Anda di halaman 1dari 116

SKRIPSI

TERAPI SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT) UNTUK MENGURANGI

KECEMASAN PADA LANJUT USIA

(Studi Di Panti Sosial Lanjut Usia Kabupaten Jombang)

DISUSUN OLEH:
BAYU HERMAN SYAH 133210010

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
“INSAN CENDEKIA MEDIKA”
JOMBANG
2017

i
TERAPI SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT) UNTUK MENGURANGI
KECEMASAN PADA LANJUT USIA

(Studi di Panti Sosial Lanjut Usia kabupaten Jombang)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Pada Program

Studi S1 Keperawatan Pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Cendekia Medika

Jombang

Bayu Herman Syah

13.321.0010

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2017
PERSEMBAHAN

Syukur Alhamdulillah ku ucapkan kehadirat Allah SWT atas rahmat serta

hidayah-NYA yang telah memberi kemudahan dan kelancaran dalam penyusunan

skripsi ini higga selesai sesuai dengan dengan yang dijadwalkan. Semoga skripsi ini

bermanfaat bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan skripi ini. Skripsi ini

saya persembahkan kepada:

1. Kedua orang tuaku bapak murais dan ibu damiati yang tak henti mencurahkan

doa serta kasih sayang yang tak terhingga. Dengan semangat dan dukungan yang

tiada hentinya, baik secara moril atau materi. Hanya doa dan prestasi yang dapat

aku berkikan terima kasih bapak dan ibuku atas doa dan kasih sayang yang telah

engkau berikan

2. Dosen pembimbing Bapak Arif Wijaya, S.Kp.,M.Kep dan Ibu Maharani,

S.kep.,M.Kep yang telah membimbingku dengan sabar dan teliti dalam

mengerjakan skripsi ini. Semoga ilmu dan nasehat yang beliau berikan dapat

bermanfaat.

3. Teman-teman Mahasiswa S1 keperwatan STIKES ICME Jombang, yang selalu

sabar mendengarkan keluh kesahku dan memotivasi disetiap langkahku,

4. Seluruh Bapak dan Ibu dosen S1 keperawatan terima kasih banyak atas semua

ilmu, nasehat serta motivasi yang telah telah diberikan semoga dapat

bermanfaat.

5. Hana fika yolanda yang sudah membantu, menemani serta mendoakan

dalam penyelesaian tugas skripsi ini

vi
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di madium 12 juni 1993 dari bapak Murais dan ibu Damiati.
Penulis merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara.
Tahun 2006 penulis lulus dari SDN kedungjati, tahun 2009 penulis lulus dari
SMPN 1 Balerejo, tahun 2012 penulis lulus dari SMAN 1 Nglames. Pada tahun 2013
penulis mengikuti Program Studi S1 keperawatan di STIKES Insan Cendekia Medika
Jombang.
Demikian Riwayat Hidup ini saya buat dengan sebenarnya.

Jombang,Mei 2017

Bayu Herman Syah

vii
MOTTO

Banyak orang yang telalu banyak bermimpi tapi gagal karena mereka tidak
memahami usaha yang diperlukan untuk meraih impian tersebut

”Steping Forward to Achieve a Dream”

viii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat ridlo dan izin

dari-NYA, sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi penelitian ini dengan baik.

Selanjutnya, saya mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya

kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya penyusunan skripsi

Penelitian tentang “Terapi spiritual emotional freedom technique (SEFT) untuk

mengurangi kecemasan pada lanjut usia di Panti Sosial Lanjut Usia Kabupaten

Jombang” terutama kepada dosen pembimbing 1 yaitu Bapak Arif Wijaya,

S.Kp.,M.Kep dan Ibu Maharani, S.Kep.,Ns.,MM selaku pembimbing 2.

Penulis menyadari bahwa dalam skripsi penelitian ini masih banyak

kekurangan dan ketidaksempurnaan karena keterbatasan data dan pengetahuan

penulis serta waktu yang ada saat ini, dengan rendah hati penulis mengharap kritik

dan saran yang membangun dari kalangan pembimbing untuk kesempurnaan

makalah kami selanjutnya. Saya berharap semoga penulisan skripsi ini bermanfaat

khususnya kepada saya selaku penulis dan umumnya kepada pembaca yang

budiman..

Akhirnya, semoga Allah senantiasa meberikan rahmat dan hidayah-Nya

kepada siapa saja yang mencintai pendidikan. Amin Ya Robbal Alamin.

Jombang, Mei 2017

Penulis

ix
ABSTRAK

Terapi Spiritual Emotional Freedom Tecnique Untuk Mengurangi Kecemasan


Pada Lanjut Usia
Di Panti Sosial Lanjut Usia Kabupaten Jombang

Oleh:
Bayu Herman Syah

Pada masa lanjut usia akan banyak terjadi perubahan-perubahan baik fisik
maupun psikis. Pada umumnya masalah psikis yang paling banyak dialami lanjut usia
adalah gangguan kecemasan. Kecemasan merupakan kebingungan, kekhawatiran
pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab tidak pasti. Berdasarkan studi
pendahuluan di Panti Sosial Lanjut Usia kabupaten jombang dari 8 lanjut usia
didapatkan tingkat kecemasan ringan 1 lansia, cemas sedang 3 lansia, cemas berat 4
lansia. Tujuan dari penelitian ini menganalisis Terapi Spiritual Emotional Freedom
Technique Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Lanjut Usia Di Panti Sosial Lanjut
Usia Kabupaten Jombang.
Desain penelitian ini menggunakan Pra – Eksperimen dengan pendekatan
One Group Pretest – Post test design. Metode sampling yang digunakan purposive
sampling. Populasi seluruh lansia usia 60 – 74 tahun sebanyak 45 lansia dan sampel
32 lansia yang memenuhi kriteria inklusi pada bulan februari – Mei 2017.
Pengambilan data menggunakan kuesioner tertutup skala GAS (Geriatric Anxiety
Scale). Setelah ditabulasi, data dianalisis menggunakan uji wilcoxon dengan tingkat
kemaknaan p < 0,005.
Hasil penelitian menunjukan dari 32 lansia didapatkan 7 lansia tidak
mengalami kecemasan, 13 lansia mengalami kecemasan ringan, 12 lansia mengalami
kecemasan sedang. Sedangkan dari hasil pengujian statistik diperoleh hasil ada
pengaruh Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique terhadapa tingkat
kecemasan pada lansia dengan nilai p=0,000 dimana p<0,005.
Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Terapi Spiritual Emotional Freedom
Technique efektif menurunkan Tingkat Kecemasan Pada Lanjut Usia. Sehingga
mampu diaplikasikan dimasyarakat sebagai terapi alternatif untuk mengatasi masalah
baik fisik maupun psikis.

Kata kunci : Kecemasan, Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT)

x
ABSTRACT

Spiritual Therapy Emotional Freedom Tecnique To Reduce


Anxiety On Elderly
In Jombang Senior Social Institution of Jombang Regency

By:
Bayu Herman Syah

In the elderly there will be many changes both physical and psychological. In
general, the most common psychological problems experienced by elderly is an
anxiety disorder. Anxiety is a confusion, anxiety about something that will happen
with an uncertain cause. Based on preliminary study at Jombang Sosial Seniaan
district of jombang from 8 elderly got minor anxiety level 1 elderly, anxious being 3
elderly, worried weight 4 elderly. The purpose of this study analyze the Emotional
Freedom Technique Spiritual Therapy Against Anxiety Levels In Children's Social
Seniors Seniors In Jombang. This research uses design Pre - experiment with
approaches One Group Pretest - Post test design. The sampling method used
purposive sampling. Population of all aged elderly 60 - 74 years as much 45 elderly
and 32 elderly samples meeting the inclusion criteria in February - May 2017.
Retrieving data using the questionnaire enclosed scale GAS(Geriatric Anxiety Scale).
Once tabulated, the data were analyzed using the Wilcoxon test with a significance
level of p <0.005.
This study shows that from 32 elderly got 7 elderly do not experience anxiety,
13 elderly experience mild anxiety and 12 elderly have medium anxiety.While the
results of statistical testing results obtained no effect of Emotional Freedom
Technique Spiritual Therapy terhadapa level of anxiety in the elderly with a value of
p = 0.000 where p <0.005.
The results of this study can be concluded that the therapy Emotional
Freedom Technique Spiritual effectively lowers the level of anxiety In Seniors. So
that can be applied in the community as an alternative therapy to overcome the
problems both physical and psychological.

Keywords: Anxiety, Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT)

xi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................i
HALAMAN JUDUL DALAM.......................................................................ii
SURAT PERYATAAN KEASLIAN.............................................................iii
PERSETUJUAN SKRIPSI PENELITIAN.................................................. iv
PENGESAHAN PENGUJI............................................................................v
PERSEMABAHAN........................................................................................ vi
RIWAYAT HIDUP.........................................................................................vii
MOTTO...........................................................................................................viii
KATA PENGANTAR.................................................................................... ix
ABSTRAK.......................................................................................................x
DAFTAR ISI....................................................................................................xii
DAFTAR TABEL...........................................................................................xiv
DAFTAR GAMBAR......................................................................................xv
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................xvi
DAFTAR SINGKATAN..................................................................................xvii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang.........................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah...................................................................................2
1.3. Tujuan.....................................................................................................3
1.4. Manfaat...................................................................................................3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Kecemasan.................................................................................5
2.2 Konsep Lansia.........................................................................................22
2.3 Faktor-faktor yang berhubungan dengan kecemasan pada lansia...........27
2.4 Konsep Spiritual emotional freedom technique (SEFT).........................29
BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL
3.1 Kerangka konseptual...............................................................................42
3.2 Hipotesis..................................................................................................43
BAB 4 METODE PENELITIAN
4.1 Desain penelitian....................................................................................44
4.2 Waktu dan temapat penelitian................................................................44

4.3 Populasi dan Sampel...............................................................................45


xii
4.4 Kerangka kerja........................................................................................48
4.5 Identivikasi variable...............................................................................49
4.6 Definisi operasional................................................................................50
4.7 Pengumpulan dan analisa data................................................................51
4.8 Etika penelitian.......................................................................................56
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Gambaran demografi tempat penelitian....................................................58
Data umum58
Data khusus59
Pembahasan61
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan67
Saran68
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

xii
i
DAFTAR TABEL

No Daftar tabel Hal

4.1 Desain Penelitian..........................................................................................46


4.2 Definisi operasional pengaruh terapi SEFT terhadap tingkat kecemasan . 51
5.1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur................................................. 59
5.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin....................................59
5.3 Distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat kecemasan sebelum
dialkukan terapi SEFT59
Distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat kecemasan sesudah
dilakukan terapi SEFT60
Distribusi frekuensi pengaruh terapi SEFT terhadap tingkat kecemasan . 60

xiv
DAFTAR GAMBAR

No Daftar gambar Hal

3.1 Kerangka konsep Terapi SEFT terahadap tingkat kecemasan Lansia di

Panti Sosial Lanjut Usia Kabupaten Jombang…........................................45

4.5 Kerangka kerja Terapi SEFT terhadap tingkat kecemasan Pada Lansia

di Panti Sosial Lanjut Usia Kabupaten Jombang………......................... 50

xv
DATA LAMPIRAN

Lampiran 1 : Format pengajuan judul skripsi

Lampiran 2 : Lembar peryataan dari perpustakaan

Lampiran 3 : Lembar injin penelitian

Lampiran 4 : Format peryataan menjadi responden

piran 6 : Lembar SOP terapi SEFT Lampiran 7 : Lembar konsultasi Lampiran 8 : Daftar tabulasi data Lampiran 9 : Hasil SPSS analis
berdasarkan hasil kuesioner

xvi
DAFTAR SINGKATAN

1. EMDR = Eye movement desensitization repatterning

Lansia = Lanjut Usia

PSLU = Panti Sosial Lanjut Usia

SEFT = Spiritual Emotional Freedom Technique

WHO = World Health Organization

xvii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lanjut usia merupakan tahap terakir dalam proses alami yang tidak dapat

dihindari oleh setiap individu (Depsos, 2006). Proses Menua menyebabkan

berbagai perubahan yang mempengaruhi berbagai fungsi dan kemampuan tubuh

yang ditandai oleh berbagai kemunduran fisik, gangguan psikologi dan juga

kemampuan kognitif pada lansia yang dapat menyebabkan masalah

kesehatan.Perubahan psikologis pada lanjut usia meliputi frustasi, kesepian, takut

kehilangan kebebasan, takut meghadapi kematian, perubahan keinginan, depresi,

dan kecemasan (Maryam dkk, 2008).Kecemasan merupakan masalah psikologi

yang sering dihadapi oleh lansia dimana kecemasan mempunyai rentang respon

aldatif sampai maladatif (Tamher, 2009).

Data WHO (2015) bahwa ada 901.000.000 orang berusia 60 tahun atau

lebih yang terdiri atas 12% populasi global. Populasi lansia diindonesia mencapai

20,24 juta jiwa, setara dengan 8,03% dari jumlah penduduk Indonesia (BPS,

2014).Jumlah lansia di kota jombang sebanyak 182096 jiwa (Dinkes Jombang,

2016). Angka kejadian gangguan ansietas di Indonesia sekitar 39 juta jiwa dari

238 juta jiwa penduduk (Heningsih, 2014). Pada penelitian yang dilakukan oleh

Heningsih dkk yang dilakukan dipanti Werdha Darma Bhakti Surakartadi (2014)

dengan hasil data sebanyak 60,7% lanjut usia mengalami kecemasan. Elva Yunita

(2013) dalam penelitianya menunjukan hasil bahwa terdapat penurunan skor

kecemasan pada kelompok eksperiment dengan menggunakan terapiSEFT.

Berdasarkan hasil studi pendauluan yang dilakukan peneliti di PSLU kabupaten

1
2

Jombang, dari 8 responden didapatkan tingkat kecemasan ringan 1 lansia, cemas

sedang 3 lansia, cemas berat 4 lansia.

Hal-hal yang mempengaruhi tingkat kecemasan pada lansia, yaitu faktor

predisposisi (pendukung) dan presipitasi. Faktor predisposisi yaitu ketegangan

dalam kehidupan berupa pristiwa traumatik, konflik emosional, gangguan konsep

diri, frustasi, gangguan fisik, riwayat gangguan cemas. Sedangkan faktor

presipitasi berupa ancaman kekerasan dan ancaman terhadap harga diri (Farida

kusumawati & Yudi Hartono, 2010). Disamping faktor tersebut masih banyak

faktor yang menyebabkan kecemasan pada lansia yaituselalu memikirkan penyakit

yang dideritanya, kendala ekonomi, waktu berkumpul dengan keluarga yang

dimiliki sangat sedikit, kepikiran anaknya yang belum menikah, sering merasa

kesepian.Kecemasan yang berlebihan mempunyai dampak yang merugikan pada

pikiran serta tubuh bahkan dapat menimbulkan penyakit-penyakit fisik meliputi

penekanan pada sistem kekebalan tubuh, gangguan pencernaan, kehilangan

memori jangka pendek, penyakit arteri koroner dini (Cutler, 2004).

Upaya untuk mengurangi kecemasan pada lansia yang berlebihan supaya

tidak mengganggu aktivitas sehari-hari perlu dilakukan terapi. Banyak terapi non

farmakologi yang bisa digunkan untuk mengurangi kecemasan meliputi: TAK,

Hipnoteraphy, Terapi warna, meditasi ,dan salah satunya menggunkan

TerapiSEFT.TerapiSEFT dapat digunakan sebagai salah satu tehnik untuk

mengatasi untuk mengatasi masalah emosional maupun fisik dengan melakukan

totok ringanpada titik syaraf tubuh (Zainuddin, 2009). Terapi SEFT bisa dilakukan

oleh kelurga maupun teman yang bisa dilakukan 3kali dalam seminggu.
3

1.2 Rumusan Masalah

Apakah ada pengaruh terapiSEFT terhadap tingkat kecemasan pada lansia

di Panti Sosial Lanjut Usia Kabupaten Jombang?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengidentifikasi pengaruh terapiSEFT terhadap tingkat kecemasan pada

lansia di Panti Sosial Lanjut Usia Kabupaten Jombang.

1.3.2 Tujuan Kusus

a. Mengidentifikasi tingkat kecemasan sebelum diterapiSEFT di Panti

Sosial Lanjut Usia Kabupaten Jombang.

b. Mengidentifikasi tingkat kecemasan sesudah diterapi SEFTdi Panti

Sosial Lanjut Usia Kabupaten Jombang

c. Menganalisistingkat kecemasan sebelum dan sesudah diterapi SEFTdi

Panti Sosial Lanjut Usia Kabupaten Jombang

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Teoritis

Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan informasi dalam bidang

kesehatan kususnya studi ilmu keperawatan dalam usaha pengembangan terapi

non farmakologi khusunya terapi SEFTuntuk mengatasi masalah psikologi pasien.

