Anda di halaman 1dari 11

Pemujaan Gunung Merapi oleh Penduduk lereng Merapi sebagai Kepercayaan dan Kebudayaan local

BAB I Rumusan Kasus


1.1 Latar Belakang Pemujaan terhadap benda benda mati merupakan suatu adat atau bentuk kebudayaan oleh nenek moyang terdahulu sebelum masuknya agama di Nusantara. Pemujaan tersebut tidak sekedar sebagai suatu adat akan tetapi menjadi suatu kepercayaa terhadap benda tersebut akan kekautan gaib yang dipercayai masyarakat setempat. Kepercayaan tersebut sering disebut dengan istilah dinamisme. Salah satu contoh kepercayaan tersebut adalah pemujaan Gunung Merapi oleh penduduk di lereng gunung merapi. Penduduk setempat mengganggap gunung tersebut memiliki suatu kekuatan gaib dibalik terjadinya letusan atau erupsi gunung tersebut padahal jika ditinjau dari segi ilmu pengetahuan dalam hal ini adalah geologi terjadinya letusan disebabkan karena pergerakan magma dari dalam bumi yang naik ke permukaan bumi karena tekanan di dalam bumi sangat besar. Pemujaan tersebut membuat keyakinan penduduk lereng merapi terbagi antara kepercayaan akan adanya Sang Kholik yang menciptakan alam semesta dan Gunung Merapi itu sendiri yang telah menyediakan sumber alam berupa kesuburan tanah dan hasil erupsi lainnya seperti batu, pasir atau barang tambang lainnnya sebagai mata pencaharian pokok penduduk setempat. Jika ditinjau dari segi agama, pemujaan tersebut dianggap sebagai suatu penyimpangan agama, mengingat hanya Tuhan yang menciptakan alam dan isinya termasuk kekayaan alam berupa kekayaan vulkanisme, akan tetapi hal tersebut sudah menjadi suatu tradisi turun temurun dari nenek moyangnya sehingga untuk menyadarkan akan hal tersebut tidak dapat dilakukan secara instan. Kebayakan orang orang pedalaman dan biasanya sudah berumurlah yang masih kental akan kepercayaan terhadap gunung merapi, sebagai contoh adalah Mbah Marijan yang selalu setia melakukan upacara upacara dalam rangka

Pemujaan Gunung Merapi oleh Penduduk lereng Merapi sebagai Kepercayaan dan Kebudayaan local

pemujaan terhadap gunung tersebut. Adanya kepercayaan tersebut dapat mengindikasikan bahwa pemahaman masyarakat yang minim terhadap proses vulkanisme yang sebenarnya merupakan proses alamiah dan tidak ada unsurunsur gaib, oleh sebab itu peran geologis dalam hal ini adalah mensosialisasikan atau berbagi pengetahuan terhadap masyarakat awam terutama penduduk disekitar Gunung Merapi agar membuka wawasan dibalik terjadinya erupsi Gunung merapi tersebut. 1.2 Rumusan Masalah Dari pemaparan latar belakang tersebut, dapat dirumuskan permasalahan dalam pembahasan ini yaitu :

Apa yang mendorong Masyarakat Lereng Gunung Merapi melakukan pemujaan atau penghormatan khusus terhadap Gunung Merapi ? Bagaimana kelangsungan pelaksanaan pemujaan ini untuk masa mendatang ? Dari rumusan masalah ini diharapkan menghasilkan suatu pembahasan yang

menarik dan kesimpulan yang meruncing untuk menentukan tindakan agar pemahaman akan terjadinya letusan gunung Merapi tidak semata mata disebabkan oleh hal hal gaib akan tetapi ada factor factor ilmiah yang dapat dibuktikan secara logis dibalik terjadinya erupsi tersebut.

