Anda di halaman 1dari 5

3 Jenis-Jenis Adaptasi Makhluk Hidup dan Contohnya

Sebelumnya Materi IPA sudah membahas tentang bagaimana dua makhluk hidup berbeda jenis
bertahan hidup dengan memiliki hubungan timbal balik yang saling beriringan pada ekosistem. Bukan
hanya dengan memiliki hubungan timbal balik dengan makhluk hidup lain tetapi pada dasarnya masing-
masing makhluk hidup memiliki sistem pertahanan diri untuk tetap bertahan hidup. Sistem pertahanan
diri berupa kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang akan membuat makhluk hidup
bertahan hidup dan terhindar dari kepunahan. Sekarang Materi IPA akan membahas tentang bagaimana
makhluk hidup dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, berbagai jenis cara makhluk
hidup dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan contoh lengkapnya.

Adaptasi berasal dari bahasa Latin yaitu adaptare yang berarti “menyesuaikan”. Adaptasi didefinisikan
sebagai cara bagaimana makhluk hidup atau organisme dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya
agar dapat bertahan hidup. Makhluk hidup yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya mampu
untuk melakukan hal-hal berikut sedangkan yang tidak mampu akan mengalami kepunahan:

 Mendapatkan air, nutrisi (makanan) dan udara


 Mengatasi kondisi lingkungan yaitu cahaya, temperatur dan cuaca
 Mempertahankan hidup dari musuh alaminya
 Bereproduksi
 Mengetahui, merespon atau mengatasi perubahan yang terjadi disekitarnya (Baca juga:
Molalitas)
 Berikut adalah tujuan dari penyesuaian diri makhluk hidup terhadap lingkungannya, yaitu:
 Untuk dapat bertahan hidup
 Untuk dapat memperoleh makanan
 Untuk melindungi diri dari musuh

Makhluk hidup mempunyai cara yang berbeda-beda dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya,
berikut adalah pembagian jenis-jenis adaptasi:

1. Adaptasi Morfologi

Adaptasi morfologi adalah cara bagaimana makhluk hidup atau organisme menyesuaikan bentuk dan
struktur organ tubuhnya yang tampak terhadap lingkungannya agar dapat bertahan hidup. Adaptasi
morfologi mudah dikenali karena masing-masing makhluk hidup mempunyai ciri khas bentuk dan
struktur organ tubuhnya yang menggambarkan lingkungannya. (Baca juga: Jenis Simbiosis ) Contoh
adaptasi morfologi pada makhluk hidup adalah sebagai berikut:

Contoh adaptasi morfologi pada manusia adalah sebagai berikut:

Manusia memiliki lubang hidung yang menonjol keluar untuk memudahkan dalam bernapas dan
menghadap ke bawah sehingga tidak mudah kemasukkan air, debu atau kotoran lainnya.

Manusia memiliki daun telinga yang menghadap ke depan agar mudah menangkap suara dan daun
telinga yang lentur sehingga aman ketika tidur

Jika terlalu lama terkena sinar matahari, kulit manusia akan mengalami perubahan warna menjadi lebih
gelap

Kulit manusia memiliki rambut-rambut halus yang akan berdiri ketika suhu udara yang rendah

Seiring bertambahnya usia, manusia akan menua sehingga rambut akan beruban (Baca juga: Contoh
Larutan Asam)

Contoh adaptasi morfologi pada hewan adalah sebagai berikut:

a. Burung memiliki bentuk kaki atau cakar adaptif yang dibedakan menjadi tipe perenang, pemanjat,
petengger, pejalan dan pencengkeram.

Contoh adaptasi morfologi pada hewan


Burung dengan tipe kaki perenang adalah burung yang memiliki selaput diantara jari-jari kakinya.
Contohnya seperti bebek/itik, mentok.

Burung dengan tipe kaki pemanjat adalah burung yang memiliki 2 jari ke depan dan 2 jari ke belakang.
Contohnya seperti burung pelatuk, burung kutilang.

Burung dengan tipe kaki petengger adalah burung yang memiliki empat jari yang ukurannya kecil.
Contohnya seperti burung gelatik, burung pipit.

Burung dengan tipe kaki pencengkram adalah burung yang memiliki kaki pendek dan kekar serta
berkuku runcing. Contohnya seperti burung elang, burung rajawali dan burung hantu.

Burung dengan tipe kaki dengan fungsi untuk Pemanjat dan Memegang makanan. Contohnya pada
burung kakak tua.