1.4.2 Praktis

Metode terapi SEFT dapat digunakan sebagai terapi alternatif untuk

menurunkan kecemasan pada lansia.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Kecemasan

2.1.1 Pengertian Kecemasan

Kecemasan dapat didefinisikan suatu keadaan perasaan keprihatinan, rasa

gelisah, ketidak tentuan, atau takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber

aktual yang tidak diketahui atau dikenal (Stuart and Sundeens, 2007). Sedangkan

Suliswati, (2005) mengatakan bahwa kecemasan sebagai respon emosi tanpa

objek yang spesifik yang secara subjektif dialami dan dikomunikasikan secara

interpersonal. Kecemasan adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang

akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan

tidak menentu dan tidak berdaya.

Freud mengungkapkan bahwa kecemasan adalah fungsi ego untuk

memperingatkan individu tentang kemungkinan datangnya suatu bahaya sehingga

dapat disiapkan reaksi adaptif yang sesuai.. Kecemasan berfungsi sebagai

mekanisme yang melindungi ego karena kecemasan memberi sinyal kepada kita

bahwa ada bahaya dan kalau tidak dilakukan tindakan yang tepat maka bahaya itu

akan meningkat sampai ego dikalahkan (Alwisol, 2005).

Kecemasan adalah kondisi kejiwaan yang penuh dengan kekhawatiran dan

ketakutan akan apa yang mungkin terjadi, baik berkaitan dengan permasalahan

yang terbatas maupun hal-hal yang aneh. Deskripsi secara umum kecemasan yaitu

“perasaan tertekan dan tidak tenang serta berpikiran kacau dengan disertai banyak

penyesalan”. Hal ini sangat berpengaruh pada tubuh, hingga tubuh dirasa

menggigil, menimbulkan banyak keringat, jantung berdegup cepat, lambung

4
5

terasa mual, tubuh terasa lemas, kemampuan berproduktivitas berkurang hingga

banyak manusia yang melarikan diri ke alam imajinasi sebagai bentuk terapi

sementara ( Musfir, 2005).

2.1.3 Tingkat Kecemasan

Menurut Stuart Sudden (2007), tingkatan kecemasan dibagi menjadi 4,

antara lain:

a. Kecemasan ringan

Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan

sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan

meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan ringan dapat memotivasi

belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas.Manifestasi yang

muncul pada tingkat ini adalah kelelahan, iritabel, lapang persepsi

meningkat, kesadaran tinggi, mampu untuk belajar, motivasi meningkat

dan tingkah laku sesuai situasi.

Kecemasan ringan mempunyai karakteristik :

1) Berhubungan dengan ketegangan dalam peristiwa sehari-hari.

2) Kewaspadaan meningkat.

3) Persepsi terhadap lingkungan meningkat.

4) Dapat menjadi motivasi positif untuk belajar dan menghasilkan

kreatifitas.

5) Respon fisiologis : sesekali nafas pendek, nadi dan tekanan darah

meningkat sedikit, gejala ringan pada lambung, muka berekrut,

serta bibir bergetar.


6

6) Respon kognitif : mampu menerima rangsangan yang kompleks,

konsentrasi pada masalah, menyelesaikan masalah secara efektif,

dan terangsang untuk melakukan tindakan.

7) Respon perilaku dan emosi : tidak dapat duduk tenang, remor

halus pada tangan, dan suara kadang-kadang meninggi.

b. Kecemasan sedang

Kecemasan sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan

pada masalah yang penting dan mengesampingkan yang lain sehingga

seseorang mengalami perhatian yang selektif, namun dapat melakukan

sesuatu yang terarah. Manifestasi yang terjadi pada tingkat ini yaitu

kelelahan meningkat, kecepatan denyut jantung dan pernapasan

meningkat, ketegangan otot meningkat, bicara cepat dengan volume

tinggi, lahan persepsi menyempit, mampu untuk belajar namun tidak

optimal, kemampuan konsentrasi menurun, perhatian selektif dan terfokus

pada rangsangan yang tidak menambah ansietas, mudah tersinggung, tidak

sabar, mudah lupa, marah dan menangis. Kecemasan sedang mempunyai

karakteristik :

1) Respon biologis : sering nafas pendek, nadi ekstra sistol dan

tekanan darah meningkat, mulut kering, anoreksia,

diare/konstipasi, sakit kepala, sering berkemih, dan letih.

2) Respon kognitif : memusatkan perhatian pada hal yang penting

dna mengesampingkan yang lain, lapang persepsi menyempit, dan

rangsangan dari luar tidak mampu diterima.


7

3) Respon perilaku dan emosi : gerakan tersentak-sentak, terlihat

lebih tegas, bicara banyak dan lebih cepat, susah tidur, dan

perasaan tidak aman.

c. Kecemasan berat

Kecemasan berat sangat mengurangi lahan persepsi seseorang.

Seseorang dengan kecemasan berat cenderung untuk memusatkan pada

sesuatu yang terinci dan spesifik, serta tidak dapat berpikir tentang hal

lain. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat

memusatkan pada suatu area yang lain. Manifestasi yang muncul pada

tingkat ini adalah mengeluh pusing, sakit kepala, nausea, tidak dapat tidur

(insomnia), sering kencing, diare, palpitasi, lahan persepsi menyempit,

tidak mau belajar secara efektif, berfokus pada dirinya sendiri dan

keinginan untuk menghilangkan kecemasan tinggi, perasaan tidak berdaya,

bingung, disorientasi.

Kecemasan berat mempunyai karakteristik :

1) Individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja dan

mengabaikan hal yang lain.

2) Respon fisiologis : nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik,

berkeringat dan sakit kepala,penglihatan kabur, serta tampak

tegang.

3) Respon kognitif : tidak mampu berpikir berat lagidan

membutuhkan banyak pengarahan / tuntunan, serta lapang

persepsi menyempit.
8

4) Respon perilaku dan emosi : perasaan terancam meningkat dan

komunikasi menjadi terganggu (verbalisasi cepat).

d. Panik

Panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror karena

mengalami kehilangan kendali.Orang yang sedang panik tidak mampu

melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Tanda dan gejala yang

terjadi pada keadaan ini adalah susah bernapas, dilatasi pupil, palpitasi,

pucat, diaphoresis, pembicaraan inkoheren, tidak dapat berespon terhadap

perintah yang sederhana, berteriak, menjerit, mengalami halusinasi dan

delusi.

Panik mempunyai karakteristik :

1) Respons fisiologis : nafas pendek, rasa tercekik dan palpitasi,

sakit dada, pucat, hipotensi, serta rendahnya koordinasi

motorik.

2) Respons kognitif : gangguan realitas, tidak dapat berfikir logis,

persepsi terhadap lingkungan mengalami distorsi, dan

ketidakmampuan memahami situasi.

2.1.3 Teori Kecemasan

Menurut Sullivan & Coplan (2000) kecemasan merupakan suatu respon

terhadap situasi yang penuh dengan tekanan. Stres dapat didefinisikan sebagai

sesuatu sebagai suatu harapan yang mencetuskan cemas. Hasilnya adalah bekerja

untuk melegakan tingkah laku. Stres dapat berbentuk psikologis, social atau fisik.

Beberapa teori memberikan kontribusi terhadap kemungkinan faktor etiologi

dalam pengembangan kecemasan (Videbeck, 2008). Teori-teori tersebut adalah

sebagai berikut:
9

1. Teori Biologi

Beberapa individu yang mengalami episode sikap bermusuhan, iritabilitas,

perilaku sosial, dan perasaan mendadak bahwa segala sesuatu tidak nyata,

dapat menunjukkan gangguan panik atipikal. Mereka mengalami abnormalitas

elektroensefalografik pada lobis temporal yang biasanya berespons terhadap

karbamazepin (suatu antikunvulsan) atau obat-obatan lain dalam kategori ini.

a. Teori genetik

Howarh & weissma (2000) mengungkapkan bahwaKecemasan

dapat memiliki komponen yang diwariskan karena kerabat tingkat

pertama individu yang mengalami peningkatan kecemasan memiliki

kemungkinan lebih tinggi mengalami kecemasan. Insiden gangguan

panik mencapai 25% pada kerabat tingkat pertama (Videbeck, 2008).

b. Teori neurokimia

Sullivan & Coplan (2000) mengatakan bahwa Asam gama-amino

butirat (GABA) merupakan neurotransmiter asam amino yang

diyakini tidak berfungsi pada gangguan kecemasan. GABA, suatu

neurotransmiterinhibitor, berfungsi sebagai agens kecemasan tubuh

dengan mengurangi eskitabilitas sel sehingga mengurangi frekuensi

bangkitan neuron. GABA tersedia pada sepertiga sinap saraf,terutama

sinap di sistem limbik dan lokus sereleus, tempat neurotrasmiter

noerepinefrin meningkatkan kecemasan, diperkirakan bahwa maalah

pengaturan neurotransmiter ini menimbulkan kecemasan.

Benzodiazepin, suatu kelas obat-obatan ansitolik, terikat pada tempat

reseptor yang sama seperti GABA. Benzodiazepin membantu reseptor


10

pascasinaps untuk lebih reseptif terhadap efek GABA, yang lebih

lanjut mengurangi kecemasan. Ansiolitik mengurangi kecemasan

prabedah dan mengendalikan reaksi kecemasan akut, tetapi agens ini

harus digunakan dengan bijaksana karena bersifat adiktif (Videbeck,

2008).

2. Teori Psikodinamik

a. Psikoanalisis

Menurut Freud (1936) memandang kecemasan alamiah seseorang

sebagai stimulus untuk perilaku. Ia menjelaskan mekanisme

pertahanan sebagai upaya manusia untuk mengendalikan kesadaran

terhadap kecemasan. Individu yang mengalami kecemasan diyakini

menggunakan secara berlebihan salah satu atau pola tertentu dari

beberapa mekanisme pertahanan, yang menempatkan individu tersebut

pada salah satu tahap perkembangan psikoseksual freud (videback,

2008).

b. Teori interpersonal

Harry stack Sullivan (1952) mengungkapkan bahwa kecemasan

timbul dari masalah-masalah dalam hubungan interpersonal. Cara

mengkomunikasikan kecemasan dari individu yang satu kepada yang

lain disebut empati. Pada individu dewasa,kecemasan muncul dari

kebutuhan individu tersebut untuk menyesuaikan diri dengan norma

nilai kelompok budayanya. Semakin tinggi tingkat kecemasan,

semakin rendah kemampuan untuk mengomunikasikan dan


11

menyelesaikan masalah dan semakin besar pula kesempatan untuk

terjadi gangguan kecemasan (videbeck, 2008).

c. Teori perilaku

Ahli teori perilaku memandang kecemasan sebagai sesuatu yang

dipelajari melalui pengalaman individu. Sebaliknya, perilaku dapat

diubah atau “dibuang” melalui pengalaman baru. Ahli teori perilaku

percaya bahwa individu dapat memodifikasi perilaku malapdatif tanpa

memahami penyebab perilaku tersebut. Mereka menyatakan bahwa

perilaku yang mengganggu, yang berkembang dan mengganggu

kehidupan individu dapat ditiadakan atau dibuang melalui pengalaman

berulang yang dipandu oleh seorang ahli terlatih(Videbeck, 2008).

2.1.4 Macam-macam Kecemasan

Menurut freud (Suryabrata, 2001) ada 3 jenis kecemasan,yaitu:

a. Kecemasan Realitis

Kecemasan Realitis adalah kecemasan akan bahaya-bahaya dari luar.

b. Kecemasan Neurotis

Kecemasan Neurotis adalah kecemasan bila insting-insting tidak

dikendalikan dan menyebabkan orang berbuat sesuatu yang dihukum.

Freud membagi dalam 3 kategori, yaitu:

1. Cemas Umum

Cemas ini merupakan cemas yang sederhana yang terjadi hanyalah

individu merasa takut dan perasaan tidak menentu.


12

2. Cemas Penyakit

Cemas ini menyangkut pengalaman terhadap obyek atau situasi

tertentu sebagai penyebab kadang merasa cemas.

3. Cemas dalam bentuk ancaman

Cemas yang menyertai gejala kejiwaan seperti hysteria.

c. Kecemasan Moral

Kecemasan Moral adalah kecemasan yang timbul dari kata hati

terhadap perasaan berdosa apabila melakukan dan sebaliknya berpikir

melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma moral.

Kecemasan pada usia lanjut merupakan perasaan yang tidak

menyenangkan yang dialami oleh usia lanjut atau berupa ketakutan yang tidak

jelas dan hebat. Hal ini terjadi sebagai reaksi terhadap sesuatu yang dialami oleh

seseorang (Nugroho, 2008). Gejala-gejalanya adalah:

a. Perubahan tingkah laku

b. Bicara cepat

c. Meremas-remas tangan

d. Berulang-ulang bertanya

e. Tidak mampu berkonsentrasi atau tidak memahami penjelasan

f. Tidak mampu menyimpan informasi yang diberikan

g. Gelisah

h. Keluhan badan

i. Kedinginan dan telapak tangan lembab


13

Sedangkan menurut Hawari (2013) antara lain:

a. Gejala fisik meliputi, kegelisahan atau kegugupan, tangan atau

anggota tubuh gemetar, banyak keringat, mulut atau kerongkongan

terasa kering, sulit bernafas, pusing, merasa lemas, sulit menelan,

diare, wajah terasa merah, jantung berdebar keras atau berdetak

kencang.

b. Gejala behavioral meliputi, perilaku menghindar, perilaku melekat,

perilaku terguncang.

c. Gejala kognitif meliputi, khawatir tentang sesuatu, perasaan terganggu

akan ketakutan terhadap sesuat yang terjadi di masa depan, keyakinan

bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi, sulit berkontraksi.

2.1.6 Reaksi-reaksi Kecemasan

Atkinson & Hilgard (1999) mengungkapkan bahwa kecemasan yang

dirasakan oleh seseorang dapat memunculkan reaksi secara fisiologis dan

psikologis, yaitu :

a. Reaksi fisiologis seseorang yang mengalami kecemasan, maka

aktivitas salah satu atau lebih dari organ tubuhnya akan meningkat,

seperti meningkatnya detak jantung, susah tidur, dan keringat yang

berlebihan.

b. Reaksi psikologis merupakan reaksi berupa peningkatan atau

penurunan dorongan untuk berperilaku wajar seperti susah

berkonsentrasi, gelisah, tegang, cemas, takut, khawatir, dan bingung.


14

2.1.7 Faktor-faktor Penyebab Kecemasan

Kecemasan sering kali berkembang selama jangka waktu dan sebagian

besar tergantunga pada seluruh pengalaman hidup seseorang. Peristiwa-peristiwa

atau situasi khusus dapat mempercepat munculnya serangan kecemasan. Menurut

Savitri Ramaiah (2003) ada beberapa faktor yang menunujukkan reaksi

kecemasan, diantaranya yaitu :

a. Lingkungan

Lingkungan atau sekitar tempat tinggal mempengaruhi cara berfikir

individu tentang diri sendiri maupun orang lain. Hal ini disebabkan

karena adanya pengalaman yang tidak menyenangkan pada individu

dengan keluarga, sahabat, ataupun dengan rekan kerja. Sehingga individu

tersebut merasa tidak aman terhadap lingkungannya.

b. Emosi yang ditekan

Kecemasan bisa terjadi jika individu tidak mampu menemukan jalan

keluar untuk perasaannya sendiri dalam hubungan personal ini, terutama

jika dirinya menekan rasa marah atau frustasi dalam jangka waktu yang

sangat lama.

c. Sebab-sebab fisik

Pikiran dan tubuh senantiasa saling berinteraksi dan dapat

menyebabkan timbulnya kecemasan. Hal ini terlihat dalam kondisi

seperti misalnya kehamilan, semasa remaja dan sewaktu pulih dari suatu

penyakit. Selama ditimpa kondisi-kondisi ini, perubahan-perubahan

perasaan lazim muncul, dan ini dapat menyebabkan timbulnya

kecemasan.
15

Zakiah Daradjat (Kholil Lur Rochman, 2010) mengungkapkan

beberapa penyebab dari kecemasan yaitu :

a. Rasa cemas yang timbul akibat melihat adanya bahaya yang

mengancam dirinya. Kecemasan ini lebih dekat dengan rasa takut,

karena sumbernya terlihat jelas didalam pikiran

b. Cemas karena merasa berdosa atau bersalah, karena melakukan hal-

hal yang berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani. Kecemasan

ini sering pula menyertai gejala-gejala gangguan mental, yang kadang-

kadang terlihat dalam bentuk yang umum.

c. Kecemasan yang berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk.

Kecemasan ini disebabkan oleh hal yang tidak jelas dan tidak

berhubungan dengan apapun yang terkadang disertai dengan perasaan

takut yang mempengaruhi keseluruhan kepribadian penderitanya.

