Anda di halaman 1dari 15

Nomor Dokumen :

No Revisi :
Tanggal terbit :
Jumlah Halaman :

PANDUAN

PEMBERIAN INFORMASI OBAT DAN KONSELING

Di tetapkan
Plt Kepala Puskesmas Madurejo

dr. FX. MAHADI


NIP. 19730325 200312 1 005

PUSKESMAS MADUREJO
TAHUN 2019
BAB I

I. DEFINISI

a. Pelayanam kefarmasian di Puskesmas merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan

dari pelaksanaan upaya kesehatan, yang berperan penting dalam meningkatkan mutu

pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

b. Kegiatan penyerahan dan pemberian informasi obat merupakan kegiatan pelayanan

yang dimulai dari tahap menyiapkan/meracik obat, memberikan label/etiket,

menyerahkan sediaan farmasi dengan informasi yang memadai disertai

pendokumentasian.

c. Pelayanan informasi obat (PIO) merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh

Apoteker untuk memberikan informasi secara akurat, jelas dan terkini kepada dokter,

apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya dan pasien.

d. Tujuan pelayanan informasi obat yaitu menunjang ketersediaan dan penggunaan obat

yang rasional, berorientasi pada pasien, tenaga kesehatan, dan pihak lain.

e. Fungsi pelayanan informasi obat yaitu memberikan respon terhadap pertanyaan tentang

obat.

f. Konseling adalah suatu kegiatan bertemu dan berdiskusinya seseorang yang

membutuhkan (klien) dan seseorang yang memberikan (konselor) dukungan dan

dorongan sedemikian rupa sehingga klien memperoleh keyakinan akan kemampuannya

dalam pemecahan masalah.

g. Konseling obat adalah suatu proses yang memberikan kesempatan kepada pasien untuk

mengeksplorasikan diri yang dapat mengarah pada peningkatan pengetahuan,

pemahaman dan kesadaran tentang penggunaan obat yang benar.

h. Konseling aktif adalah konseling yang diberikan atas inisiatif langsung dari Apoteker.

i. Konseling pasif adalah jika pasien datang untuk berkonsultasi pada apoteker untuk

mendapatkan penjelasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan obat dan

pengobatan.

j. Patient Medication Record (PMR) adalah catatan penggunaan obat dari pelayanan

kefarmasian yang diberikan apoteker.

k. Obat adalah zat kimia bersifat racun, namun dalam jumlah tertentu dapat memberikan

efek mengobati penyakit. Obat dapat dibagi menjadi 5 golongan yaitu obat bebas, obat

bebas terbatas, obat keras, obat psikotropika dan obat narkotika.

l. Informasi pada kemasan dan brosur obat yang di cantumkan adalah : nama obat,

komposisi obat, indiaksi, aturan pakai, peringatan perhatian, tanggal kadaluwarsa, nama

produsen, nomor batch, harga eceran tertinggi, nomor register.


m. Bentuk sediaan obat meliputi sedian padat (tablet (tablet salut, Effervescent, tablet

kunyah, tablet hisap), kapsul, puyer/talk). Sediaan cair (Sirup, Larutan obat luar (tetes

mata, tetes telinga dan obat kumur). Sediaan Inhalasi. Sediaan setengah padat (salep,

Krim,gel, Suppositoria, Ovula).

n. Dosis obat adalah aturan penggunaan obat yang menunjukkan:

1. Jumlah gram atau volume obat.

2. Berapa kali obat yang harus digunakan

Dosis harus sesuai dengan umur dan berat badan pasien. Gunkan obat tepat waktu

sesuai aturan penggunaan , contoh :

- Tiga kali sehari berarti obat diminum setiap 8 jam sekali

- Obat di minum sebelum atau sesuadah makan

- Jika menggunkan obat bebas, ikuti petujuk pada kemasaan atau brosur/Leaflet.

