Anda di halaman 1dari 117

STUDI KASUS PERILAKU HIPERAKTIF DAN FAKTOR

PENYEBABNYA PADA SISWA KELAS III SD NEGERI


MRANGGEN 05 KECAMATAN POLOKARTO

KABUPATEN SUKOHARJO

TAHUN PELAJARAN

2009/2010

SKRIPSI

Oleh :

ENY KUSUMAWATI

NIM: X 3105004

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2010
1
STUDI KASUS PERILAKU HIPERAKTIF DAN FAKTOR
PENYEBABNYA PADA SISWA KELAS III SD NEGERI
MRANGGEN 05 KECAMATANPOLOKARTO

KABUPATEN SUKOHARJO

TAHUN PELAJARAN

2009/2010

Oleh :

ENY KUSUMAWATI

NIM: X 3105004

SKRIPSI
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagai persyaratan mendapatkan gelar
Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling
Jurusan Ilmu Pendidikan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2010

2
PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

Persetujuan Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. SUTARNO M. Pd Dra. CHADIDJAH H.A M. Pd

NIP: 194802071975011001 NIP: 1953020919801002

3
PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas


Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima
untuk memenuhi persyaratan gelar Sarjana Pendidikan.

Pada hari : Selasa

Tanggal : 19 Januari 2010

Tim Penguji Skripsi:


Nama Terang Tanda Tangan

Ketua : Drs. R. Indianto, M. Pd

Sekretaris : Dra. Chasiyah, M. Pd

Anggota I : Dr. Sutarno, M. Pd

Anggota II : Dra. Chadidjah H.A, M. Pd

Disahkan oleh

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sebelas Maret

Dekan

Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M. Pd


NIP. 196007271987021001

4
ABSTRAK

Eny Kusumawati. STUDI KASUS PERILAKU HIPERAKTIF DAN


FAKTOR PENYEBABNYA PADA TIGA SISWA KELAS III SD NEGERI
MRANGGEN 05 KECAMATAN POLOKARTO KABUPATEN
SUKOHARJO TAHUN PELAJARAN 2009/2010. Skripsi. Surakarta: Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Januari 2010.
Tujuan penelitian ini untuk: 1) Mendeskripsikan karakteristik perilaku
hiperaktif, 2) Menjelaskan faktor penyebab perilaku hiperaktif pada siswa yang
berperilaku hiperaktif kelas III SD Negeri Mranggen 05 Kecamatan Polokarto
Kabupaten Sukoharjo Tahun Pelajaran 2009/2010.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian
studi kasus. Subyek penelitian terdiri tiga siswa kelas III SD Negeri Mranggen 05
Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo Tahun Pelajaran 2009/2010 yang
menunjukkan perilaku hiperaktif.
Teknik pegumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara
dokumentasi serta kunjungan rumah. Wawancara digunakan untuk mengungkap
data tentang perilaku hiperaktif dan penyebab perilaku hiperaktif. Teknik
observasi untuk mengungkap data tentang perilaku hiperaktif yang dilakukan
subyek penelitian baik pada saat di dalam kelas maupun pada saat jam istirahat,
sedangkan dokumentasi untuk mengetahui identitas siswa serta kunjungan rumah
untuk mendapatkan data perilaku hiperaktif subyek pada saat di rumah
Kesimpulan hasil penelitian yang dilakukan terhadap ketiga subyek
penelitian adalah sebagai berikut: 1. Karakteristik perilaku hiperaktif adalah
sebagai berikut: (a) Sering mondar-mandir pada waktu kegiatan belajar-mengajar
atau pada waktu disuruh mengerjakan tugas oleh guru, (b) Melakukan gerakan
fisik seperti tangan selalu memukul-mukul meja sehingga menimbulkan suara
gaduh, (c) Memain-mainkan pensil atau benda yang ada di depannya sehingga
timbul suara berisik pada waktu kegiatan belajar-mengajar, (d) Berlarian saat di
dalam kelas, (e) Keluar masuk kelas dengan berbagai alasan, (f) Mengoyang-
goyangkan kaki pada saat mengerjakan tugas dan pada saat pelajaran berlangsung.
2. Faktor penyebab perilaku hiperaktif ada dua faktor human dan non human.
Faktor human di antaranya orang tua yang terlalu otoriter, tuntutan dan disiplin
yang terlalu kaku, kurangnya pengawasan orang tua, pemanjaan, orientasi
kesenangan. Faktor non human di antaranya proses ibu yang melahirkan dengan
menggunakan alat atau secara normal, faktor genetik, dan aspek lingkungan. 3.
Altenatif layanan bimbingan yang dapat diberikan untuk mengatasi perilaku
hiperaktif adalah: memberikan penguatan setiap tingkah laku baik yang dilakukan
anak hiperaktif, mengajar disiplin pada anak hiperaktif agar ia dapat mengatur
dirinya dan mengontrol dirinya dengan baik, modifikasi tingkah laku,
memberikan kesempatan pada anak hiperaktif untuk menjalin komunikasi,
menciptakan lingkungan yang kondusif dengan mengurangi tekanan pada anak
seperti tidak melebelkan anak sebagai anak yang nakal.
5
MOTTO

“ Anak – anak belajar dari kehidupannya. Jika anak dibesarkan dengan celaan
ia belajar memaki. Jika dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika ia dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika dibesarkan
dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik –
baiknya perlakuan, ia belajar keadilan. Jika dibesarkan dengan kasih sayang
dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dan kehidupan “

( Terjemahan Dorothy Law Nolt)

6
PERSEMBAHAN

Karya ini ku persembahkan

Kepada:

Dengan segenap hormat dan baktiku

Untuk bunda dan ayah

Yang selalu ku harapkan doa dan ridhonya

Dengan penuh bangga

Untuk sahabatku dan almamater

Dengan bahagia

Skripsi ini didesikasikan

Untuk para pemerhati pendidikan

7
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah mengajarkan ilmu
kepada segenap manusia dengan segala kelembutan-NYA. Segala puji bagi-NYA
yang telah menurunkan ujian-ujian sebagai tarbiyah untuk memahami kesabaran
dan nikmat perjuangan. Berkat pertolongan-NYA jualah, akhirnya penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini telah melibatkan


banyak pihak hingga akhirnya penulis mampu menyelesaikan tugas skripsi ini,
tentunya setelah melewati berbagai macam fase pembelajaran yang semua itu
tidak lepas dari dukungan dan bimbingan, baik dari langsung maupun tidak
langsung, doa serta bantuan dari orang-orang yang penuh cinta dan perhatian di
sekitar penulis. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan
terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. M. Furqon Hidayattullah M. Pd Dekan Fakultas Keguruan


dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi
kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu di Universitas Sebelas Maret
Surakarta.

2. Bapak Drs. Rusdiana Indianto M. Pd selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan


FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi kesempatan
penulis untuk menyusun skripsi.

3. Ibu Dra Chasiyah selaku ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP
Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah banyak memnbantu dalam
kelancaran studi penulis.

4. Bapak Dr. Sutarno M. Pd, selaku dosen pembimbing I yang telah berkenan
meluangkan waktu untuk membimbing dan memberi masukan atau ide-ide
terhadap penulisan skripsi ini.

8
5. Ibu Dra Chadidjah H.A M. Pd selaku pembimbing pembimbing II yang tetap
dengan sabar membimbing hingga penulisan skripsi ini selesai.

6. Bapak dan ibu Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Jurusan Ilmu
Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas
Maret Surakarta yang telah berkenan berbagi ilmu dan pengetahuan yang
begitu berharga kepada penulis selama perkuliahan.

7. Kepala sekolah dan bapak ibu guru SD Negeri Mranggen 05 Kecamatan


Polokarto Kabupaten sukoharjo yang telah memberikan kesempatan penulis
dapat mengadakan penelitian di SD tersebut.

8. Sahabat-sahabat terbaik Bimbingan dan Konseling angkatan 2005 dan


Almarhumah Nalavi Oktavia yang selama ini telah menyertai penulis menuju
proses pendewasaan, untuk semangat, dorongan, motivasi, cinta serta teman-
teman BK angkatan 2008 terima kasih untuk persaudaraan, dan kebersamaan
selama ini.

9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah
dengan ikhlas membantu dan memberikan semangat sampai terselesaikannya
skripsi ini.

Jazakumullah khairan katsira

Akhirnya penulis menyadari bahwa skripsi ini bukanlah maha karya yang
sempurna. Banyak kekurangan di dalamnya merupakan suatu keniscayaan. Akan
tetapi, semoga kehadirannya dapat memberikan manfaat bagi mereka yang suka
mencari pelajaran dan kebaikan dari hal-hal kecil.

Surakarta, Januari 2010

Penulis
9
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ................................................................................ i

HALAMAN PENGAJUAN...................................................................... ii

HALAMAN PERSETUJUAN.................................................................. iii

HALAMAN PENGESAHAN .................................................................. iv

HALAMAN ABSTRAK .......................................................................... v

HALAMAN MOTTO............................................................................... vi

HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................... vii

KATA PENGANTAR .............................................................................. viii

DAFTAR ISI............................................................................................. x

DAFTAR TABEL..................................................................................... xii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................ xiii

DAFTAR LAMPIRAN............................................................................. xiv

BAB I PENDAHULUAN.................................................................. 1
10
A. Latar Belakang Masalah ................................................................. 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................... 4
C. Tujuan Penelitian............................................................................ 4
D. Manfaat Penelitian.......................................................................... 5

BAB II LANDASAN TEORI ............................................................. 6

A. Tinjauan Pustaka ............................................................................ 6


1.Tinjauan Hiperaktif.................................................................... 6
a. Pengertian Hiperaktif ............................................................. 6
b. Jenis-jenis Hiperaktif ............................................................. 7
c. Ciri-ciri Hiperaktif ................................................................. 9
d. Masalah yang Dihadapi Anak Hiperaktif .............................. 10
e. Dampak Hiperaktif................................................................. 13
2. Faktor-faktor Penyebab Hiperaktif ........................................... 15
3. Alternatif Bimbingan untuk Anak Hiperaktif ........................... 19
a. Pengertian Bimbingan............................................................ 19
b. Fungsi Bimbingan.................................................................. 20
c. Alternatif Bimbingan untuk Anak Hiperaktif ........................ 22
B. Kerangka Pemikiran....................................................................... 28

BAB III METODE PENELITIAN...................................................... 31

A. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................ 31


B. Bentuk dan Jenis Penelitian........................................................... 31
1. Bentuk Penelitian ...................................................................... 31
2 Jenis Penelitian........................................................................... 32
a. ...................................................................................... Pengertia
n Studi Kasus ....................................................................... 32
b....................................................................................... Tujuan
Studi Kasus .......................................................................... 32

11
c. ...................................................................................... Langkah-
langkah Studi Kasus............................................................. 33
C. Sumber Data................................................................................... 35
1. Sumber Data Primer ................................................................... 35
2. Sumber Data Sekunder............................................................... 36
D. Teknik Pengumpulan Data............................................................. 36
1. Teknik Observasi........................................................................ 37
2. Teknik Wawancara..................................................................... 38
3. Teknik Dokumentasi .................................................................. 40
4. Kunjungan Rumah...................................................................... 40
E. Validitas Data ................................................................................. 41
F. Analisis Data................................................................................... 41
G. Prosedur Penelitian ....................................................................... 43

BAB IV HASIL PENELITIAN ........................................................... 45

A. Sajian Data Penelitian .................................................................... 45


B. Temuan Hasil Penelitian ................................................................ 56
C. Temuan Studi Yang Dihubungkan Dengan Kajian Teori .............. 85

BAB V PENUTUP................................................................................ 88

A. Kesimpulan ................................................................................... 88
B. Implikasi ....................................................................................... 89
C. Saran ............................................................................................. 91

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................. 93

LAMPIRAN............................................................................................. 95

12
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1 Kisi-kisi observasi perilaku hiperaktif..............................................95

Tabel 2 Pedoman observasi perilaku hiperaktif.............................................101

Tabel 3 Kisi-kisi wawancara perilaku hiperaktif ...........................................105

Tabel 4 Pedoman wawancara perilaku hiperaktif..........................................110

13
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Kisi-kisi observasi perilaku hiperaktif .......................................95

Lampiran 2 Pedoman observasi perilaku hiperaktif ......................................101

Lampiran 3 Kisi-kisi wawancara perilaku hiperaktif.....................................105

Lampiran 4 Pedoman wawancara perilaku hiperaktif ...................................110

Lampiran 5 Hasil observasi subyek I.............................................................115

Lampiran 6 Hasil observasi subyek II ...........................................................133

Lampiran 7 Hasil observasi subyek III ..........................................................154

Lampiran 8 Hasil wawancara dengan guru kelas ..........................................178

Lampiran 9 Hasil wawancara dengan guru bahasa inggris............................182

Lampiran 10 Hasil wawancara dengan teman subyek...................................187

Lampiran 11 Hasil wawancara dengan orang tua subyek I ...........................191

Lampiran 12 Hasil wawancara dengan orang tua subyek II ..........................196

Lampiran 13 Hasil wawancara dengan orang tua subyek III.........................200

Lampiran 14 Hasil wawancara dengan subyek I ...........................................204

14
Lampiran 15 Hasil wawancara dengan subyek II ..........................................208

Lampiran 16 Hasil wawancara dengan subyek III.........................................211

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1 Bagan kerangka berpikir ...............................................................30

15
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perilaku hiperaktif merupakan perilaku menyimpang yang dapat


mengganggu pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Zaviera (2008:
11) meyatakan bahwa “Anak hiperaktif adalah anak-anak yang mengalami
gangguan pemusatan perhatian dengan hiperkinetik”. Selaras dengan pendapat
tersebut anak yang mengalami perilaku hiperaktif ditandai dengan kurang
perhatian, mudah teralih perhatian, emosi yang meledak-ledak serta aktifitas yang
berlebihan (Prasetyono, 2008: 99).

Perilaku hiperaktif dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor tersebut


berasal dari diri sendiri maupun berasal dari luar. Faktor yang berasal dari diri
sendiri siswa disebut dengan faktor intrinsik, sedangkan faktor yang berasal dari
luar siswa disebut dengan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik tersebut di antaranya
kesehatan yang terganggu, keadaan fisik yang lemah seperti mengalami gangguan
asma, elergi, dan infeksi tenggorokan. Lebih lanjut faktor ekstrinsik yang menjadi
penyebab perilaku hiperaktif siswa di antranya adalah dipengaruhi oleh faktor
lingkungan sekolah dan faktor lingkungan keluarga. Faktor lingkungan sekolah
seperti kurangnya sarana dan prasarana sekolah, lingkungan yang tidak
mendukung siswa untuk belajar, hubungan dengan teman sebaya dan lingkungan
pergaulan yang kurang sehat. Faktor dari lingkungan keluarga di antaranya
disebabkan oleh orang tua yang memanjakan, disiplin yang terlalu kaku dari orang
tua, orientasi kesenangan, orang tua yang terlalu otoriter, tuntutan orang tua yang
terlalu kaku, kurangnya pengawasan orang tua, serta kurangnya komunikasi antar
keluarga karena orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan.

Berbagai faktor yang menyebabkan perilaku hiperaktif di atas,


memerlukan perhatian dari pendidik, baik di rumah maupun di sekolah. Di rumah

16
orang tua yang dianggap sebagai pendidik yang utama dan bertanggung jawab
atas anaknya diposisikan pada suatu kondisi yang sulit, karena tidak jarang
mereka tidak mengetahui dan mengerti apa yang harus mereka lakukan,
sedangkan di sekolah guru sebagai pendidik kedua dimungkinkan kurang dapat
memahami dan mengerti perilaku yang dialami siswanya. Dengan demikian
perilaku hiperaktif yang dialami oleh siswa tidak mendapat penanganan secara
tepat. Sebagai contoh, guru yang bersikap acuh tak acuh dan mengabaikan
perilaku hiperaktif anak serta memandang bahwa anak hiperaktif adalah anak
yang nakal. Sikap orang tua dan guru yang demikian akan memberikan dampak
yang kurang baik bagi siswa yang berperilau hieparaktif pada perkembangan
selanjutnya. Dengan demikian antara orang tua dan guru diperlukan usaha kerja
sama untuk menghadapi anak yang berperilaku hiperaktif agar permasalahan yang
dihadapi anak hiperaktif tidak semakin komplek.

Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa perilaku hiperaktif yang


tidak mendapat perhatian dan penanganan secara tepat akan membawa dampak
bagi anak terhadap perkembangan selanjutnya. Sebagai contohnya, siswa yang
mengalami perilaku hiperaktif sejak kecil akan berkelanjutan pada masa
perkembangan masa remajanya, misalnya anak dimungkinkan tidak mandiri, tidak
percaya diri, tidak memiliki konsep diri yang jelas serta memiliki perilaku anti
sosial. (http//:www.google.co.id, 9 Mei 2009)

Tidak menutup kemungkinan bahwa setiap sekolah, terdapat anak-anak


yang mengalami perilaku menyimpang, seperti perilaku hiperakrif. Salah satunya
di sekolah dasar. Hasil pengamatan penulis di sekolah dasar bahwa perilaku
hiperaktif terjadi di lingkungan sekolah, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Perilaku hiperaktif itu ditandai dengan ketidakmampuan siswa dalam
berkonsentrasi dalam waktu yang lama, mondar-mandir di dalam kelas, banyak
melakukan gerakan tangan dan kaki yang berlebihan, dan keluar masuk kelas
dengan berbagai alasan. Anak-anak yang mengalami perilaku hiperaktif akan
mengalami permasalahan baik fisik maupun psikologis. Permasalahan fisik
tersbut di antaranya tidak dapat duduk tenang, berlari-larian pada situasi yang
17
tidak tepat, dan berbicara tanpa henti. Lebih lanjut permasalahan psikologis yang
dialami oleh anak hiperaktif di antaranya adalah merasa gelisah jika mendapat
giliran maju ke depan kelas untuk mengerjakan tugas, tingkat intelegensi yang
kurang, mudah marah, tidak adanya keseimbangan dalam aktifitas hidup karena
impulsive serta terdapat kemungkinan untuk dijauhi oleh teman-temannya.

Hasil pengamatan penulis bahwa di SD Negeri Mranggen 05 Kecamatan


Polokarto Kabupaten Sukoharjo Kelas III terdapat siswa yang mengalami perilaku
hiperaktif. Perilaku hiperaktif itu muncul baik di dalam kelas maupun diluar kelas.
Hal tersebut memberikan dampak negatif baik bagi siswa sendiri maupun bagi
teman sebayanya. Dengan demikian hal tersebut perlu mendapat perhatian dan
penanganan khusus.

Seburuk apapun tingkat penyimpangan perilaku hiperaktif yang dilakukan


siswa, diharapkan masih memiliki potensi yang baik untuk belajar. Potensi
tersebut diharapkan dapat dikembangkan agar siswa mendapatkan penilaian yang
positif dari orang-orang di sekitarnya.berbagai penanganan untuk mengendalikan
perilaku hiperaktif dapat dilakukan dengan berbagai teknik. Menurut Kauffman
(dalam Sunarto, 1995: 89) teknik untuk mengendalikan perilaku hiperaktif, yaitu
dengan diet, lingkungan yang berstruktur, dan biofeedback. Lebih lanjut menurut
Ibrahim (1995: 227) “Penanggulangan untuk anak hiperaktif dapat dilakukan
dengan intervensi biofisik dan intervensi behavioral”. Intervensi biofisik di
antaranya dengan memakai obat dan melakukan diet. Intervensi behavioral di
antaranya dapat dilakukan dengan membuat daftar tingkah laku baik, member
imbalan, membuat perjanjian tertulis, memberi hukuman dan teguran serta latihan
belajar mandiri.

Terkait dengan berbagai penanganan di atas, usaha untuk mengatasi


perilaku hiperaktif perlu diadakan penelaahan secara mendetail. Dengan demikian
perlu dilakukan peneliian yang berusaha memahami secara mendetail tentang
suatu gejala, sebab dan akibat yang ditimbulkan oleh suatu kasus yang disebut
dengan studi kasus. Yin (1997: 3) penelitian kasus atau penelitian lapangan

18
merupakan strategi yang lebih cocok untuk menjawab pertanyaan penelitian yang
berkenaan dengan how (bagaimana) dan why (mengapa) dengan penelitian yang
berfenomena komtemporer (masa kini).

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneli tertarik mengadakan


penelitian dengan judul “Studi Kasus Perilaku Hiperaktif dan Faktor-faktor
Penyebab Pada 3 Siswa Kelas III SD Negeri Mranggen 05 Kecamatan Polokarto
Kabupaten Sukoharjo Tahun Pelajaran 2009/2010”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka dirumuskan masalah-masalah


sebagai berikut:

1. Bagaimana karakteristik perilaku hiperaktif siswa kelas III SD Negeri


Mranggen 05 Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo Tahun Pelajaran
2009/2010?
2. Faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadi perilaku hiperaktif siswa
kelas III SD Negeri Mranggen 05 Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo
Tahun Pelajaran 200/2010?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan latar belakang masalah dan rumusan masalah yang


dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan:

1. Karakteristik perilaku hiperaktif siswa kelas III SD Negeri Mranggen 05


Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo Tahun pelajaran 2009/2010.
2. Faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya perilaku hiperaktif siswa kelas
III SD Negeri Mranggen 05 Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo Tahun
Pelajaran 2009/2010.

19
D. Manfaat Penelitian

Penelitian tentang perilaku hiperaktif ini diharapkan mempunyai manfaat


sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis
Memberikan sumbangan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam
bidang keahlian bimbingan yang berkaitan dengan upaya untuk mengantisipasi
anak hiperaktif.

2. Manfaat praktis
a. Memberikan wawasan bagi guru untuk dapat mengetahui perilaku
hiperaktif siswa serta memberikan penanganan.
b. Menjadi rambu-rambu khususnya bagi guru pembimbing dalam mengenali
karakteristik perilaku hiperaktif dan mencari faktor-faktor penyebabnya.
c. Sebagai bahan acuan penelitian yang sama bagi peneliti berikutnya.
d. Memberikan masukan kepada kepala sekolah tentang perilaku hiperaktif
yang dihadapi siswanya yang dapat memberikan pengaruh terhadap proses
kegiatan belajar-mengajar sehingga sekolah dapat mencarikan solusi yang
terbaik dalam pemecahan masalah tersebut.

20
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Tinjauan Hiperaktif

a. Pengertian Hiperaktif

Pada dasarnya setiap manusia memiliki dorongan hidup untuk dapat


menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hal tersebut dilakukan oleh manusia untuk
mendapatkan penghargaan atas dirinya. Namun, mengingat bahwa setiap manusia
atau individu memiliki sifat khas yang diperoleh dari lingkungan keluarga maka
dalam wujud pergaulan menunjukkan sifat dan perilaku yang berbeda-beda. Salah
satunya adalah istilah ADHD (Marlina, 2007: 1). ADHD (Attention Deficit
Hyperactivity Disorders) dapat diterjemahkan dengan gangguan pemusatan
perhatian dan hiperaktifitas. Istilah ADHD dapat disebut juga dengan istilah
hiperaktif. ADHD atau hiperaktif merupakan perilaku yang berkembang dan
timbul pada anak-anak. Perilaku yang dimaksud berupa kekurangmampuan dalam
hal menaruh perhatian dan pengontrolan diri. Keadaan yang demikian akan
menjadi masalah bagi anak-anak yang berperilaku demikian. Masalah yang akan
dialami oleh anak penderita ADHD di antaranya adalah masalah dalam pemusatan
perhatian dan bermasalah dengan waktu sehingga akan menimbulkan kesukaran
dalam kelas.

