Analisis Fondasi Mini Pile vs Bored Pile
Analisis Fondasi Mini Pile vs Bored Pile
Disusun Oleh :
Haris Al Asror Muhammad Wisnu Adji P.
NIM : 30201900101 NIM : 30201900156
Disusun Oleh :
Haris Al Asror Muhammad Wisnu Adji P.
NIM : 30201900101 NIM : 30201900156
i
MOTTO
1. Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada
ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya
Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada
yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. (QS.
Ali’Imran : 110)
2. Wahai orang – orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah
kelapangan didalam majelis – majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan
memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan “Berdirilah kamu”, maka
berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang – orang yang beriman
di antaramu dan orang – orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah
meneliti apa yang kamu kerjakan. (QS. Mujadilah : 11)
3. Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormati guru – guru
mu, serta berlaku baiklah terhadap oran yang mengajarkanmu. (HR. Thabrani)
4. Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan
baginya jalan menuju surga. (HR. Muslim : 2699)
5. Ilmu itu dimiliki dengan lidah yang banyak bertanya dan akal yang rajin untuk
gemar memikir. (Abdullah Ibnu Abbas)
6. Usaha dan keberanian tidak cukup tanpa adanya tujuan dan arah perencanaan.
(John F. Kennedy)
7. Orang yang meraih kesuksesan tidak selalu orang pintar, orang yang selalu
meraih kesuksesan ialah orang yang gigih dan pantang menyerah.
viii
PERSEMBAHAN
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini
penulis persembahkan untuk :
1. Kedua ayah saya Moh. Solehudin, S.pd., M.Si dan ibu saya Anis Musbikah,
S.pd., M.pd, yang telah memberikan segenap kasih sayang, dukungan materil,
semangat, do’a dan pendidikan mental untuk berusaha mengejar impian menjadi
seseorang yang mulia di dunia dan akhirat.
2. Dosen – dosen Fakultas Teknik UNISSULA yang telah mengajarkan saya
tentang ilmu – ilmu keteknikan yang sebelumnya saya tidak ketahui dan selalu
memberikan motivasi dan arahan kepada saya.
3. Muhammad Wisnu Adji Pangestu selaku rekan yang telah bekerja keras dan
berjuang Bersama dalam penyelesaian Tugas Akhir ini.
4. Teman – teman belajar dan main selama perkuliahan : M. Miftahul Fuad, Iqbal
Syarif Muafan, Alri Purtika Megalely, M. Hilmy Wafa, Agung Budi, Galih
Fajar, Elang Bagus S, dan lainnya yang telah membantu saya selama masa
kuliah, memberikan semangat, motivasi dan membantu menyelesaikan Tugas
Akhir ini.
5. Teman – teman Fakultas Teknik UNISSULA angkatan 2018, 2019, 2020 dan
yang lainnya yang tidak saya sebutkan satu persatu. Terimakasih untuk
kebersamaan kita selama 3,5 tahun ini, terimakasih atas doa, semangat dan
motivasi kalian.
Haris Al Asror
NIM : 30201900101
ix
PERSEMBAHAN
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini
penulis persembahkan untuk :
1. Kepada bapak saya Sudarno dan ibu saya Amanah, yang telah memberikan
segenap kasih sayang, dukungan materil, semangat, do’a dan Pendidikan mental
untuk terus mengejar impian menjadi seseorang yang mulia di dunia dan akhirat.
2. Dosen – dosen Fakultas Teknik UNISSULA yang telah mengajarkan saya
tentang ilmu – ilmu keteknikan yang sebelumnya saya tidak ketahui dan selalu
memberikan motivasi dan arahan kepada saya.
3. Haris Al Asror selaku rekan yang telah bekerja keras dan berjuang Bersama
dalam penyelesaian Tugas Akhir ini.
4. Teman – teman belajar dan main selama perkuliahan : Adhit Wijaya, Dewa Indra
Mistikah, Elang Bagus Sadewo, Dya Alfat, Muhammad Miftahul Fuad,
Muhammad Asruri, Iqbal Syarif Muafan yang telah membantu saya selama masa
kuliah, memberikan semangat, motivasi dan membantu menyelesaikan Tugas
Akhir ini.
5. Teman – teman Fakultas Teknik UNISSULA angkatan 2018, 2019, 2020 dan
yang lainnya yang tidak saya sebutkan satu persatu.Terimakasih untuk
kebersamaan kita selama 3,5 tahun ini, terimakasih atas doa, semangat dan
motivasi kalian
x
KATA PENGANTAR
Contoh mukadimah dalam kata pengantar yang dapat digunakan. Segala Puji dan
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala
rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir dengan judul
ANALISA PERBANDINGAN DAYA DUKUNG DAN PENURUNAN
FONDASI MINI PILE DENGAN BORED PILE PADA GEDUNG FAKULTAS
FARMASI UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG, guna memenuhi
salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik Program Studi
Teknik Sipil pada Fakultas Teknik Universitas Islam Sultan Agung.
Penulis menyadari kelemahan serta keterbatasan yang ada sehingga dalam
menyelesaikan skripsi ini memperoleh bantuan dari berbagai pihak, dalam
kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Yth. Bapak Ir. H. Rachmat Mudiyono, MT., Ph.D selaku Dekan Fakultas Teknik
UNISSULA.
2. Yth. Bapak Muhamad Rusli Ahyar, ST., M.Eng selaku Ketua Program Studi
Teknik Sipil UNISSULA yang terlah memberikan kelancaran pelayanan dalam
urusan Akademik.
3. Yth. Bapak Prof. Ir. H. Pratikso, MST., Ph.D selaku Dosen Pembimbing Utama
yang selalu memberikan waktu bimbingan dan arahan selama penyusunan
skripsi ini.
4. Yth. Ibu Selvia Agustina, ST., M.Eng selaku Dosen Pembimbing Pendamping
yang selalu memberikan waktu bimbingan dan arahan selama penyusunan
skripsi ini.
5. Seluruh Dosen Program Studi Teknik Sipil UNISSULA yang telah memberikan
ilmunya kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih banyak kekurangan baik isi
maupun susunannya. Semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat tidak hanya bagi
penulis juga bagi para pembaca.
Semarang, Januari 2023
Penulis
xi
DAFTAR ISI
xii
2.3. Klasifikasi Fondasi ...................................................................................... 10
2.3.1. Fondasi Dangkal ................................................................................ 10
2.3.2. Fondasi Dalam ................................................................................... 12
2.4. Pembebanan ................................................................................................ 16
2.5. Kapasitas Daya Dukung Tiang Tunggal (Single Pile) ................................ 17
2.5.1. Perhitungan Daya Dukung Ujung Tiang Metode Meyerhof
(1976) ................................................................................................. 17
2.5.2. Perhitungan Daya Dukung Friksi Tiang Metode Meyerhof (1976) ... 17
2.5.3. Perhitungan Daya Dukung Ujung Tiang Metode Reese & Wright
(1977) ................................................................................................. 18
2.5.4. Perhitungan Daya Dukung Friksi Tiang Metode Reese & Wright
(1977) ................................................................................................. 19
2.5.5. Perhitungan Daya Dukung Ultimit Fondasi ...................................... 20
2.6. Kapasitas Daya Dukung Kelompok Tiang (Pile Group) ............................ 21
2.6.1. Menentukan Jumlah Tiang dalam Satu Kelompok ............................ 22
2.6.2. Menentukan Jarak Antar Tiang dalam Satu Kelompok .................... 22
2.7. Perhitungan Daya Dukung Lateral Tiang Metode Brooms ......................... 23
2.7.1. Cek Kekuatan Tiang Akibat Beban Lateral ....................................... 24
2.7.2. Cek Keruntuhan Tanah Akibat Beban Lateral .................................. 25
2.7.3. Cek Nilai Hu ...................................................................................... 25
2.8. Penurunan Elastis Tiang Tunggal Menurut Vesic (1977) ........................... 26
2.9. Penurunan Tiang Kelompok Menurut Vesic (1977) ................................... 29
2.10. Faktor Keamanan ...................................................................................... 29
2.11. Pemodelan Menggunakan Software ......................................................... 30
2.11.1. Software ETABS V20 .................................................................. 30
2.11.2. Software AllPile V6.5E ................................................................ 32
2.11.3. Software Plaxis V8.6 .................................................................... 32
xiii
3.2.1. Data Umum Proyek ........................................................................... 33
3.2.2. Data Laboratorium ............................................................................. 33
3.2.3. Data Tenis Proyek ............................................................................. 34
3.3. Tahapan Penelitian ...................................................................................... 35
3.4. Perhitungan Struktur ................................................................................... 37
3.4.1. Pemodelan Struktur Menggunakan Software ETABS V20 ............... 37
3.5. Perhitungan Manual .................................................................................... 48
3.5.1. Perhitungan Kapasitas Daya Dukung Tiang Tunggal
(Single Pile) ....................................................................................... 48
3.5.2. Perhitungan Kapasitas Daya Dukung Kelompok Tiang
(Pile Group) ....................................................................................... 48
3.5.3. Perhitungan Daya Dukung Lateral Tiang Metode Brooms ............... 49
3.5.4. Perhitungan Penurunan Satu Tiang Metode Vesic (1977) ................. 49
3.5.5. Perhitungan Penurunan Kelompok Tiang Metode Vesic (1977) ....... 49
3.5.6. Perhitungan Faktor Keamanan .......................................................... 49
3.6. Perhitungan Software .................................................................................. 49
3.6.1. Pemodelan Fondasi Mini Pile Menggunakan Software
AllPile 6.5E ....................................................................................... 49
3.6.2. Pemodelan Fondasi Bored Pile Menggunakan Software
AllPile 6.5E ....................................................................................... 50
3.6.3. Pemodelan Fondasi Mini Pile Menggunakan Software
Plaxis V.8.6 ....................................................................................... 50
3.6.4. Pemodelan Fondasi Bored Pile Menggunakan Software
Plaxis V.8.6 ....................................................................................... 51
xiv
4.4.3. Beban Gempa (Seismic) ..................................................................... 56
4.5. Analisa Daya Dukung Aksial Fondasi Mini pile ........................................ 63
4.5.1. Perhitungan Daya Dukung Tiang Tunggal Fondasi Mini pile
Metode Meyerhoff (1976) .................................................................. 63
4.5.2. Perhitungan Daya Dukung Tiang Tunggal Fondasi Bored Pile
Metode Reese & Wright (1997) ......................................................... 65
4.6. Analisa Daya Dukung Aksial Fondasi Bored Pile ...................................... 67
4.6.1. Perhitungan Daya Dukung Tiang Tunggal Fondasi Mini pile
Metode Meyerhoff (1976) .................................................................. 67
4.6.2. Perhitungan Daya Dukung Tiang Tunggal Fondasi Bored Pile
Metode Reese & Wright (1997) .......................................................... 69
4.7. Analisa Daya Dukung Kelompok Tiang Fondasi Mini pile (Pile Group) ... 73
4.7.1. Analisa Jarak Antar Fondasi Mini pile dan Jarak As ke Tepi ........... 73
4.7.2. Kebutuhan Jumlah Tiang Kelompok Fondasi Mini pile .................... 73
4.7.3. Perhitungan Pile Cap P5 Fondasi Mini pile ....................................... 74
4.7.4. Kapasitas Daya Dukung Tiang Kelompok Fondasi Miniile .............. 75
4.8. Analisa Daya Dukung Kelompok Tiang Fondasi Bored Pile (Pile Group) 76
4.8.1. Analisa Jarak Antar Fondasi Bored Pile dan Jarak As ke Tepi ......... 76
4.8.2. Kebutuhan Jumlah Tiang Kelompok Fondasi Bored Pile .................. 76
4.8.3. Perhitungan Pile Cap P5 Fondasi Bored Pile .................................... 77
4.8.4. Kapasitas Daya Dukung Tiang Kelompok Fondasi Bored Pile ........ 78
4.9. Perhitungan Daya Dukung Lateral Tiang Metode Brooms ......................... 79
4.9.1. Daya Dukung Fondasi Mini pile Terhadap Gaya Lateral .................. 79
4.9.2. Daya Dukung Fondasi Bored Pile Terhadap Gaya Lateral ............... 82
4.10. Penurunan Fondasi .................................................................................... 85
4.10.1. Analisa Penurunan Pada Fondasi Mini pile .................................... 85
4.10.2. Penurunan Elastis Pada Fondasi Mini pile Kelompok
(Pile Group) .................................................................................... 87
4.10.3. Analisa Penurunan Pada Fondasi Bored Pile .................................. 88
4.10.4. Penurunan Elasris Pada Fondasi Bored Pile Kelompok
(Pile Group) ..................................................................................... 90
xv
4.11. Menganalisa Permodelan Pada Program AllPile V6.5E .......................... 91
4.12. Menganalisa Permodelan Pada Program Plaxis V8.6 .............................. 97
4.13. Hasil dan Pembahasan .............................................................................. 110
xvi
DAFTAR TABEL