Kecemasan hadir karena adanya suatu emosi yang berlebihan. Selain

itu, keduanya mampu hadir karena lingkungan yang menyertainya, baik

lingkungan keluarga, sekolah, maupun penyebabnya. Musfir Az-Zahrani

(2005) menyebutkan faktor yang mempengaruhi adanya kecemasan yaitu:

a. Lingkungan keluarga

Keadaan rumah dengan kondisi yang penuh dengan pertengkaran atau

penuh dengan kesalahpahaman serta adanya ketidakpedulian orangtua

terhadap anak-anaknya, dapat menyebabkan ketidaknyamanan serta

kecemasan pada anak saat berada didalam rumah.


16

b. Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi

kecemasan individu. Jika individu tersebut berada pada lingkungan

yang tidak baik, dan individu tersebut menimbulkan suatu perilaku

yang buruk, maka akan menimbulkan adanya berbagai penilaian

buruk dimata masyarakat. Sehingga dapat menyebabkan munculnya

kecemasan. Kecemasan timbul karena adanya ancaman atau bahaya

yang tidak nyata dan sewaktu-waktu terjadi pada diri individu serta

adanya penolakan dari masyarakat menyebabkan kecemasan berada di

lingkungan yang baru dihadapi (Patotisuro Lumban Gaol, 2004).

Sedangkan Elina Raharisti Rufaidah (2009) menyatakan bahwa

faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah :

a. Faktor fisik

Kelemahan fisik dapat melemahkan kondisi mental individu

sehingga memudahkan timbulnya kecemasan.

b. Trauma atau konflik

Munculnya gejala kecemasan sangat bergantung pada kondisi

individu, dalam arti bahwa pengalaman-pengalaman emosional atau

konflik mental yang terjadi pada individu akan memudahkan

timbulnya gejala-gejala kecemasan.

c. Lingkungan awal yang tidak baik.

Lingkungan adalah faktor-faktor utama yang dapat mempengaruhi

kecemasan individu, jika faktor tersebut kurang baik maka akan


17

menghalangi pembentukan kepribadian sehingga muncul gejala-

gejala kecemasan.

2.1.8 Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan merupakan suatu gangguan yang memiliki ciri

kecemasan atau ketakutan yang tidak realistik, juga irrasional, dan tidak dapat

secara intensif ditampilkan dalam cara-cara yang jelas. Fitri Fauziah & Julianty

Widuri (2007) membagi gangguan kecemasan dalam beberapa jenis, yaitu :

a. Fobia Spesifik

Yaitu suatu ketakutan yang tidak diinginkan karena kehadiran atau

antisipasi terhadap obyek atau situasi yang spesifik.

b. Fobia Sosial

Merupakan suatu ketakutan yang tidak rasional dan menetap, biasanya

berhubungan dengan kehadiran orang lain. Individu menghindari situasi

dimana dirinya dievaluasi atau dikritik, yang membuatnya merasa terhina

atau dipermalukan, dan menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau

menampilkan perilaku lain yang memalukan.

c. Gangguan Panik

Gangguan panik memiliki karakteristik terjadinya serangan panik

yang spontan dan tidak terduga. Beberapa simtom yang dapat muncul

pada gangguan panik antara lain ; sulit bernafas, jantung berdetak

kencang, mual, rasa sakit didada, berkeringat dingin, dan gemetar. Hal

lain yang penting dalam diagnosa gangguan panik adalah bahwa individu

merasa setiap serangan panik merupakan pertanda datangnya kematian

atau kecacatan.
18

d. Gangguan Cemas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder)

Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah kekhawatiran yang

berlebihan dan bersifat pervasif, disertai dengan berbagai simtom

somatik, yang menyebabkan gangguan signifikan dalam kehidupan sosial

atau pekerjaan pada penderita, atau menimbulkan stres yang nyata.

Sedangkan Sutardjo Wiramihardja (2005) membagi gangguan

kecemasan yang terdiri dari :

a. Panik Disorder

Panik Disorder ditandai dengan munculnya satu atau dua serangan

panic yang tidak diharapkan, yang tidak dipicu oleh hal-hal yang bagi

orang lain bukan merupakan masalah luar biasa. Ada beberapa simtom

yang menandakan kondisi panik tersebut, yaitu nafas yang pendek,

palpilasi (mulut yang kering) atau justru kerongkongan tidak bisa

menelan, ketakutan akan mati, atau bahkan takut gila.

b. Agrophobia

Yaitu suatu ketakutan berada dalam suatu tempat atau situasi dimana

ia merasa bahwa ia tidak dapat atau sukar menjadi baik secara fisik

maupun psikologis untuk melepaskan diri. Orang-orang yang memiliki

agrophobia takut pada kerumunan dan tempat-tempat ramai.

2.1.9. Dampak Kecemasan

Rasa takut dan cemas dapat menetap bahkan meningkat meskipun situasi

yang betul-betul mengancam tidak ada, dan ketika emosi-emosi ini tumbuh

berlebihan dibandingkan dengan bahaya yang sesungguhnya, emosi ini menjadi

tidak adaptif. Kecemasan yang berlebihan dapat mempunyai dampak yang


19

merugikan pada pikiran serta tubuh bahkan dapat menimbulkan penyakit-penyakit

fisik (Cutler, 2004).

Yustinus Semiun (2006) membagi beberapa dampak dari kecemasan

kedalam beberapa simtom, antara lain :

a. Simtom suasana hati

Individu yang mengalami kecemasan memiliki perasaan akan adanya

hukuman dan bencana yang mengancam dari suatu sumber tertentu yang

tidak diketahui. Orang yang mengalami kecemasan tidak bisa tidur, dan

dengan demikian dapat menyebabkan sifat mudah marah.

b. Simtom kognitif

Kecemasan dapat menyebabkan kekhawatiran dan keprihatinan pada

individu mengenai hal-hal yang tidak menyenangkan yang mungkin

terjadi. Individu tersebut tidak memperhatikan masalah-masalah real yang

ada, sehingga individu sering tidak bekerja atau belajar secara efektif, dan

akhirnya dia akan menjadi lebih merasa cemas.

c. Simtom motor

Orang-orang yang mengalami kecemasan sering merasa tidak tenang,

gugup, kegiatan motor menjadi tanpa arti dan tujuan, misalnya jari-jari

kaki mengetuk-ngetuk, dan sangat kaget terhadap suara yang terjadi secara

tiba-tiba. Simtom motor merupakan gambaran rangsangan kognitif yang

tinggi pada individu dan merupakan usaha untuk melindungi dirinya dari

apa saja yang dirasanya mengancam. Kecemasan akan dirasakan oleh

semua orang, terutama jika ada tekanan perasaan ataupun tekanan jiwa.
20

Menurut Savitri Ramaiah (2005) kecemasan biasanya dapat menyebabkan

dua akibat, yaitu :

a. Kepanikan yang amat sangat dan karena itu gagal berfungsi secara normal

atau menyesuaikan diri pada situasi.

b. Gagal mengetahui terlebih dahulu bahayanya dan mengambil tindakan

pencegahan yang mencukupi.

2.1.10 Cara pengukuran kecemasan

a. Skala HARS

Alat ukur tingkat kecemasan telah dikembangkan oleh beberapa peneliti

sebelumnya diantaranya adalah kecemasan berdasarkan HARS, telah terbukti

dan banyak digunakan sebagai referensi untuk penelitian-penelitian yang

berkaitan dengan kecemasan. Skala HARS berisi tentang perasaan cemas,

ketegangan, ketakutan, gangguan tidur, gangguan kecerdasan, perasaan

depresi, gejala somatic, Gejala kardiovaskuler, gejala resperatori, gejala

gastrointestinal, gejala urogenital, gejala autonom, tingkah laku (Nursalam,

2008).

Gejala kecemasan berdasarkan HARS diukur berdasarkan skala yang

bergerak 0 hingga 4. Skor 0 berarti tidak ada gejala atau keluhan, skor 1 berarti

ringan (1 gejala dari pilihan yang ada), sokr 2 berarti sedang (separuh dari

gejala yang ada), skor berat (lebih dari separuh yang ada) dan skor 4 berarti

Sangat Berat (semua gejala ada). Masing-masing nilai angka (score) dari ke 14

kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut

dapat diketahui derajat kecemasan seseorang, yaitu:

a. Skor < 14 = tidak ada kecemasan.


21

b. Skor 14 – 20= kecemasan ringan.

c. Skor 21 – 27= kecemasan sedang.

d. Skor 28 – 41= kecemasan berat.

e. Skor 42 – 56 = panik.

b. Skala Zung Self Rating Anxiety Scale (ZSAS)

Zung Self Rating Anxiety Scale (ZSAS) merupakan kuisioner untuk

mengetahui tingkat kecemasan seseorang secara kuantitatif dan kualitatif.

Terdapat 20 pertanyaan, dimana setiap pertanyaan dinilai 1-4 (1: tidak pernah,

2: kadang-kadang, 3: sebagian waktu, 4: hampir setiap waktu). Terdapat 15

pertanyaan kearah peningkatan kecemasan dan 5 pertanyaan kearah penurunan

kecemasan ( Zung Self-rating Anxiety Scale dalam Ian medowell, 2006 ).

Rentang penilaian 20-80, dengan pengelompokan antara lain

: Skor 20-44 : kecemasan ringan

Skor 45-59: kecemasan sedang

Skor 60-74: kecemasan berat

c. Skala Geriatric Anxiety Scale (GAS)

Segel dkk (2010) mengungkapkan kecemasan pada lansia dapat diukur

dengan pengukuran tingkat kecemasan yaitu GAS(Geriatric Anxiety Scale).

Maka dalam penelitian ini untuk mengukur kecemasan pada Lansia juga

menggunakan standar GAS. Terdapat 25 pertanyaan, dimana setiap pertanyaan

dinilai 0-3 (0: tidak pernah, 1:pernah, 2:jarang, 3:sering).Rentang hasil skor

dari 0 hingga 75, semakin tinggi skor mengindikasikan semakin level

kecemasan tertinggi.
22

Nilai 0-18 : level minimal dari kecemasan

Nilai 19-37 : kecemasan ringan

Nilai 38-55 : kecemasan sedang

Nilai 56-75 : kecemasan berat

2.2 Konsep Lanjut Usia

2.2.1 Pengertian Lanjut Usia

Santrock (2006) mengungkapkan bahwa masa lanjut usia (lansia)

merupakan periode perkembangan yang bermula pada usia 60 tahun yang berakhir

dengan kematian. Masa ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya

kekuatan dan kesehatan, menata kembali kehidupan, masa pensiun dan

penyesuaian diri dengan peran-peran sosial (Sari Hayati, 2009).

Surini & Utomo (2003) mengungkapkan bahwa lanjut usia bukan suatu

penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang akan

dijalani semua individu, ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk

beradaptasi dengan stress lingkungan (Lilik Ma’rifatul Azizah, 2011).

Menua (menjadi tua) adalah suatu proses yang mengubah seorang dewasa

sehat menjadi seorang yang frail dengan berkurangnya sebagian besar cadangan

sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan

kematian (Setiati, Harimurti, & R, 2009).

Notoadmojo (2010) mengungkapkan Usia lanjut adalah kelompok orang

yang sedang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap dalam jangka

waktu beberapa dekade


23

Menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang

Kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia

lebih dari 60 tahun.

2.2.2 Batasan Umur Lanjut Usia

Efendi (2009) mengungkapkan batasan-batasan umur yang mencakup

batasan umur lansia menurut pendapat berbagai ahli adalah sebagai berikut:

a. Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 dalam Bab 1 Pasal 1

ayat 2 yang berbunyi “Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai

usia 60 (enam puluh) tahun ke atas”.

b. Menurut World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi

menjadi empat kriteria berikut :

a. usia pertengahan (middle age) ialah 45-59 tahun

b. lanjut usia (elderly) ialah 60-74 tahun

c. lanjut usia tua (old) ialah 75-90 tahun

d. usia sangat tua (very old) ialah di atas 90 tahun.

c. Menurut Dra. Jos Masdani (Psikolog UI) terdapat empat fase yaitu :

a. pertama (fase inventus) ialah 25-40 tahun

b. kedua (fase virilities) ialah 40-55 tahun

c. ketiga (fase presenium) ialah 55-65 tahun

d. keempat (fase senium) ialah 65 hingga tutup usia.

d. Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro masa lanjut usia

(geriatric age): > 65 tahun atau 70 tahun. Masa lanjut usia (getiatric

age) itu sendiri dibagi menjadi tiga batasan umur, yaitu young old (70-
24

75 tahun), old (75-80 tahun), dan very old ( > 80 tahun) (Efendi,

2009).

e. Menurut Depkes (2011) batasan lanjut usia meliputi:

a. Pra lansia adalah kelompok usia 45-59 tahun

b. Lansia antara 60-69 tahun

c. Lansia beresiko adalah kelompok usia <70 tahun

2.2.3 Perubahan-perubahan yang terjadi pada Lansia

Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan-perubahan

yang menuntut dirinya untuk menyesuaikan diri secara terus-menerus (Wahit

Iqbal Mubarak dkk, 2006).

1. Perubahan fisik

Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai ke semua sistem organ

tubuh, diantaranya system pernapasan, pendengaran, penglihatan,

kardiovaskuler, system pengaturan tubuh, musculoskeletal, gastro

intestinal, genitor urinaria, endokrin dan integumen. Dan masalah-masalah

fisik sehari-hari yang sering ditemukan pada lansia (Wahit Iqbal Mubarak

dkk, 2006).

2. Perubahan kondisi mental

Pada umumnya usia lanjut mengalami penurunan fungsi kognitif dan

psikomotor. Perubahan-perubahan mental ini erat sekali kaitannya dengan

perubahan fisik, keadaan kesehatan, tingkat pendidikan atau pengetahuan,

serta situasi lingkungan. Intelegensi diduga secara umum makin mundur

terutama faktor penolakan abstrak mulai lupa terhadap kejadian baru, masih

terekam baik kejadian masa lalu. Dari segi mental emosional sering muncul
25

perasaan pesimis, timbulnya perasaan tidak aman dan cemas, adanya

kekacauan mental akut, merasa terancam akan timbulnya suatu penyakit

atau takut ditelantarkan karena tidak berguna lagi (Wahit Iqbal Mubarak

dkk, 2006).

3. Perubahan psikososial

Masalah-masalah ini serta reaksi individu terhadapnya akan sangat

beragam, tergantung pada kepribadian individu yang bersangkutan. Pada

saat ini orang yang telah menjalani kehidupannya dengan bekerja

mendadak diharapkan untuk menyesuaikan dirinya dengan masa pensiun.

Bila ia cukup beruntung dan bijaksana, mempersiapkan diri untuk masa

pensiun dengan menciptakan bagi dirinya sendiri berbagai bidang minat

untuk memanfaatkan waktunya, masa pensiunnya akan memberikan

kesempatan untuk menikmati sisa hidupnya. Tetapi bagi banyak pekerja

pensiun berarti terputus dari lingkungan dan teman-teman yang akrab dan

disingkirkan untuk duduk-duduk di rumah atau bermain domino di klub

pria lanjut usia. Perubahan psikososial yang lain adalah merasakan atau

sadar akan kematian, perubahan cara hidup : memasuki rumah perawatan,

penghasilan menurun : biaya hidup meningkat dan tambahan biaya

pengobatan, penyakit kronis dan ketidak mampuan, kesepian akibat

pengasingan diri lingkungan sosial, kehilangan hubungan dengan teman

dan keluarga, hilangnya kekuatan dan ketegangan fisik : perubahan konsep

diri dan kematian pasangan hidup (Wahit Iqbal Mubarak dkk, 2006).
26

4. Perubahan Kognitif

Perubahan pada fungsi kognitif diantaranya adalah : kemunduran

umumnya terjadi pada tugas-tugas yang membutuhkan kecepatan dan tugas

yang memerlukan memori jangka pendek, kemampuan intelektual tidak

mengalami kemunduran, kemampuan verbal dalam bidang vokabular

(kosakata) akan menetap bila tidak ada penyakit (Wahit Iqbal Mubarak

dkk, 2006).

5. Perubahan Spiritual

Menurut Murray dan Zentner (1970) lanjut usia makin matur dalam

kehidupan kegamaannya, hal ini terlihat dalam berpikir dan bertidak dalam

sehari-hari, menurut Fowler : Universalizing, perkembangan spiritual pada

usia 70 tahun, perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berpikir

dan bertindak dengan cara memberikan contoh cara mencintai dan keadilan

(Wahit Iqbal Mubarak dkk, 2006).

2.2.4 Tipe Lanjut Usia

Nugroho (2000) mengungkpakan beberapa tipe pada lansia bergantung

pada karakter, pengalaman hidup, lingkungan, kodisi fisik, mental, sosial, dan

ekonominya (Maryam dkk, 2008). Tipe tersebut dijabarkan sebagai berikut.

1. Tipe arif bijaksana

Kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dengan

perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah

hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi

panutan.
27

2. Tipe mandiri

Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif dalam

mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, dan memenuhi undangan.

3. Tipe tidak puas

Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi

pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik

dan banyak menuntut.

