Anda di halaman 1dari 22

I.

IDENTITAS OS
Nama : Tn. T
Umur : 27 tahun
Jens Kelamin : Laki-laki
Tempat/ tanggal lahir : Tanjung Pinang, 31 Desember 1987
Status perkawinan : Menikah
Pendidikan terakhir : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Suku bangsa : Indonesia
Agama : Islam
Alamat sekarang : Tanjung Pinang
Tanggal operasi : 21 Mei 2014
Gol darah :O

II. RIWAYAT PENYAKIT


A. Keluhan Utama
Os dijadwalkan menjalani removal radius ulna sinistra
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Tn. T datang ke RS TNI AL setelah dirujuk dari RSUD Tanjung Pinang pada
tanggal 14 mei 2013 stelah mengalami kecelakaan lalu lintas jam 05.30. Dengan
keadaan pingsan (+), muntah (+), multiple fraktur kaki dan tangan, nyeri (+).
Dokter di RSUD mendiagnosa open fractur femur dextra at sinistra, fraktur distal
medius dextra, fraktur dextra radius ulna sinistra. GCS E3V5M6. Os masuk ICU
pada tanggal 14 mei 2013 jam 20.00 dalam keadaan sadar.

1
Pemeriksaan lab didapatkan :
 HB : 13
 Leukosit : 38.000
 Eritrosit : 4,2
 Trombosit : 293.000
 Bliiding time : 90 detik
 Clothing time : 3,5 menit
 GDS : 176

C. Riwayat Penyakit Dahulu


(-)

D. Riwayat Penyakit Keluarga


(-)

E. Riwayat Alergi
Alergi makanan (-), alergi obat-obatan (-), alergi cuaca (-), alergo iklim (-)

F. Riwayat Pengobatan
Os menjalani beberapa operasi
Operasi 1 : Tanggal 15 Mei 2013 operasi femur
Operasi 2 : Tanggal 20 Mei 2013 operasi radius ulna
Operasi 3 : Tanggal 03 Juni 2013 operasi femur dextra
Operasi 4 : Tanggal 26 Juni 2013 operasi deberidement femur sinistra
Operasi 5 : Tanggal 9 Juli 2013 operasi deberidement femur
Operasi 6 : Tanggal 12 Juli 2013 operasi deberidement femur
Operasi 7 : Tanggal 21 Agustus 2013 operasi femur ( removal orif bone graf
dextra)
Tanggal 20 Mei 2014
Persiapan pasien preoperasi
A : Clear
B : Spontan, RR 14 x/menit, Reguler, Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/-
C : TD = 110/90 mmHg, N = 75x/menit, Reguler, Akral = Hangat
D : GCS E4V5M6
Status lokalis : Regio antebrachii sinistra tampak bekas jahitan, deformitas (-), nyeri
(-), krepitasi (-)
Pemeriksaan penunjang :
Laboratorium : - Hb : 15,0
- Leukosit : 13.400
- LED :2
- Trombosit : 325.000
- Hematokrit : 45
- Blooding Time : 2 menit
- Clothing Time : 9 menit
- GDS : 82
Kesimpulan : ASA I
Rencana operasi : dengan General Anestesi (Face Mask) tanggal 21 Mei 2014
Tahap premedikasi :- Puasa 6 jam preoperasi
- Terpasang infus dengan jarum abbocket nomor 20,
cairan infus Ringer Laktat 20 tetes/menit.
- Ondansentron 4mg intravena
- Ottozole 40 mg intravena
- Sedacum 5 mg intravena pelan
- Oksigen via nasal
Tahap Induksi : - Fentanyl 100 µg
- Propofol 100 mg

3
- Oksigen 5 L/menit via face mask pasang guedel
Tahap maintenance : - Face mask no. 5.0
- Gas anestesi : sevofluran
- Perbandingan N2O : O2 : Sevofluran = 2 : 3 : 2
Tahap pengakhiran :- Kiira-kira 5 menit setelah operasi , agen anestesi
dihentikan.
- Oksigen tetap terpasang dengan volume 5 L/menit
- Ketrolac 30 mg intravena

Ringkasan keluar ruang operasi :


