Governance), teori

keagenan, teori legitimasi, tata kelola perusahaan, pengertian Corporate

Governance, prinsip dan pengukuran Corporate Governance, kinerja

lingkungan, kinerja keuangan, kerangka konseptual, model penelitian dan

penelitian terdahulu.
11

BAB III : METODE PENELITIAN

Pada Bab Metode Penelitian ini menjelaskan mengenai metode pengumpulan

data, teknik pengumpulan data, jenis dan sumber data, populasi dan sampel ,

metode analisi, dan metode hipotesis.

BAB IV : JUDUL PENELITIAN SKRIPSI

Bab empat adalah analisis data dan pembahasan, pada bagian akan menjelaskan

tentang hasil penelitian, analisis dan pembahasan masalah dan pengujian

hipotesis bagaimana pengaruh tata kelola perusahaan (Corporate Governance)

dan kinerja lingkungan terhadap kinerja keuangan pada perusahaan-perusahaan

yang ada di Indonesia rentang waktu 2013-2018

BAB V : PENUTUP

Bab lima adalah penutup, pada bagian terkahir ini akan diuraikan kesimpulan

dari saran-saran penelitian diperlukan sebagai masukan untuk penelitian

selanjutnya.
12

1.6 Time Skedul dan Biaya Penelitian

1. Time Schedule Penelitian

Tabel 1.1 Time Schedule


TAHAP-TAHAP KEGIATAN 2020

April Mei Juni Juli Agus Sept

Konsultasi Proposal Penelitian

Ujian Proposal & Penelitian

Penelitian & Penulisan Draf

Skripsi

Konsultasi Hasil Penelitian

Ujian Skripsi

Penggandaan Skripsi

2. Biaya Penelitian sebesar Rp 1.800.000,-, (Satu Juta Delapan Ratus Ribu

Rupiah) yang terdiri dari :

a. Biaya administrasi, sebanyak Rp. 500.000,-

b. Biaya kertas dan tinta printer sebanyak Rp 150.000,-

c. Biaya Ujian/Sidang Proposal Penelitian, sebanyak Rp 150.000,-

d. Biaya Ujian Komprehensif/skripsi, sebanyak Rp 600.000,-

e. Biaya penggandaan dan penjilidan, sebanyak Rp 300.000,-

f. Biaya lain-lain, sebanyak Rp 100.000,-

Jumlah Rp 1.800.000,-
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Keagenan

Dasar yang digunakan untuk memahami corporate governance dan kinerja

lingkungan adalah teori keagenan.Teori keagenan menyangkut hubungan

kontraktual antara anggota-anggota perusahaan untuk menghindari terjadinya

hubungan yang tidak sesuai tersebut maka dibutuhkan suatu konsep good

corporate governance yang bertujuan untuk menjadikan perusahaan menjadi lebih

sehat. Penerapan corporate governance berdasarkan pada teori agensi, yaitu teori

yang dapat menjelaskan hubungan antara manajemen dengan pemilik, manajemen

sebagai agen secara moral bertanggung jawab untuk mengoptimalkan keuntungan

para pemilik (principal) dan sebagai imbalannya akan memperoleh kompensasi

yang sesuai dengan kesepakatan.

Teori keagenan pertama kali dinyatakan oleh Jensen and Mecking (1976)

dalam Destriana 2011 disebutkan dalam manajer suatu perusahaan sebagai “agen”

dan pemegang saham “principal”. Pemegang saham yang merupakan principal

mendelegasikan pengambilan keputusan bisnis kepada manajer yang merupakan

perwakilan atau agen dari pemegang saham. Permasalahan yang muncul sebagai

akibat sistem kepemilikan perusahaan ini adalah agen tidak selalu membuat

keputusan-keputusan yang bertujuan untuk memenuhi kepentingan terbaik

principal. Salah satu asumsi utama dari teori keagenan bahwa tujuan principal

dan tujuan agen yang berbeda dapat memunculkan konflik karena manajer

perusahaan cenderung untuk mengejar tujuan pribadi, hal ini dapat mengakibatkan

13
14

kecenderungan manajer untuk memfokuskan pada proyek dan investasi

perusahaan yang menghasilkan laba yang tinggi dalam jangka pendek daripada

memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham melalui investasi di proyek-

proyek yang menguntungkan jangka panjang.

Menurut Jensen dan Meckling (1976) bahwa hubungan keagenan adalah

sebagai kontrak, dimana satu atau beberapa orang (principal) memperkerjakan

orang lain (agent) untuk melaksanakan sejumlah jasa dan mendelegasikan

wewenang untuk mengambil keputusan kepada agen tersebut

Menurut Eisenhardt (1989) bahwa teori agensi adalah hubungan yang

mencerminkan struktur dasar keagenan antara principal dan agen yang terlibat

dalam perilaku yang kooperatif tetapi memiliki perbedaan tujuan dan berbeda

sikap terhadap resiko

Menurut Anthony dan Govindarajan (2005) bahwa teori agensi adalah

hubungan atau kontrak antara principal dan agent. Teori agensi memiliki asumsi

bahwa tiap-tiap individu semata-mata termotivasi oleh kepetingan dirinya sendiri

sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent..

Teori keagenan memberikan focus terhadap fakta yang berkembang bahwa

dalam setiap organisasi individu (disebut denga the agent) akan bertindak sebagai

pihak yang dipercaya oleh individu atau sekelompok individu atau disebut (the

principal) (Niki, 2016).

Teori keagenan dilandasi oleh beberapa asumsi (Eisenhardt, 1989 dalam

Emirzon, 2007). Asumsi tersebut dibedakan menjadi tiga jenis yaitu asumsi

tentang sifat manusia menekankan bahwa manusia memiliki sifat mementingkan


15

diri sendiri (self-interert), manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi

masa mendatang (bounded rationality) dan manusia selalu menghindari resiko

(risk adverse). Asumsi keorganisaan adalah adanya konflik antar angora

organisasi, efisiensi sebagai kriteria efektifitas dan adanya asimetri informasi

antara principal dan agent. Asumsi informasi merupakan asumsi yang

menyatakan bahwa informasi adalah komoditas yang dapat dibeli. Pihak

manajemen atau manajer, merupakan kunci dari segala sumber informasi yang

beredar di lingkungan perusahaan. Pihak principal sebagai pemilik modal dan

pihak yang memberikan mandat terhadap manajer, memberikan kewajiban kepada

agent untuk memberikan laporan mengenai kondisi perusahaan. Laporan yang

diberikan dapat berupa pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan

keuangan. Hal tersebut berguna sebagai sarana pengawasan terhadap agent oleh

para principal, untuk memastikan modal yang mereka tanamkan berkembang

dengan baik. Jika kinerja agen yang ditunjukkan dalam laporan yang diterima

oleh principal tidak memuaskan, principal dapat mengambil tindakan sesuai

dengan kontrak yang telah dibuat.

Dengan demikian di dalam satu perusahaan terdapat dua kepentingan

yang berbeda. Kepentingan untuk mengoptimalkan keuntungan bagi perusahaan

milik principal dan kepentingan pribadi agen yang memegang tanggung jawab

besar untuk mendapatkan imbalan yang besar pula., dengan kata lain

kepentingan pribadi agen sendiri.

Posisi agent sebagai pemegang kunci informasi dan principal sebagai

penerima informasi dari agent dapat memicu munculnya suatu kondisi yang
16

disebut sebagai asimetri informasi (information asymetri), yaitu suatu kondisi

dimana informasi yang diperoleh oleh pihak manajemen sebagai penyedia

informasi (preparer) dengan pihak principal secara umum tidak seimbang.

Menurut Jensen and Meckling (1976), terdapat dua macam asimetri

informasi yaitu:

1. Adverse Selection, yaitu suatu keadaan dimana prinsipal tidak dapat

mngetahui apakah suatu keputusan yang diambil oleh agen benar-benar

didasarkan atas informasi yang telah diperolehnya atau terjadi sebagai sebuah

kelalaian tugas.

2. Moral Hazard, yaitu permasalahan yang timbul jika agen tidak melaksanakan

hal-hal yang telah disepakati bersama dalam kontrak kerja.

Asimetri antara manajemen dengan pemilik memberikan kesempatan kepada

manajer untuk berlaku opportunis untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Misalnya dengan tidak menyampaikan laporan keuangan sesuai dengan

kenyataan yang sebenarnya untuk mendapatkan bonus pribadi. Manajer dapat

malakukan manajemen laba untuk menyesatkan pemilik mengenai kinerja

ekonomi perusahaan.

Dengan semakin tingginya asimerti informasi antara manajer dengan

pemilik yang mendorong pada tindakan manajemen laba oleh manajemen akan

memicu semakin tingginya biaya keagenan (agency cost). Jensen dan Meckling

(1976) menyebutkan ada tiga jenis agency cost. Principal dapat membatasi

penyimpangan (divergencies) kepentingan dengan menetapkan insentif yang

layak dan dengan mengeluarkan biaya monitoring (monitoring cost) yang


17

dirancang untuk membatasi penyimpangan aktivitas yang dilakukan agen. Yang

kedua, dalam beberapa situasi tertentu principal memberikan kesempatan

kepada agen untuk membelanjakan sumber daya perubahan (biaya bonding/

bonding cost) yang diharapkan dapat menjamin bahwa agen tidak akan

bertindak merugikan principal. Nilai uang yang ekuivalen dengan

kesejahteraan dialami oleh prinsipal yang juga merupakan biaya yang timbul

dari hubungan kagenan. Biaya yang sejenis ini disebut dengan biaya kerugian

residual (residual cost).

Teori keagenan lebih menekankan pada penentuan pengaturan kontrak

yang efisien dalam hubungan principal dan agen. Kontrak yang efisien adalah

kontrak yang berisi gambaran yang jelas mengenai hak dan kewajiban principal

dan agen, sehingga dapat meminimumkan konflik keagenan dan meminimalisir

biaya keagenan (agency cost).

Hubungan antara principal dan agen ini, merupakan hal mendasar bagi

praktek penerapan Corporate Governance secara luas. Hal ini dapat kita lihat

dalam teori-teori yang melandasi pengertian mengenai perusahaan sebagai

tempat penerapan Corporate Governance (tata kelola perusahaan).

Perusahaan/korporasi dapat dipandang dari dua teori, yaitu (a) teori pemegang

saham (shareholding theory), dan (b) teori stakeholder (stakeholding theory)

(Tjager, 2003). Shareholding theory manyatakan bahwa perusahaan didirikan

dan dijalankan untuk tujuan memaksimumkan kesejahteraan pemilik/pemegang

saham sebagai akibat dari investasi yang dilakukannya. Sementara itu,

Stakeholding theory, menyatakan bahwa perusahaan adalah organ yang


18

berhubungan dengan pihak lain yang berkepentingan, baik yang ada di dalam

maupun di luar perusahaan.

Dari definisi diatas teori agensi menurut penulis adalah hubungan antara p

principall (pemilik atau pemegang saham) dan agen (manajer) dimana dalam

hubungan keagenan tersebut terdapat suatu kontrak dimana pihak principal

memberi wewenang kepada agen untuk mengelola usahanya dan membuat

keputusan yang terbaik bagi principal sehingga Corporate Governance berkaitan

dengan bagaimana para stakeholder (principal) mendapatkan jaminan dan

keyakinan bahwa manajer perusahaan (agent) akan memberikan keuntungan bagi

mereka dan tidak menyalahgunakan wewenang atau menginvestasikan modal ke

dalam proyek yang tidak menguntungkan.

