Anda di halaman 1dari 26

Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Ny.

T Dengan Defisit Perawatan Diri


Di Yayasan Pemenangan Jiwa Sumatera

Putra Jaya Hulu


Jayaputra217@gmail.com

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa berat yang bersifat kronis yang
ditandai dengan ganggguan komunikasi, gangguan realitas (halusinasi atau
waham), afek tidak wajar atau tumpul, gangguan fungsi kognitif serta
mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari (Keliat, 2015).
Gejala skizofrenia dapat mengalami perubahan semakin membaik atau semakin
memburuk dalam kurun waktu tertentu, hal tersebut berdampak dengan
hubungan pasien dengan dirinya sendiri serta orang yang dekat dengan
penderita (Pardede et al., 2015).

Privalensi ganguan jiwa di Indonesia berdasarkan KEMENKES 2019 di urutan


pertama Provinsi Bali 11,1% dan nomor dua disusul oleh Provinsi DI
Yogyakarta 10,4%, NTB 9,6%, Provinsi Sumatera Barat 9,1%, Provinsi
Sulawesi Selatan 8,8%, Provinsi Aceh 8,7%, Provinsi Jawa Tengah 8,7%,
Provinsi Sulawesi Tengah 8,2%, Provinsi Sumatera Selatan 8%, Provinsi
Kalimantan Barat 7,9%. Sedangkan Provinsi Sumatera Utara berada pada posisi
ke 21 dengan privalensi 6,3% (KEMENKES, 2019).

Skizofrenia ditunjukkan dengan gejala klien suka berbicara sendiri, mata


melihat kekanan dan kekiri, jalan mondar mandir, sering tersenyum sendiri,
sering mendengar suara-suara dan sering mengabaikan hygiene atau perawatan
dirinya (defisit perawatan diri). Defisit perawatan diri merupakan suatu kondisi

1
pada seseorang yang mengalami kelemahan kemampuan dalam melakukan atau
melengkapi aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti mandi (hygiene),
berpakaian/berhias, makan, dan BAB/BAK (toileting) (Jalil, 2015).

Defisit perawatan diri merupakan kelemahan kemampuan untuk melakukan atau


melengkapi aktifitas kebersihan diri, kurangnya perawatan diri pada pasien
dengan gangguan jiwa terjadi akibat adanya perubahan proses pikir sehingga
kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri menurun secara mandiri
(Yanti, 2021). Data yang diperoleh dari Medical Record Yayasan Pemenang
Jiwa Medan tahun 2020, pasien yang menderita skizofrenia sebanyak 30 Orang.

Survei awal pada pembuatan askep pada skizofrenia ini dilakukan di Yayasan
Pemenagan Jiwa Sumatera dengan pasien Defisit Perawatan diri dengan pasien
nama inisial Ny T klien datang ke Yayasan Pemenangan Jiwa di antar adik klien
karena awalnya klien kurang perawatan diri seperti mandi (hygene),
berpakaian/berhias, makan dan BAB/BAK

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka dapat di rumuskan
masalah sebagai berikut “ Bagaimana penerapan asuhan keperawatan pada
Ny T dengan gangguan defisit perawatan diri Yayasan Pemenangan Jiwa”

1,3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawan jiwa pada Ny. T
dengan Defisit Perawatan Diri di Yayasan Pemenang Jiwa.
1.3.1 Tujuan Khusus
Setelah melakukan asuhan keperawatan kepada klien dengan Defisit
Perawatan Diri mahasiswa/i diharapkan mampu :
1. Mahasiswa mampu mengetahui defenisi, penyebab, tanda dan gejala,
rentang respondan penatalaksanaan pada klien Defisit Perawatan Diri.
2. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian, analisa data pada Ny. T
dengan Defisit Perawatan Diri.

2
3. Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada Ny. T
dengan Defisit Perawatan Diri.
4. Mahasiswa mampu menetapkan intervensi keperawatan pada Ny. T
dengan Defisit Perawatan Diri.
5. Mahasiswa mampu melakukan implementasi keperawatan pada Ny. T
dengan Defisit Perawatan Diri.
6. Mahasiswa mampu mengevaluasi hasil asuhan keperawatan pada Ny.
T dengan Defisit Perawatan Diri.
7. Mahasiswa mampu melakukan pendokumentasian pada Ny. T dengan
Defisit Perawatan Diri.

