Anda di halaman 1dari 15

1.

     Latarbelakang Perang Dingin

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya Perang Dingin :

1.       Perbedaan paham antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet sebagai pemenang perang
dunia II memiliki ideologi yang berbeda, Amerika Serikat  memiliki Ideologi liberal,sedangkan
Uni Soviet memiliki ideologi komunis.

2.      Amerika Serikat dan Uni Soviet mempunyai keinginan untuk menjadi penguasa di dunia
dengan cara baru seperti Amerika Serikat dengan menanam modal di negara lain dan Uni Soviet
dengan persenjataan yang canggih.

3.       Baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet merasa berjasa dalam menghancurkan ekspansi
militer Jerman dan Italia yang ingin menguasai seluruh Eropa.Keduanya sama sama merasa
berhak memperoleh wilayah pengaruh. Hal inilah yang menyebabkan Amerika Serikat dan Uni
Soviet terlibat konflik tidak langsung karena mereka menghindari perang terbuka untuk
memperebutkan suatu wilayah.

Konflik yang terjadi antara Blok Barat pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur pimpinan Uni
Soviet terjadi sejak berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945.

2.     Polarisasi Kekuatan

Polarisasi kekuatan adalah pembagian kekuatan yang dilakukan antara Blok Barat dan Blok
Timur yang saling berlawanan untuk melindungi daerah kekuasaannya

Polarisasi kekuatan Blok Barat adalah dengan dibentuknya NATO (North Atlantic Treaty
Organization) atau pakta pertahanan atlantik.Pembentukan NATO dilatarbelakangi perjanjian
Brussels tahun 1948 yang berisi saling memberikan bantuan militer apabila salah satu dari
meraka diserang negara lain.Perjanjian ini ditandatngani oleh lima negara yaitu Amerika
Serikat, Belgia,Inggris, Perancis,dan Denmark.Pembentukan NATO bretujuan untuk
membendung negara-negara Eropa Barat dari ancaman-ancaman negara Komunis.

Pada april 1949 perjanjian diperbarui dengan bergabungnya negara-negara anggota NATO yang
baru yaitu Amerika Seikat,inggris prancis,belgia,denmark,Canada
eslandia ,italia,belanda,norwegia,luxemburg,portugal,turkiPada tahun 1951 Yunani menyusul
menjadi anggota NATO diikuti Jerman Barat tahun 1954 dan Spanyol pada tahun 1981.Markas
besar NATO berada di Brussels,sedangkan Eksejutif Konite Militer NATO berda di
Washinhton,Amerika Serikat.NATO mempunyai tiga komando yaitu Komando Eropa,Komando
Atlantik,dan Komando Laut Utara.Masing-masing anggota mempunyai kewajiban untuk
membiayai pasukan NATO.  

Sedangkan untuk mengimbangi NATO negara negara blok timur membentuk sebuah organisasi
yaitu organisasi Pakta Warsawa pada tahun 1955 yang dibentuk di Warsawa,ibu kota
Polandia.Sejak tahun 1945 Polandia sudah bergabung dengan Uni Soviet.Penggabungan ini
terjadi karena pejuang-pejuang Polandia banyak memperoleh bantuan daru Uni Soviet dalam
mengusir Jerman dari Polandia.Sebagai negara paling kuat di Eropa Timur Uni Soviet menjadi
pemimpin pakta warsawa. Negara-negara yang ikut menandatangani pakta warsawa adalah
polandia,albania,bulgaria,cekoslowakia,hongaria,jerman timur,dan rumania.Markas besar
orgainsai ini berada di Moskow ibukota Uni Soviet.

Blok Barat dan Blok Timur mempunyai bebrapa konsep yang saling berlawanan arah,antara lain
dalam hal ploiti.Blok Barat menganut sistem demokrasi liberal yang mengharuskan setiap
negara menganut sistem multipartai,sedangkan Blok Timur menganut monopartai yaitu partai
komunis.Blok Timur juga mengenal pergantian secara berkala,tetapi pergantian itu tidak
diperebutkan oleh partai-partai politik.Selain politik ternyata dalam hal ekonomi kedua negara
tersebut juga berbeda.Blok Barat menganut kapitalisme dengan pasar bebas yang dapat
meningkatkan perekonomian negara tetapi juga menghancurkan pemodal kecil,sedangkan Uni
Soviet mencegah terjadinya persaingan bebas dengan memberikan peranan yang besar kepada
pemerintah yang mengakibatkan pemodal kecil tidak hancur oleh pemodal besar tetapi di sisi
lain Blok Timur mengalami kelambatan dalam memperoleh kemajuan ekonomi.

