Teknik Sipil 30202000203 Fullpdf
Teknik Sipil 30202000203 Fullpdf
Disusun Oleh :
1
MOTTO
Aku tidak sebaik yang kau ucapkan, tapi aku juga ridak seburuk apa yang terlintas
di dalam hatimu (Ali bin Abi Thalib).
Sungguh ada banyak hal di dunia ini yang bisa jadi kita susah payah
menggapainya, memaksa ingin memilikinya, ternyata kuncinya dekat sekali:
cukup dilepaskan, maka dia datang sendiri. Ada banyak sekali masalah di dunia
ini yang bisa jadi kita mati-matian menyelesaikannya, susah sekali jalan keluanya
ternyata cukup diselesaikan dengan ketulusan, dan jalan keluar atas masalah itu
hadir seketika (Tere Liye).
vi
PERSEMBAHAN
Alhamdulillah, puji Syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga penulis bisa menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini.
Laporan Tugas Akhir ini penulis persembahkan untuk :
1. Untuk kedua orang tua saya Bapak Muhammad Safii dan Ibu Ika Yuli Kartika
yang tak pernah lupa untuk memberikan doa untuk kelancaran studi saya, yang
senantiasa memberikan saya support dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini
dengan lancar.
2. Kakak saya Zulfa Nisaul Lathifah dan adik saya Muhammad Rayhan Alfarizi
yang telah mendukung saya selama ini
3. Ibu Dr. Henny Pratiwi Adi, ST., MT serta Bapak Prof. Dr. Ir H. Slamet Imam
Wahyudi, DEA yang telah berkenan membimbing kami dari awal hingga akhir
laporan ini dibuat.
4. Muhammad Sofwan Imron, teman spesial saya yang telah bersedia menjadi
tempat berkeluh kesah dan selalu memberikan saya motivasi untuk segera
menyelesaikan Tugas Akhir ini, yang menemani dan selalu meluangkan
waktunya untuk saya. Terimakasih sudah membersamai saya selama ini.
5. Wahyu Widyastuti, selaku teman dan partner Tugas Akhir saya yang telah
berjuang bersama-sama untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini.
6. Kepada Anastya Nuvi, Tiara Azkia, dan Yassinta Fadhilla yang telah
menemani saya dalam mengerjakan Tugas Akhir ini.
7. Teman – Teman Program Studi Teknik Sipil Unissula yang sudah banyak
membantu dan menyemangati selama proses pembuatan Tugas Akhir.
8. Terakhir, terima kasih kepada diri sendiri, karena telah berusaha keras dan
berjuang sejauh ini. Mampu mengendalikan diri dari berbagai tekanan dan tak
mudah putus asa dalam penyusunan Tugas Akhir ini. Terimakasih sudah
berusaha sebaik dan semaksimal mungkin menyelesaikan studi ini.
NIM : 30202000177
vii
PERSEMBAHAN
Alhamdulillah, puji Syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga penulis bisa menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini.
Laporan Tugas Akhir ini penulis persembahkan untuk :
1. Untuk kedua orang tua saya Widanarto dan Sri Wahyuni yang hebat dan selalu
menjadi penyemangat saya. Yang tidak henti-hentinya memberikan kasih sayang
dengan penuh cinta dan selalu memberikan motivasi. Terimakasih untuk berkat dan
doa mama dan papa kepada saya hingga saya bisa berada di fase ini. Sehat selalu
karena mama dan papa harus selalu ada di setiap perjalanan hidup saya.
3. Ibu Dr. Henny Pratiwi Adi, ST., MT serta Bapak Prof. Dr. Ir H. Slamet Imam
Wahyudi, DEA yang telah berkenan membimbing kami dari awal hingga akhir
laporan ini dibuat.
4. Sahabat-Sahabat saya Dragon Famili, Geng Wiwik, dan Geng Bercanda yang
telah memberi dukungan moril sehingga laporan ini bisa terselesaikan.
5. Kepada Vitra Lazuardi Fakhruddin yang telah menjadi rumah untuk pulang,
menemani dan selalu mendengarkan keluh kesah saya, dan memberikan dukungan
kepada saya. Terimakasih karena sudah bersedia menemani dan mendukung saya
hingga saat ini.
6. Teman – Teman Program Studi Teknik Sipil Unissula yang sudah banyak
membantu dan menyemangati selama proses pembuatan Tugas Akhir.
7. Terakhir, terima kasih untuk diri sendiri, karena sudah mau diajak berjuang dan
berusaha sejauh ini. Tugas Akhir ini merupakan pencapaian yang patut
dibanggakan untuk diri sendiri
Wahyu Widyastuti
NIM : 30202000203
viii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan segala rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas
Akhr dengan judul “Analisis Kelayakan Ekonomi Teknik Penanganan Kekeringan
Di Kabupaten Rembang (Studi Kasus Suplesi Air Dari Bendung Kedungsapen Ke
IPA Pentil)” guna memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknik Program Studi Teknik Sipil pada Fakultas Teknik Universitas Islam
Sultan Agung.
1. Bapak Muhammad Rusli Ahyar, ST., M.Eng selaku Ketua Program Studi Teknik
Sipil Unissula yang telah memberikan kelancaran pelayanan dalam urusan
akademik.
2. Ibu Dr. Henny Pratiwi Adi, ST., MT selaku dosen Pembimbing Utama yang
selalu memberikan waktu bimbingan dan telah memberikan arahan serta
dorongan dalam penulisan Tugas Akhir ini.
3. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Slamet Imam Wahyudi, DEA selaku dosen Pembimbing
Pendamping yang selalu memberikan waktu bimbingan dan telah memberikan
arahan serta dorongan dalam penulisan Tugas Akhir ini.
4. Seluruh Dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Islam Sultan Agung yang
telah memberikan ilmunya kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih banyak kekurangan baik isi maupun
susunannya. Semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat tidak hanya bagi penulis juga bagi
para pembaca.
Penulis
ix
DAFTAR ISI
x
2.7 Ekonomi Teknik .............................................................................16
2.7.1 Biaya ......................................................................................17
2.7.2 Manfaat ..................................................................................18
2.7.3 Membandingkan Analisis Investasi .......................................19
2.8 Tinjauan Penelitian Sebelumnya ....................................................21
BAB III METODE PENELITIAN.........................................................................29
3.1 Bentuk Penelitian ...............................................................................29
3.2 Metode Pengumpulan Data ................................................................29
3.2.1 Data Primer ..............................................................................29
3.2.2 Data Sekunder ..........................................................................29
3.3 Variabel Penelitian .............................................................................30
3.3.1 Kebutuhan Air Baku ................................................................30
3.3.2 Biaya ........................................................................................30
3.3.3 Manfaat ....................................................................................31
3.4 Metode Pengolahan Data ...................................................................31
3.5 Metode Analisis Data .........................................................................33
3.6 Bagan Alir Penelitian .........................................................................35
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...............................................................36
4.1 Lokasi Penelitian ................................................................................36
4.2 Peta Bendung Kedungsapen ...............................................................38
4.3 IPA Pentil Gunungsari .......................................................................39
4.4 Desain Pompa Suplesi Air..................................................................40
4.5 Desain Pipa Suplesi Air......................................................................41
4.6 Perencanaan Jaringan Pipa .................................................................42
4.7 Perhitungan RAB ...............................................................................46
4.7.1 Perhitungan Volume.................................................................46
4.7.1.1 Pekerjaan Galian........................................................47
4.7.1.2 Pekerjaan Urugan ......................................................47
4.7.1.3 Pekerjaan Pemasangan Batu Kali ..............................48
4.7.1.4 Pekerjaan Acian .........................................................48
4.7.2 Daftar Harga Satuan Bahan Dan Upah ....................................49
4.7.3 Analisis Harga Satuan Pekerjaan .............................................50
xi
4.7.4 Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya ....................................52
4.8 Analisis Biaya ..................................................................................52
4.8.1 Biaya Modal .............................................................................53
4.8.2 Biaya Operasional Dan Pemeliharaan ......................................54
4.9 Analisis Manfaat ..............................................................................55
4.9.1 Tangible Benefit .......................................................................55
4.9.2 Intangible Benefit .....................................................................56
4.10 Analisis Ekonomi Teknik ..............................................................57
4.10.1 Net Present Value ...................................................................59
4.10.2 Benefit Cost Ratio ..................................................................59
4.10.3 Internal Rate Of Return ..........................................................59
4.11 Analisis Sensitivitas .......................................................................63
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................74
5.1 Kesimpulan ......................................................................................74
5.2 Saran ................................................................................................75
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................76
LAMPIRAN ...........................................................................................................79
xii
DAFTAR TABEL
xiii
DAFTAR GAMBAR
xiv
ABSTRAK
Kekeringan yang melanda Kabupaten Rembang menyebabkan sebagian besar
kawasan Kabupaten Rembang mengalami kekurangan air, terutama Kecamatan
Sumber dan Kecamatan Kaliori. Perlu adanya inovasi untuk mengalirkan air dari
sumber air menuju lokasi, yaitu adanya bangunan suplesi air dari Bendung
Kedungsapen ke IPA Pentil. Penelitian ini untuk menganalisis studi kelayakan
rencana pembangunan suplesi air dari Bendung Kedungsapen ke IPA Pentil.
Tahapan analisis yang dilakukan meliputi pembuatan desain, perhitungan biaya,
perhitungan manfaat tangible dan intangible, perhitungan NPV,BCR,IRR dan
analisis sensitivitas.
Berdasarkan hasil perhitungan rencana anggaran biaya (RAB) untuk proyek
pembangunan suplesi air sebesar Rp. 26.905.951.646. Analisis biaya dan manfaat
selama 20 tahun dengan tingkat suku bunga 9%, nilai PV Cost sebesar Rp.
17.833.176.895 dan PV Benefit sebesar Rp. 19.604.313.720. Didapat nilai NPV
sebesar Rp. 1.771.136.825, BCR sebesar 1,099, IRR sebesar Rp. 11,109%. Analisis
sensitivitas pada kondisi biaya tetap, manfaat naik 10% sebesar Rp.3.732.225.644,
pada kondisi biaya naik 10% manfaat tetap sebesar (-Rp. 12.180.865), lalu pada
kondisi biaya tetap manfaat turun 10% sebesar (-Rp. 189.294.547). Maka dari
parameter analisis ekonomi dapat disimpulkan bahwa proyek perencanaan
pembangunan suplesi air dari Bendung Kedungsapen menuju IPA Pentil layak
dilaksanakan.
Kata Kunci: suplesi air;manfaat;biaya;NPV;BCR;IRR;analisis sensitivitas
xv
ABSTRACT
The drought that currently Rembang Regency has caused most areas of Rembang
Regency to experience water shortages, especially Sumber and Kaliori sub-districts.
Need for innovation to drain water from water sources to locations, namely the
existence a water supply building from Kedungsapen Dam to Pentil IPA. This
research analyze feasibility study of water supply development plan from
Kedungsapen Dam to Pentil IPA.
The stages of analysis include design, cost calculation, calculation tangible and
intangible benefits, calculation NPV, BCR, IRR and sensitivity analysis.
Based on the results of calculation the cost budget plan (RAB) for the water
supply construction project amounted to Rp. 26,905,951,646. Analysis of costs and
benefits for 20 years with interest rate of 9%, the PV Cost value is Rp.
17,833,176,895 and PV Benefit is Rp. 19,604,313,720. NPV value of Rp.
1,771,136,825, BCR of 1.099, IRR of Rp. 11.109%. Sensitivity analysis under fixed
cost conditions, the benefits increase by 10% by Rp. 3,732,225,644, under the
condition of 10% increase costs the benefits remain at (-Rp. 12,180,865), then
under fixed cost conditions the benefits decrease by 10% by (-Rp. 189,294,547). So
from economic analysis parameters it be concluded that planning project the
construction water supply from Kedungsapen Dam to Pentil IPA is feasible.