xvii
Tabel 4.15. Hasil Daya Dukung Tiang Tunggal Fondasi Mini Pile dan Bored
Pile .................................................................................................. 110
Tabel 4.16. Hasil Daya Dukung Tiang Kelompok Fondasi Mini Pile dan
Bored Pile ........................................................................................ 110
Tabel 4.17. Hasil Daya Dukung Lateral Fondasi Mini Pile dan Bored Pile ...... 111
Tabel 4.18. Hasil Penurunan Tiang Tunggal Fondasi Mini Pile dan
Bored Pile ........................................................................................ 111
Tabel 4.19. Hasil Penurunan Tiang Kelompok Fondasi Mini Pile dan
Bored Pile ........................................................................................ 111
xviii
DAFTAR GAMBAR
xix
Gambar 3.15. Slab Properties ............................................................................ 43
Gambar 3.16. Slab Property Data ...................................................................... 44
Gambar 3.17. 3D Struktur .................................................................................. 44
Gambar 3.18. Frame Load Assignment-Distributed .......................................... 45
Gambar 3.19. Shell Load Assignment – Uniform ............................................... 45
Gambar 3.20. Define Response Spectrum Functions ......................................... 46
Gambar 3.21. Response Spectrum Function Defination .................................... 46
Gambar 3.22. Define Response Spectrum Functions ......................................... 47
Gambar 3.23. Load combination ........................................................................ 47
Gambar 3.24. Pemodelan Fondasi Mini Pile Allpile V.6.5E ............................. 50
Gambar 3.25. Pemodelan Fondasi Bored Pile Allpile V.6.5E ............................ 50
Gambar 3.26. Pemodelan Fondasi Mini Pile Plaxis V.8.6 ................................. 51
Gambar 3.27. Pemodelan Fondasi Bored Pile Plaxis V.8.6 ............................... 51
Gambar 4.1. Denah Fondasi ............................................................................... 53
Gambar 4.2. Permodelan Sruktur Atas dengan ETABS V.20 ........................... 53
Gambar 4.3. Grafik Nilai Spektrum Percepatan di Permukaan ......................... 59
Gambar 4.4. Titik Denah Joint Reaction ........................................................... 59
Gambar 4.5. Pile Cap Mini Pile ......................................................................... 74
Gambar 4.6. Pile Cap Bored Pile ....................................................................... 77
Gambar 4.7. Grafik Nilai Tahanan Ultimit Mini Pile ........................................ 81
Gambar 4.8. Grafik Nilai Tahanan Ultimit Bored Pile ...................................... 84
Gambar 4.9. Potongan Pile Cap Mini Pile ......................................................... 87
Gambar 4.10. Potongan Pile Cap Bored Pile .................................................... 90
Gambar 4.11. Input Pile Type ............................................................................. 91
Gambar 4.12. Input Pile ..................................................................................... 92
Gambar 4.13. Input Pada Pile Properties .......................................................... 92
Gambar 4.14. Hasil Input Pada Pile Properties ................................................. 93
Gambar 4.15. Input Pada Load and Group ........................................................ 93
Gambar 4.16. Input Pada Soil Properties .......................................................... 94
Gambar 4.17. Input Pada Soil Parameter .......................................................... 94
Gambar 4.18. Input Pada Advanced Page ......................................................... 95
Gambar 4.19. Menu Awal Vertical Analysis Results ......................................... 95
xx
Gambar 4.19. Hasil Analisa Vertikal Fondasi ................................................... 96
Gambar 4.20. Menu Awal Pengaturan Global – Proyek ................................... 98
Gambar 4.21. Menu Awal Pengaturan Global – Dimensi ................................. 98
Gambar 4.22. Pemodelan Kontur Tanah ............................................................ 99
Gambar 4.23. Pemodelan Material Tanah – Umum .......................................... 99
Gambar 4.24. Pemodelan Material Tanah – Parameter ..................................... 100
Gambar 4.25. Pemodelan Material Tanah – Antarmuka .................................... 100
Gambar 4.26. Hasil Kumpulan Data Material ................................................... 101
Gambar 4.27. Hasil Input Material Tanah ......................................................... 101
Gambar 4.28. Hasil Input Tiang ......................................................................... 102
Gambar 4.29. Input Hasil Sifat Plat ................................................................... 102
Gambar 4.30. Hasil Kumpulan Data Material – Pelat ....................................... 103
Gambar 4.31. Hasil Input Pelat Fondasi ............................................................ 103
Gambar 4.32. Input Beban Merata ..................................................................... 104
Gambar 4.33. Hasil Input Beban Merata ........................................................... 104
Gambar 4.34. Hasil Input Jepit Standar ............................................................. 105
Gambar 4.35. Tampilan Jaringan Elemen Yang Tersusun ................................ 105
Gambar 4.36. Input Berat Isi Air ....................................................................... 106
Gambar 4.37. Hasil Input Muka Air .................................................................. 106
Gambar 4.38. Tampilan Tekanan Air Pori ......................................................... 107
Gambar 4.39. Tampilan Prosedur – K0 ............................................................. 107
Gambar 4.40. Tampilan Tegangan Tanah Awal ................................................ 108
Gambar 4.41. Tampilan Input Perhitungan Analisa .......................................... 108
Gambar 4.42. Tampilan Hasil Deformasi .......................................................... 109
Gambar 4.43. Tampilan Sukses Perhitungan ..................................................... 109
xxi
ANALISA PERBANDINGAN DAYA DUKUNG DAN PENURUNAN
FONDASI MINI PILE DENGAN BORED PILE PADA GEDUNG
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
Abstrak
Farmasi ialah ilmu yang mempelajari asal usul tentang obat. Sehingga, Universitas
Wahid Hasyim Semarang melakukan pembangunan Gedung Farmasi untuk
meningkatkan sarana dan prasarana kampus. Perencanaan fondasi harus dilakukan
dengan mengkaji jenis pondasi yang cocok digunakan. Sebab itu, penelitian ini
membahas perbandingan daya dukung dan penurunan antara fondasi mini pile
dengan bored pile.
Data tanah memakai data booring (SPT) dari pembangunan Gedung Fakultas
Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang yang terdiri 4 lantai. Metode
perhitungan daya dukung memakai metode Meyerhof (1976) dan Reese & Wright
(1977). Sedangkan, perhitungan penurunan memakai metode Vesic (1977),
software AllPile V6.5E dan Plaxis V8.6.
Berdasarkan analisa pembebanan software ETABS V20 didapatkan beban
maksimal 2407,965 kN. Sehingga, direncanakan fondasi mini pile dimensi 25x25
cm dan bored pile diameter 30 cm masing-masing kedalaman 18 m. Hasil kapasitas
daya dukung tiang tunggal kedalaman 18 m dengan N-SPTrata-rata 43 fondasi mini
pile sebesar 1199,700 kN dan fondasi bored pile sebesar 1141,598 kN. Hasil
kapasitas daya dukung tiang kelompok kedalaman 18 m dengan N-SPTrata-rata 43
serta jumlah tiang 3 fondasi mini pile sebesar 2691,889 kN dan fondasi bored pile
sebesar 2643,941 kN. Hasil penurunan tiang tunggal kedalaman 18 m fondasi mini
pile secara manual sebesar 0,024 m dan software AllPile V6.5E sebesar 0,026 m.
Sedangkan, fondasi bored pile secara manual sebesar 0,028 m dan software AllPile
V6.5E sebesar 0,027 m. Hasil penurunan tiang kelompok kedalaman 18 m fondasi
mini pile secara manual sebesar 0,056 m dan software Plaxis V8.6 sebesar 0,054 m.
Sedangkan, fondasi bored pile secara manual sebesar 0,058 m dan software Plaxis
V8.6 sebesar 0,055 m. Hasil analisa perbandingan daya dukung dan penurunan
fondasi dengan metode manual dan program memiliki selisih yang tidak terlalu jauh
antara fondasi mini pile dengan bored pile, namun fondasi mini pile memiliki
efisiensi lebih dari fondasi bored pile dari daya dukung dan penurunannya.
xxii
COMPARISON ANALYSIS OF BEARING CAPACITY AND
SETTLEMENT OF MINI PILE FOUNDATIONS WITH BORED PILE IN
PHARMACEUTICAL FACULTY BUILDING PROJECT WAHID
HASYIM UNIVERSITY SEMARANG
Abstract
Pharmacy is the science that studies the origin of drugs. Thus, Wahid Hasyim
University Semarang built a Pharmacy Building to improve campus facilities and
infrastructure. Foundation planning must be done by assessing the type of
foundation that is suitable for use. Therefore, this study discusses the comparison
of bearing capacity and settlement between mini pile foundations and bored piles.
Soil data uses data logging (SPT) from the construction of the Faculty of
Pharmacy Building, Wahid Hasyim University, Semarang, which consists of 4
floors. The bearing capacity calculation method uses the Meyerhof (1976) and
Reese & Wright (1977) method. Meanwhile, the settlement calculation uses the
Vesic method (1977), AllPile V6.5E and Plaxis V8.6 software.
Based on the loading analysis of the ETABS V20 software, the maximum load
is 2407.965 kN. Thus, planned mini pile foundation dimensions of 25x25 cm and
bored pile diameter of 30 cm each with a depth of 18 m. The results of the bearing
capacity of a single pile depth of 18 m with an average N-SPT of 43 mini pile
foundations of 1199.700 kN and bored pile foundations of 1141.598 kN. The results
of the bearing capacity of the pile group with a depth of 18 m with an average N-
SPT of 43 and the number of piles of 3 mini pile foundations is 2691.889 kN and
bored pile foundations are 2643.941 kN. The result of manual settlement of a single
pile with a depth of 18 m for mini pile foundation is 0.024 m and the AllPile V6.5E
software is 0.026 m. Meanwhile, manually bored pile foundation is 0.028 m and
AllPile V6.5E software is 0.027 m. The results of the manual settlement of the
group piles with a depth of 18 m for mini pile foundations were 0.056 m and the
Plaxis V8.6 software was 0.054 m. Meanwhile, manually bored pile foundation is
0.058 m and Plaxis V8.6 software is 0.055 m. The results of the comparative
analysis of bearing capacity and settlement of foundations using manual and
program methods show that the difference is not too great between mini pile
foundations and bored piles, but mini pile foundations have more efficiency than
bored pile foundations in terms of bearing capacity and settlement.
xxiii
1
BAB I
PENDAHUUAN
2
1.4. Batasan Masalah
Menurut penjelasan diatas, terdapat beberapa hal yang menjadi akan batasan
masalah sebagai berikut :
1. Lokasi penelitian tanah berada di Gedung Fakultas Farmasi Universitas Wahid
Hasyim Semarang (Gunung Pati)
2. Jenis struktur fondasi pada penelitian ini adalah jenis fondasi Mini Pile dan
Bored Pile
3. Data penyelidikan tanah menggunakan hasil uji booring (SPT)
4. Menghitung daya dukung fondasi Mini Pile dan Bored Pile menggunakan
perhitungan manual dengan metode Meyerhof (1976) dan Reese & Wright
(1977)
5. Menghitung penurunan fondasi dilakukan secara manual dengan metode Vesic
(1977) dan secara program AllPile V6.5E dan Plaxis V8.6
6. Perhitungan analisa daya dukung dengan beban lateral dan aksial
7. Program yang digunakan seperti ETABS V20, AllPile V6.5E dan Plaxis V8.6
3
Dukung dan Penurunan Fondasi Mini Pile dengan Bored Pile Pada Gedung
Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang”. Penelitian ini terkait dan
hampir sama dengan “Analisa Daya Dukung dan Penurunan Seketika Fondasi
Bored Pile pada Tanah Lunak Tambak Lorok”. Penelitian ini memiliki kesamaan
yang berkaitan Analisa daya dukung serta penurunan fondasi, dengan penggunaan
jenis software dalam perhitungan daya dukung serta penurunannya yang sama.
Perbedaan penilitian yang dilakukan dengan penelitian terdahulu terdapat pada
subjek penelitian yaitu berfokus melakukan perbandingan serta perhitungn dari
penuruna fondasi dan juga daya dukung minipile dengan Bored Pile sedangkan
yang dilakukan penelitian terdahulu hanya berfokus pada analisa perhitungan
penurunan podasi serta daya dukung Bored Pile saja. Selain itu juga terdapat
perbedaan pada metode analisanya.
Berdasarkan penjelasan di atas, meskipun sudah ada penelitian terdahulu
sebelumnya, baik yang berkaitan daya dukung dan penurunan fondasi, namun
masih berbeda dengan penelitian penulis. Dengan demikian, topik penelitian tugas
akhir ini adalah real authenticity
4
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Hubungan antara konsistensi dan kohesi tak terdrainase serta tekanan kerucut
adalah sama, bertambah tinggi suatu nilai qc dan c maka, lebih keras tanah tersebut.