2.2 Teori Legitimasi

Gray et al (1996:46) berpendapat bahwa legitimasi sistem pengelolaan

perusahaan yang berorientasi pada keberpihakan terhadap masyarakat (society),

pemerintah individu dan kelompok masyarakat.Untuk itu, sebagai suatu sistem

yang mengutamakan keberpihakan atau kepentingan masyarakat. Operasi

perusahaan harus sesuai dengan harapan dari masyarakat.

Deegan, Robin dan Tobin (2000) menyatakan legitimasi dapat diperoleh

manakala terdapat kesesuaian antara keberadaan perusahaan tidak mengganggu

atau sesuai (congruent) dengan eksistensi sistem nilai yang ada dalam masyarakat

dan lingkungan. Ketika terjadi pergeseran yang menuju ketidaksesuaian, maka

pada saat itu legitimasi perusahaan dapat terancam.


19

Carroll dan Bucholtz (2003) menyatakan perkembangan tingkat

kesadaraan dan peradaban masyarakat membuka peluang meningkatnya tuntutan

terhadap kesadaran kesehatan lingkungan. Lebih lanjut dinyatakan, bahwa

legitimasi perusahaan dimata stakeholder dapat dilakukan dengan integritas

pelaksanaan etika dalam bebisinis (business ethic integrity) serta meningkatkan

tanggung jawab sosial perusahaan (social responsibility). Wibisono (2007)

menyatakan bahwa tanggungjawab sosial perusahaan (social responsibility)

memiliki kemanfaatan untuk meningkatkan reputasi perusahaan, menjaga image

dan strategi perusahaan.

O’Donovan (2002) dalam buku Nor Hadi (2011,87) berpendapat legitimasi

organisasi dapat dilihat sebagai sesuatu yang diberikan masyarakat kepada

perusahaan dan sesuatu yang diinginkan atau dicari perusahaan dari masyarakat .

Legitimasi merupakan manfaat atau sumberdaya potensial bagi perusahaan untuk

bertahan hidup (going concern).

Pengakuan masyarakat terhadap perusahaan merupakan hal utama bagi

perusahaan untuk terus bertahan hidup. Apabila perusahaan menunjukan

perbedaan antara tindakan organisasi pada harapan masyarakat akan menimbulkan

jurang legitimasi (Legitimacy gap). Legitimacy Gap apabila tidak dibenahi

dengan menselaraskan kembali nilai perusahaan kepada nilai masyarakat dapat

membuat perusahaan kehilangan legitimasinya. Hal ini dapat memperburuk citra

masyarakat pada suatu perusahaan sehingga dapat mengakibatkan hilangnya

pengaruh pada produk.

Sebagaimana dinyatakan dalam teori legitimasi (legitimacy theory)


20

eksistensi perusahaan yang berada ditengah masyarakat, perusahaan memiliki

tanggungjawab untuk menjaga konsekwensi antara keberadaan perusahaan

terhadap pengharapan masyarakat (Deegan, 2002). Gap legitimacy terjadi ketika

terjadi incongruencesi antara keberadaan perusahaan dengan pengharapan

stakeholder, pada saat itu dapat memunculkan reaksi (protes) masyarakat terhadap

perusahaan (Deegan, 2002).

Masyarakat menunjuk pemerintah sebagai untuk penyalur aspirasi dalam

mengatur secara luas peran perusahaan dalam lingkungan masyarakat. Maka,

mengikuti aturan yang telah dibuat pemerintah dapat merepresentasikan kemauan

masyarakat.(Chariri & Ghozali, 2001) menyatakan bahwa perusahaan lebih

cenderung untuk menggunakan kinerja berbasis lingkungan dan pengungkapan

informasi lingkungan untuk melegitimasi aktivitas perusahaan. Pemerintah

menggunakan AMDAL dan PP No 47 2012 untuk mengatur kinerja dan

pengungkapan lingkungan.

Dari penjelasan diatas maka pendapat penulis tentang teori legitimasi

adalah penekanan pada interaksi perusahaan dengan masyarakat atau legitimasi

dapat dikatakan sebagai pengakuan masyarakat terhadap perusahaan. Bagaimana

masyarakat sangat ingin perusahaan untuk mengikuti aturan dalam kondisi sosial

dan lingkungan yang telah diterapkan.Selain mengikuti aturan yang telah

ditetapkan, perusahaan juga diharapkan membawa manfaat yang lebih pada

kehidupan masyarakat sekitar.Salah satu manfaatnya dapat berupa peningkatan

kesejahteraan masyarakat dengan menggunakan SDM (Sumber Daya Manusia)

masyarakat sekitar.
21

2.3 Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance)

2.3.1 Pengertian Corporate Governance

Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI)

Corporate Governance mendefinisikan sebagai seperangkat peraturan yang

mengatur hubungan antara pemegang saham, pengelola saham, kreditor,

pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern

lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka untuk menggatur

dan mengendalikan perusahaan.

Menurut Monks dan Minow (2004) dalam Niki (2016) bahwa “corporate

governance is the relationship among various participants in determining the

direction and performance of corporations. the primary participants are the

shareholders, the menagement and the board of directors” . Dapat didefenisikan

bahwa tata kelola perusahaan adalah hubungan antara berbagai peserta dalam

menentukan arah dan kinerja perusahaan.Peserta utama adalah pemegang saham,

menajemen dan dewan direksi.

Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG:2004) mendefenisikan

Corporate Governance sebagai suatu proses dan struktur yang digunakan oleh

organ perusahaan guna memberikan nilai tambah pada perusahaan secara

berkesinambungan dalan jangka panjang bagi pemegang saham, dengan tetap

memperhatikan kepentingan stakehonders lainnya, berlandaskan peraturan

perundang-undangan dan norma yang berlaku.

Menurut Effendi (2009) bahwa menyebutkan bahwapengertian Corporate

Governance dapat diartikan sebagaiseperangkat sistem yang mengatur dan


22

mengendalikan perusahaanuntuk menciptakan nilai tambah (value added) bagi

para pemangku kepentingan."

Menurut Sutedi (2011) menyebutkan bahwa pengertian good governance

adalah Suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ perusahaan

(Pemegang saham, dewan pengawas) untuk meningkatkan keberhasilan usaha

dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam

jangka panjang dengantetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya,

berlandaskan peraturan perundang – undangan dan nilai-nilai etika.

Menurut Sedarmayanti (2012) menyebutkan bahwa Corporate

Governance adalah seperangkat aturan yang mengatur hubungan antara

pemegang pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah,

karyawan, serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang

berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban merekaatau dengan kata lain suatu

sistem yang mengendalikan perusahaan. Tujuan corporate governance adalah

untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan.

Dari penjelasan diatas maka corporate governance menurut penulis

adalah bahwa esensi dari Corporate Governance (tata kelola perusahaan) antara

lain berupa peningkatan kinerja perusahaan melalui pemantauan kinerja

manajemen dan adanya akuntabilitas manajemen terhadap stakeholder dan

pemangku kepentingan lainnya. Dalam hal ini manajemen lebih terarah dalam

mencapai sasaran-sasaran manajemen dan tidak disibukkan untuk hal-hal yang

bukan menjadi sasaran pencapaian kinerja manajemen.


23

2.3.2 Prinsip Corporate Governance

Menurut The OECD Principles of Corporate Governance dalam Effendi

(2009) menyebutkan bahwa prinsip-prinsip Corporate Governance mencakup

lima hal yaitu sebagai berikut :

1. Perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham (the rights of shareholders).

2. Perlakuan setara terhadap seluruh pemegang saham (the equitable

treatmentofshareholders).

3. Peranan pemangku kepentingan berkaitan dengan prusahaan (the role

ofstakeholders).

4. Pengungkapan dan transparansi (disclousure andtransparency)

5. Tanggung jawab dewan komisaris atau direksi (the responsibilities of

theboard).

Menurut Muh. Arief Effendi (2016:20) lima prinsip Tata Kelola

Perusahaan yang baik, yaitu :

1. Transparansi (Transparancy) Prinsip dasar, untuk menjaga objektifitas dalam

menjalankan bisnis perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan

relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku

kepentingan. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak

hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga

hal yang penting untuk mengambil keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan

pemangku kepentingan lainnya.

2. Akuntabilitas (Accountability) Prinsip dasar, perusahaan harus dapat

mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. Untuk itu


24

perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan

perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan lain. Akuntabilitas

merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang

berkesinambungan.

3. Responsibilitas (Responsibility) Prinsip dasar, perusahaan harus dapat

mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab

terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan

usaha dalam jangka panjang dan mendapatkan pengakuan sebagai good corporate

governance.

4. Independensi (Independency) Prinsip dasar, untuk melancarkan pelaksanaan

Corporate Governance, perusahaan harus dikelola secara independen sehingga

masing-masing orga perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat

diintervensi oleh pihak lain.

5. Kesetaraan dan kewajaran (Fairness) Prinsip dasar, dalam melaksanakan

kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang

saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kesetaraan dan

kewajaran.

2.3.3 Corporate Governance Perception Index (GCPI)

Program riset dan peningakatan penerapan Corporate Governance pada

perusahaan-perusahaan di Indonesia melalui perancangan riset yang mendorong

perusahaan meningkatkan kualitas penerapan konsep corporate governance (CG)

melalui perbaikan yang berkesinambungan dengan melaksanakan evaluasi dan

benchmarking merupakan tugas dari Corporate Governance Perseption Index


25

(GCPI). Program ini bersifat sukarela, selektir dan elefatif. Maksudnya disini

adalah keinginan ikut serta perusahaan merupakan sebuah pilihan (elektif) secara

sukarela (voluntary) tanpa didasari oleh dorongan memenuhi aturan dan

mempertimbangkan kesiapan internal perusahaan dalam memutuskan untuk

mengikuti GCPI berdasarkan tema pilihan.

Penilaian dalam GCPI :

Menurut The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG,2012)

yang menyatakan bahwa :

“Corporate governance Perception Index (CGPI) adalah pemeringkatan

penerapan Good Corporate Governance (GCG) pada perusahaan-perusahaan di

Indonesia melalui perancangan riset yang mendorong perusahaan meningkatkan

kualitas penerapan konsep corporate governance melalui perbaikan yang

berkesinambungan (continous improvement) dengan melaksanakan evaluasi dan

studi banding (benchmarking).”

Menurut Indonesian Institute of Corporate Governance (IICG), CGPI (Corporate

Governance Perception Index) (2012) menggunakan empat tahapan penilaian

sebagai persyaratan penilaian yang wajib diikuti oleh peserta CGPI.

Empat tahapan tersebut yaitu:

1. Self Assessment (15%) Pengisian kuisioner Self Assesment terkait penerapan

tata kelola perusahaan dalam perspektif pengetahuan.Tahapan ini melibatkan

seluruh organ dan anggota perusahaan serta para pihak yang berkepentingan

lainnya (stakeholders) dalam memberikan tanggapan terhadap implementasi


26

tata kelola di perusahaan.Daftar responden pada tahap ini terdiri dari dua

kalangan responden yakni responden internal dan responden eksternal.

