Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA SEKOLAH

MATERI KIMIA KLS X

OLEH:
ANAJAR ESTI WIGARTI (A1L1 15 008)
LA SUROTO (A1L1 15 020)
OLMA SANTIANI (A1L1 15 034)
UMMI KALSUM (A1L1 15 047)
MUSFIRA ANNUR (A1L1 15 063)
ZULHIJAH (A1L1 15 084)
OVIN SANDRA (A1L1 15 097)
LEMBAR KERJA MAHASISWA
IKATAN KIMIA (Senyawa Ion dan Senyawa Kovalen)

A. Indikator

Merancang eksperimen untuk mengetahui perbedaan sifat senyawa ion dan

senyawa kovalen melalui pengamatan terhadap titik didih, titik leleh, dan aroma

senyawa kimia.

B. Tujuan
1. Menggunakan peralatan dan bahan kimia praktikum iakatan kimia,

mahasiswa dapat menyelidiki perbedaan sifat senyawa ion dan senyawa

kovalen melalui perubahan titik didih, titik leleh, dan aroma NaCl dan

H2O

2. Berdasarkan data percobaan, mahasiswa dapat menyimpulkan perbedaan

sifat senyawa ion dan senyawa kovalen melalui perubahan titik didih, titik

leleh, dan aroma pada NaCl dan H2O.

C. Alat dan Bahan


1. Alat :
 Cawan uap 2 buah
 Kawat kasa 2 buah
 Gelas ukur 25ml 1 buah
 Kaki tiga 2 buah
 Pembakar spirtus 2 buah
 Neraca digital 1 buah
 Stopwatch 1 buah
2. Bahan :
 Padatan NaCl 5gr pada 10ml pelarut air
 Cairan H2O 15 ml
D. Rumusan Masalah
Bagaimana cara membedakan sifat senyawa ion dan senyawa kovalen

terhadap titik didih, titik leleh, dan aroma pada NaCl dan H2O?

E. Kajian Teori

Ikatan kimia dapat dibagi menjadi ikatan ion dan ikatan kovalen. Ikatan

kimia itu sendiri adalah daya tarik menarik antar atom yang menyebabkan suatu

senyawa kimia dapat bersatu. Kekuatan daya tarik menarik ini menentukan sifat

kimia dari suatu zat. Daya tarik menarik diantara ion – ion yang bermuatan

berlawanan merupakan suatu ikatan ion.

Salah satu langkah untuk mencapai keadaan stabil, atom-atom melakukan

ikatan satu sama lain dengan cara serah-terima elektron valensi membentuk ikatan

ion. Teori ikatan ion yang dapat dipakai sampai sekarang adalah teori dari Kossel.

Menurut Kossel, ion-oin akan stabil jika memiliki konfigurasi elektron yang

serupa dengan konfigurasi elektron ggas mulia (Sunarya, 2010).

Adanya serah-terima elektron menghasilkan atom-atom bermuatan listrik

yang berlawanan sehingga terjadi gaya tarik-menarik elektrostatik. Gaya tarik-

menarik inilah yang disebut ikatan ion. Atom-atom yang menyerahkan elektron

valensinya kepada atom pasangannya yang bermuatan positif disebut kation.

Adapun atom-atom yang menerima elektron yang bermuatan negatif disebut

anion.

Lewis menggambarkan elektron valensi atom dengan titik yang

mengelilingi lambang atomnya. Jumlah titik menyatakan jumlah elektron valensi.

Penulisan seperti itu dikenal dengan rumus titik elektron (Setiabudi, 2009).
Perhatikan proses pembentukan senyawa natrium klorida (NaCl) yang

terbentuk dari atom natrium (Na) dan atom klorin (Cl) berikut.

Na 2 8 1 Na+ 2 8

Cl 2 8 7 Cl- 2 8 8

Atom Na memiliki konfigurasi elektron 2 8 1 sehingga elektron

valensinya 1. Adapun konfigurasi atom Cl adalah 2 8 7 sehingga elektron

valensinya adalah 7. Dalam keadaan netral, atom Na dan Cl memiliki jumlah

elektron dan proton yang sama banyak. Atom Na memiliki 11 proton dan 11

elektron, sedangkan atom Cl memiliki 17 proton dan 17 elektron.