3.     Perubahan Kebijakan Uni Soviet

Uni Soviet adalah negara yang mempunyai peranan besar dalam perang dingin,bahkan mampu
mengungguli Amerika Serikat,Inggris,dan Perancis dalam perlombaan senjata nuklir,tetapi
kemajuan teknoligi di Uni Soviet tidak diimbangi oleh kemajuan ekonomi yang terjadi pada
Amerika.Akibatnya tingkat kemakmuran di negara ini sangat rendah.Ketimpangan antara
teknologi dan ekonomi ini membuat presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev mengeluarkan
kebijakan perestroika (pembaruan ekonomi) dan glasnost (keterbukaan) pada tahun 1987 yang
bertujuan untuk meningkatkan kemajuan eonomi Uni Soviet sebagai negara adidaya.kebijakan
perestroika dan glasnost adalah kebijakan reformasi yang dilakukan pemerintah USSR.Kebijakan
ini menyebabkan pemerintah luar negeri Uni Soviet berubah dari aggresif menjadi
defensif,karena dari awal USSR bersifat aggresif yaitu melakukan campur tangan terhadap
urusan dalam negeri para negara sekutu dan memberikan bantuan militer kepada negara yang
menjadi musuh BLOK BARAT.
Dampak perubahan kebijakan bagi masyarakat Internasional adalah:

            -mengurangi ketegangan perang dingin

            -memberi kesempatan pada setiap negara untuk mengurangi belanja militernya

            -setiap negara meningkatkan dana untuk pembangunan ekonomi.

4.     Pembaharuan Uni Soviet

Faktor yang menyebabkan munculnya pembaharuan di Uni Soviet:

Pemerintah Uni Soviet menganut kebijakan terpusat dalam system ekonomi maupun politik.
Dalam sitem ekonomi terpusat ini,pemerintah Uni Soviet menghilangkan mekanisme pasar
dengan melakukan campur tangan berlebihan untuk mengendalikan perekonomian. Setelah
menerapkannya selama 70 tahun,ternyata menyebabkan Uni Soviet kalah dalam persaingan
ekonomi dengan Amerika Serikat karena sistem perekonomian komunis telah menghilangkan
persaingan yang menjadi motor penggerak kemajuan ekonomi.

Uni Soviet menerapkan politik represif (keras) untuk menghancurkan kelompok kelompok
politik menentang kebijakkannya. Pemerintah melarang kegiatan politik, menghapus kebebasan
pers dan merampas hak-hak poiltik warga negara. Semua itu menghilangkan kepedulian warga
negaranya untuk berpartisipasi (apatis) dalam pembangunan ekonomi

Inti Pembaharuan di Soviet

Inti pembaharuan di Uni Soviet adalah kebijakan perestroika (pembaruan ekonomi) dan
glasnost (keterbukaan). Tujuan perestroika dan glasnost adalah untuk meningkatkan kemajuan
ekonomi Uni Soviet sebagai Negara adi daya (superpower). Untuk menghidupkan kembali
partisipasi rakyat dalam pembangunan ekonomi,presiden Uni Soviet, Mikhael Gorbachev
mengeluarkan kebijakan glasnost (keterbukaan) sehingga hak-hak politik rakyat
dikembalikan,mengizinkan kegiatan-kegiatan politik dan memberikan kebebasan pers. Pada
dasarnya glasnost bertujuan untuk memberikan rakyat untuk melakukan pengawasan terhadap
pemerintah. Ketertutupan yang dilaksanakan Uni Soviet selama 70 tahun mengakibatkan
hilangnya pengawasan rakyat sehingga aparat pemerintah melaksanakan tugasnya dengan
sewenang-wenang. Aparat pemerintah justru berperan sebagai penghambat kebijakan
pembangunan sehingga Uni Soviet mengalami kegagalan dalam meningkatkan kemakmuran
rakyatnya.
Jalannya Pembaharuan Uni Soviet

Perubahan Gorbachev melalui kebijakan perestroika dan glasnost menimbulkan sikap pro dan
kontra di kalngan elit politik Uni Soviet. Pro dan kontra ini membuat perestroika dan glasnost
berjalan lambat karena besarnya tantangan golongan tua elit politik.

Pendukung perestroika dan glasnost sangat kecea terhadap Presiden Gorbachev yang mengalah
dengan tekanan kelompok penolak pembaruan atau golongan konservatif.  Kekecewaan
diperlihatkan oleh Boris Yeltsin ,ketua Partai Komunis Moskow yang mendukung perestroika
dan glasnost. Ia memberikan pidato kecamannya di depan Komite Sentral Partai Komunis
terhadap reformasi Gorbachev. Pada akhirnya Yelstin mengundurkan diri dari Partai Komunis
setelah mengetahui bahwa Partai Komunis dikuasai oleh golongan konservatif. Ia segera
bergabung dengan Tribun Moskow yang berusaha menghimpun kekuatan pendukung
perubahan.