4. Tipe pasrah

Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama,

dan melakukan pekerjaan apa saja.

5. Tipe bingung

Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder,

menyesal, pasif, dan acuh tak acuh.

Tipe lain dari lansia adalah tipe optimis, tipe konstruktif, tipe independen

(ketergantungan), tipe defensife (bertahan), tipe militan dan serius, tipe

pemarah/frustasi (kecewa akibat kegagalan dalam melakukan sesuatu), serta tipe

putus asa (benci pada diri sendiri).

2.3 Faktor-faktor yang berhubungan dengan kecemasan pada lansia

Noorkasiani (2009) mengungkapkan bahwa usia lanjut dalam pengalaman

hidupnya tentu diwarnai oleh masalah psikologi berupa kehilangan dan

kecemasan. Adapun mekanisme koping pada usia lanjut dipengaruhi faktor-faktor

(Marlina, 2010).
28

a. Faktor internal

Adapun faktor-faktor internal yang berhubungan dengan kecemasan

pada lanjut usia diantaranya:

1. Umur

Semakin bertambah usia atau umur seseorang semakin siap pula

dalam menerima cobaan, hal ini didukung oleh teori aktivitas yang

menyatakan bahwa hubungan antara sistem sosial dengan individu

bertahan stabil pada saat individu bergerak dari usia pertengahan

menuju usia tua.

2. Jenis kelamin

Perbedaan gender juga dapat merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi psikologis lansia, sehingga akan berdampak pada

bentuk adaptasi yang digunakan.

3. Tingkat pendidikan

Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin banyak

pengalaman hidup yang dilaluinya, sehingga akan lebih siap dalam

menghadapi masalah yang terjadi.

4. Motivasi

Adanya motivasi akan sangat membantu individu dalam

menghadapi dan menyelesaikan masalah.

5. Kondisi fisik

Menurut Nugroho (2000), di kemukakan adanya empat proses

penyakit yang sangat erat hubungannaya dengan proses menua,

yakni:
29

1. Gangguan sirkulasi darah. Seperti: hipertensi, kelainan pembuluh

darah, gangguan pembuluh darah di otak (koroner), dan ginjal.

2. Gangguan metabolik hormonal seperti: diabetes, minitus,

klimakterium, dan ketidakseimbangan tiroid.

3. Gangguan pada persendian, seperti osteoporosis,

goutartritis, ataupun penyakit kolagen lainnya.

4. Berbagai neoplasma.

b. Faktor eksternal

Adapun faktor-faktor eksternal yang berhubungan dengan

kecemasan pada lanjut usia diantaranya:

1. Dukungan sosial

2. Dukungan keluarga

Menurut Friedman (1998) bahwa keluarga berfungsi sebagai sistem

pendukung bagi anggotanya.

2.4 Konsep terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT)

2.4.1 Pengertian SEFT

Anwar dan Triana (2011) mendefinisikan SEFT sebagai sebuah teknik

yang mengkombinasikan antara spiritualitas melalui doa, keikhlasan, dan

kepasrahan dengan energy psychology. Adanya unsur spiritualitas adalah suatu hal

yang membedakan teknik SEFT dengan berbagai teknik terapi yang berbasis

energy psychology lainnya.

Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) merupakan teknik

penggabungan dari terapi sistem energi tubuh dan spiritualitas. Stimulasi titik

energi tubuh dilakukan dengan menggunakan metode tapping pada beberapa titik
30

tertentu pada tubuh sambil berdoa yang disertai sikappasrah kepada Tuhan

Menurut Hakam dkk. (2009).

Zainuddin (2009) sebagai penemu SEFT mendefinisikanSEFT sebagai

sebuah teknik terapi berbasis energy psychology dan spiritual power dimana

penggunanya melakukan sejumlah ketukan pada titik-titik meridiantubuh di

sepanjang jalur meridian tubuh sambil melakukan doa pada Sang Pencipta.

2.4.2 Dasar Teori SEFT

SEFT merupakan teknik terapi psikologi yang berawal dari EFT. Sebagai

teknik yang berawal dari SEFT, maka teori utama yang menjadi acuan dasar

dalam SEFT adalah enerrgy psychology (Zainuddin, 2009). Energy psychology

adalah konsep teori yang berbasis teori akupuntur namun dalam aplikasi teknik

tanpa menggunakan jarum (Gallo, 1999; Gallo & Vincenzi, 2000). Tidak berbeda

dengan teori akupuntur, teori energy psychology berasumsi bahwa setiap manusia

mempunyai suatu sistem energi yang mengatur seluruh sistem fisik maupun psikis

manusia. Sistem energi tersebut terdiri dari life force atau biasa disebut oleh para

tabib cina dengan Chi, chakra atau acupoint sebagai pusat pembangkit energi dan

penyuplai energi ke sel-sel tubuh manusia, dan 365 jalur meridian tubuh yang

berfungsi sebagai tempat mengalirnya chi (Gallo, 2005; Feinstein & Ashland,

2009).

Menurut teori energy psychology, gangguan psikologis atau sakit fisik

terjadi jika terdapat sejumlah hambatan energi negatif pada pembuluh meridian

tempat mengalirnya chi. Oleh karena itu, jika ada seseorang mengalami gangguan

psikologis sepertigangguan kecemasan, fobia ataupun depresi, berarti telah terjadi


31

ketidakseimbanganberupa adanya hambatan berupa energi negatif pada system

jalur meridiannya (Feinsten & Ashland, 2009)

Feinstein & Ashland (2012) mengatakan untuk mengatasi gangguan

tersebut dapat dilakukan dengan menstimulasi dengan menyentuh, menekan,

ataupun dengan ketukan ringan pada titik-titik acupoint yang berhubungan dengan

persoalan yang dialami. Dengan melakukan stimulasi pada titik acupoint maka

secara otomatis akan melenyapkan atau mengeluarkan energi negatif dari sistem

energi individu.

Pada SEFT digunakan stimulasi berupa ketukan ringan atau tapping pada

titik acupoint. Pada saat tapping terjadi peningkatan proses perjalanan

sinyalsinyal neurotransmitter yang menurunkan regulasihipotalamic-pitutiary-

adrenalAxis (HPA axis) sehingga mengurangi produksi hormon stres yaitu kortisol

(Church, 2009).

Efek tapping telah dibuktikan dengan sebuah penelitian di Harvard

Medical School. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang yangdalam

keadaan takut kemudian dilakukan tapping pada titik acupointnya makaterjadi

penurunan akitivitas amygdala, dengan kata lain terjadi penurunanaktivitas

gelombang otak, hal tersebut juga membuat respons fight or flight padapartisipan

terhenti. Untuk kemudian memunculkan efek relaksasi yang akanmenetralisir

segala ketegangan emosi yang dialami individu. Efek ini samadengan respon yang

muncul ketika seseorang distimulasi dengan jarum akupunturpada titik

meridiannya (Feinsten & ashland, 2012).

Spiritual merupakan komponen yang membedakan antara SEFT dan EFT.

Penambahan unsur spiritual dalam SEFT berupa doa kepada Tuhan. Zainuddin
32

(2009) mengungkapkan penambahan unsur spiritual berupa doa menghasilkan

amplifiying effect atau efek pelipatgandaan pada EFT.

Lewis & Barnes(2008) dalam penelitian mengungkapkan terhadap 2306

sampel untuk melihat korelasi antara frekuensi berdoa dengan psychology Lewis

& Barnes membagi kategori psychology health menjadi 4 aspek yaitu

extraversion,psychoticsm, neurotocism, dan lie scale. Lewis & Barnes

menemukan bahwa seseorang yang sering berdoa mempunyai skor extraversion,

psychoticsm,neurotocism, dan lie scale yang lebih rendah ketimbang individu

yang berdoa kadang-kadang atau tidak sama sekali. Dengan kata lain, individu

yang sering berdoa akan mempunyai kesehatan mental yang baik.

Wachholtz& Sambaamorthi (2011) mengungkapkan penyebab doa dapat

memberikan efek positif terhadap kondisi psikilogis individu adalah adanya

sebuah proses coping pada individu.dengan berdoa individu diajak melakukan

proses coping. Doa menggiring individu untuk memahami segala sesuatu dari

sudut pandang yang jauh lebih tinggi atau transendence (Lewis & Barnes, 2008).

Bagi individu yang jarang berdoa, sakit pada tubuh fisik dapat dianggap sebagai

sesuatu yang buruk dan suatu kesialan sehingga dapat mengalami stres,

kecemasan, ataupun depresi. Berbeda halnya dengan individu yang rutin berdoa

dengan penuh penghayatan, bagi individu tersebut sakit bisa jadi sebuah bentuk

proses pencucian dosa, peningkatan derajat, bahkan sebagai bentuk cinta kasih

Tuhan terhadap dirinya. Proses pemaknaan peristiwa secara transendece inilah

yang menjadi sebuah bentuk coping bagi individu. Hal ini juga senada dengan

pendapat Lazarus & Folkman (1986) yang mengungkapkan bahwa nilai-nilai

religiusitas dapat berperan untuk coping stres pada individu.


33

Zainuddin (2009) menjelaskan bahwa SEFT dapat dijelaskan dari filsafat

psikologi eksistensial yang termasuk dalam mazhab humanistik. Viktor Frankl

mengembangkan teknik terapi yang berbasis psikologi eksistensial yang dikenal

dengan logotherapy (Corey, 2009).

Frankl (2009) mengungkapkan bahwa penyebab individu mengalami

problem psikologis seperti depresi, dan gangguan kecemasan adalah akibat

ketidakmampuan individu untuk memaknai persoalan yang dihadapinya secara

positif. Frankl menjelaskan bahwa untuk bisa bebas dari persoalan psikologisnya

dan dapat mencapai kebahagiaan maka individu perlu memaknai peristiwa yang

dihadapinya secara positif. Salah satu pemaknaan positif tersebut adalah

memaknai sebuah peristiwa dari sudut pandang spiritualitas. Viktor Frankl

mengatakan pula bahwa sudut pandang spiritualitas sebagai the ultimate meaning

(makna puncak) yang dapat digunakan oleh individu untuk mencapai

kebahagiaan. Dengan kata lain ketika spirutualitas merupakan suatu hal yang akan

berpengaruh sangat besar dalam menentukan bahagia atau tidaknya individu.

Zainuddin (2009) mengungkapkan bahwa dalam SEFT terdapat

pelaksanaan dari logotherapy. Hal ini dapat dilihat pada teknik SEFT pada tahap

set up, tune in maupun tapping yang mengajarkan individu untuk dapat ikhlas dan

pasrah kepada Tuhan dalam menghadapi setiap persoalan yang dihadapinya.

Dengan demikian SEFT memberikan sejumlah pemaknaan yang bersifat

spiritualitas pada penggunanya terhadap persoalan yang dihadapinya.Pemaknaan

spiritualitas seperti:

a. Tuhan itu ada, Tuhan yang mengatur alur kehidupan saya.


34

b. Jika Tuhan memberikan kesulitan, disaat bersamaan Tuhan

juga memberikankemudahan.

c. Setiap kesulitan yang hadir adalah bagian dari keputusuan Tuhan

yang pastinya baik untuk saya saat ini.

d. Tuhan dan manusia mempunyai tugas yang berbeda. Tugas saya hanyalah

berusaha, sedangkan tugas Tuhan adalah menentukan hasil.

Oleh karena itu,dengan menjalankan SEFT individu dapat terbebas dari persoalan

psikologis yang dihadapinya maupun mencapai kebahagiaan atau hidup yang

bermakna.

2.4.3 Faktor yang mempengaruhi keberhasilan SEFT

Ada 5 hal yang harus kita perhatikan agar SEFT yang kita lakukan efektif.

Lima hal ini harus kita lakukan selama terapi, mulai Set-up, Tune-up, hingga

Tapping ( Zainuddin, 2009 ).

1. Yakin

Anda (terapis maupun klien) tidak perlu yakin samaSEFT atau diri anda

sendiri, anda hanya perlu yakin pada Maha Kuasanya Tuhan dan

Sayangnya Tuhan pada anda.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs Al

Insyirah ayat 5).

2. Khusyu

Selama melakukan terapi kususnya saat Set-up, kita harus kosentrasi atau

khusu. Pusatkan pikiran kita pada saat melakukan Set-up (berdoa) pada

“Sang Maha Penyembuh”.


35

3. Ikhlas

Ikhlas artinya ridho atau menerima rasa sakit kita (baik fisik maupun

emosi) dengan sepenuh hati. Ikhlas berarti tidak mengeluh, tidak complain

atas musibah yang sedang kita terima.

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas

menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan”

(Qs:An Nisaa' ayat 125).

4. Pasrah

Pasrah dalah menyerahkan apa yang terjadi nanti pada Allah SWT. Kita

pasrahkan pada-Nya apa yag terjadi nanti, apakah makin sakit atau makin

membaik semua kita pasrahkan pada Allah.

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan

mencukupkan (keperluanya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan

ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (QS.Ath-Thalaq:3).

5. Syukur

Bersyukur saat kondisi semua baik-baik saja adalah mudah. Sunggu berat

untuk tetap bersyukur disaat kita masih punya masalah berat yang belum

selesai. Jangan samapai satu masalah kecil menenggelamkan rasa syukur

kita atas nikmat Allah. Maka kita perlu “discipline of gratitude”,

mendisiplinkan pikiran, hati dan tindakan kita untuk selalu bersyukur,

karena bisa jadi penyakit yang diderita kita lupa mensyukuri nikmat yang

Selama ini kita terima.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan ; Sesungguhnya,

jika kamu bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan,
36

jika kamu mengingkari (nikmat-ku), sesungguhnya azab-ku sangat pedih

(Qs Ibrahim ayat 7).

2.4.4 Faktor Penghambat Keberhasilan SEFT

Menurut Zainuddin (2009) ada 11 faktor penghambat dalam keberhasilan

tor-faktor tersebut sebagai berikut:

huan dan keterampilan

inya diperlukan Learn More, Practice More, belajar lebih banyak dan sering praktek.

inya dengan cara minum air yang banyak sebelum melakukan SEFT minimal 0,5 liter, karena energy tubuh dapat dialirkan d
ual

Masalah Solusi

Kurang yakin Yakin bukan pada SEFT atau pada terapis,namun pada
kekuasaan Tuhan dan rasa kasihnya.

Kurang ikhlas Sadari bahwa kita ini adalah hambanya

Kurang Kusyu Bayangkan anda dilihat Tuhan sekarang

Kurang Pasrah Bayangkan anda dalam kondisi terjepit, diujung tanduk


dan tidak ada seorang pun yang dapat membantu anda
kecuali Tuhan

Kurang Syukur Sadari bahwa dalam setiap masalah ada 1000 nikmat yang
belum kita sukuri
37

4. Perlawanan Psikologis

Cara mengatsi dengan berpikir positif

5. Kurang spesifik

Cara mengatasi dengan Tell The Story Technique, The Movie

Technique, The Tearless Trauma Technique.

6. Akar masala belum ditemukan

Carilah akar masalah dari keluhan penderita layaknya seorang detektif.

7. Aspek yang berubah-ubah

Cara mengatasi dengan fokus terhadap salah satu aspek.

8. Mebutuhkan sentuhan orang lain

Kita membutuhkan orang lain dalam melakukan SEFT terutama yang

lebih berpangalaman karena saat orang lain melakukan SEFT untuk

anda akan terjadi penambahan energi tubuh yang saling berinteraksi.

9. Tidak ingin berubah

Anda tidak bisa membantu orang yang memang tidak ingin dibantu.

10. Memerlukan “PERNAFASAN COLLARBON”

Hanya untuk 5% populasi yang masalahnya tidak kunjung hilang

setelah berulang kali tapping dengan berbagai teknik.

11. Alergi terhadap objek tertentu.

Cara megatasi dengan menghindari objek alergi

2.4.5 Prosedur SEFT

Ada dua versi dalam melakukan SEFT. Versi pertama adalah versi

lengkap, dan yang kedua adalah versi ringkas (short-cut). Kedua versi SEFT

tersebut terdiri dari 3 langkah, perbedaannya hanya pada langkah ketiga


38

(thetapping). Pada versi singkat, langkah ketiga dilakukan hanya pada 9 titik saja,

sedangkan pada versi lengkap tapping dilakukan pada 18 titik (Zainuddin, 2009).

Zainuddin (2009) menjelaskan versi lengkap maupun versi ringkas

SEFTterdiri dari 3 tahap yaitu: the set-up, the tune-in dan the tapping yaitu:

1. The set-up

The set-up adalah tahap dimana pengguna SEFT mengakses persoalan

emosinya dan melakukan doa dengan khusuk, ikhlas, sambil menekan titik

sorespot (titik SEFT yang terletak di dada bagian atas) atau mengetuk titik

karatechop (titik dibagian tangan yang biasa dipakai para karateka untuk

memecah batu bata). Tujuan dari set up adalah untuk mengarahkan fokus

pada aliran energi yang bermasalah dan mentralisir psychological reversal

atau keyakinan-keyakinan bawah sadar yang bersifat merugikan. Cara

untuk dapat mengakses persoalan yang dihadapi adalah dengan mengingat

persoalan yang dihadapi oleh pengguna SEFT. Adapun pola susunan doa

dalam teknik SEFT adalah sebagai berikut :Ya Allah...meskipun saya

merasa (disesuaikan dengan kondisi pengguna SEFT) karena

saya ikhlas menerima rasa ini, dan saya

pasrahkan kepadaMu ketenangan hati dan pikiran saya.

