Anda di halaman 1dari 24

BAYI PREMATUR

Makalah ini
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Keperawatan Anak I
Dosen Pengampu : Ahmad Subandi , M. Kep.,Ns, Sp. Kep. An

Disusun Oleh:
1. Wahyu Sarwono A (108116008)
2. Atika Nur Hapsari (108116013)
3. Novia Pratiwi (108116014)
4. Pramesti Vitriyani (108116019)
5. Fitri Wulandari (108116024)
6. Keke Kartika (108116025)
7. Ruci Indra Jhaladri (108116029)
8. Yola Amelia (108116034)

PRODI S1 KEPERAWATAN
STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP
TAHUN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas


rahmat yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyusun makalah
ini dengan sebaik-baiknya.
Penyusunan makalah ini atas dasar tugas matakuliah ketrampilan
Keperawatan Jiwa 1 sub bab materi “BAYI PREMATUR” untuk melengkapi
materi berikutnya. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada narasumber
yang telah membantu penulis dalam penyusunan makalah ini. Mohon maaf
penulis sampaikan apabila terdapat kekurangan dalam penyusunan makalah ini,
karena kami masih dalam tahap belajar.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat sebagai referensi untuk
menambah wawasan kepada pembaca. Penulis sadari dalam penyusunan makalah
ini masih terdapat banyak kekurangan, maka dari itu penulis mengharapkan saran
dan kritik guna perbaikan di masa yang akan datang. Terima kasih.

Cilacap, 11 April 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Utama..................................................................................... i
Kata Pengantar..................................................................................... ii
Daftar Isi............................................................................................. iii
BAB I Pendahuluan.............................................................................. 4
A. Latar Belakang Penulisan........................................................... 4
B. Rumusan Masalah........................................................................5
C. Tujuan Penulisan..........................................................................5
D. Manfaat Penulisan........................................................................6
BAB II Pembahasan............................................................................. 7
A. Definisi dari Bayi yang Prematur................................................7
B. Faktor Resiko dari Bayi yang Prematur.......................................8
C. Etiologi dari Bayi yang Prematur.................................................9
D. Patofisiologi atau Patologi dari Bayi yang Prematur.................12
E. Jenis atau Klasifikasi dari Bayi yang Prematur..........................15
F. Manifestasi Klinis atau Tanda dan Gejala dari
Bayi yang Prematur....................................................................16
G. Penatalaksanaan dari Bayi yang Prematur.................................16
H. Komplikasi dari Bayi yang Prematur.........................................17
BAB III Asuhan Keperawatan Bayi Prematur....................................18
BAB III Penutup..................................................................................23
Kesimpulan....................................................................................23
Daftar Pustaka.....................................................................................24

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bayi Prematur adalah bayi yang lahir kurang dari usia kehamilan yang normal
(37 minggu) dan juga dimana bayi mengalami kelainan penampilan fisik.
Prematuritas dan berat lahir rendah biasanya terjadi secara bersamaan, terutama
diantara bayi dengan badan 1500 gr atau kurang saat lahir, sehingga keduanya
berkaitan dengan terjadinya peningkatan mordibitas dan mortalitas neonatus dan
sering di anggap sebagai periode kehamilan pendek (Nelson 1988 dan Sacharin 1996)
Masalah Kesehatan pada bayi prematur, membutuhkan asuhan kebidanan, dimana
pada bayi prematur sebaiknya dirawat di rumah sakit karena masih membutuhkan
cairan-cairan dan pengobatan /serta pemeriksaan Laboratorium yang bertujuan untuk
meningkatkan derajat kesehatan terapi pada bayi dan anak yang meliputi peran
perawat sebagai advokad, fasilitator, pelaksanaan dan pemberi asuhan keperawatan
kepada klien.
Neonatus dengan imaturitas pertumbuhan dan perkembangan tidak dapat
menghasilkan kalori melalui peningkatan metabolisme. Hal ini disebabkan karena
respon menggigil bayi tidak ada atau kurang, sehingga tidak dapat menambah
aktivitas. Sumber utama kalori bila ada stress dingin atau suhu lingkungan rendah
adalah thermogenesis nonshiver. Sebagai respons terhadap rangsangan dingin, tubuh
bayi akan mengeluarkan norepinefrin yang menstimulus metabolisme lemak dari
cadangan lemak cokelat untuk menghasilkan kalori yang kemudian dibawa oleh
darah ke jaringan. Sterss dingin dapat menyebabkan hipoksia, metabolisme asidosis
dan hipoglikemia. Peningkatan metabolisme sebagai respons terhadap stress dingin
akan meningkatkan kebutuhan kalori dan oksigen. Bila oksigen yang tersedia tidak