Perhatikan Tabel 2.2 :
Tabel 2.2. Hubungan Antara Konsistensi dengan Tekanan Conus
Tekanan Conus qc Undrained Cohesion
Konsistensi Tanah
(Kg/cm2) (t/m2)
Very Soft < 2,50 < 1,25
Soft 2,5 – 5,0 1,25 – 2,50
Medium Stiff 5,0 – 10,0 2,50 – 5,0
Stiff 10,0 – 20,0 5,0 – 10,0
Very Stiff 20,0 – 40,0 10,0 – 20,0
Hard > 40,0 > 20,0
(Bogeman, 1965)
6
Kaitannya beda nilai kepadatan dengan angka nilai qc, N-SPT, φ, Relative
Density yaitu setara. Perhatikan Tabel 2.3 :
Tabel 2.3. Hubungan Antara Kepadatan dengan Relative Density
Tekanan
Relatif Sudut Geser
Kepadatan Nilai N-SPT Conus qc
Density (γd) (φ) ( ͦ)
(Kg/cm2)
Very Loose < 0,2 <4 < 20 < 30
Loose (Lepas) 0,2 – 0,4 4 – 10 20 – 40 30 – 35
Medium Dense 0,4 – 0,6 10 – 30 40 – 120 35 – 40
Dense 0 6 – 0,8 30 – 50 120 – 200 40 – 45
Very Dense 0,8 – 1 > 50 > 200 > 45
(Meyerhof, 1963)
7
Macam Tanah E (kN/m2)
Tidak Padat 50000 – 140000
Macam Tanah E (kN/m2)
Lanau 2000 – 20000
Loose 15000 – 60000
Serpih 140000 - 14000000
(Hardiyatmo, 2011)
8
Jenis Tanah Sudut Geser Dalam (φ)
Pasir lepas 30 ͦ
Lempung kelanauan 25 ͦ - 30 ͦ
Lempung 20 ͦ - 25 ͦ
(Das, 2011)
2.2. Fondasi
Fondasi yaitu komponen struktur fundamental yang membawa atau mengangkut
beban bangunan ke dalam tanah (Setyanto, 1999). Secara umum ada dua klasifikasi
fondasi seperti fondasi dalam dan fondasi dangkal. Fondasi dalam ialah fondasi
yang dapat menerima banyak beban yang besar. Fondasi yang dapat menerima
beban yang relatif kecil atau disebut juga fondasi dangkal (Hardiyatmo, 2002).
Fondasi ialah suatu konstruksi bangunan yang terdapat di bagian paling bawah
yang memiliki peran penting untuk menanggung keseluruhan daribeban yang
diatasnya untuk disalurkan ke lapisan tanah di bawahnya.
Secara umum pada saat merencanakan suatu fondasi sangat membutuhkan
ketelitian pada karakteristik dan sifat-sifat tanah. Beban harus di topang oleh
fondasi sampai dengan batas aman yang sudah ditentukan (Maciej Serda dkk.,
2017).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa fondasi adalah suatu struktur yang berperan
penting dalam membantu menahan beban diatasnya ke lapisan tanah yang agak
kuat guna menahan pada tempatnya. Oleh karena itu, jika beban yang disalurkan
9
pada fondasi menuju lapisan tanah tidak melebihi batas kekuatan tanah yang
diperbolehkan, perencanaan fondasi dapat dianggap benar. Jika terjadi, maka akan
menyebabkan keruntuhan tanah atau penurunan yang berlebih (Das, 1995).
Ketentuan yang wajib diperhatikan untuk merencanakan fondasi, yaitu sebagai
berikut :
1. Daya dukung fondasi harus lebih kuat dari beban, baik beban statik ataupun
dinamik.
2. Pengurangan beban tidak dapat melebihi pengurangan yang diijinkan.
10
B. Fondasi Telapak (Spread Footing) yaitu fondasi yang dapat dipakai untuk
tumpuan kolom tunggal, bahan yang digunakan biasanya beton dengan tulangan
dimana bentuknya menyamai telapak serta memiliki ketebalan yang disesuaikan.
Fondasi telapak disarankan untuk bangunan bertingkat. Perhatikan Gambar 2.2 :
C. Fondasi Rakit (Raft Foundation) ialah suatu fondasi yang dimanfaatkan guna
tanah dengan kondisi lunak dan rendahnya daya dukung tanah. Fondasi rakit
disarankan untuk bangunan yang mempunyai basement. Perhatikan Gambar 2.3 :
11
kedalaman tanah kerasnya relatif dalam. Fondasi ini memiliki bentuk bulat yang
berlubang dan diisi dengan beton bertulang atau pracetak dengan diameter yang
bervariasi dan umumnya memiliki kedalaman sekitar 3-5 meter. Perhatikan
Gambar 2.4 :
12
B. Fondasi Tiang Pancang (Pile Foundation) yaitu fondasi yang berfungsi untuk
memberikan dukungan bagi struktur ketika kekerasan lapisan bawah tanah
ditemukan pada tingkat yang sangat rendah. Fondasi ini berisi susunan tiang yang
ditancapkan jauh ke dalam tanah yang direncanakan dan menggunakan alat HSPD
(Hydraulic Static Pile Driver) atau Drop Hammer. Penggunaan alat HSPD dan
Drop Hammer biasanya menyesuaikan biaya dan juga lingkungan disekitar proyek
berlangsung.
Terdapat 5 jenis fondasi tiang pancang seperti fondasi tiang pancang jenis kayu,
fondasi tiang pancang profil baja, fondasi tiang pancang jenis beton pracetak,
fondasi tiang pancang jenis beton pratekan, dan fondasi tiang pancang jenis
komposit. Perhatikan Gambar 2.5 :
C. Fondasi “Mini Pile” adalah fondasi tiang pancang yang dimanfaatkan untuk
menguatkan berbagai macam fondasi bangunan yang terbuat dari beton precast,
beberapa diantaranya meliputi Dermaga, jembatan, gedung dan lai-lain. Mini Pile
mempunyai bentuk permukaan seperti segitiga atau persegi yang memiliki ukuran
umumnya sekitar 20x20 cm – 40x40 cm dengan Panjang berkisar 3 – 9 meter.
Dengan Panjang yang terbatas bisanya digunakan pengelasan pelat besi untuk
menyambungkannya. Cara pemancangannya dengan menggunakan alat HSPD
(Hydraulic Static Pile Driver) atau Drop Hammer. Perhatikan Gambar 2.6 :
13
Gambar 2.6 Jenis Fondasi Mini Pile
(Sumber : www.fondasiminipile)
14
Gambar 2.7 Jenis Fondasi Bored Pile
(Sumber : www.fondasiboredpile)
15
2.4. Pembebanan
Beban bangunan berfungsi untuk menguji kemampuan dan perilaku struktur
terhadap gaya dan aksi nyata yang disebabkan oleh beban pada sistem struktur.
Kegagalan struktural dalam fase desain terjadi ketika kekuatan dari struktur jatuh
dibawah kondisi dari batas yang ditentukan dan kemampuannya tidak mengikuti
rencana. Analisis pembebanan menggunakan ETABS berguna untuk mengetahui
besarnya beban sedang digunakan untuk acuan sebagai kapasitas daya dukung
fondasi. Ada beberapa sifat beban yang diberikan pada suatu struktur bervariasi
tergantung pada lokasi, manfaat, desain dan materialnya yang digunakan yaitu :
1. Beban Mati dapat didefinisikan sebagai komponen permanen yang melekat
pada konstruksi gedung seperti bahan bangunan : langit-langit, atap, dinding,
tangga, pelat, kolom, balok dan perpanjangan. (SNI 1727:2020).
2. Beban Hidup dapat didefinisikan sebagai beban yang ditimbulkan oleh
penghuni dari suatu bangunan maupun struktur lainnya. (SNI 1727:2020)
3. Beban Gempa dapat didefinisikan sebagai suatu beban dapat bekerja pada
struktur yang akibat gerakan atau getaran tanah akibat getaran gempa bumi.
Gempa bumi dengan probabilitas melebihi besarnya untuk elemen struktur
bangunan 5 tahun dianggap memiliki beban gempa sebesar 2%. Gempa bumi
memiliki dampak terbesar pada nilai rata-rata geometris percepatan tanah
puncak (PGA), menurut (SNI 1726:2019).
4. Beban Angin, merupakan aliran angin berubah arah dan bahkan mungkin
berhenti karena beban yang ditempatkan pada struktur oleh struktur yang berada
di jalur angin. Akibatnya struktur mengalami tekanan dan hisapan dari angin.
Namun demikian, struktur yang kaku dan rendah tidak terpengaruh secara
signifikan oleh beban angin.
16
2.5. Kapasitas Daya Dukung Tiang Tunggal (Single Pile)
Daya dukung pada tanah mengukur kekuatan pada tanah untuk menanggung beban
yang ada diatasnya. Suatu daya dukung pada tanah menunjukkan kekuatan geser
tanah terhadap pengendapan akibat pembebanan. Untuk memastikan stabilitas
jangka panjang diletakkan di permukaan fondasi dengan kedalaman yang
memenuhi syarat untuk gangguan pada tanah disekitar fondasi, gerusan,
pembengkakan, penyusut serta mengatasi erosi permukaan. Analisa kapasitas daya
dukung tiang tunggal ini dilaksanakan dengan cara pendekatan untuk memudahkan
dalam pemahaman materi maupun perhitungan. Persamaan yang digunakan harus
berdasarkan pada tanah yang terlah disepakati.
2.5.1. Perhitungan Daya Dukung Ujung Tiang Metode Meyerhof (1976)
Hitungan untuk ujung tiang (End Bearing) fondasi Mini Pile dan Bored Pile
didasarkan pada uji tanah (SPT) menurut Meyerhof (1976) (Bowless, 1997) pada
tanah kohesif. Perhatikan Persamaan 2.2, 2.3 dan 2.4 :
Qp = qp x Ap ..................................................................................................(2.2)
2
Cu = (N-SPT(rata-rata) x x 10) ........................................................................(2.3)
3
17
Keterangan :
As = Luas selimut tiang (m2)
fs = Gesekan selimut tiang (kN/m2)
Qs = Daya dukung selimut tiang (kN)
α = 0,50 (Faktor Adhesi)
2.5.3. Perhitungan Daya Dukung Ujung Tiang Metode Reese & Wright (1977)
Hitungan untuk daya dukung pada ujung tiang (End Bearing) untuk fondasi Mini
Pile dan Bored Pile menggunakan data hasil uji tanah (SPT) menurut Reese &
Wright (1977) berdasarkan metode (Terzaghi, 1943). Perhatikan Persamaan 2.8 :
Untuk N-SPT > 60, maka :
Qp = qp x Ap ..................................................................................................(2.8)
Keterangan :
Qp = Daya dukung tiang ujung (kN)
qp = Tahanan ujung satuan tiang (kN)
Ap = Luas penampang fondasi (m2)
Untuk lapisan tanah jenis kohesif, nilai tahanan pada ujung tiang (qp) per satuan
tiang dapat diasumsikan sejumlah 9 x kuat geser tanah, sedangkan untuk tanah jenis
non-kohesif terdapat selisih korelasi tanah antara data qp dan N-SPT. Perhatikan
Gambar 2.8 :
18
Hitungan untuk mecari nilai Qp dalam tanah kohesif dapat dilihat Persamaan
2.9, 2.10 dan 2.11 :
qp = 9 x cu .....................................................................................................(2.9)
2
cu = (N-SPT(rata-rata) x 3 x 10) .........................................................................(2.10)
Qp = qp x Ap ..................................................................................................(2.11)
Keterangan :
cu = Kohesi tanah tak terdrainase tanah dibawah dasar tiang (kN/m2)
Qp = Daya dukung tiang ujung (kN)
qp = Tahanan ujung per satuan luas (kN/m2)
Ap = Luas penampang fondasi (m2)
Sedangkan, untuk menghitung nilai Qp pada tanah non-kohesif dapat
menggunakan Persamaan 2.12 :
Untuk N-SPT ≤ 60, sehingga :
𝑁1+𝑁2
Qp =7x x Ap ......................................................................................(2.12)
2
Keterangan :
N = Nilai rata-rata SPT
Qp = Daya dukung tiang ujung (kN)
Ap = Luas penampang fondasi (m2)
2.5.4. Perhitungan Daya Dukung Friksi Tiang Metode Reese & Wright (1977)
Hitungan untuk daya dukung pada selimut tiang (Skin Friction) untuk fondasi Mini
Pile dan Bored Pile menurut data hasil uji tanah (SPT) menurut Reese & Wright
(1977). Perhatikan Persamaan 2.13 dan 2.14 :
Qs = fs x As .................................................................................................. (2.13)
As = Keliling tiang x L ................................................................................ (2.14)
Keterangan :
fs = Gesekan selimut tiang (kN/m2)
Qs = Daya dukung ultimit selimut tiang (kN)
As = Luas selimut tiang (m2)
Dalam metode Reese & Wright (1977), nilai suatu gesekan selimut tiang dapat
dipengaruhi oleh jenis suatu tanah dan parameter kuat geser tanah. Hitung nilai fs
untuk tanah jenis kohesif. Perhatikan Persamaan 2.15 dan 2.16 :
19
fs = α x cu .................................................................................................. (2.15)
α = 0,55 (Reese & Wright, 1977) .............................................................. (2.16)
Keterangan :
fs = Gesekan selimut tiang (kN/m2)
cu = Kohesi tanah tak terdrainase tanah dibawah dasar tiang (kN/m2)
α = Faktor adhesi (Perhatikan pada Gambar 2.9)
Keterangan :
SF = 2,5 (Reese & Wright, 1977)
SF = 3 (Meyerhof 1976)
20
Qu = Daya dukung ultimit tiang (kN)
Qp = Daya dukung ujung tiang (kN)
Qs = Daya dukung selimut tiang (kN)
Daya dukung kelompok tiang arah vertikal = Eg x jumlah pile x daya dukung
ijin tiang, dimana daya dukung tiang harus lebih besar dari gaya aksial yang terjadi.
