Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENDAHULUAN

WAHAM

A.    Pengertian
Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat / terus–menerus,
tetapi tidak sesuai dengan kenyataan ( Keliat dan Akemat,2010 )

B. Proses Terjadinya Masalah


A.   Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi yang mempengaruhi terjadinya waham, yaitu faktor perkembangan,
sosial budaya, psikologis dan genetik.
B. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi terjadinya waham adalah faktor sosial budaya, biokimia, dan psikologis.
Waham dapat dipicu karena adanya perpisahan dengan orang yang berarti atau diasingkan
dari kelompok. Dopamin, dan zat halusinogen lainnya diduga dapat menyebabkan terjadinya
waham pada seseorang. Kecemasan yang memanjang dan terbatasnya kemampuan unstuck
mengatasi masalah sehingga klien mengembangkan koping unstuck menghindari kenyataan
yang menyenangkan.
C. Jenis Waham
1.      Waham Kebesaran
Individu menyakini bahwa ia memiliki kebebasan atau kekuasaan khusus dan diucapkan
berulang kali.
2.      Waham Curiga
Individu menyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha merugikan /
mencederai dirinya dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan.
3.      Waham Agama
Individu memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan dan diucapkan
berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan.
4.      Waham Somatik
Individu menyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu atau terserang penyakit
dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan.
5.      Waham Nihilistik
Individu menyakini bahwa dirinya sudah tidak ada didunia / meninggal dan diucapkan
berulang kali, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
D. Fase – fase
Menurut Yosep (2009), proses terjadinya waham meliputi 6 fase, yaitu :
1.      Fase of human need
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan klien baik secara fisik maupun
psikis. Secara fisik klien dengan waham dapat terjadi pada orang-orang dengan status sosial
dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya klien sangat miskin dan menderita.
2.      Fase lack of self esteem
Tidak adanya pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self ideal dengan
self reality (keyataan dengan harapan) serta dorongn kebutuhan yang tidak terpenuhi
sedangkan standar lingkungan sudah melampaui kemampuannya.
3.      Fase control internal external
Klien mencoba berpikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia katakan
adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan keyataan, tetapi
menghadapi keyataan bagi klien adalah suatu yang sangat berat, karena kebutuhannya untuk
diakui, kebutuhan untuk dianggap penting dan diterima lingkungan menjadi prioritas dalam
hidupnya, karena kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan
sekitar klien mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien itu tidak
benar, tetapi hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi dan keinginan
menjaga perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau konfrontatif
berkepanjangan dengan alasan pengakuan klien tidak merugikan orang lain.
4.      Fase envinment support
Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya menyebabkan klien
merasa didukung, lama kelamaan klien menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut sebagai
suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan
kontrol diri dan tidak berfungsinya norma (super ego) yang ditandai dengan tidak ada lagi
perasaan dosa saat berbohong.
5.      Fase comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap bahwa
semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya.
6.      Fase improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu keyakinan yang
salah pada klien akan meningkat. Tema waham yang muncul sering berkaitan dengan
traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai yang hilang).
Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan ancaman
diri dan orang lain
E.      Mekanisme koping
Tidak memiliki kelainan dalam orientasi kecuali klien waham spesifik terhadap orang,
tempat, waktu. Daya ingat atau kognisi lainnya biasanya akurat.
Gangguan proses pikir: waham biasanya diawali dengan adanya riwayat penyakit berupa
kerusakan pada bagian korteks dan libik otak. Bisa dikarenakan terjatuh atau didapat ketika
lahir. Hal ini mendukung terjadinya perubahan emosional seseorang yang tidak stabil. Bila
berkepanjangan akan menimbulkan perasaan rendah diri, kemudian mengisolasi diri dari
orang lain dan lingkungan. Waham kebesaran akan timbul sebagai manifestasi
ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhannya. Bila respon lingkungan kurang
mendukung terhadap perilakunya dimungkinkan akan timbul risiko perilaku kekerasan pada
orang lain.
Pohon Masalahe
F. Masalah Keperawatan dan data yang diperlukan
1. Masalah keperawatan yang mungkin muncul
 Gangguan proses pikir : waham
2. Data yang perlu dikaji
a. Subjektif :
 Klien mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang paling hebat
 Klien mengatakan bahwa dirinya memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus
b. Objektif :
 Klien terlihat terus ngocehtentang pemahaman yang dimilikinya
 Pembicaraan klien cenderung diulang
 Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan
STRATEGI PELAKSANAAN ( SP 1 P )

