Anda di halaman 1dari 28

GANGGUAN REPRODUKSI

MAKALAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Maternitas yang


Diampu oleh Ns. Devita Elsanti, S.Kep.,M.Sc
oleh :
Mega Klaudia Putri L 1811010071

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2020
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan ke-hadirat Allah SWT, karena atas berkah
rahmat dan karunia-Nyalah, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik tepat
pada waktunya adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas Mata Kuliah Keperawatan Maternitas pada semester IV dengan judul
“Gangguan Reproduksi” Dalam penyelesaian makalah ini, kami banyak
mengalami kesulitan, terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan yang
kami miliki mengenai gangguan reproduksi.
Dengan adanya Makalah ini diharapkan dapat membantu proses
pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan bagi pembaca tentang itu
gangguan reproduksi. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik
dan saran yang bersifat positif, guna penulisan makalah yang lebih baik lagi di
masa yang akan datang. Harapan kami semoga makalah yang sederhana ini dapat
memberi kesadaran tersendiri mengenai Akhlaq yang harus di terapkan dalam
lingkungan keluarga. 

Purwokerto, 23 Maret 2020

Tim Penyusun

II
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 3
C. Tujuan 3
BAB II PEMBAHASAN 4
A. Gangguan Reproduksi Pria 4
B. Gangguan Reproduksi wanita 9
C. Asuhan Keperawatan 15
BAB III PENUTUP 23
A. Kesimpulan 23
B. Saran 23
DAFTAR PUSTAKA 24

III
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Makhluk hidup memiliki ciri di antaranya dapat berkembang biak, begitu
juga dengan manusia. Manusia hanya mengalami reproduksi secara kawin
(seksual/generatif). Laki-laki dan perempuan memiliki sistem reproduksi
yang berbeda sesuai dengan fungsinya.
Proses reproduksi pada manusia membutuhkan sperma dan ovum. Sperma
merupakan sel kelamin manusia yang dihasilkan oleh laki-laki.Adapun Ovum
merupakan sel kelamin manusia yang dihasilkan oleh perempuan.
Organ reproduksi laki-laki terdiri atas testis, saluran pengeluaran, dan penis.
Testis berfungsi sebagai penghasil sperma. Proses pembentukan sperma
disebut spermatogenesis. Testis berjumlah sepasang dan terletak pada
kantong yang disebut skortum.
Saluran pengeluaran terdiri atas epididimis, vas deferens, dan uretra.
Epididimis merupakan saluran yang berkelak-kelok, tempat pematangan dan
penyimpanan sementara sperma.
Dari epididimis, sperma mengalir menuju penis melalui vas deferens dan
uretra. Penis merupakan alat kelamin luar pada laki-laki. Penis berfungsi
untuk memasukkan sperma pada saluran kelamin wanita. Penis juga
merupakan muara dari saluran kencing.
Organ reproduksi pada wanita terdiri atas ovarium, tuba fallopi, uterus dan
vagina. Ovarium terletak di bawah perut, dan berfungsi sebagai tempat
produksi ovum (Sel Telur). Tuba Fallopi (saluran telur atau oviduk)
berbentuk seperti pipa dan ujungnya berbentuk corong dengan rumbai-
rumbai. Rumbai ini berfungsi untuk menangkap ovum yang dilepaskan
ovarium. Uterus atau rahim merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya
janin. Vagina merupakan tempat keluarnya bayi saat dilahirkan.