4
dapat memenuhi kebutuhan, tekanan oksigen berkurang ( hipoksia) dan keadaan ini
akan menjadi lebih buruk karena volume paru menurun akibat berkurangnya oksigen
darah dan kelaina paru (paru yang imatur). Keadaan ini dapat sedikit terolong oleh
haemoglobin fetal ( HbF) yang dapat mengikat oksigen lebih banyak sehingga bayi
dapat bertahan lebih lama pada kondisi tekanan oksigen yang kurang.
Tujuan pemberian pelayanan kesehatan pada bayi prematur dengan asuhan
kebidanan secara komprehensif adalah untuk menyelesaikan masalah kebidanan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi dari Bayi yang Prematur ?
2. Bagaimana Faktor Resiko dari Bayi yang Prematur ?
3. Bagaimana Etiologi dari Bayi yang Prematur ?
4. Bagaimana Patofisiologi atau Patologi dari Bayi yang Prematur ?
5. Apa saja Jenis atau Klasifikasi dari Bayi yang Prematur ?
6. Apa saja Manifestasi Klinis atau Tanda dan Gejala dari Bayi yang Prematur ?
7. Bagaimana Penatalaksanaan dari Bayi yang Prematur ?
8. Apa saja Komplikasi dari Bayi yang Prematur ?
9. Bagaimana Asuhan Keperawatan dalam Bayi yang Prematur ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui Definisi dari Bayi yang Prematur.
2. Untuk mengetahui Faktor Resiko dari Bayi yang Prematur.
3. Untuk mengetahui Etiologi dari Bayi yang Prematur.
4. Untuk mengetahui Patofisiologi atau Patologi dari Bayi yang Prematur.
5. Untuk mengetahui Jenis atau Klasifikasi dari Bayi yang Prematur.
6. Untuk mengetahui Manifestasi Klinis atau Tanda dan Gejala dari Bayi yang
Prematur.
7. Untuk mengetahui Penatalaksanaan dari Bayi yang Prematur.
5
8. Untuk mengetahui Komplikasi dari Bayi yang Prematur.
9. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan dari Bayi yang Prematur.

D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Teoritis
a. Sebagai bahan studi banding bagi ilmu yang relevan
b. Untuk memperbaiki teori yang sudah ada
2. Manfaat Praktisi
a. Agar mahasiswa dapat mengetahui dari Bayi yang Prematur.
b. Agar mahasiswa dapat mengetahui Faktor Resiko dari Bayi yang Prematur.
c. Agar mahasiswa dapat mengetahui Etiologi dari Bayi yang Prematur.
d. Agar mahasiswa dapat mengetahui Patofisiologi atau Patologi dari Bayi yang
Prematur.
e. Agar mahasiswa dapat mengetahui Jenis atau Klasifikasi dari Bayi yang
Prematur.
f. Agar mahasiswa dapat mengetahui Manifestasi Klinis atau Tanda dan Gejala
dari Bayi yang Prematur.
g. Agar mahasiswa dapat mengetahui Penatalaksanaan dari Bayi yang Prematur.
h. Agar mahasiswa dapat mengetahui Komplikasi dari Bayi yang Prematur.
i. Agar mahasiswa dapat mengetahui Asuhan Keperawatan dari Bayi yang
Prematur.

6
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Menurut WHO, bayi prematur adalah bayi lahir hidup seelum usia kehamilan
minggu ke -37 ( dihitung dari minggu pertama haid terakhir). The american academy
of pediatric, mengambil batasan 38 minggu untuk menyebut prematur. Dengan
demikian, persalinan premature dapat terdiri dari :
1. Persalinan premature dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat
badan janin sama untuk masa kehamilan (SMK)
2. Persalinan premature dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat
badan kecil untuk masa kehamilan (KMK).
Nama lainnya dari golongan ini adalah :
1. Small for gestational age (SGA)
2. Intra uteri grouth retardation (IUGRat)
3. Inta uteri grout restriction (IUGRst)
Menurut WHO, persalinan premature murni dapat digolongkan menurut usia
kehamilan dan berat badan lahir, yaitu :
1. Sangat premature
2. Premature sedang
3. Premature borderline
Prematuritas dan berat lahir rendah biasanya terjadi secara bersamaan,
terutama diantara bayi dengan berat 1500 gr atau kurang saat lahir. Keduanya
berkaitan dengan terjadinya peningkatan morbilitas dan mortalitas neonatus.
American Academy Pediatric mendefinisikan prematuritas adalah kelahiran hidup
bayi dengan berat < 2500 gr. Criteria ini dipakai terus menerus secara luas, sampai
tampak bahwa ada perbedaan antara usia hamil dan berat lahir yang disebabkan
adanya hambatan pertumbuhan janin