Responden internal terdiri dari jajaran manajemen (Presiden Komisaris,

Presiden Direktur/Direktur Utama), Dewan Pengawas Syariah (jika

perusahaan berbasis syariah), anggota Komite dibawah Dewan Komisaris dan

Komite eksekutif, pegawai manajerial dan pegawai non manajerial termasuk

Corporate Secretary, Audit Internal dan Wakil dari Serikat Pekerja.

Responden eksternal terdiri dari investor insitusi dan investor minoritas,

lembaga pembiayaan, asuransi, mitra kerja, dan berbagai institusi lainnya

yang berhubungan dengan perusahaan.

2. Kelengkapan Dokumen (25%) Penelusuran kelengkapan dokumen dan bukti

yang mendukung penerapan tata kelola perusahaan dalam perspektif

pengetahuan. Kelengkapan dokumen mempersyaratkan pemenuhan dokumen

terkait penerapan tata kelola perusahaan dan praktik bisnis yang beretika serta

kelengkapan sistem yang berlaku di perusahaan 24 Dokumen yang

disampaikan meliputi anggaran dasar, board charter untuk Dewan Komisaris,

Code of Conduct, Annual Report, Interbal Audit Charter, Prospektus, Public

Expose, dan berbagai dokumen lainnya yang sesuai atau relevan dalam

penelitian terhadap perusahaan.

3. Penyusunan Makalah dan Presentasi (12%) Pada tahap ini perusahaan diminta

untuk membuat penjelasan tentang kebijakan dan kegiatan perusahaan terkait

tata kelola perusahaan dalam bentuk makalah dengan memperhatikan

sistematika penyusunan yang telah ditentukan.Uraian makalah


27

menggambarkan arah dan fokus penelitian yang sesuai dengan pedoman

sistematika penulisan yang telah ditetapkan. Secara garis besar, penulisan

harus memenuhi kriteria teknis yakni sesuai dengan format penulisan serta

memenuhi sistematika penulisan yang terdiri dari cover,lembar, pengesahan

dan isi. Untuk isi, makalah disusun dengan urutanurutan yang diawali dengan

abstrak yang memuat uraian ringkas terhadap isi makalah, kemudian

pendahuluan yang menjelaskan mengenai latar belakang, tujuan, sasaran dan

manfaat. Setelah bagian oendahuluan adalah bab utama yang menjelaskan

pokok permasalahan sesuai dengan penilaian dari CGPI, kemudian bagian

hasil yang dicapai dan ditutup dengan bagian penutup yang berupa

kesimpulan dari makalah tersebut.

4. Observasi (48%) Tahap observasi merupakan tahap klarifikasi dan konfirmasi

data dan informasi seputar penilaian melalui diskusi dan kunjungan ke

perusahaan.Diskusi 25 observasi melibatkan Dewan Komisaris, Direksi, dan

pimpinan manajerial perusahaan. Tujuan peninjauan langsung oleh tim

penilaian CGPI untuk memastikan bahwa proses pelaksanaan serangkaian

program pelaksanaan tata kelola perusahaan. Pelaksanaan observasi

dilaksanakan Dalam bentuk diskusi (Tanya jawab) dengan Dewan Komisaris

dan Direksi serta pihak lain yang terkait dengan perusahaan. Selain itu tim

penilai dapat melakukan verifikasi data-data dan dokumen yang dibutuhkan

untuk kepentingan penilaian CGPI yang lebih akurat.


28

Hasil Penilaian CGPI

Menurut The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG,2012)

yang menyatakan bahwa hasil pemeringkatan program CGPI menggunakan norma

penilaian berdasarkan rentang skor yang dicapai oleh peserta CGPI dengan

kategorisasi atas tingkat kualitas implementasi GCG yang menggunakan istilah

“terpercaya”. Perusahaan yang mendapatkan nilai antara 55,00 s/d 69,99

mendapatkan predikat sebagai perusahaan “cukup terpercaya”. Perusahaan yang

mendapatkan nilai antara 70,00 s/d 84,99% mendapatkan predikat sebagai

perusahaan “terpercaya”. Perusahaan yang mendapatkan nilai antara 85,00 s/d

100% mendapatkan predikat sebagai perusahaan “sangat terpercaya”.

Data mengenai hasil dari Corporate Governance Perseption Index (CGPI)

ini bisa dimintakan kepada Indonesian Institute for Corporate Governance dan

Majalah SWA sebagai penyelenggara kegiatan tersebut. Majalah SWA sebagai

mitra media publikasi, secara konsisten sejak tahun 2001 melakukan riset dan

pemeringkatan terhadap penerapan corporate government pada perusahaan public,

Badan Usaha Milik Negera (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD),

lembaga keuangan bank dan non bank, lembaga keuangan syariah dan Badan

Usaha Milik Swasta.

2.4 Kinerja Lingkungan

2.4.1 Pengertian Kinerja Lingkungan

Pengertian kinerja menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 503)

yaitu kinerja merupakan kata benda yang artinya: 1. Sesuatu yg dicapai, 2.


29

Prestasi yang diperlihatkan, 3. Kemampuan kerja (tentang peralatan), sedangkan

menurut Mulyadi (2001: 415) pengertian kinerja adalah penentuan secara

periodik efektifitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi dan

karyawannya berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang ditetapkan

sebelumnya.

Menurut (Ikhsan, 2009:308) bahwa : “Environmental Performance atau

biasa disebut dengan Kinerja lingkungan adalah hasil yang dapat diukur dari

sistem manajemen lingkungan, yang terkait dengan kontrol aspek-aspek

lingkungannya. Pengkajian kinerja lingkungan didasarkan pada kebijakan

lingkungan, sasaran lingkungan dan target lingkungan”

Menurut Suratno, dkk (2006) pengertian kinerja lingkungan adalah sebagai

berikut: “Environmental performance adalah kinerja perusahaan dalam

menciptakan lingkungan yang baik (green). Environmental performance

perusahaan diukur dari prestasi perusahaan mengikuti program PROPER yang

merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup

(KLH) untuk mendorong penataan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan

hidup melalui instrumen informasi”.

Menurut Ikhsan (2008), kinerja lingkungan adalah aktivitas-aktivitas yang

dilakukan perusahaan yang terkait langsung dengan lingkungan alam sekitarnya.

Menurut UU RI No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan

Lingkungan Hidup pasal 1 poin 2: “Perlindungan dan pengelolaan lingkungan

hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan

fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan


30

lingkungan hidup yang meliputi pencemaran, pemanfaatan, pengendalian,

pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum”.

Dari beberapa defenisi menurut para ahli maka pengertian kinerja

lingkungan menurut penulis adalah suatu kondisi atau hasil yang dicapai oleh

seseorang atau sekelompok orang atau organisasi yang disampaikan pada

periode tertentu dengan membandingkan antara target atau tujuan dengan hasil

yangdicapai yang berkaitan dengan hasil yang dapat diukur dari sistem

manajemen lingkungan, yang terkait dengan kontrol aspek-aspek

lingkungannya, serta pengkajian kinerja lingkungan yang didasarkan pada

kebijakan lingkungan, sasaran lingkungan dan target lingkungan serta seluruh

kegiatan dan aktivitas perusahaan yang memperlihatkan kinerja perusahaan

dalam menjaga lingkungan sekitarnya serta melaporkannya kepada pihak

yangberkepentingan.

2.4.2 Pengukuran KinerjaLingkungan

Suratno, dkk (2006) menyatakan bahwa environmental performance

perusahaan diukur dari prestasi perusahaan mengikuti program PROPER yang

merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementrian Lingkungan

Hidup (KLH) untuk mendorong penataan perusahaan dalam pengelolaan

lingkungan hidup melalui instrument informasi. Sistem peringkat kinerja

PROPER mencakup pemeringkatan perusahaan dalam lima (5) warna yang

akan diberi skore secaraberturut-turut dengan nilai tertinggi 5 untuk warna emas

dan terendah 1 untuk warna hitam.


31

2.4.3 PROPER

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup, PROPER ialah Pogram

Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam pengelolaan lingkungan.

PROPER telah diluncurkan sejak tahun 2002 sebagai pengembangan dari

PROPER PROKASIH. Sejak dikembangkan, PROPER telah diadopsi menjadi

instrumen penaatan lingkungan di berbagai negara seperti China, India, Filipina,

dan Ghana, serta menjadi bahan pengkajian di berbagai perguruan tinggi dan

lembaga penelitian (menlh.co.id,2010).

Tujuan Kementerian Lingkungan Hidup dalam menerapkan instrumen

PROPER adalah untuk mendorong peningkatan kinerja perusahaan dalam

pengelolaan lingkungan melalui penyebaran informasi kinerja penaatan

perusahaan dalam pengelolaan lingkungan.Guna mencapai peningkatan kualitas

lingkungan hidup.Peningkatan kinerja penaatan dapat terjadi melalui efek

insentif dan disinsentif reputasi yang timbul akibat pengumuman peringkat

kinerja PROPER kepada publik. Para pemegang kepentingan (stakeholders)

perusahaan yang terkait akan memberikan apresiasi kepada perusahaan yang

berperingkat baik dan memberikan tekanan atau dorongan kepada perusahaan

yang belum berperingkat baik agar dapat memperbaiki kinerja lingkungannya

(menlh.co.id,2010).

Pelaksanaan PROPER diharapkan dapat memperkuat berbagai

instrument pengelolaan lingkungan yang ada, seperti penegakan hukum

lingkungan, dan instrumen ekonomi.Di samping itu penerapan PROPER dapat


32

menjawab kebutuhan akses informasi, transparansi dan partisipasi publik dalam

pengelolaan lingkungan. Pelaksanaan PROPER saat ini dilakukan berdasarkan

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 18 tahun 2010 tentang Program

Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup

(menlh.co.id, 2010).

2.4.3.1 Kriteria penilaian PROPER

Penilaian kinerja penaatan perusahaan dalam PROPER dilakukan

berdasarkan atas kinerja perusahaan dalam memenuhi berbagai persyaratan

ditetapkan dalam peraturan perundang‐undangan yang berlaku dan kinerja

perusahaan dalam pelaksanaan berbagai kegiatan yang terkait dengan kegiatan

pengelolaan lingkungan yang belum menjadi persyaratan penaatan (beyond

compliance).Pada saat ini, penilaian kinerja penaatan difokuskan kepada

penilaian penaatan perusahaan dalam aspek pengendalian pencemaran air,

pengendalian pencemaran udara, dan pengelolaan limbah B3 serta berbagai

kewajiban lainnya yang terkait dengan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak

Lingkungan) (menlh.co.id,2010).

Mengingat hasil penilaian peringkat PROPER ini akan dipublikasikan

secara terbuka kepada publik dan stakeholder lainnya, maka kinerja penaatan

perusahaan dikelompokkan ke dalam peringkat warna. Melalui pemeringkatan

warna ini diharapkan masyarakat dapat lebih mudah memahami kinerja

penaatan masing‐masing perusahaan.Sejauh ini dapat dikatakan bahwa

PROPER merupakan sistem pemeringkatan yang pertama kali menggunakan


33

peringkat warna (menlh.co.id, 2010).

Pelaksanaan PROPER telah sesuai dengan Undang-Undang 32 tahun

2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sehingga dalam

peringkat kinerja penaatan dikelompokkan dalam 5 (lima) peringkat warna.