Keywords: water supply; benefits; costs; NPV; BCR; IRR; sensitivity analysis
xvi
BAB I
PENDAHULUAN
Di Indonesia, sumber air bersih dapat diperoleh dengan berbagai macam cara,
tergantung kondisi geografisnya. Sebagian besar masyarakat menggunakan air yang
bersumber dari air tanah, baik air tanah dangkal maupun air tanah dalam. Akan tetapi,
masyarakat yang hidup di pedesaan maupun di perkotaan kesulitan untuk mendapatkan
air bersih (Khairunnisa, 2012). Kebutuhan akan air bersih semakin lama semakin
meningkat sesuai dengan perkembangan jumlah penduduk dan kenaikan taraf hidup
masyarakat. Upaya dalam pemenuhan kebutuhan air, khususnya air minum di suatu
daerah penyediaan air tanah selalu dikaitkan dengan kondisi air tanah yang sehat,
murah, dan tersedia dalam jumlah yang sesuai kebutuhan (Santosa & Adji, 2006).
Pemanfaatan air sebagai air bersih dan air minum, tidak dapat dilakukan secara
langsung, akan tetapi membutuhkan proses pengolahan terlebih dahulu. Pengolahan
dilakukan agar air tersebut dapat memenuhi standar sebagai air bersih maupun air
minum. Faktor kualitas air baku sangat menentukan efisiensi pengolahan. Faktor-faktor
kualitas air baku dapat meliputi warna, kekeruhan, pH, kandungan logam, kandungan
zat-zat kimia. Untuk melakukan proses pengolahan tersebut dibutuhkan suatu instalasi
yang sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang diinginkan (Hastutiningrum, 2017).
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) merupakan perusahaan yang melayani
1
kebutuhan air minum, dan IPA Pentil merupakan salah satu instalasi yang mengolah air
minum.
Wilayah Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah, merupakan salah satu daerah
yang beberapa wilayahnya mengalami kekeringan. Kabupaten Rembang berbatasan
dengan Laut Jawa di utara, dan daerah Jawa Timur. Secara geografis terletak di ujung
timur laut Provinsi Jawa Tengah dan dilalui Jalan Pantai Utara Jawa (Jalur Pantura).
Terletak pada garis koordinat 111o 00′ – 111o 30′ Bujur Timur dan 6o 30′ – 7o 6′ Lintang
Selatan. Kabupaten Rembang memiliki luas 101.408 hektar yang terbagi dalam 14
kecamatan, 287 dusun, dan 7 kelurahan.
2
Bendung Kedungsapen menuju IPA Pentil untuk ditampung yang berguna untuk
menunjang kebutuhan air untuk penduduk, lahan pertanian, dan lahan perkebunan.
3
1.4 Batasan Masalah
Batasan masalah penyusunan tugas akhir ini adalah :
1) Pada penelitian ini membahas tentang analisis kelayakan ekonomi pembangunan
suplesi air untuk ketersediaan air dan mencegah kekeringan
2) Lokasi penelitian ini dibatasi pada pembangunan suplesi air dari Bendung
Kedungsapen ke IPA Pentil di Kabupaten Rembang
BAB V PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan dan juga saran yang ada dalam penelitian
tersebut.
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kekeringan
Kekeringan adalah salah satu jenis bencana alam yang kompleks dan ditandai
dengan kekurangan air berkepanjangan. Kekeringan terjadi secara perlahan (slow on-
set) dengan durasi sampai dengan musim hujan tiba, serta berdampak sangat luas dan
bersifat lintas sektor (ekonomi, sosial, kesehatan, dan pendidikan) (IRBI, 2015).
Kekeringan dapat disebabkan karena suatu wilayah tidak mengalami hujan atau
kemarau dalam kurun waktu yang cukup lama atau curah hujan di bawah normal,
sehingga kandungan air di dalam tanah berkurang atau bahkan tidak ada. Menurut
Indarto et al., (2014) pada umumnya bencana kekeringan tidak dapat diketahui
mulainya, namun dapat dikatakan bahwa kekeringan terjadi saat air yang ada sudah
tidak lagi mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Kerusakan lahan dan dampak
kerugian yang diakibatkan oleh kejadian kekeringan sangat luas dan nilai ekonomi
kerugian cukup besar.
Kekeringan dapat diklasifikasikan berdasarkan karakteristik dan dampak yang
ditimbulkan. Secara spesifik terdapat empat tipe kekeringan (Wilhite, 2010) yaitu:
1. Kekeringan Meteorologi
Kekeringan jenis ini mengacu pada kurangnya curah hujan bila dibandingkan
dengan kondisi rata-rata, dalam periode waktu yang lama. Intensitas kekeringan
menurut definisi meteorologi.
2. Kekeringan Pertanian
Kekeringan pertanian didefinisikan sebagai penurunan dari ketersediaan
kelembaban tanah di bawah level optimal yang diperlukan oleh tanaman padi
untuk setiap tahap pertumbuhannya dan mengurangi hasil panen. Intensitas
kekeringan menurut definisi pertanian dinilai berdasarkan presentase luas daun
yang kering untuk tanaman padi.
5
3. Kekeringan Hidrologi
Kekeringan yang terjadi ketika menurunnya ketersediaan air di permukaan dan
bawah tanah akibat berkurangnya curah hujan, yang ditandai dengan
berkurangnya secara signifikan aliran air permukaan hingga mencapai kondisi di
bawah normal atau terhentinya pengisian air tanah
4. Kekeringan sosial-ekonomi
Kekeringan jenis ini terjadi bila terdapat gangguan pada aktivitas manusia akibat
menurunnya curah hujan dan ketersediaan air. Bentuk kekeringan sosialekonomi
menghubungan aktivitas manusia dengan elemen-elemen dari kekeringan
meteorologi, pertanian, dan hidrologi.
Menurut IRBI (2015) bahwa kekeringan dapat menimbulkan dampak yang amat
luas, kompleks, dan juga rentang waktu yang panjang setelah berakhirnya kekeringan.
Dampak yang luas dan berlangsung lama tersebut disebabkan karena air merupakan
kebutuhan pokok dan vital seluruh mahluk hidup yang tidak dapat digantikan dengan
sumberdaya lainnya. Dampak pada sektor pertanian adalah terbatasnya air irigasi,
berkurangnya areal tanam, produktivitas lahan yang menurun, menyusutnya produksi
tanaman, serta berkurangnya pendapatan petani. Sementara itu dari segi sosial, bencana
kekeringan dapat menimbulkan perpecahan dan konflik yang meluas yang meliputi
konflik antar pengguna air dan antar pemerintah.
2.2 Air Bersih
Pesatnya pembangunan membuat air bersih menjadi sulit untuk didapatkan
dikarenakan adanya pencemaran air yang disebabkan oleh limbah industri, rumah
tangga, dan limbah pertanian. Akibatnya, air bersih menjadi barang langka (Damayanti,
2018). Menurut Permenkes No. 416/Menkes/PER/IX/1990, air bersih adalah air yang
digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan
dan dapat diminum apabila telah dimasak. Air bersih juga dipergunakan untuk
kebutuhan rumah tangga seperti untuk memasak, mencuci pakaian dan perlatan
memasak atau peralatan lainnya. Selain itu juga, air digunakan untuk keperluan
industri, pertanian, pemadam kebakaran, tempat rekreasi, transportasi, dan lain-lain
(Amaliah, 2018).
6
Di Indonesia ketentuan mengenai standar kualitas air bersih mengacu kepada
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 416 tahun 1990 tentang syarat-syarat dan
pengawasan kualitas air. Penyediaan air bersih di Indonesia untuk masyarakat
dilakukan masyarakat itu sendiri (sistem individual dan komunal) dan oleh pemerintah.
Kualitas air bersih penduduk, baik yang dihasilkan oleh sumber yang ada di masyarakat
ataupun oleh pemerintah sampai saat ini belum semuanya memenuhi syarat yang
ditentukan. Hal ini diperlukan sekali pengawasan dan pengontrolan atas kualitas air
bersih. Karena air bersih digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti minum,
memasak, mencuci dan lain-lain.
Menurut (Chandra, 2012) air yang diperuntukan bagi konsumsi manusia harus
berasal dari sumber yang bersih dan aman. Batasan-batasan sumber air yang bersih dan
aman tersebut, antara lain :
Sumber air merupakan komponen penting untuk penyediaan air bersih. Berikut
macam-macam sumber air permukaan (Norastina dan Effendi,2019), yaitu:
1. Air Sungai
Sumber air yang mengalir deras berpusat dari mata air di hulu, yang
membutuhkan kajian hidrologi karena sumber air tersebut memiliki sifat yang
fluktuatif merupakan definisi dari air sungai.
2. Mata Air
7
Air yang memiliki kualitas terbaik yang belum terkontaminasi dengan limbah
ataupun kotoran lainnya dan dapat digunakan secara langsung tanpa harus
melewati pengolahan disebut dengan air yang berasal dari mata air.
3. Bendungan/Embung
Sebuah bangunan yang dibangun untuk menjadi penghalang jalan air ataupun
digunakan untuk menampung air disebut dengan bendungan.
4. Air Sumur
Air tidak hanya berasal dari daerah tinggi saja tetapi air juga dapat berasal dari
dasaran tanah yang dalam disebut dengan air sumur
5. Air Hujan
Selain air sumur juga ada air yang berasal dari prepitasi penguapan air yang
menjadi awan selanjutnya jatuh ke bumi yang biasa dikenal dengan air hujan.
2.3 Kebutuhan Air Bersih
Kebutuhan air bersih yaitu banyaknya air yang dibutuhkan untuk memenuhi
kebutuhan air dalam kegiatan sehari-hari seperti mandi, mencuci, memasak, menyiram
tanaman dan lain sebagainya (Asmadi, Khayan and Kasjono, 2011).
Pada umumnya kebutuhan air bersih dibagi menjadi dua kategori yaitu
kebutuhan air domestik dan kebutuhan air non domestik. Dua kategori tersebut di
bedakan berdasarkan tujuan kebutuhan air itu sendiri. Adapun penjelasannya sebagai
berikut:
8
KATEGORI KOTA BERDASARKAN
NO URAIAN/ >1.000.000 500.000 s/d 100.000 s/d 20.000 s/d <20.000
KRITERIA 1.000.000 500.000 100.000
Kota Kota Besar Kota Kota Desa
Metropolitan Sedang Kecil
1 Konsumsi Unit >150 150-120 90-120 80-120 60-80
Sambungan Rumah
(SR) (ltr/org/hari)
2 Konsumsi Unit 20-40 20-40 20-40 20-40 20-40
Hidran Umum (HU)
(ltr/org/hari)
3 Faktor Hari 1.15-1.25 1.15-1.25 1.15-1.25 1.15-1.25 1.15-1.25
Maksimum *harian *harian *harian *harian *harian
4 Faktor Jam Puncak 1.75-2.0 1.75-2.0 1.75-2.0 1.75-2.0 1.75-2.0
*hari maks *hari maks *hari maks *hari *hari
maks maks
5 Jumlah jiwa per SR 5 5 5 5 5
(Jiwa)
6 Jumlah jiwa per HU 100 100 100 100-200 200
(Jiwa)
7 Sisa tekan di 10 10 10 10 10
penyediaan
distribusi (meter)
8 Jam operasi (jam) 24 24 24 24 24
9 Volume reservoir (% 15-25 15-25 15-25 15-25 15-25
max day demand)
10 SR:HU 50:50 s/d 50:50 s/d 80:20 70:30 70:30
80:20 80:20
Sumber: Kriteria Perencanaan Ditjen Cipta Karya Dinas PU, 1996.
9
2.3.2 Kebutuhan Air Non Domestik
Kebutuhan air bersih non domestik digunakan untuk beberapa kegiatan
(Muhammad Fahrisal,2019) yaitu:
a. Kebutuhan Komersial dan Industri
Kebutuhan air bersih untuk komersial meliputi kebutuhan air untuk kegiatan hotel,
pasar, perkantoran, pertokoan, restoran. Sedangkan kebutuhan air bersih untuk
industri biasanya digunakan untuk air pendingin, air pada boiler untuk pemanas,
bahan baku proses.
b. Kebutuhan Fasilitas Umum
Kebutuhan air bersih untuk fasilitas umum meliputi kebutuhan air untuk kegiatan
tempat – tempat ibadah, rekreasi, dan terminal.
c. Kebutuhan Institusional
Kebutuhan air bersih untuk institusional meliputi kebutuhan air untuk kegiatan
perkantoran, pendidikan atau sekolah.
Adapun standar kebutuhan domestik dapat dilihat pada Tabel 2.2 berikut.
