Anda di halaman 1dari 5

Rangkuman Kuliah Umum

InFest DJPPR Goes To Campus

Upaya Penjamin dalam Mengungkit Pemulihan Ekonomi Nasional


Tema “Upaya Penjamin dalam Mengungkit Pemulihan Ekonomi Nasional”, InFest Goes to
Campus menjadi sarana edukasi publik dalam penyebaran informasi mengenai peran pembiayaan
APBN dalam penanganan Pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional, termasuk lebih
detil mengenai peran instrumen pembiayaan SBN dalam pembangunan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiyaan dan Risiko, Luky Alfirman menyampaikan bahwa
pembiayaan melalui utang merupakan penyelamat kesinambungan fiskal dalam kerangka APBN.
Kebijakan pelebaran defisit yang dipenuhi melalui pembiayaan, termasuk utang, merupakan
kebijakan countercyclical untuk menjaga pertumbuhan ekonomi agar tidak semakin tertekan.

“Kebijakan utang Pemerintah tidak dilakukan secara ugal-ugalan, utang hanyalah tools untuk
menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Strategi dan portofolio utang disusun secara terukur,
pruden, dan akuntabel, sehingga dapat mendukung peran sentral APBN dalam menangani
dampak Covid-19 dan memulihkan ekonomi nasional”, jelasnya. 

Kuliah umum yang disampaikan oleh Bapak Heri Setiawan, S.E., M.S.F. sebagai pemateri dalam
menyikapi upaya penjaminan dalam mengungkit pemulihan ekonomi nasional.

Menurut Bapak Heri Setiawan dalam kuliah umum pada membahas mengenai upaya penjaminan
dalam mengungkit pemuihan ekonomi nasional, dengan beberapa ulasan materi diantaranya
yaitu menjelaskan dampak pandemic Covid-19 terhadap perekonomian, dinami kakebijakan
fiscal dan APBN terhadap dampak pandemic, dukungan pembiayaan APBN dalam pemulihan
ekonomi dan peran serta masyarakat, serta penjaminan pemerintah sebagai upaya mengungkit
pemulihan ekonomi nasional.

APBN merupakan instrument untuk mencitakan pertumbuhan, kesejahteraan, dan pemerataan.


Instrument itu dapat bersumber dari Pendapatan (Pajak, Bea Cukai, PNBP, dan Hibah), Belanja,
serta Pembiayaan untuk utang dan invsetasi. Saat ini APBN bekerja keras untuk menahan
dampak dari pandemic COVID-19 dengan memanfaatkan utang sebagai tools yang ekspansif. Ini
menciptakan suatu keberhasilan sebagai instrument countercyclical untuk mengatasi kontraksi
ekonomi yang lebih dalam.
Pada diskusi kali ini membahas peran Sukuk Negara dalam mendukung berbagai pembangunan
proyek infrastruktur di sektor transportasi, pendidikan, kesehatan, pertanian, dan pelayanan
publik, seperti KUA, pelayanan haji, dsb.

Secara umum, peningkatan posisi utang Pemerintah Pusat disebabkan oleh peningkatan
kebutuhan pembiayaan akibat pandemi Covid—19 yang melonjak drastis. Masalah kesehatan,
penyediaan jaring pengaman sosial, dan pemulihan ekonomi nasional menjadi prioritas negara,
sehingga untuk mendukung kebijakan penanganan pandemi, Pemerintah menutupi kekurangan
penerimaan negara melalui pembiayaan”, jelas pemateri.

Strategi pembiayaan yang pertama kali digali adalah pos pembiayaan non-utang yang terdiri dari
pemanfaaatan Saldo Anggaran Lebih (SAL), Pos Dana Abadi Pemerintah, dan dana yang
bersumber dari BLU. Selanjutnya, setelah memaksimalkan pembiayaan non- utang, Pemerintah
juga menggali alternatif pembiayaan utang yang fleksibel dari sisi pinjaman maupun SBN.

Pada bulan Mei 2020, Pemerintah telah melakukan penarikan pinjaman dari Asian Development
Bank (ADB) dengan skema khusus countercyclical support facility. Sesuai dengan namanya,
pinjaman tersebut diberikan sebagai bantuan pembiayaan di tengah pandemi untuk
merealisasikan kebijakan-kebijakan Pemerintah yang telah diakui oleh ADB, khususnya untuk
membantu masyarakat miskin, rentan dan juga perempuan. Selanjutnya, Pemerintah juga sedang
menjajaki tambahan pembiayaan dari beberapa lembaga lainnya seperti Islamic Development
Bank (IDB), Bank Pembangunan Jerman (KfW), dan Japan International Cooperation Agency
(JICA), yang kesemuanya masih dalam proses negosiasi.

Selain itu, Pemerintah juga mengupayakan tambahan pembiayaan dengan meningkatkan porsi
penerbitan SBN baik melalui lelang reguler dan lelang tambahan (Green Shoe Option), private
placement, SBN dalam denominasi Valas, dan SBN Ritel. Sebagai opsi paling terakhir,
dukungan Bank Indonesia sebagai the last resort dalam hal mekanisme pasar belum mampu
memenuhi target pembiayaan.

“Pemerintah tetap berupaya mengelola utang dengan pruden dan akuntabel demi mendukung
APBN yang kredibel, utamanya di tengah kejadian extraordinary Covid-19 yang memerlukan
extraordinary effort”.
Adapun para Menteri yang hadir dalam acara peluncuran tersebut yaitu Menko Perekonomian
Airlangga Hartato, Menko Marinves Luhut Pandjaitan, Menteri BUMN Erick Thohir dan
Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Para Menteri tersebut menyaksikan dan memberi sambutan dari
masing-masing kantor dinasnya.