- Tekanan Darah : 116/71 mmHg
- Nadi : 68 x/menit
- Respirasi : Spontan, 14 x/menit
- Kesadaran : Mengantuk
-
Ruang Pemulihan (Recovery Room)
Keadaan Umum :
Kesadaran : Somnolen/mengantuk
Tekanan Darah : 116/78 mmhg
Nadi : 69x permenit
Suhu :37o C
Saturasi Oksigen : 100%
Respirasi : 14x permenit
3. Jalan Nafas : Melalui nasal tanpa alat bantu
4. Skoring Aldrete
(15 menit pertama)
Aktivitas : 2 (Gerak ke 4 anggota geraknya sendiri atau dengan
perintah)
Respirasi : 2 (Bisa bernafas dalam dan batuk)
Sirkulasi : 2 (Perubahan <20% dari tekanan darah sebelum operasi)
Kesadaran : 1 (Dapat dibangunkan)
Warna kulit : 2 (Merah)
Total : 9 (>7 dapat keluar dari RR)
5. Ringkasan Keluar RR
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan Darah : 122/78 mmhg
Nadi : 75x permenit
Suhu :37o C
Saturasi Oksigen : 100%
Respirasi : 14x permenit

Pembahasan Medikasi
Ondansentron
Kategori farmakologi : Antiemetik, selektif 5-HT3-reseptor antagonis
Penggunaan :
Pencegahan dan pengobatan mual dan muntah setelah operasi. Selektif 5-
HT3-reseptor antagonis, menghambat serotonin, secara periferal pada saraf vagal
terminalis dan secara sentral di chemoreceptor trigger zone (CTZ).
Perhatian :
Ondansetron harus digunakan sesuai jadwal, bukan “bila diperlukan”, karena
berdasarkan data pendukung penggunaan obat ini hanya dalam pencegahan mual
dan muntah (karena terapi antineoplastik) dan bukan dalam penyembuhan mual
dan muntah.

5
Farmakodinamik/kinetik :
Waktu mula kerja : 30 menit
Absorbsi : oral : 100%; non linear absorbsi terjadi dengan
peningkatan dosis oral.
Pengikatan protein : plasma : 70-76%
Metabolisme : secara luas di hati melalui hidroksilasi, diikuti oleh
konjugasi glukuronid atau sulfat.
Bioavailabilitas : oral : 50-70% karena metabolisme awal yang
signifikan
Waktu paruh : Dewasa : 4-5 jam
Eliminasi : dalam urin dan feses diperoleh <5% obat induk yang
tidak diubah dalam urin.

Dosis : 4 mg intravena lambat tidak kurang dari 30 detik (sebaiknya 2-5 menit). 2

Efek samping :
Syok, syok anafilaksis dan gejala anafilaktoid, serangan epileptiform, sakit kepala

Pantorazole (Ottozole )
Pantoprazole merupakan benzonidazole yang menghambat sekresi asam
hydrochloride dalam lambung melalui efek khusus pada “proton pump” dari sel
parietal. Obat ini dikonversi kedalam bentuk aktifnya dalam lingkungan asam pada
sel parietal, dimana ia menghambat enzym H+, K+, ATPase, yaitu tahap akhir dari
produksi asam hydrochloride didalam lambung. Obat ini juga mengurangi keasaman
dari asam lambung, sehingga meningkatkan gastrin secara proporsional dengan
pengurangan asamnya. Karena obat ini terikat pada enzym distal dari tingkat sel
reseptor, zat ini dapat mempengaruhi sekresi asam hydrochloride secara
independen dari rangsangan obat lain.
Indikasi
1. Ulkus ventrikuli
2. Ulkus duodenum
3. Reflux oesophagitis sedang dan berat
4. Pemberian i.v. dilakukam hanya jika pemberian oral tidak cocok atau sulit,
untuk jangka pendek.
Dosis
Dosis intravena yang dianjurkan adalah vial (40 mg)/ hari
Obat ini tersedia dalam bentuk puder dan dilarutkan dengan NaCl fisiologis
10 ml. larutan ini dicampurkan kedalam 100 ml NaCl 0,9% atau Dextrose 5-10%
kemudian abru diberikan. Waktu paruh obat ini kira-kira 1 jam.
Obat ini diberikan dalam waktu 2-15 menit, dan sediaan ini harus segera
dipakai dalam jangka waktu 3 jam setelah pencampuran. Pengobatan dengan obat
ini tidak boleh melebihi 8 minggu.