Burung dengan tipe kaki dengan fungsi untuk mengais makanan. Contohnya pada kaki ayam.

b. Burung memiliki bentuk paruh yang dibedakan menjadi tipe pemakan biji, pemakan daging, pemakan
ikan dan pengisap madu.

bentuk paruh pada burung

Burung dengan tipe pemakan biji memiliki paruh pendek dan kuat. Contohnya seperti paruh burung
pipit, burung gereja, parkit atau emprit, merpati atau dara, manyar, peking, perkutut, deruk.

Burung dengan tipe pemakan daging memiliki paruh kuat, tajam dan melengkung bagian ujungnya.
Contohnya seperti burung elang, burung hantu, burung gagak.

Burung dengan tipe pemakan ikan memiliki paruh burung berkantong. Contohnya seperti burung
pelikan, bangau, pecuk, flamingo, burung raja udang, burung cucuk urang atau paruh udang.

Burung dengan tipe pengisap madu memiliki paruh panjang dan runcing. Contohnya seperti burung
kolibri, burung cucak kombo. (Baca juga: Faktor Internal Pertumbuhan)

c. Serangga memiliki bentuk mulut yang berbeda berdasarkan caranya memperoleh makanan yang
dibedakan menjadi tipe penggigit, penusuk dan penghisap, penjilat dan penyerap.

bentuk mulut pada serangga

Serangga dengan tipe mulut penggigit memiliki mulut yang pendek dan runcing. Contohnya seperti
semut, rayap dan belalang.

Serangga dengan tipe mulut penusuk dan penghisap memiliki mulut yang panjang dan tajam. Contohnya
seperti nyamuk.

Serangga dengan tipe mulut penghisap memiliki mulut seperti belalai yang dapat digulung dan
dijulurkan. Contohnya seperti kupu-kupu.

Serangga dengan tipe mulut penjilat memiliki lidah yang panjang. Contohnya seperti lebah.

Serangga dengan tipe mulut penyerap memiliki alat menyerap mirip spons/gabus. Contohnya seperti
lalat.

Contoh adaptasi morfologi pada tumbuhan adalah sebagai berikut:

a. Tumbuhan yang dapat beradaptasi di daerah kering disebut Xerofit. Ciri-ciri tumbuhan Xerofit adalah
sebagai berikut:

 Daunnya tebal, sempit, dapat berubah bentuk menjadi duri, sisik atau tidak memiliki daun
sehingga dapat mengurangi penguapan. (Baca juga: Ciri-Ciri Tumbuhan Lumut)
 Lapisan permukaan tubuh atau daunnya dilapisi oleh lapisan lilin atau lapisan kutikula yang
berfungsi untuk mengurangi penguapan.
 Batangnya tebal yang memiliki jaringan spons untuk menyimpan air.
 Memiliki akar yang panjang sehingga jangkauannya luas untuk mencari air

Contoh tumbuhan xerofit adalah kaktus, lidah buaya, pohon kurma, lili gurun, setawar, sp senseveria.
b. Tumbuhan yang dapat beradaptasi di daerah basah atau lembab disebut higrofit. Ciri-ciri tumbuhan
higrofit adalah sebagai berikut:

Memiliki daun yang tipis dan lebar

Pada permukaan daunnya terdapat banyak stomata atau mulut daun yang berfungsi untuk
mempercepat penguapan. Contoh tumbuhan higrofit adalah lumut, dedalu, tumbuhan paku, tumbuhan
kemunting, daun ungu.

c. Tumbuhan yang dapat beradaptasi di daerah perairan atau hidupnya berada di atas air yang disebut
hidrofit. Ciri-ciri tumbuhan hidrofit adalah sebagai berikut:

Tumbuhan yang dapat beradaptasi di daerah perairan

 Memiliki daun lebar dan tangkai daun menggembung berisi udara (Baca juga: Jaringan Penyusun
Daun Dikotil)
 Memiliki rongga antar sel yang berisi udara untuk memudahkan mengapung di air. Contohnya
seperti eceng gondok dan kiambang.
 Tumbuhan yang memiliki daun berada di permukaan air dan akarnya tertanam di dasar air,
memiliki rongga udara dalam batang atau tangkai daun sehingga tidak tenggelam dalam air dan
daun muncul di permukaan air. Contohnya seperti teratai dan kangkung.
 Tumbuhan yang terendam di dalam air memiliki dinding sel yang kuat dan tebal yang berfungsi
untuk mengurangi osmosis ke dalam sel. Contohnya seperti hydrilla dan vallisneria.
 Tumbuhan yang hidup di pasang surut memiliki akar yang lebat dan kuat sehingga tidak roboh
ketika terkena ombak. Contohnya seperti tumbuhan bakau.

d. Tumbuhan yang dapat beradaptasi pada tempat yang tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering
disebut mesofit. Contohnya seperti mangga, rambutan, pisang, pepaya. Umumnya jenis tumbuhan
monokotil dan dikotil.