Bila lupa minum obat :

- Segera minum obat yang terlupa.

- Abaikan dosis yang terlupa, jika hampir mendekati minum berikutnya.

- Kembali ke jadwal selanjutnya sesuai aturan

o. Cara penggunaan obat berpedoman kepada penggunaan obat rasional yang mengacu

prinsip:

1. Ketepatan diagnosa

2. Ketepatan indiaksi penggunaan obat

3. Ketepatan pemilihan obat

4. Ketepatan dosis, cara, dan lama pemberian

5. Ketepatan pemberian informasi kepada pasien mengenai cara penggunaan obat dan

penyimpanannya.

Cara pemberian inforamsi obat kepada pasien/ masyarakat harus mudah di mengerti,

singkat tetapi jelas.

p. Efek samping obat adalah setiap respon obat yang merugikan akibat penggunaan obat

dengan dosis atau takaran normal.

q. Cara penyimpanan obat dirumah sebagai berikut :

1. Jauhkan dari jangakauan anak-anak.

2. Simpan obat dalam kemasan asli dan dalam wadah tertutup rapat.

3. Simpan obat ditempat yang sejukdan terhindar dari sinar matahari langsung atau

ikuti aturan yang tertara pada kemasan.

4. Jangan tinggalkan obat di dalam mobil dalam jangka waktu lama karena suhu yang

tidak stabil dalam mobil dapat merusak sediaan obat.


5. Jangan simpan obat yang telah kadaluarsa.

r. Pembuangan obat dapat dilakukan apabila obat rusak akibat penyimpanan yang lama

atau kadaluwarsa.

Obat yang rusak dibuang dengan cara:

1. Penimbunan dalam tanah

Hancurkan obat dan timbun di dalam tanah.

2. Pembuangan ke saluran air

Untuk sediaan cair, encerkan sediaan dan buang ke dalam saluran air

Cara pembuangan kemasan obat

1. Wadah berupa botol atau pot plastik

Terlebih dahulu lepaskan etiket obat, dan tutup botol, kemudian dibuang di tempat

sampah, hal ini untuk menghindari penyalahgunaan bekas wadah obat.

2. Boks/ Dus/Tube

Gunting dahulu baru dibuang

II. TUJUAN dan MANFAAT KONSELING

II. 1 Tujuan Konseling

Tujuan Umum

a) Meningkatkan keberhasilan terapi

b) Memaksimalkan efek terapi

c) Meminimalkan resiko efek samping

d) Meningkatkan cost effectiveness

e) Menghormati pilihan pasien dalam menjalankan terapi

Tujuan Khusus

a) Meningkatkan hubungan kepercayaan antara apoteker dengan pasien

b) Menunjukkan perhatian serta kepedulian terhadap pasien

c) Membantu pasien untuk mengatur dan terbiasa dengan obatnya

d) Membantu pasien untuk mengatur dan menyesuiakan dengan penyakitnya

e) Meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan

f) Mencegah atau meminimalkan Drug Related Problem

g) Meningkatkan kemampuan pasien untuk memecahkan masalahnya sendiri

dalam hal terapi

h) Mengerti permasalahan dalam pengambilan keputusan

i) Membimbing dan mendidik pasien dalam menggunakan obat sehingga dapat

mencapai tujuan pengobatan dan meningkatkan mutu pengobatan pasien


II. 2 Manfaat Konseling

Bagi pasien

a) Menjamin keamanan dan efektifitas pengobatan

b) Mendapatkan penjelasan tambahan mengenai penyakitnya

c) Membantu dalam merawat atau perawatan kesehatan sendiri

d) Membantu pemecahan masalah terapi dalam situasi tertentu

e) Menurunkan kesalahan penggunaan obat

f) Meningkatkan kepatuhan dalam menjalankan terapi

g) Menghindari reaksi obat yang tidak diinginkan

h) Meningkatkan efektivitas dan efisiensi biaya kesehatan

Bagi apoteker

a) Menjaga citra profesi sebagai bagian dari tim pelayanan kesehatan

b) Mewujudkan bentuk pelayanan asuhan kefarmasian sebagai tanggung jawab

profesi apoteker

c) Menghindarkan apoteker dari tuntutan karena kesalahan penggunaan obat

(Medication error)

d) Suatu pelayanan tambahan untuk menarik pelanggan sehingga menjadi upaya

dalam memasarkan jasa pelayanan.


