Anda di halaman 1dari 4

Tulis Kategori Soal di Sini

1. Pendidikan Era New Normal: Belajar Dari


Study From Home
 

  Share on Facebook 
  Tweet on Twitter 
  Whatsapp

ARTIKEL      POSTED ON14 JUNI 2020  — OLEH SEKRETARIAT GTK 2559


 

Dalam keadaan bagaimanapun pendidikan harus tetap berlangsung karena tidak saja terkait dengan masa
depan generasi penerus bangsa, bahkan umat manusia. Terlebih jika kita semua sependapat bahwa dalam
sejarah kehidupan manusia pendidikan dalam berbagai bentuknya merupakan rekayasa sosial dengan mana
berbagai kecerdasan manusia diasah agar mampu menjadi khalifah dalam kehidupannya di muka bumi. Oleh
sebab itu, kita patut berterimakasih kepada para pendiri negeri ini yang dengan kesadaran kolektif sepakat
menjadikan pendidikan sebagai salah satu cita-cita kemerdekaan. Lebih dari itu, didasari oleh visi jauh ke
depan, di bagian pembukaan konstitusi ditegaskan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan
tujuan eksistensi bangsa ini. Konsekuensinya, apapun hambatannya termasuk Pandemi Covid 19,
pendidikan must go on.

Pertanyaannya, mengapa terjadi kehebohan dan pro kontra tentang apakah sekolah akan dimulai pada awal
tahun ajaran mendatang atau tidak? Satu pihak  dengan tegas dan bersemangat menyatakan sekolah harus
dibuka pada waktunya untuk menghindari ketertinggalan dalam mata pelajaran.  Pihak lain dengan alasan
demi keselamatan murid berpendapat pembukaan sekolah justru harus ditunda. Bahkan pihak ini menguatkan
penolakannya dengan pernyataan bernada keras bahwa pembukaan sekolah sama dengan mengumpankan
anak-anak kita kepada Hantu Corona yang belum pulang kandang.
Tulis Kategori Soal di Sini

Jika dicermati, kedua pemikiran yang bertolak belakang tersebut sama-sama berangkat dari Old Normal
Paradigm yang cenderung mereduksi makna pendidikan sebatas konteks administratif yaitu penyelenggaraan
sekolah reguler. Jika makna itu yang dijadikan argumen, maka tidak hadirnya murid di gedung sekolah tentu
saja akan menghentikan pembelajaran, sebaliknya kehadiran murid di kompleks sekolah sama dengan
memberikan peluang penularan virus corona kepada mereka. Jadilah Buah Simalakama, dimakan mati ayah
tidak dimakan mati ibu. Padahal, sebagaimana sering disampaikan oleh Fasli Jalal, inti dari pendidikan
adalah learning is not just schooling. Sekolah itu sendiri sebagai institusi pendidikan banyak formatnya dan
semua itu telah diselenggarakan di Indonesia. Hanya saja, banyak dari kita yang memandang hanya sekolah
reguler yang sebenarnya pendidikan, sedang yang lain hanya sekolah penggembira, anak bawang, atau
bahkan pelengkap penderita.

Study from Home: Persiapan Menuju New Normal

Sejak Mas Menteri (panggilan akrab Mendikbud RI) menerbitkan surat edaran tentang Study from
Home (SFH) bulan Maret 2020 yang lalu, hampir tiga bulan sudah anak-anak kita belajar dan kuliah dari
rumah guna menghindari wabah Covid 19. Apakah selama itu mereka semua pura-pura belajar?  Apakah
selama itu pula guru, dosen, kepala sekolah, dan pejabat serta tenaga kependidikan lainnya berleha-leha atau
merenungi keterkurungan di rumah masing-masing? Apakah SFH hanya salah satu upaya sementara untuk
menutupi ketidakmampuan pemerintah menyelenggarakan sekolah sebagaimana biasanya? Ini semua
pertanyaan-pertanyaan keblinger karena berharap besok kita akan kembali seperti kemarin ketika hidup di
era Old Normal. Pertanyaan positif nan bijak seyogyanya didasari semangat memasuki era New
Normal yakni; Apa pelajaran yang kita dapat dari SFH untuk dijadikan modalitas memasuki era New Normal?
Apa paradigma dan praktik pendidikan era Old Normal yang harus kita tinggalkan? Seperti apa rancangan
“persekolahan” hari esok?

Sesungguhnya bencana itu merupakan krisis karena terjadi mendadak tanpa peringatan dan sebagaimana
disampaikan dalam tulisan lain telah membawa wahyu perubahan. Oleh sebab itu tidak satu pun pemangku
kepentingan siap, dipersiapkan, dan mempersiapkan diri mengatasinya sehingga penerapan SFH masih
banyak kekurangan  di sana-sini. Akan tetapi, jika kita berfikir positif, banyak pelajaran berharga yang kita
peroleh. Banyak pula praktik persekolahan dalam arti moda pembelajaran yang sebelumnya kita tolak seperti
belajar jarak jauh, home schooling, ujian sekolah dan semacamnya, selama SFH kita terapkan. Tidak
berlebihan jika SFH telah mengembalikan pendidikan ke hakekatnya yang esensial yaitu learning.