Sepanjang tahun1988 banyak berdiri kelompok-kelompok politik baru terutama di ibukota


Moskow. Pada bulan Mei 1988 terbentuk kelompok Uni Demokrasi. Kelompok ini
memperjuangkan sistem multipartai,menuntut pasukan-pasukan Uni Soviet dari Eropa Timur,
dan pelaksanaan pemilihan umum. Perjuangan Uni Demokrasi mendapat dukungan luas
sehingga pemerintah Uni Soviet mengabulkannya. Pada 26 Maret 1989 diadakan pemilihan
umum untuk memilih anggota parlemen. Sebelum pemungutan suara berlangsung pemerintah
juga mengizinkan kepada para calon anggota parlemen untuk berkampanye mencari
pendukung. Dengan demikian anggota parlemen tidak lagi merupakan hak istimewa para tokoh
Partai Komunis Uni Soviet. Banyak yokoh PKUS yang dikalahkan oleh tokoh-tokoh pendukung
perubahan. Yang terkenal mendapat dukungan paling banyak adalah Boris Yelstin.

Glasnost telah mengembalikan hak politik rakyat untuk menentukan wakil mereka di parlemen.
Perubahan ini mendorong sejumlah anggota parlemen pendukung peruahan membentuk
kelompok oposisi secara resmi pada Agustus 1989. Kelompok oposisi ini dikenal dengan nama
Kelompok Antardaerah. Kelompok oposisi memenangkan pemilihan Ketua Parlemen Uni Soviet
dengan terpilihnya Boris Yelstin sebagai ketua parlemen pada bulan Mei 1990. Satu bulan
kemudian ia menyetujui deklarasi kedaulatan Federasi Rusia, melakukan reformasi
pemerintahan dan menerapkan sistem ekonomi pasar bebas.

Perubahan politik merugikan golongan konservatif PKUS. Mereka akhirnya memberi dukungan
kepada Wakil Presiden Uni Soviet Genady Yanayev utnuk melakukankudeta terhadap Presiden
Gorbachev yang dianggap melindungi reformasi Yelstin. Pada 18 Agustus 1991 pemberontak
berhasil menyandera Presiden Gorbachev. Yelstin memimpin gerakan massa untuk menentang
kudeta yang dilakukan Wakil Presiden Yanayev. Pengepungan massa terhadap tempat
penyanderaan membuat pemberonta menyerah dan membebaskan Gorbachev yang sempat
disandera selama 72 jam.

Gorbachev sangat kecewa dengan dukungan golongan konservatif PKUS sehingga pada 25
Agustus 1991 ia mengundurkan diri sebagai Sekjen PKUS dan membubarkan PKUS yang sudah
berdiri selama 75 tahun.

5.     Akhir Perang Dingin

Mundurnya Gorachev dari Kursi Presiden

Pada tahun 1988 pertumbuhan ekonomi Uni Soviet hanya sebesar 4,4%, sedangkan devaluasi
mata uang rubel mencapai 90% . Pada tahun 1989 Uni Soviet mengalami inflasi yang tinggi.
Akibatnya berbagai kesulitan ekonomi bermunculan di seluruh Uni Soviet.

Gorbachev merasa bertanggung jawab terhadap kegagalan ekonomi yang mengakibatkan krisis
politik seperti kudeta dan pembubaran PKUS. Oleh karena itu pada 25 Desember 1991 ia
mengundurkan diri sebagai Presiden Uni Soviet.

Bubarnya Negara Uni Soviet

Pengunduran diri Gorbachev mengawali proses kehancuran Uni Soviet menjadi beberapa
negara merdeka yang tergabung ke dalam persekutuan baru dengan nama CIS (Commonwealth
of Independent States) yang di pimpin Negara Rusia. Pada25 Desember 1991 tercatat12 negara
bekas Uni Soviet yang menjadi anggota CIS.

Pembubaran Uni Soviet mengakhiri Perang Dingin yang sudah berlangsung sejak tahun 1945.
Negara-negara CIS lebih memilih untuk melaksanakan program reformasi daripada melanjutkan
kebijakan luar negeri yang bermusuhan dengan Negara-negara Blok Barat yang telah menguasai
organisasi-organisasi ekonomi internasional yangberperan sebagai penyandang dana untuk
meminjamkan uang kepada mereka.

Terpilihnya Boris Yelstin sebagai Presiden Baru

Boris Yelstin, tokoh popular ibukota Moskow langsung terpilih sebagai Presiden Rusia,
sedangkan Alexander Rutskoi menjadi wakil presiden dan Ruslan Kashbulatov sebagai ketua
parlemen. Pada masa inilah terjadi ketegangan di dalam negeri Uni Soviet dimana program
reformasi Yelstin yang radikal ditentang oleh Rutskoi dan Kashbulatov. Pada akhir September
1993, Yelstin mengeluarkan dekrit pembubaran parlemen. Kashbulatov membalas dekrit
pembubarandengan mengeluarkan surat keputusan parlemen yang memecat Yelstin dari
jabatan presiden dan mengangkat Rutskoi sebagai Presiden Rusia. Krisis politik ini dimenangkan
Yelstin. Rutskoi dan Kashbulatov ditangkap dan dipenjara karena telah menghambat program
reformasi.