Dalam konferensi pers virtual Peluncuran Penjaminan Kredit Modal Kerja UMKM dalam rangka
Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada Selasa, (07/07), Menteri Keuangan Sri Mulyani
Indrawati mengatakan bahwa pemerintah menginginkan UMKM bangkit kembali dengan
memberikan penjaminan kepada kredit UMKM melalui penjaminan kredit.

“Apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk pemulihan ekonomi terutama untuk UMKM ini
adalah anggaran Rp123,46 triliun. Kita berharap bahwa anggaran ini bisa berputar dan betul
dinikmati oleh UMKM. Satu, untuk penjaminan kredit modal kerja. Pemerintah memberikan 5
triliun, bahkan UMKM yang meminjam sampai Rp10 miliar, premi untuk penjaminan kredit
macetnya dibayar oleh pemerintah , dijamin oleh Jamkrindo dan Askrindo. Jamkrindo dan
Askrindo ini diberi PMN Rp6 triliun sehingga mereka memiliki kemampuan modal untuk
mengcover risiko tersebut. Artinya, UMKM kita harap bisa bangkit kembali diberikan
restructuring untuk pinjaman pokok 6 bulan dan subsidi bunga," jelasnya.

Menkeu melanjutkan, sesudah restructuring, UMKM diberikan kredit modal kerja baru yang
dijamin oleh pemerintah. Preminya dibayar pemerintah dan dijamin Askrindo dan Jamkrindo.
UMKM juga pajaknya ditanggung pemerintah sebesar Rp2,4 triliun. Selain itu, pemerintah
melakukan penempatan dana di perbankan supaya dana murah dari pemerintah dengan suku
bunga sekitar 80% dari Repo yaitu 3,3% bisa dicampur dengan dana perbankan untuk
memberikan kredit modal kerja yang berbunga relatif murah. 

Dengan diselenggarakannya peluncuran program Penjaminan Kredit Modal Kerja UMKM dalam
rangka Pemulihan Ekonomi Nasional ini, para pelaku UMKM dapat memanfaatkan fasilitas
tersebut sehingga dapat menggerakkan ekonomi pada sektor riil. Di samping itu diharapkan
kebijakan ini dapat memberikan keyakinan kuat kepada perbankan untuk menyalurkan kredit
modal kerja di tengah ketidakpastian kondisi perekonomian yang diakibatkan pandemi Covid-19,
serta memberikan sinergi antara pihak-pihak terkait.
"Kami siap bekerjasama dengan semua institusi, dalam hal ini perbankan dan OJK, serta dengan
seluruh dunia usaha. Kami akan terus mendukung agar seluruh sektor usaha di Indonesia bisa
segera bangkit dan kembali menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia", ujar Menkeu.

Pelaksanaan program penjaminan ini melibatkan peran Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia
(LPEI) yang ditandai dengan ditandatanganinya perjanjian kerja sama (PKS) antara Menteri
Keuangan dan LPEI serta Nota Kesepahaman antara LPEI dan Perbankan untuk penyediaan
penjaminan Pemerintah kepada Korporasi Padat Karya. Dalam kesempatan yang sama juga
dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman antara LPEI dengan PT Penjaminan
Infrastruktur Indonesia (PT PII) terkait dukungan loss limit atas penjaminan pemerintah kepada
korporasi padat karya.

Penjaminan Pemerintah ini diberikan dengan pertimbangan bahwa pandemi COVID-19 juga 
berdampak kepada korporasi berorientasi ekspor dan padat karya berupa penurunan ekspor dan
kesulitan operasional, sehingga menurunkan kinerja keuangan korporasi. Selain itu, korporasi
berorientasi ekspor dan padat karya juga menemui hambatan untuk kembali melakukan aktivitas
normal, salah satunya karena sulit mengakses kredit modal kerja dari perbankan lantaran risiko
yang tinggi. Melalui Penjaminan Pemerintah ini, pemerintah berupaya untuk mempermudah
kebutuhan kredit modal kerja dengan mendorong penyaluran kredit dari perbankan ke pelaku
usaha korporasi.

Besaran tambahan kredit modal kerja yang dijamin bernilai antara Rp 10 miliar hingga Rp 1
Triliun dengan porsi penjaminan sebesar 60% dari besaran kredit modal kerja Korporasi padat
karya. Namun khusus untuk sektor-sektor prioritas akan diberikan penjaminan sampai dengan
80% dari kredit seperti sektor pariwisata otomotif, TPT dan alas kaki, elektronik, Kayu olahan,
dan sektor usaha lain yag memenuhi kriteria terdampak Covid-19 sangat berat namun memiliki
dampak multiplier tinggi. Selain itu, Pemerintah akan menanggung pembayaran imbal jasa
penjaminan sebesar 100% atas kredit modal kerja sampai dengan Rp 300 miliar dan 50% atas
kredit modal dengan plafon Rp 300 miliar sampai RP 1 triliun.

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penjaminan ini akan segera diterbitkan dalam bentuk
Peraturan Menteri Keuangan (PMK), termasuk kriteria bank dan pelaku usaha korporasi, proses
dan tata cara permohonan penjaminan, serta dukungan pemerintah yang diberikan.
Bukti Registrasi