1.4 Manfaat
1. Responden
Diharapkan tindakan yang telah diberikan dapat diterapkan secara mandiri
untuk mengontrol dan mendukung kebersihan pasien
2. Diharapkan dapat menjadi acuan dalam menangani atau dalam memberikan
pelayanan kepada pasien dengan gangguan jiwa dengan Defisit Perawatan
Diri di Yayasan Pemenangan Jiwa Sumatera

3
BAB 2
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Defisit Perawatan Diri


2.1.1 Defenisi
Defisit perawatan diri adalah ketidakmampuan melakukan aktivitas
perawatan diri seperti (Mandi, berhias, makan, BAB atau BAK)
dilakukan secara mandiri (Jalil, 2015). Defisit perawatan diri merupakan
salah satu masalah timbul pada klien gangguan jiwa. Klien gangguan
jiwa gangguan jiwa kronis sering mengalami kettidak pedulian merawat
diri. Keadaan ini merupakan gejala prilaku negatif dan menyebabkan
klien dikucilkan baik dalam keluarga maupun masyarakat (Madalise,
2015), sedangkan menurut Emilyani, 2019) Defisit perawatan diri adalah
masalah yang sering di jumpai pada pasien skizofrenia dengan gangguan
perawatan diri karena pasien mengalami gangguan kognitif, sehingga
mengakibatkan ketidakmampuan pasien dalam mengatur dan merawat
dirinya sendiri seperti madi, berhias, makan minum serta toletting.

2.1.2 Etiologi
Menurut Rochmawati (2013) penyebab kurang perawatan diri adalah
kelelahan fisik dan penurunan kesadaran,menurut depkes terdapat
penyebab kurang perawatan diri adalah:
1. Faktor predisposisi
a. Perkembangan keluarga terlalu melindungi dan memanjakan
klien sehingga perkembangan inisiatif terganggu.
b. Biologis penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu
melakukan perawatan diri.
c. Kemampuan realistis turun klien dengan kemampuan realistas
yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan
lingkungan termasuk perawatan diri.

4
d. Sosial kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
dilingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan
kemampuan dalam perawatan diri.
2. Fakor Presipitasi
Menurut Sutria (2020) Yang merupakan faktor presifitasi Defisit
Perawatan Diri adalah kurang penurunan motivasi,kerusakan kognisi
atau perceptual, cemas, lelah yang dialami individu sehingga
menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri.
Menurut Rochmawati (2013) faktor faktor yang mempengaruhi
personal hygniene adalah :
a. Bodi Image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi
kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga
individu tidak peduli dengan kebersian dirinya.
b. Praktik sosial
Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri maka
kemungkinan akan terjadi perubahan personal hygniene.
c. Status sosial ekonomi
Personal hygiene memerlukan alatt dan bahan seperti sabun,pasta
gigi,sikat gigi,sampo,alat mandi yang semuanya memerlukan
uang untuk menyediakannya.
d. Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena
pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan misalnya
pada pasien penderita diabetes militus ia harus menjaga
kebersihan kakinya.
e. Budaya
Disebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak
dibolehkan mandi
f. Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam
perawatan diri seperti penggunaan sabun,sampo dan lain-lain.

5
g. Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu kemampuan utuk merawat diri berkurang
dan peru bantuan untuk meakukannya.

2.1.3 Manefestasi klinis


Menurut (Putra, 2019) tanda dan gejala klien dengan defisit
perawatan diri adalah :
1. Subyektif
a. Menyatakan tidak ada keingin mandi secara teratur
b. Perawatan diri harus dimotivasi
c. Menyatakan Bab/bak disembarangan tempat
d. Menyatakan tidak mampu menggunakan alat bantu makan
2. Obyektif
a. Tidak mampu membersihkan badan
b. Penampilan tidak rapi, pakian kotor, tidak mampu
berpakaian secara benar
c. Tidak mampu melaksanakan kebersihan yang sesuai
setelah melakukan toileting
Makan hanya beberapa suap darri piring/porsi tidak habis

2.1.4 Rentang Respon Defisit Perawatan Diri


Tidak melakukan perawatan
Respon Adaptif < ---------------------------------------------- > Respon Maladaptif
Kadang perawatan diri
kadang tidak saat stress
Penjelasan :
a. Pola perawatan dari seimbang: saat klien mendapat stres dan
mampu untuk berprilaku adaptif maka pola perawatan yang
dilakukan klien seimbang, klien masih malakukan perawatan diri.
b. Kadang perawatan diri kadang tidak : saat klien mendapatkan stres
kadang-kadang klien tidak memperhatikan perawatan dirinya.
c. Tidak melakukan perawatan diri: klien mengatakan dia tidak peduli
dan tidak bisa melakukan perawatan diri saat stressor.

