Anda di halaman 1dari 15

SURAT PERNYATAAN

Yang bertandatangan dibawah ini, kami penulis publikasi ilmiah yang berjudul “Biostratigrafi dan
Analisis Perubahan Kedalaman Termoklin Di Lepas Pantai Barat Daya Sumba Sejak Pleistosen
Akhir Berdasarkan Kumpulan Foraminifera Planktonik” oleh Ardi dkk. yang dipublikasikan di
Bulletin of Geology, Vol. 3, No. 2, 2019, menyatakan bahwa seluruh penulis memiliki kedudukan
dan kontribusi yang sama dari awal penelitian hingga penulisan publikasi.
Demikian pernyataan ini disampaikan untuk digunakan sebagaimana mestinya

Bandung, 13 Juli 2020

RYAN DWI WAHYU ARDI KHOIRIL ANWAR MARYUNANI

EKO YULIANTO PURNA SULASTYA PUTRA

 
e-ISSN 2580 - 0752
BULLETIN OF
GEOLOGY
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Institut Teknologi Bandung (ITB)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...................................................................................................................... i
DEWAN REDAKSI .......................................................................................................... ii
PENELAAH ...................................................................................................................... iii
SEJARAH .......................................................................................................................... iv
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... v

AGUS HANDOYO HARSOLUMAKSO, EKO PUSWANTO, I GUSTI BAGUS


EDDY SUCIPTA:
Batupasir “Bulukuning” Pada Lempung Berisik Di Daerah Banjarnegara, Jawa
Tengah; Studi Petrologi, Provenan dan Implikasi Tektonik ................................. 333
ANDIKA ARTYANTO, BENYAMIN SAPIIE, CHALID IDHAM ABDULLAH,
RIDWAN PERMANA SIDIK:
Identifikasi Tekanan Rekah Kritis Pada Sumur AA-1 Dan AA-2 Lapangan
Panasbumi Ranau Dedap, Sumatera Selatan ......................................................... 344
RYAN DWI WAHYU ARDI, KHOIRIL ANWAR MARYUNANI, EKO YULIANTO,
PURNA SULASTYA PUTRA, SEPTRIONO HARI NUGRAHA:
Biostratigrafi dan Analisis Perubahan Kedalaman Termoklin Di Lepas Pantai
Barat Daya Sumba Sejak Pleistosen Akhir Berdasarkan Kumpulan
Foraminifera Planktonik ........................................................................................ 355
YUDHISTIRA ADIKA NUGRAHA, ASEP SAEPULOH:
Aplikasi Klasifikasi Terbimbing Untuk Memetakan Produk Gunung Agung
Dengan Landsat 8-Oli/Tirs Dan Verifikasi Geologi Lapangan ............................. 363
AHMAD HAMDANI, DARDJI NOERADI, YUSUF ISKANDAR:
Potensi Gas Serpih Formasi Pulobalang, Cekungan Kutai, Kalimantan Timur .... 371
VICCO ORYZAVICA VEBRYATNA, DARDJI NOERADI:
Analisis Stratigrafi dan Identifikasi Fasies Seismik Pada Interval Syn-Rift,
Daerah Kotagaro, Cekungan Sumatera Tengah .................................................... 381
BULLETIN OF GEOLOGY, VOL. 3, NO. 2, 2019 i
BULLETIN OF

e-ISSN 2580 - 0752 Terbit 3 kali setahun

DEWAN REDAKSI
Editor-in-chief: Asep Saepuloh, S.T., M.Eng., Dr.Eng.
Editor:

 Indra Gunawan, S.T., M.Sc., Ph.D.


 Very Susanto, S.T., M.T., Dr.Eng.
 Alfend Rudyawan, S.T., M.T., Ph.D.
 Mika Rizki Puspaningrum, S.Si., M.T., Ph.D.
 Dr. Ir. Purnama Sendjaja
 Dr. Astyka Pamumpuni, S.T., M.T.
 Maria Sekar Proborukmi, S.T., M.Sc.