1
Proses reproduksi pada manusia diawali dengan pembentukan sel kelamin
pada laki-laki dan perempuan. Pembentukan sel kelamin pada laki-laki
(sperma) disebut spermatogenesis.
Spermatogenesis terjadi pada testis. Pada testis terdapat sel induk sperma
(spermatogonia) yang secara berurutan akan membelah menjadi spermatosit
primer, spermatosit sekunder, spermatid, dan terbentuklah sperma. Seorang
laki-laki dapat menghasilkan sperma sepanjang hidupnya selama dia sehat.
Setiap hari, sperma yang dihasilkan sekitar 300 juta, namun hanya satu
sperma saja yang dapat membuahi ovum.
Pembentukan sel kelamin (sel telur/ ovum) pada perempuan disebut
oogenesis. Oogenesis terjadi pada ovarium. Pada ovarium terdapat sel induk
ovum (oogonium) yang secara berurutan akan membelah menjadi oosit
primer, oosit sekunder, ootid, dan terbentuklah ovum. Ovum yang siap
dibuahi akan keluar dari ovarium.
Peristiwa pelepasan ovum dari ovarium disebut ovulasi. Saat ovum tidak
dibuahi, ovum akan mati dan terjadi menstruasi. Siklus menstruasi pada
perempuan umumnya memiliki jarak 28 hari. Pembentukan ovum pada
wanita terjadi pada umur antara sekitar 13 sampai 45 tahun.
Proses kehamilan akan terjadi jika ovum dibuahi oleh sperma. Peristiwa
pembuahan ovum oleh sperma disebut fertilisasi. Fertilisasi terjadi pada tuba
Fallopi. Sel telur yang telah dibuahi disebut zigot. Zigot bergerak menuju
rahim. Dalam perjalanannya menuju rahim, zigot membelah berulang kali
membentuk embrio. Selanjutnya, embrio akan menempel pada dinding rahim.
Embrio akan tumbuh dan berkembang di dalam rahim membentuk janin.
Janin akan keluar sebagai bayi setelah sekitar 9 bulan berada di dalam rahim.
Penyakit pada sistem reproduksi biasa disebabkan oleh jamur, bakteri atau
virus. Bakteri dapat menyebabkan beberapa gangguan pada organ reproduksi
terutama organ reproduksi pada wanita. Keputihan dengan warna hijau dan
bau merupakan salah satu gangguan yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri

2
juga dapat menyebabkan gangguan lebih lanjut berupa kista bahkan hingga
menimbulkan kanker rahim.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi gangguan sistem reproduksi ?
2. Apa tanda dan gejala gangguan sistem reproduksi ?
3. Apa penyebab dari gangguan sistem reproduksi ?
4. Bagaimana asuhan keperawatan pada kasus gangguan sistem reproduksi ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi gangguan sistem reproduksi
2. Untuk mengetahui tanda dan gejala gangguan sistem reproduksi
3. Untuk mengetahui penyebab dari gangguan sistem reproduksi
4. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada kasus gangguan sistem
reproduksi

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Gangguan Sistem Reproduksi Pria

Gangguan yang terjadi pada alat/organ reproduksi laki- laki akan


menyebabkan terjadinya gangguan pada sperma. Gangguan ini menyebabkan
seorang laki- laki menjadi kurang subur bahkan bisa tidak subur, gangguan
sperma tersebut biasanya terjadi pada ;

1. produksi spermanya
2. bentuk spermanya;
3. faal spermanya;
4. fungsi spermanya ;
5. transportasi spermanya.

Selain itu juga masih ada gangguan sperma yang tidak diketahui
penyebabnya, dan ini semua akan menyebabkan tidak baiknya kualitas dan
kuantitas sperma,. Masalah gangguan reproduksi pada pria ini disebabkan oleh
hal-hal berikut ini.

a. Prostatitis

Prostatitis adalah istilah umum yang digunakan untuk


menggambarkan peradangan (-itis) prostate. Hipertropi prostat adalah
pertumbuhan yang progresif dan kelenjar prostat sebagai akibat dan proses
penuaan pembesaran prostat ini dapat mengakibatkan obstruksi saluran
kemih.

Benigna prostat hipertropi adalah tumor jinak dan kelenjar prostat


bagian paling dalam (medial prostat) membesar oleh karena pembesaran ke
arah tepi-tepi menimbulkan penyempitan uretra. Pembesaran tersebut dapat
menyebabkan dorongan sampai ke arah basis vesika urinaria.

Tanda/Gejala-Gejala Dari Prostatitis

1. Kesulitan-kesulitan dengan ejakulasi.

4
2. Disfungsi ereksi.
3. Biasanya ada urgensi.
4. Frekuensi dari membuang air kecil.
5. Dysuria (kencing yang menyakitkan atau sulit).
6. Demam.