21
2.6.1. Menentukan Jumlah Tiang dalam Satu Kelompok (n)
Secara umum, jumlah tiang yang akan dipasang tergantung pada kapasitas pemikul
beban yang diizinkan dan faktor beban yang bekerja dalam tiang pondasi.
Perhatikan Persamaan 2.23 :
𝑃𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
𝑛= ....................................................................................................... (2.23)
𝑄𝑎𝑙𝑙
Keterangan :
Ptot = Beban maksimal (kN)
Qall = Kapasitas daya dukung ijin tiang tunggal (kN)
22
Berdasarkan (Hardiyatmo, 2011) suatu tiang itu sendiri sedikit dipasang di posisi
yang benar di lokasi yang ditentukan, atau pada posisi lurus. Sekalipun tiang
dipasang tepat ditempat yang tepat, kepala tiang terkadang harus menahan momen
lentur kolom. Berdasarkan Dirjen Bina Marga Departemen P.U.T.L perhitungan
jarak pada tiang. Perhatikan Persamaan 2.24 dan 2.25 :
2,5 x D < S < 3,0 x D ...................................................................................... (2.24)
S < 1,25 x D .................................................................................................... (2.25)
Keterangan :
S = Jarak tiang dalam kelompok (m)
D = Dimensi tiang
1. Bila < 2.5 D
Jika jarak pada tiang kurang dari 2,5 kali diameter tiang pancang karena pancang
didorong terlalu berdekatan, Tanah di sekeliling tiang kelompok bisa naik terlalu
banyak.
2. Bila < 3 D
Jika massa kelompok lebih dari tiga kali diameter tiang, maka dapat disebut tidak
ekonomis, karena dimensi tiang akan bertambah. Dalam kebanyakan kasus, jarak
antara dua tiang dalam satu kelompok tiang juga harus paling sedikit 0,6 m dan
paling banyak 2 m/
23
2. Kekurangan
a. Metode ini berlaku pada jenis tanah homogen saja ( tanah kohesif dan non
kohesif)
b. Metode ini tidak mampu digunakan pada jenis tanah yang berlapis
Untuk mencari factor kekakuan (T) dapat menggunakan Persamaan 2.28 dan 2.29 :
5 𝐸 𝑥 𝑙𝑝
T= √ ....................................................................................................... (2.28)
𝑛ℎ
4T = 4 x T ........................................................................................................ (2.29)
Keterangan :
E = Modulus Elastisitas Tiang (kN/m2)
I = Momen Inersia (m4)
Nh = Koefisien Modulus Variasi (kN/m3)
D = Dimensi tiang (m)
Untuk menentukan nilai nh pada tanah yang sesuai jenisnya. Perhatikan Tabel
2.7 dan 2.8 :
Tabel 2.7 Nilai – nilai nh Untuk Tanah Granular (c=0)
Tak
Kerapatan Relatif (Dγ) Sedang Padat
Padat
Interval Nilai A 100 – 300 300 – 1000 1000 - 2000
Nilai A Dipakai 200 600 1500
nh, Pasir Kering atau Lembab (Terzaghi)
2425 7275 19400
(kN/m)
nh, Pasir Peredam Air (Terzaghi) (kN/m) 1386 4850 11779
Reese et al 5300 16300 34000
(Hary Cristady, 2013)
24
Tabel 2.8 Nilai – nilai nh Untuk Tanah Kohesif
Tanah nh (kN/m3) Referensi
Lempung Terkonsolidasi 166 – 3518 Reese dan Matlock (1976)
Normal Lunak 277 – 554 Davisson – Prakash (1963)
Lempung Terkonsolidasi 111 – 277 Peck dan Davisson (1962)
Normal Organik 111 – 831 Davisson (1970)
55 Davisson (1970)
Gambut
27,7 – 111 Wilson dan Hitls (1967)
Loess 8023 – 11080 Bowless (1968)
(Poulos dan Davis, 1980)
2 𝑀𝑦
Hu = 2f ................................................................................................... (2.32)
𝑒+
3
𝐻𝑢
Hijin = ........................................................................................................ (2.33)
𝑆𝐹
𝐻𝑢
Berdasarkan grafik, pada momen ultimit = 𝐷4 𝑥 γ x 𝐾𝑝 .................................... (2.34)
Keterangan :
Hu = Daya dukung lateral pada tiang (kN/m2)
My = Momen max yang dapat di tahan tiang (kN.m)
ɣ = Berat volume pada tanah (kN/m3)
D = Dimensi pada tiang (m)
25
e = Jarak titik beban horizontal ke permukaan tanah (m)
Kp = Tegangan tanah pasif (˚)
f = Jarak kedalaman titik dimana gaya geser = 0 (m)
Untuk menggunakan nilai momen ultimate dapat dilihat pada grafik. Perhatikan
Gambar 2.12 :
2.8. Penurunan Elastis Tiang Tunggal (Single Pile) Menurut Vesic (1997)
Analisa distribusi beban dan penurunan tiang tunggal untuk tiang fondasi dapat
diperoleh dengan metode transfer beban (coyle & Reese, 1966). Menurut Vesic
(1997) penurunan elastis pada fondasi bisa dihitung dengan Persamaan 2.36 :
Se = Se(1) + Se(2) + Se(3) .................................................................................... (2.36)
Keterangan :
Se = Penurunan tiang total (m)
Se(1) = Penurunan elastis tiang (m)
Se(2) = Penurunan tiang akibat beban ujung tiang (m)
Se(3) = Penurunan tiang akibat beban di sepanjang batang (m)
26
Untuk mendapatkan nilai Se(1). Perhatikan Persamaan 2.37, 2.38, dan 2.39 :
E = 4700 x √𝐹𝑐′ ........................................................................................ (2.37)
(𝑄𝑝 +(Ɛ 𝑥 𝑄𝑠) 𝑥 𝐿
Se(1) = ..................................................................................... (2.38)
𝐴𝑝 𝑥 𝐸𝑝
Hitungan untuk penurunan pada tiang akibat beban pada titik yang diperoleh.
Perhatikan Persamaan 2.40 :
𝑄𝑝 𝑥 𝐶𝑝
Se(2) = ................................................................................................... (2.40)
𝐷 𝑥 𝑞𝑝
Keterangan :
Qp = Daya dukung pada ujung tiang (kN)
D = Dimensi tiang (m)
qp = Tahanan pada ujung satuan tiang (kN)
Cp = Koefisien empiris, Perhatikan pada Tabel 2.9 :
27
Tabel 2.9 Koefisien Empiris
Jenis Tanah Tiang Pancang Tiang Bor
Sand (Padat – Lepas) 0,02 – 0,04 0,09 – 0,18
Clay (Kaku – Lunak) 0,02 – 0,03 0,03 – 0,06
Silt (Padat – Lepas) 0,03 – 0,05 0,09 – 0,12
Serta, hitungan untuk penurunan tiang akibat beban yang terdapat sepanjang
tiang Se(3). Perhatikan Persamaan 2.41 dan 2.42 :
𝑄𝑝 𝐷
Se(3) = x x ( 1- 𝜇s2) x Iws ................................................................. (2.41)
𝑃𝑥𝐿 𝐸𝑠
𝐿
Iws = 2 + 0,35 √𝐷 ........................................................................................... (2.42)
Dimana :
Qp = Daya dukung pada ujung tiang (kN)
P = Keliling pada tiang (m)
L = Panjang pada tiang (m)
𝜇s = Poisson’s ratio (Perhatikan Tabel 2.10)
Tabel 2.10. Jenis Tanah dan Nilai Poisson’s Ratio
Jenis Tanah Poisson’s Ratio
Lempung Tanah 0,4 – 0,5
Lempung tak Jenuh 0,1 – 0,3
Lempung Berpasir 0,2 – 0,3
Lanau 0,3 – 0,35
Pasir 0,1 – 1,0
Batuan 0,1 – 0,4
Umum dipakai untuk tanah 0,3 – 0 ,4
(Das, 1995)
28
2.9. Penurunan Tiang Kelompok (Group Pile) Menurut Vesic (1997)
Saat menghitung fondasi tiang, kapasitas daya dukung tiang yang diijinkan
biasanya berdasarkan kebutuhan untuk penurunan. Penurunan pada tiang
bergantung pada rasio ketahanan ujung terhadap beban tiang. Apabila beban yang
dipikul tiang lebih besar atau sama dengan tahanan pada ujung tiang, maka
terjadinya penurunan yang sangat besar. Perhatikan Persamaan 2.44 :
𝐵𝑔
Sg(e) = √ 𝐷 x Se ..................................................................................... (2.44)
Dimana :
Sg (e) = Penurunan fondasi tiang kelompok (m)
Bg = Lebar tiang kelompok (m)
D = Dimensi tiang (m)
Se = Penurunan elastis tiang (m)
29
Qu
Qa = 𝑆𝐹
............................................................................................... (2.45)
Dimana :
Qu = Kapasitas ultimit pada tiang (kN)
SF = Faktor keamanan
Tabel 2.11 Faktor Keamanan (Safety Factor) yang Disarankan
Faktor Keamanan (Safety Factor)
Klasifikasi
Kontrol Kontrol Kontrol Kontrol
Struktur
Baik Normal Jelek Sangat Jelek
Monumental 2,3 3 3,5 4
Permanen 2 2,8 2,8 3,4
Sementara 1,4 3 2,3 2,8
(Hardiyatmo,2002)
30
Gambar 2.14 Tampilan Software ETABS V20
31
2.11.2 Software PLAXIS V8.6
Program Plaxis ialah perangkat lunak bagi teknik sipil guna menganalisis di bidang
geoteknik. Plaxis secara umum digunakan untuk mengetahui dan menganilisis
deformasi dan stabilitas yang terjadi pada suatu fondasi, sehingga program ini
mampu dijadikan perbandingan untuk hasil analisis dengan cara manual. Program
rancangan ini berguna untuk membuat geometri yang akan dianalisis. Perhatikan
Gambar 2.16 :
32
33
BAB III
METODOLOGI
34
3.3. Tahapan Penelitian
Pada penelitian ini diperlukan beberapa tahap pelaksanaan untuk bisa mencapai
maksud dan tujuan penelitian, seperti berikut ini :
1. Pemetaan wilayah untuk mengetahui kondisi tanah dan kondisi lingkungan di
sekitar proyek
35
Skema pelaksanaan pada studi kasus ini Perhatikan Gambar 3.3 :
Mulai
Identifikasi
cv Masalah
Tinjauan Pustaka
Pengumpulan Data
Perhitungan Struktur
ETABS 20.0
Perhitungan Manual
- Daya Dukung Fondasi Perhitungan Program
(Metode Meyerhof (1976) AllPile V.6.5E
dan Reese & Wright (1977)) Plaxis V.8.6
- Penurunan Fondasi (Metode
Vesic 1977)
Selesai
36
3.4. Perhitungan Struktur
3.4.1. Pemodelan Struktur menggunakan Software ETABS V20
Untuk menganalisis besarnya beban setiap titik pada bangunan yang masuk
kedalam fondasi, maka harus dibuat permodelan Struktur Gedung terlebih dahulu.
Untuk permodelannya menggunakan Software ETABS V20. Kemudian hasil dari
permodelan tersebut yang berupa output beban dan lainnya barulah dapat diolah
untuk keperluan analisis kinerja struktur lainnya terutama fondasi. Adapun Tahapan
untuk membuat permodelan struktur gedung dapat dilohat sebagai berikut :
1. Membuat Permodelan Baru
Pada Model Initialization pilih Use Built-in Seting With guna mengetahui Standard
Code ataupun Units nantinya bisa digunakan untuk membuat model perancangan.
Pada pilihan pada Display Units pilih Metric SI guna memiilih satuan jenis
internasional, serta untuk perancangan beton bertulang di Concrete Design Code
pilih ACI 318-14 adalah satuan SNI beton Indonesia terbaru 2847:2019. Perhatikan
Gambar 3.4 :
37
c. Spacing of Grids in X Direction : 6 m (Jarak antar Grid/As pada arah X)
d. Spacing of Grids in Y Direction : 6 m (Jarak antar Grid/As pada arah Y)
Selanjutnya pada bagian Story Dimension – Simple Story Data :
a. Number of Stories : 3 (Sesuai jumlah tingkat yang direncanakan)
b. Typical Story Height : 4 m (Tinggi setiap lantai)
c. Bottom Story Height : 4 m (Tinggi story 1 dimulai dari lantai dasar)
38
Gambar 3.6 Menu Pengaturan Model Grid
Guna mengatur Define Marerials dengan menambahkan material baru dengan klik
Add New Material, untuk material name diganti Fc’30 pada bagian material type
yang lain disesuaikan dengan data yang digunakan. Perhatikan Gambar 3.8 dan 3.9
:
39
Gambar 3.8 Material Property Data
40
Gambar 3.10 Frame Properties
41
Kemudian, guna mengatur rincian dari kolom yang digunakan dapat dilakukan
dengan cara klik Modify/Show Rebar dengan memilih Design Type yang digunakan
adalah Coulum. Material diatur sesuai data yang dipakai. Perhatikan Gambar 3.12
:
42
Kemudian, untuk mengatur rincian dari balok yang digunakan dapat dilakukan
dengan cara klik Modify/Show Rebar dengan memilih Design Type yang digunakan
adalah Beam. Material diatur sesuai data yang dipakai. Perhatikan Gambar 3.14 :
Kemudian, untuk mengatur dimensi plat lantai dapat dilakukan dengan cara klik
Modify/Show Property Data dan diisi sesuai data yang digunakan pada plat lantai.