Menurut Zaviera (2008: 1) “Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami


gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktifitas yang akan membawa
dampak untuk timbulnya masalah fisik, psikis dan masalah sosial”. Sedangkan
Baihaqi & Sugiarmin (2006: 2) menjelaskan bahwa anak hiperaktif adalah
“Kondisi anak-anak yang memperlihatkan ciri atau gejala kurang konsentrasi,

21
banyak gerak, emosi yang meledak-ledak, mudah putus asa dan kecil hati yang
akan mengakibatkan anak tidak memiliki teman ”.

Lebih lanjut Prasetyono (2008: 99) mengatakan: ”ADHD merupakan


perilaku menyimpang yang menunjukkan tanda-tanda kurang perhatian, aktifitas
yang berlebihan mudah teralih perhatian, emosi yang meledak-ledak, mudah putus
asa, dan kecil hati yang disebabkan oleh berbagai faktor”.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat penulis simpulkan bahwa hiperaktif


adalah karakteristik atau pola tingkah laku pada seseorang anak yang
menunjukkan sikap atau tingkah laku yang menunjukkan keadaan aktifitas fisik
seperti gerakan yang berlebihan seolah digerakkan oleh mesin, tidak dapat duduk
tenang, keadaan psikologis seperti emosi yang meledak-ledak, mudah putus asa
dan kecil hati serta hubungan sosial seperti tidak memiliki teman, berkelahi atau
berantem dengan teman, ingin menjadi pemimpin di antara teman-temannya yang
disebabkan oleh berbagai faktor.

b. Jenis-jenis Hiperaktif

ADHD atau hiperaktif merupakan perilaku yang berkembang dan hal


tersebut banyak terjadi pada anak-anak. Perilaku yang dimaksud berupa
kekurangmampuan dalam hal menaruh perhatian dan pengontrolan diri. Perilaku
hiperaktif atau ADHD yang dialami oleh anak, dapat digolongkan ke dalam
beberapa jenis.

Julia Maria van Tiel (2006: 236—238) menyatakan “ADHD dibedakan


dalam jenis attention disorder, planning disorder, motoric hyperactivity, serta
ADHD yang disertai gangguan lain”. Lebih lanjut dapat dijelaskan sebagai
berikut:

Attention disorder adalah jenis hiperaktif yang ditandai dengan adanya


gangguan pada peningkatan terhadap kepekaan terhadap berbagai faktor yang

22
dapat menarik perhatian, misalnya anak mudah teralih perhatiannya jika
mendengar suara di luar dan tidak dapat memperhatikan hal yang seharusnya
diperhatikannya.

Planning disorder adalah bentuk perilaku yang ditandai dengan gejala


impulsivitas seperti bertindak tanpa berpikir dahulu, sulit menjalani satu aktivitas,
tidak sabar dalam menunggu giliran.

Motoric hyperactivity adalah bentuk perilaku yang ditandai dengan tidak


pernah tenang, misalnya banyak gerakan yang dilakukan anak seperti
dikendalikan oleh mesin, tidak dapat duduk tenang.

ADHD yang disertai gangguan lain yaitu bentuk perilaku yang disertai
dengan berbagai gangguan seperti gangguan kognitif, gangguan tidur (sleep
disorder) yang akan mengakibatkan anak mengalami kesulitan dalam
memperhatikan sesuatu dengan detail serta anak mengalami masalah dalam
tidurnya seperti banyak gerakan ketika dia tidur.

Ahli lain Marlina (2007: 12) menyatakan “Hiperaktif dibedakan menjadi


empat jenis yaitu berdasarkan gejala perilaku, berdasarkan jenis kelainan perilaku,
berdasarkan penyebab, serta berdasarkan berat ringannya penyimpangan
perilaku”.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hiperaktif dapat


dibedakan dalam tiga jenis atau katagori yaitu jenis hiperaktif yang ditandai
dengan kurangnya daya perhatian (inattentive), jenis hiperaktifitas dan impulsive,
serta jenis hiperaktif kombinasi.

Hiperaktif dengan kecenderungan kurangnya perhatian ini ditandai


dengan ciri seperti sembarangan dalam melakukan aktifitas, kesulitan dalam
melakukan konsentrasi, minimnya ketrampilan organisasional, menghindari tugas-
tugas yang membutuhkan upaya, kesulitan bertahan dalam satu aktifitas, sering
tidak mendengarkan instruksi atau lawan bicara, serta sering kehilangan barang
yang dibutuhkan untuk tugas, sedangkan hiperaktif dengan jenis hiperaktifitas dan
23
impulsive adalah jenis hiperaktif yang ditandai dengan adanya tindakan yang
dilakukan oleh seseorang anak tanpa berpikir resiko yang akan dihadapi maupun
pendapat orang lain mengenai tingkah laku dan tindakan yang dilakukannya.

Lebih lanjut adalah hiperaktif dengan jenis kombinasi. Hiperaktif dengan


jenis kombinasi ini adalah jenis hiperaktif gabungan yang ditandai dengan ciri
hiperaktif kurangnya perhatian dan hiperaktifitas yang disertai impulsive.

c. Ciri-ciri Hiperaktif

Pada umumnya setiap anak memiliki dorongan untuk bertingkah laku.


Namun dalam tingkah laku mereka terdapat anak-anak yang memiliki tingkah
laku yang sesuai dengan norma atau aturan yang berlaku, akan tetapi terkadang
kita jumpai terdapat anak-anak yang bertingkah laku meyimpang seperti halnya
anak hiperaktif. Hiperaktif ditandai dengan berbagai ciri yang merupakan akibat
dari hiperaktifitasnya.

Zaviera (2008: 27) “Ciri-ciri yang diperlihatkan oleh anak hiperaktif


meliputi: sulit untuk konsentrasi gerakan kacau, cepat lupa, mudah bingung,
kesulitan dalam mencurahkan perhatian tehadap tugas-tugas atau kegiatan
bermain, tidak sabar menunggu giliran, senang membantah”.

Ada tiga ciri yang menandai hiperaktif pada anak, yaitu sebagai berikut:
1) sangat mudah terganggu oleh rangsangan dari luar, 2) menampakkan
aktivitas fisik yang terus menerus, 3) tidak mampu atau tidak dapat
berpikir seperti anak normal lainnya sehingga aktivitasnya bervariasi, 4)
gemetar pada saat menjwab pertanyaan guru, 5) ketakutan jika menjawab
pertanyaan guru. (Farnham & Diggory dalam Marlina, 2007: 7)
Prasetyono (2008: 107) mengatakan, “Ciri-ciri hiperaktif yang dialami
oleh anak ditandai dengan: 1) tidak fokus yang artinya anak hiperaktif
tidak dapat berkonsentrasi pada waktu yang lama, 2) sikap menentang,
yaitu anak hiperaktif cenderung untuk memiliki sikap menentang dan
tidak mau dinasehati sehingga aktifitasnya bervariasi dan tidak kenal
lelah, 3) memiliki perilaku yang distruktif dan merusak, 4) tidak sabar

24
dan usil ketika bermain dengan temannya, 5) intelektualitas rendah yang
disebabkan oleh perhatian yang mudah teralih”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas terkait dengan jenis-jenis
hiperaktif dapat disimpulkan bahwa hiperaktif dapat ditandai dengan ciri-ciri yaitu
hiperaktif dengan jenis tingkat kurangnya daya perhatian (inattentive) di
antaranya 1) Gagal dalam memperhatikan hal-hal detail, 2) Mengalami kesulitan

dalam memusatkan perhatian, 3) Tidak mendengarkan jika diajak bicara, 4) Tidak


mengikuti instruksi dengan baik dan gagal dalam menyelesaikan pekerjaan
sekolah atau di rumah, 5) Mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas dan
kegiatan, 6) Mudah tergangggu oleh rangsangan dari luar, 7) Mudah lupa dalam
menyelesaikan kegiatan sehari-hari. Hiperaktif dengan jenis hiperaktifitas dan
impulsive ditandai dengan ciri-ciri 1) Menunjukkan tingkah laku gelisah seperti
sering menggerakkan tangan dan kaki, ketakutan jika disuruh menjawab
pertanyaan guru, 2) sering meninggalkan tempat duduk, 3) Banyak melakukan
gerakan pada waktu yang tidak tepat, sedangkan jenis hiperaktif kombinasi
ditandai dengan ciri-ciri 1) Bertindak tanpa berpikir, 2) Mudah berganti-ganti
aktivitas, 3) Membutuhkan perhatian lebih, 4) Tidak dapat menunggu giliran.

d. Masalah yang Dihadapi Anak Hiperaktif

Masalah yang dihadapi oleh anak yang hiperaktif menjadi beban bagi siswa itu
sendiri maupun orang lain. Izzaty (2005: 138) menyatakan bahwa “Permasalahan yang
dimungkinkan dialami oleh anak yang hiperaktif adalah problem bicara dan problem
kesehatan”. Lebih lanjut dapat diuraikan sebagai berikut:

Problem bicara yang dihadapi siswa hiperaktif biasanya adalah seringnya ia


bericara, namun sesungguhnya kurang efisien dalam berkomunikasi. Gangguan
pemusatan perhatian membuat siswa sulit melakukan komunikasi yang timbale balik.
Anak hiperaktif cenderung sibuk dengan dirinya sendiri dan kurang mampu merespon
lawan bicara secara tepat.

25
Problem kesehatan secara umum dialami anak hiperaktif adalah memiliki
tingkat kesehatan fisik yang tidak sebaik anak lainnya. Beberapa gangguan seperti
asma, alergi, dan infeksi tenggorokan sering dijumpai. Pada saat tidur biasanya
juga tidak setenang anak lainnya. Banyak anak hiperaktif yang mangalami sulit
tidur dan sering terbangun di malam hari. Selain itu tingginya tingkat aktivitas

fisik membuat anak yang mengalami perilaku hiperaktif juga beresiko tinggi
untuk mengalami kecelakaan seperti terjatuh, terkilir, dan sebagainya.

Selain masalah yang telah terurai tersebut di atas masih ada lagi
permasalahan yang mungkin muncul pada siswa hiperaktif, antara lain: (1)
Masalah intelek (2) Masalah biologis, (3) Masalah emosi, (4) Masalah moral
”.(Rief, 1994: 6). Masalah intelek di antaranya adalah sulit dalam menyelesaikan
tugas sekolah dan tugas di rumah, sering tidak dapat berkonsentrasi, mudah lupa,
dan daya pikir penangkapannya lemah sehingga sulit untuk menghadapi pelajaran
seperti matematika. Masalah biologis yang mungkin muncul sering melakukan
gerakan tanpa henti dan tidak dapat beristirahat, sensitif terhadap bahan kimia,
obat, dan debu, sedangkan masalah emosi di antaranya adalah anak hiperaktif
bersifat egois, kurang sabar, sangat emosional, suka merusak, tidak takut bahaya,
dan sembrono. Lebih lanjut masalah moral yang mungkin muncul adalah anak
hiperaktif cenderung tidak memiliki kepekaan dalam hati nurani, sering tidak
mengembalikan barang yang ia pinjam, dan mencela pembicaraan orang lain

Lebih lanjut Baihaqi & Sugiarmin (2006: 62) menyatakan “Permasalah


yang dialami oleh anak hiperaktif dapat terjadi di rumah dan disekolah”. Lebih
lanjut dapat di uraikan sebagai berikut:

Problem di rumah yang dialami siswa yang berperilaku hiperaktif biasanya ia


lebih mudah cemas dan kecil hati.. Hal ini berkaitan dengan rendahnya toleransi
terhadap frustasi, sehingga bila mengalami kekecewaan, ia akan mudah emosional.
Selain itu siswa yang berperilaku hiperaktif cenderung keras kepala dan mudah marah
bila keinginannya tidak segera dipenuhi. Hambatan tersebut akan membuat siswa
hiperaktif menjadi kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Anak

26
hiperaktif tersebut akan dipandang sebagai anak yang nakal dan tidak jarang mengalami
penolakan baik dari keluarga maupun dari teman-temannya. Seringnya orang tua dibuat
jengkel tidak jarang membuat orang tua sering memperlakukan anak kurang hangat.
Orang tua kemudian banyak mengontrol anak, penuh pengawasan, banyak mengkritik
bahkan tidak jarang memberi hukuman. Hal tersebut akan membuat anak beraksi untuk
menolak dan berontak. Baik anak maupun orang tua yang demikian akan membuat
situasi rumah menjadi kurang nyaman, akibatnya anak menjadi lebih mudah frustasi.
Kegagalan bersosialisasi di mana-mana akan menumbuhkan konsep diri yang negatif.
Anak akan merasa bahwa dirinya buruk, selalu gagal, tidak mampu dan ditolak.

Problem di sekolah. Hal ini ditunjukkan dengan ciri yang dialami oleh anak tidak
mampu mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan baik, konsentrasi yang
mudah terganggu, rentang perhatian yang pendek membuat siswa ingin cepat selesai
bila mengerjakan tugas-tugas sekolah serta kecenderungan berbicara pada situasi yang
tidak tepat sehingga akan mengganggu siswa tersebut dan teman yang diajak berbicara.
Hal demikian membuat guru akan menyangka bahwa siswa tersebut tidak
memperhatikan.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa masalah


yang dialami oleh anak hiperaktif ada dua yaitu masalah biofisiologis dan masalah psikis.
Masalah fisik di antaranya anak hiperaktif memiliki masalah dengan bicaranya, masalah
biologis dan memiliki tingkat kesehatan yang rendah tidak seperti anak pada umumnya.
Sedangkan masalah psikis yang dialami oleh anak hiperaktif di antaranya adalah masalah
intelek yang di antaranya adalah sulit dalam menyelesaikan tugas sekolah dan tugas di
rumah, sering tidak dapat berkonsentrasi, mudah lupa, dan daya pikir penangkapannya
lemah sehingga sulit untuk menghadapi pelajaran seperti matematika. Lebih lanjut
masalah emosi di antaranya adalah anak hiperaktif bersifat egois, kurang sabar, sangat
emosional, suka merusak, tidak takut bahaya, dan sembrono dan masalah moral yang
mungkin muncul adalah anak hiperaktif cenderung tidak memiliki kepekaan dalam hati
nurani, sering tidak mengembalikan barang yang ia pinjam, dan mencela pembicaraan
orang lain

27
e. Dampak Hiperaktif

Di dalam proses belajar-mengajar, sering kali terdapat hambatan baik dari


guru maupun dari siswa itu sendiri. Hambatan yang berasal dari siswa di
antaranya siswa yang berperilaku kurang baik pada saat proses belajar-mengajar.
Perilaku siswa tersebut di antaranya adalah berlari-lari atau mondar-mandir pada
saat guru menyampaikan materi pelajaran, siswa tidak dapat duduk dengan
tenang, siswa berbicara pada saat yang tidak tepat di dalam kelas, keadaan siswa
yang mudah marah dan berperilaku destruktif yang dapat merusak barang milik
temannya dan lain sebagainya. Perilaku yang demikian merupakan hiperaktif.
Hiperaktif pada anak dapat meresahkan banyak orang termasuk guru dan
orang tua. Hal ini dapat dipahami karena perilaku ini memiliki berbagai macam
dampak yang merugikan. Dampak yang dapat ditimbulkan dari perilaku hiperaktif
dapat berdampak bagi diri siswa itu sendiri maupun bagi lingkungan. Jika perilaku
hiperaktif ini tidak segera ditangani dan mendapat perhatian dari orang tua dan
guru, maka akan berpeluang besar dalam memberikan dampak baik dampak
terhadap diri siswa maupun dampak terhadap lingkungan. Di lingkungan sekolah,
anak hiperaktif cenderung ditakuti dan dijauhi teman-temannya sehingga anak
terisolir dari lingkungannya. Selain itu akan berpeluang besar terhadap siswa itu
sendiri yaitu menjadi perilaku yang menetap
Apabila hiperaktif yang dibiarkan begitu saja, akan memberikan dampak
pada perkembangan selanjutnya pada saatnya remaja nanti akan menjadi juvenile
deliquence yaitu perilaku khas kenakalan remaja. Selain itu perilaku hiperaktif
juga akan memberi dampak pada perkembangan anak yang mengalami perilaku
hiperaktif tersebut, seperti kurangnya perhatian terhadap pelajaran, anak sering
gagal dalam tugas yang diberikan. Di dalam kelas anak hiperaktif juga akan
mengganggu proses belajar-mengajar yang disebabkan perilaku anak hiperaktif
yang sering berteriak, berjalan atau berlari. Pengaruhnya terhadap anak lain
adalah merasa terganggu bahkan menjadi pemicu anak yang lain menjadi
berperilaku hiperaktif. (Izzaty, 2005: 138 ).
28
Menurut Heri Widodo (dalam Anantasari, 2006: 96) menyatakan
”Dampak negatif dari perilaku hiperaktif yang dialami oleh anak adalah
ketergantungan pada perilaku, menjadi perilaku fondasi, menjadi model yang
buruk”. Ketergantungan pada perilaku yaitu ketika banyak hal yang diperoleh
lewat perilaku hiperaktif seperti penghargaan dan kesenangan seorang anak
cenderung melestarikan perilaku ini dalam hidupnya. Menjadi perilaku fondasi
yang dimaksud adalah kecenderungan banyak melakukan perilaku hiperaktif pada
masa kanak-kanak sebenarnya dapat menjadi fondasi bagi dilakukannya berbagai
perilaku hiperakitf di masa dewasa. Menjadi model yang buruk yaitu
dilakukannya perilaku hiperaktif oleh seorang anak ternyata memiliki dampak
sosial, seperti yang paling jelas adalah ketika perilaku menjadi model perilaku
ideal yang kemudian ditiru oleh anak-anak yang lain.
Hiperaktif yang demikian dapat mengganggu proses kegiatan belajar-
mengajar, oleh sebab itu guru kelas selain berfungsi sebagai peyampai materi
pelajaran juga berfungsi sebagai pembimbing. Kegiatan bimbingan dimaksudkan
untuk membantu anak dalam mengatasi kesulitan pribadi atau sosial yang dapat
menghambat perkembangan dirinya khususnya dalam kaitannya dengan proses
belajar-mengajar.

Berdasarkan uraian di atas dapat perilaku hiperaktif dapat memberikan


dampak di antaranya berkurangnya perhatian terhadap pelajaran di kelas, anak
juga akan sering mengalami kegagalan dalam melaksanakan tugas yang diberikan
padanya karena perilakunya yang tidak dapat diam dan duduk tenang seperti
siswa lainnya sehingga akan berpengaruh pada prestasi yang siswa dapatkan tidak
optimal, selain itu anak hiperaktif juga cenderung ditakuti dan dijauhi oleh teman-
temannya sehingga anak cenderung akan terisolir karena perilakunya yang tidak
wajar seperti suka berkelahi dengan temannya, mudah emosi dan yang tidak
sabaran dalam menunggu giliran. Selain hal tersebut dampak bagi diri sendiri
anak yang berperilaku hiperaktif adalah dengan perilaku hiperaktifnya akan
memberikan dampak perilaku hiperaktifnya akan menjadi perilaku yang menetap
serta akan dicap oleh oang lain dan guru yang menganggap anak hiperaktif adalah

29
anak yang nakal karena tidak memperhatikan dan tidak dapat berkonsentarsi pada
saat pelajaran serta perilakunya yang suka bertengkar atau berselisih dengan
teman-temannya.

Lebih lanjut dilakukannya perilaku hiperaktif juga memiliki dampak


seperti anak yang berperilaku normal akan cendrung merasa terganggu dengan
perilku hiperaktif tersebut karena perilaku anak hiperaktif yang mengganggu
proses belajar-mengajar seperti perilaku yang sering berteriak atau berlari-lari
serta tidak dapat diam pada saat pelajaran berlangsung. Selain hal tersebut
dilakukannya perilaku hiperaktif ternyata memiliki dampak pada lingkungan
sosial seperti menjadi model yang buruk yang kemudian akan ditiru oleh anak-
anak lainnya.
2. Faktor-faktor Penyebab Hiperaktif

Perilaku hiperaktif dapat mengganggu pada proses kegiatan belajar-


mengajar. Oleh karena itu pendidik diharapkan dapat memberikan perhatian dan
penanganan pada peserta didik. Perilaku hiperaktif dapat disebabkan oleh dua
faktor yaitu faktor human dan faktor non human. Faktor human adalah faktor
penyebab hiperaktif yang berasal dari manusia, sedangkan faktor non human
adalah faktor penyebab hiperaktif yang berasal dari lingkungan. Untuk dapat
mencapai hal tersebut, pendidik perlu mengetahui faktor-faktor yang menjadi
penyebab perilaku hiperaktif tersebut.

Ada beberapa faktor penyebab hiperaktif pada anak seperti “Faktor


genetik atau keturunan, faktor ibu pada saat hamil, faktor melahirkan”. (Izzaty,
2005: 135—136).

Ahli lain yang mengatakan faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak


adalah sebagai berikut: “Faktor psikologis, faktor pemanjaan, faktor kurang
disiplin dan pengawasan, faktor orientasi kesenangan,” (Musbikin, 2008: 190).
Lebih jelasnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

30
Faktor psikologis yang dimaksud di sini adalah dipengaruhi karena anak
kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya karena terlalu sibuk, sehingga
perilaku hiperaktif tampil dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian dari
lingkungan, terutama orang tua.

Faktor pemanjaan juga disamakan dengan memperlakukan anak terlalu


berlebihan. Anak yang yang terlalu dimanja itu sering memilih caranya sendiri
agar terpenuhi kebutuhannya. Ia akan memperdaya orang tuanya untuk
memperoleh apa yang diinginkannya. Cara seperti itulah yang akan membuat
anak untuk berbuat sekehendak hatinya. Anak yang dimanja biasanya pengarahan
yang diberikan kepadanya berkurang dan kalau di sekolah ia akan memilih
berjalan-jalan dan berdiri sesukanya dari pada mendengarkan pelajaran yang
diberikan oleh guru.

Faktor kurangnya disiplin dan pengawasan yang dimaksud di sini adalah


anak yang kurang disiplin dan pengawasan ini akan membuat perilakunya
cenderung sesuka hati dan kurang dapat dibatasi. Apa yang dilakukan oleh anak
tersebut dibiarkan begitu saja tanpa ada perhatian dari orang tua. Jika anak
dibiarkan begitu saja tanpa adanya perhatian untuk berbuat sesuka hatinya dalam
rumah, maka anak hiperaktif tersebut akan berbuat sesuka hatinya ditempat lain,
baik itu di sekolah dan orang lain juga akan sulit untuk mengendalikannya.

Faktor orientasi kesenangan maksudnya di sini adalah anak yang


memiliki kepribadian yang berorientasi kesenangan pada umumnya akan memiliki
ciri-ciri hiperktif secara sosio-psikologis. Hal tersebut harus dididik berbeda dari
pada anak normal sebayanya, agar anak hiperaktif tersebut mau mendengarkan
dan menyesuaikan diri. Anak yang memiliki orientasi kesenangan ingin
memuaskan kebutuhan atau keinginannya sendiri. Ia lebih memperhatikan
kesenangan yang berasal dari perilakunya dari pada memperhatikan hukumannya.
Misalnya anak itu mungkin tahu bahwa ia melanggar tata tertib yang berlaku dan
ia akan menerima hukuman, namun jika itu menyenangkannya, ia akan
melakukannya juga walaupun ia mencemaskan hukumannya nanti. Ia akan

31
melakukan apa yang menjadi kesenangannya dan tidak peduli dengan aturan yang
sudah ditentukan oleh orang lain.

Senada dengan hal di atas, Sunardi (1995: 87—88) menjelaskan faktor


yang menyebabkan hiperaktif adalah “Faktor biologis dan faktor psikologis”.

Faktor biologis adalah salah satu faktor penyebab perilaku hiperaktif.


Faktor biologis tersebut di antaranya adalah faktor keturunan dan aspek
lingkungan.