Penyebab dari Prostatitis

Prostatitis adalah infeksi dari prostate yang seringkali disebabkan


oleh beberapa dari bakteri-bakteri yang menyebabkan infeksi-infeksi
kantong kemih. Ini termasuk E. coli, Klebsiella, dan Proteus.

Penyebab secara pasti pada hipertropi prostat benigna belum jelas


tetapi ada dugaan oleh faktor penuaan atau bertambahnya usia (> 50 tahun)
akan terjadi perubahan keseimbangan testosteron karena produksi
testosteron menurun dan terjadi konveksi testosteron menjadi esterogen
pada jaringan adipose di perifer.

b. Epididimitis

Epididimitis adalah suatu kondisi medis yang dalam hal ini terdapat
peradangan pada epididimis (suatu struktur melengkung di bagian belakang
testis tempat penyimpanan sperma yang sudah dewasa ).

Tanda dan gejala dari Epididymitis

1. Epididimitis biasanya menimbulkan rasa sakit yang menyerang secara


bertahap seperti nyeri pada testis atau epididimis.
2. Testis mungkin menjadi hangat dan / atau merah.
3. Darah di dalam air mani (hemospermia)
4. Demam
5. Ejakulasi yang menyakitkan
6. Nyeri pada testis

5
Penyebab dari Epididimitis

Penyebab paling umum epididimitis adalah infeksi. Pada pria yang


aktif secara seksual (sering berganti-ganti pasangan seksual), Chlamydia
trachomatis adalah mikroba penyebab yang paling sering, diikuti oleh E.
coli dan Neisseria gonorrhoeae.

c. Hipogonadisme

Hipogonadisme adalah kondisi pada pria dimana testis tidak dapat


memproduksi hormon testosteron yang memadai. Hipogonadisme bisa
dialami sejak janin berkembang di perut, sebelum masa puber, atau saat
dewasa.

Hipogonadisme dibagi menjadi dua jenis, yaitu hipogonadisme


primer dan hipogonadisme sekunder. Pada hipogonadisme primer testis
mengalami kelainan, kadar testoteron rendah disertai meningkatnya hormon
gonadotropik. Kondisi ini disebut dengan hipogonadotropik-hipogonadisme.

Sementara pada hipogonadisme sekunder, kelenjar hipofisis di otak


yang mengalami gangguan. Pada kasus ini kadar hormon testosteron dan
hormon gonadotropik berada pada tingkat yang rendah. Kondisi ini disebut
hipogonadisme-hipogonadotropik.

Tanda dan gejala dari Hipogonadisme

Hipogonadisme yang terjadi selama perkembangan janin :

1) Pada pria alat kelaminnya berbentuk kurang sempurna.


2) Alat kelamin tidak jelas antara wanita atau pria.

Hipogonadisme yang terjadi saat puber :

a) Suara kurang mendalam


b) Massa otot menurun
c) Pertumbuhan penis dan testikel terganggu

Hipogonadisme yang terjadi saat dewasa :

6
1) Mandul
2) Disfungsi ereksi
3) Kelelahan
4) Penurunan gairah seksual

Penyebab Hipogonadisme

1. Infeksi pada testis


2. Trauma pada testis akibat dikebiri atau kecelakaan
3. Sindrom Klinefelter
4. Pengobatan kanker
5. Radang buah zakar
6. Hemokromatosis
7. Sindrom Kallman
8. HIV/AIDS
9. Penuaan
10. Obesitas
d. Impotensi

Impotensi adalah suatu gangguan seksual yang ditandai dengan


gejala ketidakmampuan penderita dalam mempertahankan tingkat ereksi
penis untuk berlangsungnya hubungan sex suami istri. Pria impotensi tidak
dapat mempertahankan penis dari awal kegiatan hubungan seks suami istri
sampai selesai.

Tingkat impotensi sangat bervariasi mulai dari ringan sampai berat,


dikalangan medis lebih dikenal dengan Disfungsi Ereksi (DE), sedangkan
impotensi adalah tingkat gangguan yang sangat berat, artinya hampir tak
mempunyai kemampuan sama sekali untuk ereksi.