43
Untuk Slab Material menggunakan mutu beton Fc’ 30 Mpa, dengan ketebalan 12
dan 15 cm. Perhatikan Gambar 3.16 :
44
10. Memasukkan pembebanan pada balok
Untuk memasukkan pembebanan pada balok dapat dilakukan dengan cara select
balok yang diberi beban, kemudian klik Assign → Frame Load → Distributed →
masukkan beban sesuai dengan yang direncanakan pada bagian Frame Load
Assignment. Perhatikan Gambar 3.18 :
45
12. Memasukkan beban gempa
Untuk memasukkan beban gempa dapat dilakukan dengan cara klik Define →
Function → Respon Spectrum → Add New Function → masukkan data pada
Function Damping Ratio. Perhatikan Gambar 3.20 dan 3.21 :
46
13. Memasukkan Load Case
Untuk memasukkan Load Case dapat dilakukan dengan klik Define → Load Case
→ Add new case → masukkan sesuai data yang dipakai. Perhatikan Gambar 3.22 :
47
3.5. Perhitungan Manual
Metode perhitungan manual yang akan digunakan yaitu :
3.5.1. Perhitungan Kapasitas Daya Dukung Tiang Tunggal (Single Pile)
A. Perhitungan Daya Dukung Ujung Tiang Metode Meyerhof (1976)
Hitungan untuk fondasi Mini Pile dan Bored Pile dapat memakai rumus sesuai
dengan Persamaan 2.2, 2.3, dan 2.4.
C. Perhitungan Daya Dukung Ujung Tiang Metode Reese & Wright (1977)
Hitungan untuk fondasi Mini Pile dan fondasi Bored Pile dapat memakai rumus
sesuai dengan Persamaan 2.9, 2.10 dan 2.11.
D. Perhitungan Daya Dukung Friksi Tiang Metode Reese & Wright (1977)
Hitungan untuk fondasi Mini Pile dan fondasi Bored Pile dapat memakai rumus
sesuai dengan Persamaan 2.13, 2.14, 2.15 dan 2.16
48
B. Perhitungan Jarak Antar Tiang dalam Satu Kelompok
Hitungan untuk fondasi Mini Pile dan fondasi Bored Pile dapat memakai rumus
sesuai dengan Persamaan 2.24 dan 2.25.
49
Gambar 3.24 Pemodelan Fondasi Mini Pile Allpile V6.5E
50
Gambar 3.26 Pemodelan Fondasi Mini Pile PLAXIS V8.6
51
52
BAB IV
ANALISA DAN PERHITUNGAN
53
4.3. Kriteria Desain Permodelan Struktur dengan ETABS V20
Data umum yang diberikan oleh pihak perencana :
• Berat jenis beton bertulang = 24 kN/m3
• Tebal plat lantai = 0,12 m
• Tebal plat lantai 1 = 0,10 m
• Tebal plat atap = 0,12 m
• Mutu beton = K-300
• Modulus elastisitas beton = 4700 x √𝐹𝑐
• Berat jenis baja tulangan = 76,98 kN/m3
• Mutu baja tulangan = fy 390 Mpa (ulir, d ≥ 12 mm)
• Untuk kolom
- K1 = 600 x 600 mm - K3 = 300 x 600 mm
- K2 = 600 x 600 mm - K4 = 300 x 300 mm
• Untuk Balok
- B1 = 300 x 600 mm - B8 = 300 x 400 mm - BA3 = 350 x 700 mm
- B2 = 300 x 600 mm - B9 = 300 x 600 mm - BA4 = 300 x 500 mm
- B3 = 300 x 600 mm - B10 = 250 x 500 mm - BK1 = 300 x 600 mm
- B4 = 350 x 700 mm - B11 = 200 x 400 mm - BK2 = 300 x 600 mm
- B5 = 300 x 500 mm - B12 = 200 x 300 mm - BK3 = 300 x 600 mm
- B6 = 300 x 400 mm - BA1= 300 x 600 mm - TB1 = 300 x 600 mm
- B7 = 300 x 400 mm - BA2= 300 x 600 mm - TB2 = 300 x 500 mm
54
Tabel 4.1 Beban Mati Pada Lantai 2 dan Lantai 3
Jenis Keterangan Satuan (kN/m2)
Berat sendiri plat 12 cm 2,88
Berat pasir 1 cm 0,16
Berat adukan semen 3 cm 0,63
Beban Mati
Berat keramik 1 cm 0,24
Berat ME 0,25
Berat langit-langit dan penggantung 0,18
Berat Total 4,34
55
No. Keterangan Satuan (kN/m2)
7. Atap Datar, Berhubung dan Lengkung 0,96
56
Non gedung dan gedung yang dibutuhkan guna
mempertahankan fungsi struktur bangunan lain yang masuk
ke dalam kategori resiko IV
(SNI 1726:2019)
57
B. Faktor Reduksi Gempa (R)
Merujuk pada SNI 1726 : 2019, Faktor Reduksi Gempa pada Gedung Fakultas
Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang menggunakan sistem rangka
penyangga khusus dengan nilai sebesar R = 8. Perhatikan Tabel 4.8 :
Tabel 4.8 Faktor Reduksi Gempa
Batasan Sistem
Faktor Struktur dan Batasan
Sistem Koefisien Faktor
Kuat Tinggi Struktur hn (m)c
Penahanan Modifikasi Pembesaran
Lebih Kategori Desain
Gaya Seismik Sistem Rd Defleksi Cdb
Sistem Ω02 Seismik
B C Dd Ed Fe
Rangka Beton
Bertulang
8 3 5,5 TB TB TB TB TB
Pemikul Momen
Khusus
(SNI 1726:2019)
58
g. T0 (detik) = 0,14
h. TS (detik) = 0,70
i. Koefisien situs, Fa = 1,000
j. Koefisen situs, Fv = 1,000
Untuk data parameter gempa yang sudah diperoleh melalu website tersebut
kemudian dimasukkan pada software ETABS V.20 sebagai beban struktur
perencanaan. Setelah semua beban diinput kedalam permodelan struktur
menggunakan ETABS V20 diperoleh hasil output joint reaction. Perhatikan
Gambar 4.4 :
59
Keteranga(Riswaka, 2001). n :
= Joint yang ditinjau
Untuk melihat besarnya beban yang berasal dari bangunan gedung dan beban
masing-masing tipe pondasi yang direncanakan. Perhatikan Tabel 4.9 :
Tabel 4.9 Beban dan Perkiraan Tipe Fondasi Rencana
JOINT BEBAN (kN) TIPE FONDASI
415 672,672
674 769,223
678 409,893
701 647,043
714 592,317
719 571,175
722 709,142 P2
727 628,244
731 594,398
736 682,929
740 629,467
745 621,127
788 645,497
789 381,930
762 629,176
416 1449,298
677 1369,942
690 874,662
702 1158,803
703 1076,899
704 1348,725
706 915,006
708 955,756
709 843,816
710 1001,217
715 979,337
716 832,643
717 1122,082
718 1158,866
719 571,175
720 1068,002
721 896,929 P3
724 1078,674
725 1328,764
732 985,631
733 830,740
734 1033,755
735 1138,515
60
JOINT BEBAN (kN) TIPE FONDASI
737 1382,854
741 1156,777
742 1056,349
743 1314,961
744 1100,656
787 831,294
753 1233,528
757 506,671
768 1231,529
770 887,349
475 1788,35
476 1376,007
479 1327,652
480 1684,419
635 1385,326
671 975,063
672 1097,454
673 1260,92
679 1253,865
683 1494,688
684 1820,246
685 1798,518
686 1903,234
688 1744,09
689 1564,119
692 1493,225
695 1470,632
697 1459,656
698 1255,517
771 1941,486
700 1841,15
705 1375,558
707 1153,954
711 1368,478
712 1574,061
713 1361,872
772 1211,807 P4
723 1208,122
726 1225,44
728 1446,532
729 1232,781
730 1126,437
737 1382,854
738 1673,402
739 1581,922
61
JOINT BEBAN (kN) TIPE FONDASI
746 1214,809
747 1600,427
748 1392,491
749 1613,546
750 1400,516
751 1372,563
758 2044,46
785 2003,048
774 1381,437
775 1244,563
756 1298,737
778 1630,807
777 1614,971
761 1218,159
763 1696,584
767 1253,79
676 2395,797
680 1980,509
681 2351,189
682 1966,71
686 1903,234
691 1546,046
693 1839,895
694 1974,52
696 1817,363
781 1596,951
785 2003,048
778 1630,807
773 1828,545
784 233,252 P5
779 1596,037
755 1707,504
758 2044,46
759 1819,739
783 1357,807
780 1372,881
760 2190,025
764 1814,807
765 1778,396
766 1810,838
769 1627,839
675 2053,002
687 1969,513 P6
699 2265,949
784 2333,252
62
4.5. Analisa Daya Dukung Aksial Fondasi Mini Pile
Diketahui :
Joint 676 = 2395,797 kN
Dimensi = 0,25 m x 0,25 m
Luas Selimut Tiang (As) = 4 x S x L
= 4 x 0,25 x 18
= 18 m2
Luas Penampang (Ap) =SxS
= 0,25 x 0,25
= 0,0625 m2
Kedalaman = 18 m
Cu = 286,667 kN/m2
Hitungan untuk daya dukung ujung tiang (Qp) kedalaman 18 m sesuai Persamaan
2.2 :
Qp = qp x Ap
Qp = 16340 x 0,0625
Qp = 1021,25 kN
63
B. Daya Dukung Friksi Tiang (Skin Friction)
Hitungan untuk tahanan gesek tiang (fs) kedalaman 18 m sesuai Persamaan 2.7 :
fs = α x Cu
fs = 0,50 x 286,667
fs = 143,333 kN/m2
Hitungan untuk daya dukung selimut tiang (Skin Friction) kedalaman 18 sesuai
Persamaan 2.5 :
Qs = fs x As
Qs = 143,333 x 18
Qs = 2580 kN
Qall = 1200,417 kN
Berdasarkan hasil analisa perhitungan daya dukung pada fondasi Mini Pile
menggunakan cara Meyerhof (1976). Perhatikan Tabel 4.10 :
64
4.5.2. Perhitungan Daya Dukung Tiang Tunggal Fondasi Mini Pile
Menggunakan Metode Reese & Wright (1997)
Hitungan untuk daya dukung tiang pada fondasi Mini Pile memakai metode Reese
& Wright (1997) dapat dilakukan perhitungan menggunakan Persamaan berikut :
A. Daya Dukung Ujung Tiang (Qp)
Hitungan untuk nilai kohesi (cu) kedalaman 18 m sesuai Persamaan 2.10 :
2
Cu = (N-SPT(rata-rata) x x 10)
3
2
Cu = (43 x x 10)
3
Cu = 286,667 kN/m2
Hitungan untuk tahanan ujung tiang (qp) kedalaman 18 m sesuai Persamaan 2.9 :
qp = 9 x Cu
qp = 9 x 286,667
qp = 2580 kN/m2
Hitungan untuk daya dukung ujung tiang (Qp) kedalaman 18 m sesuai Persamaan
2.11 :
Qp = qp x Ap
Qp = 2580 x 0,0625
Qp = 161,250 kN
Hitungan untuk daya dukung selimut tiang (Qs) kedalaman 18 m sesuai Persamaan
2.13 :
Qs = fs x As
Qs = 157,667 x 18
Qs = 2838 kN
65
C. Daya Dukung Ultimit (Qult)
Hitungan untuk daya dukung ultimit pada tiang (Qult) kedalaman 18 m sesuai
Persamaan 2.19 :
Qult = Qp + Qs
Qult = 161,250 + 2838
Qult = 2999,25 kN
Qall = 1199,70 kN
Berdasarkan hasil dari analisa perhitungan daya dukung pada fondasi Mini Pile
dengan metode Reese & Wright. Perhatikan Tabel 4.11 :
66
4.6. Analisa Daya Dukung Aksial Fondasi Bored Pile
Diketahui :
Joint 676 = 2395,797 kN
Diameter (D) = 0,30 m
Luas Selimut Tiang (As) = π x D x L
= 3,14 x 0,30 x 18
= 16,956 m2
1
Luas Penampang (Ap) = 4 x π x D2
1
= 4 x 3,14 x 0,302 = 0,070 m2
Kedalaman = 18 m
Cu = 286,667 kN/m2
Hitungan untuk daya dukung ujung tiang (Qp) kedalaman 18 m sesuai Persamaan
2.2 :
Qp = qp x Ap
Qp = 16340 x 0,070
Qp = 1143,800 kN
67
B. Daya Dukung Friksi Tiang (Skin Friction)
Hitungan untuk tahanan gesek tiang (fs) kedalaman 18 m sesuai Persamaan 2.7 :
fs = α x Cu
fs = 0,50 x 286,667
fs = 143,333 kN/m2
Hitungan untuk daya dukung selimut tiang (Skin Friction) kedalaman 1 sesuai
Persamaan 2.5 :
Qs = fs x As
Qs = 143,333 x 16,956
Qs = 2430,360 kN
Qall = 1191,387 kN
Berdasarkan hasil dari analisa perhitungan daya dukung pada fondasi Bored Pile