6
2.1.5 Pohon masalah

Halusinasi Pendengaran Defisit Perawatan


Diri

Isolasi Sosial : Menarik


Diri

Harga Diri Rendah Kronis

Koping Individu Tidak


Efektif

2.1.6 Penatalaksanaan medis


Penatalaksanaan menurut Herman (Ade,2011) adalah sebagai
berikut :
1. meningkatkan kesadaran kepercayaan diri
2. membimbing dan menolong klien merawat diri
3. ciptakan lingkungan yang mendukung

2.2 Konsep dasar keperawatan


2.2.1 Pengkajian Keperawatan
Defisit Perawatan Diri pada klien dengan ganngguan jiwa terjadi
akibat ada perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk

7
melakukan perawatan diri tampak dari ketidakmampuan merawat
kebersihan diri makan secara mandi,berhias diri secara mandiri dan
eliminasi (buang air besar/buang air kecil) secara mandiri. (Hastuti,
2018).

Untuk mengetahui apakah pasien mengalami masalah defisit


perawatan maka tanda dan gejala dapat diperole melalui obsevasi
pada klien yaitu:
a. Gangguan kebersihan diri ditandai dengan rambut kotor, gigi
kotor, kulit berdaki dan bau kuku panjang dan kotor.
b. Ketidakmampuan berhias/berdandan ditandai dengan rambut
acak-acakan pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai
pada pasien laki-laki tidak bercukur, pada pasien wanita tidak
berdandan
c. Ketidakmampuan secara makan mandiri ,ditandai dengan
Ketidakmampuan mengambil makan sendiri,makan berceceran
dan makan tidak pada tempatnya
d. Ketidakmampuan defekasi/berkemih secara mandiri ditandai
dengan defekasi/berkemih tidak pada tempatnya,tidak
membersihkan diri dengan baik setelah defekasi/berkemih

2.2.2 Diagnosa keperawatan


Menurut NANDA (2017) diagnosa keperawatan utama pada
klien dengan Defisit Perawatan Diri: Hygiene diri, berhias,
makan, dan eliminasi.

2.2.3 Intervensi keperawatan


a. Tindakan keperawatan untuk pasien
Tujuan tindakan :
1. Pasien mampu melakukan untuk kebersihan secara
mandiri

8
2. Pasien mampu melakukan berhias/berdandan secara
baik
3. Pasien mampu melakukan makan dengan baik
4. Pasien mampu melakukan defekasi/berkemih secara
mandiri.
b. Tindakan keperawatan
1. Melatih pasien tentang cara-cara perawatan
kebersihan
2. Melatih pasien berdandan/berhias
3. Melatih pasien makan secara mandiri
4. Melatih pasien defekasi/berkemih secara mandiri

2.2.4 Pelaksanaan keperawatan


Implementasi disesuaikan dengan rencana tindakan
keperawatan. Sebelum melaksanakan tindakan keperawatan
yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan
singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan
klien susuai dengan kondisinya (here and now). Perawat juga
menilai diri sendiri, apakah kemampua interpersonal,
intelektual, teknikal sesuai dengan tindakan yang akan di
laksanakan, dinilai kembali apakah aman bagi klien. Setelah
semuanya tidak ada hambatan maka tindakan keperawatan
boleh dilaksanakan.

Adapun pelaksanaan tindakan keperawatan dilakukan


berdasarkan Strategi Pelaksanaan (SP) yang sesuai dengan
masing-masing maslaah utama. Pada diagnosa Defisit
Perawatan Diri terdapat 4 jenis SP.
SP 1 pasien : Mendiskusikan pentingnya kebersihan diri,
cara-cara merawat diri dan melatih pasien tentang cara-cara
perawatan diri.