Faktor keturunan atau yang disebut dengan faktor genetik diasumsikan


bahwa anak hiperaktif adalah anak yang berasal dari keluarga yang memiliki
riwayat perilaku hiperaktif.

Aspek lingkungan juga diduga berkaitan dengan faktor genetik yang


dapat menyebabkan hiperaktifitas, di antaranya serbuk timah yang secara tidak
sadar terhirup atau termakan oleh manusia melalui pelapukan beberapa perabotan
yang terdapat di sekitar kita seperti alat-alat masak. Aspek lingkungan lainnya
seperti gangguan penerangan ruangan yang disertai dengan bau-bauan yang
merangsang. Selain itu aspek lingkungan lain yang dapat meyebabkan timbulnya
perilaku hiperaktif adalah pengaruh polusi udara, suhu udara, kebisingan serta
keadaan kemiskinan.

Faktor psikologis dapat diuraian bahwa hampir semua aliran psikologis


membicarakan hal ini. Teori psikoanalisa berasumsi bahwa hiperaktif disebabkan
oleh kurangnya stimulasi, sehingga perilaku hiperaktif merupakan usaha anak
untuk mengoptimalkan stimulasi syaraf mereka. Teori belajar sosial (sosial
learning theory) mempunyai asumsi bahwa perilaku hiperaktif diperoleh dan
dipelajari anak dengan observasi, meniru perilaku sejenis pada orang tua, saudara
sekandung atau teman sebaya dan lingkungan sekitar. Asumsi ini diperkuat
dengan adanya penelitian bahwa perilaku menyimpang dapat dimanipulasi dengan
intervensi atau penanganan sosial, seperti pembiasaan, penggunaan hadiah dan
hukuman yang intinya merupakan pengendalian perilaku hiperaktif.

32
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, faktor penyebab perilaku
hiperaktif dapat disebabkan oleh faktor pemanjaan, orientasi kesenangan,
kurangnya disiplin dan pengawasan dari orang tua, tuntutan orang tua yang terlalu
tinggi serta kondisi ibu pada saat hamil pada saat melahirkan, serta faktor genetik
atau keturunan.

Pemanjaan yang dimaksudkan adalah anak yang yang terlalu dimanja itu
sering memilih caranya sendiri agar terpenuhi kebutuhannya. Anak yang dimanja
biasanya pengarahan yang diberikan kepadanya berkurang dan kalau di sekolah ia
akan memilih berjalan-jalan dan berdiri sesukanya dari pada mendengarkan
pelajaran yang diberikan oleh guru.

Orientasi kesenangan yaitu Anak yang memiliki orientasi kesenangan


ingin memuaskan kebutuhan atau keinginannya sendiri. Ia lebih memperhatikan
kesenangan yang berasal dari perilakunya dari pada memperhatikan hukumannya.

Kurangnya disiplin dan pengawasan dari orang tua maksudnya adalah


anak yang kurang disiplin dan pengawasan ini akan membuat perilakunya
cenderung sesuka hati dan kurang dapat dibatasi. Apa yang dilakukan oleh anak
tersebut dibiarkan begitu saja tanpa ada perhatian dari orang tua serta faktor
human yang lainnya adalah tuntutan orang tua yang terlau tinggi terhadap anak
yaitu orang tua yang terlalu tinggi dan kaku dalam menerapkan tuntutan pada
anak juga akan mengakibatkan perilaku hiperaktif, karena anak merasa tidak
dapat mengekspresikan dirinya sehingga anak melakukan perilaku hiperaktif
sebagai upaya pengespresian diri ditempat lain seperti di sekolah.

Kondisi ibu pada saat hamil yang dimaksudkan adalah ibu ketika masa
hamil sering mengkonsumsi alkohol atau makanan yang tidak baik untuk janin
akan memberikan dampak pada anak yang dilahirkan akan berpeluang menjadi
anak hiperaktif.

Pada saat melahirkan pun juga akan berpengaruh untuk anak yang menjdi
anak yang hiperaktif, misalnya persalinan dalam waktu yang cukup lama serta

33
menggunakan alat bantu persalinan besar resiko untuk mengakibatkan anak
menjadi anak hiperaktif.

Faktor genetik atau keturunan yaitu diasumsikan bahwa anak hiperaktif


adalah anak yang berasal dari keluarga yang memiliki riwayat perilaku hiperaktif
juga.

3. Alternatif Bimbingan Untuk Anak Hiperaktif

a. Pengertian Bimbingan

Prayitno dan Amti (1994: 100) menjelaskan bahwa “Bimbingan adalah


pemberian bantuan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa individu
agar dapat mengembankan kemampuan dirinya sesuai dengan kekuatannya
berdasarkan norma-norma yang berlaku”.

Menurut Natawidjaja (dalam Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan, 2005:


6) bimbingan adalah “Suatu proses pemberian bantuan secara berkesinambungan
agar dapat memahami diri, mengarahkan diri dan bertindak sesuai dengan
tuntutan lingkungan”. Lebih lanjut Sukardi (1995: 2) menjelaskan bahwa
pengertian bimbingan adalah “Proses pemberian bantuan kepada seseorang atau
sekelompok orang secara terus-menerus dan sistematis oleh guru pembimbing
agar menjadi pribadi yang mandiri”.

Dari beberapa pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan tentang


pengertian bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh
orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa individu, agar orang yang
dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan
memanfaatkan kekuatan individu dan sarana prasarana yang ada dan dapat
dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

34
b. Fungsi Bimbingan

Berdasarkan pengertian bimbingan di atas maka terdapat fungsi


bimbingan Fungsi bimbingan terdiri dari sebagai berikut: (1) Fungsi preventif
(pencegahan) yaitu layanan bimbingan yang berfungsi sebagai pencegahan,
artinya merupakan usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah dalam hal ini
agar siswa terhindar dari berbagai masalah yang dapat menghambat
perkembangannya, (2) Fungsi penyaluran yaitu fungsi bimbingan yang bertujuan
agar siswa yang dibimbing dapat berkembang secara optimal, (3) Fungsi
penyesuaian yaitu fungsi bimbingan yang bertujuan agar siswa yang dibimbing
dapat berkembang secara optimal, (4) Fungsi perbaikan, walaupun fungsi
pencegahan, penyaluran dan penyesuaian telah dilakukan, namun mungkin saja
siswa masih mengalami masalah-masalah tertentu. Di sinilah fungsi perbaikan
berperan. Bantuan bimbingan yang berusaha membantu siswa dalam memecahkan
masalah, (5) Fungsi pengembangan adalah layanan bimbingan yang diberikan
dengan tujuan membantu siswa dalam mengembangkan keseluruhan pribadinya
secara terarah dan mantap, dengan demikian siswa dapat mencapai perkembangan
kepribadian secara optimal. (Kartadinata, 2002: 6)

Menurut ahli lain fungsi bimbingan terdiri dari:” Fungsi pemahaman,


fungsi pencegahan, fungsi pengentasan, fungsi pemeliharan dan
pengembangan”.(Prayitno dan Amti, 1994: 197).

Lebih lanjut Departemen Pendidikan Nasional (2007: 200) menjelaskan


fungsi bimbingan dibagi menjadi sepuluh, yaitu: (1) Fungsi pemahaman, (2)
Fungsi fasilitasi, (3) Fungsi Penyesuaian, (4) Fungsi penyaluran, (5) Fungsi
adaptasi, (6) Fungsi pencegahan, (7) Fungsi perbaikan, (8) Fungsi penyembuhan,
(9) Fungsi pemeliharaan, (10) Fungsi pengembangan. Untuk lebih jelasnya akan
diuraiankan sebagai berikut:

Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan yang membantu konseli agar


memiliki pemahaman atas dirinya dan lingkungannya. Berdasarkan pemahaman

35
ini konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal
dan menyesuaikan dirinya secara dinamisdan konstruktif.

Fungsi fasilitasi, yaitu memberi kemudahan pada konseli dalam mencapai


pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang
seluruh aspek konseli.

Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan yang bertujuan untuk


membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan secara
dinamis dan konstruktif.

Fungsi penyaluran, yaitu fungsi bimbingan yang membantu konseli untuk


memilih jurusan, program studi, ekstrakulikuler, karir serta jabatan. Dalam
melaksanakan fungsi ini konselor harus menjalin kerja sama dengan pendidik lain.

Fungsi adaptasi, yaitu fungsi yang membantu para pelaksana pendidikan


untuk meyesuaikan program pendidikan terhadap latarbelakang pendidikan,
minat, kemampuan dan kebutuhan konseli.

Fungsi pencegahan, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor


untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan
berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli.

Fungsi perbaikan, yaitu fungi bimbingan yang bertujuan untuk membantu


konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dan berpikir, berperasaan, dan
bertindak.

Fungi penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan yang bersifat kuratif. Fungi


ini berkaitan dengan upaya pemberian bantuan terhadap konseli yang telah
mengalami masalah, baik pribadi, sosial, belajar dan karir.

Fungsi pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan yang bertujuan untuk


membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi
kondusif yang telah tercipta dalam dirinya.

36
Fungsi pengembangan, yaitu fungsi bimbingan yang bersifat lebih
proaktif dari fungsi-fungsi bimbingan yang lain. Konselor senantiasa berupaya
untuk menciptakan kondisi lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi
perkembangan konseli.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa fungsi


bimbingan terdiri dari fungsi pendidikan, fungsi pengentasan, dan fungsi
pengembangan. Lebih lanjut dapat diuraikan sebagai berikut:

Fungsi pendidikan adalah fungsi bimbingan yang bertujuan membantu


para pelaksana pendidikan untuk menghasilkan program pendidikan yang selaras,
serasi dan dinamis bagi peserta didik serta fungsi bimbingan yang bertujuan untuk
mendidik peserta didik agar dapat mengembangkan pribadinya secara terarah dan
dinamis. Fungsi pengetasan adalah fungsi bimbingan yang bertujuan untuk
membantu peserta didik dalam mengetaskan masalah yang dihadapi sehingga
akan mampu mengeambil keputusan yang seseuai dengan potensi dirinya.
Sedangkan fungsi pengembangan yang dimaksud adalah fungsi bimbingan yang
akan menghasilkan terpeliharanya berbagai potensi dan kondisi positif siswa
dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.

c. Alternatif Bimbingan Terhadap Anak Hiperaktif

Bimbingan merupakan salah satu unsur dalam pendidikan. Pengertian


dari bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang
ahli kepada seseorang atau beberapa individu, agar orang yang dibimbing dapat
mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan
kekuatan individu dan sarana prasarana yang ada dan dapat dikembangkan
berdasarkan norma-norma yang berlaku. Pemberian bimbingan terkait dengan
perilaku hiperaktif memiliki tujuan yaitu dengan upaya bimbingan diharapkan
dapat mengurangi perilaku hiperaktif yang dilakukan siswa agar dapat bertingkah
laku normal seperti siswa pada umumnya dan siswa hiperaktif juga
37
berkesempatan mendapatkan hasil belajar yang optimal sesuai dengan
kemampuannya. Selain hal tersebut tujuan pemberian bimbingan yang diberikan
pada siswa hiperaktif adalah lebih dapat memahami karakteristik dari perilaku
hiperaktif serta faktor-faktor yang menjadi penyebab dari perilaku hiperaktif agar
dapat memberikan upaya bimbingan yang lebih tepat.

Hiperaktif merupakan perilaku yang berkembang dan timbul pada anak-


anak. Perilaku hiperaktif tersebut seperti kekurangmampuan dalam hal menaruh
perhatian dan pengontrolan diri. Keadaan yang demikian akan menjadi masalah
bagi anak-anak yang berperilaku demikian. Hal tersebut tentunya tidak dapat
dibiarkan begitu saja, maka dibutuhkan suatu bimbingan yang bertujuan untuk
membantu siswa yang mengalami perilaku hiperaktif agar mampu mengadakan
pengotrolan terhadap diri.

Ada beberapa intervensi yang dapat dillakukan terhadap perilaku


hiperaktif pada anak yaitu sebagai berikut: “Medikasi, diet, lingkungan yang
berstruktur, modifikasi tingkah laku, biofeedback”(Kauffman dalam Sunardi,
1995: 89).

Medikasi merupakan salah satu intervensi bagi anak hiperaktif. Pada


teknik ini biasanya yang dipakai adalah obat-obatan perangsang syaraf, seperti
methylphenidate atau dextraphetamine. Beberapa anak merasa bahwa obat lebih
besar pengaruhnya dari pada upaya mengendalikan diri sendiri. Peran guru BK
adalah menyarankan kepada orang tua untuk melakukan pengobatan secara medis
terhadap anaknya yaitu dengan menggunakan obat-obatan stimulan seperti
methylphenidate atau dextraphetamine. Obat-obatan tersebut diperacaya dapat
menstabilkan kerja otak pada anak hiperaktif sehingga anak dapat lebih tenang
dan dapat memfokuskan perhatiannya.

Diet yang dianjurkan bagi anak hiperaktif dengan tujuan untuk


mengurangi berbagai macam makanan pantangan terhadap anak hiperaktif
misalnya zat pewarna atau penyedap dalam makanan. Hal ini disebabkan adanya
kepercayaan bahwa zat pewarna dan penyedap dalam makanan mengandung
38
salisilat yang akan mempengaruhi mekanisme fisiologis meskipun dalam jumlah
sedikit. Peran guru BK dalam hal ini adalah melakukan kerja sama dan
menyarankan pada orang tua untuk memantau makanan yang dikonsumsi anak
khususnya untuk mengurangi dan tidak mengkonsumsi makanan yang
mengandung zat pewarrna atau menyedap makanan agar perilaku anak lebih dapat
dikendalikan.

Lingkungan yang berstruktur yang dimaksud adalah teknik yang


menekankan pada pengaturan lingkungan belajar anak sehingga tidak menjadi
penyebab munculnya perilaku hiperaktif. Beberapa pengaturan yang dilakukan
misalnya dengan mengurangi obyek atau benda di kelas yang dapat mengganggu
perhatian anak. Peran guru BK adalah bekerja sama dengan berbagai pihak,
khususnya dengan pihak sekolah dalam memberikan berbagai alternative pada
pihak sekolah dalam upaya menata ruang kelas, pencahayaan dan penggunaan cat
pada tembok untuk tidak terlalu terang serta gambar-gambar pada ruang kelas
yang dimungkinkan dapat menimbulkan perilaku hiperaktif siswa. Selain itu guru
BK bekerjasama dengan personil sekolah lainnya seperti dengan guru kelas dan
wali kelas untuk tidak memberikan cap atau lebel pada siswa hiperaktif sebagai
siswa yang nakal, karena perilaku hiperaktif tersebut bukan merupakan kesalahan
anak.

Modifikasi tingkah laku berarti menciptakan mekanisme yang memberi


konsekuensi yang menyenangkan atas munculnya perilaku yang diinginkan dan
tidak memberi konsekuensi yang tidak menyenangkan atas munculnya setiap
perilaku yang tidak diinginkan. Menghilangkan tingkah laku yang tidak
dikehendaki adalah dengan jalan mencari faktor pemicu dari perilaku yang tidak
dikendaki tersebut. Contohnya jika anak tidak dapat duduk tenang dan bertingkah
laku yang tidak wajar, maka mencari alasan dari tingkah laku yang anak lakukan
tersebut. Sedangkan mengembangkan tingkah laku yang dikehendaki yaitu
dengan cara terus mengembangkan dan meningkatkan tingkah laku yang yang
baik agar menjadi lebih baik. Untuk melakukannya dapat dilakukan dengan cara
pemberian reinforcement (penguatan), sedangkan modifikasi tingkah laku adalah
39
salah satu intervensi yang dapat diterapkan pada anak hiperaktif dengan
pemberian kondisi yang menyenangkan untuk dapat mencapai tingkah laku yang
diinginkan

Biofeedback yang dimaksud adalah teknik yang dilakukan dengan cara


pengendalian perilaku atau dengan proses biologis internal yaitu dengan
memberikan informasi kepada siswa yang mengalami perilaku hiperaktif
mengenai kondisi perilakunya. Guru BK dalam hal berperan untuk memberikan
informasi kepada anak hiperaktif terkait perilakunya yang dianggap menyimpang
oleh orang laian dan dapat memberikan dampak baik bagi dirinya sendiri maupun
bagi orang lain. Dalam upaya penyampaiannya guru BK menggunakan bahasa
yang mudah dipahami oleh siswa hiperktif tersebut.

Sumber lain menjelaskan intervensi terhadap perilaku hiperaktif pada


anak dapat dilakukan dengan cara: “ Mengajarkan disiplin pada anak
hiperaktif agar ia dapat mengatur dirinya dan mengontrol dirinya dengan
baik (assertif) seperti mengajarkan anak mengenai ketrampilan sosial,
menjalin komunikasi yang baik dengan anak, dan pemberian tugas yang
dapat menjamin keberhasilan anak. Lebih lanjut jangan menghukum anak
karena perilaku hiperaktif bukanlah kesalahan anak, hindarkan label pada
anak hiperaktif bahwa ia anak nakal, berikan penguatan terhadap setiap
tingkah laku baik yang dilakukan anak yang hiperaktif, menggunakan
program kegiatan belajar dengan role playing dan sosiodrama”(Intisari,
2001: 63).
Lebih lanjut Izzaty (2005: 140) menjelaskan “Intervensi untuk perilaku
hiperaktif pada anak dapat dilakukan dengan memberi tugas yang yang menjamin
keberhasilan anak, menciptakan lingkungan yang kondusif serta pada pelaksanaan
proses belajar, guru hendaknya menggunakan teknik penguatan”. Untuk lebih
jelasnya dapat dilakukan sebagai berikut:

Memberikan tugas yang menjamin keberhailan anak adalah anak yang


hiperaktif salah satu cirinya adalah dengan sulit untuk memusatkan perhatian pada
suatu tugas yang diberikan padanya. Hal tersebut salah satunya disebabkan karena
anak selalu dikritik dan selalu mendapatkan penekanan yang terus menerus
terhadap kesalahan-kesalahan yang anak lakukan, sehingga anak akan mudah
putus asa serta mudah menyerah. Hal tersebut juga akan mengakibatkan anak
40
mudah untuk berganti kegiatan sehingga seolah-olah anak tidak dapat
memusatkan perhatian pada satu aktifitas. Oleh karena itu orang tua dan guru
hendaknya memilihkan tugas atau kegiatan yang dapat diyakini akan berhasil
dikerjakan oleh anak dan tidak lupa untuk memujinya ketika anak selesai
mengerjakannya.

Menciptakan lingkungan yang kondusif dimaksudkan sebagai salah satu


upaya untuk pengendalian perilaku hiperaktif. Dalam upaya menciptakan
lingkungan yang kondusif diperlukan kerjasama dengan berbagai pihak yang
berkenaan dengan anak selain orang tua, juga guru dan pihak sekolah lainnya.
Sekolah perlu menciptakan lingkungan yang kondusif dengan mengurangi
tekanan pada anak seperti tidak melebelkan anak sebagai anak yang nakal karena
perilaku hiperaktif yang dilakukan bukan merupakan kesalahan anak. Diharapkan
dengan upaya tersebut perilaku hiperaktif pada anak dapat dikurangi.

Teknik penguatan sebaiknya dalam proses belajar-mengajar tidak


dilupakan oleh para guru, terlebih digunakan pada siswa hiperaktif. Tujuan dari
teknik penguatan yang diberikan pada siswa hiperaktif agar tingkah laku baik
yang dilakukan oleh siswa hiperaktif dapat dilakukan berulang-ulang sehingga
tingkah laku hiperaktif yang semula dilakukannya dapat diminimalisir.

Berdasarkan uraian beberapa pendapat terdapat beberapa intervensi yang


dapat dilakukan terhadap anak hiperaktif yaitu dengan cara medis, penanganan
behavioral serta assertif. Penanganan medis dapat dilakukan dengan memakai
obat atau medikasi serta melakukan diet, sedangkan penanganan behavioral dapat
dilakukan dengan cara penggunaan teknik reinforcement untuk meningkatkan
tingkah laku yang dikehendaki dan mengurangi tingkah laku yang tidak
dikehendaki serta dengan teknik asertif seperti mengajarkan disiplin pada anak
hiperaktif agar ia dapat mengatur dirinya dengan baik, mengajarkan anak
mengenai ketrampilan sosial. Lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut:

Penanganan dengan medis dapat dilakukan dengan cara pemberian obat-


obatan serta melakukan diet. Pemberian obat-obatan dimaksudkan sebagai upaya
41
perangsang syaraf, seperti pemberian methylphenidate atau dextraphetamine.
Beberapa anak merasa bahwa obat lebih besar pengaruhnya untuk mengurangi
perilaku hiperaktif. Selain itu melakuan diet adalah juga merupakan penanganan
terhadap anak hiperatif secara medis. Diet yang dilakukan adalah anak yang
mengalami perilaku hiperaktif disarankan untuk tidak mengkonsumsi beberapa
jenis makanan yang dapat merangsang perilaku hiperaktif seperti makanan yang
banyak mengandung zat pewarna dan penyedap yang diduga dapat menyebabkan
perilaku hiperaktif itu muncul.

Penanganan secara behavioral dapat dilakukan dengan mengurangi


tingkah laku yang tidak dikehendaki dan meningkatkan tingkah laku yang
dikehendaki dengan reinforcement. Sebagai contohnya, siswa hiperaktif diberi
kesempatan untuk duduk tenang dan memperhatikan pelajaran di dalam kelas jika
hal tersebut dapat dilakukan paling tidak selama lima menit atau pada batas waktu
yang ditentukan maka reinforcement yang diberikan pada siswa hiperaktif dapat
berupa acungan jempol atau pemberian pujian dan hadiah.

Penanganan dengan asertif yaitu mengajarkan disiplin dan


mengembangkan kontrol diri terhadap anak hiperaktif dengan cara memberikan
kesempatan pada anak hiperaktif untuk terbuka atau menjalin komunikasi dengan
anak hiperaktif, pemberian tugas yang dapat menjamin keberhasilan anak serta
mengajarkan ketrampilan sosial pada anak. Untuk lebih jelasnya dapat di uraikan
sebagi berikut:

Berbicara secara pribadi kepada anak hiperaktif dengan penuh sikap kasih
sayang dan pengertian akan memberikan kesempatan pada anak dalam
mengekspresikan keinginan dan kekuatan dengan cara-cara tertentu, misalnya
dengan memberikan alternatif pada anak tentang kegiatan yang dapat
dilakukannya sehingga dapat menguragi emosi anak yang dapat menimbulkan
hiperaktifitas.

Selain itu pemberian tugas yang dapat menjamin keberhasilan anak juga
dapat dijadikan upaya untuk mengontrol dan meminialisir tingkat hiperaktifitas
42
anak. Dalam upaya pemberian tugas pun orang tua atau guru hendaknya tidak
menekankan pada kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak, karena anak
hiperaktif yang mendapat tekanan terhadap kesalahan-kesalahannya akan
cenderung lebih mudah bosan dan berpindah kegiatan sehingga tugas yang
diberikan padanya tidak terselesaikan.

Lebih lanjut upaya assertif yang dapat dilakukan adalah mengajarkan


ketrampilan sosial pada anak hiperaktif. Anak hiperaktif perlu diajarkan
ketrampilan sosial dalam hubungannya dengan orang lain bertujuan agar anak
hiperaktif mampu melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosialnya
yang pada akhirnya anak hiperaktif dapat diterima dilingkungan sosialnya.

B. Kerangka Berpikir

Kegiatan belajar-mengajar di kelas melibatkan aktivitas guru dan siswa.


Proses pembelajaran akan berlangsung normal apabila berbagai unsur atau
komponen dalam sistem pembelajaran berfungsi sebagaimana mestinya.