PERKEMBANGAN MUTAKHIR SEJARAH DUNIA

A.    Ekonomi Jepang Pasca Perang

      Setelah Perang Dunia ke-II, ekonomi jepang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat
sehingga ini disebut Keajaiban Ekonomi Jepang Pasca Perang. Nama ini diberikan kepada
fenomena sejarah rekor periode pertumbuhan ekonomi Jepang seusai Perang Dunia II, yang
didorong terutama oleh Investasi Amerika Serikat serta sebagian oleh praktik intervensionisme
ekonomi pemerintah Jepang, khususnya melalui Departemen Perindustrian dan Perdagangan
Internasional.

      Karakteristik khusus dari ekonomi Jepang selama tahun-tahun “keajaiban ekonomi” antara
lain meliputi: kerja sama antara para produsen/manufaktur, pemasok, distributor, dan bank
dalam suatu kelompok yang terjalin erat (keiretsu); serikat pekerja perusahaan yang kuat dan
shunto; hubungan yang baik dengan birokrat pemerintahan, dan jaminan pekerjaan seumur
hidup (shusin koyo) di perusahaan-perusahaan besar serta pabrik-pabrik yang memiliki serikat
pekerja kerah biru yang kuat. Sejak tahun 1993, perusahaan-perusahaan Jepang telah mulai
meninggalkan sebagian dari norma-norma tersebut dalam usaha untuk meningkatkan
profitabilitas dan efisiensi.

B.     Mata uang tunggal Jepang

      Yen Jepang merupakan salah satu mata uang kuat di dunia dan salah satu mata uang yang
paling banyak diperdagangkan di pasar valuta asing. Jepang merupakan salah satu Negara
industri terkemuka di Asia dan mempunyai posisi yang sangat kuat dalam perdagangan
internasional. Namun karena Jepang sangat tergantung dengan bahan mentah yang harus di
impor dari luar maka fluktuasi mata uang Yen sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga bahan
mentah dan minyak bumi di Pasar Internasional. Belakangan fluktuasi Yen berkaitan erat
dengan fluktuasi indeks Nikkei, indeks pasar modal Jepang dan pasar real estate di Negara itu.

      Dalam sejarahnya, perekenomian Jepang mengalami masa suram pada saat embargo
minyak awal tahun 70-an. Namun pada saat pengambil alihan Kuwait oleh Irak yang
menyebabkan perang teluk tahun 1992 tidak memengaruhi harga minyak sehingga pada
peristiwa tersebut perekonomian Jepang tidak terlalu terpengaruh.Mata uang Yen tercatat
mencapai nilai tertinggi pada April 1995 yang mencapai rate 1 Dollar sama dengan 80 Yen. Hal
ini dapat tercapai karena kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang berusaha  untuk
meningkatkan ekspor. Dengan nilai Dollar yang lebih rendah diharapkan dapat meningkatkan
daya saing ekspor produk Amerika serikat dibandingkan produk yang sama buatan Jepang.

Mata Uang Tunggal Eropa

Euro adalah mata uang yang dipakai di 16 negara anggota Uni Eropa. Secara giral, mata uang ini
mulai dipakai sejak tanggal 1 Januari 1999, tetapi secara fisik baru dipakai pada tanggal 1
Januari 2002. Uang kertas Euro di mana-mana rupanya sama, tetapi uang logamnya di belakang
berbeda-beda. Uang logam setiap negara diberi lambangnya sendiri.

Euro dari satu negara boleh dipakai di kedua-belas negara yang lain.
Walaupun uang kertas Euro rupanya sama, tetapi ada juga perbedaan kecil, yaitu nomornya,
sehingga bisa diketahui asalnya dari negara yang mana.

        Di Jerman nomornya mulai dengan X

        Di Irlandia nomornya mulai dengan T

        Di Belanda nomornya mulai dengan P

        Di Yunani nomornya mulai dengan Y

        Di Perancis nomornya mulai dengan U

        Di Luxemburg nomornya mulai dengan ?

        Di Austria nomornya mulai dengan N

        Di Finlandia nomornya mulai dengan L

        Di Belgia nomornya mulai dengan Z

        Di Italia nomornya mulai dengan S


        Di Portugal nomornya mulai dengan M

        Di Spanyol nomornya mulai dengan V

Negara-negara yang menggunakan mata uang Euro

Ada enam-belas negara anggota Uni Eropa yang menggunakan Euro sebagai mata uang.
Wilayah pengguna mata uang ini disebut sebagai Zona Euro. Sebelas negara pertama mulai
menggunakan sejak awal 1999. Yunani menjadi pengguna ke-12 sejak awal 2001. Mulai tanggal
1 Januari 2007 Slovenia turut bergabung. Siprus dan Malta menggunakan sejak 1 Januari 2008.
Yang terakhir adalah Slovakia, yang bergabung mulai 1 Januari 2009. Berikut adalah negara-
negara pengguna mata uang ini:

1.      Jerman

2.      Irlandia

3.      Belanda

4.      Perancis

5.      Luxemburg

6.      Austria

7.      Finlandia

8.      Belgia

9.      Italia

10.  Portugal

11.  Spanyol

12.  Yunani

13.  Slovenia

14.  Siprus

15.  Malta

16.  Slowakia

Selain itu beberapa negara kecil juga memakai Euro:


1.      Andorra

2.      Monako

3.      San Marino

4.      Vatikan

Beberapa daerah juga diperbolehkan memakai Euro sebagai mata uang:

1.      Montenegro

2.      Kosovo

C.    Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC)

      OPEC adalah organisasi negara-negara pengekspor minyak. Organisasi ini didirikan dengan
maksud untuk mengatur produksi dan harga minyak mentah. OPEC didirikan pada tanggal 14
November 1960 atas prakarsa negara Irak, Iran, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela. Indonesia
menjadi anggota OPEC sejak tahun 1962. Anggota OPEC mengalami peningkatan dengan
masuknya negara Aljazair, Ekuador, Gabon, Libya, Qatar, Nigeria, dan Persatuan Emirat Arab.

D.    Kerjasama Utara-Selatan

I . Proses Lahirnya Kerja Sama Utara dan Selatan


Proses kelahiran kerja sama Utara-Selatan diawali dari pertemuan negara-negara penghasil
minyak dengan negara-negara konsumen minyak pada tanggal 7 April 1975 di Paris, Prancis.
Pertemuan tingkat menteri ini kemudian dipopulerkan secara resmi dengan istilah Konferensi
Kerja Sama Ekonomi Internasional yang pertama kali diadakan pada 16-18 Desember 1975 di
Paris. Forum ini kemudian lebih dikelan dengan istilah dialog Utara-Selatan. Di dalam forum ini
termasuk di dalamnya pertemuan-pertemuan nonformal, nonpemerintah, dan non-PBB.
Amerika Serikat dan Prancis sebagai pemrakarsa forum dialog Utara-Selatan memandang perlu
diadakan kerja sama antar negara-negara pengguna minyak dengan negara-negara penghasil
minyak. Hal ini guna menanggulangi terjadinya krisis energi (minyak), krisis ekonomi, dan
embargo minyak. Itikad disambut baik oleh negara-negara penghasil minyak, sehingga
mengahsilkan konferensi kerja sama ekonomi internasional pada bulan Desember 1975 di Paris.
Negara-negara industri memandang bahwa kelangsungan ekonomi dan kehidupan industri
sangat bergantung pada sektor energi. 
Pada awalnya, kerja sama Utara-Selatan hanya beranggotakan negara-negara yang hadir pada
Konferensi Kerja Sama Ekonomi Internasional di Paris, yaitu 27 negara. Di dalam
perkembangannya, forum ini meluas dan berkembang menjadi forum kerja sama antara
negara-negara industri dengan negara-negara yang sedang berkembang. Pada Konferensi Kerja
Sama Ekonomi Internasional pertengahan Desember 1975 di Paris telah dihadiri oleh negara-
negara yang tergabung dalam Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), Jepang, Amerika Serikat,
Australia, Kanada, Spanyol, Swedia, dan Swiss sebagai wakil pihak Utara. Sedangkan pihak
Selatan dihadiri Aljazair, Argentian, Brasilia, Kamerun, Mesir, India, Indonesia (wakil dari
ASEAN), Iran, Irak, Jamaica, Mexico, Nigeria, Pakistan, Peru, Arab Saudi, Venezuela, Yugoslavia,
Zaire, dan Zambia.
Melihat keberhasilan pada sidang pertama pada bulan Desember 1975 di Paris, maka kemudian
direncanakan persidangan kedua di Paris bulan Desember 1976. Namun, karena adanya
beberapa halangan seperti perilu di Amreika Serikat, Jerman Barat, dan Jepang, maka sidang
kedua ini ditunda pada Juni 1977.
Diantara kedua sidang tersebut, telah dilaksanakan persidangan tingkat pejabar tinggi dan
sidang kelompok anggota (April-November 1976). Persidangan ini bermaksud untuk membantu
pemecahan persoalan yang akan diputuskan pada sidang tingkat menteri pada Mei/Juni 1977.
Dari dua kali Konferensi Kerja Sama Ekonomi Internasional dan ditambah hasil persidangan
perantara, maka forum dialog Utara-Selatan telah mengalami perkembangan. Kerja sama ini
tidak hanya dalam hal perdagangan minyak di pasaran internasional, tetapi juga meluas ke
bidang energi, bahan mentah, pembangunan, dan keuangan, dan sektor lainnya yang
mendukung perekonomian global.