10
Tabel 2.2 Standar dan Standar Kebutuhan Air Non Domestik
NO Fasilitas Pemakaian Air Satuan
(Non Rumah Tangga)
1 Asrama 120 Ltr/penghuni/hari
2 Taman kanak-kanak 10 Ltr/siswa/hari
3 Sekolah Dasar 40 Ltr/siswa/hari
4 SLTP 50 Ltr/siswa/hari
5 SMU/SMK dan lebih tinggi 80 Ltr/siswa/hari
6 Rumah Sakit 500 Ltr/tempat tidur
pasien/hari
7 Puskesmas 500-1000 Ltr/unit/hari
8 Puskesmas Pembantu 500-1000 Ltr/unit/hari
9 Posyandu 500 Ltr/unit/hari
10 Peribadatan 500-2000 Ltr/unit/hari
11 Kantor 100 Ltr/guru dan
pegawai/hari
12 Toko 100-200 Ltr/unit/hari
13 Rumah Makan 1000 Ltr/unit/hari
14 Hotel/Losmen 250-300 Ltr/unit/hari
15 Pasar 6000-12000 Ltr/unit/hari
16 Pabrik/Industri 60-100 Ltr/orang/hari
17 Pelabuhan/Terminal 10.000-20.000 Ltr/unit/hari
18 SPBU 5.000-10.000 Ltr/unit/hari
19 Pertamanan 25.000 Ltr/unit/hari
11
2.4 Bangunan Suplesi Air
Bangunan suplesi yaitu bangunan yang berfungsi mengalirkan air dari saluran
suplesi ke saluran pembawa atau ke sungai. (I Wayan Diasa,2017).
Bangunan suplesi ini akan dibangun untuk mengalirkan air dari bendung
Kedungsapen menuju ke IPA Pentil agar air yang dialirkan menuju IPA Pentil dapat
diolah menjadi air minum atau PDAM. Bangunan suplesi yang akan dibangun terdiri
dari pipa dan pompa.
12
Gambar 2.1 Peta Lokasi Bendung Kedungsapen
(Sumber : Google Maps)
Adapun foto Bendung Kedungsapen dapat dilihat pada Gambar 2.2 berikut.
13
perawatan kualitas air yang diinginkan sesuai standar mutu atau siap untuk dikonsumsi.
Water Treatment Plant (WTP) atau Instalasi Pengolahan Air (IPA) merupakan sarana
yang penting di seluruh dunia yang akan menghasilkan air bersih dan sehat untuk di
konsumsi. Biasanya bangunan atau konstruksi ini terdiri dari 5 proses, yaitu: koagulasi,
flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan desinfeksi.
1. Koagulasi
Pada proses koagulasi dalam Water Treatment Plant (WTP) atau Instalasi
Pengolahan Air (IPA) dilakukan proses destabilisasi partikel koloid, karena pada
dasarnya sumber air (air baku) biasanya berbentuk koloid dengan berbagai koloid
yang terkandung didalamnya. Tujuan proses ini adalah untuk memisahkan air
dengan pengotor yang terlarut didalamnya. Proses destabilisasi ini dapat dilakukan
dengan penambahan bahan kimia maupun dilakukan secara fisik dengan rapid
missing (pengadukan cepat), hidrolis (terjunan atau hydrolic jump), maupun secara
mekanis (menggunakan batang pengaduk).
2. Flokulasi
Proses flokulasi pada Water Treatment Plant (WTP) atau Instalasi Pengolahan Air
(IPA) bertujuan untuk membentuk dan memperbesar flok (pengotor yang
terendapkan). Disini dilakukan pengadukan lambat (slow mixing), aliran air disini
harus tenang. Untuk meningkatkan efisiensi biasanya ditambah dengan senyawa
kimia yang mampu mengikat flok-flok.
3. Sedimentasi
Proses sedimentasi menggunakan prinsip berat jenis, dan proses sedimentasi
dalam Water Treatment Plant (WTP) atau Instalasi Pengolahan Air (IPA)
berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel koloid yang sudah didestabilisasi
oleh proses sebelumnya (partikel koloid lebih besar berat jenisnya daripada air).
Pada masa kini proses koagulasi, flokulasi dan sedimentasi dalam Water
Treatment Plant (WTP) atau Instalasi Pengolahan Air (IPA) ada yang dibuat
tergabung menjadi sebuah proses yang disebut aselator.
4. Filtrasi
Dalam Water Treatment Plant (WTP) atau Instalasi Pengolahan Air (IPA) proses
14
filtrasi, sesuai dengan namanya bertujuan untuk penyaringan. Teknologi membran
bisa dilakukan pada proses ini, selain bisa juga menggunakan media lainnya
seperti pasir dan lainnya. Dalam teknologi membran proses filtrasi membran ada
beberapa jenis, yaitu: Multi Media Filter, UF (ultrafiltration) System, NF
(nanofiltration) sistem, MF (microfiltration) sistem, RO (reverse osmosis) sistem.
5. Desinfeksi
Setelah melewati proses filtrasi dan air bersih dari pengotor, ada kemungkinan
masih terdapat kuman dan bakteri yang hidup, sehingga diperlukan penambahan
senyawa kimia dalam Water Treatment Plant (WTP) atau Instalasi Pengolahan Air
(IPA) yang dapat mematikan kuman, biasanya berupa penambahan chlor,
ozonosasi, UV, pemabasan dll sebelum masuk ke konstruksi terakhir yaitu
reservoir.
IPA Pentil berlokasi di Dusun Pentil, Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori,
Kabupaten Rembang ini berada pada kecamatan yang mengalami kekeringan cukup
parah. Lokasi IPA Pentil Gunungsari dapat dilihat pada Gambar 2.3 berikut.
15
Adapun foto IPA Pentil Gunungsari dapat dilihat pada Gambar 2.4 berikut.
16
2.7.1 Biaya
Menurut Kuiper (1971), dalam penyelenggaraan proyek, semua biaya
dikelompokkan menjadi dua, yaitu biaya modal dan biaya tahunan.
a. Biaya Modal (Capital Cost)
Jumlah semua pengeluaran yang dibutuhkan mulai dari pra studi sampai proyek
selesai dibangun. Biaya modal sendiri terbagi menjadi dua yaitu, biaya langsung
(direct cost) dan biaya tak langsung (indirect cost).
Biaya Langsung (Direct Cost)
Merupakan biaya yang diperlukan untuk pembangunan suatu proyek.
Contoh :
Biaya galian dan timbunan
Biaya beton bertulang
Biaya Tak Langsung (Indirect Cost)
Biaya ini ada tiga komponen yaitu :
Kemungkinan / hal tak diduga (contingencies) dari biaya langsung. Biaya
untuk ini, biasanya merupakan suatu angka prosentase dari biaya
langsung
Biaya Teknik (engineering cost)
Biaya untuk pembuatan desain mulai dari studi awal, pra studi kelayakan,
studi kelayakan, biaya perencanaan da biaya pengawasan selama waktu
pelaksanaan konstruksi
Bunga (interest)
Dalam periode waktu dari ide sampai pelaksanaan fisik, bunga
berpengaruh terhadap biaya langsung, biaya kemungkinan dan biaya
teknik sehingga harus diperhitungkan.
b. Biaya Tahunan (Annual Cost)
Selama masa pemanfaatan, proyek masih memerlukan biaya sampai umur proyek
selesai. Biaya ini terdiri dari 3 komponen (Kodoatie,2009), yaitu:
Bunga
17
Biaya ini menyebabkan terjadinya perubahan biaya modal karena adanya
tingkat suku bunga selama umur proyek
Depresiasi
Depresiasi adalah turunnya/penyusutan suatu harga/nilai dari sebuah benda
karena pemakaian dan kerusakan benda itu
Biaya Operasi Pemeliharaan
Agar dapat memenuhi umur proyek sesuai yang direncanakan pada detail
desain maka diperlukan biaya untuk operasi dan pemeliharaan proyek tersebut
2.7.2 Manfaat
Menurut Pranoto (2001) dalam bukunya “Diktat Kuliah Ekonomi Rekayasa”
definisi dari manfaat atau benefit adalah kegunaan dan atau keuntungan setelah proyek
tersebut selesai dibangun. Atau hasil produk dari suatu proyek yang biasa dijual atau
dinikmati.
Sedangkan menurut Kodoatie (2001), manfaat dari suatu proyek dapat
diklasifikasikan menjadi :
a. Manfaat Langsung
Manfaat langsung adalah manfaat yang langsung dapat diperoleh dari suatu
proyek.
Contoh dari manfaat langsung ini adalah :
Pembangunan PLTA yang dapat menghasilkan listrik
Pembangunan jalan tol
Pembangunan bendungan untuk pengairan
b. Manfaat Tidak Langsung
Manfaat tidak langsung adalah manfaat yang baru dapat dirasakan setelah
beberapa waktu dari saat proyek tersebut selesai.
Contoh dari manfaat tidak langsung ini adalah :
Pembuatan jembatan yang membuat suatu daerah menjadi berkembang
industrinya
Pembuatan tanggul banjir yang dapat mengatasi banjir selama bertahun-
tahun, sehingga harga tanah di daerah tersebut naik.
18
2.7.3 Membandingkan Analisis-Analisis Investasi
Membandingkan alternatif yang digunakan untuk memberikan pengukuran hasil
efektivitas suatu alternatif investasi. Adapun metode yang digunakan antara lain
sebagai berikut:
a. Metode Payback Period
Menurut Kasmir dan Jakfar (2012) metode Payback Period (PP) merupakan teknik
penilaian terhadap jangka waktu (periode) pengembalian investasi suatu proyek atau
usaha. Analisis payback period dalam analisis kelayakan perlu ditampilkan untuk
mengetahui seberapa lama usaha atau kelompok yang dikerjakan baru dapat
mengembalikan investasi. Analisis payback period dihitung dengan cara menghitung
waktu yang diperlukan pada saat total arus kas masuk sama dengan total arus kas
keluar. Berdasarkan hasil analisis ini diharapkan terdapat alternatif dengan periode
yang lebih singkat. Penggunaan analisis ini hanya disarankan untuk mendapatkan
informasi tambahan untuk mengukur seberapa cepat pengembalian modal yang
diinvestasikan.
Rumus payback Period jika arus kas per tahun jumlahnya berbeda
(𝑎−𝑏)
Payback Period (PP) = n+ (𝑐−𝑏) x 1 tahun ............................ (2.1)
Rumus payback Period jika arus kas per tahun jumlahnya sama
𝑖𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖 𝑎𝑤𝑎𝑙
(PP) = x 1 tahun ............................................... (2.2)
𝑎𝑟𝑢𝑠 𝑘𝑎𝑠
19
𝑃𝑉
PI = ........................................................... (2.3)
𝐼
d. Depresiasi
Menurut Pujawan (2019:193) depresiasi adalah penyusutan atau penurunan dari
suatu nilai aset dikarenakan adanya waktu pemakaian. Faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya depresiasi adalah sebagai berikut:
1. Kerusakan akibat pemakaian dari suatu alat atau properti.
2. Kebutuhan produksi atau jasa yang terbaru dan lebih besar.
3. Penurunan jumlah produksi atau jasa.
4. Properti atau aset tersebut sudah usang dikarenakan semakin maju
perkembangan jaman.