Boards Member:

 Prof. Dr. Ir. Made Emmy Relawati (Petrology, Volcanology and Geochemistry
Research Group, Faculty of Earth Sciences and Technology - ITB, Indonesia).
 Prof. Dr. Ir. Jahdi Zaim (Paleontology and Quarter Geology Research Group,
Faculty of Earth Sciences and Technology - ITB, Indonesia).
 Prof. Dr. Ir. Eddy Ariyono Subroto (Petrology, Volcanology and Geochemistry
Research Group, Faculty of Earth Sciences and Technology - ITB, Indonesia).
 Dr. Ir. Agus Handoyo Harsolumakso, D.E.A. (Geodynamics and Sedimentology
Research Group, Faculty of Earth Sciences and Technology - ITB, Indonesia).
 Ir. Benyamin Sapiie, Ph.D. (Geodynamics and Sedimentology Research Group,
Faculty of Earth Sciences and Technology - ITB, Indonesia).
 Dr. Aswan, S.T., M.T. (Paleontology and Quarter Geology Research Group, Faculty
of Earth Sciences and Technology - ITB, Indonesia).
 Dr. Ir. Supartoyo (Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation,
Geological Agency, Indonesia).
 Dr. Akhmad Solikhin (Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation,
Geological Agency, Indonesia).
 Dr. Virginie Pinel (Institut de Recherche pour le Développement - IRD, Institut de
sciences de la Terre – ISTerre – France).

IT Staff : Ihsan Adi Pratama, S.Kom.


Secretariat Staff : Ida Yayuk Purnamasari, A.Md.
Indriana Kuntadi

BULLETIN OF GEOLOGY, VOL. 3, NO. 2, 2019 ii


BULLETIN OF

e-ISSN 2580 - 0752

PENELAAH

✓ Dr. Eng. Budi Muljana, Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran.


✓ Dr. Eng. Guruh Samodra, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM).
✓ Dr. Mudrik Daryono, Pusat Penelitian Geoteknologi, Lembaga Ilmu dan Pengetahuan
Indonesia (LIPI), Bandung.
✓ Rian Nurtyawan, M.Si., PT. Digital Imaging Geospatial.
✓ Afdi Rahmandita, S.T., PT. Runge Pincock Minarco
✓ Dr. Meli Hadiana, Kelompok Keahlian Geodinamika dan Sedimentologi, Fakultas
Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), ITB.
✓ Dr. Prihadi Soemintadiredja, Kelompok Keahlian Geologi Terapan, Fakultas Ilmu dan
Teknologi Kebumian (FITB), ITB.
✓ Dr. Asep Kesumajana, Kelompok Keahlian Geodinamika dan Sedimentologi,
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), ITB.
✓ Maria Sekar Proborukmi, S.T., M.T., Kelompok Keahlian Paleontologi dan Geologi
Kuarter, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), ITB.
✓ Dr. Rendy Kartiko, Peneliti (Post-doctoral), Kelompok Keahlian Geologi Terapan,
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), ITB.
✓ Dr. Astyika Pamumpuni, Kelompok Keahlian Geodinamika dan Sedimentologi,
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), ITB.
✓ Dr. Ir. Purnama Sendjaja, Pusat Survey Geologi, Badan Geologi, Indonesia.
✓ Prof. Dr. Ir. Jahdi Zaim, Kelompok Keahlian Paleontologi dan Geologi Kuarter,
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), ITB.
✓ Dr. Ir. Supartoyo, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bancana Geologi, Badan Geologi,
Indonesia.
✓ Sachrul Iswahyudi, S.T., M.T., Jurusan Geologi, Universitas Jenderal Soedirman.
✓ Frederikus Dian Indrastomo, S.T., M.T., Pusat Pengembangan Geologi Nuklir, Badan
Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Jakarta, Indonesia.
✓ Arie Naftali Hawu Hede, S.T., M.T., PhD., Kelompok Keahlian Eksplorasi
Sumberdaya Bumi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM), ITB.
✓ Dr. Eng. Anjar Dimara Sakti, S.T., M.Sc., Kelompok Keahlian Inderaja dan Sains
Informasi Geografis, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), ITB.

BULLETIN OF GEOLOGY, VOL. 3, NO. 2, 2019 iii


e-ISSN 2580 - 0752

BULLETIN OF
GEOLOGY
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Institut Teknologi Bandung (ITB)

SEJARAH

Perjalanan penerbitan Bulletin of Geology, sebelumnya bernama Buletin Geologi,


sudah melewati sejarah yang sangat panjang sejak diterbitkannya volume pertama pada
tahun 1980 sampai volume ke-42 pada tahun 2015. Pada awal terbit, nama jurnal ini
adalah Buletin Departemen Teknik Geologi – ITB dengan Komite Publikasi saat itu Dr.
Ong Han Ling, Ir. Djoko Santoso (kini Prof. Dr.) , Ir. Suprijadi, Ir. Yahdi Zaim, dan Ir.
Eddy A. Subroto (dua nama terakhir kini juga Prof. Dr.).
Mulai April 2017, Bulletin of Geology terbit secara online dan cetak dengan
susunan kepengurusan baru di bawah penanggung jawab Prof. Emmy Suparka dan
dewan penasihat Prof. Yahdi Zaim, Prof. Eddy A. Subroto, Dr. Agus H. Harsolumakso,
dan Benyamin Sapiie, Ph.D.
Penerbitan Bulletin of Geology secara online bisa diakses melalui situs
www.buletingeologi.com, sedangkan penerbitan cetak didistribusikan untuk
institusi-institusi yang terkait dengan bidang yang tercakup oleh Bulletin of Geology.