II. Tujuan Kerja Sama Utara dan Selatan


Secara umum tujuan forum Utara-Selatan adalah sebagai berikut:
a.Mengharmoniskan hubungan antara negara-negara industri dengan negara-negara yang
sedang berkembang. Tata perekonomian internasional telah menuntut suatu orde baru yang
memerlukan adanya dialog dan kerja sama antara pihak Utara dengan pihak Selatan.
b.Mengikutsertakan partisipasi negara-negara berkembang dalam tatanan dan hubungan
ekonomi internasional. Untuk merealisasikan tujuan ini, negara berkembang aktid dalam
pengambilan keputusan di forum PBB dan di forum-forum di luar PBB.
c.Untuk membagi keuntungan secara adil dari hasil perdagangan internasional.

Melihat dari tujuannya, maka kerja sama Utara-Selatan dapat diartikan sebagai forum
komunikasi timbal balik yang saling menguntungkan. Dari forum komuniksi ini telah melahirkan
adanya sikap untuk saling mendidik, saling meyakinkan, dan saling mengubah tata susunan
dunia. Dalam kerja sama ini telah terjalin hubungan antarpemerintah dan hubungan antarpihak
swasta.

III. Hubungan Antara Utara dan Selatan


Istilah Utara dan Selatan sebenarnya lebih bermakna ekonomis daripada geografis. Utara
diidentifikasikan sebagai keompok negara-negara maju, sedangkan Selatan cenderung
dialamatkan kepada negara-negara berkembangatau negara Dunia Ketiga. Negara-negara Utara
mencakup negara-negara maju yang terletak di Eropa Barat, Amerika, dan Kanada. Negara-
negara Selatan mencakup negara-negara yang terletak di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika
Latin.
Secara ekonomis, negara-negara maju memiliki ekonomi yang kuat, sedangkan negara-negara
berkembang relatif memiliki ekonomi yang lemah. Dari segi kekayaan alam, negara-negara
maju tidak memiliki sumber alam yang cukup. Meskipun demikian, kekurangan tersebut dapat
diatasi dengan penguasaan teknologi.
Perbedaan kondisi sosial, ekonomi, budaya antara pihak Utara-Selatan menggiring mereka
kepada keadaan saling ketergantungan (interdepedensi). Di satu sisi, negara-negara Utara
memiliki keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, namun kurang didukung
oleh sumber kekayaan alam yang melimpah. Sebaliknya, negara-negara Selatan memiliki
sumber alam yang relatif melimpah, namun tanpa didukung oleh penguasaan teknologi.
Dengan kondisi ini, kedua pihak menganggap penting adanya kerja sama Utara-Selatan.
Pokok persoalan dalam kerjasama Utara-Selatan adalah upaya perubahan dalam tata hubungan
dunia baru yang lebih adil. Hubungan tersebut harus berubah dari bentuk pemerasan oleh
Utara ke bentuk pembagian keuntungan bersama. Dengan kata lain, hubungan tersebut harus
berubah dari bentuk subordinasi ke bentuk kemitraan.
Namun pada kenyataannya, bentuk hubungan Utara-Selatan masih cenderung berpola
dominasi-subordinasi. Bentuk kerjasama itu hanya menciptakan kemakmuran bai negara-
negara Utara. Negara-negara Selatan masih mengalami berbagai kekurangan.Misalnya,
penurunan nilai tukar bagi barang-barang yang dihasilkannya, perusakan lingkungan, dan
ketergantungan yang semakin tinggi terhadap negara-negara Utara.
Negara-negara Utara cenderung memaksakan model pembangunan mereka terhadap negara-
negara Selatan. Pemaksaan itu mereka lakukan melalui perundingan-perundingan dalam
lembaga keuangan internasional. Bank dunia dan IMF (International Monetary Fund), yang
semula direncanakan sebagai lembaga keuangan untuk menolong semua negara di dunia dalam
pembangunan, ternyata dipakai sebagai alat oleh negara-negara Utara untuk memaksakan
model pembangunan yang menguntungkan negara-negra yang lebih kuat. Bank dunia dan IMF
mengeluarkan Program Penyesuaian Struktural atau SAP (Structural Adjustment Program) yang
intinya memaksa negara-negara yang mendapatkan bantuan utang untuk lebih membuka pasar
dalam negeri mereka, menekankan kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang-barang yang
bisa diekspor, dan mengurangi subsidi pemerintah terhadap sektor publik. Di Afrika dan
Amerika Latin, program ini menciptakan kemiskinan di kalangan rakyat jelata.
Sehubungan dengan berbagai keadaan yang dialami oleh negara-negara Selatan itu, diadakan
pembenahan di kalangan negara-negara Selatan sendiri. Negara-negara Selatan meningkatkan
kekuatan politik dan ekonomi mereka. Selatan membangun berbagai jalinan dan membangun
kekuatan kolektifnya melalui kegiatan positif di dalam dirinya dan tidak membuat posisi
berhadap-hadapan dengan negara-negara Utara.
Di pihak lain, Utara harus membiarkan negara-negara Selatan bebas melaksanakan berbagai
strategi pembangunan alternatif mereka, tanpa melakukan diskriminasi atau sabotase terhadap
negara-negara tersebut. Negara-negara di Utara harus melaksanakan kebijakan ekonomi dan
kebijakan luar negeri yang didasarkan atas kepentingan jangka panjang yang sehat yang akan
menjaga kelestarian umat manusia dan bumi. Dalam jangka panjang, pendekatan semacam itu
akan sejalan dengan kepentingan penduduk Utara itu sendiri.
Negara-negara Selatan dengan kecenderungan untuk memperoleh posisi tawar-menawar yang
seimbang dengan negara-negara Utara, terkonsentrasi dalam organisasi seperti Kelompok 77
dan Gerakan Non-Blok (GNB). Dalam wadah-wadah itulah, negara-negara Selatan menyalurkan
aspirasi mereka.
Dalam KTT GNB XI di Jakarta tahun 1992, salah satu keputusan penting yang diambil adalah
perlunya suatu Nort-South Dialogue (dialog Utara-Selatan). Dialog ini difokuskan pada masalah-
masalah perdaganagn barang komoditas internasional. Negara-negara Selatan menginginkan
komposisi harga yang adil dari penjualan komoditas tersebut dalam kerangka New Partnership
For Development (kemitraan bagi perkembangan). Dalam dialog Utara-Selatan juga dibicarakan
masalah bantuan keuangan bagi negara-negara berkembang dan pengurangan beban utang
luar negeri. Bidang pertanian dan industri uga menjadi pokok masalah yang diupayakan untuk
dibicarakan.
Posisi GNB dalam kerangka kerja sama Utara-Selatan menjadi semakin memiliki arti sejak
berakhirnya Perang Dingin. Sebagai suatu gerakan politik. GNB menjadi semakin penting
eksistensinya dalam memperjuangkan apa yang disebut dengan . ”tata ekonomi dunia yang
lebih adil”. Fokus gerakannya adalah mengajak negara-negara maju untuk memberikan
perhatian yag lebih luas dan bersikap lebih adil erhadap proses pembangunan ekonomi di
negara-negara berkembang.