2. The tune-in

The tune in adalah tahapan dimana pengguna SEFT tetap

memfokuskan perhatian pada persoalan psikisnya sambil terus

mengucapkan doa “Ya Allah..saya ikhlas…. saya pasrah”dengan penuh

kesadaran. Tujuan dari tune in adalah agar pengguna SEFT dapat

terhubung pada gangguan pada sistem energi.


39

3. The Tapping

The tapping adalah mengetuk ringan dengan dua ujung jari pada ke 18

titikSEFT secara berurutan maupun tidak berurutan sambil tetap

melakukan tune in.jika titik ini di ketuk beberapa kali maka akan

berdampak pada ternetralisirnyagangguan emosi yang dirasakan individu,

hal ini terjadi karena aliran energi tubuhberjalan dengan normal dan

seimbang kembali dengan melakukan tappingtersebut. Titik-titik tersebut

adalah :

1. Cr = Crown,terletak dibagian atas kepala.

2. EB = Eye Brow, terletak permulaan alis mata.

3. SE = Side of the Eye, terletak terdaerah diatas tulang disamping

mata.

4. UE = Under the Eye, terletak titik yang terletak 2 cm dibawah

kelopak mata.

5. UN = Under the Nose,terletak tepat dibawah hidung.

6. Ch = Chin, terletak antara dagu dan bagian bawah bibir.

7. CB = Collar Bone, terletak diujung tempat bertemunya tulang

dada, collar bonedan tulang rusuk pertama.

8. UA = Under the Arm, terletak dibawah ketiak sejajar dengan

putting susu (pria)atau tepat di bagian tengah bra (wanita.)

9. BN = Bellow Nipple, terletak 2,5 cm dibawah putting susu (pria)

atau diperbatasan antara tulang dada dan bagian bahwa

payudara.

10. IH = Inside of Hand, terletak di bagian dalam tangan yang

berbatasan dengantelapak tangan.


40

11. OH = Outside of Hand, terletak di bagian luar tangan yang

berbatasan dengantelapak tangan.

12. Th = Thumb, terletak pada samping luar bagian bawah kuku pada

ibu jari.

13. IF = Index Finger, terletak disamping luar bagian bawah kuku pada

jari telunjuk(dibagian yang menghadap ibu jari).

14. MF = Middle Finger, terletak disamping luar bagian bawah kuku

pada jari tengah (dibagian yang menghadap ibu jari).

15. RF = Ring Finger, terletak disamping luar bagian bawah kuku

pada jari manis (dibagian yang menghadap ibu jari).

16. BF = Baby Finger, terletak disamping luar bagian bawah kuku

pada jarikelingking (di bagian yang menghadap ibu jari).

17. KC = Karate Chop, terletak di samping telapak tangan, bagian

yang digunakanuntuk mematahkan balok saat berkarate.

18. GS = Gamut Spot, terletak dibagian antara perpanjangan tulang jari

manis dantulang jari kelingking.

Pada titik terakhir, sambil melakukan tappingpada titik-titik SEFT,

pengguna SEFT juga melakukan gerakan the 9 gamut procedure. The 9

gamutprocedureadalah kegiatan melakukan 9 gerakan untuk merangsang

bagian otak kanan agar aktif dan bekerja. Sembilan gerakan itu dilakukan

sambil melakukan tapping pada salah satu titik energitubuh yang

dinamakan gamut spot. Gamut spotterletak diantara ruas tulang jari

kelingkingdan jari manis. Sembilan gerakan itu adalah:


41

1. Menutup mata.

2. Membuka mata.

3. Mata digerakkan dengan kuat ke kanan bawah.

4. Mata digerakkan dengan kuat ke kiri bawah.

5. Memutar bola mata searah jarum jam.

6. Memutar bola mata berlawanan arah jarum jam.

7. Bergumam dengan berirama selama 3 detik.

8. Menghitung 1, 2, 3, 4, 5.

9. Bergumam lagi selama 3 detik.

Dalam psikoterapi, teknik the 9 gamut proceduredikenal juga sebagai

teknik EMDR (eye movement desensitization repatterning).Setelah menyelesaikan

9gamut procedure, langkah terakhir dari tahap the tapping adalahmengulang lagi

tapping dari titik pertama hingga ke-17 (berakhir di karate chop). Proses SEFT

diakhiri dengan mengambil nafas panjang dan menghembuskan nafas dengan

pelan, sambilmengucap rasa syukur kepada Tuhan.


BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konseptual

Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan, suatu uraian dan

visualisasi hubungan serta kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang

tau antara variabel satu dengan variabel lainnya dari masalah yang ingin ditelitiyangnantinyaakandiamati(diukur)melaluime
odjo, 2010).

Faktor-faktor yang
Faktor perancu mempengaruhi kecemasan
Faktor yang mempengaruhi a. Kurang Pengetahuan
keberhasilan terapi SEFT A. Faktor internal
terapis a. Umur
a. Yakin b. Dehidrasi klien b. Jenis kelamin
b. Khusyu c. Hambatan Spiritual c. Tingkat pendidikan
c. Ikhlas klien d. Motivasi
d. Pasrah d. Perlawanan e. Kondisi fisik
e. syukur Psikologis klien B. Faktor ekseternal
e. Kurang Spesifik a. Dukungan sosial
f. Akar masalah b. Dukungan
Belum ditemukan keluarga
g. Aspek yang
Tahap Terapi SEFT berubah-ubah dll.
Tingkat kecemasan
a. The Set-Up
b. The Tune-In a. Kecemasan ringan
c. The Tapping b. Kecemasan sedang
( Zainuddin, 2009 ) c. Kecemasan berat
d. Panik
( Stuart Sudden dalam
Keterangan: buku Asmadi, 2008 )

: Tidak Diteliti

: Mempengaruh
: Diteliti

Gambar 3.1. kerangka konsep pengaruh terapi SEFT terahadap tingkat kecemasan
lansia diPanti Sosial Lanjut Usia kabupaten Jombang.
Penjelasan kerangka konsep :

42
43

Metode penurunan kecemasan menggunakan terapi SEFT salah satunya

akan menggunakan tapping , memberikan ketukan pada titik-titik yang dirasa

sobyek menjadi salah satu sumber kecemasan. Teknik tapping berfungsi untuk

merangsang syaraf yang kaku, ketika tapping diberikan pada kecemasan maka

mampu melenturkan (mengendorkan) syaraf-syaraf yang kaku. Tapping yang akan

dilakukan terapis akan menghasilkan proses terapi energi dan EMDR (Eye

Movement Densitization Repattering). Dari proses tapping akan mengalami

penurunan ketegangan. Ketukan-ketukan yang dilakukan oleh terapis, akan

menambah energi subjek, setelah itu melakukan EMDR atau gerakan mata agar

system syaraf otot merasa ringan atautidak kaku. EMDR lebih pada melenturkan

system syaraf. Dari proses EMDR maka akan terjadi penerunan kecemasan.

3.2 Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau

pertanyaan penelitian yang harus diuji kebenaranya( Nursalam, 2008).

H1 : Terapi SEFT efektif menurunkan tingkat kecemasan pada lansia.


BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Desain penelitian adalah suatu yang sangat penting dalam penelitian yang

memungkinkan pemaksimalan kontrol beberapa faktor yang bisa mempengaruhi

akurasi hasil (Nursalam, 2007).

sign. Dalam desain ini, sebelum perlakuan diberikan terlebih dahulu sampel diberika pretest (tes awal) setelah itu sampel d

Pretest Treatment Postest

01 X1 02

01 = Pemberian pretest sebelum terapi SEFT

02 = Pemberian posttest sesudah terapi SEFT

X1 = Perlakuan berupa terapi SEFT

Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal februari sampai selesai 2017

44
45

B. Tempat penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Panti Sosial Lanjut Usia Kabupaten

Jombang. Berdasarkan hasil studi pendauluan yang dilakukan peneliti

di PSLU kabupaten Jombang, dari 8 responden didapatkan tingkat

kecemasan ringan 1 lansia, cemas sedang 3 lansia, cemas berat 4 lansia.

4.3 Populasi dan Sampel

4.3.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/ subjek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono 2013). Populasi

diperoleh dari semua lansia di Panti Sosial Lanjut Usia Kabupaten

Jombangsejumlah 45 lansia.

4.3.2 Sampel

a. Besar Sampel

Sampel adalah sebagai bagian dari populasi yang menjadi objek

penelitian. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari

semua mungkin karena keterbatasan dana, tenaga, dan waktu. Maka

peneliti dapat mengambil sampel dari populasi itu (Sugiyono, 2013).

Dengan memperhatikan karakteristik sebagai berikut:

a. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian pada

populasi target dan populasi terjangkau (Nursalam, 2008). Kriteria

inklusi dalam penelitian ini adalah :


46

1. Bersedia mengikuti penelitian dibuktikan dengan

menandatangani lembar informed consent

2. Umur 60-74 tahun

b. Kriteriaeksklusi

ah mengeluarkan sebagian subyek yang memenuhi inklusi dari penelitian karena berbagai sebab (Nursalam, 2008). Kriteria

elitian sampai selesai (drop out)

el

Rumus n =N
Nd2 + 1

Keterangan :
n: Jumlah sampel N : Jumlah populasi

d2 : Presisi yang ditetapkan


(Nursalam,2008)

Diketahui: N = 45

d = 0,1

ditanya : n =….?

Rumus n= N
2
N(d) + 1

= 45
2
45 (0,1) + 1
47

= 45

45 (0,01) + 1

= 31,034

Hasil dari perhitungan jumlah sampel didapatkan angka 31,034

nusia maka angka tersebut dibulatkan menjadi 32 lansia.

roses seleksi sampel yang digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada, sehingga jumlah sampel akan mewakili keselu
menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling merupakan tehnik pengmbilan sampel dilakukan dengan per
48

4.4 Kerangka Kerja (frame work)

Identifikasi masalah

Populasi
Semua Lansia di panti sosial lanjut usia Jombang sebanyak 45 jiwa.

Sampling
purposive sampling

Sampel
Sampel sejumlah 32Lansia di panti sosial lanjut usia Jombang

Desain penelitian
pre-eksperiment

Pengumpulan Data
Menggunakan kuisioner dan lembar observasi

Variabel independen: Variabel dependen: Tingkat Kecemasan pada Lansia


Terapi SEFT

Pengolahan Data
Editing, coding, scoring, tabulating

Analisa Data
Uji wilcoxon dengan SPSS 21

Penyajian Data

Penyusunan laporan akhir

Kesimpulan dan Saran


Gambar 4.5 Kerangka kerja Pengaruh Terapi SEFT terhadap tingkat kecemasan
Pada Lansiadi Panti Sosial Lanjut Usia Kabupaten Jombang.
49

4.5 Identifikasi Variabel

Variabel adalah sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh

penelitiuntuk dipelajari sehinggga diperoleh informasi untuk ditarik kesimpulan

(Sugiyono, 2013).

Variabel Independen (bebas)

Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya ata
Variabel Dependen (terikat)

Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel
50

4.6 Definisi operasional

Tabel 4.6Definisi operasional pengaruh terapi SEFT terhadap tingkat kecemasan


Lansia di Panti Sosial lanjut Usia jombang.

Variabel Definisi operasional Parameter Alat Skala Skor


ukur

Independent Terapi dengan 1. The set-up yaitu SOP


menggunakan gerakan menetralisir 50nergy
Terapi SEFT sederhana yang negative yang ada
dilakukan untuk ditubuh
membantu 2. The tun-in yaitu
menyelesaikan masalah mengarahkan pikiran
sakit fisik maupun pada tempat rasa
psikis dan mengurangi sakit
kecemasan pada lansia 3. The tapping yaitu
mengetuk ringan
dengan dua ujung jari
pada titik-titik
tertentu ditubuh
manusia
(Zainuddin,2009)

Dependent Perasaan subjektif Tingkatan seseorang K O Menggunakan


yang dialami merespon gejala U R skala GAS dengan
Tingkat individumengenai kecemasan yaitu E D penilaian
kecemasan ketegangan mental j. Perubahan S I Nilai0=Tidak
pada lansia yang menggelisahkan tingkah laku I N pernah
sebagai reaksi umum k. Bicara cepat O A sama sekali
dan ketidakmampuan l. Meremas-remas N L Nilai 1= Pernah
menghadapi masalah tangan E Nilai 2= Jarang
atau adanya rasa m. Berulang-ulang R Nilai 3= Sering
aman. bertanya
n. Tidak mampu Penialianderajat
berkonsentrasi Kecemasan.
atau tidak Nilai 0-18 : level
memahami minimal dari
penjelasan kecemasan
o. Tidak mampu Nilai19-37:
menyimpan kecemasan
informasi yang ringan
diberikan Nilai 38-55 :
p. Gelisah kecemasan
q. Keluhan badan sedang
r. Kedinginan dan Nilai 56-75 :
telapak tangan kecemasan berat
lembab (Daniel L, 2010)
51

4.7 Pengumpulan dan Analisa data

4.7.1 Instrumen

Instrumen penelitian adalah alat pengumpul data yang disusun dengan

maksud untuk memperoleh data yang sesuai baik data kualitatif maupun data

kuantitatif (Nursalam, 2008). Dalam pengumpulan data pada penelitian digunakan

alat berupa kuesioner yang diberikan pada responden yang memenuhi kriteria.

Kuesioner dalam penelitian diartikan sebagai daftar pertanyaan yang sudah

tersusun dengan baik dan responden memberikan jawaban dengan tanda-tanda

tertentu (Arikunto, 2010). Alat ukur atau instrumen yang digunakan dalam

penelitian ini adalah kuesioner dengan skala GAS dengan jumlah 25 pernyataan

yang sudah diuji validitas maupun reliabelitas.Masing-masing nilai angka (score)

dari ke 25 kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan

tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang, yaitu:

a. Nilai 0-18: level minimal dari kecemasan

b. Nilai 19-37: kecemasan ringan

c. Nilai 38-55: kecemasan sedang

d. Nilai 56-75: kecemasan berat

4.7.2. Prosedur penelitian

Dalam melakukan penelitian, prosedur yang ditetapkan adalah sebagai

berikut:

1. Mengurus surat pengantar penelitian ke STIKES ICME Jombang.

2. Meinta izin kepada Kepala PSLU Kabupaten Jombang


52

3. Menjelaskan kepada calon responden tentang penelitian dan bila bersedia

menjadi responden dipersilahkan untuk menandatangani informed

consent.

4. Responden mengisi semua daftar pertanyaan sebelum melukakan terapi

dalam lembar kuesoiner yang telah diberikan, dan jika telah selesai

kuesioner diserahkan pada peneliti.

5. Penelitian memberikan terapi tentang SEFT.

6. Responden mengisi semua daftar pertanyaan sesudah Terapi SEFT dalam

lembar kuesoiner yang telah diberikan, dan jika telah selesai kuesioner

diserahkan pada peneliti.

7. Setelah kuesioner terkumpul, peneliti melakukan tabulasi dan

analisa data.

8. Penyusunan laporan hasil penelitian.

Melakukan analisa, data diolah dengan tujuan mengubah data

menjadi informasi. Informasi yang diperoleh digunakan untuk proses

pengambilan keputusan, terutama dalam pengajuan hipotesis. Langkah-

langkah dalam proses pengolahan data adalah sebagai berikut:

a. Editing

Editing merupakan upaya untuk memeriksa kembali kebenaran

data yang diperoleh atau dikumpulkan serta memeriksa

kelengkapan dan kesalahan. Saat dilakukan penelitian ada beberapa

responden yang belum lengkap dalam mengisi kuesioner, maka


53

peneliti memeriksa dan menannyakan kembali kepada responden

tentang data yang belum dilengkapi oleh responden

b. Coding

Coding adalah pemberian kode numerik (angka) terhadap data

kode ini sangat penting bila pengolahan dan analisis data menggunakan komputer.Biasanya dalam pemberian kode dibuat j

a. Responden

Responden 1 = R1

Responden 2 = R2

Responden 3 = R3

b. Umur

Umur 60-64 =1

Umur 65-69 =2

Umur 70-74 =3

c. Jenis kelamin

Laki-laki =1

Perempuan =2

d. Tingkat Kecemasan

normal =1

cemas ringan =2
54

cemas sedang =3

cemas berat =4

c. Scoring

Scoring adalah penentuan jumlah skor, dalam penelitian ini

menggunakan skala ordinal. Skor untuk kuisioner kecemasan

adalah skor 0 = Tidak pernah sama sekali, skor 1 = Pernah, skor 2

= Jarang, skor 3 = Sering

d. Tabulating

Tabulating adalah tahap tabulasi yang dilakukan yaitu

memasukkan data ke dalam tabel-tabel dan mengatur angka-angka

sehingga dapat dihitung jumlah kasus dalam berbagai kategori.