BULLETIN OF GEOLOGY, VOL. 3, NO. 2, 2019 iv


e-ISSN 2580 - 0752

BULLETIN OF
GEOLOGY
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Institut Teknologi Bandung (ITB)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat yang diberikan-
Nya sehingga Bulletin of Geology Vol. 3 No. 2 terbit dalam memberikan tambahan
referensi mengenai ilmu kebumian. Bulletin of Geology merupakan jurnal ilmiah peer-
reviewed, terbit secara berkala, dan berbasis riset yang dikelola di bawah Fakultas Ilmu
dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB). Artikel yang
diterbitkan di Bulletin of Geology mencakup semua bidang ilmu geosains dan teknologi
yang meliputi geologi, geofisika, geodesi, meteorologi, oseanografi, perminyakan,
pertambangan, dan geografi.
Pada penerbitan kali ini topik makalah mencakup biostratigrafi, panas bumi,
migas, petrologi provenan, dan remote sensing geologi. Variasi penulis berasal dari
industri, akademisi, dan lembaga penelitian. Setiap artikel yang diterbitkan sudah melalui
proses peer-review oleh para ahli untuk masing-masing topik makalah yang masuk.
Demikian kami berharap Bulletin of Geology bisa menjadi referensi untuk para
pembaca di bidang ilmu kebumian maupun umum. Kami mengucapkan terima kasih
untuk semua tim editor, para penelaah, dan para penulis yang sudah berkontribusi pada
edisi ini. Semua saran dan masukan kami terima untuk perbaikan pada edisi-edisi
selanjutnya.

Bandung, 30 Agustus 2019


Salam,

Editorial Board

BULLETIN OF GEOLOGY, VOL. 3, NO. 2, 2019 v


e-ISSN 2580 - 0752
BULLETIN OF
GEOLOGY
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Institut Teknologi Bandung (ITB)

BIOSTRATIGRAFI DAN ANALISIS PERUBAHAN KEDALAMAN TERMOKLIN DI


LEPAS PANTAI BARAT DAYA SUMBA SEJAK PLEISTOSEN AKHIR
BERDASARKAN KUMPULAN FORAMINIFERA PLANKTONIK

RYAN DWI WAHYU ARDI1, 4, KHOIRIL ANWAR MARYUNANI1, EKO YULIANTO2,


PURNA SULASTYA PUTRA2, DAN SEPTRIONO HARI NUGROHO3

1. Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung
(ITB), JL. Ganesha No.10, Bandung, Jawa Barat, Indonesia, 40132, Email: dwa.ryan@gmail.com
2. Pusat Penelitian Geoteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jl. Sangkuriang Bandung 40135
3. Pusat Penelitian Laut Dalam, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jl. Y. Syaranamual Ambon 97233
4. Program Studi Agroteknologi, Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto, Jl. Sultan Agung No. 42
Purwokerto 53144

Sari - Foraminifera merupakan mikrofauna/mikrofosil yang sering diaplikasikan dalam geologi terutama untuk
analisis biostratigrafi dan paleoekologi. Wilayah lepas pantai barat daya Sumba sangat dipengaruhi oleh pergantian
muson barat laut – muson tenggara dan berada di dekat salah satu jalur keluar ITF yaitu Selat Ombai – Laut Sawu
yang akirnya berperan besar dalam membentuk kondisi ekologinya. Penelitian ini bertujuan untuk membuat biozonasi
dan analisis salah satu parameter ekologi yaitu kedalaman termoklin di wilayah lepas pantai barat daya Sumba
berdasarkan kumpulan foraminifera planktonik. Inti sedimen laut dalam sepanjang 235 cm dengan kode S8 akan
digunakan sebagai bahan penelitian..Determinasi foraminifera dilakukan secara kuantitatif dengan mengamati kira-
kira 300 spesimen dalam satu bagian sampel. Masing-masing takson yang ditemukan pada bagian tersebut dihitung
jumlah individunya sedangkan taksa berbeda yang ditemukan di luar bagian tersebut dianggap berjumlah satu.
Biozonasi dibuat berdasarkan biozonasi Blow serta biozonasi Bolli dan Saunders. Berdasarkan biozonasi Blow
diperoleh satu zona yaitu zona N23 yang setara dengan Pleistosen – Holosen. Sementara berdasarkan biozonasi Bolli
dan Saunders diperoleh dua zona yaitu zona Globigerinella calida – Clavarotella bermudezi (di bawah kedalaman
147 cm) yang setara Pleistosen Akhir dan zona Globorotalia fimbriata (kedalaman 0 – 147 cm) yang setara Holosen.
Analisis paleoekologi difokuskan pada parameter kedalaman termoklin yang ditentukan dari kelimpahan relatif taksa
thermocline dweller yang terdiri dari Neogloboquadrina dutertrei, Puleniatina obliqueloculata, dan Globorotalia
menardii. Selama Pleistosen kelimpahan thermocline dweller relatif lebih tinggi (49,76 – 75,66%, rata-rata 60,01%)
yang mengindikasikan pendangkalan termoklin (kondisi eutropik) sedangkan selama Holosen kelimpahannya lebih
rendah (33,90 – 57, 17%, rata-rata 45,77%) yang mengindikasikan mendalamnya termoklin (kondisi lebih
oligotropik). Kondisi tersebut berkaitan dengan dominasi muson tenggara (ITF menguat) selama Pleistosen yang
kemudian melemah pada Holosen dan memicu penguatan muson barat laut (ITF melemah).