BAB II

RUANG LINGKUP

1. Ruang lingkup pemberian informasi obat:


a. Apoteker
b. Tenaga Teknis Kefarmasian
c. Petugas kesehatan seperti dokter, dokter gigi, perawat, perawat gigi, bidan, dan lain-
lain
d. Pasien atau keluarga pasien
e. Pihak lain seperti manajemen, tim/kepanitian klinik, dan lain-lain
f. Penggunaan obat
g. Penyimpanan obat
h. Efek samping obat

2. Ruang lingkup pemberian Konseling :


a. Apoteker
b. Pasien

3. Sasaran Konseling

a. Pasien yang menjalani terapi untuk penyakit kronis, dan pengobatan jangka panjang.

(diabetes, hipertensi, TBC dll)

b. Mendapakan obat dengan bentuk sediaan tertentu dan dengan cara pemakaian yang

khusus, misal : suppositoria, nema, inhaler, injeksi insulin, dll.

c. Mendapatkan obat dengan cara penyimpanan yang khusu, misal : insulin, dll.

d. Mendapatkan obat-obatan dengan aturan pakai yang rumit.

e. Golongan pasien yang tingkat kepatuhannya rendah, misal : geriatric, pediatrik.

f. Mendapatkan obat dengan indeks terapi sempit, misal : digoxin, phenytoin, dll.

g. Mendapatkan terapi obat-obatan dengan kombinasi yang banyak (polifarmasi).


BAB III

PENATALAKSAAN PEMBERIAN INFORMASI OBAT

DAN KONSELING

A. Apoteker
Setiap apoteker suatu puskesmas masing-masing mempunyai tugas dan fungsi tertentu,
sesuai dengan pendalaman pengetahuan pada bidang tertentu. Apoteker yang langsung
berinteraksi dengan profesional kesehatan dan pasien, sering menerima pertanyaan
mengenai informasi obat dan pertanyaan yang tidak bisa di jawabnya dengan segera,
diajukan kepada teman sejawat yang lebih mendalami pengetahuan inforamsi obat.
Apoteker puskesmas dapat meminta bantuan informasi obat dari teman sejawat di
rumah sakit. Apoteker sekarang ini tidak hanya melakukan kegiatan compounding dan
dispensing aja, tetapi juga harus berinteraksi dengan pasien dan tenaga kesehatan
lainnya dimana dijelaskan dalam konsep Pharmaceutical Care. Kegiatan konseling dapat
diberikan atas inisiatif langsung dari Apoteker mengingat perlunya pemberian konseling
karena pemakaian obat-obat dengan cara penanganan khusus, obat-obat yang
membutuhkan terapi jangka panjang sehingga perlu memastikan untuk kepatuhan
pasien meminum obat.

B. Tenaga Teknis Kefarmasian


Dalam proses pemberian informasi obat pada pasien tertentu tenaga teknis memerlukan
informasi dariapoteker agar dia dapat memberikan informasi obat secara benar dan baik.