menggunakan cara Meyerhof (1976). Perhatikan Tabel 4.10 :
68
4.6.2. Perhitungan Daya Dukung Tiang Tunggal Fondasi Bored Pile
Menggunakan Metode Reese & Wright (1977)
Hitungan untuk daya dukung pada tiang fondasi Bored Pile memakai metode Reese
& Wright (1997) dapat dilakukan perhitungan menggunakan Persamaan berikut :
A. Daya Dukung Ujung Tiang (Qp)
Hitungan untuk nilai kohesi (cu) kedalaman 18 m sesuai Persamaan 2.10:
2
Cu = (N-SPT(rata-rata) x x 10)
3
2
Cu = (43 x x 10)
3
Cu = 286,667 kN/m2
Hitungan untuk tahanan ujung tiang (qp) kedalaman 18 m sesuai Persamaan 2.9 :
qp = 9 x Cu
qp = 9 x 286,667
qp = 2580 kN/m2
Hitungan untuk daya dukung ujung tiang (Qp) kedalaman 18 m sesuai Persamaan
2.11 :
Qp = qp x Ap
Qp = 2580 x 0,070
Qp = 180,60 kN
Hitungan untuk daya dukung selimut tiang (Qs) kedalaman 18 m sesuai Persamaan
2.13 :
Qs = fs x As
Qs = 157,667 x 19,956
Qs = 2673,396 kN
69
C. Daya Dukung Ultimit (Qult)
Hitungan untuk daya dukung ultimit pada tiang (Qult) kedalaman 18 m sesuai
Persamaan 2.19 :
Qult = Qp + Qs
Qult = 180,600 + 2673,396
Qult = 2853,996 kN
Qall = 1141,598 kN
Berdasarkan hasil dari analisa perhitungan daya dukung pada fondasi Bored Pile
dengan metode metode Reese & Wright. Perhatikan Tabel 4.11 :
70
Tabel 4.10 Hasil Perhitungan Daya Dukung Fondasi Mini Pile metode Meyerhof (1976)
Meyerhoff (1976)
Cu (kN/m2) qp (kN/m2) Ap (m2) Qp (kN) fs (kN/m2) As (m2) Qs (kN) Qult (kN) Qall (kN)
DEPTH N-SPT α
(N-SPT x 2/3 x 10) (380 x N-SPT) (S x S) (qp x Ap) (α x Cu) (4 x S x L) (fs x As) (Qp + Qs) Qullt/3
0 0 0,000 0 0,0625 0,000 0,500 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000
3 7 46,667 2660 0,0625 166,250 0,500 23,333 3,000 70,000 236,250 78,750
6 12 80,000 4560 0,0625 285,000 0,500 40,000 6,000 240,000 525,000 175,000
9 17 113,333 6460 0,0625 403,750 0,500 56,667 9,000 510,000 913,750 304,583
12 33 220,000 12540 0,0625 783,750 0,500 110,000 12,000 1320,000 2103,750 701,250
15 37 246,667 14060 0,0625 878,750 0,500 123,333 15,000 1850,000 2728,750 909,583
18 43 286,667 16340 0,0625 1021,250 0,500 143,333 18,000 2580,000 3601,250 1200,417
Tabel 4.11 Hasil Perhitungan Daya Dukung Fondasi Mini Pile metode Reese & Wright (1977)
Reese & Wright (1977)
Cu (kN/m2) qp (kN/m2) Ap (m2) Qp (kN) fs (kN/m2) As (m2) Qs (kN) Qult (kN) Qall (kN)
DEPTH N-SPT α
(N-SPT x 2/3 x 10) (9 x Cu) (S x S) (qp x Ap) (α x Cu) (4 x S x L) (fs x As) (Qp + Qs) Qullt/2,5
0 0 0,000 0,000 0,0625 0,000 0,550 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000
3 7 46,667 420,000 0,0625 26,250 0,550 25,667 3,000 77,000 103,250 41,300
6 12 80,000 720,000 0,0625 45,000 0,550 44,000 6,000 264,000 309,000 123,600
9 17 113,333 1020,000 0,0625 63,750 0,550 62,333 9,000 561,000 624,750 249,900
12 33 220,000 1980,000 0,0625 123,750 0,550 121,000 12,000 1452,000 1575,750 630,300
15 37 246,667 2220,000 0,0625 138,750 0,550 135,667 15,000 2035,000 2173,750 869,500
18 43 286,667 2580,000 0,0625 161,250 0,550 157,667 18,000 2838,000 2999,250 1199,700
71
Tabel 4.12 Hasil Perhitungan Daya Dukung Fondasi Bored Pile metode Meyerhof (1976)
Meyerhoff (1976)
2 2 2 2 2
Cu (kN/m ) qp (kN/m ) Ap (m ) Qp (kN) fs (kN/m ) As (m ) Qs (kN) Qult (kN) Qall (kN)
DEPTH N-SPT α
(N-SPT x 2/3 x 10) (380 x N-SPT) (1/4 x π x D2) (qp x Ap) (α x Cu) (π x D x L) (fs x As) (Qp + Qs) Qullt/3
0 0 0,000 0 0,070 0,000 0,500 0 0,000 0,000 0,000 0,000
3 7 46,667 2660 0,070 186,200 0,500 23,333 2,826 65,940 252,140 84,047
6 12 80,000 4560 0,070 319,200 0,500 40,000 5,652 226,080 545,280 181,760
9 17 113,333 6460 0,070 452,200 0,500 56,667 8,478 480,420 932,620 310,873
12 33 220,000 12540 0,070 877,800 0,500 110,000 11,304 1243,440 2121,240 707,080
15 37 246,667 14060 0,070 984,200 0,500 123,333 14,130 1742,700 2726,900 908,967
18 43 286,667 16340 0,070 1143,800 0,500 143,333 16,956 2430,360 3574,160 1191,387
Tabel 4.13 Hasil Perhitungan Daya Dukung Fondasi Bored Pile metode Reese & Wright (1977)
Reese & Wright (1977)
2 2 2 2
Cu (kN/m ) qp (kN/m2) Ap (m ) Qp (kN) fs (kN/m ) As (m ) Qs (kN) Qult (kN) Qall(kN)
DEPTH N-SPT α
(N-SPT x 2/3 x 10) (9 x Cu) 2
(1/4 x π x D ) (qp x Ap) (α x Cu) (π x D x L) (fs x As) (Qp + Qs) Qullt/2,5
0 0 0,000 0 0,070 0,000 0,550 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000
3 7 46,667 420 0,070 29,400 0,550 25,667 2,826 72,534 101,934 40,774
6 12 80,000 720 0,070 50,400 0,550 44,000 5,652 248,688 299,088 119,635
9 17 113,333 1020 0,070 71,400 0,550 62,333 8,478 528,462 599,862 239,945
12 33 220,000 1980 0,070 138,600 0,550 121,000 11,304 1367,784 1506,384 602,554
15 37 246,667 2220 0,070 155,400 0,550 135,667 14,130 1916,970 2072,370 828,948
18 43 286,667 2580 0,070 180,600 0,550 157,667 16,956 2673,396 2853,996 1141,598
72
4.7. Analisa Daya Dukung Kelompok Tiang (Pile Group) Fondasi Mini Pile
4.7.1. Analisa Jarak Antar Fondasi Mini Pile dan Jarak As ke Tepi
a. Penentuan efesiensi jarak antar fondasi dapat dilakukan analisa sesuai Persamaan
2.22 dan 2.23 :
2,50 x D < S < 3,00 x D
2,50 x D < S < 3,00 x D
2,50 x 0,25 < S < 3,0 x 0,25
0,625 < S < 0,75
Berdasarkan hasil analisa yang didapatkan maka, jarak antar fondasi dapat
diketahui untuk nilainya 0,625 < s < 0,750, dan disini yang akan penulis gunakan
adalah nilai 0,7 meter.
b. Penentuan jarak as fondasi ke tepi pile cap dapat dilakukan analisa sesuai
(Persamaan 2.24)
S < 1,25 x D
S < 1,25 x 0,25
S < 0,312
Berdasarkan hasil analisa yang didapatkan maka, jarak dari as fondasi ke tepi
pile cap dapat diketahui nilainya yaitu S < 0,312 m. Dari hasil perhitungan tersebut
dapat diambil nilainya yaitu 0,3 m.
n = 2,00 ≈ 3
Jadi asumsi jumlah tiang (n) pada Pile Cap pondasi Mini Pile berjumlah 3 tiang.
73
4.7.3. Perhitungan Pile Cap P5 Mini Pile
V = 0,507 m3
W =𝜌xV
W = 24 x 0,507
W = 12,168 kN
74
4.7.4. Kapasitas Daya Dukung Kelompok Tiang Fondasi Mini Pile
Analisa kapasitas tiang fondasi Mini Pile kelompok tiang berdasarkan Coverse –
Labare Formula sesuai dengan Persamaan 2.24 dan dalam menentukan kapasitas
dukung ultimit tiang kelompok harus diperhatikan kinerja tiang. Perhatikan
Persamaan 2.19 :
𝑠𝑖𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑠𝑒𝑔𝑖 0,25
∅ = Arc tan = Arc tan = 0,35 = 19,29˚
𝑠 0,700
(3−1) 𝑥 2 + (2−1) 𝑥 2
Eg =1–( ) x 19,29˚
90 𝑥 2 𝑥 3
Eg = 0,786 = 78,60 %
Ptotal = 2407,965 kN
Qall(single) = 1199,70 kN
Daya dukung fondasi kelompok P5 > beban struktur atasnya, sehingga fondasi
Mini Pile di anggap mampu menahan beban struktur bangunan atas, jadi Mini Pile
yang yang dibutuhkan adalah sebanyak 3 buah.
75
4.8. Analisa Daya Dukung Kelompok Tiang (Pile Group) Fondasi Bored Pile
4.8.1. Analisa Jarak Antar Fondasi Bored Pile dan Jarak As ke Tepi
a. Penentuan efesiensi jarak antar fondasi dapat dilakukan analisa sesuai Persamaan
2.21 dan 2.23 :
2,50 x D < S < 3,0 x D
2,50 x D < S < 3,0 x D
2,50 x 0,3 < S < 3,0 x 0,3
0,75 < S < 0,90
Berdasarkan hasil analisa yang didapatkan maka, jarak antar fondasi dapat
diketahui untuk nilainya 0,75 < S < 0,9 , dan disini yang akan penulis gunakan
adalah nilai 0,8 meter.
b. Penentuan jarak as fondasi ke tepi pile cap dapat dilakukan analisa sesuai
(Persamaan 2.24)
S < 1,25 x D
S < 1,25 x 0,3
S < 0,375
Berdasarkan hasil analisa yang didapatkan maka, jarak dari as fondasi ke tepi
pile cap dapat diketahui nilainya yaitu S < 0,375 m. Dari hasil perhitungan tersebut
dapat diambil nilainya yaitu 0,25 m.
n = 2,01 ≈ 3
Jadi asumsi jumlah tiang (n) pada Pile Cap pondasi Bored Pile berjumlah 3 tiang.
76
4.8.3. Perhitungan Pile Cap P5 Bored Pile
V = 0,507 m3
W =𝜌xV
W = 24 x 0,507
W = 12,168 kN
77
4.8.4. Kapasitas Daya Dukung Kelompok Tiang Fondasi Bored Pile
Analisa kapasitas kelompok tiang fondasi Bored Pile berdasarkan Coverse –
Labare Formula sesuai dengan Persamaan 2.24 dan dalam menentukan kapasitas
dukung ultimit tiang kelompok harus diperhatikan kinerja tiang. Perhatikan
Persamaan 2.19 :
𝑑 0,3
∅ =Arc tan 𝑠 = Arc tan = 0,375 = 20,56˚
0,8
(3−1) 𝑥 2 + (2−1) 𝑥 2
Eg =1–( ) x 20,56˚
90 𝑥 2 𝑥 3
Eg = 0,772 = 77,20 %
Ptotal = 2407,965 kN
Qall(single) = 1141,598 kN
Daya dukung fondasi kelompok P5 > beban struktur atasnya, sehingga fondasi
Bored Pile di anggap mampu menahan beban struktur bangunan atas, jadi Bored
Pile yang yang dibutuhkan adalah sebanyak 3 buah.
78
4.9. Perhitungan Daya Dukung Lateral Tiang Metode Brooms
4.9.1. Daya Dukung Fondasi Mini Pile Terhadap Gaya Lateral
Data tanah :
γ = 16,14 kN/m3
θ = 30,36˚
∅
Kp = tan2 ( 45 + 2 )
30,36
Kp = tan2 ( 45 + ) = 3,044
2
Spesifikasi tiang
Ukuran = 0,25 m x 0,25 m
L = 18 m
fc’ = 500 kg/cm2 = 41,50 Mpa
a. Cek kekakuan pada tiang fondasi Mini Pile menggunakan Persamaan 2.24 :
E = 4700 √fc′
E = 4700√41,50
E = 30277,632 Mpa
I = 0,0327 m4
Untuk menentukan nilai kekakuan fondasi tiang yang dibutuhkan, maka nilai 𝜂h
dapat diambil sesuai dengan Tabel 2.8 – nilah 𝜂h untuk jenis tanah kohesif. Nilai
𝜂h adalah 150 kN/m3
Hitungan untuk nilai faktor dari kekakuan tanah memakai Persamaan 2.26 dan
Persamaan 2.27 :
5 𝐸𝑝 𝑥 𝐼
T =√ 𝜂ℎ
5 30277,632 𝑥 0,0327
T =√ 150
79
T = 1,458 m
4T =4xT
4T = 4 x 1,458
4T = 5,834 m
Dari hasil perhitungan diatas, L (18 m) > 4T (5,834), Dalam hal ini, tiang pondasi
terdiri dari tiang pondasi elastis yang panjang.