Efek samping
Rasa sakit kepala atau diare

Kontraindikasi
Pasien hipersensitif terhadap obat ini

Midazolam (Sedacum)

Midazolam adalah obat induksi tidur jangka pendek dan untuk premedikasi,
induksi dan pemeliharaan anastesi

7
Farmakologi
a. Terhadap sarap pusat dan medulla spinalis
Mempunyai hasiat sedasi dan anti cemas yang berkerja pada system
limbic dan pada ARAS serta bisa menimbulkan amnesia anterograd. Pada
dosis kecil bersifat sedative, sedangkan dosis tinggi sebagai hipnotik.
b. Terhadap respirasi
Pada dosis keci (0,2 mg/kg BB) yang diberikan secara intravena,
menimbulkan defresi ringan yang tidak serius, bila dikombinasikan dengan
narkotik menimbulkan depresi nafas yang lebih berat.
c. Terhadap kardiovaskular
Pada dosis kecil, pengaruhnya keil sekali pada kontraksi maupun
denyut jantung, akan tetapi pada dosisi besar menimbulkan hipotensi yang
disebabkan oleh efek dilatasi pembuluh darah
d. Terhadap saraf-oto
Menimbulkan penurunan tonus otot rangka yang bekerja ditingkat
supra spinal dan spinal, sehingga sering digunakan pada pasien yang
menderita kekakuan otot rangka seperti pada tetanus.

Farmakolodinamik
Midazolam bekerja cepat karena transformasi metaboliknya cepat dan lama
kerjanya singkat. Midazolam bekerja kuat menimbulkan sedasi dan induksi tidur.
Terlihat juga efek ansiolitik, antikonvulsan dan relaksasi otot. Setelah pemberian
intravena atau intramuskuler terjadi amnesia anterograde dalam waktu singkat
(pasien tidak bias menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi selama komponen
tersebut berada dalam kegiatan puncaknya).

Farmakokinetik
Konsentrasi plasma maksimum dicapai dalam 30 menit
Biovabilitas lebih dari 90%
1. Distribusi
Bila midazolam diberikan secra intravena, kurva waktu kadar plasma
menunjukan dua fase distribusi. Volume distribusi dihitung pada kondisi
keadaan mantap adalah 50-60 L. studi menunjukan, ikatan plasma protein
midazolam 96-98 %.
2. Metabolisme
Midazola dimetabolisme dalam tubuh hampir sempurna. Metabolit
utama adalah alpa hydroxmidazolam yang dapat diamati dalam plasma.
Fraksi ini dieksresi melalu hati sebanyak 40-50%.
3. Eliminasi
Pada orang sehat, waktu paro eliminasi antara 1,5-3 jam. Plasma
antara 300-500 ml/menit. Bila midazolam diberikan melalui infuse intravena,
kinetika eliminasinya tidak berada dengan penyuntikan secara bolus. Waktu
paro eliminasi dari metabolit utama alpha hydroxymidazolam, lebih pendek
dari zat induknya. Setelah pembentukannya, alpha hydroxy-midazolam
segera terikat dengan asam glukuronat (tidak aktif) dan 50-70% dari dosis
kemudian dieliminasi melalui ginjal.

INDIKASI
1. Premedikasi sebelum induksi anastesi (intramuskuler)
2. Sedasi basal sebelum tindakan diagnosis atau pembedahan dilakukan
memalui anastesi local ( suntikan intravena).
3. Induksi dan conscious anesthesia. Sebagai obat induksi pada anastesi inhalasi
atau suatu komponen penginduksi tidur dalam kombinasi anastesi, termasuk
total anstesi intravena.

9
Dosis dan pemakaian
Onset : 2 menit
Durasi : 1 jam

Intruksi dosis khusus


Midazolam dapat dilakukan pengenceran dalam cairan infus
Larutan infus yang dapat digunakan : NaCl 0,9%, Doxtrose 5 dan 10%, Levulose 5%,
Ringer’s dan larutan hartmann. Campuran ini stabil secara fisik dan kimia selama 24
jam pada suhu kamar atau 3 hari pada suhu 5oC.