Masing‐masing peringkat warna mencerminkan kinerja perusahaan.Kinerja

penaatan terbaik adalah peringkat emas, dan hijau, selanjutnya biru, merah dan

kinerja penaatan terburuk adalah peringkat hitam (menlh.co.id, 2010).

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.18 Tahun 2010

Tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan

Lingkungan Hidup, kriteria yang digunakan dalam pemeringkatan tersebut

adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1
Kriteria Peringkat PROPER
PERINGKAT DEFINISI

WARNA

untuk usaha dan atau kegiatan yang telah secara

konsisten menunjukkan keunggulan lingkungan

EMAS (environmental excellency) dalam proses produksi

dan/atau jasa, melaksanakan bisnis yang beretika dan

bertanggung jawab terhadap masyarakat.

untuk usaha dan atau kegiatan yang telah melakukan

pengelolaan lingkungan lebih dari yang

HIJAU dipersyaratkan dalam peraturan (beyond compliance)


34

melalui pelaksanaan sistem pengelolaan lingkungan,

pemanfaatan sumberdaya secara

efisien melalui upaya 4R (Reduce, Reuse, Recycle dan

Recovery), dan melakukan upaya tanggung

jawab sosial

(CSR/Comdev) dengan baik.

untuk usaha dan atau kegiatan yang telah melakukan

upaya pengelolaan lingkungan yang dipersyaratkan

BIRU sesuai dengan ketentuan dan/atau peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

upaya pengelolaan lingkungan yang dilakukan belum

sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam

MERAH peraturan perundang-undangan dan dalam tahapan

melaksanakan sanksi administrasi

untuk usaha dan atau kegiatan yang sengaja

melakukan perbuatan atau melakukan kelalaian yang

HITAM mengakibatkan pencemaran dan/atau kerusakan

lingkungan serta pelanggaran terhadap peraturan

perundang-undangan yang berlaku atau tidak

melaksanakan sanksiadministrasi

Sumber : Laporan Hasil Penilaian PROPER 2010.


35

2.5 Kinerja Keuangan

2.5.1 Pengertian Kinerja Keuangan

Dalam buku Irham Fahmi, 2017:239 defenisi kinerja keuangan adalah

analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah

melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara

baik dan benar sesuai dengan ketentuan SAK (Standar Akuntansi Keuangan).

Menurut Jumingan (2006) Kinerja keuangan adalah gambaran kondisi keuangan

perusahaan pada suatu periode tertentu baik menyangkut aspek penghimpunan

dana maupun penyaluran dana, yang biasanya diukur dengan indikator kecukupan

modal, likuiditas, dan profitabilitas.

Menurut Sutrisno (2009:53) Kinerja keuangan perusahaan merupakan

prestasi yang dicapai perusahaan dalam suatu periode tertentu yang

mencerminkan tingkat kesehatan perusahaan tersebut.

Menurut Wiratna (2015) Kinerja keuangan adalah suatu analisis yang

dilakukan untuk melihat pada suatu keadaan keuangan perusahaan , bagaimana

pencapaian keberhasilan perusahaan masa lalu, saat ini, dan prediksi dimasa

mendatang, analisis laporan keuangan tersebut digunakan untuk pengambilan

keputusan oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Dari pengertian kinerja keuangan yang dijelaskan oleh para ahli maka

kinerja keuangan menurut penulis adalah suatu kondisi atau hasil yang dicapai

oleh seseorang atau sekelompok orang atau organisasi yang disampaikan pada

periode tertentu dengan membandingkan antara target atau tujuan dengan hasil
36

yangdicapai yang berkaitan dengan hasil yang dapat diukur dari menganalisa

laporan keuangan suatu perusahaan untuk pengambilan suatu keputusan oleh

menajemen.

2.5.2 Pengukuran Kinerja Keuangan

Kinerja keuangan perusahaan berkaitan erat dengan pengukuran dan

penilaian kinerja.Pengukuran kinerja (performing measurement) adalah kualifikasi

dan efisiensi serta efektivitas perusahaan dalam pengoperasian bisnis selama

periode akuntansi.Adapun penilaian kinerja menurut Srimindarti (2006:34) adalah

penentuan efektivitas operasional, organisasi, dan karyawan berdasarkan sasaran,

standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya secara periodik.

Pengukuran kinerja digunakan perusahaan untuk melakukan perbaikan di

atas kegiatan operasionalnya agar dapat bersaing dengan perusahaan lain. Analisis

kinerja keuangan merupakan proses pengkajian secara kritis terhadap review data,

menghitung, mengukur, menginterprestasi, dan memberi solusi terhadap keuangan

perusahaan pada suatu periode tertentu.

Menurut Munawir (2012:31) menyatakan bahwa tujuan dari pengukuran kinerja

keuangan perusahaan adalah:

1. Mengetahui tingkat likuiditas.

Likuiditas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi

kewajiban keuangan yang harus segera diselesaikan pada saat ditagih.


37

2. Mengetahui tingkat solvabilitas.

Solvabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi

kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi, baik

keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.

3. Mengetahui tingkat rentabilitas.

Rentabilitas atau yang sering disebut dengan profitabilitas menunjukkan

kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.

4. Mengetahui tingkat stabilitas.

Stabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk melakukan usahanya

dengan stabil, yang diukur dengan mempertimbangkan kemampuan

perusahaan untuk membayar hutang-hutangnya serta membayar beban bunga

atas hutang-hutangnya tepat pada waktunya

2.5.3 Rasio Menilai Kinerja

Menurut Wiratna 2016 Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur

tingkat imbalan atau perolehan (keuntungan) dibanding penjualan atau aktiva,

mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam

hubungannya dengan penjualan, aktiva maupun modan laba dan modal sendiri.

Menurut Kasmir (2016:196) “Rasio profitabilitas yakni Rasio yang

menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan.” Rasio ini dapat juga

memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan.Hal ini

ditunjukkan oleh adanya laba yang dihasilkan dari penjuaan dan pendapatan
38

investasi.Inti dari penggunaan rasio ini adalah untuk menunjukkan efisiensi

perusahaan.

Rasio profitabilitas salah satu jenis rasio yang bisa digunakan untuk

mengetahui kelangsungan hidup perusahaan (going concern).. Rasio

profitabilitas ini terbagi menjadi lima rumus yang masing-masingnya memiliki

manfaat yang berbeda, yaitu gross profit margin, operating profit margin,

net profit margin, return on assets (ROA), dan return on

investment (ROI).

Pada penelitian ini penulis memakai rasio profitabilitas dengan memakai rasio

NPM.

NPM (Net Profit Margin)

Net Profit Margin (NPM) adalah rasio yang digunakan untuk

menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bersih.

Menurut Weston dan Copeland (1998), semakin besar Net Profit Margin berarti

semakin efisien perusahaan tersebut dalam mengeluarkan biaya-biaya sehubungan

dengan kegiatan operasinya.

Menurut Bastian dan Suhardjono (2006), Net Profit Margin adalah

perbandingan antara laba bersih dengan penjualan. Rasio ini sangat penting bagi

manajer operasi karena mencerminkan strategi penetapan harga penjualan yang


39

diterapkan perusahaan dan kemampuannya untuk mengendalikan beban usaha.

Sedangkan menurut Ary tatang.2011:114 Net Profit Margin (NPM) adalah

rasio yang menunjukkan pencapaian laba atas per Rupiah penjualan yang dihitung

dengan membandingkan laba yang diperoleh dengan penjualan yang dihasilkan.

Menurut Brigham dan Houston (2013 : 107) “Net Profit Margin adalah mengukur

besarnya laba bersih perusahaan dibandingkan dengan penjualannya.

Lukman Syamsuddin (2014:62) mendefinisikan NPM sebagai berikut, Net

\profit margin adalah merupakan rasio antara laba bersih (Net Profit) yaitu

penjualan sesudah dikurangi dengan seluruh expense termasuk pajak

dibandingkan dengan penjualan. Semakin tinggi NPM, semakin baik operasi suatu

perusahaan

Rasio ini menunjukkan berapa besar persentase pendapatan bersih yang

diperoleh dari setiap penjualan. Menurut Harahap (2011 : 304),” semakin besar

rasio ini semakin baik karena dianggap kemampuan perusahaan dalam

mendapatkan laba.

Menurut Darsono dan Ashari (2012 : 56) “Net Profit Margin (NPM)

adalah menggambarkan besarnya laba bersih yang diperoleh perusahaan setiap

penjualan yang dilakukan.”. Rasio ini menunjukkan berapa besar persentase laba

bersih yang diperoleh dari setiap penjualan. Semakin besar rasio ini, maka

dianggap semakin baik kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba yang

tinggi. Hubungan antara laba bersih dan penjualan bersih menunjukkan

kemampuan manajemen dalam menjalankan perusahaan secara cukup berhasil


40

untuk menyisakan margin tertentu sebagai kompensasi yang wajar bagi pemilik

yang telah menyediakan modalnya untuk suatu risiko.

Manfaat dari Net Profit Margin adalah :

1. NPM lah yang menjadi pandangan acuan seorang investor.

2. Semakin tinggi NPM menandakan laba perusahaan tersebut semakin besar.

3. Semakin tinggi nilai NPM menandakan bahwa perusahaan tersebut semakin

efisien operasionalnya. Perusahaan dapat menekan biaya-biaya yang tidak perlu,

sehingga perusahaan mampu memaksimalkan laba bersih yang didapatkan.

2.6 Penelitian Terdahulu

Penelitian Good Governance, Kinerja Lingkungan dan Kinerja Keuangan

sudah dilakukan beberapa peneliti diantaranya :

Tabel 2.2
Penelitian Terdahulu
No Keterangan Variable Hasil

1 Angela Merici Biuty, 2018 X = GCG 1) GCG tidak memiliki pengaruh

Analisa Good Coorporate Y = ROE, positif terhadap kinerja

Governance, Pengaruhnya NPM keuangan perusahaan yang

pada Financial diprosikan dengan ROE

Performance di 2) GCG tidak memiliki pengaruh

Perusahaan terdaftar pada positif terhadap kinerja

Corporate Governance keuangan perusahaan yang

Perseption Index (CGPI) diprosikan dengan NPM


41

3) GCG memiliki pengaruh

positif terhadap kinerja

keuangan perusahaan yang

diprosikan dengan Earning

per share (EPS)

2 Annisa Tiarasandy, 2018 X1 = CSR 1) Kinerja Lingkungan

Pengaruh Kinerja X2 = berpengaruh secara parsial

Lingkungan dan Pengungkapan terhadap Kinerja Financial

Pengungkapan Corporate CSR yang diproksikan oleh ROA

Social Responsibility Y = ROA, 2) Pengungkapan Kinerja

Terhadap Kinerja ROE, NPM Lingkungan tidakberpengaruh

Financial (studi empiris secara parsial terhadap

pada perusahaan yang Kinerja Financial yang

terdaftar di PROPER OF diproksikan oleh ROA

2013-2015) 3) Kinerja Lingkungan tidak

berpengaruh secara parsial

terhadap Kinerja Financial

yang diproksikan oleh ROE

4) Pengungkapan Kinerja

Lingkungan tidak

berpengaruh secara parsial

terhadap Kinerja Financial


42

yang diproksikan oleh ROE

5) Kinerja Lingkungan tidak

berpengaruh secara parsial

terhadap Kinerja Financial

yang diproksikan oleh NPM

6) Pengungkapan Kinerja

Lingkungan tidak

berpengaruh secara parsial

terhadap Kinerja Financial

yang diproksikan oleh NPM

3 Herna R Simaremare, X = CSR (1) Corporate sosial

2018 Y = ROA, responsibility tidak

Pengaruh Corporate NPM berpengaruh signifikan

Sosial Responsibility (Csr) terhadap kinerja keuangan

Terhadap Kinerja yang diukur dengan Return

Keuangan Pada On Asset

Perusahaan Makanan Dan (2) Corporate Social

Minuman Yang Terdaftar Responsibility (CSR)

Di Bursa Efek Indonesia berpengaruh positif dan

signifikan terhadap kinerja

perusahaan yang diukur

dengan Net Profit Margin


43

pada perusahaan makanan

dan minuman yang terdaftar

di bursa efek indonesia

periode 2013-2016

3 Jesica Patria, 2017 X1 = GCG 1) Hasil uji model regresi 1

Pengaruh Good Corporate Y1 = ROA menunjukkan bahwa GCG

Governance Terhadap Y2 = ROE tidak memberi pengaruh yang

Kinerja Keuangan Pada Y3 = Tobins Q signifikan terhadap kinerja

Peserta Cgpi Yang keuangan yang diukur dengan

Terdaftar Di Bei Periode ROA

2008-2013 2) Hasil uji model regresi 2

menunjukkan bahwa GCG

tidak memberi pengaruh yang

signifkan terhadap kinerja

keuangan yang diukur dengan

ROE.