𝐻𝑢
f = 0,82 √0,25𝑥3,044𝑥16,14
f = 0,234√𝑯𝒖
2 𝑀𝑦
Hu =( 2𝑓 )
𝑒+
3
2 𝑥 1500
Hu =( 2 𝑥 0,234√𝐻𝑢
)
0+
3
19230,769
Hu =( )
√𝐻𝑢
Hu = 717,791 kN
80
Dengan ketentuan nilai FS = 2,5, memakai Persamaan 2.31 maka gaya lateral
yang diijinkan ialah :
𝐻𝑢
HIzin = 𝐹𝑠
717,791
HIzin = 2,5
HIzin = 287,116 kN
d. Hitungan daya dukung terhadap gaya lateral dengan grafik memakai Persamaan
2.32 :
𝑀𝑦
Tahanan momen ultimit = 𝐷4 𝑥 γ 𝑥 𝐾𝑝
1500
= 0,254𝑥 16,14 𝑥 3,044
= 7815,973 kN.m
Besaran nilai tahanan ultimit 7815,973 kN.m di input kedalam grafik guna
mendapatkan nilai dari tahanan lateral ultimit. Perhatikan Gambar 4.7 didapatkan
besaran nilainya.
𝐻𝑢
250 = 𝐾𝑝 𝑥 γ 𝑥 𝐷3
Hu = 250 x 3,044 x 16,14 x 0,253
Hu = 191,915 kN
81
4.9.2. Daya Dukung Fondasi Bored Pile Terhadap Gaya Lateral
Data tanah :
γ = 16,14 kN/m3
θ = 30,36˚
∅
Kp = tan2 ( 45 + 2 )
30,36
Kp = tan2 ( 45 + ) = 3,044
2
Spesifikasi tiang
D = 0,30 m
L = 18 m
fc’ = 350 kg/cm2 = 29,05 Mpa
E = 4700√29,05
E = 25332,084 Mpa
I = 0,0042 m4
Untuk menentukan nilai kekakuan fondasi tiang yang dibutuhkan, maka nilai 𝜂h
dapat diambil sesuai dengan Tabel 2.8 – nilah 𝜂h untuk jenis tanah kohesif. Nilai
𝜂h adalah 150 kN/m3
Hitungan untuk nilai faktor dari kekakuan tanah memakai Persamaan 2.26 dan
Persamaan 2.27 :
5 𝐸𝑝 𝑥 𝐼
T =√ 𝜂ℎ
5 30277,632𝑥0,0042
T =√ 150
82
T = 0,968 m
4T =4xT
4T = 4 x 0,968
4T = 3,872 m
Dari hasil perhitungan diatas, L (18 m) > 4T (5,834), Dalam hal ini, tiang pondasi
terdiri dari tiang pondasi elastis yang panjang.
𝐻𝑢
f = 0,82 √0,30 𝑥 3,044 𝑥 16,14
f = 0,214√𝑯𝒖
2 𝑀𝑦
Hu =( 2𝑓 )
𝑒+
3
2 𝑥 1500
Hu =( 2 𝑥 0,214√𝐻𝑢
)
0+
3
10514,019
Hu =( )
√𝐻𝑢
Hu = 479,931 kN
83
Dengan ketentuan nilai FS = 2,5, menggunakan Persamaan 2.31 maka gaya
lateral yang diijinkan yaitu :
Hu
HIzin = F
479,931
HIzin = 2,5
HIzin = 191,972 kN
d. Hitungan daya dukung terhadap gaya lateral dengan grafik memakai Persamaan
2.32 :
𝑀𝑦
Tahanan momen ultimit = 𝐷4 𝑥 𝛾 𝑥 𝐾𝑝
1500
= 0,304𝑥 16,14 𝑥 3,044 = 3769,277 kN.m
Besaran nilai tahanan ultimit 3769,277 kNm di input kedalam grafik guna
mendapatkan nilai dari tahanan lateral ultimit. Perhatikan Gambar 4.7 maka
didapatkan nilainya.
𝐻𝑢
250 = 𝐾𝑝 𝑥 𝛾 𝑥𝐷3
84
4.10. Penurunan Fondasi
4.10.1. Analisa Penurunan Pada Fondasi Mini Pile
Berdasarkan metode Vesic (1977), untuk penurunan elastis pada fondasi Mini Pile
tunggal dapat dihitung memakai Persamaan 2.34 :
L = 18 m
S = 0,25 m
Fc’ = 41,50 Mpa
Ap = 0,0625 m2
E = 4700√41,50
E = 30277632 kN/m2
Untuk mencari nilai factor empiric pada tahanan selimut tiang berdasarkan
Persamaan 2.42. Dikarenakan jenis tanah lempung maka menggunakan Ɛ = 0,5.
Hitungan untuk nilai penurunan Se(1) memakai Persamaan 2.36 :
(𝑄𝑝 + 𝜉 𝑥 𝑄𝑠) 𝑥 𝐿
Se(1) = 𝐴𝑝 𝑥 𝐸𝑝
Se(1) = 0,015 m
Se(2) = 0,005 m
85
3. Hitungan untuk Iws memakai Persamaan 2.40 :
Es = 2000 kN/m2
𝑄𝑝 𝐷
Se(3) = 𝑃 𝑥 𝐿 x 𝐸𝑠 x (1 - 𝜇s2)Iws
𝐿
Iws = 2 + 0,35 √𝐷
18
Iws = 2 + 0,35 √0,25
Iws = 4,96 m
Se(3) = 0,004 m
4. Hitungan untuk total penurunan elastis yang terjadi Se(total) memakai Persamaan
2.34 :
Se(total) = Se(1) + Se(2) + Se(3)
Se(total) = 0,015 + 0,005 + 0,004
Se(total) = 0,024 m
86
4.10.2. Penurunan Elastis Pada Fondasi Mini Pile Kelompok (Pile Group)
Tampak atas pada Pile Cap P5 Perhatikan Gambar 4.9 :
Diketahui :
Se(total) = 0,024 m
T = 1,3 m
A = 0,25 m
Jawaban :
Untuk analisa penurunan fondasi kelompok menggunakan Persamaan 2.44 :
𝐵𝑔
Sg = √ 𝐷 x Se(total)
1,3
Sg = √0,25 x 0,024
Sg = 0,056 m
Jadi, untuk nilai total penurunan elastis untuk tiang kelompok fondasi Mini Pile
pada pilecap P5 adalah 0,056 m.
87
4.10.3. Analisa Penurunan Pada Fondasi Bored Pile
Berdasarkan metode Vesic (1977), untuk penurunan elastis pada fondasi Bored Pile
tunggal dapat dihitung memakai Persamaan 2.34 :
L = 18 m
D = 0,3 m
Fc’ = 29,05 Mpa
Ap = 0,07 m2
E = 4700√29,05
E = 25332084 kN/m2
Untuk mencari nilai factor empiric pada tahanan selimut tiang berdasarkan
Persamaan 2.42. Dikarenakan jenis tanah lempung maka menggunakan Ɛ = 0,5.
Hitungan untuk nilai penurunan Se(1) memakai Persamaan 2.36 :
(𝑄𝑝 +(Ɛ 𝑥 𝑄𝑠) 𝑥 𝐿
Se(1) = 𝐴𝑝 𝑥 𝐸𝑝
Se(1) = 0,015 m
Se(2) = 0,007 m
88
3. Hitungan untuk nilai Iws memakai Persamaan 2.40 :
Es = 2000 kN/m2
𝑄𝑝 𝐷
Se(3) = 𝑃𝐿 x 𝐸𝑠 x ( 1- 𝜇s2)Iws
𝐿
Iws = 2 + 0,35 √𝐷
18
Iws = 2 + 0,35 √0,3
Iws = 4,71 m
Se(3) = 0,006 m
4. Hitungan untuk total penurunan elastis yang terjadi Se(total) memakai Persamaan
2.39 :
Se(total) = Se(1) + Se(2) + Se(3)
Se(total) = 0,015 + 0,007 + 0,006
Se(total) = 0,028 m
89
4.10.4. Penurunan Elastis Pada Fondasi Bored Pile Kelompok (Pile Group)
Tampak atas Pile Cap P5. Perhatikan Gambar 4.10.
Se(total) = 0,028 m
Bg = 1,3 m
D = 0,3 m
Jawaban :
Untuk analisa penurunan fondasi kelompok memakai Persamaan 2.44 :
𝐵𝑔
Sg = √ 𝐷 x Se(total)
1,3
Sg = √0,3 x 0,028
Sg = 0,058 m
Jadi, untuk nilai total penurunan elastis untuk kelompok tiang fondasi Bored
Pile pada pilecap P5 adalah 0,058 m.
90
4.11. Menganalisa Permodelan Pada Program AllPile V6.5E
Perangkat lunak Allpile merupakan sebuah software yang sering digunakan pada
dunia teknik sipil dalam merencanakan sebuah struktur fondasi yang diinginkan.
Data yang dibutuhkan pada software Allpile untuk dimasukkan dalam perhitungan
seperti data SPT tanah, sehingga software ini dapat menganalisa daya dukung
fondasi yang direncanakan. Berikut adalah suatu langkah-langkah dalam
memodelkan fondasi dengan program AllPile V6.5E dengan angka safety factor
dari metode perhitungan Reese & Wright (1977) :
1. Memilih tipe pile fondasi yang direncanakan setelah isi pada project file dan
menamakan judul yang sesuai yang dapat penjelasan. Perhatikan Gambar 4.11 :
91
Gambar 4.12 Input Pile
3. Untuk pengisian pada data fondasi yang di rencanakan Perhatikan menu pile
propoerties, perlu adanya data seperti bentuk dari fondasi, material pada fondasi,
tulangan fondasi, kendala pada fondasi dan ukuran fondasi. Perhatikan Gambar
4.13 :
92
Gambar 4.14 Hasil Input Pada Pile Properties
5. Selanjutnya pilih menu load and group untuk pengisiannya menggunakan data
pembebanan dari hasil perhitungan ETABS V.20 yaitu beban vertikal sebesar
2395,797 kN/m2 dan beban horizontal sebesar 100,285 kN/m2. Perhatikan Gambar
4.15 :
93
6. Untuk memasukan data pada soil properties digunakan data tanah dari data N-
SPT lapangan didaerah Gunung Pati, Kota Semarang. Data tanah tersebut kemudian
di input merujuk pada Gambar 4.16, serta untuk mengatur parameter pada tanah
setiap N-SPT. Perhatikan Gambar 4.17 :
94
7. Kemudian pilih menu advanced page kemudian masukkan data angka keamanan
yang di gunakan pada perencanaan sebesar 2,5. Maka hasil input bisa terlihat
Gambar 4.18 :
8. Setelah semua data di input telah selesai, maka jalankan program dengan pilih
menu vertical pada program, dan program akan segera menganalisa data-data yang
telah di masukkan. Perhatikan Gambar 4.19 :
95
Gambar 4.19 Hasil Analisa Vertikal Fondasi
96
4.12. Menganalisa Permodelan Pada Program Plaxis V8.6
Program PLAXIS yaitu program untuk teknik sipil terpusat untuk menganalisis di
bidang geoteknik. PLAXIS secara umum digunakan untuk mengetahui dan
menganilisis deformasi dan stabilitas yang terjadi pada suatu fondasi, sehingga
program ini mampu dijadikan perbandingan untuk hasil analisis dengan cara
manual. Berikut adalah suatu langkah-langkah dan data data yang digunakan dalam
memodelkan fondasi dengan program Plaxis V8.6 :
Tabel 4.14 Parameter Tanah Plaxis
DEPTH N- E c Φ Kx Ky γsat γunsat
No v
(m) SPT (kN/m2) (kN/m2) (Phi) (m/day) (m/day) (kN/m3) (kN/m3)
1. 0-6 13,5 9000 13,70 25,10 8,640E+06 8,640E+06 0,35 16,69 11,25
2. 6-9 16,5 9000 13,30 27,27 8,640E+06 8,640E+06 0,35 16,92 16,02
3. 9 – 16 41 40000 10,90 29,35 8,640E+06 8,640E+06 0,20 10,25 16,26
4. 16 - 20 44 200000 12,50 30,36 1,00 1,00 0,10 16,40 11,93
Keterangan : Data-data parameter tanah diatas merupakan data yang diambil dari
hasil uji tanah Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang.