Kata kunci: biostratigrafi, foraminifera, ITF, kedalaman termoklin, muson.

Abstract - Foraminifera are microfaunas/microfossils that frequently applied in geology especially for
biostratigraphy and paleoecological analysis. This research aim to create biozonation and paleoecological analysis
in the region off the southwest coast of Sumba based on planktonic foraminiferal assemblages. This region heavily
affected by northwest monsoon – southeast monsoon shift and located next to one of the ITF’s outflow paths (Ombai
Strait – Savu Sea) which eventually form its ecological condition. A 235 cm long deep sea sediment core coded ST08
will be used as research material. Foraminifera specimens were determined quantitatively by observing
approximately 300 specimens for each split. Each taxon determined from that part then calculated for each individu
that was found while different taxa determined from other splits are considered to be one. Biozonation was determined
based on either Blow biozonation or Bolli and Saunders biozonation. One zone was obtained based on Blow
biozonation which is N23 zone, equal to Pleistocene – Holocene. Two zones were determined based on Bolli and
Saunders biozonation which are Globigerinella calida – Clavarotella bermudezi zone (below 147 cm depth), equal
to Late Pleistocene and Globorotalia fimbriata zone (0 – 147 cm depth), equal to Holocene. Paleocological analysis
focused on the thermocline depth parameter inferred from the relative abundance of thermocline dweller taxa that
consist of Neogloboquadrina dutertrei, Puleniatina obliqueloculata, and Globorotalia menardii. Themocline dweller
abundance were relatively higher during Pleistocene (49,76 – 75,66%, average 60,01%), indicating shallower
thermocline (eutropic condition) while during Holocene its abundance relatively lower (33,90 – 57, 17%, average

BULLETIN OF GEOLOGY, VOL. 3, NO. 2, 2019 355


DOI: 10.5614/bull.geol.2019.3.2.3
45,77%), which indicated thermocline deepening (more oligotropic condition). Those conditions were related to the
southeast monsoon domination during Pleistocene (stronger ITF) before its weakening on Holocene which induced
northwest monsoon strengthening (weaker ITF).