Guru sekolah dasar sebagai guru kelas memiliki peran dan tugas
mengelola kegiatan belajae-mengajar. Sebagai pengelola guru dituntut memiliki
kemampuan yang tidak hanya sebagai penyaji materi pembelajaran, tetapi juga
diharapkan guru kelas mampu menjadi guru pembimbing bagi siswa khususnya
siswa yang bermasalah seperti siswa yang mengalami perilaku hiperaktif.

Salah satu unsur atau komponen dalam sistem pembelajaran adalah siswa,
terdapat siswa yang berperilaku normal dan siswa yang berperilaku hiperaktif.
Bagi siswa yang berperilaku hiperaktif memiliki keterbatasan dalam menerima
materi pelajaran yang diberikan guru kelas. Selain itu siswa yang berperilaku juga
mengalami masalah-masalah yang berkaitan dengan perilaku yang mereka alami,
sebagai contohnya siswa yang hiperaktif kurang dapat melakukan konsentrasi
pada hal-hal yang disampaikan oleh guru, banyak melakukan gerakan yang tidak

43
tepat pada waktunya serta siswa tersebut kurang dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungan sehingga kurang mendapat penerimaan dari lingkungannya, oleh
karena itu perlakuan yang diberikan kepada siswa yang berperilaku hiperaktif
tidak boleh sama dengan siswa yang berperilaku normal. Akan tetapi dalam
memberikan penanganan pada siswa hiperaktif juga harus memperhatikan faktor-
faktor yang menyebabkan perilaku hiperaktif tersebut, karena setiap siswa yang
berperilaku hiperaktif dimungkinkan oleh faktor penyebab yang berbeda-beda.
Faktor-faktor penyebab perilaku hiperaktif tersebut dapat dibedakan menjadi dua
yaitu faktor human dan faktor non human. Faktor human di antaranya adalah
pemanjaan, orientasi kesenangan, kurangnya disiplin dan pengawasan dari orang
tua serta tuntutan orang tua yang terlalu tinggi, sedangkan faktor non human
sebagai penyebab perilaku hiperaktif di antaranya adalah kondisi ibu pada saat
hamil dan melahirkan, faktor genetik atau keturunan serta zat penambah pada
makanan.

Seburuk apapun penyimpangan yang dilakukan oleh anak yang


berperilaku hiperaktif diharapkan masih dapat melakukan kegiatan belajar dengan
baik, sehingga siswa hiperaktif juga berkesempatan mendapatkan hasil belajar
yang optimal sesuai dengan kemampuannya. Sejalan dengan hal tersebut, anak
hiperaktif memerlukan bantuan atau alternatif bimbingan untuk menanggulangi
perilaku hiperaktif tersebut. Alternatif bimbingan yang diberikan dapat dilakukan
dengan berbagai cara seperti penanganan medis, penanganan behavioral serta
penanganan aseritf. Penanganan medis dapat dilakukan dengan memakai obat atau
medikasi dan melakukan diet, sedangkan penanganan behavioral dapat dilakukan
dengan cara mengurangi tingkah laku yang tidak dikehendaki dan meningkatkan
tingkah laku yang dikehendaki dengan melakukan reinforcement, serta
penanganan dengan asertif yaitu mengajarkan disiplin dan mengembangkan
kontrol diri terhadap anak hiperaktif dengan cara memberikan kesempatan pada
anak hiperaktif untuk terbuka atau menjalin komunikasi dengan anak hiperaktif,
pemberian tugas yang dapat menjamin keberhasilan anak serta mengajarkan
ketrampilan sosial pada anak.

44
Dari uraian di atas apabila digambarkan dalam kerangka pemikiran
mengenai perilaku hiperaktif tersebut adalah sebagai berikut:

Siswa
berperilaku
normal

Perilaku
siswa di
Alternatif
sekolah
bimbingan
Siswa yang
berperilaku diberikan
hiperaktif

Faktor-
faktor
penyebab
hiperaktif

Bagan I: Kerangka Pemikiran Hiperaktif

45
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Sesuai dengan judul penelitian yaitu studi kasus terhadap perilaku


hiperaktif di pada siswa kelas III SD Negeri Mranggen 05 Kecamatan
Polokarto Kabupaten Sukoharjo. Jumlah siswa di Kelas III. Alasan dipilihnya
sebagai tempat penelitian: (a) Diketemukannya siswa yang berperilaku
hiperaktif di Kelas III SD N Negeri Mranggen 05 Kecamatan Polokarto
Kabupaten Sukoharjo, (b) Peneliti ingin mengetahui gambaran anak yang
berperilaku hiperaktif di Kelas III SD N Negeri Mranggen 05 Kecemetan
Polokarto Kabupaten Sukoharjo, (c) Belum banyaknya penelitian tentang
perilaku hiperaktif.

Waktu penelitian diadakan pada Semester I Tahun pelajaran


2009/2010 diawal sejak pengajuan judul, penyelesaian ijin penelitian,
pengumpulan data, analisis data, dan penulisan laporan hasil penelitian.

B. Bentuk dan Jenis Penelitian

1. Bentuk Penelitian

Bentuk penelitian yang akan diperoleh dan dikumpulkan berupa data


langsung tercatat dari kegiatan dilapangan maka bentuk pendekatan yang
dipergunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.

Sutopo (1993: 24) menegaskan metode deskriptif kualitatif mampu


mengungkap berbagai informasi kualitatif dengan deskriptif yang penuh

46
nuansa. Dengan demikian hasilnya akan lebih bermakna dari pada sekedar
pertanyaan maupun frekuensi dalam bentuk angket semata.

2. Jenis Penelitian

a) Pengertian Studi Kasus

Jenis penelitian ini adalah studi kasus tentang perilaku anak hiperaktif
siswa kelas III di SD Negeri Mranggen 05 Kecamatan Polokarto Kabupaten
Sukoharjo. yang termasuk pendekatan kualitatif. Moleong (2004: 2)
menjelaskan bahwa penelitian kualitatif diartikan sebagai penelitian yang
tidak mengadakan perhitungan. Lebih lanjut Sutopo (2003: 24) menegaskan
metode diskriptif kualitatif mampu mengungkap berbagai informasi kualitatif
dengan diskripitf yang penuh nuansa, dengan demikian hasilnya akan lebih
bermakna dari pada sekedar pertanyaan.

Menurut Yin (1997: 3) penelitian kasus atau penelitian lapangan


merupakan jenis penelitian yang lebih cocok untuk menjawab pertanyaan
penelitian yang berkenaan dengan how (bagaimana) dan why (mengapa)
dengan penelitian yang berfenomena komtemporer (masa kini). Sedangkan
Surakhmad (1993: 143) mengatakan, “Studi kasus adalah unit kajian yang
mendalam”. Lebih lanjut Walgito (1983: 38) menyatakan studi kasus
merupakan suatu integrasi dari data yang diperoleh dengan metode-metode
studi kasus yang akan mendapatkan tinjauan mendalam.

Berdasarkan rumusan di atas dapat disimpulkan bahwa studi kasus


adalah jenis penelitian untuk mempelajari atau mengkaji suatu kejadian
dengan menggunakan berbagai pendekatan dan data yang dikumpulkan
meliputi seluruh aspek individu secara lengkap untuk mendapatkan tinjauan
terhadap kasus secara mendalam.

47
b) Tujuan Studi Kasus

Selaras dengan pengertian studi kasus di atas, tujuan dari studi kasus
adalah untuk: (a) Memahami pengertian karakteristik topik penelitian, (b)
Memahami permasalahan yang terkandung di dalam suatu kasus, (c) Memiliki
wawasan tentang akibat yang akan timbul apabila kasus tidak ditangani, (d)
Memiliki wawasan tentang upaya pemahaman seluk-beluk dan sumber
permasalahan, (e) Penanganan kasus pada umumnya, (f) Memiliki sikap
tentang berat ringannya suatu kasus (Moleong, 1988: 110).

Lebih lanjut Yin (1997: 3) menyatakan bahwa penelitian kasus


merupakan “Penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan metode kerja
yang paling efisien. Hal tersebut berarti peneliti mengadakan telaah secara
mendalam tentang suatu kasus, kesimpulan hanya berlaku atau terbatas pada
kasus tertentu saja”.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian studi kasus


bertujuan untuk dapat memahami dan mendeskripsikan suatu karakteristik
objek penelitian secara mendalam dengan menggunakan dan
menegembangkan metode-metode studi kasus.

c) Langkah-langkah Studi Kasus

Studi kasus adalah jenis penelitian untuk mempelajari atau mengkaji


suatu kejadian dengan menggunakan berbagai pendekatan dan data yang
dikumpulkan meliputi seluruh aspek individu secara lengkap untuk
mendapatkan tinjauan terhadap kasus secara mendalam. Menurut Nazir (1998:
68) langkah-langkah dalam studi kasus adalah:

48
(1) Merumuskan tujuan penelitian.
(2) Menentukan unit-unit studi, sifat mana yang akan diteliti, dan hubungan
apa yang akan dikaji serta proses apa yang akan menuntun penelitian.
(3) Menentukan rancangan serta pendekatan dalam memilih unit-unit dan
teknik pengumpulan data mana yang akan digunakan serta sumber data
apa yang tersedia.
(4) Mengumpulkan data.
(5) Mengorganisasikan informasi serta data yang terkumpul dan analisa data
untuk membuat interprestasi serta generalisasi.
(6) Menyusun laporan dengan memberikan kesimpulan serta implikasi dari
hasil penelitian.

Lebih lanjut menurut Suryabrata (1981: 24) langkah-langkah dalam


studi kasus adalah:

(1) Merumuskan tujuan yang akan dicapai. Apakah yang akan dijadikan unit
studi dan sifat-sifat, saling berhubungan proses mana yang akan
menuntun penelitian.
(2) Merancang cara pendekatan. Bagaimana unit itu akan dipilih, sumber data
mana yang tersedia, serta metode pengumpulan data mana yang akan
digunakan.
(3) Pengumpulan data.
(4) Mengorganisasikan data dan informasi yang diperoleh itu menjadi
rekontruksi unit studi yang koheren dan terpadu secara baik.
(5) Meyususn laporan serta mendeskripsikan makna hasil tersebut.

Dari kedua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa langkah-


langkah dalam studi kasus adalah:

(1) Persiapan, dalam langkah persiapan ini ditentukan tujuan dari penelitian
kasus serta subyek yang benar-benar memiliki masalah. Dalam hal ini
tujuan yang ditetapkan oleh peneliti dan yang ingin dicapai oleh peneliti
adalah untuk mendeskripsikan karakteristik hiperaktif dan faktor-faktor

49
penyebab hiperaktif pada siswa Kelas III SD Negeri Mranggen 05
Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo.

(2) Penentuan unit kasus, rancangan serta pendekatan dalam penelitian.


Dalam langkah ini aspek yang menjadi kasus ditentukan, teknik yang
digunakan serta sumber data yang tersedia. Maksudnya adalah aspek pada
penelitian ini adalah karakteristik hiperaktif dan faktor-faktor penyebab
hiperaktif pada siswa Kelas III SD Negeri Mranggen 05 Kecamatan
Polokarto Kabupaten Sukoharjo.

(3) Pengumpulan data, data yang dikumpulkan dengan berbagai metode


pengumpulan data yang dapat mengungkap seluruh aspek kehidupan
individu, artinya dalam penelitian ini metode pengumpulan data dengan
menggunakan tiga teknik penelitian yaitu observasi, wawancara, serta
dokumentasi dengan menggunakan sumber data primer dan sumber data
sekunder.

(4) Pengolahan data dan pengumpulan data, data yang telah terkumpul diolah
sehingga dapat diketahui hubungan antara data satu dengan data yang
lainnya. Dengan mengolah data dan informasi yang telah terkumpul dapat
bermanfaat untuk menarik sebuah kesimpulan.

Selaras dengan uraikan di atas, strategi penelitian ini adalah studi


kasus yaitu penulis menggambarkan subyek penelitian di dalam keseluruhan
tingkah laku hiperaktif tersebut dan faktor-faktor penyebab perilaku hiperaktif
baik di dalam maupun di luar kelas.

C. Sumber Data

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, sehingga


data yang dikumpulkan berbentuk kualitatif yang memberikan gambaran

50
tentang perilaku hiperaktif dan faktor-faktor penyebabnya. Sumber data
tersebut diperoleh dua hal yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.

1. Sumber Data Primer

Sumber data primer merupakan data yang diperoleh dari proses


wawancara secara langsung dengan responden maupun dari wawancara dengan
beberapa orang di luar responden sebagai pelengkap melalui informan kunci
(Marzuki, 2002 : 55). Adapun yang menjadi sumber data primer dalam
penelitian ini adalah siswa yang berperilaku hiperaktif. Menurut Marzuki
(2002: 57) sumber data primer memiliki manfaat antara lain:

a. Data primer langsung bersangkutan dengan keperluan penelitian atau


dikumpulkan untuk mencapai tujuan penelitian.
b. Tidak ada resiko kadaluwarsa ( out of date ) karena baru dikumpulkan
setelah proyek penelitian dirumuskan.
c. Semua pekerjaan pengumpulan data statistik dipegang sendiri oleh
peneliti. Peneliti akan menelaahnya dengan cara yang dikehendaki.
d. Penelitian mengetahui kualitas dari metode-metode yang dipakainya,
karena ialah yang mengaturnya sejak permulaan.

2. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah orang yang dekat
dengan subyek, seperti wali kelas, teman dekat, orang tua subjek. Selain itu
berupa dokumen-dokumen atau berkas-berkas yang tersimpan di kantor SD
Negeri Mranggen 05 yang mendukung penelitian. Dokumen ini dapat berupa
daftar identitas siswa. Hal ini berguna untuk mengetahui identitas siswa yang
berperilaku hiperaktif.

51
Sumber data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini adalah
untuk mendapatkan keterangan serta identitas siswa Kelas III untuk
mendapatkan nama siswa Kelas III yang mengalami perilaku hiperaktif.

D. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan salah satu langkah dalam penelitian.


Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui observasi,
wawancara dan dokumentasi. Ketiga teknik tersebut digunakan dengan tujuan
untuk mengungkap karakteristik hiperaktif yang di antaranya adalah jenis
kurangnya daya perhatian (inattentive) di antaranya (a) Gagal dalam
memperhatikan hal-hal detail, (b) Mengalami kesulitan dalam memusatkan
perhatian, (c) Tidak mendengarkan jika diajak bicara, (d) Tidak mengikuti
instruksi dengan baik dan gagal dalam menyelesaikan pekerjaan sekolah atau
di rumah, (e) Mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas dan kegiatan, (f)
Mudah tergangggu oleh rangsangan dari luar, (g) Mudah lupa dalm
menyelesaikan kegiatan sehari-hari. Hiperaktif dengan jenis hiperaktifitas dan
impulsive di antaranya (a) Menunjukkan tingkah laku gelisah seperti sering
menggerakkan tangan dan kaki, (b) Sering meninggalkan tempat duduk, (c)
Banyak melakukan gerakan pada waktu yang tidak tepat. Sedangkan jenis
hiperaktif kombinasi di antaranya adalah (a) Bertindak tanpa berpikir, (b)
Mudah berganti-ganti aktivitas, (c) Membutuhkan perhatian lebih, (d) Tidak
dapat menunggu giliran.

1. Teknik Observasi

Metode observasi adalah pengamatan secara langsung terhadap


subyek yang diteliti untuk mendapatkan suatu kebenaran dan keadaan perilaku
obyek secara detail sesuai keadaan yang sebenarnya. Arikunto (1993: 234)
mengatakan metode observasi adalah “Metode ilmiah yang biasa diartikan
sebagai pengamatan dan pencatatan yang secara sistematis terhadap
52
fenomena-fenomena yang terjadi”. Dari uarian tersebut dapat diketahui bahwa
observasi adalah suatu pengamatan atau penyelidikan yang dilaksanakan
secara sistematis dengan cara mencatat terhadap kejadian atau peristiwa yang
diamati.

Guba dan Licoln (dalam Moleong, 2004: 174) mengemukakan


terdapat beberapa alasan mengapa dalam penelitian kualitatif memanfaatkan
observasi, yaitu:

a. Teknik observasi dapat dilakukan secara langsung dan merupakan alat


pengumpul data yang ampuh untuk mengetes suatu kebenaran.
b. Teknik observasi memungkinkan peneliti untuk mencatat keadaan yang
sebenarnya.
c. Observasi merupakan alat pengumpul data yang dapat digunakan untuk
menjawab keraguan peneliti atas data yang diperolehnya apabila terdapat
data yang keliru.
d. Observasi dapat memahami situasi yang rumit dan komplek.
e. Observasi dapat menjadi alat pengumpul data yang sangat bermanfaat
untuk meneliti kasus-kasus yang rumit dibanding teknik komunikasi
lainnya.
Penelitian ini observasi digunakan oleh peneliti untuk: (1) Aktifitas
siswa di sekolah, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, (2) Hubungan
sosial siswa yang menjadi penyebab munculnya perilaku hiperaktif, (3)
Hubungan siswa dengan guru dan orang tua yang dapat menjadi penyebab
munculnya perilaku hiperaktif.

Metode observasi, peneliti dapat mengamati secara langsung situasi


atau keadaan dan kejadian yang ada hubungannya dengan fokus penelitian.
Teknik observasi ini digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik hiperaktif
yang di antaranya menyangkut ciri-ciri yang dimiliki dari ketiga jenis
hiperaktif. Prosedur yang digunakan peneliti dalan teknik observasi adalah (1)
Membuat kisi-kisi dan pedoman observasi yang akan menjadi sasaran obyek

53
penelitian yaitu mengenai hiperaktif siswa yang dijadikan subyek penelitian,
(2) Menetapkan subyek penelitian yang sesuai dengan karakteristik hiperaktif,
(3) Mengadakan observasi terhadap subyek penelitian yang dilakukan pada
saat kegiatan belajar-mengajar dan pada saat istirahat.

Data yang diperoleh dari hasil observasi diharapkan berupa data yang
faktual, sehingga hal ini selain dapat digunakan sebagai data pendukung
terhadap fokus penelitian juga dapat digunakan untuk memeriksa keabsahan
data yang telah diperoleh sebelumnya melalui metode pengumpulan data yang
lain.

2. Teknik Wawancara

Selain teknik observasi dalam penelitian ini juga menggunakan teknik


interview atau wawancara. Metode interview adalah metode pengumpulan data
yang dilaksanakan dengan jalan melakukan tanya jawab langsung dengan
subyek penelitian. Arikunto (1993: 145) mengatakan “Metode wawancara juga
sering disebut interview yaitu sebuah dialog yang dilakukan pewawancara
(interviewer) untuk memperoleh informasi dari yang diwawancara
(Interviewee)”.

Lebih lanjut Nasution (2003: 113) mengatakan: "Interview adalah


merupakan metode yang bersifat langsung dan merupakan suatu bentuk
komunikasi verbal, semacam percakapan yang bertujuan memperoleh
informasi."

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa wawancara adalah


percakapan atau tanya jawab yang dilakukan secara sistematis tentang keadaan
atau peristiwa yang diamati.

Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara


berstruktur. Wawancara berstruktur adalah semua pertanyaan yang telah
dirumuskan sebelumnya dengan cermat dan biasanya secara tertulis.
Pewawancara dapat menggunakan daftar pertanyaan sewaktu melakukan

54
wawancara. Tujuan diadakan wawancara yaitu untuk mengetahui (a)
Mengungkap karakteritik siswa hiperaktif baik di kelas maupun di luar kelas
dan faktor-faktor penyebabnya, (b) Karakteristik tingkah laku siswa dan hal-
hal lain yang berkenaan dengan diri siswa di lingkungan keluarga dengan
mengadakan wawancara dengan orang tua. Langkah-langkah yang digunakan
peneliti dalam teknik wawancara adalah (a) Membuat kisi-kisi dan pedoman
wawancara terkait dengan karakteritik hiperaktif dan faktor-faktor yang
mempengaruhi hiperaktif, (b) Mengadakan wawancara dengan pihak-pihak
yang terkait dengan subyek penelitian di antaranya adalah guru atau wali kelas
III, dan teman siswa.

Penelitian ini, teknik wawancara digunakan untuk membuktikan hasil


atau memberi keyakinan dari hasil observasi. Teknik wawancara ini
digunakan untuk mengtahui faktor-faktor yang menjadi peneyebab hiperaktif
serta membuktikan hasil observasi menyangkut ciri-ciri karakteristik
hiperaktif yang di antaranya menyangkut yang dimiliki dari ketiga jenis
hiperaktif.

3. Teknik Dokumentasi

Dokumentasi berasal dari kata document (Bahasa Inggris) yang artinya


dokumen sedang “Dokumen yang berasal dari kata documentun (Bahasa Latin)
berarti tertulis atau tercetak”. Khozin Afandi (1993: 1557) mengemukakan, “
Dokumen pribadi adalah sesuatu yang mendeskripsikan seseorang dari laporan
(tulisan) orang itu sendiri mengenai keseluruhan atau sebagian kehidupannya”.
Ahli lain Arikunto (1993: 147) menjelaskan bahwa dokumentasi berasal dari
kata dokumen yang artinya segala sesuatu yang tertulis.

Berdasarkan pengertian tersebut dokumentasi adalah membuat catatan


atau membuat keterangan-keterangan tertulis ataupun tercetak yang dijadikan
dokumen. Pengumpulan data dengan mempergunakan metode dokumentasi
berarti suatu cara mengumpulkan data dengan mengambil data dari sumber-
sumber dokumen. Bahan yang dianggap atau dapat dijadikan sebagai dokumen,

55
misalnya buku-buku dan catatan lainnya. Dalam penelitian ini dokumen yang
digunakan berupa raport dan buku pribadi. Raport dan buku pribadi ini
digunakan pada awal penelitian untuk mengetahui identitas siswa yang
bermasalah dengan perilaku hiperaktif.

4. Kunjungan Rumah/ Home Visit

Home visit merupakan kunjungan guru ke rumah siswa dengan tujuan


untuk mengenal dan memahami lingkungan murid dalam keluarga dan
keterangan lain yang berkaitan dengan siswa.

Tujuan home visit adalah untuk mengenal dan memahami lingkungan


siswa dalam keluarga dan keterangan-keterangan lain tentang siswa yang
berkaiatan dengan perilaku hiperaktif siswa.

Alasan digunakannya home visit untuk mendapatkan data tentang


karakteristik perilaku hiperaktif subyek penelitian pada saat di rumah dan
faktor-faktor yang menjadi penyebabnya.

Pelaksanaan home visit perlu direncanakan dengan baik agar data yang
diperoleh sesuai dengan yang dibutuhkan. Tahap pelaksanaan home visit adalah
(a) Permohonan izin kepada guru kelas, (b) Menyiapkan pedoman wawancara,
(c) Melaksanakan wawancara dengan orang tua subyek, (d) Mencatat hasil
wawancara, (e) Menganalisis hasil wawancara.

E. Validitas Data

Di dalam penelitian diperlukan adanya keabsahan data, maksudnya


adalah semua data yang dikumpulkan hendaknya mencerminkan apa yang
sebenarnya diukur atau di teliti.

56
Menurut Sutopo (2002: 78) dalam penelitian deskriptif kualitatif untuk
menguji kesahihan data digunakan triangulasi sumber, triangulasi metode,
triangulasi peneliti, dan tringaulasi teori.

Untuk memperoleh data yang akurat dalam penelitian ini


menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber
yaitu dengan cara menggali data dari sumber yang berbeda, sedangkan
triangulasi metode adalah teknik pengumpulan data dengan menggunakan
teknik yang berbeda.