KONTRAINDIKASI
Midazolam dikontraindikasikan pada pasien-pasien dengan hipersensitif
terhadap benzodiasepin., insufisiensi paru-paru akut, dan defresi pernapasan.

EFEK SAMPING
Perubahan tekanan darah arteri denyut nadi dan pernafasan, umumnya hanya
sedikit biasannya penurunan tekanan darah sistolik maksimum 15% sedangkan
denyut nadi meningkat secara simultan sesuai dengan besarnya penurunan tekanan
darah. Efek kardio-respirasi yang berat jarang terjadi. Tetapi pada pasien usia lanjut
atau lemah dan pasien dengan gangguan pernafasan dan fungsi jantung hal ini bisa
terjadi. Dalam kasus yang terpisah pernah dilaporkan terjadinya reaksi anaphylaktik
pada pasien yang hipersensitif. Kadang-kadang terjadi rasa pusing, sakit kepala,
ruam merah pada kulit, gatal-gatal.

Interaksi obat
Pemberian bersama-sama dengan simetidin (bukan ranitidine) telah
dilaporkan menurunkan bersihan midazolam. Midazolam meningkatkan efek sedatif
sentral dari obat neuroleptik, tranquilizer, antidepresan, obat-obat penginduksi
tidur, analgetik dan anastesi. Dalam hal tertentu potensiasi alcohol dan midazolam
dapat menimbulkan reaksi yang tidak diduga (dilarang minum yang mengandung
alcohol paling sedikit 12 jam setalah mendapatkan midazolam secara intravena).
Over dosis yang berat dapat menyebabkan koma, depresi kardio-respirasi dan
apnoea, membutuhkan penanganan yang tepat (ventilasi dan bantuan
kardiovaskuler). Efek yang berlebihan dapat dikontrol dengan baik dengan antagonis
benzodiasepin (anexate, zat aktif flumazenil).

Fentanyl
Merupakan obat narkotik sintetik yang paling banyak digunakan dalam
praktik anestesiologi. Mempunyai potensi 1000 kali lebih kuat dibandingkan dengan
petidin dan 50–100 kali lebih kuat dari morfin.Mulai kerjanya cepat dan masa
kerjanya pendek.

Indikasi
1. Sebagai suplemen narkotik-analgesik dalam anestesi umum atau anestesi
regional.
2. Pemberian bersama obat neuroleptic seperti droperidol untuk premedikasi
anestesi sebelum induksi anestesi dan sebagi tambahan dalam maintenance
anestesi umum atau anestesi regional.
3. Untuk neuroleptic analgesia bersama oxygen dalam kasus khusus pasien
resiko tinggi yang menjalani bedah mayor.

Kontraindikasi
Fentanyl jangan diberikan kepada pasien yang diketahui tidak toleran
terhadap efek obat ini maupun obat-obat golongan morfin atau komponennya,
seperti pethidine.

11
Cara Pemberian dan Dosis
Efek dari dosis awal yang diberikan harus diperhatikan untuk menentukan
besarnya dosis ulangan. Untuk mencegah terjadinya bradikardi dianjurkan untuk
memberikan obat antikolinergik dosis rendah secara intavena sesaat sebelum
induksi anestesi.
Pemakaian Untuk Analgesik Tambahan Pada Anestesi Umum
 Dosis rendah : 2 µg/kgBB
Fentanyl dengan dosis rendah sangat bermanfaat dalam bedah minor tapi
menimbukan rasa sakit.
 Dosis sedang : 2–20 µg/kgBB
Makin sulit pembedahannya, dibutuhkan dosis yang lebih besar.Lama
Kerjanya tergantung dari besarnya dosis yang diberikan.
 Dosis tinggi : 20–50 µg/kgBB
Dalam pembedahan yang besar, dimana waktu pembedahannya berlangsung
lama, dimana respon terhadap stress harus dihilangkan, dosis 20–50 µg/kgBB
bersama dengan N2O – O2 telah memberikan hasil yang memuaskan. Bila dosis
seperti ini sudah diberikan selama pembedahan, pengamatannya yang cermat pada
pernafasan harus dilakukan pada masa pasca bedah untuk melihat adanya efek
depresi pernafasan yang berlanjut sampai pada masa pasca bedah. Dosis tambahan
sebesar 25–250 µg(0,5 – 5 ml) harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan
diperhitungkan berapa lama lagi pembedahan itu akan berakhir.
 Untuk analgesia, 1-2 µg/kgBB, diberikan intramuscular
 Untuk induksi anestesia, 100-200 µg/kgBB intravena
 Untuk suplemen analgesia, 1-2 µg/kgBB intravena
Pemakaian Untuk Obat Anestesi
Jika respon pasien terhadap stimulasi bedah itu diharapkan benar-benar
diperkecil, maka dosis 50-100 µg/kgBB dapat diberikan bersama dengan pemberian
O2 dan obat pelemas otot.
Teknik anestesi ini dilakukan tanpa memberikan obat anestesi tambahan.
Dalam kasus tertentu, dosis sampai 150 µg/kgBB dapat diberikan dalam teknik
anestesi ini.