Setelah data terkumpul dalam tabel, dilaksanakan pengolahan

dengan menghitung skor yang tertinggi dan skor terendah untuk

menentukan distribusi frekuensi. Adapun hasil pengolahan data

tersebut diinterpretasikan menggunakan skala kumulatif.

100% : Seluruhnya

76% - 99% : Hampir seluruhnya

51% - 75% : Sebagian besar dari responden

50% : Setengah responden

26% - 49% : Hampir dari setengahnya

1% - 25% : Sebagian kecil dari responden

0% : Tidak ada satupun dari responden

(Arikunto, 2010).
55

2. Analisa Data

a. Analisis Univariate

Analisis univariate dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil

penelitian, yang bertujuan untuk menjelaskan karakteristik tiap

variabel yang terdiri dari umur, jenis kelamin. Pada umumnya

dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase

dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2010). Data kusus dari penelitian

ini adalah variabel dependent (tingkat kecemasan) dan variabel

independent (Terapi SEFT). Untuk mengukur kecemasan

digunakan skala GAS. Pada skala GAS disediakan empat

alternative jawaban dan setiap jawaban sudah tersedia skornya.

a. Nilai 0 = Tidak pernah sama sekali

b. Nilai 1 = Pernah

c. Nilai 2 = Jarang

d. Nilai 3 = Sering

Penilaian derajat kecemasan

a. Nilai 0-18: level minimal dari kecemasan

b. Nilai 19-37: kecemasan ringan

c. Nilai 38-55: kecemasan sedang

d. Nilai 56-75 : kecemasan berat b.

Analisis bivariate

Analisis yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga

berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2010), yaitu kriteria

variabel terapi SEFT dan kecemasan.


56

Untuk mengetahui pengaruh dari terapi SEFTterhadap tingkat

kecemasan Lansia diuji dengan uji stastistik wilcoxon dengan

tingkat signifikan 0,05 mengunakan SPSS 21. Jika ρ < 0,05 maka

H0 (hipotesa nol) ditolak, artinya ada pengaruh terapi SEFT

terhadap tingkat kecemasan pada lansia di panti sosial lanjut usia

kabupaten jombang.

4.8 Etika Penelitian

4.8.1 Informed Consent

Informed Consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan

responden. Informed Consent tersebut diberikan sebelum penelitian

dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi

responden. Tujuan Informed Consent adalah agar subjek mengerti maksud

dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya.

4.8.2 Anonimity (tanpa nama)

Masalah etika merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam

penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau

mencantumkan nama. Responden pada lembar alat ukur dan hanya

menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang

akan disajikan.

4.8.3 Confidentiality (kerahasiaan)

Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan

kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah

lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan


57

oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada

hasil riset (Hidayat, 2010).


BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini menguraikan hasil penelitian yang dilakukan di Panti Sosial

Lanjut Usia kabupaten jombang pada tanggal 3-12 april 2017 dengan responden

32 lansia. Hasil penelitian disajikan dalam dua bagian yaitu data umum dan data

kusus. Data umum dimuat karakteristik responden bedasarkan umur, jenis

kelamin. Sedangkan data kusus terdiri dari tingkat kecemasan sebelum terapi

SEFT, karakteristik sesudah terapi SEFT, dan pengaruh terapi SEFT terhadap

tingkat kecemasan pada Lansia.

5.1. Gambaran umum tempat penelitian

Lingkup unit pelayanan teknis panti sosial lanjut usia jombang tediri dari

lima wisma , satu gedung serbaguna untuk kegiatan penghuni panti dan dua kantor

petugas atau pekerja yang ada dipanti. Panti sosial lanjut usia jombang dihuni oleh

70 lansia, 11 diantaranya berada diruang intensif care dikarenakan sisanya ada di

pavillium anggrek, mawar, melati dan boegenfil. Di panti terdapat beberapa

petugas yang datang setiap harinya dan 1 diantaranya adalah perawat panti yang

menangani segala keluhan yang dimiliki oleh para lansia.

5.2. Data umum

Hasil penelitian terhadap orang tua di Panti sosial lanjut usia kabupaten

jombang diperoleh distribusi frekuensi responden menurut usia yang dapat dilihat

pada tabel 1. Responden terdiri dari umur 60-64 tahun sebanyak 10 lansia, umur

65-69 tahun sebanyak 8 lansia dan umur 70-75 sebanyak 14 lansia. Mayoritas

responden berjenis kelamin perempuan, yaitu sebanyak 20 orang (62,5%).

58
59

5.2.1 Distribusi frekuensi respondent berdasarkan umur


Table 5.1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur di panti sosial lanjut
usia kabupaten jombang.

No Umur (tahun) Frekuensi Presentasi


1 60-64 10 31,25
2 65-69 8 25
3 70-74 14 43,75
Jumlah 32 100
Sumber: Data primer tahun 2017

Berdasarkan table 5.1 diketahui bahwa hampir dari setengahnya

responden berumur 70-74 tahun sebanyak 14 responden (43,75%).

5.2.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin

Table 5.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin dipanti sosial
lanjut usia kabupaten jombang

No Jenis kelamin Frekuensi Presentasi


1 Laki-laki 12 37,5
2 Perempuan 20 62,5
Jumlah 32 100
Sumber: Data primer 2017

Berdasarkan tabel 5.2 diketahui bahwa sebagian besar responden

berjenis kelamin perempuan (62,5 %).

5.3. Data khusus

Data khusus merupakan karakteristik yang diteliti di Panti Sosial Lanjut

Usia kabupaten jombang.

5.3.1. Tingkat kecemasan pada lansia sebelum dilakukan terapi SEFT

Tabel 5.3 distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat kecemasan


sebelum dilakukan terapi SEFT di Panti Sosial Lnjut usia
kabupaten Jombang pada bulan april2017.

No Kriteria kecemasan Frekuensi Presentasi


1 NormaL 7 12,9
2 Ringan 13 40,6
3 Sedang 12 37,5
Jumlah 32 100
60

Bedasarkan tabel 5.3 diketahui bahwa tingkat kecemasan sebelum

dilakukan terapi SEFT sebagian besar mengalami tingkat kecemasan ringan (40,6

%).

5.3.2 Tingkat kecemasan pada lansia sesudah dilakukan terapi SEFT

i frekuensi responden berdasarkan tingkat kecemasan sesudah dilakukan terapi SEFT di Panti Sosial Lnjut usia kabupaten Jo

No Kriteria kecemasan Frekuensi Presentasi


1 Normal 22 68,8
2 Ringan 8 25
3 Sedang 2 6,2
Jumlah 32 100

tabel 5.4 diketahui bahwatingkat kecemasan sesudah dilakukan terapi SEFT sebagian besar mengalami tingkat kecema

ruh terapi SEFT terhadap tingkat kecemasan pada Lansia


stribusi frekuensi pengaruh terapi SEFT terhadap tingkat kecemasan pada Lansia studi diPanti Sosial Lanjut Usia kabupaten

Sebelum
No Normal Ringan Sedang jumlah
Tingkat kecemasan
Normal 6 11 5 22
sesudah Ringan 1 2 5 8
Sedang 0 0 2 2
Jumlah 7 13 12 32
Z= -4.044 p= 0.000

Berdasarkan hasil uji statistic Wilcoxon Sign Rank Test, menunjukkan nilai

signifikasi(p sign = 0,000) dimana hal ini berarti p sign <0,005 sehingga H1

diterima artinya adapengaruh tingkat kecemasan sebelumpemberian terapi SEFT.


61

5.4 Pembahasan

5.4.1 Tingkat kecemasan sebelum dilakukan terapi SEFT

Berdasarkan tabel 5.3 bahwa hampir setengah dari jumlah respondent

sebelum dilakukan terapi SEFT yang mengalami gangguan kecemasan ringan

sebanyak 13 responden (40,6).Sebagian besar jumlah responden menglami tingkat

kecemasan ringan dengan memberikan jawaban tidak pernah lebih dari 50%

diantaranya pernyataan mengalami gangguan pencernaan, seperti kehilangan

kontrol, takut dihakimi oleh orang lain, malu/takut dipermalukan, mudah marah,

mengalami kesulitan berkonsentrasi, kurang tertarik dalam melakukan sesuatu

yang anda senangi dan apakah anda sulit untuk duduk diam.

Kecemasan merupakan respon terhadap stress atau konflik. Rangsangan

konflik bisa datang baik dari dalam maupun luar diri sendiri. Hal ini yang akan

menimbulkan respon system syaraf yang mengatur pelepasan hormone tertentu.

Akibat terlepasanya hormone itu, maka akan muncul rangsangan pada organ-

organ seperti lambung, jantung, pembuluh darah maupun alat-alat gerak. Selain

dapat juga memicu sistem simpatis sebagai mekanisme pertahanan tubuh. Sistem

ini menutup arteri-arteri yang megalir ke organ-organ yang tidak esensial untuk

pertahanan. Sistem simpatis ini yang akan mempersiapkan tubuh untuk

mengahadapi kondisin darurat dan bahaya (Ratih 2010).

Individu yang mengalami kecemasan akan mengakibatkan perubahan-

perubahan fisiologi dari system endokrin. Hal ini yang akan menyebabkan

peningkatkan kerja dari syaraf simpatik dan parasimpatik susunan syaraf otonom.

Gangguan inilah yang menyebabkan terjadinya aktivitas metabolik dalam tubuh

(Ratih 2010)
62

Lansia yang berusia 60 – 74 tahun lebih banyak mengalami kecemasan

karena pada usia ini mereka memasuki tahap awal sebagai lansia, mereka

memerlukan penyesuaian yang lebih terhadap perubahan – perubahan baik fisik

maupun kognitif yang terjadi pada mereka. Seseorang yang berusia 60 – 74 tahun

digolongkan pada usia lanjut yang berarti usia pertengahan atau usia madya. Pada

usia ini seseorang dalam periode kehidupannya telah kehilangan kejayaan masa

mudanya, secara biologis proses penuaan secara terus menerus yang ditandai

dengan menurunnya daya tahan tubuh. Usia pertengahan adalah suatu masa

dimana seseorang dapat merasa puas dengan keberhasilannya, tetapi sebagian

orang periode ini adalah permulaan kemunduran (Handayani, 2009). Sesuai

dengan Pernyataan Tomader dalam Hanifawati (2011) yang mengatakan bahwa

lansia berusia 60-74 tahun memiliki faktor resiko untuk terjadinya gangguan

kecemasan yang lebih tinggi dikarenakan kondisi fisik yang menurun dan lemah,

ini membuat presentase penderita kecemasan terbanyak adalah lansia yang berusia

60-74 tahun.

Faktor jenis kelamin mempengaruhi kecemasan pada usia pertengahan

dalam menghadapi proses menua (aging process) dalam penelitian ini sebagian

besar adalahperempuan sebanyak 20 orang (62,5%). Menurut Issac (2004)

mengatakan bahwagangguan cemas lebih sering dialami wanitadaripada pria.

Perempuan memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan subjek

yang berjenis kelamin laki – laki. Dikarenakan perempuan lebih peka terhadap

emosinya yang pada akhirrnya peka juga terhadap perasaan cemasnya. Mui (2012)

mengatakan bahwa Prevalensi tingkat kecemasan pada lansia yang menunjukkan

bahwa perempuan lebih banyak dibandingkan laki – laki disebabkan oleh


63

perbedaan siklus hidup dan struktur sosial yang sering menempatkan perempuan

sebagai subordinat lelaki. Perempuan lebih banyak menderita kecemasan karena

adanya karakteristik khas perempuan seperti siklus reproduksi, menopause,

menurunnya kadar esterogen. Faktor sosial seperti terbatasnya komunitas sosial,

kurangnya perhatian keluarga. Perempuan lebih mudah merasakan perasaan

bersalah, cemas, peningkatan bahkan penurunan nafsu makan dan gangguan tidur.

5.4.2 Tingkat kecemasan sesudah dilakukan terapi SEFT

Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan bahwa dari 32 lansia yang diteliti,

hampir seluruh lansia tidak ada kecemasan sebanyak 23 lansia (71,9%). Setelah

dilakukan terapi SEFT sebagian responden mengalami tingkat kecemasan normal

dengan bertambahnya respondent yang memilih jawaban pertanyaan tidak pernah

sebanyak lebih dari 50% diantaranya pernyataan merasa jantung berdebar kencang

dan kuat, nafas pendek, mengalami gangguan pencernaan, merasa seperti hal yang

tidak nyata atau diluar diri anda sendiri, seperti kehilangan kontrol, takut dihakimi

oleh orang lain, malu/takut dipermalukan, sulit untuk tidur, mudah tersinggung,

mudah marah, mengalami kesulitan berkonsentrasi, kurang tertarik dalam

melakukan sesuatu yang anda senangi, sulit untuk duduk diam, mengalami sakit

punggung, sakit leher, atau otot keram, merasa hidup anda tidak terkontrol dan

merasa sesuatu yang menakutkan akan terjadi.

Secara teoritis setiap lansia memiliki rasa kecemasan sebagai dampak dari

perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia baik secara fisik maupun

psikologis. Kecemasan hanya dapat dikurangi dengan obat-obat psikoterapi,

farmakologis dan relaksasi (Acin, 2005).


64

Terapi SEFT merupakan salah satu metode relaksasi alternatif yang banyak

diminati orang karena dapat memberikan perasaan tenang. Dengan dosis yang

tepat dan waktu yang cukup terapI SEFT diharapkan dapat memberikan perasaan

tenang pada lansia. Dengan terapi SEFT yang tepat akan merangsang system

limbik yang bertugas mengatur emosi seseorang mengeluarkan serotonin yang

membuat perubahan fisiologis pada tubuh, pikiran, jiwa dan menghasilkan efek

menenangkan pada tubuh. Perasaan yang tenang pada tubuh akan membuat lansia

dapat menghadapi setiap masalah ataupun perubahan yang timbul seiring proses

menua dengan pikiran jernih dan meningkatkan koping yang adaptif sehingga

dengan koping yang adaptif masalah dapat teratasi dengan baik sehingga

kecemasan menurun.

5.4.3 Pengaruh terapi SEFT terhadap tingkat kecemasan pada Lansia

Berdasarkan hasil uji statistik Wilcoxon Sign Rank Test, menunjukkan nilai

signifikasi(p = 0,000) dimana hal ini berarti p sign <0,005 sehingga H1 diterima

artinya Terapi SEFTefektif menurunkan kecemasan pada lansia di panti sosial

lanjut usia kabupaten jombang.

Hipotesis tersebut dapat diterima seperti halnya hasil penelitian terdahulu

yang menggunakan SEFT yaitu Herdina Indrijati (2010) Unervsitas Airlangga.

Dalam penelitianya disimpulkan bahwa SEFT cukup efektif dalam menghilangkan

fobia terhadap sentuhan pada korban kekerasan seksual masa anak. Ketakutan atau

rasa cemas terhadap sentuhan yang dialami anak akibat kekerasan seksual masa

lalunya dapat teratasi dengan pendekatan psikologi dan spiritual dalam SEFT

untuk menyeimbangkan kembali kondisi mental korban. Selain itu elva yunita

(2013) menyimpulkan dari hasil penelitianya bahwa terapi SEFT dalam


65

bimbingan kelompok lebih efektif dalam menurunkan kecemasan menghadapi

Ujian Nasional dibandingkan dengan metode konvensional.Penelitian terkait

terapi spiritual emotional freedom tehnique lainnya dengan kasus klinis yaitu

terapi spiritual emotional freedom tehnique untuk menurunkan depresi pada

pasien gagal ginjal kronis menunjukkan hasil yang signifikan dalam menurunkan

tingkat stres yang dialami pasien (Safitri & Sadif 2013). Saraswati Eva

Yuswikarini (2011) menungkapkan dalam hasil penelitianya terapi spiritual

emotional freedom technique untuk menurunkan tingkat stress pada lansia

penderita hipertensi menunjukan bahwa terjadi penurunan tingkat strees pada

kelompok terapi dan kenaikan pada kelompok kontrol.