F. Analisis Data

Analisis data merupakan suatu proses mengatur urutan data dan


mengorganisasikannya dengan menafsirkan yaitu member arti signifikan
terhadap data yang telah didapat, menjelaskan pola uraian dan mencari
hubungan antara uraian tersebut. Pekerjaan analisis pada dasarnya adalah
mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, dan mengkatagorikan data yang
diperoleh. Setelah itu ditarik kesimpulan yang berkaitan dengan permasalahan
penelitian. Jika hasil analisis data sudah dapat menjawab penyataan dalam
penelitian berarti tujuan penelitian sudah dapat tercapai.

Analisis data kualitatif menurut Patton dalam Moleong (2004: 248)


merupakan “Proses mengatur data, mengorganisasikannya ke dalam suatu
pola, katagori, dan satuan uraian dasar”. Sedang menurut Sugiyono (2002:
110), analisis data adalah “Proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang
lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan”

Berdasarkan rumusan di atas dapat disimpulkan bahwa analisis data


kualitatif adalah suatu kegiatan dalam penelitian yang dimaksudkan untuk
mengorganisasikan data yang diperoleh dalam penelitian agar lebih mudah
dibaca dan diinterpretasikan.

Menurut Sutopo (2003: 18) “Dalam proses analisa ada tiga komponen
yang harus disadari oleh peneliti. Tiga komponen tersebut adalah (1) Reduksi
data, (2) Penyajian data, (3) Penarikan kesimpulan atau verifikasi”. Selaras
57
dengan Rohidi (1992: 16—21) menyatakan: “Analisis data kualitatif terdiri
dari 3 alur kegiatan: (1) Reduksi (2) Penyajian data (3) Menarik kesimpulan
dan verifikasi”. Lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Reduksi data yaitu suatu bentuk analisis yang menajamkan, dirangkai,


dan dipilih sesuai dengan fokus penelitian kemudian disusun secara
sistematis yang pada akhirnya dapat memberi gambaran yang jelas tentang
hasil observasi dan wawancara sehingga dapat di tarik kesimpulan
finalnya.
2. Penyajian data yaitu pembatasan sebagai suatu kesimpulan informasi
tersusun yang memberikan kemungkinan adanya suatu penarikan
kesimpulan dan pengambilan tindakan.
3. Menarik kesimpulan dan verifikasi. Di dalam menarik kesimpulan juga
harus diverifikasi makna-makna yang muncul dari data yang harus diuji
kebenarannya, kekokohannya dan kecocokannya agar dapat diperoleh
yang valid.

G. Prosedur Penelitian

Kegiatan penelitian ini seluruhnya direncanakan sebagai berikut:

1. Tahap Persiapan

a. Mengurus perijinan penelitian. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan surat


ijin penelitian yang akan digunakan di tempat penelitian.
b. Menentukan lokasi penelitian. Hal ini bertujuan untuk menentukan tempat
penelitian serta subyek yang benar-benar berperilaku hiperaktif yang
terdapat di tempat penelitian tersebut.
58
c. Meninjau lokasi penelitian secara sepintas mempelajari keadaannya. Hal
ini bertujuan agar peneliti mampu mengenal dan menyesuaikan diri
dengan segala sesuatu yang terdapat pada tempat penelitian.
d. Menyusun instrument penelitian, pengembangan pedoman pengumpulan
data (daftar pertanyaan dan petunjuk observasi) dan juga penyusunan
jadwal kegiatan secara rinci.
e. Konsultasi dengan kepala sekolah. Hal ini dilakukan untuk meminta ijin
kepada kepala sekolah untuk mengadakan penelitian di sekolah tersebut.
f. Konsultasi dengan guru kelas. Hal ini dilakukan untuk memperoleh data
mengenai perilaku hiperaktif selama mengikuti kegiatan di pada saat
kegiatan belajar-mengajar serta aktifitas sisw pada saat istirahat.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Observasi dan wawancara terhadap siswa yang berperilaku hiperaktif.


Observasi dan wawancara bertujuan untuk mengungkap karakteristik
perilaku hiperaktif dan faktor-faktor peneyebabnya baik di lingkungan
sekolah ( pada saat KBM ataupun pada saat istirahat)
b. Wawancara terhadap guru kelas
Wawancara dilakukan pada guru kelas dilakukan sebagai upaya untuk
memperoleh data mengenai karakteristik hiperaktif pada saat di
lingkungan sekolah dan faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya
perilaku hiperaktif.
c. Wawancara terhadap teman siswa
Wawancara terhadap teman khususnya teman akrab siswa bertujuan untuk
mengetahui karakteristik hiperaktif siswa tersebut.
d. Wawancara dengan orang tua siswa
Wawancara terhadap orang tua siswa bertujuan untuk mendapatkan
deskripsi tentang karakteristik perilaku hiperaktif anaknya serta faktor-
faktor yang menyebabkan perilaku hiperaktif tersebut apabila anak sedang
berada dirumah.
59
3. Tahap Pelaporan Hasil

Tahap pelaporan hasil penelitian ini adalah pelaporan hasil penelitian. Pada
tahap ini setelah penulis merangkum, mencatat, menganalisis dan
mendeskripsikan semua hasil penelitian yang berupa data kualitatif kemudian
disusun secara sistematis sebagai bahan pelaporan hasil penelitian.

60
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Sajian Data Penelitian

1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Tempat penelitian dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Mranggen 05


Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo. SD Negeri Mranggen 05
merupakan sekolah yang terletak di tengah-tengah perkampungan penduduk.
Adapun letak yang lebih jelas SD Negeri Mranggen 05 adalah sebagai berikut:
a) Sebelah utara berbatasan dengan perkampungan penduduk, b) Sebelah
selatan berbatasan dengan perkampungan penduduk, c) Sebelah barat
berbatasan dengan SMP N 1 Polokarto, dan d) Sebelah timur juga berbatasan
dengan perkampungan penduduk.

SD Negeri Mranggen 05 memiliki 9 ruang yang terdiri dari 6 ruang


kelas, 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang guru serta ruang 1 ruang perpustakaan
dan UKS. Fasilitas di SD Negeri Mranggen 05 cukup memadai, yaitu
tersedianya perpustakaan, UKS, tempat ibadah, kantin yang bersih dan kamar
mandi, lapangan olah raga serta tempat parkir.

SD Negeri Mranggen 05 Kabupaten Sukoharjo yang menghadap ke


Utara dan di depan terdapat jalan menuju ke perkampungan penduduk.
Sehingga untuk menjaga keamanan anak saat berolah raga di halaman dan juga
saat istirahat maka pagar depan SD ini telah terbuat dari tembok yang tingginya
kurang lebih 2,5 meter, dan pintu masuk telah terbuat dari pintu tralis besi yang
memiliki ketinggian 2,5 meter. Selain itu untuk menjaga keamanan yang ada
dilingkungan SD Negeri Mranggen 05 Kabupaten Sukoharjo selalu terkunci
pada saat kegiatan belajar mengajar.
61
Halaman sekolah sebagian besar telah di cor dengan semen yang
difungsikan sebagai lapangan olah raga serta kegiatan upacara bendera setiap
hari senin atau hari-hari yang telah diwajibkan untuk upacara. Kegiatan ekstra
kulikuler juga dilaksanakan pada halaman tersebut. Untuk kebersihan, di
sekolah tersebut dijadwalkan setiap hari dua kali penjaga kebersihan sekolah
melakukan kegiatan kebersihan yakni sebelum masuk sekolah dan saat jam
istirahat kedua dan dibantu oleh siswa di masing-masing kelas. Selain itu
kondisi anak-anak di SD Negeri Mranggen 05 Kecamatan Polokarto Kabupaten
Sukoharjo mengetahui arti pentingnya kebersihan bagi kesehatan sehingga
mereka selalu membuang sampah pada tempatnya. Untuk mengingatkan
pentingnya kebersihan maka di tempat-tempat yang strategi di SD ini dipasang
poster tentang pentingnya kebersihan. Pencahayaan setiap ruang cukup baik,
sehingga suasana terasa nyaman untuk terlaksananya proses belajar baik.
Tenaga pengajar atau guru di SD Negeri Mranggen 05 berjumlah 11
orang yaitu 6 guru kelas, 1 kepala sekolah, 1 guru agama, 1 guru bahasa
inggris, 1 guru komputer dan 1 penjaga sekolah. Jumlah siswa yang terdapat di
SD Negeri Mranggen 05 berjumlah 111 yang berjumlah 52 siswa putra dan 59
siswa putri. Sebanyak 105 siswa memeluk agama islam dan 6 siswa lainnya
beragama non islam.

2. Deskripsi Permasalahan Penelitian

Penulis tertarik mengadakan penelitian mengenai perilaku hiperaktif.


Melalui penelitian ini, diharapkan penulis dapat mengetahui secara mendalam
yang kemudian dapat mendeskripsikan mengenai perilaku hiperaktif siswa
serta faktor-faktor yang menjadi penyebab perilaku hiperaktif dan pada
akhirnya diharapkan pada penelitian ini, penulis dapat memberikan alternatif
bimbingan untuk dapat mengenai perilaku hiperaktif siswa.

62
Berdasarkan hasil pengamatan dari beberapa siswa yang ada di
lingkungan sekolah terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
perilaku siswa, yaitu siswa yang mengalami perilaku hiperaktif. Berdasarkan
hasil observasi yang dilakukan peneliti tentang perilaku siswa yaitu siswa yang
mengalami perilaku hiperaktif tersebut di awal penelitian, dapat dideskripsikan
perilaku hiperaktif tersebut sebagai berikut:
a. Tangan selalu memukul-mukul meja sehingga menimbulkan suara gaduh.
b. Memain-mainkan pensil atau benda yang ada di depannya sehingga
timbul suara berisik pada waktu kegiatan belajar-mengajar.
c. Menggoyang-goyangkan kaki pada saat mengerjakan tugas.
d. Berlarian saat di dalam kelas.
e. Mondar-mandir pada waktu pelajaran berlangsung.
f. Keluar masuk kelas dengan berbagai alasan.

g. Tidak dapat memfokuskan perhatian dalam jangka waktu yang lama.

h. Mudah teralih perhatian.

i. Mudah mengalami kejenuhan atau kebosanan dalam satu kegiatan.

3. Deskripsi Subyek Penelitian

a. Subyek I

Data pribadi subyek I sebagai berikut:

Nama : Angga Dani Ananda

Tempat Tanggal Lahir : Sukoharjo, 14 Februari 2001

63
Agama : Islam

Kebangsaan : Indonesia

Kelas : III

Jumlah saudara :3

Alamat : Pundung Sari

Bahasa sehari-hari : Jawa

Nama ayah : Surono

Pekerjaan : Polisi

Agama : Islam

Nama ibu : Sumarni

Pekerjaan : PNS

Agama : Islam

Penyakit yang pernah atau : Radang tenggorokan

sedang diderita

1) Fisik Subyek

Berdasarkan dokumentasi, subyek I merupakan siswa yang


memiliki berat badan 25 kilogram dengan tinggi 143cm. Subyek memiliki
kesehatan yang baik dan tidak memiliki cacat tubuh serta tidak menderita
suatu penyakit yang membahayakan, akan tetapi subyek hingga kini
sering mengalami sakit radang tenggorokan.

64
Gambaran fisik subyek yang lainnya adalah, subyek sering mengalami
sakit di pergelangan tangan atau kaki. Hal tersebut subyek alami karena
perilaku hiperaktif subyek seperti sering naik turun tangga di dalam
rumah, sering naik pohon yang ada di lingkungan rumah serta gerakan
tangan dan kaki subyek yang seolah-olah seperti gerak reflek, sehingga
subyek sering mengalami cidera atau sakit fisik karena perilakunya
tersebut.

2) Aktifitas Subyek

Aktifitas subyek baik di rumah dan di sekolah tidak jauh berbeda.


Aktifitas yang dilakukan subyek menunjukkan perilaku hiperakti, baik di
rumah maupun di sekolah. Perilaku hiperaktif yang dilakukan subyek
ketika berada di rumah di antaranya menggerak-gerakan tangan dan kaki
secara berlebihan seperti memukul-mukul benda yang ada di dekatnya,
jika bermain tidak dapat bertahan lama dengan satu permainan, tidak
dapat membereskan alat bermainnya setelah selesai bermaian selain itu
perilaku subyek juga destruktif seperti mudah merusak mainannya. Selain
hal tersebut jika di ajak bicara dengan orang tua atau pembantunya,
subyek tidak dapat memperhatikan. Hal tersebut juga subyek alami ketika
berada di sekolah. Aktifitas yang dilakukan subyek di sekolah
menunjukkan bahwa subyek mengalami perilaku hiperaktif. perilaku
hiperaktif pada saat di sekolah di antaranya sering menunjukkan sikap
cuek dan tidak memperhatikan ketika diajak berbicara dengan orang lain
dan cenderung semaunya sendiri, tidak dapat duduk tenang seperti
banyak menggeliat di kursi pada waktu pelajaran, meninggalkan tempat
duduk dan mondar-mandir dari bangku satu ke bangku teman satunya

65
Hubungan subyek dengan teman, baik di rumah dan di sekolah
juga tidak jauh berbeda. Dalam bergaul dengan lingkungan sekitar subyek
selalu ingin menjadi pemimpin dalam permainan, ingin menang sendiri
dan tidak mau kalah dengan teman-temannya yang lain.

3) Aktifitas Orang Tua

Kedua orang tua subyek merupakan orang tua yang jarang berada
di rumah. Ayah subyek bekerja sebagai polisi yang tidak tentu jadwal
pekerjaannya, sedangkan ibu subyek bekerja sebagai PNS. Kedua orang
tua subyek merupakan orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya.
Berangkat bekerja pagi dan pulang sore hari atau bahkan malam hari.
Kedua kakak subyek juga tidak tinggal bersama dengan orang tua, karena
bekerja dan kuliah di luar kota. Kondisi yang demikian membuat subyek
jarang berkumpul dengan kedua orang tuanya serta membuat subyek
hanya ditemani dengan pembantu di rumah. Hubungan subyek dengan
pembantu lebih dekat disbanding dengan orang tuanya, karena segala
sesuatu yang dibutuhkan subyek dibantu oleh pembantu, dari hal yang
dibutuhkan subyek sebelum berangkat sekolah hingga subyek pulang
sekolah, seperti peralatan sekolah hingga baju yang digunakan subyek
sepulang sekolah.

Kedua orang tua subyek merupakan orang tua yang memberikan


kasih sayang berlebihan, hal ini dapat terlihat dari sikap dan cara
pendidikan orang tua yang diterapkan pada subyek serta segala sesuatu
yang diinginkan subyek selalu dituruti oleh kedua orang tua(K. W. OT.
S1). Selain hal tersebut kedua orang tua subyek juga menerapkan disiplin
yang ketat pada subyek seperti sepulang sekolah harus segera pulang,
subyek harus dapat menjadi yang pertama di kelas, belajar harus tepat

66
waktu dan tidak diperbolehkan main di luar rumah tanpa ditemani oleh
pembantunya. Hal tersebut dilakukan orang tua subyek dengan alasan
bahwa subyek merupakan anak laki-laki dalam keluarga dan
menginginkan subyek kelak dapat menjadi pemimpin yang lebih
dibanding orang tua. Selain hal tersebut, orang tua subyek terdapat
kekhawatiran jika subyek salah bergaul dengan lingkungan sekitar,
sehingga mereka memperlakukan subyek dengan demikian.(K.W.OT.SI)

b. Subyek II

Data pribadi subyek I sebagai berikut:

Nama : Adam Saputro

Tempat Tanggal Lahir : Sukoharjo, 09 Juni 2000

Agama : Islam

Kebangsaan : Indonesia

Kelas : III

Jumlah saudara :2

Alamat : Godegan

Bahasa sehari-hari : Jawa

Nama ayah : Agus Widodo

Pekerjaan : Wiraswasta

Agama : Islam

67
Nama ibu : Sumami

Pekerjaan : Wiraswasta

Agama : Islam

Penyakit yang pernah atau : Step

sedang diderita

1) Fisik Subyek

Berdasarkan hasil dokumentasi, subyek II merupakan siswa yang


memiliki berat badan 28 dengan tinggi 135 cm. Kondisi fisik subyek II
tidak mengalami cacat tubuh.

Gambaran keadaan fisik subyek yang lain adalah subyek II juga


sama dengan subyek I yaitu sering mengalami sakit karena terjatuh atau
di akibatkan perilaku hiperaktif subyek seperti banyak melakukan
gerakan di antaranya sering berlarian baik di dalam ataupun di luar rumah
dan melakukan tindakan-tindakan berbahaya seperti naik pohon yang
tinggi. Sejarah kesehatan yang pernah subyek II alami adalah sejak kecil
kira-kira subyek berumur 2 tahun sering mengalami step hingga subyek
naik ke kelas dua dan hingga saat ini hal tersebut sudah tidak subyek
alami(KW.OT.S II).

2) Aktifitas Subyek

Aktifitas subyek II sama halnya dengan subyek I. Aktifitas subyek


II ketika di rumah juga menunjukkan perilaku hiperaktif. Perilaku
68
hiperaktif yang subyek lakukan dirumah antara lain menggerakkan tangan
dan kaki ketika berada di rumah seperti memukul-mukul benda yang ada
di dekatnya dan mengoyang-goyangkan kaki ketika dalam keadaan
duduk, selain hal tersebut perilaku hiperaktif subyek yang lain adalah
subyek II merupakan anak yang tidak dapat duduk dengan tenang. Ada-
ada saja perilaku yang dilakukan ketika duduk, seperti sering menggeliat
pada waktu makan serta tidak dapat diam.

Lebih lanjut hubungan subyek dengan tetangga dan teman-teman


di sekitar rumah mendapat cap bahwa subyek adalah anak yang nakal
dengan perilaku hiperaktif yang dilakukan oleh subyek (K.W.T.SII).
Perilaku subyek ketika bermain dengan teman-teman di sekitar rumah
sering destruktif, tidak mau kalah, suka merebut mainan teman, dan selalu
ingin menjadi pemimpin dalam permainan. Selain hal tersebut, subyek
juga sering berkelahi dan bertengkar dengan temannya jika
permintaannya tidak dituruti atau tidak sesuai dengan keinginan subyek.
Subyek jugamemiliki kondisi psikologis yang mudah marah jika
keinginannya tidak segera dituruti. Hal tersbut subyek lakukan baik
dirumah maupun di sekolah.(K.W.OT.SII)

3) Aktifitas Orang Tua

Kedua orang tua subyek bekerja sebagai wiraswasta dengan


membuka warung di salah satu pasar dekat rumah subyek. Mereka
berangat pagi dan pulang pada sore hari menjelang waktu magrib.
Keseharian subyek jika ditinggal orang tuanya, subyek berada dirumah
dengan saudara dan neneknya. Hal tersebut membuat subyek jika pulang
sekolah jarang bertemu dengan kedua orang tuanya. Terkadang subyek
sepulang sekolah juga menyusul orang tua di pasar dan bermain di pasar

69
hingga sore hari. di rumah nenek subyek juga kurang memperhatikan
aktifitas subyek. Kondisi demikian yang akhirnya membuat subyek dapat
berperilaku sekehendak dirinya karena tidak ada yang mengontrol
perilaku subyek, apalagi saudara subyek juga mengalami perilaku
hiperaktif yang sama dengan subyek.

c. Subyek III

Data pribadi subyek I sebagai berikut:

Nama : Muhammad David

Tempat Tanggal Lahir : Sukoharjo, 22 November 2001

Agama : Islam

Kebangsaan : Indonesia

Kelas : III

Jumlah saudara :2

Alamat : Kedung Rejo

Bahasa sehari-hari : Jawa

Nama ayah : Suroto

Pekerjaan : Buruh

Agama : Islam

Nama ibu : Asih


70
Pekerjaan : Penjahit

Agama : Islam

Penyakit yang pernah atau : Radang tenggorokan dan Asma

sedang diderita

1) Fisik Subyek

Subyek III bernama Muhammad David. Subyek adalah anak


pertama dari dua bersaudara. Secara fisik subyek memiliki tinggi badan
130 cm dengan berat badan 27 kilogram. Subyek tidak mengalami
mengalami cacat fisik.

Sejarah kesehatan subyek tidak mengalami suatu penyakit yang


membahayakan, hanya radang tenggorokan dan subyek menderita
mengalami sakit asma.

Gangguan fisik lain yang sering subyek alami sama halnya kedua
subyek lainnya yaitu sering mengalami gangguan kesehatan fisik seperti
kaki atau tangan yang terkilir akibat perilaku hiperaktif yang subyek
alami seperti banyak melakukan gerakan tangan dan kaki di antaranya
sering memukul-mukul meja atau benda yang ada di sekitarnya. Selain itu
subyek juga senang bersepeda baik di dalam dan di luar rumah dengan
menunjukkan perilaku hiperaktifnya seperti banyak bergerak ketika
bersepeda dan tidak berpikir jika subyek akan terjatuh atau mengalami
luka dengan perilakunya tersebut.

2) Aktifitas Subyek

71
Aktifitas subyek ketika berada dirumah dan di sekolah juga
menunjukkan perilaku hiperaktif. Perilaku hiperaktif yang sering subyek
lakukan ketika berada di rumah di antaranya adalah sering melakukan
gerakan tangan dan kaki di antaranya sering memukul-mukul meja, sering
menggerakkan tangan dan kaki dalam keadaan di ajak berbicara orang
lain. Selain hal tersebut perilaku hiperaktif yang subyek alami adalah
tidak dapat duduk tenang dalam kondisi yang tidak tepat seperti pada
waktu makan.(K.W.OT.SIII)

Selain aktifitas subyek ketika berada di rumah di atas, hubungan


subyek dengan teman-teman ketika berada di rumah dan di sekolah
mendapatkan perlakuan dan cap bahwa subyek adalah anak yang nakal,
sehingga subyek dijauhi dan dikucilkan oleh teman-temannya. Hal
tersebut disebabkan perilaku subyek yang seenaknya ketika bermain
dengan teman, seperti suka merebut permainan teman, suka bertengkar
dan berkelahi dengan teman, mudah mengalami kejenuhan dalam
bermain serta keadaan psikologis subyek yang mudah marah
(K.W.T.SIII)

3) Aktifitas Orang Tua

Kedua orang tua subyek bekerja sebagai buruh. Ayah subyek


bekerja sebagai tukang batu dan ibu bekerja sebagai penjahit konveksi.
Ayah dan ibu subyek berangkat sekitar pukul 07.30 dan pulang sekita
pukul 17.00WIB. Subyek merupakan anak kedua dari dua bersaudara.
Hubungan dalam keluarga subyek III ini juga seperti masyarakat

72
pedesaan lainnya, seperti orang tua yang sibuk dengan bekerja tanpa
memperhatikan kegiatan yang dilakukan subyek ketika dirumah dan di
sekolah, walaupun sekedar menanyakan kegiatan di sekolah atau yang
menjadi PRnya. Orang tua yang merupakan pendidik pertama dan utama
dalam sebuah keluarga kurang dalam memberikan perhatian dan
pengawasan terhadap anak pada saat dirumah, misalnya menanyakan
kegiatan subyek ketika di sekolah, menanyakan problem yang dihadapi
subyek, serta bagaimana ketika subyek bermain dengan teman-temannya.
Orang tua subyek membiarkan subyek berperilaku seenaknya seperti
perilaku hiperaktif yang dialami oleh subyek. Kedua orang tua subyek
juga lebih mengutamakan untuk bekerja untuk mencukupi kebutuhan
keluarga subyek sehari-hari. Hal tersebut membuat subyek merasa tidak
memiliki waktu yang cukup dengan kedua orang tuanya untuk
mendapatkan kasih sayang.