C. Petugas kesehatan
Dalam proses penggunaan obat. pada tahap penetapan pilihan obat serta regimennya
untuk seorang pasien tertentu, dokter memerlukan informasi dari apoteker agar ia dapat
membuat keputusan yang rasional. Informasi obat diberikan langsung oleh Apoteker,
menjawab pertanyaan dokter. Dalam tahapan penyampaian atau distribusi obat kepada
perawat dalam rangkaian proses penggunaan obat, apoteker memberikan informasi obat
tentang aspek obat pasien, terutama tentang pemberian obat. Perawat adalah profesional
yang paling banyak berhubungan dengan pasien karena itu, perawatlah yang pada
umumnya yang pertama mengamati reaksi obat yang merugikan dan mendengarkan
keluhan pasien. Apoteker adalah yang paling siap, berfungsi sebagai sumber informasi
bagi perawat. Inforamsi yang di butuhkan perawat pada umunya harus praktis, ringkas
misalnya frekuensi pemberian dosis, metode pemberian obat, efek samping, dan
penyimpanan obat

D. Pasien
Informasi yang di butuhkan pasien, pada umumnya adalah informasi yang praktis dan
kurang ilmiah dibandingkan dengan informasi yang di butuhkan profesional kesehatan.
Untuk pasien rawat jalan informasi diberikan sewajtu pentyerahan obatnya. Informasi
obat untuk paisen pada umumnya mencakup cara penggunaan obat, jangka waktu
penggunaan, pengaruh makanan pada obat, penggunaan obat bebas dikaitkan dengan
resep obat, dan sebagainya.
E. Kelompok, Tim, Kepanitian dan peneliti
Selain kepada perorangan, apoteker juga memberikan inforamsi obat kepada kelompok
profesional kesehatan, misalnya mahasiswa, masyarakat,dan kepanitian yang
berhubungan dengan obat.

F. Penggunaan obat
1. Secara umum
a) Cara minum obat sesuai ajuran yang tertera pada etiket/brosur.
b) Waktu minum, sesuai dengan waktu yang dianjurkan:
- Pagi, berarti obat harus di minum antara pukul 07.00-08.00 WIB
- Siang, berarti obat harus diminum antara pukul 12.00-13.00 WIB.
- Sore, berarti obat harus diminum antara pukul 17.00-18.00 WIB
- Malam, berati obat harus diminum antara pukul 22.00-23.00 WIB
c.) Aturan minum obat yang tercantum dalam etiket harus dipatuhi. Bila tertulis:
- 1 (satu) kali sehari, berati obat tersebut diminum waktu pagi hari atau
malam hari, tergantung dari khasiat obat tersebut atau setiap 24 jam sekali.
- 2 (dua) kali sehari, berati obat tersebut harus diminum pagi dan malam
hari atau setiap 12 jam sekali.
- 3 (tiga) kali sehari, berati obat tersebut harus minum pada pagi, siang dan
malam hari atau setiap 8 jam sekali.
- 4 (empat) kali sehari, berarti obat tersebut harus diminum pada pagi, siang,
sore dan malam hari atau tiap 6 jam sekali.
- Minum obat sampai habis, berarti obat harus diminum sampai habis
biasanya obat antibiotik.
d.) Penggunaan obat bebas atau bebas terbatas tidak dimaksudkan untuk
penggunaan secara terus-menerus.
e.) Hentikan penggunaan obat apabila tidak memberikan manfaat atau
menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, segera hubungi tenaga kesehatan
terdekat.
f.) Sebaiknya tidak mencampur berbagai jenis obat dalam satu wadah.
g.) Sebaiknya tidak melepas etiket dari wadah obat karena pada etiket tersebut
tercantum cara penggunaan obat dan informasi yang lain yang penting.
h.) Bacalah cara penggunaan obat sebelum minum obat demikian juga periksalah
tanggal kadaluwarsa.