Yang juga menggembirakan, selama SFH berlangsung, banyak dari praktisi dan pemangku kepentingan
pendidikan yang berinisiatif dan mengunjuk kebolehan yang selama ini terpendam sebagai potensi, termasuk
guru yang ada di garda terdepan. Di portal Guru Berbagi, yang diinisiasi Kemendikbud saat memasuki
masa pandemic Covid-19, telah dibagikan ribuan rencana pelaksanaan pembelajaran daring (RPP)
oleh guru dan telah diunduh oleh 200 ribu pengguna dalam kurun waktu 2 bulan efektif dari semua
jenjang sekolah.
Tulis Kategori Soal di Sini

Di portal Guru Berbagi, guru-guru dan komunitas penggerak saling berbagi pengalaman melakukan
pembelajaran jarak jauh

Tidak sedikit sekolah yang menerapkan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi yang sebelumnya
dihindari karena merasa tidak memiliki dukungan yang cukup dalam hal biaya, fasilitas dan kompetensi guru.
Banyak orangtua siswa yang sebelumnya menitipkan sebagian besar tanggung jawab pendidikan anaknya
kepada guru dan sekolah, kini menerimanya kembali. Mereka banyak yang menyadari dua esensi penting
pendidikan yaitu betapa berat tugas guru dan sekolah, serta merekalah yang sebenarnya paling
berkepentingan dan bertanggungjawab dalam pendidikan bagi masa depan anak-anaknya.

Revolusi Mental: Membangun Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka.

Semua pengalaman terbaik dari penerapan SFH tidak boleh disia-siakan karena bermimpi kembali pulang ke
rumah lama. Harus disadari bahwa bencana yang sekarang dialami umat manusia di seluruh muka bumi akan
menjadikan hari esok tidak akan pernah sama lagi dengan kemarin. Yang tersedia hanya one way
ticket. Dengan kesadaran itu, pengalaman terbaik selama SFH harus dijadikan pelajaran, kemudian diperkaya
dan diperkuat untuk dikemas menjadi strategi baru pendidikan di rumah yang baru. Untuk itu, diperlukan
revolusi mental yang sejak dicanangkan Jokowi enam tahun yang lalu masih belum tampak jelas dilakukan
oleh para pemangku kepentingan pendidikan di semua lini, jenjang dan dan wilayah. 

Kini saatnya siswa memerdekakan dirinya mencari ilmu yang diperlukannya sesuai dengan minat, 
kemampuan dan cita-citanya berbasis merdeka belajar. Orangtua murid menguatkan kedudukannya sebagai
pemilik utama anak termasuk masa depannya. Untuk itu mereka harus bekerjasama bahu membahu dengan
kepala sekolah dan guru dalam mengelola sekolah dan pembelajaran. Saatnya guru menjadi guru sejati yang
belajar dan membelajarkan diri sendiri dan muridnya. Pengelola sekolah secara proaktif menerapkan
sebenar-benarnya manajemen berbasis sekolah untuk membangun kampus merdeka dengan menjadikan
Tulis Kategori Soal di Sini

masyarakat sebagai pengendali mutunya. Pemerintah pusat mengubah arti fungsi regulator dari menentukan,
mengatur dan mengendalikan menjadi sebagaimana yang diterapkan di LLDIKTI 4 yaitu memberdayakan,
mengawasi dan membina perguruan tinggi swasta. Pemerintah daerah, menguatkan dirinya sebagai pembuat
kebijakan dan perancang sistem penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan karakteristik khas wilayahnya.
Dengan demikian, pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan pendidikan lainnya berinisitaif
memainkan peran utama dalam menetapkan kapan sekolah dimulai. Selain itu menetapkan pilihan-pilihan
moda pembelajarannya termasuk kemungkinan penerapan blended learning yang mengkombinasikan SFH
berbasis daring dengan tatap muka bergantian di sekolah guna mencapai tujuan pendidikan dengan tetap
memenuhi protokol kesehatan.

Sebagai penutup, sekali lagi mengingatkan bahwa Pandemi Covid 19 membawa wahyu perubahan yang
menuntut revolusi mental semua manusia di muka bumi khususnya bangsa Indonesia, lebih khsusus lagi
pemangku kepentingan pendidikan. Adalah kurang normal jika new normal dikelola secara old normal. Hanya
saja: Siapkah? Maukah? Mampukah?  Ikhlaskah? Kita semua yang harus menjawabnya!

Anda mungkin juga menyukai