7
Bayi prematur atau bayi pre-term adalah bayi yang berumur kehamilan 37
minggutanpa memperhatikan berat bedan. Sebagian besar bayi lahir dengan berat
badan kuang dari 2500 gram adalah bayi prematur.( asrining surasmi,dkk. 2003). Dari
pengertian tersebutdapat disimpulkan bayi prematur ditetapkan berdasarkan umur
kehamilan.

B. FAKTOR RESIKO
1. Resiko Demografik
a. Ras
b. Usia (<> 40 tahun)
c. Status sosio ekonomi rendah
d. Belum menikah
e. Tingkat pendidikan rendah
2. Resiko Medis
a. Persalinan dan kelahiran premature sebelumnya
b. Abortus trimester kedua (lebih dari 2x abortus spontan atau elektif)
c. Anomali uterus
d. Penyakit-penyakit medis (diabetes, hipertensi)
e. Resiko kehamilan saat ini :
Kehamilan multi janin, Hidramnion, kenaikan BB kecil, masalah-masalah
plasenta (misal : plasenta previa, solusio plasenta), pembedahan abdomen,
infeksi (misal : pielonefritis, UTI), inkompetensia serviks, KPD, anomaly janin
3. Resiko Perilaku dan Lingkungan
a. Nutrisi buruk
b. Merokok (lebih dari 10 rokok sehari)
c. Penyalahgunaan alkohol dan zat lainnya (mis. kokain)
d. Jarang / tidak mendapat perawatan prenatal

8
 
4. Faktor Resiko Potensial
a. Stres
b. Iritabilitas uterus
c. Perestiwa yang mencetuskan kontraksi uterus
d. Perubahan serviks sebelum awitan persalinan
e. Ekspansi volume plasma yang tidak adekuat
f. Defisiensi progesterone
g. Infeksi

C. ETIOLOGI
1. Faktor Maternal
Toksenia, hipertensi, malnutrisi / penyakit kronik, misalnya diabetes mellitus
kelahiran premature ini berkaitan dengan adanya kondisi dimana uterus tidak
mampu untuk menahan fetus, misalnya pada pemisahan premature, pelepasan
plasenta dan infark dari plasenta
2. Faktor Fetal
Kelainan Kromosomal (misalnya trisomi antosomal), fetus multi ganda, cidera
radiasi (Sacharin. 1996). Faktor yang berhubungan dengan kelahiran premature :
a. Kehamilan:
1) Malformasi Uterus
2) Kehamilan ganda
3) TI. Servik Inkompeten
4) KPD
5) Pre eklamsia
6) Riwayat kelahiran premature
7) Kelainan Rh

9
b. Kondisi medis
1) Kondisi yang menimbulkan partus preterm
a) Hipertensi Tekanan darah tinggi menyebabkan penolong cenderung
untuk mengakhiri kehamilan, hal ini menimbulkan prevalensi persalinan
preterm meningkat.
b) Perkembangan janin terhambat Perkembangan janin terhambat
(Intrauterine growth retardation) merupakan kondisi dimana salah satu
sebabnya ialah pemasokan oksigen dan makanan mungkin kurang
adekuat dan hal ini mendorong untuk terminasi kehamilan lebih dini.
c) Solusio plasenta Terlepasnya plasenta akan merangsang untuk terjadi
persalinan preterm, meskipun sebagian besar (65%) terjadi aterm. Pada
pasien dengan riwayat solusio plasenta maka kemungkinan terulang akan
menjadi lebih besar yaitu 11%.
d) Plasenta previa sering kali berhubungan dengan persalinan preterm akibat
harus dilakukan tindakan pada perdarahan yang banyak. Bila telah terjadi
perdarahan banyak maka kemungkinan kondisi janin kurang baik karena
hipoksia.
e) Kelainan rhesus Sebelum ditemukan anti D imunoglobulin maka kejadian
induksi menjadi berkurang, meskipun demikian hal ini masih dapat
terjadi.
f) Diabetes Pada kehamilan dengan diabetes yang tidak terkendali maka
dapat dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Tapi saat ini dengan
pemberian insulin dan diet yang terprogram, umumnya gula darah dapat
dikendalikan.
2) Kondisi yang menimbulkan kontraksi
a) Kelainan bawaan uterus Meskipun jarang tetapi dapat dipertimbangkan
hubungan kejadian partus preterm dengan kelainan uterus yang ada.