Efek Farmakologi
- Terhadap Susunan Saraf Pusat
Seperti halnya preparat opioid yang lain, Fentanyl bersifat depresan
terhadap susunan saraf pusat sehingga menurunkan kesadaran pasien.
Pada dosis lazim, kesadaran pasien menurun dan khasiat analgetiknya
sangat kuat. Pada dosis tinggi akan terjadi depresi pusat nafas dan
kesadaran pasien menurun sampai koma.
- Tehadap Sistem Respirasi
Menimbulkan depresi pusat nafas. Pada dosis 1-1 µg/kgBB,
menimbulkan depresi frekuensi nafas, sedangkan dosis diatas 3 µg/kgBB,
menimbulkan depresi frekuensi dan volume nafas.
- Terhadap Sistem Kardiovaskular
Sistem kardiovaskular tidak mengalami perubahan baik kontraktilitas
otot jantung maupun tonus otot pembuluh darah.
- Terhadap Sistem Endokrin
Fentanyl mampu menekan respon sistem hormonal dan metabolik
akibat stress anestesia dan pembedahan, sehingga kadar hormon katabolik
dalam darah relatif stabil.

Metabolisme dan Ekskresinya


Dimetabolisme di dalam hati menjadi norfentanil dan hidroksipropionil fentanil
dan hidroksipropionil fentanil, selanjutnya dibuang lewat empedu dan urin.

13
Farmakodinamik
Fentanil adalah analgesik narkotik yang poten, bisa digunakan sebagai
tambahan untuk general anastesi maupun sebagai awalan anastetik. Fentanil
menyediakan stabilitas jantung dan stress yang berhubungan dengan hormonal,
yang berubah pada dosis tinggi. Fentanil memiliki kerja cepat dan efek durasi kerja
kurang lebih 30 menit setelah dosis tunggal IV 100mg. Fentanil bergantung dari
dosis dan kecepatanpemberian bisa menyebabkan rigiditas otot, euforia, miosis dan
bradikardi. Seluruh efek dari kerja fentanil secara cepat dan secara penuh teratasi
dan hilang dengan menggunakan narkotik antagonis seperti Naloxone.

Farmakokinetik
Sebagai dosis tunggal, fentanil memiliki onset kerja yang cepat dan durasi
yang lebih singkat dibanding morfin. Disamping itu juga terdapat jeda waktu
tersendiri antara konsentrasi puncak fentanil plasma, dan konsentrasi puncak dari
melambatnya EEG. Jeda waktu ini memberi efek waktu Equilibration antara darah
dan otak selama 6,4 menit. Semakin tinggi potensi dan onset yang lebih cepat
mengakibatkan Lipid solubility meningkat lebih baik daripada morfin, yang
memudahkan perjalanan obat menuju sawar darah otak.
Dikarenakan durasi dan kerja dosis tunggal fentanil yang cepat, mengakibatkan
distribusi ke jaringan yang tidak aktif menjadi lebih cepat pula, seperti jaringan
lemak dan otot skelet, dan ini menjadi dasar penurunan konsentrasi obat dalam
plasma. Paru –paru memiliki tempat penyimpanan tidak aktif yang cukup besar,
dengan estimasi 75% dari dosis awal fentanil yang di uptake disini. Fungsi non
respiratory dari paru ini yang membatasi jumlah obat yang masuk ke sirkulasi
sistemik dan memegang peranan utama dari penentuan farmakokinetik dari
fentanil. Bila dosis berulang IV berulang atau melalui infus yang terus menerus dari
fentanil dilakukan, saturasi yang progesif dari jaringan yang tidak aktif ini terjadi.
Propofol
Merupakan derivat fenol dengan nama kimia di-iso profil fenol yang banyak
dipakai sebagai obat anatesi intravena.
Sifat fisik dan kimia serta kemasan : Berupa cairan berwarna putih seperti
susu. Tidak larut dalam air dan bersifat asam. Dikemas dalam bentuk ampul, berisi
20 ml/ampul, yang mengandung 10 mg/ml.