Keywords: biostratigraphy, foraminifera, ITF, monsoon, thermocline depth

1. PENDAHULUAN
Foraminifera merupakan mikrofauna laut dan mendalamnya kedalaman termoklin tercermin
termasuk dalam Kingdom Protista yang dari penurunan kelimpahan relatifnya.
sering dipelajari dalam geologi karena Thermocline dweller merupakan taksa
pengaplikasiannya yang cukup mudah foraminifera planktonik yang cenderung
terutama dalam studi stratigrafi hidup di sekitar lapisan termoklin dan akan
(biostratigrafi) dan paleoekologi. Dalam sangat melimpah pada kondisi eutropik yang
geologi foraminifera yang diamati terdapat membentuk lapisan Deep Chlorophyll
pada sedimen atau batuan sedimen dan hanya Maximum (DCM) akibat kedalaman
menyisakan bagian cangkangnya yang termoklin yang mencapai kedalaman light
bahkan umumnya telah memfosil. compensation (Spooner dkk., 2005).
Foraminifera ada yang hidup melayang pada
kolom air (planktonik) dan ada pula yang Penelitian akan dilakukan terhadap inti
hidup pada substrat di dasar laut (bentonik). sedimen S8 yang diambil di lepas pantai barat
Penelitian ini akan difokuskan pada analisis daya Sumba pada kedalaman 2.966 m (batial)
kumpulan foraminifera planktonik. (Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, 2006)
(Gambar 1). Wilayah ini memiliki kondisi
Foraminifera planktonik memiliki resolusi iklim yang sangat dipengaruhi oleh
biostratigrafi yang cukup tinggi selama pergantian muson barat laut – muson tenggara
Neogen sehingga sering diaplikasikan untuk yang terlihat dari curah hujan yang sangat
membuat biozonasi sedimen/batuan sedimen kontras pada musim kemarau dan musim
laut (Blow, 1969, 1970; Bolli dan Saunders, penghujan (Aldrian dan Susanto, 2003;
1985). Selain itu mikrofauna ini juga memiliki Mohtadi dkk., 2007). Salah satu jalur keluar
sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan Indonesian Through Flow (ITF) yaitu Selat
lingkungan sehingga sering digunakan Ombai – Laut Sawu juga berada di dekat
sebagai proksi pada penelitian tentang daerah penelitian sehingga penelitian ini
paleokologi, paleoklimatologi, maupun diharapkan dapat membaca fluktuasinya di
paleo-oseanografi. Dalam hal ini parameter masa lampau (Hautala dkk., 1996; Gordon,
paleokologi yang paling mudah dideteksi dari 2005; Spooner dkk., 2005). Dalam hal ini
kelimpahan foraminifera planktonik adalah belum pernah dilakukan penelitian khusus
stratifikasi air laut (kedalaman termoklin) terhadap kedalaman termoklin di wilayah
yang akan menjadi fokus pada penelitian ini lepas pantai barat daya Sumba padahal
bersama dengan analisis biostratigrafi. Dalam wilayah ini tidak tepat berada di jalur keluar
hal ini mendangkalnya kedalaman termoklin ITF (Gambar 2) sehingga seberapa besar
dapat ditunjukkan oleh meningkatnya pengaruhnya terhadap kondisi ekologi daerah
peningkatan kelimpahan relatif taksa penelitian menjadi topik yang menarik untuk
thermocline dweller, sedangkan dibahas.

BULLETIN OF GEOLOGY, VOL. 3, NO. 2, 2019 356


DOI: 10.5614/bull.geol.2019.3.2.3
Gambar 1. Daerah penelitian, S8 (titik merah) merupakan lokasi pengambilan inti
sedimen yang diteliti (Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, 2016).

Gambar 2. ITF (garis putus-putus) beserta aliran-aliran lain yang berasosiasi dengannya
(Ding dkk., 2013), lokasi pengambilan inti sedimen S8 ditandai dengan
bulatan merah.