20
5. Penemuan fasilitas yang lebih memadai dari segi keselamatan dan efisiensi.
Metode depresiasi garis lurus pada dasarnya diasumsikan bahwa berkurangnya
nilai suatu aset secara linier maupun proporsional terhadap waktu atau umur dari suatu
aset tersebut (Pujawan, 2019:196). Metode ini banyak dipakai karena perhitunganya
cukup sederhana. Untuk mengetahui besar depresiasi tiap tahun dengan metode SL
dihitung dengan rumus:
𝑃−𝑆
Dt = ............................................ (2.5)
𝑁
- Rumus NPV
𝐶𝐹𝑡
NPV = ∑𝑛𝑡=1 (1+𝑖)𝑡 − 𝐼0 ............................................ (2.6)
21
Tabel 2.3 Penelitian Sebelumnya
NO JUDUL PENULIS TUJUAN METODE HASIL
DAN
TAHUN
1 Analisa I Wayan Untuk mengetahui Menggunakan Suplesi system Pompa
Kelayakan Diasa biaya yang metode Hydram pada subak
Sistem (2017) dibutuhkan untuk kualitatif Banyumala mampu
Suplesi Air membangun suplesi meningkatkan satu kali pola
Irigasi dengan air tanam berupa padi atau
Pompa Untuk mengetahui palawija dimana sistem
Hidram apa saja manfaat pemberian air mengacu pada
yang didapatkan dari debit supply =65% debit
pembangunan kebutuhan air irigasi.
suplesi air tersebut Pembangunan Sistem Pompa
Menghitung Hydram cukup layak, dimana
kelayakan ekonomi berdasarkan analisa
teknik pembangunan kelayakan ekonomi proyek
suplesi air dengan intrest rate 12%
diperoleh komponen
kelayakan proyek adalah;
22
NPV adalah positif, BCR =
1.55 dan IRR = 17.1 %
23
2 Studi Agung Untuk mengetahui Menggunakan Masyarakat menyetujui
Kelayakan Retno bagaimana peresepsi metode dengan dibangunnya
Pembangunan Yudha masyarakat terhadap kualitatif Bendungan Bagong di
Bendungan (2022) pembangunan Kabupaten Trenggalek
Bagong Bedung Bagong Manfaat pertanian sebelum
Kabupaten Untuk mengetahui adanya Bendungan Bagong
Trenggalek biaya pembangunan meningkat 16,13%.
bendungan Bagong Debit rancangan Bendungan
Untuk mengetahui Bagong sebesar 153
kelayakan ekonomi liter/detik untuk menyediakan
teknik pembangunan kebutuhan air baku layak
Bendung Bagong untuk melayani
masyarakat Kecamatan
Pogalan, Bendungan dan
Trenggalek sampai tahun
2050 dengan debit paling
besar adalah sebesar
137,644 liter/detik
24
3 Pemanfaatan Saradisya Mengetahui Menggunakan Berdasarkan hasil
tampungan Habsari ketersediaan air metode perhitungan, perhitungan
Embung (2020) Embung Ngangkrik kualitatif kebutuhan air irigasi pola
Ngangkrik untuk memenuhi tanam Padi-PadiPalawija
untuk Suplesi kebutuhan air irigasi dengan masa awal tanam
Air Irigasi di di daerah irigasi dimulai dari November
Dusun Dusun Ngangkrik. periode I yang memiliki NFR
Ngangkrik Mengetahui maksimal terkecil sebesar
Desa Triharjo kebutuhan air yang 1,07 l/dt/ha.
Sleman diperlukan untuk Dari simulasi neraca air
irigasi setempat. dalam pemanfaatan
Mengetahui pola tampungan Embung
tanam dan awal Ngangkrik dapat mensuplesi
tanam yang sesuai air irigasi untuk pelayanan
untuk daerah irigasi 100% Areal Lahan Irigasi
Embung Ngangkrik. diperoleh nilai Persentase
Mengetahui Keandalan sebesar
keandalan Embung 75%,Pelayanan Areal Lahan
Ngangkrik dalam Irigasi dapat mensuplesi
memenuhi 100%. Sehingga dapat
kebutuhan air. dimanfaatkan untuk lebih dari
25
75% areal lahan irigasi, yaitu
24 hektar.
26
4 Analisis Eka Untuk mengetahui Menggunakan Hasil analisa sensitivitas
Kelayakan Maigusriani biaya yang metode bagus untuk mempertahankan
Ekonomi (2020) dibutuhkan untuk deskriptif kondisi NPV yaitu untuk
Pembangunan membangun embung kualitatif investasi mengalami
Embung Untuk mengetahui peningkatan mencapai 91%,
Bajul di manfaat dari benefit mengalami penurunan
Kabupaten pembangunan mencapai 46%, dan untuk
Buleleng embung cost mengalami peningkatan
Provinsi Bali Untuk mengetahui 144%, dan untuk suku bunga
kelayakan ekonomi naik hingga 11.32%.
teknik pembangunan Hasil analisa kelayakan
embung investasi pembangunan
Embung Bajul menunjukan
layak untuk diteruskan pada
semua alternatif analisa yang
dilakukan, karena pada
tingkat suku bunga sebesar
8% menunjukan indikator
kelayakan yaitu nilai NPV
positif, BCR lebih dari 1, nilai
IRR lebih besar dari 8%
27
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan adanya persamaan dengan penelitian
ini, yaitu penelitian ini membahas mengenai analisis kelayakan pembangunan suplesi
air di suatu daerah. Sedangkan perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya
yang sejenis adalah sebagai berikut:
Lingkup Objek, pada penelitian ini memiliki lingkup atau lokasi proyek
penelitian yang berbeda dengan yang dikerjakan sekarang. Penelitian pertama
dilakukan di Kota Singaraja. Penelitian kedua yaitu studi kelayakan pembangunan
bendungan di Kabupaten Trenggalek. Penelitian ketiga yaitu tentang embung untuk
suplesi air di Desa Triharjo Sleman. Penelitian keempat yaitu analisis kelayakan
ekonomi pembangunan embung di Kabupaten Buleleng. Studi kasus pada penelitian
yang sedang diteliti adalah analisis kelayakan ekonomi teknik penanganan kekeringan
di Kabupaten Rembang (Studi Kasus Suplesi Air dari Bendung Kedungsapen ke IPA
Pentil).
28
BAB III
METODE PENELITIAN
29
Data harga air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)
Data jumlah pelanggan yang menggunakan air dari IPA Pentil
Data Analisa Harga Satuan Pekerjaan Kabupaten Rembang
3.3 Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah objek penelitian atau yang menjadi suatu titik
perhatian suatu penelitian (Arikunto, 1998)
30
Setelah proyek dibangun dan beroperasi, maka manfaat akan didapat oleh
pemilik (owner) atau masyarakat. Manfaat adanya suplesi air dapat mengatasi
masalah kekeringan dan menyuplai kebutuhan air baku di Kecamatan Sumber dan
Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang. Manfaat yang diperoleh dari
pembangunan suplesi :
Tangible Benefit dari pembangunan suplesi air adalah harga air baku
PDAM
Intangible Benefit dari pembangunan suplesi air adalah mengatasi
kekeringan, kebutuhan air baku tercukupi, ekonomi pedesaan meningkat.
3.4 Metode Pengolahan Data
Untuk mengetahui tahapan pengolahan data pada penlitian ini dapat diliPhat
sebagai berikut :
1. Pembuatan Desain
Pembuatan desain dilakukan untuk merencanakan bangunan suplesi air berupa
pipa dan pompa yang akan digunakan. Pembuatan desain menggunakan
software Autocad, dengan mempertimbangkan kondisi topografi di
lapangan,dan kondisi hidrologis.
2. Perhitungan Biaya
Biaya dihitung dengan membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) berdasarkan
perencanaan yang telah dikerjakan. Perhitungan RAB disesuaikan dengan
pekerjaan dan bahan yang telah ditetapkan. Biaya yang dihitung meliputi
pembangunan pipa dan pompa. Pekerjaan yang dihitung dalam pembangunan
pipa dan pompa untuk suplesi yaitu, pekerjaan galian dan timbunan tanah,
pengukuran dan pemasangan bowplank, pekerjaan plesteran, pekerjaan
pembesian, pekerjaan bekisting, dan pemasangan pompa.
3. Perhitungan Manfaat
Manfaat dilihat dari proses analisis estimasi keuntungan yang didapatkan
berdasarkan perhitungan biaya dan manfaat dari bangunan tersebut. Benefit
analysis ada 2 yaitu, Tangible Benefit ( manfaat yang langsung berupa uang),
Intangible Benefit (manfaat yang tidak berupa uang). Perhitungan analisis
manfaat dengan memperhitungkan keuntungan yang didapat dari PDAM untuk
memenuhi permintaan pelanggan terkait dengan air baku.
31
4. Perhitungan Ekonomi Teknik
Perhitungan Ekonomi Teknik dalam penelitian ini dihitung berdasarkan:
Benefit Cost Ratio (BCR), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return
(IRR), Payback Periods (PP), dan Analisis Sensitivitas.
Benefit Cost Ratio (BCR)
Benefit cost ratio (BCR) adalah salah satu metode yang sering digunakan
dalam tahap-tahap evaluasi awal perencanaan investasi atau sebagai
analisis tambahan dalam memvalidasi hasil evaluasi yang telah dilakukan
dengan metode lainnya.
BCR = Bt/Ct .......................................................... (3.1)
Keterangan :
Bt = Benefit pada tahun ke-n
Ct = Biaya/ pengeluaran pada tahun ke-n
Net Present Value (NPV)
Net Present Value (NPV) menghitung nilai bersih (netto) pada waktu
sekarang (present). Asumsi present yaitu menjelaskan waktu awal
perhitungan bertepatan dengan saat evaluasi dilakukan atau pada periode
tahun ke-nol (0) dalam perhitungan cash flow investasi.
NPV = ∑ n Bt-Ct.................................................... (3.2)
Keterangan :
Bt = Benefit pada tahun ke-n
Ct = Biaya/ pengeluaran pada tahun ke-n
Internal Rate Of Return (IRR)
Internal Rate Of Return (IRR) menghitung nilai suatu cash flow investasi
pada tingkat suku bunga berubah/variable sama dengan nol.
𝑁𝑃𝑉1
IRR = i1 + (𝑁𝑃𝑉1−𝑁𝑃𝑉2) (i2-i1)................................. (3.3)
Keterangan :
I1 = Suku bunga memberikan nilai NPV positif
I2 = Suku Bungan memberikan nilai NPV negative
NPV 1 = NPV positif
NPV 2 = NPV negatif
Analisis Sensitivitas
32
Analisis sensitivitas merupakan suatu alat untuk menganalisis resiko
terhadap ketidakpastian yang mungkin dihadapi suatu proyek di masa
mendatang, untuk mengantisipasi perubahan berikut, kenaikan biaya
seperti biaya konstruksi, biaya bahan baku, produksi, penurunan
produktivitas, mundurnya jadwal pelaksanaan proyek.
3.5 Metode Analisis Data
Tahapan analisis data untuk menentukan kelayakan pembangunan suplesi air
dilihat dari hasil perhitungan :
Benefit Cost Ratio (BCR)
Untuk mengetahui apakah suatu rencana investasi layak ekonomis atau
tidak menggunakan metode BCR adalah :
BCR ≥ 1 berarti investasi layak (feasible),
BCR < 1 berarti investasi tidak layak (unfeasible)
Net Present Value (NPV)
Untuk mengetahui apakah rencana suatu investasi tersebut layak ekonomis
atau tidak, diperlukan suatu ukuran/kriteria tertentu dalam metode NPV,
yaitu :
NPV > 0 maka proyek tersebut mempunyai manfaat yang senilai
dengan biaya investasinya,
NPV < 0 maka proyek tersebut dari segi ekonomi tidak layak
dibangun.
Jika rencana investasi tersebut dinyatakan layak, maka direkomendasikan
untuk dilaksanakan investasi, namun jika tidak layak, maka rencana
tersebut tidak direkomendasikan untuk dilanjutkan. Tetapi, layak atau
tidaknya suatu rencana investasi belum keputusan akhir dari suatu
programinvestasi, sering pertimbangan-pertimbangan tertentu ikut pula
mempengaruhi keputusan yang diambil.
33
Tingkat pengembalian internal adalah tingkat suku bunga yang membuat
manfaat dan biaya mempunyai nilai yang sama (B-C = 0) atau tingkat suku
bunga yang membuat B/C = 1. Bila besarnya IRR ini sama dengan
besarnya bunga komersil yang berlaku maka proyek dikatakan tidak
menguntungkan, namun bila lebih besar dikatakan proyek ini
menguntungkan.
34
Berikut merupakan bagan alir penelitian yang akan dilakukan.
MULAI
Identifikasi Masalah
Pengumpulan Data
Pengolahan Data
Analisis Sensitivitas
Selesai
35
BAB IV
36
untuk pola tanam padi-padi-palawija. Bendung Kedungsapen memiliki tanggul
dengan elevasi ± 59,217 m, dan tinggi mercu bendung dengan elevasi ± 55,817 m.
Bendung Kedungsapen memiliki 3 pintu air yaitu pintu penguras lumpur, intake,
dan pintu penguras. Peta Bendung Kedungsapen dapat dilihat pada Gambar 4.2
sebagai berikut.
37
Gambar 4.2 Peta Bendung Kedungsapen
38
Adapun gambar mercu dan pintu air dari Bendung Kedungsapen dapat dilihat
pada Gambar 4.3 dan 4.4 berikut.
39
IPA Pentil Gunungsari memiliki elevasi ± 55,676 m. Adapun gambar IPA Pentil
Gunungsari dapat dilihat pada Gambar 4.5 berikut.