Tanda dan Gejala dari Impotensi

Impotensi merupakan penyakit yang sangat personal dan hanya


bisa dirasakan oleh penderita bersama pasangannya saat melakukan
hubungan seksual. Oleh karena itu, gejala-gejala akan terjadinya impotensi

7
pun biasanya tidak diketahui. Kecuali, yang bersangkutan memeriksakan
diri ke dokter. Dari anamnesis (wawancara terstruktur) dan pemeriksaan
fisik yang dilakukan dokter akan dapat diketahui adanya tanda dan gejala
impotensi.

Penyebab Impotensi

Impotensi dilihat dari penyebabnya dapat dikategorikan dalam


beberapa kategori berikut :

1. Impotensi Organik.

Impotensi organik disebut juga impotensi esensial adalah suatu kondisi


dimana penis penderita tidak pernah memiliki kemampuan berereksi.

2. Impotensi Fungsional.

Impotensi fungsional disebabkan karena faktor-faktor patologis atau


penyakit seperti: komplikasi suatu penyakit (diabetes), pemakaian obat-
obatan yang salah, pemakaian alkohol yang berlebihan atau juga sebagai
akibat kegiatan merokok yang sangat kronis.

3. Impotensi Psikis.

Merupakan jenis impotensi yang paling sering ditemukan, penyebabnya


adalah hal yang bersifat kejiwaan seperti: gangguan emosional, stress,
perasaan jengkel pada pasangan, rendah diri, merasa disepelekan, bosan
dengan rutinitas, perasaan takut, was-was, dan lain-lain.

Tanda dan Gejala dari Impotensi

Impotensi merupakan penyakit yang sangat personal dan hanya


bisa dirasakan oleh penderita bersama pasangannya saat melakukan
hubungan seksual. Oleh karena itu, gejala-gejala akan terjadinya impotensi
pun biasanya tidak diketahui. Kecuali, yang bersangkutan memeriksakan

8
diri ke dokter. Dari anamnesis (wawancara terstruktur) dan pemeriksaan
fisik yang dilakukan dokter akan dapat diketahui adanya tanda dan gejala
impotensi.

B. Gangguan Sistem Reproduksi Wanita


1. Kanker serviks

Kanker serviks adalah keadaan dimana sel-sel abnormal tumbuh di


seluruh lapisan epitel serviks. Penanganannya dilakukan dengan
mengangkat uterus, oviduk, ovarium, sepertiga bagian atas vagina dan
kelenjar limfe panggul.

Kanker servik adalah pertumbuhan sel bersifat abnormal yang


terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang
merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus)
dengan liang senggama (vagina) (Riono, 1999).

Kanker serviks ataupun lebih dikenali sebagai kanker leher rahim


adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim /serviks yang
merupakan bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina.
Pada penderita kanker serviks terdapat sekelompok jaringan yang tumbuh
secara terus- menerus yang tidak terbatas, tidak terkoordinasi dan tidak
berguna bagi tubuh, sehingga jaringan disekitarnya tidak dapat berfungsi
dengan baik (Sarwono, 1996).

Tanda/gejala dari Kanker Serviks.

a. Pendarahan setelah senggama/berhubungan


b. Pendarahan spontan yang terjadi antara periode menstruasi rutin.
c. Timbulnya keputihan yang bercampur dengan darah dan berbau.
d. Nyeri panggul dan gangguan atau bahkan tidak bisa buang air kecil.
e. Nyeri ketika berhubungan seksual.

9
Penyebab Kanker serviks

Penyebab utamanya adalah virus yang disebut Human Papilloma


(HPV) yang dapat menyebabkan kanker.

2. Vaginitis

Vaginitis adalah infeksi pada vagina yang disebabkan oleh berbagai


bakteri, parasit atau jamur (Manuaba,2001). Vaginitis adalah infeksi yang
terjadi pada vagina terjadi secara langsung pada vagina atau melalui
perineum (Wikniosastro 1999).