2. DATA DAN METODE PENELITIAN dilaksanakan oleh Pusat Penelitian


2.1 Data Oseanografi LIPI pada Agustus 2016.
Data pada penelitian ini berupa sampel-
sampel sedimen yang diambil dengan 2.2 Metode Penelitian
interval 2 cm dari inti sedimen yang 2.2.1 Preparasi
memiliki panjang 236 cm (inti S8). Inti Pertama-tama dilakukan penimbangan
sedimen tersebut diambil pada Ekspedisi terhadap masing-masing sampel (diambil 5
Widya Nusantara (E-WIN) yang g) Setelah itu dilakukan preparasi dengan
BULLETIN OF GEOLOGY, VOL. 3, NO. 2, 2019 357
DOI: 10.5614/bull.geol.2019.3.2.3
merendam masing-masing sampel pada oleh Blow (1969, 1970) serta Bolli dan
bejana berisi larutan H2O2 5% selama 3 – 6 Saunders (1985). Sementara itu analisis
jam. Kemudian masing-masing sampel paleoekologi difokuskan pada kedalaman
dicuci dan disaring di atas saringan termoklin (mencerminkan stratifikasi air
berukuran 30, 80, dan 100 mesh (0,5; 0,177; laut) dengan melihat kelimpahan relatif
dan 0,149 mm). Residu pada saringan taksa thermocline dweller. Taksa
berukuran 80 dan 100 mesh lalu dipanaskan foraminifera yang tergolong thermocline
dengan oven pada suhu 60oC hingga cukup dweller dan akan dianalisis kelimpahannya
kering. Setelah melalui langkah-langkah terdiri dari Neogloboquadrina dutertrei,
tersebut maka sampel siap untuk Pulleniatina obliqueloculata, dan
dideterminasi. Globorotalia menardii (Barmawidjaja dkk.,
1993; Baohua dkk., 1997; Spooner dkk.,
2.2.2 Determinasi Kuantitatif 2005; Ding dkk., 2006; Sijinkumar dkk.,
Determinasi kuantitatif dilakukan dengan 2011).
terlebih dahulu membagi (splitting) sampel
hingga pada satu bagian diperkirakan 3. HASIL DAN DISKUSI
terdapat 300 spesimen foraminifera. 3.1 Biostratigrafi
Kemudian pada bagian tersebut masing- 3.3.1 Biozonasi Blow
masing takson yang teridentifikasi dihitung Berdasarkan biozonasi foraminifera
jumlahnya. Selain itu dilakukan planktonik menurut Blow (1969, 1970) inti
pengamatan pada bagian-bagian lain untuk S8 hanya terdiri dari satu zona yaitu zona
mencari taksa yang belum hadir dan N23. Zona ini ditandai dengan kehadiran
kemudian dihitung berjumlah satu spesimen. Globigerinella calida pada interval
terbawah (234 – 235 cm). Zona N23
Setelah itu dilakukan normalisasi terhadap memiliki umur yang setara dengan
jumlah pembagian dan berat sampel dengan Pleistosen – Holosen (Gambar 4).
persamaan sebagai berikut:
3.3.2 Biozonasi Bolli dan Saunders
a. Normalisasi jumlah pembagian (split) Berdasarkan biozonasi foraminifera
N = 2n × A (1) planktonik lintang rendah menurut Bolli
dan Saunders (1985) sedimen pada inti S8
dengan:
terdiri dari dua zona. Dua zona tersebut
A= jumlah spesimen spesies X pada satu
adalah zona Globigerinella calida –
bagian yang dianalisis
Clavarotella bermudezi (di bawah
n = jumlah split
kedalaman 147 cm) dan zona Globorotalia
N = jumlah spesimen spesies X pada satu
fimbriata (interval 0 – 147 cm). Zona
sampel utuh
Globigerinella calida – Clavarotella
bermudezi ditandai oleh kehadiran
b. Normalisasi berat
Globigerinella calida pada bagian bawah
Juml. akhir spesimen spesies X =
sedangkan batas atasnya ditandai oleh
Berat ditimbang kemunculan awal Globorotalia fimbriata,
× N (2)
Berat diharapkan setara dengan Pleistosen Akhir. Sementara
Hasil normalisasi kemudian disajikan pada itu zona Globorotalia fimbriata dibatasi
tabel distribusi (Gambar 3). oleh kemunculan Globorotalia fimbriata di
bagian bawah yang menandai dimulainya
2.2.3 Pengolahan dan Analisis Data Kala Holosen (Gambar 2).
Analisis biostratigrafi dilakukan dengan
pembuatan biozonasi berdasarkan 3.2 Paleoekologi: Kedalaman Termoklin
kehadiran dan kemunculan taksa Kelimpahan relatif thermocline dweller
foraminifera pada biozonasi yang dibuat menunjukkan nilai yang cukup kontras
BULLETIN OF GEOLOGY, VOL. 3, NO. 2, 2019 358
DOI: 10.5614/bull.geol.2019.3.2.3