Efek farmakologi :
- Terhadap sususnan saraf pusat
Sebagai obat induksi, mulai kerja cepat. Penurunan kesadaran segera
terjadi setelah pemberian obat ini secara intravena. Pada pemberian dosis
induksi (2mg/kgBB), pemulihan kesadaran berlangsung cepat, pasien akan
bangun setelah 4-5 menit tanpa disertai efek samping seperti misalnya :
mual, mutah, sakit kepala, dll.
Khasiat farmakolognya adalah hipnotik murni, tidak mempunyai efek
analgetik maupun relaksasi otot. Walaupun terjadinya penurunan tonus otot
rangka, hal ini disebabkan karena efek sentralnya.
- Terhadap sistem respirasi
Menimbulkan depresi respirasi yang eratnya sesuai dengan dosis
yang diberikan. Pada beberapa pasien, bisa disertai dengan henti nafas
sesaat. Dibandingkan dengan tiofenton, terjadinya henti nafas lebih sering
terjadi pada pemberian diprivan ini.
- Terhadap sistem kardiovaskular
Depresi pada sistem kardiovaskular yang timbulnya sesuai dengan
dosis yang diberikan. Tekanan darah turun yang segera diikuti dengan
kompensasi peningkatan denyut nadi.
- Terhadap sistem organ lain-lain

15
Tidak menimbulkan depresi sintesa hormon steroid adrenal dan tidak
menimbulkan pelepasan histamin baik pada tempat suntikan maupun
sistemik.
Penggunaan klinik dan dosis
1. Induksi anestesia, dosisnya 2,0-2,5 mg /kgBB. Pada lansia dan bayi dosisnya
harus disesuaikan.
2. Suplemen anestesia umum dan analgesia regional.
3. Anestesia tunggal pada prosedur singkat, misal : reposisi.
4. Sedasi di Unit Terapi Intensif
Durasi obat ini antara 30-45 menit.

Sevofluran
Merupakan halogenasi eter, dikemas dalam bentuk cairan, tidak berwarna,
tidak eksplosif, tidak berbau, dan tidak iritatif sehingga baik untuk induksi inhalasi.

Efek farmakologi
- Terhadap sistem saraf pusat
Aliran darah otak sedikit meningkat sehingga sedikit meningkatkan
tekanan intrakranial. Laju metabolisme otak menurun cukup bermakna.
- Terhadap sistem kardiovaskular
Tahanan vaskular dan curah jantung sedikit menurun sehingga tekanan
darah sedikit menurun.
- Terhadap sistem repirasi
sevoflurane juga menimbulkan depresi pernafasan tapi frekuensi nafas
sedikit meningkat.
- Terhadap otot rangka
Efeknya terhadap tonus otot rangka lebih lemah dibandingkan dengan
isofluran.
- Terhadap ginjal
Pada dosis anestesia, efek sevofluran terhadap aliran darah ginjal dan laju
filtrasi glomerulus lebih ringan dibandingkan isofluran. Belum diketahui
dengan pasti efeknya terhadap laju filtrasi gloerulus dan produksi urin.
- Terhadap hati
Aliran darah ke hati sedikit menurun.
- Biotransformasi
Hampir seluruhnya dikeluarkan melalui udara ekspirasi, hanya
sebagian kecil 2-3% dimetabolisme dalam tubuh. Konsentrasi
metabolitnya sangat rendah, tidak cukup untuk menimbulkan gangguan
fungsi ginjal.