10
b) Ketuban pecah dini Ketuban pecah mungkin mengawali terjadinya
kontraksi atau sebaliknya. Ada beberapa kondisi yang mungkin
menyertai seperti : serviks inkompeten, hidramnion, kahamilan ganda,
infeksi vagina dan serviks, dan lain-lain.
c) Serviks inkompeten Riwayat tindakan terhadap serviks dapat
dihubungkan dengan terjadinya inkompeten. Chamberlain dan Gibbings
menemukan 60% dari pasien serviks inkompeten pernah mengalami
abortus spontan dan 49% mengalami pengakhiran kehamilan
pervaginam.
d) Kehamilan ganda Sebanyak 10% pasien dengan dengan partus preterm
ialah kehamilan ganda dan secara umum kahamilan ganda mempunyai
panjang usia gestasi yang lebih pendek.
c. Sosial Ekonomi
1) Tidak melakukan perawatan prenatal
2) Status sosial ekonomi rendah
3) Mal nutrisi
4) Kehamilan remaja
3. Faktor gaya hidup
a. Kebiasaan merokok
b. Kenaikan berat badan selama hamil yang kurang
c. Penyalahgunaan obat (kokain)
d. Alcohol

11
D. PATOFISIOLOGI/PATOLOGI
Neonatus dengan imaturitas pertumbuhan dan perkembangan tidak dapat
menghasilkan kalori melalui peningkatan metabolisme. Hal ini disebabkan karena
respon menggigil bayi tidak ada atau kurang, sehingga tidak dapat menambah
aktivitas. Sumber utama kalori bila ada stress dingin atau suhu lingkungan rendah
adalah thermogenesis nonshiver. Sebagai respons terhadap rangsangan dingin, tubuh
bayi akan mengeluarkan norepinefrin yang menstimulus metabolisme lemak dari
cadangan lemak cokelat untuk menghasilkan kalori yang kemudian dibawa oleh
darah ke jaringan. Sterss dingin dapat menyebabkan hipoksia, metabolisme asidosis
dan hipoglikemia. Peningkatan metabolisme sebagai respons terhadap stress dingin
akan meningkatkan kebutuhan kalori dan oksigen. Bila oksigen yang tersedia tidak
dapat memenuhi kebutuhan, tekanan oksigen berkurang ( hipoksia) dan keadaan ini
akan menjadi lebih buruk karena volume paru menurun akibat berkurangnya oksigen
darah dan kelaina paru (paru yang imatur). Keadaan ini dapat sedikit terolong oleh
haemoglobin fetal ( HbF) yang dapat mengikat oksigen lebih banyak sehingga bayi
dapat bertahan lebih lama pada kondisi tekanan oksigen yang kurang.
Stress akan direspons oleh bayi dengan melepas norepinefrin yang
menyebabkan vasokontriksi paru. Akibatnya, menurunkan keefektifan ventilasi paru
sehingga kadar oksigen darah berkurang. Keadaan ini menghambat metabolisme
glukosa dan menimbulkan glikolisis anaerob yang menyebabkan peningkatan asam
laktat, kondisi ini bersamaandengan metabolisme lemak cokelat yang menghasilkan
asam sehingga meningkatkan konstribusi terjadinya asidosis. Kegiatan metabolisme
anaerob menghilangkan glikogen lebih banyak dari pada metabolisme aerob sehingga
mempercepat terjadinya hipoglikemia. Kondisi ini terjadi terutama bila cadangan
glikogen saat lahir sedikit, sesudah kelahiran pemasukan kalori rendah atau tidak
adekuat.

