Anda di halaman 1dari 2

Cut Nyak Dhien (1850-1908)

Cut Nyak Dhien berasal dari


keluarga bangsawan yang agamis di
Aceh. Pada usianya yang ke-12
tahun dia sudah menjalani bahtera
rumah tangga bersama Teuku
Ibrahim Lamnga.

Kebenciannya pada pasukan kolonial Belanda mulai timbul semenjak Belanda menyerang
Aceh untuk pertama kalinya pada 26 Maret 1873. Kemarahan Cut Nyak Dhien makin tersulut
saat sang suami gugur di medan perang melawan Belanda.

Dia pun bersumpah akan menikah dengan pria yang bersedia membantunya membalaskan
kematian sang suami. Selama menjanda, Cut Nyak Dhien memimpin sendiri pasukannya. Hingga
2 tahun setelah kematian Teuku Ibrahim Lamnga, dia bertemu Teuku Umar yang juga
merupakan pahlawan nasional. Keduanya pun menikah.

Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dhien bergerilya melawan penjajahan Belanda. Hingga
akhirnya Teuku Umar wafat, Cut Nyak Dhien yang harus menjanda 2 kali tetap berjuang.
Menjelang akhir hidupnya, Cut Nyak Dhien dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. 6 November
1908 dia mengembuskan napas terakhirnya di kota itu. 

WHAT: Kisah Pejuangan Cut Nyak Dhien.


WHERE: Aceh.
WHEN: 1850-1908.
WHO: Cut Nyak Dhien, Teuku Umar, Teuku Ibrahim Lamnga.
WHY: Kebenciannya pada pasukan kolonial Belanda mulai timbul semenjak Belanda
menyerang Aceh.
HOW: Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dhien bergerilya melawan penjajahan Belanda .
Cut Nyak Dhien (1850-1908)

Cut Nyak Dhien berasal dari


keluarga bangsawan yang agamis di
Aceh. Pada usianya yang ke-12
tahun dia sudah menjalani bahtera
rumah tangga bersama Teuku
Ibrahim Lamnga.

Kebenciannya pada pasukan kolonial Belanda mulai timbul semenjak Belanda menyerang
Aceh untuk pertama kalinya pada 26 Maret 1873. Kemarahan Cut Nyak Dhien makin tersulut
saat sang suami gugur di medan perang melawan Belanda.

Dia pun bersumpah akan menikah dengan pria yang bersedia membantunya membalaskan
kematian sang suami. Selama menjanda, Cut Nyak Dhien memimpin sendiri pasukannya. Hingga
2 tahun setelah kematian Teuku Ibrahim Lamnga, dia bertemu Teuku Umar yang juga
merupakan pahlawan nasional. Keduanya pun menikah.

Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dhien bergerilya melawan penjajahan Belanda. Hingga
akhirnya Teuku Umar wafat, Cut Nyak Dhien yang harus menjanda 2 kali tetap berjuang.
Menjelang akhir hidupnya, Cut Nyak Dhien dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. 6 November
1908 dia mengembuskan napas terakhirnya di kota itu.