9
SP 2 pasien : Melatih pasien berhias (Laki-laki :
berpakaian, menyisir rambut, dan bercukur. Perempuan :
berpakaian, menyisir rambut dan berhias)
SP 3 pasien : Melatih pasien makan secara mandiri
(menjelaskan cara mempersiapkan makan, menjelaskan cara
makan yang tertib, menjelaskan cara merapikan peralatan
makan setelah makan, praktik makan sesuai dengan tahapan
makan yang baik).
SP 4 pasien : Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK
secara mandiri (menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai,
menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB dan BAK,
menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK).

10
BAB 3

TINJAUAN KASUS

3.1. Identitas Klien

Inisial : Ny T
Umur : 30 Tahun
Alamat : Jln Terompet, Setia Budi
Tgl Pengkajian : 18 Februari 2021
Agama : Kristen Protestan
Status : Belum Nikah
Infoment : Status pasien dan komunikasi dengan pasien

3.2 Alasan Masuk

Klien awalnya mengamuk dan marah-marah tanpa sebab, emosi labil dan
berbicara-bicara sendiri, dan penampilan kotor, bau, dan kumal

3.3 Faktor Predisposisi

Klien mengatakan sebelumnya belum pernah dirawat. Klien menderita


penyakit ini sejak tahun 2017 dan tidak pernah mengalami aniaya fisik,
kekerasan seksual dan tindakan kriminal dan kekerasan dalam anggota
keluarga. Dan klien mengatakan bahwasanya dari anggota keluarganya ada
yang menderita gangguan jiwa yaitu orang tua dari bapaknya.

Masalah Keperawatan : Defisit Perawatan Diri

3.4 Fisik

Klien tidak memiliki keluhan fisik, saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda


vital, di dapatkan hasil TD : 120/80 mmHg ; N : 82x/i ; S : 36,5oC ; P : 20x/i.
Klien memiliki tinggi badan 165 cm dan berat badan 67 Kg.

11
3.5 Psikososial

1. Genogram

Penjelasan : Klien merupakan anak ke 2 dari 5 bersaudara, klien memiliki 1 kakak


perempuan dan 3 adik laki-laki

Keterangan :

: Laki-laki

: Perempuan

: Klien

: meninggal

3.6 Hubungan Sosial

Klien mengganggap bahwa keluarganya adalah orang yang sangat berarti dalam
hidupnya, terutama orangtuanya. Klien aktif mengikuti kegiatan di
kelompok/masyarakat. Klien mengatakan tidak mempunyai hambatan dalam
berhubungan dengan orang lain

12
3.6.1 Spritual

a. Nilai dan Keyakinan : Klien beragama kristen dan yakin dengan agamanya
b. Kegiatan Ibadah : Klien selalu ikut dalam melakukan ibadah setiap hari
dari jam 10.00-12.00 wib

3.6.2 Status Mental

1. Penampilan
Penjelasan : Klien tampak kurang rapi dalam berpakaian, kuku agak
panjang dan kotor
2. Pembicaraan
Penjelasan : Pada saat wawancara klien cukup kooperatif namun tidak
mampu memulai pembicaraan.
3. Aktivitas Motorik
Penjelasan : tidak ada masalah
4. Suasana perasaan
Penjelasan :Klien sedih karena tinggal di yayasan pemenang jiwa
5. Afek
Penjelasan :afek wajah sesuai dengan topic pembicaraan
6. Interaksi selama wawancara
Penjelasan :Klien kooperatif saat wawancara
7. Persepsi
Penjelasan : Klien mengatakan bahwa ia mendengar ada suara-suara
8. Proses Pikir
Penjelasan : Klien mampu menjawab apa yang ditanya dengan baik.
9. Isi pikir
Penjelasan : Klien dapat mengontrol isi pikirnya,klien tidak
mengalami gangguan isi pikir dan tidak ada waham. Klien tidak
mengalami fobia, obsesi ataupun depersonalisasi.
10. Tingkat kesadaran
Penjelasan : Klien tidak mengalami gangguan orientasi, klien
mengenali waktu, orang dan tempat.
11. Memori

13
Penjelasan : Klien mampu menceritakan kejadian di masa lalu dan
yang baru terjadi.
12. Tingkat konsentrasi berhitung
Penjelasan : Klien mampu berkonsentrasi dalam perhitungan
sederhana tanpa bantuan orang lain.