12
Termoregulasi Bayi prematur umurnya relatif kurang mampu untuk bertahan
hidup karena struktur anatomi atau fisiologi yang imatur dan fungsi biokimianya
belum bekerja seperti bayi yang lebih tua. Kekurangan tersebut berpengaruh terhadap
kesanggupan bayi untuk mengatur dan mempertahankan suhu badannya dalam batas
normal. Bayi prematur dan imatur tidak dapat mempertahankan suhu tubuh dalam
batas normal, karena pusat pengatur suhu pada otak yang belum matur, kurangnya
cadangan glikogen dan lemak cokelat sebagai sumber kalori. Tidak ada atau
kurangnya lemak subkutan dan permukaan tubuh yang relatif lebih luas akan
menyebabkan kehilangan panas tubuh yang lebih banyak. Respons menggigil pada
bayi kurang atau tidak ada, sehingga bayi tidak dapat meningkatkan panas tubuh
melalui aktivitas. Selain itu kontrol refleks kapiler kulit juga masih kurang. (asrining
surasmi dkk, 2003).

13
Phatway

E. JENIS /KLASIFIKASI/MACAM
14
Persalinan prematur murni sesuai dengan definisi WHO batasan kriteria keterangan:
1. Sangat prematur Usia kehamilan 24-30 minggu BB bayi 1000-1500 g  Sangat
sulit untuk hidup, kecuali dengan inkubator canggih. Dampak sisanya
menonjol,terutama pada IQ nerologis dan pertumbuhan fisiologis.
2. Prematur Sedang Usia kehamilan 31-36 minggu BB bayi 1501-2000 g  Dengan
perawatan cangih masih mungkin hidup tanpa dampak sisa yang berat
3. Premuatur borderline Usia kehamilan 36-38 minggu Berat bayi 2001-2499 g
Lingkaran kepala 33 cm, Lingkaran dada 30 cm, Panjang badan sekitar 45cm 
Masih sangat mungkin hidup tampa dampak sisa yang berat.

Perhatikan kemungkinan :
1. Ganguan napas
2. Daya isap lemah
3. tidak tahan terhadap hipotermia
4. mudah terjadi infeksi
Persalinan prematur berdasarkan pengolangan faktor penyebab Pengolongan kriteria
Keterangan :
1. Golongan 1 Dapat terjadi prematur teratur tidak menimbulkan proses “rekuren”
a. solusio plasenta
b. plasenta previa
c. hidramnion /oligohidromnion
d. kehamilan ganda kejadian persalinan prematur sangat jarang berulang dengan
sebab yang sama
2. Golongan 2 resiko kejadian persalinan prematur tidak dapat dikontrol oleh
penderita sendiri
a. hamil usia muda ,tua (umur kurang 18 tahun atau diatas 40tahun )
b. terdapat anomali alat reproduksi a. sebagian masih dapat diupayakan untuk
dikendalikan
15
c. anomali alat reproduksi sebagian sulit dikendalikan sekalipun dengan tindakan
operasi
3. Golongan 3 faktor yang menimbulkan pesalinan prematur dapat dikendalikan
sehinga kejadian prematur dapat diturunkan :
Kebiasan:
a. Merokok ketagin obat
b. Kebiasaan kerja keras ,kurang tdur dan istirahat
c. Keadaan sosial ekonomi yang menyebabkan konsumsi gizi nutrisi rendah
d. Kenali berat badan ibu hamil yang kurang
e. Anomali serviks, serviks inkompeten

F. MANIFESTASI KLINIS/TANDA DAN GEJALA


Tanda-tanda persalinan prematur, yaitu
4. Kram seperti ketika datang bulan atau rasa sakit pada punggung.
5. Kram perut, dengan atau tanpa diare.
6. Kontraksi rahim yang teratur dengan jarak waktu sepuluh menit atau kurang dan
kontraksi ini tidak harus terasa sakit.
7. Rasa tertekan pada perut bagian bawah, terasa berat atau seperti bayi yang
mendorong ke bawah.
8. keluar air atau cairan lainnya dari vagina.