Pemujaan Gunung Merapi oleh Penduduk lereng Merapi sebagai Kepercayaan dan Kebudayaan local

BAB II URAIAN KASUS


Gunung Merapi berada di Pulau Jawa pada rangkaian gunungapi aktif sebelah selatan, Gunung Merapi merupakan gunungapi tipe stratovolcanoes, yaitu gunungapi berlapis. Selama dua abad terakhir, aktivitas Gunung. Merapi telah berganti-ganti secara teratur antara periode panjang kubah lava ekstrusi kental dan episode ledakan singkat pada interval 8-15-tahun, yang menghasilkan kubah runtuh aliran piroklastik dan menghancurkan bagian dari kubah yang sudah ada sebelumnya. Episode kekerasan eksplosif sering kambuh rata-rata setiap 26-54 tahun telah menghasilkan aliran piroklastik, aliran awanpanas, jatuhan tephra, dan lahar hujan berikutnya (Thouret dkk, 2000.). Sebanyak 61 erupsi dilaporkan telah terjadi sejak pertengahan tahun 1500-an dan menewaskan sekitar 7000 orang. Setidaknya satu keruntuhan besar bangunan gunungapi telah terjadi di tahun 7000 lalu (Newhall et al, 2000.) Atau lebih mungkin antara 10.000 dan 12.000 BP, ketika danau terbentuk di sekitar candi Borobudur ini (Gomez et al., 2006). Sebagai salah satu entitas budaya Jawa, keberadaan gunung Merapi telah mempengaruhi struktur dan pembentukan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Jawa. Merapi pun muncul sebagai bagian penting dari kosmologis budaya Jawa dan sangat mempengaruhi eksistensi keraton Jogyakarta. Dari historis. Merapi diidentikkan sebagai titik vertikal yang melambangkan unsur api. Artinya, Merapi sebagai gunung api yang dikeramatkan oleh masyarakat Jawa, akan sangat mempengaruhi sifat dan kebijakan pemangku kebijakan keraton (pada masa lalu dan kekinian), disamping juga menjadi isyarat bagi makna kebijakan yang diambil oleh Presiden Republik Indonesia dalam arti luas. Klenik ini bisa jadi masih sangat dijunjung tinggi karena dalam perjalanannya, keberadaan Merapi dan segala aktivitas vulkanisnya telah kadung disakralkan sebagai isyarat bala dan rahmat dari kebijakan yang diambil oleh pemangku kebijakan di negeri ini.

Pemujaan Gunung Merapi oleh Penduduk lereng Merapi sebagai Kepercayaan dan Kebudayaan local

Ada pepatah yang menyebutkan tiada asap tanpa didahului api , itulah yang menggambarkan adanya hubungan sebab akibat terhadap suatu permasalahan dengan penyebabnya. Suatu permasalahan memiliki suatu silsilah atau alur historis yang menyebabkan kasus tersebut terjadi seperti pemujaan terhadap Gunung Merapi yang sebenarnya hanya salah satu contoh kejadian alam biasa akan tetapi kurangnya pengetahuan masyarakat akan kejadian tersebut menyebabkan presepsi yang menjurus kepada hal hal yang tidak real seperti adanya kekuatan gaib. Bentuk permasalahan yang terjadi pada masyarakat lereng Merapi adalah adanya pemujaan terhadap Gunung Merapi yang menganggap gunung tersebut telah menyediakan mata pencaharian pokok. Jika hal tersebut dikaitkan dalam segi agama, hal tersebut merupakan suatu bentuk penyimpangan terhadap keEsaan Tuhan yang telah menciptakan seluruh isi bumi dan seluruh kekayaannya. Pemujaan tersebut masih ada hingga sekarang meskipun masyarakat setempat merupakan masyarakat yang beragama. Tidak dapat dipungkiri jika kepercayaan tersebut masih ada hingga sekarang meskipun masyarakat juga sudah memeluk suatu agama, hal tersebut disebabkan Karena kepercayaan tersebut merupakan warisan atau kebudayaan turun temurun dari nenek moyang yang mempercayai hal tersebut dan sebagai bentuk tanda bakti terhadap leluhur masyarakat setempat yang telah mempercayai hal tersebut sebelum masuknya agama. Sekitar Gunung Merapi, keyakinan agama adalah animism, dinamisme, Hindu, Buddha dan pengaruh Islam. Pengaruh agama adalah jelas dalam proporsi besar orang (97% dari mereka yang disurvei) yang berpikir bahwa kerugian aktual dan potensial yang terkait dengan letusan gunung berapi berada di bawah kendali kekuatan ilahi (De Coster, 2002). Terutama di Jawa, kultus roh, pemujaan leluhur, penyembuhan semangat dan bentuk shamanistic (dukunisme). Tradisi mitos yang dikenal luas dan mendapat banyak dukungan rakyat, khususnya di daerah pedesaan ([Triyoga, 1991], [Schlehe, 1996], [ Schlehe, 2007], [Dove, 2007] dan [Dove, 2008] ).