3) Hasil uji model regresi 3

menunjukkan bahwa GCG

tidak memberi pengaruh yang

signifikan terhadap kinerja

pasar yang diukur dengan

Tobin’s Q
44

4 Adalpino Nainggolan, X1 = GCG 1) Praktek Good Corporate

2017 Y1 = ROE, Governanance berpengaruh

Pengaruh Praktek Good NPM terhadap kinerja perusahaan

Corporate Governance yang diukur dengan ROE.

terhadap Kinerja 2) Praktek Good Corporate

Keuangan yang Masuk Governanance berpengaruh

Dalan Pemeringkatan terhadap kinerja perusahaan

Corporate Governance yang diukur dengan NPM.

Perseption Index (CGPI)

5 Eny Maryanti, 2017 X1 = CSR 1) CSR berpengaruh terhadap

Corporate Social X2 = GCG kinerja keuangan perusahaan

Responsibilty, Good X3=Kinerja manufaktur yang terdaftar di

Corporate Lingkungan Bursa Efek Indonesia, hal ini

Governance,Kinerja Y = Kinerja menunjukkan bahwa CSR

Lingkungan Terhadap Kuangan dilakukan oleh perusahaan

Kinerja Keuangan Dan dengan tujuan mendapatkan

Pengaruhnya Pada Nilai kepercayaan masyarakat.

Perusahaan 2) (2)GCG yang dibentuk

dengan kepemilikan institusi

dan komite audit tidak

berpengaruh terhadap kinerja

keuangan perusahaan.
45

Sedangka GCG yang dibentuk

dengan kepemilikan

manajerial, dewan komisaris

dan komisaris independen

berpengaruh secara signifikan

terhadap kinerja keuangan.

3) (3)Kinerja lingkungan tidak

berpengaruh secara signifikan

terhadap kinerja keuangan

perusahaan. Kepemilikan

manajerial, dewan komisaris

dan komisaris independen

secara tidak langsung melalui

kinerja keuangan berpengaruh

secara signifikan terhadap

nilai perusahaan. Kepemilikan

institusi dan komite audit

secara tidak langsung melalui

kinerja keuangan tidak

berpengaruh secara signifikan

terhadap nilai perusahaan.

6 Gita andriani 2016 X1 = GCG Gg Good corporate governance dan


46

Pengaruh Good Corporate X2= Total Ukuran Perusahaan secara

Governance dan Ukuran aktiva simultan atau bersama-sama

Perusahaan terhadap Y = ROA berpengaruh terhadap kinerja

Kinerja Keuangan keuangan perusahaan

Perusahaan (Pada

Perusahaan Perbankan

yang Terdaftar di Bursa

Efek Indonesia (BEI)

Tahun 2010-2014

7 Isnin Hariati dan Yeney X1 = GCG 1) Kepemilikan institusional

widya, 2014 X2 = CSR berpengaruh positif terhadap

Pengaruh tata kelola Y = Nilai nilai perusahaan

perusahaan dan kinerja perusahaan 2) Proporsi dewan komisaris

lingkungan terhadap independen berpengaruh

nilai perusahaan (Studi positif tehadap nilai

empiris pada perusahaan perusahaan

manufaktur yang 3) Ukuran komite audit juga

terdaftar di BEI tahun berpengaruh positif terhadap

2011-2013) nilai perusahaan

4) Adanya pengaruh positif

kinerja lingkungan terhadap

nilai perusaan
47

8 Ahmad Rosyid, 2015 X = CSR Ha Hasil pengujian yang telah

Pengaruh Kinerja Sosial Y = ROA dilakukan maka terlihat bahwa

Dan Kinerja Lingkungan secara bersama-sama kinerja

Terhadap Kinerja lingkungan independen dalam

Keuangan penelitian ini berpengaruh

signifikan terhadap variable

dependennya yaitu kinerja

keuangan

9 Scrimgeou r et al, 2015 X = CSR 1) Berpengaruh positif dan

Kinerja lingkungan Y = ROA signifikan sebelum masa krisis

tehadap kinerja keuangan 2) Berpengaruh positif tidak

signifikan tehadapa masa

krisis

10 Misani dan Pogutz, 2015 X = CSR B Berpengaruh positif signifikan

Kinerja lingkungan Y = ROA untuk kenerja lingkungan baik

terhadap kInerja yang tinggi maupu yang rendah,

keuangan namun tidak berhubungan untuk

kinerja lingkungan menengah


48

2.7 Kerangka Pemikiran

Sesuai dengan judul skripsi yang penulis kemukakan yaitu Pengaruh Good

Governance dan Kinerja Lingkungan terhadap Kinerja Keuangan maka model

penelitian dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran

Corporate Governance
H1
Perception Index (X1)

Kinerja Keuangan (Y)
NPM (Net Profit Margin)
H2

Kinerja Lingkungan
Perseption Index(X2)
H3

2.8 Hipotesis Penelitian

2.8.1 Pengaruh Corporate Governance terhadap Kinerja Keuangan

Perusahan (NPM)

Penerapan untuk tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate

Governance) dapat diartikan sebagai suatu proses yang digunakan oleh

perusahaan untuk meningkatkan kualitas kinerja keuangan perusahaan. Dalam

mengukur kinerja keuangan perusahaan yaitu dapat menggunakan Return of

Equity (ROE) dan Net Profit Margin (NPM).

Berdasarkan penelitian dari Adolpino Nainggolan, 2017 Praktek Good

Corporate Governanance berpengaruh terhadap kinerja perusahaan yang diukur


49

dengan NPM. Namun hal yang berbeda diungkapkan oleh Angela Merici

Biuty, 2018 bahwa GCG tidak memiliki pengaruh positif terhadap kinerja

keuangan perusahaan yang diprosikan dengan NPM. Sehingga hipotesis yang

diajukan adalah sebagai berikut :

H1 : Diduga Pengukuran GCG berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan

dapat dilihat dengan menggunakan rasio Net Profit Margin (NPM)

2.8.2 Pengaruh Kinerja Lingkungan terhadap Kinerja Keuangan

Perusahaan (NPM)

Penelitian Annisa tiarasandi, 2018 bahwa variable pengungkapan CSR

dengan NPM berpengaruh signifikan terhadap variable kinerja finansial. Kinerja

lingkungan yang dinilai melalui PROPER memberikan pengaruh yang cukup

signifikan terhadap NPM. Dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang memiliki

kinerja lingkungan yang baik dapat memaksimalkan kinerja financial perusahaan

dari laba bersih sehingga hasil hipotesisnya. Penelitian Herna R Simaremare, 2018

Corporate Social Responsibility (CSR) berpengaruh positif dan signifikan

terhadap kinerja perusahaan yang diukur dengan Net Profit Margin. Tanggung

jawab social perusahaan merupakan suatu bentuk pertanggungjawaban yang

dilakukan oleh suatu perusahaan dalam memperbaiki kesenjangan sosial dan

kerusakan-kerusakan lingkungan yang terjadi akibat dari ativitas operasional yang

dilakukan perusahaan. Semakin banyak bentuk pertanggungjawaban yang

dilakukan oleh suatu perusahaan terhadap lingkungannya, maka semakin baik

citra perusahaan . Pendapat dari hipotesis ini juga sama dengan peneliti
50

sebelumnya Eny Maryanti, 2017. Sehingga hipotesis yang diajukan adalah

sebagai berikut:

H1 : Diduga Kinerja lingkungan berpengaruh signifikan terhadap kinerja

keuangan (NPM)

2.8.3 Pengaruh Corporate Governance dan Kinerja Lingkungan terhadap

Kinerja Keuangan Perusahaan (NPM)

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan peneliti peneliti sebelumnya dan

keterkaitan antara Corporate Governance, kinerja lingkungan terhadap kinerja

keuanga yang diajukan peneliti adalah sebagai berikut:

H3 : Diduga Corporate Governance dan Kinerja lingkungan berpengaruh

signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan (NPM)


51

BAB III
METEDOLOGI PENELITIAN

3.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian komparatif yaitu penelitian yang bersifat

membandingkan. Metode penelitian komparatif yang membandingkan satu

variable atau lebih pada dua atau beberapa sampel yang berbeda, atau pada waktu

yang berbeda (Sugiyono:2012). Dalam penelitian ini penulis membandingkan

antara Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) yang disajikan

pemeringkatan dalam bentuk program Corporate Governance Perseption Index

(GCPI) dan Kinerja Lingkungan disajikan dalam bentuk pemeringkatan dalam

program Kementrian Lingkungan Hidup terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan

dengan memakai rasio keuangan yaitu Net Profit Margin atau dikenal dengan

NPM.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang penulis terapkan dalam penelitian ini

adalah dengan studi kepustakaan (library reseach). Studi kepustakaan merupakan

pengumpulan informasi dan data yang didapat dengan mempelajari, membaca dan

mengutipnya dari berbagai sumber seperti buku, skripsi, jurnal dan arsip-arsip

laporan perusahaan.
52

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengambilan sample yang penulis gunakan adalah dengan

menggunakan data sekunder, yaitu program pemeringkatan dari GCPI,

program pemeringkatan PROPER dari Kementrian Lingkungan Hidup dan

laporan keuangan yang diakses melalui Bursa Efek Indonesia. Alasan data

sekunder yang diambil dari Bursa Efek Indonesia adalah dikarenakan laporan

keuangan yang disajikan sudah go public lebih mudah dan keabsahannya lebih

dapat dipercaya.

3.4 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif.

Data kuantitatif adalah jenis data yang dapat diukur atau dihitung secara langsung,

yang berupa informasi atau penjelasan yang dinyatakan dengan bilangan atau

berbentuk angka. Dalam hal ini data yang diperlukan adalah keterangan Kriteria

Peringkat GCPI dengan kriteria Cukup Terpercaya, Terpercaya, dan Sangat

Terpercaya dan memberikan score pada keterangan kriteria tersebut . Kriteria

Peringkat PROPER dengan Indikator Warna Emas, Hijau, Biru, Merah dan Hitam

Kriteria Peringkat GCPI dengan kriteria Cukup Terpercaya, Terpercaya, dan

Sangat Terpercaya. Kriteria Peringkat PROPER dengan Indikator Warna Emas,

Hijau, Biru, Merah dan Hitam. Untuk kinerja keuangan dengan melihat angka

pada anual report untuk setiap tahunnya.