Keadaan ini, atom Na dan Cl tidak stabil. Berdasarkan kaidah oktet, untuk

mencapai kestabilannya, atom Na harus melepaskan 1 elektron, sedangkan atom

Cl membutuhkan 1 elektron.

Atom Na akan bermuatan positif karena jumlah proton lebih banyak

daripada jumlah elektron. Adapun atom Cl akan bermuatan negatif karena jumlah

proton lebih sedikit daripada jumlah elektron. Dengan demikian, atom Na dan Cl

dapat mencapai kestabilannya dengan cara serah terima elektron. Atom Na

menyerahkan 1 elektron kepada atom Cl sehingga atom Cl menerima 1 elektron

dari Na.

Karena berbeda muatan, ion Na+ dan ion Cl- akan saling tarik menarik.

Interaksi yang dinamakan interaksi elektrostatik ini berlangsung secara terus

menerus. Ikatan kimia yang terbentuk dengan cara serah terima elektron, seperti

pembentukan NaCl, dinamakan ikatan ion. Senyawa yang terbentuk melalui


ikatan ion disebut senyawa ion. Adapun penggambaran struktur Lewis senyawa

NaCl adalah sebagai berikut:

(Rahayu, 2002).
Sifat-sifat senyawa ion antara lain:

1. Titik didih

Daya tarik menarik antar ion positif dan ion negatif dalam senyawa

ion cukup besar, dan satu ion berikatan dengan beberapa ion yang

ikatannya berlawanan, sehingga titik didih senyawa lebih tinggi.

2. Kelarutan

Senyawa ion larut dalam senyawa polar karena molekul pelarut

menghadapkan kutub negatifnya ke kutub positif dan begitu pula

sebaliknya.

3. Hantaran listrik

Senyawa ion tidak menghantarkkan arus listrik karena berbentuk

padatan dan menyebabkan ion positif dan ion negatif terikat kuat.

Menurut lewis, atom-atom non-logam membentuk iktan dengan atom-

atom non-logam dengan cara masing-masing atom memberikan sumbangan

elektron valensi untuk digunakan bersama membentuk ikatan kovalen. Ikatan

kovalen terjadi akibat kecenderungan atom-atom non-logam untuk mencapai

konfigurasi elektron gas mulia. Senyawa yang terbentuk dinamakan senyawa

kovalen (Sunarya, 2010).


Ikatan kovalen adalah ikatan yang terjadi akibat pemakaian pasangan

elektron secara bersama-sama oleh dua atom. Sifat Senyawa Kovalen antara lain:

1. Berupa cairan atau gas pada suhu kamar

2. Larut dalam pelarut non polar

3. Sedikit yang menghantarkan listrik

4. Mudah terbakar

Senyawa kovalen memiliki titik didih lebih rendah dibandingkan dengan

senyawa ion. Ikatan kovalen terbentuk diantara dua atom yang sama-sama ingin

menagkap elektron. Cara atom-atom saling mengikat dalam suatu molekul

dinyatakan oleh rumus bangun atau rumus struktur. Rumus struktur diperoleh dari

rumus Lewis dengan mengganti setiap pasangan elektron ikatan dengan sepotong

garis. Misalnya, rumus bangun H2 adalah H-H. Didalam ikatan kovalen terdapat

beberapa jenis didalamnya yaitu:

a. Ikatan Kovalen Tunggal

Ikatan kovalen tunggal adalah ikatan yang terbentuk dari penggunaan

bersama sepasang elektron (setiap atom memberikan saham satu elektron untuk

digunakan bersama). Adapun salah satu contohnya pada senyawa HCl.

Konfigurasi elektron H dan Cl adalah:

H : 1 (memerlukan 1 elektron)

Cl : 2 8 7 (memerlukan 1 elektron)

Masing-masing atom H dan Cl memerlukan 1 elektron. Jadi, 1 atom H akan

berpasangan dengan 1 atom Cl. Adapun lambang lewis ikatan H dan Cl dalam

HCl adalah sebagai berikut:


(Utami,2009).

b. Ikatan Kovalen Rangkap Dua

Ikatan kovalen rangkap dua terbentuk dari dua elektron valensi yang

disahamkan oleh setiap atom, misalnya pada molekul O2. Oksigen mempunyai

enam elektron valensi, sehingga untuk mencapai konfigurasi oktet harus

memasangkan dua elektron. Pembentukan ikatannya dapat digambarkan sebagai

berikut.