G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada bayi berat badan lahir rendah atau prematur dapat dilakukan
dengan beberapa cara, yaitu :
1. Perawatan bayi dalam incubator. Inkubator adalah suatu alat untuk membantu
terciptanya suatu lingkungan yang optimal, denfan demikian dapat terciptanya
suatu suhu lingkungan yang normal. Suhu lingkungan yang netral adalah suatu

16
keadaan dimana panas yang dihasilkan dapat mempertahankan suatu suhu tubuh
yang tetap.
2. Perawatan post resusitasi Dilakukan untuk mengatasi terjadinya asfiksia, yang
dapat memperburuk
H. KOMPLIKASI
a. Sindrom Gawat Napas (RDS)
Tanda Klinisnya : Mendengkur, nafas cuping hidung, retraksi, sianosis,
peningkatan usaha nafas, hiperkarbia, asiobsis respiratorik, hipotensi dan syok.
b. Displasin bronco pulmaner (BPD) dan Retinopati prematuritas (ROP)
Akibat terapi oksigen, seperti perporasi dan inflamasi nasal, trakea, dan faring.
(Whaley & Wong, 1995)
c. Duktus Arteriosus Paten (PDA)
Suatu pembuluh darah yang dilapisi oleh otot dan memiliki fungsi khusus.apabila
sensor oksigen yang normal tidak ada pada otot duktus atau karena kelemahan
menyebabkan duktus tidak menutup atau hanya menutup sebagian.
d. Necrotizing Enterocolitas (NEC)
Suatu kondisi medis terutama pada byi prematur,dimana bagian dari usus
mengalami nekrosis (kematian jaringan).(Bobak. 2005)

17
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN BAYI PREMATUR

A. Pengkajian
1. Sirkulasi
Nadi apikal mungkin cepat / tidak teratur dalam batas normal (120 sampai 160
dpm) murmur jantung yang dapat menandakan duktus arteriosus paten (PDA)
2. Makanan / Cairan
Berat badan kurang dari 2500 g
3. Neurosensori
a. Tubuh panjang, kurus, lemas dengan perut agak gendut
b. Ukuran kepala besar dalam hubungan dengan tubuh : sutura mungkin mudah di
gerakan, fontanel mungkin besar / terbuka lebar
c. Umumnya terjadi edema pada kelopak mata, mata mungkin merapat Reflek
tergantung pada usia gestasi
4. Pernafasan
a. Apgar score mungkin rendah
b. Pernafasan dangkal, tidak teratur, pernafasan diafragmatik intermiten (40-60
x/mnt) mengorok, pernafasan cuping hidung, retraksi suprasternal subternal,
sianosis ada.
c. Adanya bunyi ampelas pada auskultasi, menandakan sindrom distres pernafasan
(RDS)
5. Keamanan
a. Suhu berfluktuasi dengan mudah
b. Menangis mungkin lemah
c. Wajah mungkin memar, mungkin kaput suksedaneum
d. Kulit transparan

18
e. Lanugo terdistribusi secara luas diseluruh tubuh
f. Ekstremitas tampak edema
g. Garis telapak kaki terlihat
h. Kuku pendek
6. Seksualitas
a. Persalinan / kelahiran tergesa-gesa ,Genetalia : Labia minora lebih besar dari
labia mayora dengan kritoris menonjol testis pria tidak turun, rugae mungkin
banyak / tidak ada pada skrotum
7. Data Penunjang :
Pengobatan :
a. Cettrazidine 2 x 75 mg
b. Aminophylin 2 x 0,15 /IV
c. Mikasin 2 x 10 mg
d. Aminosteril 15 cc
Perhatian Khusus :
a. O2
b. Observasi TTV
c. Laboratorium pada tanggal 27 September 2005 :
1) Ht : 46 vol %
2) Hb : 15,7 gr/dl
3) Leukosit : 11 900 ul
4) Clorida darah : 112 mEq
5) Natrium darah : 140
6) Kalium : 4,1
7) GDS : 63

19
B. Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi
ventilasi
2. Ketidak efektifan pola napas berhubungan dengan imaturitas pusat pernafasan
perkembangan otot, penurunan energi / kelelahan
3. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan imaturitas
produksi enzim.
4. Resiko terjadi penurunan hipotermia berhubungan dengan perkembangan SSP
imatur, ketidak mampuan merasakan dingin berkeringat
5. Resiko infeksi berhubungan dengan respon imun imatur, prosedur invasif

C. Intervensi Keperawatan
1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi
ventilasi
Intervensi :
a. Ukur berat badan bayi dan perhatikan jenis kelamin
b. Observasi pernafasan ; cuping hidung, dispnea dan ronki
c. Observasi dengan pemantauan O2 catat setiap jam ubah sisi alat setiap 3-4 jam
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan imaturitas pusat pernafasan,
keterbatasan perkembangan otot, penurunan energi / kelelahan
Intervensi :
a. Observasi frekuensi pernapasan dan pola nafas (pernafasan, tonus otot dan
warna kulit)
b. Atur / posisikan bayi telentang dengan gulungan popok di bawah bahu
c. Pertahankan suhu tubuh
d. Berikan rangsang taktil yang segera