Kedua orang tua subyek merupakan orang tua yang lebih


menghabiskan waktunya untuk bekerja, sehingga subyek dan saudaranya
kurang mendapat perhatian dari kedua orang tua. Hal demikian yang
mengakibatkan subyek berperilaku semaunya sendiri dan tidak
mendapatkan pengontrolan, akan tetapi kedua orang tua subyek jika
mendapati subyek berperilaku hiperaktif mereka langsung memberikan
hukuman bagi subyek, baik hukuman fisik seperti memukul subyek atau
memberikan hukuman verbal seperti memarahi subyek dengan kata-kata
kasar. Hal tersebut sering dilakukan oleh ayah subyek apabila subyek
berperilaku hiepraktif pada saat di rumah seperti berlarian di dalam
rumah, tidak fokus dan seolah tidak mendengarkan perintah orang tua
subyek.

B. Temuan Hasil Penelitian

73
1. Perilaku Hiperaktif

a. Subyek I

1) Hasil Observasi

Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan baik pada saat di


dalam kelas maupun pada saat istirahat, perilaku hiperaktif yang dilakukan
subyek I adalah banyak melakukan gerakan tangan dan kaki di antaranya
adalah memukul-mukul meja dengan tangannya, melakukan gerakan kaki
pada saat pelajaran berlagsung sehingga menimbulkan suara gaduh. Selain
melakukan gerakan tangan dan kaki subyek I juga melakukan perilaku
hiperaktif yaitu tidak dapat duduk tenang di antaranya adalah sering
mengeliat ketika pelajaran berlangsung, mondar-mandir ketika guru
menjelaskan materi pelajaran, keluar masuk kelas dengan alasan meraut
pensil.

Selain perilaku hiperaktif tersebut, subyek I juga mengalami perilaku


hiperaktif yang lainnya seperti sering kehilangan benda-benda permainannya
serta peralatan sekolah karena subyek merupak anak yang ceroboh dan tidak
telaten dalam menyimpan alat-alat yang dimilikinya, sering menunjukkan
sikap cuek dan tidak memperhatikan ketika diajak berbicara dengan orang
lain dan perilaku yang semaunya sendiri, tergesa-gesa dalam mengerjakan
tugas dan lebih memilih menyontek, bernyanyi-nyanyi kecil pada waktu
guru menjelaskan materi sehingga menimbulkan suara berisik di dalam
kelas.

Hubungan subyek I dengan teman-teman subyek di sekolah juga


menunjukkan perilaku hiperaktif. Hal tersebut di antaranya adalah (a) Cepat
mengalami kejenuhan atau bosan dengan kegiatan bermain yang
dilakukannya serta waktu yang dilakukan dalam permainan singkat, sering
berkelahi dengan teman, terutama dengan Adam dan David, ingin menjadi
74
pemimpin disetiap permainan serta dijauhi dan dimusuhi oleh teman-
temannya.

2) Hasil Wawancara

Penulis melakukan wawancara terhadap siswa berperilaku hiperaktif


(subyek I), teman siswa, guru kelas, guru bahasa inggris dan orang tua.
Kegiatan wawancara dilakukan pada saat di sekolah dan di rumah subyek.
Hasil kegiatan wawancara yang dilakukan penulis, dapat dideskripsikan
sebagai berikut:

Hasil yang diperoleh dari kegiatan wawancara terhadap guru kelas,


guru bahasa inggris dan teman subyek, menyatakan bahwa subyek I
merupakan salah satu siswa hiperaktif dan dianggap oleh guru serta teman-
temannya sebagai anak yang nakal. Perilaku yang dilakukan subyek ketika
berada di dalam kelas selalu menimbulkan suara gaduh seperti (a) Gerakan
tangan dan kaki, (b) Suara nyanyian lirih yang di lakukan subyek, (c)
Subyek yang suka mengajak berbicara dengan temannya sehingga membuat
siswa lainnya merasa terganggu pada saat kegiatan belajar-mengajar, (d)
Tidak dapat memfokuskan perhatiaannya pada materi yang disampaikan
oleh gur dalam waktu yang lama serta mudah teralih perhatian .

Menurut guru bahasa inggris subyek merupakan siswa yang


memiliki tingkat fokus terhadap pelajaran dengan kapasitas dan daya ingat
yang rendah. Dalam mengingat lambang dan kosakata pelajaran bahasa
inggris subyek I mengalami masalah dengan hal tersebut.

Bagi teman siswa, subyek I sering berperilaku hiperaktif saat di


dalam ataupun di luar kelas. Hal tersebut ditunjukkan dengan perilakunya
yang (a) Sering mondar-mandir di dalam kelas, (b) Suka berjalan-jalan di

75
dalam kelas ketika guru menyampaikan materi, (c) Sering tidak
memperhatikan penjelasan guru dan asyik bermain sendiri, sehingga
mengakibat subyek I pada waktu pelajaran ulangan sering menyontek dan
dengan memaksa. Hal tersebut juga merupakan memicu kemarahan teman-
temannya, sehingga subyek memilki hubungan sosial yang tidak baik
dengan teman-temannya dan dijauhi oleh teman-temannya.

Selain hal tersebut kecendrungan untuk melanggar tata tertib


sekolah sering sekali subyek lakukan baik pada saat kegiatan belajar-
mengajar maupun pada waktu istirahat. Hal tersebut ditandai dengan
perilaku subyek yang suka keluar masuk kelas tanpa ijin dari guru, masuk
kelas setelah istirahat tidak tepat waktu. Selain itu berdasar hasil wawancara
dengan guru kelas, subyek juga berperilaku hiperaktif pada saat istirahat
dengan berlarian di lapangan sekolah seolah-olah jika waktu istirahat adalah
waktunya untuk bebas bagi subyek (K.W.G.SI)

Selain hal tersebut hasil wawancara yang diperoleh penulis dengan


orang tua subyek I, subyek merupakan anak laki-laki satu-satunya dalam
keluarga. Kedua kakak subyek tidak tinggal bersama mereka. Semua
keinginan yang subyek mau pasti akan dituruti oleh kedua orang tua, baik
hal-hal yang berkaitan dengan sekolah maupun dalam hal bermain dengan
teman-temannya. Selain keinginan yang dituruti oleh kedua orang tua
subyek I, subyek juga diterapkan disiplin yang sangat ketat dari kedua orang
tuanya, khususnya ayah subyek I yang bekerja sebagai polisi sehingga di
dalam rumah subyek menunjukkan perilaku sebagai anak yang takut
terhadap orang tuanya. Disiplin tersebut seperti setiap kegiatan yang
dilakukan oleh subyek I harus dilakukan dengan tepat waktu dan
terjadwalkan yang telah dibuat ayah subyek.

Perilaku hiperaktif yang subyek I lakukan ketika berada di rumah di


antaranya (a) Sering melakukan tindakan-tindakan ceroboh seperti naik
turun tangga di dalam rumah dan walaupun sering terjatuh subyek merasa

76
tidak jera, (b) Sering tidak mendengarkan dan terlihat cuak ketika diajak
berbicara oleh orang tuanya, (c) Ceroboh dalam menyimpan peralatan
bermain dan sekolahnya, (d) Sering melakukan gerakan tangan dan kaki
ketika berada di rumah sehingga sering memicu kemarahan orang tua, (e)
Tidak sabaran jika harus mengggu keinginannya untk segera dipenuhi, (f)
Tidak bisa memfokuskan perhatiannya pada satu hal kegitan yang
dilakukannya.

3) Kesimpulan Hasil Obsevasi dan Hasil Wawancara

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah penulis


lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku hiperaktif yang dialami
oleh subyek I adalah sebagai berikut:

(a) Aktifitas fisik yang dilakukan subyek I dengan perilaku hiperaktif yang
dialaminya adalah melakukan gerakan tangan dan kaki di antaranya
adalah tangan selalu memukul-mukul meja sehingga menimbulkan suara
gaduh serta menggoyang-goyangkan kaki pada saat mengerjakan tugas.
Tidak dapat duduk dengan tenang, yang ditandai dengan menggeliat di
kursi ketika guru meyampaikan materi, mondar-mandir dan suka
berpindah tempat dari tempat duduknya ketempat duduk temannya.

(b) Keadaan psikologis subyek I merupakan siswa yang tergolong mudah


marah serta mudah terpancing emosinya jika mendapatkan sesuatu yang
tidak sesuai keinginannya. Hal tersebut ditandai dengan nada bicara
yang tinggi dan terkesan keras.

(c) Hubungan dengan lingkungan sekitar baik dengan teman dan guru,
subyek I cenderung memiliki sedikit teman dan dijauhi serta dimusuhi
oleh teman-temannya karena subyek sering bertengkar dan berkelahi
dengan teman-temannya. Hubungan gurupun, subyek I dicap sebagai
anak yang nakal karena suka berkelahi dengan teman dan pada waktu
77
kegiatan belajar-mengajar sering tidak fokus dan tidak memperhatikan
penjelasan guru, sehingga guru menganggap bahwa subyek I merupakan
anak yang nakal dan suka membuat gaduh pada waktu kegiatan belajar-
mengajar.

(d) Selain hal tersebut di atas, perilaku hiperaktif yang dialami oleh subyek I
yang lainnya adalah sering mengadu kehilangan benda-benda
permainannya serta peralatan sekolah karena subyek cenderung ceroboh
dalam mengerjakan sesuatu, tidak telaten dalam menyimpan alat-alat
yang dimilikinya, sering menunjukkan sikap cuek dan tidak
memperhatikan ketika diajak berbicara dengan orang lain dan cenderung
semaunya sendiri, tergesa-gesa dalam mengerjakan tugas dan cenderung
lebih memilih menyontek, cepat mengalami kejenuhan atau bosan
dengan kegiatan bermain yang dilakukannya serta waktu yang dilakukan
dalam permainan cenderung singkat.

b. Subyek II

1) Hasil Observasi

Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan baik pada saat di


dalam kelas maupun pada saat istirahat, perilaku hiperaktif yang dilakukan
subyek II adalah banyak melakukan gerakan tangan dan kaki seperti (a)
Memukul-mukul meja atau memukul-mukul laci meja sambil menyanyikan
lagu sehingga membuat suasana kelas menjadi gaduh, (b) Memainkan
pensil atau peralatan sekolah pada saat guru menjelaskan materi, (c)
Memainkan kaki dengan memutar-mutarkan kaki pada saat diharapkan
siswa untuk tenang. Selain perilaku hiperaktif tersebut subyek II juga

78
merupakan siswa yang tidak dapat duduk dengan tenang. Perilakunya
seperti banyak (a) Melakukan gerakan pada waktu duduk, (b) Sering
berpindah tempat dari bangkunya kebangku temannya yang lain, (c) Sering
keluar masuk kelas dengan alasan ke kamar mandi atau pergi kekantin
sekolah, (d) Mondar-mandir atau berlarian di dalam kelas pada saat disuruh
mengerjakan tugas dan pada waktu guru menjelaskan materi.

Hasil observasi yang di peroleh penulis terhadapb perilaku


hiperaktif lainnya yang dialami subyek II adalah (a) Sering tidak
memperhatikan penjelasan guru ketika menyampaikan materi, (b)
Memotong pembicaraan ibu atau bapak guru, (c) Tidak sabar dalam
menunggu giliran untuk masuk kelas atau pada saat di absen guru, (d)
Pandangan yang selalu tertuju kearah luar kelas, misalnya melihat kelas
lain yang sedang berolah raga, (e) Ekspresi wajah yang sering ketakutan
saat mendapat giliran untuk maju kedepan kelas atau menjawab pertanyaan
guru yang ditandai dengan raur wajah yang memerah dan menghela nafas
jika subyek berhasil terlewati untuk mengerjakan tugas di depan kelas.

Hasil dari observasi yang penulis peroleh dari perilaku hiperaktif


yang subyek II lakukan terkait dengan hubungan sosial dengan teman dan
guru pada saat istirahat dan di sekolah, yaitu subyek II merupakan salah
satu siswa yang mudah marah dan tidak dapat mengkontrol emosinya.
Keadaan psikologis yang mudah marah sering di alami oleh subyek. Hal
tersebut membuat subyek dimusuhi oleh teman-temannya. Selain itu
subyek juga sering bertengkar dan berkelahi dengan temannya, terkadang
hanya karena permintaan atau dalam bermain subyek kalah dari teman-
temannya dan tidak memimpin dalam suatu permainan serta perilaku uasil
yang dibuat subyek sendiri terhadap temannya.

2) Hasil Wawancara

79
Penulis melakukan wawancara terhadap siswa berperilaku hiperaktif
(subyek II), teman siswa, guru kelas, guru bahasa inggris dan orang tua.
Kegiatan wawancara dilakukan pada saat di sekolah dan di rumah subyek.
Hasil dari kegiatan wawancara dapat penulis deskripsikan sebagai berikut:

Hasil yang diperoleh dari kegiatan wawancara terhadap teman dan guru
kelas serta guru bahasa inggris menyatakan bahwa subyek II merupakan
salah satu siswa hiperaktif. Berbeda dengan subyek I, subyek II Merupakan
siswa hiperaktif yang sudah terlihat sejak kelas I. Perilaku hiperaktif yang
dilakukan oleh subyek II memberikan dampak terhadap subyek II yaitu
pada tahun pelajaran 2008/2009 subyek II harus tinggal di kelas.

Selain itu perilaku hiperaktif yang dilakukan oleh subyek II membuat


subyek II tidak memiliki rasa takut baik terhadap guru maupun kepala
sekolah. Perilaku hiperaktif yang dilakukan subyek II menurut guru kelas
dan guru bahasa inggris bahwa subyek II sering melakukan (a) Gerakan
tangan dan kaki secara berlebihan, (b) Perilaku yang suka memukul-mukul
meja sambil menyanyikan lagu sering sekali subyek lakukan pada saat
kegiatan belajar-mengajar berlangsung, (c) Sering meninggalkan tempat
duduk, (d) Mondar-mandir di dalam kelas dengan tujuan yan tidak jelas,
misalnya hanya sekedar menjahili temannya atau sekedar bertukar tempat
duduk dengan subyek I atau dengan subyek III. Guru kelas dan guru mata
pelajaran lainnya seperti guru bahasa inggris dan guru agama, sudah sering
memberikan teguran dan peringatan terhadap subyek II atas perilakunya
tersebut, akan tetapi subyek II tidak pernah mendengarkan dan kalaupun
dapat sedikit tenang di dalam kelas hanya dalam waktu yang relatif singkat.

Hasil wawancara dengan teman siswa, subyek II merupakan anak


yang nakal (K. W.T.SII). Perilaku yang tidak mau diam dan membuat
gaduh di dalam kelas. Selain itu sikap yang ditunjukkan subyek II ketika
bermain dengan teman-temannya di antaranya (a) Ingin menjadi seorang
80
pemimpin, (b) Selalu menyuruh-nyuruh, (c) Berperilaku semaunya
memberikan. Hal tersebut memberikan dampak bagi hubungan sosial yang
tidak baik antara subyek II dengan teman-temannya seperti subyek
dianggap sebagai anak yang nakal dan dijauhi oleh teman-temannya serta
sikap teman yang tidak mau bermain dengan subyek. Selain itu subyek II
merupakan siswa yang mudah sekali terpancing emosinya membuat subyek
II ditakuti oleh teman-temannya, karena subyek II sering mengajak
bertengkar, membuat menangis teman yang lain serta sering berkelahi
dengan teman membuat subyek II ditakuti oleh teman-temannya baik teman
yang sekelas maupun adik kelas.

Hasil wawancara dengan orang tua subyek II merupakan anak yang


berasal dari keluarga pas-pasan, sehingga untuk dapat memenuhi keinginan
subyek terkadang subyek diharuskan menunggu hingga orang tua subyek
mampu menurutinya. Tidak jarang hal tersebut dapat memancing emosi
subyek ketika berada di rumah. Perilaku hiperaktif yang dilakukan subyek
II ketika di rumah dan di sekolah tidak jauh berbeda. Di rumah perilaku
hiperaktif yang dilakukan subyek di antaranya adalah sering memainkan
benda apa saja yang subyek lihat dirumah dengan membuat bunyi-bunyian
dengan gerakan tangan dan kakinya. Selain itu perhatian yang tidak dapat
berlangusng lama juga ditunjukkan subyek ketika berada di rumah,
misalnya ketika di ajak berbicara dengan orang tua atau keluarga di rumah
subyek terlihat tidak memperhatikan dan berperilaku semaunya sendiri.
Selain perilaku hiperaktif yang di tunjukkan subyek II, saudara subyek II
juga mengalami perilaku hiperaktif yang sama dengan subyek II. Lebih
lanjut hasil kegiatan wawancara dengan orang tua subyek II, pada waktu
proses hamil dan melahirkan subyek II mengalami kendala sehingga harus
di bantu dengan alat bantu persalinan, agar subyek dapat di selamatkan.
Sejarah kesehatan subyek II pun mengalami permasalahan. Sejak kecil kira-
kira berumur 2 tahun subyek sering mengalami step hingga subyek
beranjak kelas II. Berdasarkan pengalaman tersebut, orang tua subyek

81
cenderung membiarkan perilaku apa saja yang dilakukan oleh subyek II
sehingga subyek cenderung berperilaku semaunya sendiri. Selain itu orang
tua subyek juga sibuk dengan pekerjaannya sehingga subyek II kurang
mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya. Hasil lain dari kegiatan
wawancara yang diperoleh peneliti dengan orang tua subyek II bahwa
subyek sering mengalami sakit fisik yang di antranya sering mengalami
kaki terkilir atau tangan yang keleseleo. Berdasarkan keterangan orang tua
subyek II, hal tersebut di sebabkan karena perilaku hiperaktif yang dialami
oleh subyek II sehingga sering mengalami jatuh dan terkilir atau keseleo
karena suka naik turun kursi di dalam rumah, melakukan kegiatan ceroboh
seperti memanjat pohon yang berada di halaman rumah.

3) Kesimpulan Hasil Obsevasi dan Hasil Wawancara

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang penulis lakukan


dapat disimpulkan bahwa perilaku hiperaktif yang subyek II alami adalah
sebagai berikut:

(a) Aktifitas fisik dari perilaku hiperaktif yang subyek II lakukan, seperti
banyak melakukan gerakan tangan dan kaki di antaranya adalah (1)
Memukul-mukul meja atau benda yang ada di sekitarnya, (2)
Memukul-mukul laci meja sambil menyanyikan lagu sehingga
membuat suasana kelas menjadi gaduh, (3) Memainkan pensil atau
peralatan sekolah pada saat guru menjelaskan materi, (4) Memainkan
kaki dengan memutar-mutarkan kaki pada saat diharapkan siswa untuk
tenang. Selain itu aktifitas fisik lain yang dilakukan subyek II terkait
dengan perilaku hiperaktifnya subyek tidak dapat duduk dengan tenang
di antaranya (1) Sering berpindah tempat dari bangkunya kebangku
temannya yang lain, (2) Sering keluar masuk kelas dengan alasan ke
kamar mandi atau pergi kekantin sekolah, (3) Mondar-mandir serta (4)

82
Berlarian di dalam kelas pada saat disuruh mengerjakan tugas dan pada
waktu guru menjelaskan materi.

(b) Keadaan psikologis subyek II juga tidak jauh berbeda dengan subyek I.
subyek II juga memiliki emosi yang mudah marah dengan emosi yang
mudah terpancing emosinya apabila tidak segera mendapatkan hal
yang diinginkannya atau hal yang tidak sesuai dengan harapan subyek.

(c) Hubungan sosial subyek dengan teman atau dengan guru yang tidak
baik. Hal ini ditandai dengan teman yang menjauhi dan memusuhi
subyek, karena subyek sering mengancam atau mengajak bertengkar
dan berkelahi dengan teman dalam kegiatan bermain atau tidak
mendapat contekan dari temannya. Selain itu dalam kegiatan bermain
subyek juga tidak mau kalah dan selalu ingin menjadi pemimpin dalam
permainan dan ingin menjadi pemenang. Hubungan dengan gurupun,
subyek II dicap sebagai siswa yang nakal dan siswa yang suka
membuat gaduh di dalam kelas karena perilaku hiperaktifnya.

(d) Perilaku hiperaktif lain yang dialami oleh subyek II di antaranya


adalah (1) Memotong pembicaraan ibu atau bapak guru, (2) Tidak
sabar dalam menunggu giliran masuk kelas atau pada saat di absen
guru, (3) Pandangan yang selalu tertuju kearah luar kelas, misalnya
melihat kelas lain yang sedang berolah raga, (4) Perilaku yang suka
melanggar tata tertib seperti masuk kelas sehabis olah raga atau setelah
istirahat tidak tepat pada waktunya, sering melepas sepatu di dalam
kelas, berpakaian seragam yang terlihat tidak rapi dan kotor.

c. Subyek III

1) Hasil Observasi

83
Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan baik pada saat
di dalam kelas maupun pada saat istirahat. Hasil observasi yang
dilakukan penulis dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Subyek III juga mengalami perilaku hiperaktif seperti sering


melakukan gerakan tangan dan kaki di antaranya (a) Memukul-mukul
meja sambil bernyanyi, (b) Mengerakkan kaki dengan sepatunya
sehingga menimbulkan suara dan membuat kelas menjadi gaduh. Selain
hal tersebut subyek III juga tidak dapat duduk tenang atau diam seperti
(a) Banyak melakukan gerakan di tempat duduknya seperti menggeliat
di kursi pada waktu guru menyampaikan materi, (b) Mondar-mandir
dan berkeliaran di depan kelas sehingga mengganggu proses kegiatan
belajar-mengajar.

Perilaku hiperaktif lain yang ditunjukkan subyek III ketika


berada di dalam kelas di antaranya adalah (a) Ekspresi wajah yang
ketakutan ketika harus mengerjakan tugas di depan kelas karena pada
saat guru menyampaikan materi pandangan subyek III tertuju kearah
lain dan keluar kelas sehingga tidak memperhatikan penjelasan guru,
(b) Sering tidak dapat menjawab pertanyaan guru karena tidak
memperhatikan guru pada saat meyampaikan materi dan asyik dengan
kegiatannya sendiri, (c) Tidak mengerjakan tugas dan PR yang
diberikan guru dengan berbagai alasan padahal subyek tidak paham
dengan tugas dan PR yang diberikan kepadanya, (d) Tidak dapat
melaksanakan instruksi guru dengan baik pada waktu baris-berbaris
atau hal-hal yang disuruh guru, (e) Mengerjakan tugas dengan tergesa-
gesa dan tidak teliti, (f) Tidak dapat fokus ketika diajak berbicara
dengan guru atau temannya, (g) Perhatiannya yang mudah teralih
dengan hal-hal yang ada di sekitarnya.

84
Lebih lanjut, dalam hubungan sosial subyek dengan teman dan
guru di sekolah, subyek dicap sebagai anak yang nakal dan suka
bertengkar dan berkelahi dengan teman-temannya. Selain hal tersebut,
subyek juga suka usil dan menjahili teman-temannya sehingga
membuat subyek tidak disukai oleh teman-temannya.

2) Hasil Wawancara

Penulis melakukan wawancara terhadap siswa berperilaku


hiperaktif (subyek III), teman siswa, guru kelas, guru bahasa Inggris
dan orang tua. Kegiatan wawancara dilakukan pada saat di sekolah dan
di rumah subyek. Hasil kegiatan wawancara tersebut dapat
dideskripsikan sebagai berikut:

Hasil yang diperoleh dari kegiatan wawancara terhadap teman


dan guru kelas serta guru bahasa inggris menyatakan bahwa subyek III
merupakan salah satu siswa hiperaktif.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas dan guru


bahasa inggris, subyek III merupakan siswa yang berperilaku hiperaktif
yang tidak jauh berbeda dengan subyek I dan subyek II, namun subyek
III masih memiliki rasa takut terhadap guru apabila ditegur, walaupun
hanya beberapa saat dan berlangsung singkat. (K.W.G.SIII)

Berdasarkan keterangan guru kelas dan guru bahasa inggris


subyek III merupakan siswa hiperaktif yang tidak dapat memfokuskan
perhatiannya pada saat kegiatan belejar-mengajar. Perilaku hiperaktif
yang sering dilakukan subyek III ketika di dalam kelas adalah mengajak
berbicara dengan teman di belakangnya atau sekedar berpindah tempat

85
duduk ke bangku temannya yang lain dan dilakukan dengan intensitas
yang tinggi.