(Sugiyono, Statistik untuk Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2010), h.15)


53

Sumber data adalah data sekunder yaitu data yang mengacu pada

informasi yang dikumpulkan dari sumber yang telah ada. Sumber data sekunder

adalah catatan atau dokumentasi perusahaan, publikasi pemerintah, analisis

industri oleh media, situs Web, internet dan seterusnya (Uma Sekaran, 2011).

Sumber Data adalah sekunder yaitu sumber data yang tidak langsung memberikan

data kepada pengumpul data (Sugiono : 2008 : 402). Data sekunder ini

merupakan data yang sifatnya mendukung keperluan data primer seperti buku-

buku, literatur dan bacaan yang berkaitan dengan pelaksanaan pengawasan

kredit pada suatu bank (Sugiono : 2008 : 402).

3.5 Populasi dan Sample

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas, obyek/subjek yang

mempunyai kuantitas & karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi yang digunakan

dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang ada di Indonesia tahun

2013-2018 yang termasuk dalam kelompok perusahaan-perusahaan peringkat

CGPI berjumlah 93 dengan rincian sebagai berikut :

Tabel 3.1
Daftar Perusahaan di Indonesia Peringkat CGPI 2013-2018
Peringkat
No Nama Perusahaan Sangat Cukup
Terpercaya
Terpercaya Terpercaya
Tahun 2013
1 Pt Aneka Tambang (Persero) Tbk v
2 Pt Asuransi Jasa Indonesia (Persero) v
54

3 Pt Bank Central Asia Tbk v


4 Pt Bank Mandiri (Persero) Tbk v
5 Pt Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk v
6 Pt Bank Ocbc Nisp Tbk v
7 Pt Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk v
8 Pt Bank Syariah Mandiri v
9 Pt Garuda Indonesia (Persero) Tbk v
10 Pt Jasa Marga (Persero) Tbk v
Pt Telekomunikasi Indonesia (Persero)
11 v
Tbk
12 Pt Adi Sarana Armada Tbk v
13 Pt Angkasa Pura Ii (Persero) v
14 Pt Bank Dki v
15 Pt Bank Papua v
16 Pt Bank Permata Tbk v
17 Pt Bank Sinar Harapan Bali v
18 Pt Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk v
19 Pt Bukit Asam (Persero) Tbk v
20 Pt Indo Tambangraya Megah Tbk v
21 Pt Krakatau Engineering v
22 Pt Krakatau Industrial Estale Cilegon v
23 Pt Krakatau Tirta Industri v
24 Pt Kereta Api Indonesia (Persero) v
25 Pt Mandiri Tunas Finance v
26 Pt Pelabuhan Indonesia Ii (Persero) v
27 Pt Pembangkitan Jawa Bali v
28 Pt Pertamina (Persero) v
29 Pt Petrokimia Gresik v
30 Pt Timah (Persero) Tbk v
31 Pt Bakrie Telecom Tbk v
Tahun 2014
1 Pt Bank Central Asia Tbk v
2 Pt Bank Mandiri (Persero) Tbk v
3 Pt Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk v
4 Pt Bank Ocbc Nisp Tbk v
5 Pt Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk v
6 Pt Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk v
7 Pt Aneka Tambang (Persero) Tbk v
8 Pt Bukit Asam (Persero) Tbk v
9 Pt Jasa Marga (Persero) Tbk v
10 Pt Asuransi Jasa Indonesia (Persero) v
11 Pt Bank Syariah Mandiri v
55

12 Pt Timah (Persero) Tbk v


13 Pt Wijaya Karya (Persero) Tbk v
14 Pt Kereta Api (Persero) v
15 Pt Pelabuhan Indonesia Iii (Persero) v
16 Pt Bank Mandiri Taspen Pos v
17 Pt Mandiri Sekuritas v
18 Pt Mandiri Tunas Finance v
19 Pt Krakatau Engineering v
20 Pt Krakatau Industrial Estate Cilegon v
21 Pt Krakatau Tirta Industri v
22 Pt Petrokimia Gresik v
23 Pt Bakrie & Brothers Tbk v
Tahun 2015
1 Pt Aneka Tambang (Persero) Tbk v
2 Pt Asuransi Jasa Indonesia (Persero) v
3 Pt Bank Central Asia Tbk v
4 Pt Bank Mandiri (Persero) Tbk v
5 Pt Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk v
6 Pt Bank Ocbc Nisp Tbk v
7 Pt Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk v
8 Pt Bank Syariah Mandiri v
9 Pt Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk v
10 Pt Bukit Asam (Persero) Tbk v
11 Pt Jasa Marga (Persero) Tbk v
Pt Telekomunikasi Indonesia (Persero)
12 v
Tbk
13 Pt Asuransi Jiwa Inhealt Indonesia v
14 Pt Axa Mandiri Financial Services v
15 Pt Bakrie & Brothers Tbk v
16 Pt Bank Dki v
17 Pt Bank Mandiri Taspen Pos v
18 Pt Bank Riau Kepri v
19 Pt Bank Bjb Tbk v
20 Pt Bank Permata v
21 Pt Bank Bni Syariah v
22 Pt Indonesia Power v
23 Pt Krakatau Tirta Industri v
24 Pt Mandiri Axa General Insurance v
25 Pt Mandiri Manajemen Investasi v
26 Pt Mandiri Sekuritas v
27 Pt Mandiri Tunas Finance v
28 Pt Pertamina (Persero) v
56

29 Pt Semen Indonesia (Persero) Tbk v


30 Pt Timah (Persero) Tbk v
Tahun 2016
1 Pt Aneka Tambang (Persero) Tbk v
2 Pt Asuransi Jasa Indonesia (Persero) v
3 Pt Bank Central Asia Tbk v
4 Pt Bank Mandiri (Persero) Tbk v
5 Pt Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk v
6 Pt Bank Ocbc Nisp Tbk v
7 Pt Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk v
8 Pt Bank Syariah Mandiri v
9 Pt Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk v
10 Pt Bukit Asam (Persero) Tbk v
11 Pt Telkom Indonesia (Persero) Tbk v
12 Pt Angkasa Pura Ii (Persero) v
13 Pt Asuransi Bri Life v
14 Pt Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia v
15 Pt Axa Mandiri Financial Services v
16 Pt Bakrie & Brothers Tbk v
17 Pt Bank Bni Syariah v
18 Pt Bank Dki v
19 Pt Bank Mandiri Taspen Pos v
20 Pt Bank Riau Kepri v
21 Pt Garuda Indonesia (Persero) Tbk v
22 Pt Indonesia Power v
23 Pt Mandiri Axa General Insurance v
24 Pt Mandiri Menajemen Investasi v
25 Pt Mandiri Sekuritas v
26 Pt Mandiri Tunas Finance v
27 Pt Pelabuhan Indonesia Iii (Persero) v
28 Pt Pembangunan Jaya Ancol Tbk v
29 Pt Pertamina (Persero) v
30 Pt Pln (Persero) v
31 Pt Semen Indonesia (Persero) Tbk v
32 Pt Telekomunikasi Selular v
33 Pt Timah (Persero) Tbk v
34 Pt Wijaya Karya (Persero) Tbk v
Tahun 2017
1 Pt Angkasa Pura Ii (Persero) v
2 Pt Antam Tbk v
3 Pt Asuransi Jasa Indonesia (Persero) v
57

4 Pt Bank Central Asia Tbk v


5 Pt Bank Mandiri (Persero) v
6 Pt Wijaya Karya (Persero) Tbk v
7 Pt Asuransi Bri Life v
8 Pt Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia v
9 Pt Asuransi Jiwa Tugu Mandiri v
10 Pt Axa Mandiri Financial Services v
11 Pt Bakrie & Brothers Tbk v
12 Pt Bakrie Pipe Industries v
13 Pt Bank Bni Syariah v
14 Pt Bank Dki v
15 Pt Bank Mandiri Taspen v
Pt Bank Pembangunan Daerah Jawa
16 v
Tengah
17 Pt Bank Riau Kepri v
18 Pt Indonesia Asahan Aluminium (Persero) v
19 Pt Mandiri Axa General Insurance v
20 Pt Mandiri Manajemen Investasi v
21 Pt Mandiri Sekuritas v
22 Pt Mandiri Tunas Finance v
23 Pt Pelabuhan Indonesia Iii (Persero) v
24 Pt Pembangunan Jaya Ancol Tbk v
Pt Penjaminan Infrastruktur Indonesia
25 v
(Persero)
26 Pt Perusahaan Listrik Negara (Persero) v
27 Pt Petrokimia Gresik v
28 Pt Pp Properti Tbk v
29 Pt Pupuk Indonesia (Persero) v
30 Pt Pupuk Kalimantan Timur v
31 pt pupuk sriwidjaja palembang v
32 Pt Timah Tbk v
Tahun 2018
2 Pt Bank Mandiri (Persero) Tbk v
3 Pt Bank Mandiri Taspen v
4 Pt Bank Negara Indonesia v
Pt Bank Ocbc Nisp Tbk
5 v
6 Pt Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk v
Pt Bank Syariah Mandiri
7 v
8 Pt Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk v
9 Pt Bukit Asam Tbk v
10 Pt Pupuk Kalimantan Timur v
58

11 Pt Wijaya Karya (Persero) Tbk v


12 Pt Asuransi Bri Life v
13 Pt Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia v
14 Pt Axa Mandiri Financial Services v
Pt Bakrie & Brothers Tbk
15 v
16 Pt Bakrie Pipe Industries v
17 Pt Bank Bni Syariah v
18 Pt Bank Rakyat Indonesia Agroniaga v
19 Pt Bri Multifinance Indonesia v
20 Pt Indonesia Asahan Aluminium (Persero) v
21 Pt Mandiri Axa General Insurance v
22 Pt Mandiri Manajemen Investasi v
23 Pt Mandiri Sekuritas v
24 Pt Mandiri Tunas Finance v
25 Pt Mrt Jakarta v
26 Pt Pegadaian (Persero) v
27 Pt Pelabuhan Indonesia Ii (Persero) v
28 Pt Pelabuhan Indonesia Iii (Persero) v
29 Pt Pembangunan Jaya Ancol Tbk v
30 Pt Perusahaan Listrik Negara (Persero) v
31 Pt Petrokimia Gresik v
32 Pt Pupuk Indonesia (Persero) v
33 Pt Pupuk Sriwidjaja Palembang v
34 Pt Timah Tbk v
Pt Asuransi Tri Pakarta
35 v
Sumber : The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG), 2019

2. Sample
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi tersebut (Sugiyono, 2016). Teknik sampel yang digunakan dalam

penelitian ini adalah Nonprobability sampling. Nonprobability sampling adalah

teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi

setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono,

2016).
59

Jenis sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive

sampling. Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan

pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2016). Purposive sampling juga dapat diartikan

sebagai teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan dan kriteria tertentu

yang disesuaikan dengan tujuan penelitian.Sampel ditetapkan berdasarkan

kriteria-kriteria tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Kriteria-kriteria yang

ditetapkan sebagai berikut :