20
Kolaborasi :
a. Berikan O2  ½ liter
b. Berikan obat aminofilin 2 x 0,15 cc
3. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan imaturitas
produksi enzim.
Intervensi :
a. Observasi maturitas refleks menelan dan menghisap
b. Auskultasi bising usus sehari 1 kali
c. Beri minum susu pasi ”LLM” 10 x 10 cc/mnt setiap 3 jam
d. Timbang berat badan setiap hari.
e. Berikan terapi mikasin 2 x 25 mg
4. Resiko terjadi penurunan hipotermia berhubungan dengan perkembangan SSP
imatur, ketidak mampian merasakan dingin dan berkeringat
Intervensi :
a. Gunakan lampu pemanas selama prosedur
b. Kurangi pemajanan pada aliran udara
c. Ganti pakaian bila basah
d. Observasi sistem pengaturan suhu inkubater setiap 15 menit (33,4 oC)
e. Observasi adanya sesak, sianosis, kulit belang dan menangis buruk
f. Observasi haluaran dan berat jenis urin
Kolaborasi :
a. Berikan O2
b. Therapy Blue Light
5. Resiko infeksi berhubungan dengan respon imun imatur, prosedur invasive
Intervensi :
a. Pertahankan cuci tangan yang benar
b. Pertahankan kesterilan alat
c. Observasi hasil pemeriksaan laboratorium

21
d. Obervasi TTV “ S, N, P “ tiap 8 jam
e. Observasi tanda-tanda infeksi
Kolaborasi :
a. Berikan aminofilin 2 x 0,15 cc  encerkan melalui IV tiap 7 jam
b. Berikan garamicyn (salep) 3 x sehari

D. Evaluasi :
a. Jalan nafas tetap paten
b. Bayi tidak menunjukan tanda-tanda TIK
c. Bayi menunjukan bukti homeostatis
d. Bayi dapat menunjukan penambahan berat badan (2x 20-30 gr/hr)
e. Suhu aksila bayi tetap dalam rentang normal untuk usia pasca konsepsi

22
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Menurut WHO, bayi prematur adalah bayi lahir hidup seelum usia kehamilan
minggu ke -37 ( dihitung dari minggu pertama haid terakhir). The american academy
of pediatric, mengambil batasan 38 minggu untuk menyebut prematur.
Neonatus dengan imaturitas pertumbuhan dan perkembangan tidak dapat
menghasilkan kalori melalui peningkatan metabolisme. Hal ini disebabkan karena
respon menggigil bayi tidak ada atau kurang, sehingga tidak dapat menambah
aktivitas. Sumber utama kalori bila ada stress dingin atau suhu lingkungan rendah
adalah thermogenesis nonshiver. Sebagai respons terhadap rangsangan dingin, tubuh
bayi akan mengeluarkan norepinefrin yang menstimulus metabolisme lemak dari
cadangan lemak cokelat untuk menghasilkan kalori yang kemudian dibawa oleh
darah ke jaringan. Sterss dingin dapat menyebabkan hipoksia, metabolisme asidosis
dan hipoglikemia. Peningkatan metabolisme sebagai respons terhadap stress dingin
akan meningkatkan kebutuhan kalori dan oksigen. Bila oksigen yang tersedia tidak
dapat memenuhi kebutuhan, tekanan oksigen berkurang ( hipoksia) dan keadaan ini
akan menjadi lebih buruk karena volume paru menurun akibat berkurangnya oksigen
darah dan kelaina paru (paru yang imatur). Keadaan ini dapat sedikit terolong oleh
haemoglobin fetal ( HbF) yang dapat mengikat oksigen lebih banyak sehingga bayi
dapat bertahan lebih lama pada kondisi tekanan oksigen yang kurang.

23
DAFTAR PUSTAKA

https://febriganteng.wordpress.com/2014/06/27/makalah-bayi-prematur/. Diunduh
pada Tanggal 11 April 2018.

http://wahidnh.blogspot.co.id/2011/06/asuhan-keperawatan-pada-bayi-s-p-
dengan.html. Diunduh pada Tanggal 11 April 2018.

24