Pemujaan Gunung Merapi oleh Penduduk lereng Merapi sebagai Kepercayaan dan Kebudayaan local

Pada tanggal 22 November 1994 letusan Gunung Merapi menimbulkan revitalisasi spontan mitos tua dan kepercayaan mistik dan memberikan dorongan pada pemerintah untuk melakukan upaya pemindahan penduduk agar berpindah ke tempat yang lebij jauh. Bagi penduduk desa yang tinggal di lereng Gunung Merapi maupun penduduk Yogyakarta menganggap letusan bukanlah sebagai bencana. Melainkan dipahami sebagai peringatan dari dunia supernatural (Schlehe, 1996). Akibatnya banyak orang yang tinggal dekat dengan sungai Boyong dan Gendol tidak takut. Kegiatan rutin gunung berapi ini telah benar-benar terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, dan telah menjadi bagian informal bagi rakyat yang tinggal disitu. Gunung Merapi telah dipersonifikasikan sebagai: Mbah Merapi-Mbah berarti kakek atau nenek-milik dunia manusia. Alih-alih dianggap sebagai sumber bahaya, gunung berapi diangap sebagai milik umum dihormati oleh semua penduduk desa. Istilah Jawa wedhus gembel (aliran piroklastik) dianggap sebagai kurang sopan bagi sebagian orang yang lebih memilih untuk menggunakan koreksi bahwa Merapi sedang buang hajad. Dalam ekspresi bahasa Indonesia, yaitu untuk mengusir kotoran, seperti manusia lakukan. Masyarakat yang mempercayai mengenai kekuatan gaib dari Gunung Merapi tersebut sebagian besar adalah masyarakat desa disekitar gunung merapi. Diperkirakan ada 300 desa yang ada di sekitar merapi dengan penduduk kurang lebih 440.000 jiwa yang terancam keselamatammya ketika Merapi mengeluarkan awan panasnya. Adapun lokasi lokasi yang pernah dilalui oleh aliran aliran pirklastik adalah Sungai Boyong pada bulan November 1994 dan di Sungai Gendol pada bulan Juni 2006 Sebelum tahun 1994 aliran piroklastik kubah runtuh dan menimbulkan awanpanas yang menewaskan 69 orang di Desa Turgo, penduduk yang hidup di sepanjang Sungai Boyong.

Pemujaan Gunung Merapi oleh Penduduk lereng Merapi sebagai Kepercayaan dan Kebudayaan local

BAB III Identifikasi Faktor dan Indikator


3.1 Faktor Selain karena pengaruh kebudayaan dan warisan turun temurun ada beberapa factor yang menyebabkan pemujaan terhadap Gunung Merapi masih ada hingga kini yaitu :
1. Kurangnya pemahaman mengenai aktivitas vulkanisme.

2. Sebuah kepercayaan yang berlebihan dari tindakan yang sudah dilakukan. 3. Kepatuhan terhadap leluhur atau peninggalan nenek moyang 4. Tercampurnya prinsip prinsip agama dan kepercayaan Dinamisme 3.2 Indikator Warga yang hidup disekitar Gunung Merapi mayoritas hidup di area pedesaan yang notebannya masyarakatnya memiliki karakteristik kebudayaan yang masih asli dan tingkat kepercayaan terhadap hal hal magis masih kental. Kepercayaan terhadap hal tersebut rupanya membuat sebagian masyarakat enggan mengetahui pengetahuan atau Science yang berkaitan dengan Kegunungapian sehingga dalam benak mereka adanya letusan gunung Merapi selalu dikaitkan dengan hal hal yang magis. Akibat kurangnya pengetahuan dan wawasan mengenai kegunungapian, masyarakat kurang tanggap akan kewaspadaan aktivitas Gunung Merapi dan jika terjadi letusan, banyak masyarakat yang masih ada di radius bahaya. Hal tersebut dapat dijadikan suatu indicator akan kurangnya pengetahuan dan masih kentalnya pemujaan terhadap Gunungapi.