antara Pleistosen dan Holosen (Gambar 3). Spooner dkk., 2005; Ding dkk., 2013).
Selama Pleistosen kelimpahan thermocline Menguatnya muson barat laut memicu
dweller cenderung lebih tinggi (49,76 – adanya aliran massa air rendah salinitas
75,66%, rata-rata 60,01%) yang yang melalui Laut Jawa dan Laut Flores
mengindikasikan adanya pendangkalan menuju ke arah timur yaitu Laut Banda
termoklin (kondisi eutropik). Sementara itu sehingga mengurangi gradien tekanan
kelimpahan thermocline dweller cenderung antara Samudera Pasifik dan Samudera
menurun pada Holosen (33,90 – 57,17%, Hindia (Wyrtki, 1987). Berkurangnya
rata-rata 45,77%) yang mengindikasikan gradien tekanan antara Samudera Pasifik
mendalamnya termoklin atau kondisi air dan Hindia berakibat pada melemahnya ITF
laut menjadi lebih oligotropik (kedalaman dan pendalaman termoklin (Gordon, 2005;
termoklin di bawah kedalaman light Steinke dkk., 2014). Kehadiran massa air
compensation). rendah salinitas tersebut mempengaruhi
stratifikasi air laut di wilayah timur
Pendangkalan termoklin selama Pleistosen Kepulauan Indonesia termasuk daerah
kemungkinan berhubungan dengan penelitian yaitu dengan memperdalam
dominasi muson tenggara (Wyrwoll dan lapisan termoklin (kondisi menjadi lebih
Miller, 2001; Spooner dkk., 2005; Ding oligotropik) (Spooner dkk., 2005; Ding dkk.,
dkk., 2013). Dominasi muson tenggara 2013).
tersebut disebabkan oleh posisi Inter-
Tropical Convergence Zone (ITCZ) selama 4. KESIMPULAN
musim panas belahan bumi selatan (Austral Dengan menggunakan biozonasi Bolli dan
summer) yang berada si atas Pulau Jawa, Saunders (1985), batas Pleistosen –
Laut Flores, hingga Laut Banda sehingga Holosen inti S8 berhasil dideterminasi yaitu
muson barat laut tidak dapat mencapai pada interval kedalaman 146 -147 cm. Batas
wilayah tenggara Kepulauan Indonesia, ini ditandai dengan kemunculan awal
termasuk daerah penelitian (Spooner dkk., Globorotalia fimbriata. Kehadiran
2005; Xu dkk., 2006; Ding dkk., 2013). Globigerinella calida pada interval
Dominasi muson tenggara menyebabkan terbawah menunjukkan Zona N23 menurut
adanya aliran massa air dingin kaya nutrisi biozonasi Blow (1969, 1970) sehingga
dari tenggara ke Kepulauan Indonesia (van dapat disimpulkan bahwa sedimen pada inti
Iperen dkk., 1993; Gordon, 2005; Steinke S8 diendapkan sejak Pleistosen Akhir.
dkk., 2014). Hal itu mengakibatkan Analisis berdasarkan kelimpahan relatif
tingginya gradien tekanan antara Samudera taksa thermocline dweller menunjukkan
Pasifik dan Hindia sehingga ITF menguat adanya perbedaan kedalaman termoklin
(Gordon, 2005; Steinke dkk., 2014). antara Pleistosen dan Holosen. Kedalaman
Kehadiran massa air dingin tersebut termoklin selama Pleistosen relatif dangkal
kemudian turut meningkatkan produktivitas yang diakibatkan oleh dominasi muson
dengan memicu adanya upwelling yang tenggara (memicu pembentukan upwelling)
kemudian membuat kedalaman termoklin dan kuatnya intensitas ITF, sedangkan
menjadi lebih dangkal (kondisi eutropik) selama Holosen kedalaman termoklin lebih
(van Iperen dkk., 1993; Spooner dkk., 2005). dalam akibat menguatnya muson barat laut
dan ITF. Perbedaan kedalaman termoklin
Memasuki Holosen posisi Austral summer tersebut menunjukkan bahwa wilayah lepas
ITCZ berpindah ke sekitar wilayah utara pantai barat daya Sumba masih dipengaruhi
Australia sehingga muson barat laut dapat oleh ITF walau tidak berada tepat di jalur
mencapai wilayah tenggara Kepulauan keluar ITF, dalam hal ini fluktuasi ITF
Indonesia, termasuk daerah penelitian berkaitan erat dengan fluktuasi intensitas
sehingga dominasi muson tenggara pun muson akibat pergeseran posisi Austral
berkurang (Wyrwoll dan Miller, 2001; summer ITCZ.
BULLETIN OF GEOLOGY, VOL. 3, NO. 2, 2019 359
DOI: 10.5614/bull.geol.2019.3.2.3
Gambar 3. Tabel distribusi dan biozonasi inti sedimen S8.