A.    PROSES KEPERAWATAN


1.      Kondisi pasien
Klien mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang paling hebat, memiliki kebesaran atau
kekuasaan khusus, klien terlihat terus ngoceh tentang pemahaman yang dimilikinya,
Pembicaraan klien cenderung diulang, Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan
2.      Diagnosa keperawatan
Gangguan proses pikir : Waham Agama
3.      Tujuan khusus
a.       Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
b.      Klien dapat melakukan komunikasi dengan baik
c.       Klien dapat menyebutkan nama perawat
d.      Klien dapat mengungkapkan perasaan tentang waham
4.      Tindakan keperawatan
a.       Bina hubungan saling percaya
b.      Bantu orientasi realita
c.       Diskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
d.      Bantu pasien memenuhi kebutuhannya
e.       Anjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
B.     STRATEGI KOMUNIKASI DALAM TINDAKAN
a.      Fase Orientasi
1.      Salam terapeutik
“Selamat pagi Ibu, perkenalkan nama saya…,ibu bisa memanggil saya …. Nama ibu siapa?

Senang dipanggil apa? Ibu, saya adalah mahasiswa S1 keperawatan …saya praktek di sini

selama … dari ... Saya praktek pada pagi hari dari pukul 08.00 – 14.00 WIB.

2.      Validasi
Bagaimana perasaan ibu saat ini?
Bagaimana tidurnya semalam?
3.      Kontrak :
a.       Topik : pagi ini kita berbincang – bincang sebentar bu untuk melakukan perkenalan?
Dan berbincang – bincang tentang apa yang ibu rasakan saat ini?
         Waktu : Ibu mau kita berbincang – bincang berapa lama bu? Bagaimana kalau 15 menit
saja? Dari pukul 10.00 – 10.15 ya bu.
         Tempat : Dimana kita berbincang – bincang ya bu? Bagaimana kalau dimeja makan saja
bu?
         Tujuan : Agar kita saling mengenal, ibu lebih mengenal suster, dan suster lebih
mengenal ibu, serta ibu dapat mengenal perasaan apa yang ibu rasakan sekarang ini.
b.      Fase kerja
Ibu sudah berapa lama dirawat disini? Kalau suster boleh tahu ada masalah apa sampai ibu
dibawa ke sini bu?
Bagus, ibu sudah punya jadwal dan rencana sendiri untuk diri ibu, coba kita tuliskan rencana dan
jadwal tersebut ya bu. Wah bagus sekali bu, jadi sekang setiap hari ibu ingin melakukan kegiatan
di luar rumah karena bosan kalau di rumah terus ya bu? Sekarang suster juga punya jadwal ini
buat ibu, ibu isi jam dan tanggal berapa ibu melakukan kegiatan, kegiatan apa yang ibu lakukan,
dan keterangannya dapat ibu tuliskan huruf M : Jika melakukan secara mandiri tanpa bantuan
orang lain, B : Jika melakukan dengan bantuan orang lain dan T : Jika tergantung penuh pada
orang lain, apabila ibu melakukan kegiatan diluar rumah dan mengisi jadwal kegiatan yang ibu
punya maka ibu jangan lupa sekalian isi jadwal kegiatan yang suster berikan ya bu.
c.       Fase terminasi
1. Evaluasi
 Evaluasi subjektif :
Ibu, bagaimana perasaan ibu setelah berbincang – bincang dengan suster tadi?
Kegiatan apa yang sudah ibu lakukan?
 Evaluasi Objektif
Ibu masih ingat siapa nama suster? Coba ibu ulangi kembali kegiatan apa yang akan
dilakukan dan yang sudah diajarkan tadi? Bagaimana kalau jadwal yang sudah ibu buat untuk
diri sendiri ini ibu coba lagi bu, setuju?
2. Rencana tindak lanjut
Saya berharap setiap ibu bertemu dengan saya dan saat memerlukan bantuan saya, ibu mau
memanggil saya supaya selama ibu disini dapat bekerjasama dengan saya serta ibu mampu
sembuh kembali dan jangan lupa memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian ibu
3. Kontrak yang akan datang
 Topik : Ibu bagaimana kalau besok saya akan datang kembali untuk mengevaluasi
jadwal kegiatan harian yang sudah saya kasih tadi ya bu dan kita berbincang - bincang
tentang kemampuan yang ibu miliki ya bu.
 Waktu: Kita mau berbincang – bincang berapa lama bu? Bagaimana kalau 15 menit saja
bu, dari pukul 10.00 – 10.15 ya bu.
   Tempat : Mau dimana kita berbincang – bincang besok bu? Bagaimna kalau disini lagi
bu?