Pemujaan Gunung Merapi oleh Penduduk lereng Merapi sebagai Kepercayaan dan Kebudayaan local

BAB IV Analisis Faktor dan Indikator


1. Pemahaman yang buruk dari proses vulkanik sebenarnya di luar pengetahuan

mereka. Ada beberapa alasan untuk hal ini antara lain adanya kesenjangan antara bahaya aktual dan bahaya diketahui. Pertama adalah sumber informasi mengenai bahaya dan risiko. Di Jawa, pengetahuan bahaya ditularkan melalui berbagai sumber, baik dari luar atau dari dalam desa yang beresiko. Pihakpihak luar yang terlibat dalam transmisi pengetahuan adalah akademisi, wartawan atau pihak berwenang setempat dengan cara memberikan sosialisasi mengenai kegunungapian meliputi proses terjadinya letusan, manfaat materialnya dan bahayanybahaynya serta simulasi tanggap bencana letusan Gunung Merapi agar saat terjadi letusan warga setempat dapat mengefakuasi diri dan harta bendanya. Aktor internal meliputi para tua-tua, yang memiliki lebih banyak kesempatan daripada orang muda untuk memiliki saksi letusan gunung berapi di masa lalu atau pernah mendengar tentang letusan mantan oleh nenek moyang mereka. Tentulah dari mereka-meraka inilah pengetahuan bahaya risiko yang sebenarnya mengancam dapat ditularkan dan diajarkan. Dengan semakin minimnya jumlah korban Gunung Merapi menjadikan suatu barometer terhadap keberhasilan pendidikan perintis mengenai kegunungapian atau semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan bahaya Gunungapi.
2. Sebuah kepercayaan yang berlebihan terhadap Gunung Merapi.

Begitu pentingnya keberadaan Merapi sebagai simbol sekaligus entitas kearifan lokal masyarakat Jawa sampai Raja Keraton Jogyakarta mengutus Abdi Dalem Keraton untuk menjaga sekaligus mengawasi keberadaan Merapi. Mbah Maridjan yang oleh masyarakat kebanyakan ditasbihan sebagai

Pemujaan Gunung Merapi oleh Penduduk lereng Merapi sebagai Kepercayaan dan Kebudayaan local

Kuncen Merapi adalah bentuk penghormatan Keraton Jogyakarta terhadap Merapi sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah Keraton. Bentuk ritual kejawen yang sampai saat ini masih dipelihara oleh sebagian masyarakat Jawa hingga saat ini, dipercaya sebagai wujud penghormatan dan rasa terima kasih masyarakat atas rahmat Tuhan YME. Ritual yang sama juga dilakukan oleh masyarakat Jawa di sekitar pantai selatan sebagai salah satu simbol penting yang sangat mempengaruhi metologi Jawa. Merapi dan pantai selatan melambangkan hubungan vertical dan horizontal masyarakat Jawa kepada alam semesta. Keduanya saling mempengaruhi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Apapun itu, Merapi adalah sebuah misteri. Dia adalah simbol perjalanan budaya yang sangat panjang bagi metologi Jawa dan keberadaan bangsa ini. Merapi akan tetap menjadi simbol klenik masyarakat Jawa dimana eksistensinya akan selalu dihubungkan dengan perjalanan kehidupan masyarakat Jawa secara khusus, dan masyarakat Indonesia secara umum. Merapi akan terus menjadi dua sisi yang mengagungkan sekaligus menakutkan. Mengagungkan karena keberadaan Merapi telah menghidupi masyarakatnya untuk beranak pinak melalui tanah pertanian yang subur dan iklim yang sempurna. Menakutkan karena ketika marah, Merapi tidak segan meminta korban dan lara. Sewajarnya, kita sebagai manusia memahami meletusnya Merapi dan bentuk bencana yang datang silih berganti sebagai teguran dan pembelajaran. Belajar untuk lebih peka dan peduli dengan orang lain. Belajar untuk lebih mawas diri dan arif tanpa mementingkan diri sendiri. Semoga keberadaan Merapi akan menjadi tugu peringatan kepada yang batil dan arif. Karena peringatan alam akan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi negeri ini untuk tidak menjadi negeri yang bebal.