13. Kemampuan penilaian


Penjelasan : Klien dapat membedakan hal yang baik dan yang buruk
(mampu melakukan penilaian)
14. Daya tarik diri
Penjelasan : Klien mampu memili dan mengambil keputusan yang
sederhana ketika diberikan sedikit bantuan misalnya sebelum makan
terlebih dahulu cuci tangan. Dan klien mengatakan bahwa dirinya lagi
sakit dan butuh perawatan.

3.6.3 Mekanisme Koping

Klien mampu berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain, dan bisa
menyelesaikan masalah sederhana tanpa bantuan orang lain.

3.6.4 Masalah Psikososial dan Lingkungan

Klien mengatakan didalam kelompok kerohanian klien bisa di terima dan


tidak diasingkan, tidak ada masalah, merasa tidak pernah meresahkan
masyarakat.

3.6.5 Pengetahuan Kurang Tentang Gangguan Jiwa

Klien tidak mengetahui tentang gangguan jiwa yang di alaminya dan obat
yang dikonsumsinya.

3.6.6 Aspek Medik

Diagnosa Medis : Defisit Perawtan Diri

14
Terapi medis yang diberikan :
a. Resperidon 2x1
b. Depakote 1x1

3.7 Analisa Data

No Data Masalah Keperawatan


1. Ds Defesit Perawatan Diri
 Klien m
 engatakan mandi 1x
sehari tanpa
menggunakan sabun
 Klien mengatakan
jarang keramas
kadang-kadang 1x
seminggu
 Klien mengatakan
jarang gosok gigi
Do
 Badan Bau
 Nafas Bau
 Klien jarang mandi

2. Ds Gangguan Persepsi Sensorik : Halusinasi


 Petugas yayasan Pendengaran
pemenang jiwa
mengatakan bahwa
klien sering berteriak-
teriak dan marah-marah
tanpa sebab
 Klien sering
mendengarkan suara-

15
suara tanpa wajah yang
menyuruhnya untuk
selalu beribadah
 Klien merasa takut jika
mendengar suara
tersebut
Do
 Klien sering marah-
marah, mondar-mandir.

Daftar Masalah

1. Gangguan sensori Persepsi: Halusinasi Pendengaran

2. Defisit Perawatan Diri

Pohon masalah

Defisit Perawatan Diri

Halusinasi Pendengaran

3.7.1 Diagnosa Keperawatan

a. Defisit Perawatan Diri


b. Gangguan Persepsi Sensorik : Halusinasi Pendengaran

16
3.7.2 Prioritas Diagnosa Keperawatan

a. Defisit Perawatan Diri

3.8 Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Intervensi
1 Defisit Perawatan diri Sp 1 : Melatih cara perawatan diri :
Ds Mandi
 Klien mengatakan Sp 2 : Melatih cara perawatan diri :
mandi 1x sehari Berhias
tanpa menggunakan Sp 3 : Melatih cara perawatan diri :
sabun Makan/Minum
 Klien mengatakan Sp 4 : Melatih cara perawatan diri
jarang keramas :BAB/BAK
kadang-kadang 1x
seminggu
 Klien mengatakan
jarang gosok gigi
Do
 Badan Bau
 Nafas Bau
 Klien jarang
mandi

2. Gangguan Persepsi SP 1:
Sensorik : Halusinasi 1. Identifikasi isi, waktu terjadi,
Pendengaran situasi pencetus, dan respon
Ds terhadap halusinasi
 Petugas yayasan 2. Jelaskan dan Latih teknik
pemenang jiwa menghardik
mengatakan bahwa
klien sering berteriak- SP 2:

17
teriak dan marah- Kontrol Halusinasi klien dengan
marah tanpa sebab minum obat secara teratur
 Klien sering
mendengarkan suara- SP 3:
suara tanpa wajah Ajarkan cara mengontrol halusinasi
yang menyuruhnya dengan bercakap – cakap dengan orang
untuk selalu beribadah lain
 Klien merasa takut
jika mendengar suara SP 4:
tersebut Ajarkan cara mengontrol halusinasi
Do dengan melakukan kegiatan terjadwal
 Klien sering marah-
marah, mondar-
mandir
3.9 Implementasi dan Evaluasi

Hari/Tanggal Implementasi Evaluasi (SOAP)