Tanda dan Gejala

1) Pruritus vulvae
2) Nyeri vagina yang hebat
3) Disuria eksterna dan interna
4) Rash pada vulva
5) Eritematosa
6) Sekret khas seperti keju lembut.
7) Secret banyak dan bau busuk
8) Edema vulva
9) Vagina berbau busuk dan amis
10) Perdarahan pervaginam

Penyebab dari Vaginitis

a. Jamur

Umumnya disebabkan oleh jamur Candida Albicans yang menyebabkan


rasa gatal di sekitar vulva / vagina. Warna cairan keputihan akibat jamur
berwarna putih kekuning-kuningan dengan bau yang khas.

b. Bakteri

Biasanya diakibatkan oleh bakteri Gardnerella dan keputihannya disebut


bacterial vaginosis dengan ciri-ciri cairannya encer dengan warna putih

10
keabu-abuan beraroma amis. Keputihan akibat bakteri biasanya muncul
saat kehamilan, gonta-ganti pasangan, penggunaan alat kb spiral atau iud
dan lain sebagainya.

c. Virus

Keputihan yang diakibatkan oleh virus biasanya bawaan dari penyakit


hiv/aids, Condyloma, herpes dan lain-lain yang bisa memicu munculnya
kanker rahim. Keputihan virus herpes menular dari hubungan seksual
dengan gejala ada luka melepuh di sekeliling liang vagina dengan cairan
gatal dan rasanya panas. Sedangkan Condyloma memiliki ciri gejala ada
banyak kutil tubuh dengan cairan yang bau yang sering menyerang ibu
hamil

d. Parasit

Keputihan akibat parasit diakibatkan oleh parasit Trichomonas Vaginalis


yang menular dari kontak seks / hubungan seks dengan cairan yang
berwarna kuning hijau kental dengan bau tidak enak dan berbusa.
Kadang bisa gatal dan membuat iritasi. Parasit keputihan ini bisa menular
lewat tukar-menukar peralatan mandi, pinjam-meninjam pakaian dalam,
menduduki kloset yang terkontaminasi, dan lain sebagainya.

3. Bartolinitis

Bartolinitis adalah Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis


juga dapat menimbulkan pembengkakan pada alat kelamin luar wanita.
Biasanya, pembengkakan disertai dengan rasa nyeri hebat bahkan sampai
tak bisa berjalan. Juga dapat disertai demam, seiring pembengkakan pada
kelamin yang memerah.

Tanda/Gejala Bartolitis

1) Pada vulva : perubahan warna kulit,membengkak, timbunan nanah dalam


kelenjar, nyeri tekan.
2) Kelenjar bartolin membengkak,terasa nyeri sekali bila penderia berjalan
atau duduk,juga dapat disertai demam

11
3) Kebanyakkan wanita dengan penderita ini dengan keluhan keputihan dan
gatal, rasa sakit saat berhubungan dengan suami, rasa sakit saat buang air
kecil, atau ada benjolan di sekitar alat kelamin.
4) Terdapat abses pada daerah kelamin
5) Pada pemeriksaan fisik ditemukan cairan mukoid berbau dan bercampur
dengan darah.

Penyebab Bartolinitas

a. Virus : Kondiloma Akuminata dan Herpes Simpleks.


b. Jamur : Candida Albicans
c. Protozoa : Amoebiasis dan Trikomoniasis.
d. Bakteri : Neiseria Gonore.
4. Kista Ovarium

Kista ovarium adalah suatu tumor, baik yang kecil maupun yang
besar, kistik atau padat, jinak atau ganas. Dalam kehamilan, tumor ovarium
yang dijumpai yang paling sering ialah kista dermoid, kista coklat atau kista
lutein. Tumor ovarium yang cukup besar dapat menyebabkan kelainan letak
janin dalam rahim atau dapat menghalang-halangi masuknya kepala ke
dalam panggul. Kista ovarium secara fungsional adalah kista yang dapat
bertahan dari pengaruh hormonal dengan siklus menstruasi ( Lowdermilk,
dkk. 2005 : 273).