Dimana :
Fondasi Mini Pile
E = 4700 √𝑓𝑐 ′ = 4700√41,50 = 30277,632 Mpa
1 1
I = 2 x γ x r2 = 2 x 2400 x 0,252 = 75 m2
A = 0,0625 m2
EA = 30277632 x 0,0625 = 1892352 kN/m2
EI = 30277632 x 75 = 2270822400 kN/m2
A = 0,070 m2
EA = 25332084 x 0,070 = 1773246 kN/m2
EI = 25332084 x 108 = 2735865072 kN/m2
97
1. Tahapan pertama pada pengisian data ke dalam program plaxis yaitu isi terlebih
dahulu judul perhitungan dan penentuan satuan-satuan yang dipakai dalam
permodelan fondasi. Perhatikan Gambar 4.20 :
98
3. Kemudian setelah data dimensi di inputkan, tahap selanjutnya pilihlah untuk
mengatur bentuk dari pemodelan kontur tanah yang disusun. Perhatikan Gambar
4.22 :
4. Setelah pembuatan kontur tanah, lalu pilih untuk membuat dan menentukan
karakteristik material tanah yang digunakan. Perhatikan Gambar 4.23, 4.24.4.25
2.26 dan 2.27 :
99
Gambar 4.24 Pemodelan Material Tanah – Parameter
100
Gambar 4.26 Hasil Kumpulan Data Material
5. Setelah mengisi data material tanah, langkah input plat dan pile cap ke dalam
Plaxis, dengan cara pilih untuk memodelkan tiang dan pilecap Perhatikan
Gambar 4.28 :
101
Gambar 4.28 Hasil Input Tiang
6. Kemudian pilih pelat untuk memasukkan data tiang dan pile cap sesuai data
yang digunakan. Setelah itu, pilih untuk mengaktifkan tkenan positif dan
negatif pada daerah sekeliling fondasi yang digunakan. Perhatikan Gambar 4.29,
4.30, dan 4.31 :
102
Gambar 4.30 Hasil Kumpulan Data Material – Pelat
7. Setelah input pelat fondasi sudah selesai, tahap selanjutnya menginput beban
merata dengan cara pilih lalu masukkan beban yang terjadi. Untuk kali ini
beban yang digunakan sebesar 2396 kN/m2 sesuai hasil ETABS V20. Perhatikan
Gambar 4.32 dan 4.33 :
103
Gambar 4.32 Input Beban Merata
104
Gambar 4.34 Hasil Input Jepit Standar
105
10. Kemudian pilih untuk mengetahui hasil inputan sebelumnya, lalu
pilih untuk menginput berat jenis air dan kedalaman pada muka air tanah.
Muka air pada tanah terdapat jauh dari dasar lapisan tanah. Perhatikan Gambar 4.36
dan 4.37 :
11. Setelah input muka air dan berat jenis air, tahap selanjutnya pilih untuk
menghitung tekanan air pori yang terjadi. Lalu setelah selesai pilih .
Perhatikan Gambar 4.38 :
106
Gambar 4.38 Tampilan Tekanan Air Pori
geometri. Kemudian pilih untuk hitung tegangan awal. Lalu setelah selesai
pilih . Perhatikan Gambar 4.39 dan 4.40 :
107
Gambar 4.40 Tampilan Tegangan Tanah Awal
13. Setelah semua tahapan pengisian data pemodelan selesai, langkah selanjutnya
menginput perhitungan fondasi. Pada analisa perhitungan ini harus didapatkan
centang semua atau terdapat OK pada hasil akhir. Perhatikan Gambar 4.41 dan 4.42
:
108
Gambar 4.42 Tampilan Hasil Deformasi
109
4.13. Hasil dan Pembahasan
4.13.1 Hasil daya dukung tiang tunggal fondasi Mini Pile dan Bored Pile
Setelah dilakukan perhitungan secara manual maka diperoleh nilai yang paling
aman. Hasil untuk hitungan daya dukung tiang tunggal lebih aman dan efisien
memakai fondasi Mini Pile daripada fondasi Bored Pile. Perhatikan Tabel 4.15 :
Tabel 4.15 Hasil Daya Dukung Tiang Tunggal Fondasi Mini Pile dan Bored Pile
Jenis Qp (kN) Qs (kN) Qult (kN) Qall (kN)
Metode Titik L (m) 𝐐𝐮𝐥𝐭
Pondasi (qp x Ap) (fs x As) (Qp + Qs) (
𝐒𝐅
)
Converse
Mini Pile Labarre 676 3 0,786 2407,965 2691,889 AMAN
formula
Converse
Bored Pile Labarre 676 3 0,772 2407,965 2643,941 AMAN
formula
110
4.13.3. Hasil analisa perhitungan daya dukung lateral
Setelah dilakukan perhitungan secara manual maka diperoleh nilai yang paling
aman. Hasil untuk hitungan daya dukung lateral lebih kuat memakai fondasi Mini
Pile daripada fondasi Bored Pile. Perhatikan Tabel 4.17 :
Tabel 4.17 Hasil Daya Dukung Lateral Fondasi Min Pile dan Bored Pile
Daya Dukung Lateral Daya Dukung Lateral
Jenis Kelompok (Hugroup)
Metode Titik Tunggal (Husingle)
Fondasi 𝑴𝒚 (250 = 𝑲𝒑 𝒙𝑯𝒖 )
( 𝟒 )𝑫 𝒙 𝛄 𝒙 𝑲𝒑 𝛄 𝒙 𝑫𝟑
111
112
BAB V
KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan
Hasil hitungan dari analisa pembangunan Gedung Fakultas Farmasi Universitas
Wahid Hasyim Semarang dapat disimpulkan hasilnya sebagai berikut :
1. Hasil analisa hitungan beban maksimum Gedung Fakultas Farmasi Universitas
Wahid Hasyim Semarang dan penambahan beban Pilecap hasilnya sebesar
2407,965 kN pada joint 676.
2. Hasil analisa hitungan kapasitas daya dukung tiang tunggal fondasi Mini Pile
dengan metode Reese & Wright (1977) sebesar 1199,700 kN dan Meyerhof
(1976) sebesar 1200,417 kN. Sedangkan, fondasi Bored Pile dengan metode
Reese & Wright (1977) sebesar 1141,598 kN dan Meyerhof (1976) sebesar
1191,387 kN.
3. Hasil analisa hitungan kapasitas daya dukung tiang kelompok fondasi Mini Pile
dengan metode Converse Labarre-Formula sebesar 2691,889 kN dan fondasi
Bored Pile sebesar 2643,941 kN.
4. Hasil analisa hitungan penurunan tiang tunggal fondasi Mini Pile dengan metode
Vesic (1997) sebesar 0,024 m dan software AllPile V6.5E sebesar 0,026 m.
Sedangkan, fondasi Bored Pile dengan metode Vesic (1997) sebesar 0,028 m dan
software AllPile sebesar 0,027 m.
5. Hasil analisa hitungan penurunan tiang kelompok fondasi Mini Pile dengan
metode Vesic (1997) sebesar 0,056 m dan software Plaxis V8.6 sebesar 0,054 m.
Sedangkan, fondasi Bored Pile dengan metode Vesic (1997) sebesar 0,058 m dan
software Plaxis V8.6 sebesar 0,055 m.
6. Hasil analisa perbandingan daya dukung dan penurunan fondasi memakai
metode manual dan program didapatkan hasil yang hampir sama dan memiliki
selisih yang tidak terlalu jauh antara fondasi Mini Pile dengan Bored Pile, namun
pada fondasi Mini Pile memiliki efisiensi lebih dari fondasi Bored Pile.
Perbedaan daya dukung dan penurunan fondasi bisa disebabkan dikarenakan
penggunaan jenis metode berbeda dan juga diameter dan dimensi dari tiang.
5.2. Saran
Dari hasil analisis dalam mengerjakan Tugas Akhir memakai judul Analisa
Perbandingan Daya Dukung dan Penurunan Fondasi Mini Pile dengan Bored Pile
Pada Gedung Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang perlu analisis
lebih lanjut dengan saran sebagai berikut :
1. Pada saat menghitung daya dukung dan penurunan fondasi baik dengan manual
ataupun software perlu diperhatikan data-data yang harus digunakan, seperti data
penyelidikan tanah.
2. Dalam analisis hitungan daya dukung fondasi dengan metode Reese & Wright
(1977) dan Meyerhof (1976), perlu diperhatikan untuk jenis tanah yang
digunakan dan penggunaan rumus perhitungannya, dikarenakan beberapa
referensi terdapat perbedaan rumus dengan metode yang sama dan juga jenis
tanah yang sama.
3. Analisis perhitungan manual bertujuan untuk mengetahui proses penurunan
yang terjadi terhadap fondasi. Sedangkan, perhitungan dengan software Plaxis
V8.6 dan AllPile V6.5E bertujuan untuk memudahkan dalam menganalisis
penurunan fondasi. Perlu diteliti pada saat memasukkan data-data parameter
tanah supaya hasil penurunan secara software tidak jauh berbeda dengan
perhitungan manual.
4. Dalam perhitungan penurunan menggunakan software lebih baik menggunakan
Plaxis 3D daripada Plaxis 2D.
5. Dalam melakukan analisis fondasi ini diperlukan ketelitian dan pemahaman
materi
113
114
DAFTAR PUSTAKA
Aprilita, F., Lindawati, L., & Azwar, A. (2022). Analisa Daya Dukung Pondasi
Tiang Pancang Pada Proyek Stadion Tipe B. Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil,
1(1), 49–59.
Badan Standarisasi Nasional. 2019. SNI 1726:2019 Tata Cara Perencanaan
Ketahanan Gempa untuk Struktur Banfunan Gedung dan Non-Gedung. Jakarta.
Badan Standarisasi Nasional. 2020. SNI 1727:2020 Desain Beban Minimum dan
Kriteria Terkait untuk Bangunan Gedung dan Struktur Lain. Jakarta.
Buana, B. 2020. Perencanaan Pondasi Gedung Fakultas Teknik Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Semarang. Program Studi Teknik Sipil Universitas
Islam Sultan Agung Semarang.
Bogeman, M. L. 1965. Teknologi Mekanika. Jakarta: Erlangga.
Bowless, J. E. 1997. Analisa dan Desain Pondasi Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Bowless, J. E. 1991. Sifat-sifat Fisik dan Geoteknik Tanah. Jakarta : Erlangga.
Das, B. M. 1991. Principle of Foundation Engineering Fourth Edition. California
State University : Sacramento.
Das, B. M. 1995. Mekanika Tanah (Prinsip-prinsip Rakayasa Geoteknik).
Indonesia : Airlangga.
Das, B.M. 2011. Principle of Foundation Engineering edisi 7. Cengange Learning,
Stamford USA.
Dicky, Chiko, dan Defran. 2022. Analisa Daya Dukung Dan Penurunan Seketika
Fondasi Mini Pile Pada Gesung Fraksi DPRD Kudus. Program Studi Teknik
Sipil Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
Fauzi, Allam, dan Rahmad, 2021. Analisa Daya Dukung Dan Penurunan Podasi
Bored Pile Pada Tanah Lunak Tambah Lorok. Program Studi Fakultas Teknik
Sipil Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
Hardiyatmo, H. C. 1996. Teknik Pondasi I. Jakarta: P.T Gramedia Pusat Utama,
Hardiyatmo, H. C. 2002. Mekanika Tanah I Edisi 3. Jakarta: P.T Gramedia Pusat
Utama,
Hardiyatmo, H. C. 2011. Analisis dan Perencanaan Fondasi Bagian Edisi 2.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
H. G Poulos dan E. H. Davis. 1980. Pile Foundation Analysis and Design. John
Wiley and Sons, New York.
http://rsa.ciptakarya.pu.go.id/2021/
K.A, Muhammad Fajar dan Supriyono, 2014. Analisa Pondasi Bored Pile dan
Tiang Pancang Ditinjau dari Daya Dukung dan Penurunan (Studi Kasus :
Jembatan Kali Putih Jalan Tol Salatiga-Boyolali Seksi IV). Fakultas Teknik
Sipil Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Semarang.
Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Direktorat Jendral Bina
Marga. 2019. Kumpulan Korelasi Parameter Geoteknik dan Fondasi. Jakarta.
Laksogo, Patik dan Aditya, Pupung Fitra, 2015. Analisa Daya Dukung dan
Penurunan Pondasi Bored Pile pada Proyek Rumah Susun Sewa Universitas
Ilam Sultan Agung Semarang. Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Sultan
Agung Semarang, Semarang.
Maciej Serda, Becker, dan F. G., Cleary. 2017. Analisa Penurunan Bangunan
Pondasi Tiang Pancang Dan Rakit Pada Proyek Pembangunan Apartement
Surabaya Central Business District. Jurnal Karya Teknik Sipil, 6(2), 166–179.
Meyerhof, G.G. 1965. Shallow Foundation. Journal of The Soil Mechanics and
Foundations Devision. ASCE. Vol. 91. No. SM2. Pp 21-23.
Meyerhof, G.G. 1963. Bearing Capacity and Settlement of Pile Foundations. ASCE
Journal of Geotechnical Engineering. Div. Vol102, No.GT3, pp.197-228.
Riswaka, 2001. Farmasi, Farmasis, dan Farmasi Sosial. Jurnal Majalah Farmasi
Indonesia, 12(3), 128-134.
Terzaghi, K. 1943. Theoritical Soil Mechanics. New York.
Tomlinson, M., and Wordward, J. 2015. Pile Design Construction Practice 6th ed.
CRC Press Taylor & Francis Group Press Book. London, New York.
Vesic, A. S. 1977. Design of Pile Foundation. NCHRRP Synthesis not Practice,
No.42. Transportation Research Board. Washington DC.
115