2. Adaptasi Fisiologi

Jenis-Jenis Adaptasi pada pada makhluk hidup selanjutnya adalah adaptasi Fisiologi. Adaptasi fisiologi
adalah cara bagaimana makhluk hidup atau organisme menyesuaikan fungsi organ-organ tubuhnya
terhadap lingkungannya agar dapat bertahan hidup. Adaptasi fisiologi bersifat reversibel atau dapat
kembali ke kondisi awal. Untuk lebih jelasnya, berikut contoh adaptasi fisiologi pada makhluk hidup:

Contoh adaptasi fisiologi pada manusia adalah sebagai berikut:

 Orang yang hidup di pantai memiliki jumlah sel darah merah yang lebih sedikit daripada orang
yang hidup di pegunungan karena tekanan parsial oksigen di daerah pantai lebih besar
dibandingkan daerah pegunungan. Jika tekanan parsial oksigen rendah, maka dibutuhkan lebih
banyak sel darah merah untuk mengikat oksigen.
 Seorang atlet memiliki ukuran jantung lebih besar dibanding orang pada umumnya. (Baca juga:
Hormon Giberelin)
 Saat kita mengeluarkan keringat karena kepanasan, tubuh akan dingin karena panas tubuh
diambil untuk menguapkan keringat di permukaan tubuh kita
 Saat udara dingin, tubuh kita cenderung mengeluarkan urine lebih banyak.
 Mata manusia menyesuaikan intensitas cahaya yang diterimanya. Jika kita berada di tempat
gelap, maka pupil kita akan terbuka lebar. Sebaliknya jika berada di tempat terang, maka pupil
kita akan mengecil. Ini adalah cara mata manusia menyesuaikan intensitas cahaya.

Contoh adaptasi fisiologi pada hewan adalah sebagai berikut:

 Hewan ruminansia adalah kelompok hewan mamalia yang mencerna makanannya dua kali.
Makanan hewan tersebut adalah rumput-rumputan, di dalam saluran pencernaannya terdapat
enzim selulase, enzim ini berfungsi untuk mencerna selulose yang menyusun dinding sel
tumbuhan, dengan enzim selulase maka makanan menjadi lebih mudah dicerna. Contohnya
seperti kambing, sapi, kerbau.
 Musang memiliki kelenjar bau yang membuat musuh tidak kuat dan pergi karena baunya. (Baca
juga: Struktur Batang Dikotil)
 Teredo navalis adalah mollusca yang biasa hidup pada kayu galangan kapal dan kayu tiang-tiang
pelabuhan. Mollusca ini dapat merusak kayu karena makanannya berupa kayu. Di dalam saluran
pencernaan Teredo terdapat enzim selulase untuk membantu menguraikan selulose yang ada
pada kayu.

Berdasarkan jenis makanannya, hewan dapat dibedakan menjadi karnivora (pemakan daging). herbivora
(pemakan tumbuhan), serta omnivora (pemakan daging dan tumbuhan). Penyesuaian hewan-hewan
tersebut terhadap jenis makanannya. antara lain terdapat pada ukuran panjang usus dan enzim
pencernaan yang berbeda. Untuk mencerna tumbuhan yang umumnya mempunyai sel-sel berdinding
sel keras, rata-rata usus herbivora lebih panjang daripada usus karnivora.

Ikan yang hidup di laut lebih sedikit mengeluarkan urin dibandingkan dengan ikan yang hidup di air
tawar. Air laut lebih banyak mengandung garam sehingga kadar garam yang tinggi juga menyebabkan
cairan tubuh keluar terus menerus. Garam juga masuk ke dalam tubuh dan harus dikeluarkan. Untuk
menyesuaikan diri, ikan banyak meminum air laut dan sedikit mengeluarkan urin sedangkan ikan yang
hidup di air tawar, sedikit minum air dan banyak mengeluarkan urine dan menggunakan insangnya
secara aktif untuk mengikat garam yang terlarut dalam air supaya ikan tidak kelebihan air atau
kembung.