Hasil wawancara dengan teman subyek III mengenai perilaku


hiperaktif subyek III, bahwa subyek III tergolong siswa yang
berperilaku hiperaktif dan dicap sebagai anak nakal oleh teman-
temannya dan guru. Perilaku hiperaktif subyek III tidak hanya
berlangsung hanya pada saat di dalam kelas, melainkan di luar kelas
pada saat istirahat. Perilaku hiperaktif yang ditunjukkan subyek III
menurut guru dan teman-teman subyek, bahwa subyek hanya ingin
mencari dan mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitarnnya.

Hasil dari kegiatan wawancara yang diperoleh peneliti dengan


orang tua subyek III, perilaku hiperaktif subyek III juga dialami pada
saat di rumah, seperti (a) Membunyi-bunyikan segala sesuatu yang
dengan tangan dan kakinya, (b) Berlarian di dalam rumah, (c) Tidak
dapat menyelesaikan tugas dengan tuntas seperti instruksi kedua orang
tua. Berdasarkan keterangan orang tua subyek III, sejak kecil subyek
sudah terlihat perilaku hiperaktifnya, berbeda dengan anak-anak
seusianya. Ketika subyek berumur kira-kira dua tahun subyek perilaku
hiperaktif subyek sudah terlihat.

Pada proses kehamilan dan pada saat melahirkan subyek, tidak


mengalami kendala dan hambatan. Orang tua subyek III mengakui
bahwa anaknya kurang mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya,
dikarenakan orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya. Kesibukan dan
kurangnya perhatian yang diberikan orang tua terhadap subyek III
mengakibatkan subyek III berperilaku semaunya sendiri. Apalagi
subyek dibiarkan oleh kedua orang tuanya dalam bermain dan
bersosialisasi dengan lingkungan sekitar serta dalam berperilaku.
Lingkungan sekitar subyek pun juga diakui oleh orang tua subyek untuk
mendukung perilaku hiperaktif subyek III.

86
3) Kesimpulan Hasil Obsevasi dan Hasil Wawancara

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang penulis


lakukan terhadap subyek III dapat disimpulkan bahwa perilaku
hiperaktif yang dialami oleh subyek III adalah sebagai berikut:

(a) Aktifitas fisik seperti melakukan gerakan tangan dan kaki


berlebihan yang di antaranya adalah (1) Tangan dan kaki yang
selalu bergerak-gerak sehingga menimbulkan suara gaduh, (2)
Mengerakkan kaki dengan sepatunya sehingga menimbulkan suara
dan membuat kelas menjadi gaduh. Selain hal tersebut subyek juga
mengalami perilaku hiperaktif sulit untuk melakukan duduk
dengan tenang di antaranya (1) Menggeliat di kursi pada waktu
guru menyampaikan materi, (2) Mondar-mandir dan berkeliaran di
depan kelas sehingga mengganggu proses kegiatan belajar-
mengajar.

(b) Keadaan psikologis subyek III yaitu mudah marah, mudah


terpancing emosinya, suka bertengkar dan berkelahi dengan teman,
menjahili serta usil dengan teman.

(c) Hubungan sosial subyek III dengan teman dan guru di sekolah
tidak baik. Hal ini ditandai dengan sikap dan perilaku teman-teman
yang menjauhi subyek dan memusuhinya karena subyek dianggap
sebagai siswa yang suka membuat gaduh di dalam kelas, siswa
yang nakal karena sering berkelahi dengan temannya serta siswa
yang usil dan jahil. Begitu pula hubungan subyek dengan guru
yang dicap sebagai anak nakal. Perilakunya yang tidak
memperhatikan penjelasaan guru, tidak fokus terhadap materi
pelajaran serta berbicara sendiri atau sibuk dengan kegiatannya
sendiri serta suka membuat gaduh pada saat pelajaran membuat

87
subyek di cap sebagai anak yang tidak memperhatikan pada saat
guru menjelaskan materi di depan kelas.

(d) Perilaku hiperaktif yang lain yang dialami oleh subyek III di
antaranya adalah (1) Ekspresi wajah yang ketakutan ketika harus
mengerjakan tugas di depan kelas karena pada saat guru
menyampaikan materi pandangan subyek III tertuju ke arah lain
dan keluar kelas sehingga tidak memperhatikan penjelasan guru,
(2) Sering tidak dapat menjawab pertanyaan guru karena tidak
memperhatikan guru pada saat meyampaikan materi, (3) Tidak
mengerjakan tugas dan PR yang diberikan guru dengan berbagai
alasan padahal subyek tidak paham dengan tugas dan PR yang
diberikan kepadanya, (4) Tidak dapat melaksanakan instruksi guru
dengan baik pada waktu baris-berbaris atau hal-hal yang disuruh
guru, (5) Mengerjakan tugas dengan tergesa-gesa dan cederung
ceroboh dan tidak dapat fokus ketika diajak berbicara dengan guru
atau temannya, (6) Perhatian subyek yang mudah teralih dengan
hal-hal yang ada di sekitarnya.

88
2. Faktor-faktor Penyebab Perilaku Hiperaktif

a. Subyek I

1) Faktor Human atau Manusia

a) Hasil Observasi

Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan baik pada


saat subyek berada di dalam kelas dan pada saat istirahat perilaku
hiperaktif yang subyek alami merupakan hasil dari keinginan subyek
dalam mencari perhatian terhadap teman-teman dan gurunya.
Perilaku yang suka mondar-mandir dan menyanyikan lagu sambil
memukul-mukul meja merupakan bentuk keinginan subyek agar
lingkungan sekitar memperhatikan perilakunya tersebut.

Penulis juga melakukan observasi ketika berada di rumah pada


saat melakukan wawancara dengan orang tua subyek. Pada saat
observasi, subyek mengalami perilaku hiperaktif dengan mondar-
mandir dan memotong pembicaraan orang tua dengan penulis ketika
melakukan wawancara dengan menannyakan sesuatu yang bertujuan
untuk mencari perhatian.

Selain hal di atas, hasil observasi yang penulis peroleh adalah


subyek cenderung dimanjakan oleh kedua orang tua dan pembantu
dirumah. Hal ini ditandai pada saat penulis melakukan wawancara,

89
subyek meminta sesuatu dengan segera dan orang tua subyek juga
langsung mengiyakan. Selain itu segala keperluan yang diinginkan
subyek juga tersedia dan di turuti oleh pembantunya.

b) Hasil Wawancara

Hasil wawancara yang penulis peroleh dengan guru, orang tua


dan teman subyek I dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Penulis melakukan wawancara dengan guru kelas dan guru


bahasa inggris tentang perilaku hiperaktif yang dialami oleh subyek I
adalah perilaku yang merupakan akibat dari kurangnya kasih sayang
dari orang tua serta sikap dan perlakuan yang diberikan orang tua
pada subyek I. (K.W.G.SI)

Menurut guru kelas dan guru bahasa inggris, subyek I


merupakan siswa hiperaktif, hal tersebut disebabkan subyek lebih
banyak menghabiskan waktu dengan pembantunya. Dari hal tersebut
menurut guru kelas dan guru bahasa inggris ketika berada di sekolah
subyek I berperilaku hiperaktif untuk mandapatkan perhatian dari
teman-teman dan bapak ibu guru di sekolah.

Lebih lanjut, hasil wawancara yang diperoleh penulis dengan


orang tua subyek I, menyatakan bahwa perilaku hiperaktif subyek
tersebut memang dibenarkan oleh orang tua subyek I. orang tua
subyek I juga mengakui bahwa subyek memang lebih banyak
90
menghabiskan waktu bersama dengan pembantu. Selain hal tersebut
orang tua subyek juga menceritakan bahwa perlakuan orang tua yang
diberikan kepada subyek berlebihan. Hal ini ditandai dengan segala
sesuatu yang diinginkan subyek selalu dipenuhi dan tidak diajarkan
untuk sabar dalam meminta segala sesuatu pada orang tua subyek.
(K. W.OT.SI)

Gambaran lain dari hasil wawancara yang penulis dapatkan


bahwa ayah subyek memang menanamkan disiplin dan peraturan
yang mengharuskan subyek untuk dapat melaksanakannya. Apalagi
subyek I adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga tersbut.
Kedua orang tua terutama ayah subyek meginginkan subyek harus
menjadi anak yang sukses kelak nanti. Hal-hal kegiatan yang
dilakukan oleh subyek dikontrol tiap hari, namun yang melakukan
pengontrolan tersbut bukan ayah subyek sendiri melainkan dengan
bantuan pembantunya, yang disebabkan orang tua subyek sibuk
dengan pekerjaannya.

c) Kesimpulan Hasil Observasi dan Hasil Wawancara

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang penulis


lakukan, maka faktor human yang merupakan penyebab perilaku
hiperaktif pada subyek I adalah:

(1) Faktor pemanjaan

Orang tua subyek I menerapkan perlakuan dan sikap yang


memanjakan subyek I. Hal tersebut disebabkan subyek I
merupakan anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga mereka.

(2) Faktor orientasi dan kesenangan


91
Selain pemanjaan yang diberikan orang tua terhadap subyek I,
orang tua subyek juga menanamkan perlakuan yang selalu
menuruti hal apa saja yang diinginkan subyek. Segala bentuk
permintaan yang diinginkan subyek selalu didapatkan subyek
dengan mudah.

(3) Pola pendidikan orang tua yang keras

Pemanjaan dan orientasi kesenangan diterapkan pada subyek I,


selain hal terbut orang tua subyek khususnya ayah subyek
selalu menerapkan disiplin yang terlalu ketat pada subyek I. hal
tersebut dilakukan orangtua subyek karena menginginkan kelak
subyek menjadi anak yang dapat di andalkan dan karena
subyek adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga
mereka.

2) Faktor Non Human atau Lingkungan

a) Hasil Observasi

Berdasarkan hasil observasi yang penulis peroleh terkait


dengan faktor non human yang menjadi penyebab perilaku hiperaktif
siswa adalah lingkungan fisik yang mendukung munculnya perilaku
hiperaktif, dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Suasana keluarga subyek I kurang adanya curahan kasih


sayang dari kedua orang tua subyek. Orang tua yang dari pagi hingga
sore dan terkadang jadwal pekerjaan orang tua yang tidak tentu
membuat subyek merasa kurang mendapatkan waktu untuk bersama
dengan kedua orang tuanya. Hanya ditemani seorang pembantu dari

92
subyek pulang sekolah hingga tidur di malam hari, sedagaan dua
saudara subyek juga tidak tinggal bersama dengan kedua orang tua.

Berdasarkan hasil observasi terkait dengan perabot rumah


tangga di rumah subyek memiliki warna-warna yang terlalu
mencolok, seperti kamar subyek dengan cat tembok berwarna
kuning, ruang tamu yang berwarna merah jambu. Selain hal tersebut
menurut hasil observasi yang telah dilakukan penulis subyek
merupakan anak yang memiliki kelengkapan bermain secara lengkap
dibanding dengan anak-anak seumurannya, dari alat bermain robot-
robotan hingga PS 3 dimiliki subyek I. Hal tersebut dapat
dimunginkan karena subyek I merupakan anak yang dipandang dari
segi ekonomi serba kecukupan.

b) Hasil Wawancara

Hasil wawancara yang penulis peroleh terkait dengan


lingkungan fisik yang mendukung untuk perilaku hiperaktif yang
dialami subyek I, dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Menurut hasil wawancara dengan orang tua subyek I,


perilaku hiperaktif yang subyek tunjukkan memang sudah terlihat
dari kecil saat mengandung. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya
gerakan yang subyek lakukan ketika masih berada di dalam perut
ibu, hingga saat mengandung subyek I, ibu subyek merasa sering
mengalami kehabisan oksigen, dengan kata lain sewaktu
mengandung subyek memang sudah ada gerakan-gerakan yang
berlebihan sehingga mengakibatkan ibu subyek tidak kuat untuk
menahan gerakan tersebut. Akan tetapi pada saat melahirkan pun air
ketuban ibu terlanjur pecah dan terminum oleh subyek walaupun
93
subyek pada waktu itu dapat diselamatkan dengan dilahirkan
memakai alat bantu.

Gambaran hasil wawancara yang penulis peroleh lainnya


dalah orang tua subyek memang mengakui segala yang diingikan
subyek dituruti dari alat-aat bermain hingga peralatan sekolah,
sehingga dari hal tersebut subyek I memiliki alat bermain dari
mainan robot-robotan dari kayu hingga PS 3 serta peralatan sekolah
yang lengkap untuk sekolah lebih dibandingteman-temannya yang
lain. Dari gambaran tersebut orang tua subyek juga membenarkan
bahwa subyek juga termasuk anak yang ceroboh dan tidak telaten
dalam menyimpan dalam menyimpan barang-barang yang subyek
miliki.

c) Kesimpulan Hasil Observasi dan Hasil Wawancara

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang penulis


lakukan, faktor non human/faktor lingkungan sebagai faktor
penyebab perilaku hiperaktif subyek I adalah:

(1) Suasana keluarga, yaitu dalam keluarga subyek I antara orang tua
dan anak kurang adanya komunikasi serta curahan kasih sayang.
Segala kebutuhan dan keperluan subyek selalu dituruti oleh
kedua orang tua tanpa menanyakan untuk apa hal yang
diinginkan subyek tersebut. Hubungan antara subyek dengan
orang tua serta saudara subyek pun juga tidak ada keakraban satu
dengan yang lainnya dan subyek lebih dekat dengan
pembantunya.

(2) Kelengkapan alat bermain, yaitu alat bermain yang dimiliki


subyek seperti permainan dari kertas, dari kayu, robot-robotan
hingga PS 3. Kelengkapan alat bermain tersebut serta sikap dan
94
perlakuan orang tua yang berorientasi pada kesenangan membuat
subyek berperilaku hiperaktif seperti tidak telaten dalam
menyimpan alat-alat maianannya, ceroboh dalam menggunakan
alat bermainnya dan cenderung destruktif terhadap mainan dan
barang-barang yang dimiliki subyek.

(3) Proses ibu hamil dan melahirkan, yaitu pada hamil dan
melahirkan subyek I, sedikit mengaalami hambatan. Hambatan
tersebut sejak dalam kandungan subyek sudah memperlihatkan
gerakan janin yang aktif sehingga membuat ibu subyek sering
keluar masuk rumah sakit karenan kehabisan oksigen. Pada saat
melahirkan subyek, air ketuban ibu subyek sudah pecah serta air
ketuban tersebut terminum oleh subyek. Disamping itu berat
badan subyek pada waktu itu sekitar 3,9 kilogram sehingga
proses kelahiran subyek harus dibantu dengan alat.

b. Subyek II

1) Faktor Human atau Manusia

a) Hasil Observasi

Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan baik pada


saat subyek berada di dalam kelas dan pada saat istirahat perilaku
hiperaktif yang subyek lakukan memang merupakan perilaku
hiperaktif yang sudah dialami subyek dari kecil. Hal ini terlihat dari
catatan guru sejak kelas satu bahwa subyek merupakan siswa yang

95
tidak dapat duduk tenang dan siswa yang di cap sebagai siswa
pembuat gaduh di kelas pada saat pelajaran berlangsung (K.O.SI)

Gambaran hasil observasi yang penulis lakukan ketika berada


di dalam kelas dan pada saat istirahat terkadang perilaku hiperaktif
yang dialami oleh subyek II adalah bentuk periaku yang kurang
mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Hal ini
ditunjukkan dari perilaku subyek yang suka menyanyi lirih ketika
pelajaran berlangsung agar mendapatkan pujian dari teman-
temannya atau dari guru yang sedang menyampaikan materi, selain
itu perilaku hiperaktif yang dilakukan subyek akan merasa senang
jika ditiru oelh teman-temannya baik pada saat pelajaran
berlangsung atau pada saat istirahat.

Gambaran perilaku hiperaktif yang diperoleh peneliti ketika


mengadakan wawancara di rumah subyek, perilaku hiperaktif
memang subyek alami juga ketika berada di rumah. Hal ini juga
diketahui oleh kedua orang tua subyek, akan tetapi orang tua subyek
membiarkan perilaku hiperaktif tersebut, tanpa memberikan teguran
atau nasihat.

Selain itu menurut hasil observasi penulis, subyek II


merupakan anak yang kurang dalam mendapatkan pengawasan
orang tua ketika di rumah. Kecenderungan untuk berperilaku
hiperaktif yang semaunya sendiri bebas subyek lakukan. Keadaan
orang tua yang sibuk bekerja di pasar dari adzan subuh hingga
menjelang magrib membuat subyek kurang mendapatkan
pengawasan dari orang tua ketika subyek berada di rumah.

b) Hasil Wawancara

96
Hasil wawancara yang penulis lakukan dengan orang tua
subyek dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Subyek merupakan anak hiperaktif yang sudah terlihat sejak kecil,


bahkan saudara subyek pun juga berperilaku hiperaktif sama dengan
subyek II. Menurut hasil hasil wawancara dengan orang tua subyek
sewaktu hamil, orang tua subyek tidak memberikan perlakuan
secara khusus layaknya orang yang sedang hamil, yang dilakukan
adalah layaknya orang desa seperti makan dan minum yang menjadi
pantangan ketika hamil dan yang terpenting pada saat hamil dan
melahirkan nantinya berjalan normal dan sehat.

Berdasarkan keterangan orang tua subyek, perilaku hiperaktif


yang dilakukan anaknya diakui oleh kedua orang tua subyek, hal ini
dianggap orang tua sebagai hal yang wajar dan tidak perlu
mendapatkan perhatiaan yang khusus, karena selain saudara
kandung subyek, saudara dari pihak keluarga ayah subyek juga
mengalami perilaku hiperaktif yang sama dengan subyek.

Kurangnya pengawasan dan perhatian yang diberikan orang


tua terhadap subyek pun juga dibenarkan oleh orang tua subyek. Hal
ini dengan alasan bahwa kedua orang subyek bekerja sebagai
wiraswasta yang membuka warung di pasar dekat rumah mereka.
Mereka bekerja dari adzan subuh hingga menjelang magrib. Hal
tersebut dilakukan dengan alasan mencukupi kebutuhan keluarga.
Dengan alasan tersebut orang tua subyek mengakui untuk
memberikan pengawasan terhadap subyek memang tidak dapat
optimal.

c) Kesimpulan Hasil Observasi dan Hasil Wawancara

97
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang penulis
lakukan terkait faktor human sebagai faktor penyebab perilaku
hiperaktif pada subyek II adalah sebagai berikut:

(1) Kurangnya pengawasan dari orang tua, yaitu perilaku hiperaktif


subyek II merupakan akibat dari kurangnya pengawasan yang
diberikan orang tua subyek. Kedua orang tua subyek yang sibuk
dengan pekerjaannya dipasar dan di rumah subyek juga kurang
mendapatkan pengontrolan dari neneknya.

(2) Faktor genetik, yaitu terdapat kemungkinan bahwa perilaku


hiperaktif subyek II merupakan perilaku hiperaktif yang berasal
dari faktor keturunan atau genetik. Hal ini ditandai dengan
adanya saudara sekandung subyek yang juga berperilaku
hiperaktif sama halnya dengan subyek. Selain hal tersebut
berdasarkan keterangan orang tua bahwa saudara dari pihak
ayah subyek juga menglami perilaku hiperaktif.

2) Faktor Non Human atau Faktor Manusia

a) Hasil Observasi

Berdasarkan hasil observasi terkait dengan lingkungan fisik


yang dapat menjadi penyebab perilaku hiperaktif subyek II dapat
dideskripsikan sebagai berikut:

Keadaan lingkungan fisik yang terdapat pada subyek II


adalah suasana keluarga yang memberikan kenyamanan bagi
subyek. Hal tersebut ditandai dengan orang tua yang sibuk dan

98
waktu yang dihabiskan untuk bekerja dipasar membuat subyek dan
saudara merasa kurang dalam mendapatkan kebersamaan dan
perhatian dari orang tua. Selain itu orang tua yang membiarkan
subyek dalam berperilaku hiperaktif juga tidak mendapatkan
perhatian dari kedua orang tua. Pada kegiatan sekolah, kedua orang
tua subyek jarang menanyakan hal-hal yang dilakukan subyek
ketika di sekolah serta tugas yang menjadi PR subyek.

Kelengkapan bermain subyek II dibanding subyek I


memang jauh berbeda. Jika subyek I memiliki peralatan bermain
yang lengkap, berbeda halnya dengan subyek II, hal ini ditandai
dengan alat bermain yang dimiliki subyek lebih banyak terbuat dari
kayu dan potongan kertas atau batang pisang.

Lebih lanjut, keadaan lingkungan fisik subyek II juga


berbeda dengan subyek I. Perbedaan itu terlihat dari bangunan dan
cat rumah subyek II yang terlihat masih apa adanya dengan
bangunan layaknya rumah di pedesaan.

b) Hasil Wawancara

Berdasarkan hasil observasi terkait dengan lingkungan fisik


yang dapat menjadi penyebab perilaku hiperaktif subyek II dapat
dideskripsikan sebagai berikut:

Orang tua subyek II menyatakan bahwa mereka kurang


dapat memperhatikan setiap kegiatan dan perilaku subyek ketika
berada di rumah. Biasanya subyek di titipkan pada nenek atau
tetangga dekat subyek.

99
Orang tua subyek juga membenarkan jika anak mereka
mengalami perilaku hiperaktif. Hal tersebut ditandai jika subyek
berada di rumah (1) Sering melakukan gerakan tangan dan kaki, (2)
Sering terlihat tidak memperhatikan jika diajak berbicara dengan
orang lain, (3) Mudah mengalami kebosanan atau kejenuhan dalam
suatu kegiatan bermain. Hal tersebut diperoleh orang tua subyek
dari laporan para tetangga dan ketika kedua orang tua sedang ada di
rumah.

Berdasarkan keterangan orang tua subyek II, kehidupan


mereka pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dirasa
mereka kurang, apalagi kalau harus mencukupi kebutuhan subyek
terkait peralatan bermain atau kebutuhan subyek lainnya selain
keperluan untuk sekolah.

Suasana keluarga mereka antara orang tua dan anak tidak


ada kedekatan. Hal ini ditandai jika sudah pulang bekerja dan
kecapekan orang tua subyek membiarkan subyek belajar atau tidak.

Lebih lanjut, apabila subyek melakukan kesalahan atau berperilaku


hiperaktif ketika berada di rumah, subyek mendapat hukuman dari
ayahnya seperti di jewer, dipukul dan dimarahi dengan kata-kata
kasar (K.W.OT.SII)

Gambaran lainnya yang menunjukkan faktor non human


sebagai akibat dari perilaku hiperaktif subyek II adalah berdasarkan
keterangan orang tua subyek II, sejarah mengandung dan
melahirkan subyek II kendala sehingga harus di bantu dengan alat
bantu, agar subyek dapat di selamatkan. Begitu pula saat proses
kelahiran saudara subyek yang juga mengalami perilaku hiperaktif.

c) Kesimpulan Hasil Observasi dan Hasil Wawancara


100
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di atas, dapat
penulis simpulkan bahwa faktor yang menjadi penyebab perilaku
hiperaktif subyek II adalah:

(1) Suasana keluarga yang kurang memberikan rasa nyaman bagi


subyek dan cenderung memberikan hukuman bagi subyek jika
berperilaku hiperaktif.