Keperawatan
Senin 22-02- Sp 1 Melatih cara S : Antusias dan semangat
21 perawatan diri : Mandi
 Membina O: Klien mampu menyebutkan

hubungan saling dan menjelakan pentingnya


percaya kebersihan diri dan cara melatih

 Menjelaskan perawatan diri: mandi

pentingnya
A: Defisit Perawatan Diri
kebersihan diri
 Menjelasakan
P: Pertemuan selanjutnya,
cara menjaga
dengan topik cara berhias
kebersihan diri
dan cara mandi

Sp 2 : S :: Senang dan Antusias

18
Melatih Cara
O : Klien mampu menjelaskan
Perawatan diri :
pentingnya berdandan supaya
Berhias
dapat membantu merubah
 Menjelaskan cara
penampilan agar terlihat lebih
berdandan.
rapi lagi
 Membantu klien
.
memperaktekkan A : Defisit Perawatan Diri
cara berdandan.
P: Pertemuan selanjutnya,
dengan topik cara perawatan
diri makan/minum
Selasa 23- Sp 3: S : senang dan antusias
02-21 Melatih Cara O: Klien mampu menjelaskan
Perawatan diri : alat untuk makan yang benar dan
Makan/Minum mampu mempersiapkan dan
 Menjelaskan merapikan peralatan makan
cara makan
A : Defisit Perawatan Diri
yang benar
contoh sebelum P : Pertemuan selanjutnya,
makan terlebih dengan topik cara perawatan
dahulu mencuci diri BAB/BAK
tangan pake
sabun.
 Menjelaskan
cara
membersihkan
kuku yang kotor
Sp 4 : S: Senang dan antusia
Melatih cara perawatan O: Klien mampu mengetahui
diri BAB/BAK cara BAB/BAK yang baik, dan
klien mampu BAB/BAK
 Menjelaskan ditempat yang sesuai
kepada klien
A: Defisit perawatan diri

19
disaat
P: Masalah Teratasi
membuang air
besar dan air
kecil jangan
lupa di siram,
supaya orang
lain tidak
terganggung

20
BAB 4
PEMBAHASAN

Setelah penulis melaksanakan asuhan keperawat kepada Ny. T Dengan


gangguan sensorik persepsi: DPD (Defisit Perawatan Diri) Di Yayasan
Pemenang Jiwa Sumatera, maka penulis pada BAB ini akan pembahasan
kesenjangan antara teoritis dengan tinjauan kasus. Pembahasan dimulai
melalui tahapan proses keperawatan yaitu pengkajian, diagnosea keparawatan,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

4.1 Pengkajian
Pada pembahasan ini diuraikan tentang hasil pelaksanaan tindakan
keperawatan dengan pemberian terapi generalis pada klien Defisit Perawatan
Diri. Pembahasan menyangkut analisis hasil penerapan terapi generalis
terhadap masalah keperawatan Defisit Perawatan Diri. Tindakan keperawatan
didasarkan pada pengkajian dan diagnosis keperawatan yang terdiri dari
tindakan generalis yang dijabarkan sebagai berikut.

Tahap pengkajian pada klien halusinasi dilakukan interaksi perawat klien


melalui komunikasi terapeutik untuk mengumpulkan data dan informasi
tentang status kesehatan klien. Pada tahap ini terjadi proses interaksi manusia,
komunikasi, transaksi dengan peran yang ada pada perawat sebagaimana
konsep tentang manusia yang bisa dipengaruhi dengan adanya proses
interpersonal. .Maka penulis melakukan pendekatan kepada pasien melalui
komunikasi terapeutik yang lebih terbuka membantu pasien untuk
memecahkan perasaannya dan juga melakukan observasi kepada pasien.

Adapun upaya tersebut yaitu: Melakukan pendekatan dan membina hubungan


saling percaya diri pada klien agar klien lebih terbuka dan lebih percaya
dengan menggunakan perasaan. Mengadakan pengkajian klien dengan
wawancara Mengadakan pengkajian dengan cara membaca status, melihat
buku rawatan dan bertanya kepada pegawai ruangan sorik merapi.