2. Secara khusus.
1. Obat oral (obat dalam)
Pemberian obat oral (melalui mulut) adalah memberikan obat yang dimasukan
melalui mulut. Memberikan obat oral adalah suatu tindakan unuk membantu
proses penyembuhan dengan cara memberikan obat-obatan melalui mulut sesuai
dengan program pengobatan dari dokter.
Obat oral terdapat dalam beberapa bentuk sediaan yaitu tablet, kapsul, puyer dan
cairan.
1.1 Petunjuk pemakaian obat oral untuk dewasa
Sediaan obat padat
a) Obat oral dalam bentuk padat sebaiknya diminum dengan air matang.
b) Ikuti petunjuk tenaga kesehatan kapan saat yang tepat untuk minum obat
apakah pada saat perut kosong atau pada saat makan atau sesudah
makan atau pada malam hari sebelum tidur.
Misal : obat Antasasida minum pada perut kosong, obat yang merangsang
lambung harus diminum sesudah makan, obat pencahar diminum sebelum
tidur.

Sediaan obat larutan


a) Gunakan sendok takar atau alat lain (pipet atau gelas takar obat) jika
minum obat dalam bentuk larutan atau cair. Sebaiknya tidak
menggunakan sendok rumah tangga, karena ukurannya tidak sesuai
untuk ukuran dosis.
b) Hati-hati pada obat kumu. Jangan di minum. Lazimnya pada kemasan
obat kumur terdapat peringatan “ Hanya untuk kumur, jangan ditelan.”
c) Sediaan obat larutan biasanya dilengkapi dengan swndok takar yang
mempunyai tanda garis sesuai dengan ukuran 5,0 ml, 2,5 ml, 1,25 ml.
1.2 Petunjuk penggunaan Obat Oral Utuk Bayi/ Anak Balita
Sediaan cairan untuk bayi dan balita harus jelas dosisnya. Gunakan sendok
takar yang tersedia didalam kemasannya.

2. Obat /luar

2.1 Sediaan Kulit

Beberapa bentuk sediaan obat untuk penggunaan kulit, yaitu bentuk bubuk
halus (bedak), cairan (lotion), setengah padat (krim, salep).

Untuk mencegah kontaminasi (pencemaran), sesudah dipakai wadah harus


tetap tertutuprapat.

Cara penggunaan bubuk halus (bedak):

a) Cuci tangan
b) Oleskan/taburkan obat tipis-tipis pada daerah yang terinfeksi.
c) Cuci tangan kembali untuk membersihkan sisa obat.
Sediaan tidak boleh diboleh diberikan pada luka terbuka dan gunakan
sampai sembuh, atau tidak ada gejala lagi.
2.2 Sediaan Obat Mata
Terdapat 2 macam sediaan obat untuk mata, yaitu bentuk cairan (obat tetes
mata), dan bentuk setengah padat (salep mata). Dua sediaan tersebut
merupakan produk yang pembuatannya dilakukan secara steril (bebas kuman)
sehingga dalam penggunaannya harus diikuti dengan benar.
Cara penggunaanya:
a) Cuci tangan.
b) Tengadahkan kepala pasien keatas, kemudian jari telunjuk menarik
kelopak mata bagian bawah.
c) Tekan botol tetes atau tube salep hingga cairan atau salep masuk kedalam
kantung mata bagin bawah.
d) Tutup mata pasien perlahan-lahan elama 1 sampai 2 menit.
e) Setelah obat tetes mata atau salep mata digunakan, usap ujung wadah
dengan tisu bersih, tidak disarankan untuk mencuci dengan air hangat.
f) Tutup rapat wadah obat tetes mata atau salep mata.
g)Cuci tangan untuk menghilangkan sisa obat pada tangan.
Hindari penggunaan obat tetes mata atau salep mata setelah dibuka
leebih dari 30 hari, karena obat tidak bebas kuman lagi. Serta hindari
penggunaan obat tetes mata atau salep mata lebih dari satu orang, agar
tidak terjadi penularan infeksi.
2.3 Sediaan Obat Hidung
Terdapat 2 macam sediaan untuk hidung, yaitu obat tetes hidung dan obat
semprot hidung.
Cara penggunaanya:
a) Cuci tangan.
b) Bersihkan hidung.
c) Tengadahan kepala.
d) Teteskan obat di lubang hidung.
e) Tahan posisi kepala selama beberapa menit agar obat masuk ke lubang
hidung.
f) Bilas ujung obat tetes hidung dengan air panas dan keringkan dengan
kertas tisu kering
g) Cuci tangan untuk menghilangkan sia obat pada tangan.