Kista ovarium merupakan perbesaran sederhana ovarium normal,


folikel de graf atau korpus luteum atau kista ovarium dapat timbul akibat
pertumbuhan dari epithelium ovarium ( Smelzer and Bare. 2002 : 1556 ).

Tanda dan gejala

a. menstruasi yang tidak teratur, disertai nyeri.


b. perasaan penuh dan tertekan diperut bagian bawah.
c. nyeri saat bersenggama.
d. perdarahan.

Pada stadium awal gejalanya dapat berupa:

12
1) Gangguan haid
2) Jika sudah menekan rectum atau VU mungkin terjadi konstipasi atau
sering berkemih.
3) Dapat terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang
menyebabkan nyeri spontan dan sakit diperut.
4) Nyeri saat bersenggama.

Pada stadium lanjut :

a) Asites
b) Penyebaran ke omentum (lemak perut) serta oran organ di dalam rongga
perut (usus dan hati)
c) Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan,
d) Gangguan buang air besar dan kecil.
e) Sesak nafas akibat penumpukan cairan di rongga dada.

Panyebab Kista Ovarium

a. Gaya hidup tidak sehat :


1) Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat
2) Zat tambahan pada makanan
3) Kurang olah raga
4) Terpapar denga polusi dan agen infeksius
5) Sering stress
b. Faktor genetik

Dalam tubuh kita terdapat gen gen yang berpotensi memicu kanker, yaitu
yang disebut protoonkogen, karena suatu sebab tertentu, misalnya karena
makanan yang bersifat karsinogen, polusi, atau terpapar zat kimia
tertentu atau karena radiasi, protoonkogen ini dapat berubah menjadi
onkogen, yaitu gen pemicu kanker.

5. Mioma Uteri

Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot polos dinding
uterus. Beberapa istilah untuk mioma uteri adalah fibromioma,

13
miofibroma,laiomioma, fibroleiomioma, atau uteri fibroid ( Prawihardjo
Sarwono, 2009). Mioma merupakan tumor uterus yang ditemukan pada 20-
25% wanita diatas umur 35 tahun.

Tanda dan Gejala

Separuh penderita mioma uteri tidak memperlihatkan gejala. Umumnya


gejala yang ditemukan bergantung pada lokasi, ukuran dan perubahan pada
mioma tersebut seperti :

a. Perdarahan abnormal : hipermenore, menoragia yang disebabkan :

1). Pengaruh endometrium yang lebih luas dari biasanya

2). Permukaan endometrium yang lebih luas dari biasanya

3). Atrofi endometrium diatas mioma submukosum

4). Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang


mioma diantara serabut miometrium sehingga tidak dapat menjepit
pembuluh darah yang melaluinya dengan baik.

b. Nyeri dapat timbul karena gangguan sirkulasi yang disertai nekrosis


setempat dan peradangan. Pada mioma sebmukosum yang dilahirkan
dapat menyempitkan canalis servikalis sehingga menimbulkan
dismenore.

c. Gejala penekanan : penekanan pada vesika urinaria menyebabkan polluri,


pada uretra menyebabkan retensio urine, pada ureter menyebabkan
hidroureter dan hidronefrosis, pada rectum menyebabkan obtipaso dan
tenesmia, pada pembuluh darah dan limfe menyebabkan edema tungkai
dan nyeri panggul.

d. Disfungsi Reproduksi

Hubungan antara mioma uteri sebagai penyebab infertilitas masih belum


jelas. Dilaporkan sebesar 27-40% wanita dengan mioma uteri mengalami
infertilitas. Mioma yang terletak didaerah kornu dapat menyebabkan
sumbatan dan gangguan transportasi gamet dan embrio akibat terjadinya

14
oklusi tuba bilateral. Mioma uteri dapat menyebabkan gangguan
kontraksi ritmik uterus yang sebenarnya diperlukan untuk motilitas
sperma didalam uterus. Perubahan bentuk kavum uteri karena adanya
mioma dapat terjadi pada keberadaan mioma akibat perubahan histologi
endometrium dimana terjadi atrofil karena kompresi massa tumor.