IV. Negara-Negara Kelompok Selatan


Negara-negara Kelompok Selatan adalah sebutan Negara-negara berkembang (dunia ketiga)
yang kebetulan mayoritas terletak di belahan dunia bagian selatan dengan mata pencaharian
utama di bidang pertanian dan dalam tingkat kemakmurannya yang masih rendah. Kelompok
Selatan terdiri atas Negara-negara yang baru merdeka dan berkembang yang berjumlah
puluhan, diantaranya Indonesia. Negara-negara berkembang ini dahulu merupakan bekas
Negara-negara koloni yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
Berkebudayaan tradisional
Ekonomi agraris dan pendapatan per kapita rendah
Tingkat kelahiran tinggi
Kemiskinan dan pengangguran tinggi

Dalam menghadapi Kelompok Utara yang menguasai perekonomian dunia, Kelompok Selatan
membentuk persekutuan yang lebih dikenal sebagai kelompok 77 dengan anggotanya mula-
mula 77 negara (1964) dan pada tahun 1990 sudah lebih dari seratus Negara.
Kelompok 77 dengan gigih berjuang mendesak Kelompok Utara agar tata perekonomian lama
yang hanya menguntungkan Kelompok Utara dirombak sehingga terjadi pemerataan dan
keadilan dalam kemakmuran. Perjuangan Kelompok Selatan melawan kemiskinan mendapat
dukungan dari organisasi seperti OPEC. Sementara itu Kelompok Utara, yang sebelumnya saling
bersaing sendiri, akhirnya bersatu dalam KTT di London,Venesia, dan Tokyo untuk menyamakan
langkah dalam menghadapi Kelompok Selatan.

V. Negara-Negara Kelompok Utara


Negara-Negara Kelompok Utara adalah sebutan bagi Negara-negara maju/Negara industri yang
mayoritas terletak di belahan bumi bagian utara. Terdiri atas Amerika Serikat, Kanada, Prancis,
Inggris, Jerman, Italia, dan Jepang yang merupakan satu-satunya Negara Asia. Ketujuh Negara
tersebut dikenal sebagai “Group of Seven” atau G-7. 
Dalam usaha mempertahankan kedudukannya sebagai Negara industri setelah masa
penjajahannya berlalu, mereka bersekutu. Untuk waktu-waktu tertentu diadakan pertemuan
puncak guna membicarakan masalah-masalah yang dihadapi. Dengan teknologi yang makin
canggih, produksi industri makin meningkat. Mereka juga waspada terhadap Negara-negara
berkembang yang bergabung dalam Kelompok Selatan. 
Dalam hubungan antara Negara-negara industri dengan Negara-negara kelompok Selatan,
sangat tidak berimbang karena keuntungan hanya dinikmati Negara-negara maju. Buktinya
sebagai berikut:
Negara-negara berkemang terbebani utang yang besar dengan bunga yang tinggi dan banyak
yang mengalami kredit macet.
Produk-produk ekspor Negara-negara berkembang sulit menembus pasar di Negara-negara
maju