Cara penggunaan obat semprot hidung:

a) Cuci tangan.
b) Bersihkan hidung dan tegkkan kepala.
c) Semprotkan obat kedalam lubang hidung sambil tarik nafas dengn cepat.
d) Untuk posisi duduk: tarik kepala dan tempatkan dantara dua paha.
e) Cuci botol dengan air hangat (jangan sampai air masuk kedalam botol)
dan keringkan dengan tissue bersih setelah digunakan.
f) Cuci tangan untuk menghilangan sisa obat pada tangan.
2.4 Sediaan tetes telinga
Hindarkan ujung kemasan obat tetes telinga dan alat penetes telinag atau
pipet terkena permukaan bend alai (termasuk telinga), untuk mencegah
kontaminasi.
Cara penggunaanya:
a) Cuci tangan.
b) Bersihkan bagian luar elinga dengan menggunakan “cotton bud:.
c) Kocok sediaan terlebih dahulu bila sediaan berupa suspense.
d) Miringkan kepala atau berbaring dalam posisi miring dengan telinga
yang akan ditetesi obat, menghadap keatas.
e) Tarik telinga keatas dan kebelakang (untuk orang dewasa) atau tarik
telinga kebawah dan kebelakang (untuk anak-anak).
f) Teteskan obat dan biarkan selama 5 menit.
g) Keringkan dengan kertas tisu setelah digunakan.
h) Tutup wada dengan baik.
i) Jangan bilas ujung wadah dan alat penetes obat.
j) Cuci tangan untuk menghilangkan sisa obat pada tangan.
2.5 Sediaan Supositoria
Cara penggunaannya:
a) Cuci tangan.
b) Buka bungkus aluminium foil dan basahi suppositoria dengan sedikit air.
c) Pasien dibaringkan dalam posisi miring.
d) Dorong bagian ujung suppositoria kedalam anus dengan ujung jari.
e) Cuci tangan untuk menghilangkan sisa obat pada tangan.
Jika suppositoria terlalu lembek, sehingga sulit untuk dimasukkan
kedalam anus, maka sebelum digunakan sediaan suppositoria
dtemppatkan didalam lemari pendingin selama 30 menit kemudian
tempatkan pada air mengalir sebelum membuka bungkus kemasan
aluminium foil.
2.6 Sediaan krim/salep rectal.
Cara penggunaan krim/salep rectal :
i. Tanpa aplikator
a) Bersihkan dan keringkan daerah rectal.
b) Masukkan salep atau krim secara perlahan kedalam rectal.
c) Cuci tangan untuk menghilangkan sisa obat pada tangan.
ii. Dengan menggunakan aplikator
a) Hubungkan aplikator dengan wdah krim/salep yang sudah dibuka.
b) Masukkan kedalam rectum
c) Tekan sediaan sehingga krim/ \salep keluar.
d) Buka aplikator,cuci bersih degan air hangat dan sabun.
e) Cuci tangan untuk menghilangkan sisa obat pada tangan.
2.7 Sediaan Ovula/ Obat Vaginator:
Cara penggunaan sediaan ovula dengan meggunakan aplikator:
a) Cuci tangan dengan aplikator dengan sabun dan air hangat sebelum
digunakan.
b) Baringkan pasien dengan kedua kaki direnggangkan.
c) Ambil obat vagina dengan menggunakan aplikator.
d) Masukkan obat kedalam vagina sejauh mungkin tanpa dipaksakan.
e) Biarkan selama beberapa waktu.
f) Cuci bersih aplikator dan tanagn dengan sabun dan air hangat setelah
digunakan.
G. Penyimpanan Obat
Penyimpanan merupakan keiatan menyimpan dan memelihara dengan cara
menempatkan perbekalan farmasi yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari
pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat. Bila cara penyimpanan
obat tidak memenuhi persyaratan cara menyimpan obat dengan benar, maka akan
terjadi perubahan sifat obat tersebut, sampai terjadi kerusakan obat.
Cara penyimpanan obat :
a) Baca aturan penyimpnan obat pada kemasan
b) Jauhkan dari jangkauan anak-anak.
c) Simpan obat dalam kemasan asli dan dalam wadah tertutup rapat.
d) Simpan obat ditempat yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari langsung.
e) Jangan tinggalkan obat dalam mobil dalam jangka waktu yang lama karena suhu
yang tidak stabil dalam mobil dapat merusak sediaan obat.
f) Jangan simpan obat yang telah kadaluarsa.
g) Perhatian Khusus:
- Tablet dan kapsul : jangan menyimpan tablet dan kapsul ditempat yang panas
atau lemba.
- Sediaan obat cair : jangan disimpan dalam lemari es pendingin (freezer)agar
tidak membeku kecuali disebutkan pada etiket atau kemasan obat.
- Sediaan ovula dan obat vagina: sediaan obat untuk vagina dan anus (avula dan
suppositoria) disimpan dilemari es karena dalam suhu kamar akan mencair.
- Sediaan Aerosol/spray : jangan disimpan ditempat yang mempunyai suhu
tinggi karena dapat menyababkan ledakan.
H. Efek Samping Obat
Efek samping obat adalah setiap respon obat yang merugikan akibat penggunaan obat
dengan dosis atau takaran normal.
Beberapa hal yang perlu diketahu tentang efek samping obat, adalah sebagai berikut:
1) Biasanya efek samping obat terjadi setelah beberapa saat minum obat.
2) Perhatikan kondisi pasien, misalnya ibu hamil, ibu menyusui, lansia, anak-anak,
penderita gagal ginjal, jantung, dan sebagainya. Pada penderita tersebut harus
lebih berhati-hati dalam memberikan obat.
3) Informasi tentang kemungkinan terjadinya efek samping obat, biasanya terdapat
pada brosur kemasan obat, oleh karena itu bacalah dengan seksama kemasan dan
brosur obat, agar efek samping yang mungkin timbul sudah dikethui sebelumnya,
sehingga dapat dilakukan rencana penanggulanya.