 Hewan onta memiliki kantung air di punuknya yang berfungsi untuk menyimpan air agar tahan
tidak minum di padang pasir dalam jangka waktu yang lama.
 Burung hantu memiliki penglihatan dan pendengaran yang sangat tajam yang berfungsi untuk
melihat di malam hari.
 Anjing laut memiliki lapisan lemak yang tebal yang berfungsi untuk bertahan di daerah dingin
dengan menahan panas tubuh tetap tertahan.

Contoh adaptasi fisiologi pada tumbuhan adalah sebagai berikut:

Bunga memiliki bau yang khas yang berfungsi untuk mengundang datangnya serangga untuk membantu
penyerbukan. Bunga jenis ini biasanya menghasilkan madu atau nektar dan serbuk sarinya mudah
melekat. Contohnya bunga Bromelia Merah dan beberapa jenis Anggrek mampu menarik perhatian
serangga penghisap madu terutama lebah. Bunga ini menghasilkan aroma bunga yang merupakan sinyal
bagi serangga untuk menentukan bunga yang memiliki kandungan nektar. Secara tidak sengaja, saat
serangga menghisap nektar bunga, banyak serbuk sari yang menempel di tubuhnya. Kemudian, ketika
mengunjungi bunga lain, serbuk sari akan jatuh pada kepala putik. Saat itulah penyerbukan terjadi. (Baca
juga: Ciri-Ciri Tumbuhan Biji Tertutup)

Semak azela

Semak azela dapat mengeluarkan zat yang bersifat racun bagi hewan herbivora. Oleh sebab itu, hewan
herbivora enggan untuk mendekat apalagi memakannya. Zat racun itu juga berdampak pada
terhambatnya pertumbuhan, bahkan kematian pada tumbuhan lain yang ada di sekitarnya. Selain semak
azela, Pohon Mahoni juga menghasilkan zat racun. Tujuan Pohon Mahoni mengeluarkan zat racun
adalah untuk mengurangi persaingan dengan tumbuhan lain dalam hal memperoleh nutrisi dari dalam
tanah.

3. Adaptasi Tingkah Laku

Jenis-Jenis Adaptasi pada pada makhluk hidup selanjutnya adalah adaptasi tingkah laku. Adaptasi
tingkah laku adalah cara bagaimana makhluk hidup atau organisme menyesuaikan tingkah laku terhadap
lingkungannya agar dapat bertahan hidup. Berikut adalah contoh adaptasi tingkah laku pada makhluk
hidup:

Contoh adaptasi tingkah laku pada manusia adalah sebagai berikut:

 Ketika menghirup bau tidak sedap, manusia akan menutup hidungnya


 Ketika mendengar suara yang terlalu nyaring, manusia akan menutup telinganya
 Ketika cuaca dingin, manusia menggunakan pakaian yang lebih tebal untuk menghangatkan
tubuhnya
 Umumnya manusia menggunakan berbagai isyarat dengan jari untuk menunjukkan perasaan
atau untuk komunikasi. (Baca juga: Contoh Elektrolit Lemah)

Contoh adaptasi tingkah laku pada hewan adalah sebagai berikut:

 Kerbau berkubang di lumpur sehingga tubuhnya tertutupi dengan lumpur yang berfungsi untuk
mengurangi sengatan panasnya terik matahari.
 Jika kerbau melumuri tubuhnya dengan lumpur untuk mengurangi sengatan panasnya terik
matahari, gajah menyemprotkan air ke tubuhnya menggunakan belalainya.
 Setiap 30 menit, ikan paus akan muncul ke permukaan air untuk menghirup oksigen sambil
memancarkan air yang merupakan uap air jenuh.
 Cicak memutuskan ekornya untuk mengelabui musuhnya.
 Berbeda dengan cicak, bunglon mengubah warna kulitnya sesuai dengan lingkungan sekitarnya
untuk mengelabui musuhnya.
 Cumi-cumi akan menyemprotkan tinta hitam untuk membela dirinya dari musuh.
 Trenggiling akan menggulungkan tubuhnya jika ada musuh.
 Ketika berpapasan, semut akan saling mendekatkan kepalanya ke semut lain untuk
berkomunikasi.
 Ayam jantan akan berkokok di pagi hari sebagai tanda bahwa sudah pagi.

Anda mungkin juga menyukai