Church, 2009 mengungkapkan pada SEFT digunakan stimulasi berupa

ketukan ringan atau tapping pada titik acupoint. Pada saat tapping terjadi

peningkatan proses perjalanan sinyal-sinyal neurotransmitter yang menurunkan

regulasi hipotalamic-pitutiary-adrenalAxis (HPA axis) sehingga mengurangi

produksi hormon stres yaitu kortisol sehingga denyut jantung, tekanan darah

tinggi, dan ketegangan otot menurun (Rohman, 2009).Efek tapping telah

dibuktikan dengan sebuah penelitian di Harvard Medical School. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa ketika seseorang yangdalam keadaan takut kemudian

dilakukan tapping pada titik acupointnya makaterjadi penurunan akitivitas

amygdala, dengan kata lain terjadi penurunanaktivitas gelombang otak, hal

tersebut juga membuat respons fight or flight padapartisipan terhenti. Untuk

kemudian memunculkan efek relaksasi yang akanmenetralisir segala ketegangan

emosi yang dialami individu. Efek ini samadengan respon yang muncul ketika

seseorang distimulasi dengan jarum akupunturpada titik meridiannya (Feinsten &


66

Ashland, 2012). Keadaan relaksasi menurunkan kecemasan pasien sehingga

stimulus ke RAS menurun dan beberapa bagian , BSR mengambil alih yang dapat

menyebabkan tidur.

Teknik tapping berfungsi untuk merangsang syaraf yang kaku, ketika

tapping diberikan pada kecemasan maka mampu melenturkan (mengendorkan)

syaraf-syaraf yang kaku. Tapping yang akan dilakukan terapis akan menghasilkan

proses terapi energi dan EMDR (Eye Movement Densitization Repattering). Dari

proses tapping akan mengalami penurunan ketegangan. Ketukan-ketukan yang

dilakukan oleh terapis, akan menambah energi subjek, setelah itu melakukan

EMDR atau gerakan mata agar system syaraf otot merasa ringan atautidak kaku.

EMDR lebih pada melenturkan system syaraf.

Berbagai penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa

penerapan SEFT efektif dapat digunakan untuk mengurangi tingkat

kecemasanpada lansia, penelitian ini juga didukung oleh Herdina dan Elva yunita

dalam penelitiannya.
BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut

1. Kecemasan pada lansia sebelum diberikan terapi SEFT sebagian besar

memiliki tingkat kecemsan ringan di panti sosial lanjut usia kabupaten

Jombang.

2. Kecemasan pada lansia sesudah diberikan terapi SEFT sebagian besar

memiliki tingkat kecemasan normal di panti sosial lanjut usia kabupaten

Jombang.

3. Terapi SEFTefektif menurunkan kecemasan pada lansia di panti sosial

lanjut usia kabupaten Jombang.

6.2 Saran

6.2.1 Bagi perawat /petugas diPanti Sosial Lanjut Usia

1. Peneliti menyarakan penelitian ini dapat dikembangkan menjadi terapi

alternatif untuk menangani kecemasan pada lansia terutama oleh

petugas.

2. Petugas diharapkan lebih memperhatikan tingkat kecemasan klien

ditekankan pada gejala yang dialami klien terutama pada klien yang

kesulitan tidur atau tidak nyenyak, mudah terkejut, merasa terpisah

atau terisolasi dari orang lain, merasa seperti pusing/bingung, merasa

terlalu khawatir, merasa gelisah, tegang, merasa lelah, merasa otot-

otot tegang.

67
68

6.2.2 Bagi peneliti selanjutnya

Peneliti menyarankan pada peneliti selanjutnya untuk meneliti terapi

spiritual emotional freedom technique terhadap tingkat depresi pada lansia

dengan diabetes di masyarakat.

Bagi institusi pendidikan

Bahan pengajaran

Sebagai studi literatur dalam proses pembelajaran bagi dosen dan mahasiswa
Pengabdian masyarakat

Dapat diterapkan dosen dan mahasiswa dalam pengabdian masyarakat dimanapun dengan mengguan
DAFTAR PUSTAKA

Acin. 2005. Bila Kecemasan Melanda. http://www.the largest Indonesia


Community.ac.id diakses tanggal 29 april 2017 jam 19.00 WIB.

Alwisol. 2005. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press

Anwar, Z. dan Triana, S.N. 2011. Model Terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom
Technique) untuk Mengatasi Gangguan Fobia Spesifik. Penelitian
pengembangan Ipsteks. Malang: Universitas Muhamadyah Malang

Arif rohman. 2015. Pengaruh terapi SEFT (spiritual emotional freedom


technique) terhadap perubahan tekanan darah pada lansia dengan
hipertensi. Skripsi. Jombang : STIKES ICME JOMBANG

Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta:EGC

Atkinson, RL ; Atkinson Richard C & Hilgard, ER. 1999. Pengantar Psikologi.


Jakarta: Penerbit

Az-Zahrani, musfir bin Said. 2005. Konseling Terapi. Jakarta:Mizan Erlangga

Azizah, Lilik Ma’rifatul. 2011. Keperawatan Lanjut Usia. Edisi 1. Yogyakarta:


Graha Ilmu

BPS. 2014. Penduduk Lanjut Usia. Diambil dari http://www.menegpp.co.id

Dinkes Jombang. 2016. Profil Kesehatan Kabupaten Jombang Tahun 2016.


Jombang: Dinkes Jombang

Effendi Ferry. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas; Teori dan Praktik


dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Elina Raharisti Rufaidah. 2009. Efektifitas Terapi Kognitif Terhadap Penurunan


Tingkat Kecemasan pada Penderita Asma diSurakarta.Tesis. Falkutas
Psikologi-UGM

Farida Kusumawati & Yudi Hartono. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta:
Salemba Medika

Fitri Fauziah & Julianty Widuri. 2007. Psikologis Abnormal Klinis Dewasa.
Jakarta: Universitas Indonesia

Gunarso, Singgih. 2003. Psikologi Perawatan, Jakarta: Gunung Mulia

Hakam, dkk. 2009. Intervensi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT)


untuk Mengurangi Rasa Nyeri Pasien Kanker. Makara
Handayani. 2009. Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Tingkat Kecemasan
Pada Usia (60- 74 tahun) di Panti Werdha Rindang Asih Ungaran. Jurnal:
Tesis Universitas Diponegoro

Heningsih. 2014. Gambaran Tingkat Ansietas pada Lansia di Panti Werdha


Darma Bakti Kasih Suarakarta. Skripsi. Surakarta: S1 Keperawatan,
Stikes Kusuma Husada Surakarta
Issac. 2004. Faktor – faktor yang mempengaruhi kecemasan.
http://www.digilib.unimus.ac.id/download.php diakses tanggal 14 april
21.30 WIB.

Kristyaningsih, D. 2011. Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Tingkat


Depresi pada Lansia. Jurnal Keperawatan: hal 21-23

Marini, L dan Hayati, S. 2009. Pengaruh dukungan sosial terhadap kesepian


pada lansia diperkumpulan lansia Habibi dan Habibah. Skripsi. Medan:
Falkutas Psikologi Universitas Sumatera Utara

Maryam, R.Siti, dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatanya. Jakarta:
Salemba Medika

Marlina, 2010. Dukungan Keluarga Terhadap pengontrolan Hipertensi pada


Anggota Keuarga Yang Lansia di Gampoeng Aceh Darussalam. Thesis.
Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
Mui, M.Oktaviani. 2012. Gambaran Depresi Pada Lanjut Usia Di Panti Sosial
Tresna Werdha Mulia Dharma Kabupaten Kubu Raya. Jurnal: Fakultas
Kedokteran Universitas Tanjung Pura Pontianak.

Nugroho, Wahyudi. 2008. Keperawatan Gerontik & Geriatrik. Jakarta: Penerbit


Buku Kedokteran EGC

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodelogi Penelitian. Edisi 2. Jakarta:


Salemba Medika

Notoadmojo. 2010. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Ramaiah, Savitri. 2003. Kecemasan Bagaimana Mengatasi Penyebabnya. Jakarta:


Pustaka Populer Obor

Ratih. 2010. Mengatasi Rasa Cemas. Surabaya : Putra Pelajar

Rochman, Kholil Lur. 2010. Kesehatan Mental. Purwoketo: Fajar Media Press

Saras wati Eva Yuswikarini. 2011. Terapi SEFT untuk menurunkan tingkat stress
pada Lansia penderita hipertensi. Skripsi : Universitas Diponegoro
Semarang

Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Kasinus


Segal, D.L., June ,A., Payne,M., Coolidge, F.L., & Yochim,B. 2010. Development
and initial validation of a self-report assessment tool for anxiety among
older adulst: the geriatric anxiety scale. Jurnal of anxiety disorder.

Sri Surini dan Budi Utomo. 2003. Fisioterapi pada lansia. Jakarta: EGC

Sruart, Gail W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta:EGC

Suliswati. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Jiwa. Jakarta :EGC

Sumadi Suryabrata. 2001. Psikologo Kepribadian. Jakarta: Raja Grafindo Pustaka

Sugiyono, 2013. Metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif,


dan R&D. bandung: Alfabeta

Tamher , S & Noorkasiani. 2009. Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan


Asuahan Keperawatan. Jakrta: Salemba Medika

Videbeck , Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Wahit Iqbal Mubarak, dkk. 2006. Ilmu Keperawatan Komunitas. Buku 2. Jakarta:
Salemba Medika

Wiramihardja. 2005. Perilaku Abnormal. Jakarta: EGC

Yunita, Elva. 2013. Penerapan Spiritual Emotional Freedom Technique Dalam


Bimbingan Kelompok Untuk Menurunkan Kecemasan siswa SMA Dalam
Menghadapi Ujian Nasional. Jurnal BK Unesa. Volume 03 Nomor 01
Tahun 2013

Yustinus Semiun. 2006. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Zainuddin, Ahmad.F. 2009. SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique).


Jakarta: Afzan Publishing.
69

Lampiran 1

FORMAT PENGAJUAN JUDUL


SKRIPSI

NAMA : BAYU HERMAN SYAH


NIM :133210010

Program Studi : S1 Keperawatan


IPk : 3,02
Judul Skripsi : TEHNIK SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT) TERHADAP TINGKAT KECEMASAN LANSIA.

Jombang,2017
Mahasiswa
Menyetujui
Pembimbing

Arif Wijaya, S.KP.,M.Kep Bayu Herman Syah


70

Lampiran 2
71

Lampiran 3
72

Lampiran 4

PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Dengan hormat,
Yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama :
Umur :
Alamat :

Menyatakan bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian


yang berjudul “ Terapi SEFT terhadap tingkat kecemasan lansia di Panti
Sosial lanjut Usia Kabupaten Jombang”.
Sebelumnya saya telah diberi penjelasan tentang tujuan penelitian
ini dan saya telah mengerti bahwa peneliti akan merahasiakan identitas,
data maupun informasi yang saya berikan. Apabila ada pertanyaan yang
diajukan menimbulkan ketidaknyamanan bagi saya, peneliti akan
menghentikan pada saat ini dan saya berhak mengundurkan diri.
Demikian persetujuan ini saya buat secara sadar dan sukarela tanpa
ada unsur paksaan dari siapapun.

Jombang, ……
Responden

(……………………)
73

Lampiran 5

Nilai Keterangan

No Pertanyaan Tidak Pernah Jarang Sering


Pernah (1) (2) (3)
(0)

1. Apakah Anda merasa jantung berdebar kencang


dan kuat?

2. Apakah nafas Anda pendek?


3. Apakah Anda mengalami gangguan pencernaan?

4. Apakah Anda merasa seperti hal yang tidak nyata


atau diluar diri Anda sendiri?

5. Apakah Anda merasa seperti kehilangan kontrol?

6. Apakah Anda takut dihakimi oleh orang lain?


7. Apakah Anda malu/takut dipermalukan?

8. Apakah Anda sulit untuk tidur?

9. Apakah Anda kesulitan untuk tetap tertidur /tidak


nyenyak?

10. Apakah Anda mudah tersinggung?


11. Apakah Anda mudah marah?
12. Apakah Anda mengalami kesulitan
berkonsentrasi?

13. Apakah Anda mudah terkejut?


14. Apakah Anda kurang tertarik dalam melakukan
sesuatu yang Anda senangi?

15. Apakah Anda merasa terpisah atau terisolasi dari


orang lain

16. Apakah Anda merasa seperti pusing/bingung?


17. Apakah Anda sulit untuk duduk diam?

18. Apakah Anda merasa terlalu khawatir?


19. Apakah Anda tidak bisa mengendalikan
74

kecemasan Anda?

20. Apakah Anda merasa gelisah, tegang?

21. Apakah Anda merasa lelah?

22. Apakah Anda merasa otot-otot tegang?

23. Apakah Anda mengalami sakit punggung, sakit


leher, atau otot kram?

24. Apakah Anda merasa hidup Anda tidak


terkontrol?

25. Apakah Anda merasa sesuatu yang menakutkan


akan terjadi?

Pengkajian Kecemasan (Geriatric Anxiety Scale)

Jawaban dengan rentang dari 0 (tidak sama sekali) hingga 3 (sering). Adapun cara

penilaiannya adalah dengan sistem skoring tersebut yaitu:

Nilai 0 = Tidak pernah sama sekali

Nilai 1 = Pernah

Nilai 2 = Jarang

Nilai 3 = Sering

Rentang hasil skor dari 0 hingga 75, semakin tinggi skor mengindikasikan

semakin level kecemasan tertinggi.

Nilai 0-18 : level minimal dari kecemasan

Nilai 19-37 : kecemasan ringan

Nilai 38-55 : kecemasan sedang

Nilai 56-75 : kecemasan berat


75

Lampiran 6

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

METODE SEFT ( Spiritual Emotional Freedom Technique )

Topic : METODE SEFT ( Spiritual Emotional Freedom Technique )

Penyuluh : Mahasiswa STIKES ICME Jombang Prodi S1 keperawatan yang

sedang melakukan penelitian.

Sasaran : Lansia

Tempat : Panti sosial lanjut usia kabupaten Jombang

Hari/Tanggal : maret-april

Waktu : 20 menit

Tujuan Umum

Mengidentifikasi pengaruh teraphy SEFT terhadap tingkat kecemasan pada lansia di Panti Sosial Lanjut Usia Kabupaten Jomb
Metode

Ceramah

Diskusi
76

C. Pelaksanaan

no Tahap Peneliti Responden waktu

1 The Set-Up Memandu lansia 1. Saya 5 menit

untuk mengikuti mempunyai

kata-kata Set-up darah tinggi

dengan benar dan 2. Saya sakit

kusyu’ kepala

3. Saya takut

terkena stroke

4. Saya terkena

penyakit

jantung

2 The Tune-in Memastikan lansia 1. Melakukan 5 menit

untuk melakukan Tune-in

Tune-in. dengan cara

memfokuskan

bahwa ingin

menstabilkan

tekanan darah

2. Memfokuskan

pikiran ke

rasa sakit
77

3. Memikirkan

sesuatu atau

peritiwa strok

atau penyakit

jantung yang

dapat

membangkitk

an emosi

negative yang

ingin kita

hilangkan.