Efek samping yang biasa terjadi :

1) Pada kulit, berupa gatal, timbul bercak merah atau rasa panas.
2) Pada kepala, terasa pusing.
3) Pada salran penceraan, terasa mual, dan muntah serta diare.
4) Pada saluran pernafasan, terjadi sesak nafas.
5) Pada jantung dan dada berdetak kencang (berdebar-debar).
6) Urin berwarna merah sampai hitam.

Hal yang harus dilakukan apabila timbul efek samping obat:

1) Hentikan minum obat dengan segera.


2) Mencari pertolonggan kesarana kesehatan, puskesmas, rumah sakit atau dokter
terdekat.

I, Kegiatan Konseling

Kegiatan konseling meliputi beberapa hal yaitu :

a.       Persiapan dalam melakukan konseling

b.      Tahap konseling

 Pembukaan

   Diskusi untuk mengumpulkan informasi dan identifikasi masalah

 Diskusi untuk mencegah atau memecahkan masalah dan mempelajarinya

 Memastikan pasien telah memahami informasi yang diperoleh


 Menutup diskusi

 Follow up diskusi

Aspek Konseling yang harus disampaikan :

a.       Deskripsi dan kekuatan obat

b.      Jadwal dan cara penggunaan

c.       Mekanisme kerja obat

d.      Dampak gaya hidup

e.       Penyimpanan

f.       Efek potensial yang tidak diinginkan

Masalah dalam konseling yaitu :

a.       Faktor penyakit

b.      Faktor terapi

c.       Faktor pasien

d.      Faktor komunikasi

J. Hal-hal yang harus disiapkan dalam memberikan pelayanan Konseling pada

pasien.