40
Gambar 4.6 Pompa Vertical Inline
d = 200 mm
Adapun gambar sambungan pipa HDPE dapat dilihat pada Gambar 4.8 berikut.
41
d = 5 mm
Jembatan 3
Jembatan 2
Jembatan 4
Jembatan 5
Jembatan 1
42
Pipa yang digunakan untuk jembatan menggunakan pipa HDPE (high density
polythene) diameter 200 mm. Detail struktur pipa jembatan secara detail dapat
dilihat pada Tabel 4.1 sebagai berikut.
Tabel 4.1 Detail Struktur Jembatan Pipa
Dari alur pipa di atas, dapat dibuat permodelan hidrolisis yaitu skema jaringan
pipa dari Bendung Kedungsapen ke IPA Pentil Gunungsari. Skema jaringan dibuat
menggunakan aplikasi EPANET. Skema jaringan pipa dapat dilihat pada Gambar
4.10 berikut.
43
Gambar 4.10 Skema Jaringan Pipa Suplesi Air
44
Setelah pemodelan selesai dibuat, maka tahap selanjutnya adalah menginput
data perencanaan ke dalam pemodelan, setelah melakukan penginputan maka
didapatkan output nodes dari pemodelan jaringan pada Tabel 4.2 berikut.
Berdasarkan output nodes di atas, didapat hasil bahwa debit air maksimum
yang dikeluarkan untuk distribusi air baku yaitu 35 l/dt, debit air maksimum pada
jam puncak yaitu 38,5 l/dt.
Adapun hasil output links EPANET dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut.
45
Tabel 4.3 Output Links
Berdasarkan output links , dapat dilihat bahwa hasil aliran air dalam pipa
yaitu konstan sebesar 38,5 l/dt, sedangkan kecepatan air dalam pipa yaitu 0,54
m/dt.
46
4.7.1.1 Pekerjaan Galian
Pada pekerjaan galian, dapat dihitung volume galian tanah yang dibutuhkan
untuk pembangunan suplesi air. Perhitungan volume galian dapat dilihat pada
Gambar 4.11 berikut.
= 8064 x 1 x 1,5
= 12.096 m3
= 1,2 x 12.096 m3
= 14.515,2 m3
47
4.7.1.3 Pekerjaan Pemasangan Batu Kali
Pada pekerjaan pemasangan batu kali, dapat dihitung volume pasangan batu
kali yang dibutuhkan. Perhitungan volume pasangan batu kali dapat dilihat pada
Gambar 4.13 berikut.
= 0,45 x 0,80
= 0,36 m2
= 3,6 m2
48
Volume Acian = 0,2 x pasangan batu kali
= 0,2 x 3,6 m2
= 0,72 m2
49
Analisis harga satuan pekerjaan adalah jumlah harga bahan dan upah tenaga
kerja berdasarkan perhitungan analisis. Perhitungan analisis harga satuan pekerjaan
pembangunan suplesi air dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut.
Tabel 4.5 Analisis Harga Satuan Pekerjaan
ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN
PEKERJAAN PEMBANGUNAN SUPLESI AIR DARI BENDUNG KEDUNGSAPEN KE IPA PENTIL
TAHUN ANGGARAN 2023
No. Uraian Pekerjaan Koefisien Satuan Harga Satuan Jumlah Harga
PEKERJAAN PERSIAPAN
I.1 Pengukuran dan Pemasangan 1 m' Bowplank
A. TENAGA
Pekerja 0,1000 OH Rp 85.000 Rp 8.500
Tukang Kayu 0,1000 OH Rp 105.000 Rp 10.500
Kepala Tukang 0,0100 OH Rp 115.000 Rp 1.150
Mandor 0,0050 OH Rp 100.000 Rp 500
JUMLAH TENAGA KERJA Rp 20.650
B. BAHAN
Kayu Kruing (balok/pesagen) 0,0120 m3 Rp 1.950.000 Rp 23.400
Kayu Kruing (papan) 0,0070 m3 Rp 3.000.000 Rp 21.000
Paku biasa 2 " - 3" 0,0200 kg Rp 22.500 Rp 450
JUMLAH HARGA BAHAN Rp 44.850
C. PERALATAN -
JUMLAH HARGA PERALATAN -
D. JUMLAH HARGA (A+B+C) Rp 65.500
E. OVERHEAD & PROFIT 15% x D Rp 9.825
F. HARGA SATUAN PEKERJAAN (D+E) Rp 75.325
50
I.4 Pemasangan 1 m' pipa HDPE
A. TENAGA
Pekerja 0,0360 OH Rp 85.000 Rp 3.060
Tukang Batu 0,0600 OH Rp 105.000 Rp 6.300
Kepala Tukang 0,0060 OH Rp 115.000 Rp 690
Mandor 0,0020 OH Rp 100.000 Rp 200
JUMLAH TENAGA KERJA Rp 10.250
B. BAHAN
Pipa HDPE Ø 200 mm (10") 1,2000 m' Rp 420.700 Rp 504.840
Perlengkapan 0,3500 ls 35% x pipa Rp 147.245
51
I.8 Pemasangan 1 m2 acian
A. TENAGA
Pekerja 0,2000 OH Rp 85.000 Rp 17.000
Tukang Batu 0,1000 OH Rp 105.000 Rp 10.500
Kepala Tukang 0,0100 OH Rp 115.000 Rp 1.150
Mandor 0,0200 OH Rp 100.000 Rp 2.000
JUMLAH TENAGA KERJA Rp 30.650
B. BAHAN
Semen Portland Gresik 3,2500 kg Rp 1.275 Rp 4.144
JUMLAH Rp 11.658.790.555
PPN 10% Rp 1.165.879.055
TOTAL BIAYA Rp 12.824.669.610
52
Analisis biaya pada proyek perencanaan pembangunan suplesi air dari Bendung
Kedungsapen ke IPA Pentil ialah :
4.8.1 Biaya Modal
Biaya modal terdiri dari 2 macam, yaitu biaya langsung dan biaya tidak
langsung. Biaya langsung merupakan biaya yang diperlukan untuk pembangunan
suatu proyek. Diantaranya yaitu biaya persiapan, dan biaya pemasangan pipa dan
pompa.
Biaya tidak langsung merupakan biaya yang tidak terkait langsung dengan
komponen fisik hasil akhir proyek. Pada proyek perencanaan pembangunan suplesi
air ini biaya tidak langsung terdiri dari :
Biaya Engineering
Biaya teknik adalah biaya untuk perencanaan dan biaya untuk pengawasan
selama waktu pelaksanaan konstruksi. Biaya ini merupakan suatu angka
presentase dari biaya konstruksi diasumsikan sebesar 4 %.
Biaya Administrasi
Biaya administrasi adalah biaya yang diperlukan untuk kepentingan
administrasi proyek. Biaya ini merupakan suatu presentase dari biaya
konstruksi diasumsikan sebesar 2%.
Biaya Tak Terduga
Biaya tak terduga adalah biaya yang diperuntukkan jika ada hal yang tidak
terduga atau hal yang tidak pasti. Biaya ini merupakan suatu angka
presentasi dari biaya konstruksi dan engineer diasumsikan sebesar 1 %
Biaya modal untuk seluruh proyek perencanaan pembangunan suplesi air dari
Bendung Kedungsapen ke IPA Pentil ialah sebagai berikut:
53
Tabel 4.7 Biaya Modal
Perhitungan Biaya Modal
No Jenis Biaya Jumlah Biaya
1 Biaya Konstruksi Rp 12.824.669.610
2 Biaya Engineering Rp 512.986.784
3 Biaya Administrasi Rp 256.493.392
4 Biaya Tak Terduga Rp 133.376.564
Total Biaya Rp 13.727.526.350
54
Analisis manfaat adalah gabungan benefit dari adanya proyek perencanaan
pembangunan suplesi air dari Bendung Kedungsapen ke IPA Pentil, benefit yang
didapat terbagi menjadi dua,yaitu ada Tangible Benefit (manfaat langsung), dan
Intangible Benefit (manfaat tidak langsung).
4.9.1 Tangible Benefit (Manfaat Langsung)
Manfaat langsung adalah manfaat yang langsung diperoleh dari suatu proyek
yang sudah selesai dilaksanakan (dapat diuangkan). Pada proyek perencanaan
pembangunan suplesi air manfaat langsung yang didapat adalah sebagai berikut:
Air baku PDAM
Perhitungan benefit dari air baku dari Kecamatan Kaliori dihitung dari harga
air baku berdasarkan jenis golongan dengan ketersediaan air baku per tahun.
Ketersediaan air yang digunakan untuk air baku yaitu 35 l/dt. Diasumsikan
untuk kapasitas penggunaan air yaitu 22.500 l/th setiap jenis pengguna. Tabel
4.9 merupakan hasil perhitungan benefit yang dihasilkan per tahun.
Tabel 4.9 Benefit Per Tahun
KECAMATAN KALIORI
No Jenis Jumlah Penggunaan Harga Total
1 Industri 1 22500 Rp 16.250 Rp 365.625.000
2 Industri 2 22500 Rp 26.950 Rp 606.375.000
3 Instansi Pemerintah 22500 Rp 7.650 Rp 172.125.000
4 Niaga 1 22500 Rp 6.250 Rp 140.625.000
5 Niaga 2 22500 Rp 12.650 Rp 284.625.000
6 Niaga 3 22500 Rp 17.000 Rp 382.500.000
7 Rumah Tangga Tipe 4 22500 Rp 5.950 Rp 133.875.000
8 Rumah Tangga Tipe 5 22500 Rp 7.400 Rp 166.500.000
9 Sosial Umum 22500 Rp 2.500 Rp 56.250.000
10 Sosial Khusus 22500 Rp 3.700 Rp 83.250.000
55
Tabel 4.10 Benefit 20 Tahun
Tahun ke- Pendapatan Per- Tahun
1 -
2 Rp. 2.391.750.000
3 Rp. 2.391.750.000
4 Rp. 2.391.750.000
5 Rp. 2.391.750.000
6 Rp. 2.391.750.000
7 Rp. 2.391.750.000
8 Rp. 2.391.750.000
9 Rp. 2.391.750.000
10 Rp. 2.391.750.000
11 Rp. 2.391.750.000
12 Rp. 2.391.750.000
13 Rp. 2.391.750.000
14 Rp. 2.391.750.000
15 Rp. 2.391.750.000
16 Rp. 2.391.750.000
17 Rp. 2.391.750.000
18 Rp. 2.391.750.000
19 Rp. 2.391.750.000
20 Rp. 2.391.750.000
Total Rp. 45.443.250.000
56
Terdapat beberapa parameter analisis ekonomi teknik yaitu, Net Present Value
(NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), Internal Rate of Return (IRR), dan Analisis
Sentivitas yang digunakan untuk menghitung keberhasilan suatu proyek. Parameter
yang digunakan sebagai acuan menghitung analisis ekonomi berdasarkan asumsi
dapat dilihat pada Tabel 4.11 berikut.