C. Asuhan Keperawatan

Kasus :

Pasien bernama Ny. R umur 40 tahun pada tanggal 10 Mei 2012 dirawat di
bangsal Dahlia RSUD Pandan Arang dengan keluhan nyeri pada vagina dan
menjalar pada pinggang dan tidak nafsu makan karena mual dan muntah saat
mau makan. Skala nyeri : 5

1. Pengkajian

a. Identitas

1). Identitas Pasien

Nama : Ny. R

Umur : 40 tahun

Pendidikan : SMA

Agama : Islam

Alamat : Krapyak 01/01

Diagnosa : Mioma Uteri

2). Identitas Penanggung Jawab

Nama : Tn. S

Umur : 42 tahun

Pendidikan : SMA

Agama : Islam

Hubungan dengan klien : Suami

15
Alamat : Krapyak 01/01

b. Keluhan Utama

Pasien mengatakan nyeri pada vagina dan menjalar ke pinggang, tidak


nafsu makan karena mual saat mau makan

c. Riwayat Penyakit pasien

1. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien mengatakan nyeri pada vagina dan kemudian menjalar sampai


ke pinggang, tidak nafsu makan karena mual saat mau makan.

2. Riwayat Kesehatan Dahulu

Pasien mengatakan dahulu tidak pernah merasakan sakit seperti ini

3. Riwayat Kesehatan Keluarga

Pasien mengatakan keluarganya tidak ada yang menderita penyakit


yang sama dengan klien

d. Pemeriksaan Fisik

1. Kepala : Bersih, rambut tidak rontok

2. Mata : Konjungtiva merah muda

3. Telinga : Bersih

4. Hidung : simetris, tidak ada polip

5. Mulut dan gigi : tidak ada lesi, tidak ada karies gigi

6. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid

7. Dada : Simetris, tidak ada benjolan

8. Abdomen : tidak ada nyeri tekan

9. Genetalia : ada keputihan, ada nyeri

10. Ekstremitas: tidak ada oedem

16
e. Pemeriksaan Penunjang

- USG

- Biopsi

- Hb

f. Analisa Data

No/ tgl Data Fokus Problem Etiologi


1. / 10 Mei DS : Nyeri akut Agen injuri
2012 fisik
Pasien
mengatakan
nyeri pada
vagina dan
menjalar pada
pinggang

DO :

Ekspresi wajah
menahan sakit

P:
Mengeluarkan
darah

Q : senut-senut

R : vagina

S:5

T : 1 jam 2x
2/ 10 Mei DS : Ketidakseimbangan Anoreksia,
2012 nutrisi kurang dari mual, muntah
Pasien
kebutuhan tubuh
mengatakan
tidak nafsu

17
makan dan saat
makan muntah

DO :

-Pasien terlihat
lemas

- Pasien tidak
menghabiskan
makanan dari
RS

2. Diagnosa Keperawatan

a. Nyeri akut b.d agen injuri fisik

b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia,


mual, muntah

3. Intervensi

18
No. Diagnosa NOC NIC

1 Nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan - Identifikasi skala nyeri


injuri fisik pemberian 2x24 jam -Fasilitasi istirahat dan
diharapkan respon nyeri tidur
pasien dapat terkontrol
- Anjurkan memonitor
dengan kriteria hasil
nyeri secara mandiri
sebagai berikut :
- Kolaborasi pemberian
Indikator A T
analgetik
Keluhan 2 5
nyeri
Kemampua 2 5
n
mengontrol
nyeri

2. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan 2x24 - Monitor asupan nutrisi


nutrisi kurang dari jam diharapkan nutrisi dan kalori
kebutuhan tubuh b.d klien dapat terpenuhi - Berikan makanan dalam
anoreksia, mual, dengan kriteria hasil jumlah sedikit tapi sering
muntah sebagai berikut :
- Anjurkan isirahat dan
Indikator A T tidur yang cukup
Kemampuan 2 5
- Kolaborasi pemberian
mengontrol
antiemetik
mual/muntah