1. Perusahaan yang ada di Indonesia berdasarkan laporan hasil riset dan

pemeringkatan CGPI 2013-2018

2. Perusahaan yang ada di Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri

Lingkungan Hidup Republik Indonesia tentang hasil penilaian peringkat

kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup tahun 2013-2018

3. Perusahaan yang ada di Indonesia yang menerbitkan laporan keuangan tahun

2013-2018

Berdasarkan kriteria sampel yang telah diuraikan diatas, maka didapat sampel

untuk perusahaan yang ada di Indonesia tahun 2018-2019 adalah sebagai

berikut:

Tabel 3.2
Jumlah Sample Penelitian

No Keterangan Total Perusahaan

1 Perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia periode 2013- 93

2018 yang mendapat CGPI


60

2 Perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia periode 2013- (78)

2018 yang tidak mendapat PROPER

3 Perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia periode 2013- (0)

2018 yang tidak menerbitkan laporan keuangan

Total perusahaan yang menjadi sample penelitian 15

Berikut adalah nama-nama perusahaan yang sesuai dengan variabel

penelitian :

Tabel 3.3
Sample Penelitian
No Nama Perusahaan Bidang Usaha
1 PT Bukit Asam Tbk Briket Batubara
Perdagangan Umum,
Konstruksi, Pertanian,
Pertambangan, Industri,
Khususnya Manufaktur Pipa
Baja, Bahan Bangunan Dan
2 PT Bakrie & Brothers Tbk
Produk Konstruksi Lainnya,
Sistem Telekomunikasi, Barang
Elektronik Dan Listrik Dan
Investasi Termasuk Investasi
Ekuitas
3 PT Bakrie Pipe Industries Produksi Pipa Baja
4 PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) BUMN, Peleburan Aluminium
BUMN, Bidang
5 PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)
ketenagalistrikan

6 PT Petrokimia Gresik Produsen Pupuk


61

BUMN, Produksi Dan


7 PT Pupuk Sriwidjaja Palembang
Pemasaran Pupuk
Bidang Usaha Pertambangan,
Industri, Perdagangan,
8 PT Timah Tbk
Transportasi Dan Jasa
Terkait Usaha Pertambangan
Roduksi Dan
9 PT Pupuk Kalimantan Timur Pemasaran Pupuk Serta Bahan
Kimia Lainnya.
10 PT Aneka Tambang (Persero) Tbk Bidang Pertambangan
Bidang Pembangkitan Tenaga
11 PT Indonesia Power
Listrik
Perusahaanmilik Negara Yang
12 PT Pertamina (Persero) Bergerak Di Bidang Energi
Meliputi Minyak, Gas
13 PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Industri Semen
Badan Usaha Milik Negara
Yang Menyediakan, Mengatur,
14 PT Kereta Api (Persero) Dan Mengurus Jasa
Angkutan Kereta Api Di
Indonesia
Bergerak Dalam Penyediaan
15 PT Bakrie Telecom Tbk Jaringan Dan Layanan
Telekomunikasi

3.6 Variabel Penelitian

Variable penelitian adalah segala sesuatu dalam bentuk apa saja yang akan

diteliti dan diolah peneliti sehingga menghasilkan informasi yang dibutuhkan dan

dikemudian hari dan dapat ditarik kesimpulan.


62

Tabel 3.4
Variable Penelitian
No Keterangan Definisi Alat Ukur Satuan

1 Variable Dependen Net Profit Margin adalah rasio yang Rumus : Rasio

NPM (Net Profit digunakan untuk mengukur laba bersih Laba setelah

Margin) sesudah pajak lalu dibandingkan pajak Penjualan

dengan volume penjualan bersih

Sumber :Wiratna:2017:64

2 Variable Tata kelola perusahaan adalah Corporate Score

Independen hubungan antar berbagai peserta Governance

Corporate dalam menentukan arah dan kinerja Perseption Index

Gavernance perusahaan. peserta utama adalah (CGPI) dengan

pemegang saham, manajemen dan memberikan score

dewan direksi. terhadap rentang

Sumber : Monks dan Minow (2004) nilai

dalam Niki (2016:20)

3 Variable Kinerja Lingkungan adalah kinerja PROPER Score

Independen perusahaan dalam menciptakan Program

Kinerja lingkungan yang baik (green). Penilaian

Lingkungan Sumber : Suratno et al:2006 Peringkat Kinerja

Perusahaan dalam

Pengelolaan

Lingkungan
63

Hidup dengan

memberikan score

pada peringkat

dengan simbol

The Indonesian Institute of Corporate Governance (IICG) melalui

program Corporate Governance Perseption Index (CGPI) membantu

perusahaan meninjau ulang pelaksanaan Corporate Governance (CG) yang

telah dilakukannya dan membandingkan pelaksanaannya terhadap perusahaan-

perusahaan lain pada sektor yang sama. Tahapan dan bobot penilaian riset dan

pemeringkatan Corporate Governance Perseption Index (CGPI) dapat dilihat:

Tabel 3.5
Tahapan dan Bobot Penilaian Riset dan Pemeringkatan CGPI
No. Tahapan Bobot (%)

1 Self Assessment 15

2 Kelengkapan Dokumen 20

3 Makalah yang merefleksikan program dan 14

hasil penerapan GCG sebagai system di

perusahaan bersangkutan

4 Observasi 51

(Sumber: Laporan CGPI, 2011)

Hasil penilaian Pemeringkatan program CGPI menggunakan norma

penilaian berdasarkan rentang skor yang dicapai oleh peserta CGPI dengan

kategorisasi atas tingkat kualitas implementasi GCG yang menggunakan istilah


64

sesuai dengan rentang nilai dan skor yang telah ditetapkan.Pemeringkatan CGPI

didesain menjadi tiga kategori berdasarkan tingkat/level terpercaya yang dapat

dijelaskan menurut skor penerapan GCG yang disajikan pada table.

Tabel 3.6
Kategori Pemeringkatan CGPI
Rentang Nilai Level Terpercaya Score

55-69 Cukup Terpercaya 1

70-84 Terpercaya 2

85-100 Sangat 3

Terpercaya

(Sumber: Laporan CGPI, 2011).

Kinerja Lingkungan

Kinerja penataan yang dinilai dalam PROPER mencakup penataan

terhadap pengendalian pencemaran air, udara , pengelolaan limbah B3 dan

penerapan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).

Terdapat lima peringkat PROPER yaitu Emas, Hijau, Biru, Merah dan Hitam

dilihat dari peraturan Menteri Negera Lingkungan Hidup No 3 Tahun 2014

tentang program Penilaian Peringkat KInerja PROPER Perusahaan akan

mendapatkan hasil penilaian kinerja pengelolaan lingkungan yang dinilai dengan

score yaitu :
65

Tabel 3.7
Kategori Pemeringkatan PROPER
Peringkat Score

Emas 5

Hijau 4

Biru 3

Merah 2

Hitam 1

3.7.Uji Asumsi Klasik

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model regresi.

Model regresi yang diperoleh dari metode kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least

Squere-OLS) merupakan model regresi yang menghasilkan estimator linear tidan

bias yang terbaik (Best Linear Unbias Estimate-BLUE)

1.Uji Normalitas

Uji Normalitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,

variable pengganggu (residual) memiliki distribusi normal atau tidak

(Gzozali:2011). Alat uji yang digunakan adalah KolmogorovSmirnov Z (I-

Simple K-S). Dasar pengambilan keputusan uji statistic dengan Kolmogorov

Smirnov Z (I-Simple K-S) (Ghozali:2011) adalah :

1. Jika nilai Asymp. Sig (2-tailed) kurang dari 0,05 , maka HO ditolak. Hal

ini berarti data residual terdistribusi tidak normal.

2. Jika nilai Asymp. Sig (2-tailed) lebih dari 0,05 , maka HO diterima. Hal

ini berarti data residual terdistribusi normal.


66

2.Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variable bebas (independen) (Ghozali:2011).

Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variable

independen. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas, dapat dilihat

dari nilai toleransi dan lawannya variance inflastion factor (VIF). Kedua ukuran

ini menunjukkan setiap variable independen manakah yang dijelaskan oleh

variable independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variable

independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variable independen lainnya.

Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan VIF tinggi (karena VIF=

1/Tolerance). Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya

multikolinearitas adalah nilai Tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥10

(Ghozali, 2011).

3.Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi tidak terjadi kesamaan varian dari residual satu pengamatan ke

pengamatan yang lain (Ghozali, 2011). Jika variance dari residual satu

pengamatan yang lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda

disebut Heteroskedastisitas. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk

mengetahui ada atau tidaknya heteroskedastisitas pada penelitian ini diuji dengan

Uji Glejser.Uji Glejser mengusulkan untuk meregres nilai absolute terhadap


67

variable independen (Gujarat, 20013 dalam Ghozali, 2009). Variable dengan nilai

signifikan diatas 0,05 menunjukkan tidak terjadi heteroskedastisitas. Model

regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi

heteroskedastisitas.

4.Uji Autokorelasi

Uji autorelasi digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi linear

terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan

pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1

(sebelumnya) (Ghozali:2011). Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas

dari autokorelasi.Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi penelitian ini

menggunakan metode uji Run Test. Run Test digunakan untuk melihat adapakah

data residual terjadi secara rondom (Ghozali:2011). Model yang baik apabila nilai

signifikan diatas 0,05 sehingga dapat dikatakan random.

3.7 Metode Analisis Data

1. Analisa Deskriptif

Analisis ini bertujuan untuk menggambarkan keadaan data apa adanya,

yang dikumpulkan dari responden dan disajikan ke dalam Tabel distribusi

frekuensi kemudian dilakukan analisis persentase, mean, standar deviasi dan

koefisien variabel serta memberikan interpretasi analisis tersebut. Analisis

deskriptif dapat digunakan untuk mengolah data kuantitatif.Cara ini dulakukan

untuk melihat performa data di masa lalu agar dapat mengambil kesimpulan dari
68

hal tersebut. Metode ini mengedepankan deskripsi yagmemungkinkan kamu untuk

belajar dari hal lalu.. Analisis deskriptif memiliki dua proses yang berbeda di

dalamnya berupa deskripsi dan interpretasi. Jenis metode ini biasa digunakan

dalam menyajikan data statistic dengan menggunakan SPSS.

Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang

dilihat dari nilai rata-rata (mean), standard deviasi, varian, maksimum, minimum,

sum, range, kurtosis dan skewness (kemencengan distribusi).

2. Analisa Regresi Linear Berganda

Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis regresi

berganda. Analisis regresi berganda adalah alat analisis data yang digunakan

dalam penelitian ini.Analisis regresi berganda ini dipakai karena untuk menguji

pengaruh beberapa variable bebas (metric) terhadap satu variable terikat (metric)

dengan software SPSS. Dalam analisis regresi, selain mengukur kekuatan

hubungan antara dua variable atau lebih, juga menunjukkan arah hubungan

variable antara variable dependen dengan variable independen.

Uji yang dilakukan adalah uji t. Pengambilan keputusan dilakukan

berdasarkan perbandingan nilat t hitung masing-masing koefisien dengan t table,

dengan tingkat signifikan 5%.

Jika t hitung < t table maka Ho diterima.Ini berarti bahwa variable independen

tidak berpengaruh terhadap variable dependen.Namun jika Jika t hitung > t table

maka Ho ditolak.Maka berarti bahwa variable independen berpengaruh terhadap

variable dependen.