57
Tabel 4.11 Analisis Biaya dan Manfaat dengan DF=9%
Tahun Ke- Investasi Biaya OP Total Biaya Manfaat DF (9%) PV Biaya PV Manfaat NPV (B-C)
[1] [2] [3] [4]=[2]+[3] [5] [6] [7]=[4]x[6] [8]=[5]x[6] [9]=[8]-[7]
2023 Rp 13.727.526.350 Rp - Rp 13.727.526.350 Rp 0,917 Rp 12.588.141.663 Rp - -Rp 12.588.141.663
2024 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,842 Rp 462.178.357 Rp 2.013.135.975 Rp 1.550.957.618
2025 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,772 Rp 424.015.834 Rp 1.846.909.350 Rp 1.422.893.516
2026 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,708 Rp 388.983.187 Rp 1.694.315.700 Rp 1.305.332.513
2027 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,650 Rp 356.860.775 Rp 1.554.398.325 Rp 1.197.537.550
2028 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,596 Rp 327.428.959 Rp 1.426.200.525 Rp 1.098.771.566
2029 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,547 Rp 300.358.277 Rp 1.308.287.250 Rp 1.007.928.973
2030 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,502 Rp 275.593.819 Rp 1.200.419.325 Rp 924.825.506
2031 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,446 Rp 244.921.034 Rp 1.066.816.170 Rp 821.895.136
2032 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,422 Rp 231.940.285 Rp 1.010.275.200 Rp 778.334.915
2033 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,388 Rp 319.164.988 Rp 926.803.125 Rp 607.638.137
2034 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,356 Rp 292.808.137 Rp 850.267.125 Rp 557.458.988
2035 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,326 Rp 268.675.146 Rp 780.188.850 Rp 511.513.704
2036 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,299 Rp 246.436.553 Rp 715.611.600 Rp 469.175.047
2037 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,275 Rp 226.092.359 Rp 656.535.375 Rp 430.443.016
2038 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,252 Rp 207.477.833 Rp 602.481.825 Rp 395.003.992
2039 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,231 Rp 190.345.880 Rp 552.733.425 Rp 362.387.545
2040 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,212 Rp 174.614.135 Rp 507.051.000 Rp 332.436.865
2041 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,195 Rp 160.200.233 Rp 465.195.375 Rp 304.995.142
2042 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,178 Rp 146.939.442 Rp 426.688.200 Rp 279.748.758
58
4.10.1. Net Present Value (NPV)
Dengan mengacu pada perhitungan sebelumnya, maka perhitungan NPV
proyek perencanaan pembangunan suplesi air dari Bendung Kedungsapen ke IPA
Pentil untuk tingkat suku bunga diasumsikan sebesar 9% adalah sebagai berikut:
Nilai sekarang total manfaat (B) = Rp.19.604.313.720
Nilai sekarang total biaya (C) = Rp.17.833.176.895
Maka dimasukkan kedalam rumus NPV sebagai berikut :
B-C = Rp.19.604.313.720 - Rp. 17.833.176.895
NPV = Rp.1.771.136.825
59
Tabel 4.12 Analisis Biaya dan Manfaat dengan i = 11%
Tahun Ke- Investasi Biaya OP Total Biaya Manfaat DF (11%) PV Biaya PV Manfaat NPV (B-C)
[1] [2] [3] [4]=[2]+[3] [5] [6] [7]=[4]x[6] [8]=[5]x[6] [9]=[8]-[7]
2023 Rp 13.727.526.350 Rp - Rp 13.727.526.350 Rp - Rp 0,901 Rp 12.368.501.241 Rp - -Rp 12.368.501.241
2024 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,812 Rp 445.870.056 Rp 1.942.101.000 Rp 1.496.230.944
2025 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,731 Rp 401.392.870 Rp 1.748.369.250 Rp 1.346.976.380
2026 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,659 Rp 361.857.595 Rp 1.576.163.250 Rp 1.214.305.655
2027 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,593 Rp 325.616.925 Rp 1.418.307.750 Rp 1.092.690.825
2028 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,535 Rp 293.769.064 Rp 1.279.586.250 Rp 985.817.186
2029 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,482 Rp 264.666.708 Rp 1.152.823.500 Rp 888.156.792
2030 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,434 Rp 238.309.857 Rp 1.038.019.500 Rp 799.709.643
2031 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,391 Rp 214.698.512 Rp 935.174.250 Rp 720.475.738
2032 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,352 Rp 193.283.571 Rp 841.896.000 Rp 648.612.429
2033 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,317 Rp 261.097.551 Rp 758.184.750 Rp 497.087.199
2034 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,286 Rp 235.564.352 Rp 684.040.500 Rp 448.476.148
2035 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,258 Rp 212.502.108 Rp 617.071.500 Rp 404.569.392
2036 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,232 Rp 191.087.167 Rp 554.886.000 Rp 363.798.833
2037 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,209 Rp 172.143.180 Rp 499.875.750 Rp 327.732.570
2038 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,188 Rp 154.846.497 Rp 449.649.000 Rp 294.802.503
2039 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,170 Rp 140.020.769 Rp 406.597.500 Rp 266.576.731
2040 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,153 Rp 126.018.692 Rp 365.937.750 Rp 239.919.058
2041 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,138 Rp 113.663.918 Rp 330.061.500 Rp 216.397.582
2042 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,124 Rp 102.132.796 Rp 296.577.000 Rp 194.444.204
60
Adapun hasil perhitungan Internal Rate Of Return dengan nilai i = 12% dapat dilihat pada tabel 4.13 berikut.
Tabel 4.13 Analisis Biaya dan Manfaat dengan i = 12%
Tahun Ke- Investasi Biaya OP Total Biaya Manfaat DF (12%) PV Biaya PV Manfaat NPV (B-C)
[1] [2] [3] [4]=[2]+[3] [5] [6] [7]=[4]x[6] [8]=[5]x[6] [9]=[8]-[7]
2023 Rp 13.727.526.350 Rp - Rp 13.727.526.350 Rp - Rp 0,893 Rp 12.258.681.031 Rp - -Rp 12.258.681.031
2024 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,797 Rp 437.633.540 Rp 1.906.224.750 Rp 1.468.591.210
2025 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,712 Rp 390.959.950 Rp 1.702.926.000 Rp 1.311.966.050
2026 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,636 Rp 349.228.270 Rp 1.521.153.000 Rp 1.171.924.730
2027 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,567 Rp 311.340.298 Rp 1.356.122.250 Rp 1.044.781.952
2028 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,507 Rp 278.394.234 Rp 1.212.617.250 Rp 934.223.016
2029 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,452 Rp 248.193.676 Rp 1.081.071.000 Rp 832.877.324
2030 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,404 Rp 221.836.826 Rp 966.267.000 Rp 744.430.174
2031 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,361 Rp 198.225.480 Rp 863.421.750 Rp 665.196.270
2032 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.391.750.000 Rp 0,322 Rp 176.810.539 Rp 770.143.500 Rp 593.332.961
2033 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,287 Rp 236.388.004 Rp 686.432.250 Rp 450.044.246
2034 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,257 Rp 211.678.456 Rp 614.679.750 Rp 403.001.294
2035 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,229 Rp 188.616.212 Rp 547.710.750 Rp 359.094.538
2036 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,205 Rp 168.848.574 Rp 490.308.750 Rp 321.460.176
2037 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,183 Rp 150.728.239 Rp 437.690.250 Rp 286.962.011
2038 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,163 Rp 134.255.208 Rp 389.855.250 Rp 255.600.042
2039 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,146 Rp 120.253.131 Rp 349.195.500 Rp 228.942.369
2040 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,130 Rp 107.074.706 Rp 310.927.500 Rp 203.852.794
2041 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,116 Rp 95.543.583 Rp 277.443.000 Rp 181.899.417
2042 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.391.750.000 Rp 0,104 Rp 85.659.764 Rp 248.742.000 Rp 163.082.236
61
Maka dari hasil analisis di atas, nilai IRR dapat dihitung sebagai berikut :
𝑁𝑃𝑉1
IRR = i1 + (𝑁𝑃𝑉1−𝑁𝑃𝑉2) (i2-i1)
Dimana :
= 11%
= 12%
Sehingga :
78.278.570
IRR = 11% + 78.278.569−(−637.418.223 ) (12%-11%)
78.278.570
IRR = 11% + 715.696.794 (1%)
= 11,109%
62
4.11 Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan dengan mengubah harga dan biaya serta
menghitung NPV, BCR, dan IRR nya dengan harga tersebut. Analisis sensitivitas
yang dihitung pada penelitian ini yaitu :
1. Terjadi kenaikan manfaat dengan asumsi sebesar 10% dengan nilai biaya
tetap
2. Terjadi kenaikan biaya dengan asumsi sebesar 10% dan nilai manfaat tetap
3. Terjadi penurunan manfaat dengan asumsi sebesar 10% dan nilai biaya
tetap
Hasil analisis sensitivitas ketika manfaat naik 10% dengan biaya tetap dapat dilihat
pada Tabel 4.14 berikut.
63
Tabel 4.14 Analisis Sensitivitas Manfaat Naik 10%, Nilai Biaya Tetap
Tahun Ke- Investasi Biaya OP Total Biaya Manfaat DF (9%) PV Biaya PV Manfaat NPV (B-C)
[1] [2] [3] [4]=[2]+[3] [5] [6] [7]=[4]x[6] [8]=[5]x[6] [9]=[8]-[7]
2023 Rp 13.726.809.396 Rp - Rp 13.726.809.396 Rp - 0,9170 Rp 12.587.484.216 Rp - -Rp 12.587.484.216
2024 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.630.925.000 0,8417 Rp 462.178.357 Rp 2.214.449.573 Rp 1.752.271.215
2025 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.630.925.000 0,7722 Rp 424.015.834 Rp 2.031.600.285 Rp 1.607.584.451
2026 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.630.925.000 0,7084 Rp 388.983.187 Rp 1.863.747.270 Rp 1.474.764.083
2027 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.630.925.000 0,6499 Rp 356.860.775 Rp 1.709.838.158 Rp 1.352.977.383
2028 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.630.925.000 0,5963 Rp 327.428.959 Rp 1.568.820.578 Rp 1.241.391.619
2029 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.630.925.000 0,5470 Rp 300.358.277 Rp 1.439.115.975 Rp 1.138.757.698
2030 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.630.925.000 0,5019 Rp 275.593.819 Rp 1.320.461.258 Rp 1.044.867.438
2031 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.630.925.000 0,4460 Rp 244.921.034 Rp 1.173.497.787 Rp 928.576.753
2032 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.630.925.000 0,4224 Rp 231.940.285 Rp 1.111.302.720 Rp 879.362.435
2033 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.630.925.000 0,3875 Rp 319.164.988 Rp 1.019.483.438 Rp 700.318.450
2034 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.630.925.000 0,3555 Rp 292.808.137 Rp 935.293.838 Rp 642.485.700
2035 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.630.925.000 0,3262 Rp 268.675.146 Rp 858.207.735 Rp 589.532.589
2036 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.630.925.000 0,2992 Rp 246.436.553 Rp 787.172.760 Rp 540.736.207
2037 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.630.925.000 0,2745 Rp 226.092.359 Rp 722.188.913 Rp 496.096.554
2038 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.630.925.000 0,2519 Rp 207.477.833 Rp 662.730.008 Rp 455.252.174
2039 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.630.925.000 0,2311 Rp 190.345.880 Rp 608.006.768 Rp 417.660.887
2040 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.630.925.000 0,2120 Rp 174.614.135 Rp 557.756.100 Rp 383.141.965
2041 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.630.925.000 0,1945 Rp 160.200.233 Rp 511.714.913 Rp 351.514.680
2042 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.630.925.000 0,1784 Rp 146.939.442 Rp 469.357.020 Rp 322.417.578
64
Adapun hasil analisis sensitivitas ketika biaya naik 10% dengan manfaat tetap dapat dilihat pada tabel 4.15 berikut.
65
Adapun hasil analisis sensitivitas ketika manfaat turun 10% dengan biaya tetap dapat dilihat pada Tabel 4.16 berikut.
Tabel 4.16 Analisis Sensitivitas Manfaat Turun 10%, Biaya Tetap
Tahun Ke- Investasi Biaya OP Total Cost Manfaat DF (9%) PV Cost PV Benefit NPV (B-C)
[1] [2] [3] [4]=[2]+[3] [5] [6] [7]=[4]x[6] [8]=[5]x[6] [9]=[8]-[7]
2023 Rp 13.727.526.351 Rp - Rp 13.727.526.351 Rp - Rp 0,917 Rp 12.588.141.664 Rp - -Rp 12.588.141.664
2024 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.152.575.000 Rp 0,842 Rp 462.178.357 Rp 1.811.822.378 Rp 1.349.644.020
2025 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.152.575.000 Rp 0,772 Rp 424.015.834 Rp 1.662.218.415 Rp 1.238.202.581
2026 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.152.575.000 Rp 0,708 Rp 388.983.187 Rp 1.524.884.130 Rp 1.135.900.943
2027 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.152.575.000 Rp 0,650 Rp 356.860.775 Rp 1.398.958.493 Rp 1.042.097.718
2028 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.152.575.000 Rp 0,596 Rp 327.428.959 Rp 1.283.580.473 Rp 956.151.514
2029 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.152.575.000 Rp 0,547 Rp 300.358.277 Rp 1.177.458.525 Rp 877.100.248
2030 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.152.575.000 Rp 0,502 Rp 275.593.819 Rp 1.080.377.393 Rp 804.783.573
2031 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.152.575.000 Rp 0,446 Rp 244.921.034 Rp 960.134.553 Rp 715.213.519
2032 Rp 549.101.054 Rp 549.101.054 Rp 2.152.575.000 Rp 0,422 Rp 231.940.285 Rp 909.247.680 Rp 677.307.395
2033 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.152.575.000 Rp 0,388 Rp 319.164.988 Rp 834.122.813 Rp 514.957.825
2034 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.152.575.000 Rp 0,356 Rp 292.808.137 Rp 765.240.413 Rp 472.432.275
2035 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.152.575.000 Rp 0,326 Rp 268.675.146 Rp 702.169.965 Rp 433.494.819
2036 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.152.575.000 Rp 0,299 Rp 246.436.553 Rp 644.050.440 Rp 397.613.887
2037 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.152.575.000 Rp 0,275 Rp 226.092.359 Rp 590.881.838 Rp 364.789.479
2038 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.152.575.000 Rp 0,252 Rp 207.477.833 Rp 542.233.643 Rp 334.755.809
2039 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.152.575.000 Rp 0,231 Rp 190.345.880 Rp 497.460.083 Rp 307.114.202
2040 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.152.575.000 Rp 0,212 Rp 174.614.135 Rp 456.345.900 Rp 281.731.765
2041 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.152.575.000 Rp 0,195 Rp 160.200.233 Rp 418.675.838 Rp 258.475.605
2042 Rp 823.651.581 Rp 823.651.581 Rp 2.152.575.000 Rp 0,178 Rp 146.939.442 Rp 384.019.380 Rp 237.079.938
66
Adapun hasil perhitungan Internal Rate Of Return ketika manfaat naik dan biaya tetap dengan i = 16 % dapat dilihat pada Tabel 4.17
berikut.