BULLETIN OF GEOLOGY, VOL. 3, NO. 2, 2019 360


DOI: 10.5614/bull.geol.2019.3.2.3
Wahyu Ardi (No. kontrak :
20160611017188).
REFERENSI
Aldrian, E. dan Susanto, R.D., 2003.
Identification of three dominant
rainfall regions within Indonesia and
their relationship to sea surface
temperature, International Journal of
Climatology 23, 1435 – 1452. doi:
10.1002/joc.950
Baohua, L., Zhimin, J., dan Pinxian, W., 1997.
Pulleniatina obliquiloculata as a
paleoceanographic indicator in the
southern Okinawa Trough during the
last 20,000 years, Marine
Micropaleontology 32, 59 – 69.
Barmawidjaja, B.M., Rohling, E.J., van der
Kaars, W.A., Vergnaud Grazzini, C.,
dan Zachariasse, W.J., 1993. Glacial
conditions in the northern Moluccas
Sea region (Indonesia),
Palaeogeography, Palaeoclimatology,
Palaeoecology 101: 147-167.
Blow, W.H., 1969. Late Middle Eocene to
Recent planktonic foraminiferal
Biostratigraphy dalam Bronnimann, R.
& Renz, H. H., 1967, ed., Proceedings
of the First International Conference
on Planktonic Microfossils 1, 199 –
Gambar 4 Kelimpahan relatif thermocline 421, Geneva.
dweller pada inti sedimen S8 Blow, W. H., 1970. Validity of
yang mengindikasikan biostratigraphic correlations based on
kedalaman termoklin. the Globigerinacea,
Micropaleontology 16, 257 – 268.
UCAPAN TERIMAKASIH Bolli, H.M. dan Saunders, J.B., 1985.
Penulis sangat berterima kasih kepada Pusat Oligocene to Holocene low latitude
Penelitian Oseanografi LIPI khususnya Udhi planktic foraminifera dalam Bolli, H.
Hermawan, Ph.D. selaku chief scientist E- M., Saunders, J. B., dan Perch –
WIN 2006 atas izin penggunaan data yang Nielsen, K., 1985, ed., Plankton
diberikan, Singgih Prasetyo Adi Wibowo stratigraphy, Vol I, 155 – 262,
selaku teknisi beserta nahkoda dan seluruh Cambridge University Press,
anak buah kapal riset Baruna Jaya VIII atas Cambridge.
bantuan selama pengambilan data, Pusat Ding, X., Bassinot, F., Guichard, F., Li, Q. Y.,
Penelitian Geoteknologi LIPI dan Program Fang, N. Q., Labeyrie, L, Xin, R. C.,
Studi Teknik Geologi ITB atas fasilitas Adisaputra, M. K., dan
laboratorium, serta Lembaga Pengelola Dana Hardjawidjaksana, K., 2006.
Pendidikan (LPDP) atas bantuan dana Distribution and ecology of planktonic
penelitian yang diberikan kepada Ryan Dwi foraminifera from the seas around the
BULLETIN OF GEOLOGY, VOL. 3, NO. 2, 2019 361
DOI: 10.5614/bull.geol.2019.3.2.3
Indonesian Archipelago, Marine doi:10.1016/j.marmicro.2005.10.003
Micropaleontology 58, 114 – 134.
Ding, X., Bassinot, F., Guichard, F., dan Fang, dan Paterne, M., 2005.
N. Q., 2013. Indonesian Throughflow Palaeoceanography of the Banda Sea,
and monsoon acyivity record in The and Late Pleistocene initiation of the
Timor Sea since the last glacial Northwest Monsoon, Global and
maximum. Marine Micropaleontology Planetary Change 49, 28 – 46.
101, 115 – 126. doi: doi:10.1016/j.gloplacha.2005.05.002
10.1016/j.marmicro.2013.02.003 Steinke, S., Prange, M., Feist, C., Groeneveld,
Gordon, A. L., 2005. Oceanography of the J., dan Mohtadi, M., 2014. Upwelling
Indonesian Seas and Their variability off southern Indonesia over
Throughflow, Oceanography 18 (4), 14 the past two millennia, Geophysical
– 27. Research Letter 41, 7684 – 7693.
Hautala, S.L., Reid, J.L., dan Bray, N., 1996. doi:10.1002/2014GL061450.
The distribution and mixing of Pacific van Iperen, J.M., van Bennekom, A.J., dan van
water masses in the Indonesian Seas, Weering, T.C.E., 1993. Diatoms in
Journal of Geophysical Research 101, surface sediments of the Indonesian
12.375 – 12.389. Archipelago and their relation to
Mohtadi, M., Max, L., Hebbeln, D., Baumgart, hydrography, Hydrobiologia 269/270,
A., Kruck, N., dan Jennerjahn, T., 2007. 113– 128.
Modern environmental conditions Wyrtki, K., 1987. Indonesian Throughflow and
recorded in surface sediment samples the associated pressure gradient,
off W and SW Indonesia: Planktonic Journal of Geophysical Research 92,
foraminifera and biogenic compounds 12941– 12946.
analyses, Marine Micropaleontology Wyrwoll, K. H. dan Miller, G. H., 2001.
65, 96 – 112. Initiation of the Australian summer
doi:10.1016/j.marmicro.2007.06.004 monsoon 14,000 years ago, Quaternary
Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, 2016. International 83–85, 119– 128.
Laporan Akhir Ekspedisi Widya Xu, J., Kuhnt, W., Holbourn, A., Andersen, N.,
Nusantara 2016, 10 – 69 (Tidak dan Bartolli, G. (2006): Changes in the
dipublikasikan). vertical profile of the Indonesian
Sijinkumar, A.V., Nagender Nath, B., Possnert, Throughflow during Termination II:
G., dan Aldahan, A., 2011. Pulleniatina Evidence from the Timor Sea,
minimum events in the Andaman Sea Paleoceanography, 21, 4202.
(NE Indian Ocean): implications for doi:10.1029/2006PA001278
winter monsoon and thermocline .
changes, Marine Micropaleontology 81,
88 – 94.
doi:10.1016/j.marmicro.2011.09.001
Spooner, M.I, Barrows, T.T, De Deckker, P.,

BULLETIN OF GEOLOGY, VOL. 3, NO. 2, 2019 362


DOI: 10.5614/bull.geol.2019.3.2.3