Nutrisi 2 5
terpenuhi

4. Implementasi dan Evaluasi

19
No./tgl Diagnosa Implemetasi Evaluasi

20
1/ 10 Mei Nyeri Akut b.d -Mengidentifikasi S : Pasien
2012 Agen Injuri Fisik skala nyeri mengatakan nyeri
pada vagina dan
-Memfasilitasi
menjalar pada
istirahat dan
pinggang
tidur
O : Ekspresi wajah
- Menganjurkan
pasien menahan
memonitor nyeri
sakit
secara mandiri
P : Mengeluarkan
- Melakukan
darah
kolaborasi
pemberian Q : Senut-senut
analgetik R : Vagina

S:5

T : 1 jam 2x

A : Masalah belum
teratasi

P : Intervensi
dilanjutkan
2/ 10 Mei Ketidakseimbangan - Memonitor S : Pasien
2012 nutrisi kurang dari asupan nutrisi mengatakan tidak
kebutuhan tubuh dan kalori nafsu makan dan
b.d Anoreksia , saat makan muntah
- Memberikan
mual, muntah makanan dalam O:
jumlah sedikit -Pasien terlihat
tapi sering lemas
- Menganjurkan - Pasien tidak
isirahat dan tidur menghabiskan
yang cukup makanan dari RS

21
- Melakukan A : Masalah belum
Kolaborasi teratasi
pemberian P : Intervensi
antiemetik dilanjutkan
3. / 11 Nyeri akut b.d -Mengidentifikasi S : Pasien
Mei 2012 Agen injuri fisik skala nyeri mengatakan nyeri
sudah
-Memfasilitasi
menghilang
istirahat dan
tidur O : pasien terlihat
tidak merasa
- Menganjurkan
kesakitan skala
memonitor nyeri
nyeri 0
secara mandiri
A : Masalah sudah
- Melakukan
teratasi
kolaborasi
pemberian P : intervensi
analgetik dihentikan

4/11 Mei Ketidakseimbangan - Memonitor S : Pasien


2020 nutrisi kurang dari asupan nutrisi mengatakan
kebutuhan tubuh dan kalori nafsu makan
b.d anoreksia, sudah membaik
- memberikan
mual,muntah makanan dalam O : - pasien terlihat
jumlah sedikit lebih segar
tapi sering - pasien
- menganjurkan menghabiskan
isirahat dan tidur makanan
yang cukup yang di
berikan RS
-melakukan

22
kolaborasi A : Masalah sudah
pemberian teratasi
antiemetik P : Intervensi
dihentikan

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Reproduksi manusia secara vivipar (melahirkan anak) dan fertilisasinya


secara internal (di dalam tubuh), oleh karena itu memiliki alat-alat reproduksi
yang mendukung fungsi tersebut. Alat-alat reproduksi tersebut dibagi menjadi
alat reproduksi bagian dalam dan alat reproduksi bagian luar yang masing-
masing alat reproduksi tersebut telah disebutkan dan dijelaskan dalam makalah
ini.

Untuk itu memiliki kelainan atau gangguan pada salah satu system
Reproduksi dapat berakibat buruk pada kelangsungan hidup dan keturunan

23
kita. Selain itu dalam makalah ini juga membahas sedikit tentang proses
terjadinya dan penyebab kelainan dan gangguan system Reproduksi.

B. Saran

Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya


penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di
atas dengan sumber-sumber yang lebih banyak dan dapat dipertanggung
jawabkan. Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa
untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang tekah di
jelaskan.

DAFTAR PUSTAKA

http://web.unair.ac.id/admin/file/f_35969_kelainan-12.pdf

Bobak, Lowdermilk. 2005. Keperawatan Maaternitas. Diterjemahkan oleh


Cristantie Effendie. Jakarta : EGC

Manuaba, I. B. G. 2001. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga


Berencana. Jakarta : EGC

Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kandungan Yayasan Bina Pustaka. Jakarta :


PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

24
Riono,Y.,1999. Kanker Leher Rahim. Australia : Dept of Surgery Holywood
Hospital

Smeltzer, suzanna C, 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner &
Suddart edisi 8 volume 1,2,3. Jakarta : EGC

25

Anda mungkin juga menyukai