Penggunaan klinik
Sama dengan agen volatil yang lain, sevofluran digunakan terutama sebagai
komponen hipnotik dalam pemeliharaan anestesi umum. Disamping efek hipnotik,
juga mempunyai efek analgetik ringan dan relaksasi otot ringan. Sevofluran
dimasukkan ke dalam vaporizer untuk mengubahnya menjadi uap.

Dosis
1. Untuk induksi, konsentrasi yang diberikan pada udara inspirasi adalah 3.0% -
5.0% bersama-sama N2O.
2. Untuk pemeliharaan dengan pola nafas spontan, konsentrasinya berkisar
antara 2.0% - 3%, sedangkan untuk nafas kendali berkisar antara 0.5% - 1.0%

17
Kontra indikasi
Hati-hati pada pasien yang sensitif terhadap “drug induced hyperthermia”,
hipovolemik berat dan hipertensi intrakranial.

Keuntungan dan kelemahan


1. Keuntungan : induksi cepat dan lancar, tidak iritatif terhadap mukosa jalan
nafas.
2. Kelemahan: batas keamanan sempit (mudah terjadi kelebihan dosis),
analgesia dan relaksasinya kurang sehingga harus dikombinasikan dengan
obat lain.

Nitrous Oksida (N2O)


Kemasan dan sifat fisik
N2O dibuat dengan cara memanaskan amonium nitrat dalam retor (sejenis
labu) dari besi sampai suhu 240°C.gas yang dihasilkan ditampung. N 2O merupakan
gas yang tidak berwarna, berbau harum manis, tidak mudah terbakar dan tidak
mudah meledak tetapi membantu proses pembakaran oleh gas lain. Mempunyai
berat molekul 44, tekanan kritis 71,7 atm, suhu kritis 36,5°C, berat jenis 1,5.

Absorbsi, Distribusi dan Eliminasi


Berdasarkan saturasinya di dalam darah, absorbsi N 2O bertahap; pada 5
menit pertama absorbsinya mencapai saturasi 100% dicapai setelah 5 jam. Pada
tingkat saturasi 100% tidak ada lagi absorbsi dari alveoli dan dalam darah. Pada
keadaan ini, konsentrasi N2O dalam darah sebanyak 47 ml N2O dalam 100 ml darah.
Di dalam darah, N2O tidak terikat dengan hemoglobin tetapi larut dalam
plasma dengan kelarutan 15 kali lebih besar dari kelarutan oksigen. N 2O mampu
berdifusi ke dalam semua rongga-rongga dalam tubuh, sehingga bisa menimbulkan
hipoksia-difusi apabila diberikan tanpa kombinasi oksigen.
Efek farmakologi
- Terhadap sistem saraf pusat
Berkhasiat analgesia dan tidak mempunyai khasiat hipnotikum. Khasiat
analgesinya relatif lemah akibat kombinasinya dengan oksigen. Efeknya
terhadap tekanan intrakranial sangat kecil dibandingkan dengan obat
anestesia yang lain. Terhadap susunan saraf otonom, N 2O merangsang
reseptor alfa saraf simpatis, tetapi tahanan perifer pembuluh darah tidak
mengalami perubahan.
- Terhadap sistem organ lain
Sedikit menimbulkan dilatasi pada jantung. Dilaporkan pada
penggunaanya dalam 24 jam bisa menimbulkan depresi fungsi hemato-
poetik. Anemia megaloblastik sebagai salah satu efek samping pemakaian
N2O jangka lama.

Efek samping
1. N2O akan meningkatkan efek depresi nafas dari obat tiopenton terutama
setelah diberikan premedikasi narkotik.
2. Kehilangan pendengaran pasca-anestesia, hal ini disebabkan oleh adanya
perbedaan solubilitas antara N2O dan N2 sehingga terjadi perubahan tekanan
pada rongga telinga tengah
3. Pemanjangan proses pemulihan anestesi akibat difusinya ke tubuh seperti
pneumothoraks
4. Pemakaian jangka panjang menimbulkan depresi sumsum tulang sehingga
bisa menyebabkan anemia aplastik.
5. Mempunyai efek teratogenik pada embrio terutama pada umur embrio 8
hari – 6 minggu, yang dianggap periode kritis