(Utami, 2009).

c. Ikatan Kovalen Rangkap Tiga

Ikatan kovalen rangkap tiga terbentuk dari tiga elektron valensi yang

disahamkan oleh setiap atom, misalnya dalam molekul N2. Nitrogen mempunyai

lima elektron valensi, jadi harus memasangkan tiga elektron untuk mencapai

keadaan konfigurasi oktet. Pembentukannya dapat digambarkan sebagai berikut.


(Utami, 2009).
Ikatan kovalen rangkap tiga terdapat dalam molekul N 2. Dengan

konfigurasi atom 7N : 1s2 2s2 2p3. Untuk mencapai konfigurasi oktet diperlukan

elektron tambahan. Ketiga elektron ini diperoleh dengan cara gabungan tiga

elektron valensi dari masing-masing atom N membentuk tiga pasangan elektron

ikatan, sehingga terbentuk ikatan kovalen rangkap tiga (Sunarya, 2010).

d. Ikatan Kovalen Koordinasi

Dalam ikatan kovalen terjadi penggunaan bersama pasangan elektron

valensi untuk mencapai konfigurasi elektron serupa gas mulia (oktet atau duplet).

Jika pasangan elektron yang dipakai berikatan kovalen berasal hanya dari salah

satu atom. Ikatan seperti ini dinamakan ikatan kovaelen koordinasi (Sunarya,

2010).

Ikatan kovalen koordinasi adalah ikatan kovalen dimana pasangan elektron

yang dipakai bersama hanya disumbangkan oleh satu atom, sedangkan atom yang

satu lagi tidak menyumbangkan elektron. Ikatan kovalen koordinasi hanya akan

dapat terjadi jika salah satu atom mempunyai pasangan elektron bebas. Salah satu

contohnya yaitu, ion amonium (NH4+). Ion ini dibentuk dari amonia (NH3) dan

ion hidrogen melalui ikatan kovalen koordinasi, seperti yang ditunjukan berikut

ini.
Ion amonium, sepasang elektron yang digunakan bersama antara atom

nitrogen dan ion H+ berasal dari atom nitrogen. Jadi, dalam ion amonium terdapat

ikatan kovalen koordinasi. (Utami, 2009).

F. Prosedur
a. Variabel dan defenisi operasional
1. Variabel manipulasi : Jenis senyawa dan waktu

Definisi Operasional : Dalam percobaan kali ini digunakan Larutan NaCl

dan H2O, waktu yang digunakan selama 20 menit ( 2 menit, 4 menit, 6

menit, 8 menit, 10 menit, 12 menit, 14 menit, 16 menit, 18 menit, 20

menit ).

2. Variabel kontrol : Perlakuan pada NaCl dan H2O ketika dipanaskan.

Definisi Operasional : Penambahan atau perubahan warna

3. Variabel Respon : Titik didih, titik leleh, aroma senyawa, dan perubahan

warna.

b. Langkah percobaan
c. Tabel dan Grafik

No
Senyawa Sebelum Praktikum Sesudah Praktikum
.
 Berupa  Mengkristal
Larutan  Warna putih
Larutan
 Tidak keruh
1. Natrium
Klorida (NaCl)
berwarna  Terdapat warna
 Tidak ada titik coklat ditengah
didih
 Tidak  Muncul
berwarna gelembung
2. H2O  Tidak ada titik  Terdapat uap
didih Habis
 Berupa larutan

No Senyawa Keterangan Perubahan Menit ke -


. 2 4 6 8 10
1. Larutan Titik Didih - - + ++ +++
Natrium Warna - - - - -
Klorida (Nacl ) Aroma - ++ ++ +++ +++
2. H2O Titik Didih - - + + -
Warna - - - - -
Aroma - - - - -