Model regresi yang akan di uji adalah sebagai berikut :


69

NPM = α +β1.CGPI it + β2.PROPER it + e.

Keterangan :

NPM : Kinerja Keuangan

CGPI : Corporate Governance

PROPER : Kinerja Lingkungan

α : Konstanta

β1-β2 : Koefisien Regresi

e : Error

3.8 Metode Pengujian Hipotesis

1.Uji Statistif F

Uji signifikan simulatan (uji statistic F) bertujuan untuk mengukur apakah

semua variable independen dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh

secara bersama-sama terhadap variable dependen.

Pengujian secara simulatan ini dilakukan dengan cara membandingkan antara

tingkat signifikan F dari hasil pengujian dengan nilai signifikan yang digunakan

dalam penelitian ini. Cara pengujian simultan terhadap variable independen yang

digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Jika tingkat signifikan F yang diperoleh dari hasil pengolahan nilainya

lebih kecil dari nilai signifikan yang digunakan yaitu sebesar 5 persen

maka dapat disimpulkan bahwa semua variable independen secara

simultan berpengaruh terhadap variable dependen.


70

b. Jika tingkat signifikan F yang diperoleh dari hasil pengolahan nilainya

lebih besar dari nilai signifikan yang digunakan yaitu sebesar 5 perseb

maka dapat disimpulkan bahwa semua variable independen secara

simultan tidak berpengaruh terhadap variable dependen.

2.Uji t

Uji t atau Test t adalah salah satu test statistik yang dipergunakan untuk

menguji kebenaran atau kepalsuan hipotesis nihil yang menyatakan bahwa

diantara dua buah mean sampel yang diambil secara random dari populasi yang

sama, tidak terdapat perbedaan yang signifikan.(Sudjiono, 2010). Uji T pada

dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variable independen secara

individual menerangkan variasi variable uang terikat (ghozali:2006). Pengujian

parsial regresi yang dimaksud adalah untuk mengetahui apakah variable bebas

secara individual mempunyai pengaruh terhadap variable terikat dengan asumsi

variable yang lain itu konstan. Untuk melakukan uji t maka dapat dilakukan

rumus

t = βn/Sβn

Ket :

t = mengikuti fungsi t dengan derahat kebebasan (df)

Βn = koefisien regresi masing-masing variable

Sβn = standar error masing masing variable

Kesimpulan untuk pengambilan keputusan :


71

a. Jika probabilitas (signifikan) > 0,05 (α) atau T hitung < T table maka

hipotesa tidak terbukti maka HO diterima, Ha ditolak, bila dilakukan

uji secara parsial

b. Jika probabilitas (signifikan) < 0,05 (α) atau T hitung > T table maka

hipotesa tidak terbukti maka HO ditolak, Ha diterima, bila dilakukan

uji secara parsial.


DaftarPustaka

Anis Chariri dan Imam Ghozali. 2001. Teori Akuntansi. Semarang:


BadanPenerbitUniversitasDiponegoro.

Adrian Sutedi. 2011. Good Corporate Governance. Jakarta: SinarGrafika

Agoes, Sukrisnodan I CenikArdana. 2013. Etika Bisnis dan Profesi,


EdisiRevisi.Jakarta :SalembaEmpat.

Anthony dan Govindarajan. 2005. Management Control System, Edisi 11,


penerjemah: F.X. KurniawanTjakrawala, dan Krista.
PenerbitSalembaEmpat, Buku 2, Jakarta

Adalpino Nainggolan, 2017; Pengaruh Praktek Good Corporate Governance


terhadap Kinerja Keuangan yang Masuk Dalan Pemeringkatan Corporate
Governance Perseption Index (CGPI); Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Teknologi – SNITek 2017, ISSN 2580-5495; Jakarta, 18 Mei
2017

Ahmad Rosyid, 2015; Pengaruh Kinerja Sosial Dan Kinerja Lingkungan Terhadap
Kinerja Keuangan; e-journal.iainpekalongan

Abdul Aziz Nurul Ikhsan, Pengaruh Kinerja Lingkungan Terhadap Kinerja


Keuangan: Studi Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Kementerian
Lingkungan Hidup Dan Listing Di Bei (Periode 2008-2014), Volume 5,
Nomor 3, Tahun 2016, Halaman 1-11
http://ejournals1.undip.ac.id/index.php/management ISSN (Online):
2337-3806

ArfanIkhsan. 2008. Akuntansi Lingkungan dan Pengungkapannya.Yogyakarta


:GrahaIlmu.

Angela Merici Biuty, 2018, Analisa Good Coorporate Governance, Pengaruhnya


pada Financial Performance di Perusahaan terdaftar pada Corporate
Governance Perseption Index (CGPI), ejournal.poltektegal, vol 7 no 2

ArfanIkhsanLubis. 2009. Akuntansi Keperilakuan Edisi.2. Jakarta: SalembaEmpat

Ary, TatangGumanti, 2011, Manajemen Investasi –Konsep, teori dan


Aplikasi,MotraWacana Media, Jakarta

AnisChariridan Imam Ghozali. 2001. Teori Akuntansi. Semarang:


BadanPenerbitUniversitasDiponegoro
Annisa Tiarasandy. 2018. Pengaruh Kinerja Lingkungan dan Pengungkapan
Corporate Social Responsibility terrhadap Kinerja Financial (Studi
Empris pada perusahaan yang terdaftar di PROPER Periode 2013-2015,
Jurnal Volume 05,ISSN:2355-9357. 2018

Brigham dan Houston, 2010.Fundamental of Finacial Menagement : Dasar-Dasar


Menagement Keuangan, Edisi Sepuluh Jilid 1. Jakarta: Salemba Empat

BalaiPustaka. 1995. KamusBesarBahasa Indonesia, EdisiKedua. Jakarta:


Depdikbud.

Bastian, IndradanSuhardjono. 2006. Akuntansi Perbankan. Edisi 1. Jakarta:


SalembaEmpat

Carroll, Archie B. and Buchholtz, Ann K. (2003), Business and Society: Ethics
and Stakeholder Management, Fifth Edition, Thomson South-Western,
Mason, OH.
Deegan, Robin, Tobin. 2002. The Legitimasing Effect of Social and Environment
Disclosure –A Theoritical Foundation.Acoounting, Auditing and
Accountability Journal. 10 (4): 562-584

Depdikbud.1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta :BalaiPustaka

Effendi, Muh.Arief. 2009. The Power Of Corporate Governance: Teori dan


Implementasi. Jakarta :SalembaEmpat.

Eisenhardt, M. Kathleen. (1989). Agency Theory: An Assessment and Review. The


Academy of Management Review, vol.14, no.1, pp.57-74.

Emirzon, Joni. (2007). Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance: Paradigma


Baru dalam Praktik Bisnis Indonesia. Yogyakarta: Genta Press.

Eny Maryanti, 2017; Corporate Social Responsibilty, Good Corporate


Governance,Kinerja Lingkungan Terhadap Kinerja Keuangan Dan
Pengaruhnya Pada Nilai Perusahaan; ojs.umsida; ISSN-2548-3501

Fahmi, Irham. 2017. Analisis Laporan Keuangan. Bandung: Alfabeta.

Gray, et al., 1996, Accounting and Accountability: Changes and Challenges in


Corporate Social and Environmental Reporting.Prentice Hall Europe,
Hemel Hempstead

Gita andriani 2016; Pengaruh Good Corporate Governance dan Ukuran


Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (Pada Perusahaan
Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2010-
2014ejournal.upi.edu; Vol 4, No 2 (2016), ISSN-2338 1507

Herna R Simaremare, 2018, Pengaruh Corporate Sosial Responsibility (Csr)


Terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Makanan Dan Minuman
Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia, ejournal.ust.ac.id

Jumingan. 2006. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT. BumiAksara

Isnin Hariati dan Yeney widya, 2014; Pengaruh tata kelola perusahaan dan 3
No 2 kinerja lingkungan terhadap nilai perusahaan (Studi empiris pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2013);
jimfeb, Vol

Sutrisno. (2009), Manajemen Keuangan Teori, Konsep dan Aplikasi,


EdisiPertama, CetakanKetujuh, PenerbitEkonisia, Yogyakarta.

Jensen, M. C and Meckling, W.H. (1976). Theory of the Firm: Managerial


Behavior Agency Costs and Ownership Structure.Journal of Financial
Economics, V. 3, No. 4, pp.305- 360.

Jesica Patria, 2017, Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja


Keuangan Pada Peserta Cgpi Yang Terdaftar Di Bei Periode 2008-2013;
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.6 No.2 (2017)

Kasmir. 2016. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Raja GrafindoPersada

NikiLukviarman, 2016, Corporate Governance. Solo: Era AdicitraIntermedia

Munawir, S. 2012. AnalisisInformasiKeuangan, Liberty, Yogyakarta

Mulyadi. 2001. SistemAkuntansiEdisiTiga. Jakarta :SalembaEmpat

Muh.Arief Effendi.2016.The Power of Good Corporate Governance.Edisi


2.Jakarta: SalembaEmpat.

Mardiasmo(199), Perpajakan :Edisi 4:Andi Yogyakarta

Misani dan Pogutz, 2015, Kinerja lingkungan terhadap kInerja keuangan;


Dipenegoro Journal of Management, Volume

Hadi,Nor.2011. Corporate Social Responsibility. Yogyakarta: GrahaIlmu


O’Donovan, 2002. Environmental Disclosure in the Annual Report: Extending the
Applicability and Predictive Power of Legitimacy Theory, Accounting,
Auditing and Accountability Journal, Vol.15, No.3,pp.344-371.
Sugiyono, 2012 : Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif :Bandung. Alfabeta

Sutedi, Adrian. 2011. Good Corporate Governance. Jakarta :SinarGrafika.

Suratno, Ignatius Bondan, dkk. (2006). Pengaruh Environmental Performance


terhadap Environmental Disclosure dan Economic Performance
(StudiEmprispada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Jakarta periode 2001-2004).SimposiumNasionalAkuntansi 9, Padang
(23-26 Agustus).

Srimindarti, 2006.Balanced Scorecard Sebagai Alternatif untuk Mengukur


Kinerja. Semarang: STIE Stikubank

Syamsudin, Lukman. 2013. Manajemen Keuangan Perusahaan. PT. Gramedia


Pustaka Utama. Jakarta.

Tjager, I Nyoman et al. (2003). Corporate Governance:


TantangandanKesempatanbagiKomunitasBisnis Indonesia. Prenhallindo.
Jakarta.

Weston dan Copeland (1998),Menajemen Keuangan:Edisi 9.


AlihbahasaKirbandroki, Jakarta :Erlangga

Yusuf Wibisono, 2007, Membedah Konsep & Aplikasi CSR (Corporate Social
Responsibility), PT Gramedia, Jakarta.

Wiratna, V Sujarweni.2015.Sistem Akuntansi.Pustaka Baru Press:Yogyakarta

http://www.knkg-indonesia.org/
https://fakhrurrojihasan.wordpress.com/2014/08/04/sekilas-tentang-corporate-
governance-perception-index/
Data tentang Corporate Governance Perception Index (CGPI)
diaksesmelaluihttp://iicg.org/
http://www.idx.co.id
menlh.co.id,2010

Anda mungkin juga menyukai