19
6. Hipoksia difusi pasca-anestesia. Hal ini terjadi akibat dari sifat difusinya yang
luas sehingga proses evaluasinya terlambat, Oleh karena itu, pada akhir
anestesia oksigenisasinya harus diperhatikan

DISKUSI
Tn. T berusia 27 tahun menjalani operasi removal radius ulna sinistra pada
tanggal 21 Mei 2014 yang dipasang pada tanggal 20 Mei 2013 setelah mengalami
kecelakaan lalu lintas. Sebelum dilakukan operasi os menjalani persiapan pasien
praoperasi yaitu anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari hasil anamnesa didapatkan
bahwa os tidak mempunyai riwayat alergi obat-obatan, makanan, cuaca, dan iklim.
Os tidak mempunyai riwayat hipertensi, diabetes melitus, dan sesak. Dari hasil
pemeriksaan fisik, os tidak mempunyai kelainan di saluran pernafasan dan tidak
memakai gigi palsu, pernafasan vesikuler dengan Respiratory Rate 14 x/menit,
tekanan darah 110/90 mmHg, nadi 80 x/menit, GCS E4V5M6. Dapat disimpulkan
bahwa status Os adalah ASA 1.
Pada saat sebelum operasi dimulai, diinjeksikan Ondansentron 4 mg
(pencegahan dan pengobatan mual dan muntah setelah operasi) dan Pantoprazole
(Ottozole) 40 mg (mengurangi keasaman dari asam lambung). Pemberian
Ondansentron dan Ottozole dimaksudkan untuk mengurangi kesulitan dalam
operasi berupa aspirasi. Hal ini disebabkan oleh keadaan Os yang dipuasakan selama
± 6 jam, meningkatkan asam lambung yang memungkinkan terjadi aspirasi di saluran
pernafasan. Lima belas menit kemudian diinjeksi obat premedikasi Sedacum 5 mg
(anestesi premedikasi), Fentanyl 100 mg (obat anestesi narkotik). Propofol 100 mg
(hipnotik murni) digunakan sebagai induksi obat anestesi. Tekanan darah menjadi
turun setelah diberikan induksi obat-obat analgesia. Ini disebabkan oleh induksi
propofol yang mempunyai efek sebagai obat induksi, mulai kerjanya cepat yang
mempunyai efek depresi pada sistem kardiovaskular dan mempunyai efek hipnotik
murni sedangkan fentanyl merupakan obat yang mempunyai potensi lebih kuat
sebagai anelgetik dibandingkan petidin dan morfin dengan mulai kerja yang cepat
dan masa kerja yang pendek.
Dalam pemeliharaan anestesi diberikan inhalasi sevofluran (yang memiliki
proses induksi dan pemulihan paling cepat dibandingkan obat anesesi yang lain) dan
N2O (dikombinasikan dengan O2 memberi efek mendalamkan inhalasi sevofluran
dalam pemeliharaan anestesi. Perbandingan pemberian N 2O : O2 : Sevofluran = 2 : 3 :
2.
Os sudah terpasang infus cairan Futrolit 300 cc. Setelah infus cairan Futrolit
habis, digantikan dengan Ringerfundin 250cc. Cairan kristaloid ini diberikan dengan
maksud mengganti elektrolit yang berkurang karena puasa dan hilang selama
operasi.
Setelah operasi selesai obat anestesi inhalasi (sevofluran dan N 2O)
dihentikan, kadar oksigen ditingkatkan yang bertujuan untuk mengurangi efek
anestesi dan memperbaiki saturasi oksigen did dalam tubuh.
Os keluar dari ruang operasi dalam keadaan mengantuk, tekanan darah
116/71 mmHg, Nadi 68x/menit, Respirasi spontas 14 x/menit.
Di dalam ruang pemulihan Os dikontrol tanda-tanda vitalnya; tekanan darah,
nadi, respirasi dan saturasi oksigennya. Setelah 20 menit pasien keluar ruang operasi
karena sudah memenuhi Lockharte Score dengan poin 9 dalam 15 menit pertama.

21
Daftar Pustaka

1. Mangku, Gde dr, Sp.An, KIC, dkk. Ilmu Anestesia dan Reaminasi. 2010.
Jakarta : Indeks Jakarta
2. www.kalbemed.com disadur pada tanggal 29 Mei 2014