Sebelum memberikan konseling ada beberap hal yang harus diketahui oleh seorang

apoteker agar tujuan konseling tercapai. Hal yang perlu diperhatikan adalah latar

belakang pasien (database pasien ) seperti biodata, riwayat penyakit, riwayat

pengobatan, alergi, riwayat keluarga ,sosial dan ekonomi. Hal kedua yang pelu

diperhatikan adalah membuat daftar masalah yang dihadapi pasien ( terutama

masalah yang berkaitan dengan obat ). Setelah kedua hal tersebut dilakukan baru dapat

memberikan konseling berdasarkan masalah yang sudah di susun kemudian dapat

dilihat dari perubahan sikap pasien apakah konseling yang telah diberikan sudah tepat

atau belum. 
BAB IV

DOKUMENTASI

Dalam menjalankan tugasnya, seorang Apoteker hendaknya mendokumentasikan segala

kegiatannya kedalam bentuk dokumentasi yang sewaktu-waktu dapat diakses ataupun

ditinjau ulang. Hal ini sebagai bukti otentik pelaksanaan pelayanan kefarmasian yang dapat

digunakan untuk tujuan penelitian maupun verifikasi pelayanan. Dokumentasi juga akan

memudahkan tugas Apoteker dalam memberikan pelayanan informasi obat untuk kasus

yang sama, Apoteker tidak perlu menelusuri literatur dari awal lagi, cukup dengan melihat

arsip kasus sebelumnya.

Dokumentasi pemberian informasi obat dalam keadaan sehari-hari di ruangan farmasi

terdapat pada lembar resep.

Dalam pelayanan konseling obat pendokumentasian sangat diperlukan. Tujuan

pendokumentasian pelayanan konseling obat adalah :

1. Mendapatkan data / profil pasien

2. Mengetahui riwayat penyakit pasien

3. Memantau kepatuhan pasien dalam berobat

4. Mengevaluasi pemahaman pasien tentang berobat

5. Menyediakan data jika terjadi tuntutan pada kesalahan penggunaan obat

6. Menyediakan data untuk evaluasi kegiatan kefarmasian

7. Menyediakan data untuk evaluasi terapi

Pendokumentasian pemberian konseling kepada pasien adalah form konseling apoteker atau

patient medication record (PMR) atau berupa kartu konseling yang berisi data pasien dan

kegiatan konseling yang dilakukan. Dalam pendokumentasian perlu dicantumkan petugas

yang melakanakan konseling.


BAB V

PENUTUP

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat petunjuk-

Nya, Panduan Pemberian Informasi Obat di Puskesmas Madurejo dapat di selesaikan dengan

baik.

Panduan Pemberian Informasi Obat Puskesmas Madurejo ini di susun dalam

peningkatan Mutu Pelayanan Farmasi Puskesmas Madurejo, panduan ini di buat mengikuti

ketentuan pembuatan Pedoman Akreditasi FKTP. Panduan ini membuat pemberian informasi

obat secara cepat, tepat, dan efektif sehingga dengan demikian dapat meningkatan mutu

pelayananan Kesehatan.

Panduan ini baru pertama kali dibuat, tentunya akan banyak masukan dan perubahan di

masa yang akan datang, sehingga secara berkala perlu diadakan evaluasi agar selalu sejalan

dengan metode yang dianjurakan.

Semoga panduan ini bermanfaat bagi Puskesmas Madurejo, khususnya bagi petugas

farmasi di Puskesmas Madurejo, sehingga dapat mewujudkan pelayanan Farmasi yang

profesional dan bertanggung jawab sesuai dengan harapan kita semua.

Pangkalan Bun, Desember 2018

Hormat kami

Tim Penyusun

Anda mungkin juga menyukai