Pemujaan Gunung Merapi oleh Penduduk lereng Merapi sebagai Kepercayaan dan Kebudayaan local

3. Kepatuhan Terhadap leluhur Pemujaan Gunung Merapi pada awalnya adalah berawal dari Panembahan Senopati pendiri kerajaan Mataram memperoleh kemenangan dalam perang melawan kerajaan Pajang dengan bantuan penguasa Merapi. Gunung Merapi meletus hingga menewaskan pasukan tentara Pajang, sisanya lari pontang-panting ketakutan. Penduduk yakin bahwa Gunung Merapi selain dihuni oleh manusia juga dihuni oleh makhluk- makhluk lainnya yang mereka sebut sebagai bangsa alus atau makhluk halus. Dari hal itulah, Gunung Merapi selalu dikatkan dengan hala hal yang mistik dan sering dilakukan suatu persembahan atau pemujaan bahkan meningkat menjadi suatu kepercayaan masyarakat hingga kini. Kepatuhan tersebut masih dapat kita lihat dengan adanya suatu ritual khusus oleh masyarakat, hal tersebut menjadikan indicator bahwa penghormatan terhadap Merapi merupakan sebuah warisan budaya sebagai symbol kearifan masyarakat terhadap alam. 4. Tercampurnya prinsip prinsip agama dan Dinamisme Jika kita melihat antara budaya dan agama terkadang ada ketidak sesuaian, hal tersebut dapat kita lihat pada kasus ini dimana kebudayaan masyrakat Jawa yang masih kental dengan kepercayaan hal hal magis dan dihubung-hubungkan menjadi suatu kepercayaan dan berlanjut pada suatu pemujaan atau penghormatan khusus. Sebagai contoh penghormatan terhadap Gunung Merapi dengan mengadakan upacara adat. Dalam tinjauan agama Islam tidak dibenarkan adanya suatu upacara sebagai penghormatan terhadap Gunungapi karena segala kekayaan yang ada adalah miliki Tuhan YME dan sepantasnya perwujudan syukur diwujudkan langsung kepada Tuhan dengan akidah yang ada.

Pemujaan Gunung Merapi oleh Penduduk lereng Merapi sebagai Kepercayaan dan Kebudayaan local

BAB V Solusi

Pemujaan Gunung Merapi oleh Penduduk lereng Merapi sebagai Kepercayaan dan Kebudayaan local

Kebuadyaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa serta merupakan suatu ciri khas atau identitas suatu kelompo atau individu. Dalam kenyataannya, sebuah kebudayaan membuat suatu masyarakat yang mempercayainya memiliki pemahaman tunggal dan tidak memperdulikan pemahaman lain. tentunya kita masih ingat dalam benak kita mengenai sosok Mbah Marijan yang notebannya adalah juru kunci Gunung Merapi, beberapa kali Gunung Merapi meletus bliau enggan untuk mengungsi meskipun mendukung warganya untuk mengungsi karena Pemahaman bliau sebagai juru kunci Merapi tidak akan meninggalakan merapi sampai kapanpun dan dan dalam kondis apun dan hal tersebut bliau lakukan yang akhirnya bliau tewas dalam letusan Gunung Merapi tanggal 26 November 2010. Pemahaman itulah yang menyebabkan Mabh marijan tidak mau melakukan himbauan pemerintah dan tim SAR yang bertugas. Dari illustrasi tersebut dapat kita ambil solusi solusi yang berkenaan dengan kebudayaan. Adanya kepercayaan yang berlebihan setidaknya tetap saling menghormati dengan kepercayaan lain untuk menciptakan tatanan masyarakat yang madani meski dengan kepercayaan yang berbeda. Selain itu, meskipun memiliki sebuah kepercayaan akan tetapi pemahaman terhadap ilmu pengetahuan dan Teknologi harus berimbang.