Tahun Ke- Investasi Biaya OP Total Biaya Manfaat DF (16%) PV Biaya PV Manfaat NPV (B-C)
[1] [2] [3] [4]=[2]+[3] [5] [6] [7]=[4]x[6] [8]=[5]x[6] [9]=[8]-[7]
2023 Rp 13.726.809.396 Rp - Rp 13.726.809.396 Rp - 0,8620 Rp 11.832.509.699 Rp - -Rp 11.832.509.699
2024 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,7430 Rp 162.504.346 Rp 1.954.777.275 Rp 1.792.272.929
2025 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,6410 Rp 140.195.540 Rp 1.686.422.925 Rp 1.546.227.385
2026 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,5520 Rp 120.730.012 Rp 1.452.270.600 Rp 1.331.540.588
2027 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,4760 Rp 104.107.764 Rp 1.252.320.300 Rp 1.148.212.536
2028 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,4100 Rp 89.672.654 Rp 1.078.679.250 Rp 989.006.596
2029 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,3540 Rp 77.424.682 Rp 931.347.450 Rp 853.922.768
2030 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,3050 Rp 66.707.706 Rp 802.432.125 Rp 735.724.419
2031 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,2630 Rp 57.521.727 Rp 691.933.275 Rp 634.411.548
2032 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,2270 Rp 49.648.030 Rp 597.219.975 Rp 547.571.945
2033 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,1950 Rp 63.973.784 Rp 513.030.375 Rp 449.056.591
2034 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,1680 Rp 55.115.875 Rp 441.995.400 Rp 386.879.525
2035 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,1450 Rp 47.570.249 Rp 381.484.125 Rp 333.913.876
2036 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,1250 Rp 41.008.836 Rp 328.865.625 Rp 287.856.789
2037 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,1080 Rp 35.431.634 Rp 284.139.900 Rp 248.708.266
2038 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,0930 Rp 30.510.574 Rp 244.676.025 Rp 214.165.451
2039 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,0800 Rp 26.245.655 Rp 210.474.000 Rp 184.228.345
2040 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,0690 Rp 22.636.877 Rp 181.533.825 Rp 158.896.948
2041 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,0600 Rp 19.684.241 Rp 157.855.500 Rp 138.171.259
2042 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,0510 Rp 16.731.605 Rp 134.177.175 Rp 117.445.570
67
Adapun hasil perhitungan Internal Rate Of Return ketika manfaat naik dan biaya tetap dengan i = 17 % dapat dilihat pada Tabel 4.18
berikut.
Tahun Ke- Investasi Biaya OP Total Biaya Manfaat DF (17%) PV Biaya PV Manfaat NPV (B-C)
[1] [2] [3] [4]=[2]+[3] [5] [6] [7]=[4]x[6] [8]=[5]x[6] [9]=[8]-[7]
2023 Rp 13.726.809.396 Rp - Rp 13.726.809.396 Rp - 0,8550 Rp 11.736.422.034 Rp - -Rp 11.736.422.034
2024 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,7310 Rp 159.879.781 Rp 1.923.206.175 Rp 1.763.326.394
2025 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,6240 Rp 136.477.405 Rp 1.641.697.200 Rp 1.505.219.795
2026 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,5340 Rp 116.793.164 Rp 1.404.913.950 Rp 1.288.120.786
2027 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,4560 Rp 99.733.488 Rp 1.199.701.800 Rp 1.099.968.312
2028 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,3900 Rp 85.298.378 Rp 1.026.060.750 Rp 940.762.372
2029 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,3330 Rp 72.831.692 Rp 876.098.025 Rp 803.266.333
2030 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,2850 Rp 62.333.430 Rp 749.813.625 Rp 687.480.195
2031 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,2430 Rp 53.147.451 Rp 639.314.775 Rp 586.167.324
2032 Rp 218.713.791 Rp 218.713.791 Rp 2.630.925.000 0,2080 Rp 45.492.468 Rp 547.232.400 Rp 501.739.932
2033 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,1780 Rp 58.396.582 Rp 468.304.650 Rp 409.908.068
2034 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,1520 Rp 49.866.744 Rp 399.900.600 Rp 350.033.856
2035 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,1300 Rp 42.649.189 Rp 342.020.250 Rp 299.371.061
2036 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,1110 Rp 36.415.846 Rp 292.032.675 Rp 255.616.829
2037 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,0950 Rp 31.166.715 Rp 249.937.875 Rp 218.771.160
2038 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,0810 Rp 26.573.726 Rp 213.104.925 Rp 186.531.199
2039 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,0690 Rp 22.636.877 Rp 181.533.825 Rp 158.896.948
2040 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,0590 Rp 19.356.170 Rp 155.224.575 Rp 135.868.405
2041 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,0510 Rp 16.731.605 Rp 134.177.175 Rp 117.445.570
2042 Rp 328.070.686 Rp 328.070.686 Rp 2.630.925.000 0,0430 Rp 14.107.039 Rp 113.129.775 Rp 99.022.736
68
Adapun hasil perhitungan Internal Rate Of Return ketika biaya naik dan manfaat tetap dengan i = 8 % dapat dilihat pada Tabel 4.19
berikut.
Tahun Ke- Investasi Biaya OP Total Biaya Manfaat DF (8%) PV Biaya PV Manfaat NPV (B-C)
[1] [2] [3] [4]=[2]+[3] [5] [6] [7]=[4]x[6] [8]=[5]x[6] [9]=[8]-[7]
2023 Rp 15.099.490.335,60 Rp - Rp 15.099.490.335,60 Rp - 0,9260 Rp 13.982.128.050,77 Rp - -Rp 13.982.128.050,7656
2024 Rp 603.979.613,42 Rp 603.979.613,42 Rp 2.391.750.000,00 0,8570 Rp 517.610.528,70 Rp 2.049.729.750,0000 Rp 1.532.119.221,2956
2025 Rp 603.979.613,42 Rp 603.979.613,42 Rp 2.391.750.000,00 0,7940 Rp 479.559.813,06 Rp 1.899.049.500,0000 Rp 1.419.489.686,9413
2026 Rp 603.979.613,42 Rp 603.979.613,42 Rp 2.391.750.000,00 0,7350 Rp 443.925.015,87 Rp 1.757.936.250,0000 Rp 1.314.011.234,1334
2027 Rp 603.979.613,42 Rp 603.979.613,42 Rp 2.391.750.000,00 0,6810 Rp 411.310.116,74 Rp 1.628.781.750,0000 Rp 1.217.471.633,2583
2028 Rp 603.979.613,42 Rp 603.979.613,42 Rp 2.391.750.000,00 0,6300 Rp 380.507.156,46 Rp 1.506.802.500,0000 Rp 1.126.295.343,5429
2029 Rp 603.979.613,42 Rp 603.979.613,42 Rp 2.391.750.000,00 0,5840 Rp 352.724.094,24 Rp 1.396.782.000,0000 Rp 1.044.057.905,7604
2030 Rp 603.979.613,42 Rp 603.979.613,42 Rp 2.391.750.000,00 0,5400 Rp 326.148.991,25 Rp 1.291.545.000,0000 Rp 965.396.008,7510
2031 Rp 603.979.613,42 Rp 603.979.613,42 Rp 2.391.750.000,00 0,5000 Rp 301.989.806,71 Rp 1.195.875.000,0000 Rp 893.885.193,2880
2032 Rp 603.979.613,42 Rp 603.979.613,42 Rp 2.391.750.000,00 0,4630 Rp 279.642.561,02 Rp 1.107.380.250,0000 Rp 827.737.688,9847
2033 Rp 905.969.420,14 Rp 905.969.420,14 Rp 2.391.750.000,00 0,4290 Rp 388.660.881,24 Rp 1.026.060.750,0000 Rp 637.399.868,7617
2034 Rp 905.969.420,14 Rp 905.969.420,14 Rp 2.391.750.000,00 0,3970 Rp 359.669.859,79 Rp 949.524.750,0000 Rp 589.854.890,2060
2035 Rp 905.969.420,14 Rp 905.969.420,14 Rp 2.391.750.000,00 0,3680 Rp 333.396.746,61 Rp 880.164.000,0000 Rp 546.767.253,3900
2036 Rp 905.969.420,14 Rp 905.969.420,14 Rp 2.391.750.000,00 0,3410 Rp 308.935.572,27 Rp 815.586.750,0000 Rp 506.651.177,7336
2037 Rp 905.969.420,14 Rp 905.969.420,14 Rp 2.391.750.000,00 0,3150 Rp 285.380.367,34 Rp 753.401.250,0000 Rp 468.020.882,6572
2038 Rp 905.969.420,14 Rp 905.969.420,14 Rp 2.391.750.000,00 0,2920 Rp 264.543.070,68 Rp 698.391.000,0000 Rp 433.847.929,3203
2039 Rp 905.969.420,14 Rp 905.969.420,14 Rp 2.391.750.000,00 0,2700 Rp 244.611.743,44 Rp 645.772.500,0000 Rp 401.160.756,5633
2040 Rp 905.969.420,14 Rp 905.969.420,14 Rp 2.391.750.000,00 0,2500 Rp 226.492.355,03 Rp 597.937.500,0000 Rp 371.445.144,9660
2041 Rp 905.969.420,14 Rp 905.969.420,14 Rp 2.391.750.000,00 0,2320 Rp 210.184.905,47 Rp 554.886.000,0000 Rp 344.701.094,5284
2042 Rp 905.969.420,14 Rp 905.969.420,14 Rp 2.391.750.000,00 0,2150 Rp 194.783.425,33 Rp 514.226.250,0000 Rp 319.442.824,6708
69
Adapun hasil perhitungan Internal Rate Of Return ketika manfaat turun dan biaya tetap dengan i = 8 % dapat dilihat pada Tabel 4.20
berikut.