21
Dalam pengkajian ini, penulis menemukan kesenjangan karena ditemukan.
Pada kasus Ny. T, klien tampak kurang bersih, tidak rapi, dan merasa bau.
Gejala gejala yang muncul tersebut tidak semua mencakup dengan yang ada
diteori klinis Defisit Perawatan Diri . Akan tetapi terdapat faktor predisposisi
maupun presipitasi yang menyebabkan kekambuhan penyakit yang di alami
oleh Tn.T.

4.2 Diagnosa

Keperawatan yang diagnosa keperawatan utama pada klien dengan Defisit


Perawatan Diri: Hygiene, berhias, makan, dan eliminasi.

4.3 Perencanaan
Keperawatan disesuaikan dengan strategi pertemuan pada pasien Defisit
Perawatan Diri.

4.4 Implementasi
Pada tahap implementasi, penulis keperawatan yakni:diagnosa keperawatan
Klien mengidentifikasi Definsit Perawatan Diri dapat mengendalikan Defisit
Perawatan Diri, latihan melakukan kebersihan mandiri, melakukan berhias,
melakukan makan dengan baik,Melakukan eliminasi secara mandiri.

Pada tinajauan teoritis evaluasi yang diharapkan adalah: Pasien mempercayai


perawat sebagai terapis, pasien menyadari bahwa yang dialaminya tidak ada
objeknya,dapatmengidentifikasi Definsit Perawatan Diri dapat mengendalikan
Defisit Perawatan Diri,latihan melakukan kebersihan
mandiri,melakukanberhias, melakukan makan dengam baik, Melakukan
eliminasi secara mandiri.

Pada tinjauan kasus evaluasi yang didapatkan adalah: Klien mengidentifikasi


Definsit Perawatan Diri dapat mengendalikan Defisit Perawatan Diri, latihan
melakukan kebersihan mandiri, melakukan berhias ,melakukan makan dengan
baik, Melakukan eliminasi secara mandiri.

22
Selain itu, dapat dilihat dari setiap evalusi yang dilakukan pada asuhan
keperawatan, dimana terjadi penurunan gejala yang dialami oleh Tn.T dari hari
kehari selama proses interaksi.

4.5 Evaluasi
Pada tinajauan teoritis evaluasi yang diharapkan adalah : Pasien mempercayai
perawat sebagai terapis, pasien menyadari bahwa yang dialaminya tidak ada
objeknya, dapat mengidentifikaasi Defesit Perawatan Diri Pada tinjauan kasus
evaluasi yang didapatkan adalah: Klien mampu melakukan tindakan defisit
perawatan diri, Klien mampu melakukan terapi sp 1-4 Selain itu, dapat dilihat
dari setiap evalusi yang dilakukan pada asuhan keperawatan, dimana terjadi
penurunan gejala yang dialami oleh Ny.T dari hari kehari selama proses
interaksi.

23
BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada pembahasan diatas, maka penulis dapat disimpulkan
bahwa:
1. Pengkajian dilakukan secara langsung pada klien dan juga dengan menjadikan
status klien sebagai sumber informasi yang dapat mendukung data-data
pengkajian. Selama proses pengkajian, perawat mengunakan komunikasi
terapeutik serta membina hubungan saling percaya antara perawat-klien. Pada
kasus Jarang membersihkan Diri,Kurang berhias.
2. Diagnosa keperawatan yang diagnosa keperawatan utama pada klien dengan
Defisit Perawatan Diri:Hygiene diri,berhias,makan,dan eliminasi.

3. Perencanaan dan implementasi keperawatan disesuaikan dengan strategi


pertemuan pada pasien Defisit Perawatan Diri .

4. Evaluasi diperoleh bahwa terjadi peningkatan kemampuan klien dalam


mengendalikan halusinasi Defisit Perawatan Diri yang dialami serta dampak
pada penurunan gejala Defisit Perawatan Diri yang dialami.