VI. Kelompok Selatan-Selatan


Kelompok Selatan semakin yakin bahwa kerjasama Selatan-Selatan dirasakan semakin perlu
digalang, tidak dapat terus menerus menunggu belas kasihan Kelompok Utara. Tokoh Kelompok
Selatan-Selatan ialah Julius Nyerere, mantan Presiden Tanzania. Berkat pengertian yang
semakin baik, lima besar Negara-negara Selatan mengadakan Pertemuan Tingkat Tinggi di Kuala
Lumpur (1990). Delegasi Indonesia dipimpin oleh Presiden Soeharto. Sejumlah keputusan
diambil dalam usaha mempererat kerja sama, seperti penurunan tarif perdagangan dan
meningktkan perdagangan.

VII. Dialog Utara Selatan


Salah satu perjuangan utama negara-negara dunia ketiga adalah mengubah hubungan ekonomi
internasional. Mereka berusaha mendapatkan modal, teknologi, dan kecakapan manajemen
dari Negara-negara maju, tetapi Negara-negara maju ingin mempertahankan Status Quo.
Melalui konferensi kerja sama ekonomi internasional di Paris, tanggal 16-18 Desember 1975,
mulai dirintis “Dialog Utara-Selatan” untuk mencari titik-titik kesepakatan dalam menuntut
perimbangan distribusi kekayaan yang lebih adil dan partisipasi yang lebih besar bagi Negara-
negara berkembang dalam hubungan ekonomi dan pengambilan keputusan internasional
seperti forum PBB maupun forum Non-PBB.

BAB III PENUTUP


A.  KESIMPULAN
Sejak Tahun 1945 setelah tragedi Bom Atom Hirosima dan Nagasaki, Amerika Serikat dan Uni
Soviet terus bersaing melakukan pertempuran melawan Jerman, Itali dan Jepang. merebut
Jerman Barat dan Uni Soviet menguasai Jerman Timur.  MAmerika Serikat berhasil membentuk
Federasi Jerman (Jerman Barat) oleh Amerika Serikat pada 23 Mei 1949 dan pada 7 Oktober
1949 dibentuk oleh Uni Soviet yaitu Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) . persaingan
antara Uni Soviet dan Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis berlanjut untuk menguasai wilayah
taklukan Jerman di seluruh Eropa. Sebagian wilayah EropA Timur berhasil di kuasai Uni Soviet,
sedangkan Eropa Barat berada di bawah pengaruh Amerika Serikat, Inggris dan Perancis.
Akibatnya Benua Eropa terbelah dua, yakni Blok Timur dan Blok Barat. Masing-masing memiliki
kekuatan militer untuk melindungi negara anggotanya dari negara lain.

Demi memperkuat kubu pertahanannya dan terus menyusun kekuatan  , Amerika serikat
menyetujui berdirinya NATO ( North Atlantik Treaty Organization/ Organisasi pembaharu
Atlantik Utara ) dan menandatangani perjanjian Brussels  tahun 1948 untuk saling mensuport
bantuan kepada 5 negara (Amerika serikat ,Belgia, Denmark, Perancis dan Inggris).  Pihak Uni
Soviet membentuk Pacta Warsawa bersama negara-negara kuat Blok Timur antara lain
Polandia,Bulgaria Albania , Cekoslovakia, Hongaria, Jerman Timur dan Rumania.

Pemerintahan Uni soviet sebelum melakukan pembaruan menganut sistem kebijakan terpusat
dalam system ekonomi maupun politik. Dalam system ekonomi terpusat ini pemerintah Uni
soviet menghilangkan mekanisme pasar dengan melakukan campur tangan berlebihan untuk
mengendalikan perekonomian. Melalui pergolakan intern dan kehancuran pemerintahan dan
Ekonomi pada Uni Soviet, lalu pembubaran Uni Soviet maka perang dingin berakhir tahun 1989.

B.  KARAKTER
1.      Keserakahan menghancurkan persaudaraan

2.      Untuk melawan kekuatan yang besar,diperlukan persatuan untuk mengalahkannya

3.      Strategi yang jitu diperlukan untuk menaklukkan

4.      Keberanian melakukan perubahan yang lebih baik

5.      Diperlukan perjuangan yang keras untuk melakukan suatu perubahan

6.      Dalam suatu persaingan pasti ada yang menang dan ada yang kalah

7.      Sikap inovatif Amerika dapat kita contoh untuk memajukan bangsa Indonesia

Anda mungkin juga menyukai