3 The Melakukan tapping Mengetuk ringan 10 menit

Tapping pada lansia dengan dua ujung

jari pada 18 titik

tertentu pada

tubuh.
78

Lampiran 7
79
Lampiran 8
80

TABULASI SEBELUM TERAPI SEFT


Peryataan Kriteria Kode
No Resonden Jumlah kecemasan Tabulasi
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25
1 R1 2 0 0 1 2 0 0 1 1 2 2 1 3 1 2 2 0 2 1 2 2 1 2 3 1 34 Ringan 2
2 R2 1 0 0 0 1 0 0 0 1 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 2 1 2 16 Normal 1
3 R3 2 0 0 0 0 0 0 3 3 0 0 0 0 0 0 2 1 0 0 0 1 2 3 1 0 18 Normal 1
4 R4 2 0 0 1 0 0 0 2 2 0 0 2 3 0 3 2 2 1 0 2 3 3 3 0 0 31 Ringan 2
5 R5 2 2 0 1 1 0 0 3 3 0 0 0 0 0 2 1 0 2 0 1 1 1 1 0 2 23 Ringan 2
6 R6 3 3 0 3 0 3 0 3 3 0 0 0 3 2 0 0 3 0 0 0 3 3 3 2 2 39 Sedang 3
7 R7 0 0 3 2 1 0 0 3 3 0 0 1 0 1 0 0 0 3 0 3 2 3 2 3 3 33 Ringan 2
8 R8 0 0 3 3 0 0 3 2 2 0 0 0 3 0 2 0 0 2 3 3 2 3 3 1 3 38 Sedang 3
9 R9 0 2 0 1 0 0 1 3 3 0 0 1 3 0 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 3 45 Sedang 3
10 R10 0 0 0 0 1 2 2 3 3 2 2 1 1 0 1 0 1 2 0 1 0 0 0 1 2 25 Ringan 2
11 R11 3 1 0 3 0 3 1 1 1 3 3 3 3 0 3 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 55 Sedang 3
12 R12 1 3 0 3 1 2 3 0 0 3 3 2 3 2 3 3 0 3 2 3 2 2 2 1 3 50 sedang 3
13 R13 3 0 3 0 0 0 0 3 3 1 0 0 0 1 2 3 1 0 2 1 3 3 3 0 0 32 Ringan 2
14 R14 3 0 0 3 0 0 0 2 3 1 0 2 0 0 3 3 2 1 1 3 3 3 2 3 1 39 Sedang 3
15 R15 2 1 2 0 1 0 1 3 3 0 1 2 1 1 3 3 0 1 2 2 2 1 2 3 2 39 Sedang 3
16 R16 3 3 0 0 0 0 0 3 3 3 3 3 0 0 3 3 2 1 1 3 3 1 0 0 0 38 Ringan 2
17 R17 3 2 2 2 1 0 1 2 3 2 1 0 1 0 3 2 1 3 3 3 2 2 3 3 1 47 Sedang 3
18 R18 2 0 0 2 0 0 0 2 2 3 3 0 0 0 2 2 2 0 0 2 2 0 2 0 0 26 Ringan 2
19 R19 0 0 0 2 0 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 2 1 1 1 1 1 18 Normal 1
20 R20 1 1 0 1 0 2 2 2 2 0 0 0 3 0 3 2 0 3 0 3 3 3 2 2 0 35 Ringan 2
21 R21 0 0 1 2 1 2 2 1 1 0 0 0 1 0 2 2 0 2 0 2 3 2 1 1 1 27 Ringan 2
22 R22 0 0 0 1 0 1 1 2 2 1 1 0 0 0 2 2 0 1 0 1 1 1 1 0 0 18 Normal 1
23 R23 3 3 0 1 0 1 1 3 3 1 1 0 3 0 3 3 2 3 1 3 3 3 3 3 3 50 Sedang 3
24 R24 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 1 0 1 2 0 2 0 2 2 1 1 0 0 15 Normal 1
25 R25 1 1 0 2 1 3 2 3 3 3 3 1 3 0 3 3 2 3 1 3 2 2 1 3 3 52 Sedang 3
81

26 R26 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 0 1 2 0 1 0 1 1 1 1 0 0 12 Normal 1
27 R27 2 1 1 0 0 2 3 2 2 0 0 0 1 0 2 2 0 2 0 2 1 1 1 0 0 25 Ringan 2
28 R28 1 1 0 3 0 1 1 2 2 1 1 1 1 0 3 3 0 3 0 3 2 1 1 3 1 35 Ringan 2
29 R29 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 9 Normal 1
30 R30 1 1 0 0 0 1 0 2 2 0 0 0 1 0 1 2 0 2 0 2 2 3 3 0 0 23 Ringan 2
R31 2 2 0 1 1 0 0 3 3 2 2 0 1 0 3 2 1 2 0 2 2 3 3 2 3 40 Sedang 3
R32 3 2 2 3 3 0 0 3 3 3 3 0 1 0 3 2 1 3 0 2 2 2 3 1 3 48 Sedang 3
82

TABULASI SESUDAH TERAPI SEFT


Peryataan Kriteria Kode
No Resonden Jumlah kecemasan Tabulasi
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25
1 R1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 2 1 0 2 1 2 2 1 0 2 3 22 Ringan 2
2 R2 2 0 0 1 0 0 0 3 1 0 3 0 0 0 2 1 0 2 0 2 1 0 1 0 2 21 Ringan 2
3 R3 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 4 Normal 1
4 R4 1 0 0 1 0 0 0 1 2 0 0 0 2 1 2 1 0 1 0 1 0 1 2 0 1 17 Normal 1
5 R5 1 1 0 1 1 0 0 2 2 0 0 0 0 0 2 1 0 1 0 1 1 0 0 0 2 16 Normal 1
6 R6 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 2 0 0 0 2 0 2 0 0 13 Normal 1
7 R7 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 2 1 0 0 0 0 9 Normal 1
8 R8 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 7 Normal 1
9 R9 0 1 0 1 0 0 1 2 2 0 0 0 2 0 2 1 0 2 0 3 1 0 0 1 1 21 Ringan 2
10 R10 0 0 0 0 0 1 2 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 12 Normal 1
11 R11 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 4 Normal 1
12 R12 1 0 0 3 1 0 3 0 0 0 0 2 3 2 2 0 0 3 2 3 1 0 1 1 3 31 Ringan 2
13 R13 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 2 0 0 0 1 2 1 0 1 0 13 Normal 1
14 R14 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 1 0 3 0 3 2 14 Normal 1
15 R15 0 0 2 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 1 2 1 1 0 0 14 Normal 1
16 R16 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 6 Normal 1
17 R17 2 2 0 2 1 0 1 0 2 2 1 0 1 0 3 1 0 3 2 1 2 2 3 1 2 31 Ringan 2
18 R18 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 2 1 0 0 0 0 0 1 0 0 7 Normal 1
19 R19 0 0 0 1 0 1 0 2 2 1 0 0 0 1 0 0 0 2 0 1 0 1 1 1 2 15 Normal 1
20 R20 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 2 0 3 1 0 1 0 1 1 1 2 2 0 16 Normal 1
21 R21 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 2 1 0 1 0 1 2 2 0 0 0 13 Normal 1
22 R22 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 2 0 0 1 0 1 0 0 1 0 0 8 Normal 1
23 R23 3 3 0 1 0 0 0 2 2 0 0 0 2 0 3 3 1 3 0 3 3 3 0 2 1 35 Ringan 2
24 R24 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 2 2 0 0 0 0 7 Normal 1
25 R25 1 1 0 2 1 3 1 3 3 3 3 1 2 0 3 3 2 3 1 3 2 1 1 3 2 48 Sedang 3
83

26 R26 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 4 Normal 1
27 R27 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 8 Normal 1
28 R28 1 1 0 2 0 1 0 2 2 0 0 0 1 0 3 3 0 3 0 3 0 0 0 2 1 25 Ringan 2
29 R29 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 4 Normal 1
30 R30 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 9 Normal 1
R31 3 3 0 2 1 0 0 3 3 2 2 0 1 0 3 3 2 0 3 0 2 1 2 2 3 41 Sedang 3
R32 3 2 0 3 1 0 0 3 3 2 1 0 1 0 3 1 0 2 1 2 1 2 3 0 2 36 Ringan 2
84

Tabulasi data umum


No Responden Umur Jenis kelamin
1 R1 2 2
2 R2 2 1
3 R3 3 1
4 R4 2 2
5 R5 3 2
6 R6 1 2
7 R7 3 2
8 R8 1 2
9 R9 3 2
10 R10 1 1
11 R11 3 2
12 R12 3 1
13 R13 1 1
14 R14 3 1
15 R15 3 1
16 R16 3 1
17 R17 1 1
18 R18 1 1
19 R19 3 2
20 R20 1 2
21 R21 1 1
22 R22 3 2
23 R23 2 2
24 R24 3 2
25 R25 2 1
85

26 R26 2 2
27 R27 2 2
28 R28 1 2
29 R29 1 2
30 R30 3 2
31 R31 2 2
32 R32 3 2
86

Lampiran 9

FREQUENCIES VARIABLES=umur
/STATISTICS=MINIMUM MAXIMUM MEAN MEDIAN MODE

/ORDER=ANALYSIS.

Frequencies

[DataSet0]

Statistics

umur

N Valid 32

Missing 0

Mean 2.1250

Median 2.0000

Mode 3.00

Minimum 1.00

Maximum 3.00

umur

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 60-65 10 31.2 31.2 31.2

66-70 8 25.0 25.0 56.2

71-75 14 43.8 43.8 100.0

Total 32 100.0 100.0


87

FREQUENCIES VARIABLES=jenis_kelamin
/STATISTICS=MINIMUM MAXIMUM MEAN MEDIAN MODE

/ORDER=ANALYSIS.

Frequencies

[DataSet0]

Statistics
jenis_kelamin

N Valid 32

Missing 0

Mean 1.62

Median 2.00

Mode 2

Minimum 1

Maximum 2

jenis_kelamin

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid laki-laki 12 37.5 37.5 37.5

perempuan 20 62.5 62.5 100.0

Total 32 100.0 100.0

sebelum
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid nomal 7 21.9 21.9 21.9

ringan 13 40.6 40.6 62.5

sedang 12 37.5 37.5 100.0

Total 32 100.0 100.0


88

sesudah

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid normal 22 68.8 68.8 68.8

ringan 8 25.0 25.0 93.8

sedang 2 6.2 6.2 100.0

Total 32 100.0 100.0

sesudah * sebelum Crosstabulation


Count

sebelum

nomal ringan sedang Total

sesudah normal 6 11 5 22

ringan 1 2 5 8

sedang 0 0 2 2

Total 7 13 12 32
89

NPAR TEST
/WILCOXON=pre WITH post (PAIRED)

/MISSING ANALYSIS.

NPar Tests

[DataSet0]

Wilcoxon Signed Ranks Test

Ranks

N Mean Rank Sum of Ranks


a
sesudah - sebelum Negative Ranks 21 11.62 244.00
b
Positive Ranks 1 9.00 9.00
c
Ties 10
Total 32

sesudah < sebelum


sesudah > sebelum
sesudah = sebelum

Test Statisticsb

sesudah -
sebelum
a
Z -4.044
Asymp. Sig. (2-tailed) .000

Based on positive ranks.


Wilcoxon Signed Ranks Test
90

Karakteristik responden berdasarkan peryataan kuesioner tingkat kecemasan

sebelum terapi SEFT

Nilai
No Pertanyaan TP % P % J % S %
(0) (1) (2) (3)
1. Apakah Anda merasa jantung 10 31,25 6 18,75 8 25 8 25
berdebar kencang dan kuat?
2. Apakah nafas Anda pendek? 16 50 7 21,87 5 15,63 4 12,5
3. Apakah Anda mengalami 23 71,875 3 9,375 3 9,375 3 9,375
gangguan pencernaan?
4. Apakah Anda merasa seperti hal 11 34,37 8 25 6 18,75 7 21,88
yang tidak nyata atau diluar diri
Anda sendiri?
5. Apakah Anda merasa seperti 20 62,5 10 31,25 1 3,125 1 3,125
kehilangan kontrol?
6. Apakah Anda takut dihakimi oleh 19 59,375 5 15,625 5 15,625 3 9,375
orang lain?
7. Apakah Anda malu/takut 17 53,125 8 25 4 12.5 3 9,375
dipermalukan?
8. Apakah Anda sulit untuk tidur? 2 6,25 7 21,875 10 31,25 13 40,625
9. Apakah Anda kesulitan untuk 2 6,25 8 25 7 21,875 15 46,875
tetap tertidur /tidak nyenyak?
10. Apakah Anda mudah 16 50 5 15,625 5 15,625 6 18,75
tersinggung?
11. Apakah Anda mudah marah? 17 53,125 5 15,625 4 12,5 6 18,75
12. Apakah Anda mengalami 20 62,5 6 18,75 4 12,5 2 6,25
kesulitan berkonsentrasi?
13. Apakah Anda mudah terkejut? 11 34,375 11 34,375 0 0 10 31,25
14. Apakah Anda kurang tertarik 25 78,125 5 15,625 2 6,25 0 0
dalam melakukan sesuatu yang
Anda senangi?
15. Apakah Anda merasa terpisah 5 15,625 5 15,625 8 25 14 43,75
atau terisolasi dari orang lain
16. Apakah Anda merasa seperti 6 18,75 2 6,25 14 43,75 10 31,25
pusing/bingung?
17. Apakah Anda sulit untuk duduk 17 53.125 6 18,75 8 25 1 3,125
diam?
18. Apakah Anda merasa terlalu 5 15,625 7 21,875 10 31,25 10 31,25
khawatir?
19. Apakah Anda tidak bisa 20 62,5 6 18,75 4 12,5 2 6,25
mengendalikan kecemasan Anda?
20. Apakah Anda merasa gelisah, 2 6,25 6 18,75 12 37,5 12 37,5
tegang?
21. Apakah Anda merasa lelah? 1 3,125 7 21,875 14 43,75 10 31,25
22. Apakah Anda merasa otot-otot 3 9,375 11 34,375 6 18,75 12 37,5
tegang?
23. Apakah Anda mengalami sakit 2 6,25 10 31,25 8 25 12 37,5
punggung, sakit leher, atau otot
kram?
24. Apakah Anda merasa hidup Anda 11 34,375 8 25 3 9,375 10 31,25
91

tidak terkontrol?
25. Apakah Anda merasa sesuatu 12 37,5 6 18,75 5 15,625 9 28,125
yang menakutkan akan terjadi?

Berdasarkan tabel diatas maka sebagian besar jumlah responden menglami

tingkat kecemasan ringan dengan memberikan jawaban tidak pernah lebih dari

kut dihakimi oleh orang lain, apakah anda malu/takut dipermalukan, apakah anda mudah marah, apakah anda mengalami k

Karakteristik karakteristik responden berdasarkan peryataan kuesioner tingkat

kecemasan sebelum terapi SEFT.

Nilai
No Pertanyaan TP % P % J % S %
(0) (1) (2) (3)
1.Apakah Anda merasa jantung berdebar 18 56,25 8 25 3 9,375 3 9,375
92

kencang dan kuat?


2. Apakah nafas Anda pendek? 21 65,625 6 18,75 3 9,375 2 6,25
3. Apakah Anda mengalami gangguan 30 90,75 1 3,125 1 3,125 0 0
pencernaan?
4. Apakah Anda merasa seperti hal yang 17 53,125 9 28,125 4 12,5 2 6,25
tidak nyata atau diluar diri Anda
sendiri?
5. Apakah Anda merasa seperti 24 75 8 25 0 0 0 0
kehilangan kontrol?
6. Apakah Anda takut dihakimi oleh 21 65,625 10 31,25 0 0 1 3,125
orang lain?
7. Apakah Anda malu/takut 21 65,625 8 25 2 6,25 1 3,125
dipermalukan?
8. Apakah Anda sulit untuk tidur? 17 53,125 4 12,5 7 21,875 4 12,5
9. Apakah Anda kesulitan untuk tetap 13 40,625 6 18,75 10 31,25 3 9,375
tertidur /tidak nyenyak?
10. Apakah Anda mudah tersinggung? 24 75 4 12,5 3 9.375 1 3,125
11. Apakah Anda mudah marah? 25 78,125 4 12,5 1 3,125 2 6,25
12. Apakah Anda mengalami kesulitan 28 87,5 3 9,375 1 3,125 0 0
berkonsentrasi?
13. Apakah Anda mudah terkejut? 14 43,75 11 34,375 6 18,75 1 3,125
14. Apakah Anda kurang tertarik dalam 26 81,25 4 12,5 2 6,25 0 0
melakukan sesuatu yang Anda senangi?
15. Apakah Anda merasa terpisah atau 10 31,25 7 21,875 8 25 7 21,875
terisolasi dari orang lain
16. Apakah Anda merasa seperti 13 40,625 13 40,625 2 6,25 4 3,125
pusing/bingung?
17. Apakah Anda sulit untuk duduk diam? 23 71,875 6 18,75 3 9,375 0 0
18. Apakah Anda merasa terlalu khawatir? 13 40,625 9 28,125 5 15,625 5 15,625
19. Apakah Anda tidak bisa 24 75 5 15,625 2 6,25 1 3,125
mengendalikan kecemasan Anda?
20. Apakah Anda merasa gelisah, tegang? 9 28,125 13 40,625 5 15,625 5 15,625
21. Apakah Anda merasa lelah? 11 34,375 11 34,375 9 28,125 1 3,125
22. Apakah Anda merasa otot-otot tegang? 15 46,875 11 34,375 4 12,5 2 6,25
23. Apakah Anda mengalami sakit 17 53,125 9 28,125 4 12,5 2 6.25
punggung, sakit leher, atau otot kram?
24. Apakah Anda merasa hidup Anda tidak 20 62,5 5 15,625 5 15,625 2 6,25
terkontrol?
25. Apakah Anda merasa sesuatu yang 18 56,25 5 15,625 6 18,75 3 9,375
menakutkan akan terjadi?

Berdasarkan tabel diatas setelah dilakukan terapi SEFT swbagian

responden mengalami tingkat kecemasan normal dengan bertambahnya

respondent yang memilih jawaban pertanyaan tidak pernah sebanyak lebih dari

50% diantaranya pernyataan apakah apakah anda merasa jantung berdebar

kencang dan kuat, apakah nafas anda pendek, anda mengalami gangguan
93

pencernaan, apakah anda merasa seperti hal yang tidak nyata atau diluar diri anda

sendiri, apakah anda seperti kehilangan kontrol, apakah anda takut dihakimi oleh

orang lain, apakah anda malu/takut dipermalukan, apakah anda sulit untuk tidur,

apakah anda mudah tersinggung, apakah anda mudah marah, apakah anda

mengalami kesulitan berkonsentrasi, apakah anda kurang tertarik dalam melakukan sesuatu yang and
94

JADWAL KEGIATAN

BULAN
No Kegiatan
Februari Maret April Mei Juli

1 Pembuatan dan konsul judul

2 Penyusunan Proposal

3 Bimbingan Proposal

4 Ujian Proposal

5 Revisi Proposal

6 Pengambilan data

7 Penyusunan dan Konsul Skripsi

8 Ujian Skripsi

9 Pengumpulan Skripsi
95

Lampiran 11

Anda mungkin juga menyukai