Tahun Ke- Investasi Biaya OP Total Biaya Manfaat DF (8%) PV Biaya PV Manfaat NPV (B-C)
[1] [2] [3] [4]=[2]+[3] [5] [6] [7]=[4]x[6] [8]=[5]x[6] [9]=[8]-[7]
2023 Rp 13.726.809.396,00 Rp - Rp 13.726.809.396,00 Rp - 0,9260 Rp 12.711.025.500,70 Rp - -Rp 12.711.025.500,6960
2024 Rp 549.072.375,00 Rp 549.072.375,00 Rp 2.152.575.000,00 0,8570 Rp 470.555.025,38 Rp 1.844.756.775,0000 Rp 1.374.201.749,6250
2025 Rp 549.072.375,00 Rp 549.072.375,00 Rp 2.152.575.000,00 0,7940 Rp 435.963.465,75 Rp 1.709.144.550,0000 Rp 1.273.181.084,2500
2026 Rp 549.072.375,00 Rp 549.072.375,00 Rp 2.152.575.000,00 0,7350 Rp 403.568.195,63 Rp 1.582.142.625,0000 Rp 1.178.574.429,3750
2027 Rp 549.072.375,00 Rp 549.072.375,00 Rp 2.152.575.000,00 0,6810 Rp 373.918.287,38 Rp 1.465.903.575,0000 Rp 1.091.985.287,6250
2028 Rp 549.072.375,00 Rp 549.072.375,00 Rp 2.152.575.000,00 0,6300 Rp 345.915.596,25 Rp 1.356.122.250,0000 Rp 1.010.206.653,7500
2029 Rp 549.072.375,00 Rp 549.072.375,00 Rp 2.152.575.000,00 0,5840 Rp 320.658.267,00 Rp 1.257.103.800,0000 Rp 936.445.533,0000
2030 Rp 549.072.375,00 Rp 549.072.375,00 Rp 2.152.575.000,00 0,5400 Rp 296.499.082,50 Rp 1.162.390.500,0000 Rp 865.891.417,5000
2031 Rp 549.072.375,00 Rp 549.072.375,00 Rp 2.152.575.000,00 0,5000 Rp 274.536.187,50 Rp 1.076.287.500,0000 Rp 801.751.312,5000
2032 Rp 549.072.375,00 Rp 549.072.375,00 Rp 2.152.575.000,00 0,4630 Rp 254.220.509,63 Rp 996.642.225,0000 Rp 742.421.715,3750
2033 Rp 823.608.563,00 Rp 823.608.563,00 Rp 2.152.575.000,00 0,4290 Rp 353.328.073,53 Rp 923.454.675,0000 Rp 570.126.601,4730
2034 Rp 823.608.563,00 Rp 823.608.563,00 Rp 2.152.575.000,00 0,3970 Rp 326.972.599,51 Rp 854.572.275,0000 Rp 527.599.675,4890
2035 Rp 823.608.563,00 Rp 823.608.563,00 Rp 2.152.575.000,00 0,3680 Rp 303.087.951,18 Rp 792.147.600,0000 Rp 489.059.648,8160
2036 Rp 823.608.563,00 Rp 823.608.563,00 Rp 2.152.575.000,00 0,3410 Rp 280.850.519,98 Rp 734.028.075,0000 Rp 453.177.555,0170
2037 Rp 823.608.563,00 Rp 823.608.563,00 Rp 2.152.575.000,00 0,3150 Rp 259.436.697,35 Rp 678.061.125,0000 Rp 418.624.427,6550
2038 Rp 823.608.563,00 Rp 823.608.563,00 Rp 2.152.575.000,00 0,2920 Rp 240.493.700,40 Rp 628.551.900,0000 Rp 388.058.199,6040
2039 Rp 823.608.563,00 Rp 823.608.563,00 Rp 2.152.575.000,00 0,2700 Rp 222.374.312,01 Rp 581.195.250,0000 Rp 358.820.937,9900
2040 Rp 823.608.563,00 Rp 823.608.563,00 Rp 2.152.575.000,00 0,2500 Rp 205.902.140,75 Rp 538.143.750,0000 Rp 332.241.609,2500
2041 Rp 823.608.563,00 Rp 823.608.563,00 Rp 2.152.575.000,00 0,2320 Rp 191.077.186,62 Rp 499.397.400,0000 Rp 308.320.213,3840
2042 Rp 823.608.563,00 Rp 823.608.563,00 Rp 2.152.575.000,00 0,2150 Rp 177.075.841,05 Rp 462.803.625,0000 Rp 285.727.783,9550
70
Maka dari hasil analisis IRR diatas dapat dihitung sebagai berikut :
I1 = 16%
I2 = 17%
NPV 1= Rp. 265.703.633
NPV 2 = -Rp. -328.904.762
Sehingga,
265.703.633
IRR =16% + 265.703.633−(−328.904.762) (17%-16%)
265.703.633
IRR = 16% + 594.608.395 (1%)
I1 = 8%
I2 = 9%
NPV 1 = Rp. 977.627.687
NPV 2 = -Rp. -11.156.344
Sehingga,
977.627.687
IRR =8% + 977.627.687−(−11.156.344) (9%-8%)
977.627.687
IRR = 8% + 988.784.031 (1%)
IRR = 8% + 0,989
IRR = 8,989%
71
𝑁𝑃𝑉1
IRR = i1 + (𝑁𝑃𝑉1−𝑁𝑃𝑉2) (i2-i1)
I1 = 8%
I2 = 9%
NPV 1 = Rp. 695.390.334
NPV 2 = -Rp. -188.363.158
695.390.334
IRR =8% + 695.390.334−(−188.363.158 ) (9%-8%)
695.390.334
IRR = 8% + 883.753.492 (1%)
IRR = 8% + 0,787
IRR = 8,787%
Dari perhitungan IRR pada analisis sensitivitas di atas dapat disimpulkan
bahwa proyek pembangunan suplesi air dari Bendung Kedungsapen ke IPA Pentil
ini layak secara ekonomi. Hal ini disebabkan karena nilai IRR analisis sensitivitas
pembangunan suplesi air dari Bendung Kedungsapen ke IPA Pentil lebih tinggi dari
pada nilai yang dipakai dalam evaluasi kajian. Berikut merupakan tabel yang
menunjukkan bahwa nilai IRR lebih tinggi dari nilai evaluasi kajian.
72
Rekapitulasi hasil analisis sensitivitas terdapat pada tabel 4.22 berikut :
73
BAB V
5.1 Kesimpulan
Jadi hasil dari penelitian pembangunan suplesi air dari Bendung Kedungsapen ke
IPA Pentil adalah sebagai berikut:
1. Desain untuk rencana pembangunan suplesi air dari Bendung Kedungsapen
ke IPA Pentil terdapat 2 bagian, yakni bagian pipa dan juga pompa.
2. Biaya pembangunan suplesi air meliputi, Biaya Modal sebesar Rp.
12.824.669.610,00. Biaya O & P diasumsikan sebesar 4% dari biaya modal
(tahun ke-2 sampai tahun ke-10) dan naik menjadi 6% dari biaya modal
(tahun ke-11 sampai tahun ke-20). Adapun total biaya yang dibutuhkan
sebesar Rp. 26.905.951.646,00.
3. Manfaat tangible dari adanya pembangunan suplesi air selama 20 tahun
meliputi, penggunaan air PDAM dari bendung Kedungsapen ke IPA Pentil
sebesar Rp. 45.443.250.000. Sedangkan manfaat intangible dari adanya
pembangunan suplesi air dari Bendung Kedungsapen menuju IPA Pentil
yaitu, meningkatkan ekonomi pedesaan di Kecamatan Kaliori dan
Kecamatan Sumber, sebagai swa sembada pangan, mengurangi penurunan
muka tanah akibat penyedotan air tanah, mencegah kekeringan, serta
mempermudah akses air baku untuk diolah menuju IPA Pentil.
4. Kelayakan rencana pembangunan suplesi air dari Bendung Kedungsapen ke
IPA Pentil dari segi ekonomi teknik dianalisis dengan parameter NPV, BCR,
IRR. Pada nilai i = 9% didapat hasil NPV sebesar Rp.1.771.136.824, BCR
sebesar 1,099 dan IRR sebesar 11,109%, sehingga dapat dikatakan proyek
pembangunan suplesi air dari Bendung Kedungsapen menuju IPA Pentil
layak dalam hal ekonomi teknik.
5. Analisis sensitivitas dari pembangunan suplesi air dari Bendung
Kedungsapen ke IPA Pentil yaitu:
74
Terjadi kenaikan manfaat sebesar 10% dan nilai biaya tetap, didapat nilai
NPV sebesar Rp. 3.732.225.644, BCR sebesar 1,21, dan IRR sebesar 16,447
%.
Terjadi kenaikan biaya sebesar 10% dan nilai manfaat tetap, didapat nilai
NPV sebesar -Rp.12.180.865, BCR sebesar 0.999, dan IRR sebesar 8,989%.
Terjadi penurunan manfaat sebesar 10% dan nilai biaya tetap, didapat nilai
NPV sebesar -Rp.189.294.547, BCR sebesar 0.989, dan IRR sebesar 8,787%
Dari hasil analisis sensitivitas di atas, maka proyek pembangunan suplesi air dari
Bendung kedungsapen menuju IPA Pentil di Rembang, layak untuk dibangun
5.2 Saran
Hasil rancangan desain suplesi air yang telah dibuat, dapat dikembangkan kembali
agar menghasilkan manfaat yang lebih baik, serta penelitian dari analisis ekonomi yang
telah dilakukan dapat dijadikan pertimbangan bagi pihak terkait dalam melakukan
proyek perencanaan pembangunan suplesi air dari Bendung Kedungsapen menuju IPA
Pentil.
75
DAFTAR PUSTAKA
Asmadi, K., & Kasjono, H. S. (2011). Teknologi Pengolahan Air Minum, 11(1), 35-42.
Astuti, F. A., Sungkowo, A., & Kristanto, W. A. D. (2018). Analisis Kebutuhan Air
Domestik dan Non Domestik di Kabupaten Gunungkidul. Jurnal Sains &
Teknologi Lingkungan, 10(2), 139-146.
Belladona, M., Nasir, N., & Agustomi, E. (2020). Perancangan Instalasi Pengolah Air
Limbah (IPAL) Industri Batik Besurek di Kota Bengkulu. Jurnal Teknologi,
12(1), 1-8.
Damayanti, H. R., Santjoko, H., & Husein, A. (2018). Pemetaan Wilayah Persebaran
Fe Pada Air Sumur Gali di Desa Kotesan, Prambanan, Klaten (Doctoral
dissertation, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta).
Diasa, I. W. (2017). Analisa Kelayakan Sistem Suplesi Air Irigasi dengan Pompa
Hidram. Jurnal Teknik Gradien, 9(1), 215-228.
Fahrisal, M. (2019). Prediksi Kebutuhan Air Bersih Tahun 2028 PDAM Unit IKK
Belawang-Wanaraya. Poros Teknik, 11(2), 56-63.
76
Instalasi Pengolahan Air : Water Treatment Plant. (26 Januari 2016).
proconwater.com.https://www.proconwater.co.id/blog-5-water-treatment-
plant—wtp—atau-instalasi-pengolahan-air—ipa/
Maigusriani, E., Rian, I. T., & Manyuk, F. Analisis Kelayakan Ekonomi Pembangunan
Embung Bajul di Kabupaten Buleleng Provinsi Bali, 12(2), 41-56.
Norastina, R., & Effendi, F. (2019). Analisis Kebutuhan Air Bersih Kecamatan Anjir
Muara dan Kecamatan Anjir Pasar. Jurnal Gradasi Teknik Sipil, 3(1), 34-41.
Pinandito, G., & Harsanto, P. (2021). Analisis Stabilitas Bendung Kamijoro. Bulletin
of Civil Engineering, 1(1), 33-42.
Risaldi, S. (2021). Pengaruh Metode Interpolasi Data Curah Hujan Untuk Pemetaan
Kawasan Daerah Rawan Kekeringan (Studi kasus: Kabupaten Lombok Tengah,
Nusa Tenggara Barat) (Doctoral Dissertation, Institut Teknologi Nasional
Malang).
Rifai, M., & Sahid, M. N. (2019). Studi Kelayakan Ekonomi Teknik Pembangunan
Bendungan Randugunting. Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil 2019,
2(1), 3-11.
Setiawan, A., & Rachmawati, A. (2006). Analisis Kelayakan Ekonomi Pada Proyek
Pembangunan Dam Jatibarang Semarang (Doctoral Dissertation, Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro).
77
Solihat, E. H. (2022). Analisis Total Coliform Air Sumur Gali Berdasarkan Sumber
Pencemar dan Konstruksi Sumur Gali di Desa Barugbug Kabupaten Karawang
Tahun 2021 (Doctoral Dissertation, Universitas Siliwangi).
Utomo, M. P. (2018). Analisis Kelayakan Usaha Seduhan Berbahan Dasar Daun Kelor
di Desa Brayut Pandowoharjo Sleman (Doctoral Dissertation, UAJY).
Yudha, A. R., Utoyo, S., & Purnomo, F. (2022). Studi Kelayakan Pembangunan
Bendungan Bagong Kabupaten Trenggalek. Jurnal Online Skripsi Manajemen
Rekayasa Konstruksi (JOS-MRK), 3(4), 241-245.
78