5.2 Saran
1) Diharapkan pada keluarga sering mengunjungi pasien selama waktu
perawatan karena dengan seringnya keluarga berkunjung, maka pasien
merasa berarti dan dibutuhkan dan juga setelah pulang keluarga harus
memperhatikan obat dikonsumsi serta membawa pasien kontrol secara
teratur kepelayana kesehatan jiwa ataupun di Yayasan Pemenang Jiwa
Sumatera.
2) Bagi mahasiswa/mahasiwi agar lebih memperdalam ilmu pengetahuan
khusus tentang keperawatan jiwa

24
DAFTAR PUSTAK
Emilyani, D. (2019). Pengaruh terapi Kelompok Suportif Terhadap Kemandirian
Pasien Skizofrenia Yang Mengalami Defisit Perawatan Diri di Rumah Sakit
Jiwa Propinsi NTB. Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS), 2(2), 171-180.
http://jambs.poltekkes-mataram.ac.id/index.php/home/article/view/45
Hastuti, R. Y., & Rohmat, B. (2018). Pengaruh Pelaksanaan Jadwal Harian
Perawatan Diri Terhadap Tingkat Kemandirian Merawat Diri Pada Pasien
Skizofrenia Di Rsjd Dr. Rm Soedjarwadi Provinsi Jawa Tengah. Gaster,
16(2),177-190.
http://jurnal.aiska-university.ac.id/index.php/gaster/article/view/294
Jalil, A. (2015). Faktor Yang Mempengaruh Penurunan Kemampuan Pasien
Skizofrenia Dalam Melakukan Perawatan Di Rumah Sakit Jiwa. Jurnal
KeperawatanJiwa,3(2),70-77.
https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/JKJ/article/view/3933
Kemenkes RI. (2019). Riset Kesehatan Dasar, RISKESDAS.Jakarta: Kemenkes RI.
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/10/08/persebaran-
prevalensi-skizofreniapsikosis-di-indonesia#

Madalise, S., Bidjuni, H., & Wowiling, F. (2015). Pengaruh Pemberian Pendidikan
Kesehatan Pada Pasien Gangguan Jiwa (Defisit Perawatan Diri) Terhadap
Pelaksanaan Adl (Activity Of Dayli Living) Kebersihan Gigi Dan Mulut Di
Rsj Prof. Dr. V. L Ratumbuysang Ruang Katrili. Jurnal Keperawatan,3
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/view/8142
Pardede, J. A., Sirait, D., Riandi, R., Emanuel, P., & Laia, R. (2016). Ekspresi
Emosi Keluarga Dengan Frekuensi Kekambuhan Pasien Skizofrenia. Idea
NursingJournal,7(3),53-61.
http://www.jurnal.unsyiah.ac.id/INJ/article/view/6446
Pardede, J. A., & Laia, B. (2020). Decreasing Symptoms of Risk of Violent
Behavior in Schizophrenia Patients Through Group Activity Therapy. Jurnal
Ilmu Keperawatan Jiwa, 3(3), 291-300.
http://journal.ppnijateng.org/index.php/jikj/article/view/621/338
Pardede, J. A., Keliat, B. A., & Yulia, I. (2015). Kepatuhan dan Komitmen Klien
Skizofrenia Meningkat Setelah Diberikan Acceptance And Commitment
Therapy dan Pendidikan Kesehatan Kepatuhan Minum Obat. Jurnal
Keperawatan Indonesia, 18(3), 157-166 Doi: 10.7454/jki.v18i3.419

Putra, R. S., & Hardiana, S. (2019). Komunikasi Terapeutik Perawat Pada Pasien
Dengan Masalah Defisit Perawatan Diri. In Prosiding Seminar Nasional (pp.
152-156). http://prosiding.stikesmitraadiguna.ac.id/index.php/
PSNMA/article/view/21
Rochmawati, D. H., Keliat, B. A., & Wardani, I. Y. (2013). Manajemen Kasus
Spesialis Jiwa Defisit Perawatan Diri Pada Klien Gangguan Jiwa di RW 02
dan RW 12 Kelurahan Baranangsiang Kecamatan Bogor Timur. Jurnal
KeperawatanJiwa,1(2).
https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/JKJ/article/view/972

25
Sutria, E. (2020). Intervention Of Nurse Deficit Self Care In The Skizofrenia
Patient: Systematic Review. Journal Of Nursing Practice, 3(2), 244-252.
DOI:https://doi.org/10.30994/jnp.v3i2.94

Yanti, R. D., & Putri, V. S. (2021). Pengaruh Penerapan Standar Komunikasi


Defisit Perawatan Diri terhadap Kemandirian Merawat Diri pada Pasien
Skizofrenia di Ruang Rawat Inap Delta Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi
Jambi. Jurnal Akademika Baiturrahim Jambi, 10(1), 31-38. DOI:
10.36565/jab.v10i1.266

26