Keterangan :
─ : Tidak Ada
+ : Mulai muncul (sangat sedikit)
++ : Sedikit
+++ : Banyak
++++ : Sangat banyak
Coklat ─ : Tidak Berwarna
Coklat + : Coklat Muda
Coklat ++ : Coklat Sebagian
Coklat +++ : Coklat Pekat
Putih + : Putih bening
Putih ++ : Putih Susu
Putih +++ : Putih Keruh
Menyengat + : Sedikit Menyengat
Menyengat ++ : Menyengat
Menyengat +++ : Sangat Menyengat

d. Pembahasan

Pada uji data pertama diketahui bahwa Larutan Natrium Klorida atau yang

biasa dikenal dengan NaCl merupakan zat padat yang memiliki titik didih yang

relatif tinggi, bila dibandingkan dengan H2O. Semakin lama titik didih dari larutan

NaCl akan semakin tinggi dan akhirnya kembali ke bentuk awal yaitu

mengkristal, sedangkan pada H2O semakin lama titik didih nya akan semakin

tinggi, namun akhirnya akan mencapai batas titik didih dan lama-kelamaan H2O

akan habis.

Pada larutan NaCl pada awalnya larutan tidak bewarna dan berupa zat

terlarut, namun pada menit ke-20 NaCl berubah menjadi padatan (mengkristal)

warnanya pun berubah menjadi putih keruh dan terdapat warna coklat

ditengahnya, sedangkan pada H2O awalnya larutan tidak bewarna dan merupakan

zat terlarut pada beberapa menit kemudian akan muncul banyak gelembung, akan

tetapi semakin lama H2O akan semakin habis dan pada menit ke-20 H2O sudah

tidak bersisa. Larutan NaCl pada awalnya tidak memiliki aroma akan tetapi pada
menit-menit selanjutnya seperti pada menit ke-14, larutan NaCl akan memiliki

bau sedikit menyengat hingga pada akhirnya di menit ke -20 bau akan semakin

menyengat, sedangkan pada H2O tidak memiliki aroma dari awal hingga akhir.

Hal ini menandakan bahwa NaCl memiliki titik didih lebih tinggi dari H2O,

sehingga dapat disimpulkan bahwa NaCl adalah senyawa ion dan H2O adalah

senyawa kovalen.

Pada uji kedua terkait dengan pengujian titik didih, warna dan aroma yang

masing-masing diuji pada varians waktu 2, 4, 6 dan 8 diketahui bahwa pada

larutan NaCl baik pada pengujian titik didih, warna dan aroma mulai dari varians

waktu 2-8 menunjikan adanya perubahan yang sangat baik atau semakin tinggi.

Larutan NaCl di menit terakhir memiliki aroma yang menyengat dan terjadi

perubahan warna Hal ini menandakan bahwa NaCl merupakan senyawa ion yakni

sesuai dengan teori yang ada bahwasanya titik didih dari senyawa ion itu adalah

besar. Sedangkan pada H2O dari data didapatkan bahwa pada pengujian terhadap

titik didih, warna dan aroma dari berbagai varians waktu yaitu pada menit ke 2, 4,

6 dan 8 menunjukan perubahan negatif, dibandingkan dengan NaCl. sedangkan

H2O tidak memiliki aroma dan tidak terjadi perubahan warna. Hal ini menandakan

bahwa H2O merupakan senyawa kovalen.

e. Kesimpulan

Larutan NaCl memiliki titik didih lebih tinggi dari H2O, larutan NaCl di

menit terkahir kembalik ke bentuk semula yaitu bentuk mengkristal, sedangkan

H2O di menit terakhir habis tidak bersisa. Larutan NaCl di menit terakhir memiliki

aroma yang menyengat dan terjadi perubahan warna, sedangkan H 2O tidak


memiliki aroma dan tidak terjadi perubahan warna. Sehingga dapat disimpulkan

bahwa larutan NaCl adalah senyawa ion dan H2O adalah senyawa kovalen.

Daftar Pustaka

Retnowaty, Priscilla. 2009. SeribuPena KIMIA untuk SMA/MA Kelas XII.


Semarang: Erlangga