(2) Kemiskinan, sehingga kebutuhan seperti alat bermain subyek


yang juga cenderung kurang.

c. Subyek III

1) Faktor Human atau Manusia

a) Hasil Observasi

Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan baik pada


saat subyek berada di dalam kelas dan pada saat istirahat perilaku
hiperaktif dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Perilaku hiperaktif subyek III adalah akibat dari kurangnya


pengawasan dari orang tua. Orang tua subyek III juga sama halnya
101
dengan orang tua subyek I dan II. Mereka memiliki pekerjaan yang
cukup menyita waktu dari pagi hingga sore hari. Ibu subyek bekerja
sebagai penjahit konveksi di sebuah pabrik di desa sebelah tempat
tinggal subyek, sedangkan ayah subyek bekerja sebagai buruh yaitu
sebagai tukang batu. Keseharian subyek tinggal bersama adik.

Gambaran dari sikap dan perlakuan yang diberikan orang


tua terhadap subyek berlebihan dalam memberikan pengawasan,
perhatian dan penerapan disiplin yang harus dilakukan subyek
dengan baik. Sikap orang tua membiarkan subyek dalam bergaul
dengan lingkungan sekitar, dalam berperilakupun subyek kurang
mendapatkan pengontrolan dari kedua orang tuanya. Bagi orang tua
subyek III, subyek sehat adalah hal yang diharapkan orang tua
subyek. Jadi untuk menanyakan aktifitas serta kegiatan dan hal-hal
yang berkaitan dengan subyek jarang orang tua lakukan terhadap
subyek.

b) Hasil Wawancara

Hasil wawancara yang penulis lakukan dengan orang tua


subyek dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Orang tua subyek III mengakui bahwa subyek merupakan anak


yang memiliki perilaku hiperaktif. Perilaku yang tidak dapat duduk
tenang, banyak melakukan aktifitas fisik yang terkadang tanpa
didasari oleh tujuan dari subyek, mengakibatkan kedua orang tua
subyek jengkel jika melihat subyek berperilaku hiperaktif.
(K.W.OT.SIII)

102
Orang tua subyek juga menyadari bahwa sebagai orang tua,
kurang dalam memberikan perhatian dan membiarkan perilaku
subyek yang demikian dan memberikan hukuman terhadap subyek
jika subyek berperilaku demikian. Jika subyek berperilaku
hiperaktif dan akhirnya memancing emosi orang tua tidak segan-
segan memberikan hukuman pada subyek berupa hukuman yang
bersifat fisik seperti menjewer dan memukul subyek.

Gambaran lain terkait dengan faktor human yang lainnya


adalah keadaan sewaktu mengandung subyek tidak ada masalah dan
hambatan dalam proses kehamilannya. Dari faktor keluarga pun
juga tidak ada yang berperilaku hiperaktif seperti subyek.
Terkadang subyek berperilaku hiperaktif merupakan pencotohan
dari perilaku hiperaktif yang dialami oleh lingkungan sekitar.
Pergaulan yang tidak mendapat pengawasan dari orang tua, diyakini
orang tua subyek sebagai pengaruh yang buruk bagi subyek III,
sehingga subyek berperilaku demikian.(K.W.OT.SIII)

c) Kesimpulan Hasil Observasi dan Hasil Wawancara

Berdasarkan hasil observasi dan hasil wawancara yang


penulis peroleh, dapat disimpulkan bahwa faktor human/faktor
manusia yang menjadi penyebab perilaku hiperaktif pada subyek III
adalah kurangnya pengawasan dan kasih sayang dari orang tuayaitu
orang tua yang sibuk dengan pekerjaan dan tidak ada waktu untuk
subyek, merupakan faktor penyebab perilaku hiperaktif subyek. Hal
tersbut timbul karena subyek kurang mendapatkan pengontrolan dan
membuat subyek berperilaku semaunya sendiri seperti perilaku
hiperaktif.

103
2) Faktor Non Human atau Lingkungan

a) Hasil Observasi

Hasil observasi yang penulis dapat dideskripsikan sebagai


berikut:

Suasana dalam keluarga subyek kurang adanya komunikasi


antara orang tua dengan subyek. Hal ini ditandai bahwa orang tua
subyek cenderung mengahabiskan waktu untuk bekerja sebagai
usaha mencukupi kebutuhan keluarga. Sehingga untuk upaya
pemenuhan kebutuhan subyek cenderung tidak terpenuhi seperti
halnya mainan yang dimiliki subyek cenderung mainan yang
seadanya saja. Selain itu perabot dan cat tembok juga biasa saja
layaknya rumah dipedesaan.

b) Hasil Wawancara

Hasil wawancara yang penulis lakukan dengan guru kelas


dan guru bahasa inggris serta orang tua subyek dapat dideskripsikan
sebagai berikut:

Berdasarkan wawancara dengan guru kelas dan guru bahasa


inggris faktor penyebab perilaku hiperaktif yang dialami oleh
subyek III merupakan damapak dari suasana keluarga yang
mengakibatkan subyek tidak mendapatkan suasana yang nyaman di

104
dalam keluarganya. Orang tua yang sibuk bekerja dan kurang
memperhatikan subyek merupakan salah satu penyebab subyek III
mengalami perilaku hiperaktif. Selain hal tersebut hasil wawancara
dengan guru kelas dan guru bahasa inggris subyek mengalami
perilaku hiperaktif merupakan pencontohan dari perilaku hiperaktif
yang dialami oleh subyek II dan lingkungan temapat tinggal subyek
yang mendukung munculnya perilaku hiperaktif.

Berdasarkan hasil wawancara dengan orang tua, sejarah


waktu mengandung dan melahirkan subyek tidak ada hambatan dan
kendala. Perilaku hiperaktif subyek merupakan kurangnya
pengawasaan dan perhatian dari orang tua. Faktor ekonomi keluarga
yang pas-pasan membuat orang tua subyek kurang dapat memenuhi
kebutuhan subyek.

c) Kesimpulan Hasil Observasi dan Hasil Wawancara

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang penulis


lakukan, perilaku hiperaktif yang dialami oleh subyek III dapat
disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

(1) Kurangnya pengawasan, yaitu orang tua yang cenderung sibuk


dengan pekerjaan dan tidak ada waktu untuk subyek,
dimungkinan sebagai faktor penyebab perilaku hiperaktif
subyek. Hal tersbut timbul karena subyek kurang mendapatkan
pengontrolan dan membuat subyek berperilaku semaunya
sendiri seperti perilaku hiperaktif.

(2) Suasana keluarga, yaitu suasana dalam keluraga subyek yang


tidak adanya pengontrolan serta pengawasan dari orang tua

105
membuat subyek merasa tidak mendapatkan perhatian. Akan
tetapi jika subyek berperilaku hiperaktif pada saat orang tua
berada di rumah subyek cenderung mendapatkan hukuman dari
kedua orang tuanya.

(3) Penokohan, yaitu dimungkinkan perilaku hiperaktif subyek


disebabkan karena lingkungan sekitar subyek yang mendukung
untuk subyek berperilaku hiperaktif. pergaulan subyek III
dengan subyek I dan II dapat menjadi pemicu munculnya
perilaku hiperaktif yang subyek III alami. Subyek III
beranggapan bahwa perilaku hiperaktinya adalah perilaku yang
wajar dan dengan perilakunya tersebut subyek mengharapkan
orang di sekitarnya akan memberikan perhatian padanya.

(4) Kemiskinan, yaitu segi ekonomi yang cenderung pas-pasan


dapat mengakibatkan perilaku hiperaktif. hal ini ditandai dengan
kurangnya pemenuhan kebutuhan yang diperlukan subyek
membuat kondisi psikologis subyek yang mudah marah dan
pada akhirnya subyek mengekspresikan dirinya dengan perilaku
hiperaktif.

C. Temuan Studi Yang Dihubungkan Dengan Kajian Teori

Hasil dari pengumpulan data tentang perilaku hiperaktif terhadap tiga


subyek penelitian di SD Negeri Mranggen 05 Kecamatan Polokarto Kabupaten
Sukoharjo melalui kegiatan observasi, wawancara dan dokumentasi maka dapat di
simpulkan bahwa karakteristik perilaku hiperaktif adalah sebagai berikut:

1. Karakteristik perilaku hiperaktif, di antaranya adalah sebagai berikut:

a. Aktifitas fisik anak hiperaktif di antaranya

106
1) Melakukan gerakan tangan dan kaki seperti tangan selalu memukul-
mukul meja sehingga menimbulkan suara gaduh, menggoyang-
goyangkan kaki pada saat mengerjakan tugas.

2) Tidak dapat duduk tenang di antaranya menggeliat di kursi pada waktu


guru menyampaikan materi, mondar-mandir dan berkeliaran di depan
kelas sehingga mengganggu proses kegiatan belajar-mengajar, keluar
masuk kelas dengan berbagai alasan.

3) Selain perilaku di atas perilaku hiperaktif juga ditandai dengan adanya


perilaku destruktif yang dialami anak hiperaktif serta timbul perilaku lain
untuk melanggar tata tertib sekolah seperti masuk kelas tidak tepat waktu
dan berperilaku semaunya ketika pelajaran berlangsung.

b. Keadaan psikologis yang dialami anak hiperaktif yaitu anak hiperaktif


memiliki emosi yang mudah marah, mudah tersinggung dan kecil hati jika
mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaannya.

c. Hubungan sosial yang dialami anak yang berperilaku hiperaktif adalah


memiliki hubungan sosial yang kurang baik. Hal tersebut ditandai bahwa
anak hiperaktif memilki masalah dengan teman-temannya seperti dimusuhi
dan dijauhi oleh teman-temannya dengan alasan bahwa anak hiperaktif
adalah anak yang suka membuat gaduh. Selain itu anak hiperakitf juga
memiliki sedikit teman serta sering mendapatkan gertakan atau cemoohan
dari teman-temannya sebagai akibat dari perilaku hiperaktif yang
dialaminya. Lebih lanjut anak hiperaktif juga dicap lingkungan sekitar
sebagai anak yang nakal karena perilakunya yang mengganggu orang lain.

Selain hubungan sosial dengan lingkungan sekitar, anak hiperaktif juga


mengalami masalah dengan orang tuanya. Hal ini ditandai dengan sikap dan
perlakuan orang tua dalam menghadapi anak hiperaktif cenderung
menggunakan hukuman dan teguran yang tidak bersifat mendidik, seperti
menghadapi anak hiperaktif dengan memukul dan menjewer.

107
2. Faktor-faktor penyebab perilaku hiperaktif ada dua yaitu:

a) Faktor human/faktor manusia

(1) Sikap orang tua

Sikap orang tua yang terlalu otoriter, tuntutan orang tua yang terlalu
kaku, kurangnya pengawasan orang tua serta disiplin yang terlalu kaku

(2) Perlakuan orang tua

Perlakuan orang tua yang terlalu memanjakan dan berorientasi terhadap


kesenangan juga dapat memicu anak untuk berperilaku hiperaktif. hal
demikian akan mengakibatkan anak untuk berperilaku semaunya sendiri
terhadap keinginan yang anak kehendaki

(3) Faktor genetik. Perilaku hieparaktif juga disebabkan karena keturunan.


Hal tersebut dianggap bahwa jika dalam satu keluarga memiliki
kecenderungn untuk berperilaku hiperaktif, tidak menutup
kemungkinan akan menurun pada saudara dalam satu keluarga tersbut
untuk berperilaku hiperaktif.

b) Faktor non human/lingkungan

(1) Suasana keluarga yaitu suasana keluarga yang tidak dapat memberikan
rasa nyaman bagi anak untuk tinggal ditengah-tengah keluarga
merupakan salah satu faktor yang dapat memicu perilaku hiperaktif
anak.

(2) Kemiskinan, anak-anak hiperakti adalah anak-anak yang mengalami


perilaku tidak wajar seperti anak seumurannya. Berdasarkan hasil
penelitian anak hiperaktif berasal dari keadaan ekonomi yang miskin
atau tidak mampu, yang kedua orang tua mereka hidup secara pas-pasan
sehingga untuk memnuhi kebutuhan seperti alat permainan anak
hiperaktif tidak dapat dipenuhi. Hal tersebut merupakan salah satu

108
pemicu anak hiperaktif untuk melampiaskan keinginannya dengan
berperilaku hieparakitf.

109
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang perilaku hiperaktif pada siswa kelas


III SD Negeri Mranggen 05 diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Perilaku hiperaktif di kelas yang sering dilakukan tiga siswa kelas III SD
Negeri Mranggen 05 adalah: (a) Sering mondar-mandir pada waktu kegiatan
belajar-mengajar atau pada waktu disuruh mengerjakan tugas oleh guru, (b)
Melakukan gerakan fisik seperti tangan selalu memukul-mukul meja
sehingga menimbulkan suara gaduh, (c) Memain-mainkan pensil atau benda
yang ada di depannya sehingga timbul suara berisik pada waktu kegiatan
belajar-mengajar, (d) Berlarian saat di dalam kelas, keluar masuk kelas
dengan berbagai alasan, (e) Tidak dapat memfokuskan perhatian dalam
jangka waktu yang lama, (f) Mudah mengalami kejenuhan atau kebosanan
dalam satu kegiatan, (g) Sering keluar masuk kelas dengan berbagai alasan,
(h) Menggoyang-goyangkan kaki pada saat mengerjakan tugas dan pada saat
jam pelajarn berlangsung.

2. Faktor yang menjadi penyebab munculnya perilaku hiperaktif pada subyek


penelitian terdiri dari dua faktor yaitu:

a. Faktor human atau faktor manusia meliputi sikap dan perlakuan orang tua,
yang meliputi orang tua yang terlalu otoriter, tuntutan orang tua yang
terlalu kaku, kurangnya pengawasan orang tua, disiplin yang terlalu kaku
dari orang tua, orang tua yang memanjakan, orientasi kesenangan.

b. Faktor non human atau faktor lingkungan di antaranya adalah proses ibu
yang melahirkan dengan menggunakan alat atau secara normal, faktor
genetik, dan aspek lingkungan

110
3. Alternatif bimbingan yang perlu diberikan pada siswa yang berperilaku
hiperaktif adalah sebagai berikut:

a. Memberikan penguatan setiap tingkah laku baik yang dilakukan anak


hiperaktif. Sekecil apapun tingkah laku atau perbuatan baik yang
dilakukan anak hiperaktif di usahakan untuk selalu memberikan
penguatan. Hal ini bertujuan agar anak hiperaktif mengulang dan dapat
membiasakan perilaku baik tersebut sehingga perilaku hiperaktifnya dapat
dikendalikan.

b. Adanya kerja sama antara guru, orang tua, dan pihak-pihak lain perlu
dilakukan secara baik dalam upaya mengatasi perilaku hiperaktif siswa
sehingga masalah dan hambatan yang dihadapi siswa hiperaktif.

c. Mengajar disiplin pada anak hiperaktif agar ia dapat mengatur dirinya dan
mengontrol dirinya dengan baik.

d. Modifikasi tingkah laku

e. Memberikan kesempatan pada anak hiperaktif untuk menjalin komunikasi

f. Menciptakan lingkungan yang kondusif dengan mengurangi tekanan pada


anak seperti tidak melebelkan anak sebagai anak yang nakal.

g. Menggunakan teknik modeling, perilaku hiperaktif yang dialami anak juga


merupakan akibat dari meniru contoh yang diberikan oleh teman sekelas
atau orang dewasa. Dengan asumsi ini, diharapkan dengan teknik
modeling dapat dipakai untuk menguragi perilaku hiperaktif.

B. Implikasi

111
Bertitik tolak dari hasil penelitian di atas, maka implikasi hasil penelitian
ini secara umum adalah sebagai berikut:

Implikasi Bagi Orang Tua


Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak. Pola asuh
yang diterapkan orang tua terhadap anak sangat berpengaruh dalam pembentukan
pribadi anak. Orang tua harus mampu menanamkan nilai-nilai positif pada anak,
yaitu dengan memberi contoh yang baik dalam sikap dan perilaku, karena orang
tua menjadi model bagi anak. Selain itu, orang tua haruslah waspada terhadap
lingkungan sosial anak. Sebagai upaya untuk mengantisipasi agar anak tidak
terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak sehat.

Implikasi Bagi Sekolah


Sekolah sebagai lembaga pendidikan, selain bertujuan untuk
mencerdaskan peserta didiknya melalui penyampaian materi pada saat kegiatan
belajar-mengajar juga diharapkan mampu mendidik para peserta didiknya agar
memiliki kepribadian yang baik. Ada banyak faktor yang dapat menghambat
dalam pencapaian tujuan tersebut, salah satunya adalah munculnya perilaku
hiperaktif. Untuk itu, sekolah melalui guru harus mampu mengantisipasi dan
meminimalisir munculnya perilaku hiperaktif pada peserta didik, yaitu dengan
usaha-usaha sebagai berikut: penyediaan situasi yang kondusif bagi para peserta
didik, mengemas kegiatan belajar-mengajar yang menyenangkan bagi para peserta
didik, menyediakan fasilitas sesuai dengan kebutuhan peserta didik, menjalin
kerja sama secara terus-menerus antara guru dengan orang tua serta jika
diperlukan pihak-pihak lain yang dapat membantu dalam mengatasi munculnya
perilaku hiperaktif yang dialami oleh peserta didik.

Implikasi Bagi Peneliti

112
Penelitian ini diharapkan memberikan tambahan ilmu dan pengalaman
kepada peneliti sebagai calon guru pembimbing. Di lapangan tidak hanya
ditemukan problem yang berupa perilaku hiperaktif saja, namun akan banyak
ditemukan problem lainnya. Melalui penelitian ini, secara umum peneliti
diharapkan memiliki wawasan tentang problem-problem pendidikan dan secara
khusus memiliki wawasan tentang perilaku hiperaktif.

C. Saran

Berdasarkan hasil penelitian tentang perilaku hiperaktif terhadap siswa


kelas III SD Negeri Mranggen 05 Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo,
ada beberapa saran yang perlu disampaikan melalui hasil penelitian ini adalah
sebagai berikut:

1. Kepala Sekolah

a. Kepala sekolah perlu mengintensifkan keberadaan bimbingan dan konseling di


sekolah dan peran guru kelas, terutama dalam mengatasi perilaku hiperaktif
yang akan membuat gaduh di kelas.

b. Menciptakan lingkungan sekolah yang positif, misalnya dengan mengemas


kegiatan belajar mengajar dengan modifikasi tingkah laku.

c. Sekolah sebaiknya juga perlu mengetahui hal-hal yang menjadi hambatan


yang dialami peserta didik seperti masalah perilaku hiperaktif, sehingga dapat
mengatur penataan ruang yang merupakan salah satu penyebab perilaku
hioperaktif.

2. Guru Kelas

113
a. Sebaiknya setiap guru mata pelajaran di kelas III, meyampaikan laporan
tentang hal-hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan kegiatan belajar-
mengajar di kelas tersebut, terutama terhadap perilaku siswa selama
pelaksanaan proses belajar-mengajar.

b. Sebagai seorang guru, hendaknya mengetahui dan memahami karakteristik


masing-masing siswanya sebagai upaya mengetahui permasalahan yang
dihadapi oleh siswa.

c. Guru perlu memberikan perhatian dan selalu memantau terhadap perilaku


siswa di kelas, sehingga apabila terdapat perubahan perilaku yang dialami
siswa dapat segera teratasi.

d. Di samping pemberian perhatian secara klasikal diharapkan setiap guru kelas


memberikan perhatian secara individual, agar permasalahan yang dihadapi
oleh siswa dapat segera teratasi.

e. Bagi pihak sekolah terutama guru, dalam proses kegiatan belajar-mengajar di


usahakan menggunakan program kegiatan belajar dengan modifikasi tingkah
laku, role playing dan sosiodrama. Hal ini bertujuan untuk melatih
ketrampilan sosial siswa hiperaktif.

3. Orang Tua

a. Orang tua diharapkan dapat menyempatkan diri untuk mengamati dan


memperhatikan serta selalu tanggap pada setiap perubahan yang ada pada
perilaku subyek, khususnya yang berkaitan dengan perilaku hiperaktifnya.

b. Untuk kelancaran dan pencapaian tujuan pembelajaran pada diri subyek perlu
adanya perhatian dan motivasi secara terus-menerus orang tua.

114
c. Orang tua perlu menciptakan iklim yang hangat dan penuh kasih sayang di
dalam kehidupan keluarga.

d. Orang tua sebagai pendidik, hendaknya memberikan penguatan terhadap


setiap tingkah laku baik yang dilakukan anak hiperaktif. Hal ini bertujuan
agar anak hiperaktif mengulang dan dapat membiasakan perilaku baik
tersebut sehingga perilaku hiperaktifnya dapat dikendalikan.

e. Kerja sama antara guru, orang tua, dan pihak-pihak lain perlu dilakukan
secara berkesinambungan dalam upaya untuk memantau perkembangan siswa
terkait perilaku siswa baik pada saat berada di rumah ataupun di sekolah.

115
DAFTAR PUSTAKA

Anantasari. 2006. Menyikapi Perilaku Agresif Anak. Yogyakarta:


Kanisius
Alex Sobur. 2003. Psikologi Umum dalam Lintasan Sejarah. Bandung: CV.
Pustaka Setia
Baihaqi & Sugiarmin. 2006. Memahami dan Menyikapi Anak ADHD. Bandung: Refika
Aditama

Departemen Pendidikan Nasional. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan


Layanan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal. 2007.
Jakarta: Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi Departeman Pendidikan
Nasional

Dewa Ketut Sukardi. 1995. Proses Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Jakarta:
Rineka Cipta

Eric Taylor. 1992. Anak Hiperaktif. Jakarta: PT Gramedia

Ferdinand Zaviera. 2008. Anak Hiperaktif. Yogyakarta: Perpustakaan Nasional

HB Sutopo. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta. UNS Press.

Imam Muskibin. 2008. Mengatasi Anak Bermasalah. Yogyakarta. Mitra Pustaka

Khozin Afandi. 1993. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif. Surabaya: Usaha Nasional

Majalah Intisari. 2001. Tips untuk Orangtua Penanggulangan Anak Hiperaktif.


Jakarta: PT. Intisari Mediatama

Marlina. 2007. Asesmen dan Strategi Intervensi Anak ADHD. Departemen Pendidikan
Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktoral Ketenagaan.
Jakarta

Marzuki. 2002. Metodologi Rizet. Yogyakarta: BPFE-UII

116
Miles, Mattew B dan A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif.
(Terjemahan Tjetjep Rohandi Rohidi). Jakarta: UI-Press

Moh Nazir. 1988. Metodologi Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia

Moleong, L. J. 2004. Metodologi Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya

Prasetyono. 2008. Serba Serbi Anak Autis dan Gangguan Psikologis Lainnya.
Yogyakarta: Diva Press

Prayitno dan Erman Amti. 1994. Pelayanan dan Bimbingan Di Sekolah Dasar. Jakarta:
Ghalia Indonesia

Rita Eka Izzati. 2005. Mengenal Permasalahan Anak Usia TK. Jakarta: Dit. PPTK & KPT

Robert K. Yin. 1997. Studi Kasus (Desain dan Metode). (Terjemahan M. Dzauzi
Mudzakir). Jakarta: Radar Jaya Offset

Sandra F. Rief. 1994. How To Reach and Teach ADD/ADHD Children. New York: The
Center For Applied Research In Education

Sunardi. 1995. Ortopedagogik Anak Tuna Laras I. Jakarta: Dit. PPTK & KPI

Sugiyono. 2002. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta

Suharsimi Arikunto. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta.


Rineka Cipta

Sumadi Suryabrata. 2004. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: PT Raja Grafindo


Persada

Syamsu Yusuf L N dan Ahmad Juntika Nurihsan. 2005.Landasan Bimbingan


dan Konseling. Bandung: Remaja Rosda Karya
Tiel Julia Van. 2006. Anakku Terlambat Bicara. Jakarta: Prenada Media Group

Winarno Surakhmad. 1993. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung: Tarsito

117